Pedang Pembunuh Naga Jilid 18

Jilid 18

“E N C I, kau jangan membunuhnya!” “Mengapa?”

“Aku hendak membunuhnya dengan tanganku sendiri.”

Ia teringat bahwa orang yang berbaju lila itu sudah mencuri kitab pelajaran ilmu silat Tee-Hong, juga sudah dapat memahami ilmu serangan jari tangan, apabila ia berhasil mempelajari ilmu silat itu, akan lebih susah dihadapinya.

Karena roda kereta itu berjalan di atas jalan yang tidak rata, dengan sendirinya Hui Kiam dan Tong-hong Hui Bun semakin rapat duduknya, ditambah lagi dengan bau harum yang timbul dari tubuh Tong-hong Hui Bun, membuat Hui Kiam tergoncang hatinya.

Tong Hong Hui Bun tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Hui Kiam dan menangis dengan sedihnya.

Sambil memeluk dan mengelus-ngelus tubuh Tong Hong Hui Bun, Hui Kiam berkata dengan suara cemas:

“Enci, ada apakah?”

“Selama hidupku aku hanya selalu mau menang saja, aku selalu berbuat sesukaku menurut keinginanku, tetapi sekarang aku tiba- tiba merasa sudah berubah menjadi seorang lemah. Seperti biasanya seorang perempuan yang berhati lemah, aku tidak tahu apa yang aku lakukan ini benar ataukah keliru?”

“Apa yang enci maksudkan dengan perkataan benar atau keliru itu?”

“Yang kumaksudkan adalah perbuatanku!”

“Yang kau maksudkan dengan perbuatan, apakah adalah perbuatan perhubungan dengan aku?”

Tong Hong Hui Bun melepaskan diri dari pelukan Hui Kiam. Ia duduk lagi di tempatnya dan berkata:

“Begitulah kiranya!”

“Enci, kau seharusnya tidak membawaku pergi. Sekarang masih belum terlambat, biarlah aku di sini.”

“Jangan mengoceh!”

“Enci kemudian hari bisa menyesal. ”

“Menyesal?” bertanya Tong-hong Hui Bun. Matanya terbuka lebar, kemudian ia berkata kepada diri sendiri: “Ya, mungkin ada satu hari aku akan menyesal. Aku keliru, yah, keliru sekali, suatu kekeliruan yang menakutkan.”

Hati Hui Kiam merasa perih, sekujur badannya dingin. Ia berkata sambil mengatupkan gigi:

“Enci, untuk menghindarkan kemenyesalanmu di kemudian hari, juga untuk memelihara kenang-kenangan indah kita di masa yang lampau, biarlah kita berpisah. Sampai berjumpa lagi. ”

“Tidak!” “Enci. ”

“Adik, cintaku terhadap kau tidak berobah. Apa yang aku ucapkan tadi bukan seperti apa yang kau pikirkan!”

“Kalau begitu apakah artinya?” tanya Hui Kiam bingung. “Aku benci kepada diriku sendiri. Aku tidak berdaya terhadap diriku sendiri!”

“Aku boleh berlalu dari sampingmu, enci. Aku mempunyai cukup keberanian dan ketabahan berbuat demikian!”

“Kau... meninggalkan aku? Apa artinya aku hidup? Untuk pertama kali aku jatuh cinta kepada seseorang dengan setulus hati juga mengharap ini adalah kekasihku yang penghabisan. Adik, kau tidak memahami hatiku. Aku….”

Hui-Kiam benar-benar sangat bingung. Kata-katanya Tong-hong Hui Bun tidak keruan, satu sama lain sangat bertentangan. Apakah ia mempunyai kesulitan? Apakah dia...?

“Ya, memang aku tidak mengerti dirimu. Perkataanmu membuat aku bingung, susah dimengertinya.”

“Adik, sudah sampai di sini saja, jangan bicarakan soal ini lagi!” “Tetapi biar bagaimana kita tokh harus menjelaskan duduk

perkaranya.”

Tong-hong Hui Bun tidak menjawab, ia menggeser badannya semakin rapat kepada Hui Kiam.

Pikiran Hui Kiam sangat kalut, ia tidak tahu apa yang harus dibuatnya. Ia tak dapat menebak isi hati si cantik itu, entah mengandung rahasia apa? Apa yang dikatakan olehnya ‘keliru’ dan menyesal sudah tentu tak ada sebabnya.

Ia berusaha sedapat mungkin menenangkan pikirannya, mengharap supaya bisa terlepas dari kekusutan.

Jika apa yang dikatakan oleh Tonghong Hui Bun, bahwa ia yakin dapat menyembuhkan kedua matanya yang buta itu hanya merupakan kata-kata untuk menghibur dirinya saja, maka akibat yang dideritanya benar-benar sangat menghawatirkan sekali. Penderitaan yang sesungguhnya boleh dikata masih belum dimulai.

Bagaimana harus menghadapi hari depan? Mulai sekarang seharusnya disiapkan suatu rencana yang konkrit….

Ia mulai merasa bahwa manusia hidup kadang-kadang lebih susah daripada mati.

Cinta, belum tentu merupakan suatu kebahagiaan, bahkan ada kalanya, merupakan suatu siksaan batin yang hebat.

Hingga saat itu ia masih belum mengetahui asal-usul perempuan cantik itu, ini sesungguhnya merupakan suatu hal yang tidak masuk akal, bahkan patut ditertawakan.

Akan tetapi, adat Hui Kiam membuat ia tidak mau menanyakan lebih jauh urusan orang lain yang sukar menjelaskan.

Ia berpikir bolak balik, biar bagaimana tidak bisa mendapat suatu keputusan.

Entah berapa lama telah berlalu, juga entah berapa jauh sudah dilalui, Tong-hong Hui Bun sekonyong-konyong membuka mulut:

“Adik, ada sesuatu hal aku merasa berat membicarakan denganmu.”

“Enci katakan saja!”

“Apakah kau suka masuk menjadi anggota Persekutuan Bulan Emas?”

Hui Kiam terperanjat. Dengan cepat ia bertanya: “Mengapa enci mengeluarkan pertanyaan demikian?” “Untuk kepentingan kedua matamu.”

“Ini ada hubungan apa dengan Persekutuan Bulan Emas?”

“Matamu buta karena racun dedaunan Iblis Singa, racun itu hanya Delapan Iblis yang dapat menyembuhkan. Jika kau menjadi anggota Persekutuan Bulan Emas, boleh minta obat pemunahnya kepada empat iblis yang lainnya.”

“Tetapi Iblis Singa itu adalah aku yang membinasakan.” “Kalau kau tidak mengatakan kepada siapapun juga, dan aku juga tidak, siapa yang tahu?”

“Kalau mereka menanyakan sebab musababnya aku kena racun? “Kau boleh mengatakan karena kesalahan tangan.”

“Aku dengan Persekutuan Bulan Emas ibarat air dengan api, permusuhan itu sudah sangat dalam sekali. Apakah mereka mau menerima?”

“Asal kau suka, semua menjadi tanggung jawabku.”

“Enci dengan Bulan Emas apakah mempunyai hubungan erat?” “Ada!”

“Tetapi enci juga pernah membinasakan tidak sedikit anak buah Bulan Emas yang terhitung kuat ”

“Itu adalah soal lain, biar bagaimana Persekutuan itu tidak akan menganggap kau sebagai musuh.”

“Aku tidak mengerti.”

“Di kemudian hari kau akan mengerti.”

“Enci. maafkan aku bicara terus terang. Aku lebih suka buta mataku untuk selama-lamanya tetapi tidak suka menjadi anggota Persekutuan Bulan Emas!”

Mendengar pernyataan itu Tong-hong Hui Bun tidak terkejut, agaknya jawaban Hui Kiam itu sudah di dalam dugaannya. Maka dengan tenang ia berkata:

“Mengapa?”

“Persekutuan Bulan Emas bercita-cita hendak menguasai dunia, telah menimbulkan banyak pertumpahan darah dalam rimba persilatan. Semua sepak terjangnya, telah dikutuk oleh Tuhan, ditantang oleh manusia. Baik dan jahat tidak bisa hidup bersama- sama, bagaimana aku boleh karena urusanku pribadi, lalu menjual keadilan dan kebenaran rimba persilatan?” Paras Tong-hong Hui Bun berubah sedemikian rupa, tetapi karena Hui Kiam tak dapat melihat, masih terus melanjutkan kata- katanya:

“Enci, bicaralah terus terang, apakah ini keinginanmu?”

“Adik, andaikata aku berkata ya, bagaimana dengan kau?” jawab Tong-hong Hui Bun sambil menghela napas.

Wajah Hui Kiam nampak berkerenyit beberapa kali, baru berkata: “Kalau begitu aku terpaksa membuat enci kecewa.”

“Apakah kau lebih suka tidak melihat matahari untuk selama- lamanya, daripada menjadi anggota Bulan Emas?”

“Ya!”

“Kalau sudah tidak perlu berpikir masak-masak lagi?” “Tidak perlu!”

Suasana hening kembali.

Suara menggelindingnya roda kereta, seolah-olah menggilas hatinya perih sekali.

Pada saat itu, gerak roda kereta mulai lambat kemudian disusul dengan suara kaki kuda seperti menginjak papan. Kiranya kereta itu tengah melalui jembatan kayu.

“Apakah sudah sampai di jembatan panjang?” tanya Tong hong Hui bun dengan suara nyaring.

“Ya, sudah tiba di jembatan panjang....” jawab si kusir kereta. Tetapi sebelum berkata lebih lainjut, awak kereta tiba-tiba terjadi goncangan hebat. Suara jeritan terkejut, suara bunyi kuda dan suara patahnya kayu, terdengar saling menyusul dan kereta itu berputaran kemudian terbalik dan terjun ke dalam sungai....

“Jembatan patah!” berseru Tong-hong Hui Bun, lalu memukul hancur tutup kereta, dan melesat keluar. Di tengah udara ia berjumpalitan kemudian melayang turun ke bagian yang tidak patah. Bersamaan pada saat itu, kereta berikut kudanya, sudah tercebur ke dalam sungai. Karena air mengalir sangat deras, kuda kereta itu dengan susah payah berenang sambil menyeret awak kereta ke lain tepi.

Pelayan perempuan yang menjadi kusir kereta dengan paras pucat pasi berdiri di lain ujung jembatan yang sudah terpatah menjadi dua.

Tong hong Hui Bun dan pelayan perempuannya agaknya tidak pandai berenang, mereka berdiri melongo tanpa daya.

Ketika nampak kuda sudah tiba di tepi sungai bagian depan, pelayan perempuan itu segera melompat dan menariknya ke atas. Tetapi kecuali kayunya, awak kereta sudah tidak ada lagi.

Paras Tong-hong Hui Bun pucat pasi, badannya gemetaran, mulutnya hanya dapat mencetuskan kata: “Dia... dia. ”

Pelayan perempuan itu dengan badan gemetar dan paras ketakutan berlutut di depan majikannya seraya berkata:

“Ibu majikan, ampuni dosa budakmu!”

“Kau menjalankan kereta bagaimana begitu gegabah?”

“Budakmu tidak menduga akan terjadinya peristiwa seperti ini, karena jembatan ini belum lapuk ….”

Paras Tong-hong Hui-Bun berubah seketika, airmata mengalir bercucuran. Ia berkata dengan suara sedih:

“Adik, apakah kau benar-benar akan terpisah denganku?”

Kemudian dengan secara tiba-tiba tangannya bergerak lalu disusul oleh suara jeritan ngeri tubuh pelayan perempuan itu terbang melayang ke dalam sungai, jiwanya melayang seketika itu.

“Ini pasti adalah akal keji yang direncanakan oleh jahanam itu. Tiang dan jembatan tidak lapuk, tidak mungkin patah tanpa sebab. Mengapa ia hendak membunuh Hui Kiam? Tidak mungkin. Tujuannya adalah aku, tidak disangka hendak mencelakakan Hui Kiam. Dengan kepandaian dan kekuatan tenaga dalam Hui Kiam, seharusnya ia timbul ke permukaan air, tetapi mengapa ... dalam hal ini agaknya ada apa-apa …” demikian To-hong Hui Bun menggumam sendiri. Matanya mengawasi permukaan air sungai, dengan pengharapan dapat menemui Hui Kiam.

Tetapi ia kecewa! Putus harapan!

Ia lari menyusuri tepi sungai sambil berkata kepada diri sendiri: “Sekalipun orangnya sudah mati seharusnya juga ada

bangkainya. Aku tak sayang mengorban segala apa, biar bagaimana harus kucari bangkainya sampai dapat!”

Setelah Tong-hong Hui Bun berlalu jauh, dari bawah jembatan muncul kepala orang yang sudah kuyup. Orang itu celingukan mengawasi keadaan di sekitarnya sejenak, dengan cepat ia berenang ke lain tepi. Di bawah ketiaknya bahkan mengepit tubuh seseorang.

Setelah naik ke darat, dengan cepat lari ke dalam rimba tidak jauh dari jembatan itu.

Di dalam rimba yang lebat tampak dua bayangan orang yang basah kuyup semuanya, satu rebah terlentang di tanah, satu berdiri.

Yang terlentang di tanah bukan lain daripada Hui Kiam yang sudah buta matanya.

Hui Kiam setelah kecebur ke dalam air, meski sudah keburu menutup pernapasannya, tetapi juga sudah kemasukan air ke dalam perutnya. Seorang yarg tidak pandai berenang, betapapun tinggi kepandaian ilmu silatnya, di dalam air akan tidak berdaya sama sekali. 

Sekarang ia tahu bahwa dirinya sudah berada di darat. Setelah mengatur pernapasannya sebentar lalu membuka mulut dan bertanya dengan nada suara dingin:

“Sahabat siapa?”

“Toako, inilah aku!” terdengar suara jawaban Sukma Tidak Buyar. Hui Kiam yang mengenali suaranya Sukma Tidak Buyar segera marah.

”Apakah maksudmu ini?” demikian tegurnya dan segera lompat bangun.

“Toako, dengan terpaksa aku melakukan perbuatan ini, karena keadaan sudah mendesak, aku tidak mendapat akal lain supaya kau bisa meninggalkannya.”

“Bagaimana dengan dia?”

“Jangan khawatir, bajunyapun tak basah!”

“Bukankah kau akan menunggu aku di gunung Bu-leng san? Bagaimana sekarang berada di sini melakukan perbuatan gila-gilaan ini?”

“Karena mendapat berita kilat baru aku lari menuju kemari.” “Siapa yang memberitahukan berita kilat itu kepadamu ?” “Suhuku!”

“Suhumu sebetulnya adalah seorang aneh dan misterius, siapakah dia sebetulnya?”

“Toako, sekarang ini belum dapat aku membuka rahasianya.”

Hui Kiam nampak berpikir. Akhirnya berkata sambil menghela napas panjang:

“Ya, dengan cara begini meninggalkan dia baik juga.” “Toako, kau maafkan aku!”

“Ah! Adik Hoan, semuanya adalah nasib, manusia sedikitpun tak bisa berbuat apa-apa! Aku tahu bagaimana perasaanmu, tetapi. ”

“Kenapa?”

“Aku sudah menjadi seorang bercacat, sekarang bisa berbuat apa?”

“Toako, bagaimana duduk perkaranya?” Hui Kiam lalu menceritakan semua apa yang telah terjadi.

Kemudian ia berkata:

“Adik Hoan, apakah terlebih dulu kau sudah tahu yang mataku buta?”

“Ya.”

“Kalau begitu untuk apa yang masih perlu capai hati mencari aku?”

“Atas permintaan orang ”

“Apakah ia adalah suhumu lagi?” “Dugaanmu keliru!”

“Kalau begitu siapa?” “Pelindung Pedang!”

Hui-Kiam terperanjat. Katanya:

“Apa? Kau telah menerima permintaan Pelindung Pedang?” “Benar. Ia minta aku berusaha supaya mengantar pulang kau ke

Makam Pedang!”

“Apakah kau sudah masuk ke dalam Makam Pedang?” “Tidak!”

“Kalau begitu bagaimana?”

“Sebelum kau berlalu, aku sudah sembunyikan diri di tempat tersembunyi. Tidak lama setelah kau berlalu, tiba-tiba aku melihat Pelindung Pedang keluar meronda. Nampaknya ia sangat cemas. Aku segera maju menghampiri dan memberitahukan asal-usulku. Dalam pembicaraan itu ia berkata bahwa ia sudah mendapatkan suatu cara supaya kedua matamu bisa melihat lagi, tetapi ia tidak bisa meninggalkan tempat itu untuk menyusul kau. Maka aku lalu mengunjukkan diri menolong. Bahkan aku sudah menjamin pasti akan susul kau dan dibawa kembali.”

Hati Hui Kiam tergoncang hebat, mengapa Cui Wan Tin mendadak bisa mendapatkan obat untuk menyembuhkan matanya? Perkataan Ie It Hoan sudah tentu boleh dipercaya, hanya Cui Wan Tin sedang mabok cinta, mungkinkah melihat dirinya dibawa oleh Tong-hong Hui Bun sehingga mendapatkan akal demikian? Supaya dirinya balik kembali di sampingnya?

Tidak perduli bohong atau benar, kecintaan Cui Wan Tin patut dihargai. Selain daripada itu, Tong-hong Hui Bun ingin supaya dirinya menjadi anggota Persekutuan Bulan Emas untuk menukar obat pemunah racun, ini adalah satu hal yang tidak mungkin dapat diterima.

Sedangkan ia sendiri juga tidak sudi berada di sampingnya. Dalam keadaan buta seperti sekarang ini, maka ke Makam Pedang untuk mengasingkan diri, juga ada baiknya!

Memikir sampai di situ hatinya tenang kembali. Katanya dengan suara duka:

“Adik Hoan, benarkah kau menjamin demikian kepada Pelindung Pedang?”

“Sudah tentu!”

“Apakah kau tidak takut jaminanmu akan merupakan jaminan kosong?”

“Toako, kau jangan lupa siaotee adalah Sukma Tidak Buyar yang sudah terkenal!”

“Baik, hitung-hitung kau yang menang. Sekarang sudah jam berapa?”

“Baru jam enam sore.”

“Jam berapa kita akan berangkat?”

“Sudah tentu di waktu malam, supaya tidak terjadi apa-apa lagi!” “Kalau begitu apakah kita sudah boleh berangkat?”

“Tetapi toako, kau harus robah dulu roman mukamu. ”

“Kenapa?” “Kaki tangan Persekutuan Bulan Emas tersebar di mana-mana, dalam jarak tiga pal kita pasti sudah dipegat oleh mereka.”

“Apakah kau takut?”

“Bukan takut, tetapi ada harganya kita bentrok dengan mereka. Aku harap supaya kita lekas tiba di Makam Pedang, agar matamu lekas disembuhkan!”

“Seorang laki-laki mengapa takut menunjukkan muka dengan sebenarnya?”

“Tetapi toako, kau sekarang ada muka tetapi tidak ada mata!” Ucapan itu bagaikan pisau tajam menikam hulu hati Hui Kiam,

sehingga sekujur badannya gemetaran. Katanya dengan suara

bengis:

“Kalau aku tidak bisa basmi Delapan Iblis dan Persekutuan Bulan Emas, aku bersumpah tidcak mau jadi orang lagi.”

“Toako, itu urusan belakang, sekarang kita harus menghadapi urusan yang sekarang.”

“Aku tidak akan merobah roman mukaku.”

“Toako,   kau harus ingat bahwa Penggali Makam sudah hanyut ke dalam sungai, menjadi setan dalam air….”

“Perlu apa? Aku tokh masih hidup?”

“Toako, terus terang kuberitahukan kepadamu jika kaki tangan Persekutuan Bulan Emas mengetahui jejakmu, si cantik jelita Tong hong Hui Bon pasti segera mengejarnya. Ini merupakan satu rintangan besar bagi usaha kita selanjutnya!”

“Dia dengan Bulan Emas ada hubungan apa?” “Erat hubungan, kedudukannya juga tinggi!”

“Kalau begitu dia juga merupakan salah seorang anggota Bulan Emas?”

“Tentang ini, maaf aku tidak bisa memberitahukannya.” “Kau bicara selalu suka menyimpan rahasia!” “Toako, aku berbuat demikian karena terpaksa. Di kemudian hari kau akan mengerti sendiri.”

Hui Kiam benar-benar sangat bingung.   Ia masih ingat hari itu Cui Wan Tin pernah berkata bahwa anggota Persekutuan Bulan Emas perlakukan sebagai Tong hong Hui Bun dengan penghormatan tertinggi dalam partay pesilatan maka ucapan le It Hoan itu yang mengatakan bahwa Tong-hong Hui Bun mempunyai kedudukan tinggi dalam persekutuan itu, tentunya dapat dipercaya. Tetapi ia sendiri sebaliknya pernah menyaksikan bagaimana kejamnya Tong Hong Hui Bun membunuh orang-orang Bulan Emas. Bagaimana ia harus ditarik kesimpulan terhadap perbuatannya yang memaksa Koo Han San serta duapuluh lebih anak buahnya menghabiskan jiwanya.

Sedangkan sikap Koo Han San yang ditunjukkan sebelum ia menghabiskan jiwanya betapa hebat kebenciannya? Apakah sebabnya?

“Toako, di sini aku ada sebuah kedok kulit manusia. Kau boleh pakai dan mari kita berangkat,” berkata Sukma Tidak Buyar.

Hui Kiam berpikir, memang benar seperti apa yang dikatakan oleh Ie It Hoan, apabila Tong-hong Hui Bun benar-benar menyusul hal ini akan membuat dirinya telah dijebak, ia pasti tidak akan mau tinggal diam.   Hal ini akan membuat meruncingnya keadaan, maka ia terpaksa menerima usul Sukma Tidak Buyar.

“Baiklah, aku turuti keinginanmu.”

Sukma Tidak Buyar lalu mengeluarkan kedok kulitnya dan dipakaikan di muka Hui Kiam.

“Adik Hoan, setelah aku mengenakan kedok ini, aku berobah semacam orang bagaimana?”

“Berobah menjadi seorang rimba persilatan setengah tua.

Pada saat itu dari tempat tidak jauh terdengar suara jeritan ngeri berulang-ulang. Hui Kiam dan Sukma Tidak Buyar terkejut. Setelah suara jeritan itu sirap, keadaan menjadi sunyi lagi. Sukma Tidak Buyar berkata:

“Toako, kau jangan bergerak kemana-mana, aku akan pergi melihat apa yang telah terjadi?”

“Pergilah, meski mataku buta, tetapi masih sanggup menjaga diriku sendiri.”

“Aku akan pergi segera kembali.”

Sukma Tidak Buyar lompat melesat ke arah suara jeritan tadi.

Sesaat setelah Sukma Tidak Buyar berlalu, sesosok bayangan orang telah muncul dan berhenti sejenak tiga tombak dari tempat Hui Kiam berdiri. Munculnya bayangan itu bagaikan hantu, sedikitpun tidak mengeluarkan suara. Dengan kepandaian Hui Kiam ternyata masih belum merasa dirinya dihampiri bayangan orang itu.

“Hui Kiam!” demikian bayangan orang itu memanggilnya.

Hui Kiam sudah tentu terkejut, dengan sendirinya ia menyiapkan diri untuk menjaga segala kemungkinan, kemudian baru mengejarnya dengan nada suara dingin:

“Sahabat siapa?” “Orang Menebus Dosa!”

“Apa? Orang Menebus Dosa?” “Benar. Apa kau merasa asing?”

Dalam terkejutnya, perasaan sedih timbul dalam hati Hui Kiam. Matanya tidak bisa melihat, sedangkan telinganya juga belum membiasakan untuk mengganti kedudukan mata. Nama yang diberitahukan oleh orang itu, sama sekali belum pernah didengarnya, suaranya juga masih asing baginya. Tetapi orang itu bisa memanggil namanya, sedang pada saat itu dia sudah memakai kedok kulit mauusia. Kalau begitu orang itu tentunya sudah lama berada di situ memperhatikan segala gerak-geriknya.

“Tuan ada keperluan apa?” demikian ia balas bertanya. “Kau harus lekas meninggalkan tempat ini!” “Mengapa?”

“Tong-hong Hui Bun sudah tahu bahwa dirinya terjebak. Sekarang ia telah mengerahkan orang-orangnya, sedikitnya berjumlah ratusan orang, menjaga jalan-jalan penting di daerah sekitar sini untuk menangkap kau ”

Bukan kepalang terkejutnya ketika Hui Kiam mendengar ucapan itu. Dari manakah asal-usulnya orang yang mengaku Orang Menebus Dosa ini? Mengapa begitu jelas terhadap persoalan yang menyangkut dirinya? Satu sama lain belum mengenal. apa maksudnya ia memberi peringatan ini?

“Apakah maksud tuan mengeluarkan perkataan ini?”

“Kau harus menggunakan kesempatan ini meninggalkan perempuan cabul itu. Inilah satu-satunya jalan yang paling baik bagimu. Jikalau tidak, di kemudian hari akibatnya akan semakin hebat.”

“Tuan sebetulnya siapa?” “Orang Menebus Dosa!”

“Mengapa tuan mengetahui rahasia ini?”

“Setiap orang rimba persilatan yang pintar semua tahu, apa yang diherankan?”

“Tetapi urusan ini ada hubungan apa dengan tuan?” “Hui Kiam, ini adalah maksud baikku!”

“Kebaikanmu ini menimbulkan perasaan curiga.”

“Percaya atau tidak terserah kepadamu sendiri. Sekarang ini, dalam daerah sekitar lima pal sudah tidak ada jejak musuh. Aku sudah menalangi kau untuk membersihkannya ”

“Suara jeritan ngeri tadi apakah perbuatan tuan?” “Benar, itu perbuatanku.”

“Mengapa tuan harus berbuat demikian?” “Menebus dosa!” “Aku tidak mengerti.”

“Mengerti atau tidak bukan soal. Hidupku terlalu banyak kesalahan, dosaku bertumpuk-tumpuk. Sekalipun aku sudah insaf tetapi belum mencapai ke jalan benar, maka selagi aku masih bernyawa aku hendak melakukan sebanyak mungkin kebaikan untuk menebus dosaku.”

“Aku masih tetap tidak mengerti!”

“Di kemudian hari kau tentu akan mengerti sendiri!”

“Berdasar atas keteranganmu ini, kalau begitu nama tuan yang sebenarnya tentu bukan Orang Menebus Dosa?”

“Hahaha, benar, sebelumnya aku adalah Orang Yang Menumpuk Dosa.”

“Terima kasih atas keteranganmu!”

“Masih ada. Apakah kau mengaku bahwa Tong-hong Kiam-khek Su ma Suan adalah ayahmu?”

Lagi-lagi Hui Kiam dikejutkan oleh perkataan orang itu. Mengapa orang sangat misierius itu mengetahui begitu jelas segala hal yang menyangkut dirinya? Ini sesungguhnya sangat ganjil dan tidak habis dimengerti. Siapakah orang ini?

Seketika itu ia mundur satu langkah dan mendengar dengan suara gemetar:

“Apakah tuan juga mengetahui rahasia yang menyangkutku?” “Tahu!”

”Anak, dalam dunia ini banyak hal yang bisa terjadi di luar dugaan orang. Sekarang jawablah pertanyaanku.”

Pikiran Hui Kiam seketika bergolak hebat hingga otaknya menjadi kalut. Makam di gunung Keng-san itu sudah rusak di tangannya Orang Berbaju Lila. To-liong Kiam-khek Su-ma Suan juga sudah binasa di akal kejinya Orang Berbaju Lila itu pula bersama-sama Penghuni Loteng Merah. Jika hanya berdasar keterangan yang tertulis di atas batu nisan kuburan, itu tidak bisa dianggap sepenuhnya bahwa Su-ma Suan ayahnya. Hal ini nampaknya satu sama lain sangat bertentangan. Tetapi orang ini memajukan pertanyaan demikian, maka ia lalu menjawab dengan suara berat:

“Berdasar apa aku harus mengakui?” “Apakah... kau tidak mau mengakui?”

“Aku bahkan mungkin aku membunuhnya!” “Tetapi ia sudah mati!”

“Apa tuan juga tahu kalau Su-ma Suan sudah tidak ada di dalam dunia?”

“Tahu, aku tahu lebih jelas daripada siapapun juga!” “Oh!”

“Balik ke persoalan semula. Aku sudah tidak banyak tempo. Kau sebetulnya mengakui atau tidak?”

“Mengapa tuan menanya demikian?” “Sudah tentu ada sebabnya.”

“Terhadap diriku tuan kiranya sudah mengetahui dengan jelas?” “Jelas benar!”

Bukan kepalang terkejut Hui Kiam. Ia sampai mundur lagi dua langkah.

“Coba tuan ceritakan!”

“Ibumu adalah Hui-Un Kheng yang mempunyai nama julukan Yok-sok Sian-cu. Kau sekarang memakai she ibumu. Ayahmu adalah To-liong Kiam-khek Su-Ma Suan. ”

“Berdasar atas apa tuan anggap Su Ma Suan adalah ayahku?” “Sepuluh tahun berselang aku dengan dia merupakan satu

badan!”

“Apakah tuan tidak omong seenaknya saja?” “Tempo sudah tidak banyak lagi. Aku peringatkan kepadamu, kau harus putuskan perhubunganmu dengan To-hong Hui Bun.”

“Mengapa?”

“Dia mempunyai ilmu awet muda, sebenarnya usianya sudah lebih empat puluh tahun.”

“Itu aku tahu, tetapi tidak menjadi soa!”

“Sudah tentu hal ini tidak penting, tetapi ia pernah menikah dengan Su-ma Suan, inilah yang penting!”

Hati Hui Kiam seperti hendak melompat keluar dari dalam dadanya. Orang Berbaju Lila juga sudah pernah berkata demikian, apakah hal itu benar? Jikalau Su-ma Suan benar adalah ayahnya, maka Tong-hong Hui Bun adalah ibu tirinya sendiri, bukankah itu suatu perbuatan durhaka?

Berpikir sampai di situ ia bergidik, tetapi ia teringat pula bahwa Tong hong Hui Bun sudah mengetahui siapa adanya dia dan asal- usulnya. Dengan kecantikan luar biasa seperti Tong hong Hui Bun, rasanya tidak mungkin ia sengaja melanggar apa yang sudah diketahuinya.

Jikalau hal itu hanya merupakan desas-desus saja, atau akal busuk yang hendak menjelekkan namanya, masih tidak mengapa, akan tetapi apabila itu benar, ini sesungguhnya terlalu menakutkan.

Hanya, ia sekarang sudah menjadi seorang cacat, dan sudah mengambil keputusan hendak meninggalkannya, maka juga tidak perlu diusut lebih jauh.

“Untuk sementara aku mengakui!” demikian akhirnya ia berkata. “Hui Kiam, ini bukanlah perkataan untuk menakut-nakuti kau,

janganlah kau menuruti hatimu sehingga melakukan suatu perbuatan terkutuk yang. akan membuat kau menyesal untuk selama lamanya.”

“Aku mengerti kira-kira sendiri.” “Baiklah, aku sekarang hendak pergi, mungkin tidak lama kita akan berjumpa lagi. Ini ada sesetel pakaian, setelah kau tukar dengan pakaian ini, kau boleh segera pergi dari sini dengan setan cilik yang cerdik itu!”

Sehabis berkata, ia melemparkan sebungkus pakaian ke tangan Hui Kiam, kemudian menghilang.

Hui Kiam berdiri terpaku, ia tidak bisa berkata apa-apa. Ini merupakan suatu kejadian yang sangat aneh. Orang itu telah membunuh semua orang yang sedang mencari dirinya, ia mengeluarkan banyak perkataan yang mendebarkan hati, kemudian memberikan pakaian untuk keperluan setelah berganti muka.

Siapakah sebetulnya dia? Mengapa harus berbuat demikian?

Apakah ia mengetahui persoalan yang belum terjadi? Adakah ia mengetahui bahwa dirinya akan berganti muka dan pakaian, sehingga lebih dulu ia menyediakan pakaiannya?

Tiba-tiba ia teringat kepada gurunya Sukma Tidak Buyar, manusia misterius yang samar-samar disebutkan oleh Sukma Tidak Buyar, juga merupakan seorang yang aneh dan misterius sepak terjangnya. Orang yang mengaku Orang Menebus Dosa ini ada kemungkinan adalah guru Sukma Tidak Buyar. Jikalau tidak, tidaklah mungkin orang itu mengetahui segala persoalan yang mengenai dirinya sehingga sedemikian jelasnya. la adalah seorang yang mengusulkan supaya ia sendiri memutuskan perhubungannya dengan Tong-hong Hui Bun. Jika dugaannya tidak keliru maka kejadian yang dianggapnya aneh itu, sebetulnya tidaklah aneh….

Selagi terbenam dalam lamunannya, telinganya telah menangkap suara desiran angin.

“Siapa?”

“Toako, aku!”

“Adik Hoan, bagaimana keadaan?” “Di pinggir rimba terdapat delapan bangkai manusia, semua adalah anak buah Persekutuan Bulan Emas!”

“Siapa yang membunuh?”

“Tidak tahu. Kepandaian orang itu nampaknya tinggi sekali, semua mati karena tertotok jalan darahnya.   Nampaknya orang yang melakukan perbuatan itu bukan orang sembarangan.”

“Aku sudah tahu siapa yang melakukan perbuatan itu!” “Apa? Toako sudah tahu ...?”

“Setelah kau pergi tadi ada orang kemari!” “Siapa?”

“Orang Menebus Dosa!”

“Orang Menebus Dosa… di kalangan Kangouw tiada seorang yang bernama demikian!”

“Bagaimana bentuknya?”

“Adik Hoan, kau toh tahu aku tidak bisa melihat?”

“Ah! Toako, maafkan aku kesalahan omong.   Dari golongan mana orang yang mengaku Orang Menebus Dosa itu?”

“Ia tidak menerangkan.   Ia hanya memberitahukan julukannya. Ia mengaku bahwa orang-orang itu adalah ia yang membunuh. Dan apa yang aku tidak mengerti ialah orang itu ternyata mengetahui itu semua apa yang telah terjadi atas diriku dan asal-usuIku termasuk apa yang kita berdua hendak lakukan.”

“Ada kejadian serupa ini apakah maksud dan tujuannya?”

“Ia memperingatkan kepada kita, supaya segera meninggalkan tempat ini. Ia bahkan memberikan sesetel pakaian untuk keperluan ganti rugi!”

Sukma Tidak Buyar untuk sesaat berada dalam kebingungan.

Katanya dengan perasaan heran: “Sungguh aneh!” “Kau tidak tahu siapa dia?”

“Eh! Bagaimana aku bisa tahu?” “Benarkah kau tidak tahu?”

“Toako, dengar sajapun aku belum pernah ada orang bernama Orang Menebus Dosa!”

Nama julukan itu mungkin diambil sekenanya saja, tidak boleh dipercaya!”

“Bagaimana pandangan toako?”

“Orang yang mengetahui asal-usulku dan mengetahui segala gerak-gerik kita berdua hanya seorang saja!”

“Siapa?”

“Gurumu!”

Sukma Tidak Buyar tertawa terbahak-bahak, lalu berkata: “Toako, kau keliru, itu bukanlah suhu.”

“Mengapa kau berkata demikian?”

“Saat ini suhu berada di suatu tempat sejauh ratusan pal. Kecuali itu suhu juga tidak akan menggunakan cara demikian untuk mencampur tangan urusan kita ini. Anak buah Bulan Emas yang terbinasa di pinggir rimba itu bukanlah dibunuh oleh suhu. Dari ilmu totokan yang digunakan aku sudah dapat mengenalinya.”

Hui Kiam mengerutkan sepasang alisnya, agaknya sedang berpikir keras, lama tidak berbicara. Kalau benar Orang Menebus Dosa itu bukan gurunya Sukma Tidak Buyar, lalu siapa? Tetapi apa yang dilakukan, kenyataannya orang itu mungkin tidak bermaksud jahat hanya karena satu sama lain masih asing agaknya memang tidak beralasan!”

Sukma Tidak Buyar selanjutnya berkata lagi:

“Toako, tidak perduli apa maksud orang itu, di kemudian hari kita tak khawatir tidak akan berjumpa lagi. Karena ia sudah campur tangan, tidak mungkin ia akan lepas tangan begitu saja. Untuk sementara sekarang kita boleh kesampingkan dulu soal ini. Kau tukarlah pakaian supaya kita lekas berangkat.

Hui-Kiam menganggukkan kepala. Ia lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang diberikan oleh Orang Yang Menebus Dosa.

Sukma Tidak Buyar berkata sambil tepuk-tepuk tangan:

“Bagus bagus, pakaian panjang berwarna biru ini diambil dengan kedok kulit manusia yang kau pakai sekarang Toako merupakan seorang sastrawan setengah tua yang tidak berhasil menempuh ujian, aku berani kata asal toako tidak membuka mulut siapapun aku tanggung tidak bisa mengenali.”

“Setidak-tidaknya, masih ada satu orang lagi yang mengenali!” “Apakah yang toako maksudkan Orang Menebus Dosa?” “Hem!”

“Karena ia memang tahu juga tidak ada gunanya kita mengelabuinya mungkin sekarang ini ia berada di dekat kita, marilah jalan!”

“Adik Hoan, kau jangan terlalu optimis. Racun dari daun itu, orang rimba persilatan daerah Tiong-goan barangkali tiada seorangpun yang dapat menyembuhkan. Apa yang dikatakan oleh Pelindung Pedang, tidak boleh dipercaya.”

Sukma Tidak Buyar tercengang.

“Tiada alasan baginya menipu kau hanya sekedar ingin kau kembali saja!”

“Kau... tidak mengerti!”

“Menurut pemandangan siaotee, dalam hal ini tidak mungkin ia membohong….”

“Jikalau ia bisa menyembuhkan racun itu, mengapa ia tidak mengatakan kepadaku sebelum aku meninggalkannya, sebaliknya memberitahukan kepadamu setelah aku berlalu?” “Mungkin ia tiba -tiba teringat semacam obat yang dapat menyembuhkan!”

“Tidak mungkin, ia bukan tabib. Setelah aku terluka dan kedua mataku buta, ia nampaknya sangat bingung sedikitpun tidak berdaya bahkan berulang-ulang ia mengatakan bahwa ia….”

“Bahwa ia bagaimana?”

Hui-Kiam tidak mau melanjutkan, tetapi Sukma Tidak Buyar menanyakannya lagi:

“Dia bagaimana?”

Dengan agak kemalu-maluan Hui Kiam menjawab:

“Ia berkata, ia ingin mengawani aku yang sudah bercacat ini untuk seumur hidupnya!”

“Oh, kiranya begitu. Toako benar-benar orang yang sangat betuntung, dimana-mana selalu mendapat kasih wanita.”

“Itulah sebabnya, maka aku berani menduga pasti bahwa maksudnya adalah menyuruh aku pulang kembali ke dalam Makam Pedang. Apa yang dikatakan obat pemunah itu, sebetulnya hanya omong-kosong belaka.”

“Itu belum tentu.” “Mari kita berangkat!”

Keduanya lalu lari keluar rimba sambil bergandengan tangan.

Ketika berada di jalan raya, gerak kaki mereka dipercepat.

Oleh karena kedua mata Hui Kiam sudah buta, sekalipun berkepandaian sangat tinggi, gerakannya juga terhalang. Digandeng oleh Sukma Tidak Buyar, kecepatan jalannya hanya mencapai batas sebagai orang rimba persilatan biasa.

Jalan berdua berapa lama, di hadapannya tiba-tiba terdengar suara bentakan orang:

“Berhenti!” Dua orang itu dengan sendirinya lalu berhenti. Delapan orang berpakaian hitam memegat di tengah jalan. Orang yang berada di paling depan ternyata adalah seorang perempuan muda yang berpakaian sebagai pelayan.

Sukma Tidak Buyar dengan suara perlahan bisik-bisik di telinga Hui Kiam:

“Sebagai kepala rombongan ini adalah seorang pelayan perempuan muda!”

Hati Hui Kiam tergerak. Sebelum ia menyatakan apa-apa, wanita itu mengawasi kedua orang itu sejenak, lalu berkata:

“Sahabat-sahabat, beritahukanlah asal-usulmu!”

Sukma Tidak Buyar lalu menjawabnya dengan merobah suaranya:

“Aku si orang tua adalah Sukma Tidak Buyar!”

Mendengar suara itu Hui Kiam tahu Sukma Tidak Buyar sedang berperan sebagai seorang tua.

“Tuan bernama Sukma Tidak Buyar?”

“Soal ini aku si orang tua tidak sanggup menjawab.” “Dan tuan ini?”

“Dia? Bernama Tidak Buyar Sukmanya!” “Apa, Tidak Buyar Sukmanya?” “Sedikitpun tidak salah!”

“Tuan jangan jual lagak dengan usiamu yang sudah tua. Jikalau kau tidak mau memberitahukan asal-usulmu yang sebenarnya, jangan pikir dapat melalui jalanan ini. ”

“Di waktu tengah malam nona mencegat jalan orang, apakah artinya ini?”

“Tentang ini tuan tidak perlu bertanya.” “Aku si orang tua karena mengingat kau adalah seorang wanita, maka tidak ingin membuat perhitungan. Jikalau tidak ”

“Jikalau tidak bagaimana?”

“Aku si orang tua tidak akan membiarkan kau mencari onar tanpa alasan!”

“Ini bukanlah mencari onar tanpa alasan. Tuan sebaiknya tahu gelagat sedikit, beritahukanlah asal-usulmu.”

“Bagaimana jikalau aku tak tahu gelagat?” “Itu berarti tuan mencari penyakit sendiri!”

“Nona mencegat orang berjalan dan menanya demikian melit, setidak-tidaknya tokh harus menerangkan sebab-sebabnya lebih dulu, betul tidak!?”

“Tuan sebaiknya jangan membuang waktu.” “Aku tadi tokh sudah memberitahukan namaku!” “Asal dari mana?”

“Asal dari timur, hendak menuju ke barat! Sudah puas?” “Nampaknya tuan-tuan berdua terpaksa harus ikut denganku ”

“Hi, hi, apakah nona sedang mengundang kami? Mengundang tamu secara demikian agaknya sangat ganjil!”

Perempuan itu gusar dan memberi perintah kepada orang- orangnya dengan suara keras:

“Bawa pulang!”

Empat dari tujuh orang berpakaian hitam yang berdiri di belakangnya, segera bertindak maju. Dua orang menghampiri Sukma Tidak Buyar, dua orang menghampiri Hui Kiam.

Hui Kiam karena takut diketahui orang-orang itu, ia terus menundukkan kepala. Ketika dua orang berbaju hitam itu mendekatinya, sudah tentu ia berasa tetapi saat itu ia tidak tahu bagaimana harus berbuat? Tidak bertindak, tidak bisa. Kalau bertindak, orang-orang itu adalah anak buah Tong-hong Hui Bun. Akhirnya ia dapat mengambil keputusan dengan cepat. SukmaTidak Buyar tiba-tiba disambarnya lalu menggunakan gerak kakinya yang luar biasa, hanya sekelebat saja tiba-tiba sudah ada di belakang orang-orang itu. Mulutnya berkata dengan suara cemas:

“Apa masih ada rintangan?”

“Tidak, jalan yang datar lurus menuju ke depan,” jawab Sukma Tidak Buyar.

Tetapi pada saat itu wanita muda itu dan tujuh orang berbaju hitam sudah balik dan menerjang mereka.

Hui Kiam tahu kalau ia tidak bertindak tentu tidak akan bisa meloloskan diri. Andaikata dua matanya tidak buta, sekalipun jumlah orang itu ditambah sepuluh kali, juga jangan harap mampu merintangi dirinya. Maka ia segera melepaskan tangan Sukma Tidak Buyar dan melancarkan satu serangan ke arah orang-orang itu.

Serangan itu ternyata sangat hebat. Ia hanya mendengar suara rintihan beberapa kali, dan orang-orang yang menerjang dirinya terpental balik.

Sukma Tidak Buyar lalu berkata sambil menarik tangan Hui Kiam: “Toako, kita terpaksa mengambil jalan kecil.”

“Baik!”

Berdua lari sangat cepat, kemudian menuju ke arah semak belukar. Dengan mengambil jalan kecil itu, sudah tentu jalannya agak lambat.

Kira-kira satu jam mereka berlari, lembah Cok-beng-goan sudah tampak di depan matanya. Walau di tengah malam, tetapi bayangan gunung samar-samar dapat dikenali.

Sambil menarik napas lega, Sukma Tidak Buyar berkata: “Toako, kita sudah hampir sampai!”

“Masih berapa jauh?” “Kira kira tiga pal!”

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang tertawa, lalu disusul oleh suara seperti orang tua berkata:

“Kepandaian kalian berdua bagus sekali, tetapi gerak kaki kalian kurang cepat. Mungkin nasib kalian memang begitu.”

Suatu bayangan tinggi besar berada di hadapan mereka. Hui Kiam berdua lalu hentikan kakinya. Karena matanya tidak melihat, terpaksa tidak bersuara.

Sukma Tidak Buyar lalu berkata sambil tertawa: “Tuan dari mana?”

“Kau tidak usah tanya, sekarang ikut aku jalan!” “Tuan terlalu sombong!”

“Jangan menimbulkan kemarahanku. Aku nanti bisa mengantarkan jiwamu ke akhirat!”

Sukma Tidak Buyar menggeser kakinya ke samping beberapa langkah, maksudnya ialah untuk menukar tempat dengan Hui Kiam. Ia dapat melihat bahwa orang tua aneh itu, berkepandaian tinggi sekali, ia takut membawa Hui Kiam. Kecuali itu ia dengan Hui Kiam terpisah agak jauh, apa bila perlu, Hui Kiam masih ada kesempatan turun tangan.

“Tuan menghadang perjalanan kami, seharusnya juga memberitahukan apa maksudnya?”

“Apa maksudnya segala. Kalau kau masih sayangi jiwamu, ikutilah aku pergi!”

“Apa tuan kira tuan dapat memaksa kami?”

“Cis, manusia tidak tahu diri, kau boleh coba saja!”

Sebentar kemudian terdengar suara keluhan tertahan lalu disusul oleh suara jatuhnya badan berat di tanah.

Hui Kiam terperanjat. Dengan kepandaiannya seorang seperti Sukma Tidak Buyar, ternyata hanya dalam waktu sekilas saja sudah dilemparkan oleh musuhnya. Kepandaian orang ini, sesungguhnya hebat sekali. Ia hanya tidak tahu Sukma Tidak Buyar terluka atau tidak, ia khawatir orang itu akan menurunkan tangan berat lagi kepada diri Sukma Tidak Buyar, maka terpaksa bertindak.

“Hebat sekali kepandaian sahabat!” demikian ia berkata.

Akan tetapi ia tidak mendapat jawaban, sebaliknya terdengar pula suara seruanu tertahan yang keluar dari Sukma Tidak Buyar.

Hati Hui Kiam dirasakan hancur remuk, karena ia tidak dapat melihat keadaan, ia juga tidak dapat mengeluarkan serangan secara membabi buta, dalam gusarnya itu ia lalu berteriak:

“Tua bangka, kalau kau berani sambutlah seranganku!” “Tangkap!”

Hati Hui Kiam seperti tertikam pisau tajam. Dari suara itu ia sudah dapat mengenali letak musuhnya. Tetapi ia takut tindakannya itu tidak berhasil merobohkan lawannya sebaliknya melukai diri Sukma Tidak Buyar. Di telinganya mendengar suara tindakan kaki dan gerakan tangan. Nampaknya orang yang menghadapi Sukma Tidak Buyar bukan cuma seorang tua itu saja.

Pada saat itu terdengar suara Sukma Tidak Buyar yang berkata kepadanya dengan suara gemetar:

“Toako, aku sudah tidak sanggup lagi tetapi kau jangan mengkhawatirkan diriku hanya….”

Suara mendadak terputus. Mungkin saat itu sudah dibikin tidak berdaya oleh musuh-musuhnya.

Hui Kiam sangat murka, tetapi ia tidak berdaya sama sekali, hingga hatinya gelisah, lalu membentaknya dengan suara keras:

“Anjing tua, serahkan jiwamu!”

Di hadapannya merasakan berdesirnya angin lalu terdengar seruan terkejut:

“Eh! Kiranya kau adalah seorang buta.” Hui Kiam tidak berkata apa-apa, dengan tenaga sepenuhnya ia melakukan serangan ke arah suara itu tadi.

Sebentar terdengar suara gempuran nyaring. Ia sendiri mundur satu langkah, badannya tergoyang-goyang.

Sementara itu terdengar suara orang itu berkata:

“Tidak kusangka kau mempunyai kekuatan demikian hebat.”

Serangannya itu tadi sudah jelas tidak berhasil melukai musuhnya tetapi Hui Kiam tidak mau melepaskan kesempatan yang ada. Sebelum habis bicara orang itu, serangan kedua sudah meluncur dari tangannya.

Kali ini tidak ada reaksi apa-apa. Nampaknya orang tua itu tidak berani menyambut serangannya.

Kehebatannya serangan Thian Gee Ciang adalah meminjam kekuatan tenaga membalik. Apabila yang diserang tidak membalas maka kekuatannya itu tak tampak.

Karena musuhnya tidak membuka mulut, Hui Kiam sudah kehilangan tujuan untuk melakukan serangannya. Maka ia lalu membentak:

“Tua bangka, kau tak berani menyambut!!”

Meskipun mulutnya berbicara, tetapi ia selalu siap sedia untuk menjaga serangan musuh yang dilancarkan secara tiba-tiba.

Dengan tak bersuara sedikitpun juga, musuhnya turun tangan perlahan-lahan, sudah tentu tak terdengar suara sama sekali, tiba- tiba saja terasa jalan darah di Hek-houw-tiat tergetar. Untung ilmu silat yang dipelajari olehnya jauh berbeda seperti umumnya, mengalirnya darah berjalan ke arah balikannya, maka totokan jalan darah biasa baginya tak berguna sama sekali.

Hampir bersamaan, pada saat jalan darahnya tertotok, kedua tangannya dengan kecepatan kilat sudah meIakukan pembalasan.

Suara ‘beleduk’ dan seruan tertahan tercampur oleh jeritan terkejut terdengar di telinganya. Serangan kali ini ternyata sudah berhasil mengenakan sasarannya. Ia hanya tak tahu bagaimana luka musuhnya.

“Bagus!   Kalau aku tak dapat mencincang tubuhmu, percuma saja namaku Iblis Gajah!”

Hui Kiam terperanjat, ia sungguh tak menduga bahwa musuhnya itu adalah iblis Gajah, salah satu dari Delapan Iblis negara Thian-tik yang kini sudah menjadi anggota pelindung hukum tertinggi Persekutuan Bulan Emas. Pantas ia berkepandaian begitu tinggi. Kalau ia sendiri tidak buta kedua matanya, ia tentu tak perlu merasa takut! Tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini bagaimana akibatnya, sesungguhnya masih agak sulit diramalkan.

Jikalau ia sendiri tidak buta, iblis itu tak nanti dapat menurunkan tangan keji terhadap dirinya. Sudah jelas bahwa iblis adalah seorang yang membantu Tong-hong Hui Bun untuk mencari dirinya. Bahwa ia sendiri sedang berganti rupa, iblis itu mungkin bisa menurunkan tangan jahat.

Apa yang dihadapinya tidak memberi kesempatan baginya untuk banyak berpikir. Di antara berdesirnya angin, Iblis Gajah itu sudah bertindak.

Karena iblis itu masih bisa bertindak, maka serangannya sendiri tadi terang tidak mengakibatkan luka berat baginya.

Maka terjadilah suatu pertempuran hebat di tengah ladang dalam hutan belukar itu.

Cuaca malam yang gelap gulita bagi seorang buta tidak ada artinya hanya, dalam keadaan kepandaian dan kekuatan kedua pihak selisih tidak seberapa itu, yang rugi sudah tentu adalah Hui- Kiam, karena harus memperhatikan dengan telinganya untuk menjaga serangan musuhnya, dan bagi usahanya menyerang lawannya juga merupakan suatu usaha yang sangat berat.

Sepuluh juius kemudian ia sudah berada dalam keadaan bahaya.

Sudah tujuh atau delapan kali dirinya terkena serangan musuh. Musuhnya itu ternyata amat cerdik. Ia mengeluarkan serangan tanpa berkata atau menimbulkan suara, sehingga membuat Hui- Kiam selalu dikuasai oleh musuhnya.

Keadaan sudah jelas. Paling-paling ia bisa tahan sepuluh jurus lagi.

Pada satu saat tiba-tiba Hui Kiam terkena serangan musuh yang agak berat sehingga dengan badan sempoyongan ia mundur sampai lima langkah. Darah merah menyemburkan keluar dari mulutnya.

Dalam keadaan demikian Iblis Gajah itu kembali mengadakan serangannya, tiga jurus dari kedudukannya yang berlainan.

Hui Kiam berhasil menutup dua kali serangannya, tetapi sudah tidak mampu mengelakkan serangannya yang ketiga. Sekali lagi darah segar menyembur keluar dari mulutnya.

Habislah, demikian ia berpikir. Malam itu dianggapnya sudah tidak mungkin lagi ia dapat terlolos dari bahaya maut.

Saat itu terdengar suara bentakan Iblis Gajah: “Kalian maju cincang tubuhnya!”

Di antara suara riuh, beberapa pedang mengancam diri Hui Kiam.

Dalam keadaan demikian dengan sendirinya timbullah daya perlawanannya untuk mempertahankan jiwanya. Dengan tanpa ragu-ragu ia mengerahkan seluruh sisa kekuatan tenaganya. Serangan pembalasan yang dilakukan secara nekad itu mengandung kekuatan yang amat dahsyat.

Sewaktu kekuatan tenaga beradu dengan senjata pedang, menimbulkan suara ledakan nyaring kemudian disusul oleh suara jeritan ngeri. Lima orang yang terkenal sebagai jago pedang, yang pada saat itu menyerang Hui Kiam, tiga di antaranya mundur dengan badan sempoyongan, dua di antaranya terpental sejauh tiga tombak dan jatuh di tanah tidak bisa tertolong lagi, sedangkan ia sendiri juga mengeluarkan darah lagi, badannya sempoyongan hendak rubuh. Ibli Gajah tidak menduga bahwa Hui Kiam dalam keadaan seberat itu masih bisa turun tangan membinasakan dua anak buahnya, nampak sangat murka sehingga mengeluarkan perintah kepada orang-orangnya supaya maju semuanya.

Dengan serentak anak buahnya Iblis Gajah maju semua dengan pedang terhunus.

Hui Kiam yang sudah kehabisan tenaga, tak berdaya menghadapi musuhnya demikian banyak sehingga terpaksa menunggu kematiannya.

Asal ia mau menunjukan wajah aslinya, pasti terhindar dari kematian, tetapi ia tak sudi berbuat demikian.

Dalam keadaan sangat kritis itu tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring.

“Tahan!”

Semua orang yang sudah akan turun tangan itu segera menarik kembali pedang masing-masing dan mundur beberapa langkah. Iblis Gajah memasang matanya ke arah datangnya suara itu tadi, lalu menegurnya dengan suara bengis:

“Siapa?”

“Orang Menebus Dosa!”

Mendengar nama itu Hui Kiam terkejut. Ia sungguh tidak menyangka bahwa Orang Menebus Dosa itu pada saat itu bisa menunjukkan diri di tempat tersebut.

Iblis Gajah memperdengarkan suara tertawa. “Keluarlah!” demikian kata iblis itu.

Orang Menebus Dosa ketawa terbahak-bahak dan berkata:

“Iblis Gajah, sombong sekali kau he, di sini ada sebuah kepala singa, kalau kau mau, kau boleh ambil kembali!”

Kepala singa yang dimaksudkan, sudah tentu kepalanya Iblis Singa. Hui-Kiam merasa heran. Iblis Singa sudah dibinasakan olehnya di dalam barisan batu ajaib dan bangkainya sudah dilemparkan ke dalam danau dingin oleh Cui Wan Tin. Dari mana Orang Menebus Dosa itu mendapatkan kepala Iblis Singa lagi?

Iblis Gajah itu tercengang, tetapi kemudian ia mengerti.

Tegurnya pula:

“Apa kau katakan?”

“Aku katakan kepala singa!” jawab Orang Menebus Dosa dengan suara dingin.

Iblis Gajah itu mendengus, dengan kecepatan bagaikan kilat ia loncat menerjang. Sebentar terdengar suara bentakan suara tertawa nyaring, yang kedengarannya makin lama makin jauh.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara jeritan terkejut yang keluar dari mulut anak buah Iblis Gajah, menyusul mana Hui Kiam merasa dirinya dibawa pergi orang! Orang itu agaknya berjalan cepat sekali. Karena ia sudah tidak dapat mengendalikan perasaan herannya maka segera menanya:

“Tuan orang pandai darimana?” “Orang Menebus Dosa!”

“Oh, tuan!”

Hati Hui Kiam merasa kagum dan terheran-heran terhadap tindakan orang itu yang sudah memancing pergi Iblis Gajah, tetapi toh masih bisa balik kembali menolong dirinya. Kecerdikannya dan kepandaian orang itu, benar-benar sangat mengagumkan. Maka ia berkata pula:

“Tuan. ”

Tetapi baru berkata demikian, Orang Menebus Dosa agaknya sudah mengerti apa yang hendak dikatakan, maka segera memotongnya:

“Aku akan mengantar kau ke Makam Pedang.”

Betapa terkejut Hui-Kiam pada saat itu. Sesungguhnya sudah dibayangkan, Orang Menebus Dosa ternyata sudah mengetahui tujuannya dalam perjalanan itu, ini sesungguhnya sangat aneh. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, ia lalu berkata:

“Aku merasa berterima kasih atas pertolongan tuan ini, di kemudian hari aku pasti akan membalas budimu ini, namun demikian, aku juga ingin mengetahui maksud tuan.”

Dengan tenang Orang Menebus Dosa balas menanya: “Maksud? Apakah yang kau artikan?”

“Andaikata tuan hendak memajukan syarat kepadaku atau    ”

“Anak, kau keliru, aku tidak ada maksud juga tidak akan memajukan syarat apa-apa terhadap kau. Bukankah sudah kukatakan bahwa perbuatan ini hanya sekedar untuk menebus dosaku atau setidak-tidaknya meringankan dosa.”

“Di antara tuan dengan aku, boleh dikata sedikitpun tidak ada hubungan apa-apa, dosa apa yang tuan hendak tebus?”

“Sekarang bukan waktunya untuk membicarakan soal ini. Aku telah menggunakan akal memancing si Iblis Gajah berlalu. Iblis itu setelah mengetahui dirinya ditipu, pasti akan balik kembali. Dan kalau kita berjumpa lagi dengannya, bagaimana kesudahannya, susah untuk diduga, maka kita harus selekas mungkin tiba ke Makam Pedang!”

“Tetapi tuan pernah berkata kepada Iblis Gajah, bahwa tuan membawa kepala Iblis Singa.”

“Itu hanya omong kosong belaka. Maksudnya, hendak memancing si Iblis Gajah itu supaya mengejar aku!”

“Bagaimana tuan tahu kalau Iblis Singa itu sudah mati?”

“Waktu pertama kali kau nyatakan pada Tong-hong Hui Bun, dan kedua kali kau menerangkan kepada setan cerdik Sukma Tidak Buyar itu, apa kau tahu benar, sudah tidak ada orang lain yang turut mendengar?”

“Ah! Kalau begitu tuan ternyata senantiasa memperhatikan urusanku….” “Itu memang.”

“Kawanku Sukma Tidak Buyar kini telah tertangkap, entah bagaimana nasibnya?”

“Kau jangan khawatirkan dirinya, ia tidak akan mati!” “Mengapa?”

“Setan cilik itu banyak akalnya. Orang yang sangat cerdik sekali, untuk menolong dirinya sendiri tidak menjadi soal.”

“Masih ada satu hal aku minta keterangan.” “Katakanlah!”

“Iblis Singa itu dapat memasuki Makam Pedang, sudah tentu kenal baik keadaan barisan aneh yang melindungi makam itu, tetapi iblis lainnya mengapa tidak masuk ke dalam Makam Pedang itu lagi?”

“Masuknya Iblis Singa ke dalam barisan aneh itu, hanya menggunakan akal. Ia sendiri sebetulnya tidak mengerti keadaannya barisan aneh itu. Ia menerjang masuk ke dalam barisan itu, kemudian pura-pura menyerah di tawan oleh Pelindung Pedang. Kemudian dengan satu tindakan yang dilakukan di luar dugaan Pelindung Pedang, ia telah berhasil membuat Pelindung Pedang itu tidak berdaya. Begitulah keadaannya!”

“Tuan agaknya sudah mengetahui segala-galanya.”

“Aku hanya tanpa disengaja mendengar Iblis Singa itu pernah mengatakan demikian, maka sesungguhnya tidak mengherankan!”

---ooo0dw0ooo---