Pedang Pembunuh Naga Jilid 09

Jilid 09

Ia mengawasi Sukma Tidak Buyar, ingin menanyakan siapa yang dimaksudkan dengan setan pemabukan, tetapi belum sampai dikeluarkan, ia sudah telan kembali, ia khawatir akan menyinggung perasaan orang lain.

“Toako, tujuanmu selanjutnya?” bertanya Sukma Tidak Buyar. “Aku?”

Hui Kiam tersenyum pahit. Banyak sekali yang akan dilakukannya tetapi semuanya masih belum diketahui bagaimana harus dimulai. Pembunuh ibunya, pemilik tusuk konde emas hingga kini masih belum diketahui ada di mana? Pesan ibunya untuk membunuh To-liong Kiam-khek. Pemilik loteng merah juga minta ia carikan To liong Kiam-khek, tetapi dimana orangnya?   Dan lagi siapa musuh perguruannya serta dimana adanya kitab pusaka Thian-kie Po-kip?

Semua ini, mana yang harus dikerjakan lebih dahulu?

“Toako, kau masih belum menjawab pertanyaanku?” demikian Sukma Tidak Buyar menegur pula.

“Aku dari sini akan menuju ke barat.” “Ke barat?”

“Ya.”

Hui Kiam sendiri juga tidak tahu mengapa dapat mengeluarkan jawaban demikian. Untuk apa ke barat? Apakah oleh karena perempuan muda tadi pernah mengatakan bahwa ibu majikannya sedang melakukan perjalanan ke barat, sekembalinya tentu akan menjumpainya.

Sementara musuh-musuhnya masih belum diketemukan, pengaruh kejahatan di rimba persilatan sedang merajalela, bolehkah ia tenggelam dalam gelombang asmara? Pertanyaan itu telah menggugah hatinya, sehingga diam-diam bergidik sendiri. Akan tetapi, kecantikan luar biasa Tong-hong Hui- Bun telah mencengkram hatinya. Perasaan dan hatinya waras yang terlintas dalam otaknya, dalam waktu sekejap mata saja sudah buyar lagi.

Sejak jaman dahulu kala, ada berapa orangkah yang sanggup menebus jaring asmara?

Seolah-olah baru tersadar, Sukma Tidak Buyar tertawa menyeringai, kemudian berkata:

“Kalau begitu, sampai berjumpa lagi!”

Ia lalu menyoja dan kemudian membalikkan badan....

Tetapi tiba-tiba matanya terbuka lebar, kakinya seperti terpaku, tidak bisa bergerak lagi.

Hui- Kiam mengangkat mukanya. Sinar matanya beradu dengan sinar mata tajam. Sekujur badannya bagaikan terkena strom listrik. Ia tertegun. Perasaan kaget, jeri dan benci timbul dalam hatinya.

Kira-kira dua tombak dari tempat ia berdiri, orang berpakaian warna lila memakai kerudung di mukanya, memandang ke arahnya dengan sinar matanya bagaikan hantu.

Pertemuan dengan orang berpakaian warna lila itu pada waktu belum lama berselang kembali terbayang dalam otaknya. Sulit untuk dibayangkan betapa tinggi kepandaian orang berbaju lila itu. Jikalau bukan Sukma Tidak Buyar dan Orang Tua Tiada Turunan yang menggunakan nama penghuni loteng merah untuk memancing pergi orang baju lila itu, ia sendiri tentu tidak bisa hidup lagi hingga hari ini.

Dan kini orang itu telah muncul lagi di hadapannya.

Meskipun dalam hati merasa gentar, tetapi di luarnya masih tetap dingin angkuh.

Munculnya orang berpakaian lila itu benar-benar di luar dugaannya. Sukma Tidak Buyar yang banyak akalnya saat itu juga cuma bisa berdiri gemetar, tidak bisa berbuat apa-apa.

Orang berpakaian lila itu membuka suara. Setiap patah perkataannya bagaikan tikaman pisau belati kepada ulu hatinya.

“Kau siapa?” pertanyaannya itu ditujukan kepada Sukma Tidak Buyar.

Suara Sukma Tidak Buyar sudah tidak setenang seperti biasanya.

Ia menjawab dengan suara rendah: “Aku Sukma Tidak Buyar!”

“Kau juga bernama Sukma Tidak Buyar?” “Benar!”

“Hari ini sukmamu harus buyar!”

Ucapan terakhir masih berkumandang, orangnya sudah bergerak bagaikan kilat cepatnya, kemudian disusul oleh suara jeritan Sukma Tidak Buyar yang lalu rubuh di tanah.

Hui Kiam menjadi murka. Dengan tidak menghiraukan kepandaiannya sendiri yang masih belum mampu menandingi kekuatan musuhnya, sudah menghunus pedangnya, dan dengan kecepatan bagaikan kilat menyerang orang berpakaian lila itu.

Orang berbaju lila itu menghindarkan badannya. Serangan Hui Kiam yang sudah terkenal kedahsyatannya itu mengenakan tempat kosong.

Hui Kiam merasa gemas dan sedih atas kematian adik angkatnya, sehingga matanya beringas. Ketika serangan pertama mengenakan tempat kosong lalu menyusul serangan yang kedua.

Orong berbaju lila berkelit lagi, entah dengan cara bagaimana ia sudah berhasil menghunus pedangnya.

Hui Kiam semakin penasaran. Bagaikan banteng ketaton ia mengamuk tanpa menghiraukan jiwanya sendiri. Serangan ketiga dilancarkan lagi. Orang berbaju lila itu kini menangkis dengan pedangnya. Nampaknya tidak ada yang aneh, tetapi serangan Hui Kiam yang sangat hebat itu ternyata sudah dapat dibendung.

Ketika senjata kedua pihak saling beradu, Hui Kiam mundur tiga langkah. Tangan yang memegang pedang dirasakan seperti patah hingga tak mampu menggunakan pedang lagi.

Ujung pedang orang berbaju lila itu mengancam enam bagian jalan darah di dada Hui Kiam, tetapi kemudian ditarik kembali. Sepasang matanya melalui lubang kerudunguya memancarkan sinar tajam, agaknya hendak menembusi hati Hui Kiam, kemudian berkata dengan nada suara dingin kaku:

“Penggali Makam, untuk kedua kalinya aku ampuni jiwamu!” “Aku tak butuh pengampunanmu!”

“Kalau aku hendak mengambil jiwamu, setiap saat aku dapat melakukannya!”

“Sebaiknya kau bunuh aku sekarang saja, jikalau tidak, kau nanti akan menyesal!”

“Menyesal?”

“Benar, sebab aku sudah bersumpah hendak membunuhmu!” “Hahaha. Penggali Makam, kau benar-benar sombong. Apakah

kau tahu apa sebabnya aku tidak mau membunuh mati padamu?”

“Mengapa?”

“Sebab aku masih hendak menggunakan dirimu!”

“Hahaha. Orang berbaju lila, apakah kau sedang bermimpi?” “Apakah kau ingin tahu rahasianya penghuni loteng merah?”

Pertanyaan itu benar-benar mempunyai daya penarik besar sekali, sebab belum lama berselang ketika Hui-Kiam dikejar oleh orang-orang Persekutuan Bulan Mas, pernah melintasi jembatan yang menghubungkan dengan loteng merah, sehingga terlepas dari kematian. Kemudian penghuni loteng merah memberi ampun akan kesalahannya yang tak disengaja bahkan minta kepadanya untuk mencari seseorang yang bernama Su-ma-Suan, dengan nama julukannya To-liong Kiam-khek, tetapi orang itu justru merupakan musuhnya sendiri yang menurut pesan ibunya terakhir supaya mencari dan membunuhnya.   Ia sendiri juga tak tahu sebetulnya apa permusuhan antara To-liong Kiam-khek dengan ibunya. Sedang penghuni loteng merah itu minta kepadanya mencarikan orang itu juga, sudah tentu ada sebab musaabnya. Jika ia merasakan rahasianya penghuni loteng merah itu, mungkin bisa membantu usahanya untuk mencari keterangan tentang diri To-liong Kiam-khek di masa yang lampau.

Kecuali itu, karena tertarik oleh perasaan ingin tahu siapa sebetulnya penghuni loteng merah itu. Dari kepandaian pelayannya saja, ia dapat menduga bahwa penghuni loteng merah itu pastilah bukan orang sembarangan.

Tetapi, sewaktu untuk pertama kali ia berjumpa dengan orang berbaju lila itu, pernah ditanyakan apa sebabnya penghuni loteng merah itu tidak membunuh mati dirinya, dan sekarang kembali ia memajukan pertanyaan demikian, apakah maksud dan tujuannya? Dengan sangat mudah orang berbaju lila itu telah membunuh Sukma Tidak Buyar, satu bukti bahwa ia ada seorang buas dan ganas perbuatannya. Maksud dan tujuan manusia buas ini, perlu dipikir masak-masak.

Setelah berpikir sejenak, ia lalu berkata:

“Kalau ingin tahu, kau mau apa?” “Aku boleh beritahukan kepadamu!”

“Urusan ini rupanya tidak sedemikian mudah?”

“Sudah tentu. Kau sungguh pintar, memang ada syaratnya!” “Apakah syaratnya?”

“Kau ceritakan apa sebabnya penghuni loteng merah itu tidak membunuhmu!” Otak Hui Kiam bekerja keras. Iblis itu berulang-ulang menanyakan soal itu, apakah maksudnya? Soal itu sebetulnya tidak ada apa-apanya yang mengherankan, sebab kala itu penghuni loteng merah sudah menerangkan kepadanya; karena tidak sengaja melintasi jembatan maut itu, maka diberi perkecualian, bahkan diberikan obat untuk memulihkan kckuatannya, itu adalah suatu kebaikan yang ia tak dapat lupakan, sementara permintaan penghuni loteng merah itu untuk mencarikan To-liong Kiam-khek, bukankah merupakan syarat kebebasannya. Ini satu bukti bahwa penghuni loteng merah itu masih tahu aturan, maka sekalipun diberitahukan juga tidak ada halangan. Tetapi hati dan maksud orang berbaju lila itu susah diduga. Ia sendiri tidak boleh berlaku gegabah terhadapnya, supaya penghuni loteng merah itu tidak terembet-rembet atas perbuatannya.

Karena berpikir demikian, maka akhirnya ia berkata dengan nada suara dingin:

“Aku tidak merasa senang dengan syarat itu!”

“Tetapi hari ini tidak boleh tidak kau harus menceritakan!” “Tidak bisa!”

“Kalau begitu kematianmu sudah di depan mata ”

“Kcpandaianku masih terlalu rendah, aku tidak bisa berkata apa- apa. Tetapi andaikata aku tidak mati, aku bersumpah hendak menuntut balas untuk Sukma TidakBuyar.”

“Apa kau yakin bisa hidup terus?” “Itu adalah urusanku sendiri!”

Orang berbaju lila itu tidak berkata apa-apa lagi. Sepasang matanya mendadak memancarkan sinar aneh.   Ketika mata Hui Kiam beradu dengan sinar mata itu, semangatnya mendadak tergoncang. Ia merasa sinar mata itu mengandung pengaruh gaib, tetapi ia tidak sanggup mengelakkan pandangan matanya yang aneh itu. Lambat-laun pikirannya terganggu, kemudian kusut. Ia mencoba berusaha untuk menenangkan pikirannya, tetapi tidak berhasil. Perasaannya terhadap segala urusan telah berobah, semua kebencian, kemarahan dan dendaman telah lenyap. Bahkan ia sudah seperti melupakan dirinya sendiri berada di mana. Orang berbaju lila yang berada di depannya menjadi satu bayangan yang tidak berarti....

“Jawab, apa sebab penghuni loteng merah membebaskan dirimu?”

Pertanyaan itu telah mengingatkan kepadanya apa yang telah terjadi di loteng merah dahulu. Selagi hendak memberi keterangan....

Tiba tiba suatu kesadaran terlintas dalam otaknya, semangatnya terbangun seketika. Agaknya tersadar untuk sementara. Dengan suara agak gemetar ia berkata:

“Orang berbaju lila, kau berbuat apa?”

“Eh! Kau benar-benar keras kepala, semangatmu ternyata cukup kuat!”

Selama berkata, orang berbaju lila itu matanya semakin bersinar, sehingga kesadaran yang terlintas dalam otak Hui Kiam musnah lagi, kembali ia berada dalam keadaan bingung.

Orang berbaju lila itu mengulangi lagi pertanyaannya:

“Kau pernah melintasi jembatan maut, lalu masuk ke loteng merah?”

“Ya,” jawab Hui Kiam seperti orang yang mimpi.

“Menurut peraturan yang ditetapkan oleh penghuni loteng merah, barang siapa yang melintasi jembatan maut itu, harus dibunuh mati.”

“Kemudian aku baru tahu!” “Tetapi kau tidak dibunuh?”

“Ya, ia mengatakan kecualian aku.” “Apa sebab?”

“Sebab ia menganggap aku tidak sengaja melanggar peraturannya, bukan bermaksud hendak mengganggu!”

“Apakah kau berjumpa dengan penghuni loteng merah itu sendiri?”

“Tidak!”

“Benarkah kau tidak pernah melihatnya?”

“Cuma bertemu dengan anak muridnya yang bernama Siu Bie, kemudian mendengar suara penghuni loteng merah sendiri.”

“Ia berkata apa kepadamu?”

“Ia memintaku untuk mencarikan seseorang untuk menyampaikan pesannya!”

“Mencari siapa?”

“Seorang laki-laki bernama Su-ma Suan dengan nama julukannya To-liong Kiam-khek.”

“Oh!” orang berbaju lila itu nampaknya terperanjat. “Apakah kau kenal laki-laki yang bernama To-liong Kiam-khek itu?”

“Tidak kenal!”

“Ia minta kau sampaikan pesan apa padanya?”

“Suruh bertanya kepada Su-ma Suan, apakah ia sudah lupa janjinya pada sepuluh tahun berselang?”

“Emmm!”

Sinar mata aneh orang berbaju lila itu lenyap seketika, dia mendongak ke atas memandang langit dan awan putih yang berjalan di angkasa, entah apa yang sedang dipikir.

Hui Kiam sadar dari keadaan tidak ingat diri, apa yang terbentang di depan matanya masih tetap orang berbaju lila itu dan jenazahnya Sukma Tidak Buyar yang membujur di tanah. Kebencian tumbuh lagi dalam hatinya. Samar-samar ia masih ingat sinar mata aneh orang berbaju lila itu, dan kemudian pikirannya sendiri telah menjadi kacau. Tetapi apakah sebenarnya yang telah terjadi? Sedikitpun ia tidak tahu. la terheran-heran. Dia mencoba berusaha untuk memikirkan kembali, tetapi percuma saja.

“Orang berbaju lila, baru saja kau berbuat apa?” demikian ia berkata dengan perasaan takut.

Orang berbaju lila itu mengawasinya, kemudian berkata dengan nada suara dingin:

“Tidak apa-apa, hanya sedikit ilmu mengalihkan semangat yang tidak berarti.”

Hui Kiam terperanjat, ia mundur dua langkah, lalu bertanya dengan suara gemetar:

“Ilmu mengalihkan semangat?” “Benar!”

“Kau. ”

“Aku cuma minta kau mengatakan apa yang terkandung dalam hatimu!”

“Apa   aku sudah menjawab?”

“Emm! Sudah menjawab seluruhnya!”

Hui Kiam bergidik, apakah ia sudah menceritakan asal-usul dirinya? Kalau benar, hal ini akan membawa akibat sangat hebat. Maka ia mundur lagi satu langkah, keringat dingin mengucur keluar membasahi sekujur badannya.

“Aku   apakah yang aku katakan?”

”Kau telah menceritakan bagaimana penghuni loteng merah itu membebaskan dirimu.”

“Lainnya?”

“Kau mencarikan untuknya seseorang guna menyampaikan pesannya.”

Hui Kiam merasa lega hati, nampaknya ia belum sampai menceritakan asal-usul dirinya. Ini merupakan satu keuntungan besar baginya karena jikalau tidak, hebat sekali akibatnya.

Jika asal-usul dirinya tersiar di kalangan kang-ouw, maka semua musuh-musuh gurunya pasti tidak akan melepaskan dirinya.

“Orang berbaju lila, perbuatanmu ini sangat rendah dan sangat memalukan.”

“Bocah, kau jangan berlaku kurang ajar, barangkali kau melaksanakan permintaan penghuni loteng merah itu, betul tidak?”

Pertanyaan itu agaknya mengandung maksud, sehingga hati Hui Kiam tergerak. Ia memang hendak mencari To-liong Kiam-khek, ini lebih penting daripada permintaan penghuni loteng merah. Ia coba menenangkan pikirannya, jawabnya:

“Kalau ya mau apa?”

“Aku dapat membantu kau!” “Kau... hendak membantu aku?” “Apakah kau tidak percaya?” “Memang susah untuk dipercaya.” “Kau curiga maksudku?”

“Tepat.”

“Aku boleh menjelaskan kepadamu, sebabnya aku menanya kepadamu, karena tertarik oleh sifatku yang ingin tahu, sebab tindakan pengecualian terhadap dirimu, menimbulkan kecurigaanku!”

“Maksudmu mungkin bukan cuma itu saja?” “Percaya atau tidak, terserah kepadamu!”

“Dan kau membunuh Sukma Tidak Buyar, bagaimana kau hendak memberi keterangan?”

“Karena ia menggunakan merek penghuni loteng merah untuk mempermainkan aku.” “Karena ia telah melakukan perbuatan rendah itu, rekening ini aku nanti akan minta nanti kepadamu!”

Orang berbaju lila itu tertawa terbahak-bahak dan berkata: “Penggali Makam, kau sangat sombong, tetapi juga jujur dan

berani. Karena itu, kali ini aku lepaskan kau, untuk memberi kesempatan kepadamu. Tapi ingat, kesempatan tak banyak!”

“Ini sudah dikatakan!”

“Jejak To-liong Kiam-khek dalam dunia ini barangkali cuma aku seorang yang tahu!”

“Apakah… dia masih belum mati?” “Sungguh tidak jauh dari kematiannya!” “Dia di mana?”

“Apakah kau ingin tahu?” “Benar, kau minta upah apa?”

“Penggali Makam, tidak usah upah. Aku boleh beritahukan kepadamu cuma-cuma. Hitung-hitung sebagai balasan atas keteranganmu mengenai penghuni loteng merah!”

Hati Hui Kiam tergerak. Ia segera akan mengetahui jejak musuh besarnya sehingga dapat melaksanakan sebagian tugasnya, juga dapat menenangkan pikiran arwah ibunya yang berada di alam baka. Penemuan ini sesungguhnya tak diduga-duga, sudah tentu ia merasa girang.

“Kalau begitu aku ingin mendengarnya!”

“Pada lima belas tahun berselang, To-liong Kiam-khek Su-ma Suan karena salah satu sebab telah membunuh mati seorang muridnya tokoh kenamaan yang mempunyai nama julukan Manusia Agung Dalam Dunia. Kemudian Manusia Agung Dalam Dunia pergi menuntut balas kepadanya. Ia telah memusnahkan kepandaian To- liong Kiam-khek dan mengorek kedua biji matanya, lalu dimasukkan ke dalam sebuah goa di gunung Keng-san supaya ia menemukan ajalnya sendiri. Aku dahulu pernah datang ke goa tersebut, dengan tak sengaja mengetahui rahasia ini.”

“Apa benar?”

“Tidak ada perlunya aku membohong!”

Hui Kiam lalu timbul hasrat hendak menyampaikan kabar itu lebih dulu kepada penghuni loteng merah, hitung-hitung untuk memenuhi janjinya dan kemudian pergi ke gunung Keng-san, untuk mencari sendiri To-liong Kiam-khek untuk menunaikan tugas yang diberikan oleh ibunya.

Ia lalu berkata sambil menyoja:

“Musuh tinggal musuh benci tinggal benci,tetapi kebaikan tetap kebaikan, hal ini aku seharusnya mengucapkan terima kasih kepadamu.”

“Tidak perlu. Ingat, lain kali jika aku bertemu lagi dengan kau, aku tidak akan melepaskan kau lagi!”

“Sama-sama!” “Sampai ketemu lagi!”

Selelah mengucapkan demikian, orang berbaju lila itu lalu menghilang.

Hui Kiam berdiri bingung sejenak, matanya mengawasi jenazah Sukma Tidak Buyar. Air matanya meleleh keluar. Ia berjalan menghampiri. Dengan suara sedih ia berkata:

“Adik Hoan, tenangkanlah pikiranmu. Aku pasti akan menuntut balas untukmu!”

Tidak jauh dari tempat itu, adalah makam Pui Ceng Un, anak perempuan si-supeknya. Dalam waktu tidak ada setengoh hari ia, telah mengubur dua jenazah yang semua ada hubungan dengan dirinya. Satu adalah sucinya, sedang yang lain adalah adik angkatnya, dan kematian dua orang itu justru karena dirinya. Ia membuat lubang sedalam satu tombak kemudian mengangkat jenazah Sukma Tidak Buyar untuk dimasukkan ke dalam lobang tersebut dengan airmata bercucuran....

Kematian adik angkatnya itu sesungguhnya sangat menyedihkan.

Selagi hendak menimbuni tanah, mendadak Sukma Tidak Buyar membuka mulutnya dan berkata dengan suara lembut:

“Toako, apa kau benar-benar hendak mengubur aku!”

Hui Kiam kaget, bulu badannya berdiri. Orang yang sudah mati bagaimana bisa bicara? Apakah benar sukmanya tak buyar? Tetapi tubuhnya sudah dingin.

Ia menggigil, rasa takut timbul dalam hatinya.

Ia mencoba menghapus air matanya, untuk mengawasi dan memeriksa dengan seksama.

Sukma Tidak Buyar benar-benar sudah membuka matanya.

“Adik Hoan, kau.....kau.....” suaranya gemetar tak dapat melanjutkan lagi.

“Toako, aku belum mati!” “Kau... benar-benar... tetapi. ”

“Jangan hentikan tanganmu. Orang berbaju lila itu mungkin masih di dekat-dekat sini. Teruskanlah kau mengubur aku, tetapi tanahnya longgarkan sedikit.”

Hui Kiam hampir tidak percaya, bahwa dalam dunia ada kejadian seaneh itu, orang yang sudah mati bisa hidup lagi. Pikirnya, apakah ia sedang mimpi? Tetapi apa yang dia saksikan, apa yang ia sentuh semuanya adalah benar.

Tangannya yarg gemetaran meraba-raba jantung Sukma Tidak Buyar. Ternyata masih hangat dan berdenyut, ia benar-benar masih hidup.

Tetapi ia agaknya masih belum mau percaya bahwa itu adalah suatu kenyataan. Memang hal demikian merupakan suatu hal yang luar biasa, suatu kejadian! Dulu Sukma Tidak Buyar pernah dikejar- kejar oleh Manusia Gelandangan, tetapi ia tak melihat dengan mata kepala sendiri, sudah dipukul mati atau tidak, ia hanya menemukan makamnya. Selanjutnya Sukma Tidak Buyar itu menunjukan diri lagi. Meskipun kala itu ia terkejut, tetapi karena tidak melihat sendiri kematiannya, dianggapnya hanya terluka parah saja. Tetapi sekarang keadaannya berbeda....

“Adik Hoan, bagaimanakah sebetulnya?”

Dengan suara sangat halus sekali Sukma Tidak Buyar berkata: “Hati hati, jangan sampai terbuka rahasia sehingga orang berbaju

lila   itu   akan   balik   lagi,   aku   nanti   akan   mati   benar-benar.

Kepandaian yang diturunkan suhu kepadaku ini sesunggubnya memang luar biasa, bisa berpura-pura terluka parah juga bisa berpura-pura mati. Itulah sebabnya, juga modalnya begitu berani menggunakan nama julukan Sukma Tidak Buyar untuk berkelana di dunia Kang-ouw. Mengertikah kau? Lekas, sehabis mengubur aku kau harus lekas berlalu dari sini, aku bisa keluar sendiri dari dalam lobang. Jangan lupa kau juga harus mendirikan batu nisan untukku!”

Kini Hui-Kiam baru percaya bahwa Sukma Tidak Buyar benar- benar masih hidup sehingga lenyaplah semua kesedihannya.

Ia melakukan semua apa yang diminta oleh Sukma Tidak Buyar.

Selama dikubur, badan Sukma Tidak Buyar terus bergerak, di bagian bawahnya terbuka sebuah lubang, sehingga masih dapat menyaksikan berlalunya Hui-Kiam.

“Toako, kau jalan dulu!” demikian ia minta kepada Hui-Kiam setelah selesai mengubur.

“Adik Hoan, apa yang dikatakan orang berbaju lila tadi, apakah kau dengar seluruhnya?”

“Ya!”

“Apakah kau percaya?”

“Masih merupakan satu pertanyaan besar!” “Mengapa?”

“Manusia Agung di Dunia yang ia sebutkan tadi, sudah meninggal dunia pada dua puluh tahun berselang, bagaimana ia katakan mati pada lima belas tahun berselang? Bahkan ia masih bisa menuntut balas dendam untuk muridnya dan mencelakakan dirinya To-liong Kiam-khek?”

“Oh.. .ini….”

“Tetapi kematian Manusia Agung Dalam Dunia juga merupakan satu kabar saja. Apakah benar-benar belum mati juga masih menjadi satu pertanyaan.   Coba saja kau lakukan seperti apa yang ia katakan. Orang Berbaju Lila itu tidak tahu kalau kau bermusuhan dengan To-liong Kiam-khek, maksudnya cuma hendak meminjam kau untuk menyampaikan kabar kepada penghuni loteng mera. Mungkin dalam hal ini ada apa-apanya. Coba saja kau lakukan, aku nanti bisa atur lebih jauh!''

“Bagaimana kau hendak mengaturnya?”

“Kau tidak usah mengambil pusing, pergilah!”

Hui Kiam menganggukkan kepala. Ia lalu menghampiri makam Pui Ceng Un untuk memberi hormat penghabisan. Matanya dengan tanpa sadar memandang ke arah jalanan yang menuju ke makam pedang. Ia ingin coba-coba menyelidiki makam itu. Setelah berpikir masak-masak, kemudian ia turut pesannya Orang Tua Tiada Turunan yang minta kepadanya supaya bersabar.

Ia lalu meninggalkan tempat tersebut dan berjalan menuju ke loteng merah.

Hari itu juga ia sudah tiba di luar pekarangan loteng merah di depan jembatan maut.

Ingat akan kejadian yang sudah lalu, pikirannya tergoncang. Pengalaman manusia hidup, benar-benar sangat berlainan coraknya.

la mengawasi ujung seberang jembatan maut, lalu melintasi dengan langkah lebar. Baru saja ia melintasi jembatan maut itu, tiba-tiba terdengar suara bentakan:

“Berhenti!”

Seorang perempuan muda berbaju lila, Siu-Bie, sudah berada di hadapannya.

“Oh, nona Siu, kau baik-baik saja?” sahutnya Hui Kiam sambil menyoja.

“Aaaa! Penggali Makam, kiranya kau. Ada urusan apa kau datang kemari?”

“Untuk memenuhi janji kepada suhumu!”

“Oh! Apakah... aku boleh bertanya namamu yang mulia?” “Namaku Hui Kiam!”

Siu Bie menatap wajah Hui Kiam sejenak, kemudian berkata: “Hui Siaohiap, silahkan!”

Sebentar kemudian, Hui Kiam sudah sampai ke kamar barat yang dahulu ia pernah bercakap-cakap dengan penghuni loteng merah.

Siu Bie lalu berkata:

“Harap siaohiap suka tunggu sebentar, nanti aku beritahukan kepada suhu!”

“Silahkan nona!”

Tidak berapa lama, Siu Bie yang masuk ke dalam sudah keluar lagi. Sama seperti dulu, di belakang pintu yang tertutup tirai sntra hijau, terdengar suaranya penghuni loteng merah yang agak parau:

“Penggali Makam, kau benar-benar seorang yang pegang kepercayaan!”

“Nyonya terlalu memuji. Inilah merupakan kewajibanku sebagai seorang Kang-ouw.”

“Apakah... kau sudah bertemu dengan dia?” “Belum, tetapi dapat kabar tentang dirinya!” “Aaaa!” suaranya menunjukkan perasaannya tergoncang. “Kabar apa?”

Hui Kiam lalu menceritakan keterangan yang ia dapat dari orang berbaju lila.

Penghuni loteng merah itu berkata dengan suara gemetar: “Apa? Semua kepandaiannya telah musnah, matanya buta?” “Begitulah kabarnya!”

“Kau katakan dia dibuang ke dalam gua di salah satu puncak gunung Keng-san?”

“Ya!”

“Ya Allah! Aku telah curiga kepadanya, rnembencinya. Siapa tahu ia mengalami nasib sedemikian menyedihkan!” Suaranya itu mengandung sesalan terhadap diri sendiri dan kedukaan yang sangat basar.

Setelah hening lama ia lalu berkata pula:

“Penggali Makam, sukakah kau melakukan sesuatu lagi untukku?” “Coba Nyonya sebutkan!”

“Tolong kau bawa To-liong Kiam-khek!”

“Tentang ini... maaf, terpaksa aku merasa sangat keberatan!” “Apakah... kau tidak suka?”

“Mengapa Nyonya tidak mencarinya sendiri?” “Aku.. .tidak bisa!”

Dalam hati Hui Kiam merasa bingung dan heran. Ia berkata: “Aku sungguh tidak mengerti.”

“Penggali Makam, jikalau aku bukan karena terikat oleh sumpahku sendiri tidak bisa meninggalkan loteng merah ini, aku tidak akan minta pertolonganmu!” Hui Kiam kembali dibikin bingung. Sumpah, sumpah apakah itu?

Mengapa ia tidak bisa meninggalkan loteng merah?

Akan tetapi ia tidak ingin bertanya lebih jauh, ia hanya merasa keberatan atas permintaan perempuan itu.

“Siu Bie,” demikianlah penghuni loteng merah itu berkata terus, “Buka pintu. Suruhlah ia masuk. Aku akan bicara berhadap- hadapan.”

“Ya!”

Siu Bie berlalu membuka salah satu pintu dari pintu yang seluruhnya berjumlah delapan, lalu berkata kepada Hui Kiam:

“Hui siaohiap, silahkan masuk!”

Hati Hui Kiam berdebar, ia segera akan dapat melihat paras asli perempuan misterius itu. Tetapi apakah maksud perempuan itu berlaku demikian? Karena bagi perempuan itu sendiri berbicara teraling oleh tirai atau berhadapan muka, agaknya tidak ada bedanya.

Sambil berpikir ia menggerakkan kakinya. Ia berjalan masuk ke kamar. Begitu melangkah di ambang pintu yang tertutup tirai, perlengkapan yang ada di dalam kamar menimbulkan perasaan segan baginya.

Di tengah-tengah kamar di atas sebuah kursi besar, duduk seorang perempuan cantik setengah tua. Ia tidak mengenakan pupur, parasnya nampak pucat pasi, alisnya agak dikerutkan, agaknya mengandung kedukaan yang tiada terhingga. Tidak perlu banyak dipikir, Hui Kiam segera dapat menduga bahwa perempuan itu adalah penghuni loteng merah yang sangat misterius itu.

“Silahkan masuk .”

Hui Kiam lalu duduk di salah satu kursi sambil menyatakan terima kasihnya.

Seorang perempuan muda berbaju lila yang lain, menyediakan secawan teh lalu berlalu lagi, sedang Siu Bie tetap berada di luar tidak turut masuk. Penghuni loteng merah berkata dengan suara perlahan-lahan: “Hui siaohiap, dari mana kau dapatkan berita itu?”

“Dari seorang berpakaian lila yang mukanya memakai kerudung.” “Orang berbaju lila?”

“Ya. Apa nyonya kenal kepadanya?” “Tidak. Bagaimana nama julukannya?”

“la cuma mengatakan bahwa nama julukannya Orang Berbaju Lila. Tentang dirinya yang aku ketahui hanya itu saja!”

“Oh!”

Penghuni loteng merah itu menundukkan kepalanya, agaknya sedang berpikir keras. Suasana dalam kamar nampak sunyi. Lama sekali, wanita itu baru mengangkat kepalanya, dan berkata:

“Hui siaohiap, aku ulangi permintaanku tadi!” “Maaf aku tidak dapat melakukan!” “Mengapa?”

“Nvonya tentunya masih ingat bahwa dulu aku pernah memberitahukan terus-terang bahwa To-liong Kiam- khek itu adalah musuh besarku. Kalau aku bertemu muka dengannya, aku pasti akan membunuhnya.”

“Tetapi sekarang seluruh kepandaiannya sudah musnah, kedua matanya sudah buta, apakah kau masih tega turun tangan?”

“Sekalipun ia sudah binasa, aku juga akan menghajar bangkainya.”

Perkataan itu diucapkan sedemikian tegas, menandakan betapa besar kebencian Hui Kiam terhadap To liong Kiam-khek.

Paras penghuni loteng merah yang pucat lantas berubah, sinar matanya sayu telah berubah menjadi beringas. Ia berkata dengan suara keras: “Di antara kalian sebetulnya ada perrnusuhan apa? Mengapa begitu besar rasa dendam sakit hatimu terhadapnya?”

“Tentang ini maaf aku tidak dapat memberitahukan!” “Apakah kau tidak boleh tidak harus membunuhnya?” “Ya!”

“Jikalau aku tidak mengijinkan bagaimana!”

“Tiada seorang pun yang dapat merintangi tindakanku!” “Apakah kau yakin?”

“Mendengar ucapanmu ini, apakah kau ingin bertindak terhadap diriku?”

“Jikalau kau tetap hendak penuhi pikiranmu sendiri, kau nanti segera mengetahui apa akibatnya.”

Hui-Kiam seketika itu naik darah. Ia bangkit dan berkata dengan suara gemetar:

“Kedatanganku ini semata-mata hanya untuk memenuhi janji, karena aku tidak ingin berlaku sebagai manusia rendah. Jikalau aku tidak terikat dengan janjiku ini, tidak perlu aku datang kemari bahkan aku bisa pergi sendiri ke goa itu, untuk membunuh lebih dulu dirinya To-liong Kiam-khek, baru aku memberitahukan kepadamu!”

Penghuni loteng merah seketika tak menjawab. Kemudian berkata:

“Nampaknya aku terpaksa akan melanggar sumpahnya untuk meninggalkan tempat ini. Penggali Makam, aku sekarang tidak akan bertindak apa-apa terhadap kau, tetapi setiba di gunung Keng-san, susah dikata. Terhadap perbuatanmu untuk memenuhi janji terhadap aku, aku tetap menerima budimu ini. Kata-kataku sudah cukup sampai disini dan sekarang kau boleh pergi!”

Hui Kiam lalu minta diri keluar dari kamar itu menuju ke jembatan maut lagi untuk menyeberang keluar. Sementara dalam hati berpikir, “Nampaknya penghuni loteng merah itu segera akan berangkat ke gunung Keng-san maka aku sendiri harus lebih dulu tiba di sana. Jikalau tidak, apabila nanti dirintangi olehnya, akan sulit sekali bagiku menuntut balas. Lagi pula bila To-liong Kiam- khek sudah berada di tangan penghuni loteng merah itu, lebih sulit bagiku untuk melakukan pesan mendiang ibuku.”

Setelah melintasi jembatan maut, ia segera berjalan menuju ke gunung Keng-san. Untuk menghindarkan bentrokan dengan orang- orang Persekutuan Bulan Mas, sehingga mentelantarkan usahanya, maka ia tidak berani mengambil jalan raya, sebaliknya melalui jalan pegunungan yang sunyi.

Di perjalanan, ia teringat kata-kata Sukma Tidak Buyar, yang katanya bisa mengatur sendiri. Kata-katanya itu mungkin ada sebabnya. Tetapi apa yang akan diaturnya? Apakah akibat yang akan terjadi antara diri sendiri dengan penghuni loteng merah itu sudah diduganya lebih dulu? Atau....

la ingin lekas-lekas sampai di tempat itu, maka ia sudah lupa makan dan minum.

Hari esoknya ketika matahari sudah terbit, Hui-Kiam sudah berada di bawah kaki gunung Keng-san.

Daerah pegunungan Keng-san ternyata sangat luas. Hendak mencari salah satu tempat di daerah yang luas itu sesungguhnya bukan soal mudah. Bagaimana ia harus mencari supaya jangan sampai perjalanannya sia-sia? Itulah yang sangat penting. Sayang waktu itu ia tak menanya dengan jelas di mana letaknya goa itu.

Ia telah menanyakan daerah pegunungan itu, tetapi tiada seorangpun yang tahu di mana letaknya goa itu. Akhirnya ia menanyakan kepada salah seorang tukang berburu hewan. Olehnya diberitahukan letaknya goa yang dicari itu. Goa itu ternyata terletak di tempat yang sunyi, terpisah beberapa puluh pal dari tempat ia berdiri, bahkan masih harus melalui sepuluh puncak lebih.

Tetapi ada satu petunjuk, biar bagaimana lebih baik dari ada mencari di sini secara membabi-buta. Sudah tentu untuk mencapai ke tempat tersebut hanya soal waktu saja. Karena ia sudah tidak mempunyai waktu untuk berpikir lebih banyak, yang perlu ia sudah harus tiba lebih dulu ke tempat tersebut, jangan sampai diketahui oleh penghuni loteng merah.

Ia menurut garis jalan yang ditunjuk pemburu tadi. Setelah melewati puncak gunung yang ditunjuk, ia lari menuju ke utara.

Setelah dengan beruntun mendaki tiga puncak gunung, ia baru berhenti, untuk mencari arah tujuannya.

Tiba-tiba, sebuah makam besar dan megah telah menarik perhatiannya. Di daerah pegunungan yang sepi sunyi ini, siapakah gerangan yang dikubur bahkan dibangun makam yang demikian megah?

Dengan tanpa dirasa ia berjalan menghampiri makam tersebut. Matanya segera menyentuh beberapa huruf yang tertulis di atas batu hitam.  Huruf-huruf itu demikian bunyinya:

DISINI BERSEMAYAM NYONYA SU-MA, TERLAHIR HUI UN KHENG.

Hui Kiam merasakan bagaikan disambar geledek hingga untuk sesaat lamanya ia berdiri tertegun. Hatinya terguncang keras, hampir saja ia roboh tidak ingat orang.

Ini merupakan suatu kejadian aneh yang tidak mungkin terjadi.

Ia mengsosok-gosok matanya untuk melihat sekali lagi. Ternyata sedikitpun tidak salah, masih tetap beberapa huruf itu.

Ia seolah-olah menjumpai suatu kejadian ganjil. Ia mundur beberapa langkah. Kakinya merasa lemas, sehingga ia berdiri menyandar di sebuah pohon cemara. Ia berusaha untuk menenangkan pikirannya. Ia bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah pikirannya masih normal?

Hui Un Kheng dan Jok Sok Siancu adalah nama dan julukan ibu almarhumnya sendiri.

Kalau demikian halnya, Su-ma Suan yang mempunyai nama julukan To-liong Kiam-khek, yang dalam pesan ibunya adalah orang yang harus dibunuhnya itu, ternyata adalah ayahnya sendiri. la masih ingat di waktu ia masih kecil pernah beberapa kali menanyakan kepada ibunya, siapakah nama ayahnya, tetapi selalu tidak mendapat jawaban yang memuaskan, jawaban yang didapat hanya mengatakan, bahwa ayahnya sudah lama meninggal dunia! Tetapi kalau ditanya lagi, selalu dijawab bahwa saatnya belum tiba untuk mendapat jawaban.

Ya Tuhan, apakah sebetulnya telah terjadi?

Dahulu, ia sendiri masih belum mengerti apa-apa mengenai dirinya yang harus memakai she Lie menuruti sang ibunya, belum pernah ia merasa curiga.

Entah berapa lama telah berlalu. Pikirannya yang kusut perlahan-lahan tenang kembali. Ia lalu berpikir, setelah ibuku mati terbunuh dan terbakar jenazahnya, semua itu telah kusaksikan sendiri. Dan waktu suhu Tho-tee, Sun Thian Kuat lewat di sini dan kemudian mengambilku sebagai murid, beliau telah mengubur abu ibuku. Semua itu aku saksikan dengan mata sendiri. Bagaimana bisa dikubur di tempat ini?

Andaikata itu merupakan suatu kejadian yang kebetulan, tetapi di dalam dunia ini meskipun ada orang yang bersamaan nama, tetapi tak mungkin juga bersamaan shenya bahkan nama julukannya. Hakekatnya, hal itu tidaklah mungkin, sebab nama gelar ibunya di dalam rimba persilatan sudah cukup terkenal.

Dari batu nisan itu dapat diduga bahwa batu itu didirikan oleh Su-ma Suan (yang juga berarti ayahnya sendiri). Tetapi mengapa dalam pesan ibunya menyuruh dia membunuh mati Suma-Suan, bahkan namanya dirangkaikan dengan nama julukannya seorang Iblis Wanita Bertusuk Konde Emas.

Kematian ibunya telah terjadi pada sebelas tahun berselang dan menurut perkataan Orang Berbaju Lila, To-liong Kiam-khek Suma Suan dimusnahkan kepandaiannya oleh Manusia Agung di Dunia dan kemudian dibuang ke dalam goa terpencil ini terjadi pada lima belas tahun berselang. Perbedaan waktu empat tahun ini bagaimana harus dicari keterangannya? Selain daripada itu, manusia cuma bisa mati satu kali, tidak mungkin bisa dua kali.

Abu ibunya telah dikubur dalam pekarangan rumahnya sendiri. Hal ini sedikitpun tidak salah. Tetapi siapakah Hui Un Kheng yang bersemayam di dalam makam ini?

La cuma merasa kepalanya mau pecah, pikirannya kusut, tetapi teka-teki mengenai kuburan ini sedikitpun tak mampu memikirkan.

Hanya ada satu kemungkinan. Dua orang itu sangat kebetulan bersamaan she, nama, dan bersamaan julukan. Tetapi ibunya menyuruhnya membunuh To-liong Kiam-khek, suatu bukti bahwa ibunya sudah tak asing lagi dengannya.

Teka-teki ini hanya To-liong Kiam-khek sendiri yang bisa memecahkan.

Tetapi penghuni loteng merah juga mencari To-liong Kiam-khek, apakah maksudnya....

Berpikir sampai di situ, tiba-tiba tersadar bahwa ia sendiri harus sampai lebih dulu daripada penghuni loteng merah untuk menemukan To-liong Kiam-khek.

Dengan perasaan masih penuh keheranan ia mengawasi batu nisan itu sejenak, lalu membalikkan badan....

Mendadak ia berseru: “Ah!”

Di hadapannya ternyata ada berdiri orang berbaju lila yang misterius dan menakutkan itu.

Sesaat manusia misterius itu berada di belakangnya ia sedikitpun tidak tahu.

Orang Berbaju Lila menegur dengan suaranya yang seram: “Penggali Makam, perlu apa kau berada di sini?”

Dengan sinar mata dingin Hui Kiam mengawasi orang berbaju lila itu kemudian berkata:

“Ini ada hubungan apa denganmu?” “Terhadap makam ini kau agaknya menaruh perhatian besar?” “Mengapa?”

“Aku perlu peringatkan kepadamu, tidak boleh kau gentayangan di tempat ini. Ini merupakan suatu perbuatan tak sopan terhadap orang di dalam makam!”

Hui Kiam terperanjat. Perkataan Orang Berbaju Lila ini mengandung arti besar sekali. Mondar-mandir di dekat kuburan dianggapnya kurang sopan terhadap orang dalam makam. Mengapa ia junjung begitu tinggi kepada orang yang bersemayam dalam kuburan ini? Mungkin semua teka-teki yang meliputi dirinya dapat diungkap dari keterangan orang berbaju lila ini. Maka dengan pura-pura berlaku acuh tak acuh ia berkata:

“Ada hubungan apa kau dengan orang yang bersemayam dalam kuburan ini?”

“Tentang ini kau tak perlu tahu.”

“Demikian menghormatnya kau terhadap orang dalam kuburan itu?”

““Kataku! Kau jangan banyak bicara...”

“Orang Berbaju Lila, di dalam rimba persilatan sebetulnya ada berapa yang bernama Hui Un Kheng dan julikan Jiok-siok Siancu?”

Orang Berbaju Lila itu nampak tercengang, lalu berkata: “Bocah, apa maksud pertanyaanmu ini?”

“Harap kau jawab dulu pertanyaanku tadi.” “Sudah tentu cuma satu orang.”

Hati Hui Kiam kembali berdebar keras, tetapi di luarnya masih coba berlaku tenang dan lalu bertanya pula:

“Apakah orang dalam kuburan itu adalah istrinya To liong Kiam- khek?”

“Bukankah di atas batu nisan itu sudah ditulis dengan nyata?” “Apakah To-liong Kiam-khek mempunyai turunan?” Bocah, pertanyaanmu semakin aneh, kau sebetulnya mau apa?” “Kita satu sama lain harus berlaku terus terang, kau pikir

bagaimana?”

Mata orang berbaju lila itu memancarkan sinar aneh. Hui Kiam teringat ilmu gaib mengalihkan semangat orang itu, maka lalu berkata dengan suara bengis:

“Apa kau hendak menggunakan ilmu gaib lagi?”

“Aku tidak ada itu maksud. Jikalau kau bicara terus terang, aku tidak perlu berbuat demikian!”

Hui Kiam berpikir bolak-balik. Ini merupakan suatu kesempatan paling baik untuk mengetahui semua rahasia yang meliputi dirinya. Maka ia lalu berkata sambil tertawa dingin:

“Ini bukan rahasia apa-apa, aku hanya tertarik oleh perasaan heran, sekalipun kau menggunakan ilmu mengalihkan semangat, juga tidak ada gunanya?”

“Bocah, kau tadi menanya apakah To-liong Kiam-khek mempunyai turunan, apakah maksud pertanyaanmu ini?”

“Jikalau di dalam rimba persilatan ada dua orang yang mempunyai nama dan julukan yang serupa, maka pertanyaanku tadi kau tak usah jawab. Tetapi jikalau cuma ada seorang, keadaannya lalu berlainan.”

“Oh! Coba kau katakan!”

“Tahukah kau bahwa Jiok Sok siansu itu ada mempunyai berapa suami?”

“Bocah, kau jangan melampau, hati-hati aku nanti hajar dirimu.” “Tetapi inilah kuncinya semua persoalan.”

“Sudah tentu cuma mempunyai seorang suami, ialah Suma Suan yang mempunyai nama julukan To-liong Kiam-khek!”

“Mempunyai turunan?” “Tidak punya.” “Kau keliru!” “Mengapa?”

“Aku pernah dengar seorang angkatan tua rimba persilatan yang mengatakan bahwa pada sepuluh tahun berselang ia pernah berjumpa dengan Jiok Sok Siancu, yang membawa seorang anak laki-laki berusia kira-kira tujuh delapan tahun.”

Orang Berbaju Lila itu sikapnya berbeda dengan biasanya, ia menggeram kemudian berkata:

“Sepuluh tahun berselang tidak mungkin!” “Mengapa tidak mungkin?”

“Jiok-sok Siancu meninggal dunia pada lima belas tahun berselang. Memang benar waktu ia meninggal sedang dalam mengandung, jenazahnya dikubur sendiri oleh To liong Kiam-khek Suma Suan ”

“Mengapa kau tahu begitu jelas?”

“Suma Suan sendiri yang menceritakan kepadaku.”

“Kalau begitu apa yang kudengar itu ternyata bohong semuanya!”

“Semua omong kosong, bocah, kau lekas pergi, sekarang aku masih belum pikir membunuh kau!”

Hui Kiam merasa bingung, tetapi ia masih terus berkata: “Menurut keterangan Cian-pwee itu katanya kejadian itu benar

seluruhnya!”

“Aku suruh kau pergi!”

“Selain daripada itu, Cian-pwee itu malah masih mengatakan, bahwa Jiok-sok Siancu itu pernah minta tolong kepadanya ”

“Minta tolong apa?”

“Untuk membunuh To-liong Kiam-khek Suma Suan!” “Apakah hal itu terjadi pada sepuluh tahun berselang?” “Benar!”

“Ha ha ha bocah, kau melantur. Pada sepuluh tahun berselang tulang-tulangnya Jiok-so Sian-cu sudah berada di dalam tanah ha ha….”

Sambil mengeluarkan suara tertawanya yang terakhir, Orang Baju Lila itu sudah menghilang.

Hui Kiam berdiri tertegun, kejadian itu membingungkan dirinya. Jikalau di dunia ini tidak ada dua orang yang bersamaan nama dan julukannya, tidak mungkin akan terjadi kejadian-kejadian, kecuali To-liong Kiam-khek mempunyai maksud lain, ia sengaja menciptakan kejadian aneh itu dengan maksud untuk membingungkan hati orang, maka teka-teki itu, tetap harus dicari pada dirinya sendiri.

Dengan adanya kejadian itu telah menghambat waktunya hampir setengah jam. Dengan pikiran masih diliputi berbagai pertanyaan, Hui Kiam melanjutkan perjalanannya ke goa yang dicari.

Satu jam kemudian, dengan menurut petunjuk pemburu binatang itu, benar saja ia menemukan sebuah puncak gunung yang menjulang tinggi bagaikan sebuah potongan batu besar. Keadaannya sangat berbahaya, benar-benar lain daripada yang lain.

Ia lalu berpikir mungkin inilah puncak gunung yang dimaksudkan itu, maka seketika itu 'ia menggunakan ilmunya yang meringankan tubuh. Setelah melalui beberapa rintangan yang sangat berbahaya akhirnya ia tiba dipuncaknya.

Puncak gunung itu hampir seluruhnya merupakan batu besar dan tajam. Batu-batu itu bentuknya sangat aneh. Sebagian licin bagaikan kaca tetapi sebagian lagi menonjol tajam, sehingga bentuknya mirip dengan belahan bangku. Di salah satu bagian belakang batu besar itu terdapat sebuah lubang goa di dalam.

Perasaan Hui Kiam mulai tegang. Karena penemuan makam itu tadi, membuat perasaan terhadap perkara ini semakin besar perhatiannya. Nampaknya memang benar To-liong Kiam-khek berada dalam gua ini. Ia harus menerjang masuk? Ataukah memanggil namanya dulu?

Selagi masih belum dapat mengambil keputusan, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dingin. Di hadapannya sudah berdiri perempuan yang menjadi penghuni loteng merah.

Bukan kepalang terkejut Hui Kiam. Ia sungguh tidak menduga Penghuni Loteng Merah itu telah tiba sedemikian tepat waktunya sebelum ia bertindak apa-apa. Bagaimana akibatnya, ia sendiri tidak dapat membayangkan.

Di belakangnya Penghuni Loteng Merah diikuti oleh empat perempuan muda berbaju lila. Siu-Bie, juga terdapat di antaranya.

Hui-Kiam mengawasi Penghuni Loteng Merah dengan perasaan takut, karena hanya Siu Bie seorang, ia sendiri belum mampu menandingi, apa lagi  gurunya?

Paras Penghuni Loteng Merah yang pucat diliputi oleh warna merah karena tergoncang perasaannya. Lalu dengan nada suara dingin ia berkata kepada Hui-Kiam:

“Hui siaohiap, begitu cepat kau tiba?” “Nyonya sendiri juga tidak kalah cepatnya.”

Penghuni Loteng Merah itu nampak berpikir sejenak, lalu berkata dengan sikap sungguh-sungguh.

“Penggali Makam, aku ucapkan terima kasih kepadamu yang telah menemukan tempat kediamannya. Kau bermaksud hendak menuntut balas, sedangkan aku akan melindungi dirinya dengan sepenuh tenaga. Dengan terus terang, tidak nanti kau akan kesampaian maksudmu. Di samping itu keadaan sekarang ini masih merupakan satu teka-teki yang perlu kita ungkap dulu.”

“Tetapi sebelum tercapai maksudku aku tidak akan berhenti dalam usahaku!”

“Dengarkan dulu pembicaraanku. Terlebih dahulu kita mengadakan perjanjian secara terhormat. ” “Perjanjian apa yang kau maksudkan perjanjian yang terhormat itu?”

“Untuk sementara kau jangan bertindak dulu, tunggu aku cari ia dulu. Jikalau benar seperti apa yang dikatakan bahwa seluruh kepandaiannya sudah musnah, maka kau harus tunggu aku berusaha untuk memulihkan kepandaiannya kemudian aku nanti memberikan kesempatan kepadamu untuk bertanding secara adil. Bagaimana?”

Meski dalam hati Hui-Kiam merasa keberatan tetapi keadaan sudah berubah demikian rupa. Jikalau ia tidak terima, barangkali kesempatan untuk bertanding saja sudah tak ada.

Karena berpikir demikian, maka ia lalu menjawab: “Perjanjian itu aku terima, tetapi ada satu permintaan!” “Permintaan apa?”

“Aku hendak bertanya dulu beberapa patah kata kepadanya!”

“Boleh, begitulah kita tetapkan. Jikalau kau tidak mengindahkan perjanjian ini dan bertindak sesukanya, kau nanti akan kehilangan kesempatan menuntut balas untuk selama-lamanya. Ini bukan suatu gertakan saja. Salah satu di antara murid-muridku ini bisa mengambil jiwamu dalam waktu tiga jurus saja.”

Ucapan itu memang tidak dilebih-lebihkan. Hui Kiam juga mengakui kebenarannya. Tetapi sifatnya yang angkuh tidak dapat digertak begitu saja, maka lalu berkata sambil tertawa dingin:

“Aku selamanya tidak kena diancam 'Hujie” aku harus balas, dendam sakit hati aku harus tutup!”

Penghuni Loteng Merah berkata sambil tertawa hambar:

“Tetapi segala sesuatunya kita harus jelaskan lebih dulu.” Sehabis itu ia berkata pula kepada empat anak muridnya:

“Kamu menjaga di luar.” '“Ya!” Demikian empat anak muridnya itu menyambut lalu berdiri terpencar, masing-masing terpisah dua tombak menjaga di sekitar mulut goa.

Hui-Kiam dalam hati penuh rasa marah tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tindakannya Penghuni Loteng Merah memang bukan merupakan suatu ancaman bahkan boleh dikata cukup adil, maka mau tidak mau ia harus menurut.

Penghuni Loteng Merah mulai berjalan menuju ke mulut goa....

Tiba di depan goa, Penghuni Loteng Merah menghentikan kakinya, dengan suara agak gemetar ia berkata ke dalam goa:

“Apakan di dalam ada orang?” Tidak ada jawaban dari dalam.

“Kawan lama dari Loteng Merah datang berkunjung!” Kembali tidak ada jawaban, suasana menjadi tegang. “Adakah Su-ma Suan yang berada di dalam gua?”

Setelah mengucapkan pertanyaan itu, dari dalam goa terdengar suara rintihan yang menimbulkan rasa tidak enak bagi yang mendengarnya.

Penghuni Loteng Merah berpaling mengawasi Hui Kiam sejenak, berkata lagi dengan suara keras:

“Sahabat mana yang berada di dalam gua?”

Satu suara kasar yang sangat menusuk telinga terdengar dari dalam gua:

“Pergi, aku tidak suka bertemu dengan siapapun juga!” “Apakah kau To-liong Kiam-khek Su-ma Suan?”

“Ki-ki-ki…!” Demikian suara ketawanya tidak sedap didengarnya dari dalam gua.  “Su-ma Suan sudah lama mati!”

Penghuni Loteng Merah berkata dengan suara keras: “Su-ma Suan, aku kenali suaranya, kau lekas keluar!” Dalam gua untuk sesaat nampak sunyi, lama baru terdengar suara tarikan napas sedih lalu terdengar jawabannya:

“Kau... lupakanlah. Untuk apa kau mendesak aku. Aku sekarang… sudah merupakan orang yang hampir mati!”

Ucapan itu merupakan suatu pengakuan bahwa orang dalam gua itu benar adalah To-liong Kiam-khek. Wajah Hui Kiam berubah seketika. Bermacam pikiran mengaduk dalam otaknya. Semula dalam pikirannya, ia telah menanam rasa dendam benci karena menerima pesan ibunya, tetapi setelah dengan tanpa sengaja menemukan sebuah makam yang megah dan mencurigakan itu, perasaan dendam dan bencinya diliputi oleh kabut yang merupakan suatu teka-teki besar.

Penghuni Loteng Merah sudah tidak dapat mengendalikan dirinya lagi, badannya gemetar. Ia berkata dengan suara sedih:

“Su-ma Suan, apakah kau sudah melupakan sumpah janjimu pada sepuluh tahun berselang?”

“Aku..... tidak lupa, sedikitpun tidak lupa, tetapi    inilah takdir.”

“Keluarlah!”

“Aku sudah bersumpah dalam hidupku ini tidak akan menemui siapapun juga.”

“Termasuk aku?”

“Adik Khim, simpanlah kenang-kenangan itu. Hatiku sekarang sudah beku seperti batu.”

“Kabarnya kepandaianmu sudah musnah, kedua matamu sudah buta? Apakah itu benar?”

“Ha ha ha, adik Khim, kita berjumpa cuma menambah kesengsaraan hati kita satu sama lain sudah cukup, sebelum aku mati, dapat dengar suaramu, aku sudah merasa puas. ”

“Engko Suan, aku datang!”

Penghuni Loteng Merah lalu menggerakkan kakinya berjalan masuk ke dalam goa.... “Adik Khim, apa kau mendesak aku supaya lekas maju?”

Penghuni Loteng Merah untuk sesaat tercengang, tetapi kemudian dengan secepat kilat ia melesat ke dalam goa.

Hampir bersama waktunya ketika Penghuni Loteng Merah bergerak, tiba-tiba terdengar orang berseru dengan suara cemas:

“Cegah padanya, ini adalah suatu rencana keji.”

Perkataan rencana keji itu ketika masuk ke telinga Hui Kiam, ia hampir sudah tidak sempat untuk mencari tahu darimana datangnya suara itu, dengan cepat ia melesat ke mulut goa. Tetapi ternyata masih terlambat setengah tindak karena pada saat itu Penghuni Loteng Merah menghilang ke dalam goa.

Empat wanita muda berbaju lila juga segera bergerak ke mulut goa.

Selagi Hui Kiam hendak menerjang ke dalam goa, suara itu terdengar pula:

“Lekas mundur! Jikalau tidak, kalian nanti akan mati konyol semuanya!”

Hui Kiam dan empat wanita muda itu tercengang.

Pada saat itu mendadak terdengar suara ledakan hebat yang terbit dari dalam goa. Asap tebal dan potongan batu terlempar keluar dari dalam goa. Tanah sekitar goa itu tergoncang hebat.

Hui Kiam dan empat wanita muda itu, semangatnya hampir terbang seketika. Untung mereka semua berkepandaian tinggi, daya reaksinya juga tepat, dalam saat yang paling tepat mereka sudah melompat mundur ke tempat yang aman.

Suara ledakan itu menggema cukup lama. Di bekas tempat ledakan, kecuali runtuhan batu tidak terdapat apa-apa lagi.

Hui Kiam dan empat wanita muda itu dengan wajah pucat berdiri di tempat sejarak lima tombak. Masing-masing bagaikan patung. Pikiran mereka kusut semua. Kejadian ini sesungguhnya merupakan satu kejadian di luar dugaan.

Penghuni Loteng Merah sudah mati. To-liong Kiam-khek juga mati. Kedua-duanya mati terpendam hidup-hidup dalam runtuhan batu.

Siapakah yang merencanakan akal keji ini?

Siapakah itu pula orang yang memberi peringatan? Jikalau bukan itu orang yang memberi peringatan, yang menjadi korban barangkali bukan cuma Penghuni Loteng Merah seorang saja.

---ooo0dw0ooo---