Pedang Pembunuh Naga Jilid 12

Jilid 12

Kalau begitu, di sini aku beritahukan kepadamu, aku tidak mengijinkan orang-orangmu meledakkan obat peledak itu!”

“Apakah kau dapat merintangi itu?” “Coba saja!”

Suasana nampak sangat tegang.

Ong Kheng Hoa lalu mengulapkan tangannya seraya berkata: “Pasang api!”

Empat laki-laki berpakaian hitam bergerak melakukan tugas masing-masing, di antara suara percikan api, asap hitam mengepul dan menjalar ke kanan kiri barisan gaib itu.

Dada Hui Kiam dirasakan hampir meledak, ia segera lompat melesat ke kanan.

“Mundur!” demikian suara bentakan yang keluar dari mulut Ong Kheng Hoa, kemudian dengan kecepatan bagaikan kilat melakukan serangan kepada Hui Kiam. Karena serangannya yang amat dahsyat itu, Hui Kiam yang sedang melesat tinggi terpaksa balik lagi.

Api sudah menjalar sepanjang dua tombak di sekitar tempat itu.

Hui Kiam lalu menghunus pedangnya. Dengan tenaga kekuatan penuh ia menyerang Ong Kheng Hoa. Karena di gunung Kiu-kiong- san ia mendapat tambahan tenaga dalam yang kekuatannya sebanding dengan latihan tiga puluh tahun, maka serangan yang menggunakan tenaga sepenuhnya itu sesungguhnya sangat hebat sekali.

Ong Kheng Hoa tidak berani menyambut serangan itu, ia melompat minggir ke samping.

Hui Kiam lompat melesat lagi sejauh lima tombak, lalu mengayun tangannya ke arah sumbu api yang sedang berkobar itu.

Di lain pihak, Ong Kheng Hoa juga bergerak menyerang Hui Kiam.

Kalau Hui Kiam tidak menyambut serangan Ong Kheng Koa, pasti akan binasa di bawah pedang lawannya itu, maka mau tidak mau ia harus menyambut serangan tersebut. Dalam satu gerakan, dia sudah dapat tahu bahwa kekuatan orang she Ong itu masih di atas Ko Han

San, kalau ia tidak dapat tambahan kekuatan tenaga dari Jien Ong, barangkali tidak sanggup menahan serangan orang she Ong itu. Dalam keadaan demikian, ia segera menghunus pedangnya untuk menangkis serangan itu.

Kedua pedang saling beradu, Hui Kiam mundur satu langkah.

la benar-benar merasa heran mengapa Persekutuan Bulan Emas mempunyai banyak tenaga kuat.

Serangan Ong Kheng Hoa sedemikian hebat. Dengan beruntun dia melakukan serangannya sampai tiga kali, sehingga Hui Kiam terpaksa mundur sampai dua tombak.

Api dan asap sudah menjalar sejauh sepuluh tombak, terpisah dengan barisan gaib itu hanya beberapa tombak saja, di bagian lain juga sudah menjalar separuhnya.

Dengan mata beringas Hui Kiam menggunakan tipu serangannya yang cuma satu jurus itu. Serangan itu pernah membinasakan tiga jago pedang dari Liong-tong-pay, juga pernah mengutungkan lengan tangan Utusan Persekutuan Bulan Emas, dan kini setelah tambah kekuatan tenaga dalamnya, dapat dibayangkan betapa hebatnya serangannya  itu. Begitu serangan itu dilancarkan, benar saja Ong Kheng Hoa lalu terpental mundur sampai delapan kaki jauhnya.

Selagi lawannya terpental mundur, Hui Kiam dengan kecepatan bagaikan kilat melesat ke arah api sumbu yang menyala itu.

“Penggali Makam, meskipun kau ingin mati tetapi aku masih belum!” demikian Ong Kheng Hoa berkata, lalu dengan tidak kalah cepatnya ia mengejar dan menyerang lagi kepada Hui Kiam.

Diserangnya demikian rupa, Hui Kiam terpaksa mundur.

Dalam waktu sekejap mata saja, dia sudah mundur sampai lima enam tombak jauhnya.

Api sumbu itu sudah tiba di tempat terakhir sedang tempat kedua orang itu bertempur terpisah dengan barisan gaib itu hanya sejarak kurang dari sepuluh tombak, sehingga masih termasuk dalam ancaman peledakan.

Ong Kheng Hoa sambil menggeram hebat ia melompat sejauh sepuluh tombak.

Hui Kiam tahu bahwa usahanya untuk memadamkan api itu sudah tidak berhasil, sehingga peledakan itu sudah tidak dapat dielakkan lagi. Dalam keadaan putus pengharapan dan gusar, ia sudah lupa untuk menyingkir.

Tiba-tiba Ong Kheng Hoa peringatkannya:

“Penggali Makam, apakah kau benar-benar ingin mampus?”

Hui-Kiam yang menyaksikan keadaan dalam berbahaya dalam keadaan murka ia melompatmundur sejauh delapan tombak.

Tetapi apa yang terjadi sesungguhnya di luar dugaan semua orang. Api sumbu sudah tiba di bagian terakhir, tetapi obat peledak itu ternyata tidak meledak.

Jika obat itu meledak, jangankan Hui Kiam sedangkan Ong Kheng Hoa juga tidak akan terhindar dari peledakan itu.

Api yang menyala di lain bagian, juga sudah sampai di tempat terakhir, namun juga tidak terjadi peledakan. Kejadian di luar dugaan ini membuat hati Hui Kiam merasa lega.

Kejadian aneh itu cuma dapat diartikan bahwa orang dalam barisan gaib itu sudah mengetahui akal jahat Persekutuan Bulan Emas sehingga lebih dulu sudah memindahkan atau membasahi obat peledak.

Ong Kheng Hoa dan empat anak buahnya hanya bisa saling memandang, tidak bisa berbuat apa-apa.

Hui Kiam setelah berpikir sejenak, lalu melompat melesat ke dalam barisan batu-batu gaib.

“Berhenti!” demikianlah terdengar suara bentakan Ong Kheng Hoa, yang hendak merintangi, tetapi Hui Kiam tidak mau peduli, ia terus menerjang masuk dengan langkah lebar.

Kalau Hui Kiam hendak memecahkan barisan tersebut, ia harus mahir ilmu pukulan pelajaran Jien Ong untuk merusak sebagian batu-batu hitam yang dipasang dalam barisan aneh itu, tetapi karena pelajaran ilmu tenaga dalam yang ia punyai sangat berlainan dengan pelajaran umumnya, ia tak dapat mempelajari ilmu pukulan tersebut, sedangkan batu-batu hitam yang terdapat dalam barisan aneh itu, lebih keras daripada besi atau baja, tidak dapat dihancurkan dengan kekuatan biasa. Karena tidak mungkin akan menghancurkan barisan tersebut maka ia harus memasuki dengan menurut petunjuk Jien Ong.

Sepanjang pinggir barisan tampak basah dengan air. Sumbu api itu padam sampai di tempat yang basah itu.

Begitu Hui Kiam masuk ke dalam barisan, sudah berhasil menembus ke garis ke-tiga tidak tampak kejadian apa-apa.   Tetapi ia tetap siap siaga, untuk menjaga dari serangan tiba-tiba.

Menginjak garis ke-lima, menurut petunjuk Jien Ong di sini merupakan pusat barisan itu, tetapi masih belum tampak adanya tanda-tanda yang aneh.

Hui Kiam berhenti. Ia menghafalkan segala petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Jien Ong, kemudian melanjutkan usahanya. Semakin dalam ia masuk semakin sepi keadaannya, tetapi juga semakin nyata adanya bahaya yang mengancam dirinya.

Kembali dua garis telah dilalui. Di depan matanya terdapat sebuah mulut goa. Mulut goa itu berbentuk empat persegi. Di atas mulut goa terdapat tulisan yang berbunyi ‘Makam Pedang’.

Hati Hui Kiam berdebar keras. Teka-teki yang selama itu mengganggu pikirannya segera akan terungkap.

Mengawasi mulut goa yang dalam dan gelap itu, perasaan seram dan ngeri timbul di hatinya.

Mengapa orang yang berada dalam barisan gaib itu tidak menunjukkan gerakan apa-apa? Apakah ia sudah keluar dari dalam barisan dengan membawa senjata purbakala itu? Tetapi kegagalan usaha Persekutuan Bulan Emas yang hendak meledakkan barisan gaib itu, ternyata memang perbuatan orang yang berada dalam barisan ini….

Pada saat itu dari samping dirinya tiba-tiba terdengar suara orang berseru: “Eh!''

Hui-Kiam terperanjat. Ia masih belum dapat tahu dari mana datangnya suara itu, hembusan angin yang keluar dari serangan jari tangan beberapa kali menyambar kepadanya. Dari suara hembusan angin itu dapat diduga betapa hebatnya serangan tersebut.

Dalam keadaan demikian, sudah tentu tidak keburu untuk menyingkirkan dirinya. Ia yang sudah mempunyai cukup kepandaiannya, dengan tanpa banyak pikir lagi segera bertiarap ke tanah.

Sambaran hembusan angin itu lewat di atas kepalanya, lalu membentur barisan batu sehingga mengeluarkan suara nyaring

Serangan dengan kekuatan tenaga dalam semacam ini, apabila mengenakan tepat bagian jalan darah terpenting dalam anggota badan manusia, betapapun tingginya kepandaian ilmu silat yang dipunyai oleh korban yang terkena serangan tersebut, juga akan musnah seluruhnya. Dari hal itu dapat ditarik kesimpulan bahwa pada waktu-waktu sebelumnya, banyak orang-orang kuat yang coba menerjang masuk ke dalam barisan, semua telah terlempar keluar dalam keadaan sudah musnah seluruh kepandaiannya, semua korban itu jatuh karena serangan hebat ini.

Setelah serangan itu berlalu, Hui Kiam melompat bangun. Kini nampak berdiri satu bayangan orang kecil langsing.

Hui Kiam kembali terkejut dan terheran-heran. Orang yang berada di hadapannya ternyata ia adalah seorang perempuan muda. Ini jauh meleset dari dugaannya sehingga untuk sesaat lamanya ia berdiri tertegun.

Sewaktu perempuan muda itu bergerak maju ke tempat yang terang, Hui Kiam baru nampak dengan tegas bahwa perempuan itu berusia sekitar duapuluh tahunan, badannya padat parasnya cantik tetapi agak pucat, mungkin karena lama berdiam di dalam goa. Di balik parasnya yang cantik itu nampak tegas diliputi oleh perasaan gusar yang menakutkan.

Hui Kiam semakin terkejut. Dalam dugaannya, orang yang berada dalam goa itu mungkin adalah jago pedang berkedok atau orang yang sangat berbahaya, sungguh tidak diduga hanya merupakan seorang perempuan muda yang sangat cantik.

Apakah kecuali ia masih ada orang lain lagi?

Akhirnya perempuan itu membuka   mulut.   Nada suaranya tajam dingin menakutkan:

“Kepandaian Tuan bagus sekali, ternyata dapat mengenal barisan purbakala yang ajaib ini.”

Hui-Kiam maju beberapa langkah. Kira-kira delapan kaki di depan mulut goa ia bertanya dengan perasaan terheran-heran:

“Bagaimana sebutan nona yang mulia?” “Pelindung Pedang!”

“Pelindung Pedang?”

“Benar, dan nama Tuan sendiri?...” “Penggali Makam!” “Hem, terlalu sombong!”

Jelas bahwa perempuan muda yang menamakan diri sebagai Pelindung Pedang ini telah mengira bahwa nama julukan Hui-Kiam mengandung maksud mengejek, karena di tempat itu justru adalah makam pedang dan ia mempunyai nama julukan Penggali Makam, dianggapnya tidaklah mungkin hal itu suatu kebetulan.

Kedua pihak berdiri terpisah agak dekat. Hui Kiam dapat merasakan bahwa perempuan muda itu membuat orang menimbulkan perasaan tidak berani mengganggu. Kecantikannya meskipun belum dapat dibandingkan dengan kecantikan Tong-hong Hui Bun, tetapi kecantikan perempuan dihadapinya itu, dalam perasaannya bagaikan bidadari yang agung, tak boleh dilanggar sembarangan.

Ia hampir lupa di mana dirinya berada. Pelindung Pedang membuka suaranya lagi:

“Penggali Makam, musnahkan sendiri kepandaianmu lalu keluar dari sini!”'

Hui Kiam setelah menenangkan pikirannya, ia berkata dengan suara dingin:

“Nona terlalu tinggi hati!”

“Tuan jangan mengagungkan diri sendiri, mati atau hidup tergantung dalam pikiranmu sendiri.”

“Kalau kudengar ucapan nona ini, mati hidupku agaknya berada di tangan nona.”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Nona menamakan sendiri Pelindung Pedang.” “Aku tadi toh sudah kukatakan?”

“Kedatanganku ini justru hendak mendapatkan pedang itu!” “Sekalipun kau tidak menerangkan aku juga sudah tahu. Kuulangi lagi satu kali, musnahkan sendiri kepandaianmu dan lekas berlalu dari sini!”

“Apakah nona menganggap aku akan kembali begitu saja dengan ucapanmu ini?”

“Kalau begitu kau sudah bertekad hendak mengubur tulang- tulangmu dalam makam ini?”

“Asal nona dapat melakukan!”

Harus nona itu semakin tebal hawa amarahnya. Ia hanya mengeluarkan suara dari hidungnya.

Hui-Kiam setelah berpikir beberapa kali lalu bertanya:

“Apakah di dalam makam pedang ini hanya nona seorang diri saja?”

“Tentang ini kau tidak perlu tahu!”

“Bolehkah nona memberitahukan asal-usul diri nona?” “Apakah kau sedang mimpi?”

Dalam hati Hui Kiam berpikir: Perempuan ini pasti mempunyai kepandaian yang luar biasa, apakah aku sanggup menghadapinya,

masih merupakan suatu pertanyaan. Apabila di belakangnya masih ada jago pedang berkedok yang dahulu merupakan musuh besar perguruannya, keadaannya semakin tidak menyenangkan. Andaikata bukan jago pedang berkedok, tentunya juga orang kuat yang berkepandaian sangat tinggi. Tetapi aku sudah datang kemari, apakah harus kembali dengan tangan kosong?

Yang penting pada dewasa itu ialah mencari tahu dulu asal- usulnya. Apabila orang yang berdiri di belakang perempuan ini bukanlah orang yang menggunakan jarum melekat tulang itu maka keadaan semakin ruwet.

Seketika itu bertanya pula dengan maksud hendak menyelami hati nona itu: “Nona menganggap diri sendiri sebagai Pelindung Pedang, siapakah pemilik pedang itu?”

Pelindung itu tidak menjawab pertanyaannya, sebaliknya berkata dengan suara bengis:

“Apakah kau ingin nonamu bertindak?”

Hui Kiam melihat keadaan demikian, sudah tidak mempunyai kesempatan untuk bicara lagi kecuali mengadu kepandaian, jangan harap dapat mengorek keterangan dari mulut nona itu, maka ia lantas berkata:

“Nona hendak bertindak boleh saja, tetapi lebih dulu kita bicarakan syaratnya!”

“Kau... ingin bicara soal syarat?” “Benar!”

''Bukankah itu percuma saja?”

“Tidak demikian dalam anggapanku.” “Coba kau sebutkan!”

“Apabila aku yang kalah, terserah bagaimana nona akan lakukan ”

“Seharusnya memang begitu.”

“Apabila aku yang menang, harap nona serahkan pedang pusaka itu.”

“Penggali Makam, dengarlah, sekalipun kau menang juga tidak dapat membawa pergi pedang pusaka itu, kecuali kau mengambil dulu jiwaku, tetapi... hal ini kau sedikitpun tidak ada harapan ”

“Apakah nona mengandalkan bantuan orang yang berdiri di belakang nona?”

“Tidak! Jiwaku dan kepandaianku itulah yang merupakan bantuan kuat dari diriku.”

Dari keterangan perempuan itu dapat ditarik kesimpulan bahwa di dalam makam pedang itu hanya ia seorang diri. Semangat Hui- Kiam lalu terbangun, tetapi juga merasa bingung. Ia dibingungkan oleh perempuan muda itu, yang sudah mendapatkan pedang pusaka, mengapa tidak lari jauh sebaliknya menjaga di dalam makam pedang ini dan harus menerima   gangguan dari orang- orang rimba persilatan sedang ia sendiri menyatakan dirinya sebagai pelindung pedang, namun juga menyatakan apabila pedang ada orangnya   juga ada tetapi apabila pedangnya musnah orangnya juga turut musnah.

“Tetapi aku tiada bermaksud untuk mengambil jiwa nona...” demikian ia berkata.

“Sebaliknya dengan aku yang harus membunuhmu mati!” “Andaikata nona tidak sanggup melakukan?”

“Masih tetap dengan keteranganku semula. Kalau kau tidak berhasil membunuh aku, jangan harap kau bisa membawa pergi pulang pusaka!”

“Apakah kita tidak boleh tidak harus melakukan pertandingan?” “Hanya itu jalan saja!”

“Baiklah, aku menurut saja!”

Sehabis berkata ia bertindak maju melancarkan serangan.

Serangan itu sebetulnya hanya merupakan serangan pura-pura saja yang maksudnya hendak pancing perempuan itu supaya bertindak dengan demikian ia dapat mengukur sampai di mana tinggi kepandaian perempuan itu.

Tetapi perempuan itu tidak menghiraukan serangan Hui-kiam, seolah-olah telah tahu maksud yang terkandung dalam hati Hui Kiam.

Ketenangan luar biasa perempuan itu, membuat bergidik hati Hui Kiam, maka ia lanjutkan serangan pura-pura tadi menjadi serangan sungguh-sungguh. Perempuan itu menggeser kakinya. Nampaknya begitu ringan dan biasa saja, tetapi serangan Hui Kiam ternyata sudah mengenakan tempat kosong.

Perempuan itu setelah mengelakkan serangan Hui Kiam lalu menggerakkan tangannya melancarkan serangan yang luar biasa hebatnya.

Sesaat kemudian Hui Kiam sudah terpental mundur satu langkah.

Perempuan itu menyusul serangan selanjutnya dibarengi dengan serangan jari tangan kirinya.

Hui Kiam sudah dapat menduga kepandaian dan kekuatan tenaga dalam perempuan itu yang ternyata berimbang dengan kekuatannya sendiri. Apabila ia ingin menang, hanya tergantung dengan gerak tipu serangannya, maka ia lalu menggunakan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi serangan perempuan itu.

Dua orang itu lalu melakukan pertempuran hebat di depan mulut goa.

Kepandaian Hui Kiam menggunakan tangan kosong, tidak setinggi seperti ia menggunakan pedang yang mempunyai gerak tipu satu jurus saja. Maka untuk menghadapi lawan yang berimbang kekuatannya, ia tak dapat berbuat banyak. Lima jurus kemudian ia mulai terdesak dan sebelum jurus ke sepuluh ia sudah tidak bisa berdaya melakukan serangannya.

Sebaliknya dengan perempuan itu, setiap serangannya ditujukan ke jalan darah terpenting badan Hui Kiam, maksudnya hendak mengambil jiwa pemuda itu.

Satu kali salah satu jalan darah penting Hui Kiam terkena serangan jari tangan, sehingga mundur terhuyung-huyung sampai empat-lima langkah, hampir saja roboh di tanah. Jika serangan itu mengenakan diri orang lain, sudah cukup untuk membuat melayang jiwanya. Tapi kekuatan dan kepandaiannya yang dipelajari oleh Hui Kiam sangat berlainan, meskipun serangan itu tidak melukai dirinya tetapi juga menimbulkan rasa sakit luar biasa.

Perempuan itu nampaknya sangat terheran-heran. Ia berkata: “Pantas kau begitu takabur, kiranya memang benar mempunyai kepandaian yang berarti!”

Hui Kiam terpaksa menghunus pedangnya karena ia tak boleh kalah. Apabila kalah habislah segala-galanya, termasuk jiwanya sendiri.

“Aku terpaksa hendak menggunakan pedang!” demikian ia berkata.

“Terserah!” “Senjata nona. ”

“Masih belum perlu.”

“Ini bukan berarti pertandingan untuk menguji kepandaian!” “Kalau kudengar pembicaraanmu ini, kau agaknya sangat

mengandalkan ilmu pedangmu, tetapi hari ini jangan harap kau bisa keluar dalam keadaan utuh!”

“Nona nanti bisa menyesal. ”

“Biarkh kenyataan nanti yang membuktikan.”

Hui-Kiam setelah membelikan peringatannya lalu menggunakan kekuatan delapan bagian melakukan serangannya yang cuma satu jurus itu.

Perempuan muda itu ketika menyaksikan gerak tipu serangannya, parasnya berubah seketika. Dengan cepat lompat mundur delapan kaki.

Hui-Kiam terus mendesak dan perempuan itu terpaksa terus mundur ke dalam goa. Dengan tanpa dirasa keduanya sudah masuk ke dalam goa sepuluh tombak.

Perempuan itu meskipun sedikit tidak dapat membalas serangan dan terus mundur, tetapi masih sanggup mengelakkan serangan hebat yang tidak ada taranya itu tanpa terluka. Tentang ini saja sudah cukup membuat Hui Kiam merasa ngeri. Ilmu pedang Hui-Kiam, hanya satu jurus itu saja, untuk gerak tipu yang hanya sejurus itu mengandung kekuatan yang luar biasa, sekalipun sudah digunakan berulang-ulang tetapi perempuan itu masih belum berhasil memusnahkan serangannya.

Pertempuran secara kucing-kucingan itu terus masuk ke dalam goa sejauh duapuluh tombak. Keadaan di dalam goa itu tiba-tiba terang benderang oleh sinar patung mutiara. Di situ ternyata merupakan sebuah kamar batu yang sangat luas, lengkap dengan segala perabot kamarnya. Masih ada sebuah pintu kecil yang menghubungkan ke lain ruangan. Nampaknya makam pedang ini dibuat oleh satu tangan ahli yang pandai.

Setelah berada di dalam kamar batu itu, perempuan muda itu dengan cepat masuk ke pintu yang menghubungi lain kamar itu.

Hui Kiam terpoaksa berhenti bertindak, sebab apabila dalam kamar itu terdapat pesawat rahasia, ini sangat berbahaya bagi dirinya.

Kini ia sudah mendapatkan kenyataan bahwa dalam makam pedang itu terkecuali perempuan muda yang menamakan dirinya pelindung pedang itu, agaknya sudah tidak ada orang yang ke-dua.

Tiba-tiba matanya dapat melihat dalam kamar itu timbul sebuah makam batu.   Selagi ia hendak mengamati tulisan di atas batu nisan, tiba-tiba matanya menjadi silau oleh munculnya perempuan muda yang mengaku dirinya Pelindung Pedang. Tangan perempuan itu

membawa sebilah pedang berwarna hitam. Pedang itu bentuknya sangat aneh. Tidak bersinar juga tidak bercahaya. Nampaknya barang mainan kanak-kanak.

“Penggali Makam, sekarang kau boleh bertindak!” demikian perempuan itu berkata.

“Nona, aku hanya ingin terdapatnya suatu kemenangan atau kekalahan dengan tanpa mengganggu jiwa kita.”

“Tetapi sebelum ada salah satu yang mati kau tidak akan mencapai maksudmu.” “Apakah perlunya?'

“Penggali Makam, pertanyaanmu ini tidak ada gunanya, kau sudah pasti akan mati.”

Suaranya itu sedemikian dingin tetapi tegas. Hati Hui Kiam bergetar, apakah perempuan itu mempunyai kepandaian ilmu pedang yang lebih unggul? Itu mungkin, sebab serangan ilmu pedang yang hebat itu tidak dapat melukainya. Ini sudah jelas bahwa ia juga merupakan satu ahli pedang.

Tetapi sifat Hui Kiam yang berkepala batu dan tinggi hati tidak akan mundur atau takut oleh satu perkataan saja, maka ia lalu berkata dengan nada suara dingin:

“Apakah nona yakin benar?” “Sudah tentu!”

“Silahkan bertindak!”

“Kalau aku bertindak lebih dulu, kamu barangkali tidak ada kesempatan untuk balas menyerang, maka biarlah kau yang bertindak dahulu.”

“Aku tidak percaya!” “Kau terlalu sombong!” “Benarkah?”

“Kalau begitu bersiaplah.”

Perempuan itu perlahan-lahan mengangkat pedangnya, tiada sinar yang keluar, agaknya bukan suatu pertempuran antara mati dan hidup begitu ringan dan tenang ia bergerak sangat perlahan- lahan sekali tetapi cukup mengandung gerak tipu yang amat dahsyat...”

Ketika pedang itu berada di tengah-tengah serangannya, Hui- Kiam tiba-tiba merasakan bahwa serangan yang nampaknva biasa itu ternyata merupakan satu gerak tipu luar biasa. Dalam serangan itu mengandung banyak perubahan yang sangat aneh yang tidak dapat dibendung atau ditangkis dari sudut manapun juga. Dalam terkejutnya, Hui-Kiam terpaksa menggunakan pedangnya untuk menyerang karena ia sudah tidak ada lain jalan untuk menyingkir.

Pedang pusaka itu geraknya tiba-tiba berubah sedemikian cepat, sehingga terciptalah suatu lingkaran hitam.

Keadaan demikian, hanya tampak dalam waktu sekejap mata saja, kemudian disusul oleh beradunya pedang Hui Kiam dengan lingkaran hitam itu. Sesaat kemudian, Hui Kiam hanya merasakan tangannya yang memegang pedang itu tiba-tiba menjadi ringan. Ketika ia menyaksikan apa yang telah terjadi, bukan kepalang rasa heran dan kagetnya.   Pedang yang berada di dalam tangannya cuma tinggal sepotong, dan bagian lainnya sudah hancur berkeping- keping dan berserakan di tanah.

Pedang itu adalah barang peninggalan gurunya dan sekarang telah rusak di tangannya.

Perasaan heran, kaget, gusar, dan mendongkol seketika timbul dalam hatinya.

Tetapi, kemudian ia teringat sesuatu yang lebih penting. Ia lalu berkata dengan suara gemetar:

“Apakah itu pedang pusaka dalam makam ini?”

“Tepat, kau tidak dapatkan pedang ini dalam keadaan hidup, tetapi sebelum kau mati sudah dapat menyaksikan benda pusaka ini, kau sudan boleh merasa puas!”

Hui Kiam terharu, wajahnya yang tidak mudah berubah saat itu ternyata nampak berkerenyut, karena perempuan itu mempunyai senjata pusaka luar biasa, ditambah dengan ilmu pedangnya yang luar biasa pula, sehingga harapan untuk hidup baginya benar-benar sudah tidak ada lagi.

Apakah ia takut mati? Senjata pusaka ini seharusnya benda perguruannya, ia merupakan benda yang tidak boleh dipisah dengan kitab pusaka Thian Khie Po-kip karena kepandaian ilmu silat yang ditulis dalam kitab itu, jika ditambah dengan senjata luar biasa ini akan menjadikan seorang kuat tanpa tandingan. Tetapi, kitab yang memuat pelajaran ilmu silat yang ditulis bagian bawah kitab tersebut tidak tahu berada di mana, dan senjata pusaka itu kini juga berada di tangan perempuan yang tidak dikenal itu, apa yang lebih mengenaskan, ialah dirinya sendiri sudah berada di ambang pintu kematian, maka semua cita-citanya untuk mendapatkan kembali barang-barang perguruannya untuk membalas dendam, telah musnah seluruhnya.

Perempuan itu menggerakkan tangannya, ujung pedang mengancam dada Hui Kiam. Ia berkata dengan suara gemetar:

“Penggali Makam, pergi keluar goa, aku tidak suka tempat ini dikotori oleh noda darah.”

Pada saat itu Hui Kiam merasakan betapa hebatnya hawa pedang itu. Ujung pedang dirasakan seolah-olah sudah menembus ulu hatinya.

Ia mengerti, apabila ia melawan itu berarti hanya menambah kehinaan saja, tetapi ia juga merasa penasaran menerima kematian begitu saja, terutama lawannya adalah seorang perempuan, dan mati oleh tangan seorang perempuan benar-benar merupakan suatu hal yang memalukan.

“Turunkanlah pedangmu,” demikian Hui Kiam berkata dengan nada suara dingin dan tegas.

Paras perempuan muda itu nampak sedikit berubah. Dengan tanpa sadar ia mundur satu langkah. Matanya memancarkan sinar aneh.

Hui Kiam memutar badannya, ia keluar dari dalam kamar. Begitu tiba di mulut goa ia berpaling lagi untuk menghadapi perempuan pelindung pedang itu. Dengan nada suara dingin ia berkata:

“Tidak perlu nona turun tangan, aku bisa bertindak sendiri!” Perempuan itu tercengang.  Ia berkata:

“Semula aku menyuruhmu berlalu dan memusnahkan kepandaianmu sendiri, kau tidak suka. Sekarang kau tinggalkan jiwamu.” “Aku tahu.”

“Kau... agaknya tidak menganggap kematian itu adalah suatu kejadian yang menakutkan.”

“Seorang laki-laki perlu apa takut mati.”

“Terhadap dirimu sendiri kau juga masih berlaku kejam?” “Terhadap musuh aku juga tidak bisa memberi kelonggaran.” “Bagaimana kau pikir hendak bertindak?”

“Danau air dingin di luar barisan gaib itu merupakan suatu tempat yang paling baik.”

“Kau tentunya tidak akan menggunakan kesempatan ini untuk kabur?”

“Nona terlalu memandang rendah diriku!”

“Baik, Penggali Makam, anggaplah aku kesalahan omong.” “Sebelum aku menghabiskan jiwaku sendiri, aku ingin

menanyakan beberapa soal. Sudikah nona memberikan jawaban?” “Aku harus melihat dulu keadaannya. Cobalah kau katakan!”

Hui-Kiam bukan tidak tahu ia tidak boleh gampang-gampang menyerahkan jiwanya, tetapi daripada mati terhina lebih baik menghabiskan jiwanya sendiri. Kalau kematian itu memang sudah tidak dapat dielakkan, perlu apa takut mati. Itulah sifatnya yang keras kepala dan tinggi hati.

Meskipun ia sedang menghadapi kematian, tetapi setelah ia mengambil keputusan demikian sebaliknya merasa tenang. Satu- satunya jalan yang masih belum mau mengerti ialah asal-usul mengenai perempuan itu....

Ia lalu memajukan pertanyaannya:

“Siapakah guru nona?”

“Tentang ini aku tidak dapat memberitahukannya kepadamu!” “Sudah berapa lama nona mendapatkan pedang pusaka ini?” “Sepuluh tahun!” “Sepuluh tahun?” “Benar.”

“Mengapa nona tidak mau pergi jauh, sebaliknya berdiam di sini saja harus menerima gangguan dari orang luar?”

“Aku sudah katakan bahwa aku adalah pelindung pedang, bukan pemilik pedang!”

“Kalau begitu siapakah pemilik pedang itu?”

“Tentang ini aku juga tidak dapat memberitahukan kepadamu!” “Mengapa nona dapat menemukan makam pedang yang jarang

diketahui oleh manusia?”

“Maaf, aku tidak dapat memberitahukan kepadamu!”

“Nona tentunya tidak akan menyangkal bahwa nona ada hubungannya dengan jago pedang berkedok?”

“Apa jago pedarg berkedok?”

Sepasang mata Hui Kiam memancarkan sinar tajam, terus menatap paras perempuan itu, agaknya ingin menembusi hati perempuan itu sebab matanya manusia tidak bisa membohong, dari matanya bisa membuka rahasia dalam hatinya.

Tetapi ia kecewa. Dari mata perempuan itu kecuali menunjukkan rasa bingung, tidak menunjukkan sikap apa-apa lagi.

Kalau tidak ada gambar peta tempat menyimpan pedang, siapapun tidak akan tahu bahwa di dalam barisan batu gaib itu ada sebuah makam pedang. Siapapun tidak akan dapat mencari ke tempat yang tersembunyi itu. Tetapi dengan cara bagaimana gambar peta itu bisa terjatuh di tangan perempuan itu?

Apakah Toa supeknya sebelum mati di tangan jago pedang berkedok, sudah kehilangan gambar peta itu?

Pertanyaan tetap merupakan pertanyaan, karena perempuan itu tidak mau memberikan keterargan percuma saja ia memikir. “Benar, apa yang kumaksud dengan jago pedang berkedok itu ialah seorang ahli pedang luar biasa yang muncul pada sepuluh tahun berselang!”

Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata: “Tidak tahu!”

“Tentunya bukan secara kebetulan saja nona mendapatkan pedang ini?”

“Aku sudah katakan tidak akan menjawab pertanyaan ini!”

“Di dalam kamar di bawah tanah itu, rupanya masih ada sebuah makam lagi?”

“Benar!”

'“Itu makam siapa?” “Makam ibuku!” “Apa, ibumu?”

“Sudah banyak kau menanya, rasanya sudah cukup.” “Baiklah sampai di sini saja.”

“Silahkan!”

Perkataan silahkan mengandung maksud apa, Hui Kiam sudah tentu mengerti sendiri. Ia tidak berkata apa-apa, perlahan-lahan memutar badannya.   Setelah melalui barisan aneh itu lalu berjalan ke tepi danau, dengan diikuti oleh perempuan pelindung pedang yang membawa pedang pusaka di tangannya.

Sebentar kemudian, tibalah di tepi danau.

Hui Kiam menghadapi air danau yang tenang itu. Otaknva kosong-melompong, apapun tidak dipikirkannya. Ia tidak ingin memikir, juga tidak ada gunanya untuk dipikir. Ia sedang menghadapi maut yang sudah melambaikan tangan....

Hanya satu lompatan saja habislah segala-galanya. Sambil mengatupkan gigi ia lompat ke dalam danau.... Tetapi baru saja ia bergerak, suatu kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat menggulung dirinya memaksa ia balik ke tempatnya. Orang yang berbuat demikian itu ternyata adalah perempuan muda pelindung pedang itu.

Hui Kiam berkata dengan suara gusar:

“Apakah artinya perbuatan nona ini?”

Perempuan itu dengan sinar mata yang aneh menatap wajah Hui Kiam kemudian berkata:

“Kelakuanmu sesungguhnya sangat mengagumkan!” “Apakah nona hanya ingin mengatakan itu saja?” “Tidak! Aku telah berobah pikiranku!”

“Beroboah pikiranmu?” “Hem, hem, hem.”

“Kau ingin bertindak sendiri?”

“Tidak! Bagaimana andaikata... aku minta kau berlalu dari sini?”

Perkataan itu sesungguhnya di luar dugaan Hui Kiam. Untuk sesaat lamanya ia malah berdiri bingung tidak dapat mengeluarkan perkataan apa-apa.

Perempuan itu berkata pula dengan suara sedih: “Penggali Makam, pergilah!”

“Benar?”

“Tidak ada syaratnya apa-apa.”

“Syarat ...” ia ketawa menyeringai seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.

Sejak Hui Kiam memasuki barisan gaib itu, untuk pertama kali ia melihat perempuan itu mengunjukkan ketawanya. Ketawanya itu nampak manis agung juga mengandung sedikit kemalu-maluan, tetapi juga mengandung pengaruh yang dapat menggerakkan hati lelaki. Sayang di dalam keadaan demikian sedikitpun tak ada reaksi yang timbul di dalam hati Hui Kiam.

“Apa syaratnya?” demikian Hui Kiam bertanya. Dalam hatinya timbul semacam perasaan ingin hidup kembali. Perasaan semacam itu, hanya orang kembali dari bahaya maut, yang baru dapat merasakannya dengan adanya harapan hidup itu, maka segala pikiran timbul kembali, ia tiba-tiba merasakan betapa perlunya ia hidup terus, bukan karena dirinya sendiri, bukan karena sayang jiwanya sendiri, melainkan karena dengan sakit hati yang dia harus menuntut balas terhadap semua musuh-musuhnya di samping itu masih ada bayangan Tong-hong Hui Bun perempuan cantik luar biasa itu yang ternyata sudah memikat hatinya.

Asal ia teringat akan perempuan cantik itu hatinya segera berdebaran. Dahulu apa yang ada dalam hatinya hanya dendam sakit hati kebencian, tiada pikiran apa-apa yang masuk dalam hatinya. Tetapi sejak berkenalan dengan Tong-hong Hui Bun, lubuk hatinya yang penuh dendam dan kebencian, telah didobrak. Perempuan itu sudah berhasil menempatkan diri dalam hatinya bahkan menduduki tempat yang sangat penting.

Perempuan pelindung pedang itu setelah berdiam sekian lama, akhirnya berkata:

“Apabila kau sudi menerima, syarat ini tidak berat.”

Hui Kiam dengan sinar mata dingin memandang gadis itu lalu berkata:

“Coba nona ceritakan!”

Gadis yang menyebut dirinva sebagai pelindung pedang itu sebentar nampak merah parasnya, kemudian menundukkan kepalanya dan mengucapkan kata-katanya yang sangat perlahan:

“Harap kau suka datang lagi menengok aku.”

Hui Kiam seketika tertegun, ia segera dapat memahami maksud yang terkandung dalam ucapan rona itu, adakah itu yang dimaksudkan salah? Ini sesungguhnya tidak harus berpikir. Perobahan itu juga terlalu mendesak, karena belum lama berselang, gadis itu hendak mengambil jiwa, tetapi sekarang mengajukan syarat demikian.

“Inikah yang nona katakan sebagai syarat?”

Gadis itu masih tetap menundukkan kepala, berkata dengan suara tidak lampias:

“Ya. Apakah   kau menerima baik?”

Hui Kiam sejenak nampak berpikir. Ia mencoba mengendalikan perasaannya yang bergolak, baru berkata:

“Aku pasti akan datang lagi!”

Gadis itu mengangkat mukanya. Matanya memancarkan sinar tajam yang mempunyai daya penarik. Kedua pipinya masih kemerah-merahan, nampaknya agak malu-malu. Dengan suara agak gemetar ia berkata:

“Kau   menerima baik?”

Hui Kiam yang menghadapi gadis cantik masih putih bersih ini, apalagi setelah mendengar kata-katanya yang seolah-olah menggedor lubuk hatinya, sesaat itu benar-benar terpesona. Akan tetapi ia tahu benar bahwa di antara mereka berdua samar-samar terdapat suatu rintangan yang rupanya susah ditembus, dan rintangan itu, setiap waktu cukup untuk memusnahkan impian mereka.

“Nona, maaf, aku akan berbicara terus terang. Terhadap pedang pusaka itu aku sudah bertekad bulat hendak mendapatkannya, tanpa memperhitungkan akibatnya!”

“Tidak sepantasnya kau seorang gagah yang bersifat begitu rendah dan sombong.”

“Tetapi, maksudku ini bukanlah terdorong oleh kesombongan!” “Lalu apa?”

“Lain kali apabila aku datang lagi, aku akan memberitahukannya kepadamu!” “Maksudmu apakah setelah kepandaianmu sekiranya sanggup merebut pedang pusaka itu dari tanganku, baru kau akan datang lagi?”

“Aku tidak akan ingkar, memang demikianlah maksudku.”

Gadis itu nampak berubah parasnya. Ia berkata dengan nada suara dingin:

“Aku masih bisa merobah pendirianku.”

“Aku tidak suka menarik keuntungan dengan kata-kata yang manis. Apa yang terukir dalam hatiku, aku harus mengutarakannya terus terang.”

Inilah tentunya seorang gagah dari golongan kebenaran. Sebetulnya dia dapat mengatakan dari mulutnya segala kata-kata yang manis untuk menipu lawan, agar ia melepaskan diri lebih dulu. Akan tetapi sifat dan perangainya yang tinggi dan sombong, mendorong padanya tidak akan berbuat demikian.

Gadis itu nampak beberapa kali berobah parasnya, akhirnya baru berkata:

“Kau.   pergilah!”

Hui Kiam sedapat mungkin menindas perasaan yang menjolak.

Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian berkata: “Budi kecintaanmu ini akan terukir dalam hatiku!” “Oh, tunggu dulu. ”

“Nona masih ada perlu apa lagi?”

“Jikalau kau nanti datang lagi, pedang ini lalu sudah diambil oleh pemiliknya.”

“Tentang ini... saat itu aku akan minta nona memberitahukan namanya pemilik pedang itu.”

“Mungkin aku dapat memberitahukan kepadamu.” “Baiklah, sampai berjumpa lagi!” Hui Kiam mengangkat tangan memberi hormat lalu berjalan keluar dari dalam barisan. Hatinya dirasakan sangat berat. Dengan membawa perasaan sedih yang tidak terhingga, ia telah merasakan bahwa kepandaian dan kekuatannya sendiri pada saat itu, masih berjarak jauh untuk dapat melaksanakan usahanya menuntut balas dendam, dan jarak itu bisa diperpendek atau tidak ia masih belum mempunyai keyakinan teguh. Satu-satunya pengharapan ialah untuk mendapatkan kembali kitab pusaka Thian-kie Po-kip. Tetapi kitab itu sudah terjatuh di tangan jago pedang berkedok yang sangat misterius. Sepuluh tahun berselang, suhu dan para supeknya masih belum sanggup melawan jago pedang itu, apalagi ia dengan mengandalkan kepandaian apa untuk dapat merampas kembali kitab pusaka itu?

Keluar dari barisan ajaib itu, dengan tanpa sadar ia berpaling dan memandang lagi sejenak. Suatu pikiran yang timbul dalam otaknya, benarkah ia bisa kembali lagi?

la menarik napas panjang, perlahan-lahan menggeser kakinya berjalan menyusuri tepi danau.

Beberapa bayangan orang nampak berkelebat di hadapannya. Kepala pasukan Persekutuan Bulan Emas bersama empat anak buah, muncul dengan tiba-tiba. Lima orang itu semua menunjukkan perasaan terkejut dan heran. Sementara itu Ong Kheng Hao lalu maju dan berkata kepadanya:

“Penggali Makam, kau ternyata dapat keluar dari dalam barisan itu dengan selamat!”

Dengan sinar mata dingin Hui Kiam mengawasi orang she Ong itu, kemudian berkata dengan nada suara dingin:

“Hal ini agaknya tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan tugasmu!”

Wajah Ong-Kheng Hao segera berubah. Ia berkata dengan suara keras:

“Kau sungguh sombong!” “Hem hem!” “Bagaimana dengan pelang pusaka?”

“Kalau kau mempunyai kepandaian kau boleh ambil!”

“Apakah kau sudah berjumpa dengan orang dalam barisan itu?” “Kalau sudah berjumpa kau mau apa?”

“Aku si orang tua bukannya takut kecipratan darah, melainkan mendapat perintah tidak boleh melukaimu, maka sebegitu jauh aku tidak mengambil tindakan apa-apa terhadap dirimu, kau mengerti? Nah, sekarang pergilah!”

Hati Hui Kiam tergerak, ia bertanya:

“Apakah perintah itu dari junjunganmu?” “Tidak perlu bertanya, silahkan!”

Hui Kiam memperdengarkan suara di hidung lalu melesat ke jalan lembah yang sempit itu. Dalam hatinya merasa heran, apa sebabnya pemimpin Persekutuan Bulan Emas mengeluarkan perintah yang tidak mengijinkan orang-orangnya bermusuhan dengan dirinya? Apakah maksudnya?

Tidak antara lama ia sudah melalui jalan sempit itu dan tibalah di luar lembah.

Tiba-tiba seorang berpakaian hitam menghampirinya dan berkata sambil menunjuk ke kiri:

“Penggali Makam, di depan gunung itu ada orang menantikan kedatanganmu.”

Sehabis berkata, dengan tanpa memperdulikan reaksi Hui-Kiam sudah melesat dan berlalu lebih dulu.

Hui Kiam tercengang. Siapa gerangan yang sedang menantikan dirinya? Mengapa orang mengetahui jejaknya, dan mengutus orang menyampaikan kabar? Kawan ataukah lawan karena tidak memberitahukan namanya, hanya meninggalkan pesan singkat itu saja agaknya sudah dapat menduga bahwa ia pasti pergi menjumpai.... Pergi atan tidak. Pikiran itu berkecamuk dalam olaknya. Karena tertarik oleh perasaan heran, akhirnya telah mengambil keputusan untuk menemui orang  tersebut.

Maka, ia lalu bergerak menuju ke tempat yang ditunjuk oleh orang tua tadi.

Tidak berapa lama ia sudah tiba di tempat itu. Seorang yang berpakaian hitam lain sudah menantikan kedatangannya. Orang itu ketika melihat kedatangannya, segera tangannya menunjuk ke suatu tempat dan berkata dengan sikapnya yang menghormat:

“Silahkan!”

Hui-Kiam dengan tidak sabar mengajukan pertanyaan: “Ada urusan apakah sebetulnya?”

Orang itu menjawab sambil tertawa dingin:

“Jikalau tuan tidak berani menjumpai, sekarang masih keburu kau batalkan maksudmu.”

Sudah tentu perkataan orang itu mengandung maksud mengejek. Di samping itu juga sudah nyata mengunjukkan bahwa pertemuan itu bukanlah dengan maksud baik. Tetapi sifat Hui Kiam yang selalu tahu maju dan tidak mengenal mundur, seketika itu lalu menyahut dengan nada suara dingin:

“Sejak muncul di dunia Kang-ouw, Penggali Makam tidak tahu apa artinya tidak berani. Tetapi perbuatan kalian yang agaknya takut diketahui oleh manusia ini sesungguhnya sangat memuakkan.”

Orang berpakaian hitam itu berdiam tidakberkata apa-apa.

Hui Kiam mengawasi keadaan tempat itu sejenak, ternyata sangat sepi. Orang itu telah mengutus orang menantikannya di jalanan yang menembus ke makam pedang itu. Sudah jelas orang itu mengetahui benar segala gerak-geriknya, sehingga memilih tempat yang sepi sunyi itu untuk mengadakan pertemuan. Nampaknya sudah terang hahwa orang itu mengandung maksud jahat. Setelah berpikir sejenak, ia lalu bertindak berjalan menuju tempat yang ditunjuk.

Berjalan kira-kira limapuluh tombak, di tempat sebelah kanannya tampak sebuah jalan sempit. Kembali terdapat seorang berpakaian hitam yang berdiri menunggu di pinggir jalan.

“Silahkan masuk!” demikian orang itu berkata.

Ketika Hui Kiam mengawasi orang itu, hatinya berdebar. Wajah orang itu tidak asing baginya. Saat itu segera teringat dalam perjailanannya mencari Liang-gie-si-seng. Waktu ia dihadang dan diserang oleh orang-orang Persekutuan Bulan Emas, orang berbaju hitam itu justru juga merupakan salah seorang di antaranya.

Kalau begitu, orang yang mengundangnya itu pasti adalah orang dari Persekutuan Bulan Emas.

Waktu ia masih berada di tepi danau dekat makam pedang, Ong Kheng-Hao pernah berkata bahwa ia mendapat perintah atasnya tidak boleh mengganggu dirinya. Kalau begitu undangan orang itu apakah ada mengandung lain maksud yang tertentu? Orang yang mengundang itu apakah pemimpin persekutuan itu sendiri ataukah….

Tetapi ia tidak sempat untuk memikirkan hal itu. Ia lalu berkata dengan nada suara dingin:

“Sahabat urusan nomor berapa?”

Orang berpakaian hitam itu wajahnya nampak berubah, kemudian menunjukkan tertawanya yang menyeramkan, baru berkata:

“Nomor lima. Sungguh baik daya ingatmu.” “Siapa orang yang mengundang aku ini?”

“Setelah kau nanti masuk ke lembah sudah tentu mengerti sendiri.”

Hui Kiam memperdengarkan suara di hidung. Dengan tindakan lebar dan melembungkan dada, ia berjalan menuju ke lembah. Berjalan kira-kira beberapa tombak, di hadapannya terbentang suatu tanah datar seluas sepuluh tombak. Sepuluh lebih bayangan orang bagaikan patung berdiri berbaris di tempat itu.

Tatkala mata Hui Kiam menyapu kepada orang-orang itu, orang yang berdiri di tengah-tengah barisan itu ternyata adalah Koo Han San dari Persekutuan Bulan Emas yang dahulu ketakutan telah dipaksa oleh wanita berbaju hijau yang berkedok untuk mengorek sebuah biji matanya sendiri. Dua orang yang berdiri di kedua belah sisinya ternyata adalah dua saudara Kim, yang mempunyai julukan Thian-tee Siang-sat, atau Sepasang Malaikat Bumi dan Langit.

Melihat itu, hati Hui Kiam seketika berdebar.   Kepandaiannya yang dapat diandalkan, ialah gerak tipunya yang cuma sejurus itu. Tetapi jurus pedang itu harus digunakan dengan pedang dan sekarang pedang itu sudah patah di dalam makam pedang. Sebelum ia sendiri mendapat kekuatan sebagai kepandaian Koo Han San masih berada di atasnya, dan kini meski ia sendiri mendapat kekuatan tenaga, untuk menghadapi Koo Han San seorang masih sanggup, akan tetapi ditambah dengan dua Malaikat Langit dan Bumi itu serta sepuluh lebih Utusan Persekutuan Bulan Emas, sudah tentu sangat berbahaya baginya.

Pada saat itu, ia sudah berada kurang lebih dua tombak di hadapan orang-orang itu.

Utusan Bulan Emas yang berdiri berbaris, segera bergerak. Mereka membuat sebuah lingkaran sehingga Hui Kiam berada di tengah-tengah kurungan mereka.

Semua itu telah menunjukkan bahwa orang-orang itu sudah merencanakan lebih dahulu untuk menghadapinya.

Meski hati Hui Kiam terkejut, tetapi di luarnya masih menunjukkan sikap yang angkuh dan dingin. Kemudian ia berkata:

“Koo Han San, tidak disangka kita berjumpa lagi!” Dengan nada suara dingin Koo Han San berkata:

“Penggali Makam, mungkin ini pertemuan yang terakhir.” “Apakah maksud perkataanmu ini?”

“Tidak apa-apa. Aku si orang tua hanya ingin memegang peran sebagai penggali makam yang hendak menggali tanah bagi makammu.”

“Apakah itu maksudmu mengundang aku datang kemari?” “Tepat!”

“Undangan maut?”

“Kau sungguh pintar. Apakah merasa menyesal datang kemari?” “Aku selamanya tidak tahu apa artinya menyesal!”

“Itu bagus, bocah kau sungguh berani, mengapa kau tidak membawa pedang?”

“Aku akan melayani kau dengan tangan kosong!”

“Mengingat akan keberanianmu, aku harus memberikan kesempatan kepadamu untuk melawan sebaik-baiknya!”

Sehabis berkata, ia lalu berpaling dan berkata kepada seorang berpakaian hitam:

“Nomor Dua Belas, berikan pedang kepadanya!”

“Baiklah!” demikian orang hitam itu menyahut lalu menghunus pedangnya dan dilemparkan ke arah Hui Kiam.

Hui Kiam tak mempunyai pilihan lagi. Ia mengulur tangannya menyambuti pedang itu.

Koo Han-San berkata pula:

“Bocah, hari ini pengharapanmu untuk keluar dari sini dalam keadaan hidup sangat tipis sekali sebab aku sudah bertekad hendak membinasakan kau, maka semoga kau dapat menciptakan kewajiban dalam ilmu pedangmu.”

“Apakah sebabnya kau hendak berbuat demikian?” “Sudah tentu ada sebabnya.”

“Apakah karena permusuhan lama?” “Harus dikatakan permusuhan baru!” “Permusuhan baru? Apakah artinya?”

Mata Ko-Han San menyapu setiap wajah orang bawahannya sejenak, kemudian berhenti di atas wajah Sepasang Dewa Langit dan Bumi. Ketika tidak mendapat lihat reaksi apa-apa, baru berkata pula kepada Hui Kiam:

“Tidak halangan aku beritahukan kepadamu supaya kau tidak mati penasaran. Kau telah mendapatkan cinta kasihnya seorang cantik jelita, benarkah itu?”

Hui Kiam terkejut. Ia segera teringat dirinya Tong Hong Hui Bun….

“Maksudmu adalah majikan atau pemilik tanda perintah batu Kumala?”

'Benar, adalah wanita rendah itu!”

Ucapan 'wanita rendah' itu sangat menusuk telinga, dalam pendengaran Hui Kiam sungguh tak enak. Tetapi ia masih coba mengendalikan perasaan hatinya. Ia tak tahu apa yang dikatakan dengan musuh baru itu, dengan cara bagaimana dapat dirangkaikan dengan diri Tong Hong Hui Bun?

“Apakah artinya?”

“Oleh karena kau bocah ini, orang baju lila itu telah dipaksa terjun ke jurang oleh perempuan hina itu!”

Hui Kiam tiba-tiba tersadar, tetapi pikiran itu mengandung perasaan cemburu.

“Orang berbaju lila itu mencari mati sendiri, ada hubungan apa dengan kau?”

Setiap orang yang ada di situ, semua menunjukkan sikap benci dan bermusuhan. Mata Koo Han San yang hanya cuma tinggal satu memancarkan sinar yang menakutkan. Sambil tertawa mengejek ia berkata: “Sampai di sini saja keteranganku.   Kalau kau sudah mengerti apa sebabnya kau harus korbankan jiwamu, sudah cukup.”

Hui Kiam benar-benar sangat murka.   Dari pembicaraan orang she Ko itu, agaknya sudah menganggap dirinya sebagai daging yang empuk. Ia pikir di antara orang berbaju lila itu dengan To Hong Hui Bun, entah ada hubungan apa. Waktu berada di puncak gunung batu, Tong Hong Hui Bun pernah mengatakan kepadanya seorang gagah yang tidak berharga, karena tergila-gila kecantikannya, sehingga mengganggu terus-menerus. Tetapi dari mulut orang berbaju lila itu, hubungan antara dua manusia itu, agaknya bukan hanya sampai di situ saja.

Kini Koo Han San karena hendak menuntut balas dendam bagi orang baju lila itu, telah mengalihkan kebenciannya kepada dirinya. Apakah orang berbaju lila itu juga merupakan salah satu tokoh kuat dalam Persekutuan Bulan Emas?

Kalau benar, belum berapa lama Ong Kheng Hao pernah berkata kepadanya bahwa ia mendapat perintah tidak boleh mengganggu dirinya. Apakah perbuatan Koo Han San dan orang-orang ini merupakan perbuatan yang menentang pemimpinnya? Ini sesungguhnya merupakan suatu persoalan yang tak dapat dipikirkan.

Karena pikiran itu, maka ia tiba-tiba mencari keterangan.

Katanya:

“Orang berbaju lila itu ada hubungan apa dengan kalian?” “Tentang ini kau tak perlu tanya!”

“Ada hubungan apa pula antara orang berbaju lila dengan pemilik tanda perintah batu kumala?”

Malaekat Langit Kim Hui tiba-tiba perdengarkan suaranya:

“Ko congkam, waktu sudah tidak mengijinkan lagi. Kalau terlambat mungkin akan terjadi perobahan. Bertindaklah dengan segera!”

Koo Hoa San menyahut sambil menganggukkan kepala: “Baik!”

Kim Hui lalu menghunus pedangnya. Ia maju beberapa langkah seraya berkata:

“Penggali Makam, serahkan jiwamu!”

Hui Kiam melintangkan pedangnya. Ujung pedang menunjuk ke bawah. Ia membuat tanda memulai. Sepasang sinar matanya yang tajam terus menatap wajah Malaikat Langit itu, dan mata Malaikat Langit yang beradu dengan sinar mata itu hatinya terguncang hebat.

Sebentar kemudian Malaikat Langit itu menggerakkan pedangnya dengan hebat menyerang Hui Kiam.

Hui Kiam sudah bertekad hendak membunuh lawannya satu persatu, maka dengan tanpa kenal kasihan ia melancarkan serangannya yang terampuh, yang hanya sejurus saja.

Begitu habis bergerak, tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri, lalu disusul oleh muncratnya darah merah. Ternyata tubuh Malaikat Langit sudah terkutung menjadi dua potong batas pinggang.

Di antara orang-orang Persekutuan Bulan Emas terdengar suara riuh. Siapapun tak menduga bahwa dengan kepandaiannya Malaikat dari Langit, ternyata tidak sanggup melawan hanya dengan satu jurus saja.

Hui Kiam sendiri juga merasa heran. Ia masih ingat waktu ia diserang oleh orang-orang itu di dekat Loteng Merah. Malaikat dari Bumi masih bisa menandingi dirinya sampai lima puluh jurus. Apakah kepandaian Malaikat dari Langit itu benar-benar sudah tidak berguna sama sekali?

Tetapi kemudian ia tersadar. Karena ia sendiri mendapat tambahan tenaga yang berarti mendapat tambahan seperti latihan tiga puluh tahun, apalagi ia mengeluarkan dengan sepenuh tenaga, sudah tentu hebat pengaruhnya. Oleh karenanya maka seketika itu ia semakin yakin kepandaiannya sendiri .... Wajah Koo-Han San nampak berkerenyut. Ia berkata dengan suara keras:

“Bocah, dari mana kau mendapat kekuatan dan kepandaian semacam itu?”

Malaikat Bumi yang menyaksikan kematian saudaranya, segera mendelikkan matanya kemudian mengeluarkan suara bentakan keras dan menerjang….

Tetapi Koo-Han   San menghalangi bertindaknya Malaikat Bumi itu, kemudian ia berkata:

“Kita tidak boleh mengadakan pengorbanan lagi. Tenanglah sedikit.”

“Kalau aku tidak dapat mencincang tubuh bocah ini, aku bersumpah tidak mau jadi orang lagi!” berkata si Malaikat Bumi itu.

Koo-Han-San perlahan-lahan menghunus pedangnya seraya berkata:

“Kim Hok-hoat jangan khawatir, kehendakmu akan terpenuhi!” Sementara itu, orang she Koo itu sudah berada di hadapan Hui

Kiam.    Tetapi Malaikat Bumi masih mengunjukkan perasaannya

yang tidak puas, agaknya ingin menelan bulat-bulat diri Hui-Kiam.

Hui-Kiam tetap berdiri di tempatnya sambil memegang erat senjatanya.

Koo-Han San telah memperdengarkan suara di hidung, lalu menyodorkan pedangnya....

Pertempuran sengit segera terjadi. Pertempuran itu sangat hebat. Dua bilah pedang saling menyambar, hingga tampak sinarnya yang berkelebatan, dan hembusan anginnya yang menyambar sejarak tiga puluh tombak.

Sepuluh jurus! Dua puluh jurus! Dan akhirnya tiga puluh jurus telah dilaluinya. Koo-Han-San sudah terdesak dan nampak berada di bawah angin. Keadaannya merupakan suatu yang sangat menyedihkan. Ia sudah tidak mampu melawan, sehingga Malaikat Bumi menganggap perlu untuk membantu Koo Han San agar jangan sampai mati di ujung pedang musuhnya.

Dengan turunnya ke gelanggang dari Malaikat Bumi itu, serangan Koo-Han San nampak hidup lagi. Dengan demikian keadaan menjadi berimbang pula.

Hui Kiam tahu bahwa kedudukannya sangat berbahaya. Dalam pertempuran antara mati dan hidup itu, tentunya tidak akan sudah sebelum ada yang tewas. Sepuluh lebih orang-orang Bulan Emas yang berdiri menyaksikan pertempuran itu, apabila dihadapi satu persatu, mungkin tidak menjadi soal, tetapi apabila dikeroyok, niscaya menjadi lain keadaannya.

Meskipun ia dapat kabur andaikata ia mau, tetapi ia tidak menghendaki demikian.

---ooo0dw0ooo---