Pedang Pembunuh Naga Jilid 17

Jilid 17

IA kini berada dalam kegelapan, hanya pikirannya yang masih terang. Api kehidupan, juga telah padam.

Kepandaian sudah berhasil didapatkan, pedang sakti sudah berada di tangannya. Akan tetapi, segala-galanya kini telah musnah.

Dendam, kasih dan semua musuh-musuhnya seolah-olah sudah berlalu dari dirinya.

Entah berapa lama sudah berlalu, pikirannya perlahan-lahan mulai tenang kembali, namun otaknya kosong melompong, apapun dia tidak pikir, juga tidak memikirkan.

Dengan hati pilu ia duduk di tanah. Tangannya mengelus-elus pedang sakti itu.

Rasa sakit di kedua matanya perlahan-lahan mulai berkurang, ia sudah dapat membuka kelopak matanya tetapi tidak dapat melihat sesuatu apapun.

Keadaan di sekitarnya gelap gulita dan sunyi senyap.

Tiba-tiba satu suara halus telah mengejutkan dirinya. Sebagai seorang yang sudah berkepandaian yang sangat tinggi dengan sendirinya daya pendengarannya jauh berbeda dengan orang biasa. Suara yang halus itu telah membangkitkan kekuatannya, lalu menegurnya dengan suara dingin:

“Siapa?”

“Aku... Pelindung Pedang!” “Kau... tidak binasa?”

“Belum binasa, tetapi... belum tentu bisa hidup terus.”

Suara itu sudah berada di belakang dirinya, tetapi ia kini sudah tidak dapat lihat parasnya gadis itu lagi.

“Parahkah luka nona?” “Hanya tinggal denyutan jantung yang masih belum berhenti...eh, eh! Kau sudah berhasil membunub mati iblis itu?”

“Ya!”

“Oh!”

Suasana sunyi kembali, hingga suara napas Pelindung Pedang terdengar dengan nyata.

Hui kiam tiba-tiba ingat soal yang lama berada dalam otaknya. Apabila gadis pelindung pedang ini benar-benar akan binasa karena lukanya, maka teka-teki itu tidak akan terungkap untuk selama- lamanya. Walaupun pada saat itu ia masih perlu hidup terus atau tidak, masih perlu dipertimbangkan dengan seksama, tetapi soal yang sudah lama ingin diketahuinya itu besar sekali penariknya. Maka ia segera bertanya:

“Nona, bolehkah aku bertanya kepadamu sesuatu hal?” “Urusan apa?”

“Siapakah pemilik pedang sakti ini?” “Tidak tahu.”

“Apa? Nona sebagai pelindung pedang, ternyata masih belum tahu siapa pemiliknya, ini benar-benar tidak habis dimengerti. Kalau begitu atas perintah siapa nona melindungi pedang itu?”

“Pesan ayah ibuku!” “Siapakah ayahmu?”

“Tentang ini, maaf aku tidak dapat memberitahukan kepadamu!”

“Luka nona berat sekali, sudikah nona menerima bantuanku untuk menyembuhkan luka itu?”

Sejenak pelindung pedang itu nampak sangsi, kemudian ia berkata:

“Kau rupanya terluka?”

Hati Hui Kiam merasa sedih, tetapi ia tetap mengendalikan perasaannya dan menjawab sambil kertak gigi: “Tidak.”

“Kalau begitu mengapa sedari tadi kau duduk saja dan tidak bangun dari tempatmu?”

“Beristirahat.”

“Baik! Aku... terima baik bantuanmu. Lebih dulu kau sudah melepas budi telah menolong jiwaku, tiada halangan ditambah satu kali budi lagi!”

“Kalau begitu harap nona duduk di hadapanku!”

Gadis pelindung pedang itu geser badannya agaknya sangat susah.

Setelah duduk Hui-Kiam mengulurkan tangan kanannya. Baru saja tangan itu menyentuh belakangan punggung gadis itu, tiba-tiba gadis itu berkata dengan nada suara gemetar:

“Tidak, aku tidak bisa menerima!”

Hui Kiam terkejut. Dengan perasaan heran ia tarik kembali tangannya, kemudian bertanya:

“Mengapa?”

Gadis pelindung pedang itu agaknya sangat terpengaruh perasaannya oleh perbuatan gagah Hui-Kiam, ia menjawab dengan suara gemetar:

“Aku berutang budi kepadamu. Jika aku tidak mati, aku berdaya untuk membayar aku tidak berani menerima budi kebaikanmu lagi!”

“Kau seharusnya memberi penjelasan sebab-musababnya.” “Sebab aku tidak bisa melepaskan tugasku!”

“Melihat pedang sakti?” “Ya!”

“Dengan keadaan nona seperti sekarang ini, apakah kau masih sanggup melindungi pedang itu? Apa lagi pedang itu kini sudah terjatuh dalam tanganku.” “Itu soal lain!”

“O! Aku mengerti, nona agaknya terlalu memandang rendah martabatku. Aku hendak menyembuhkan lukamu itu bukan berarti hendak memeras dengan melepas budi.”

“Pendeknya aku tidak bisa!”

“Jikalau luka nona terlalu parah sehingga tidak dapat disembuhkan, edang ini bukankah akan menjadi kepunyaanku?”

“Setidak-tidaknya pikiranku tidak terganggu, sebab itu adalah nasib yang tidak dapat dilawan oleh manusia!”

“Apakah nona berpikir sekalipun kepandaian nona masih cukup kuat seluruhnya, mungkin juga tidak bisa mendapatkan kembali pedang ini?”

“Aku bisa membela dengan jiwaku sampai titik darah penghabisan!”

Tergerak hati Hui Kiam. Ia berkata dengan suara lemah lembut: “Sebaiknya     nona     terimalah     dulu     bantuanku     untuk

menyembuhkan lukamu.    Soalnya lain nanti kita  bicarakan lagi,

mungkin aku juga dapat merobah pikiranku!”

“Maksudmu, apakah kau hendak melepas pedang sakti ini?” “Mungkin demikian!”

“Baik, aku menurut!”

“Ada satu hal aku perlu menerangkan lebih dulu ”

“Silahkan!”

“Orang tua bermata biru yang kubunuh itu adalah Iblis Singa, salah satu dari Delapan Iblis Negara Thian-tik!

“O!” gadis itu nampaknya terkejut.

“Empat dari delapan iblis itu sudah diangkat sebagai anggota pelindung hukum tertinggi oleh Persekutuan Bulan Emas, persekutuan itu sudah bertekad hendak memiliki pedang sakti ini. Kalau selama beberapa tahun ini nona bisa melindungi pedang ini tanpa ada yang mengganggu, itu disebabkan tiada orang yanq mengenali barisan gaib ini, tetapi sekarang Iblis Singa itu sudah bisa masuk, apakah kita bisa menjamin bahwa tiga iblis lainnya itu tidak bisa masuk juga? Maka jika nona masih ingin mengandalkan barisan gaib ini untuk melindungi pedang, kenyataannya sudah tidak memungkinkan lagi ”

“Maksudmu?”

“Aku tidak ingin pedang pusaka ini diketemukan oleh kawanan iblis, yang akan digunakan untuk menimbulkan pertumpahan darah, apabila keadaan sudah mendesak, sudilah nona merusakkannya?”

““Aku memang akan berbuat demikian!” “Baik, sekarang mulai!”

Tangannya ditempelkan di bagian jalan darah Beng-bun-hiat lagi. Tenaga dalamnya perlahan-lahan disalurkan ke dalam tubuh si nona.

Kekuatan tenaga dalam Hui Kiam pada waktu ini, sudah boleh dikata tidak ada tandingannya, untuk menyembuhkan luka bagian dalam, tidaklah sukar baginya.

Satu jam kemudian, luka dalam tubuh nona itu sudah sembuh.

Gadis pelindung pedang meloncat bangun, sekonyong-konyong ia menjerit bagai terpagut ular.

“Matamu?”

Hui-Kiam terkejut. Ia menekan perasaan pedih di dalam hatinya.

Dangan suara berat dan tenang, ia menjawab: “Buta!”

“Ini bagaimanakah sebetulnya?”

“Terkena akal keji Iblis Singa. Ia menyembunyikan racun dedaunan di dalam tongkatnya. Tatkala tongkat itu aku papas dengan pedang, bubuk racun dalam tongkat menyembur keluar dan membutakan mataku!” Gadis pelindung pedang itu menangis, tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Hui Kiam.

Seketika itu Hui Kiam kelabakan, tindakan nona itu sungguh di luar dugaannya.

“Nona, mengapa... kau berbuat begini?”

“Oleh karena aku, kau telah merusak dirimu sendiri. Pengorbanan dan budi ini, dalam hidupku ini sulit bagi aku untuk membalasnya.”

Hui Kiam sedapat mungkin coba menenangkan pikirannya. Ia berkata dengan suara sedih:

“Nona, kau keliru. Perbuatanku ini bukan semata-mata karena kau ….”

“Tidak! Kau tidak usah membohongi aku, jikalau kau tidak kau, siang-siang aku sudah binasa.”

“Apabila nona coba memikirkan sejenak tentang maksud kedatanganku itu, tidak nanti bisa mengucapkan demikian.”

“Aku tahu, kedatanganmu memang karena pedang sakti itu, akan tetapi kau sudah menolong jiwaku itu tokh tidak salah dan kau sudah berkorban untuk itu tokh juga tidak salah, jikalau kau hanya bermaksud hendak mendapatkan pedang sakti, sedikitpun tidak mempunyai jiwa besar dan perasaan kebenaran setelah kau mendapatkan pedang itu, gampang saja kau pergi!“

Perkataan itu memang masuk di akal, hingga Hui Kiam bungkam. Ia tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk membantah.

Nona itu berkata pula dengan suara sedih:

“Aku bernama Cui Wan Tin, dan kau?” “Aku Hui Kiam.”

“Oh! Engko Kiam, aku hendak merawatmu seumur hiduip ”

Bukan kepalang terkejutnya Hui Kiam, sesaat lamanya ia berdiri tertegun lama baru bisa berkata: “Nona Cui, apa kau kata?”

“Aku cinta kepadamu, aku hendak merawat dirimu seumur hidup!”

“Aku sudah merupakan seorang cacat, tiada harganya   ”

Dengan jari tangannya Cui Wan Tin menekap mulut Hui Kiam, tidak mengijinkan ia mencetuskan perkataannya. Dengan suara gemetar ia berkata:

“Justru karena itu, maka aku hendak mengawani kau seumur hidup. Apakah kau sudi menerimaku?”

“Bukan, sejak pertama kali kau datang kemari aku sudah ”

“Sudah apa?” ia agak malu untuk mengeluarkannya, akan tetapi maksud dalam perkataan itu jelas sekali dapat dimengerti oleh Hui Kiam.

Hati Hui Kiam kembali tergoncang, tetapi ia segera cepat berpikir. Kalau matanya telah buta, jikalau tidak mempunyai keberanian untuk mengakhiri hidupnya sendiri, maka hari-hari selanjutnya akan merupakan suatu penderitaan dan siksaan yang tak ada habisnya. Kecuali itu dengan matanya yang sudah bercacad, bagaimana dapat menerima cintanya si nona, ini berarti akan mensia-siakan masa remaja nona itu. Seketika itu ia pura-pura berkata dingin, katanya:

“Aku tidak sudi menerima perasaan kasihan siapapun juga!” “Engko Kiam, ini bukanlah kasihan, melainkan kasih sayang yang

sejujurnya.”

“Tetapi aku tidak bisa menerimanya.” “Apakah kau tidak cinta kepadaku?”

“Ya. Di antara kita belum bisa dikatakan soal cinta,” jawab Hui Kiam sambil gigit bibir.

Cui Wan Tin sangat duka. Air mata mengalir di kedua pipinya. Tangannya memeluk Hui Kiam semakin erat. Dengan suara tegas dan perasaan mantap ia berkata: “Tidak perduli kau cinta aku atau tidak, tetapi cinta yang tumbuh dalam hatiku adalah sejujurnya itu sudah cukup.”

Dalam hati Hui Kiam bergolak hebat bagaikan gelombang air laut, tetapi di luarnya sedikitpun tidak mengunjukkan kegelisahan dalam hatinya.

“Nona Cui, cinta itu tidak dapat dipaksa, jikalau tidak akan menjadi suatu penderitaan.”

“Engko Kiam, jangan menganggap aku seorang perempuan yang tidak tahu malu, antara kau dengan aku satu sama lain sudah bersentuhan secara begini, apa kau kira tubuhku ini dapat kuberikan kepada orang lain?”

Hati Hui Kiam merasa pedih. Manusia bukanlah batu atau kayu, biar bagaimana masih mempunyai perasaan sebagai manusia, terutama setelah mengalami peristiwa yang menyedihkan itu, maka cinta kasih yang timbul dari hati sejujurnya semakin besar pengaruhnya cinta demikian, boleh dikatakan satu pengorbanan suci.   Akan tetapi dengan apa ia harus menerima pengorbanan orang lain? Maka ia berkata pula dengan nada tetap dingin:

“Anak-anak dari golongan rimba persilatan tidak memandang segala peraturan yang sudah usang itu. Dalam pelajaran kuno yang melarang kaum pria dan wanita tak boleh bersentuhan apabila bukan suami istri, ini cuma berlaku untuk sebagian orang saja, tetapi bagi kita itu sudah merupakan suatu peraturan yang sudah usang .”

“Walaupun demikian cintaku ini bukan berdasar atas itu.” “Biar bagaimana aku tidak sanggup menerima!”

Paras Cui Wan Tin kembali berubah. Ia berkata dengan suara sedih:

“Apapun katamu dan anggapanmu, tidak akan merubah hatiku!”

Sehabis mengucapkan demikian, ia melepaskan tangannya lalu berbangkit untuk membuang mayatnya Iblis Singa dan empat anak buahnya. Lima bangkai itu dilemparkan ke dalam danau air dingin, kemudian ia balik lagi ke samping Hui-Kiam seraya berkata:

“Mari kita masuk!”

“Tidak, aku hendak pergi!”

“Pergi? Kedua matamu sudah tidak bisa melihat, kau hendak pergi kemana?”

Ucapan itu bagaikan anak panah beracun yang menancap hulu hatinya. Ya, kemana ia harus pergi? Kedua matanya sudah buta, sudah tidak dapat melihat apa-apa. Ia juga tidak mempunyai rumah tinggal, kemana ia harus menetap?

la sudah tidak sanggup mengendalikan perasaannya lagi. Di wajahnya yang dingin nampak berkerenyut. Ia ingin menangis, tetapi tiada setetespun air mata yang keluar dari matanya.

Ia ingat perjanjiannya dengan Sukma Tidak Buyar, janji itu dalam hidupnya ini sudah tidak dapat ditepati lagi.

la ingat si Orang Berbaju Lila yang merupakan musuh perguruannya, akan tetapi permusuhan itu sudah tidak bisa dituntut selama-lamanya.

Sekonyong-konyong otaknya terbayang bayangan Tong Hong Hui Bun yang cantik jelita. Tetapi sekarang si cantik itu seolah-olah sudah menjadi suatu kenangan yang lalu yang tidak akan dapat dilihat lagi untuk selama-lamanya.

Hatinya tergoncang hebat. Cintanya si cantik jelita itu ia tidak dapat melupakan, juga tidak dapat menyingkirkan dari dalam kenangannya. Akan tetapi apakah ia masih bisa mencintakannya? Sekalipun si cantik itu masih tetap mencintainya, ia juga merasa malu terhadap dirinya sendiri. Seorang cantik bagaikan bidadari, pantaskah mempunyai kekasih seorang bercacat?

Ini agaknya terlalu kejam.

Sudahlah, biarlah kenang-kenangan itu akan tinggal suatu kenangan yang indah! Keputusan itu diambilnya dengan hati pedih yang tak dapat dibayangkan perasaan orang luar.

Beberapa jam sebelumnya, Hui Kiam datang dengan penuh semangat, tetapi setengah hari kemudian segala-galanya sudah berobah.

“Mari jalan!”

Dengan satu tangan Cui Wan Tin mengambil pedang saktinya di tanah, tangan yang lain menggandeng Hui Kiam. Keadaan itu, benar-benar mirip dengan sepasang merpati.

“Nona Cui ...”

”Engko Kiam, namaku Wan Tin, apakah kau tidak dapat merobah panggilanmu?”

“Ini ...”

“Beratkah perasaanmu? Tidak apa, terserah bagimu bagaimana kau panggil aku tidak apa!”

Nona itu ternyata tidak mengkukuhi pikirannya sendiri, sedapat- dapat ia hendak menenangkan hati kekasihnya maka walaupun hati Hui Kiam keras bagai baja, akhirnya juga dibuat lumer apalagi ia memang bukan seorang berhati dingin, hanya keadaan dan pengalaman hidupnya, membuat ia bersikap dingin terhadap sesamanya, namun demikian ia masih tetap mempunyai perasaan hangat seperti apa yang dimiliki oleh setiap orang hanya perasaan itu ia tindas sendiri jangan sampai meluap, akan tetapi apabila perasaan hangat itu tertarik keluar, maka hangatnya lebih-lebih meluapnya dari pada orang biasa. Maka akhirnya ia tidak sanggup menindas perasaan sendiri dan tercetuslah dari mulutnya perkataan yang sudah dinanti-nantikan oleh Cui Wan Tin:

“Adik Tin!”

Tetapi selanjutnya hanya keluhan napas seorang yang sudah putus harapan.

Bagaimanakah selanjutnya? Ia masih belum dapat memikirkan dengan seksama. Cui Wan Tin merasa sangat girang mendengar suara panggilan itu, maka ia lalu menarik tangan Hui Kiam, diajak masuk ke dalam kamar batu di dalam gua itu.

Tiba di dalam kamar, ia disuruh duduk di atas suatu pembaringan. Ia tidak dapat lihat bagaimana keadaan dalam kamar itu, akan tetapi ia tahu itu adalah kamar tidur Cui Wan Tin.

“Adik Tin, apakah ini kamar tidurmu?” “Ya!”

“Bolehkah pindah ke lain kamar?”

“Aku pikir tidak perlu, di tempat ini hanya kau dan aku berdua saja, sekarang begitu nantipun begitu juga!”

Selagi Hui Kiam hendak membuka mulut, Cui Wan Tin sudah berkata lagi:

“Kau beristirahat dulu, aku akan membuat makanan!” Setelah itu, ia kemudian berlalu dari kamar.

Hui Kiam kembali berada dalam kesunyian sekarang. Ia boleh memikirkan dengan tenang bagaimana harus berbuat terhadap dirinya sendiri. Harus menjadi suami istri dengan Cui Wan-Tin yang berdiam dalam Makam Pedang itu untuk selama-lamanya? Sudah tentu tidak mungkin tinggal seharusnya mengorbankan kebahagiaan Cui-Wan Tin yang masih muda belia untuk mengawani seorang buta.

Apakah ia harus bunuh diri? Ya! Inilah jalan satu-satunya untuk melepaskan diri dari penderitaan.

Akan tetapi, benarkah kematian itu sudah cukup untuk melepaskan penderitaannya? Bagaimana ia harus menghadap kepada arwah suhunya di alam baka? Bagaimana harus menghadap kepada ibu almarhumnya...?

Pikirannya berputaran di antara soal mati atau tidak mati.

Berpikir bolak-balik, belum juga menemukan keputusannya. Pada saat itu Cui Wan Tin datang lagi dengan membawa makanan. Ia bimbing Hui Kiam duduk di pinggir meja dengan penuh kasih sayang ia berkata:

“Engko Kiam, mari kita makan, bagaimana kalau aku yang menyuapimu?”

Hui Kiam merasa sedih, ia menindas jangan sampai air matanya mengalir keluar.  Sambil tertawa kecil ia berkata:

“Aku tidak bisa makan!”

“Sedikitpun tidak apa, kau coba hidangan ini kubuat sendiri. Ini adalah jamur yang kuambil dari atas gunung, dan ini. ”

la berkata dengan tidak berhentinya, nampaknya sangat gembira sekali. Sudah tentu maksudnya ialah mengharap agar Hui Kiam melupakan penderitaannya. Akan tetapi penderitaan yang terlalu hebat itu, bagaimana dapat dilupakannya?

Hanya tergerak oleh kelakuan yang begitu kasih dan cinta dari Cui Wan Tin, akhirnya Hui Kiam makan juga sedikit.

Pengalamannya ini, boleh dikata ia mimpikan belum pernah impikan. Waktu pertama kali ia berjumpa dengan Tee-hong, reaksinya timbul dalam perasaannya ialah perasaan simpati dan benci terhadap orang yang melakukan kejahatan terhadap diri orang tua itu, tetapi sekarang ia harus merasakan sendiri bagaimana rasanya sebagai seorang buta, hingga ia baru dapat merasakan betapa besar jiwa Tee-hong, betapa kuat iman orang itu. Dengan kedudukan dan nama baiknya dalam dunia rimba persilatan orang tua itu masih sanggup memikul penderitaan sampai beberapa puluh tahun lamanya, bahkan masih sanggup melatih ilmu kepandaian yang hendak digunakan untuk menuntut balas, ini benar-benar tak dapat dilakukan oleh manusia biasa.

Sehabis makan, Cui Wan Tin membersihkan meja makan, dan Hui Kiam mulai berpikir lagi.

Ia teringat diri Tee-hong yang di dalam dunia rimba persilatan dipandang sebagai satu dewa, dari diri Tee-hong teringat pada dirinya sendiri. Maka berobahlah pikirannya. Pikirannya ingin mati mulai lenyap.

Ia sadar bahwa kematian bukanlah merupakan suatu pembebasan, itu dan hanya merupakan suatu perbuatan pengecut, yang berarti hendak melarikan diri dari kewajiban. Namun demikian, perasaan perih masih tidak bisa lenyap begitu saja. Semua tugas dan kewajiban yang harus diselesaikannya, ia tidak mendapat mengelakkan dari tanggung jawabnya. Setelah tugasnya untuk menuntut balas itu selesai, baru boleh merasa bebas.

Kini ia teringat dengan kenyataannya:

Apakah harus-berlalu, tetapi kemana harus pergi?

Apakah harus berdiam untuk menerima cinta Cui Wan Tin?

Selagi belum dapat mengambil keputusan, Cui Wan Tin sudah masuk lagi.

“Engko Kiam, aku sedang berpikir, di dalam dunia ini ada barang pasti ada satu lawannya. Racun di dalam dedaunan itu meskipun sangat berbisa tetapi juga seharusnya ada obat pemunahnya.”

“Adik Tin, sudah tidak mungkin. Tee-hong yang merupakan salah seorang tokoh dari Tiga Raja Rimba Persilatan, juga buta kedua matanya karena racun dedaunan itu, dengan pengalamannya dan pengetahuannya seorang seperti dia toh masih tidak berdaya.”

“Kau... pernah melihat Tee-hong?” “ Ya.”

“la dianiaya oleh siapa?” “Thian Ong.”

“Oh, oh, ini benar-benar merupakan suatu rahasia yang tidak dapat dipikir oleh suatu pikiran yang waras. Mengapa Thian Ong harus menganiaya diri Tee-hong?”

“Hanya karena satu nama kosong saja!”

“Urusan di dalam dunia kadang-kadang tidak dapat dipikir secara pikiran biasa.” “Aku juga beranggapan demikian.”

“Enko Kiam, aku bersumpah hendak melakukan sesuatu kebaikan untukmu. Aku hendak mencari tabib pandai, sekalipun aku harus menjelajahi seluruh dunia, supaya kedua matamu bisa terang lagi.”

Hui Kiam merasa terharu hingga air matanya mengalir keluar tanpa dapat dikendalikan lagi.

Ia menyambar badan Cui Wan Tin, lama baru berkata:

“Adik Tin, apakah aku begitu berharga sehingga kau berbuat begitu?”

Cui Wan Tin segera menjatuhkan diri ke dalam pelukan Hui Kiam.

Dengan suara lemah lembut ia berkata: “Mengapa tidak?”

“Coba kau ceritakan apa sebabnya!”

“Aku dibesarkan di dalam makam batu ini, hidup seorang diri dalam kesunyian. Sejak pertama kali aku berjumpa denganmu, aku tidak dapat mengendalikan perasaanku sendiri. Mungkin inilah yang dinamakan jodoh itu.”

“Jodoh? Aku sekarang sudah menjadi orang buta…!”

“Itulah sebabnya aku lebih lebih mencintaimu! Kita boleh berdampingan setiap hari malam, tiada perlu khawatir direbut orang lain.”

“Adik Tin, kau sesungguhnya terlalu bodoh. Apakah kau anggap bisa bahagia?”

“Sudah tentu. Dapat menyintai apa yang dicintai olehnya sendiri itu adalah suatu kebahagiaan yang paling besar!”

Air mata Hui Kiam mengalir semakin deras. Dengan suara terharu ia berkata:

“Adik Tin, yang bahagia adalah aku, kau telah korbankan….” “Tidak.“ “Aku senantiasa merasa bahwa kebahagiaanku ini datangnya secara mendadak juga di luar dugaan, barangkali ”

“Kau jangan berkata lagi. Sudah lama aku jatuh cinta kepadamu dan sekarang Tuhan telah mengabulkan keinginanku. Ini memang suatu kebahagiaan yang wajar.”

“Hanya, ah.... aku sesungguhnya merasa tidak enak!”

“Jangan bicarakan soal ini, mari kita bicarakan diri kita masing- masing.”

Bicara soal dirinya, wajah Hui Kiam segera mengunjukkan rasa dukanya. Ada siapa lagi yang mempunyai riwayat hidup yang begitu aneh dan menyedihkan seperti ia? Ibu yang mati teraniaya sehingga sekarang masih belum diketahui siapa pembunuhnya. Ayahnya Suma-Suan, entah terjadi apa sama ibunya? Mengapa ibunya menyuruh ia yang membinasakannya? Tetapi sang ayah itu sudah binasa di tangan Orang Berbaju Lila yang menggunakan akal keji....

“Engko-Kiam, jikalau kau mempunyai riwayat hidup yang menyedihkan, untuk sementara janganlah kau menceritakan!”

“Tidak, adik Tin, untuk menambah pengertian kita satu sama lain, seharusnya kita bicarakan!”

Tiba-tiba Cui-Wan Tin berseru terkejut:

“Ada orang menerjang barisan!”

Hui Kiam agaknya tidak mengerti. Ia lalu bertanya:

“Kau berada di sini, bagaimana bisa kau tahu ada orang menerjang barisan?”

“Di dalam kamar ini aku pasang kaca untuk mengintai keadaan di luar makam hingga apa yang terjadi di luar dapat dilihat dengan nyata!”

“Oh, sayang aku ”

“Orang ini sudah menerjang masuk melewati dua garis pertahanan!” “Bagaimana orangnya?” “Seorang wanita!” “Wanita?”

“Ya, sekarang ia nampaknya sangsi. Nampaknya pengetahuannya tentang barisan ini sangat terbatas, ia tidak berani menerjang masuk lagi. Ia sudah mengundurkan diri... dan berdiri di luar barisan... agaknya sedang memanggil orang. Entah siapa yang dipanggil…”

“Wanita macam bagaimana?”

“Ehm, em! Nampaknya ia cantik sekali, kecantikannya sungguh luar biasa ”

Hui Kiam tergerak hatinya, dengan sendirinya lalu teringat kepada dirinya Tong hong Hui Bun. Maka ia lantas berkata:

“Sayang aku tak dapat melihat!”

“Orang yang coba menerjang masuk barisan itu memang sering ada, aku sudah biasa melihatnya.”

“Adik Tin, apakah masih ada orang lain?”

“Ada, itu beberapa perempuan semacam pelayan.” “Berpakaian warna apa?”

“Kurang jelas, hanya nampak warnanya gelap.” Hui Kiam seketika merasa tak tenang.

“Apakah bukan warna kebiru-biruan?” “Eh! Engko Kiam, bagaimana kau tahu?” “Aku hanya sedang menduga-duga saja.”

“Kau jangan membohongi aku. Apakah kau kenal dengan wanita itu?”

Kini Hui Kiam tidak dapat mengendalikan perasaannya lagi, pikirannya mulai kalut. Andaikata benar perempuan yang datang itu ialah Tong-hong Hui Bun, ia harus berbuat bagaimana? Menjumpainya atau tidak?

“Engko Kiam,. katakanlah!”

“Adik Tin, kau kata perempuan itu sedang memanggil-manggil?” “Nampaknya iya. Ia terus memanggil-manggil tanpa henti-

hentinya. ”

“Bolehkah kau keluar untuk mendengar siapa yang dipanggil?” “Kau kenal dengannya atau tidak?”

“Aku tidak bisa memastikan, ia itu orang dalam dugaanku atau bukan?”

“Baiklah, aku akan keluar untuk melihatnya!”

“Adik Tin, setelah kau dengar tegas segera kembali, jangan bertindak apa-apa terhadapnya.”

Cui Wan Tin selalu menuruti keinginan Hui Kiam, ia segera keluar kamar.

Pikiran Hui Kiam yang sudah mulai tentram kini telah bergolak lagi.

Andaikata benar orang yang datang itu adalah Tong-hong Hui Bun, bagaimana ia harus berbuat?

Ia benar-benar sangat gelisah, bagaikan semut dalam kuali penggorengan.

Walaupun kedua matanya sudah buta, tetapi masih terbayang- bayang paras Tong hong Hui Bun yang cantik jelita, sehingga membuatnya hampir kalap. Ia menarik-narik rambutnya sendiri seolah-olah dengan menyiksa dirinya sendiri itu dapat meringankan penderitaaan batinnya.

To hong Hui Bun sudah menempati hatinya. Ia pernah menyatakan bahwa si cantik jelita itu adalah sebagian dari jiwanya! Akan tetapi pada saat ini, segala-galanya sudah berubah semua! Pengalamannya yang menyedihkan, telah membuyarkan semua pengharapannya.

Tidak berapa lama, Cu Wan Tin sudah balik ke dalam kamar. Parasnya pucat tetapi Hui Kiam tidak bisa melihat perobahan itu. Begitu bertemu segera berkata:

“Siapa dia?”

“Tidak tahu, dia seorang perempuan sangat cantik sekali. Beberapa perempuan yang lainnya sudah kau tebak jitu, mereka adalah pelayan-pelayan saja,” jawabnya Cui Wan Tin dengan nada suara tidak wajar.

Sekujur badan Hui Kiam gemetar. Katanya:

“Oh! Itulah dia….” “Dia siapa?”

“Enciku yang berlainan she!” “Apakah bukan kekasihmu?”

Muka Hui Kiam merah seketika. Ia berpikir tidak seharusnya membohonginya, maka akhirnya mengaku terus terang:

“Ya!”

Paras Cui Wan Tin berubah, duduk termangu-mangu di atas kursinya, parasnya semakin pucat, dalam waktu sekejap mata saja semangat dan keremajaannya yang tumbuh karena kekuatan cinta juga lenyap tanpa bekas.

Hui Kiam lama tidak mendengar suara, segera menyadari bahwa perkataannya tadi sudah melukai hatinya. Ia tidak dapat melihat, tetapi bisa membayangkan bagaimana keadaan Cui Wan Tin pada saat itu.  Maka ia lalu berkata dengan suara lemah lembut:

“Adik Tin, jangan susah hati. ”

“Aku   tidak.” ”Jangan kau kira aku tak melihat, tetapi aku dapat membayangkan. Adik Tin, tindakan apa yang dilakukan selanjutnya oleh wanita itu?”

“Dia... dia memanggil namamu!” “Oh! Ia... ia ”

Hui Kiam mundur dua langkah sehingga badannya terbentur dengan dinding batu. Sekujur badannya gemetar. Ia tidak mengerti entah bagaimana Tong-bong Hui Bun mengetahui dirinya berada di dalam Makam Pedang itu? Dan bagaimana ia bisa datang kemari? Ia masih ingat keduanya antara ia dengan Tong hong Hui Bun, telah berpencaran karena mengejar Orang Berbaju Lila, apakah jejaknya sendiri selalu di bawah pengawasannya? Mengapa ia tidak mengunjukkan muka dulu-dulu?

“Terlambat! Semuanya sudah terlambat, enci!” Dengan tanpa sadar ia menggumam sendiri.

Air mata mengalir dengan tanpa dirasa. Seorang yang keras hati dan dingin bagaikan baja seperti dia, ternyata telah berubah demikian lemah.

Setelah melalui keheningan yang cukup lama, tiba-tiba ia memperdengarkan suara tertawa terbahak banak....

Ini adalah suatu cara untuk mengumbar perasaan sedihnya, juga suatu tantangan bagi nasibnya sendiri.

Suara tertawa itu pada akhirnya lebih tidak enak daripada suara tangisan.

Cu Wan Tin juga meluncurkan air mata. Entah merasa terharu karena keadaan Hui Kiam ataukah karena mempunyai pikiran lain?

la berbangkit dan memegang pundak Hui Kiam seraya berkata dengan suara duka:

“Engkoh Kiam, kau jangan begitu, ada kalanya orang harus belajar menerima nasib.”

“Ya, ini adalah... nasib….” “Engko Kiam, beristirahatlah sebentar.” “Adik Tin, kau gemetar.”

“Aku… aku sedang berpikir, sejak anak-anak aku sudah dipermainkan oleh nasib, setelah aku menerimanya dengan segala kesabaran kemudian seolah-olah aku menemukan sesuatu akan tetapi barang yang baru kuketemukan itu seolah-olah sudah direbut lagi oleh nasib. Aku tidak tahu apakah aku masih sanggup menerima atau tidak?”

Hui Kiam sudah tentu mengerti apa yang dimaksudkan dalam perkataannya itu, selagi hendak menghibur….

Suara panggilan yang menyedihkan, tiba-tiba masuk ke dalam telinganya:

“Hui Kiam, adik, apakah kaudengar suaraku? Apakah kau masih hidup? Jawablah panggilanku.”

Suara itu diulangi berkali-kali. Setiap patah seolah-olah ketukan martil pada hati Hui Kiam!

Itu adalah suatu ilmu yang tertinggi untuk menyampaikan suara ke dalam telinga orang yang dipanggil dari jarak jauh. Jikalau tidak menggunakan ilmu itu, suara tidak akan masuk ke dalam kamar batu itu.

Hati Hui Kiam merasa seperti ditusuk oleh pedang tajam, pembuluh darah sekujur badannya seolah-olah hendak meledak.

Ia sudah hampir menjadi kalap. Katanya dengan nada suara keras:

“Aku harus menengoknya walaupun hanya sebentar saja!”

Cui Wan Tin melepaskan tangannya, ia mundur terhuyung- huyung. Dengan suara sedih ia berkata:

“Engko Kiam, kau harus pergi menengoknya. Pergilah! Aku. ”

“Adik Tin, maafkan diriku!” “Tidak usah kau berkata demikian, aku tadi sudah berkata bahwa ini adalah nasib.”

“Aku hanya ingin menengoknya sebentar saja dan berbicara beberapa patah kata.”

“la cantik bagaikan bidadari, aku malu terhadap diriku sendiri, ia kenal denganmu sebelum aku mengenalmu, dengan apa aku. ”

”Adik Tin, aku hanya ingin menengok sekali saja. ”

“Engko-Kiam, semoga kau masih ingat diriku jangan kau hapus dari dalam hatimu dengan demikian aku sudah merasa puas aku mencintaimu, selama-lamanya sehingga nyawaku terakhir.”

“Adik Tin, aku bukan hendak meninggalkan kau.”

“Engko-Kiam, aku mempunyai firasat bahwa kau bisa meninggalkan aku!”

“Tidak bisa adik Tin, selama-lamanya aku akan hargai perasaanmu yang agung itu.”

“Ya, aku percaya sekarang biarlah aku bimbing kau keluar!”

Hui-Kiam ternganga, perasaannya yang bergolak hebat segera padam. ‘Dibimbingnya keluar’ kedengarannya sangat mustahil tetapi toh benar suatu kenyataan, ia sendiri yang berjalan harus dibantu orang bagaimana Tong-hongHui Bun boleh melihat keadaannya yang menyedihkan itu apakah ia masih pantas bagi dirinya? Apakah ia harus merusak semua kenang-kenangan yang indah di masa yang lalu?

“'Tidak! tidak bisa!” demikian Hui Kiam berteriak sendiri. “Engko Kiam, apa yang tidak bisa?”

“Aku tidak bisa menemui dirinya, harap kau beritahukan padanya, bahwa aku. sudah mati!” jawab Hui Kiam duka.

Cui Wan Tin menundukkan kepala untuk berpikir, kemudian berkata:

“Tidak, kau harus pergi menengoknya.” “Adik Tin, mengapa? Bukankah kau…?”

“Kalau kau tidak menengoknya dan menjelaskan apa yang telah terjadi dalam dirimu, dalam hatimu selama-lamanya akan diudak- aduk oleh bayangan gelap. Kau tidak akan sanggup. Aku juga tidak mengharap untuk melihat kau menderita selama-lamanya karena peristiwa ini. Rantai yang mengikat hatimu itu harus dibuka. Aku tidak pandai bicara, tetapi kau tentu dapat mengerti apa maksud perkataanku ini?”

“Ya, aku mengerti, tetapi aku sudah berpikir bertemu muka hanya berarti menambah penderitaan dan kedukaan bagi kedua pihak. Seandainya, karena ia menganggapku sudah buta sehingga berubah sikap dan perlakuannya seperti yang sudah-sudah, aku tidak akan sanggup menerima penderitaan ini!”

“Tetapi katamu hanya seandainya saja, apabila kau membiarkan bayangan gelap itu berada dalam hatimu itu akan lebih menakutkan!”

“Adik Tin, aku sudah dapat memikirkan.”

Pada saat itu dari luar terdengar pula suara Tong-hong Hui Bun.

Suara itu berubah sangat pilu dan bernada putus asa:

“Adik, jikalau kau meninggalkan aku untuk selama-lamanya, seharusnya kau juga mengunjukkan rohmu!”

Suara itu mengunjukkan bagaimana pilunya hati Tong-hong Hui Bun pada saat itu.

Pikiran Hui-Kiam tergoncang lagi. Ia merasa bahwa ia benar- benar harus menemui satu kali saja. Maka ia lalu berkata:

“Adik Tin, bimbinglah aku keluar!”

Cut Wan Tin diam-diam membersihkan air mata yang mengalir di kedua pipinya. Katanya dengan suara terharu: “Marilah!”

Keadaan demikian pada waktu itu mirip dengan pesakitan yang dibawa menghadap hakim. Setiap langkah, hatinya selalu bergoncang dan berdebaran. Sepanjang jalan keduanya tidak membuka mulut lagi, agaknya tertindih perasaan masing-masing.

Perjalanan itu tidak panjang, dalam waktu sebentar saja sudah berada di pintu barisan. Dengan suara gemetar Cui Wan Tin berkata:

“Engko Kiam, maju ke depan lima langkah sudah keluar dari dalam barisan.  Pergilah menengoknya!”

“Kau… tidak ikut aku?” “Aku tunggu kau di sini.”

Hui Kiam menggenggam erat tangan Cui Wan Tin. Perbuatannya itu mengandung perasaan dan hiburan tanpa batas. Ini juga berarti suatu pernyataan bahwa ia akan kembali di sisinya lagi.

Lama sekali ia tidak dapat menggerakkan kakinya. Ia merasa terganggu dan takut apa yang akan terjadi selanjutnya.

Suara panggilan kedengarannya sangat dekat sekali, bahkan dapat didengarnya dengan nyata.

“Engko Kiam, kau harus lekas keluar!”

Hui Kiam akhirnya bertindak keluar sambil mengatupkan gigi. “Ah! Adik!”

Bagaikan angin puyuh, menubruk dirinya, bau harum yang sudah tidak asing lagi bagi Hui Kiam. Tubuhnya yang penuh padat, lengan tangannya yang halus bagaikan tak bertulang, telah merangkul dirinya. Telinga mendengar suara ucapan sangat perlahan yang mengandung getaran hati kegirangan:

“Adik, kukira aku sudah kehilangan kau.”

Hui Kiam sangat bingung, ia tak tahu ia harus berkata apa. Tenggorokannya seperti terkancing. Ia seperti sudah lupa segala- galanya.

Di lain pihak di balik pintu barisan batu itu, Cui Wan Tin sedang berdiri mendekap mukanya sambil menangis tersedu-sedu. Gadis yatim piatu yang bernasib malang itu hatinya telah hancur luluh.

Sekonyong-konyong Tong Hong Hui Bun berseru terkejut: “Adik, matamu….”

Ia lalu melepaskan tangannya dan mundur terhuyung-huyung!

Suara itu seolah-olah menarik kembali jiwa Hui Kiam dari lamunannya kepada kenyataan juga bagaikan terjatuh dari angkasa, perasaan pilu keluar dari dalam lubuk hatinya!

Ia tidak melihat paras Tong Hong Hui Bun, sehingga tidak dapat membayangkan bagaimana reaksinya.

Suasana berobah menjadi sunyi.

Lama sekali Hui Kiam baru memecahkan kesunyian itu: “Mataku sudah buta.”

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut kekasihnya!

Hati Hui Kiam bagaikan terjatuh ke dalam gua yang dalam dan tinggi. Ia pikir ia sudah berbuat keliru, tidak seharusnya menjumpai kekasihnya itu. Tetapi sekarang menyesal sudah terlambat.

Di samping duka dan kemenyesalannya, timbul pula sifatnya tinggi hati dan kesombongannya. Katanya dengan nada suara dingin:

“Enci, anggaplah aku sudah binasa!”

Sehabis berkata ia lalu memutar badannya dan balik menuju ke pintu makam.

Cui Wan Tin dapat menyaksikan semua kejadian dengan jelas.

Selagi hendak maju menyambut….

Tiba-tiba terdengar suara Tong-hong Hui Bun yang tajam: “Adik!” tangannya menyambar Hui Kiam.

“Lepaskan aku.”

“Adik, apakah artinya ini?” “Enci, adikmu yarg dahulu itu sudah mati. Aku hanya merupakan seorang cacat yang tidak berharga.”

“Adik, mengapa kau berkata demikian terhadap aku?” bertanya Tong-hong Hui Bun dengan suara gemetar.

“Enci, lupakanlah yang sudah lalu!”

“Apa? Lupakan yang sudah lalu? Adik, apakah kau kira dapat dilupakan? Kau .... apakah ucapanmu ini keluar dari dalam hati sanubarimu sendiri?”

“Aku... sudah tidak pantas lagi.”

“Tidak pantas? Ha, ha, adik, tenanglah sedikit, dengarlah sedikit kataku, walaupun di luarnya aku kelihatannya masih cantik, tetapi usiaku sebenarnya sudah lanjut, latihan kekuatan tenaga dalam, membuat diriku tetap dalam keadaan awet muda. tapi biar bagaimana aku tak dapat menguasai kekuasaan Tuhan. Akulah sebetulnya yang mencintai kau. Di samping itu, masih ada sebab lain lagi, yang aku tidak mencintai kau. Namun demikian adik, selama hidupku ini untuk pertama kali aku jatuh cinta kepada seseorang dengan setulus hatiku juga kudapatkan cintanya orang itu adalah kau. Aku hanya terperanjat karena terjadinya di luar dugaan, apakah kau kira hatiku sudah berubah?”

Perasaan Hui Kiam pada saat itu telah terombang- ambing oleh ucapan perempuan cantik itu. Air matanya mengalir keluar lalu berkata dengan suara gemetar:

“Enci, maafkanlah aku. ”

“Aku tidak sesalkan kau!”

“Enci, aku sudah merasa puas, juga merasa tentram, aku akan ingat selamanya kecintaan ini.”

“Apa kau akan meninggalkan au?”

“Enci, aku tak bisa memberikan kebahagiaan!”

“Adik, kita tidak usah bicara hal ini lagi. Ceritakanlah apa sebetulnya telah terjadi?” “Aku terkena racun dedaunan dari tangan Si Iblis Singa.” “Oh! Racun dedaunan...?”

“Ya!”

“Dan di mana Iblis Singa itu sekarang?” “Sudah kubunuh!”

“Kau… sudah membunuh Iblis Singa?” “Ya. Apakah enci merasa heran?”

“Memang menurut tafsiranku kepardaianmu tidak nanti sanggup menandingi dirinya!”

“Dengan terus terang, waktu aku berada di kamar rahasiamu, aku sudah berhasil memahami pelajaran ilmu silat dalam kitab Thian Gee Po-kip itu!”

“Oh!”

Paras Tong-hong Hui Bun berubah seketika, tetapi perubahan itu tidak dapat dilihat oleh Hui Kiam.

Sejenak ia berdiam, lalu berkata pula:

“Adik, tindakanmu ini sekali-kali tidak boleh tersiar keluar!” “Kenapa?”

“Bisa mendatangkan pembalasan yang menakutkan!”

“Aku tidak perduli, sekalipun beberapa iblis itu tidak mencari aku, tetapi aku tetap hendak ”

Hendak apa ia tidak dapat melanjutkan. Ia telah lupa kepada dirinya sendiri yang sudah buta, apa yang bisa berbuat? Maka akhirnya ia menundukkan kepala.

Tong-hong Hui Bun sudah tentu mengerti bagaimana perasaan kekasihnya itu, maka lalu berkata dengan suara lemah lembut:

“Adik jangan putus asa, aku pasti akan berusaha supaya matamu dapat melihat lagi.” “Enci, terima kasih atas kecintaanmu, tapi ini adalah satu hal yang tidak mungkin.”

“Apakah kau tidak percaya?” “Kenyataannya memang begitu!”

“Aku bukan menghibur dirimu dengan perkataan kosong.” “Apa, apakah benar?”

“Sudah tentu, aku yakin!”

Hui Kiam setelah mendengar ucapan itu hatinya merasa sangat girang. Apa yang tadinya ia tidak percaya ternyata Tong Hong Hui- Bun mengatakan begitu yakin, sudah tentu itu bukanlah bohong. Dengan asal-usulnya yang sangat misterius dan kepandaiannya yang sudah tidak ada taranya, sudah tentu dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain.

Membuat ia bisa melihat lagi ini berarti mengembalikan jiwanya yang akan hilang, bagaimana kalau ia tidak merasa girang? Keadaannya itu seperti juga dengan seorang pesakitan yang sudah dijatuhi hukuman mati mendadak dapat keampunan.

“Adik, keretaku ada di luar lembah ini, kita… ow.ow, aku lupa bertanya kepadamu, apakah karena kabar tentang pedang pusaka itu sehingga kau masuk ke dalam Makam Pedang ini?”

“Ya.”

“Benda itu kepunyaan siapa?”

Hui-Kiam tiba-tiba teringat kepada diri Cui Wan Tin yang mencintainya begitu besar dan tulus hati. Kenyataan telah membuktikan seperti apa yang dikatakan oleh gadis itu. Oleh karena ingin kedua matanya bisa melihat lagi, kini benar-benar akan meninggalkannya. Perbuatannya terhadap diri gadis itu akan merupakan suatu pukulan yang hebat.

“Eh, kau kenapa?”

“Enci, apakah aku harus ikut kau jalan bersama-sama?” “Sudah tentu.”

“Andaikata aku menunggu kau sampai kau dapatkan obatnya…?” “Urusan tak semudah itu. Mengapa kau berkata demikian?”

“Aku merasa tidak enak bagaimana harus kita berkata kepada orang yang menjadi pelindung pedang!”

“Pelindung Pedang, siapa?” “Seorang nona.”

Paras Tong-hong Hui Bun lalu berubah.

“Dalam Makam Pedang itu ada seorang wanita?”

“Adik, aku tidak menduga kau juga adalah seorang romantis.” “Enci, bukan begitu. Aku... bagaimana harus menjelaskan?

Andaikata tidak ada dia, niscaya kau sudah tidak bisa bertemu dengan aku, tidak mungkin aku bisa hidup lagi!”

“Oleh karena merasa hutang budi kau merasa harus membalas budi itu. Apa kau jatuh cinta kepadanya?”

“Istilah menghargai lebih tepat daripada istilah jatuh cinta!”

“Ai! Alangkah hebat Tuhan yang mengatur nasib manusia, aku yang semula mengira bisa mendapatkan dirimu dan cintamu seluruhnya, tidak kusangka. ”

“Enci, cintaku terhadap dirimu sedikitpun tidak berubah.” “Tetapi kau juga cinta kepadanya?”

“Enci harap kau coba memikirkan pengalamanku. Aku sebetulnya sudah berpikir tidak akan menemui kau lagi. Aku malu terhadap diriku sendiri, juga tak ingin merusak kenang-kenanganku yang indah. Tahukah kau bagaimana aku harus menggunakan banyak waktu untuk berpikir sehingga baru dapat mengambil keputusan untuk menemui kau?”

“Baiklah! Dan sekarang kau pikir bagaimana?”

Hui Kiam setelah berpikir bolak-balik, lama baru bisa menjawab: “Aku harus menjelaskan kepadanya, meninggalkan pesan beberapa kata kemudian aku baru ikut kau pergi!”

“Baik, aku tunggu kau!”

Hui Kiam dengan jalan meraba-raba balik masuk ke dalam makam. Kedatangannya segera disambut oleh Cui Wan Tin yang segera berkata:

“Engko Kiam, kau hendak pergi?” Suaranya penuh kedukaan.

Hati Hui Kiam merasa sangat tidak enak. Dengan suara berat ia berkata:

“Adik Tin, percayalah kepadaku, aku cinta kepadamu.”

“Ya, mau tak mau aku harus percaya kepadamu, sebab dalam hidupku ini sudah tak ada pilihan lain.”

“Dengarlah keteranganku ”

“Tidak perlu kau memberi keterangan, aku sudah dengar seluruhnya.”

“Adik Tin, ia berkata bahwa ia yakin dapat menyembuhkan mataku supaya dapat melihat lagi….”

“Engko Kiam, kau tentunya tidak akan melupakan diriku yang bernasib malang ini?”

“Pasti tidak.”

“Aku doakan semoga kau bisa lekas melihat lagi. Aku menunggu kedatanganmu selama-lamanya.”

“Adik Tin, aku tidak bisa menduga aku bisa berlaku begini harus baik-baik menjaga dirimu.”

“Aku bisa, sebab aku hendak menantikan kedatanganmu.” “Kalau begitu sekarang aku hendak pergi.”

“Engko Kiam ….”

“Adik Tin masih hendak berkata apa lagi?” Cui Wan Tin memeluk Hui Kiam, ia mencium berulang-ulang.

Perbuatan itu segera dibalas oleh Hui Kiam.

Apakah yang akan terjadi selanjutnya setelah perpisahannya itu?

Siapapun tidak ada yang bisa menduga.

Lama sekali, mereka baru berpisah. Kedua-duanya sudah penuh air mata.

“Engko Kiam, aku masih ingin berkata sesuatu yang tidak boleh tidak aku harus keluarkan.”

“Keluarkanlah.”

“Tetapi harap kau jangan salah mengerti bahwa perkataan ini mengandung maksud jahat.”

“Tidak.”

“Encimu itu siapa namanya?” “Tong Hong Hui Bun.” “Kedudukannya?”

Tentang ini... ia tidak pernah mengatakan, aku juga tidak menanyakannya.”

“Perhubungan kedua pihak sudah meningkat sampai begitu dalam, tetapi kau masih belum tahu asal-usulnya, ini. ”

“Aku hanya tahu ia mempunyai sebuah batu kumala sebagai tanda kepercayaan. Kepandaian ilmu silatnya sudah mencapai ke taraf yang tidak ada taranya.”

“Harap kau berlaku hati-hati!”

“Apakah adik Tin menemukan tanda sesuatu?”

“Sudah beberapa kali ia muncul di tempat ini. Orang-orang berbaju hitam yang sering menjaga di sekitar tempat ini agaknya sangat takut sekali terhadap dirinya. ”

“Ini aku tahu. Ada kalanya ia membunuh orang tanpa menggerakkan tangan, hanya dengan beberapa patah kata saja sudah bisa memaksakan orang membunuh diri sendiri!” “Tetapi aku pernah melihat orang-orang berbaju hitam itu pernah menggunakan cara yang paling hormat dalam sesuatu partai golongan dunia Kang-ouw terhadap dirinya.”

Hati Hui-Kiam tergerak. Orang-orang berbaju hitam yang menjaga sekitar barisan batu hitam ajaib itu adalah anak buah Persekutuan Bulan Emas. Sudah tidak sedikit jumlahnya, Tong Hong Hui Bun membinasakan jiwa orang-orang itu. Maka kalau dikatakan takut memang ada kalau mau dikata menghormat rasanya belum tentu, sebab kedua pihak nampaknya bagaikan air dengan api. Kalau mau dikatakan orang-orang itu menghadap Tong-Hong Hui Bun dengan cara penghormatan yang paling tinggi dalam suatu partai atau golongan, ini sesungguhnya tidak dapat dimengerti.

“Baiklah, aku nanti akan perhatikan!” demikian akhirnya Hui-Kiam berkata:

“Tetapi bukan hanya itu saja!” “Masih ada apa lagi?”

“Ia mungkin seorang yang kejam!”

Hui-Kiam terperanjat. Ia teringat kelakuan Tong-Hong Hui Bun terhadap musuh-musuhnya memang benar sangat kejam. Kejadian yang sudah disaksikan dengan mata kepala sendiri, kalau menghadapi musuh-musuhnya selalu dibunuh habis-habisan, tak ada satupun yang hidup.

“Apakah adik Tin pernah melihat?”

“Aku pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri perbuatannya yang membinasakan sepasang kekasih!”

“Sepasang kekasih?”

“Ya, yang perempuan adalah pelayannya sendiri, yang lelaki adalah seorang berbaju hitam. Ia paksa pelayannya itu membunuh mati pemuda berbaju hitam. Pelayan itu berlutut di hadapannya meminta ampun, ingin membunuh diri sendiri, tetapi ia sendiripun tak tergerak hatinya. Akhirnya sepasang kekasih itu bunuh diri, sesudah binasa bangkainya dilemparkan ke dalam danau.”

Hui Kiam merasa bergidik. Tetapi ia berpikir, mungkin sepasang muda-mudi itu ada sebab-sebabnya yang harus dapat hukuman demikian, karena dalam suatu partay dan golongan dalam dunia Kang-ouw, tidak sedikit yang mempunyai peraturan yang sangat keras. Tetapi walaupun dalam hatinya berpikir demikian, sedang mulutnya berkata:

“Itu benar-benar memang kejam, adik Tin, aku bisa berlaku hati- hati.”

“Kau... boleh pergi.”

“Semoga tak lama kita bisa berjumpa lagi.”

“Kuulangi sekali lagi, engko Kiam, aku akan menantikan kau selama-lamanya.”

“Adik Tin, setiap saat aku akan ingat perkataanmu ini.”

la lalu membalikkan badan berjalan menuju keluar. Dalam hatinya merasa tidak tega meninggalkan tempat itu, tetapi ia menindas perasaannya sendiri, hanya dalam hatinya berjanji dia tidak akan menyia-nyiakan cinta gadis itu.

Sesaat setelah Hui Kiam melangkah keluar, paras si nona berobah seketika. Air mata mengalir deras. Sambil mengawasi berlalunya Hui Kiam, ia menggumam sendiri: Apakah aku sedang mimpi? Ini agaknya terlalu pendek! Apakah dengan demikian aku harus kehilangan dirinya?”

Hui Kiam setelah keluar dari barisan ajaib segera disambut dan digandeng tangannya oleh Tong Hong Hui Bun berjalan menuju keluar lembah.

Sepanjang jalan Tong Hong Hui Bun menanyai Hui Kiam tentang diri Pelindung Pedang.

“Adik, siapakah nama perempuan pelindung pedang itu?” Hui Kiam meski matanya tidak melihat tetapi pendengarannya rasanya seperti mengisiki dirinya bahwa Tong Hong Hui Bun saat itu mengandung rasa dengki. Maka ia lalu menjawab dengan sabar:

“Ia bernama Cui Wan Tin.” “Berapa usianya?”

“Kira kira dua puluh tahun.” “Apakah cantik?”

“Di hadapan enci, perempuan manapun tidak ada yang cantik.” “Apakah kau menyanjung aku?”

“Kenyataannya memang demikian.” “Apakah kau cinta kepadanya?”

“Perasaan terima kasihku mungkin lebih banyak daripada perasaan cinta.”

“Aku tidak suka ada orang membagi cintamu.”

Hui Kiam seketika itu membungkam. Kalau mau dikata bahwa ia tidak mencintai Cui Wan Tin, itu sebetulnya merupakan suatu pengakuan yang bertentangan dengan hatinya sendiri. Di samping itu ia juga tidak boleh menjadi seorang yang tidak mempunyai dengan budi dan perasaan. Tetapi kenyataannya cintanya terhadap Tong hong Hui Bun adalah lebih besar daripada cinta kepada Cui Wan Tin.

Kedua orang itu lalu berada dalam keheningan, hanya suara tindakan kaki yang terdengar nyata.

Sampai berakhir pada jalan lembah yang sempit itu, keduanya masih belum membuka mulut,

Berhenti berjalan, telinga mendengar suara kaki kuda, sehingga Hui Kiam tahu bahwa ia telah berada di samping kuda.

Perasaan tak tenang dan menyesal ditambah lagi dengan rasa penderitaan batin karena matanya buta, membuat Hui Kiam merasa sangat pilu hatinya. Akhirnya dengan suara berat ia berkata” “Enci, adakah harga bagimu sampai kau berlaku begitu terhadap diriku?”

“Adik, apakah maksud pertanyaanmu ini?”

“Kedua mataku sudah buta. Menurut pengetahuanku, racun dari dedaunan yang sangat berbisa itu di dalam dunia ini tak ada orang yang dapat menyembuhkan.”

“Apakah kau tidak percaya kepadaku?” “Percaya.”

“Kalau percaya, tidak seharusnya kau berkata demikian!”

“Enci, andaikata mataku tidak dapat disembuhkan, apakah kau harus mengawani seorang yang buta untuk selama-lamanya?”

“Adik, kucinta kepadamu dengan setulus hati!”

“Ya, aku tahu perasaanmu. Hanya kalau sampai kejadian begitu, aku tidak akan sanggup menerima penderitaan karena seumur hidupku aku berada dalam kegelapan. Juga aku tidak ingin menghancurkan keberuntunganmu ”

“Adik, apapun buat aku tidak menjadi soal, aku hanya tidak sanggup menerima apabila kau masih mencintai seorang lain ….”

“Enci, aku… aku tidak dapat mensia-siakan nona she Cui itu! Ia telah menolong aku di waktu aku berada keadaan putus asa dan tidak ada keberanian menghadapi kehidupan lagi! Ia telah bersumpah tidak akan mencintai orang kedua untuk selama- lamanya, maka... maka aku sesungguhnya merasa sulit sekali. Hutangku kepada perasaan hati nurani, tidak dapat dibayar dengan benda apa saja….”

“Maka kau juga bersumpah mencintai dirinya?”

“Keadaan telah memaksa, yang kucintai sebenarnya adalah kau!” “Sudah, jangan berkata lagi. Mari naik kereta!”

Tong Hong Hui Bun membimbingnya naik ke atas kereta, keduanya duduk berdampingan. Kereta mulai berjalan. Sebagai kusirnya nampaknya adalah seorang pelayan perempuan muda. Hui Kiam tiba-tiba teringat diri nenek berambut putih Hek Bwe Hiang, tak disangka ia bisa binasa di tangan orang yang berbaju lila.

“Enci, bagaimana dengan usahamu mengejar Orang Berbaju Lila itu?”

“la telah berhasil meloloskan diri!” “Oh!”

“Tetapi... aku tidak akan membiarkan ia hidup lebih lama lagi.”

---ooo0dw0ooo---