Pedang Pembunuh Naga Jilid 15

Jilid 15

KARENA ucapan kotor yang memaki perempuan pujaannya, maka Hui Kiam telah melupakan dirinya yang sedang terluka, juga melupakan kepandaian musuhnya. Ia segera menggerakkan pedangnya dan berkata dengan suara bengis:

“Orang berbaju lila, kau memaki orang dengan perkataan kotor, ini bukanlah perbuatan seorang gagah.”

“Bocah, kau hanya merupakan barang permainan dalam tangan perempuan rendah itu, apakah kau juga pantas menyebut diri sebagai orang gagah.”

“Tutup mulut orang berbaju lila! Kalau aku tak cincang badanmu, aku bersumpah tidak mau jadi orang lagi!”

Orang berbaju lila itu tertawa tergelak-gelak, kemudian berkata: “Bocah, kau sedang mimpi.”

“Lihat pedang!”

Hui Kiam segera mengayunkan pedangnya, tetapi rasa sakit menyerang ke ulu hatinya, kekuatan tenaga dalamnya terganggu, sehingga serangannya itu ditarik kembali, badannya terhuyung- huyung, darah hampir keluar dari mulutnya.

Orang berbaju lila itu berkata dengan nada suara dingin: “Bocah, kau terluka?”

Hui Kiam yang berhadapan dengan musuh besarnya, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, hatinya dirasakan sakit itu lebih hebat daripada rasa sakit yang diderita karena luka di badannya.

Apabila ia sekarang binasa di tangan orang berbaju lila itu, kematiannya itu benar-benar sangat mengecewakan.

Orang berbaju lila itu bertanya pula:

“Bocah, bagaimana kau terluka?” “Ini bukan urusanmu!”

“Apakah kau ditendang dan dilempar kemari setelah dipermainkan sepuas-puasnya oleh perempuan rendah itu?”

“Tutup mulut!”

“Bocah, karena kau muncul di tempat ini, barangkali sudah menjadi kekasihnya. Ia adalah seorang cantik nomor satu dalam rimba persilatan, juga merupakan seorang perempuan yang paling cabul dan paling jahat.”

“Tutup mulut, kau manusia rendah!”

“Aku rendah? Ha, ha, ha, memang benar, aku orang berbaju lila sekarang telah merasa diriku rendah. Tetapi bocah, terus terang kuberitahukan kepadamu, kau masih sangat muda, tampan dan ganteng, ia telah menggunakan kau sebagai alat untuk mengumbar nafsu binatangnya, apakah kau tidak menganggap rendaih?”

Hui Kiam sangat murka, karena ia tidak dapat berbuat apa-apa akhirnya menyemburkan darah segar.

Sambil tertawa menyeramkan orang berbaju lila itu berkata: “Nampaknya ia masih cinta kepadamu, itu bagus. Aku tiba-tiba

berpikir    untuk    tidak    ingin    membunuhmu,    hanya    hendak memusnahkan kekuatan dan kepandaianmu. Aku akan membuat cacat urat-uratmu, supaya kau tidak bisa melakukan kewajiban sebagai orang laki-laki dan biarlah perempuan rendah itu merasakan penderitaan batin hebat. ”

Dada Hui-Kiam dirasakan mau meledak. Ia berkata dengan suara serak:

“Kau bukan manusia. Sayang aku tidak dapat membunuhmu.”

Pedang di tangannya disambitkan ke arah musuhnya, tetapi karena sudah tidak bertenaga maka perbuatannya itu bagaikan permainan anak-anak saja. Ini sebetulnya hanya merupakan suatu perbuatan yang sekedar untuk mengumbar hawa amarahnya. Ia sendiri juga tahu bahwa perbuatan itu tidak berarti apa-apa.

Orang berbaju lila itu mengulurkan tangannya dan pedang itu dipatahkan menjadi dua, lalu dilemparkan ke tanah.

Mata Hui Kiam gelap, mulutnya kembali menyemburkan darah. Pada saat itu, tiba-tiba dua bayangan kecil langsing tiba di situ.

Orang berbaju lila itu dengan cepat menyingkir dan sembunyi di belakang batu besar.

Orang yang baru datang itu ternyata adalah dua pelayan perempuan. Satu di antaranya dengan perasaan girang berkata:

“Bagus sudah ketemu. Siaohiap, harap lekas pulang. ”

Tiba-tiba matanya dapat melihat empat Utusan Bulan Emas yang sudah menggeletak di tanah sebagai bangkai, hingga dua orang itu mengeluarkan seruan terkejut.

Seorang di antaranya berkata dengan suara gemetar: “Siaohiap, kaukah yang membinasakan mereka?” “Bukan aku!”

“Apakah siaohiap terluka?” “Ya!”

“Siapakah yang membinasakan mereka?” “Orang berbaju lila.”

Wajah dua perempuan itu berobah seketika. Mereka berseru serentak:

“Siaohiap maksudkan orang berbaju lila?”

“Benar, dia adalah itu orang berbaju lila, yang dipaksa terjun ke dalam jurang oleh ibu majikanmu!”

“Di ... dia ... tidak mati!”

“Bagaimana aku bisa cepat-cepat mati?” demikian seorang berkata dengan nada suara dingin, kemudian disusul oleh munculnya orang baju lila.

Dua pelayan wanita itu terperanjat bagaikan berjumpa dengan hantu, wajahnya mengunjukkan perasaan takutnya, setindak demi setindak mundur ke belakang....

Orang baju lila itu setelah tertawa bergelak-gelakan, lalu menghampiri dua wanita itu dan berkata dengan suara dingin:

“Apakah wanita rendah itu ada di dalam Istana Bidadari?”

Hati Hui Kiam tergerak, apakah yang dimaksudkan Istana Bidadari oleh orang berbaju lila itu adaLah gedung mewah yang berada dalam lembah?

Pelayan perempuan itu menjawab:

“Ibu majikan sudah keluar sehingga sekarang belum kembali!” “Dan rase tua itu, ada di mana?”

“Di.   bawah gunung!”

Orang berbaju lila itu kembali memperdengarkan suara ketawanya yang mengandung kebencian. Pedang panjang sudah berada di tangannya. Dengan sinar matanya yang bengis ia mengawasi dua perempuan itu, kemudian berkata dengan suara dingin:

“Kau berdua boleh jalan lebih dulu!” Pedangnya segera berkeltbat, lalu disusul oleh suara jeritan ngeri. Satu di antara dua pelayan perempuan itu sudah roboh binasa.

Satunya lagi dengan ketakutan setengah mati buru-buru kabur. “Lari kemana!”

Orang berbaju lila itu segera memburu. Kembali terdengar suara jeritan ngeri.   Punggung pelayan perempuan itu sudah ditembus oleh ujung pedang.

Hui Kiam yang menyaksikan itu dadanya dirasakan meledak, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.

Sementara sesosok bayangan orang sudah lari menghampiri.

Orang itu bukan lain dari pada Hek Bwee Hiang. Ketika nampak orang berbaju lila, lalu berkata:

“Kau. “

Ia cuma dapat mengeluarkan sepatah kata itu saja, kata-kata selanjutnya tiba-tiba berhenti di tenggorokan.

Orang berbaju lila itu berkata dengan suara dingin dan angkuh: “Rase tua, kau tidak menduga ya?”

Lama sekali Hek Bwee Hiang menjawab:

“Apa kau tidak mati?”

“Saat kematianmu sudah tiba. Hek Bwee Hiang kau sudah tua tapi tak patut sebagai orang tua, biarkan perempuan rendah itu melakukan perbuatan cabul yang merusak akhlak manusia. Kaulah orang pertama yang harus dibinasakan!”

“Kau masih untung lolos dari kematian, seharusnya sembunyikan diri. Mengapa masih berani membuka mulut besar. ?”

“Tutup mulut, rase tua! Kematianmu sudah di depan mata, kau belum tahu menyesal. Sekujur badanmu sudah penuh noda, sekalipun mati kau juga tak dapat mencuci bersih noda itu.” “Orang berbaju lila, aku akan menyaksikan kematianmu yang tidak wajar!”

“Kau tidak dapat menyaksikan lagi!”

Ucapan itu ditutup dengan satu serangan pedang yang ditujukan pada Hek Bwee Hiang.

Hek Bwee Hiang sudah siap, maka baru saja orang berbaju lila itu bergerak, hampir di saat itu juga ia sudah bertindak.

Keduanya merupakan orang kuat yang jarang terdapat dalam rimba persilatan sehingga pertempuran itu merupakan suatu pertempuran hebat dan sengit tidak ada taranya.

Kepandaian orang baju lila ada lebih tinggi, tapi Hek Bwee Hiang yang harus mempertahankan jiwanya, telah menyerang secara nekad sehingga untuk sementara, kedua pihak nampak berimbang.

Sepuluh jurus kemudian Hek Bwee Hiang sudah mulai terdesak, sedangkan serangannya orang berbaju lila itu semakin ganas.

Hek Bwee Hiang terpaksa berlaku nekad sekaligus melancarkan serangan sampai delapan belas kali. Orang berbaju lila itu terpaksa mundur sampai tiga langkah.

Dalam keadaan demikian, Hek Bwee Hiang telah lompat melesat hendak melarikan diri.

Ia bergerak cepat sekali, tapi orang berbaju lila itu bertindak lebih cepat. Dengan dua kali gerakan ia sudah berhasil merintangi kaburnya perempuan tua itu.

Pertempuran hebat itu, dilanjutkan lagi….

Hui Kiam berpikir bolak-balik. Apabila saat itu tidak pergi, tunggu kapan lagi? Apakah harus menantikan kembalinya orang berbaju lila membinasakan dirinya setelah binasakan Hek Bwee Hiang?

Demikian ia segera kabur ke belakang bukit.

Suara beradunya dua senjata, masih terdengar di belakang dirinya, tapi suara itu makin lama makin jauh akhirnya tak terdengar lagi. Ia dapat menduga bahwa pertempuran itu tidak bisa terlalu lama, paling-paling ia hanya dapat melawan sampai lima puluh jurus saja. Apabila ia jalan terus tentunya akan dapat dikejar oleh orang berbaju lila itu.

Oleh karenanya, maka ia membelok ke kanan masuk ke dalam rimba lebat.

Kekuatan tenaganya tidak mengizinkan melanjutkan perjalanannya. Ia terpaksa mencari-cari tempat untuk sembunyi. Dekat tempat ia berdiri terdapat sebuah lobang gua yang cukup untuk satu orang. la lalu memasuki gua tersebut, kemudian dengan daun pohon ia menutup lobang gua, sehingga tidak dapat dilihat oleh orang sekalipun lewat di sampingnya.

Ia tenangkan pikirannya, mulai bersemedi untuk menyembuhkan lukanya.

Ia coba gunakan ilmu pelajaran menyembuhkan luka dengan kekuatan tenaga dalam yang terdapat dalam kitab Thian Gee po-kip. Berulang-ulang ia coba hingga beberapa puluh kali, baru berhasil menemukan 'kuncinya’.

Dua jam kemudian, ia mulai menggunakan pelajaran ilmu yang baru dapat itu untuk menyembuhkan luka-lukanya.

Memang sangat ajaib pelajaran dalam kitab wasiat itu, hanya dalam setengah jam, lukanya sudah sembuh sama sekali, kekuatan tenaganya juga bertambah satu bagian.

Dari dalam goa dengan melalui sela-sela daun pohon, samar- samar dapat lihat di atas langit ada banyak bintang, suatu tanda bahwa hari sudah mulai malam. Ia berpikir, saat itulah merupakan suatu saat yang paling baik untuk mempelajari ilmu totokan jari tangan dan ilmu gerak kaki.

Ia harus menjernihkan pikirannya lagi untuk mempelajari ilmu itu.

Ia sudah terbenam dalam gerak tipu yang aneh luar biasa itu. Seluruh perhatiannya dipusatkan kepada ilmu silat itu. Entah berapa lama telah berlalu, ia sudah tak ingin makan dan minum. Ilmu pukulan telapak tangan, ilmu jari tangan dan gerak kaki, sudah berhasil dipahamkan satu-persatu, dan yang terakhir, adalah seluruh pelajaran atau yang merupakan pelajaran bagian penutup dalam kitab wasiat tersebut.

Sampai di sini, berhasillah sudah cita-cita Hui Kiam untuk mendapatkan pelajaran ilmu silat yang merupakan pelajaran lebih tinggi, setiap gerak tipu bertambah kekuatannya kini berlipat ganda daripada sebelum ia memahami pelajaran terakhir dari tempat tersebut.

Ketika ia keluar dari dalam goa, ternyata matahari sudah naik tinggi. Ia rasakan kekuatan tenaga dalamnya banyak ditambah, badannya dirasakan segar, setiap gerakannya dirasakan ringan. Ia sendiri tidak tahu bahwa kepandaiannya mendapat kemajuan begitu pesat, dalam waktu yang sangat singkat seolah-olah sudah berobah seperti dua manusia.

Apakah dalam waktu satu malam itu ia sudah menyelesaikan semua kepandaian yang terdapat dalam kitab wasiat itu?

Agaknya itu tidak mungkin.

Ia keluar dari dalam goa. Tidak jauh dari situ terdapat sebuah aliran sungai kecil. Karena sekujur badannya penuh dengan tanda bekas darah, maka perlu mandi dulu. Pakaiannya yang ia pakai itu adalah pemberian dari Tong hong Hui Bun, sudah tentu ia tidak ingin membuangnya.

Tatkala ia mengawasi mukanya dari air, ia terkejut, sebab di sekitar dagunya dan atas bibirnya sudah tumbuh kumis dan jenggot pendek. Kalau begitu ia sendiri berada di dalam gua setidak- tidaknya sudah lima hari lebih.

Sejenak ia berdiri tertegun, lalu membersihkan darah-darah di sekujur badannya, lalu lari menuju ke puncak gunung.

Tiba di tempat di mana bekas ia bertempur, di tempat itu ternyata sudah kosong. Kecuali tanda darah yang sudah kering, sudah tidak tampak satupun bangkai manusia yang menjadi korban tangan kawanan jahat itu. Orang berbaju lila itu sudah tentu sudah pergi jauh. Entah bagaimana dengan nasib Hek Bwee Hiang yang bertempur dengannya pada hari itu?

Tiba-tiba matanya dapat melihat seundukan tanah makam yang nampaknya masih baru. Tertariklah hatinya. Ia lalu pergi menghampiri makam itu. Ternyata makam Hek Bwee Hiang, hingga untuk sesaat lamanya ia berdiri tertegun:

Hek Bwee Hiang benar sudah binasa di tangan orang berbaju lila itu.   Orang yang mengubur jenazahnya sudah tentu orang-orang dari gedung misterius itu.

Entah Tong Hong Hui Bun sudah pulang atau belum?

Memikirkan perempuan pujaan hatinya itu, timbullah perasaannya ingin menjumpai.

Bersama dengan itu, ia juga ingat encinya itu yang dipaksa oleh orang tua bermata biru untuk menjumpai suhunya. Oleh karena dengan sucinya itu ia sudah berjanji, harus bertemu dalam perjalanan yang menuju ke puncak gunung batu, dan sekarang ia sendiri telah tertunda, mungkin sudah selip waktunya.   Lagi pula oleh karena orang berbaju lila itu sudah mengunjukkan diri, perjalanan yang maksudnya hendak menyelidiki orang jahat itu, berarti sudah tidak perlu lagi. Yang paling penting pada saat itu ia berusaha menjumpai sucinya supaya dapat merundingkan soal menuntut balas.

la segera lari menuju ke bawah gunung.

Di hadapannya terbentang sebuah jalan yang menuju ke lembah di mana terdapat gedung misterius itu.

Untuk sesaat lamanya ia merasa sangsi apakah ia harus menjumpai perempuan pujaan hatinya itu atau tidak.

Akal budi kadang-kadang memang mudah ditundukkan oleh perasaan yang sedang merangsang, begitulah keadaan Hui-Kiam pada saat itu. Terdorong oleh perasaan segera ingin menjumpai perempuan pujaan hatinya maka ia memilih jalan yang menuju ke arah lembah itu. Ketika tiba di dalam lembah, seketika itu ia berdiri tertegun, darahnya juga dirasakan telah membeku, sekujur badannya gemetar.

Bangunan yang megah bagaikan istana itu kini telah berubah menjadi runtuhan puing. Gedung yang megah itu telah hancur lebur.

Siapakah yang menghancurkan gedung itu? Dan di manakah penghuninya? Apakah sudah menjadi korban seluruhnya?

Paras Tong-Hong Hui Bun yang cantik bagaikan bidadari, kembali terbayang dalam otaknya.

Andaikata ia mengalami nasib malang….

Ia tidak berani memikir lagi, pukulan batin itu agaknya ia tidak sanggup menerima, tetapi kemudian ia berpikir lagi, kepandaian Tong Hong Hui Bun sangat tinggi sekali, siapa yang sanggup melukai dirinya, karena berpikir demikian, maka dengan tanpa sadar mulutnya telah mencetuskan perkataan:

“Tidak, tidak mungkin, ia pasti selamat!”

Tiba-tiba satu suara menjawab perkataannya: “Benar, memang ia tidak mati!”

Mendengar suara itu Hui Kiam terperanjat. Ia membalikkan badan, segera melihat seorang pengemis muda sedang berjalan menghampirinya sambil tertawa cengar-cengir. Bukan lain daripada Sukma Tidak Buyar Ie It Hoan, yang telah muncul dan suka mengunjukkan diri dengan rupa berbeda-beda.

Munculnya Ie It Hoan di tempat itu, sesungguhnya di luar dugaan Hui Kiam, maka ia segera bertanya dengan perasaan terheran-heran.

“Adik Hoa, kau!”

Ie It Hoan lalu menjawab dengan sikapnya yang tidak main-main lagi. “Toako, cepat sekali gerak kakimu. Aku tadi melihatmu turun dari puncak gunung. Aku mengejar tetapi tak dapat mencapaimu.”

“Bagaimana kau bisa datang kemari?”

“Di dekat sini aku sudah menunggu tiga hari tiga malam lamanya. Aku kira sudah tidak dapat menemukan kau lagi. ”

“Disini kau sudah menunggu tiga hari tiga malam?” “Ya!”

“Untuk apa?” “Mencari kau!”

“Bagaimana kau tahu aku ada di sini?”

“Sudah tentu tahu. Jikalau tidak, bagaimana aku dapat memakai nama julukan Sukma Tidak Buyar?”

“Bagaimana kau artikan dengan perkataanmu ‘sudah tentu tadi’?” “Rahasia alam tidak boleh dibocorkan, jikalau tidak selanjutnya

tidak manjur lagi.”

Hui Kiam tahu benar sifat nakal dan senang memain pemuda itu, maka ia tidak menanya lebih jauh dan mengalihkan pembicaraan pada lain soal:

“Adik Hoan, tadi kau berkata dia tidak binasa?”

“Dia? Siapakah dia itu?” demikianlah Sukma Tidak Buyar balas bertanya sambil membuka lebar matanya.

Hui Kiam yang sifatnya pendiam, tidak suka bersenda gurau, ketika mendengar perkataan itu wajahnya lalu berubah.

Sukma Tidak Buyar kemudian memberikan penjelasan:

“Apakah yang toako maksudkan adalah si cantik jelita itu? Ia memang benar masih hidup!”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Sewaktu terjadi peristiwa ini ia tidak berada di sini.” “Ini perbuatan siapa?” “Orang berbaju lila.”

“Lagi-lagi dia,” berkata Hui Kiam dengan hati panas.

“Kejadian demikian sangat kebetulan. Apabila perempuan cantik itu ada di rumah, betapapun besar keberanian orang berbaju lila itu juga tak berani menghancurkan gedung ini.”

“Bagaimana dengan dia?”

“Tiga hari berselang ia pulang. Setelah mengurus urusan di sini sebentar, ia pergi lagi.”

“Adik Hoan, tahukah asal-usul yang sebenarnya tentang dirinya?” “Kalau pada sekarang ini aku terangkan, barangkali tidak ada

faedahnya bahkan buruk akibatnya.”

“Bagaimana kau bicara selalu suka menyimpan rahasia?”

“Toako, aku juga terpaksa berlaku demikian. Tentang ini harap kau suka memberi maaf.”

“Hm!”

“Toako, adikmu ini ada sedikit perkataan yang tidak boleh tidak akan diucapkan. Terus-terang mungkin ucapan yang mengandung maksud baik akan tidak enak didengar, akan tetapi….”

“Jangan coba berlaku berbelit-belit. Bicaralah terus terang!” “Perempuan adalah bibitnya bencana. Harap toako suka

menggunakan akal budiman untuk melepaskan diri dari libatan asmara. Pentingkanlah keselamatan dunia rimba persilatan!”

“Apakah yang kau maksudkan itu Tong-hong Hui-Bun?” “Ya!”

“Ini ada hubungan apa dengan keselamatan dunia rimba persilatan?”

“Ada hubungannya. Di kemudian hari toako akan tahu sendiri. Aku sangat khawatir toako akan kehilangan semangat untuk bekerja bagi kepentingan dunia rimba persilatan. Kecuali itu, cintamu barangkali tidak berakhir dengan baik.”

“Ucapanmu ini berdasarkan atas apa?” tanya Hui Kiam terkejut. “Adikmu ini hanya menjalankan perintah, untuk sementara tidak

dapat membuka rahasia,” berkata Sukma Tidak Buyar sambil tertawa getir.

“Atas perintah siapa?” “Suhu!”

“Eh, bukankah kau pernah berkata bahwa suhumu sudah menutup mata. Apakah kau dapat perintah dari orang yang sudah meninggal dunia?”

“Toako, hidup atau mati, mengapa kau anggap begitu sungguh- sungguh?”

“Kau semakin lama bicaramu semakin melantur. Dengan terus terang, menyuruhku memutuskan hubungan dengan dia itulah tak mungkin!”

“Baiklah soal ini untuk sementara kita jangan bicarakan lagi!” “Ada urusan apa kau mencari aku?”

“Urusan penting!” “Urusan penting apa?”

“Harap toako jawab dulu pertanyaan-pertanyaanku.” “Tanyalah!”

“Bagaimana dengan perjalananmu ke gunung Kiu-kiong-san?”

“Sedikit berhasil aku sudah dapat menemukan Jin Ong dan sudah membuktikan bahwa senjata jarum melekat tulang memang kepunyaannya. Tetapi perbuatan itu bukan dia yang melakukan. Menurut kabar dan yang sudah dibuktikan oleh seseorang, hal itu adalah perbuatannya orang berbaju lila. Tetapi darimana ia dapatkan jarum itu masih belum berhasil kuselidiki.” “Untuk dewasa ini paling baik bisa berserikat dengan orang berbaju lila. ”

Hui Kiam terperanjat. Ia bertanya:

“Berserikat dengan orang berbaju lila, mengapa?”

“Hubungan orang berbaju lila dengan Persekutuan Bulan Emas sudah bagaikan air dengan api, maka kita harus berserikat dengannya, sama-sama menghadapi Perserikatan Bulan Emas!”

“Hal itu tidak mungkin!” “Kenapa?”

“Orang berbaju lila itu adalah musuh besar perguruanku!” “Apakah kau sudah membuktikannya?”

“Sudah terbukti!”

“Bolehkah kiranya kita pentingkan kepentingan umum lebih dulu kemudian urusan pribadi?”

“Apakah sebabnya kita harus berserikat dengannya?”

“Orang berbaju lila itu kepandaiannya tinggi sekali, lagi pula mempunyai pengaruh dan kedudukan kuat.”

“Apakah itu menurut pendapatmu?”

“Bukan, adikmu hanya mendapat perintah untuk menyampaikan ucapan ini!”

“Apakah itu perintah suhumu lagi?” “Anggaplah begitu!”

Hui Kiam sebetulnya ingin menanyakan siapakah sebetulnya suhunya Sukma Tidak Buyar itu, tetapi karena mengingat pemuda aneh itu selalu mengelakkan setiap pertanyaan yang menyangkut diri suhunya, maka bertanyapun tidak ada gunanya. Ucapan yang sudah keluar dari mulutnya terpaksa ditelan kembali.

“Aku boleh mencoba, tetapi mungkin aku tidak sanggup. Aku khawatir tidak bisa bekerjasama dengan musuh.” Sukma Tidak Buyar terkejut. Ia berkata:

“Dan lagi, mengenai soal sepotong uang logam itu, apakah kau sudah mendapatkan tanda-tandanya?”

“Sudah beres!”

“Oh! Kalau begitu toako. ”

“Kepandaianku sudah mendapat sedikit kemajuan!” “Bagaimana kalau dibandingkan dengan orang berbaju lila iiu?”

“Sudah boleh digunakan untuk mengimbangi dengan tanpa khawatir!”

“Itu bagus sekali. Sekarang kita balik ke pembicaraan kita semula. Maksudku mencari kau, ialah hendak melakukan suatu urusan besar.”

“Katakanlah!”

Partay-partay rimba persilatan pada dewasa ini, kecuali Siao-lim, Bu-tong dan golongan pengemis, yang lainnya semua sudah dalam genggaman tangan Persekutuan Bulan Emas. Para ketua berbagai- bagai aliran yang menggabungkan diri dengan Persekutuan Bulan Emas, masing-masing telah diangkat sebagai Lengcu pasukan bendera kuning di bawah perintah persekutuan itu.”

Hui Kiam terkejut. Ia bertanya dengan perasaan heran:

“Kalau begitu sudah tidak jauh lagi untuk mencapai maksud Persekutuan Bulan Emas yang hendak menguasai dunia?”

“Bagi siapa yang tidak menurut atau yang tidak setuju dengan maksudnya, semua dimasukkan ke dalam daftar hitam yang akan dibunuh!”

“Oh.”

“Yang paling mengejutkan adalah empat iblis dari Delapan Iblis Negara Thian-tiek, ternyata juga sudah menggabungkan diri dengan persekutuan itu, bahkan sudah diangkat sebagai anggota pelindung hukum yang tertinggi.” Kembali Hui Kiam dikejutkan oleh berita itu.

“Empat puluh tahun berselang, Delapan Iblis dari Negara Thian- tiek itu sudah terkena serangan jarum melekat tulang Jin Ong, apakah delapan iblis itu kala itu tidak mati?”

“Hal ini aku tidak tahu.”

“Barang siapa yang terkena serangan jarum melekat tulang, kecuali Jin Ong sendiri, tidak ada orang yang bisa menolong. Hal ini benar-benar tidak habis dimengerti. Apakah beritamu ini boleh dipercaya?”

“Seratus persen penuh!”

“Bagaimana kepandaian dan kekuatan empat iblis itu?” “Tidak di bawah kepandaian orang berbaju lila itu.”

“Kalau begitu hal ini merupakan suatu ancaman yang lebih besar.”

“Dunia rimba persilatan daerah Tiong-goan kini sedang menghadapi hari Kiamat.”

“Maksudmu memberitahukan berita ini kepadaku, apakah ”

“Aku masih belum berkata soal pokok. ”

Hui Kiam mengerutkan keningnya. Ia berkata: “Apakah yang kau maksudkan dengan soal pokok?”

Dengan sikap dan nada sungguh-sungguh Sukma Tidak Buyar berkata:

“Siu-mo, salah satu dari empat iblis itu, di gunung Bu-leng-san diam-diam telah melatih serombongan algojo. Rombongan pasukan algojo itu dinamakan Im-hong tui.”

“Im-hong-tui? Nama ini sungguh aneh.”

“Pasukan itu terdiri dari serombongan perempuan cantik yang mempunyai bakat baik. Lebih dulu wanita-wanita cantik itu dihilangkan sifat diri masing-masing dengan obat khusus istimewa kemudian dipelajari ilmu yang digunakan untuk memancing orang-orang kuat dunia Kang-ouw dengan kecantikan parasnya, mereka harus bisa menghisap tenaga laki-laki yang ditumpukan untuk menambah kekuatannya sendiri dalam waktu seratus hari setiap perempuan dalam rombongan perempuan itu, akan menambah tambahan kekuatan tenaga seratus tahun ke atas.

“Perbuatan yang melanggar akhlak kesusilaan ini, pasti dikutuk oleh Tuhan.”

“Selanjutnya wanita-wanita itu akan dididik dengan pelajaran ilmu silat golongan sesat dari Negara Thian-tiek oleh empat iblis itu. Oleh karena wanita-wanita itu sifatnya sudah berobah dari pengaruh obat, hanya mau dengar perintahnya ketua atau pemimpin Persekutuan Bulan Emas seorang saja. Apabila kita membiarkan mereka berhasil melatih pasukan itu, dalam dunia rimba persilatan tidak seorang pun yang dapat membasmi pasukan itu. Berbareng dengan itu, orang-orang kuat dalam rimba persilatan yang digunakan sebagai alat menambah kekuatan bagi wanita-wanita itu semuanya juga akan binasa karena kehabisan tenaganya.”

Hui-Kiam yang mendengarkan itu hatinya bergidik, keringat dingin membasahi badannya.

“Bagaimana sebetulnya pemimpin Persekutuan Bulan Emas itu?” “Ini masih merupakan suatu teka teki.”

“Pasukan Im-hong-tui itu dilatih di tempat mana di gunung Bu- leng-san?”

“Tempat itu letaknya sangat tersembunyi. Kita harus menggunakan waktu untuk mencari.”

“Bagaimana usaha kita sekarang?”

“Kita harus menggunakan akal menyusup diri dalam rombongan itu untuk menggagalkan rencana mereka. Rombongan perempuan itu sebelum berhasil mendapat didikan ilmu dari golongan sesat tidak susah dihadapinya.”

“Mereka toh tidak berdosa?” “Karena hendak menolong nasib rimba persilatan terhindar dari kehancuran dan mencegah jatuhnya korban jiwa sesama orang- orang rimba persilatan, terpaksa kita menahan sabar!”

“Apakah kita harus berangkat sekarang?”

“Sudah tentu. Makin lekas makin baik. Tindakan selanjutnya, nanti kita bicarakan perlahan-lahan di tengah jalan.

Hui Kiam berpikir sejenak lalu berkata:

“Aku masih   ada   satu   urusan   yang   belum   diselesaikan.

Bagaimana kalau kita berjanji bertemu lagi di suatu tempat?” “Tentang ini….”

“Urusan ini tidak dapat ditunda lagi. Itu berarti aku tidak boleh tidak harus selesaikan dengan segera.”

Sukma Tidak Buyar apa boleh buat menurut keinginan toakonya.

Sambil geleng-gelengkan kepala ia berkata:

“Baiklah. Urusan itu toako memerlukan waktu berapa lama?” “Susah dikatakan. Mungkin satu hari tetapi mungkin juga tiga

atau lima hari.”

“Aku akan tunggu kau di kota kecil Ma-kek-cip di bawah kaki gunung Bu-leng-san. Kalau aku belum pernah bertemu dengan kau, aku belum mau pergi.”

“Baiklah!”

“Sekarang aku akan berangkat dulu.”

Mata Hui Kiam kembali ditujukan ke arah gunung yang sudah hancur itu. Rupa-rupa pikiran timbul dalam hatinya. Kejadian yang tidak terduga-duga itu sesungguhnya di luar dugaannya. Dimana perempuan cantik itu sekarang? Kapan selanjutnya dapat berjumpa lagi? 

Setelah berdiri termenung sebentar, ia lantas mengikuti jejak Sukma Tidak Buyar. Tatkala tiba di atas jalan raya, dua sahabat itu akhirnya harus berpisahan. Hui Kiam menuju ke timur, sedang Sukma Tidak Buyar menuju ke Bu leng san.

Dengan hati berat Hui Kiam melakukan perjalanannya. Pikirannya masih belum terlepas dari kejadian yang telah disaksikan itu. Meski ia tahu Tong-hong Hui Bun pasti tidak terganggu keselamatannya, namun sedikit banyak masih dibuat pikiran.

Ketika di waktu senja, ia sudah tiba di bawah kaki gunung Keng- san, tetapi ia tidak melihat bayangan sucinya.

Ia agak gelisah. Menurut perhitungan, sang suci itu sudah tiba di jurang di bawah puncak gunung batu dan seharusnya sudah tentu....

Ia juga menduga bahwa kedatangan orang tua bermata biru itu dengan maksud menuntut dendam kepada Raja Pembunuh. Kepandaian orang-orang tua sedemikian tinggi, apabila si Raja Pembunuh tidak sanggup melawan, Pui Ceng Un barangkali juga tidak luput dari bencana itu.

Ia ingin pergi ke gunung Bu-san untuk mencari tahu, tetapi waktu sudah tidak mengijinkan lagi. Urusan yang harus dilakukan dengan Sukma Tidak Buyar lebih penting.

Setelah berpikir bolak-balik, akhirnya ia mengambil keputusan untuk menginap di satu kota kecil di bawah kaki gunung Keng-san. Ia minta kepada seorang pelayan rumah penginapan untuk menunggu di jalanan serta mencari kabar apakah dalam beberapa hari ini ada seorang perempuan berbaju hijau yang mengenakan kerudung yang lewat di situ atau pernah melihat menunjukkan diri di kota tersebut.

Semalaman itu ia lewatkan dengan tidak mendapat berita apa- apa. Terpaksa ia melanjutkan tujuan ke gunung Keng-san dengan membawa persediaan makanan kering cukup banyak.

Tiba di tempat yang dituju, tiba-tiba ia teringat makam yang ditemukan di gunung tersebut, karena makam itu tertulis nama ibunya, sehingga selama itu terus merupakan suatu pertanyaan dalam hatinya. Ia lalu berjalan menuju ke makam tersebut.

Tiba di puncak gunung, sewaktu matanya ditujukan ke jurusan makam itu, hampir saja ia menjerit.

Di depan makam itu, berdiri bayangan seseorang yang membelakangi dirinya. Orang itu ternyata adalah musuh besarnya sendiri, Orang Berbaju Lila.

Rasa dendam dan benci seketika timbul dalam otaknya. Ia sungguh tak menduga, baru berhasil memahami pelajaran ilmu silat yaug sangat tinggi, ia sudah mendapatkan kesempatan untuk melakukan balas dendam terhadap musuh besarnya.

Perkaiaan Sukma Tak Buyar yang minta ia supaya berserikat dengan orang berbaju lila itu untuk menghadapi Bulan Emas, telah lenyap dalam pikirannya. Kecuali menuntut balas dendam, sudah tidak ada pikiran lain.

Maka setindak demi setindak ia geser kakinya mendekati orang berbaju lila itu. Jikalau pada saat itu ada orang yang melihat mukanya, pasti akan terkejut.

Orang berbaju lila itu masih tetap berdiri bagaikan patung, agaknya tidak merasa kedatangan Hui Kiam. Sementara Hui Kiam tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh, suara tindakan kaki, sekalipun orang biasa juga dapat mendengar. Namun orang berbaju lila itu agaknya tidak perduli. Ia anggap kepandaian sendiri terlalu tinggi atau memang sengaja tidak mau menghiraukannya.

Hui-Kiam berhenti di tempat terpisah sejarak tujuh delapan langkah di belakangnya. Tetapi orang berbaju lila itu masih tetap tidak bergerak.

Ketenangan luar biasa orang berbaju lila itu sebaliknya malah menimbulkan perasaan curiga Hui-Kiam. Tidak boleh tidak ia menimbang-nimbang kekuatannya lebih dulu.

Namun ia yakin bahwa kepandaiannya sendiri pada saat itu cukup untuk digunakan untuk menghadapi orang berbaju lila. Karena kedatangannya sendiri ke puncak gunung itu adalah ambil keputusan secara tiba-tiba, tidaklah mungkin dapat diduga oleh orang berbaju lila itu. Apalagi ia sendiri dahulu memang bukan tandingan orang itu. Berhasilnya sendiri memahami ilmu silat dalam kitab Thian Gee Po-kip itu hanya baru terjadi dalam waktu beberapa hari saja, siapapun juga tidak tahu, maka ia mau menduga bahwa biang berbaju lila itu tidak memperhatikan dirinya.

Tiba-tiba ia teringat kedatangannya yang pertama, juga di tempat inilah ia berjumpa dengan orang berbaju lila. Kala itu orang berbaju lila pernah berkata padanya: “Siapapun tidak boleh mengotori tempat ini.....” Perkataan itu sekarang kalau dipikir bukan mustahil mengandung maksud dalam.

Karena pikiran itu, Hui Kiam terpaksa menngendalikan amarahnya. Ia berkata dengan nada suara dingin:

“Orang berbaju lila, kita bertemu lagi!“

Orang berbaju lila itu agaknya terkejut. Ia membalikkan badannya. Sesaat itu ia tercengang, kemudian ia berkata:

“Bagus! Penggali Makam, meski dunia lebar tetapi jalan bagi musuh tidak cukup lebar.”

“Memang begitu!”

Kedatanganmu ini berarti kupu-kupu terbang menerjang api. ”

“Belum tentu, aku justru mencari kau. Sungguh tidak kuduga demikian cepat kita bisa berjumpa. Agaknya sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa.”

“Apakah hatimu merasa pedih, istana wanita rendah itu telah kuhancurkan?”

Pertanyaan itu membuat Hui Kiam seketika naik pitam, hampir tidak sanggup menindas perasaan gusarnya. Dengan suara bengis ia membentak:

“Orang berbaju lila, kau jangan coba melukai hati orang dengan kata-kata. Kau nanti akan membayar mahal atas perbuatanmu ini!”

“Ha, ha, bocah, katamu seolah-olah sungguh-sungguh.” “Orang berbaju lila, kau jangan banyak bicara. Sebelum aku membunuh kau, jawablah pertanyaanku.”

“Sebelum membunuh aku? Ha, ha, ha. Aku ingin lihat sebelum aku membunuh kau, cobalah. Kau bisa berbuat apa?   Aku juga ingin dengar apalagi kau ingin katakan?”

“Pada sepuluh tahun berselang karena sejilid kitab Thian Gee po- kip, Kim-te telah mengalami kecelakaan. Mok-tee dan Jui-tee telah terluka, kemudian Hwee-tee dan Tho-tee menderita karena jarum melekat tulang dan pada lima tahun kemudian anak perempuannya Hwe-tee kembali hendak dibinasakan. Apakah semua itu adalah perbuatanmu?”

Orang berbaju lila itu dengan perasaan terkejut dan terheran- heran mundur satu langkah lalu berkata dengan suara gemetar:

“Bocah, sebetulnya siapakah kau ini?” “Murid keturunan Lima Kaisar!”

“Kau, apakah murid keturunan lima kaisar?” “Benar!”

“Benarkah Lima Kaisar masih ada mempunyai murid?”

“Keadilan dan kebenaran tidak dapat dilenyapkan untuk selama- lamanya!”

“Sudah habislah ucapanmu?” “Kau mau mengaku atau tidak?” “Aku tidak menyangkal!”

“Bagus sekali. Masih ada, jarum melekat tulang itu dari mana kau dapatkan?”

“Aku belum pernah menggunakan jarum melekat tulang!” “Apa? Apakah kau belum pernah menggunakan?” “Tidak, tidak pernah!” “Mengapa di badan Hwee-te dan Tho-tee terdapat luka dari jarum melekat tulang?”

“Pergilah tanya pada mereka yang sudah mati!”

“Dan lagi pelayan wanita pemilik gedung Istana Bidadari, yang bernama Oey Yu Hong, pada waktu paling belakang ini, juga binasa karena senjata jarum itu, apakah kau tahu?”

“Kau tidak berani mengakui?”

Orang berbaju lila itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata:

“Bocah, terhadap kau perlu apa aku harus tidak berani mengakui?”

Hui Kiam seketika itu ternganga. Ucapan orang berbaju lila ini mungkin benar, tapi ia sudah mengakui terus terang sebagai orang yang membunuh suhunya dan melukai empat supeknya, sedangkan jarum melekat tulang yang mengenakan suhu dan empat orang supeknya juga tidak salah. Dalam pesan terakhir suhunya pun demikian.

Bahkan ia sendiri pernah menyaksikan kematian suhunya sendiri yang sangat menyedihkan. Siapa lagi yang berbuat jikalau bukan orang ini?”

Orang yang bertempur dengan empat supeknya waktu itu, juga hanya ia seorang, apakah masih ada pembantunya?

Teringat perkara pembantu, maka ia lalu bertanya dengan suara gemetar:

“Orang berbaju lila, kau tidak mengakui menggunakan jarum melekat tulang, dan siapakah yang membantu kau melakukan perbuatan itu?”

“Lucu, untuk apa aku memerlukan bantuan orang?!” “Kalau begitu mengapa kau tidak berani mengakui?” “Aku tiada waktu bicara denganmu lagi.” Pikiran Hui Kiam terus bekerja. Karena «orang berbaju lila itu tidak mau mengakui, pasti ada sebab-sebabnya yang tidak boleh diberitahukan kepada orang lain. Namun karena bukti sudah nyata, mengakui atau tidak sama saja.

“Soal ini sampai di sini dulu. Masih ada satu soal lagi. Belum lama berselang kau dengan menggunakan siasat keji dan rendah, telah membunuh penghuni loteng merah beserta To Liong Kiam- khek Suma-Suan itu karena apa?

Sepasang mata orang berbaju lila itu memancarkan sinar tajam.

Dengan suara gemetar ia berkata: “Bocah, kau tidak perlu tahu.” “Tetapi aku harus tahu.”

“Kau masih belum pantas, juga percuma saja, sebab kematianmu sudah di depan mata.”

“Kegaiban hanya bisa terjadi satu kali saja, tidak mungkin akan terulang lagi.”

“Itu toh bukan mustahil.” “Kau jangan mimpi!”

Pada saat itu mata Hui Kiam mengawasi batu nisan di makam itu, kemudian ia bertanya dengan suara gemetar:

“Orang berbaju lila, orang yang dikubur dalam makam ini benarkah Yok-su Sian-cu Hui Un-khing?”

Tubuh orang berbaju lila itu nampak gemetar, sinar matanya mengunjukkan perasaan yang terheran-heran. Lama ia baru berkata:

“Ini ada hubungan apa denganmu?”

Hui Kiam telah dapat kenyataan bahwa dalam urusan ini agak aneh, maka ia telah berkeputusan hendak mencari tahu. Katanya pula dengan nada  suara dingin:

“Sudah tentu ada hubungannya denganku!” “Hubungan apa?”

“Katakanlah, benar apa tidak?”

Dengan sinar mata tajam orang berbaju lila ini menatap wajah Hui Kiam, agaknya hendak menembusi hatinya. Setelah hening sejenak, lantas menjawab dengan nada suara parau:

“Benar orang yang bersemayam di dalam kuburan ini adalah Yok- su Siao-cu Hui Un-khing!”

Hui Kiam di luarnya meskipun masih tetap dengan sikapnya yang dingin dan kaku, tetapi dalam hatinya bergolak hebat. Ia sungguh tidak menduga bahwa di dalam dunia ada kejadian yang sangat ganjil seperti ini. Seorang yang meninggalkan dunia dikubur di dua tempat. Sudah jelas makam di depan matanya itu adalah seratus persen bohong, tetapi mengapa To Liong Kiam-khek harus membuat makam palsu ini? Inilah yang merupakan suatu teka-teki yang harus dicari kuncinya. Satu hal lagi adalah hubungan sebenarnya antara To Liong Kiam-khek Suma Suan dengan ibunya. Apabila kedua teka-teki itu sudah terungkap maka apa sebabnya ia mengikuti dan memakai she ibunya, juga segera menjadi terang.

Setelah berpikir kesana kemari, akhirnya ia bertanya:

“Apakah kuburan ini didirikan oleh To Liong Kiam-khek Suma Suan?”

“Apakah kau tidak pernah membaca surat di atas batu nisan itu?

Bukankah sudah jelas diukir namanya?”

“Ada hubungan apa antara Sama Suan dengan Yok-su Sian-cu?” “Suami istri!”

Hati Hui Kiam tergetar. Ia bertanya pula:

“Benarkah suami istri...?”

Tubuh orang berbaju lila itu kembali gemetar, sinar matanya garang. Katanya pula dengan suara agak tidak tenang:

“Bukan, bukan suami istri. ” “Jawabanmu satu sama lain sangat bertentangan, ini apakah maksudnya?”

“Perlu apakah aku harus memberitahukan kepadamu?” “Tetapi aku harus ingin tahu!”

“Tadi kau berkata bahwa urusan ini ada hubungannya dengan kau. Coba kau katakana, apakah sangkut pautnya denganmu?”

“Di dalam dunia ini ada berapa Yok-sok Sian-cu Hui Un-khing?”

Orang baju lila itu kembali mengunjukkan sikapnya yang terheran-heran. Jawabnya:

“Sudah tentu hanya satu. Pertanyaanmu ini…!” Sebelum bertanya lebih jauh, Hui Kiam sudah menyela:

“Kalau benar hanya satu, mengapa dikubur di dua tempat?”

Kini jelas sekali bahwa orang berbaju lila itu sangat terpengaruh oleh pertanyaan Hui Kiam ini, ia maju satu tindak dan menanya dengan suara gemetar:

“Dua tempat?” “Benar!”

“Kau jangan mengatakan yang bukan-bukan!” “Tidak perlu aku berbuat demikian.”

“Tidak mungkin, tidak mungkin ”

“Mengapa kau dapat memastikan?”

“Sewaktu Suma Suan mengubur jenazah dan mendirikan makam ini, aku telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, tidak mungkin salah.”

Hui Kiam untuk sesaat berdiri tertegun, ia juga berkata: “Tidak mungkin.”

“Coba kau katakan apa sebabnya tidak mungkin!” “Sewaktu jenazah Yok-sok Sian-cu dikubur, bukan saja aku sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tetapi juga turun tangan sendiri!”

“Benarkah ada kejadian demikian?” “Benar.”

“Aku tidak percaya. Di dalam dunia bagaimana ada suatu kejadian yang sangat ganjil seperti ini. ”

Karena Hui Kiam ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya, terpaksa ia mengakui.

“Mau tidak mau kau harus percaya, sebab aku adalah anak Yok- sok Sian-cu.”

Orang berbaju lila itu bagaikan disambar geledek, sinar matanya menunjukkan perasaan terkejutnya yang tidak kepalang. Sinar mata itu menunjukkan sinar aneh yang tidak dapat dikatakan. Ia berseru dengan suara semakin gemetar:

“Kau adalah anaknya Yok-sok Sian-cu?” “Ya!”

“Siapakah namamu?” “Hui Kiam.”

“Hui Kiam. Hui Kiam, kau ikut she ibumu?”

“Benar.”

Orang yang berbaju lila itu tiba-tiba mendongakkan kepala, matanya memandang ke atas, lama tidak bicara, tetapi tubuhnya gemetar. Semua itu dalam matanya Hui Kiam menunjukkan sesuatu pemandangan yang sangat ganjil.

“Coba kau ceritakan bagaimana ia menemui ajalnya?” demikian orang berbaju lila itu akhirnya bertanya pula.

Dalam otak Hui Kiam terbayang pula kejadian pada sepuluh tahun berselang. Kematian ibunya yang menyedihkan, telah menyebabkan dirinya menjadi orang yang hampir tidak berperasaan, kecuali kebencian dan dendam. Maka ditanyakan demikian, matanya memancarkan sinar kebencian sangat hebat. Ia lalu berkata sambil menggeretak gigi:

“Sepuluh tahun berselang ibu dibinasakan oleh seorang wanita!” “Seorang wanita?”

“Benar.”

“Bagaimana macamnya wanita itu?”

“Tidak tahu. Kala itu aku bersembunyi di lobang tanah. Sewaktu hendak menutup mata ibu hanya mengeluarkan sepatah kata.”

Orang berbaju lila itu tiba-tiba tertawa bergelak-gelak sambil mendongakkan kepalanya. Ia tertawa bagaikan orang gila tetapi juga seperti menangis lama baru berhenti... kemudian secara tiba- tiba ia membalikkan badan dan menggempur makam itu.

Hui-Kiam merasa heran terhadap perbuatan orang berbaju lila itu, tetapi ia tak merintanginya.

Di antara menggulungnya angin hebat, lantas disusul oleh batu dan tanah yang terbang berhamburan, sekejap mata saja makam itu sudah rata sama sekali.

Dengan nada suara dingin Hui Kiam berkata:

“Mengapa kau menghancurkan makam ini!”

Orang berbaju lila itu membalikkan badannya dan menjawab dengan suara parau:

“Ini adalah makam palsu, sudah seharusnya dihancurkan.” “Benar atau palsu ada hubungan apa denganmu?”

“Sudah tentu… tidak ada hubungannya denganku. Aku hanya sangat mendongkol karena tertipu.”

“Apa? Tertipu? Kau tertipu oleh siapa?”

Orang berbaju lila itu dengan sepasang matanya yang tajam, terus menatap wajah Hui Kiam. Dalam sinar matanya itu, ternyata menunjukkan perasaan hatinya yang pilu, sehingga membuat Hui Kiam semakin heran, terutama terhadap perbuatannya yang hampir seperti perbuatannya seorang yang tidak waras pikirannya.

“Kau masih belum menjawab pertanyaanku?” Hui Kiam berkata. “Dahulu ketika Suma Suan mengetahui istrinya yang sudah

mengandung telah dibinasakan oleh musuhnya, bukan kepalang sedihnya. Kemudian tulang-belulangnya dipungut dan ditanam di tempat ini, sungguh tak disangka bahwa itu hanya merupakan suatu tipu muslihat belaka, satu muslihat yang amat keji!”

“Apakah Suma Suan sudah tak mengenal wajah istrinya sendiri?” “Bagian roman wajah jenazah itu telah dirusak!”

“Oh!”

Kini Hui Kiam seolah-olah sudah mengetahui riwayat tentang dirinya sendiri. Orang baju lila itu berkali-kali mengatakan bahwa Suma Suan adalah suaminya Yok-sok Sian-cu, sudah tentu juga menjadi ayahnya sendiri. Dan antara ayah dan ibu itu, sebetulnya apakah yang telah terjadi? Mengapa berbicara dan akhirnya menjadi musuh? Apa sebabnya ibunya harus menyingkir ke tempat yang sepi? Dan apakah sebabnya pula dalam pesan terakhirnya minta supaya ia membunuh ayahnya itu?

Apakan ucapan orang berbaju lila itu boleh dipercaya?

Ini ada satu soal yang amat penting.   Jika ditilik dari kelakuan dan perbuatan yang telah diperlihatkan selama itu, serta penilaian Tong Hong Hui Bun atas dirinya ia merupakan orang gagah yang sangat rendah martabatnya, apakah ucapannya itu boleh dipercaya sebetulnya masih merupakan suatu pertanyaan besar.

“Jika menurut keterangan ini, Suma Suan seharusnya adalah ayahku.”

“Ya!” jawabnya orang berbaju lila itu yang nampaknya semakin sedih.

Sekujur badan Hui-Kiam gemetar. Ia bertanya pula: “Kau dengan ayah ada hubungan  apa?” “Sahabat!”

“Tetapi kau telah membunuhnya mati!”

“Karena ia harus mati, maka lebih baik siang-siang mati.” “Apa artinya?”

“Ia tidak pantas perbuatannya terhadap istri dan anaknya sendiri, segala perbuatannya sedikitpun tidak mempunyai prikemanusiaan.”

“Apakah karena itu hingga kau menggunakan dirinya sebagai umpan untuk memancing Penghuni Loteng Merah mati bersama- sama?”

“Hui Kiam, jangan dikatakan lagi.”

“'Penghuni Loteng Merah ada hubungan apa dengannya?” “Kekasih!”

“Kekasih?”

Hati Hui Kiam merasa perih. Dia sungguh tidak menyangka bahwa dirinya mempunyai seorang ayah demikian, sudah meninggalkan istrinya sendiri dan mencari kekasih perempuan lain. Apabila demikian halnya, apakah tidak bisa jadi bahwa wanita yang membinasakan ibunya adalah penghuni loteng merah itu? Besar kemungkinannya. Sebab seorang perempuan yang ingin mendapatkan kekasih seluruhnya dari seorang laki-laki, ia bisa berbuat dengan tanpa memilih cara. Akan tetapi kini kedua-duanya sudah binasa semua.

Orang berbaju lila itu berkata pula dengan suaranya tetap mengunjukkan perasaan sedih.

“Apakah ibumu pernah menyebut Suma Suan?” “Ada.”

“Apa kata ibumu?”

“Sebelum menutup mata, ibu meninggalkan pesan kepada aku untuk membunuhnya.” Dengan badan gemetar orang berbaju lila itu mundur selangkah dan bertanya:

“Menyuruh kau membunuhnya?” “Tetapi sayang ia sudah binasa!”

“Jikalau tidak, benarkah kau akan membunuhnya?”

Hui Kiam bergidik. Apabila sebelum ia mengetahui keadaan yang sebenarnya, dengan tanpa pikir sedikitpun juga ia dapat membunuhnya, ini berarti merupakan suatu tragedi yang sangat menyedihkan.   Tetapi pesan ibunya minta ia supaya membunuh mati orang yang sebetulnya merupakan ayahnya itu, mungkin ada sebabnya. Tetapi orang-orang yang bersangkutan semua sudah tidak ada di dalam dunia, bagaimana teka-teki ini harus dibongkarnya?

Menurut keterangan orang berbaju lila, satu-satunya sebab ialah ibunya itu karena disia-siakan dan kemudian dibunuh oleh kekasih suaminya, sehingga meninggalkan pesan terakhir yang hebat itu, ini sesungguhnya terlalu menakutkan.

“Apakah keterangan ini benar seluruhnya?” “Sedikitpun tidak salah.”

“Tidak perduli bagaimana To Liong Kiam Khek adalah ayahku, yang mati di tanganmu, ditambah lagi dengan musuh perguruanku, aku sekarang hendak membunuh mati kau, kau tentunya tidak bisa berkata apa.”

Nada suaranya itu bengis dan dingin serta mengandung penuh hawa amarah yang telah meluap.

Di luar dugaan Hui-Kiam orang berbaju lila yang selama itu hendak membinasakan dirinya kini telah menunjukkan sikap yang telah berobah seratus delapan puluh derajat. Jawabnya dengan suara sedih:

“Kau. bunuhlah!”

“Orang berbaju lila, apakah tidak bisa bersedia melawan?” Tetapi yang ditanya tidak menjawab. Sejenak kemudian tiba-tiba berkata sendirian:

“Aku masih belum bisa mati kemudian tidak dapat menyelesaikan semua persoalan….”

Hui-Kiam yang sudah naik darah tidak dapat mengendalikan perasaannya lagi. Sepuluh tahun lamanya yang ia nanti-nantikan adalah hari di mana ia harus dapat menjumpai musuh besarnya itu, dan musuh besarnya itu kini sudah berada di hadapan matanya, maka ia lalu maju setindak dan berkata:

“Orang berbaju lila, ajalmu sudah tiba. Sebelum kau mati, harap kau suka berkata terus terang tentang jarum melekat tulang itu.”

Orang berbaju lila itu memancarkan sinar matanya yang tajam, kemudian berkata dengan keras:

“Kau berkata Hwee-tee dan Tho-tee badannya terkena senjata jarum melekat tulang?”

“Benar!”

“Apakah itu terjadi sewaktu bertempur dengan aku?” “Benar!”

“Ini sungguh aneh, sedangkan senjata bagaimana macamnya aku sendiri masih belum tahu.”

''Sekalipun kau menyangkal juga sudah tidak bisa berobah keputusan.”

“Senjata jarum melekat tulang itu kabarnya adalah senjata tunggal Jien Ong ”

“Jien Ong sudah menjadi padri. Beberapa puluh tahun lamanya belum pernah meninggalkan tempat ibadahnya.”

“Apakah tidak bisa jadi itu dilakukan oleh muridnya?” “Ia tidak mempunyai murid.”

“Apakah kau sudah melihat Jin Ong?” “Pernah berjumpa dengannya.” “Ini sungguh heran. ”

“Orang berbaju lila, tidak perduli kau tahu atau tidak, sebagai pembunuh kau sudah tidak salah, dan sekarang serahkanlah jiwamu.”

Orang berbaju lila itu berkata dengan suara bengis: “Kau bukan tandinganku.”

“Betul atau tidak perkataanmu ini, kau boleh coba dulu, nanti akan kau ketahui sendiri!”

Setelah itu ia lalu mengayun tangannya. Mata beringas parasnya menunjukkan sikap yang menakutkan.

Orang berbaju lila itu segera berkata sambil mengulapkan tangannya:

“Tunggu dulu!”

Hui Kiam terpaksa mengurungkan serangannya. Ia bertanya dengan suara dingin:

“Kau masih ingin meninggalkan pesan terakhir?”

“Hui Kiam, aku perlu nasehatkan kepadamu, kau harus memutuskan hubungan dengan Tong Hong Hui Bun perempuan yang sangat rendah martabatnya itu ”

“Tutup mulut! Ha, ha, ha orang berbaju lila, sampai pada hari mendekati ajalmu kau masih mengeluarkan ucapan ini. Apakah kau anggap itu bisa terjadi?”

“Jikalau kau tidak dengar nasihat, di kemudian hari kau akan menyesal sendiri untuk selama-lamanya!”

“Hal ini tidak perlu kau turut memikirkan!”

“Hui Kiam, kau... tidak bisa jatuh cinta kepadanya….”

“Apakah hanya kau yang bisa, betul tidak? Pada saat ini kau mengeluarkan perkataan demikian, sesungguhnya sangat bodoh sekali, setelah jiwamu nanti melayang apakah keinginan itu akan terlaksana? Apakah kau dapat mencegah orang lain cintakan dirinya?”

“Hui Kiam, ini adalah nasehatku yang sejujurnya.”

“Maksud baikmu ini akan kuterima dalam hati. Di dalam dunia ini tiada sesuatu perbuatan yang dapat mencegah aku mencintainya.”

“Usianya cukup pantas menjadi ibumu. ”

“Aku tidak perduli.”

“Kau jangan paksa aku membunuh kau!”

“Kau hendak membunuh aku ini bukan pertama kalinya. Ucapan ini bukankah ucapan kosong belaka?”

“Hui Kiam, kau nanti akan mengerti. Tahukah kau dia ada hubungan apa dengan Suma Suan?”

Hati Hui Kiam bercekat. Ia bertanya dengan suara agak gemetar:

”Hubungan apa?”

Orang berbaju lila itu sepatah demi sepatah dengan sikap yang sungguh-sungguh berkata:

“Suma Suan setelah istrinya meninggal dunia, pernah melakukan upacara perkawinan dengan perempuan itu ”

Kini adalah giliran Hui Kiam yang bagaikan disambar geledek. Ia mundur sehingga tiga langkah, sekujur badannya gemetar. Apabila perkataan orang berbaju lila ini benar, maka Tong-hong Hui Bun itu berarti ibu tirinya sendiri. Untuk sesaat lamanya, ia berdiri bagaikan patung, hatinya seperti ditembusi oleh sebatang anak panah beracun.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang tertawa yang mengandung ejekan, kemudian disusul oleh kata-katanya:

---ooo0dw0ooo---