Pedang Pembunuh Naga Jilid 16

Jilid 16

“ORANG berbaju lila, pandai benar kau mengarang cerita bohong yang bagus sekali. Kau benar-benar merupakan seorang rimba persilatan yang tak tahu malu.”

Suara itu kemudian disusul oleh kedatangan seorang perempuan cantik bagaikan bidadari yang bukan lain dari pada Tong Hong Hui Bun sendiri.

Kedatangan Tong Hong Hui Bun secara tiba-tiba bukan saja mengejutkan orang berbaju lila, tetapi juga mengherankan Hui Kiam.

Tong Hong Hui Bun lebih dulu melancarkan lirikannya yang mengandung penuh arti kepada Hui Kiam, kemudian dengan suara bengis berkata kepada orang berbaju lila:

“Tidak kusangka kau dapat mengarang suatu cerita bohong yang sangat menarik.”

Orang berbaju lila itu memotongnya dengan suatu bentakan keras:

“Perempuan hina, tutup mulutmu, apakah ini kau anggap cerita bohong? Pembalasan terhadap segala perbuatanmu sudah tiba waktunya.”

Tong-hong Hui Bun perdengarkan suara di hidung dan menunjukkan sikapnya yang dingin berkata:

“Oiang berbaju lila, aku tidak kira nyawamu begitu panjang, ternyata kau masih hidup. Selagi aku keluar rumah, kau telah membunuh orang-orangku dan membakar kediamanku. Pada hari ini dan saat ini, aku akan minta keadilan darimu!”

“Ha ha ha, keadilan? Perempuan hina, tak kusangka parasmu yang begitu cantik dan bentuk tubuhmu yang begitu menarik, ternyata mempunyai jiwa yang begitu rendah dan tidak berharga. Kelakuanmu yang sangat cabul dan kejam melebihi daripada ular berbisa. ”

“Kau mencari mampus!” Setelah itu Tong Hong Hui-Bun lalu melancarkan serangannya yang hebat kearah orang berbaju lila.

Dengan cepat orang berbaju lila itu menghunus pedangnya dan menyambut serangan tersebut. Suatu pertempuran seru, sengit dan hebat telah terjadi. Kedua pihak bertekad hendak mengambil jiwa musuhnya, maka setiap serangannya sangat ganas dan mematikan.

Tong-Hong Hui-Bun dengan sepasang tangannya melawan ilmu pedang orang berbaju lila itu yang sudah tidak ada taranya.

Kepandaian itu, benar-benar merupakan suatu kepandaian yang luar biasa.

Dalam waktu sepuluh babak orang berbaju lila itu nampaknya terdesak terus menerus. Beberapa kali jiwanya telah terancam.

Pikiran Hui-Kiam pada saat itu terus berada dalam kekalutan. Ia berusaha menenangkan pikirannya. Setelah berusaha sekuat tenaga, ia baru terlepas dari gangguan pikirannya, kemudian ia berteriak:

“Bohong, bohong! Apa yang diucapkan seluruhnya itu tak boleh dipercaya!”

Teriakannya itu telah mengejutkan dua orang yang sedang bertempur sengit itu, sehingga kedua pihak menghentikan serangannya.

Tong Hong Hui-bun dengan perhatian sangat besar bertanya kepada Hui Kiam:

“Adik, apa katamu?”

Aku kata hahwa apa yang diucapkannya tadi, seluruhnya bohong belaka!” jawabnya Hui Kiam dengan gusar.

“Adik, memang begitu. Aku benar-benar khawatir kau terpedaya olehnya.”

“Kakak, biarlah aku yang membereskannya.”

Orang berbaju lila itu bagaikan orang kalap berkata: “Perempuan hina, karena kau aku telah membunuh orang mengalirkan darah, dan menjual prikemanusiaanku, sepasang tanganku berlumuran darah….”

“'Itu kesukaanmu sendiri!”

“Apabila kau mempunyai sedikit prikemanusiaan, kau harus hentikan perbuatanmu yang berarti menambah dosamu itu ”

“Orang berbaju lila, sudah dekat ajalmu kau masih terus mengoceh.”

“Perempuan hina, manusia kau boleh perhina sesukamu, tetapi Tuhan tidak. Tuhan adalah mahaadil, kejahatan dan kebaikan selalu ada timbalannya.”

“Jangan banyak bicara, serahkan jiwamu!”

Tong Hong Hui Bun mengeluarkan bentakan keras. Ia melakukan serangan lagi. Kali ini ia menggunakan tenaga sepenuhnya. Orang berbaju lila itu dengan beruntun mundur beberapa langkah Tong Hong Hui Bun terus mendesak.

Orang berbaju lila merggerakkan tangannya. Pedangnya mengeluarkan sinar gemerlapan. Ia berkata sambil gertakkan gigi:

“Aku akan adu jiwa denganmu!”

Hui Kiam yang menyaksikan keadaan yang demikian sangat terkejut. Jelas itu adalah suatu tanda pembukaan dari ilmu pedang Bulan Emas. Ia masih ingat bahwa komandan pasukan Persekutuan Bulan Emas Koo Han San dahulu bisa melakukan gerakan itu dengan menciptakan sinar pedang yang berbentuk lima buah bulan sabit. Tetapi sekarang orang berbaju lila ini ternyata dapat menciptakan sembilan sinar yang berbentuk bulan itu. Mengapa dia juga mahir dengan ilmu pedang Bulan Emas? Kalau mau dikatakan ia mempunyai hubungan dengan Persekutuan Bulan Emas, agaknya tidak mungkin, karena pada beberapa hari berselang di puncak gunung dekat lembah gedung kediaman Tong-hong Hui Bun, ia pernah membinasakan empat orang Utusan Bulan Emas. Belum lagi lenyap pikirannya, pedang orang berbaju lila yang memancarkan banyak sinar bentuk bulan sabit itu, dengan kecepatan bagaikan kilat menerjang Tong-hong Hui Bun.

Tong-hong Hui Bun agaknya tidak berani memandang ringan lawannya, secepat kilat ia melompat mundur, yang tepat ke samping diri Hui Kiam.

Orang berbaju lila itu maju lagi sambil melakukan serangannya. Hui Kiam sangat murka. Ia menyentil dengan jari tangannya.

Trang! Demikian suara nyaring terdengar. Pedang di tangan orang berbaju lila telah terputus menjadi dua potong o!eh hembusan angin yang keluar dari tangan Hui Kiam.

Dengan sikap terheran-heran orang berbaju lila itu menghentikan gerakannya.

Tong Hong Hui Bun saat itu juga menunjukkan perobahan di atas parasnya yang cantik.

Itu adalah serangan dengan jari tangan yang Hui Kiam dapat pelajari dari dalam kitab Thian Gee Po-kip bagian lanjutannya. Hasilnya yang demikian hebat, ia sendiri juga terperanjat dan terheran-heran. Sungguh tidak diduga bahwa satu jari tangan mempunyai kekuatan demikian dahsyat. Apabila itu mengenakan tubuh manusia, bukankah akan segera binasa?

Orang berbaju lila itu matanya nampak bergerak berulang-ulang, kemudian berkata dengan suara bengis:

“Tong Hong Hui Bun, aku peringatkan kepadamu hentikanlah perbuatanmu yang menumpuk dosa ini.”

Setelah perkataan terakhir itu keluar dari mulutnya, badannya sudah bergerak, dan bagaikan asap saja ia sudah menghilang.

Tong Hong Hui bun mengejar sambil berseru: “Kau hendak lari kemana?”

Hui Kiam tidak menduga bahwa orang berbaju lila itu akan kabur. Sesaat ia tercengang, pikirannya bekerja. Mengapa ia tidak memegat dari samping? Karena apabila dibiarkan ia merat, selanjutnya mungkin susah diketemukan lagi.

Oleh karenanya, maka ia lari turun dari samping gunung kemudian memutar balik.

Tak disangka perbuatannya itu ternyata salah besar. Bukan saja tidak berhasil memegat dirinya orang berbaju lila, tetapi juga sudah kehilangan bayangannya Tong-hong Hui Bun. Ia merasa sangat masgul. Ia coba mencari di sekitar tempat itu, tetapi tetap tidak menemukan apa-apa.

Setelah berpikir sejenak, ia lalu berkeputusan hendak pergi ke bawah jurang puncak gunung batu coba-coba untuk menjumpai sucinya. Apabila tidak bertemu, terpaksa pergi menemui Ie It Hoan untuk menepati perjanjian.

Tiba di bawah jurang, ia coba mencari dan memutar ke sebelah kanan di bawah jurang.

Tempat itu terdapat banyak batu besar yang bentuknya sangat aneh. Pohon-pohon tua daunnya rindang. Ini suatu tanda bahwa tempat itu tidak pernah diinjak oleh manusia.

Dengan susah payah ia baru tiba di bawah jurang belakang puncak gunung. Maksudnya hanya mengharap dapat menjumpai sucinya, sebab orang berbaju lila ternyata masih hidup, hingga tidak perlu diselidiki lagi.

Dari bawah menengok ke atas, hanya lamping bukit yang menjulang tinggi ke langit. Tidak habis mengerti apa sebabnya orang berbaju lila yang dipaksa terjun ke bawah jurang ini tidak sampai mati.

Oleh karena disitu ternyata tidak menjumpai orang yang dicari, terpaksa balik lagi. Ia berpikir mungkin dengan sucinya itu sudah selip waktunya, oleh karena ia sendiri telah terhambat lima enam hari, karena mempelajari ilmu silatnya dan kitab Thian Gee Po-kip, tetapi Pui Ceng Un yang pergi ke gunung Gu-san jika dihitung waktunya sekalipun selisih waktunya juga tidak terlalu banyak. Mungkin juga, karena orang bermata biru yang pergi menuntut balas kepada Si Raja Pembunuh, dengan adanya pertempuran hebat antara orang tua itu dengan gurunya, sudah tentu ia tak dapat meninggalkan, dan bagaimana kesudahannya pertempuran itu, sesungguhnya susah diramalkan andaikata tak ada perjanjian dengan Ie-It Hoan, Hui-Kiam pasti akan pergi ke gunung Gu-san untuk mencari keterangan.

Pui Ceng Un adalah satu-satunya orang yang masih ada dari keturunan perguruannya. Apabila terjadi apa-apa atas dirinya, benar-benar merupakan suatu hal yang patut disesalkan.

Ia teringat pula pada diri sucinya itu. Karena hasratnya untuk menuntut balas sampai ia rela mukanya sendiri dirusak untuk menjadi muridnya Si Raja Pembunuh. Penderitaan ini sesungguhnya bukan setiap orang yang sanggup menerima.

Ia berpikir bolak-balik, ternyata tidak dapat memecahkan soal itu.

Dengan perasaan sedih ia menengok lagi ke tempat yang suram itu. Selagi hendak berlalu, tiba-tiba terdengar suara seorang tua:

“Jika aku membiarkan engkau terlolos dari tanganku lagi, aku akan segera membunuh diri!”

Bukan kepalang terkejutnya Hui-Kiam. Di tempat yang tidak pernah diinjak oleh kaki manusia ini, ternyata terdapat manusia. Tatkala ia menengok ke arah suara itu, terlihat olehnya seorang tua pendek yang rambutnya putih seluruhnya, berdiri terpisah kira-kira dua tombak dari tempat ia berdiri.

Ditilik dari munculnya orang tua itu di tempat sedekat itu yang tidak diketahui olehnya, dapat diduga betapa tingginya kepandaian orang tua itu.

Maka seketika itu, ia lalu berkata sambil memberi hormat: “Bagaimanakah sebutan locianpwee yang mulia?”

Mata orang tua pendek itu berputaran sejenak, lalu berkata: “Eh, bocah, siapakah kau?” Hui Kiam kini baru dapat melihat dengan tegas bahwa sepasang mata dua orang tua itu ternyata sudah buta. Biji matanya tertutup oleh selapisan putih, hingga ia dapat menduga bahwa orang tua itu sudah menganggapnya sebagai orang yang sedang dicari. Setelah mendengar suaranya baru tahu, bahwa Hui Kiam bukanlah orang yang sedang dicari, maka ia menyatakan perasaan terkejutnya.

Hui-Kiam menjawab:

“Boan-pwee Hui-Kiam!”

“Apakah maksudmu datang kemari?” “Kucari seseorang!”

“Siapa yang kau cari?” “Seorang wanita!”

Orang tua pendek itu tiba-tiba mengeluarkan suara tertawanya yang tidak enak didengarnya tetapi demikian nyaring, sehingga memekakkan telinga. Setelah tertawa baru berkata:

“Bocah, tempat ini belum pernah kedatangan manusia. Kau berkata mencari seorang wanita, terang itulah bohong belaka. Katakanlah, kau sebetulnya mendapat perintah siapa?”

“Boan-pwee datang untuk mencari orang ini adalah yang sebenar-benarnya tidak diperintah oleh siapapun juga!”

“Kau masih tidak mau omong terus terang?” “Inilah keteranganku yang sebenarnya!” “Hem!”

Setelah mengeluarkan suara itu, tangan si orang tua pendek itu yang pendek tetapi gemuk sudah menyambar demikian cepat dengan gerakannya yang sangat aneh, sehingga sulit bagi orang untuk melakukannya,

Hui Kiam berkelit untuk menyingkirkan dirinya dari serangan tersebut. Kali ini ia menggunakan ilmunya menggerakkan kaki menurut pelajaran dari kitab Thian Gee Pokip tanpa sedikitpun suara seolah-olah bayangan yang menghilang.

“Eh!” demikian orang tua pendek itu berseru setelah usahanya untuk menangkap Hui Kiam tidak berhasil.

Sebagaimana umumnya, setiap orang buta yang bertindak melakukan apa-apa selalu mengandalkan daya pendengarannya dan perasaannya yang tajam untuk membedakan letaknya. Karena gerakan Hui Kiam tadi bagaikan bayangan yang menghilang, sudah tentu ia tidak dapat mengejar, sehingga saat itu ia berdiri terheran- heran.

“Locian-pwee….”

Baru saja Hui-Kiam membuka mulut, orang tua pendek itu dengan kecepatan bagaikan kilat tangannya sudah menyambar lagi. Tetapi sambaran itu juga dapat dielakkan oleh Hui-Kiam. Jikalau tidak menggunakan gerak kaki yang tidak ada taranya itu, Hui-Kiam benar-benar sulit untuk mengelakkan serangan tersebut.

Untuk kedua kalinya lagi-lagi serangan si orang tua itu mengenai tempat kosong. Keheranannya semakin besar. Jenggotnya yang putih bergerak-gerak, lalu berkata dengan suara keras:

“Sudahlah, sungguh tidak kusangka berkali-kali aku terjungkal di tangannya orang-orang tingkatan muda!”

Tangannya segera menyerang ke atas. Dari tangan itu menghembus gelombang angin. Sebuah batu besar di tempat sejauh tiga tombak terpukul hancur. Jelas bahwa perbuatannya itu dilakukan semata-mata hendak mengumbar hawa amarahnya....

Hui Kiam yang menyaksikan itu, dalam hati juga sangat kagum. Kekuatan tangan semacam itu sesungguhnya jarang tampak. Jika orang tua itu tidak buta matanya, apakah ia sanggup melawannya atau tidak masih merupakan suatu pertanyaan.

Orang tua itu duduk numprah di tanah. Dengan napas tersengal- sengal ia berkata:

“Bocah, kau mau apa, katakanlah?” “Boanpwee tidak menghendaki apa-apa.”

“Kalau begitu ada keperluan apa kau datang kemari?” “Mencari orang.”

“Berapa usiamu?” “Duapuluh tahun.”

“Duapuluh tahun, kau sudah mempunyai kepandaian sedemikian tinggi? Gurumu. ”

“Lima Kaisar Rimba Persilatan.”

“Oh! Jadi kau adalah murid Lima Kaisar. Tetapi tidak mungkin kau mempunyai kepandaian sedemikian tinggi”

“Kepandaian Boan-pwee didapat dari tambahan pelajaran lain.” “Pantas kalau begitu.”

“Apakah Locian-pwee kenal dengan suhu Boan-pwee almarhum?”

“Suhu almarhum?......apakah mereka sudah menutup mata semua?”

“Ya, meninggal di tangan manusia keji rimba persilatan.” “Astaga!” demikian orang tua berteriak, sehingga Hui Kiam

hampir melompat. Kemudian orang tua itu berkata pula:

“Aku kira kau diutus oleh tua bangka itu untuk menyelidiki jejakku. ”

Hui Kiam merasa heran. Ia lalu bertanya:

“Siapakah yang locian-pwee maksudkan?”

“Orang yang membikin sepasang mataku buta dengan perbuatannya yang sangat rendah.”

“Ia siapa?”

“Mungkin kau sudah pernah dengar tentang Tiga Raja Rimba Persilatan?” “Pernah dengar. Kepandaian ilmu silat tiga raja itu kabarnya sudah tak ada taranya. Tentang mereka hampir semua rimba persilatan mengetahuinya!”

“Kepandaiannya sudah tidak ada taranya? Ha, ha, ha! Kalau benar demikian, bagaimana aku berkali-kali mengalami kekalahan?”

Hui Kiam semakin heran. Ia berkata:

“Ucapan locianpwee ini ”

“Tahukah kau siapa aku ini?”

“Itulah yang boanpwee justru ingin tahu!”

“Aku adalah salah satu Tiga Raja itu, namaku Cui Boan Siu dan gelarku Raja dari Tanah atau Tee hong!”

Hui Kiam berseru terkejut. Ia sesungguhnya tak menduga sama sekali bahwa orang tua pendek yang matanya buta ini, adalah salah satu dari Tiga Raja, jago tua luar biasa yang namanya sangat tersohor di dalam rimba persilatan. Tetapi dengan kedudukan dan kepandaian seperti Tee-hong ini, mengapakah bisa mengalami nasib demikian? Siapakah yang membuat buta matanya?

Tertarik oleh rasa ingin tahu, maka selanjutnya ia bertanya: “Locianpwee adakah Tee-hong?”

“Benar!”

“Siapakah orangnya yang berani membokong locian-pwee?”

Perasaan orang tua itu agaknya terpengaruh oleh pertanyaan tersebut, biji matanya berputaran, lama sekali ia baru berkata sambil menghela napas panjang.

“Ah, sudahlah, aku sebetulnya sudah tidak ada muka menunjukkan diri di hadapan orang tingkatan muda.”

“Jikalau, locian-pwee sudi memberitahukan mungkin boan-pwee bisa memberi sedikit bantuan sesuatu!”

Tee-hong tiba-tiba melompat bangun. Dengan perasaan tergetar ia berkata: “Apa? Apakah kau ingin mewakili aku untuk membalas dendam?”

“Begitulah maksud Boanpwe.”

“Tetapi.... ah! Sudahlah, kau bukan tandingan mereka.”

Perkataan itu telah membangkitkan sifat Hui Kiam yang gemar membela orang. Ia mulai memperhitungkan kepandaian dan kekuatannya sendiri pada waktu itu tentu sanggup melayani musuh kuat yang manapun juga. Karena ucapan orang tua itu semakin besar keinginannya untuk mengetahui entah betapa tingginya musuh Tee-hong yang dimaksudkannya itu. Maka ia segera berkata:

“Boanpwe mempunyai satu gelar ialah Penggali Makam. Boanpwee sudah bersumpah hendak mengamalkan kepandaian yang boanpwee dapat untuk melakukan perbuatan guna kepentingan rimba persilatan. Boanpwee telah bertekad hendak membasmi segala kejahatan dan menggali makam bagi manusia- manusia yang jahat. ”

“Oh, kau beranggapan besar, sahabat kecil aku seorang tua sesungguhnya merasa malu terhadap diriku sendiri, karena di dalam rimba persilatan aku hanya mendapat nama saja tetapi tidak mendirikan pahala apa-apa, percuma saja aku mendapat nama kosong, sebetulnya belum pernah menyumbangkan tenaga bagi rimba persilatan. Ah!”

“Perlu apa locianpwee harus sesalkan diri sendiri ?”

“Sahabat kecil, orang yang menjelaskan diriku adalah Thian Hung atau Raja dari Langit yang dalam barisan nama Tiga Raja menduduki tempat pertama. ”

“Oh!”

Bukan kepalang terkejut Hui Kiam. Ia sungguh tidak menduga bahwa Tiga Raja Rimba Persilatan yang namanya pernah menggetarkan dunia rimba persilatan hampir seratus tahun lamanya, ternyata saling bermusuhan baku hantam sendiri. Kalau ia bukan mendengar dari mulut Tee-hong sendiri, siapa yang percaya kebenarannya?

Tetapi mengapa? Dalam hal ini pasti ada sebabnya. Maka ia lalu bertanya dengan suara gemetar:

“Thian Hong?”

“Sedikitpun tidak salah. Sahabat kecil agaknya tidak percaya, betul tidak?”

“Bolehkah Boanpwee bertanya apa sebabnya?”

“Tidak ada sebab apa-apa, melainkan ada orang yang namanya sama-sama kesohor dengannya. Kalau mau dikatakan sebabnya sebetulnya hanya karena berebut nama kosong belaka! Ini… ini... benar-benar susah dimengerti.”

“Ya, ini memang susah dipercaya bagi siapapun juga.”

“Bolehkah boan-pwee bertanya, bagaimana kepandaian Thian Hong itu?”

“Masih di atas kepandaianku dan kepandaian Jin Ong!”

Hui Kiam dalam hati berpikir. Thian-Hong karena satu nama kosong telah mencelakakan diri orang sesamanya. Kepandaian dan kedudukannya Thian-Hong, boleh dikatakan sudah merupakan seorang kuat nomor satu, tetapi ternyata masih belum sanggup menghindarkan diri dari keinginannya untuk mendapat nama kosong. Kalau begitu, apakah Jin-Ong yang mengasingkan diri jadi padri juga ada hubungannya dengan Thian-Ong? Namun dalam rimba persilatan belum pernah terdengar kabar munculnya Thian- Ong. Dan apakah maksud yang sebenarnya dengan perbuatannya itu?

Selama beberapa puluh tahun di dalam kalangan rimba persilatan hanya tersiar nama Tiga Raja, tidak pernah terdengar nama Thian Ong yang disiarkan tersendiri.   Kalau ia berebut nama, seharusnya ia mengunjukkan diri!

“Urusan dalam dunia kadang-kadang memang tidak dapat dimengerti oleh pikiran manusia. Sudah beberapa puluh tahun kedua mataku dibikin buta. Apa yang sudah lalu biarlah tinggal lalu. Walaupun aku masih merasa sangat penasaran, tetapi rasa dendam sakit hati sudah dilunturkan oleh berlalunya sang waktu. Masa seratus tahun, sebentar saja sudah lalu. Pada akhirnya bukankah tetap merupakan tulang belulang yang berada di dalam tumpukan tanah. Suka menang dan ingin dirinya menjadi seorang kuat, berebut kedudukan dan nama kosong, semua itu akhirnya toh percuma saja. Bukankah kita nanti semua akan terkubur di dalam tanah?”

Dalam hati Hui Kiam sangat heran. Ia berkata:

“Ucapan locian-pwee ini sesungguhnya mengandung filsafat kehidupan yang sangat dalam, hanya….”

Tee-hong segera menyelak:

“Maksud sahabat kecil apakah menganggap bahwa perbuatanku di masa yang lampau dengan perkataanku sekarang ini sangat bertentangan? Betulkah itu?”

“Boan-pwee memang benar mempunyai perasaan demikian.” “Ya, walaupun aku sering berpikir demikian tetapi keinginan

mendapat kemenangan masih belum lenyap dari pemikiranku. Tadi setelah aku tidak berhasil dalam usahaku menangkap kau, barulah aku tersadar sehingga melenyapkan pikiranku yang selalu ingin menang itu.”

Hui Kiam merasa tidak enak. Ia berkata dengan nada menghibur:

“Jikalau locian-pwee tadi sudi menerangkan nama locian-pwee lebih dulu, tidak nanti boan-pwee berani berbuat demikian.”

“Ha, ha, ha, sahabat kecil, kau menempelkan emas di mukaku. Kenyataan sudah cukup membuktikan bahwa orang baru dari tingkatan muda harus diberi kesempatan untuk menggantikan kedudukan orang yang sudah tua. Tadi hanya aku yang memandang diriku sendiri yang terlalu tinggi, apa salahnya dengan kau? Dua kali kuserang kau tidak membalas, ini suatu bukti bahwa kau berlaku sangat hati-hati!” “Locian-pwee terlalu memuji. Boan-pwee mengetahui keadaan diri sendiri, boleh dikata sedikitpun tidak mempunyai kesabaran hati. Tetapi untuk pertama kali locianpwee mengetahui kedatangan boanpwee, lalu menanyakan maksud kedatanganku, apakah karena menganggap ...?”

“Aku anggap kau mungkin adalah orang yang diutus oleh Thian Hong.”

“Kedatangan boanpwee ini sebetulnya hendak mencari suci boanpwee, entah ”

“Di sini belum pernah ada orang perempuan yang datang.”

Hui Kiam merasa kecewa. Nampaknya Pui Ceng Un mungkin belum berlalu dari gunung Gu-san. Jikalau tidak terjadi hal-hal yang luar biasa, tidak mungkin sucinya itu tidak menepati janjinya. Perbuatan orang tua bermata biru yang hendak menuntut balas, sebetulnya sangat mengkhawatirkan. Tetapi ia sendiri tidak dapat membagi dirinya, bagaimana ia harus berbuat? Seandainya hal itu terjadi setelah ia berhasil memahami kepandaian dalam kitab Thian Gee po-kip seluruhnya, keadaan akan berobah lain, setidak-tidaknya sang suci itu tak sampai dipaksa oleh orang tua bermata biru untuk menunjukkan jalan.

Si Raja Pembunuh bukan orang sembarangan. Yang dikhawatirkan ialah orang bermata biru itu akan menggunakan sucinya untuk mengancam Si Raja Pembunuh, sedangkan sifatnya Si Raja Pembunuh itu juga sangat kejam, jikalau ia tidak suka diancam, mungkin akan mengorbankan sucinya.

Berpikir demikian, hatinya bergidik. Ia segera berpikir tidak dapat menunda waktunya lagi. Ia harus segera menjumpai Sukma Tidak Buyar Ie It Hoan, untuk menunda urusan gunung Bu-ling-san dan mencari keterangan keselamatan diri sucinya lebih dulu....

“Locian-pwee, boanpwee ingin minta diri!” demikian ia pamitan kepada orang tua itu.

“Apa? Kau hendak pergi?” “Ya, boan-pwee khawatir ada terjadi apa-apa atas diri orang yang boan-pwe cari itu ”

“Tunggu dulu!”

“Locianpwee hendak memberi petunjuk apa?”

“Bukan petunjuk, justru aku yang ingin minta pertolonganmu!” “Jikalau membutuhkan tenaga boanpwee, harap locianpwee

perintahkan saja. Boanpwee merasa bangga dapat mencurahkan

tenaga membantu locianpwee.”

Teehong sejenak nampak terdiam, kemudian baru berkata dengan suara lambat-lambat:

“Tiga puluh lima tahun berselang, mataku telah dibutakan oleh Thian Hong dengan menggunakan dedaunan sangat berbisa dari daerah luar perbatasan. Aku bersumpah hendak menuntut balas, maka selama tigapuluh tahun lebih ini, dengan tekun aku menciptakan semacam ilmu serangan dengan jari tangan, yang khusus untuk mengorek biji mata orang. Di waktu yang teratur ini, walaupun aku sudah merasa bahwa ilmu yang kuciptakan itu sudah berhasil, tetapi dengan badanku yang sudah cacat ini, sebetulnya sudah tidak sanggup melakukan tindakan menuntut balas itu, maka aku hanya mengharap agar dalam sisa hidupku ini aku dapat menemukan orang yang berjodoh denganku, maka aku akan mewariskan seluruh kepandaianku untuk mewakili aku melakukan pembalasan. ”

“Maksud locian-pwee itu apakah. ”

“Dengar habis dulu perkataanku ini. Pertemuan secara kebetulan ini memang merupakan jodoh tidak dapat diminta oleh manusia, manusia hidup dalam dunia pada akhirnya pasti akan pulang ke asalnya maka ilmuku ini kutulis di atas dinding dalam goa. Di situ kutinggalkan pesan, apabila ada orang berjodoh yang datang kemari boleh mempelajari ilmu itu serta mengambil kitab pelajaran yang kusimpan baik di gua tempat kediamanku, tetapi dengan syarat menuntut balas bagiku. ”

“Oh!” “Sudah tentu ada kemungkinan semasa aku masih hidup, sudah terkabul keinginanku itu. Mungkin juga setelah aku menutup mata, baru diketemukan orang yang berjodoh. Besar pula kemungkinannya, dengan berlalunya sang waktu aku dan musuhku itu sudah binasa semuanya sehingga pesanku itu akan hilang semua maksud dan tujuannnya.”

“Rencana locianpwee ini sesungguhnya sangat sempurna!” “Belum lama berselang tatkala aku duduk bersemedi di bawah

kaki gunung, tiba-tiba ada satu barang yang jatuh dari atas. Dengan tak disengaja kusambut barang itu. Ternyata adalah satu manusia yang dipaksa terjun oleh musuhnya.”

Bukan kepalang terkejut Hui Kiam mendengar keterangan itu.

Maka ia segera berkata:

“Oh, pantas dia tidak sampai mati!” Sahabat kecil, kau kenal dengannya?” “Silahkan locianpwee ceritakan habis dulu.”

“Baiklah. Aku membawanya ke dalam gua kediamanku. Setelah kutanya, aku baru tahu bahwa ia dipaksa terjun oleh musuhnya. Aku lihat kepandaian orang itu sangat tinggi, maka merasa girang bahwa Tuhan tidak sia-siakan pengharapanku, sehingga mendapat kesempatan demikian kebetulan ”

“Maka locian-pwee ambilnya sebagai pewaris kepandaian locian- pwee!”

“Aku memang bermaksud demikian. Tak kusangka dia berhati kejam dan serakah. Di luarnya ia menerima baik dan menyanggupi semua permintaanku, tetapi kemudian secara diam-diam selagi aku tidak menduga sama sekali, ia telah mencuri kitab pelajaran ilmu silatku dan kabur. Sudah tentu pelajaran ilmu jari tangan yang kutulis di atas dinding itu juga sudah didapatkan olehnya, sebab setelah ia pergi aku telah mendapat tahu bahwa tulisan-tulisan yang kuukir di atas dinding itu sudah diratakan olehnya.” “Waktu pertama kali locian-pwee berjumpa dengan boan-pwee, apakah pertanyaan pertama yang locian-pwee katakan itu adalah kesalahan anggap boan-pwee sebagai orang berbaju lila?”

“Benar, aku kira balik lagi... Orang Berbaju Lila katamu?” “Ya, ia dinamakan Orang Berbaju Lila!”

“Kau tidak asing dengannya?”

“Dia adalah musuh besar boanpwee. Cepat atau lambat boanpwee hendak membunuhnya!”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata: “Ini sungguh kebetulan sekali.   Permintaan terhadap kau juga

adalah supaya minta kembali kitabku dari tangannya.    Selain

daripada itu, kau juga harus memusnahkan kepandaiannya jari tangan telunjuk dan jari manis, dengan demikian sehingga ia tidak dapat menggunakan ilmu jarinya itu untuk melakukan kejahatan.”

“Boan-pwee pasti akan melakukan tugas yang locian-pwee berikan ini. Selain daripada itu, apabila boanpwee nanti mengetahui di mana adanya Thian Ong, boanpwe akan menggunakan pelajaran apa yang boan-pwee ada berusaha minta kembali dua biji mata locian-pwee.”

Terpengaruh oleh ucapan Hui Kiam yang gagah itu, sekujur badannya gemetar. Ia berkata dengan suara gemetar:

“Sahabat kecil, aku tidak berani mengharap terlalu banyak. ”

“Tidak usah locian-pwee jadikan pikiran. Boan-pwee bergelar Penggali Makam, sudah tentu tidak dapat membiarkan manusia- manusia jahat itu berkeliaran di dalam dunia.”

“Aku merasa malu tidak dapat memberikan apa-apa kepadamu sebagai pernyataan terima kasihku.”

“Ucapan locian-pwee ini sangat berat!”

Orang tua itu berpikir sejenak, tiba-tiba mengulurkan tangannya seraya berkata: “Mari bersalaman denganku sebagai tanda kepercayaan.”

Hui Kiam tercengang. Ia suka melakukan kewajiban itu sebetulnya karena terdorong oleh jiwanya yang benar, yang tidak dapat membiarkan orang sejahat itu terus tinggal hidup, tetapi orang tua itu mima tanda kepercayaan, apakah benar salah seorang dari Tiga Raja yang berkedudukan sangat tinggi itu tidak akan menganggap rendah dirinya sendiri? Walaupun dalam hati berpikir demikian, tetapi ia masih menyodorkan tangannya.

Tatkala kedua telapakan tangan menempel, tiba-tiba terdengar suara plak....

Hui Kiam cepat-cepat menarik kembali tangannya. Tetapi tiba- tiba merasakan sesuatu kekuatan tenaga hebat yang menggenggam tangannya dengan kencang, bukan kepalang terkejutnya. Selagi hendak mengerahkan kekuatannya untuk menarik kembali tangannya, hawa panas tiba-tiba dirasakan mengalir masuk dari telapakan tangan orang tua ke telapakan tangannya sendiri. Ia segera mengerti apakah sebetulnya telah terjadi. Sebelum ia membuka mulut, orang tua itu tiba-tiba berkata:

“Terimalah dengan baik. Jikalau tidak, kedua pihak akan terluka!”

Hui Kiam tidak berdaya, dalam keadaan demikian mau tidak mau ia harus terima aliran kekuatan tenaga dalam yang diberikan oleh orang tua itu. Apabila ia menarik kembali tangannya, kedua-duanya pasti akan terluka.

Tidak berapa lama hawa panas itu berhenti mengalir. Keduanya lalu melepaskan tangan. Hui Kiam segera berkata:

“Untuk apa perbuatan locian-pwee ini?

“Sahabat kecil, aku tidak dapat minta tolong daripadamu dengan cuma-cuma, maka aku hadiahkan kepadamu kekuatan tenaga dalam yang sudah kupupuk selama tiga puluh tahun, hanya sekedar sebagai tanda terima kasihku,” jawabnya orang tua itu sambil tersenyum.

“Boan-pwee sungguh merasa malu untuk menerimanya!” “Apakah kau tidak memikirkan bahwa aku juga merasa malu untuk menerima bantuan begitu saja?”

Hui Kiam terpaksa memberi hormat dan berkata:

“Kalau begitu boanpwee mengucapkan banyak-banyak terima kasih!”

“Tidak usah!”

“Andaikata boanpwee berhasil mendapatkan kembali kitab locian-pwee ”

“Dengan kepandaianmu seperti sekarang ini, kitab itu tidak ada gunanya bagimu. Aku minta supaya kau hadiahkan kepada orang yang berjodoh.”

“Boan-pwe akan ingat pesan ini, tidak akan mengecewakan pengharapan locianpwee.”

“Sahabat kecil, masih ada satu hal. Ilmu jari tangan yang kuucapkan itu, harus digunakan dengan kekuatan yang dipusatkan kepada jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri. Itu tidak akan mempengaruhi kepandaian sendiri, jika ilmu itu dilakukan oleh orang yang mempunyai kekuatan tenaga dalam sudah cukup sempurna, kehebatannya sangat mengejutkan. Satu-satunya jalan untuk memecahkan serangan itu adalah dengan cara begini. ”

Sehabis berkata orang tua itu menggunakan tangan kanannya untuk melakukan suatu gerakan dengan beruntun sampai tiga kali.

Hui Kiam ingat betul pelajaran itu. Dengan jari tangan untuk melakukan serangan yang tidak dipengaruhi gerak tangan kanannya, ia menggunakan kepandaiannya sendiri. Ini benar-benar sangat luar biasa.

“Sahabat kecil, apakah kau sudah ingat betul?” “Sudah. Sekarang boan-pwee minta diri!”

“Semoga kita masih ada jodoh untuk bertemu lagi. ”

“Bisa!” Hui Kiam memberi hormat, kemudian meninggalkan   orang tua itu dengan perasaan tilak tega. Nasib manusia memang aneh, ia sendiri adalah murid Lima Kaisar, tetapi secara kebetulan telah mendapat hadiah kekuatan tenaga dalam dari Jin Ong dan Tee- hong, tetapi akhirnya ia harus menghadapi Thian Hong, ini benar- benar merupakan suatu kejadian aneh yang tidak diduga sebelumnya.

Keluar dari gunung Kheng-san, ia mencari jalan yang menuju ke barat. Dalam hatinya masih terkandung sedikit harapan, bisa bertemu lagi dengan sucinya di tengah jalan.   Tetapi sepanjang jalan itu pengharapannya itu tidak menjadi kenyataan, hingga perasaannya semakin berat.

Setelah berjalan beberapa lama, tiba-tiba ia ingat bahwa dalam perjalanan itu harus melalui Makam Pedang. Dengan kepandaiannya sendiri pada saat itu, tidak sulit baginya untuk kembali ke Makam Pedang. Ia juga ingin mengetahui siapakah sebetulnya pemilik pedang sakti itu yang disebut oleh Pelindung Pedang.

Maka ia lalu menggerakkan kakinya ke lembah Ciok-beng-san.

Wajah cantik tanpa make-up dari perempuan yang menamakan dirinya sebagai Pelindung Pedang kembali terbayang dalam otaknya, terutama pandangan matanya yang aneh sewaktu berpesan sebelum berpisah membuat jantungnya berdebar.

Orang Berbaju Lila sudah mengaku terus terang atas perbuatannya yang mencelakakan toasupek Hui Kiam, maka gambar peta tempat menyimpan pedang seharusnya berada di tangannya. Tetapi mendadak muncul seorang yang menamakan dirinya sebagai pemilik pedang sakti itu, ini benar-benar merupakan suatu teka-teki. Andaikata Orang Berbaju Lila adalah pemilik pedang sakti, mengapa ia tidak menggunakan pedang sakti itu dalam pengembaraannya di dunia Kang-ouw? Jika dengan pedang sakti itu untuk mengimbangi ilmu pedangnya yang tinggi sekali, bukankah merupakan satu jago tanpa tandingan? Tiba di tempat yang dituju, dengan tanpa ragu-ragu Hui Kiam berjalan melalui jalan lembah yang sempit itu. Baru saja hendak memasuki sudut lembah, dua orang berpakaian hitam tiba-tiba muncul menghadang.

Hui Kiam merandek, matanya mengawasi kedua orang itu, kemudian berkata dengan nada suara dingin:

“Kalian berdua bermaksud apa?”

Salah satu di antaranya lalu menjawab sambil memberi hormat dengan sikapnya yang menghormat sekali:

“Harap Siao-hiap balik kembali!” “Mengapa?”

“Kami berdua telah mendapat perintah tidak mengijinkan siapapun juga memasuki lembah ini!”

“Perintah siapa?” “Beng-cu.”

“Persekutuan Bulan Emas?” “Ya, ya, ya!”

Hui Kiam naik darah. Dahulu ketika ia datang kemari, komandan pasukan persekutuan itu, Ong Kheng Kauw, telah memimpin orang- orangnya hendak meledakkan Makam Pedang, tetapi akhirnya tidak berhasil. Dan sekarang persekutuan itu kembali mengutus orang- orangnya menjaga tempat itu, tidak mengijinkan orang luar masuk. Nampaknya persekutuan tersebut hendak mendapatkan pedang sakti tersebut.  Ia lalu berkata dengan nada suara dingin:

“Sebaiknya kalian menyingkir saja!”

“Kami berdua juga mendapat perinlah tidak boleh menganggap siao-hiap sebagai musuh, maka ”

“Apa pula artinya ini?” “Entahlah.”

“Minggir!” “Kami tidak dapat melanggar perintah!” “Kalau begitu kalian mencari mampus?”

Dua orang berbaju hitam itu merasa serbasalah, maka wajah mereka segera berobah. Seorang lagi lalu berkata:

“Apakah ini juga berarti bahwa siao-hiap telah menyulitkan kedudukan kita?”

“Sedikitpun tidak. Aku bisa berkata, juga bisa berbuat. Kalau kalian tidak memberi jalan, itu berarti mati!”

“Siao-hiap….”

Walaupun dalam hati Hui Kiam merasa heran mengapa pemimpin Persekutuan Bulan Emas memerintahkan anak buahnya tidak boleh bermusuhan dengannya, tetapi itupun tak mengurangi anggapan Hui Kiam terhadap persekutuan tersebut yang selama ini selalu dianggap musuh. Untuk mempercepat waktu, ia tidak mau bicara. Dengan menggunakan kakinya, bagaikan setan sudah berhasil melewati dua orang itu dan memasuki jalanan ke lembah.

Dua orang itu mengejar dengan pedang terhunus.

Hui Kiam membalikkan badannya dan mengayunkan tangannya. Sebentar terdengar seruan tertahan, dua orang itu lalu jatuh roboh di tanah. Dengan tanpa menoleh Hui Kiam melanjutkan perjalanannya.

Tidak berapa lama, ia sudah melalui jalanan lembah itu. Baru saja keluar dari jalanan sempit itu, beberapa bayangan orang sudah mengepung dirinya. Orang-orang itu dipimpin oleh seorang tua berambut putih dengan keadaannya yang amat aneh. Orang tua itu di punggung kirinya tergantung sebuah buli-buli arak yang sangat besar sekali, di punggung sebelah kanannya membawa sebuah kantong besar. Orang tua itu tidak lain daripada si Manusia Gelandangan Ciok Siao Ceng, yang telah menggabungkan diri dengan Persekutuan Bulan Emas dan diangkat sebagai ketua pelindung hukum. Di sampingnya, adalah delapan jago pedang yang semuanya berpakaian serbahitam.

Hui Kiam memandang rendah martabat orang tua itu. Selain daripada itu, belum lama berselang di luar Loteng Merah, orang tua itu pernah menghadangnya. Hingga saat itu ia masih merasa benci terhadap orang tua itu.

“Ciok Siao Ceng, sudah lama kita tak berjumpa!” “Sama-sama!”

“Rekening kita seharusnya dibereskan saja!”

“Penggali Makam, kami telah mendapat perintah tidak boleh mempersulit kau. Aku lihat sebaiknya kau berlalu dari sini.”

Sinar mata Hui Kiam yang dingin menatap wajah orang tua itu, kemudian ia berkata:

“Ciok Siao Ceng, dalam usiamu yang setua ini, kau ternyata tak dapat mengendalikan nafsumu sehingga rela menyediakan dirimu membantu melakukan kejahatan. Aku benar-benar merasa sayang terhadap kedudukan dan nama baikmu yang telah kau pertahankan sampai pada usia setuamu ini.”

Manusia gelandangan itu tertawa terbahak-bahak lalu berkata: “Setiap orang mempunyai pikiran dan tujuan hidup sendiri-

sendiri. Penggali Makam, sekali lagi aku berkata padamu, sebaiknya

kau berlalu dari sini!”

“Enak sekali kau berkata. Aku juga mempunyai tujuan hidup. Tujuan itu ialah menggali makam bagi kalian orang-orang macammu ini!”

“Kami bukan takut kepadamu, melainkan tidak boleh melanggar perintah yang tak boleh bermusuhan denganmu ”

Hui Kiam sama sekali tidak mau ambil pusing untuk memikirkan apa sebabnya pemimpin Persekutuan Bulan Emas memerintahkan orang-orangnya untuk tidak bermusuhan dengannya. “Kau boleh tak memperdulikan perintah itu, sebab hari ini aku sudah bertekad hendak membunuhmu!”

“Kau jangan takabur. Pelindung hukum tertinggi persekutuan kami sekarang sedang melakukan tugas di dalam Makam Pedang. Ia bukan seorang yang mudah diajak bicara seperti kami. Nanti setelah tugasnya selesai, sangat tidak menguntungkan bagi dirimu sendiri.” 

Hui Kiam terperanjat, matanya mengawasi ke arah Makam Pedang. Benar saja, dari sana samar-samar terdengar suara saling bentak. Ia tahu bahwa orang yang disebut sebagai pelindung hukum tertinggi, pasti orang yang dikatakan oleh Sukma Tidak Buyar, ialah salah satu dari Delapan Iblis negara Thian-tik.

Iblis itu bisa melalui barisan batu hitam ajaib dan masuk ke dalam Makam Pedang, tentunya sudah paham ilmu memasuki barisan gaib itu.

Dengan kepandaiannya wanita muda yang menyebut dirinya Pelindung Pedang, sekalipun ia mempunyai senjata sakti, barangkali masih belum sanggup melawan kepandaian iblis yang luar biasa tinggi kepandaiannya itu. Jikalau pedang sakti itu terampas olehnya….

Karena berpikir demikian, maka seketika itu hatinya merasa sangat gelisah. Ia segera berkata dengan suara keras:

“Ciok Siao Ceng, rekening kita sebentar kita perhitungkan lagi!”

Setelah mengucapkan demikian, badannya sudah bergerak dengan tiba-tiba....

Manusia Gelandangan berkata sambil menggerakkan tangannya: “Apakah kau ingin mencari mampus?”

Hui Kiam yang sudah bergerak dipaksa untuk kembali lagi. Delapan jago pedang semuanya telah menghunus pedangnya untuk menghalangi Hui Kiam.

Hui Kiam sangat murka. Dengan nada suara keras ia membentak: “Kalian mencari mampus!”

Ancaman itu dibuktikan dengan serangannya yang hebat sekali. Berulang-ulang terdengar suara jeritan ngeri. Dua di antara dari delapan jago itu terpental dan tubuhnya melayang ke danau yang airnya sangat dingin itu, dan yang lainnya pada mundur dalam keadaan sangat menyedihkan.

Hui Kiam tidak ingin melakukan pembunuhan lebih banyak jiwa. Badannya melesat lagi tinggi ke atas bagaikan asap melayang memutari semua orang itu dan menuju ke Makam Pedang.

Sebagai orang yang sudah kenal baik, dengan mudah ia dapat melalui barisan batu hitam yang aneh itu.

Di mulut gua, empat laki-laki berpakaian hitam berdiri menjaga dengan pedang terhunus.

Dengan tanpa mengeluarkan suara ia maju menghampiri. Dengan menggunakan ilmu serangan tangan dan jari telah berhasil merobohkan empat orang itu tanpa menimbulkan sedikitpun suara. Setelah membereskan empat orang itu, ia lalu menuju ke kamar batu dalam makam itu.

Apa yang disaksikan olehnya, membuat darahnya naik seketika.

Apa yang disebut sebagai anggota pelindung hukum tertinggi ternyata adalah orang tua bermata biru yang dahulu pernah memaksa Pui Ceng Un mengunjukkan jalan untuk mencari Si Raja Pembunuh. Ia sesungguhnya tidak menduga bahwa orang tua bermata biru itu ternyata adalah salah satu iblis dari Delapan Iblis Negara Thian-tik.

Gadis yang mengaku sebagai pelindung pedang, dengan pedang sakti di tangannya berdiri membelakangi dinding. Parasnya pucat pasi, mulutnya terdapat banyak tanda darah begitu pula pakaiannya juga sudah merah karena darah. Gadis itu masih belum mengetahui kedatangan Hui Kiam. Dengan sinar matanya yang bengis mengawasi orang tua bermata biru itu. Orang tua bermata biru itu mulutnya mengeluarkan suara tertawanya yang menyeramkan, setindak demi setindak maju mendekati gadis itu.

Dengan kepandaiannya yang sedemikian tinggi seperti orang tua bermata biru itu ternyata masih belum merasa kalau Hui-Kiam sudah berdiri di belakangnya hanya terpisah dua tombak saja. Suatu bukti bahwa kepandaian Hui Kiam pada saat itu sudah mencapai taraf yang sangat tinggi sekali.

Gadis yang sedang berdiri membelakangi dinding itu badannya nampak gemetar. Jelas bahwa ia telah terluka parah, tetapi tangannya yang memegang pedang sakti nampak tegas masih dapat memegang erat-erat. Dengan suara yang sudah agak serak itu ia berkata:

“Iblis tua, kalau kau maju setindak lagi aku akan menusukkan pedang ini!”

“Budak, kau sudah tidak mempunyai kesempatan lagi!”

Setelah mengucap demikian ia terus maju lagi tanpa menghiraukan ancaman gadis itu.

Gadis pelindung pedang itu tubuhnya semakin gemetar, darah hidup keluar dari mulutnya. Dengan suara putus asa ia berkata:

“Ayah, anakmu sudah tidak berdaya lagi!” Kedua tangannya memegang gagang dan ujung pedang. Pedang itu diangkat hendak dipatahkan dengan jalan membenturkan di bagian lututnya.

Orang tua bermata biru itu mengulurkan tangannya menyambar pedang tersebut....

“Jangan bergerak!” demikian suara keras tercetus dari mulut Hui-Kiam. Ia melarang gadis pelindung pedang itu dalam usahanya hendak merusak pedang sakti itu, tetapi suara itu juga mengejutkan orang tua bermata biru sehingga ia harus menarik kembali tangannya dan membalikkan badannya.

Setelah mengetahui siapa orang yang datang, orang tua bermata biru itu lalu berkata sambil tertawa terbahak-bahak: “Oh, kau bocah!”

Gadis pelindung pedang itu nampaknya terperanjat, bibirnya bergerak-gerak tetapi tidak mengeluarkan suara dan akhirnya ia jatuh roboh  di tanah.

Sambil tertawa dingin Hui Kiam berkata:

“Tidak disangka di sini aku berjumpa denganmu!” “Bocah, dengan cara bagaimana kau bisa masuk kemari?” “Aku masuk dengan menggunakan kakiku!”

“Apa maksudmu?”

“'Sama dengan maksudmu!” “Karena pedang sakti?” “Tepat!”

“Tetapi di sini sudah ada aku si orang tua. Kedatanganmu ini, berarti cuma-cuma!”

“Belum tentu!”

“Apakah kau masih ingin berebut denganku?”

“Rebut? Ucapan ini sangat keterluan. Kau tokh tidak mempunyai hak atas barang itu sebab pedang sakti ini sudah ada pemiliknya.”

“Ha ha ha, siapakah pemilik pedang sakti?” “Itulah aku sendiri!”

“Bocah, jikalau bukan karena pesan Bengcu, aku sudah bunuh mati dirimu.”

“Hem! Sekarang barangkali kau sudah tidak mungkin lagi.” “Apa kau ingin mencoba?”

“Selagi kau masih bisa membuka mulut, mari kita omong-omong lebih dulu. Di dalam barisan Delapan Iblis Negara Thian-tik itu, kau sebetulnya termasuk urutan nomor berapa?” Orang tua bermata biru itu wajahnya menunjukkan sikap yang bengis. Katanya dengan suara berat:

“Kau bocah ternyata dapat mengetahui asal-usulku. Tidak halangan kuberitahukan kepadamu, aku adalah Hektomu yang mempunyai nama julukan Singa Sakti Bermata Biru!”

“Jadi kau Iblis Singa?” “Hem, hem!”

“Bagaimana dengan perjalananmu ke gunung Bu-san?”

“Apakah kau kira aku masih dapat membiarkan Si Raja Pembunuh itu hidup lagi? Ha, ha.”

Hati Hui Kiam bercekat. Apa yang ia pikirkan selama itu ialah keselamatan sucinya, maka ia bertanya pula:

“Bagaimana dengan perempuan berkerudung yang menunjukkan jalan kepadamu itu?”

“Budak perempuan itu sangat licin, ia dapat meloloskan diri.”

Hui Kiam menarik napas lega. Matanya mengawasi gadis pelindung pedang yang saat itu telah rebah terlentang di tanah dengan tanpa bergerak namun pedang itu masih belum terlepas dari tangannya, entah sudah mati atau masih hidup masih belum diketahui, dalam keadaan demikian, kalau ia tidak mengusir pergi Iblis Singa itu, sudah tentu ia tidak bisa mendekati, maka ia lalu berkata pula kepada si Iblis Singa:

“Sekarang sudah waktunya untuk turun tangan.”

“Aku sebetulnya tidak maksud ingin membunuh kau….” “Tetapi aku juga tak mau melepaskan kau!”

“Karena kau paksa aku membunuhmu, terpaksa aku harus melanggar perintah Beng-cu. Bocah, lihatlah seranganku!”

Ucapan itu ditutup dengan satu serangan tangan kosong yang hebat sekali. Hui Kiam menggunakan gerakan kakinya yang baru berhasil dipelajarinya dari kitab Thian Gee Po kip, hingga begitu bergerak orangnya sudah menghilang, tetapi setelah serangan lewat ia muncul lagi. Dengan cara itu ia undur setombak lebih dari tempat semula ia berdiri, maksudnya ia memancing Iblis Singa itu supaya terpisah lebih jauh dengan gadis pelindung pedang.

Iblis Singa itu mengira Hui Kiam tidak berani menyambut serangannya, lalu melancarkan serangannya yang kedua. Hui Kiam menyingkir lagi. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh kemudian disusul oleh terhamburnya hancuran batu. Ternyata dinding batu dekat pintu telah terbuka satu lubang karena terkena serangan iblis itu.

Karena dua kali serangannya mengenakan tempat kosong, iblis itu sangat murka.

“Bocah, kalau aku tidak berhasil membikin hancur tubuhmu, percuma saja aku mendapat nama julukan Iblis Singa.”

Setelah itu kedua tangannya menyambar badan Hui Kiam.

Hui Kiam kembali menggunakan gerak kakinya yang lincah menghilang ke samping. Dengan cara demikian, dari manapun datangnya iblis itu, tidak usah khawatir dapat melukai diri gadis pelindung pedang.

Kepandaian Iblis Singa benar-benar luar biasa.   Dengan cara yang tidak berobah ia terus mengikuti bagaikan bayangan....

Sampai di situ Hui Kiam tidak perlu merasa ragu-ragu lagi.   Ia lalu balas menyerang dengan satu jari tangannya.

Reaksi iblis itu ternyata cepat sekali. Agaknya sudah merasakan bahwa sambaran angin jari tangan itu adalah aneh, dengan cepat ia lompat menyingkir. Sekalipun demikian, sambaran angin yang melewati atas kepalanya telah melukai kepala dan menimbulkan rasa sakit.

Andaikata angin itu melalui tempat yang agak rendah sedikit, batok kepala iblis itu niscaya akan terlobang. Iblis itu semakin murka. Dengan suara keras ia membentak: “Aku ternyata sudah salah hitung terhadap kepandaianmu!”

Setelah mengucap demikian, kembali mengeluarkan serangannya dengan menggunakan dua tangan....

Kepandaian Hui-Kiam, yang seluruhnya didapatkan dari kitab wasiat Thian-Gee Po-kip karena gerak tipunya yang sederhana dan hanya beberapa jurus saja sudah tentu tidak bisa menurut keinginan lawannya yang bertempur secara melibat. Di antara suara bentakan ia sudah melancarkan serangan dengan menggunakan telapak tangan kosong. Apabila serangannya itu tidak berhasil menundukkan lawannya, maka akibatnya tidak menyenangkan baginya.

Serangan telapak tangan yang digunakan itu, mengandung kekuatan keras dan lunak. Di luarnya sedikitpun tidak tampak kehebatan gerakan itu, tetapi kekuatan yang terkandung dalamnya amat dahsyat sekali, daya kekuatan yang membalik bisa berbeda menurut keadaan dan kekuatan orang yang diserang.

Setelah serangan itu meluncur keluar dari tangannya telah menimbulkan suara kekuatan yang meluncur keluar membuat ruangan kamar itu, seperti tergoncang. Setelah itu terdengar suara seruan tertahan, badan Iblis Singa mundur terhuyung-huyung, mulut dan hidungnya mengeluarkan darah.

Baru pertama kali ini Hui Kiam menggunakan serangan tangan kosong itu, tetapi itu ternyata sudah berhasil membuat salah satu dari Delapan Iblis Negara Thian-tik terluka. Hal ini sesungguhnya di luar dugaannya.

Iblis Singa benar-benar tidak menduga bahwa dalam waktu yang sangat singkat kekuatan dan kepandaian Hui Kiam sudah mendapat kemajuan sedemikian pesat. Serangannya itu membuat ia terheran- heran dan bergidik. Setelah berdiam sejenak, dengan tiba-tiba tangannya bergerak menyambar pedang sakti di tangan gadis pelindung pedang. Apabila ia berhasil mendapatkan pedang sakti itu, ini berarti Hui Kiam yang menghadapinya dengan tangan kosong sukar dikatakan siapa yang akan jatuh.

Hui Kiam tidak menduga iblis itu setelah terluka masih bisa bergerak sedemikian cepat. Selagi tangan iblis itu sedang menyentuh gagang pedang, Hui Kiam dalam keadaan cemas segera melanjutkan serangannya dengan satu jari tangan.

Serangan itu mengenai lengan tangan Iblis Singa, sehingga pedang sakti yang sudah berada di tangannya jatuh lagi di tanah.

Hui Kiam dengan cepat melancarkan serangannya lagi, sehingga iblis itu terpental dan mundur tiga langkah. Hui Kiam lompat maju dan menyambar pedang sakti ke dalam tangannya.

Tepat pada saat itu, Iblis Singa dari satu sudut dinding menyambar sebuah barang, kemudian melesat keluar dari kamar.

Hui Kiam segera mengejar sambil berseru:

“Hendak lari kemana!”

Iblis itu sebetulnya tidak kabur.   Ia berdiri jauh-jauh di mulut gua. Di tangannya kini telah memegang tongkat bambu.

Hui Kiam melompat maju sambil mengangkat pedangnya ia berkata dengan suara dingin:

“Serahkanlah jiwamu!”

Hui Kiam lalu menyerang dengan pedang sakti.

Tongkat di tangan iblis itu membuat satu lingkaran untuk menutup serangan Hui Kiam.

Hui Kiam tidak melanjutkan serangannya. Ia menunggu sampai tongkat lawannya agak miring baru menyerang lagi.

Serangan pedang meluncur, tiba-tiba terdengar suara derak, tongkat di tangan iblis yang beradu dengan ujung pedang, telah terpapas satu kaki panjangnya. Hampir bersamaan pada saat itu, dari lobang bambu yang terpapas oleh pedang itu, telah menyemburkan kabut putih.

Hui Kiam sudah tidak mendapat kesempatan untuk menyingkir, kabut putih itu mengurung mukanya, kedua matanya dirasakan sakit. Ia tahu bahwa ia tertipu oleh akal keji musuhnya. Dengan perasaan sangat gusar ia melompat mundur beberapa kaki, tetapi seketika itu juga kedua matanya sudah tak dapat melihat apa lagi.

Terdengar suara Iblis Singa yang berkata sambil tertawa bergelak-gelak:

“Bocah, kau sudah terkena racun dedaunan yang kumasukkan dalam tongkat ini. Seumur hidupmu jangan harap kau dapat melihat matahari lagi, ha, ha, ha...!”

Racun dari dedaunan. Tee-hong orang tua pendek yang diketemukan di bawah jurang itu juga dilukai oleh Thian Hong dengan racun itu sehingga kedua matanya buta.

Seketika itu hati Hui Kiam bergidik kegusarannya semakin meluap, tetapi apa daya?

Suara tertawa iblis itu, telah memberi petunjuk kepadanya untuk sasaran serangannya. Maka secepat kilat ia bertindak.

“Serahkan jiwamu!” Demikian ia berseru, pedang sakti di tangannya dengan sepenuh tenaga telah digunakan untuk melakukan serangannya kepada iblis itu.

Sebentar terdengar suara jeritan ngeri, kemudian disusul oleh semburan darah yang menyemprot di muka Hui Kiam, setelah itu terdengar suara kedebukan robohnya Iblis Singa yang sudah tak bernyawa.

Hui Kiam menarik napas lega, tetapi segera disusul oleh suara keluhan. Sepasang matanya kini telah buta, hidup bagaikan mati.

“Oh, mataku! Mataku...!” demikian ia telah berteriak dengan kalap.

---ooo0dw0ooo---