Pedang Pembunuh Naga Jilid 11

Jilid 11

TETAPI aku ingin tahu motif dan tujuan dari serentetan pembunuhan itu.”

“Aku tadi sudah terangkan, setelah aku menjelaskan kepadamu, aku bisa membunuhmu untuk menutup rahasia maka sebaiknya kau jangan bertanya.”

'Tetapi jikalau aku pasti ingin tanya bagaimana?”

“Ini berarti kau mendesak aku untuk membunuhmu.” “Mengapa?”

“Aku tidak ingin rencanaku untuk membalas dendam dirusak oleh tangan orang!”

“Ini benar-benar sulit dipahami, aku sendiri juga ingin menuntut balas kepada musuh-musuhku.   Bagi nona rasanya ada baiknya tidak ada ruginya.”

“Apakah benar kau ingin tahu?” “Ya!”

Oey Yu Hong lalu mengawasi keadaan sekitarnya, kegelapan sudah menutupi seluruh daerah pegunungan itu, keadaan sunyi- sepi, ia berkata dengan suara rendah: “Setelah nanti aku jelaskan, segera akan bertindak.”

Nada suara yang menakutkan itu membuat bergidik siapa yang mendengarnya.

Tetapi Hui Kiam sudah tetap dengan keinginannya yang keras maka ia berkata dengan tegas:

“Katakanlah, bagiku tidak menjadi soal.”

“Kalau begitu kau dengarlah, biang keladi dari serentetan pembunuhan ini adalah. ”

Sayang sebelum memberitahukan siapa orangnya, Oey Yu Hong tiba-tiba menjerit dan kemudian rubuh untuk tidak bangun lagi.

Kejadian yang tidak terduga-duga ini benar-benar sangat mengejutkan, dan menyesalkan Hui Kiam, dengan suatu geraman hebat dia lompat melesat ke atas batu cadas yang letaknya paling tinggi, matanya mencari di sekitarnya. tetapi keadaan tetap sunyi, tidak tampak apa-apa.

Dengan perasaan agak gelisah, ia balik ke tempat di mana Oey Yu Hong tadi roboh tetapi keadaan nona itu sudah sangat payah, dari mulutnya cuma terdengar perkataannya yang diucapkan dengan terputus-putus: “Jarum melekat....... tulang. ”

“Nona Oey! Nona Oey    !”

Tetapi Oey Yu Hong sudah tidak dapat menyahut. Kaki tangannya berkelojotan, lalu melepaskan napasnya yang terakhir.

Kepala Hui Kiam hampir mau pecah, sekujur badannya gemetar. Ia berdiri tertegun di tempatnya sambil mengawasi jenazah Oey Yu Hong tanpa dapat berbuat apa-apa.

Suhunya sendiri dan Si-supeknya, telah binasa karena jarum melekat tulang, dan sekarang Oey Yu Hong juga karena senjata rahasia itu. Jelas bahwa pembunuhnya merupakan satu orang. Bedanya adalah kalau suhunya dan si-supeknya setelah terkena senjata tersebut masih bisa hidup dalam waktu yang lama, tetapi Oey Yu Hong segera binasa.   Nampaknya nona itu terkena senjata di bagian jalan darah yang terpenting. Jarum melekat tulang ini merupakan senjata tunggal Jien Ong.

Yang menggunakan senjata Jien Ong sendiri ataukah muridnya?

Oey Yu Hong selagi hendak menyebutkan nama pembunuhnya telah dibunuh, jelas maksudnya supaya ia menghilangkan salah seorang yang mengetahui rahasianya. Kalau begitu si pembunuh itu sudah lama mengintai di sekitarnya.

Tetapi mengapa pembunuh itu tidak membunuh Hui Kiam sekalian?

Apakah jago pedang berkedok yang pada sepuluh tahun berselang menganiaya suhunya dan si-supeknya, juga merupakan pembunuh yang melakukan serentetan pembunuhan yang terjadi di waktu paling akhir ini?

Hui Kiam memikirkan itu semua. Otaknya semakin kusut, dadanya dirasakan sesak. Dalam keadaan demikian, sesosok bayangan manusia telah mendekatinya bagaikan gerakan hantu.

Meskipun Hui Kiam sedang melamun, tetapi daya refleknya masih cukup kuat. Mengetahui ada orang yang mendekati dirinya, ia segera menegur dengan suara keras:

“Siapa?”

“Toako, aku!”

Jawaban itu ternyata keluar dari mulut Ie It Hoan atau Sukma Tidak Buyar.

Dalam waktu dan keadaan demikian, munculnya Sukma Tidak Buyar itu, benar-benar di luar dugaan Hui Kiam.

Ie It Hoan lalu berkata sambil menunjuk jenazah Oey Yu Hong. “Apakah yang telah terjadi?”

Dengan sepasang mata menatap wajah Ie It Hoan, Hui Kiam menjawab dengan suara pelahan:

“Ia telah dibunuh secara menggelap, terkena senjata rahasia jarum melekat tulang!” “Oh!”

“Dalam waktu keadaan seperti ini, bagaimana kau bisa datang kemari?”

“Aku kebetulan lewat di bawah kaki gunung, tiba-tiba terdengar suara jeritan. Tertarik perasaan ingin tahu lalu aku datang kemari. Tidak kuduga di sini ada Toako.”

“Adakah kau tadi melihat jejak orang atau tidak?”

“Ada, sesosok bayangan hitam lari ke bawah gunung, karena terlalu cepat, aku tidak lihat itu lelaki atau perempuan!”

“Kau datang dari mana?” “Dari bawah kaki gunung.”

“Apakah kau juga datang ke goa bekas terjadi peledakan itu?” “Barangkali lebih pagi dua jam dari pada kedatanganmu. ”

“Sebelum terjadi peledakan yang mengakibatkan kematian perghuni loteng merah, pernah terdengar suara orang yang memperingatkan….”

Ie It Hoan lalu memotong sambil menganggukkan kepala. “Benar, itu adalah aku.”

“Mengapa kau tidak mau menunjukkan diri untuk memberitahukan, supaya penghuni loteng merah tidak terjatuh ke dalam akal muslihatnya manusia keji?”

“Toako, aku tidak dapat, berlaku demikian!” “Kau tidak bisa?. Apakah maksudmu?”

Ie It Hoan membentangkan kedua tangannya, menunjukkan sikap tidak berdaya, lalu berkata dengan wajah murung:

“Toako, sekali lagi telah mati. Yang membunuh tetap adalah orang yang berpakaian warna lila itu. Untung ia tidak menggunakan pedang. Aku terpaksa harus ganti dandananku lagi jikalau tidak aku nanti akan dicincang olehnya.” Sambil mengerutkan keningnya Hui Kiam bertanya: “Apakah sebetulnya telah terjadi?”

Ie It Hoan berkata sambil menghela napas:

“Ketika kita berpisah, bukankah aku pernah berkata kepadamu bahwa aku akan mengatur dengan caraku sendiri? Dan setelah mengganti rupa dan pakaian, aku segera lari kemari. Maksudku ialah hendak menyelidik   lebih dulu tempat ini. Baru saja aku tiba di puncak gunung lalu berjumpa dengan orang berbaju lila itu. Ia keluar dari dalam gua. Aku segera dapat melihat bahwa dalam urusan ini ada hal-hal yang tidak beres. Orang berbaju lila itu sungguh kejam, dengan tanpa mengapa ia sudah menghajar aku hingga aku roboh di tanah….”

“Oh!”

“Jikalau aku tidak mengandalkan ilmu gaib pelajaran dari suhu, aku paksa darahku mengalir keluar dari lubang panca inderaku, untuk berpura-pura mati, aku tidak akan lolos dari tangannya.

Orang baju lila itu mengira aku benar-benar sudah mati, lalu melemparkan diriku ke belakang gua itu.   Sewaktu kalian datang aku tahu tetapi setelah aku menggunakan akal pura-pura mati itu memerlukan waktu cukup lama untuk memulihkan keadaanku, maka aku tidak dapat mengunjukkan diri untuk memberitahukan. Pada akhirnya, karena keadaan sudah mendesak, dengan tanpa pikir apa yang akan terjadi atas diriku, aku terpaksa membuka suara untuk memberi peringatan. Sebelum kekuatan pulih kembali, aku telah menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk mengeluarkan peringatan, ini sebetulnya amat berbahaya. Dengan adanya suaraku itu, entah berapa banyak penderitaan aku harus alami, hanya Tuhan saja yang mengetahui. ”

“Kalau begitu apa yang telah terjadi kau sudah tahu semua?” “Sudah tentu, termasuk perbuatan toako yang berpelukan sangat

mesra dengan wanita cantik itu.”

Hui-Kiam merasa malu, kemudian berkata: “Bicara terus terang, apa orang yang berada di dalam goa itu benar-benar To-liong Khiam-khek?”

“Tentang ini aku tidak tahu, karena baru saja aku tiba di puncak gunung sudah berjumpa dengan bangsat berbaju lila itu, sehingga tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk melakukan penyelidikan.”

“Orang berbaju lila itu sudah dipaksa oleh Tong Hong Hui Bun terjun ke bawah jurang, barangkali sudah hancur lebur badannya!”

“Aku tahu!”

“Dalam hal ini bagaimana pandanganmu?” “Ruwet dan acak-acakkan.”

“Adik Hoan, coba kau periksa luka mana yang menyebabkan kematian wanita ini?”

Ie It Hoan mendelikkan matanya, maksudnya ialah hendak mengatakan mengapa kau sendiri tidak mau bertindak sebaliknya minta orang yang memeriksa. Tetapi perkataan itu tidak dikeluarkan dari mulutnya, ia hanya mengangkat pundaknya berjalan menghampiri jenazah Oey Yu Hong, kemudian ia memeriksa sambil berjongkok, setelah itu ia berkata dengan suara kaget:

“Toako, apakah dia bukan pelayan kekasihmu?”

Istilah 'kekasih’ itu sangat menusuk pendengaran Hui Kiam, maka seketika itu pipi Hui Kiam lantas merah, kemudian berkata:

“Siapa kata bukan, ia juga adik perempuan istri Siang-gie Sie- seng Oey Yu Hong….”

“Uh! Dia, apa yang dikatakannya?”

“Ia masih belum sempat mengatakan nama pembunuhnya, sudah dibinasakan.   Sebelum menarik napasnya yang penghabisan ia masih sempat mengeluarkan perkataan jarum melekat tulang.”

“Maksud pembunuh itu tentunya supaya ia menutup mulut untuk selama-selamanya!” “Kecuali ini mungkin sudah tidak ada perkataan yang lebih baik untuk menjelaskan.”

“Tetapi orang yang melakukan pembunuhan ini juga aneh, ia mengapa tidak bertindak apa-apa terhadap Toako?”

“'Aku juga merasa heran. Mungkin pembunuh itu menganggap tidak ada perlunya membunuh aku.”

“Keterangan ini sangat lemah!”

“Adik Hoan, apakah kau sudah berhasil menyelidiki riwayat penghuni loteng merah?”

“Belum!”

“Baiklah, mari kita lekas pergi menyelidik.”

Ie It Hoan setelah memeriksa keadaan jenazah Oey Yu Hong, tiba-tiba ia berkata dengan suara gemetar:

“Ah, sungguh hebat kepandaian orang itu, serangannya itu mengenakan dengan tepat ke bagian jalan darah terpenting.

Hui Kiam juga memeriksa di bagian jalan darah belakang kepala Oey Yu Hong. Terdapat gumpalan darah yang sudah membeku. Jikalau bukan karena lebih dulu sudah mempunyai kesan tentang jarum beracun melekat tulang itu, maka sedikit luka yang terdapat di atas kepala itu, sesungguhnya tidak mudah dilihat.

Ie It Hoan meraba-raba badan sang korban itu sejenak lalu berkata sambil leletkan lidahnya:

“Sungguh hebat, jarum itu ternyata sudah menusuk ke lain bagian. Apa perlu kita keluarkan?”

“Sudah tentu perlu!”

“Kalau begitu terpaksa kita harus membelah kepala korban ini.” “Apa boleh buat. Seandainya arwah nona Oey mengetahui

maksud kita, dia juga akan maafkan tindakan kita ini.”

le It Hoan lalu mengeluarkan sebilah pisau belati kecil. Dari bagian batok kepala sang korban mulai dibedah kulitnya, dan dalam bagian kulit kepala itu, ia mengeluarkan sebatang jarum halus berwarna hitam.   Ia letakkan jarum itu di atas telapak tangannya lalu berkata:

“Malam ini kita telah membuka mata, dapat menyaksikan jarum melekat tulang yang kita pernah dengar dalam ceritanya saja.”

Hui Kiam memeriksa dengan seksama. Jarum baja yang bentuknya sangat halus itu ternyata dibuat sedemikian halusnya. Jarum yang demikian halus ini sudah tentu kalau sudah masuk dalam badan manusia sulit dikeluarkannya. Sementara ada racunnya atau tidak, masih belum diketahui.

Ie It Hoan bertanya dengan sikap sungguh-sungguh: “Toako, kau anggap pembunuhnya itu orang bagaimana?” “Jien Ong sendiri atau muridnya!”

“Andaikata Jien Ong masih hidup, usianya tentu sudah seratus tahun. Kabarnya Jien Ong adalah orang dari golongan kebenaran.”

“Ini susah dikatakan. Mungkin perbuatan muridnya, yang tidak baik kelakuannya.”

“Tetapi apa maksud dan tujuannya?”

“Sudah tentu karena kitab pusaka Thian-Gee Po-kip.”

“Dengan kepandaian dan kedudukan Jien Ong, apakah ada harganya bagi Jien Ong melakukan perbuatan semacam itu?”

“Suhu dan Supek semua mati karena jarum melekat tulang itu, kenyataannya ini sudah cukup untuk memberi penjelasan semuanya. Coba pikir dengan kepandaian Sam Goan Lojin dan tokh dia masih binasa. Di dalam dunia ini ada berapa yang dapat melakukan perbuatan seganas itu?”

“Tetapi orang-orang Sam Goan Pang kebanyakan karena racun….”

“Oey Yu Hong adalah seorang yang mengetahui keadaan dalam, maka pembunuh itu membunuhnya untuk menutup rahasianya.” Toako, Oey Yu Hong adalah pelayannya Tong Hong Hui Bun, kalau ia tahu mungkin Tong Hong Hui Bun sudah tahu ”

“Hmmm! Tentang ini aku bisa mencari keterangan.” “Apakah tindakan kita selanjutnya?”

“Lebih dulu kita kubur jenazah Oey Yu Hong, kemudian aku hendak pergi ke gunung Kiu Kong San!”

“Untuk mencari Jien Ong?” “Ya!”

“Apakah itu tidak terlalu berbahaya?”

“Aku toh tidak bisa tinggal diam. Semula aku mengira Wanita Tanpa Sukma adalah suciku Pui Ceng Un.   Perkataan terakhir yang ia katakan adalah untuk menunjukkan pembunuhnya, dan sekarang Oey Yu Hong sudah membuktikan bahwa Wanita Tanpa Sukma bukannya Pui Ceng Un. Tetapi barang kepercayaan uang logam si Supek berada di badannya, maka perkataan terakhir Wanita Tanpa Sukma, sudah tentu mengandung maksud lain. Sedangkan jarum melekat tulang sudah membuktikan adalah barangnya Jien Ong atau muridnya, maka ia tidak terlepas dari sangkaan. Kecuali kita harus mencari keterangan sendiri sudah tidak ada lain jalan lagi.”

“Mengapa tidak cari Tong-hong Hui Bun lebih dulu?”

“Ia sulit dicari jejaknya. Tetapi aku yakin cepat atau lambat aku bisa berjumpa lagi dengannya.”

Dua orang itu setelah mengubur jenazah Oey Yu Hong, lalu meninggalkan tempat tersebut. Ketika melalui jalan di mana terdapat makam megah itu, Hui Kiam segera berhenti dan pergi menghampiri makam tersebut. Tulisan di atas batu nisan itu kembali terbentang di depan matanya.

Ie It Hoan dengan perasaan heran mengikuti di belakangnya.

Setelah melihat bunyi tulisan itu, lalu berkata:

“Yiok sok Siancu Hui Un Khing adalah istrinya To Liong Kiam- khek?” Hui Kiam hanya menyahut hem. Tidak menjawab apa-apa.

Ie It Hoan sudah tentu tidak dapat menduga bahwa Hui Un Khing adalah ibu Hui Kiam.  Ia berkata pula:

“Hem! Sungguh ada artinya suami istri sama-sama dikubur di gunung Kiong San, hanya terpisah beberapa puncak gunung saja, Jiok-siok siancu dan masih ada To Liong Kiong khek yang membuatkan kuburan baginya, sedangkan To Liong Kiang-khek sendiri, telah dikubur hidup-hidup oleh orang berbaju lila bersama- sama perghuni loteng merah. Kejadian dalam dunia setiap saat memang bisa berobah, kita sebagai orang-orang Kang-ouw sesungguhnya sulit diduga di mana tempat bersemayam kita terakhir.”

Pikiran Hui-Kiam sangat kusut. Semua persoalan itu telah mengganggu pikirannya. Ie-It Hoan yang menyaksikan Hui Kiam bagaikan sedang melamun lalu berkata:

“Toako, bagaimanakah sebetulnya?”

Hui-Kiam berkata sambil menggelengkan kepala: “Tidak tahu, mari kita pergi.”

Turun dari gunung Kiong-San, menginjak jalan raya, cuaca sudah terang.

Ie-It Hoan hendak melakukan perjalanannya ke barat untuk mengurus urusannya sendiri, Hui-Kiam melakukan perjalanannya ke Timur untuk mendaki gunung Kiu-Kiong-San. Dengan demikian mereka terpaksa harus berpisah.

Hui Kiam dalam perjalanannya itu setelah menyebrangi sungai Han-cui ia membelok ke selatan.

Hari itu selagi berjalan, ia telah dapat lihat sepuluh bayangan orang yang lari mendatanginya, sebentar saja sudah berada dekat di

hadapannya. Kedua pihak lalu berpapasan. Hui Kiam terperanjat, karena orang-orang itu ternyata adalah orang-orang Persekutuan Bulan Emas di bawah pimpinan Ko Han San. Musuh lama bertemu lagi. Hui Kiam berpikir, bahwa pertempuran darah tidak dapat disingkirkan lagi. Kalau satu lawan satu untuk menghadapi Ko Han San tidak menjadi soal, tetapi ditambah dengan anak buahnya yang sedemikian banyak jumlahnya, agaknya susah diduga bagaimana kesudahannya.

Ko Han San mengawasi Hui Kiam dengan satu matanya kemudian berpaling dan bertanya kepada anak buahnya:

“Bagaimana?”

Satu di antara anak buahnya menjawab:

“Bapak komandan, menurut pendapatku yang bodoh, saatnya belum tiba, jangan kita terlalu sombong!”

Sekali lagi Ko Han-San mengawasi Hui Kiam, kemudian berkata sambil mengulapkan tangannya:

“Jalan!”

Rombongan itu lalu melanjutkan perjalanannya.

Hui-Kiam merasa bingung. Kalau tadinya ia mengira pertempuran darah tidak akan terhindar, tidak disangka, musuh- musuhnya itu berlaku begitu saja tanpa menegur apa-apa. Yang dimaksudkan oleh salah satu anak buahnya dengan perkataan saatnya belum tiba, jangan berlaku semberono. Apakah artinya? Sedangkan kalau melihat keadaannya adalah mudah sekali bagi mereka untuk menghadapi dirinya, mengapa harus mengatakan belum tiba saatnya?”

Sejak mengutungkan lengan tangan satu utusan dari Persekutuan Bulan-Emas di pusat Sam Goan Pang, Hui Kiam lalu menumbuhkan bibit pembunuhan dengan persekutuan tersebut. Maka kalau perkataan ini keluar dari orang-orangnya Bulan Emas dan melepaskan dirinya begitu saja, sesungguhnya tidak dapat dimengerti.

Dengan rupa-rupa pertanyaan dalam otaknya, ia melanjutkan perjalanannya. Hari itu ia sedih tiba di gunung Kiu Kong San, tetapi di mana orangnya yang harus dicarinya?

Lima puluh tahun berselang dalam kalangan Kang-ouw tidak terdengar lagi namanya Tiga Raja Rimba Persilatan, maka boleh diduga bahwa tempat tinggal Jien Ong pasti merupakan tempat tersembunyi, untuk mencarinya mungkin bukan merupakan suatu usaha yang sangat mudah.

Kedatangannya itu meskipun mengandung maksud, tetapi boleh dikata tidak. Maksudnya memang mencari Jien Ong, tetapi mencari di daerah pegunungan yang demikian luas jadi berubah mencari tanpa tujuan.

Ia memilih tempat-tempat yang agak tinggi dan memperhatikan tempat-tempat yang letaknya paling tersembunyi. Tetapi dengan demikian ia sudah membuang waktu setengah harian. Di waktu malam ia terpaksa makan rangsum kering yang ia bawa dan tidur ke dalam gua.

Hari kedua, ia melanjutkan usahanya untuk mencarinya.

Diantara suara menderunya angin gunung, samar-samar terdengar suara bunyi genta kuil. Hui Kiam coba memperhatikan bunyi suara itu. Bunyi genta itu, ternyata keluar dari dalam rimba yang lebat. Dalam hatinya selalu berpikir: Tidak diduga bahwa tempat yang jarang diinjak oleh manusja, juga terdapat kuil. Mengapa aku tidak pergi kesana, mungkin dapat menemukan apa- apa, setidak-tidaknya lebih baik daripada mencari tanpa tujuan.

Karena berpikir demikian, maka ia lari menuju ke rimba tersebut.

Tiba di tempat yang dituju, tampak olehnya sebuah kuil tua yang keadaannya hampir rusak. Ada sebuah jalan kecil yaug menuju ke kuil tersebut, nampaknya sudah bertahun-tahun jalan itu tidak dilalui oleh manusia.

Hui Kiam setelah berpikir sejenak, lalu berjalan menuju ke kuil tua itu.

Kuil itu tidak besar, di sana-sini keadaannya sudah banyak yang rusak, suatu tanda bahwa usia kuil itu sudah terlalu tua, di atas pintu terdapat sepotong papan hitam dengan tulisan huruf berwarna emas.

Suara genta terdengar dari dalam kuil, samar-samar terdengar pula suara orang membaca doa.

Hui Kiam menghela napas dalam, dia berjalan menuju ke pendopo. Keadaan dalam pendopo itu ternyata merupakan suatu perbandingan yang amat menyolok dengan keadaan di luarnya.

Kalau keadaan di luar kuil nampak sudah banyak yang rusak, tetapi keadaan dalam pendopo dirawat sedemikian bersih. Di atas meja sembahyang terdapat patung tua dan pelita minyak. Di atas meja sembahyang masih ada asapnya yang mengepul dari dupa sembahyangan. Seorang padri tua berlutut di hadapan meja sembahyang. Dengan satu tangan mengetok meja sembahyang, tangan yang lain melakukan suatu gerakan tertentu ke tempat yang kosong, tetapi setiap kali ia gerakkan tangan ke atas segera terdengar nyaringnya suara genta. Hui Kiam yang menyaksikan pemandangan tersebut diam-diam hatinya bergidik.

Sebuah genta besar, terpancang di satu sudut di dalam pendopo itu, terpisah di tempat berlututnya padri tua itu sedikitnya masih ada tiga atau empat tombak, tetapi padri tua itu hanya dengan kekuatan tenaga sebuah tangannya yang digerakkan ke arah genta dari jarak sejauh itu, ternyata dapat membunyikan genta itu dengan satu nada suara yang tetap. Dari situ dapat dibuktikan bahwa padri tua itu pastilah bukan orang dari golongan sembarangan.

Ketika Hui Kiam memasuki pendopo, padri tua itu agaknya tidak mengetahui, ia masih tetap membaca doanya.

la menunggu cukup lama, padri tua itu baru selesai membaca doanya, kemudian bersujud di hadapan patung. Selesai beribadat, baru bangkit.

Kini Hui Kiam baru dapat melihat dengan tegas muka padri tua itu. Alisnya sudah putih seluruhnya, kulit pipinya sudah berkeriput, namun nampaknya sangat agung. Jubahnya banyak tambalan, sepasang kakinya telanjang sehingga mirip benar dengan patung hidup. Hui Kiam lalu maju memberi hormat seraya berkata:

“Boanpwee Hui Kiam, atas kedatangan boanpwee yang sudah mengganggu ketenangan Taysu, mohon dimaafkan.”

Padri tua itu membuka matanya. Dia mengawasi Hui Kiam sejenak, lalu berkata dengan suara agak serak:

“O-mie-to-hud, siaosicu datang darimana?”

Kalau bukan karena telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, Hui Kiam benar-benar tidak percaya kalau padri tua itu adalah orang rimba persilatan yang berkepandaian tinggi. Atas pertanyaan orang padri tua itu, ia lalu menjawab dengan sikap menghormat: 

“Boanpwee datang ke gunung ini hendak mencari seseorang. Karena mendengar suara genta, sehingga datang kemari. Siapa tahu kalau mengganggu ketenangan Taysu!”

“O-mie-to-hud, sungguh berdosa, dalam kuil yang terletak di pegunungan yang sepi ini, tidak ada barang untuk melayani siecu, hanya air jernih dari sumber gunung di luar kuil ini, cukup segar rasanya, harap siecu suka mengambilnya sendiri.”

“Bolehkah boanpwee menanya, gelar Taysu yang terhormat?” “Lolap Kak Hui!”

“Oh, bolehkah boanpwee minta tolong Taysu memberi petunjuk untuk sesuatu?”

Padri itu mengamat-amati Hui Kiam sejenak, lalu berkata: “Siaosicu bukan orang golongan Budha, lolap tidak dapat

memberi petunjuk.”

“Boanpwee hanva ingin minta keterangan tentang dirinya seseorang. ”

“Sudah lama lolap tidak mencampuri urusan dunia, barangkali tidak dapat memberi keterangannya!” “Kedatangan boanpwee ini sebetulnya hendak mengunjungi seorang cianpwee dari rimba persilatan. ”

“Siapa ?”

“Jien Ong locianpwee!”

Paderi tua itu memiringkan kepalanya untuk memikir, kemudian ia berkata:

“Emmm! Siecu itu memang ada, tetapi kau sudah tidak dapat menemukannya.”

Hui-Kiam sangat girang karena dianggapnya akan mendapat keterangan tentang diri orang yang dicari, maka ia buru buru berkata:

“Mengapa?”

“Sebab siecu itu sudah menutup mata beberapa puluh tahun berselang!”

“Apa? Jien Ong... sudah menutup mata? Tidak mungkin.” Padri tua itu mengangkat muka dan berkata:

“Siecu kata bahwa hal itu tidak mungkin?” “Ya!”

“Kalau begitu kau tentunya menganggap lolap telah membohong?”

“Tidak! Bukan begitu maksud boanpwee.   Kedatangan boanpwee ini adalah atas permintaan seorang nona ”

“Siaosicu, maafkan saja, lolap tidak ingin campur urusan dunia!” “Nona itu telah minta pertolongan boanpwee sebelum ia

menutup mata, sehingga boanpwee jauh-jauh datang kemari….”

Padri tua itu mengerutkan alisnya yang putih dan panjang, lalu berkata:

“Liesicu itu siapa namanya?” “Dikalangan Kang-ouw ia mendapat nama julukan Wanita Tanpa Sukma.”

“Anak durhaka!” demikian padri tua itu membentak dengan suara keras.

Hui Kiam terperanjat, hingga ia mundur selangkah.

Padri tua itu membuka lebar-lebar matanya. Dari matanya yang semula sayu, tiba-tiba melancarkan sinar tajam.

Hui Kiam bercekat, dalam hatinya berpikir:

Apakah padri tua ini justru.....

Kembali ia memberi hormat seraya berkata:

“Apakah Taysu kenal padanya?”

“Tidak kenal, tidak kenal. Siecu, silahkan!”

Hui Kiam yakin bahwa dugaannya tak keliru, maka ia keraskan hatinya dan berkata pula:

“Locianpwe adalah murid Buddha, tentunya tahu pantangan golongan Buddha yang kelima.”

Mata padri tua itu kembali nampak bersinar. Ia menjawab dengan tegas:

“Harap Siaosicu jangan coba menggunakan ketajaman lidah!”

Setelah berpikir bolak-balik akhirnya Hui Kiam mengambil keputusan hendak membuka kartu.  Ia berkata:

“Bukankah Looianpwe sendiri adalah Jien Ong?”

Sikap Padri Tua itu berubah seketika. Dengan suara tenang ia berkata:

“O-mie To hud, Buddha kami yang penuh kasih, sudah beberapa puluh tahun Tecu memencilkan diri, karena dasarnya kurang teguh sehingga melanggar pantangan! Sejenak ia berdiam, kemudian berkata pula: “Siao siecu, di dalam dunia ini sudah tiada orang yang bernama Jien Ong.”

Hui Kiam adalah seorang pemuda cerdik. Menyaksikan sikap padri tua itu, sudah dapat memastikan bahwa dugaannya sendiri tidak keliru, maka ia mendesak terus:

“Maksud Locianpwe hendak mengatakan bahwa nama Jien Ong itu sudah mati ”

“Siao siecu, Jien Ong itu baik nama maupun orangnya sudah tak ada.”

“Rasanya Locianpwe sudah tak dapat menyangkal lagi!” “Mengapa?”

“Orangnya sudah mati tentunya sudah tak dapat menggunakan jarum melekat tulang untuk membunuh orang secara beruntun runtun.”

Wajah padri tua itu kembali nampak berubah-rubah, sepasang matanya memancarkan sinar menakutkan. Dengan suara bengis ia berkata:

“Apa katamu?”

Dengan berani Hui Kiam menjawab:

“Boanpwee berkata bahwa jarum melekat tulang itu telah menimbulkan bencana.”

“Apakah perkataanmu ini ada buktinya?” “Sudah tentu ada!”

Ia lalu mengeluarkan sebuah jarum baju yang diambilnya keluar dari atas kepala Oey Yu Hong. Ia meletakkan jarum itu di telapak tangannya lalu berkata:

“Harap Locian-pwee memeriksanya sendiri!”

Paderi tua itu mengulurkan tangannya untuk mengambil jarum di tangan Hui Kiam. Setelah ia memeriksa, kulit mukanya nampak berkerinyut badannya gemetar. Ia mundur sampai tiga empat langkah, kemudian berkata:

“Jarum melekat tulang, bagaimana mungkin?” Wajah Hui Kiam berubah merah padam. Ia berkata: “Darimana kau mendapatkan jarum ini?”

“Dari badan si korban.” “Siapakah korban itu?” “Seorang perempuan muda.”

“Perempuan muda! Kau maksudkan Wanita Tanpa Sukma?” “Bukan, seorang wanita lain!”

“Ini..... Bagaimana mungkin ”

“Locianpwee tokh tidak akan menyangkal kalau ini adalah benda Locianpwee sendiri?”

“Ya.....benar! Tetapi. ”

Hawa amarah Hui Kiam meluap seketika. Keadaan mengenaskan tentang kematian suhunya dan supeknya, terbayang dalam otaknya, dan pada saat itu apa yang telah dihadapinya adalah seorang yang menakutkan, juga merupakan musuh besarnya, maka ia lalu berkata

dengan suara gemetar:

“Jien Ong, bagaimana cara kematian Lima Kaisar Rimba Persilatan?”

Padri tua itu berseru terkejut, kemudian ia ganti bertanya: “Bagaimana dengan Lima Kaisar?”

“Sudah menutup mata semua, tetapi mereka masih penasaran!” “Kau. ”

“Aku adalah orang yang menagih hutang dari Lima Kaisar itu.”

“Lolap sudah beberapa puluh tahun tidak mencampuri urusan dunia. ” “Dengan kedudukan Locianpwe, agaknya tidak perlu menyangkal dengan dalil apapun juga. ”

“Siao siecu, apakah kau anggap hal ini Lolap perlu harus menyangkal?”

“Tetapi mengapa Locianpwee tidak mengaku terus terang saja?” “Mengaku apa?”

“Mengaku membunuh orang!”

Pada saat itu, tiba-tiba Hui Kiam merasa di belakang dirinya terasa hembusan angin. Baru saja ia hendak menyingkir, pundaknya dirasakan seperti dicengkeram tangan orang. Badannya lalu terangkat naik, kemudian dilemparkan keluar. Untung orang itu tidak bermaksud melukai dirinya, sampai ia jatuh keluar baru bisa melompat bangun lagi, sebelum ia berdiri tegak di hadapannya berdiri seorang perempuan berpakaian hitam setengah tua. Dengan paras gusar perempuan itu mengawasinya dengan sinar mata yang tajam.

Orang yang telah melemparkan dirinya, pastilah perempuan setengah tua itu.

Padri tua itu masih berdiri di tempatnya, ia berkata kepada perempuan setengah tua itu:

''Giok Coan, jangan menyusahkan dirinya, tanyailah dengan terus terang.”

“Ya, giehu.”

Dari percakapan antara mereka, Hui Kiam tahu bahwa perempuan setengah tua yang bernama Giok Coan itu adalah anak angkatnya Jien Ong, tetapi seorang padri dengan seorang perempuan biasa berbahasakan demikian, rasanya kurang tepat, terutama tentang Jien Ong yang ternyata sudah menjadi padri, hal itu sesungguhnya di luar dugaannya.

Perempuan berbaju hitam itu berkata dengan nada suara dingin: “Baru saja kau mengatakan bernama Hui Kiam!” “Benar.”

“Muridnya Lima Kaisar?”

“Benar,” untuk pertama kali Hui Kiam mengakui dirinya terhadap orang luar.

“Tadi kau berkata bahwa ada seorang perempuan bernama Wanita Tanpa Sukma yang menunjukkan jalan kau datang kemari?”

“Ya, kenapa?”

“Apakah ia sudah binasa?” “Ya.”

Paras wanita itu tampak pucat, ia berkata kepada dirinya sendiri:

“Anak durhaka, memang tidak bisa hidup lama. Aku sudah menduga ia pasti akan mengalami nasib serupa itu.”

Sehabis berkata ia mencucurkan air mata. Hati Hui Kiam tergerak, ia lalu berkata:

“Wanita Tanpa Sukma adakah ”

Perempuan berbaju hitam itu coba berusaha untuk mengendalikan kesedihan dalam hatinya. Ia berkata:

“la adalah anak angkatku.”

Perempuan berbaju hitam itu adalah anak angkat Jien Ong. Sedang Wanita Tanpa Sukma adalah anak angkat perempuan berbaju hitam itu. Perhubungan ini agaknya sangat ganjil.

Perempuan berbaju hitam menanya:

“Dengan cara bagaimana ia menemui ajalnya?”

“Dibunuh oleh seorang perempuan yang bernama Oey-Yu Hong dan Oey-Yu Hong itu kemudian juga binasa karena jarum melekat tulang?”

“Benar!” “Apakah kau melihat orang yang menggunakan senjata jarum itu?”

“Tidak, ia menyerang secara menggelap dalam waktu malam gelap gulita.”

“Bagaimana ia bisa menunjukkan kau kemari?” “Sebab sepotong uang logam.”

“Oh! Kalau begitu kau adalah orang yang memegang sepotong uang logam lainnya?”

Hui-Kiam terperanjat. Ia berkata:

“Ya. Bolehkah Boan-pwee bertanya, mengapa Cian-pwee. ”

“Pada lima tahun berselang, anak-anakku ini di tengah perjalanan telah menjumpai seorang perempuan muda yang terluka parah, nampaknya sudah tidak dapat ditolong lagi. Perempuan itu mengeluarkan sepotong belahan uang logam. Ia minta anak angkatku itu untuk mencari orang yang membawa belahan uang logam lainnya. ”

“Oh!”

Badan Hui Kiam sempoyongan. Perempuan yang terluka parah yang hampir mati itu adalah sucinya sendiri yarg bernama Pui-Ceng Un.

“Selain daripada itu ia masih berpesan apa lagi kepadamu?” “Anak angkat Cian-pwee itu sebelum menutup mata hanya

mengucapkan perkataan: ‘Kiu Kiong-San. Jien Ong’, selain itu tidak

sempat mengucapkan apa-apa lagi.”

“Bagaimana kau tahu ia mempunyai sepotong uang logam itu?” “Sebab uang itu terjatuh di tanah ketika ia sedang bertempur

dengan seseorang. Ketika Boan-pwee melihat uang logam itu segera mengejar, tetapi ia sudah terluka di tangan lawannya.” Perempuan berbaju hitam itu kembali menitikkan air mata, terang bahwa ibu angkat itu mau tak mau merasa sedih atas kematian anaknya.

Hui Kiam dengan tidak sabaran bertanya pula:

“Bolehkah boanpwee bertanya, perempuan itu meninggalkan pesan apakah?”

“la berkata, supaya anak angkatku memberitahukan kepada orang yang memegang sepotong uang logam yang lain itu, bahwa barangnya sudah terjatuh di tangan jago pedang berkedok yang merupakan musuh lama dalam perguruannya.”

Hui Kiam kembali heran dan terkejut oleh keterangan itu. Kiranya kitab pusaka Thian-kie Po-kip sudah terjatuh di tangan musuh. Siapakah jago pedang berkedok itu?

Apakah orang yang menggunakan jarum melekat tulang itu atau bukan, tetapi jarum itu merupakan senjata tunggalnya Jien Ong, jadi jago pedang berkedok itu jikalau bukan Jien Ong sendiri, pasti adalah orang yang mempunyai hubungan erat dengannya, tetapi siapakah?

Diakah orang yang bersembunyi di dalam makam pedang itu? Diakah orang yang membunuh Oey Yu Hong?

Tetapi Sam Goan Lojin, Auw Yang Hong dan suami istri Liang Gie Sie-seng, orang-orang ini semua binasa karena kitab itu, bagaimana harus diartikan?.............

Perempuan berbaju hitam itu berkata pula dengan suara sedih: “Belum lama berselang, dengan tidak disengaja aku mendengar

kabar perbuatan yang terkutuk anak angkatku itu. Aku sebetulnya sedang bersiap-siap untuk mencari dia. Ah, ah, ah!”

“Sungguh tidak kuduga. Dia adalah seorang anak perempuan yang baik, sayang dunia Kang-ouw yang sudah penuh kejahatan telah merusaknya.” Karena pikiran Hui Kiam sedang kusut, ia tidak memperhatikan kedukaan perempuan itu. Ia bertanya pula:

“Kemudian bagaimana dengan perempuan yang luka parah itu?” “Mungkin telah binasa, tetapi hal itu tidak disebut-sebut oleh

anakku.”

“Oh.”

Hui Kiam merasa sangat sedih. Nasib malang yang menimpa diri perguruannya dan sucinya sudah cukup menyedihkan, tetapi semua itu agaknya masih belum khawatir, jago pedang berkedok itu masih berkeliaran dalam dunia, sepasang tangannya yang sudah berlumuran darah masih tetap mengancam dan akan minta lebih banyak korban jiwa manusia.

Pcrempuan berbaju hitam itu tiba-tiba berkata dengan sikap sungguh-sungguh:

“Sekarang kita balik kembali kepada pembicaraan semula, untuk membicarakan peristiwa berdarah yang berhubungan dengan jarum melekat tulang itu. ”

Padri tua itu berkata sambil menggerakkan tangannya: “Mari kembali!”

Hui Kiam dan perempuan berbaju hitam kedua-duanya masuk ke pendopo. Tiga orang itu berdiri berhadap-hadapan di tengah pendopo.

Padri tua itu dengan sikap yang agung, berkata dengan suara perlahan:

“Siao-Sie-cu, sebelum kau mengetahui lolap berada di sini, apakah kau sudah menganggap pasti lolap sebagai pembunuh?”

Karena pembicaraan itu sudah meningkat sedemikian jauh sehingga tidak perlu disembunyikan lagi. Tetapi hati Hui Kiam sedikit banyak masih merasa ragu-ragu. Andaikata padri tua itu benar adalah pembunuhnya, sedangkan ia sendiri sudah menyatakan asal-usul dirinya, kalau padri itu hendak mengambil jiwanya sesungguhnya mudah sekali, tetapi keadaan mendadak tidak boleh ia harus berlaku terus terang, maka ia lalu menjawab:

“Kenyataannya memang begitu!”

Wanita berbaju hitam berkata dengan nada suara dingin: “Apakah kau tidak merasa agak gegabah dengan anggapanmu

itu?”

Padri tua itu mengulapkan tangannya untuk mencegah wanita baju hitam itu bicara lagi. Ia berkata:

“Jarum melekat tulang itu memang benar adalah kepunyaan lolap tahun dahulu, berdasar atas ini sudah sewajarnya kalau siao-siecu beranggapan demikian.”

“Apakah Locianpwee mempunyai murid yang berkelana di dunia Kang-ouw?”

“Tidak ada. Lolap hanya mempunyai seorang anak angkat ini yang mendampingi lolap. Sejak lolap meninggalkan penghidupan dunia yang penuh dosa dan mencukur rambut menjadi padri, sudah beberapa puluh tahun belum pernah keluar dari kuil ini. Semua keperluan hidup lolap diurus oleh anak angkat lolap ini.”

Hui Kiam mengawasi wanita berbaju hitam itu sejenak lalu berkata:

“Apakah cianpwe sering bergerak di dunia Kang-ouw?” Wanita berbaju hitam itu mendelikkan matanya dan berkata:

“Kadang-kadang saja aku turun gunung, tetapi hanya sekitar seratus pal saja.”

Padri tua itu berpikir sejenak lalu berkata:

“Di dalam kalangan Buddha selalu percaya adanya sebab dan akibat. Sekalipun lolap yakin sangat teguh terhadap pelajaran Buddha, sedikit banyak sudah dapat memahami, munculnya jarum melekat tulang jelas sudah merupakan sebabnya, jikalau hal ini tidak diselesaikan. lolap juga tidak akan mendapat tempat selayaknya sebagai akibat dari sebab itu. Sayang lolap adalah seorang yang sudah mengungsikan diri, tidak berani menyeburkan diri ke dalam dunia lagi. Sudilah kiranya Siaosicu dengar perkataan lolap?”

“Boanpwe bersedia!”

“Jarum melekat tulang ini dahulu lolap bikin seluruhnya sepuluh buah. Pada delapan puluhan tahun berselang, dengan searang diri lolap bertempur melawan delapan iblis dari negara Thian Tok. Kala itu lolap telah menggunakan delapan buah. Sisa dua buah, sehingga sekarang masih ada belum pernah lolap gunakan.”

Sehabis berkata, ia lalu menyodorkan tangannya. Dalam telapakan tangannya benar ada tiga buah jarum baja yang bentuknya serupa. Satu di antaranya adalah yang tadi telah diserahkannya kepada padri tua itu.

Karena keterangan itu ternyata sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Orang Tua Tiada Turunan, maka Hui Kiam mau tidak mau harus percaya. Selain daripada itu, dari sikapnya padri tua itu dapat dipastikan memang bukanlah orang jahat seperti apa yang dibayangkan. Namun demikian jarum itu sudah meminta banyak korban sudah merupakan satu kenyataan, jadi dari manakah senjata itu?

“Memang apa yang Locianpwe tahu, di dalam dunia rimba persilatan siapa lagi yang bisa menggunakan senjata jarum itu?”

“Tidak ada. Senjata jarum Lolap ini walaupun agak ganas tetapi tidak berbisa. Jikalau tidak ditujukan ke bagian yang berbahaya, tidak bisa mengambil jiwa sedemikian cepatnya. Barang siapa yang terkena senjata ini, masih bisa hidup beberapa tahun tergantung dengan kepandaian orang    itu. Maksud semula Lolap ialah jarum itu bisa berjalan melalui darah, sehingga tiada seorang yang dapat mengeluarkan. Sedangkan orang yang terkena senjata ini, jikalau mau mengakui kesalahannya dan suka berjanji menjadi orang baik, Lolap masih sanggup mengeluarkan jarum itu. Walaupun senjata ini merupakan senjata tunggal, tetapi orang-orang rimba persilatan yang pernah menyaksikan benda ini barangkali sedikit sekali jumlahnya, kebanyakan hanya mendengar kabar saja!” “Walaupun jumlahnya sedikit sekali orang yang menyaksikan, tetapi itu masih berarti ada orang yang pernah melihatnya!”

“Itu hanya kata-kata Lolap untuk menggambarkan suatu kemungkinan saja, hakekatnya boleh dikatakan tidak ada.”

“Andaikata dua Lo Cian-pwee, Thian dan Tee, dua Raja Rimba Persilatan yang namanya dirangkaikan dengan Lo Cian pwee sehingga menjadi Tiga Raja. ”

“Siao-Siecu, apa yang disebut Tiga Raja dalam Rimba Persilatan, hanyalah merupakan nama julukan yang diberikan oleh sahabat- sahabat dari rimba persilatan terhadap tiga orang yang berkepandaian agak tinggi.   Sebetulnya tiga orang yang disebut Tiga Raja Rimba Persilatan itu,   masing-masing    berdiri sendiri, satu sama lain tidak mempunyai hubungan. Umpama Lolap sendiri, dalam seumur hidup ini, hanya satu kali saja pernah bertemu muka dengan dua orang itu.”

Ini merupakan suatu berita baru yang Hui Kiam belum pernah mendengar sebelumnya. Ternyata apa yang disebut dengan Tiga Raja Persilatan sebetulnya adalah tiga orang berkepandaian tinggi yang berlainan tempat tinggalnya.

“Dan bagaimana menurut anggapan Locianpwee?”

Padri tua itu memejamkan matanya lama sekali, ia baru membuka matanya dan berkata:

“Hanya satu kemungkinan. ”

“Boan-pwee ingin dengar!”

“Delapan Iblis dari Negara Thian Tok dahulu belum mati, lalu mengeluarkan jarum dari dalam badannya, atau sesudah mati jarum itu diambil oleh lain orang.”

“Itu adalah kejadian pada waktu delapan puluh tahun berselang, hal ini agak mengherankan.”

Pada saat itu, permusuhan dalam hati Hui Kiam, sudah lenyap. Menurut keadaan apa yang disaksikan, penjahat itu tidaklah mungkin kalau Jien Ong. Selain daripada itu, Jien Ong tidak mempunyai turunan, juga tidak mempunyai murid, Nampaknya ia tidak mengetahui semua peristiwa menganggap Lolap sebagai guru, semua terjadi karena jarum

melekat tulang, siapa tahu itu adalah suatu sebab buruk yang telah lolap tanam, maka dengan ini demi untuk menghapuskan sebab buruk itu bagi kebaikan lolap sendiri.”

Hui Kiam setelah berpikir baru berkata:

“Kalau begitu terpaksa boanpwe menerima.” “Lihat!”

Padri tua itu mulai memberikan pelajaran ilmu pukulan dengan tangan kosong. Itu merupakan suatu ilmu pukulan yang luar biasa aneh. Ia ulangi dan ulangi sampai tiga kali baru ia berkata:

“Ilmu pukulan itu dinamakan 'geledek di musim semi'. Sekarang kau boleh coba melakukannya dengan pohon tua dalam pekarangan itu sebagai sasaran!”

Hui Kiam menurut, ia kumpulkan seluruh kekuatan tenaganya untuk melakukan latihannya.

Sudah tiga kali ia melatih, tetapi pohon tua itu hanya gugur beberapa lembar daunnya saja sama sekali tidak ada tanda-tanda yang merugikan kehebatan serangannya itu.

Padri tua itu berkata dengan perasaan heran:

“Aneh, dasar kekuatan tenaga dalam Siaosiecu tidak seharusnya terbatas sampai di situ saja, bagaimana tak dapat mengeluarkan kekuatannya?”

Hui-Kiam sendiri juga tak mengerti gerak tipu yang aneh itu, mengapa nampaknya biasa saja?

Padri tua itu nampak berpikir lama, akhirnya ia berkata:

“Coba Lolap periksa urat nadi Siao siecu. Sekarang coba kau gerakkan tenaga dalammu.” Hui-Kiam menurut. Padri tua itu setelah meraba-raba dengan jatinya tiba-tiba berkata:

“Oh, ilmu semedi yang Siao-siecu pelajari amat berbeda jauh dengan pelajaran biasa. Pantas saja tidak bisa mengeluarkan keampuhannya.”

Hui Kiam baru ingat bahwa kekuatan tenaga dalamnya sendiri didapatkan menurut pelajaran bagian atas kitab pusaka Thian khie Po-kip, jika digunakan untuk mempelajari ilmu kepandaian cabang lain, dengan sendirinya tidak dapat menyesuaikan diri. Maka ia lalu berkata dengan hati agak kecewa:

“Budi kebaikan Locianpwe, boanpwe cuma dapat menerima di dalam hati saja.”

“Tidak! Lolap masih ada jalan lain, harap Siao-siecu duduk bersila!”

Hui Kiam tercengang lalu, berkata: “Locianpwe. ”

“Ini adalah rejekimu, tidak perlu kau menanya lagi!” demikian perempuan itu berkata. Kedua tangannya menekan pundak Hui Kiam. Sungguh hebat tekanan itu, sehingga Hui Kiam tidak berdaya. Dengan sendirinya ia menurut dan duduk bersila.

Satu tangan padri tua itu diletakkan pada bagian jalan darah Thian Tok Kiat. Hui Kiam mengerti apa artinya ini. Sebentar kemudian ia merasakan hawa panas mengalir ke dalam tubuhnya. Jikalau ia tidak mau menerima, akibat kedua pihak bisa celaka. Maka ia terpaksa memusatkan seluruh perhatiannya untuk menerima aliran panas yang masuk ke dalam tubuhnya.

Ia merasakan dirinya seperti dibakar, sehingga keringatnya mengucur deras.

Tidak berapa lama, aliran hawa panas itu tiba-tiba berhenti. Tetapi ia segera merasa sekujur badannya berubah menjadi segar, kekuatan tenaga dalamnya tambah berlimpah-limpah. Ia segera berbangkit dan memberi hormat kepada paderi tua itu, seraya berkata:

“Terima kasih banyak-banyak atas pemberian hadiah Lo- cianpwee!”

“Kau tidak perlu mengucap terima kasih. Kalau Lolap menyempurnakan dirimu, itu berarti Lolap harus menyelesaikan sebab dan akibat yang telah terjadi itu.   Tetapi karena terbatas dasar kita yang berlainan, kau tidak dapat menerima pelajaran pukulan tangan kosong itu. Maka Lolap terpaksa membantu dengan jalan lain menghadiahkan kau kekuatan tenaga yang berarti dengan latihan tiga puluh tahun.”

“Hui Kiam terheran-heran. Paderi tua itu setelah memberikan kekuatan tenaga dalam padanya yang mempunyai dasar latihan tigapuluh tahun, ternyata wajahnya tidak berubah, maka kekuatan tenaga bathin orang itu, benar-benar sudah mencapai taraf yang tidak ada taranya.

Perempuan berbaju hitam itu bertanya:

“Di mana letak makam anak angkatku itu?” “Di lembah Ciok Bing Gam.”

“Apakah kau sendiri yang mengubur?”

“Ya, Boanpwee waktu itu menganggap dia adalah Pui Ceng Un Sucie, maka di atas batu nisannya Boanpwee tulis nama: Pui Ceng Un, sehingga kini masih belum dirubah.”

“Baik, aku ucapkan terima kasih kepadamu. Aku nanti akan memindahkan makamnya ke gunung Kiu Kiong San.”

Padri tua itu berkata sambil merangkapkan kedua tangannya: “Siao Siecu, Lolap mengharap bisa mendengar hasil peristiwa

jarum melekat tulang itu!”

“Jikalau Boanpwee berhasil menyelesaikan persoalan ini, pasti akan datang lagi untuk menengok Locianpwee. Sudah tidak ada petunjuk lain lagi, Boanpwee minta diri, dan mohon maaf sebesar- besarnya.”

“O-mie-to-hud, semoga Buddha yang penuh kasih akan melindungi perjalanan Siao Siecu.”

Setelah Hui Kiam keluar dari kuil itu, pikirannya masih tetap kusut. Dia agak kecewa bahwa dalam perjalanannya ke gunung Kiu Kiong San, hasilnya ternyata jauh berlainan dengan apa yang ditanyakan, bahkan di luar dugaannya mendapat tambahan kekuatan tiga puluh tahun dan caranya untuk memecahkan barisan gaib baik di luar makam pedang.   Apa yang lebih berharga dan patut dibuat menghibur hatinya ialah dalam perjalanan itu ia telah mendapat bukti bahwa pembunuh itu masih tetap adalah jago pedang berkedok yang muncul pada sepuluh tahun berselang, dan kini asal ia tekun dalam usahanya mencari pembunuh itu maka sakit hatinya pasti terbalas.

Tetapi yang masih menjadi pikiran ialah kitah pusaka Thian-khie Po-kip bagian bawah ternyata sudah terjatuh di tangan musuhnya. Jikalau musuh itu berhasil mempelajari ilmu silat yang tertera di dalamnya, ditambah lagi dengan senjata purbakala yang disimpan di dalam makam pedang itu, siapa yang mampu menandinginya?

.........

Ketika turun dari gunung Kiu-kong-san, sudah hari kedua paginya.

Setelah beristirahat di suatu rumah penginapan kecil, ia balik ke utara. Tujuannya ialah lembah Ciok-bing-gam.

Setelah melakukan perjalanan beberapa hari lamanya, hari itu ia tiba di luar jalanan yang menuju rimba tersebut. Apa yang tampak olehnya ialah makam Wanita Tanpa Sukma.

Hui Kiam menghampiri makam tersebut. Karena dulu ia salah menganggap Wanita Tanpa Sukma adalah sucienya, dan kemudian ternyata bukan, maka batu nisannya ia telah robah namanya menjadi Wanita Tanpa Sukma. Ia berdiam sejenak di hadapan makam itu, baru memutar badannya dan lari menuju ke jalan yang menuju lembah.

Tidak berapa lama ia sudah tiba di tepi danau dingin di hadapan makam pedang. Saat itu meskipun matahari sudah naik tinggi tetapi keadaan di sekitar danau itu masih sunyi sepi.

Ketika ia menengok ke arah barisan batu gaib itu, keadaannya tak berbeda seperti apa yang pernah dilihatnya. Hanya waktu itu banyak berkumpul orang-orang rimba persilatan, dan kini hanya ia seorang yang ada di situ sehingga kelihatannya nampak menyeramkan.

Ia mulai berpikir: Siapakah orangnya dalam barisan gaib itu?

Jago pedang berkedok ataukah muridnya?

Kalau dia memikirkan bagaimana banyak tokoh rimba persilatan yang dilempar keluar setelah dimusnahkan kepandaiannya, atau mati tenggelam dalam danau yang airnya dingin itu, mau tak mau hatinya bergidik juga.

Meski ia sendiri sudah mengerti caranya memasuki dan keluar dari barisan gaib itu, serta mempunyai tambahan kekuatan tenaga dalam, tetapi apakah ia masih sanggup melawan orang dalam barisan, itu masih merupakan satu pertanyaan.

Tetapi kalau dia memikirkan permusuhan dalam perguruannya, keberaniannya lalu terbangun.

Dengan kemauan keras ia berjalan masuk menuju ke dalam barisan gaib itu.....

Tiba-tiba terdengar suara bentakan:

“Berhenti!”

Hui-Kiam terperanjat, ia tidak menduga bahwa di situ bersembunyi seseorang. Ia lalu berhenti dan membalikkan badannya. Di jalanan masuk yang menuju ke lembah itu muncul lima bayangan orang. Berjalan di muka adalah seorang tua yang berpakaian sangat perlente namun wajahnya nampak seram dan menakutkan. Di belakangnya empat laki-laki berpakaian hitam dengan menyoren pedang. Dari sinar mata orang tua itu adalah tokoh kuat yang mempunyai latihan baik.

Empat laki-laki berpakaian hitam itu setelah menampakkan diri, masih tetap berdiri di tempat masing-masing, sedang orang tua yang berpakaian sangat perlente itu lalu menghampiri. Setelah matanya memandang Hui-Kiam dari atas sampai ke bawah baru berkata:

“Apakah kau bukan Penggali Makam?”

Hui Kiam merasa heran bahwa orang tua itu bisa menyebutkan namanya. Ia segera menjawab dengan nada suara dingin:

“Aku benar adalah Penggali Makam, siapakah Tuan?”

“Aku adalah komandan barisan persekutuan Bintang Emas, namaku Ong Khing Kao!”

Ketika Hui Kiam mendengar disebutnya Persekutuan Bintang Emas, wajahnya berubah seketika. Ia berkata dengan suara lebih keras:

“Ada urusan apakah?”

“Kau segera meninggalkan tempat ini!” “Kau suruh aku meninggalkan tempat ini?” “Benar!”

“Mengapa?”

“Jangan tanva mengapa, permintaanku ini adalah dengan maksud baik!”

“Ha, ha, ha, sungguh aneh, tidak sangka Persekutuan Bintang Emas bisa berlaku begitu baik hati terhadap aku.”

Wajah Ong Khing Hao nampak berubah. Ia lalu berkata: “Penggali Makam, kau jangan berlagak pintar sendiri. Kau lihat

di tanah ini barang apa?”

Hui Kiam lalu melihat ke arah yang ditunjuk. Ia segera lihat bubuk berwarna hitam yang tersebar dari belakang mulut goa sehingga ke dalam batu aneh. Selain dari pada itu di sekitar danau juga terdapat bubuk hitam itu yang menuju ke barisan aneh. Setelah ia mengenali bubuk itu, bukan kepalang terkejutnya, lalu berkata dengan suara agak gemetar:

“Itu sumbu obat peledak?” “Benar!”

“Apakah kau hendak meledakkan makam pedang?” “Benar!”

Hui Kiam segera mengerti maksud Persekutuan Bulan Emas. Karena tidak berhasil mendaptakan barang-barang berharga dalam makam pedang itu, dan mereka tak ingin barang-barang itu jatuh di tangan orang lain, maka hendak meledakkan makam itu. Jika akal kejinya itu terlaksana, mungkin orang yang berada dalam makam pedang itu juga akan terkubur hidup-hidup, dengan demikian juga berarti bahwa segala usaha dan rencana akan tersia-sia semuanya.

Apa yang mengherankan ialah, ia sendiri mempunyai permusuhan sangat dalam dengan Persekutuan Bulan Emas, mengapa orang tua itu memberitahukan kepadanya supaya jangan mendekati makam itu?

“Mengapa kau memberi peringatan kepadaku?” demikian ia berkata.

“Sebab ada orang yang tidak ingin kau binasa.” “Siapa?” bertanya Hui Kiam heran.

“Di kemudian hari kau nanti tahu sendiri!” jawab Ong Kheng Hao sambil ketawa menyindir.

“Kau tidak bersedia untuk memberitahukan sekarang?”

“Ya saat ini aku belum dapat memberitahukan kepadamu.” “Jika aku katakan jangan meledakkan, bagaimana?”

“Kau tidak sanggup menghalangi!”

“Apakah maksud hendak meledakkan barisan gaib ini?” “Untuk menghindarkan jatuhnya lebih banyak korban jiwa manusia!”

“Apakah Persekutuan Bulan Emas benar-benar demikian baik hati?”

“Percaya atau tidak, terserah kepadamu sendiri.”

---ooo0dw0ooo---