Pedang Pembunuh Naga Jilid 08

Jilid 08

SAMPAI berjumpa di lain waktu, sekarang aku ingin pergi dulu!”

Tetapi baru saja ia bergerak, tiba-tiba terdengar ucapan perempuan muda itu yang berkata: “Sudah terlambat!”

Kemudian dengan kecepatan yang luar biasa melesat ke tengah udara, tangannya diayun dan memaksa Bu-theng Kongcu balik ke tempat semu la.

Wajah Bu-theng Kongcu mengunjukkan perasaan kaget dan ketakutan.

Empat orang pengawal Bu-theng Kongcu selagi Bu-theng Kongcu bergerak sudah kabur, maka ketika Bu-theng Kongcu terpaksa balik oleh perempuan muda tadi, empat orang pengawalnya sudah berada sejauh sepuluh tombak lebih.

Sekonyong-konyong, empat orang pengawa1 itu seperti terkena pengaruh gaib, badannya tertarik ke atas kemudian roboh di tanah tanpa bersuara.

Hui Kiam terkejut, matanya lalu ditujukan kearah Tong-hong Hui Bun. Ia segera dapat lihat tangan perempuan cantik itu baru saja telah bergerak. Jelaslah sudah, bahwa empat pengawal itu, sudah dibunuh mati olehnya, entah dengan senjata rahasia ataukah ilmu gaib macam apa, yang mampu membunuh orang dalam jarak sepuluh tombak lebih.

Perempuan cantik bagaikan bidadari, telah sedemikian ganas caranya mengambil hidup manusia, jikalau tidak menyaksikan sendiri, sebetulnya orang tidak akan percaya.

Tong-hong Hui Bun mengawasi Hui Kiam sambil tersenyum manis, sehingga hati Hui Kiam tergoncang keras.

Di antara suara bentakan, senjata kipas Bu-theng Kongcu sudah menyerang dengan hebat nya kepada perempuan muda itu.

Gerakan perempuan muda itu ternyata juga luar biasa hebatnya. Dalam tiga gebrakan saja sudah berhasil melumpuhkan serangan Bu-theng Kongcu. Lima jurus kemudian Kongcu itu sudah terdesak dan tidak mampu balas menyerang sama sekali.

Hui Kiam diam-diam terperanjat. Perempuan muda itu kedudukannya sebagai pelayan, tetapi kepandaiannya sedemikian tinggi, entah bagaimana kepandaian Tong-hong Hui Bun sendiri.

Serangan perempuan muda itu selalu ditujukan kepada bagian atas dan bawah, bagian tengah tidak pedulikan, agaknya ia sudah tahu bahwa Kongcu itu mengenakan pakaian kulit lemas yang melindungi dirinya.

Sekonyong-konyong terdengar suara bentakan wanita muda itu, Bu-theng Kongcu dengan badan terhuyung-huyung mundur sampai lima-enam langkah.

Wanita muda itu terus mendesak, jari tangannya bergerak, menotok jalan darah di bagian mukanya….

Bu-theng Kongcu membentangkan kipasnya dari dalam kipas itu menyembur segumpal jarum halus.

Pertempuran dengan jarak dekat sesungguhnya amat sulit sekali untuk menghindarkan diri dari serangan senjata rahasia, tetapi kali ini dapat diuji pula betapa tingginya kepandaian wanita muda itu sambil mengibaskan kedua lengan bajunva, badannya melompat minggir ke samping sehingga terhindar dari serangan tersebut.

Bu-theng Kongcu menggunakan kesempatan terluang yang hanya sekejap mata saja, sudah melesat tingg dan menghilang. ”

Tetapi sebentar kemudian terdengar suara jeritan yang mengerikan. Hui Kiam terperanjat ketika ia menengok ke arah Tong-hong Hui Bun. Wanita cantik itu ternyata sudah tidak kelihatan bayangannya, entah dalam sekejap ia sudah berlalu belum lagi hilang perasaan herannya Tong-hong Hui Bun sudah balik dari arah dirinya Bu-theng Kongcu tadi berlalu, dengan wajah penuh senyuman yang memikat hati.

Hui Kiam segera berkata kepadanya:

“Bagus sekali, sungguh luar biasa kepandaian enci!” “Adik, apakah kau suka?”

Tong-hong Hui Bun balik bertanya dan sambil tersenyum.

Pertanyaan yang mengandung dua maksud itu kembali telah menggoncangkan hati Hui Kiam. Tetapi ia ingat bahwa wanita muda tadi pernah memanggilnya ibu majikan, sehingga perasaannya seketika berubah menjadi murung.   Perubahan sikap itu tidak dapat mengelabuhi mata Tong-hong Hui Bun maka ia segera berkata dengan suara lemah lembut:

“Adik, apakah yang kau pikirkan?” “Tidak apa-apa, aku hanya'merasa ”

“Merasa apa?”

“Perkenalan kita ini barangkali bukan jodoh melainkan dosa.” Sehabis berkata, wajahnya mendadak merah karena di samping

Sukma Tidak Buyar ia sendiri juga merasa heran mengapa bisa berkata demikian.

Tong-hong Hui Bun dengan sinar matanya yang jernih berkata dengan suara merdu: “Mengapa?”

Dengan wajah merah dan suara pilu Hui Kiam berkata: “Sayang kita bertemu sesudah kau kawin!”

Paras Tong-hong Hui Bun yang cantik menunjukkan sinar girang, sehingga nampaknya semakin cantik, terutama biji matanya yang jernih, mengeluarkan daya penarik semakin hebat.

“Adik, ini masih belum terhitung terlambat, hanya. ”

“Hanya apa?”

“Encimu adalah seorang yang sudah pernah kawin, aku takut kau menganggap aku….”

“Tidak terhitung terlambat? Apakah   ”

“Dia sudah meninggalkan aku untuk selama-lamanya.”

Siapakah yang dimaksudkan dengan perkataan 'dia' itu tidak usah dikata, sudah tentu adalah suaminya. Jawaban itu membuat hati Hui Kiam berdebar keras, ia kini baru tahu bahwa wanita cantik itu ternyata sudah menjadi janda.

la masih ingin berkata banyak, tetapi karena masih ada orang lain di sampingnya, ia tidak dapat mengeluarkan kata-katanya hanya memandang dengan matanya, agaknya sudah mengutarakan isi hatinya dalam pandangan matanya itu.

Tong-hong Hui Bun berkata dengan suara sedih: “Adik, apakah. kau tidak pandang rendah diriku?”

“Tidak!”

“Andaikata, usiaku lebih tua darimu, bahkan jauh lebih tua seperti apa yang kau bayangkan?”

“Itu tidak penting!”

“Apakah kau. cinta padaku?”

Hui Kiam yang sebetulnya bukan pemuda yang gemar paras cantik, bahkan sebaliknya, di waktu yang sudah-sudah, sikapnya selalu dingin terhadap segala apa, soal istilah cinta tidak dikenalnya, tetapi sekarang, ia jatuh dalam pengaruh perempuan cantik luar biasa itu. Dengan susah payah dia baru dapat mengeluarkan perkataan:

“Ya !”

“Toako!” demikian suara yang keluar dari mulut Sukma Tidak Buyar.

“Hem!” sahutnya Hui Kiam, tetapi mata nya masih belum beralih dari badan Tong-hong Hui Bun itu.

Sukma Tidak Buyar lalu berkata dengan suara lebih keras:

“Kita masih mempunyai urusan yang belum diselesaikan, perlu harus mengejar waktu!”

Ucapan itu menyadarkan pikiran Hui Kiam yang sudah kacau, tentang kematian suami-isteri Liang-gie Sie-seng, sehingga perjalanannya mencari kitab Thian-gie Po-kip telah menubruk tempat kosong, sementara si Orang Tua Tiada turunan yang sudah berangkat lebih dulu ke lembah Ciok-beng-gam, sudah menantikannya di dekat makam pedang, dan tentang kematian toasupeknya di bawah gunung Tay-hong-san dalam usahanya mencari makam pedang itu, ia sendiri yang sebagai murid keturunan Lima Kaisar Rimba Persilatan, jikalau tidak membereskan peristiwa berdarah itu dan melanjutkan cita-cita perguruannya, bagaimana ia mempunyai muka menemui guru dan supeknya yang berada di alam baka.

Oleh karena berpikir demikian maka pikirannya yang bukan- bukan telah lenyap seketika. Dengan tegas ia berkata kepada Tong- hong Hui Bun:

“Enci, adikmu masih mempunyai urusan, sekarang ingin minta diri dulu !”

“Kau... mau pergi?”

Suara yang mengandung daya penarik ditambah dengan sikapnya merayu, semakin hebat daya penarikannya. Hati Hui Kiam trrgoncang, hampir ia merubah pikirannya, tetapi biar bagaimana ia masih teguhkan pikirannya, maka lalu menjawab:

“Ya!”

Tong-hong Hui Bun berkata dengan suara sedih:

“Kita merasa sayang berjumpa agak terlambat, mengapa tergesa-gesa berpisah? Semoga kita bisa berjumpa lagi.” Sepasang matanya yang jernih terus melancarkan pengaruhnya di muka Hui Kiam, kemudian berkata: “Adik, aku menantikan waktu supaya dapat berjumpa lagi denganmu!”

Hui Kiam menundukkan kepala, ia tidak berani memandang mata perempuan cantik itu. Dengan suara perlahan ia berkata:

“Begitu juga dengan aku!”

“Kalau begitu sampai berjumpa lagi.” “Enci, di mana alamatmu?”

“Alamatku? Adik, kediamanku sangat terpencil apalagi sebagian besar waktuku berada di luaran. Begini saja, selanjutnya aku bisa mengirim orang untuk berhubungan denganmu.”

“Enci, baiklah begitu saja, sekarang aku hendak pergi!”

Sehabis berkata ia sudah lompat melesat sejauh sepuluh tombak lebih, seolah-olah lari menyingkir dari tempat bahaya. Sukma Tidak Buyar terus mengikutnya. Di sepanjang jalan dua kawan itu tiada berkata apa-apa.

Sikap Hui Kiam agak dingin, ia seperti mendapatkan sesuatu, juga seperti kehilangan sesuatu. Bayangan perempuan cantik yang mempunyai kecantikan luar biasa itu, terus terbayang dalam otaknya. Ia mencoba memikirkan sejenak urusan orang lain, tetapi selalu gagal. Perempuan itu telah menempati seluruh hatinya, juga membangkitkan perasaan yang selama itu terpendam dalam hatinya.

Berjalan kita-kira beberapa puluh pal, Sukma Tidak Buyar baru berkata: “Toako, kau agaknya berobah menjadi lain orang.” “Aku... berobah?”

“Aku lihat ya. Toako, suka dengan kecantikan memang merupakan kodrat alam, aku tidak bisa bilang apa-apa, hanya harap kau berlaku sedikit tenang dan berpikir masak-masak karena sekali salah tidak bisa merupakan sesal vntuk selama-lamanya!”

“Apa maksud perkataanmu ini?”

“Asal-usul perempuan itu masih merupakan satu teka-teki. Mereka majikan dan pelayannya semua mempunyai kepandaian luar biasa, terutama caranya membunuh orang dengan sikap tanpa berubah, kalau aku memikirkan itu masih agak jeri.”

“Adik Huan, kau terlalu banyak berpikir, manusia semua mempunyai sifatnya sendiri-sendiri. Jikalau Tuhan memang pilih kasih terhadap seseorang, tidak mungkin Cuma memberikan kepadanya kecantikan di luarnya saja.

“Tetapi segala perkara di dalam dunia ini kadang-kadang di luar dugaan kita!”

“Ucapanmu memang benar, tetapi terhadap dia aku tidak sangsi!”

“Toako, dia ada seorang perempuan yang sudah pernah kawin. ”

“Aku tahu, ini apa salahnya?”

“Toako, aku harap soal ini tidak akan mempengaruhi cita-citamu sebagai seorang kesatria gagah.”

Ucapan itu menggetarkan perasaan hati Hui Kiam. Sejak perkenalan, baru pertama kali ini Ie It Huan berkata kepadanya menggunakan nada dan sikap sungguh-sungguh sehingga timbullah pertanyaan kepada dirinya sendiri, apakah sebetulnya yang telah kita perbuat? Benar ataukah salah? Hanya dalam waktu setengah hari saja sudah merooah pikiran dan penghidupan Hui Kiam. Apakah ini yang dinamakan jodoh, ataukah dosa?

la tidak mau memikirkan terlalu dalam, karena itu merupakan soal yang mempersulit dirinya. Tetapi, terhadap Ie It Huan tidak boleh tidak ia haruS menunjukkan sikapnya, maka ia lalu berkata dengan tegas:

“Adik Huan, aku akan tetap dengan pendirianku!”

Adalah sebuah danau persegi yang luasnya kira-kira setengah hektar. Air danau itu dingin sekali, kalau orang berendam di dalamnya, kulit dan tulang-tulang dirasakan mengilu. Sekitar danau itu adalah lereng bukit yang terjal, hanya ada sebuah jalanan sempit yang cuma dilalui oleh dua orang yang berjalan bersama yang menuju ke tepi danau. Kedua sisi jalan itu merupakan dinding yang terdiri dari lamping gunung yang kelihatan langit nan biru. Keadaan itu sesungguhnya luar biasa anehnya.

Di sekitar danau itu jarak lima tombak tidak terdapat tumbuh- tumbuhan alam.

Bagian belakang danau itu juga merupakan lamping gunung. Di situ terdapat banyak batu hitam yang besar dan yang kecil. Pemandangan alam yang aneh itu menimbulkan rasa ketakutan.

Batu-batu hitam besar yang merupakan rimba batu itu, entah ciptaan alam ataukah buatan manusia.

Menurut cerita orang, di dalam rimba batu hitam itu terdapat sebuah makam. Bukan makam manusia, tetapi makam yang berisi pedang, karena di bawah makam itu tersimpan sebuah pedang purbakala dan buku kitab pelajaran ilmu silat.

Cerita itu entah timbul dari jaman kapan, tapi yang sudah terang sudah menggemparkan dunia rimba persilatan, sehingga banyak orang-orang rimba persilatan termasuk orang-orang berbagai partay berduyun-duyun pergi ke tempat itu untuk menyelidik kebenaran cerita tersebut. Hari ini di waktu tengah hari, sinar matahari menyinari air di permukaan danau sehingga keadaannya terang benderang, hanya tempat yang merupakan rimba batu hitam itu, keadaannya masih tetap menyeramkan.

Di jalanan yang sempit itu, nampak bergerak banyak bayangan orang. Semua itu adalah orang rimba persilatan yang menuju ke rimba batu hitam itu.

Di antara rombongan orang itu terdapat seorang berpakaian berwarna putih yang sangat menyolok, orang itu bukan lain daripada si Penggali Makam Hui Kiam. Di sampingnya ada seorang pelajar setengah umur. Ia adalah Sukma Tidak Buyar le It Hoan yang sudah menyamar.

Dua pemuda itu ketika tiba di tepi danau segera dapat lihat di situ sudah terdapat banyak orang. Orang-orang biasa, imam dan padri, nampaknya lengkap semua golongan ada, jumlahnya tidak kurang dari seratus orang, sedang jalanan yang sempit itu masih nampak banyak yang mendatangi.

Di antara banyak orang itu tidak hentinya terdengar suara rintihan. Dimana-mana terdapat orang yang terluka, sehingga keadaannya semakin menyeramkan.

Dengan suara perlahan Hui Kiam berkata kepada Ie It Hoan: “Orang-orang ini bagaimana caranya terluka?”

Ie It Hoan menjawab berkata sambil menggelengkan kepala: “Aku juga tidak tahu apa sebabnya, lihat saja dulu.”

Seorang orang tua berambut putih dengan tangan membawa tongkat berjalan mendekati dua orang itu. Ia adalah Orang Tua Tiada Turunan yang datang terlebih dahulu.

Dengan tanpa lagi menunggu dua orang itu membuka mulut, orang Tua Tiada Turunan lebih dulu sudah berkata:

“Rimba batu hitam itu adalah sebuah barisan aneh ciptaan orang dari jaman purbakala. Makam pedang itu berada di tengah-tengah barisan batu hitam. Orang-orang yang menerjang masuk ke dalam barisan itu semua telah dimusnahkan kepandaiannya kemudian terlempar keluar, itulah orang-orang yang sekarang pada merintih- rintih itu.”

Hui Kiam terperanjat, ia berkata:

“Kalau begitu dalam barisan itu pasti ada orangnya?” “Nampaknya memang benar.”

“'Apakah semua benda berharga yang tersimpan dalam makam itu sudah diambil oleh orang lain?”

“Mungkin.”

Hati Hui Kiam berdebar. Karena makam pedang itu mengakibatkan kematian Toasupeknya, sedangkan barang-barang dalam makam pedang itu seharusnya menjadi kepunyaan perguruannya, maka biar bagaimana tidak boleh terjatuh di tangan orang lain.

Besar kemungkinan bahwa orang dalam barisan itu adalah orang yang dahulu mencelakakan diri toasupeknya, mungkin adalah si jago pedang berkedok yang dahulu mencelakakan diri suhunya dan tiga supeknya yang lain. Memikir akan itu darahnya dirasakan bergolak. Wajahnya yang dingin nampak sangat beringas.

Pada saat itu rombongan orang banyak itu mendadak nampak gempar. Seorang imam dengan pedang di tangan setindak demi setindak menuju ke makam pedang.

Sukma Tidak Buyar lalu berkata:

“Goan-hie, tokoh nomor satu dari partai Butong-pay. Kita lihat!”

Semua mata ditujukan kepada dirinya Goan-hie. Di antara orang banyak terdengar suara orang berkata sambil menghela napas:

“Jago pedang nomor satu dari Bu-tong barangkali tidak luput dari nasib malang, akan kehilangan seluruh kepandaiannya, sayang!”

Goan-hie setiba di tepi barisan aneh itu lalu berhenti. Badannya agak gemetar, jubah imamnya yang lebar telah tergoyang-goyang. Jelas bahwa perasaannya sangat tegang. Sebentar kemudian, ia agaknya sudah mengambil keputusan. Dengan membusungkan dada dan mengacungkan pedangnya ia melangkah masuk ke dalam barisan batu hitam. Nampak ia berjalan beberapa putaran lalu menghilang.

Semua orang menantikan dengan menahan napas.

Sebentar kemudian terdengar suara riuh.   Di antara suara riuh itu, tampak sesosok bayangan manusia terlempar keluar dari barisan batu hitam dan jatuh tercebur ke dalam danau. Air danau yang semula tenang telah timbul gelombang dan kemudian gelombang itu meluas dan menghilang. Keadaan menjadi tenang kembali.

Orang Tua Tiada Turunan berkata sambil menghela napas: “Pembukaan tamatlah sudah riwayatnya jago pedang nomor satu

dari partay Bu-tong. Ia adalah merupakan seorang yang bernasib

malang di antara begitu yang bernasib serupa dengannya. Andaikata ia terlempar jatuh di tepi danau, meskipun kepandaiannya musnah, tetapi jiwanya masih ada, tetapi karena terjatuh di dalam danau, sehingga bangkainya pun musnah!”

Hui Kiam berkata dengan perasaan heran:

“Sekalipun mati kelelap, tetapi bangkainya toh bisa timbul lagi?” “Kau coba saja, danau itu dingin sekali bulu ayampun tidak bisa

mengambang jikalau tidak begitu, jumlahnya anak murid Bu-tong- pay yang ikut datang kemari sedikitnya ada sepuluh orang lebih, mengapa mereka tidak pergi mencari!”

“Ah!” demikian Hui-Kiam berseru dengan suara gemetar.

Tiba-tiba terdengar suatu tertawa aneh sehingga suara riuh menjadi tenang.

Seorang tua berambut merah berpakaian baju panjang warna- warni, dengan langkah lebar berjalan menuju ke tepi danau. Semua orang yang menyaksikan kedatangan orang tua itu semua menyingkir memberikan jalan kepadanya, setiap orang menunjukkan perasaan terkejut dan takut. Sukma Tidak Buyar segera berseru:

“Eh! Mengapa iblis tua ini juga datang kemari?” “Siapakah dia itu?” demikian Hui-Kiam bertanya.

“Iblis Rambut Merah, manusia buas yang sudah lama terkenal di kalangan Kang-ouw. Ia adalah seorang buas yang tak ada taranya, mempunyai kesukaan makan hati manusia, ia menganggap pembunuhan sebagai barang mainan, tetapi biasanya jarang sekali mengunjukkan diri di muka umum.”

Sementara itu Iblis Berambut Merah itu sudah berada di luar garis barisan batu hitam. Rambutnya yang merah nampak berdiri, baju panjangnya yang berwarna-warni melembung bagaikan balon, kedua tangannya diangkat naik dan kemudian didorong maju, dari tangannya itu meluncur keluar hembusan angin hebat menggulung ke arah barisan aneh itu, tetapi, heran sekali hembusan angin hebat itu, ketika menggulung ke dalam barisan itu tiba-tiba lenyap, sedikitpun tidak menimbulkan reaksi apa.

Iblis berambut merah itu berpaling dan mengawasi semua orang yang berada di situ sejenak, sekonyong-konyong lompat melesat tinggi, di tengah udara, ia berputaran sejenak lalu bagaikan seekor burung besar yang melayang turun ke sebuah batu hitam yang tingginya dua tombak, ketika badannya terpisah kira-kira beberapa kaki dari batu tersebut secara tiba-tiba menghilang ke dalam barisan batu.

Untuk sesaat lamanya tidak terdapat tanda gerakan apa-apa.

Diantara orang banyak itu ada beberapa orang yang berkata:

“Apakah iblis tua itu sudah berhasil masuk ke dalam makam pedang?”

Selagi semua orang masih diliputi berbagai pertanyaan, Iblis Berambut Merah itu sekonyong-konyong muncul kembali dari dalam barisan dan lari keluar dengan tindakan sempoyongan.

Diantara suara riuh yang keluar dari mulutnya orang banyak, Iblis Berambut Merah itu nampak roboh, kaki dan tangannya berkelojotan sebentar, kemudian tak berkutik lagi. Iblis Berambut Merah itu merupakan satu-satunya orang yang tidak terlempar keluar, namun dia juga tidak luput dari kematian. Orang banyak pada maju mengerumuni untuk menyaksikan bangkai Iblis Berambut Merah itu. Ternyata tiada terdapat luka apa-apa, hanya lima panca indranya yang mengeluarkan darah, jelas kematiannya itu disebabkan oleh luka dalamnya. Iblis Berambut Merah itu terkenal dengan serangan ilmu tangannya yang bagaikan geledek hebatnya, tetapi akhirnya mati di bawah tangan kosong juga.

Dari semula ia datang dan melancarkan serangan tangan kosong, serta kemudian ia melayang tinggi dan turun ke dalam barisan itu, agaknya mengerti bagaimana caranya masuk ke dalam barisan itu, maka setelah dia terluka parah tidak sampai terlempar keluar bahkan masih mampu lari keluar dari dalam barisan.

Barisannya sudah merupakan suatu barisan aneh, ditambahi lagi dengan terlampau tingginya kepandaian dan kekuatan orang dalam barisan itu, sehingga setiap orang yang menyaksikan mau tidak mau merasa takut, sehingga akhirnya satu persatu mundur teratur meninggalkan tempat yang sangat berbahaya itu.

Hui Kiam berkata sendiri:

“Mereka akhirnya telah mundur teratur!”

Sesosok bayangan orang sekonyong-konyong mendekati dirinya dan berkata  dengan suara merdu:

“Penggali Makam, selamat bertemu!”

Hui-Kiam berpaling, orang yang menegurnya itu ternyata adalah Wanita Tanpa Sukma.

Berbeda dengan sikap dan kelakuan biasanya, Wanita Tanpa Sukma berkata dengan sikap sungguh-sungguh:

“Penggali Makam, mengenai urusan barang antaran kepada orang itu, aku sudah menyelesaikannya sendiri, kau tentunya tidak membenci aku lagi, bukan?” “Aku merasa bersimpati dengan nasib nona, tapi aku harap selanjutnya jangan terlalu banyak membunuh orang yang tidak berdosa!”

“Hal ini aku tidak mungkin, karena aku hendak menuntut balas. Aku dapat mengakhiri perbuatanku ini apabila aku sudah tidak bernyawa!”

“Bu-theng Kongcu sudah binasa, kau tidak perlu mencarinya lagi!”

“Apa? Siapa yang telah membunuhnya?”

“Tentang ini maaf aku tidak dapat memberitahukan kepadamu. Hanya ada satu hal yang perlu aku jelaskan bahwa orang yang membunuhnya itu adalah seorang wanita.”

“Oh!”

Wanita Tanpa Sukma agaknya merasa masgul karena tidak dapat membunuh dengan tangan sendiri Kongcu keparat itu.

Pada saat itu matahari sudah mendoyong ke barat. Keadaan di tepi danau gelap. Orang-orang yang berada di situ jumlahnya tinggal beberapa orang saja. Yang paling menyedihkan adalah orang-orang yang sudah dimusnahkan kepandaiannya, orang-orang itu jalanpun perlu dibimbing orang, mereka nampaknya sangat menyesal atas perbuatannya yang sangat gegabah.

Hui Kiam tiba-tiba merasakan ada beberapa orang yang memandang dirinya dengan sinar mata buas. Ketika ia berpaling, ternyata ada tujuh-delapan orang yang berjalan menghampirinya. Sebagai kepala dari orang-orang itu adalah seorang tua berpakaian hitam yang matanya cuma tinggal sebuah. Di pinggang orang tua itu tergantung sebilah pedang besar yang aneh bentuknya. Matanya yang cuma tinggal satu, memancarkan sinarnya yang menakutkan.

La bukan lain daripada kepala bagian penyelidik Persekutuan Bulan Emas, Ko Han San yang karena ketakutan dengan munculnya seorang perempuan berkerudung sehingga mengorek biji matanya sendiri, ketika sedang menyelidiki Iblis Perempuan Bertusuk Konde Emas di gunung Sin-lie-hong.

Ko Han San yang nampaknya masih dendam sakit hati terhadap Hui Kiam, lalu berkata dengan nada suara yang menyeramkan:

“Penggali Makam, hari ini kau pasti mati!”

“Ko Han San, kaulah barangkali yang akan mati!” jawab Hui Kiam dengan nada suara dingin.

Ko Han San dengan matanya yang cuma satu, mengawasi orang lain, mulutnya berkata:

“Orang Tua Tiada Turunan, Wanita Tanpa Sukma!” tatkala matanya tiba kepada Sukma Tidak Buyar ia tercengang dan berkata:

“Tuan siapa?” “Sukma Tidak Buyar!”

“Kau juga Sukma Tidak Buyar?” “Benar, kalau palsu kau boleh tukar!”

“Hm,” mata Ko Han San kembali menatap wajah Orang Tua Tiada Turunan, lalu berkata pula sambil tertawa yang dibuat-buat:

“Kepala komando pasukan persekutuan kami sangat mengharapkan kedatangan tuan.”

Orang Tua Tiada Turunan mendelikkan sepasang matanya, dengan perasaan hati mendongkol berkata:

“Ciok Siao Ceng sudah sedemikian lanjut usianya akan tetapi masih tidak tahu diri, aku tidak sudi mendengar namanya disebut lagi.”

“Tuan jangan menuruti hati sendiri, dan memaki orang seenaknya. Tuan harus bisa memikirkan akibatnya!”

“Apakah kau hendak menggunakan Bulan Emas untuk mengancam diriku?”

“Bukan berarti mengancam. Persekutuan kami selamanya dapat membedakan siapa kawan dan siapa lawan.” “Hem!”

“Apakah kalian bertiga datang bersama-sama dengan Penggali Makam?”

Hiu Kiam segera menyahut:

“Orang she Ko, jikalau maksud kedatanganmu ini hanya  kau tujukan kepada aku seorang saja, tak perlu kau merembet-rembet orang lain.”

“Penggali Makam, apakah maksudmu tidak merembet orang lain?”

“Urusan ini memang tiada ada hubunganya dengan orang lain!” “Bagus sekali, hunus pedangmu.”

Ko Han San menghunus pedangnya yang besar.

Hui Kiam tidak berani berlaku gegabah. Dalam pertempuran di lembah gunung Sin-lie-hong dahulu, cuma dalam waktu sepuluh jurus telah terluka kedua-duanya. Jikalau ia tidak mengandalkan ilmu pedargnya yang mempunyai gerak tipu luar biasa itu, dalam soal kekuatan tenaga dalam ia masih kalah setingkat dengan musuhnya itu.

Sambil menghunus pedangnya, Hui Kiam berdiri seenaknya, ujung pedang menunjuk ke bawah.

Orang-orang yang masih belum pergi dari tempat itu, balik kembali hendak menyaksikan suatu pertempuran yang dahsyat.

Dari sikap kedua pihak, dapat diduga bahwa itu akan merupakan suatu pertandingan ilmu pedang yang hebat.

Orang Tua Tiada Turunan, Sukma Tidak Buyar dan Wanita Tanpa Sukma dengan sendirinya menjadi sekelompok. Semua mundur ke belakang dua tombak jauhnya.

Delapan anak buah Ko Han San mengambil sikap mengurung.

Lapisan terakhir adalah orang yang hendak menonton. Dengan tiba-tiba terdengar suara beradunya pedang. Orang tidak tahu siapa yang turun tangan lebih dulu, hanya selagi semua mata masih ditujukan pada mereka, dengan cepat sekali masing- masing saling menyerang satu kali, setelah itu kedua-duanya melompat mundur lagi dan berdiri di tempat semula, seolah-olah belum pernah bergerak.

Hanya gelombang hembusan angin yang keluar dari sambaran pedang mereka terpancar sekitarnya sejarak lima tombak lebih.

Ketegangan setiap orang yang menyaksikan pertempuran tersebut, tidak kalah hebatnya dengan orang bertempur sendiri.

Nafsu membunuh yang menakutkan, tergores nyata di wajah orang yang sedang bertempur sehingga menimbulkan perasaan ngeri bagi yang melihat.

Orang Tua Tiada Turunan dan Sukma Tidak Buyar saling memberi isyarat dengan mata, seolah-olah hendak memberitahukan bahwa jikalau perlu mereka juga akan bertindak.

Hanya Wanita Tanpa Sukma yang nampaknya masih tenang- tenang saja dengan paras penuh senyuman.

Suara beradunya pedang yang memecahkan telinga, menggetarkan semua orang yang menonton. Ternyata kedua pihak sudah saling menyerang lagi. Kali ini kedua pihak nampaknya sudah mengeluarkan seluruh kekuatannya, muka kedua orang nampak merah membara. Demikianlah selanjutnya serangan ketiga, keempat, kelima… telah berlangsung dengan cepat.

Badan kedua pihak sudah terdapat banyak tanda darah.

Karena hebatnya pertempuran, sehingga orang-orang yang menyaksikan tanpa sadar mundur, dengan demikian kalangan untuk menghindari pertempuran nampak semakin luas.

Kematian terjadi setiap saat, tetapi dalam keadaan kekuatan kedua pihak berimbang pada akhirnya pasti akan terluka kedua- duanya. Dalam suasana demikian gawat sekonyong-konyong terdengar suara bentakan: “Tahan!”

Dua orang yang sedang bertempur sengit itu seketika lalu berhenti bertempur.

Seorang wanita muda berpakaian kuning tua muncul di tengah kalangan.

Hui Kiam terkejut, dengan munculnya wanita muda ini mungkin Tong-hong Hui-Bun juga akan datang, satu bayangan dari seorang wanita yang mempunyai kecantikan luar biasa segera terbayang di otaknya, jantungnya segera berdebar keras.

Ko-Han San ketika melihat kedatangan wanita muda itu, wajahnya berubah seketika. Baru saja mulutnya mengeluarkan perkataan:

“Nona. ”

Wanita muda itu sudah mengulapkan tanganya dan memotong perkataannya. Dengan suara dingin sekali ia berkata:

“Aku mendapat perintah dari pemilik tanda batu kumala hendak minta pelajaran beberapa jurus darimu!”

Saat itu semua orang baru mengetahui bahwa di tangan wanita muda itu sedang mecngangkat tinggi sepotong batu kumala yang gemerlapan sebesar telapak tangan.

Ko Han San dengan tangan badan gemetaran mundur tiga langkah. Ia berkata dengan suara ketakutan:

“Tidak berani!”

Siapakah orang yang mempunyai batu kumala itu? Mengapa ia mempunyai pengaruh demikian besar sehingga membuat Ko Han San yang mempunyai kedudukan sebagai kepala bagian penyelidik Persekutuan Bulan Mas, sampai ketakuian setengah mati? Setiap orang yang menyaksikan kejadian itu hatinya merasa terheran- heran. Hanya Hui Kiam dan Sukma Tidak Buyar yang terkecuali, karena mereka berdua mengetahui siapa adanya wanita muda itu.

Hati Hui Kiam tergoncang keras, pikirannya kalut, sebab ia sudah tahu bahwa pemilik batu kumala itu sudah tentu adalah wanita pujaannya, To-hong Hui-Bun, tetapi asal-usul yang sebenarnya ia sendiri pun tak tahu.

Persekutuan Bulan Mas merupakan suatu persekutuan yang amat rahasia dan besar pengaruhnya, sedang Ko-Han San yang mempunyai kedudukan tidak rendah di dalam persekutuan itu ternyata begitu takut terhadap sepotong batu kumala itu.

Hui-Kiam melirik kepada Sukma Tidak Buyar. Agaknya ia ingin minta keterangan dari adik angkatnya yang terkenal amat cerdik dan banyak akalnya serta mempunyai pengetahuan luas tentang keadaan dunia Kang-ouw. Tetapi ia yang ia dapat dari adik angkatnya itu hanya satu sikap yang bingung. Terang bahwa ia tidak kenal asal-usul batu kumala itu.

Wanita muda itu perlahan-lahan menyimpan lagi batu kumalanya, kemudian berkata:

“Kalau kau memang tidak sudi memberi pelajaran, itu terserah padamu sendiri.”

Hanya beberapa patah kata itu saja sudah cukup membuat Ko Han San yang biasanya amat sombong, bungkam dalam seribu bahasa yang kemudian membalikkan badannya dan mengeloyor pergi. Perbuatannya itu segera diturut oleh delapan anak buahnya.

Orang Tua Tiada Turunan yang terkenal sebagai jago tua sudah banyak pengalaman, juga melengak ketika menyaksikan keadaan demikian.

Wanita muda itu lalu berpaling dan berkata kepada yang lain- lainnya.

''Tuan-tuan juga boleh pergi!”

Perkataan itu besar sekali pengaruhnya, tiada seorangpun yang berani menentang, semuanya lalu mengundurkan diri. Dengan demikian yang tinggal hanya Hui Kiam, Orang Tua Tiada Turunan, Sukma Tidak Buyar, Wanita Tanpa Sukma dan wanita muda itu.

Hui Kiam menyimpan lagi pedangnya lalu menghampiri wanita muda itu seraya berkata:

“Bagaimana nona tahu aku….”

Tanpa menanti perkataan selanjutnya, wanita muda itu sudah berkata sambil tersenyum:

“Kedatangan ‘budakmu' ini hanya secara kebetulan saja yang sedang kebetulan lewat di sini.”

“Oh!”

Hui Kiam ingin berkata apa-apa, tetapi ia merasa tidak enak untuk mengeluarkannya.

Wanita muda itu berkata pula:

“Apakah kedatangan Siaohiap ini hendak menyelidiki barang- barang dalam kuburan pedang itu?”

“Benar!”

“Jikalau tidak mengerti caranya memecahkan barisan batu aneh ini, mungkin maksud itu susah tercapai!”

“Nona juga, tahu...”

“Budakmu hanya berkata menurut apa adanya saja. Melihat keadaannya makam pedang ini sudah ada yang punya, jikalau hendak merebut dengan menempuh bahaya, apakah ada harganya?”

Hui Kiam diam, sudah tentu ia tidak dapat menerangkan bahwa barang-barang dalam makam pedang itu adalah peninggalan perguruannya. Apapun yang akan terjadi, ia juga akan mengambilnya kembali untuk menunaikan tugas yang diberikan oleh gurunya. Di samping itu, barang-barang dalam makam itu mempunyai hubungan erat dengan kitab pusaka Thian-gie Po-kip. Karena ia sendiri sudah berhasil mempelajari ilmu silat yang terdapat dalam kitab pusaka itu bagian atasnya, maka pelajaran bagian bawah yang terdapat dalam kitab itu serta pedang pusaka yang berada dalam makam itu ia pasti akan mendapatkannya, untuk menyelesaikan tugasnya menuntut balas bagi bunda dan gurunya. Mungkin orang yang berada dalam barisan itu justru musuh besarnya sendiri.

la ingin menanyakan jejaknya Tong-hong Hui Bun, tetapi ia mulu membuka mulut.

Wanita muda itu ternyata sangat cerdik, ia agaknya sudah mengerti apa yang dipikirkan oleh pemuda itu. Maka ia membuka mulut lebih dahulu:

“Ibu majikan karena ada urusan melakukan perjalanan ke barat, setelah kembali nanti pasti akan menjumpai Siaohiap.”

Mendung yang meliputi wajah Hui Kiam telah lenyap seketika.

Dengan mata bersinar ia berkata: “Aku menantikan kedatangannya!”

Sukma Tidak Buyar berkata dengan suara aneh yang dibuat- buat:

“Sejak dahulu orang gagah tidak sanggup melalui jebakan wanita cantik, jangan coba-coba meniru kelakuannya lagi romantis, ini merupakan hutang asmara….”

Hui Kiam memelototkan matanya, sehingga Sukma Tidak Buyar tidak berani melanjutkan kata-katanya.

Perempuan muda itu sekonyong-konyong berpaling dan berkata pada Wanita Tanpa Sukma:

“Apakah kau yang mempunyai julukan Wanita Tanpa Sukma, yang dalam kalangan Kang-ouw pada waktu belakangan ini ramai menyiarkan sebagai ular berbisa?”

Pertanyaan itu agak kasar, sehingga paras Wanita Tanpa Sukma berobah seketika, lalu berkata:

“Benar, mengapa?” “Kau tidak boleh mendekati dia!” “Dia... dia siapa?”

“Aku tidak perlu bertengkar mulut dengan kau. Ingat, perbuatanmu itu jika kau lakukan kepada dirinya, itu berarti mencari mati.”

Yang dimaksudkan dengan perkataan ‘dia’ oleh perempuan muda itu sudah tentu adalah Hui Kiam, maka wajah Hui Kiam seketika itu menjadi merah, pikirannya sangat gelisah.

Wanita Tanpa Sukma lalu berkata dengan suara gusar:

“Kita satu sama lain sama-sama perempuan, kau jangan berlaku keterlaluan! Siapakah kau ini?”

“'Siapa aku, kau tidak perlu tahu. Ingat peringatanku!” “Kau, kentut. ”

“Kau memaki siapa?” “Memaki kau, mau apa?” “Kau mencari mampus!”

Kata-kata yang terakhir, ditutup dengan satu gerakan menyambar tangan Wanita Tanpa Sukma. Tetapi Wanita Tanpa Sukma segera membabat dengan tangannya, sehingga tangan wanita muda itu ditarik kembali untuk menghindarkan serangan tersebut, ia lalu menyambar lagi dengan gerakan yang lebih cepat.

Sebentar terdengar suara jeritan kaget, baju Wanita Tanpa Sukma kena tersambar dan menjadi koyak. Wanita Tanpa Sukma dengan cepat menutupi bagian dada yang terkoyak dengan lengan bajunya, lalu mundur beberapa langkah dan berkata dengan suara bengis:

“Budak hina, kau cuma merupakan satu budak yang diperintah orang, ingat pada suatu hari aku pasti akan membunuhmu!”

Sehabis berkata demikian, dengan cepat lari ke jalan lembah vang sempit.... Tiba-tiba terdengar suara ting, sebuah benda jatuh dari badan Wanita Tanpa Sukma.

Perempuan muda sambil berseru: “Kau tidak bisa pergi jauh!” segera lari mengejar.

Hui Kiam ketika menyaksikan benda yang jatuh dari badan Wanita Tanpa Sukma, jantungnya tergoncang hebat, wajahnya berubah seketika. Ia membungkukkan badan mengambil benda tersebut kemudian berkata dengan suara gemetar:

“Oh, dia.”

Badannya juga bergerak pergi menyusul.

Orang Tua Tiada Turunan tergoncang pikirannya menyaksikan kejadian tadi, ia lalu berkata kepada Sukma Tidak Buyar:

“Bagaimana mungkin adalah dia?”

“Siapakah dia itu?'' bertanya Sukma Tidak Buyar dengan perasaan bingung.

“Bocah, apakah kau tidak melihat potongan uang logam kuno yang jatuh dari badan Wanita Tanpa Sukma tadi?”

“Potongan uang logam? Oh! Dia adalah orang yang sedang dicari oleh Hui-Kiam itu. Potongan uang logam itu bukankah benda yang dipunyai oleh Hwee-tee Pui-Un Tiong, bagaimana bisa terjatuh di tangannya?”

“Bocah, kau mengaku seorang pintar tetapi sangat bodoh. Budak itu kalau bukan anak perempuan Hwee-tee tentunya adalah muridnya.”

“Mari kita susul. ”

Keduanya segera menyusul keluar lembah.

Hui Kiam setelah menemukan potongan uang logam itu hatinya merasa cemas karena jalanan sempit tidak dapat lari dengan pesat, baru keluar dari mulut lembah, telinganya telah mendengar suara jeritan ngeri. Suara jeritan itu bagaikan bunyi geledek yang menyambar kepalanya sehingga semangatnya terbang seketika. Mungkinkah sudah terjadi peristiwa mengerikan?

Terpisah sejarak sepuluh tombak dari mulut lembah tampak berdiri wanita muda berpakaian kuning tua, sedang di tanah nampak rebah menggeletak diri Wanita Tanpa Sukma.

Bagaikan banteng terluka Hui Kiam memburu, dengan badan setengah berjongkok di hadapan Wanita Tanpa Sukma untuk memeriksa keadaannya, ternyata mulut dan dadanya mengeluarkan darah, napasnya tersengal-sengal nampaknya sudah hampir putus nyawanya.

“Sucie! Sucie!” demikian Hui-Kiam memanggil seperti orang gila.

Wanita muda itu parasnya berubah seketika. Dengan perasaan terkejut dan ketakutan ia mundur dua langkah.   Ia tak tahu apa yang harus diperbuat.

Wanita Tanpa Sukma perlahan-lahan membuka matanya. Parasnya pucat bagaikan kertas, kulit mukanya penuh keringat namun tetap membungkam.

“Sucie, kau   kau tak boleh mati!”

Wanita Tanpa Sukma mengawasinya dengan sinar mata sayu.

Hui Kiam mengeluarkan sopotong uang logam dari badannya, ia lalu merangkapkannya satu dengan yang lain. Ternyata benar, bahwa itu adalah satu uang logam yang dibelah menjadi dua potong.

la lalu menunjukkan potongan uang logam itu di depan Wanita Tanpa Sukma.

Wanita Tanpa Sukma rupanya mengerti. Bibirnya bergerak- gerak, tetapi cuma dapat mengeluarkan beberapa patah kata yang diucapkan dengan suara lemah sekali:

“Kiu kiong san.... Jien… Ong. ”

Setelah itu ia lalu memejamkan matanya, tidak dapat membukanya lagi. Ia telah menutup mata untuk selama-lamanya. Hui Kiam duduk lemas di tanah, tangan dan kakinya dirasakan kesemutan, semangatnya seperti sudah runtuh.

Ia sungguh tidak menduga bahwa Wanita Tanpa Sukma itu adalah anak perempuannya Pui Un Tiong, Pui Cerg Un. Uang logam dapat dipersatukan, tetapi oranguya sudah mati dan kitab pusaka Thian-gie Po-kip juga tak tahu berada di mana.

Ia tidak tahu bagaimana kitab pusaka itu bisa terjatuh di tangan Sam-goan Lojin dan kemudian dirampas orang lagi.

Andaikata Sam-goan Lojin merupakan pembunuhnya yang membunuh empat supeknya, karena Sam-goan-pang sudah musnah, maka sekarang sudah tidak akan dapat dicari kemana jatuhnya kitab pusaka itu. Andaikata ada sebab yang lain, maka teka-teki itu bukankah tidak dapat diungkap untuk selama-lamanya?

“Kiu Kiong San..... Jien.....Ong!” perkataan itu berulang-ulang diucapkan dalam hatinya lalu dalam hatinya bercekat, pikirnya: Suhu dan keempat supeknya semua telah terkena senjata rahasia jarum melekat tulang dan senjata itu adalah senjata kepunyaan Jien Ong; salah seorang dari Raja Rimba Persilatan. Dalam kata terakhir sucie tadi terang sudah menunjukkan bahwa jago pedang berkedok dulu ada hubungannya dengan Jien Ong, maka kalau bukan Jien Ong sendiri tentu adalah muridnya, dan Jien Ong itu tentunya masih mengasingkan diri di gunurg Kiu Kiong San.

Akan tetapi, siapakah gerangan yang berada di dalam makam pedang itu?

Dan akhirnya, siapakah pula gerangan yang membunuh mati suami istri Liang-gie Sie-seng serta kemudian membawa lari kitab pusaka?

Istri Liang-gie Sie-seng pernah menyuruh ia mencari seorang perempuan yang bernama Oey Yu Hong. Ini adalah kunci sangat penting, jikalau dapat menemukannya mungkin bisa menemukan semuanya. Tetapi kenapa harus mencari perempuan itu?

Segala pikiran, dalam waktu sesingkat itu telah tertumpuk di dalam otaknya. Matanya menatap lagi ke paras Wanita Tanpa Sukma, hatinya timbul lagi lain pikiran.

Ia sudah mati dan perempuan ini mungkin satu-satunya orang terdekat dalam perguruannya tetapi ia sudah menutup mata. Kalau ia ingat pertama kali berjumpa dengannya lalu dipermainkan dengan kepala orang dibuat barang antaran, dan selanjutnya ia telah menggunakan kecantikannya untuk memikat pemuda-pemuda bangor yang gemar paras cantik, lalu dibunuhnya, walaupun tingkah lakunya itu tak dapat dibenarkan tetapi keadaannya dan nasibnya patut dikasihani.

Ia sekarang sudah menutup mata bahkan dengan membawa kandungan, dengan demikian dua nyawa hilang dalam waktu sekejap mata.

Perempuan muda berpakaian kuning tua itu kini telah membuka mulut. Ia berkata dengan suara sedih:

“Adakah ia itu suciemu?”

Pertanyaan itu membawa kembali kepada Hui Kiam untuk menghadapi keadaan sebenarnya. Ia segera bangkit. Dengan wajah beringas dan suara gemetar ia berkata:

“Kau....telah membunuhnya. ”

“Tetapi mengapa Siao Hiap siang-siang tidak menerangkan kedudukannya?”

“Aku sekarang baru tahu.”

“Aku merasa menyesal atas perbuatanku tadi.” Begitu enak kau bicara?”

“Habis bagaimana?”

“Aku minta kau bayar jiwa.”

Paras perempuan muda itu beberapa kali berubah, kemudian berkata: “Ini adalah salah paham, salah paham yang tak dapat dihindarkan.”

“Tidak perduli bagaimana, aku tidak boleh tidak harus membunuhmu.”

Perempuan muda itu dengan sikap tenang sekali berkata:

“Kau tidak bisa membunuh aku, sedangkan aku sendiri juga tidak bisa bertindak terhadap kau. Biarlah soal ini nanti dibereskan oleh ibu majikan sendiri.

Teringat akan diri Tong-hong Hui Bun, dalam hati Hui Kiam terjadi perobahan aneh, seketika ia tidak bisa berbuat apa-apa, sementara ia masih belum tahu apa yang harus dilakukan, perempuan muda itu dengan kecepatan bagaikan kilat sudah menghilang.

Hui Kiam mengawasi perginya perempuan itu dengan pikiran kalut.

Sukma Tidak Buyar menghampiri dengan tindakan pelan-pelan.

Dengan nada suara penuh perhatian dan simpatik ia berkata: “Toako, adakah Wanita Tanpa Sukma ini adalah sucimu?” Hui Kiam menganggukkan kepala.

“Apakah keterangan itu keluar dari mulutnya sendiri?” “Bukan, menurut dugaanku sendiri!”

“Dugaan, berdasarkan apa?” “Potongan uang logam ini.” “Boleh dipercaya?” “Mengapa tidak ?”

“Umpamanya potongan uang logam itu didapatkan dari tangan orang lain, seperti halnya dengan kitab pusaka itu yang telah beberapa kali pindah tangan. ”

“Tidak mungkin, uang logam itu sendiri sedikitpun tiada ada harganya, bahkan aku mempunyai bukti.” “Bukti apa?”

“Di puncak gunung Tay-hong-san aku pernah melihat makam si- supek yang didirikan oleh anak perempuannya yang bernama Piu Ceng Un, dan kini potongan uang logam ini berada di badannya, apa yang harus kita sangsikan?”

“Oh, begitu! Sayang ia sudah menutup mata.” “Aku harus membunuh wanita budak itu!”

“Toako, tenanglah sedikit. Ini ada kesalahpahaman. Ia tidak tahu siapa adanya ia sedang kau sendiri juga baru sekarang mengetahuinya.”

Dua butir air mata menetes turun dari kelopak mata Hiu Kiam, ini karena perasaan sedih atas kematian sucengnya itu.

Orang Tua Tiada Turunan membuka mulut dan berkata dengan perlahan-lahan:

“Coba kau periksa keadaannya lagi, lihat masih ada barang lainnya yang dapat kau gunakan untuk membuka rahasia ini atau tidiak?”

Hui Kiam tertegun. Satu laki-laki menggeledah badannya seorang wanita, ini ada perbuatan kurang sopan terhadap yang mati. Tetapi karena itu sangat penting, maka setelah berpikir agak lama akhirnya ia memaksakan diri. Dengan sangat hati-hati memeriksa badan Wanita Tanpa Sukma, tetapi tidak dapatkan apa- apa.

“Di sini tempatnya cukup baik. Biarlah kita kubur jenasahnya di sini saja,” berkata Orang Tua Tiada Turunan.

Dengan perasaan duka Hui Kiam anggukkan kepala. Sukma Tidak Buyar lalu membantunya menggali tanah untuk mengubur jenazah Wanita Tanpa Sukma.

Penguburan selesai. Di atas batu nisan cuma ditulis namanya Pui Ceng Un, tidak ditulis nama julukannya yang tak sedap itu.

Sukma Tidak Buyar lalu bertanya kepada Hui Kiam: “Toako, bagaimana tindakan kita selanjutnya?” “Aku hendak menyelidiki makam pedang.” “Sekarang?”

“Ya!”

Orang Tua Tiada Turunan lalu berkata sambil menggoyangkan tangannya:

“Jangan sekarang, belum tiba saatnya. Dalam sesuatu hal, kita harus berpikir dulu masak-masak, baru bertindak. Dengan sejujurnya, kita bertiga masih bukan tandingan orang dalam makam pedang itu, apalagi masih ada barisan batu hitam mujijat yang merintangi. Jikalau kita menerjang masuk secara gegabah, akibatnya pasti sama dengan orang-orang yang mati atau terluka itu.

Hal ini kita terpaksa menundanya dulu. Cari dulu jalan untuk memecahkan barisan gaib itu, baru kita pikirkan yang lainnya.”

Hui Kiam pikir memang benar. Dalam keadaan seperti sekarang tidak perlu menempuh bahaya itu. Maka kemudian berkata:

“Dalam rimba persilatan pada dewasa ini entah siapa yang mengerti ilmu barisan ajaib itu?”

Orang Tua Tiada Turunan itu berpikir sejenak lalu berkata: “Menurut cerita orang, hanya Jien-ong, salah satu dari tokoh Tiga

Raja Rimba Persilatan yang mengerti ilmu barisan itu.” “Apa? Jien-ong?!”

“Benar!”

“Boanpwee bolehkah mencarinya?” “Bagaimana kau dapat mencarinya?”

“Beliau mengasingkan diri di gunung Kiu-kiong-san. ”

“Kau dengar dari siapa?” Karena sewaktu Wanita Tanpa Sukma mengeluarkan kata terakhir kepada Hui Kiam sebelum ia menutup mata Orang Tua Tiada Turunan dan Sukma Tidak Buyar tidak ada di sampingnya, maka memajukan pertanyaan itu.

Hui-Kiam lalu menceritakan apa yang didengarnya dari Wanita Tanpa Sukma.

“Soal ini sangat rumit, kita harus berpikir masak-masak. Pertama, andaikata benar bahwa Wanita Tanpa Sukma itu adalah anak perempuan si-supekmu, maka maksudnya memberitahukan nama itu, mungkin hendak mengatakan bahwa pembunuh Lima Kaisar dulu adalah Jin-ong. Dengan adanya Jarum Melekat Tulang yang digunakan sebagai senjata rahasia untuk melumpuhkau ke Lima Kaisar, hal ini nampaknya sangat mendekati dengan kenyataan. Tetapi juga mungkin bukan itu yang dimaksudkan.”

“Boanpwee mengerti!” “Mengerti apa?”

“Bukankah cianpwee mengatakan bahwa dalam dunia rimba persilatan pada dewasa ini, hanya Jin-ong seorang yang mahir ilmu barisan gaib itu...?”

“Bukan cuma dia seorang. Dalam dunia ini banyak sekali orang pandai, ia cuma merupakan salah satu diantaranya yang aku tahu.”

“Ya, andaikata Jin-ong adalah penjahat yang membunuh suhu dan empat supek itu atau orang yang menjadi biang keladinya, sudah tentu ia tidak akan melepaskan salah satu bagian dari kitab pusaka Thian-kie Po-kip, yang merupakan motif dari pembunuhan tersebut. Karena ia mahir ilmu barisan, maka dalam makam pedang itu mungkin adalah muridnya atau orang yang terdekat dengannya yang menjaga. Dengan lain perkataan, ia sudah dapatkan barang- barang pusaka yang berada dalam makam itu.”

“Emmm. Memang beralasan. Tapi apabila benar dia sudah mendapatkan barang-barang itu, mengapa tidak kabur jauh-jauh? Mengapa bahkan menyiarkan secara luas?”

“Tentang ini... mungkin ada maksud lain atau tujuan. ” “Kau tidak boleh pergi ke gunung Kiu-kiong-san!” “Mengapa?”

“Dengan kepandaian seperti sekarang ini, jika dibanding dengan Jin-ong masih selisih jauh sekali. Coba kau pikir, apabila rahasia dirimu terbuka, bagaimana akibatnya? Taruhlah kau dapat menemukan dirinya dan dapat membuktikan bahwa ia adalah pembunuhnya, namun kau bisa berbuat apa?”

Hui Kiam tertegun, untuk sesaat lamanya tidak bisa menjawab. Orang Tua Tiada Turunan berkata pula:

“Bagimu, yang terpenting pada saat ini iaah mencari kitab pusaka Thian-khie Po-kip bagian bawah. Apabila kau berhasil menemukannya dan berhasil mempelajari isinya yang merupakan pelajaran ilmu silat tinggi tiada taranya, maka kau baru bisa bicara soal menuntut balas dendam!”

“Jika tidak dapat menemukan kitab pusaka itu, apakah seumur hidup boanpwe tidak usah memikirkan soal penuntutan balas dendam?”

“Bukan begitu. Barangsiapa berkemauan keras pasti berhasil. Dalam perjalanan hidup manusia, kadang-kadang susah diduga, maka kau jangan sekali-kali patah semangat. Kau merupakah salah seorang yang mempunyai bakat luar biasa, yang kuketemukan dalam seumur hidupku. Aku dapat meramalkan, di kemudian hari kau pasti akan menjadi seorang kuat. Bencana dalam rimba persilatan sedang meningkat, semoga kau di samping usahamu untuk membalas dendam terhadap musuh-musuhmu, jangan melupakan untuk menegakkan kebenaran dalam rimba persilatan. Jadilah seorang kesatria tulen, untuk membasmi segala kejahatan!”

Hui Kiam sangat terharu, dengan sikap menghormat ia berkata: “Boanpwee akan selalu ingat pesan Cianpwee.”

Orang Tua Tiada Turunan menepuk pundak Hui Kiam seraya berkata: “Hui Kiam, tidak sedikit orang yang menaruh harapan kepada dirimu, harap baik-baik membawa diri!”

Hui Kiam terkejut, ia bertanya:

“Perkataan cianpwe ini pasti ada maksudnya?”

“Sudah tentu. Aku tidak akan mengatakan sembarangan, tetapi sekarang ini masih terlalu pagi untuk memberitahukannya kepadamu!”

“Apakah Boanpwe ada itu harga mendapat perhatian cianpwe?” “Usaha berada di tangan manusia, tetapi berhasil atau tidak

tergantung pada Tuhan.

Sampai di sini dulu pesanku. Sebaiknya kita bicarakan soal-soal yang sebenarnya. Bagaimana dalam perjalananmu ke lembah Bu- hiap untuk mencari Liang-gie Sie-seng?”

“Liang-gie Sie seng suami istri sudah binasa!” “Ow!”

''Istrinya bernama Oey Yu Cu, sebelum menutup mata, ia minta boanpwe mencari seora”ng wanita yang tidak dikenal, sesungguhnya tidak ubahnya bagaikan mencari jarum di dasar lautan.”

“Istrinya Liang-gie Sie-seng masih meninggalkan pesan apa lagi?”

“Tidak ada. Ia menyangkal bahwa Liang-gie Sie-seng bersekutu dengan Auw-yang Hong membasmi Sam-goan-pang, juga menyangkal membunuh Auw yang-Hong. Boanpwee tidak keburu menanyakan pembunuhnya, ia sudah putus nyawanya.”

“Aaaa! Peristiwa ini nampaknya semakin aneh dan semakin ruwet, tetapi semua tergantung kepada kita sendiri, biar bagaimana harus kita cari sampai ketemu!” Kemudian orang tua itu berpaling dan berkata kepada Sukma Tidak Buyar:

“Bocah, coba kau usahakan untuk berhubungan dengan setan tua pemabukan. Beritahukanlah kepadanya semua kejadian ini.” “Baik,” jawab Sukma Tidak Buyar sambil mengangkat pundak. Siapakah yang dimaksudkan dengan setan tua pemabukan itu?

Apakah suhunya Sukma Tidak Buyar?   Akan tetapi Sukma Tidak

Buyar pernah mengatakan bahwa suhunya sudah meninggal dunia.

Orang Tua Tiada Turunan berpaling dan berkata lagi kepada Hui Kiam:

“Aku hendak pergi ke pusat persatuan pengemis untuk mencari sesepuhnya, Co Hoa yang mempunyai nama julukan Seribu Telinga, minta tolong kepadanya untuk menyelidiki orang perempuan yang bernama Oey Yu Hoa itu, juga orang yang menggunakan senjata rahasia tusuk konde emas, yang kau katakan itu dan mati hidupnya To-liong Kiam-khek.”

“Atas bantuan locianpwee ini, terlebih dahulu boanpwee ucapkan banyak-banyak terima kasih.”

“Tidak usah. Oh, aku lupa menanyakan kepadamu, siapakah perempuan muda tadi itu?”

Hui Kiam merasa jengah, dia terpaksa dengan singkat menceritakan perkenalannya dengan Tong-hong Hui Bun, tetapi tidak menyebut hubungan dan perasaannya sendiri terhadap wanita cantik itu, namun sebagai orang yang sudah banyak pengalaman, walaupun Hui Kiam tidak menerangkan, ia juga sudah dapat menduga sebagian, maka ia lalu berkata dengan suara hambar:

“Untuk menghadapi orang-orang dunia Kang-ouw, harap kau berlaku hati-hati. Sudahlah, aku hendak jalan dulu.”

Selagi hendak berlalu, kembali ia menengok kepada Sukma Tidak Buyar dan berkata kepadanya:

“Bocah kau juga harus berangkat.”

Setelah Orang Tua Tiada Turunan berlalu, pikiran Hui Kiam kusut, kebaikan Orang Tua Tiada Turunan dan kegiatannya untuk membantu dirinya, membuat ia merasa sangat terharu tetapi dengan tanpa alasan menerima budi orang, ia juga merasa tidak enak. ---ooo0dw0ooo---