Pedang Pembunuh Naga Jilid 10

Jilid 10

HUI Kiam berusaha menenangkan pikirannya. Ia mulai menganalisa dari semua orang yang berhubungan dengan kejadian ini. Yang memberi kabar itu adalah seorang berbaju lila dan orang baju lila itu belum lama berselang pernah mengunjukkan diri di depan makam yang megah itu kemudian menghilang secara misterius. Apakah tidak mungkin dia....

Berpikir sampai di situ badannya gemetaran. Orang berbaju lila itu berkali-kali menanyakan; apa sebabnya ia yang masuk ke loteng merah, tidak dibinasakan. Dan yang terakhir orang itu telah menggunakan ilmu mengalihkan semangat untuk menanyakan apa yang telah terjadi di loteng merah itu, sehingga di luar keinginannya sendiri ia sudah menceritakan semuanya, kemudian orang berbaju lila itu mengabarkan tentang diri To-liong Kiam-khek yang dibuang ke dalam gua ini. Tidak salah lagi, orang baju lila itulah yang merencanakan rencana keji ini. Tujuannya ialah hendak membinasakan penghuni loteng merah, tetapi dengan demikian dengan tanpa disadari ia sudah merupakan komplotan dalam kejahatan ini.

Andaikata benar bahwa orang yang berada dalam gua itu adalah To-liong Kiam-khek dan sekarang To-liong Kiam-khek sudah mati, maka usahanya untuk menuntut balas terhadapnya tidak akan terlaksana lagi.

Siu Bie tiba-tiba menghunus pedangnya. Dengan wajah beringas dan suara bengis ia berkata kepada Hui Kiam:

“Penggali Makam, sekarang kau harus bertanggung jawab!”

Hui-Kiam terperanjat. Ia balik bertanya: “Nona Siu, kau minta aku tanggung jawab?” Sementara itu tiga perempuan lainnya sudah lari ke tempat yang bekas terjadinya peledakan tadi, ingin mencari bangkai majikannya.

Sambil kertak gigi, Siu Bie berkata: “Penggali Makam, siapa biang keladinya?”

Hui Kim dapat mengerti perasaan nona itu maka ia menjawab dengan tenang: “Nona Siu bicara harus dipikir dulu masak-masak, aku sendiri juga hampir masuk ke dalam gua itu!”

“Nyatanya kau toh masih hidup!”

“Kau tentunya dengar suara orang yang memberi perintah tadi?” “Apakah itu bukan suatu rencana yang sudah diatur lebih dulu?” “Kalau begini mengapa kalian berempat juga masih hidup?''

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri bercampur dengan beberapa suara bentakan. Hui Kiam dan Siu Bie, menengok ke arah datangnya suara itu. Dekat tanda bekas ledakan tadi, tampak seorang laki-laki berpakaian warna lila yang memakai kerudung di mukanya.   Salah satu dari perempuan muda berbaju lila, sudah binasa di bawah pedang laki-laki berbaju lila itu.

Dengan kemurkaan yang meluap Hui Kiam berseru: “Orang berbaju lila, kiranya adalah kau!”

Sementara itu orang berbaju lila itu menggerakkan pedangnya bagaikan kilat cepatnya, kembali merobohkan satu perempuan muda yang melawannya.

Siu Bie menggeram, lalu menubruknya dengan pedang terhunus. Hui Kiam kini sudah mendapat kenyataan bahwa orang berbaju lila itulah yang telah merencanakan pembunuhan kejam ini, maka seketika itu dengan tanpa pikir kekuatan tenaganya sendiri juga segera maju menyerang.

Dua orang itu baru tiba di tempat pertempuran, perempuan muda yang ketiga sudah mati lagi di bawah pedang orang berbaju lila.

Siu-Bie segera menyerang hebat orang berbaju lila itu.

Orang berbaju lila itu menangkis dengan pedangnya. Ketika kedua senjaia itu saling beradu masing-masing mundur satu langkah. Dari sini ternyata bahwa kekuatan Siu-Bie jauh lebih tinggi daripada tiga kawannya yang sudah mati.

Dengan suara bengis Siu-Bie menegur:

“Kau siapa? Mengapa bertindak begitu kejam?” Orang berbaju lila itu menjawab dengan suara seram:

“Budak, di alam baka suhumu nanti bisa memberitahukannya kepadamu!”

“Iblis, aku akan mengadu jiwa denganmu!”

“Sudah tentu aku juga tidak akan membiarkan kau hidup sendiri!”

Keduanya saling menyerang lagi. Kedua pihak masing-masing mengeluarkan gerak tipunya yang aneh-aneh. Dalam waktu sangat cepat beberapa jurus sudah berlalu. Tiba-tiba terdengar suara bentakan orang berbaju lila:

“Rebah!”

Lalu disusul oleh suara jeritan, badan Siu Bie terhuyung-huvung, kemudian roboh.

“Orang berbaju lila, kau iblis kejam!” Hui Kiam mengeluarkan suara bentakan keras.   Dengan gerak tipu ilmu pedangnya yang luar biasa, dengan tenaga sepenuhnya ia melakukan serangannya.

Orang berbaju lila itu baru saja hendak membinasakan Siu Bie yang roboh terluka. Karena serangan Hui Kiam yang amat dahsyat itu, terpaksa mengurungkan maksudnya. Dia menggunakan pedangnya untuk menangkis pedang Hui Kiam. Ketika dua pedang saling beradu, orang berbaju lila itu karena dalam keadaan tergesa- gesa sehingga terpental mundur.

Serangan kedua Hui Kiam sudah menyusul.

Orang berbaju lila itu tiba-tiba tertawa, kemudian menyambut serangan Hui Kiam yang hebat itu. Kali ini Hui Kian yang terdesak mundur sampai tiga langkah.

Terdengar pula suara bentakan orang berbaju lila. Pedang Hui Kiam tiba-tiba terlepas dari tangannya.

Ujung pedang orang berbaju lila itu mengancam dada Hui Kiam.

Dengan suara seram berkata:

“Penggali Makam, nampaknya aku terpaksa akan membunuh mati dirimu!”

Dada Hui Kiam dirasakan hampir meledak. Tetapi ia tidak berdaya. Ia hanya menantikan kematiannya saja.

Ujung pedang perlahan-lahan nancap ke dada Hui Kiam, darah mulai mengalir keluar....

Tiba-tiba terdengar suara:

“Tahan!”

Suara itu meskipun suara bentakan, tetapi didengarnya merdu sekali.

Hui Kiam yang mendengar suara itu hatinya berdebar keras, ia sudah dapat mengenali bahwa suara itu adalah suaranya To-hong Hu Bun si wanita cantik luar biasa. Orang berbaju lila itu dengan tanpa sadar menarik kembali pedangnya….

Sesosok bayangan orang sudah berada di depan mereka. Dia sedikitpun tidak salah adalah To-hong Hui Bun.

Kedatangan perempuan cantik di tempat tersebut benar-benar di luar dugaan Hui Kiam.  Maka ia lalu berseru:

“Enci!”

Orang berbaju lila itu berseru terkejut:

“Apa? Enci?”

“Kau jangan menyentuh dirinya!” berkata Tong-hong Hui Bun dengan suara dingin.

Dengan mata beringas orang berbaju lila itu berkata: “Kau... apa maksudmu!”

“Tidak apa-apa, aku hanya tidak mengijinkan kau mengganggu seujung rambutnya saja!”

“Kau tentunya tidak bersungguh-sungguh?” “Sungguh-sungguh!”

“Ucapanmu ini sangat aneh?”

“Kau… kau… bermaksud apa terhadap dirinya?”

“Aku anggap dia sebagai adikku, maka aku berkewajiban melindungi keselamatannya!”

Orang berbaju lila itu mundur sampai tiga-empat langkah, jelas sekali bahwa perasaannya telah tersinggung.

Sebaliknya dengan Hui Kiam. Saat itu ia tercengang. Kalau didengar dari pembicaraan mereka, antara Tong-hong Hui Bun dengan orang berbaju lila itu agaknya pernah ada hubungan satu sama lain. Tetapi entah hubungan apa?

Orang berbaju lila itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak kemudian baru berkata: “Tong-hong Hui-Bun, dari sudut usiamu, kau patut menjadi ibunya.”

“Tutup mulut!” “Kau… benarkah. ”

“Aku minta kau tutup mulut!”

Orang berbaju lila itu menggeram hebat. Dengan tiba-tiba dan kecepatan bagaikan kilat pedangnya menikam Hui Kiam. Serangannya itu agaknya dilakukan dengan pikiran gelap sehingga ia turun tangan sedemikian kejam dan ganas, sampai Hui Kiam tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk menyingkir.

“Kau berani!”

Di antara suara bentakan, Tong-hong Hui Bun dengan kecapatan bagaikan kilat melancarkan serangan dari samping. Jari kiri digunakan untuk menotok.

Hui-Kiam cuma merasakan sakit di dadanya yang ternyata sudah terluka oleh ujung pedang sehingga darah mengucur keluar, sedangkan orang berbaju lila itu sendiri nampak mundur terhuyung- huyung.

Jikalau Tong-hong Hui-Bun tidak cepat bertindak, niscaya Hui Kiam saat itu sudah binasa di ujung pedang orang berbaju lila itu.

Sinar mata yang memancar keluar melalui kerudung orang berbaju lila itu, nampaknya bagai binatang buas. Kebuasan dan kekejamannya serta kebenciannya bagi siapa yang melihatnya mungkin tidak akan melupakan seumur hidupnya. Mata itu terus mengawasi paras Tong-hong Hui Bun yang cantik, agaknya ingin menelannya hidup-hidup.

Dengan perasaan agak tidak tenang Tong-hong Hui Bun mundur selangkah.

Lama orang berbaju lila itu baru mengeluarkan perkataannya. Suaranya menunjukkan perasaan hatinya yang terluka, tetapi hal itu berlainan jauh dengan sikap yang ditunjukkannya, lalu berkata: “Hui Bun, aku harap kau bukan sungguh-sungguh demikian. Pikir saja….”

Tong-hong Hui Bun dengan cepat lantas memotong perkataannya. Ia berkata:

“Dalam seumur hidupku tidak gampang-gampang aku merubah keputusan yang sudah kuambil.”

Orang berbaju lila itu agaknya sudah tidak dapat mengendalikan dirinya. Ia membentak dengan suara keras:

“Hingga hari ini aku baru mengenal watakmu yang sebenarnya.

Tong-hong Hui Bun, kau ingin bagaimana?”

“Aku harap selanjutnya kau jangan melihat aku lagi!”

“Pererrpuan hina, kau…!” berkata orang baju lila itu dengan suara gemetar.

Paras Tong-hong Hui Bun mengunjukkan sikapnya yang menakutkan. Sikap yang biasanya menarik dan men ggiurkan, kini telah lenyap sama sekali, dan sinar matanya yang memikat hati telah berubah menjadi sedemikian buasnya.

Hui Kiam saat itu sudah menotok jalan darahnya sendiri untuk menghentikan mengucurnya darah. Sikap yang ditujukan oleh Tong-hong Hui-Bun menimbulkan perasaan jerih dalam hatinya. Kini ia telah dapat melihat sifat lain di balik sifat yang halus lembut dan menarik hati.

Tong-Hong Hui-Bun maju beberapa tindak. Dengan suara dingin ia berkata:

“Karena kau mengeluarkan perkataan tidak sopan, maka jangan sesalkan aku bertindak keterlaluan terhadap dirimu!”

“Sungguh tidak diduga kau seorang perempuan sedemikian.” “Sekarang tahu masih keburu.”

“Sayang Tuhan telah memberikan kepadamu paras begitu cantik, tetapi jiwamu….” “Tutup mulutmu!” “Aku menyesal.”

“Sekali lagi kukatakan, selanjutnya jangan sampai aku melihat kau lagi, untuk selama-lamanya!”

Pikiran orang berbaju lila itu terguncang hebat. Sambil menghentakkan kakinya ia berkata:

“Baik suatu hari kelak aku pasti akan membunuh kau!” Sehabis berkata ia balikkan badannya hendak berlalu. “Tunggu dulu!”

Tong Hong Hui Bun dengan kecepatan luar biasa telah bergerak dan merintangi di hadapan orang berbaju lila yang sudah berada di tempat sejauh lima tombak, kemudian berkata sambil mengulapkan tangannya:

“Kau ingin berlalu begitu saja?” “Habis mau apa?''

“Tinggalkan kepandaianmu!” “Apa?”

“Tinggalkan kepandaianmu, dan bertindaklah sendiri!”

“Ha, ha, ha, Tong Hong Hui Bun, hatimu lebih jahat daripada binatang buas. Apakah kau kira kau sanggup melakukan itu?”

“Aku selamanya cuma berkata cukup satu kali saja, tidak ada suatu yang tidak dapat aku lakukan.”

“Kalau begitu terpaksa aku mengadu jiwa denganmu!” “Itu berarti kau mencari mati sendiri!”

Keduanya lalu bertempur sengit. Ini merupakan suatu pertempuran dahsyat yang jarang terjadi.

Di sana muridnya Penghuni Loteng Merah, Siu Bie sedang berdiri dengan susah payah. Parasnya pucat pasi, bajunya penuh darah. Ia mendekati Hui Kiam lalu berkata kepadanya: “Hui Siaohiap, keliru sekali anggapanku terhadap dirimu!” “Tidak apa!”

“Utang darah ini aku nanti akan membuat perhitungan dengan orang berbaju lila itu. Sekarang aku mempunyai permintaan yang kurang pantas….”

“Nona Siu, kau katakan saja!”

“Kalau keadaan mengijinkan, tolong kau kubur jenazah tiga kawanku itu!”

“Boleh, aku pasti akan melakukannya.”

“Aku akan ingat budimu ini. Sampai berjumpa lagi.”

Sehabis berkata ia lalu berjalan turun gunung. Jelas sekali, bahwa Siu Bie ini merupakan seorang perempuan yang luar biasa. Ia tahu bahwa keadaannya sendiri sangat berbahaya. Ia tidak sudi mengorbankan jiwanya secara cuma-cuma, maka ia lekas-lekas menyingkir, supaya di kemudian hari bisa menuntut balas.”

Pertempuran antara Tong Hong Hui Bun dan orang berbaju lila sudah berlangsung sepuluh jurus lebih. Kepandaian Tong Hong Hui Bun sesungguhnya luar biasa, hanya dengan sepasang tangan kosong ia menghadapi orang berbaju lila yang menggunakan senjata pedang, dan toch ia sudah berhasil mendesak lawannya sedemikian rupa, sampai tidak mampu balas menyerang sama sekali.

Hui Kiam memasang matanya menyaksikan pertempuran hebat itu.

Perlahan-lahan orang berbaju lila itu terdesak mundur ke tepi jurang yang dalam sekali. Apa yang mengherankan, setiap serangan pedang orang berbaju lila selalu dipunahkan oleh Tong- hong Hui Bun bahkan dibalas dengan serangan yang mematikan. Nampaknya perempuan cantik itu kenal baik gerakan ilmu pedang orang berbaju lila itu. Jikalau tidak, tidak mungkin ia dapat menghadapi sedemikian tenangnya. Orang berbaju lila itu agaknya sudah mengetahui bahwa dirinya dalam keadaan sangat berbahaya. Ia berusaha untuk menukar tempat supaya dapat menghindarkan dirinya terjatuh dalam jurang. Tetapi Tong Hong HuiLBun agaknya sengaja mendesaknya ke jalan buntu, sedikitpun tidak mengendorkan serangannya.

Akhirnya ketika suara bentakan keras keluar dari mulut perempuan cantik itu, badan orang berbaju lila sudah melayang turun ke dalam jurang.

Hui Kiam lalu berseru:

“Jangan biarkan ia mati!”

Tetapi sudah terlambat, suara jeritannya orang berbaju lila itu perlahan-lahan menghilang ke bawah jurang.

Benar seperti apa yang dikatakan oleh orang berbaju lila, mungkinkah ia hanya mempunyai kecantikan di luarnya, tetapi hatinya jahat bagaikan ular berbisa?

Mengapa ia memaksa orang berbaju lila itu terjun ke dalam jurang?

Di antara ia dengan orang berbaju lila agaknya pernah terjalin hubungan apa-apa. Hubungan apakah sebetulnya?

Hui Kiam merasa berduka, perempuan pujaannya, ternyata tidak begitu sempurna seperti apa yang ia bayangkan.

Tong-Hong Hui-Bun perlahan-lahan membalikkan badannya. Parasnya masih menunjukkan senyumnya yang manis seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Anggapan yang tumbuh dalam hati Hui-Kiam, telah lenyap seketika ditelan oleh senyuman manis itu.

Ia memang terang cantik. Kecantikannya itu menyebabkan orang tidak berani menimbulkan kesan buruk terhadap dirinya, apalagi mencurigai perbuatannya. Semua itu seolah-olah merupakan dosa terhadap dirinya.

“Adik.” Suara yang membawa daya penarik, ditambah dengan sinar matanya yaag jernih dan berpengaruh, membuat jantung Hui Kiam tergoncang hebat. Pikiran yang bukan-bukan timbul dalam otaknya.

“Apakah kau anggap encimu terlalu kejam?”

“Ini...” Hui Kiam tidak tahu bagaimana harus menjawab.

“Kau yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana menyedihkan kematian Penghuni Loteng Merah dan muridnya. ”

“Apakah itu benar rencana kejam Orang Berbaju Lila?” “Kiranya tidak ada salah!”

“Mengapa ia harus membinasakan Penghuni Loteng Merah?” “Ini aku tidak tahu lagi!”

“Sayang.” “Sayang apa?”

“Ada beberapa pertanyaan aku ingin mendapatkan keterangan dari dirinya.  Sayang ia sudah mati.”

“Pertanyaan apa?”

“Umpama ini dengan menggunakan akal kejam seperti itu hanya untuk membinasakan jiwa penghuni loteng merah, mengapa ia harus berbuat demikian? Dan suara orang dari dalam goa yang digunakan sebagai umpan, suara siapakah itu?”

“Urusan tidak ada hubungan dengan kita sendiri sudahi saja!”

Hui-Kiam hampir mengeluarkan perkataan yang terkandung dalam hatinya, tetapi ia urungkan lalu mengalihkan pembicaraannya ke lain soal.

“Enci ada hubungan apa dengan orang berbaju lila itu?” Paras Tong-hong Hui Bun agak berubah. Ia berkata:

“Hubungan? Tidak ada. Adik, apakah kau anggap aku cantik?”

Wajah Hui Kiam merasa panas. Ia berkata dengan suara tidak lampias: “Cantik, cantik sekali. Aku tidak tahu apakah dalam dunia masih ada orang kedua yang kecantikannya dapat dibandingkan dengan enci?”

“Itulah hubungannya. Karena aku cantik, maka ia selalu mengejar aku. Bukan cuma ia saja, lelaki yang lainnya juga demikian!”

“Maka kau membunuhnya?”

“Aku seharusnya dulu-dulu sudah membunuhnya mati. Tadi, karena aku melihat perbuatannya yang tidak mempunyai prikemanusiaan sama sekali, apa lagi perbuatannya yang hendak mengambil jiwamu, maka aku terpaksa bertindak terhadap dirinya.”

“Oh,” dalam hati Hui Kiam terlintas suatu perasaan aneh. Ia berkata pula:

“Dari golongan mana orang berbaju lila itu?”

“Tidak tahu. Tiada seorang yang pernah melihat wajah aslinya.” “Apakah... aku boleh menanyakan asal-usul Enci?”

Tong hong Hui Bun mengunjukkan senyumnya yang mengandung misteri, lalu berkata:

“Kau segera akan mengetahui sendiri, tapi bukan sekarang.”

Hui Kiam tidak menanyakan lagi. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, sewaktu Penghuni Loteng Merah hendak masuk ke dalam goa, pernah terdengar suara orang yang memberi peringatan. Juga karena peringatan orang itu, sehingga ia sendiri tidak mengalami nasib seperti Penghuni Loteng Merah. Karena orang itu lebih dulu memberi peringatan yang menunjukkan bahwa itu suatu rencana keji, maka orang itu pasti tahu sebab-sebabnya rencana itu. Tetapi sayang, orang itu tidak mengunjukkan diri maka tidak diketahui siapa adanya.

Karena berpikir demikian, maka ia lalu bertanya:

“Apakah enci pernah melihat di dekat-dekat sini ada orang?” “Tidak, rasanya juga tidak mungkin.” “Tetapi ketika Penghuni Loteng Merah mendapat kecelakaan, aku pernah mendengar ada suara orang yang memperingatkan.”

“Oh!”

Tong Hong Hui Bun lalu bergerak badannya, lalu melesat ke atas puncak gunung. Ia mengitari puncak gunung itu sebentar lalu turun lagi dan berkata:

“Aku percaya di atas gunung ini kecuali kau dan aku tidak ada orang yang ketiga. Oh, perempuan yang terluka tadi sudah pergi, ia sungguh cerdik!”

Hui Kiam segera ingat akan janjinya terhadap Siu Bi, maka lalu berkata:

“Aku hampir lupa. Aku tadi sudah menerima baik permintaan perempuan itu untuk mengubur jenazah tiga kawannya.”

Sehabis itu lalu menghampiri tiga jenazah perempuan muda itu. Setelah mencari tempat yang agak datar, ia lalu membuat sebuah lobang untuk mengubur jadi satu tiga jenazah perempuan itu.

“Adik, lukamu sendiri ”

Hui-Kiam baru merasakan sakit di dadanya sendiri. Ketika ia melihat lukanya, ternyata sudah mengeluarkan darah lagi.

Paras Tong-hong Hui Bun mengunjukkan rasa kasihan. Ia mengernyitkan alisnya. Dari badannya mengeluarkan sebuah kantong indah. Ia membuka kantong itu. Di dalamnya ada sebuah botol kecil sebesar ibu jari, lalu membuka tutupnya dan mengeluarkan isinya yang berupa bubuk berwarna putih. Bubuk itu lalu diulaskan ke bagian yang luka. Sungguh heran, darahnya segera berhenti mengalir.

Keduanya berdiri dekat sekali, sehingga bau harum menusuk hidung Hai Kiam. Sepasang biji matanya yang jernih, bibirnya yang merah semeringah menimbulkan daya penarik luar biasa sehingga Hui Kiam hampir tidak bisa bernapas. Jantungnya berdebar keras. Tong Hong Hui Bun kembali mengunjukkan senyumnya yang menggiurkan. Senyuman itu telah membikin runtuh pertahanan Hui Kiam yang terakhir….

Dengan tanpa dapat menguasai dirinya sendiri ia lalu memeluk diri perempuan cantik itu. Untuk pertama kalinya Hui Kiam tenggelam dalam arusnya asmara.

Dengan tiba-tiba suara siulan tajam terdengar nyaring. Tong Hong Hui Bun dengan perlahan mendorong Hui Kiam. Hui Kiam kini baru dapat melihat sinar merah melesat ke angkasa, dan suara tajam itu adalah suara yang keluar dari sinar merah tadi.

Hui Kiam menenangkan pikirannya. Ia lalu berkata:

“Inilah tanda panah api yang biasa digunakan oleh orang-orang Kang-ouw. Apakah…?”

To-hong Hui Bun berkata dengan tergesa-gesa:

“Adik, aku pergi ke depan untuk melihat apa yang telah terjadi.

Kau di sini tunggu aku.”

Sehabis berkata, dengan tanpa menantikan jawaban ia sudah bergerak dan sebentar sudah menghilang!

Hui Kiam seperti baru tersadar dari impiannya yang indah, perasaan yang seolah-olah kehilangan sesuatu, benar-benar sangat tidak enak baginya.

Mengapa ia pergi begitu tergesa-gesa?   Jelas bahwa tanda tadi itu ada hubungannya dengan dirinya. Dari sini dapat ditarik kesimpulan, bahwa diri perempuan cantik itu tidak terlepas dari lingkungan sesuatu partay

atau golongan persilatan di dunia Kang-ouw. Akan tetapi, dalam rimba persilatan dewasa ini, partay atau golongan mana yang mempunyai orang berkepandaian demikian tinggi? Dengan kepandaian orang berbaju lila

yang sudah susah dicari tandingannya ternyata sudah dipaksa terjun ke dalam jurang dengan hanya sepasang tangan kosong saja, ini benar-benar merupakan suatu hal yang tidak habis dipikir, kepandaiannya agaknya sama dengan kecantikannya yang tidak dapat dicari tandingannya lagi, dan perempuan itu kini telah jatuh cinta kepadanya.

Lama Hui Kiam berdiri terpaku, pikirannya balik kepada kenyataan. To-liong Kiam-khek sudah terkubur hidup-hidup di dalam goa. Dari ucapan Penghuni Loteng Merah tadi yang mengatakan: “Su-ma Suan,   aku dapat mengenali suaramu….” Dapat diduga bahwa orang dalam goa sudah tentu To-liong Kiam- khek, dan orang berbaju lila itu telah menggunakan Hui Kiam untuk menyampaikan kabar, serta menggunakan To-liong Kiam-khek sebagai umpan, lalu meledakkan goa itu. Apa maksudnya ia harus membinasakan Penghuni Loteng Merah? 

Andaikata permusuhan, dengan kepandaiannya orang berbaju lila itu, apakah dia tidak berani menentang secara terang-terangan? Mengapa ia menggunakan akal sedemikian rendah?

Karena kedua pihak orang yang bersangkutan sudah mati semua, maka pertanyaan itu akan merupakan teka-teki untuk selama- lamanya.

Dalam pesan ibunya sebelum menutup mata pernah minta kepadanya supaya membunuh To-liong Kiam-khek. Tetapi di atas puncak gunung tadi ia telah menemukan makam ibunya yang menunjukkan bahwa antara ibunya dan To-liong Kiam-khek pernah ada hubungan suami istri. Yang paling aneh ialah ibunya dikubur di dalam pekarangan rumahnya sendiri. Mengapa di gunung itu terdapat kuburannya lagi. Apakah itu juga merupakan akal jahatnya orang berbaju lila?

Sayang, To-liong Kiam-khek sudah mati, demikian juga orang berbaju lila itu, maka rahasia ini juga akan turut terkubur.

Selagi terbenam dalam lamunannya, tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri yang agaknya keluar dari mulutnya seorang wanita. Buan kepalang terkejut Hui Kiam. Apakah Tong Hong Hui Bun….

la sudah tak mempunyai kesempatan untuk berpikir lagi, juga tidak memikirkan kepandaiannya sendiri dan kepandaian Tong-hong Hui Bunyang tiada taranya. Ia hanya ingat keselamatan diri wanita yang mengeluarkan

suara jeritan itu.

Dengan tanpa menghiraukan bahaya pada dirinya sendiri, ia lari menuju ke arah suara jeritan itu. Setelah melalui beberapa puncak gunung ia menduga sudah tiba di tempat datangnya suara jeritan tadi, tetapi ia tak dapat melihat apa-apa, terpaksa ia menghentikan kakinya, pikirannya tidak karuan.

Kembali suara jeritan yang mengerikan masuk ke telinganya. Suara itu seolah-olah keluar dari lembah sebelah kanan yang tak jauh dari tempatnya.

Ia balik ke kanan, lari menuju ke lembah yang tidak dikenalnya itu.

Tidak berapa lama, ia sudah berada di mulut lembah. Ia segera lari masuk tanpa dipikir lagi.

Belum sepuluh tombak ia masuk ke dalam lembah, hidungnya dapat mencium bau amis bukan kepalang terkejutnya. Matanya mulai mencari di belakang sebuah pohon. Tampak sepotong gaun. Waktu ia menghampiri, segera dapat lihat dua jenazah orang perempuan rebah terlentang berlumuran darah. Dua perempuan itu mengenakan pakaian serupa yang berwarna kuning tua.

Pakaian serupa dan warna itu, bukankah dandanannya para pelayan Tong-Hong Hui-Bun?

Waktu ia memeriksa lagi, ternyata paras dua perempuan itu sudah hancur tidak dapat dikenali lagi.

Pembunuhan secara kejam ini sudah tidak asing bagi Hui-Kjam. Ia teringat kepada diri perempuan berbaju hijau yang mengenakan kerudung. Ketika ia pergi mencari Iblis Wanita Bertusuk Konde Emas, juga membunuh orang dengan cara demikian.

Orang-orang Persekutuan Bulan Emas, ketika menyaksikan perempuan berbaju hijau itu, ketakutan setengah mati sehingga kabur dengan mengorek biji matanya sendiri. Di luar dugaannya perempuan berbaju hijau itu telah melepaskan dirinya bahkan memberi waktu kepadanya satu tahun untuk membuat perhitungan.

Siapakah perempuan berbaju hijau itu? Apakah ia sudah muncul ke dunia Kang-ouw?

Ia masih ingat waktu perempuan itu mengunjukkan diri, pernah menggunakan sapu tangannya membuat lingkaran di tengah udara. Tanda semacam ini yang membuat ketakutan Ko Han San sampai ia mengorek biji matanya sendiri dan kemudian kabur.

Tanda apakah itu? Tanda ia mengunjukkan diri, ataukah….

Ia tidak sempat untuk memikirkan itu. Menurut keadaan yang ia saksikan, ia telah membuat analisa. Dua korban itu, adalah pelayan Tong-hong Hui Bun. Waktu mereka tahu tidak sanggup melawan, segera mengeluarkan tanda bahaya, maka Tong-hong Hui Bun lekas-lekas menyusul hendak memberi bantuan. Tetapi nampaknya sudah tidak berhasil menolong, dan orang yang melakukan pembunuhan itu mungkin sekali adalah perempuan berbaju hijau yang pernah dijumpainya itu. Tetapi apa motifnya ia sudah tidak dapat menduga lagi.

Dengan kepandaian Tong-hong Hui Bun, halya tidak mungkin tidak dapat menandingi perempuan itu. Tetapi kemana ia sekarang?

Diantara dua perempuan yang mati itu apakah termasuk pelayan yang mengikuti Tong-hong Hui Bun? Kalau benar, maka sucinya Pui Ceng Un atau Wanita Tanpa Sukma yang bina,sa di tangannya, sudah tidak bisa menuntut balas lagi.

Mengingat diri Pui Ceng Un, segera ia teringat perkataan terakhir yang menyebutkan nama gunung Kiu Kiong San dan nama Jien Ong.

Maksud perkataan itu sudah tentu hendak mengunjukkan bahwa Jien Ong berdiam di gunung Kiu Kiong San. Tetapi apakah maksudnya? Jien Ong itu adalah musuh perguruannya, ataukah ada orang yang mempunyai hubungan dengan sepotong uang logam itu?

Pada saat itu, sesosok bayangan orang tiba-tiba melayang turun di hadapannya dengan tanpa mengeluarkan suara.

Orang itu ternyata adalah pelayan Tong Hong Hui Bun yang pernah membunuh mati sucinya. Maka seketika itu timbul amarahnya. Tetapi ia masih mencoba mengendalikan diri dan menanyakan kepadanya:

“Majikanmu?”

“Sedang mengejar musuh!”

“Mengejar musuh. Apakah seorang wanita berbaju hijau yang mengenakan kerudung?”

“Benar, mengapa kau tahu?”

“Dari muka yang mengakibatkan kematian dua wanita itu aku segera dapat menduganya.”

“Oh!”

“Apakah mereka berdua tadi jalan bersama-sama denganmu?” “Hem!”

Dari wajah perempuan itu tidak dapat dicari sedikitpun rasa kasihan terhadap kematian kawannya, seolah-olah dua kawannya yang mati itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya, sebaliknya malah ia menunjukkan betapa mengejek, sikap itu, Hui Kiam benar-benar tidak mengerti.

“Dari golongan mana wanita berbaju hijau yang memakai kerudung itu?”

“Ia berdiri sendiri. Ia adalah murid Raja Pembunuh yang dahulu pernah bermusuhan hebat dengan Tiga Raja Rimba Persilatan!”

Hui Kiam terperanjat. Ia menegaskan pula: “Apakah benar ia muridnya si Raja Pembunuh?” “Sedikitpun tak salah!” “Sekarang kita harus membuat perhitungan antara kau denganku!”

“Perhitungan apa?”

“Atas perbuatanmu yang sudah membunuh Wanita Tanpa Sukma!”

Perempuan muda itu tertawa dingin, lalu berkata: “Kau ingin membuat perhitungan bagaimana?” “Utang DARAH bayar DARAH!”

“Tetapi kepandaian dan kekuatanmu pada saat ini belum mampu membunuhku. Habis bagaimana?”

“Tidak halangan, kita boleh coba.”

“Aku sudah mengatakan bahwa soal ini biarlah dibereskan oleh ibu majikan…”

“Tetapi aku hendak menagih sendiri padamu.” “Tetapi aku tak sempat. Sampai berjumpa lagi!”

Sebabis mengucap demikian, dengan cepat ia segera pergi. “Lari kemana?”

Hui Kiam murka sekali. Sehabis membentak demikian ia lalu lompat mengejar.

Perempuan muda itu ternyata hebat sekali kepandaiannya. Dikejar oleh Hui Kiam, ia telah mengerahkan lari pesatnya sedemikian rupa, sehingga terpisah makin lama makin jauh dengan yang mengejar.

Meskipun Hui Kiam sudah mengerahkan seluruh kepandaiannya, tetapi tidak berhasil mengejarnya. Sebentar kemudian, perempuan itu tiba-tiba membelok ke suatu tikungan dan menghilang. Hui Kiam sangat mendongkol, tetapi ia tidak berbuat apa-apa.

la telah mendapat kesan bahwa perempuan muda itu tadi tidak sebegitu menghormat seperti apa yang ia bayangkan. Terutama sikapnya terhadap kematian kawannya, agaknya tidak tergerak hatinya sama sekali. Hal ini merupakan suatu kejadian yang sangat ganjil.

Oleh karena Tong-Hong Hui-Bun sudah pergi mengejar musuhnya, sudah tentu ia sendiri tidak perlu menantikan di gua bekas terjadi peledakan tadi.

Maka ia lalu lari turun ke bawah gunung.

Selagi berjalan, tiba-tiba ia merasakan hembusan angin hebat menggulung dari sisinya sehingga menahan perjalanannya.

Hui-Kiam terperanjat, sementara masih belum tahu siapa yang merintangi perjalanannya itu, di hadapannya telah berdiri seorang perempuan berpakaian warna hijau dengan memakai kerudung di mukanya.

Perempuan itu bukan lain daripada perempuan kuat yang ia temukan di puncak gunung Sin-lie-bong dahulu.

Perempuan itu telah menunjukkan diri di hadapannya, tetapi tidak tampak bayangan Tong-Hong Hui Bun, sedangkan menurut perempuan muda pelayan Tong-Hong Hui Bun, telah dikatakan bahwa ibu majikannya sedang pergi mengejar musuhnya. Tetapi kini yang sudah menunjukkan diri dan kemana yang lainnya?

Ia tidak berhasil mengejar ataukah....

Perempuan berbaju hijau berkerudung itu berkata sambil tertawa dingin:

“Penggali Makam, kita telah berjumpa lagi?”

Hui Kiam juga menyahut dengan nada suara dingin:

“Benar-benar merupakan pertemuan yang tidak diduga-duga!” “Waktu perjanjian kita untuk bertemu dalam waktu satu tahun

masih belum tiba waktunya, tetapi kita telah berjumpa lagi di sini.

Penggali Makam, jikalau kau sekarang masih belum mempunyai persiapan cukup, janji itu masih tetap berlaku, maka hari ini kau tidak perlu mengambil tindakan apa-apa.” Hui-Kiam meskipun beradat tinggi hati teta pi ia mengetahui baik keadaan sendiri pada

dewasa itu belum sanggup menandingi lawannya itu. Oleh karena perempuan itu sudah menyatakan lebih dulu tidak perlu mengambil tindakan apa-apa, sudah tentu ia juga tidak perlu bertindak, lalu berkata:

“Dalam waktu satu tahun aku berjanji pasti akan menepati janji itu.”

Perempuan berbaju hijau itu berkata sambil tertawa ringan: “Mari kita bicarakan soal sekarang.”

“Sekarang apa yang perlu dibicarakan?”

“Sudah tentu ada. Kedatanganku ini justru sengaja mencari kau!”

“Mencari aku?” “Yah!”

“Ada keperluan apa nona mencari aku?”

“Kabarnya dari Wanita Tanpa Sukma kau telah mendapatkan sepotong uang logam, adakah itu benar?”

Hui Kiam terperanjat. Ia mundur selangkah baru menjawab: “Benar, tetapi ada hubungan apa dengan nona?”

“Sudah tentu ada, bahkan besar sekali sangkut-pautnya.” “Aku tidak mengerti!”

“Urusan orang lain sudah tentu kau tidak mengerti, juga tidak ada perlunya bagimu untuk dimengerti atau tidak. Sekarang kau serahkan potongan uang logam itu kepadaku, dan masing-masing boleh mengambil jalannya sendiri-sendiri.”

Hui Kiam berpikir keras, bagaimana perempuan itu bisa tahu bahwa ia mendapatkan sepotong uang logam itu dari Wanita Tanpa Sukma? Sedangkan waktu itu hanya Sukma Tidak Buyar, Orang Tua Tiada Turunan dan Tong-hong Hui Bun bersama pelayannya yang menyaksikannya. Selain mereka sudah tidak ada orang lain yang ada di situ, dari manakah ia mendapatkan kabar itu? Potongan uang logam itu adalah barang kepercayaan perguruannya. Bagi barang itu sendiri sedikitpun tidak ada harganya. Apakah maksud perempuan berbaju hijau itu minta benda tersebut?

Andaikata yang diminta itu merupakan barangnya sendiri yang telah hilang, mungkin dapat diartikan kalau perempuan itu sudah mengetahui bahwa benda itu mengandung rahasia yang ada hubungannya dengan kitab pusaka Thian-khi Po-kip. Tetapi barang yang diminta itu justru kepunyaan Wanita Tanpa Sukma, sekalipun ia mendapatkannya juga tidak ada gunanya.

“Apakah maksud dan tujuan nona minta potongan uang logam itu?”

“Kau tidak perlu tahu.”

“Tetapi barang itu di tanganku.”

“Itulah sebabnya maka aku minta supaya barang itu kau serahkan kepadaku.”

Jika aku tidak mau menyerahkannya?”

“Rasanya tidak mungkin kau tidak mau menyerahkan barang itu.”

Kesombongan hati Hui Kiam tiba-tiba timbul. Ia lalu berkata dengan nada suara sombong!

“Tidak bisa!”

“Sepotong potongan uang logam bagi kau Penggali Makam sedikitpun tidak ada gunanya!”

Apakah barang itu sangat berguna bagi nona?” “Sudah tentu!”

“Apakah gunanya?”

Sepatah demi sepatah perempuan berbaju hijau itu berkata: “Tentang ini kau tidak perlu tahu lagi!” Oleh karena benda itu merupakan tanda kepercayaan perguruannya, bagaimana boleh diserahkan kepada orang lain, maka Hui Kiam lalu berkata dengan nada suara dingin:

“Maaf, aku tidak dapat memenuhi permintaanmu.”

“Penggali Makam, aku beritahukan kepadamu bahwa aku sudah bertekad bulat hendak mendapatkan potongan uang logam itu.”

“Aku juga perlu menerangkan, kecuali aku sudah mati, uang logam ini tidak boleh terjatuh ke tangan orang lain.”

“Kau terlalu sombong.” “Terserah anggapanmu sendiri.”

“Jika kau benar-benar hanya karena sepotong uang logam ini kau harus mengorbankan jiwamu, apakah itu berharga?”

Hui Kiam diam-diam bergidik, tetapi sikapnya semakin dingin.

Dengan perasaan mendongkol ia berkata:

“Ada harganya atau tidak, itu urusanku sendiri.” “Apakah hendak memaksa aku untuk bertindak?” “Terserah kepadamu.”

Perempuan berbaju hijau itu sambil mengeluarkan suara dari hidung, lalu mengulur tangan menyambar Hui-Kiam....

Hui Kiam segera membentak dengan suara keras: “Tunggu dulu!”

Perempuan berbaju hijau itu menarik kembali tangannya dan berkata:

“Bagaimana? Kau suka menyerah?” “Aku ingin berkata sedikit!”

“Kau ingin bertanya apa? Katakanlah.” “Kemana perginya pemilik tanda batu kumala?”

“Pemilik tanda batu kumala? Siapa yang kau maksudkan?” “Wanita yang mengejar kau tadi.”

“Oh! Kau maksudkan dia apakah dia pemilik tanda batu kumala? Aku tidak perduli siapa dia, namun dia mempunyai kecantikan luar biasa, kepandaiannya juga tinggi. Kita berkejar-kejaran cukup lama. Barang kali ia merasa tidak gembira maka lalu berlalu.”

“Apakah sebabnva kau membunuh ketiga pelayan perempuannya?”

“Hal ini kau tidak perlu bertanya, kau serahkan saja sepotong uang logam itu sudah cukup!”

Hui Kiam dalam hati berpikir, kitab pusaka Thian-khi Po-kip sudah jatuh di tangan orang lain, maka uang logam ini juga sudah tidak ada gunanya, tidak ada halangan diserahkan kepadanya.

Oleh karena berpikir demikian maka ia lalu berkata:

“Boleh kuserahkan kepadamu, tetapi kau harus menjawab pertanyaanku!”

“Coba kau katakan!”

“Bagaimana kau tahu aku mendapatkan sepotong uang logam ini dari diri Wanita Tanpa Sukma sehingga perlu kau mencari dan minta dariku?”

“Ada orang memberikan kabar kepadaku.” “Siapa?”

“Seorang perempuan bernama Oey-Yu Hong.” “Apa? Oey Yu Hong katamu?!”

Semangat Hui Kiam seketika lalu terbangun. Justru ia sedang mencari Oey Yu Hong dan kini perempuan berbaju hijau itu telah menyebutkan namanya, ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang tidak terduga-duga. Jikalau dapat menemukan Oey Yu Hong, segera mengetahui teka-teki kematian Liang Gee Sieseng dan di mana jatuhnya kitab pusaka itu. Tetapi apa maksud dan tujuan ia memberi kabar ini kepada perempuan berbaju hijau itu? Bagaimana pula ia tahu tentang uang logam itu? “Apakah kau ingin membalas dendam kepada Oey Yu Hong?” “Tidak, aku sama sekali aku tidak kenal dengan wanita itu, hanya

aku justru sedang mencarinya.”

“Kau mencari dia?”

“Ya. Apakah kau heran?”

“Kau benar tidak kenal Oey Yu Hong?” “Tidak kenal.”

“Benar-benar kau tidak kenal?” “Benar tidak kenal!”

“Kau toh belum lama berpisah dengan perempuan pelayan tadi, betul tidak?”

“Ya, ya, ya!”

“Itulah dia perempuan yang bernama Oey Yu Hong!” “Aaaaaa!”

Hui Kiam benar-benar tergetar perasaannya. Ia sungguh tidak menduga bahwa pelayan perempuan Tong-hong Hui Bun itu adalah Oey Yu Hong, dan ia justru pembunuh Wanita Tanpa Sukma.

“Sudah cukup sampai di sini, kau serahkan barang itu.”

Hui Kiam terpaksa mengambil potongan uang logam yang diminta, kemudian ia melemparkannya kepada perempuan berbaju hijau itu seraya berkata:

“Nah sambutlah, jangan kau hilangkan. Pada suatu ketika nanti akan kuminta kembali!”

Perempuan berbaju hijau itu setelah menyambut potongan uang logam itu ia memeriksanya.

Sejenak setelah mengetahui bahwa barang itu tidak salah, baru dimasukkan ke dalam sakunya.

Hui-Kiam yang juga mempunyai sepotong dari potongan uang logam itu, karena hampir setiap hari ia membuat main-main, maka begitu meraba ia sudah dapat mengenali dengan tepat potongan yang mana yang menjadi kepunyaannya dan yang mana kepunyaan Wanita Tanpa Sukma, sedikitpun tidak khawatir akan salah.

Dan apa maksud perempuan berbaju hijau itu menghendaki sepotong uang logam itu, ia sudah tidak dapat menerkanya lagi. Tetapi biar bagaimana, ia sudah mengambil keputusan lambat atau cepat ia hendak minta kembali dari tangannya. Meskipun potongan uang logam itu sendiri sudah kehilangan fungsinya, tetapi merupakan barang kepercayaan perguruannya, tidaklah patut terjatuh di tangan orang lain. Asal ia dapat menemukan Oey Yu Hong, rasanya tidak sulit hanya untuk mengetahui maksudnya perempuan berbaju hijau itu meminta potongan uang logam tersebut.

Perempuan berbaju hijau itu berkata:

“Penggali Makam, sampai berjumpa lagi. Mengenai perjanjian satu tahun itu, kau tidak perlu pergi jauh ke gunung Bu-san. Di dunia Kang-ouw suatu saat kita bisa bertemu. Asal kau sudah yakin benar mempunyai cukup kepandaian, di mana saja dan kapan saja kamu boleh membuat perhitungan.”

Sehabis berkata demikian ia laiu pergi.

Dengan mengawasi berlalunya perempuan itu, Hui Kiam berdiri tertegun sedang dalam otaknya ia berpikir: andaikata aku mempunyai cukup kekuatan, tak sampai aku dihinanya.

Ketika ia baru muncul di dunia Kang-ouw ia yakin akan kepandaian sendiri, tapi setelah mengalami kekalahan beberapa kali, ia baru tahu bahwa di dalam rimba persilatan masih banyak orang yang lebih pandai dan tinggi kepandaiannya daripada kepandaian sendiri, dan kepandaian yang dipunyainya hampir tidak berarti sebab kadang-kadang hampir tidak dapat melindungi jiwanya sendiri. Maka kalau ia menuntut balas ia harus belajar lebih dalam lagi. Satu-satunya jalan baginya untuk mendapatkan kepandaian yang diinginkan, hanya mencari kembali kitab pusaka bagian bawah yang telah hilang itu. Dalam hendak mendapatkan kembali barang tersebut, asal dapat menemukan Oey-Yu-Hong, mungkin bisa mendapatkan keterangan dari mulutnya. Karena Oey-Yu-Hong adalah pelayan Tong-Hong Hui-Bun, rasanya tidak khawatir tidak dapat menemukan dirinya.

Karena Tong Hong Hui Bun sudah menjanjikan kepadanya untuk menunggu di tempat semula, biar bagaimana ia pasti akan balik lagi. Mungkin Oey-Yu-Hong ikut kepadanya.

Karena itu maka ia lalu berjalan balik menuju ke gua bekas terjadinya peledakan tadi.

Hari sudah mulai senja.   Cuacanya di pegunungan itu sudah mulai agak gelap.

Ketika ia tiba di atas gunung yang berhadapan dengan gua bekas terjadi peledakan tadi, ia dapat melihat dengan tegas keadaan sekitar gua itu. Andaikata ada orang datang, ia pasti dapat melihatnya. Maka ia mencari tempat untuk duduk. Sepasang matanya terus ditujukan ke arah seberang.

Tetapi hingga cuaca gelap, tempat itu tidak terdapat tanda-tanda adanya orang datang.

Tiba-tiba di belakangnya terdengar suara orang berkata: “Penggali Makam, tidak usah tunggu lagi!”

Hui Kiam berpaling. Ia segera dapat melihat bahwa orang yang bicara itu adalah perempuan muda pelayan Tong Hong Hui Bun. Bukan kepalang rasa girangnya. Ia justru sedang mencari dirinya dan kini ia telah muncul di hadapannya.

Perempuan muda itu berkata pula:

“Ibu majikan menyuruhku menyampaikan kabar kepadamu. Ia minta kau jangan menunggunya lagi. Ia masih mempunyai urusan yang perlu segera diurus, maka sudah berangkat lebih dahulu.”

Sehabis berkata, ia segera membalikkan badan dan berlalu.

Hui Kiam segera lompat melesat dan menghadang di hadapannya seraya berkata:

“Nona jangan pergi dulu!” Perempuan iiu menunjukkan sikap tidak senang. Ia berkata dengan suara dingin:

“Ada apa?”

“Aku ingin bertanya kepada nona ”

“Maaf, aku tidak sempat.”

“Apakah nona bernama Oey Yu Hong?”

Paras perempuan itu berubah seketika, dia berkata: “Kalau ya mau apa?”

Jawaban itu seolah-olah sudah merupakan suatu pengakuan.

“Jikalau benar aku ingin berbicara sebentar, jikalau bukan, silahkan.”

“Kalau begitu aku beritahukan kepadamu, memang benar aku adalah Oey Yu Hong.”

“Bagus sekali, nona Oey, aku justru sedang mencarimu.” “Mencari aku? Untuk apa?”

“Adakah nona kenal dengan seorang perempuan bernama Oey Yu Cu?”

“Kalau kenal kau mau apa?”

“Ia minta aku mencari nona untuk menyampaikan beberapa patah kata. Ia masih pernah apa dengan nona?”

Mata Oey Yu Hong nampak merah, ia berkata: “Ia adalah kakakku!”

Hui Kiam diam-diam menganggukkan kepala. Ia berkata:

“Mengapa nona tidak mau duduk dulu, marilah kita bicara sebentar!”

Dua orang itu setelah duduk di tanah, Hui Kiam segera bertanya: “Apakah kakakmu itu istrinya Liang Gie Sie-seng?” “Boleh dikata ya, juga boleh dikata bukan.” “Lo, lo, lo, apa maksud perkataanmu ini?”

“Ini agaknya tidak perlu diberitahukan kepadamu.”

Oleh karena aku menerima pesan orang yang menutup mata, tidak boleh tidak aku harus menanyakannya!”

Sepasang mata Oey Yu Hong mengembang air mata. Setelah berpikir agak lama, ia baru berkata dengan suara sedih:

“Ia pesan urusan apa kepadamu?”

“Aku menanyakan kepadanya siapa orang yang mencelakakan dirinya. Sayang ia sudah tidak mempunyai tenaga untuk menjawab. Ia cuma berkata setelah menemukan kau, nanti dapat mengerti segala-galanya.”

“Ya, aku mengerti.”

“Apakah kematian kakakmu dan suaminya karena sejilid kitab pusaka?”

“Bukan, itu hanya merupakan cerita burung yang sengaja dibuat- buat. Suami kakakku sehingga menemukan ajalnya barangkali juga masih belum mengerti.”

Hui Kiam merasa kecewa, tetapi ia berkata pula: “Apakah bukan karena kitab pusaka pelajaran ilmu silat?”

“Bukan. Kematian Sam Goan Lojin dan Oey Yang Hong juga bukan karena kitab pusaka. Segala desas-desus yang mengenai kitab pusaka itu, sebetulnya cuma ciptaan sang pembunuh yang sengaja untuk mengalihkan perhatian orang.”

“Oh oh oh!”

Hui Kiam terkejut. Kalau demikian halnya, kitab pusaka itu belum muncul di dunia, dengan demikian maka pesan Wanita Tanpa Sukma, harus dipikir kembali secara masak-masak. Tetapi pembunuh yang membinasakan penghidupan orang kuat rimba persilatan, mengapa harus menggunakan cara demikian alibi? “Baru saja nona berkata tentang diri Oey Yu Cu….”

Dengan air mata bercucuran, Oey Yu Hong menunjukkan sikap gemas dan penasaran. Dia berkata dengan suara gemetar:

“Dengan kepandaianku sendiri, barangkali tidak mampu untuk menuntut balas baginya, tetapi aku bisa berbuat dengan tanpa menghiraukan caranya.”

“Bagaimana?”

“Kakakku telah mendapat perintah menggunakan dirinya sebagai umpan, untuk membuat perhubungan dengan Liang Gie Sie-seng. Maksudnya semata-mata hanya untuk mencuri resepnya pembuatan racun. Dalam dunia rimba persilatan dewasa ini, Liang Gie Sie-seng terhitung satu-satunya orang terpandai menggunakan racun.”

“Dan selanjutnya?”

“Ia telah berhasil melaksanakan sebagian dari tugasnya, tetapi kemudian ia jatuh cinta benar-benar kepadanya, maka akhirnya ia tak luput dari kematian.”

“Kalau begitu orang yang memberi perintah kepada Oey Yu Cu, juga adalah orang yang melakukan pembunuhan besar-besaran kemudian menyiarkan kabar angin itu?”

“Sedikitpun tidak salah!” “Siapakah?”

Oey Yu Hong nampak ragu-ragu, agaknya merasa takut. Setelah berpikir sejenak, ia balik menanya:

“Bagaimana kau tahu aku adalah Oey Yu Hong?”

“Perempuan berbaju hijau berkerudung yang memberitahukannya kepadaku!”

“Dia yang memberitahukan kepadamu?”

“Benar! O, ya, nona beritahukan apa kepadanya?” “Mungkin aku telah membuat kekeliruan.”

“Apa artinya?” “Kau ingin tahu?”

“Aku ingin tahu sebabnya. “

“Mungkin setelah aku memberitahukan kepadamu, aku bisa membunuh mati kau untuk menutup rahasia!”

Dari sikap perempuan itu boleh dipastikan bahwa apa yang dikatakan bukanlah merupakan gertak sambel belaka. Tetapi karena watak tinggi hati Hui Kiam, semakin menghadapi teka-teki yang penuh rahasia, semakin keras kemauannya untuk mengetahui keinginannya maksudnya tidak mau melepaskan begitu saja bahkan masih berkata dengan sikap tenang:

“Apakah sedemikian pentingnya?” “Sudah tentu!”

“Coba nona ceritakan!”

“Hal ini boleh dikata suatu kebetulan. Di bawah kaki gunung Keng-san, aku telah berjumpa dengan perempuan berbaju hijau yang mengenakan kerudung. Ia minta keterangan kepadaku tentang jejaknya diri Jiok Siao Tin. Maka terbukalah pikiranku, aku ingin menggunakan dirinya untuk menuntut balas.”

“Siapakah Jiok Siao Tin?” “Wanita Tanpa Sukma.”

“Oh!” Hui Kiam terperanjat. Kemudian ia berkata pula dengan suara gemetar:

“Jiok Siao Tin adalah Wanita Tanpa Sukma?” “Ya, mengapa?”

“Apakah ia bukan bernama Pui Ceng Un?” “Siapakah Pui Ceng Un itu?''

Pikiran Hui Kiam seketika itu menjadi kalut. Pertanyaan Oey Yu Hong itu seolah-olah tidak masuk ke dalam telinganya. Ia memerlukan ketenangan untuk berpikir. Selama itu ia telah menganggap bahwa Wanita Tanpa Sukma adalah anak piatu si- supeknya. Sesungguhnya tidak disangka bahwa dugaannya itu keliru sama sekali. Ia hanya menduga Wanita Tanpa Sukma dari sepotong uang logam yang jatuh dari badannya. Hakekatnya Wanita Tanpa Sukma belum pernah mengakui nama yang sebenarnya, sebab ketika itu ia sudah tidak bisa berkata lagi.

Tetapi sepotong uang logam itu adalah barang yang menjadi kepunyaan si-supeknya, mengapa bisa berada di dalam tangannya?

Apakah artinya perkataan terakhir yang diucapkan mengenai gunung Kui-kong-san dan orang yang bernama Jien Ong? Apakah tuan ada hubungannya dengan sepotong uang logam itu?

Apakah sebabnya perempuan baju hijau berkerudung itu minta potongan uang logam itu?

Semakin ia memikir, pikirannya semakin kalut! Oey Yu Hong bertanya pula:

“Siapa yang kau katakan dengan Pui Ceng Un tadi?” “Salah satu saudara seperguruan dengan aku.”

“Apakah kau sudah anggap Wanita Tanpa Sukma sebagai Pui Ceng Un?”

“Ya!”

“Paras mereka mirip satu sama lain ataukah….”

“Aku belum pernah melihat muka Pui Ceng Un hanya….

la sebetulnya ingin mengatakan bahwa dugaannya itu berdasar atas sepotong uang logam itu. Tetapi ia pikir hal itu kurang pantas sebab itu ada rahasia dalam perguruannya, bagaimana boleh dibocorkan kepada orang luar?

Maka ia menelan kembali ucapannya. “Hanya kesalahan paham saja?”

“Ya!” Hui-Kiam terpaksa menjawab demikian.

“Penggali Makam, aku membunuh Wanita Tanpa Sukma karena atas perintah ibu majikanku sebab kelakuannya dan perbuatannya terlalu kejam dan rendah. Khawatir kau akan terperosok dalam akal muslihat maka ibu majikan menyuruhku menyingkirkan dirinya. Sekarang aku sudah jelaskan duduk perkaranya, apakah kau masih ingin membuat perhitungan denganku?”

Hui-Kiam telah berpikir lalu berkata:

“Karena kesalahan paham maka perhitungan ini kita hapuskan saja.”

“Kakakku sebetulnya menyuruh kau menyampaikan perkataan apa?”

“Ia hanya berkata asal dapat menemukan kau kini ia bermaksud minta aku mengabarkan kematiannya kepadamu, dan menyuruh kau menuntut balas. Tetapi setelah ia menutup mata, kau dengan ibu majikanmu telah tiba di tempat kejadian itu maka urusan ini tidak perlu disampaikan lagi. Hanya….

“Hanya apa?”

“Aku masih kurang mengerti. Ketika nona tiba di tempat kejadian itu, terang nona sudah melihat sendiri kuburan baru kakak nona, mengapa nona tidak mengunjukkan sikap apa-apa? Apakah dalam hal ini ada sebab-musababnya?”

Oey Yu Hong tidak menjawab langsung, sebaliknya mengalihkan ke lain soal.

“Aku sudah mulai bertindak untuk melakukan pembalasan dendam. Di sini aku ucapkan terima kasih kepadamu atas budimu yang sudah mengubur jenazah kakakku.”

'Kau ingin menggunakan muridnya si Raja Pembunuh yang merupakan dirinya perempuan berbaju hijau berkudung itu, ini juga merupakan salah satu usaha yang cukup baik.”

“Aku tidak menyangkal!”

“Apakah sebabnya perempuan berbaju hijau itu minta kepadaku sepotong uang logam itu?” “Sebab itu adalah barang kepunyaan Wanita Tanpa Sukma Ciok Siao Tin.”

“Rasanya tak mungkin cuma sebab itu saja?”

“Kalau begitu tanyalah kau kepada orangnya sendiri.”

“Ya, aku harus pergi mencarinya. Nona Oey, kau belum mengatakan siapa orangnya yang membunuh kakakmu?”

Oey Yu Hong tiba-tiba berkata dengan suara bengis: “Sebaiknya kau jangan menanyakan soal ini.”

---ooo0dw0ooo---