Pedang Pembunuh Naga Jilid 14

Jilid 14

D E N G A N gagalnya serangan perempuan tua itu, membuatnya semakin gemas. Kembali ia memperdengarkan suara tertawa dingin. Lima jari tangan kanannya dipentang untuk menyambar lagi, sedang tangan kirinya digunakan untuk membacok dua tangan dua rupa gerak tipu serangan masing-masing mengandung kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat.

Perempuan berkerudung itu tidak berani melawan dengan gerak tipu semula. Dengan kecepatan bagaikan kilat ia melompat mundur delapan kaki.

Hek Bwee Hiang terus membayangi. Kedua tangannya melakukan serangan dengan gerak tipu berlainan. Perempuan berkerudung itu gerakkan pedangnya perlawanan dengan gerak tipu yang sangat aneh sehingga untuk kedua kalinya Hek Bwee Hiang tarik kembali serangannya.

Hui Kiam sudah tidak sabar lagi, segera lompat dan berdiri di tengah-tengah dua orang itu kemudian berkata kepada Hek Bwee Hiang:

“Ijinkanlah Boanpwee membereskan perselisihan dengan nona ini.”

Dengan paras sangat murka Hek Bwee Hiang berkata: “Kau mundur, di sini tidak ada urusanmu.”

Dengan wajah dingin Hui Kiam berkata:

“Boanpwee sudah berjanji dengan nona ini apabila berjumpa lagi harus membereskan perselisihan di antara kami.”

“Di sini akulah yang berhak!”

Hui Kiam yang beradat tinggi hati tidak sanggup menerima perlakuan demikian. Tetapi karena harus memandang muka Tong- hong Hui Bun, ia terpaksa menahan sabar dan menelan hinaan itu. Dengan nada suara dingin ia berkata:

“Bukan maksud boanpwee untuk merebut hak pihak tuan rumah.”

“Kau menyingkir!” berkata Hek Bwe Hiang sambil mengulapkan tangannya.

“Boanpwee hanya memandang muka To-hong Hui Bun, maka berlaku hormat terhadap Cianpwee!”

“Jikalau bukan karena dia, bagaimana aku sudi banyak bicara denganmu?!”

Dan menurut pikiran cianpwee bagaimana?” “Kau lekas balik ke rumah.”

“Jikalau boanpwe menolak, bagaimana?” “Setiap perkataan yang keluar dari mulutku tidak dapat dirobah.

Tidak mau menurut juga harus diturut!”

Hui Kiam benar-benar tidak dapat mengendalikan kesabaran lagi, hawa amarahnya meluap. Dengan nada suara dingin ia berkata:

“Setiap kata yang keluar dari mulut Boanpwee juga belum pernah dirubah!”

“Jangan coba berlaku sombong terhadap aku!”

Setelah itu tangannya lalu bergerak ke arah Hui Kiam untuk melakukan serangan sebagai gertakan. Namun ternyata kekuatannya sangat hebat.

Hui Kiam tidak menduga perempuan itu benar-benar akan turun tangan, maka seketika itu terdorong mundur sampai tujuh delapan langkah.

Sementara itu perempuan berkerudung itu menyaksikan kejadian tersebut dengan sikap dingin dan tidak berkata apa-apa.

Mata Hui Kiam menjadi merah. Dengan suara gemetar ia berkata:

“Cianpwe jangan paksa Boanpwe bertindak!”

Wajah orang tua yang berkeriputan itu nampak berkerenyit, lalu berkata dengan nada suara dingin:

“Kau jangan berlaku sombong dan tak pandang mata orang lain karena dirimu disayang.”

Hui Kiam yang mendengar perkataan itu sangat gusar sehingga sekujur badannya gemetar. Perkataan itu sangat menusuk hatinya, juga merupakan suatu hinaan yang terbesar selama hidupnya. Maka ia segera maju dua langkah untuk menghadapi Hek Bwee Hiang. Dengan wajah dingin dan mata beringas ia berkata:

“Apakah Cianpwe tidak ada maksud untuk menghina aku?”

Hek Bwee  Hiang agaknya digetarkan oleh sikap pemuda itu.

Dengan tanpa sadar mundur, baru berkata: “Kalau ya mau apa?”

“Aku tidak suka dihina mentah-mentah!” “Kau berani berbuat apa terhadap diriku?” “Minta keadilan!”

“Ha ha ha, keadilan! Dengan cara bagaimana?” Ucapan perempuan tua itu penuh ejekan dan hinaan.

“Bagi orang gagah boleh dibunuh tetapi tidak sudi dihina. Kau seharusnya mengetahui bagaimana caranya kau memberi keadilan.”

Hek Bwee hiang dengan mata melotot dan rambut berdiri berkata dengan suara dingin:

“Apakah kau hendak bertindak terhadap diriku?” “Begitulah maksudku!”

“Kau tentu tahu bahwa golok dan pedang itu tiada matanya, tangan dan kaki tidak kenal kasihan.”

“Apabila aku tidak sanggup melawan, itu berarti kepandaianku belum cukup. Sekalipun mati juga tidak akan menyesalkan orang lain!”

“Ah, ah! Mendengar kata-katamu itu, kau agaknya ingin bertempur mati-matian denganku!''

“Anggaplah begitu!”

“Kau pikir lagi masak masak!” “Sudah aku pikirkan!”

“Aku hanya menghawatirkan tidak sanggup menjelaskan urusan ini pada Hui-Bun.”

Disebutnya nama itu hati Hui-Kiam bercekat, akan tetapi bagaimana ia harus menelan mentah-mentah hinaan itu maka ia lalu berkata dengan nada suara dingin:

“Tidak perlu kau pikirkan itu!” Hek Bwee hiang kewalahan berkata. Akhirnya ia berkata dengan suara keras:

“Baiklah! Kau boleh mulai!”

Suasana menjadi tegang, semua pahlawan perempuan yang berdiri di situ nampak ketakutan. Tetapi karena mengingat kedudukan masing-masing, tiada satupun yang berani membuka mulut.

Perempuan berkerudung itu mundur beberapa langkah. Ia ingin menyaksikan pertempuran itu.

Hui Kiam dengan mata tidak berkedip menatap wajah perempuan tua itu, lalu berkata dengan nada suara dingin:

“Harap keluarkan pedangmu!”

Dengan suara sombong Hek Bwee Hiang berkata padanya: “Terhadap kau barangkali tidak perlu aku menggunakan pedang.” Hui Kiam lalu berkata sambil tertawa dingin:

“Dengan tangan kosong kau bukan lawanku!”

Perkataan itu jika ditilik keadaan Hui Kiam pada saat itu, sedikitpun tidak dilebih-lebihkan. Sejak ia berhasil mempelajari ilmu silat dalam kitab Thian Gee Po-kip bagian lanjutannya, sekalipun belum berhasil memahami seluruhnya, tetapi juga sudah mengerti delapan bagian kepandaian. Kalau dibandingkan dengan sepuluh hari berselang, sudah mengunjukkan suatu perbedaan antara bumi dan langit.

Hek Bwee Hiang dengan mata berputaran berkata:

“Tunggu setelah aku membereskan budak gila itu, nanti bicarakan lagi….”

Tetapi dijawab oleh Hui Kiam dengan ucapan singkat dan dingin: “Tidak bisa!”

Hek Bwee Hiang segera naik pitam. Ia berkata dengan suara bengis: “Jika bukan lantaran Hui Bun, niscaya sejak tadi aku telah membunuhmu. Kau sebetulnya tidak tahu diri.”

Hui Kiam hanya mengeluarkan suara dari hidung sebagai jawaban.

Betapapun juga, Hui Kiam di tempat itu kedudukannya merupakan seorang tamu yang terhormat, Hek Bwee Hiang meski dihormat oleh Tong-hong Hui Bun, tapi ia hanya merupakan pelayan terdekat dari ibunya, biar bagaimana perbedaan kedudukan itu masih ada.   Maka meskipun saat itu ia sudah marah sekali tapi masih memikirkan akibatnya. Ia terpaksa kendalikan perasaan dan berkata dengan sabar:

“Kita hanya menggunakan batas tiga jurus saja. Kau boleh mengeluarkan serangan sesukamu. Kalau dalam tiga jurus tak sanggup menjatuhkan diriku, kau harus balik ke rumah!”

Bagi Hui Kiam sebetulnya juga karena merasa terhina, tiada maksud untuk melakukan pertempuran mati-matian, lalu menjawab sambil menganggukkan kepala:

“Boleh !”

“Nah, keluarkanlah seranganmu!”

Hui-Kiam tahu sebelum berhasil memahami seluruh kepandaian dalam kitab Thian gee Po-kip dalam hal serangan tangan kosong dan jari tangan, tidak akan menjatuhkan perempuan tua itu. Apa yang dapat diandalkan hanya tiga jurus ilmu pedangnya. Karena orang tua itu sudah mengatakan tidak akan menggunakan pedang, sudah tentu merasa tidak perlu menelad perbuatan perempuan tua itu. Maka ia segera menggerakkan pedang di tangannya seraya berkata :

“Jurus pertama!”

Pedang segera meluncur hanya terlihat berkelebatnya sinar pedang dengan gerak tipunya yang aneh luar biasa, menggulung diri Hek Bwee Hiang. Melihat serangan demikian, wajah nenek tua itu berubah. Ia lalu memutar tubuhnya untuk menyingkir tetapi tidak balas menyerang.

Hui Kiam tidak berhasil dengan gerakannya yang pertama, lalu disusul dengan gerak tipunya yang kedua, Bintang-bintang Bertebaran di Langit.

“Sambutlah serangan kedua!” demikian ia berkata, ujung pedang seolah-olah mengeluarkan api bagaikan bintang bertebaran, meliputi tempat sejarak dua tombak persegi.

Semua orang yang ada di situ, terhitung orang-orang kuat kelas satu, tetapi tidak urung juga dibuat kagum oleh gerak tipu luar biasa itu.

Dengan seluruh kekuatan tenaga dan kepandaiannya, Hek Bwee Hiang mengeluarkan delapan kali serangan tangan kosong, baru terhindar dari serangan yang aneh itu, tetapi sudah terkejut dan terheran-heran sedemikian rupa, sehingga napasnya memburu.

Sambil menggertak gigi Hui Kiam berkata:

“Masih tinggal satu jurus.”

Juius ini merupakan jurus yang menentukan. Kalau ia tidak menang, itu berarti tidak mampu mencuci kehinaannya tadi, dan perselesaiannya dengan perempuan berkerudung itu juga jangan harap bisa dibereskan.

Hek Bwee Hiang benar-benar dikejutkan oleh kepandaian anak muda itu. Ia belum pernah melihat kepandaian sebenarnya Hui Kiam, akan tetapi pada sepuluh hari sebelumnya ia dipancing dan dikepung oleh Koo Han San, Malaikat Langit dan Bumi serta sepuluh lebih orang-orang kuat Perserikatan Bulan Emas, telah terluka parah hampir binasa.   Dari sini dapat ditarik kesimpulan ia seharusnya tidak mempunyai kekuatan dan kepandaian sedemikian tinggi. Tapi ditilik keadaannya pada sekarang ini cara bagaimana Koo Han San sanggup melawan? Ini benar-benar merupakan suatu hal yang tidak habis dimengerti. Curiga tinggal curiga, fakta tidak mengijinkan ia banyak pikir lagi, ia kini harus menghadapi serangan yang ketiga. Mungkin serangan yang terakhir ini akan merupakan serangan yang terlalu hebat.

Demi keselamatan jiwanya ia sekarang tidak berani berlaku sombong lagi, maka lalu berkata kepada orang-orangnya:

“Berikan aku pedang!”

Seorang pahlawan perempuan segera maju memberikan pedang kepadanya.

Suasana makin tegang, hampir setiap orang tidak bisa bernapas.

Kecuali perempuan berbaju hijau berkerudung itu, yang perobahan sikapnya tidak dapat dilihat orang, semua pahlawan perempuan yang ada di situ, setiap orang nampak pucat perasaannyapun, badannya gemetar.

Hui-Kiam diam-diam sudah menghapalkan hafalan gerak tipu ketiga, ialah Tiang Menjulang Tinggi ke Langit, kemudian berkata:

“Aku hendak turun tangan!” “Em!”

Di bawah pandangan banyak mata orang, pedang Hui Kiam nampak bergerak. Sedikitpun tidak tampak kehebatannya. Pedang itu perlahan membuat satu lingkaran....

Wajah Hek-Bwee Hiang berobah pucat. Gerak tipu ilmu pedang yang nampaknya sangat sederhana ini, ternyata ia sudah tidak sanggup memecahkan sehingga seketika itu pikirannya bingung.

Tetapi itu sudah tidak ada gunanya. Ia terpaksa menggerakkan tangannya. Pedang di tangannya dengan mengeluarkan hembusan angin sangat hebat, meluncur keluar.

Pedang di tangan Hui Kiam ketika nampak pedang lawannya sudah bergerak, tiba-tiba dari gerak lambat berubah menjadi cepat. Gerakannya cepat bagaikan kilat ....

“Aaaaa!” Di antara suara seruan, tercampur suara seruan tertahan dan suara jatuhnya barang logam!

Pedang Hek Bwee Hiang sudah terlempar sejauh satu tombak lebih, badannya terdapat tiga luka, sedang ujung pedang Hui Kiam sudah mengancam tenggorokan perempuan itu.

Siapapun mengerti, apabila Hui Kiam menghendaki jiwa perempuan tua itu, niscaya siang-siang perempuan tua itu sudah menggeletak di tanah.

Dengan gerak lambat-lambat Hui Kiam menarik kembali pedangnya seraya berkata:

“Dengan memandang muka nona Tong-hong aku tidak akan berbuat keterlaluan.”

Wajah Hek Bwee Hiang yang sudah jelek, nampak semakin jelek. Ia berdiri dengan mulut ternganga, sepatah katapun tidak bisa keluar dari mulutnya.

Hui Kiam berdiam sejenak, lalu berkata:

“Di sini adalah kau yang menjadi tuan rumah. Kalau di tempat lain, aku barangkali dapat berlaku menurut sesukaku.”

Sehabis berkata, ia lalu berkata kepada perempuan berkerudung: “Nona, mari kita bicara di luar.”

“Baik,” perempuan itu menyahut, lalu lompat melesat ke luar lembah.

Hui Kiam juga segera bergerak untuk menyusul.

Seorang pahlawan perempuan coba mencegah seraya berkata: “Harap siaohiap jangan berlalu dari sini!”

“Aku bisa balik lagi!” jawab Hui Kiam dingin.

Ia bergerak lagi, dengan cepat menyusul perempuan berkerudung.

Jalan ke dalam lembah itu sangat panjang, tetapi datar. Ketika tiba di mulut lembah, perempuan berkerudung itu berpaling sejenak, kemudian mengulapkan tangannya dan meluncur ke arah sebuah puncak gunung sebelah kanan.

Sebentar kemudian, dua orang itu sudah berada di puncak gunung, berdiri berhadapan.

Hui Kiam yang membuka suara lebih dulu.

“Apakah nona masih ingat perjanjian kita tempo hari?” “Ingat!”

“Bagaimana kalau kita bereskan di tempai ini?” “Sudah tidak perlu lagi!”

“Mengapa?”

“Aku sudah tidak sanggup melawan kau, maka aku menyerah kalah!”

Pernyataan itu sesungguhnya di luar dugaan Hui Kiam. Perempuan itu rela mengaku kalah, sudah tentu ia tidak dapat memaksa lawannya bertindak.

Setelah berpikir sejenak, lalu berkata sambil menganggukkan kepala:

“Tidak bertanding boleh, tetapi sepotong uang logam yang nona ambil dari tanganku, harap nona serahkan kembali benda itu.”

Perempuan itu nampak terkejut, ia berkata:

“Uang logam itu kau ambil dari tangan Wanita Tanpa Sukma.” “Itu memang benar.”

“Benda itu toh bukan kepunyaanmu, rasanya tidak ada perlunya kau ambil kembali.”

“Bagaimana nona tahu kalau tidak ada perlunya aku ambil kembali?”

“Bagi kau tidak ada harganya sama sekali!” “Apakah buat nona ada gunanya?” “Mungkin!”

Jawaban itu menggerakkan hati Hui Kiam, sebab sepotong uang logam itu adalah peninggalan perguruannya, dan merupakan barang kepercayaan perguruannya. Kini perempuan itu menyatakan ada gunanya bagi dirinya, ini benar-benar merupakan suatu hal yang sangat menarik!

Perasaan heran timbul dalam hatinya, maka ia lalu bertanya: “Apa faedahnya sepotong uang logam ini bagi nona?”

Perempuan itu tidak menjawab dengan langsung, sebaliknya balas menanya:

“Kau sendiri dengan kokoh ingin mengambil kembali, apa pula sebabnya?”

“Sebab inilah barang yang aku dapatkan!” “Apakah jawabanmu ini tidak terlalu dibikin-bikin?” “Aku tidak merasa demikian.”

“Bagaimana andaikata kepandaianmu saat ini masih belum merupakan tandinganku “

“Satu hari kelak, aku pasti hendak mengambilnya kembali!” “Perbuatanmu itu karena merasa tertarik oleh keanehan ataukah

lantaran ingin menang saja?” “Semua bukan!”

“Kalau begitu karena apa?”

“Sama dengan nona, benda itu mungkin ada gunanya bagiku.” “Apakah kau sudah bertekad hendak mendapatkan itu?” “Tentu!”

“Penggali Makam, dahulu aku telah berlaku salah terhadapmu. Di sini aku minta maaf kepadamu. Sepotong uang logam ini hitung-hitung kau hadiahkan kepadaku, bagaimana?”

“Maaf, tidak bisa.” “Kalau begitu harap kau terangkan apa sebabnya benda itu berguna bagi dirimu.”

Hui Kiam berpikir bolak-balik. Akhirnya ia mengambil keputusan bahwa sekarang sudah waktunya baginya membuka rahasia riwayatnya. Mungkin dengan demikian dapat memancing pula orang-orang dahulu menjadi musuh-musuh perguruannya. Pelajaran bagian lanjutan dalam kitab Thian Gee Po-kip, ia sendiri sudah ingat dengan baik, hanya masih kurang pelajaran ilmu jari tangan, tangan kosong dan gerak kaki, yang masih belum mahir benar. Tetapi itu hanya soal waktu saja, jikalau dipelajari dengan tekun, tidaklah sukar untuk memahirkannya.

Karena berpikir demikian, maka ia lalu berkata:

“Sebab aku sendiri justru mempunyai sepotong yang lainnya!”

Perempuan berkerudung itu agaknya terkejut. Dia mundur sampai tiga empat langkah, baru berkata dengan sikap terheran- heran:

“Apa?   Kau.... mempunyai sepotong dari belahan uang logam ini?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Boleh kau beritahukan asal-usulnya?”

“Benda itu adalah peninggalan suhu waktu hendak menutup mata.”

“Oh!” perempuan itu mundur lagi satu langkah. Ia mengawasi Hui Kiam dengan sinar mata tajam kemudian berkata dengan suara gemetar:

“Aoakah suhumu itu adalah Cho-tee Sun Thian Koat?”

Kali ini gilirannya Hui-Kiam yang terperanjat. Ia sungguh tak menyangka bahwa wanita itu dapat menyebut nama suhunya. Namun ia masih coba berlaku tenang kemudian bertanya:

“Bagaimana nona bisa tahu?” “Kalau begitu kau sudah mengaku?” “Aku tidak menyangkal!”

“Apakah sepotong uang logam ini sebagai barang tanda kepercayaan?”

“Ya!”

“Suhumu meninggalkan pesan apa?”

Hati Hui-Kiam bergerak. Timbullah dugaannya, mungkinkah dia ini merupakan orang yang sedang dicari itu...?

“Apakah sepotong uang logam ini semula adalah barang kepunyaan nona?”

“Ya!”

Hui Kiam maju dua langkah. Dengan perasaan bergetar ia berkata:

“Apakah nona adalah putri sisupek Hwe-tee Pui-Un Tiong yang bernama Pui Ceng Un itu?”

Wanita itu terperanjat, ia menjawab dengan suara gemetar: “Ya!”

Perasaan girang Hui-Kiam sungguh tidak dapat dilukiskan, pantas hari itu dengan secara paksa ia minta uang logam itu, dan hari ini dengan seorang diri ia datang ke tempat misterius ini untuk menuntut balas dendam bagi kematian Wanita Tanpa Sukma.

“Sutee, kau ”

“Aku bernama Hui-Kiam!” “Bagaimana kau tahu namaku?”

“Aku sudah mengunjungi kuburan sisupek, di antara batu nisan terdapat namamu.”

“Oh, kiranya begitu.”

Hui Kiam merasa banyak kata-kata ingin diucapkannya tetapi ia tidak tahu bagaimana harus dimulai. Setelah hening cukup lama ia baru berkata: “Suci, mari kita duduk omong-omong!” “Baiklah!”

Dua orang itulah lalu duduk di atas batu. Hui Kiam lalu berkata:

“Menurut keterangan ibu angkat Wanita Tanpa Sukma, ketika suci dalam keadaan terluka parah telah menyerahkan sepotong uang logam itu kepada Wanita Tanpa Sukma dan minta kepadanya supaya keadaan suci itu dijelaskan padaku.”

Pui Ceng Un menarik napas dalam. Dengan suara pilu ia berkata:

“Bencana yang melanda dalam perguruan kita pada sepuluh tahun berselang, kau tentunya sudah tahu?”

“Ya!”

“Sejak terjadinya bencana itu, ayah dan aku mengasingkan diri ke gunung Tay-bong-san, setiap hari mengharap-harap kabarnya ngususiok. Lima tahun berselang musuh lama perguruan kita, ialah jago pedang berkedok itu, telah berkunjung. Ia tetap menginginkan kitab Thian Gee Po-kip. Oleh karena senjata rahasia jarum melekat tulang yang mengenai ayah dahulu, membuat kepandaian dan kekuatan ayah lenyap separurmya. Waktu musuh itu berkunjung, justru kekuatan dan kepandaian ayah musnah. Dalam waktu keadaan berbahaya demikian, jago pedang berkedok itu telah membawa pergi kitab Thian Gee Po-kip serta membinasakan ayah. ”

Hui Kiam berseru dengan suara keras:

“Sungguh buas penjahat itu! Ia nanti akan membayar hutangnya lebih besar atas perbuatannya itu.”

“Aku juga diserang oleh musuh itu sehingga terluka parah dan pingsan. Mungkin musuh menganggap aku sudah mati, ia tidak bertindak lebih jauh lagi. Selanjutnya aku tahu bahwa lukaku sudah disembuhkan. Hanya karena urusan besar yang ayah telah pesan berwanti-wanti di masa hidupnya, aku berusaha keluar gunung dalam keadaan luka, dan berjumpa dengan Wanita Tanpa Sukma. Aku menganggap keadaan diriku sudah tidak sanggup bertahan lebih lama lagi. Barang kepercayaan itu aku berikan kepadanya.”

“Tetapi bukanlah suci tertolong lagi?”

“la, adalah suhuku si Raja Pembunuh yang telah menolong diriku. Suhu membawa aku ke suatu lembah di gunung Sin-le-gong. Dalam waktu tiga bulan aku baru sembuh. Urusan selanjutnya kau sudah tahu semuanya ”

“Apakah suci pernah melihat orangnya jago pedang berkedok itu?”

“Ya!”

“Bagaimana macamnya?”

“Ia mengenakan pakaian berwarna lila dengan kain berwarna lila pula untuk mengerudungi mukanya. ”

Hui Kiam melompat bangun bagaikan disambar geledek. Ia lalu berseru dengan suara keras:

“Kalau begitu dia, orang berbaju lila!”

Dengan suara gemetar Pui-Ceng Un menanya: “Kau kenal kepadanya?”

Hati Hui-Kiam sudah kalut, maka pertanyaan Pui Ceng Un tadi sama sekali tidak masuk dalam telinganya, otaknya sedang berpikir keras. Orang berbaju lila itu sudah dipaksa terjun ke dalam jurang oleh Tong hong Hui Bun, pasti sudah hancur lebur badan dan tulang-tulangnya. Kalau itu benar, apakah ini berarti habislah sudah permusuhan dalam perguruannya itu?

Akan tetapi selagi pelayan perempuan Tong hong Hui Bun, Oey Yu Hong, hendak membuka rahasianya, tiba-tiba telah binasa karena serangan senjata rahasia jarum melekat tulang. Apakah orang berbaju lila itu belum mati? Ataukah kecuali orang berbaju lila, masih ada orang lagi yang bisa menggunakan senjata jarum melekat tulang?

Dan siapakah orangnya itu? Mengapa ia harus membunuh Oey Yu Hong untuk menutup rahasianya?

Menurut keterangan Jin Ong, senjata itu ia cuma bikin sepuluh buah saja. Ia sendiri juga tidak mempunyai murid keturunan. Hanya dalam pertempuran waktu melawan delapan iblis dari negara Tian-tek ia pernah mengunakan satu kali, tetapi hal itu telah terjadi pada beberapa puluh tahun berselang. Dari manakah orang berbaju lila itu dapatkan senjata tersebut...?

Pui Ceng Un yang belum dijawab pertanyaannya lalu berkata pula:

“Sutee, kau berkata bahwa jago pedang berkedok itu adalah orang berbaju lila?”

“Ya!”

“Kau kenal dengannya?”

“Telah beberapa kali berjumpa, bahkan sudah pernah bertanding.”

“Di mana orangnya?” “Sudah mati.”

Pui Ceng Un mendadak melompat bangun. Ia berkata dengan suara gemetar:

“Dia sudah mati?”

“Mungkin juga masih belum.” “Mengapa?”

Hui Kiam lalu menceritakan apa yang telah terjadi atas diri orang berbaju lila itu. Ia hanya kesampingkan hubungannya dirinya sendiri dengan To-hong Hui Bun!”

Sambil menggertak gigi Pui Ceng Un berkata:

“Aku hendak ke jurang di bawah puncak gunung batu itu untuk mencari tulang-tulangnya.” “Aku pergi bersama-sama dengan suci supaya dapat membuktikan orang berbaju lila itu benar sudah mati atau belum. ”

“Sutee, perempuan she Tong-hong yang kau katakan tadi orang dari golongan mana?”

“Tidak tahu!”

“Ia mampu memaksa orang berbaju lila terjun ke dalam jurang, kepandaian perempuan itu di dalam rimba persilatan barangkali susah dicari tandingannya?”

“Mungkin.... Oya, dengan cara bagaimana suci bisa mencari tempat ini?”

“Aku menguntit seorang pahlawan perempuan muda sehingga sampai kesini.”

“Pelayan wanita yang membinasakan Wanita Tanpa Sukma kini sudah binasa. Ia juga mati terkena serangan jarum melekat tulang.”

“Apakah orang berbaju lila itu benar-benar masih belum mati?” “Kemungkinannya sangat kecil sekali.

“Kalau begitu, bukankah sudah tidak ada harapan untuk mendapatkan kembali bagian lanjutan kitab pelajaran ilmu silat Thian Gee Pokip!”

Hui Kiam berpikir, kemudian berkata:

“Kitab itu sudah aku dapatkan.”

“Benarkah? … Kau sudah berhasil mendapatkan kitab itu?” “Ya!”

“Aku tidak mengerti?”

Kitab itu berada dalam kamar buku gedung besar dalam lembah itu.”

“Dengan cara bagaimana sutee bisa menjadi tetamu dengan gedung besar itu?” Muka Hui Kiam merasa panas, ia berkata:

“Penghuni gedung besar itu adalah perempuan yang memaksa orang berbaju lila itu terjun ke dalam jurang, Tong-hong Hui Bun. ”

“ Oh!”

“Ketika aku dikepung oleh sepuluh lebih orang-orang kuat dari Persekutuan Bulan Emas telah terluka parah, kemudian ditolong dan dirawatnya.”

“Apakah kau tidak tahu asal usulnya?” “Tidak tahu!”

“Apakah ia tahu asal-usul dirimu?” “Juga tidak tahu!

“Mari kita berangkat sekarang?”

“Suci, mengapa kerudung di mukamu itu kau tidak buka?”

Pui Ceng Un bagaikan disengat lebah. Sebentar hatinya merasa pilu kemudian berkata:

“Aku tidak bisa!”

Hui Kiam merasa heran, ia bertanya:

“Tidak bisa? Kenapa?”

“Harap kau jangan menanyakan soal itu.”

Hui Kiam tidak berdaya. Apakah sebabnya tidak boleh bertanya? Apakah suci itu mempunyai kesulitan yang tidak dapat diterangkan?

Semula ia mengira bahwa kerudung itu digunakan untuk menutupi wajah aslinya, juga untuk menghindarkan mata-mata musuhnya, tetapi sekarang setelah mendengar jawaban itu, ternyata bukan. Kalau begitu lantaran apa? Ini benar-benar merupakan satu soal yang membingungkan. Ia mengharap supaya dapat mengetahui sebab-musababnya. Ini berarti bukan karena tertarik oleh perasaan herannya saja, melainkan satu perhatian yang sangat besar yang timbul dalam hati nuraninya sendiri, sebab di dalam dunia ini ia boleh dikata sudah tidak mempunyai sanak saudara lagi. sedangkan sang suci itu, merupakan keturunan satu- satunya dalam perguruannya. Sejak ia menjelaskan asal usulnya, dalam hati Hui Kiam lalu timbul semacam perasaan, seolah-olah berjumpa dengan saudaranya sendiri. Seorang yang sudah lama hidup sebatang kara, perasaan demikian lebih tajam, sebab dalam hatinya selalu mengharapkan oleh hiburan kekeluargaan yang harmonis.

Oleh karenanya maka ia terus mendesak:

“Suci, walaupun antara kita merasa masih asing tetapi hubungan yang terjalin dalam perguruan kita dapat melenyapkan perasaan itu. Apakah kau menganggap perlu mengelabuhi diriku?”

“Apakah... kau ingin tahu?”

“Dalam hatiku memang ingin, tetapi aku tidak berani memaksa.

Kalau benar memang ada kesulitan, sudah saja!”

“Sute, kau lihatlah sendiri!” berkata sang suci, lalu menarik kerudung di mukanya.

“Astaga!”

Hui Kiam berseru, ia mundur dua langkah, wajahnya berubah seketika. Apa yang tampak di hadapan matanya, ternyata adalah sebuah paras muka yang amat buruk sekali, lima jalur bekas guratan kuku yang sudah menjadi matang biru bagaikan sarang laba-laba di atas mukanya, jelas sudah bahwa muka itu dirusak oleh kuku jari, satu-satunya bagian yang nampak masih utuh adalah bagian matanya dengan biji matanya yang jernih.

“Sutee, bagaimana?” bertanya Pui Ceng Un, matanya berkaca- kaca.

“Suci, apakah artinya ini?”

'“Inilah aku sendiri yang rela dibuat demikian.”

“Si Raja Pembunuh telah menolong diriku, kemudian mengambil aku sebagai muridnya. Tetapi menurut penuturan orang tua itu, apabila berjumpa dengan orang harus turun tangan ” “Apakah ia yang merusak parasmu? Siapa yang masuk perguruannya, harus menerima penderitaan demikian?”

“Ini benar-benar terlalu kejam dan tidak mempunyai perikemanusiaan sama sekali!”

“Orang tua itu telah melepas budi menolong jiwaku, kalau bukan dia, aku sudah lama mati di pinggir jalan. Kecuali itu, oleh karena memerlukan bekal untuk keperluanku menuntut balas aku harus mempunyai kepandaian yang lebih tinggi.”

“Apa sisupek, yang namanya termasuk salah satu orang kuat dalam daftar Lima Kaisar, kepandaiannya yang diturunkan kepadamu masih di bawah kepandaian si Raja Pembunuh?”

“Ayah sudah terkena serangan senjata jarum melekat tulang, ada beberapa macam kepandaian yang tidak dapat diturunkan kepadaku.”

“Aku selalu menganggap bahwa perbuatan Si Raja Pembunuh itu keewat kejam. ”

“Urusan yang sudah lalu tidak perlu dibicarakan lagi. Aku juga tidak membenci dia si orang tua.”

“Apakah ia masih mempunyai murid lain?”

“Tidak ada. Selama hidupnya ia tidak pernah menerima murid, juga belum pernah menolong orang. Terhadap aku, dapat dikata merupakan suatu terkecualian.

Suci, Tuhan sesungguhnya tidak adil, nasibmu sebenarnya terlalu menyedihkan.”

“Jangan kau sebut lagi. Hidupku semata-mata karena ingin menuntut balas, apapun yang akan terjadi aku tak pikir lagi, apalagi baru cacat muka saja.” Sehabis berkata ia kenakan kembali kerudungnya, kemudian mengalihkan pembicaraan ke lain soal: “Sutee, barusan kau berkata sudah mendapatkan bagian lanjutan kitab pusaka Thian-Gee Po-kip, tetapi baru berkata setengahnya. Bagaimanakah sebetulnya?”

Dalam mata Hui Kiam masih terbayang muka buruk sucinya, ia tahu mesti dimulutnya sang Suci itu tidak berkata, tetapi dalam hati pasti amat menderita. Suka akan kecantikan memang sudah menjadi sifatnya setiap manusia, baik laki-laki maupun wanita semuanya begitu, apalagi dalam usia remaja seperti sucinya itu. Ia sebelumnya ingin menghibur padanya, tapi ia tidak tahu bagaimana membuka mulut. Ketika ditanya demikian, ia berusaha menenangkan pikirannya, lama baru bisa berkata :

“Tong-hong Hui Bun ada mempunyai hobi senang mengumpulkan kitab pelajaran ilmu silat. Dalam kamar bukunya, terdapat banyak sekali kitab demikian.”

“Apakah kitab Thian Gee Po-kip itu juga terdapat di dalamnya?” “Ya.”

“Dengan cara bagaimana ia mendapatkan kitab itu?” “Katanya kitab itu dihadiahkan oleh orang berbaju lila itu.” “Ada hubungan apa ia dengan orang berbaju lila itu?”

“Tentang ini… katanya orang berbaju lila itu menaruh hati kepada dirinya.”

“Oh!”

Sinar matanya tajam, berputaran di wajah Hui Kiam.

Hui Kiam seolah-olah dibuka rahasia hatinya, maka wajahnya merah seketika.

Pui Ceng Un bertanya pula:

“Supek yang kau maksudkan dapatkan tadi, sebenarnya dengan cara bagaimana?”

“Aku sudah hapalkan dan ingat betul isinya. Aku sudah berhasil memahami sebahagiaan.” “Ilmu pedangmu telah mendapat kemajuan yang sangat menakjubkan, apakah itu ada hubungannya dengan ini?”

“Ya. Kebetulan pelajaran dalam kitab Thian Gee Po-kip itu dari kepala sehingga bagian ekornya, satu sama lain ada hubungannya yang sangat erat, jikalau kau tidak pelajari menurut urutannya, betapa cerdas otakmu, kau juga tidak berdaya untuk memahami satu jurus saja, maka kitab ini bagi orang lain, hanya merupakan suatu barang yang tidak ada harganya.”

“Tentang ini aku sudah pernah mendengar dari ayahku. Sekarang aku ingin tahu, bagaimana kau bisa masuk dalam kamar rahasia orang dan mempelajari sesukamu?”

“Tentang ini. ”

Dia tidak dapat melanjutkan, mukanya semakin merah.

Pui Ceng Un adalah seorang wanita, sudah tentu mempunyai perasaan lebih halus dan lebih tajam. Ketika menyaksikan sikap sutemya itu, lalu tertawa ringan kemudian berkata:

“Sutee, apakah Tong-hong Hui Bun cantik?”

Maksud pertanyaan itu tentu dimengerti oleh Hui Kiam, maka ia merasa semakin tidak enak. Namun demikian ia harus menjawab sambil tertawa:

“Ia cantik sekali!” “Berapa usianya?”

“Nampaknya baru dua puluh tahun lebih!”

Walaupun mulutnya berkata demikian, tetapi dalam otaknya terbayang ucapan orang berbaju lila yang mengatakan: ia boleh menjadi ibumu.

Oleh karena itu diam-diam ia bergidik. Apakah ia mempunyai ilmu awet muda? Atau karena memakan obat mujijat sehingga usianya nampak tetap muda? Akan tetapi biar bagaimana, cinta kasih dan perlakuannya yang lemah lembut, sudah mengikat erat-erat hatinya. Dengan tanpa sadar, matanya memancarkan sinar aneh.

Maka ketika ia teringat oleh karena urusannya Pui Ceng Un sehingga ia harus bertempur dengan Hek Bwee Hiang, perbuatan itu dengan Tong-hong Hui Bun, benar-benar merupakan suatu perbuatan yang agak keterlaluan. Nanti apabila berjumpa lagi, benar-benar sulit untuk memberi penjelasan.

Tetapi karena perbuatan itu tadi telah membuka rahasia diri Pui Ceng Un, hal ini juga masih berharga.

Dengan suara agak duka Pui Ceng Un berkata: “Sutee, apakah kau cinta kepadanya?”

Hui Kiam tidak menduga bahwa sucinya akan mengajukan pertanyaan demikian. Selembar mukanya seketika dirasakan panas, kemudian baru berkata dengan suara terputus-putus:

“Suci... aku... tidak menyangkal.”

Pada saat itu, mereka tiba-tiba mendengar suara orang tertawa dingin.

Hui Kiam dan Pui Ceng Un sama-sama terkejut, lalu memasang mata. Di tempat sejauh kira-kira tiga tombak tampak sesosok bayangan manusia berdiri bagaikan hantu.

Orang itu ternyata adalah seorang tua yang usianya kira-kira sudah tujuh puluh tahun lebih. Rambut jenggot dan alisnya seluruhnya sudah putih, badannya mengenakan pakaian besar berwarna kuning, tangannya membawa sebuah tongkat bambu. Nampaknya bagaikan dewa baru turun dari kahyangan. Tetapi kedua matanya memancarkan sinar biru, sehingga sinar mata itu dengan pakaian luarnya sangat tidak sesuai.

Hui Kiam setelah mengawasi orang tua itu sejenak lalu menegurnya dengan nada suara dingin:

“Tuan orang pandai dari mana?” Orang tua bermata biru itu tidak memperdulikan pertanyaan Hui Kiam, sebaliknya dengan sepasang matanya ia menatap diri Pui Ceng un. Lama ia baru berkata dengan nada sangat dingin dan menakutkan:

“Apakah kau murid si Raja Pembunuh?”

“Benar, bagaimana sebutan tuan?” jawab Pui Ceng Un dengan tenang.

“Tidak perlu tanya. Antar aku menemui suhumu!”

“Sudah beberapa puluh tahun suhu tak mau menemui orang luar!”

“Tetapi ia tak boleh tidak harus menemuiku.” “Bolehkah tuan memberitahukan namamu?” “Kau belum pantas menanya!”

Hui Kiam merasa tidak senang, apalagi setelah menyaksikan sikap sombong dan tidak pandang mata orang lain yang diperlihatkan oleh orang tua itu, hawa amarahnya meluap seketika. Sambil perdengarkan suara ketawa dingin ia berkata:

“Tuan, kau terlalu sombong!”

Mata orang tua itu dialihkan ke arah Hui Kiam, kemudian berkata dengan suaranya yang menyeramkan:

“Bocah, kau siapa?” “Penggali Makam!”

“Seorang yang tidak berarti juga berani bertingkah. Aku tak sempat bicara denganmu.”

“Kalau aku seorang yang tak berarti, apakah tuan seorang yang berarti?”

“Terhadap kau si bocah boleh dikata begitu!”

Hui Kiam mendengarkan suara tertawa dingin kemudian baru berkata: “Sungguh tak tahu malu. Barangkali tuan masih tidak tahu apa arti perkataan itu?”

Sinar mata biru orang tua itu nampak semakin biru. Ia berkata dengan suara bengis:

“Kau jangan desak aku orang tua ini melakukan pembunuhan!”

Wajah Hui Kiam kembali seperti biasanya yang dingin angkuh. Ia berkata sonbong:

“Anggaplah aku mendesakmu, habis kau marah?”

Orang tua itu menggeser kakinya. Tongkat di tangannya diketukkan di tanah dua kali. Wajahnya nampak semakin bengis, berkata dengan suara semakin menyeramkan:

“Apa kau mencari mampus?”

Pui Ceng Un segera maju dan berkata:

“Sutee, ini adalah urusanku, biarlah aku sendiri yang membereskan!”

Kemudian ia berpaling dan berkata kepada orang tua itu: “Ada urusan apakah sebetulnya tuan ingin menemui suhu?” Dengan sikap semakin galak orang tua mata biru itu berkata:

“Percuma aku beritahukan kepadamu. Bawa saja aku menjumpainya!”

“Kalau tuan tidak mau memberitahukan nama dan maksud, maaf aktu tidak sanggup!”

“Tetapi kau tidak dapat berbuat menurut sesuka hatimu!” “Barangkali belum tentu!”

“Apa kau ingin coba?” “Begitulah maksudku.”

Orang tua itu segera bergerak. Tongkat bambu di tangannya menotok Pui Ceng Un. Wanita itu segera memutar tangannya. Tapi belum mengeluarkan serangannya, tongkat orang tua itu mendadak berubah gerakannya, dari gerakan menotok dirubah menjadi gerakan membabat. Arah tujuannya di bagian tempat-tempat yang membahayakan.

Dengan kepandaiannya Pui Ceng Un, ternyata masih belum sanggup menutup serangan itu. Terpaksa ia menarik kembali tangannya dan mundur ke belakang, sedang badannya hampir kena diserang.

Hui Kiam terkejut, kepandaian orang tua itu sesungguhnya sangat tinggi sekali.

Orang tua itu memperdengarkan suara tertawanya yang aneh, kemudian berkata:

“Benar tidak kecewa kau menjadi murid Si Raja Pembunuh.

Sambut lagi seranganku ini!”

Tongkatnya bergerak untuk menyerang lagi. Serangannya kali ini nampak semakin hebat.

Pui Ceng Un sedikitpun tidak mampu membalas, ia lompat mundur sejauh delapan kaki, lengan bajuuya terdapat tiga lobang.

Hui Kiam segera melompat maju, menggantikan tempat Pui Ceng Un, sambil lonjorkan pedangnya ia berkata dengan nada suara dingin:

“Aku yang rendah ingin menerima pelajaranmu!”

Dengan sikap memandang rendah orang tua itu memperdengarkan suara di hidung, kemudian gerakkan tongkatnya menotok pada dada Hui Kiam.

Hui Kiam menggerakkan tangannya, melancarkan serangan dengan menggunakan gerak tipunya jurus pertama yang dinamakan Melempar Pecut Memutus Aliran.

Kedua senjata saling beradu, lalu mengeluarkan suara nyaring.

Kedua pihak mundur dua langkah.

Orang tua itu wajahnya berobah. Ia sungguh tidak menduga anak muda itu mempunyai kekuatan sedemikian hebat. Hui Kiam diam-diam juga mengagumi kekuatan lawannya. Kekuatan tenaga dalam yang menembus pedangnya luar biasa hebatnya, sehingga pedangnya hampir terlepas dari tangannya.

Orang tua mata biru itu berkata dengan keras: “Bocah, kau murid siapa?”

Perasaan gusar Hui Kiam masih belum lenyap, maka dijawabnya dengan nada meniru kesombongan orang tua tadi itu:

“Tuan masih belum pantas menanyakan guruku.”

Jawaban itu memang sangat sombong hingga wajah orang tua itu pucat seketika. Ia membentak dengan suara keras:

“Terlalu sombong!”

la lalu ayun tongkatnya dengan kekuatan sangat hebat mengantam kepala Hui-Kiam.

Hui-Kiam menggunakan jurus kedua dari ilmu silat yang di muat dalam kitab Thian Gee Po-kip untuk menyambut serangan tersebut dan sekaligus digunakan untuk balas menyerang.

Kedua senjata itu saling beradu sampai sepuluh kali lebih. Aliran kekuatan tenaga dalam yang keluar dari tangan orang tua itu membawa pengaruh demikian hebat, sampai Hui Kiam mundur tiga langkah.

Hui Kiam terkejut, sejak ia mendapat tambahan kekuatan tenaga yang disalurkan oleh Jin-Ong, serta sudah memahami tiga jurus ilmu pedang dalam kitab Thian-Gee Po-kip, kepandaiannya sudah jauh lebih tinggi daripada waktu yang lalu, tetapi sungguh tidak diduga bahwa ia masih belum sanggup menghubungi kekuatan orang tua itu.

Orang tua berbaju biru itu lalu berkata sambil tertawa:

“Bocah, benar-benar kau mempunyai kepandaian yang lumayan.

Pantas kau begitu sombong.” Dengan mata merah Hui-Kiam memperdengarkan suara di hidung, melancarkan serangannya yang paling hebat, Tiang Menjulang Tinggi ke Langit.

Di antara berkelebatnya sinar pedang ternampak dirinya orang tua bermata biru itu lompat mundur lima kaki. Matanya birunya memancarkan sinar terheran-heran.

Hui Kiam tergoncang, sebab serangan yang pernah membikin Hek Bwee Hiang tidak berdaya itu, si orang tua mata biru ini ternyata masih bisa menyingkir dalam keadaan yang selamat. Nampaknya dalam pertempuran ini akan kurang menguntungkan baginya.

Ia segera maju lagi, kembali menggunakan gerak tipunya yang itu juga, dilancarkan dengan seluruh kekuatan tenaganya.

Orang tua bermata biru itu mundur lagi lima kaki, tetap tidak mendapat luka apa-apa.

Dua kali serangan Hui Kiam tidak berhasil, agaknya merasa terkejut.

Orang tua bermata biru itu setelah menyingkir dari serangan tersebut, kemudian putar tongkatnya demikian rupa untuk mengurung Hui Kiam.

Hui Kiam masih tetap menggunakan gerak tipunya yang ke-tiga itu untuk melawan musuhnya. Di antara suara bentakan nyaring, bayangan tongkat lenyap seketika. Hampir serentak pada saat itu tangan kiri orang bermata biru itu diangkat, lima jari tangannya mengeluarkan hembusan angin ke arah Hui Kiam.

Dalam pertempuran jarak dekat, betapapun gesit gerakan Hui Kiam, juga tidak keburu menyingkir, sehingga lima tempat jalan darahnya terkena serangan berbareng. la mundur sempoyongan hampir roboh di tanah.

Bagi orang lain, lima bagian jalan darah terserang demikian, sekalipun tidak mati juga akan terluka parah. Tetapi karena pelajaran ilmu silat Hui Kiam sangat berbeda dengan yang lainnya, maka tidak sampai terganggu.  Namun demikian hembusan angin hebat itu dirasakan bagaikan pedang tajam yang menusuk badannya sehingga menimbulkan rasa sakit luar biasa.

Orang tua bermata biru itu menggunakan kesempatan tersebut segera membabat dengan tongkatnya. Maka tidak ampun lagi badan Hui Kiam tersapu dan terlempar sejauh dua tombak.

Sambil mengeluarkan bentakan keras Pui Ceng Un menerjang orang tua bermata biru itu dengan pedang terhunus.

Dengan tongkat dan tangannya, orang tua bermata biru itu menyambut serangan Pui Ceng Un, sehingga nona itu terpental balik ke tempatnya lagi.

Orang tua bermata biru itu menghampiri Hui Kiam yang rebah terlentang di tanah, berkata dengan suara keras:

“Bocah, aku terpaksa harus membunuhmu. Ini adalah akibat dari kelakuanmu yang sombong!”

Tongkatnya segera bergerak hendak menghantam kepala Hui Kiam....

Dada Hui Kiam dirasakan mau meledak. Tetapi ia sudah tidak mempunyai tenaga untuk memberikan perlawanan sehingga hanya dapat mengawasi bergeraknya tongkat yang akan menghantam kepalanya.

Pui Ceng Un dengan cepat segera berteriak:

“Tahan!”

Orang tua bermata biru itu menarik kembali tongkatnya dan berkata:

“Mau apa?”

“Aku mengajak kau menjumpai suhu, tetapi kau tidak boleh melukai dirinya!”

“Ini ada soal lain!”

“Untuk menjumpai gurumu kau harus mengunjukkan jalannya, tetapi ini bocah aku juga harus bunuh mati padanya!” “Kalau begitu kau jangan harap aku sudi mengunjukkan jalan bagimu!”

“Soal ini ada di tanganku, kau tidak dapat berbuat apa-apa!” “Kau bunuh aku juga tidak ada gunanya. Tempat kediaman suhu

sangat tersembunyi dan sangat berbahaya, jikalau kepandaianku terganggu, sama saja kita tidak dapat mencapai ke tempatnya!”

Biji mata biru orang tua itu nampak berputaran beberapa kali, kemudian berkata dengan nada suara dingin:

“Baiklah, untuk sementara waktu kuturut kehendakmu!” Sehabis berkata ia terus mundur selangkah.

Hui Kiam yang beradat tinggi hati setelah menarik napas, perlahan-lahan ia berdiri dan berkata sambil menggertakkan gigi:

“Jikalau aku tidak mati aku pasti akan membalas dendam sakit hati ini. Kalau kau mau mengambil jiwaku, harus segera bertindak, supaya lain hari tidak menyesal!”

“Haa, haa, haa, bocah yang tak tahu diri, karena ucapanmu ini, aku tidak akan membunuh kau dan menantikan tindakanmu yang hendak menuntut balas.”

“Tinggalkan namamu!”

“Tidak perlu, kau toh tidak akan kesalahan mengenal orang.” Pui Ceng Un segera berkata:

“Sute, lukamu….” “Tidak apa-apa.”

Kita terpaksa berpisah untuk sementara. Kau ambilah ini.”

Setelah itu, ia mengeluarkan potongan uang logam itu.

Diberikannya kepada Hui Kiam seraya berkata pula:

Meskipun faedahnya sudah hilang sebaiknya kau simpan saja, hitung-hitung sebagai tanda peringatan.

Hui Kiam menyambuti seraya berkata: “Terima kasih, sucie!”

Orang tua bermata biru itu berkata dengan mata melotot: “Bocah, apakah kau juga muridnya Si Raja Pembunuh?” “Kau tak perlu tahu!”

Pui Cing Un khawatir kalau orang tua itu nanti bertindak lagi, maka buru-buru berkata:

“Tuan, mari kita berangkat!”

Wajah orang tua itu sebentar terlintas nafsu amarahnya, tetapi segera lenyaplah. Kemudian ia berkata:

“Bocah, lain kali apabila bertemu lagi, aku pasti akan membunuhmu.”

Hui-Kiam perdengarkan suara di hidung lalu berkata: “Sama-sama!”

Pui-Ceng Un berkata:

“Sutee, kau pergi dulu ke tempat yang barusan kita katakan tadi. Aku berjalan melalui jalan ini. Setelah tugasku selesai, aku nanti datang menjumpai kau.”

Hui-Kiam mengerti bahwa yang dimaksudkan oleh sucienya itu ialah untuk menyelidiki soal mati hidupnya orang berbaju lila itu. Maka ia segera menjawab sambil menganggukkan kepala:

“Baik!”

“Kalau begitu aku hendak pergi dulu!” “Suci, harap kau baik-baik menjaga diri!”

Orang tua bermata biru itu mengikuti Pui Ceng Un berjalan turun gunung.

Setelah dua orang itu berlalu, Hui-Kiam terus berpikir tetapi ia tidak dapat menduga apa maksud dan tujuan orang tua bermata biru itu mencari Si Raja Pembunuh. Tetapi kebanyakan mengenai soal permusuhan. Dalam pertempuran tadi hampir saja ia antarkan jiwanya. Maka ia berpikir harus mencari tempat yang tersembunyi untuk memperdalam pelajaran dalam kitab Thian-gee Po-kip supaya pelajaran itu bermanfaat bagi dirinya.

Matanya segera ditujukan ke mulut lembah yang tidak jauh dari situ. Pikirannya menjadi kalut. Ia tidak tahu Tong-hong Hui Bun sudah pulang atau belum? Karena ia sendiri sudah bentrok dengan Hek Bwee Hiang, sudah tentu tidak bisa kembali sendiri, akan tetapi ia tidak mampu mengusir keinginannya yang hendak menemui Tong-hong Hui Bun.

Sudah tentu, yang terpenting pada dewasa itu adalah merawat lukanya. Serangan orang tua bermata biru tadi hampir mematahkan tulang pinggangnya. Meski goncangan dalam badannya tidak terlalu berat, tapi juga tidak ringan.

Ia telah memilih tempat yang letaknya agak tersembunyi. Selagi hendak bersemedi untuk menyembuhkan lukanya….

Tiba-tiba muncul empat orang berpakaian hitam.

Hui Kiam terkejut. Ia mengawasi empat orang itu. Entah apa yang dilakukan mereka.

Empat orang berpakaian hitam itu begitu melihat Hui Kiam, wajah mereka berubah semuanya.

Untuk sesaat mereka saling berpandangan. Salah satu di antaranya lalu maju menghampiri dan berkata sambil mengangkat tangan untuk memberi hormat.

“Siaohiap, maaf kita mengganggu ketenangan siaohiap!”

Hui Kiam kembali merasa heran, nampaknya orang-orang itu mengenali dirinya.  Lalu berkata dengan suara dingin:

“Bagaimana sebutan sahabat?” “Utusan Bulan Emas!”

Hui Kiam diam-diam mengeluh. Dengan orang-orang Persekutuan Bulan Emas, ia mempunyai permusuhan sangat dalam, dan kini berjumpa dengan mereka di tempat seperti ini, sedangkan badannya sendiri sedang luka, nampaknya tidak akan sanggup menghadapi orang itu.

Mungkin kedatangan orang itu hendak mencari jejak Tong-hong Hui Bun, mungkin juga ada maksud lain.

Akan tetapi, bila orang-orang itu sudah berhadapan matanya sudah tentu ia tidak dapat menyembunyikan diri, maka lalu berkata dengan suara dingin:

“Ada keperluan apa?”

Dengan nada suara lunak utusan itu berkata:

“Sebetulnya kita tidak berani menganggap Siaohiap, hanya ingin tanya perempuan berkerudung baju hijau tadi sekarang ada di mana?”

Hui Kiam merasa heran. Manusia dicari oleh manusia berpakaian hitam itu ternyata adalah Pui Ceng Un, sedangkan terhadap dirinya sendiri agaknya tidak mengandung permusuhan. Lebih mengharapkan adalah mengapa manusia-manusia Bulan Emas itu bisa mencari ke tempat ini.

Setelah berpikir sejenak, ia lalu berkata:

“Apakah sahabat hendak mencari perempuan berkerudung baju hijau tadi?”

“Benar!”

“Kenapa?”

“Kami hanya menjalankan tugas perintah atasan!” “Dia sudah pergi!”

“Sudah pergi?” “Ya.”

“Apakah siaohiap tahu kemana ia pergi?”

“Ia dipaksa berjalan oleh seorang tua bermata biru yang aku tidak tahu namanya!” Wajah utusan itu nampak berubah. Ia menggerutu sejenak, lalu berkata sambil mengerutkan keningnya:

“Apakah orang tua itu seorang yang berusia kira-kira tujuh puluh dan tangannya membawa tongkat bambu?”

“Benar!”

“Oh! Kiranya dia si orang tua.”

Setelah mengucapkan perkataan yang tidak dimengerti oleh Hui Kiam, utusan itu kembali mengangkat tangan memberi hormat seraya berkata pula:

“Terima kasih banyak-banyak!” Kemudian berpaling dan berkata kepada tiga kawannya:

“Mari kita pergi!”

Sebentar kemudian empat orang berbaju hitam itu sudah meninggalkan tempat tersebut.

Hui Kiam bingung menyaksikan kelakuan empat orang itu. Para utusan Perserikatan Bulan Emas itu seharusnya menganggap musuh dirinya, tetapi ternyata tidak demikian. Orang dicari justru sucinya sendiri, sedangkan terhadap orang tua bermata biru yang sangat misterius itu mereka sebut orang tua. Dari golongan apakah sebetulnya orang tua bermata biru itu?

Sementara itu dari tempat yang tidak jauh, tiba-tiba terdengar empat kali suara jeritan ngeri.

Bukan kepalang terkejutnya Hui Kiam. Apakah suara jeritan itu keluar dari mulut empat utusan itu tadi?”

Kepandaian ilmu silat para utusan Persekutuan Bulan Emas di dalam kalangan Kang-ouw sudah terhitung tenaga pilihan kelas satu, siapakah orangnya dalam waktu singkat dapat membinasakan empat orang tua itu tadi?

Mungkin dia. Tong hong Hui Bun? Berpikir sampai di situ semangatnya terbangun. Entah dimana datangnya kekuatan terasa sesaat itu telah melupakan rasa sakit dilukanya. Ia segera berjalan ke tempat tersebut.

Berjalan kira-kira lima puluh tombak jauhnya, benar saja segera dapat lihat empat orang berpakaian hitam itu sudah binasa semuanya.

Siapakah pembunuhnya?

la coba mencari, tetapi tidak kelihatan bayangan seorangpun juga.

Heran, apakah pembunuh itu sudah kabur jauh sehabis melakukan pembunuhan?

Nampaknya perbuatan itu tidak mungkin dilakukan oleh Tong hong Hui-Bun....

Selagi masih berpikir, di belakangnya tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing baginya:

“Penggali Makam, hari kematianmu sudah tiba!”

Hui Kiam terperanjat. Ketika ia membalikkan badan segera berseru: “Oh!”

Jantungnya tergoncang keras. Ia hampir tidak percaya kepada matanya sendiri. Sesaat lamanya ia berdiri tertegun.

Orang yang berdiri di hadapannya, bukan lain daripada si orang berbaju lila.

Manusia buas itu jelas sudah dipaksa terjun oleh Tong-hong Hui Bun, tidak diduga ia ternyata masih hidup. Kejadian ini sesungguhnya tidak habis dimengerti.

Setelah lenyap perasaan herannya, menyusullah perasaan bencinya dan dendamnya.

Kini ia sudah mengetahui bahwa orang berbaju lila itu, juga adalah jago pedang berkedok yang pada sepuluh tahun berselang merupakan musuh besar perguruannya juga merupakan orang yang pernah melukai encinya dan orang yang merampas kitab wasiat Thian Gee Po-kip yang kemudian dihadiahkan kepada Tong-hong Hui Bun. Selanjutnya kitab itu dengan secara tidak terduga-duga telah didapatkan olehnya. Maka jalannya nasib manusia sesungguhnya sangat aneh.

Dengan hati penuh rasa dendam Hui Kiam berkata: “Orang berbaju lila, kau ternyata belum mati?” “Apakah kau merasa heran?”

“Memang begitu!”

“Ha, ha, ha, kalau aku mati, siapa yang membereskan kau dan perempuan cabul tidak tahu malu ini? Ha ha ha. ”

---ooo0dw0ooo---