Pedang Pembunuh Naga Jilid 19

Jilid 19

“PERSEKUTUAN Bulan Emas sering mengutus orang-orangnya menjaga di luar Makam Pedang itu apakah maksudnya?”

“Pedang sakti?” “Pedang sakti, tidak bisa keluar dari Makam Pedang, mereka menjaga di luar bukankah berarti….”

”Maksudnya semula ialah mengharapkan ada orang yang bisa menerjang masuk ke dalam makam itu. Setelah orang itu keluar, segera dirampasnya dengan menggunakan kekerasan. Kemudian tempat itu olehnya dijadikan daerah terlarang, tidak mengijinkan orang lain mendekati, supaya mereka mendapat kesempatan perlahan-lahan mempelajari keadaan barisan yang aneh itu.”

“Suatu perbuatan rendah yang sangat memuakkan!”

“Sudah tiba, nampaknya aku harus melakukan pembunuhan lagi!”

Baru saja habis berkata tiba-tiba terdengar suara bentakan orang:

“Siapa? Diam di situ!”

Orang Menebus Dosa itu tidak menghiraukan, sebaliknya malah maju menyerang dengan cepat.

Sebentar kemudian lalu terdengar suara bentakan suara menyambarnya senjata pedang dan suara jeritan ngeri, muka Hui Kiam kecipratan darah yang ditimbulkan bau amis Orang Menebus Dosa itu maju terus, sedikitpun tanpa terhalang gerakannya, tiga kali ia mengalami rintangan, orang yang terbunuh mati olehnya kira- kira sepuluh jiwa lebih dan jalannya pertempuran dapat diduga bahwa orang-orang yang coba merintangi perjalanan Orang Menebus Dosa tidak satupun yang sanggup bertahan dalam tiga jurus.

Dalam waktu sekejap mata saja dua orang itu sudah berada di luar barisan gaib. Orang Menebus Dosa meletakkan Hui Kiam dan berkata:

“Kau masuklah sendiri ke dalam barisan.” Hui Kiam berkata sambil memberi hormat: “Budi kecintaan tuan ini, di kemudian hari aku akan membalasnya.”

“Hui-Kiam kau, kau tidak usah mengatakan soal membalas budi, aku hanya mempunyai satu pengharapan apabila kedua matamu nanti bisa sembuh kembali, dan kau muncul lagi di dunia Kang-ouw, jangan kau mengadakan hubungan lagi dengan Tong hong Hui-Bun. “

Tetapi pada saat itu, dari jauh terdengar suara Si Iblis Gajah yang menggeram dengan hebatnya.

Orang Menebus Dosa lalu mendorong tubuh Hui-Kiam seraya berkata:

“Lekas masuk ke dalam barisan!”

Dengan badan sempoyongan Hui-Kiam masuk ke dalam barisan. Badannya segera disambut oleh sepasang tangan halus. Sudah tentu ia tahu siapa gerangan yang menyambutnya, maka lalu berkata dengan hati terharu:

“Apakah adik Tin? Mengapa kau dapat mengenali diriku?” “Engko Kiam, meskipun kau sudah mengganti pakaian dan rupa,

tetapi aku masih dapat mengenali suaramu. Siapakah yang mengantar kau kemari itu?”

“Seorang aneh yang sangat misterius, yang menamakan dirinya sendiri Orang Menebus Dosa. Aku tidak tahu asal-usulnya.”

“Oh! Engko Kiam, mari kita masuk!”

Setelah Hui Kiam berada di dalam kamar batu Makam Pedang itu, lalu berkata:

“Adik Tin, sungguh tidak kusangka, belum sampai setengah hari kita berpisah, sekarang sudah berkumpul lagi.”

“Engko Kiam, dapatkah kita berkumpul selama-lamanya?” “Dapat!”

“Engko Kiam, dengan cara bagaimana kau kembali kemari?” “Itu adalah akal cerdiknya adik angkatku Ie It Hoan. Ia menduga pasti kereta yang kutumpangi akan melalui suatu jembatan panjang, terlebih dahulu ia telah memotong kayu tengah-tengah jembatan dan ia sendiri bersembunyi di dalam air untuk menantikan kesempatan baik. Setelah kereta yang kutumpangi itu kecebur ke dalam sungai, ia lalu membawa kabur aku. ”

“Dan perempuan itu?.   ”

“Sesaat sebelum kereta itu kecebur ke dalam sungai, ia sudah merobos keluar dari dalam kereta, sedikitpun tidak terluka!”

“Dan di mana adik angkatmu itu sekarang?”

Hui Kiam lalu menceritakan semua apa yang telah terjadi. Cui Wan Tin sambil menggenggam erat tangan Hui Kiam, berkata dengan suara terharu:

“Engko Kiam, sungguh berbahaya, jikalau bukan Orang Menebus Dosa itu yang memberi pertolongan aku benar-benar tidak berani

membayangkan bagaimana akibatnya.”

“Semua sudah lalu, hanya hutangku terlalu banyak di kemudian hari entah aku dapat membayar atau tidak. ”

“Dapat!”

“Dapat? Sedangkan kedua mataku kini sudah buta ”

“Engko-Kiam, tahukah kau apa maksudku minta kau kembali?” “Apakah kau benar-benar sudah mendapatkan obatnya?” “Apakah kau kira aku menipumu?”

“Tidak… tidak…. hanya, hal ini sesungguhnya di luar dugaanku.”

“Aku mengharap supaya obat ini benar-benar sangat manjur, mudah-mudahan kau dapat melihat lagi.”

Hui-Kiam dapat mendengar dan dapat merasakan bahwa kata- katanya keluar dengan setulus hatinya nampaknya bukanlah bohong, seketika itu ia merasa sangat terharu sekali.

“Adik Tin, di mana kau dapatkan obat ini?” “Setelah kau pergi aku membersihkan tempat terjadinya pertempuran tadi. Dengan tidak sengaja aku telah menemukan sebotol kecil di samping tongkat Iblis Singa yang sudah terpotong menjadi dua, ketika kupungut dan kuperiksa, di atas botol itu terdapat tempelan kertas yang ada hurufnya bahasa asing. Yang tertulis di situ ternyata cara-caranya mengenai penggunaannya obat itu untuk menyembuhkan racun dari dedaunan itu. Aku lalu menduga bahwa botol itu berisi obat pemunah racun, tetapi aku tidak dapat meninggalkan makam ini untuk pergi mencari kau. Selagi dalam keadaan cemas, kebetulan adik angkatmu mengunjukkan diri di luar barisan. Ia menyebutkan namanya sendiri, maka aku segera minta tolong kepadanya, biar bagaimana harus mencarimu sampai dapat dan segera dibawa ke rumah!”

“Ah! Ini sesungguhnya keajaiban yang terjadi di luar dugaan ”

“Engko Kiam, aku berdoa supaya kau lekas dapat melihat lagi.

Mari sekarang kita coba obat itu, kau pikir bagaimana?

“Adik Tin. apa kau dapat membaca huruf negara Thian Tik?”

“Ya, di waktu masih kanak-kanak aku juga pernah diajar oleh ayah, aku hanya mengerti sedikit saja!”

“Bagaimana bisa begitu kebetulan, ini benar-benar sudah takdir, apabila kau tidak mengerti huruf itu, sekalipun kau dapatkan obatnya, bukankah berarti seperti tidak pernah mendapatkan. ?”

“Engko Kiam, bukalah kedokmu kau rebah!” “Baiklah!”

Hui Kiam lalu membuka kedoknya, ia rebah terlentang di atas tempat tidur, jantungnya berdebar keras, dalam hatinya memikirkan tidak lama kemudian, setelah matanya bisa melihat kembali, dengan kepandaiannya yang telah ia miliki ia segera dapat pergi menuntut balas dendam dan melakukan beberapa pekerjaan besar yang berguna bagi dunia rimba persilatan.

Karena matanya tidak melihat, ia hanya mendengar suara bersentuhannya gelas, kiranya Cin Wan Tin saat itu sedang mencampur obatnya. “Engko Kiam, bukalah matamu, aku akan memberikan obatnya!''

Beberapa tetes air yang dirasakan amat dingin menetes masuk ke dalam kelopak mata.

“Sekarang pejamkan matamu!”

Ketika air obat itu masuk ke dalam matanya, perasaan dingin seolah-olah menembus ke dalam hulu hatinya, menimbulkan rasa nyaman.

“Masih ada dua butir obat pel lagi, kau harus makan.”

Kelakuan Cui Wan Tin itu bagaikan seorang istri bijaksana yang merawat suaminya. Lebih dulu ia membimbing bangun Hui Kiam, lalu memasukkan obat pel ke dalam mulutnya, setelah itu diberikannya segelas air supaya diminumnya kemudian diletakkan lagi di atas pembaringan seraya berkata dengan suara lemah lembut:

“Engko Kiam, kau masih terluka, apakah kau bisa menggunakan tenagamu untuk mengatur pernapasanmu?”

“Bisa, adik Tin, aku... entah bagaimana harus menyatakan terima kasihku kepada. ”

“Engko Kiam, ucapanmu ini kau disimpan saja dalam hatimu.

Apakah kau kira maksudku ingin mendapatkan terima kasihmu?” “Ah! Adik Tin aku ”

Rasa sakit tiba-tiba timbul tidak terduga-duga, sehingga Hui Kiam seketika tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi.

Cui Wan Tin terkejut dan ketakutan ketika menyaksikan keadaan demikian. Katanya dengan hati bingung:

“Engko Kiam, kau merasa bagaimana?”

“Sakit.... aduh!” jawab Hui Kiam dengan napas terengah-engah.

Setelah itu ia lalu pingsan!

Cui Wan Tin semakin bingung, parasnya pucat pasi. Ia menggumam sendiri dengan suara gemetar: “Apakah obat itu palsu?”

Ia meraba nadi Hui Kiam, ternyata denyutnya lebih cepat daripada biasa.

Dada Hui-Kiam tampak naik turun, mulutnya terbuka, napasnya memburu, keringat di sekujur badannya mengunjukkan warna merah, bibirnya perlahan-lahan menjadi biru, sekujur badannya panas luar biasa.

“Engko-Kiam, engko Kiam, ah! ”

Tidak berhentinya ia memanggil-manggil, air mata mengalir deras badannya gemetaran.

“Panas... panas… sakit….”

Demikian suara lemah yang keluar dari mulut Hui-Kiam.   Suara itu hampir tidak kedengaran, tetapi bagi Cui-Wan Tin sudah cukup nyata. Dalam keadaan tidak berdaya terpaksa membuka baju Hui- Kiam, dengan sepotong kain ia mengeringkan air keringat yang keluar tidak berhentinya itu.

Kira-kira setengah jam, panas di badannya mulai turun, orangnya mulai nampak tenang.

Cui Wan Tin saat itu baru merasa bahwa dirinya sendiri juga sudah basah kuyup dengan air keringat dingin sendiri.

Ia membersihkan keringat di badan Hui Kiam tetapi Hui Kiam masih belum ada tanda-tanda sadar. Dia memeriksa napas dan nadinya, seketikca itu seperti putus asa air matanya mengalir deras. Ia berkata dengan suara terisak-isak:

“Engko Kiam, akulah yang mencelakakan dirimu, kalau terjadi apa-apa denganmu, aku juga tidak akan hidup sendiri.”

Nadi Hui Kiam lemah sekali, begitupun nafasnya.

Cui Wan Tin menunggu di sampingnya seolah-olah seorang yang sudah tidak ada sukmanya. Ia duduk tanpa bersuara dan tanpa bergerak, hatinya sudah beku karena kedukaan yang melewati batas. Sang waktu agaknya juga turut berhenti. Ia sudah tidak merasa lapar atau dahaga juga tidak merasa lelah, ia hanya mengawasi dengan mata saja kepada kekasihnya yang dianggapnya sudah mati. Kadang-kadang mulutnya mengeluarkan suara bagaikan seorang yang mengigau.

Sehari telah berlalu!

Dua hari telah berlalu lagi.

Hari ketiga tepat jam satu tengah hari juga merupakan hari ketiga puluh enam jam setelah Hui Kiam makan obat, ia telah siuman kembali. Ia membuka lebar matanya, dengan pandangan mata agak terheran-heran mengawasi Cui Wan Tin yang duduk bagaikan patung di sampingnya, lama sekali tiba-tiba ia bangun dan duduk, dengan kegirangan yang memuncak berseru:

“Aku sudah bisa melihat! Aku… sudah bisa melihat! Aku sekarang sudah sembuh.”

Mata Cui Wan Tin yang sayu, tiba-tiba memancarkan sinar aneh. Ia mengeluarkan suara bagaikan seorang yang terkejut, lalu jatuh pingsan.

Hui Kiam yang baru sadar, ia masih belum tahu apa yang telah terjadi. Ketika melihat keadaan Cui Wan Tin ia terkejut dan terheran-heran. Ketika ia memeriksa keadaan Ciu Wan Tin, paras gadis itu nampak pucat pasi seperti sudah tidak ada darahnya. Ini membuatnya semakin terkejut, sehingga duduk bingung tanpa daya.

Untung karena terlalu lelah, disebabkan tiga hari tiga malam duduk saja bagaikan patung dengan tanpa makan dan minum, kini karena kegirangan menyaksikan Hui Kiam sadar lagi sehingga menjadi pingsan.

Tidak berapa lama, ia sudah sadar dengan sendirinya. Ia lalu bangun dan duduk, sesaat mengawasi Hui Kiam, kemudian baru memanggilnya dengan suara perlahan:

“Engko Kiam.” Air mata mengucur deras. Entah itu terlalu kegirangan atau entah karena apa.

“Adik Tin, aku, sudah dapat melihat ”

“Engko Kiam, tiga hari tiga malam, aku kira kau ”

“Apa? Aku sudah tidur tiga hari tiga malam lamanya?” “Ya.”

“Adik Tin, kau nampaknya kurus.”

“Engko-Kiam, tahukah kau bagaimana girangku pada saat ini?” “Adik Tin.”

Hui-Kiam dengan tanpa dapat mengendalikan perasaannya sendiri ia lalu memeluk Cui Wan Tin kemudian diciumnya berulang- ulang. Detik-detik yang sangat menggirangkan itu Cui Wan-Tin sudah merasa puas, ia telah mendapatkan apa yang diidam- idamkan. Ciuman Hui Kiam itu merupakan satu bukti tanda kasih sayangnya. Jerih payahnya dan keletihannya serta kesengsaraannya selama itu, sudah mendapat bayaran dalam ciuman itu.

Ciuman itu memang apa yang diharapkannya tetapi juga dirasakan sangat asing. Untuk pertama kali mencicipi rasa buah terlarang yang aneh itu membuat hatinya berdebar keras. Ia merasa gugup, tetapi juga merasa seperti sedang mabuk.

Suatu perasaan aneh, timbul dalam hati Hui Kiam. Dengan perlahan ia mendorong Cui Wan Tin seraya berkata:

“Adik Tin, aku perlu beristirahat untuk memulihkan kekuatanku!” Paras Cui Wan Tin nampak merah, nampaknya merasa malu. “Engko Kiam, aku benar-benar  merasa lega. Luka di dalam

tubuhmu belum sembuh, tidak seharusnya aku mengganggu kau, beristirahatlah!”

Sehabis berkata, ia melirik dan menunjukkan senyuman yang penuh rasa kasih sayang kepada Hui Kiam, lalu meninggalkannya. Hui Kiam menyingkirkan segala pikiran, ia duduk dengan tenang untuk bersemedi.

Dua jam kemudian, kekuatan tenaganya sudah pulih kembali.

Cui Wan Tin sudah lama menantikan di sampingnya.   Di atas meja sudah tersedia barang hidangan. Keduanya lalu duduk berhadapan untuk makan bersama-sama dengan hati gembira.

Selesai makan, Cui Wan Tin membereskan alat makannya, kemudian duduk berdampingan lagi.

”Engko Kiam, aku kira obat itu salah memakainya sehingga membuatku ketakutan setengah mati.”

“Adik Tin, terlalu banyak sekali apa yang telah kau berikan padaku, sedangkan aku….”

“Tidak! Aku tak suka mendengar kata-kata demikian!“

Hui Kiam tersenyum girang. Sambil menunjuk sebuah kaca tembaga yang tergantung di atas dinding, ia berkata:

“Apakah ini alat yang kau pakai untuk melihat keadaan di luar?” “Ya, dahulu waktu Thian Gee Siang-jin membangun Makam

Pedang ini, benar-benar sudah menggunakan banyak tenaga dan

pikiran.”

“Ah! Ada orang datang.”

Hui Kiam memandang ke arah kaca, ia melihat seorang pemuda yang berdandan bagaikan seorang pengemis jalan mondar-mandir di luar barisan. Bayangan yang sudah tidak asing lagi itu, sepintas lalu sudah dikenalnya siapa orang itu. Maka ia segera bangkit dan berkata:

“Adik Tin, itulah adik angkatku Ie It Huan.” “Oh dia?”

“Ya, ia pandai ilmu mengganti rupa, berkali-kali ia menunjukkan diri dengan muka berlainan.”'

“Apa kau hendak menjumpainya?” “Kedatangannya pasti ada urusan. Selain daripada itu untuk menghilangkan rasa khawatirnya aku juga perlu menjumpainya.”

“Maaf, aku tidak dapat mengundang ia masuk ke sini!” “Aku akan keluar menemuinya!”

Sehabis berkata, ia lalu berjalan keluar yang diikuti oleh Cui Wan Tin ....

Begitu keluar dari barisan yang gaib itu, Ie It Hoan segera menyambutnya dengan girang. Sambil melompat kegirangan Sukma Tidak Buyar itu berkata:

“Toako, terima kasih kepada Allah, kau ternyata sudah bisa melihat lagi.”

“Adik Hoan, aku seperti menjelma jadi orang baru lagi.” Kemudian ia berpaling kepada Cui Wan Tin, lalu berkata pula: “Kuperkenalkan. Ini adalah nona Cui Wan Tin. Adik Tin, ini adalah adik angkatku Ie It Hoan!”

Ie It Hoan mengangguk untuk memberi hormat, kemudian berkata:

“Nona Cui, ini adalah kedua kalinya kita bertemu muka, tetapi baru pertama mengenal namamu.”

“Ie Siao-hiap, maafkan aku tidak bisa memperlakukan kau sebagaimana   mestinya seorang tuan rumah!” jawabnya Cui Wan Tin sambil tersenyum.

“Ah, itu tokh tidak perlu!” Hui Kiam lalu berkata:

“Kedatangan adik Hoan ini pastilah ada urusan penting!”

“Toako, maksudku yang pertama adalah ingin tahu bagaimana keadaanmu setelah kau pakai obat pemunah racun itu, dan sekararg ternyata kau sudah dapat melihat seperti biasa lagi, maka ada suatu hal yang tidak boleh tidak aku harus beritahukan padamu.”

“Urusan apa?” “Apakah kau masih ingat tentang Orang Tua Tiada Turunan itu?” “Sudah tentu ingat, mengapa?”

“Oleh karena ia hendak menyelidiki musuh toako yang menggunakan tusuk konde emas sebagai senjata gelap, dan di mana adanya To Liong Kiam Khek, ia lalu pergi mengunjungi perkumpulan kaum pengemis. Pagi tadi aku telah menerima berita kilat darinya yang disampaikan oleh seorang anak buah perkumpulan kaum pengemis itu. Katanya Persekutuan Bulan Emas sudah mengeluarkan ultimatum, dalam waktu sepuluh hari perkumpulan kaum pengemis itu harus menggabungkan diri dengan Bulan Emas, jikalau tidak perkumpulan kaum pengemis itu akan dibasmi habis.”

“Ada hal demikian?”

“Anak murid dan anak buah perkumpulan kaum pengemis tersebar di seluruh dunia, sejak mendirikan perkumpulan sendiri belum pernah bertekuk lutut kepada partay siapa juga......

“Dan bagaimana perkumpulan itu hendak mengambi1 langkah selanjutnya?”

“Mereka lebih suka hancur lebur daripada menyerah!” “Melawan sehingga titik darah yang terakhir?”

““Benar, akan tetapi jika ditilik sama dengan kekuatan Persekutuan Bulan Emas, perkumpulan kaum pengemis itu selanjutnya barangkali akan musnah.”

''Bagaimana pikiran adik Hoan?”

“Meskipun ini adalah urusan perkumpulan kaum pengemis itu tetapi sebaliknya ada sangkut-pautnya dengan nasib seluruh rimba persilatan sehingga kita tidak boleh berpeluk tangan. Menurut pendapatku yang bodoh, kita harus segera pergi ke markas pusat perkumpulan kaum pengemis untuk memberi bantuan tenaga.”

“Bagaimana dengan urusan di gunung Bu-ling san?” “Terpaksa setelah urusan kaum pengemis ini selesai kita baru bertindak lagi.”

“Apakah masih terburu waktunya?” “Kiranya tidak menjadi soal.”

“Apakah kita sekarang harus berangkat?” “Sudah tentu. Lebih lekas lebih baik.”

Hui Kiam lalu berpaling kepada Cui Wan Tin dan berkata dengan suara lemah lembut:

“Adik Tin, aku terpaksa hendak pamitan lagi denganmu. ”

Cui Wan Tin dengan muka sedih menyahut:

“Engko Kiam, ini adalah urusan penting, aku tidak dapat merintanginya. Semoga kau bisa menjaga diri sendiri. Selain daripada itu juga harap jangan lupa... bahwa ada orang yang menantikanmu.”

“Adik Tin, aku ingat.”

Ie It Hoan menyela sambil tertawa terkekeh-kekeh:

“Nona Cui, setelah urusan selesai, aku akan mendesak toako supaya lekas kembali di sampingmu.”

Dengan paras kemerah-merahan Cui Wan Tin berkata: “Ijinkanlah aku membahasakan kau adik Hoan! Adik Hoan,

terima kasih kuucapkan lebih dulu.”

”Tidak usah! Tidak usah! Enci, dengan pernyataan terima kasihmu ini sekarang diriku telah terikat.”

Sehabis berkata ia lalu berpaling dan berkata kepada Hui-Kiam: “Toako, semua ini kau sudah dengar sendiri. Kemudian hari kau

jangan mengatakan aku banyak mulut.”

Hui-Kiam tidak menjawab, ia hanya tertawa saja. “Toako, kedokmu itu sebaiknya kau pakai lagi.” Hui-Kiam berpikir sejenak lalu mengeluarkan kedoknya serta dipakainya.

Ie It Hoan bantu membereskan kedok kulit manusia yang dipakai oleh Hui-Kiam sehingga rapi, baru berkata:

“Toako, suaramu juga harus dirobah. Mari kuajari caranya merobah suara.”

Sehabis berkata, ia lalu memberi petunjuk bagaimana cara- caranya merobah suara. Hui Kiam segera mengerti. Ia tersenyum untuk memuji kepandaian sang adik itu.

Cui Wan Tin tiba-tiba teringat sesuatu, lalu berkata:

“Engko Kiam, mengenai urusan pedang sakti, apakah kau dapat memahami kesulitanku?”

Disebutnya tentang pedang sakti itu membuat Hui Kiam merasa sulit. Thian Gee Siangjin meninggalkan kitab ilmu silat Thian Gee Po-kip dan gambar peta tempat menyimpan pedang pusaka itu, supaya didapatkan oleh keturunan perguruannya, pedang sakti itu masih terhitung benda perguruannya bahkan toasupeknya sudah kehilangan nyawa oleh karenanya, tetapi dengan keadaan seperti ini, bagaimanapun dia juga tidak dapat memaksa Cui Wan Tin menyerahkan pedang sakti itu, namun pedang itu juga merupakan barang yang harus didapatkannya kembali. Sebab ilmu pedang Thian Gee Kiam Hoat tidak akan dapat mengeluarkan seluruh kedahsyatannya jika tidak dibantu dengan pedang sakti itu.

Cui-Wan Tin menganggap dirinya sebagai pelindung pedang, tetapi ia tidak mengetahui pemilik pedang itu siapa? Orang Berbaju Lila sudah mengaku sebagai pembunuh supeknya, tetapi ia bukan pemilik pedang sakti itu, selain daripada itu ia juga ingkar menggunakan jarum melekat tulang. Semua ini membuat ia tidak dapat menggunakan pikirannya memecahkan persoalannya.

“Adik Tin, apakah kau mengetahui bahwa aku pasti harus mendapatkan pedang sakti itu?” “Aku tahu, tetapi kau juga mengerti tugasku, pedang sakti ini tidak boleh diserahkan kepada lain orang selain daripada orang yang berhak akan memilikinya!”

“Adik Tin toh tidak tahu siapa yang harus memilikinya?” “Ya.”

“Kalau begitu bagaimana kau nanti akan membedakannya?” “Berdasar barang-barang tanda kepercayaan!”

“Barang tanda kepercayaan? Barang apakah?”

“Engko Kiam, tentang ini maaf aku tidak dapat memberitahukan kepadamu. Aku sudah bersumpah lebih baik kukorbankan nyawaku juga tidak akan kubocorkan rahasia ini.”

“Adik Tin, apabila pada suatu hari pemilik pedang sakti itu mengambil pedang itu, bolehkah kau beritahukan siapa orangnya?”

“Tentang ini boleh saja. Apabila sudah tiba waktunya, aku pasti akan beritahukan kepadamu.”

“Baik, sampai di sini saja, adik Tin, harap jaga baik dirimu sendiri, aku hendak pergi.”

Tiba-tiba Ie It Hoan menunjuk ke arah suatu tempat yang tidak jauh dari tepi danau dan berkata:

“Siapakah gerangan nenek tua itu?”

Hui Kiam berpaling, ia segera dapat melihat seorang perempuan tua berpakaian hitam sedang mengawasi keadaan di sekitar tepi danau. Perempuan tua itu, Hui Kiam merasa seperti sudah pernah melihat. Setelah ia coba memikirnya, lalu berkata:

“Oh dia!”

“Siapa?”

“Anak pungut Jien Ong, salah seorang daripada Tiga Raja dalam Rimba Persilatan!”

“Toako kenal dengannya?” “Kenal sekali saja. Karena Wanita Tanpa Sukma adalah anak pungutnya, kedatangan perempuan tua itu mungkin hendak memindahkan tulang-tulang Wanita Tanpa Sukma!”

Sehabis berkata ia mengawasi Cui Wan Tin, kemudian berkata kepadanya:

“Adik Tin, apakah obat pemunah racun masih bersisa?” “Masih ada separuh!”

“Bagus sekali, harap kau segera ambil.” ''Apakah ada gunanya?”

“Ya, dahulu mata Tee-hong telah dibikin buta oleh Thian Hong dengan racun serupa itu hingga obat ini sangat berguna baginya. Apabila mata Tee-hong bisa melihat Iagi, pasti ada faedahnya untuk membantu meredakan keadaan rimba persilatan dewasa ini.'“

“Apa? Apakah Thian Hong juga bisa menggunakan racun itu?” “Keterangan itu diucapkan oleh Tee-hong sendiri, karena aku

melihat perempuan tua itu, lalu maka baru teringat kepada diri Tee- hong.”

“Baiklah, sekarang aku pergi mengambilnya!”

Hui Kiam membuka kedoknya, ia lari menghampiri perempuan tua itu lalu berkata sambil memberi hormat:

“Apakah cianpwe masih ingat diri boanpwe?”

Sinar mata tajam perempuan itu menatap Hui Kiam, lalu berkata:

“Oh! Kau! Kedatanganku ini adalah hendak memindah tulang- tulang anak pungutku sekalian menengok sebentar Makam Pedang yang namanya tersiar luas di kalangan rimba persilatan.”

“Boanpwee ingin bertanya, apakah Jin Ong locianpwee baik-baik saja?”

“Kita semua baik-baik saja. Bagaimana hasilnya dengan penyelidikanmu tentang jarum melekat tulang itu?” “Masih belum selesai penyelidikanku. Di luar dugaan boanpwee menjumpai sesuatu kejadian yang agak aneh.”

“Kejadian apakah itu?”

“Delapan Iblis dari negara Thian-Tik yang dahulu terluka oleh jarum melekat tulang Jin Ong locianpwee, ternyata masih hidup. Empat di antaranya sekarang sudah diangkat sebagai anggota pelindung hukum tertinggi Persekutuan Bulan Emas.”

“Oh, ada kejadian serupa ini. Empat iblis itu telah muncul lagi di daerah Tiong Goan, mungkin bercita-cita hendak menuntut balas!”

“Mungkin. Tetapi Iblis Singa sudah binasa di dalam Makam Pedang, dewasa ini hanya tinggal tiga iblis.”

“Siapa yang membunuh mati Iblis Singa?” “Itu adalah boanpwe sendiri.”

“Kau.   dapat membinasakan Iblis Singa?”

“Hanya kebetulan saja!”

Perempuan baju hitam itu menatap wajah Hui Kiam sejenak, lalu berkata:

“Kau benar-benar mendapat kurnia Allah. Dalam waktu yang sangat singkat, kau sudah mendapat kemajuan sedemikian pesat. Nampaknya kau pasti menemukan kejadian gaib?”

“Kata cianpwee memang benar,” jawabnya Hui Kiam terus terang, “boanpwee telah mendapat pemberian hadiah dari Tee-hong locianpwee berupa tambahan kekuatan latihan tenaga tiga puluh tahun!”

“Apakah kau juga berjumpa dengan Tee hong?” “Ya!”

“Di mana?”

“Di dalam goa di bawah puncak gunung batu di gunung Keng- san.” “Aih! Sungguh tak disangka ia si orang tua masih ada di dalam dunia…“

“Apakah cianpwe kenal?”

“Belum pernah bertemu muka, hanya sering terdengar ayah angkatku yang menyebut namanya.”

“Sayang beliau sekarang sudah buta matanya.” “Mata Tee-hong sudah buta?”

“Ya, beliau sudah buta karena racun dedaunan yang amat berbisa ”

“Racun dedaunan? Hem, aku memang pernah mendengarnya.

Siapakah pelakunya?” “Thian Hong!”

Perempuan berbaju hitam itu terperanjat, sehingga mundur satu langkah. Wajahnya berobah dan berkata dengan suara gemetar:

“Lagi-lagi dia!”

Ucapan ‘lagi-lagi dia’ itu, tentunya mengandung rahasia.

Tergeraklah hati Hui Kiam, lalu menanya:

“Apakah Thian Hong masih melakukan perbuatan lain yang tidak senonoh?”

“Tahukah kau apa sebabnya sampai ayah angkatku berdiam di gunung Kim-kiong-san menjadi padri?”

“Apakah ini juga ada hubungannya dengan Thian Hong?” “Dugaanmu benar, itu adalah urusan beberapa puluh tahun

berselang. Pada suatu hari, ayah angkatku sedang melatih ilmunya.

Thian Hong tiba tiba datang berkunjung, ia berkata apa

yang tersiar luas di dalam dunia rimba persilatan nama Tiga Raja berendeng sama tingginya, itu seharusnya dibagi tingkatannya berdasarkan tinggi tendahnya kepandaian tiga orang itu. Ayah angkatku hanya ganda dengan tertawa, ia tak menghiraukan soal itu. Tetapi Thian Hong bersifat keras hendak mengadu kekuatan dengan ayah angkatku. Ia bahkan bersumpah, apabila kepandaiannya tidak dapat menandingi kepandaian ayah angkatku ia akan menghapus gelar Thian Hong itu.”

“Itu pasti mengandung maksud jahat.”

“Tetapi ayah angkatku terus menolak, namun Thian Hong minta diadakan pertandingan. Menurut keterangannya apabila kepandaiannya tidak setinggi ayah angkatku sedangkan namanya berada di tingkat yang teratas itu sangat tidak adil juga merupakan suatu penghinaan.”

“Dan akhirnya?”

“Ayah angkatku sudah tidak berdaya karena didesak terus menerus, terpaksa ia menerima baik tetapi dengan perjanjian hanya saling towel saja. Begitulah kedua pihak lalu bertanding. Setelah pertandingan berlangsung seratus jurus lebih, ayah angkatku pura- pura berlaku lengah, maksudnya hendak mengalah untuk mengakhiri pertandingan itu, tetapi Thian Hong ternyata dapat menduga maksud ayah angkatku. Ia mendesak terus, bahkan setiap serangannya ditujukan ke bagian tempat yang berbahaya. Dalam kenyataannya pertandingan itu bukankah pertandingan persahabatan melainkan pertempuran mati-matian. Ayah angkatku menjadi gusar ia telah bertempur dengan pikiran bebas, pertempuran itu berlangsung sampai seribu jurus lebih akhirnya ayah angkatku dikalahkan olehnya, maka saat itu lalu bersumpah selanjutnya tidak akan muncul lagi di dunia Kang-ouw. ”

“Kalau begitu di antara Tiga Raja itu barangkali Tee-hong yang terhitung lebih tinggi jikalau tidak, tidak nanti Thian Hong sampai menggunakan racun yang sangat berbisa itu. ”

“Kenyataannya memang benar begitu.”

“Maksud Thian-Hong hendak menjagoi dunia, maka ia perlu menyingkirkan dua orang lainnya yang dianggapnya bisa menjadi saingannya.”

“Begitu memang yang dikandung dalam hatinya.” “Tetapi di mana ia sekarang? Jikalau hanya ingin mendapatkan nama kosong saja dia seharusnya sudah terkenal sebagai seorang kuat nomor satu, namun kenyataannya sudah beberapa puluh tahun telah lewat, dia ternyata masih sama keadaannya dengan Tee-hong dan Jin Ong, kedua locianpwee, akhirnya menghilang dari dunia Kang-ouw.”

“Teka-teki ini sulit dimengerti. Mungkin setelah dia melakukan perbuatan itu akhirnya dia telah menyesal sehingga mengasingkan diri.”

“Sekarang ini hanya dengan pengertian demikian saja yang agaknya mendekati kenyataannya.”

“Siapakah saudara itu?”

“Boanpwee Ie It Hoan,” sahut Sukma Tidak Buyar yang ditanya. “Oh! Aku sekarang hendak pergi dulu untuk mencari jejak Thian-

Hong, selain daripada itu juga hendak menyelidiki kemana dan jatuh ke tangan siapa jarum melekat tulang yang menghebohkan itu. ”

“Boanpwee juga sedang mencari keterangan untuk mengungkap kedua rahasia ini.”

“Baiklah, aku hendak berangkat lebih dulu. Semoga tidak lama kemudian kita bisa berjumpa lagi.”

Sehabis berkata demikian ia segera berlalu meninggalkan Hui- Kiam.

Cui Wan-Tin sudah mengambil obat pemunah racun dedaunan itu. Ia memberikannya kepada Hui-Kiam.

Hui Kiam menyambutinya dan disimpan ke dalam badannya, lalu meminta diri.

Hui Kiam merasa bahwa Cui Wan Tin sebetulnya sudah banyak berkorban untuk dirinya, terutama kasih cintanya dalam dunia ini tidak ada duanya.

Perasaan kaum wanita memang yang paling halus dan lemah, terutama bagi gadis yang baru tenggelam dalam lautan asmara, begitulah keadaan Cui Wan Tin, sebelum Hui Kiam dan Ie It Hoan meninggalkannya, ia sudah balik dulu ke dalam Makam Pedang.

Hui Kiam mengawasi berlalunya gadis itu. Dalam hatinya timbul perasaan yang tidak dapat dilukiskan dengan pena.

“Toako, kita boleh berangkat,” demikian Ie It Hoan berkata dengan suara perlahan.

“Emmmm.”

Dua pemuda itu lari keluar lembah. Sepanjang jalan Hui Kiam merasa heran.

“Heran, mengapa kita tidak melihat orang-orang Persekutuan Bulan Emas yang mencegat?” demikian ia bertanya.

“Barangkali penjagaannya dihapuskan.”

“Di mana letaknya pusat perkumpulan kaum pengemis?”

“Semula di kota Khay-hong, lima tahun berselang dipindah ke tempatnya yang sekarang, di gedung Ma kay-goan, di luar kota Lam-yang.”

“Apakah pusat satu perkumpulan boleh dipindah sesukanya?” “Dalam hal ini bukan tidak ada sebabnya. Ma kay-goan di kota

Lam-yang sebetulnya merupakan keluarga terkemuka, kemudian difitnah oleh musuhnya, sehingga seluruh rumah tangganya dihukum mati, kekayaannya disita oleh pemerintah, hanya seorang cucunya bernama Ma Bun Pak yang berhasil menyelamatkan diri, diambil sebagai murid oleh ketua perkumpulan pengemis yang dulu. Pada lima tahun berselang, ia berhasil membikin terang soal fitnahan itu, sehingga harta kekayaannya dikembalikan semuanya. Ma Bun Pak dan hanya bisa mengambil sebuah gedung dan berikut ladangnya, sisanya diberikan kepada keluarga dekat dari leluhurnya! Dan ia sendiri adalah ketua atau pangcu yang sekarang, maka perkumpulan itu dipindahkannya ke gedung itu.”

“Pengetahuanmu sesungguhnya sangat mengagumkan.” “Toako terlalu memuji !” “Dari sini ke kota Lam-yang masih memerlukan perjalanan hampir seribu pal, apakah dapat dicapai dalam waktu lima hari?”

“Jikalau kita memotong di jalan, mungkin bisa.”

“Apakah dalam perjalanan kita ini juga akan melalui gunung Keng San?”

“Ya!”

“Itu bagus, aku hendak mampir ke bawah puncak gunung batu dulu untuk memberi obat ini kepada Tee-hong!”

“Mari!”

Keduanya lari menuju ke gunung Keng-san. Jalan itu bagi Hui Kiam sudah tidak asing lagi, maka dengan tanpa rintangan sudah tiba di tempat yang dituju.

Sambil menuding ke suatu tempat, Hui Kiam berkata: “Inilah tempatnya!”

“Nampaknya ini adalah suatu daerah yang tidak diinjak oleh jejak manusia ”

“Benar, masih dapat dilalui adik Hoan, aku pikir kau tunggu di sini saja, mungkin Tee-hong nanti keberatan menerima tamu asing!”

“Boleh aku menurut perintahmu, tetapi harap toako lekas kembali.”

“Baik!”

Hui Kiam melesat ke dalam rimba, sebentar saja sudah tiba di tempat di mana dahulu ia berjumpa dengan Tee hong. Tiba-tiba sesosok bayangan orang datang menyambut ke arahnya.

Ketika ia dapat melihat siapa adanya bayangan itu, hawa amarahnya meluap seketika. Bentaknya dengan suara keras:

“Jangan bergerak!”

Bayangan orang itu bukan lain daripada musuh bebuyutannya, si Orang Berbaju Lila. Orang Berbaju Lila itu belum lama berselang telah dipaksa terjun ke dalam jurang itu oleh Tong-hong Hui Bun. Secara kebetulan tertolong oleh Tee-hong. Tetapi daripada mengucapkan terima kasih, sebaliknya ia malah mencuri kitab pelajaran ilmu silat ciptaan Tee-hong dan serangan tangan yang tak ada tandingannya.   Dan kini orang itu berada di tempat ini, sesungguhnya sangat mencurigakan.

Orang Berbaju Lila itu agaknya juga terkejut oleh kedatangan Hui Kiam. Sejenak nampak tercengang, kemudian berkata dengan nada suara dingin:

“Penggali Makam, ada keperluan apa kau datang kemari?”

Hui Kiam terkejut, karena ia sendiri sudah berganti rupa dan pakaian, mengapa Orang Berbaju Lila itu masih dapat mengenalinya?

Seketika itu ia mundur satu langkah seraya berkata: “Apakah kau masih mengenali aku?”

“Kau sudah lupa merubah suaramu!” “Dengan tujuan apa kau datang kemari?”

“Apa yang kau artikan dengan istilah ‘tujuan’?”

“Kau telah dipaksa terjun ke dalam jurang ini, jikalau bukan Tee- hong yang menolong, tubuhmu dan tulang-tulangmu pasti sudah hancur. Tidak disangka kau bukan saja tidak ingat budi, sebaliknya kau malah mencuri kitab pelajaran ilmu silatnya dan kabur….”

“Ternyata banyak juga yang kau ketahui!”

“Tuan, rekening antara kita berdua, sekarang kita bikin perhitungan di sini!”

“Terserah!”

“Kau masih belum menerangkan tujuanmu datang kemari!” “Maksudku hendak mengembalikan kitabnya.”

“Kau hendak mengembalikan kitab ilmu silat yang kau curi itu?” “Benar, tetapi….” “Tetapi mengapa?”

“Tidak dapat lagi kukembalikan!” “Sebabnya?”

“Tee-hong sudah tidak ada lagi di dalam dunia!”

Hui Kiam hampir melompat. Dengan mata beringas dan suara gemetar ia bertanya:

“Apa? Tee-hong locianpwee sudah disiksa?” “Benar!”

“Bagaimana cara matinya?”

“Mati tertembus pedang di dadanya!” “Siapa pembunuhnya?”

“Tidak tahu!”

“Ilmu pedangmu sudah tidak ada taranya.” “Apa maksudmu?”

“Perbuatan kejam, pengecut dan serendah ini kecuali kau, orang lain tidak akan melakukan!”

Orang Berbaju Lila itu mundur satu langkah, katanya:

“Apakah kau anggap kematian Tee-hong aku yang membunuh?” “Barangkali tidak salah.”

“Aku menyangkal.”

Kemarahan Hui Kiam sudah tidak terkendalikan lagi. Dari jauh ia membawa obat datang kemari maksudnya supaya dapat menolong Tee-hong dari penderitaannya, juga sebagai pembalasan budi yang sudah memberikan tambahan kekuatan latihan tenaga tigapuluh tahun, tetapi tidak disangka Tee-hong sudah binasa secara menyedihkan. Seorang jago kenamaan dari rimba persilatan telah berakhir dengan demikian menyedihkan, benar-benar sangat disesalkan. Ia lalu berkata sambil menunjukan Orang Berbaju Lila:

“Orang Berbaju Lila, dengan ucapan menyangkal, apa kau kira sudah boleh cuci tangan?”

“Habis mau apa?”

“Sekalipun mati seratus kali kau juga belum cukup untuk menebus dosamu. Aku hendak menggunakan cara yang paling hebat untuk menyiksa kau!”

“Paling banter mati ”

“Aku tidak akan membiarkan kau mati dengan tenang. Kau akan mati lambat-lambat, agar supaya sebelum nyawamu putus masih ada kesempatan untuk merasakan buah kejahatan yang kau tanam sendiri.”

“Hui Kiam, aku tidak menyangkal bahwa permusuhan antara kita berdua tidak dapat didamaikan lagi, tetapi sebagai laki-laki kau harus berani menerima kenyataan.”

“Sebelum kau kubunuh, aku suka mendengarkan pesan terakhirmu.”

Orang Berbaju Lila itu berdiam sejenak, kemudian berkata dengan suara tenang:

“Dahulu ketika aku membunuh tiga supekmu, pertempuran itu dilakukan secara adil dengan mengandalkan masing-masing kepandaiannya sendiri, sekali-kali tidak menggunakan akal busuk!”

“Kekalahan suhu dan si-supek karena kena serangan jarum melekat tulang secara menggelap, tentang ini, bagaimana kau harus menjelaskan?”

“Aku sudah berkata sama sekali aku tidak tahu bagaimana rupanya jarum melekat tulang itu.”

“Tetapi suhu dan sisupek diserang secara menggelap itu tatkala sedang bertempur denganmu.”

“Hal itu aku tidak tahu.” “Kau tidak berani mengaku?”

“Ha ha ha, kalau itu memang benar-benar perbuatanku, mengapa aku tidak berani mengaku?”

“Biarlah kita kesampingkan dulu soal ini dulu. Maksudmu bertempur dengan suhu dan supek tujuanmu adalah hendak merampas kitab ilmu silat Thian Gee Po-kip, berdasar atas ini saja sudah cukup bagimu untuk menerima pembalasan dariku.”

“Tentang ini aku akui, aku juga tidak akan mengelakkan tanggung jawabku.”

“Sekalipun kau hendak lari juga sudah tidak bisa lagi. Dan perbuatanmu membunuh Penghuni Loteng Merah bersama To- Liong-Kiam Khek dengan suatu rencana yang keji, rekening ini ”

“Aku mengakui.” “Membunuh Tee-hong?” “Aku tetap menyangkal!”

“Apakah kau kira aku percaya?”

“Tee-hong menemukan ajalnya sedikitnya tiga hari berselang dan aku, aku sendiri tadi pagi baru tiba di sini.”

“Ada bukti?”

“Tiga hari berselang aku ada di kota Lam-yang menolong jiwa Orang Tua Tiada Turunan. Kau boleh pergi membuktikannya sendiri.”

Hui Kiam terkejut, “Kau pernah menolong jiwa Orang Tua Tiada Turunan?”

“Benar, jikalau bukan aku turun tangan, Orang Tua Tiada Turunan sudah mati di tangan Iblis Gajah.”

“Kau katakan Iblis Gajah?”

“Hem! Anggota badan pelindung hukum tertinggi Persekutuan Bulan Emas.”

“Apakah Iblis Gajah sekarang berada di kota Lam-yang?” “Masih ada anak buahnya yang tergolong berkepandaian cukup tinggi berjumlah kira-kira empat puluh orang!”

“Bagaimana dengan perkumpulan kaum pengemis?”

“Ketuanya tertangkap, anak buahnya mati atau luka berjumlah seratus lebih.”

“Apakah itu benar?”

“Tidak ada perlunya aku membohongi kau.”

Mendengar keterangan itu Hui Kiam merasa mendelu. Kepergiannya sendiri kali ini bersama Sukma Tidak Buyar justru hendak membantu perkumpulan kaum pengemis itu, tidak diduga Persekutuan Bulan Emas sudah turun tangan lebih dulu. Karena pusat perkumpulan kaum pengemis itu kini sudah musnah, maka perjalanannya ini tak berarti lagi.

“Setelah pangcunya ditangkap, bagaimana nasib selanjutnya perkumpulan kaum pengemis itu?”

“Nampaknya hanya satu yang terpaksa harus menyerah kepada Bulan Emas.”

“Di mana adanya ketua kaum pengemis itu?”

“Ditawan dalam pusat perkumpulan kaum pengemis itu, yang sekarang sudah diduduki oleh Iblis Gajah!”

Hui Kiam menganggukkan kepala, dalam hatinya sudah mengambil keputusan, maka memutar pembicaraan ke lain soal:

“Bagaimana dengan jenazah Tee-hong?” “Sudah kukubur !”

“Harap kau suka menyerahkan kitab ilmu silatnya, sebab aku sudah berjanji akan meminta kembali.”

“Kitab itu sudah kubakar, di hadapan kuburannya.”

“Hem, perbuatanmu memang bagus, dan sekarang aku hendak menagih hutangmu terhadap perguruanku ” Mata Orang Berbaju Lila itu nampak guram. Dengan suara agak gemetar ia berkata:

“Hui Kiam, hutang ini tidak perlu kau yang turun tangan sendiri untuk menagihnya, aku nanti pasti akan membayar sendiri. ”

Hui Kiam maju menghampiri. Dengan penuh hawa amarah ia berkata:

“Aku hendak bunuh kau dengan tanganku sendiri!”

Orang Berbaju Lila itu berkata sambil mundur satu langkah:

“Aku harap kau suka memberikan sedikit waktu kepadaku, supaya aku dapat membereskan beberapa hutangku pribadi!”

“Tidak bisa!”

“Di samping itu aku juga hendak menyelidiki teka-teki jarum melekat tulang. ”

“Tidak perlu, aku bisa menyelidiki sendiri.” “Apakah kau tidak boleh tidak harus bertindak?”

“Sudah tentu, tiada alasan bagiku untuk membiarkanmu hidup lagi.”

“Kepandaianmu sekarang mungkin sudah lebih tinggi dariku, tetapi belum tentu kau dapat membunuh aku ”

“Kenyataan nanti yang akan menjawab!” “Lihat pedang!”

Di antara suara bentakan, sinar pedang bagaikan segumpalan sinar bintang dengan rapat mengurung Hui Kiam.

Serangan itu dilakukan sedemikian cepat. Karena Hui Kiam tidak membawa senjata ia juga tidak menduga musuhnya itu akan turun tangan secara mendadak, dengan sendirinya ia terpaksa harus melompat mundur.

Hampir serentak pada saat itu Orang Berbaju Lila itu hampir sudah menghilang. Hui Kiam gusar sekali, ia membentak dengan suara keras: “Kemana kau hendak lari?!”

Setelah itu dengan cepat ia mengejar. Akan tetapi yang satu karena sengaja mengundurkan diri, dan yang lain bertindak secara tergesa-gesa, sedikit terlambat saja orang berbaju lila itu sudah menghilang di dalam rimba lebat.

Hui Kiam mengejar di dalam rimba, tetapi tidak berhasil menangkapnya. Terpaksa ia balik kembali dan berkata pada diri sendiri dengan hati penasaran.

“Kau sudah tidak bisa kabur. Lain kali apabila berjumpa lagi aku tidak akan memberikan kesempatan sedikitpun juga.”

Ia merasa kepandaian orang berbaju lila ini ternyata sudah lebih maju lagi, mungkin ini ada hubungannya dengan kitab pelajaran Thee-hong. Dengan kepandaian yang sudah dimiliki oleh Orang Berbaju Lila, yang memang sudah menggemparkan dunia rimba persilatan dan sekarang ditambah lagi dengan kepandaian yang didapat dalam kitab Thee-hong, kepandaiannya sudah tentu lebih hebat lagi.

Ia berpikir, ia sendiri andaikata lebih dahulu mengetahui maksud musuhnya itu, tidak nanti memberi kesempatan kepadanya sampai bisa lolos melarikan diri sedemikian mudah.

Hui Kiam berdiri termangu-mangu sejenak. Ia melanjutkan perjalanannya untuk mengunjungi gua tempat kediaman Thee- hong, ternyata mulut gua sudah ditutup oleh sebuah batu besar. Tidak jauh dari luar gua, ada sebuah makam yang masih baru, di atas batu nisannya terdapat tulisan yang berbunyi:

“Di sini dimakamkan jenazah Thee-hong, yang semasa hidupnya merupakan seorang luar biasa dalam rimba persilatan.”

Siapa pembunuh Tee-hong? Apakah maksud dan tujuannya melakukan pembunuhan itu?

Kedua pertanyaan ini selalu berpuiar dalam otaknya Hui Kiam. Oleh karena Orang Berbaju Lila yang sudah mengubur jenazahnya lagi pula sudah membuktikan bahwa pada tiga hari berselang ia pernah menolong jiwa Orang Tua Tiada Turunan, nampaknya perbuatan kejam ini bukan dilakukan olehnya. Akan tetapi, kematian Tee-hong itu apakah benar terjadi pada tiga hari berselang, ataukah terjadi pada hari ini? Tiada orang yang dapat membuktikan, juga tidak mungkin jenazah itu dikeluarkan lagi dari kuburannya, karena itu merupakan suatu perbuatan tidak patut bagi orang sudah mati. Sebelum menjadi jelas persoalannya, orang berbaju lila itu masih belum terlepas dari sangkaan. Jika ditilik dari adat dan sepak terjangnya, apapun ia dapat melakukannya.

Hui Kiam merasa sedih terhadap nasib seorang jago luar biasa yang pernah mendapat nama harum di kalangan Kang-ouw. Ia juga bertambah kebenciannya terhadap manusia-manusia yang tamak dan rakus serta kejam.

Kematiaan Tee-hong ini, sebetulnya merupakan suatu hal di luar dugaan Hui Kiam.

Setelah ia melakukan penghormatan yang penghabisan di hadapan makamnya, lalu berlalu.

Baru berada di luar lembah, sudah disambut oleh Ie It Hoan. “Toako, sudah selesai?”

“Tee-hong sudah meninggal!” jawab Hui Kiam sambil menghela napas.

“Apa? Tee-hong sudah meninggal?” “Ya.”

“Mati secara bagaimana?”

Hui Kiam lalu menceritakan apa yang telah terjadi dalam pertemuannya dengan Orang Berbaju Lila.

Ie It Hoan berdiam sekian lama, akhirnya baru berkata:

“Dimulai dari kematian Sam Goan Lojin, orang-orang berkepandaian tinggi tingkat tua dalam rimba persilatan, dengan beruntun mengalami nasib buruknya secara aneh. Hal ini rasanya bukan secara kebetulan.”

“Bagaimana menurut pandanganmu?” “Mungkin ada pembunuhan berencana.”

“Dengan kepandaian Tee hong, meskipun kedua matanya sudah buta, tetapi orang yang mampu membinasakannya, berapakah jumlahnya dapat dicari dalam rimba persilatan?”

“Tetapi biar bagaimana ia toh sudah mati.”

“Kabut yang meliputi rahasia kejahatan ini, aku bersumpah hendak membongkarnya.”

“Toako, ini adalah pedangmu!”

Sehabis berkata, ia memberikan sebilah pedang pusaka berikut rangkanya.

Dengan sikap terheran-heran dan pikiran bingung ia bertanya: “Dari mana aku mempunyai pedang?”

“Pedang ini hadiah dari Orang Menebus Dosa.”

Hui Kiam semakin heran. Ia menyambut pedang pusaka itu dan berkata dengan suara gemetar:

“Orang Menebus Dosa?” “Ya.”

“Bagaimana sebetulnya?”

“la menyuruh kita berdua segera berangkat ke kota Lam-yang untuk membebaskan perkumpulan kaum pengemis dari bahaya. Selain daripada itu ia juga berkata, bahwa menggunakan pedang adalah kepandaianmu yang utama, kau tidak boleh membuarg keahlianmu ini, maka ia meninggalkan pedang ini untukmu.”

“Sekarang d i mana orangnya?” “Ia pergi belum lama berselang.” “Bagaimana rupanya?” “Maaf, aku hanya mendengar suaranya, tetapi tidak melihat orangnya. Pedang ini dia letakkan dalam rimba. Waktu hendak berlalu hanya suruh aku nmengambil sendiri ke dalam rimba itu.”

“Apakah kau tidak melihat wajah aslinya?” “Bayangannya sajapun tidak pernah lihat.”

“Aneh, ia sebetulnya orang golongan mana? Adik Hoan, menurut apa yang aku lihat dialah yang benar-benar merupakan Sukma Tidak Buyar, bagaikan hantu saja segala sepak terjangnya tidak dapat dimengerti oleh pikiran biasa, terutama terhadap diriku ia mengetahui begitu jelas. Ini bukan saja sangat mengherankan, tetapi juga menakutkan.”

“Memang, di hadapan Orang Menebus Dosa, nama julukan ini sudah tidak berarti lagi. Aku pernah berusaha untuk mencuri lihat wajah aslinya, tetapi sedikitpun tidak berhasil. Ia menyampaikan pesannya dengan menggunakan semacam ilmu kepandaian yang tersendiri, agaknya jauh tetapi kedengarannya nyata, sebentar seperti dari arah kiri, sebentar lagi seperti dari arah kanan. Aku sudah memutar otak, dan memeras keringat, tetapi toh masih belum berhasil menemukan jejaknya.”

“Aku memakai nama julukan Penggali Makam, sekarang baru merasa bahwa julukan itu terlalu sombong. Entah berapa banyak orang jahat yang sebetulnya aku dapat mengumpulkannya?”

“Toako, kau jangan berputus asa, Orang Menebus Dosa telah meramalkan kau akan menjadi orang kuat nomor satu dalam dunia….”

“Aku… aih! Di dalam rimba persilatan hanya merupakan seorang yang tak berarti.”

“Toako, kita balik ke pokok pembicaraan kita. Kau periksalah pedang ini.”

Hui Kiam mengeluarkan pedang dari sarungnya dan memeriksanya dengan seksama. Tiba-tiba di gagang pedang ia menemukan ukiran dua huruf kecil yang berbunyi ‘To- liong’. Ia segera berseru:

“To-liong Kiam!”

Dari pedang itu ia teringat kepada diri To-liong Kiam Khek Suma suan, yang dalam pesan ibunya merupakan orang harus dibunuhnya, tetapi dari apa yang pernah dilihatnya dapat diduga bahwa orang itu adalah ayahnya sendiri.

Orang Berbaju Lila pernah mengaku bahwa ia adalah sahabat karib To-liong Kiam Khek, tetapi mengapa kemudian ia membunuhnya bersama-sama dengan Penghuni Loteng Merah?

Dan apa sebabnya Orang Berbaju Lila harus membunuh Penghuni Loteng Merah dengan akal keji dan kejam itu?

Orang Berbaju Lila itu juga pernah memberitahukan kepadanya bahwa To-liong Kiam Khek dengan TorgHong Hui-Bun pernah menjadi suami istri, dan melarang dirinya mengadakan perhubungan dengan perempuan cantik itu, tetapi sebaliknya ia sudah tergila-gila dan jatuh cinta kepada si cantik itu....

Berapa bagian ucapan Orang Berbaju Lila dapat dipercaya? Semua ini membikin kalut pikiran Hui Kiam.

Terdengar suara Ie lt Hoan berkata:

“Toako, apakah kau mengetahui asal-usulnya pedang sakti ini?” “Tidak tahu!”

“Tetapi kau seperti sudah menemukan sedikit keterangan tentang pedang ini, sehingga sikapmu seperti orang kehilangan semangat, betul tidak?”

“Kau bicara jangan berputar-putar!”

“Menurut keterangan Orang Menebus Dosa, pedang ini adalah senjata To Liong Kiam Khek Suma Suan yang membuat namanya menjadi kesohor, juga merupakan barang peninggalannya.”

“Bagaimana?”

“To Liong Kiam Khek adalah ayahmu.” “Oh!”

Keringat membasahi kening Hui Kiam. Ini adalah suatu fakta yang sangat menakutkan. Ia pernah berusaha untuk menyingkirkan, tetapi nyatanya fakta itu memaksa ia harus menerima fakta itu.  Dengan hati pilu ia berkata:

“Orang Menebus Dosa berkata apa lagi?”

“Ia berkata semoga kau dapat menggunakan pedang ini sebaik- baiknya!”

“Bagaimana pedang ini bisa berada di dalam tangannya?” “Hal ini aku tidak tahu lagi!”

“Adik Hoan, kalau teka teki ini tidak terungkap, aku bisa gila. Bicaralah terus terang, Orang Menebus Dosa itu gurumu atau bukan?”

“Bukan.”

“Jawablah dengan tegas!”

“Betul, jawabanku ini selalu tidak berubah, Orang Menebus Dosa bukan suhuku!”

Benarkah faktanya demikian? Ini sesungguhnya terlalu kejam. Kalau begitu apa yang disebut “iblis wanita... tusuk konde mas…” dalam pesan ibunya, kemungkinan besar yang dimaksudkan adalah Penghuni Loteng Merah. Mungkin sekali ibunya itu karena terlalu benci yang sudah ditinggal oleh suaminya, sehingga dalam pesannya juga menyuruh untuk membinasakan ayahnya sendiri. Dan mungkin oleh karena rasa benci, sehingga ia harus menggunakan she ibunya, tidak memakai she Suma.

Tragedi yang menyedihkan ini, masih untung belum terwujud, jikalau tidak ia sendiri bukankah akan menjadi seorang anak berdosa yang membunuh ayahnya sendiri?

Dan bagaimana pula dengan makam di puncak gunung yang sudah dirusak itu? Orang Berbaju Lila setelah mendengar keterangan bahwa jenasah yang dikubur itu bukan jenasah orang yang sebenarnya, ia lalu demikian gusar dan merusaknya, mengapa?

la tokh bukan orang yang bersangkutan, yang tertipu juga bukan dia sendiri, tetapi mengapa ia berbuat demikian?

Ini merupakan suatu pertanyaan besar. Nampaknya hendak menjernihkan persoalan ini hanya Orang Menebus Dosa. Tetapi sepak terjangnya orang itu, juga merupakan suatu teka-teki besar. Sayang waktunya sendiri ketemu dengannya kedua matanya sedang buta, kalau tidak ia pasti akan dapat mengenali wajah aslinya.

“Apakah Orang Menebus Dosa menyuruh kau dan aku segera berangkat ke pusat perkumpulan kaum pengemis?”

“Ya!”

“Ia sendiri mungkin tidak akan berpeluk tangan dalam soal ini?” “Itu sudah tentu.”

“Mari kita berangkat!”

Sehabis berkata ia lalu menggantungkan pedang pusaka di pinggangnya, lalu berlari dengan serentak.

Pikiran Hui Kiam masih kalut, dia mengharap dalam perjalanan ke kota Lam-yang itu bisa bertemu dengan Orang Menebus Dosa, untuk membuka pikirannya yang pepat, jikalau tidak, penderitaan batin itu benar-benar akan membuat ia gila.

---ooo0dw0ooo---