Pedang Pembunuh Naga Jilid 13

Jilid 13

KEMBALl sepuluh jurus telah dilalui, keadaan kedua pihak masih tetap berimbang.

Pada saat itu, enam Utusan Bulan Emas tiba-tiba turut campur tangan. Dengan demikian keadaan lantas berubah. Hui Kiam merasa tidak leluasa lagi melayani musuh-musuhnya, sedangkan pihak musuhnya menyerang semakin hebat, apabila sedikit lengah lenyaplah nyawanya.

Selagi pertempuran berlangsung sengit, tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri, seorang Utusan Bulan Emas nampak rubuh.

Bersamaan pada saat itu, ujung pedang Koo Han San juga sudah melukai ketiak kiri Hui Kiam sehingga darah mengalir keluar dari badan pemuda itu.... Dalam murkanya Hui Kiam melancarkan serangannya semakin hebat.

Seorang lagi sudah menjadi korban senjatanya.

Dengan cepat tiga Utusan Bulan Emas maju untuk menggantikan kedudukan kawannya yang binasa tadi.

Koo Han San dan Malaikat Bumi, dengan dibantu oleh tujuh anak buahnya, mengurung makin ketat dan menyerang semakin hebat. Agaknya tidak memberi kesempatan lagi pada lawannya.

Di antara suara bentakan keras, pundak kanan Hui Kiam kembali terkena tusukan pedang musuhnya. Luka itu mengeluarkan banyak darah, oleh karenanya keadaannya nampak sangat lelah, gerakan pedangnya perlahan-lahan mulai kehilangan keampuhannya.

Namun demikian, ia tetap bertahan. Dalam hatinya seolah-olah menjerit: aku tak boleh dijatuhkan oleh mereka!

Ingin menembus kurungan yang demikian ketat, ia harus berusaha dulu untuk mengurangi tekanan lawannya. Tetapi tekanan yang dirasakan paling berat hanya Koo Han San seorang. Apabila ia dapat menyingkirkan orang itu, yang lainnya agak mudah dihadapinya.

Pikiran itu secepat kilat terlintas dalam otaknya, maka ia segera mengumpulkan sisa kekuatan tenaganya. Lebih dulu ia mengancam Malaekat Bumi, kemudian menunjukkan serangannya kepada Koo Han San.

Serangan itu dilakukan secara nekad. Setelah terdengar suara beradunya dua senjata yang diseling dengan suara seruan tertahan, Koo Han San dengan badan sempoyongan mundur empat-lima langkah, dadanya merah dengan darah.

Semua orang yang mengerubut Hui Kiam, telah dikejutkan oleh keadaan ini.

Hui Kiam setelah berhasil dengan usahanya, tidak menyia-nyia waktu lagi. Ia mengerahkan sisa tenaganya yang masih ada. Ujung pedangnya ditujukan kearah Malaikat Bumi. Hampir bersamaan pada saat itu, ujung pedang lima Utusan Bulan bintang telah menyerang dengan serentak. Apabila ia tidak merobah gerakannya, sekalipun Malaikat Bumi akan binasa di ujung pedangnya, tetapi ia sendiri juga akan menjadi korbannya kelima pedang itu.

Karena keadaan mendesak, ia terpaksa merobah gerakannya.

Pedangnya digunakan untuk menangkis lima pedang musuhnya.

Sementara itu terlihat pula Koo Han San yang terjun lagi ke dalam kalangan sekalipun masih terluka parah.

Dalam keadaan demikian, Hui Kiam hanya mengandalkan keberaniannya dan kenekatannya. Tetapi apabila keberanian itu mulai berkurang, itu berarti suatu tanda keputusan bagi nasibnya, karena serangan yang gagal dari Hui Kiam tadi, telah memberikan kesempatan bagi musuhnya untuk mengurung semakin ketat.

Satu jurus, dua jurus dan tiga jurus… setiap jurusan dari pihak musuhnya dirasakan bagaikan suatu tekanan yang sangat hebat.

Wajah Hui-Kiam tampak pucat, napasnya sudah mulai memburu. Ia agaknya sudah tidak mampu menggunakan pedangnya untuk menahan serangan musuh-musuhnya.

Saat itu, badannya sudah terkena empat tikaman pedang lagi, matanya dirasakan pula hampir saja ia rubuh. Pakaiannya yang putih sudah berubah merah seluruhnya.

“Murid!” demikian terdengar suara bentakan keras Koo Han San. Malaekat Bumi dan lima utusan segera menarik mundur serangannya.

Badan Hui-Kiam sudah sempoyongan tetapi ia masih memaksakan diri supaya jangan rubuh. Namun demikian, bayangan maut sudah membayangi dirinya. Ia berpikir, kali ini rasanya sangat sulit baginya untuk melepaskan diri dari bencana maut.

Koo Han San berpaling dan berkata kepada Malaekat Bumi: “Kim Hok-hoat, kuserahkan kepadamu!” Malaekat Bumi segera maju mendekati Hui Kiam, lalu berkata dengan suara gemetar:

“Penggali Makam, aku hendak mencincang tubuhmu. Kau keluarkan keberanianmu, untuk disajikan kepada arwah kakakku!”

Hui Kiam sangat murka. Darah menyembur pula dari mulutnya, membasahi muka Malaekat Bumi.

Malaekat Bumi memperdengarkan suara teriakan aneh. Ia sudah mengulur tangannya hendak meyambar dada Hui Kiam....

Dengan mata terbuka lebar Hui Kiam mengawasi tangan Malaekat Bumi, tetapi ia sudah tidak dapat menggerakkan kaki. Pedang di tangannya juga sudah tidak terangkat lagi.

Ia seolah-olah sudah bersedia menghadapi kematian dengan tanpa berdaya.

Dalam saat demikian kritis, tiba-tiba terdengar suara halus nyaring: “Tahan!”

Mendengar suara itu, Malaikat Bumi ketakutan. Dengan cepat ia melangkah lalu melompat mundur.

Seorang perempuan cantik jelita, muncul di tengah-tengah lapangan dengan diiringi oleh delapan orang pengawal perempuan muda.

Perempuan yang baru datang itu bukan lain daripada si cantik misterius Tong hong Hui Bun.

Parasnya yang cantik diliputi oleh hawa amarah yang nampaknya begitu hebat. Ketika sinar matanya tajam menyapu, semua orang- orang Persekutuan Bulan Emas yang ada di situ setiap orang nampaknya ketakutan setengah mati. Hanya Koo Han San seorang saja yang tidak takut. Matanya memancarkan sinar buas dan benci, tetapi hatinya juga agak gemetar.

Semangat Hui Kiam mendadak terbangun lagi. Ia berseru: “Kakak!”

Tetapi kemudian badannya sempoyongan dan akhirnya roboh. Dua pengawal perempuan muda segera melompat maju untuk membawa Hui Kiam menyingkir ke samping dan menghentikan darahnya yang mengalir.

Dengan pandangan mata yang penuh kasih sayang Tong hong Hui Bun mengawasi Hui Kiam sejenak, kemudian berpaling dan berkata kepada Koo Han San:

“Koo Ciongkam, kau masih ingin berkata apa lagi?”

Koo Han San mundur satu langkah. Dengan suara agak gemetar ia berkata:

“Aku si orang she Koo karena merasa kekuatanku sendiri yang masih lemah, sangat menyesal tidak dapat membunuh dengan tangan sendiri kau perempuan yang sangat rendah martabatmu. ”

“Tutup mulut!” demikian Tong hong Hui Bun membentak dengan suara bengis. Dengan tanpa mengunjukkan gerakan apa-apa, ia sudah berada di hadapan Koo Han San lalu ayunkan tangannya.

Suara jeritan ngeri telah terdengar. Koo Han San sudah roboh sambil menyemburkan darah dari mulutnya, sedikitpun tidak mampu melawan.

Tong hong Hui Bun memperdengarkan suara tertawa dingin lalu berpaling dan berkata kepada Malaikat Bumi:

“Kim Hok hoat, kau masih menunggu apalagi?” Malaikat Bumi berkata sambil tertawa keras.

“Aku akan menantikan kedatanganmu di dunia akherat!”

Sehabis berkata demikian, lalu menusukkan pedangnya ke dada sendiri. Badannya lalu roboh tersungkur di tanah….

Hui Kiam yang rebah tertelentang di samping ingatannya masih belum hilang. Ketika menyaksikan keadaan demikian, diam-diam bergidik. Ia tidak menyangka bahwa wanita pujaannya itu sedemikian berwibawa, sehingga seolah-olah sudah menguasai mati hidupnya orang-orang Bulan Emas. Tong-hong Hui Bun kemudian mengalihkan pandangan matanya ke arah para Utusan Perserikatan Bulan Emas yang berdiri dengan badan gemetar.

Belum lama berselang para Utusan Bulan Emas ini mendapat perintah untuk menghubungi partai-partai persilatan supaya menggabungkan diri dengan Persekutuan Bulan Emas.

Setiap partai persilatan yang dihubunginya tiada satupun yang berani memandang ringan. Kalau tokh ada juga orang yang berani menentang mereka itu tidak sanggup melawan kepandaiannya, sehingga para utusan itu telah malang-melintang dan menganggap dirinya seorang gagah yang disegani oleh musuh-musuhnya. Tetapi sekarang di hadapannya Tong hong Hui Bun, semua orang dari para utusan itu nampaknya sangat kecil lemah dan tidak berarti apa-apa. Alangkah ganjilnya keadaan itu.

Kepandaian Tong-Hong Hui Bun sama dengan kecantikannya, sudah mencapai ke tingkat yang tidak ada tandingannya.

Sepuluh Utusan Bulan Emas, setiap orang bagaikan kambing menantikan nasibnya hendak disembelih. Keadaan itu sangat menyedihkan. Mereka setiap orang merupakan orang-orang kuat kelas satu dalam dunia Kang-ouw, tetapi sekarang mereka telah menghadapi ancaman maut, sama sekali tidak mempunyai kekuatan untuk memberi perlawanan. Tetapi tidak seorang pun yang menunjukan sikap minta dikasihani. Mungkin mereka tahu bahwa kematian itu tidak dapat dihindarkan. Mungkin juga itu ada sifat aslinya orang gagah.

Di antara pengawal perempuan muda itu ada seorang yang berkata dengan suara nyaring:

“Silahkan tuan-tuan bertindak sendiri, jangan membuang waktu!”

Salah satu di antaranya para utusan itu lalu memperdengarkan suaranya:

“Bengcu, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi!”

Setelah itu lalu menggorok lehernya sendiri dan roboh binasa. Tindakan utusan itu disusul oleh kawan-kawannya sehingga dalam waktu sekejap mata saja para utusan itu semua sudah menghabiskan jiwanya sendiri di hadapannya perempuan cantik itu.

Ini mungkin merupakan suatu pembunuhan massal yang paling kejam di dalam dunia. Di bawah tekanan pengaruh yang tidak kelihatan, tiap orang sudah mengahiri hidupnya sendiri tanpa melawan.

Hui-Kiam hampir tak percaya bahwa semua itu adalah suatu kejadian yang sebenarnya. Apakah kedudukan sebenarnya Tong- hong Hui Bun ini?

Mengapa ia dapat menguasai jiwa manusia dengan begitu mudah? Apalagi orang yang binasa itu semua bukan orang-orang sembarangan.

Saat itu Tong-hong Hui-Bun sudah mengeluarkan perintah: “Kubur jenazah mereka!”

Delapan pengawal perempuan itu dengan serentak bergerak melakukan perintah junjungannya.

Tong-Hong Hui-Bun lalu menghampiri Hui Kiam. Ia berjongkok, alisnya dikerutkan. Dengan sikap menyayang ia memeriksa semua luka di badan Hui Kiam, kemudian berkata:

“Adik, kau merasakan bagaimana badanmu?”

Suara itu halus merdu sehingga hati Hui Kiam tergoncang hebat.

Sambil tertawa masam ia menjawab: “Tidak apa-apa!”

“Sakitkah?”

“Masih sanggup bertahan!” “Bisa jalan?”

Dengan kedua tangannya Hui Kiam menekan tanah. Badannya lompat ke atas. Rasa sakit membuat ia mengeluarkan suara rintihan tanpa sengaja, kemudian matanya berkunang-kunang, sehingga badannya roboh lagi. Satu lengan tangan putih halus, menahan badannya yang akan roboh.

Ia menenangkan hatinya. Sambil tersenyum meringis ia berkata: “Kakak, beginilah keadaanku sekarang, seolah-olah sudah tidak

berguna sama sekali.”

“Adik, kepandaian yang kau miliki, sudah susah dicari bandingannya!”

“Kakak….”

Ia masih ingin berkata sesuatu, tetapi seolah-olah tidak dapat keluarkan dari mulutnya. Sewaktu dua pasang pandangan mata saling beradu, semua kata-katanya seolah-olah sudah terucapkan dalam pandangan matanya.

“Adik, mari kita keluar, paling penting mengobati lukamu lebih dulu!”

Hui Kiam badannya terangkat oleh Tong-hong Hui Bun. Sesaat kemudian sudah berada dalam pangkuannya.

Hui Kiam lalu berkata dengan suara cemas:

“Kakak, sekujur badanku penuh darah, pakaianmu. ”

“Adik!”

Tong-hong Hui Bun lalu meletakkan Hui Kiam dalam pelukannya. Pemuda yang berperawakan tegap itu, bentuk badannya lebih besar daripada Tong-hong Hui Bun, sehingga dipeluk sedemikian rupa, merupakan suatu pemandangan yang agak ganjil.

Dalam pelukan si cantik jelita, rasa sakit Hui Kiam agaknya sudah lenyap semuanya, hanya jantungnya yang dirasakan bergoncang sedemikian keras.

Di luar lembah menunggu sebuah kereta besar yang sangat mewah. Dua pengawal perempuan muda berdiri di depan kereta. Empat ekor kuda putih mulus yang akan menarik kereta itu, juga sedang menantikan dengan tenang. Di atas kereta duduk seorang perempuan tua berambut putih dengan pakaian yang serba hitam.

Tiba di depan kereta, salah seorang pengawal perempuan muda itu buru-buru menyambut dan membuka tutup kereta:

Perempuan tua berbaju hitam itu berpaling dan bertanya: “Dia itukah?”

Hui Kiam yang menyaksikan perempuan tua itu, nampaknya amat terperanjat, karena paras wanita itu sangat buruk. Matanya sipit, hidungnya pesek dan sepasang bibirnya teba. Di paras kulitnya yang hitam sudah banyak berkerut. Dibandingkan dengan kecantikan Tong Hong Hui Bun merupakan suatu perbandingan yang amat menyolok.

Tong Hong Hui Bun sebaliknya nampak sangat menghormati perempuan jelek itu. Ia berkata dengan nada sangat menghormat:

“Bibi Bwee, ia terluka sangat parah!”

“Letakkanlah ke dalam kereta, biar nanti kuperiksa!” “Mungkin kita harus lekas pulang!”

Setelah berkata demikian, ia lalu masuk ke dalam kereta sambil menundukkan kepalanya. Bau harum menusuk hidung Hui Kiam sehingga menggoncangkan hati pemuda itu lagi.

Dalam kereta itu ternyata diperlengkapi tempat tidur yang sangat mewah.

Hui Kiam diletakkan di atas pembaringan. Perempuan tua yang disebut bibi Bwe oleh Tong hong Hui Bun itu ikut masuk ke dalam kereta. Setelah memeriksa semua luka di badan Hui Kiam lalu berkata:

“Jikalau tidak diobati dengan obat mujarab golongan kita, luka ini akan berobah menjadi bintik-bintik dan tanda bekas luka yang sangat jelek. Nona, ia telah kehilangan darah terlalu banyak, begitu juga tenaga murninya, kalau bukan karena latihan kekuatan tenaganya yang sudah sempurna, barangkali tidak dapat disembuhkan lagi. Kita harus segera pulang, supaya ia dapat tidur dengan tenang. Jikalau tidak, ia tidak sanggup menahan rasa sakit karena tergoncangnya dalam kereta ini!”

Perempuan tua itu dipanggil bibi oleh Tong hong Hui Bun, sedang ia bahasakan Tong-hong Hui Bun nona, entah bagaimana hubungan yang sebenarnya antara dua perempuan itu?

Perempuan tua itu setelah berkata demikian lalu keluar lagi. Hui Kiam segera bertanya kepada Tong hong Hui Bun: “Siapakah dia?”

“Dia adalah Hek Bwee Hiang, pelayan ibu sejak masih muda. Adalah ia yang merawat aku sehingga dewasa. Kepandaianku sebahagian besar juga merupakan warisan kepandaiannya.”

“Apakah kepandaian bibi Bwee masih di atas kakak?” “Masih lebih tinggi satu dua tingkat!”

“Bukankah itu sudah mencapai ke suatu taraf yang tidak taranya?”

“Belum tentu, dalam rimba persilatan kepandaian ilmu silat merupakan suatu hal yang sangat aneh.   Yang sudah dianggap tinggi ternyata masih ada yang lebih tinggi lagi!”

“Tetapi setidak-tidaknya sudah susah menemukan tandingan?” “Mungkin.”

“Sekarang kita hendak kemana?” “Ke tempat kediamanku.” “Dimana?”

“Aku beritahukan kepadamu, kau juga tidak tahu. Tempat itu letaknya sangat terpencil.”

“Apakah ini juga merupakan sebahagian rahasia kakak?” “Barulah begitu.”

“Jauhkah letaknya?” “Kira-kira memerlukan perjalanan setengah hari.” “Seratus pal?”

“Kurang lebih begitu. Aku sekarang hendak menotok jalan darah tidurmu.”

“Demikian kita omong-omong bukankah lebih baik?”

“Untuk mengejar waktu, kita harus melarikan kuda lebih pesat tetapi kau tidak sanggup menahan.”

Sehabis berkata, dia mencium jidat Hui Kiam. Ciuman itu bagaikan satu ciuman ibu kepada anaknya. Hui Kiam bagaikan terkena strom listrik. Sesaat kemudian jalan darah tidurnya dirasakan kesemutan, ia lalu hilang ingatannya.

Entah berapa lama telah berlalu, ketika ia siuman dan membuka matanya ia lalu merasakan sangat berbeda pemandangan dan keadaan di sekitarnya. Ternyata saat itu ia sudah berada di suatu tempat tidur yang sangat mewah.

Tempat itu nampaknya tenang dan sunyi. Sejak kanak-kanak hingga dewasa, jangankan pernah tidur di tempat demikian, melihat sajapun belum pernah keadaan tempat tidur yang demikian mewah.

Disini, sebetulnya, merupakan tempat kediaman Tong-Hong Hui Bun, bahkan kamar ini mungkin kamarnya sendiri.

Sekarang ia memikirkan dengan cara bagaimana harus membalas budi perempuan cantik itu?

Ia coba membalikkan badannya ternyata sudah tidak merasakan sakit, ia hanya merasakan suatu ikatan yang tidak wajar. Ketika ia meraba dengan tangannya ia baru tahu bahwa sekujur badannya dibungkus oleh kain sutra putih. Tinggal celana dalamnya yang juga sudah diganti baru yang tidak terbungkus.

Pada saat itu, sesosok bayangan orang bergerak perlahan menghampiri tempat tidurnya dengan tanpa bersuara!

Hati Hui Kiam hampir terlompat keluar.   Dengan suara perlahan ia memanggil: “Kakak!”

Tidak ada jawaban. Ketika ia memandang dengan seksama, ternyata orang perempuan yang datang itu adalah seorang pengawal yang muda, sehingga dengan perasaan tidak enak ia bertanya:

“Nona siapakah?”

Perempuan muda itu tidak menjawab, hanya orangnya sedang berada di depan pembaringan. Terpisah oleh kelambu ia tidak kelihatan dengan tegas, tetapi samar-samar dapat dilihatnya perempuan itu berparas cantik.

Sebuah tangan yang putih halus, membuka kelambu. Sebuah paras yang cantik tetapi dingin terbentang di depan mata Hui Kiam. Paras itu tidak asing bagi Hui Kiam, tetapi bukan salah satu dari delapan pengawal perempuan yang pernah dilihatnya di dalam lembah. Hanya untuk sesaat itu ia sudah tidak ingat di mana ia pernah melihatnya.

“Penggali Makam, apakah kau masih ingat diriku?”

Nada suaranya sangat dingin, sedangkan sinar matanya mengunjukkan perasaan benci dan dendam.

Hui Kiam terkejut, tetapi sekonyong-konyong ia teringat siapa adanya perempuan itu, lalu berkata:

“Nona adakah Tang Hian Kun?”

“Kau tentunya tidak menduga, bukan?”

Ya, Hui Kiam sedikitpun tidak menduga bahwa cucu perempuan Sam Goan Lojin itu ternyata sudah menjadi pelayan Tong-hong Hui Bun. Waktu Sam Goan Lojin dibasmi oleh tangan-tangan orang jahat, di antara begitu banyak bangkai manusia tidak terdapat bangkainya Tang Hian Kun. Benar saja, saat itu ia sudah lolos dari bencana maut itu.

“Nona Tan.   “ “Penggali Makam dengarlah, aku sekarang hendak membunuh kau!”

“Apakah kau. ”

Tangan Tan Hiang Kun bergerak. Sebilah belati tajam mengkilat, telah mengancam dada Hui Kiam....

Hui Kiam terperanjat, karena saat itu kepandaiannya belum pulih kembali, sekujur badannya terbungkus dengan kain sutra, sehingga tidak bisa bergerak dengan leluasa, apalagi saat itu ia sedang rebah terlentang merupakan kesempatan paling baik bagi orang untuk bertindak terhadap dirinya.

“Nona Tan, sudikah kiranya kau mendengarkan sedikit keteranganku?”

“Kau ingin berbuat apa?”

“Apakah nona lantaran urusan barang antaran kepala manusia itu?”

“Kalau kau mengerti sudah cukup.”

“Kala itu aku dipermainkan oleh orang lain. Di samping itu, urusan ini juga sudah diselesaikan oleh orang yang berkepentingan sendiri.”

“Orang yang berkepentingan? Siapa?” “Wanita Tanpa Sukma!”

“Dimana orangnya?” “Sudab meninggal!”

“Penggali Makam, tidak guna kau menyangkal. Hutang darah harus dibayar dengan darah.”

“Nona, dengarlah habis kata-kataku ”

Tan Hiang Kun berkata dengan suara bengis:

“Kau mengharap ada orang datang menolong? Jangan pikir yang bukan-bukan!” Belati di tangan Tan Hiang Kun dengan cepat ditujukan kepada Hui Kiam....

Semacam daya perlawanan dengan sendirinya telah timbul. Hui Kiam meskipun masih belum leluasa bergerak, tetapi sambil berseru keras, ia masih dapat menyerang dengan tangannya secara nekad. Walaupun ia belum sembuh dari lukanya yang parah, tetapi dengan kekuatan dan kepandaian yang dimiliki olehnya, daya perlawanan dalam keadaan sangat kritis itu, ternyata masih tidak boleh dianggap remeh.

Hembusan angin yang keluar dari serangan tangannya itu, telah membuat terpental dirinya Tan Hiang Kun, sehingga mundur sampai tiga langkah.   Dalam hal ini, nona itu ternyata sudah salah hitung. Ia tidak menyangka kalau Hui Kiam masih mempunyai tenaga untuk memberi perlawanan, jikalau tidak ia pasti tidak akan bertindak begitu gegabah.

Tetapi Hui Kiam sendiri karena menggunakan kekuatan tenaga dalamnya, luka-luka sekujur badannya kambuh lagi, rasa sakit membuat dirinya pingsan.

Waktu sadar, dua tangannya dirasakan tergenggam erat oleh sepasang tangan halus.

Ketika ia membuka mata, sepasang sinar mata jeli dan penuh rasa kasih sayang sedang memandang kepadanya. Mata itu bukan lain daripada matanya Tong-hong Hui Bun.

Perasaan pertama yang timbul dalam hatinya ialah ia masih belum binasa di ujung belati Tan Hiang Kun.

Tong-hong Hui Bun dengan suara lemah lembut berkata:

“Adik, aku terlalu gegabah. Hampir saja menerbitkan bencana yang membuat kemenyesalan seumur hidup!”

Dalam hati Hui Kiam timbul perasaan manis. Ia lalu berkata sambil tersenyum:

“Kakak, entah bagaimana aku harus membalas budimu?” Tong-hong Hui Bun melepaskan tangannya yang menggenggam sepasang tangan Hui Kiam, dengan perlahan mengusap-usap muka Hui Kiam lalu berkata dengan suara lemah lembut:

“Adik, kau tidak usah berkata demikian, asal di dalam hatimu mengingatku selamanya aku sudah merasa puas.”

Hui Kiam merasa tidak seperti dapat menguasai dirinya sendiri, seluruh perasaannya sudah dibikin lumer oleh api asmara. Ia memejamkan matanya, untuk menikmati tangan halus yang bergerak di kedua pipinya. Mulutnya mengeluarkan kata-kata bagaikan dalam impian:

“Kakak, kau merupakan sebagian dari jiwaku.” “Adik ”

Sepasang bibir yang hangat mengecup pipinya. Ia membiarkan dirinya berada dalam pelukan perempuan cantik itu.

Ia merasakan darahnya mengalir semakin kencang, jantungnya berdebar semakin keras. Suatu perasaan aneh yang belum pernah timbul selama ini, seolah-olah membakar sekujur badannya.

Dengan tanpa menguasai dirinya sendiri ia membentangkan kedua lengannya untuk balas memeluk tubuh Tong hong Hui-Bun yang langsing itu.

Suatu perasaan telah merangsang otaknya. Mereka agaknya masih belum cukup merasa puas hanya dengan begitu saja....

Selagi hampir tidak dapat menguasai perasaan masing-masing, Tong hong Hui-Bun tiba-tiba melepaskan tangan Hui Kiam dan berkata dengan suara memburu:

“Adik, kau tidak boleh berbuat demikian. Rawatlah lukamu baik- baik, itulah yang penting!”

Perkataan Tong-hong Hui Bun itu seolah-olah air dingin yang menyiram api asmara yang sedang berkobar. Hui Kiam membuka matanya. Ia dapat melihat bahwa perempuan cantik itu masih memandang kepadanya dengan mata penuh kasih sayang. Ia masih hendak memeluk lagi, tetapi dicegah oleh Tong-hong Hui Bun.

“Adik, lukamu tidak ringan, pikirlah akibatnya!”

Perangai Hui Kiam yang kokoh tinggi hati dan sombong, kala itu ternyata menguasai dirinya lagi. Akal budinya telah berkata sambil tertawa menyeringai:

“Kakak, maafkan aku!”

“Adik, ini bagaimana dapat dikatakan maaf. Nanti setelah lukamu sembuh….”

Ia sengaja tidak melanjutkan ucapannya, tetapi agaknya sudah dimengerti oleh Hui Kiam.

Tiba-tiba ia teringat kejadian sangat berbahaya yang mengancam dirinya tadi. Maka lalu berkata sambil kerutkan alisnya:

“Kemana dia ?”

Kau maksudkan si budak hina Tan Hiang kun?” “Ya !”

“Ia sudah tidak ada alasan untuk diberi hidup lagi….” Hui Kiam bertanya dengan perasaan terkejut.

“Aku tidak bisa bertindak sendiri!” “Tetapi di mana orangnya sekarang?”

“Dalam tahanan untuk menantikan hukumannya.” “Aku ingin bertemu dengannya!”

“Kau... ingin bertemu dengannya, mengapa?”

“Ada sedikit hal aku perlu menjelaskan kepadamu. Ia mengalami kejadian yang patut dikasihani maka perbuatannya itu dapat dimaafkan!”

“Baik, kuiringi kehendakmu!” Sehabis berkata, ia menekan di suatu tempat dekat pembaringan. Seorang pengawal perempuan muda segera muncul dengan tindakan tergesa-gesa.

“Bawa itu perempuan hina itu kemari!” demikian Tong-hong Hui Bun memberikan perintah.

“Baik.”

Pengawal perempuan itu berlalu. Tidak antara lama, Tan Hiang Kun sudah dibawa masuk ke kamar oleh dua orang pengawal perempuan muda.

Hui Kiam dengan setengah duduk dan menutup tubuhnya dengan selimut. Tong-hong Hui: Bun menyingkap kelambu, dan pengawal perempuan itu lalu menghadapkan Tan Hiang Kun ke depan Hui Kiam.

Tan Hiang Kun dengan rambut terurai dan pakaian tidak terurus, mengawasi Hui Kiam dengan sinar mata bengis.

Hui Kiam berkata dengan suara tenang:

“Nona Tan, semula ketika aku hendak berkunjung ke perkampungan, di tengah jalan telah dipermainkan oleh Wanita Tanpa Sukma. Ia minta aku membawakan barang antaran yang ternyata yang di dalamnya terisi kepala manusia. Kejadian itu sesudahnya membuat aku merasa sangat tidak enak, sehingga aku perlu menjelaskan dan menyelesaikan sendiri pada kakek dan ayahmu ”

“Hem!”

“Dengarlah habis dulu keteranganku ini. Bakal suami nona ialah Auw Yang Khie sebetulnya adalah kekasih wanitanya Wanita Tanpa Sukma. Mereka berdua bukan saja sudah mengikat janji sehidup semati, bahkan sudah menjadi suami istri yang belum resmi, karena Wanita Tanpa Sukma itu sudah mengandung.”

Tan Hiang Kun nampaknya terkejut. Ia bertanya: “Apakah keterangan ini benar?” “Tidak ada faedahnya bagiku untuk membohongi kau. Nyonya Auw-yang Khien boleh menjadi saksi hidup, karena Wanita Tanpa Sukma pernah menjelaskan duduk perkaranya kepadanya!”

“Apa dikarenakan Wanita Tanpa Sukma membunuhnya?” “Tepat!”

“Setelah membunuh orangnya lalu menyuruh orang mengantarkan kepalanya ke rumahku….”

“Nyonya Tan kau juga seorang perempuan. Kau tentunya dapat menggambarkan seorang gadis yang masih suci dan putih bersih, bagaimana perasaannya apabila dipermainkan oleh seorang pemuda yang justru dicintainya? Maksudnya mengantarkan kepala itu, di satu pihak sudah  tentu untuk melampiaskan amarahnya.

Aku sudah tak merasakan kebahagiaan lagi.

“Wanita Tanpa Sukma telah melampiaskan kemarahannya kepada pemuda-pemuda jahat yang tidak berperasaan. Ia membunuh semua pemuda bangor dengan otak dingin, tetapi akhirnya ia juga mati terbunuh.”

Tan Hiang Kun merasa pilu, air mata mengalir bercucuran.

Kemudian ia berpaling dan berkata kepada Tong-hong Hui Bun: “Harap berikan hukuman mati kepada budakmu ini!”

Dengan paras dingin Tong-hong Hui Bun berkata sambil mengulapkan tangannya:

“Bawa keluar!”

Hui Kiam tiba-tiba berkata:

“Tunggu dulu.”

“Apakah perkataan adik belum habis?”

“Bukan! Bukan, aku ... minta supaya kakak bebaskannya!” “Apa? Kau mintakan ampun untuknya?”

“Anggaplah begitu!” “Adik, dibawa namaku aku tidak mengijinkan ada orang yang berkhianat.”

Wajah Hui Kiam segera berubah, ia berkata:

“Apakah maksud kakak tidak meluluskan permintaan adikmu ini?”

Tong hong Hui Bun mengerutkan alisnya, lama tidak membuka suara, nampaknya ia sedang berpikir keras. Di satu pihak ia harus mempertahankan peraturan dalam partainya, tetapi di lain pihak ia merasa berat akan menolak permintaan dari pemuda itu. Maka sesaat lamanya ia tidak bisa mengambil keputusan.

Hui Kiam yang menampak perempuan pujaannya itu diam saja, hatinya merasa tidak enak. Sejak muncul di dunia Kang-ouw, belum pernah ia minta pertolongan lain orang, dan sekarang untuk pertama kalinya ia minta tolong, dan orang yang dimintai pertolongan itu justru merupakan orang dalam pujaan hatinya namun ternyata tidak berhasil. Bagi orang lain mungkin tidak apa- apa, tetapi bagi seorang yang beradat tinggi hati dan kokoh seperti Hui-Kiam ini pukulan itu dirasakan sangat hebat. Maka seketika itu ia lalu berkata pula dengan suara dingin:

“Kakak, tidak usah menyusahkan hatimu, semua hak berada di tanganmu!”

Tong-hong Hui-Bun membalikkan kepalanya lalu berkata sambil tersenyum:

“Adik, andaikata aku tidak terima permintaanmu, bagaimana?” “Sudah tentu aku yang rendah tidak dapat memaksa.”

“Apa? Kau yang rendah? Adik, apakah kau marah?”

“Aku tidak berani. Sudah terang banyak aku berhutang budi kepadamu, rasanya masih belum sanggup membayar.”

“Adik, jikalau aku pura-pura menerima baik permintaanmu, tetapi kemudian secara diam-diam aku membunuhnya, bagaimana? Akan tetapi aku tidak dapat berbuat demikian. Lebih suka aku membohongi diriku sendiri juga tidak suka membohongi kau!” Ucapan perempuan cantik itu benar-benar telah memberi kesan dalam sekali kepada Hui Kiam.

Sementaira itu Tan Hiang Kun lalu berkata:

“Penggali Makam, budimu aku terima di dalam hati. Harap kau jangan mintakan ampun jiwaku!”

Hui Kiam berkata sambil tertawa getir:

“Itu memang benar. Tetapi bagi aku, setelah mengambil sesuatu keputusan, tidak akan aku robah.”

Tong hong Hui Bun sudah tentu dapat mengerti maksud ucapan Hui Kiam itu.  Maka lalu berkata:

“Suruh ia pergi!”

Dua pengawal perempuan itu segera lepaskan tangannya. Lebih dulu Tan Hiang Kun memberi hormat dan mengucapkan terima kasih kepada Tong hong Hui Bun yang memberikan ampun kepadanya, kemudian berkata kepada Hui Kiam:

“Kalau aku benar-benar tidak mati, aku akan selalu ingat budimu ini.”

“Sudahlah nona, kau jangan pikirkan itu!”

Tan Hiang Kun meninggalkan kamar itu. Dua perempuan pengawal juga berlalu setelah memberi hormat kepada junjungannya.

Setelah mereka berlalu, Hui Kiam berkata kepada To-hong Hui Bun:

“Kakak, aku harus sudah berterima kasih kepadamu.”

Tang-hong Hui Bun dengan sikap manja melirik kepadanya sejenak, lalu berkata:

“Adik, encimu ini selamanya tak mau dengar perintah orang lain, tetapi terhadap kau... aku tidak bisa kata apa-apa.”

“Ini suatu bukti betapa besar cintamu terhadap diriku.” “Adik, kau beristirahatlah. Sebentar kalau lukamu pecah lagi dan harus diobati lagi, kau harus merebah terlentang di atas pembaringan sepuluh hari lamanya. ”

“Begitulah, tetapi ini bukan berarti kau harus rebah terlentang terus-terusan, masih bergerak di dalam kamar. Sepuluh hari kemudian, kau baru sembuh seluruhnya.”

“Kakak, apakah. aku ada harganya kau cintai demikian?”

“Adikku yang tolol, sudah tentu!”

Sehabis berkata, kembali ia mencium jidat Hui Kiam dan berlalu dari kamar.

Hui Kiam sebetulnya ingin menanyakan riwayat wanita cantik itu, tetapi karena mengingat bahwa dirinya sendiri juga dirahasiakan, terpaksa ia mengurungkan maksudnya.

Begitu Tong hong Hui Bun berlalu, kamar dirasakannya kosong dan sunyi senyap. Hui Kiam terlentang sejenak. Telah dapat lihat barang-barang dan pakaian di tempat pembaringannya, nampaknya khusus disediakan untuknya. Ia turun dari pembaringan setelah menggerakkan sebentar kaki dan tangannya ia rasakan bahwa gerakannya tidak terganggu, maka segera memakai baju luarnya dan berjalan keluar.

Di luar jendela, merupakan suatu taman buatan manusia. Di situ terdapat banyak tanaman bunga beraneka warna, tetapi keadaannya sunyi tidak kelihatan bayangan seorangpun juga.

Ia berdiri melamun sejenak, lalu mengaca di depan kaca. Dari bayangan kaca ia telah mendapatkan bahwa dirinya menjadi kurus.

Di dekat kaca, terdapat sebuah pintu kecil yang menembus ke lain kamar. Dalam isengnya, Hui Kiam mendorong pintu kecil itu. Kamar itu ternyata merupakan kamar buku. Keadaannya bersih. Di situ terdapat banyak lukisan-lukisan gambar-gambar dan tulisan dari jaman kuno, hanya kitab buku bacaan yang jumlahnya tidak banyak. Dalam keadaan beristirahat dan merawat sakitnya, buku bacaan merupakan kawan yang paling baik untuk melewatkan waktu senggang.

Setindak demi setindak ia berjalan masuk. Lebih dulu ia melihat gambar-gambar dan tulisan yang tergantung di atas tembok, kemudian menuju ke rak buku. Ketika ia memeriksa buku-buku itu, terkejutlah hatinya, karena buku-buku itu bukan merupakan buku bacaan biasa melainkan buku kitab pelajaran ilmu silat dan ilmu pedang.

la sungguh tidak menduga bahwa seorang perempuan ternyata dapat mengadakan koleksi buku-buku pelajaran ilmu silat yang begitu luas.

Buku-buku semacam itu, kebanyakan merupakan kitab wasiat, yang tidak digunakan sebagai kitab umum. Hui Kiam juga mengerti aturan itu. Ia berpikir, walaupun tidak usah mempelajari isinya, tetapi untuk melihat sejenak juga tidak halangan. Lalu sejilid demi sejilid buku-buku itu diperiksanya. Tatkala ia memeriksa ke bagian yang terakhir, sesaat ia bagaikan terpagut ular, napasnya juga merasa sesak. Apa yang dilihat sesungguhnya merupakan kejadian yang tidak terduga-duga.

Kitab yang ia baru periksa itu hanya merupakan kitab yang tidak seberapa tebal yang terlapis dengan kain sutra muda.   Di bagian atas kitab itu sudah tidak ada.   Di bagian kulit terdapat tulisan empat huruf timbul yang berbunyi: Thian Gie Po-kip.

Bukankah itu kitab pelajaran ilmu silat yang dia sedang cari-cari dan impi-impikan tiap malam?

Bagaimana kitab pusaka itu bisa terjatuh di tangan Tong-hong Hui Bun?

Ini sesungguhnya merupakan suatu pertanyaan yang sulit dijawab.

Menurut keterangan anak angkat perempuan Jin Ong, juga yang menjadi ibu angkat dari Wanita Tanpa Sukma, ketika sucinya Pui Cen Un terluka parah, sepotong uang logam itu ia serahkan kepada Wanita Tanpa Sukma, serta berkata bahwa barang itu sudah terjatuh di tangan musuh lama ialah jago pedang berkedok itu. Kalau itu benar sudah terjatuh di tangan jago pedang berkedok, bagaimana bisa muncul di sini? Apakah Tong-hong Hui Bun mempunyai hubungan apa-apa dengan jago pedang berkedok itu?

Berpikir sampai di situ dengan tanpa dirasa badannya lalu menggigil sendiri, karena apabila betul demikian, maka si cantik jelita pujaan hatinya itu, adalah musuh besarnya sendiri. Hal ini sesungguhnya terlalu menakutkan dan terlalu kejam.

Ia mengharap supaya mendapat keterangan dari mulut perempuan cantik itu sendiri.

Ia juga mengharap bahwa dugaannya itu bukan merupakan suatu fakta, tapi ada sebabnya.

Kini ia baru merasakan bahwa ia sudah jatuh cinta begitu dalam terhadap diri perempuan cantik itu. Ia takut bahwa roman itu akan berobah menjadi suatu tragedi yang menyedihkan.

Akan tetapi, di dalam khawatir dan takut seperti itu, terdapat suatu perasaan girang, karena barang yang selama itu dicari-cari akhirnya telah didapatkan.   Jikalau ia telah berhasil mempelajari ilmu silat yang tertulis di dalamnya, maka tidak terlalu jauh baginya untuk dapat menyelesaikan tugasnya menuntut balas dendam.

Dengan cepat ia mengeluarkan buku itu dan mulai membacanya. Lembar pertama, juga merupakan bagian yang disobek,

merupakan pelajaran ilmu pedang yang terdiri cuma satu jurus, juga adalah itu ilmu pedang yang pernah dipelajarinya sendiri dan sudah digunakan berulang-ulang. Tetapi bagian pelajaran selanjutnya ternyata lebih hebat daripada jurus yvang pertama. Gerak tipu ini dinamakan Bintang Beterbangan di Langit, sedang gerak tipu yang pertama dinamakan Melempar Pecut Memotong Aliran. Jurus ke- tiga dinamakan Tiang Menjulang ke Langit. Ilmu pedang itu seluruhnya hanya terdiri dari tiga jurus gerak tipu.

Lrembar ke-tiga memuat jurus ilmu pukulan tangan kosong. Ilmu pukulan itu dinamakan Tangan Sakti dari pelajaran Thian Gee. Walaupun hanya satu jurus, tetapi keterangannya dan gambar- gambar yang digunakan untuk memberi contoh ternyata memakan tempat sampai lima lembar banyaknya. Dapat dibayangkan betapa dalam dan hebatnya ilmu pelajaran itu.

Selanjutnya adalah ilmu pukulan dengan menggunakan jari tangan dan gerakan kaki untuk berkelit atau menyingkir dari serangan musuh.

Di bagian terakhir merupakan penjelasan umum seluruh pelajaran itu.

Kepandaian Hui Kiam memang didapat dari bagian atas kitab Thian Gee Po-kip itu dan kini telah dapat bagian lanjutnya yang ada hubungan dengan bagian pertama. Tidaklah heran setelah ia membaca bagian terakhir ini, segera dapat melihat dan memahami intisari dari pelajaran yang sangat hebat itu. Jikalau tidak ada penjelasan umum itu, maka setiap jurus gerak tipu, tidak dapat mengeluarkan kehebatannya. Selain daripada itu, dalam pelajaran untuk melatih dan memupuk kekuatan tenaga dalam, juga diberikan keterangan sejelas-jelasnya.

Sebaliknya, apabila tidak mempunyai dasar dari pelajaran yang didapatkan dalam bagian atas, juga tidak berdaya untuk memahami pelajaran yang tertulis dalam bagian bawah.   Dan apabila tidak dapat kitab bagian bawahnya maka pelajaran yang didapat dari bagian atas juga tidak dapat menunjukkan seluruh faedahnya.

Kitab Thian Gee Po-kip sebetulnya memang satu jilid, tetapi karena penciptanya Tho-tee, semula takut kitab itu akan terjatuh di tangan musuh, maka ia dirobek menjadi dua bagian oleh ia sendiri dan Hwe-tee masing-masing satu bagian. Tho tee bertugas mencari seorang yang berbakat untuk mewarisi pelajaran itu. Ia menggunakan uang logam dibelah dua sebagai barang tanda kepercayaan, agar supaya kitab itu bisa bersatu. Tindakan itu ternyata benar, karena siapapun yang mendapatkan kitab bagian bawah itu, akan merupakan barang yang tidak ada gunanya. Sedangkan pelajaran yang ditulis bagian atas, setelah ia turunkan kepada Hui Kiam, kitab itu dimusnahkan. Ini berarti kecuali Hui Kiam seorang, di dalam dunia ini sudah tidak ada orang lain yang dapat mempelajari ilmu silat itu.

Hui Kiam adalah seorang cerdik, dalam waktu sangat singkat itu, sudah dapat menyadari maksud suhunya.

Tindakan yang sangat perlahan dan halus terdengar di belakangnya. Ia dapat menduga siapa orangnya tetapi ia tidak menoleh, masih tetap membaca bukunya dengan tenang, hanya dalam hatinya sedang memikirkan bagaimana harus membuka mulut untuk menanyakan soal ini.

Orang yang datang itu memang benar adalah Tong-hong Hui Bun. Suaranya yang penuh daya penarik, membuat Hui Kiam sesaat merasa berdebar. Ia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ia mengetahui persoalan yang menyangkut kitab wasiat itu.

“Adik, kamar buku ini cukup menyenangkan bagimu?” Tong Hong Bui Bun bertanya.

“Sangat baik!”

“Kau sedang membaca buku?” “Ya!”

“Buku-buku di atas rak, kau boleh membacanya sesukamu. Nanti setelah sembuh lukamu, mungkin akan dapat sedikit faedahnya.”

Hui Kiam menutup bukunya, perlahan-lahan membalikkan badannya. Apa yang ia hadapi masih tetap paras si cantik yang menyilaukan itu, yang penuh kasih sayang dan sedikitpun tidak menimbulkan rasa curiga.

Perasaan pilu sebentar terlintas dalam hatinya, akan tetapi rahasia tentang kitab wasiat itu biar bagaimana harus dianggap, apalagi ia tidak boleh menerangkan asal-usulnya. Dia harus berlaku pura-pura seolah-olah tidak kenal dengan kitab wasiat itu.

“Kakak, kitab ini hanya separoh...” “Ya, itu adalah separohnya dari Thian Gee Po-kip, nampaknya tinggal kertas yang tidak berharga.”

“Bagaimana kakak dapatkan ini?”

“Ah! Untuk apa kau menanyakan soal itu?” “Hanya tertarik oleh perasaan heran!”

“Kau heran?”

“Ya!” la coba berlagak seperti tidak mengerti kemudian berkata pula: “Kertas tidak berguna yang kau katakan ini, pernah memusnahkan Sam Goan Pang, mengakibatkan kematian jago dari Ge-see Aow-yang Hong dan suami-istri Liang Gie si-seng, tetapi akhirnya ”

Paras Tong-hong Hui Bun menunjukkan sedikit perubahan. Ia menyela:

“Akhirnya bagaimana?”

Sambil menatap paras cantik, Hui Kiam berkata:

“Mereka seorangpun tidak ada yang mendapatkan. Mungkin juga bayangannya saja mereka belum pernah melihat!”

“Apakah kau maksudkan bahwa kematian mereka itu bukan karena kitab wasiat itu?”

“Kabarnya begitu.”

“Mungkin kau benar, itu hanya merupakan suatu alibi yang diciptakan oleh pembunuh orang itu untuk mengalihkan perhatian orang.”

“Kakak tahu siapakah pembunuhnya itu?” “Tahu!”

“Siapa?”

“Orang berbaju lila. Ia sudah binasa!” “Dia?” Hui Kiam terkejut sehingga mundur selangkah. Apakah orang berbaju lila itu adalah yang dahulu merupakan jago pedang berkedok? Kemungkinan itu memang ada. Ia tidak suka menunjukkan wajah aslinya, dan kepandaiannya hanya setingkat saja di bawah Tong-hong Hui Bun.

“Apakah kau merasa heran bagaimana aku bisa mengetahui?” “Terus terang memang sedikit heran.”

Tong-hong Hui Bun menggeser kakinya. Ia berdiri di tepi bangku di dekat badan Hui Kiam, kemudian berkata:

“Adik, apakah kau masih ingat aku pernah mengatakan kepadamu bahwa orang berbaju lila itu selalu mengganggu aku terus menerus?”

“Ya, aku masih ingat.”

“Ia tahu bahwa aku mempunyai kesukaan menyimpan kitab-kitab pusaka semacam ini, maka itu ia telah mengutus orang mengirimkan kitab itu untuk dihadiahkannya kepadaku.”

“Oh!”

Hui Kiam menarik napas panjang. Kekhawatiran dalam hatinya kini mulai lenyap. Karena kisah itu dihadapkan secara demikian, maka akibat yang sangat menakutkan itu tak akan terjadi atas dirinya.

Akan tetapi lain pikiran segera menyusul di alam otaknya. Itu adalah asal-usul mengenai diri orang berbaju lila. Apabila orang berbaju lila itu adalah musuhnya sendiri, tetapi ia sudah dipaksa terjun ke dalam jurang oleh Tong-hong Hui Bun, bukankah itu berarti bahwa ia sudah tidak dapat menuntut balas lagi atas dirinya?

Tetapi pikiran itu sebentar kemudian sudah ditolak olehnya sendiri, karena jago pedang berkedok dahulu bisa menggunakan senjata rahasia jarum melekat tulang, sedangkan kematian Oey Yu Hong dengan senjata itu, telah terjadi setelah orang berbaju lila itu dipaksa terjun ke dalam jurang. Orang yang mati tentu tak dapat melakukan pembunuhan. Darimanakah orang berbaju lila itu mendapat kitab Thian Gee Po- kip ini, sucinya pernah minta Wanita Tanpa Sukma untuk menyampaikan bahwa barang itu sudah terjatuh di tangan jago pedang berkedok.   Apakah si baju lila itu merampas dari tangan jago pedang berkedok?

Semakin dipikir semakin kalut.

“Adik, kau nampaknya sedang memikirkan apa-apa?”

Hui Kiam segera tersadar atas sikapnya. Ia lalu tersenyum untuk menutupi perubahan sikapnya itu.

“Aku sedang memikirkan, dengan cara bagaimana orang berbaju lila itu mendapatkan kitab wasiat ini. ”

“Kau rupanya menaruh perhatian khusus terhadap soal ini.” “Itulah pembawaan dari sifat manusia. Aku memang selalu

gemar mencari tahu segala urusan sampai ke dasar-dasarnya.”

“Sudahlah. Soal ini kecuali kau menanyakan kepada orang yang sudah mati di dalam tanah, barangkali tidak ada orang lagi yang dapat memberitahukannya kepadamu.”

Hui Kiam menganggukkan kepala dengan perasaan masgul. Ini bukan berarti ia telah menyetujui pikiran Tong-hong Hui Bun, tetapi suatu pernyataan apa boleh buat.

“Adik, ada beberapa soal ingin kuberitahukan kepadamu.” “Kakak katakan saja!”

“Karena ada sedikit urusan aku perlu meninggalkan tempat ini untuk beberapa hari saja!”

“Oh!”

“Tentang lukamu dan perawatan dirimu serta urusan makanmu, aku sudah pesan orang untuk mengurus sebaik-baiknya.”

“Kakak, pergilah mengurus urusanmu dengan hati lega.”

“Adik, aku hanya mengharap kau jangan keluar jauh-jauh. Taman bunga di luar kamar dan kamar buku itu, kau boleh bergerak dengan bebas. Selain kedua tempat ini, paling baik kau jangan pergi.”

“Mengapa?”

“Kemudian hari akan kuberitahukan kepadamu lagi.”

“Meskipun dalam hati Hui Kiam merasa heran, tetapi ia tidak berani. Selain daripada itu, ia sendiri juga belum tentu merasa perlu untuk bergerak atau pergi jauh-jauh, maka ia lalu menjawab sambil menganggukkan kepalanya:

“Baiklah, aku akan turut pesan kakak.” Tong-hong Hui Bun lalu pergi.

Hui Kiam benar-benar merasakan kesepian. Ia seolah-olah kehilangan sesuatu. Pikirannya selalu merasa terganggu. Ia tidak dapat menduga Tong-hong Hui Bun pergi untuk mengurus urusan apa. Orangnya juga merupakan suatu teka-teki, demikian pula kelakuannya, dan tempat tinggalnya ini juga penuh rahasia.

Untungnya, dalam keadaan yang demikian ia masih merasa terhibur oleh kitab wasiat sebagai kawannya.

Kecuali di waktu-waktu makan dan tidur, setiap menit ia gunakan untuk mempelajari isi kitab Thian Gie Po-kip. Ini merupakan kesempatan yang paling baik untuk mempelajari kepandaian ilmu silat golongan perguruannya, ia juga merasakan kesulitan.

Akan tetapi ilmu silat itu merupakan ilmu silat yang sangat dalam sehingga tidak dapat dipelajari seluruhnya dalam waktu yang singkat.

Apabila Torng-hong Hui Bun nanti pulang, dia tidak akan dapat mempelajari secara terbuka, oleh karenanya maka lebih dahulu ia harus ingat dan menghafalkan baik-baik seluruh hafalannya. Ia menggunakan waktu dua hari. Setelah ingat baik seluruhnya, dia baru mulai mengadakan latihan.

Sang waktu berlalu begitu cepat dengan tanpa dirasa. Sepuluh hari telah berlalu, luka-luka di sekujur badannya sudah sembuh seluruhnya, tetapi Tong-hong Hui Bunbelum pulang, sementara itu dia sudah berhasil memahami dua jurus ilmu pedang lanjutan ilmu pedangnya sendiri, dan ia mulai mempelajari ilmu silat dengan menggunakan tangan kosong.

Hari itu, sehabis makan siang, selagi hendak duduk dalam kamarnya, di luar samar-samar terdengar suara saling bentak. Tertarik oleh perasaan heran, dengan tanpa sadar ia berjalan menuju ke pintu tengah.

Tiba di dekat pintu, seorang pelayan wanita berdiri di tengah pintu dan menegurnya sambil memberi hormat:

“Siaohiap hendak kemana?” “Apa yang telah terjadi di luar?”

“Ada orang datang mencari musuh!” “Mencari musuh?”

“Ya!”

“Bagaimana orangnya?”

“Seorang perempuan berpakaian hijau yang memakai kerudung di mukanya. Katanya murid keturunan si Raja Pembunuh.”

Ketika mendengar kabar tentang kedatangan perempuan berbaju hijau berkerudung itu, semangat Hui Kiam lalu terbangun. Ia lalu berkata:

“Biarlah aku yang pergi menjumpainya.”

Pelayan perempuan itu nampaknya sangat keberatan. Ia berkata sambil tertawa:

“Siaohiap, di waktu hendak pergi majikan telah meninggalkan pesan. ”

“Tidak izinkan aku keluar?”

“Bukan tidak mengijinkan, hanya….” Hanya apa, ia tidak mau menerangkan. “Kalau begitu ini berarti aku telah ditawan?”

Pelayan perempuan itu berkata sambil membungkukkan badannya:

“Siaohiap merupakan tetamu terhormat di tempat ini, tuduhan itu terlalu berat. Maksud majikan hanya mengharap supaya siaohiap bisa merawat diri dan beristirahat dengan tenang.”

“Aku sekarang sudah sembuh. Selain daripada itu orang yang datang itu juga ada sedikit perselisihan denganku. Inilah kesempatan yang paling baik untuk menyelesaikan.”

“Kalau majikan pulang harap siaohiap tanggung jawab sendiri!” “Ini sebetulnya bukan urusanmu!”

“Kalau begitu biarlah budakmu ini yang akan mengunjukkan jalan bagi siaohiap.”

“Aku ingin pinjam sebilah pedang….” “Oh, nanti kuambilkan!”

Pelayan perempuan itu lalu masuk ke dalam. Tak berapa lama ia sudah balik lagi sambil membawa pedang. Pedang itu lalu diserahkan kepada Hui Kiam, kemudian berjalan lebih dahulu sebagai penunjuk jalan.

Keluar dari kamar tampak suatu pemandangan yang menawan hati. Bentuk bangunan dan keadaan di sekitar tempat itu mirip dengan istana.

Tetapi saat demikian ia tiada hati untuk menikmati.   Ia berjalan di belakang pelayan perempuan. Setelah melalui beberapa pintu, di luar tampak pintu gerbang yang menjulang tinggi.

Dari lobang pintu, tampak deretan puncak bukit yang menjulang tinggi. Nampaknya bangunan ini dibangun di dalam lembah.

Suara beradunya pedang terdengar nyata yang disiarkan dari luar pintu gerbang. Hui Kiam lompat melesat, setelah melalui pelayan perempuan yang mengunjukkan jalan, bagaikan anak panah melesat keluar pintu gerbang di situ segera tampak olehnya empat pahlawan wanita sedang mengerubuti seorang perempuan berbaju hijau yang berkerudung di mukanya.

Kedua pihak bertempur sengit. Sepuluh lebih pahlawan perempuan yang lainnya, berdiri di samping sebagai penonton. Dekat pintu gerbang terdapat tiga pahlawan wanita yang rebah terlentang dalam keadaan luka.

Hui Kiam kenal baik kepandaian para pahlawan perempuan itu, maka terlukanya tiga orang itu telah mengunjukkan betapa hebatnya kepandaian perempuan berbaju hijau berkerudung itu.

Semua pahlawan perempuan ketika melihat Hui Kiam, segera memberi hormat sebegaimana mestinya.

Hui Kiam mengangkat tangan membalas hormat. Dalam hati merasa heran. Perkampungan yang demikian luas, ternyata tidak tampak seorang lelakipun juga, sehingga kedudukan dan asal-usul Tong-hong Hui Bun nampaknya semakin misterius.

Selagi pertempuran berjalan seru, tiba-tiba terdengar suara bentakan orang:

“Semua berhenti!”

Hui Kiam segera berpaling. Orang yang mengeluarkan suara bentakan itu ternyata adalah Hek Bwee Hiang, perempuan tua jelek yang pada satu hari berselang sebagai kusir kereta yang mengantarkan ia kemari.

Pahlawan perempuan yang sedang bertempur ketika mendengar suara perempuan tua itu, segera melompat keluar kalangan mengundurkan diri.

Hui Kiam lalu berkata sambil memberi hormat kepada perempuan tua itu.

“Cianpwe baik-baik saja?” “Bagaimana kau keluar?” “Boanpwe dengan orang itu ada sedikit perselisihan paham yang perlu dibereskan.”

Hek Bwee Hiang tidak berkata apa-apa. Ia menghampiri perempuan berkerudung baju hijau itu, lalu berkata dengan nada suara dingin:

“Apakah kau muridnya si Raja Pembunuh?” “Benar!”

“Kau sungguh berani, berani datang kemari melukai orang- orangku….”

Perempuan berbaju hijau itu mendengarkan suara ketawa dingin, kemudian memotong ucapan Hek Bwee Hiang dan berkata:

“Apakah kau menjadi majikan tempat ini?”

“Meskipun bukan, tetapi aku dapat mengambil keputusan!”

“Itu bagus sekali. Harap kau serahkan pembunuh Wanita Tanpa Sukma!”

Hui Kiam terkejut. Kiranya kedatangan perempuan itu adalah hendak menuntut balas Wanita Tanpa Sukma. Maka seketika itu ia lalu berkata dengan suara nyaring:

“Pembunuh Wanita Tanpa Sukma sudah mati terkena senjata rahasia jarum melekat tulang.”

Perempuan berkerudung hijau itu nampak heran dan terkejut, lalu berkata:

“Penggali Makam, apakah... kau juga merupakan salah seorang dari sini?”

“Aku di sini sebagai tamu!” jawab Hui Kiam dingin. Hek Bwee Hiang tertawa dingin, kemudian berkata:

“Budak, adanya si Raja Pembunuh tidak dapat menggertak diriku. Kedatanganmu ini berarti cari mati sendiri. Kuberitahukan kepadamu, tempat ini boleh kau masuki tetapi tidak ijinkan kau keluar. Kau sekarang hendak habiskan sendiri ataukah perlu aku yang harus turun tangan?”“Kau suruh aku habiskan jiwaku sendiri? Ha ha ha….”

Hek Bwee Hiang melotot matanya. Parasnya yang jelek menunjukkan sikapnya yang gusar. Katanya dengan suara keras:

“Budak hina, kau nanti segera mengerti sendiri!”

Sementara itu tangannya yang bagaikan cakar burung sudah menyambar dada perempuan berbaju hijau itu.

Perempuan berkerudung baju hijau itu menggunakan pedangnya untuk menangkis serangan tangan itu hingga Hek Bwee Hiang terpaksa menarik kembali serangannya dan melompat mundur tiga kaki.

Hui Kiam hampir saja mengeluarkan suara untuk memuji gerakan perempuan itu, sebab gerakan pedang itu ternyata bagus sekali. Bukan saja sudah menutupi semua bagian dirinya, tetapi juga diikuti dengan gerakan serangan pembalasan. Apabila Hek Bwee Hiang tidak menarik tangannya pasti akan dibalas dengan serangan yang mematikan.

---ooo0dw0ooo---