Pedang Pembunuh Naga Jilid 07

Jilid 07

"Sekarang kau boleh ceritakan!" "Tidak!”

"Kau mencari mati sendiri?” "Hem."

Sekali lagi orang berbaju lila itu menyerang Hui Kiam. Badan Hui Kiam terpental sejauh tiga tombak. Orang berbaju lila itu menghampiri lagi dan berkata dengan suara bengis:

"Katakan mengapa penghuni loteng merah itu tidak membunuhmu?"

Semua tulang-tulang sekujur badan Hui Kiam dirasakan seperti patah, tetapi ia masih mencoba berusaha bangun. Pedang tak terlepas dari tangannya, tetapi darah merah sudah mengalir keluar dari mulutnya. Orang berbaju lila itu entah menggunakan ilmu apa untuk melenyapkan kekuatan tenaganya, sehingga ia tidak mempunyai daya perlawanan sama sekali, semua rasa dendam dan bencinya, cuma dapat ditujukan dari sinar matanya. Ia lalu berkata dengan perasaan gemas:

"Orang berbaju lila, satu hari kelak aku akan membunuhmu!" "Ha, ha, ha…" suara tertawa yang mengandung penuh ejekan,

dan setelah berhenti tertawa orang berbaju lila itu berkata: "Bocah, apakah kau kira kau masih ada kesempatan untuk hidup? Untuk mengambil jiwamu, tidak perlu aku menggunakan tenaga, hanya sebelum kau menjawab pertanyaanku jangan harap kau bisa mati dengan enak.” Hui Kiam berpikir, orang ini begitu keras keinginannya untuk menanyakan persoalan yang menyangkut dengan diri penghuni loteng merah, pasti ada sebabnya, akan tetapi, ia sudah tiada maksud ingin tahu sebab-sebabnya itu.   Di dalam dadanya pada saat itu sudah dipenuhi oleh rasa dendam dan kebencian, sehingga rasa takut sudah tidak mendapat tempat lagi.

Orang berbaju lila itu berkata pula:

"Dan lagi mengenai asal-usul dirimu sendiri. Dua soal ini setelah kau selesaikan, aku mungkin dapat memikirkan atau menimbang untuk memberi ampun kepada dirimu."

"Jangan harap kau meodapat sepatah jawaban dari mulutku.” “Kau bisa menjawab."

"Kau mengimpi!"

"Penggali Makam, apakah kau pernah mendengar ilmu jari tangan yang dinamakan Ie-sin-cie?"

Sekujur badan Hui Kiam gemetaran, ia mundur empat langkah. Dahulu ia pernah mendengar cerita dari gurunya. Ia mengatakan bahwa di dalam rimba persilatan ada semacam ilmu kepandaian yang sangat ganas tetapi sudah lama menghilang dari muka bumi. Ilmu itu dinamakan le-sin-cie. Barang siapa yang tertotok oleh jari tangan dengan menggunakan ilmu kepandaian itu, pikiran dan semangatnya akan musnah sehingga berubah menjadi seorang linglung seumur hidup hingga binasa.

Ini benar-benar merupakan suatu siksaan badan dan batin yang terlalu kejam.   Jauh lebih jahat dari pada kematian sebab orang yang sudah menjadi linglung, sekalipun hidup sudah tidak ada gunanya.

Sungguh tidak disangka orang berbaju lila ini mempunyai kepandaian ilmu yang sudah lama menghilang dari rimba persilatan itu.

"Kau.   berani?" berkata Hui Kiam dengan suara gemetar. "Ucapanmu ini bukankah cuma-cuma saja. Mengapa aku tidak berani? Ha ha ha.”

Hui Kiam terpaksa keraskan kepala ia berkata: “Lakukanlah!"

Orang berbaju lila itu ternyata telah digerakkan hatinya oleh sifat keras kepala dan angkuh Hui Kiam. Sejenak ia merasa heran, kemudian berkata:

“Kau sudah mengambil keputusan?"

Tepat pada saat itu satu suara dari orang tua terdengar dari dalam rimba yang tidak jauh dari situ:

"Penghuni loteng merah, keluarkanlah pedangmu!" Lalu terdengar suara seorang wanita yang berkata: "Kau masih belum pantas menjadi lawanku!"

Hui Kiam diam-diam terperanjat. Bagaimana penghuni loteng merah bisa datang kemari? Siapakah itu orang yang menentangnya? Dari ilmu pedang yang ditunjukkan oleh Siu Bie, dapat diukur bahwa ilmu pedang penghuni loteng merah pasti sudah mencapai sesuatu taraf yang sudah tidak   ada taranya, maka orang yang berani menentangnya pasti bukan orang sembarangan.

Orang berbaju lila itu membalikkan badannya perlahan-lahan. Mukanya ditujukan ke arah datangnya suaranya itu. Badannya agak gemetar!

Terdengar suara itu pula, tetapi kali ini kedengarannya agak jauh:

"Penghuni loteng merah, kau jangan pergi. Persoalan ini kalau tidak diselesaikan, aku si orang tua nanti akan membakar loteng merah ini."

"Tua bangka, kau bukan tandinganku." Orang berbaju lila itu sekonyong-konyong menggerakkan badannya melesat melayang ke dalam rimba. Kelincahan dan kegesitannya bergerak sesungguhnya sangat mengagumkan. Hui Kiam hanya dapat lihat berkelebatnya bayangan lila, lalu sudah kehilangan jejak orang itu.

Tiba-tiba dari dalam rimba yang berlawanan arahnya terdengar suara halus masuk ke dalam telinganya:

"Siauhiap lekas mundur, kesempatan ini jangan kau   sia- siakan. Lari kemari selekas mungkin."

Hui Kiam    tidak dapat membedakan lagi suara siapa. Ia lalu lari ke dalam rimba yang ditunjuk oleh suara tadi. Tetapi karena kekuatan dan kepandaiannya sudah terpengaruh oleh totokan tangan orang berbaju lila itu, gerak kakinya tidak beda dengan orang biasa. Baru sampai dekat rimba ia sudah terpegang oleh orang. Terdengar suaranya orang berkata: "Jangan bersuara!"

Keadaan dalam rimba gelap gulita. Dalam pandangan Hui Kiam pada saat itu, kegelapan itu dirasakan sangat luar biasa. Ia tidak tahu siapakah orangnya yang menolong dirinya itu, tetapi karena orang itu memintanya untuk tidak bersuara, maka ia terpaksa menutup mulut.

Dibawa ke dalam rimba kira-kira duapuluh tombak, tiba-tiba badannya dirasakan ringan. Ternyata ia dibawa naik ke atas sebuah pohon besar yang kemudian dibawa masuk ke dalam lobang besar yang terdapat di atas pohon itu. Hui Kiam bertanya lagi:

"Tuan siapa?" "Stt!"

Hui Kiam terpaksa menutup mulut. Hatinya merasa heran, siapakah orang itu, mengapa ia datang memberi pertolongan pada waktu yang tepat nampaknya, orang ini merasa jeri terhadap orang berbaju lila, mengapa kebetulan ada orang yang menentang penghuni loteng merah sehingga menarik perhatian orang berbaju lila dan akhirnya pergi kesana, apakah ini kebetulan saja? Sejenak telah berlalu. Di bawah pohon terdengar suara yang tidak asing lagi baginya:

"Locianpwee, orangnya sudah berlalu, tapi mungkin bisa balik lagi. Tunggulah sebentar.”

Semangat Hui Kiam terbangun seketika. Orang yang bicara itu, bukan lain daripada Ie It Hoan.   Ia membebaskan dirinya orang yang di sisi badannya itu. “Locianpwee, apakah. ”

Belum lagi cukup pikirannya, orang di sampingnya itu berkata padanya:

"Hui-Kiam, tahukah kau siapa aku ini?"

"Oh! Locianpwee adalah Orang Tua Tiada Turunan?"

"Benar, ini sangat kebetulan, jika tidak jiwamu pasti melayang di tangan orang berbaju lila itu!"

"Kebetulan?   Kau maksudkan dengan penghuni loteng merah itu?"

"Apakah penghuni loteng merah, adalah bocah di bawah pohon itu yang seorang memegang peranan dua orang, ia sengaja berlaku demikian maksudnnya ialah hendak menarik perhatian orang berbaju lila dan supaya pergi menyingkir aku sebetulnya sangat mengkhawatirkan jiwanya. ”

Hui-Kiam menarik napas dalam-dalam. Hatinya sangat mengagumi kecerdikan dan kepandaiannya meniru suara orang Ie-It Hoan itu.

“Orang berbaju lila itu dari golongan mana?”

“Sekarang masih belum tahu. Bulan yang lalu di kota Seng-po aku pernah melihat ia menunjukkan diri satu kali. Ilmu pedang ketua partai Thay-kek dalam rimba persilatan terhitung salah satu ilmu pedang sangat tinggi, kau pikir bagaimana?”

"Kenapa?” “Di bawah tangan orang berbaju lila, hanya setengah jurus saja, sudah tidak berkutik. Orangnya terluka, pedangnya terpapas kutung!"

"Ah!"

"Ini masih belum terhitung apa-apa. Menurut kabar yang tersiar di kalangan Kang-ouw pada akhir-akhir ini, orang berbaju lila itu pernah mengunjungi partai Bu-tong pai, yang dianggapnya sebagai pemimpin ilmu pedang. Dalam pertandingan itu termasuk orang- orang golongan tua dari partai tersebut, tidak seorangpun yang dapat menandingi dalam waktu dua jurus!”

Hui Kiam dalam hati bergidik, nampaknya jika ia sendiri menggunakan ilmu pedangnya yang cuma terdiri dari satu jurus gerak tipu itu mungkin dapat memberi perlawanan kepada orang berbaju lila, meskipun mungkin hanya satu keberatan saja....

"Kalau begitu ilmu pedang orang berbaju lila itu mungkin sudah susah dicari tandingannya?"

"Mungkin. Menurut apa yang aku tahu, kecuali jago-jago dari generasi atasan seperti Tiga Raja Rimba Persilatan yang masih belum diketahui dengan tepat, sampai di mana tinggi kepandaiannya sesungguhnya susah dicari seorangpun yang dapat menandingi kepandaian orang berbaju lila itu!"

"Apakah tidak mungkin bahwa orang berbaju lila ini adalah itu orang jago pedang berkedok yang dahulu pernah membunuh mati suhu dan supek sekalian?"

“Hm! Itu mungkin!"

"Dulu apakah suhu pernah menerangkan kepada Locianpwe tanda-tanda istimewa dan pakaian yang dipakai oleh jago pedang berkedok itu?"

"Pakaian setiap waktu bisa berobah, tidak dapat digunakan buat pegangan, sementara mengenai tanda-tanda istimewa, karena orang itu memakai kedok, tak mudah untuk dikenal.”

"Kalau begitu bagaimana kita harus membuktikannya?” "Tunggu setelah kepandaianmu dapat memenangkan orang berbaju lila itu, kau nanti mencarinya juga belum terlambat. Sekarang sekalipun kau dapat membuktikan bahwa dia adalah pembunuh suhumu, tetapi kau bisa berbuat apa?

Dan seandainya rahasia dirimu sendiri terbuka, bagaimana pula akibatnya?”

"Ya! Pada saat ini... kalau aku membicarakan soal menuntut balas bagi suhu sesungguhnya masih terlalu pagi!"

"Walaupun demikian, tetapi kau juga tak boleh putus harapan. Asal kau dapat menemukan bagian bawah kitab pusaka Thian-kie Po-kip, dengan bakat dan kecerdasanmu pasti kau berhasil. Bencana besar sudah mengancam rimba persilatan, semoga kau menjadi orang kuat untuk melenyapkan bencana itu!"

"Boan-pwe tidak berani menerima pujian cianpwe, tetapi ingin sekedar menyumbangkan tenaga saja."

"Baiklah, tahukah kau mengapa aku bisa kebetulan begitu sampai di sini dan memberi pertolongan kepadamu?"

“Inilah justru yang aku minta keterangan Locianpwe!”

“Aku mendengar kabar suatu berita yang ada hubungannya dengan dirimu, maka aku datang kemari untuk mencari kau. Di tengah jalan aku berjumpa dengan bocah yang gemar minum arak itu. Aku dengan dia lalu pergi menuju kemari.   Kebetulan dapat lihat kau sedang terdesak oleh orang berbaju lila itu. Akhirnya si bocah itu mencari akal. Dengan menyamar sebagai orang tua, ia sengaja menentang kepada penghuni loteng merah untuk menyingkirkan orang berbaju lila. Tetapi ini sesungguhnya sangat berbahaya. Jikalau terbuka kedoknya, akibatnya sangat hebat!”

"Kabar apa yang ada hubungan dengan aku?”

"Supekmu jago besar tua, Kiem-tee, bukankah karena lampiran gambar peta di dalam kitab pusaka Thian-gie Po-kip sehingga perlu pergi mencari sebilah pedang purbakala?”

“Hal itu Locian-pwee perrah menceritakan.” “Menurut petunjuk-petunjuk jalan peta, pedang purbakala itu disimpan dalam sebuah makam pedang yang letaknya di dalam lembah Cok-beng-gam. Pada hari-hari terakhir ini, entah siapa yang menyiarkan berita ini kepada kalangan Kang-ouw sehingga banyak orang Kaug-ouw berbondong-bondong menuju kesana.”

"Oh!"

"Makam pedang itu karena terdapat dalam buku peta pada kitab pusaka Thian-gie Po-kip, mungkin ada hubungannya dengan kepandaian ilmu silat yang tertera di dalam kitab pusaka itu. Kau adalah satu-satunva orang yang menjadi keturunan atau murid dari Lima Kaisar Rimba Persilatan, tidak boleh tidak kau harus perhatikan soal ini, betul tidak?"

"Ya!"

“Semula tempat untuk menyimpan pedang itu hanya Toa- supekmu seoranglah yang tahu, yang lainnya cuma tahu persoalannya tetapi tidak tahu tempatnya. Tetapi apakah Toasupekmu hanya mendapatkan tempatnya atau sudah berhasil mendapatkan pedangnya? Ini semua masih merupakan satu teka- teki. Sebaliknya karena Toasupek sudah mati di bawah tangan jago pedang yang sangat misterius itu, kita dapat membuka sendiri jikalau bukan karena pedang, tentu disebabkan oleh gambar petanya, tetapi biarpun bagaimana, jago pedang berkedok itu merupakan kunci yang terpenting yang masih menjadi pertanyaan, dan menyulitkan kita ialah, jago pedang berkedok itu orang dari golongan mana......? Penjahat itu bisa menggunakan senjata tunggal Jien-ong yang berupa jarum melekat tulang, seharusnya ia keturunannya Jien-ong atau muridnya. Di dalam dunia Kang-ouw banyak hal yang tidak dapat diperhitungkan menurut pemikiran biasa. Tiga Raja Rimba Persilatan adalah merupakan tokoh-tokoh kuat pada waktu lima puluh tahun berselang, dan selama itu sudah banyak perobahan, sudah tentu ini juga merupakan suatu garis petunjuk yang sangat berharga, tetapi masih belum dapat dipastikan, dan andaikata benar, bagaimana kau bisa berbuat? Mati atau hidupnya Jien-ong belum kita ketahui, maka satu-satunya jalan ialah mencari jago pedang yang berkedok itu. "Sudah tentu memang hanya itu jalan saja yang kita dapat tempuh."

"Apa yang paling kukhawatirkan ialah tindakan orang-orang Persekutuan Bulan Emas terhadap dirimu….”

"Soal itu boanpwee malah tidak menghiraukannya. Tahukah Locianpwee bagaimana orangnya pemimpin Persekutuan Bulan Emas itu?”

"Tentang ini... barangkali sembilan puluh sembilan persen anak buah persekutuan itu sendiri tidak dapat menjawab pertanyaan ini. Ini berarti, sehingga pada saat ini masih belum seorangpun yang tahu asal-usul pemimpin persekutuan itu dan markasnya.”

"Maksud Locianpwee sekarang. ”

"Kita harus lekas pergi ke kuburan pedang itu untuk menyaksikan sendiri benar atau tidaknya kabar yang tersiar luas di dunia Kang- ouw itu.”

"Maksud Boanpwee ingin menengok Liang-gie Sie-seng lebih dulu, untuk menyelidiki bagian bawah kitab Thian-gi Po-kip…."

"Lembah Bu-hiap dari sini tidak terlalu jauh. Begini saja, aku pergi ke kuburan pedang itu dulu untuk melihat keadaan, dan kau bersama Ie It Hoan pergi mencari Liang-gie Sie-seng. Selesai tugasmu, lekas kemari. Bagaimana?”

"Baiklah. Hanya karena urusan Boan-pwce, telah menyebabkan Locianpwte turut banyak capaikan hati ”

"Ini adalah kesukaanku sendiri, kau tidak perlu mengucapkan demikian!"

“Apakah harus berangkat sekarang juga?”

“Kau telah lupa bahwa kepandaianmu dan kekuatanmu sudah dibekukan oleh orang berbaju lila itu. ”

Hui Kiam seketika itu menjadi bungkam. Kepandaiannya belum pulih kembali, ter-sia-sia ia bertindak. Pada saat itu terdengar suaraI It Huan dari bawah pohon berkata: "Locianpwee, mengapa kau tidak coba menggunakan ilmu kepandaianmu Siao-yang Sin-kang?"

"Oh! Untung kau peringatkan, aku benar-benar sudah lupa. Sudah tentu boleh coba. Bocah, kau menyingkir agak jauh, awas ada orang yang memperhatikan dirimu!"

"Ya!"

Ie-It Huan segera berlalu. Orang Tua Tiada Turunan mulai memeriksa urat-urat dan jalan darah yang dibekukan oleh orang baju lila, setelah itu ia baru berkata:

"Sungguh beruntung, ilmu Siao-yang Sin-kang tepat sekali untuk menyembuhkan lukamu ini. Perbuatan orang itu sesungguhnya sangat jahat, bagian yang ia bekukan adalah bagian antara jalan hawa dan darah.”

Sehabis berkata ia memerintahkan Hui Kiam untuk bersemedhi, kemudian ia menggunakan ilmunya Siao-yang Sin-kang untuk memulihkan kekuatan dan kepandaian Hui Kiam.

Ilmu itu benar-benar luar biasa, belum antara lama Hui Kiam sudah merasakan betapa hebat kekuatannya....

Sinar matahari pagi masuk melalui lobang-lobang di atas pohon, suatu tanda bahwa hari mulai pagi. Sementara itu kekuatan Hui Kiam juga sudah pulih kembali. Dua orang itu lalu turun ke bawah segera disambut oleh Ie It Hoan yang memperhatikan dari tempat seluruhnya. Begitu melihat Hui K.am, pemuda jenaka itu lantas berkata dengan suara girang:

"Toako, kau sudah sembuh? Syukur!"

Perhatian begitu besar yang ditunjukkan oleh pemuda itu, betapapun dingin hati dan perasaan Hui Kiam, mau tidak mau juga tergerak sehingga di bibirnya terlukis suatu senyuman yang baginya merupakan suatu kejadian yang jarang terjadi.

Orang Tua Tiada Turunan setelah berada di bawah lalu berpisah pada mereka, untuk melanjutkan perjalanannya mencari keterangan tentang kuburan pedang. Ie It Hoan lalu berkata dengan sungguh-sungguh: "Toako menyamar, bagaimana?"

"Tidak usah!" jawabnya singkat tetapi tegas. Ie It Hoan berkata:

"Kalau begitu mari kita berangkat!   Menurut cara yang sudah, kita jangan berpencaran, tetapi tetap berpisah dalam cara tertentu."

"Baik, mari jalan."

Keduanya dengan satu di muka dan satu di belakang meninggalkan rimba tersebut dengan mengambil jalan, ke jalan raya, berjalan menuju ke barat.

Hui Kiam dan Ie It Hoan setelah tiba di tempat yang dituju, mereka berkumpul lagi. Terhadap keadaan tempat tersebut, bagi Hui Kiam masih asing, sebaliknya dengan Ie It Hoan yang kenal baik dengan hampir di setiap pelosoknya.

Dua pemuda itu melakukan perjalanannya, di dalam pegunungan, satu jam kemudian tibalah di suatu permukaan sebuah lobang terowongan di puncak gunung. Dari lobang terowongan itu melongok ke dalam bisa disaksikan pemandangan alam yang terdapat di lain bagian.   Ie It Hoan sambil menunjuk ke suatu tempat tinggi yang diliputi oleh kabut ia berkata:

"Di dalam gua sebelah sana.” "Apa kau pernah datang?"

"Belum pernah masuk, jejakku hanya sampai di sini saja." "Apakah kau dulu pernah melibat Liang Gie Sie-seng?"

".Sepintas lalu saja. Aku kenal kepadanya, tetapi ia tidak kenal aku."

“Mari kita jalan."

Tidak lama kemudian, dua pemuda itu sudah tiba ke tempat sebuah gua di tengah-tengah lereng puncak gunung.

Ie It Hoan lalu berkata: "Kita mengunjunginya menurut aturan atau menerobos saja?" Hui Kiam berpikir sejenak baru menjawab:

"Menurut tanda-tandanya Liang Gie Sie-seng hanya merupakan scorang tersangka yang paling benar, tetapi belum ada bukti yang menyatakan bahwa kitab Thian-gie Po-kip bagian bawah itu benar- benar berada di tangannya, sudah tentu kita berkunjung menurut cara yang selayaknya."

“Kalau begitu nanti aku akan menyampaikan suara untuk minta bertemu lebih dulu."

Sehabis berkata, pemuda itu lalu mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya dan berkata ke arah dalam gua: "Liang-gie Sie-seng, Sukma Tidak Buyar datang berkunjung."

Perkataan itu diucapkan berulang-ulang, tetapi keadaan di dalam gua nampak sepi tiada terdengar jawaban apa-apa.

Hui Kiam lalu berkata sambil mengerutkan keningnya: '"Apakah ia sudah kabur jauh?"

"Mungkin sekali." "Mari kita masuk. "

"Eh! Siapa itu?"

Pada saat itu sesosok bayangan kecil langsing lari keluar dari dalam dengan kaki sempoyongan kian lama kian mendekat, barulah tertampak dengan tegas bahwa bayangan itu adalah seorang wanita yang rambutnya terurai dan sekujur badannya penuh darah.

Hui Kiam dan Ie It Hoan terkejut, nampaknya di dalam goa itu sudah terjadi sesuatu.

Wanita itu bisa tiba di dekat mulut goa, agaknya sudah kehabisan tenaga sehingga roboh di tanah tidak bisa bangun lagi.

Hui Kiam dan Je It Hoan menghampiri wanita itu, segera dapat dilihatnya paras wanita itu sangat pucat tetapi masih menunjukkan kemarahannya sehingga nampaknya sangat bengis, seluruh pakaiannya sudah menjadi merah bekas darah, di badannya terdapat tanda luka enam atau tujuh tempat, sekitar tempat yang terluka terdapat tanda-tanda hitam, di tengah-tengah masih mengalirkan darah merah, keadaannya sangat menyedihkan.

Hui Kiam lalu bertanya sambil mengkerutkan keningnya: "Siapakah kau? Mengapa sampai terluka demikian?"

Wanita itu bagaikan binatang yang terluka, menggelinding dua kali lalu bangun terduduk dengan sinar mata buas mengawasi kedua tamunya, di parasnya yang sudah tidak ada darahnya nampak berkerejit beberapa kali, lalu balik bertanya dengan suara bengis:

"Siapakah… di antara kalian yang bernama Sukma Tidak Buyar?"

Ie It Huan yang pada kala itu masih mengenakan pakaian seperti seorang pelajar segera menjawab:

"Aku!"

''Dan dia?" "Penggali Makam!" "Ah!”

Sinar mata buas yang ada pada mata wanita itu lenyap seketika, kemudian diganti dengan sikap kaget dan terheran-heran, lalu berkata pula:

"Kalau begitu, kalian berdua bukan kaki tangannya Persekutuan Bulan Emas?"

Hui Kiam ketika mendengar disebutnya nama Bulan Emas, segera dapat menduga bahwa dalam hal ini ada terselip apa-apa, maka ia lalu berkata:

"Bukan! Sudah tentu aku ingin bertanya."

"Aku bernama Oey Yu Cu, adalah istrinya Liang-gie Sie-seng, Lie Bun. "

"Oh! Nyonya Lie, entah        "

"Aku...... sudah hampir mati.     " "Dan suami nyonya?”

"Suamiku semalam telah meninggal dunia dianiaya orang." Wajah Hui Kiam berobah, ia berkata dengan suara gemetar: "Liaug-gie Sie-seng apa sudah mati?"

"Ya, ia sudah menutup mata, kematiannya sangat menyedihkan, aku. aku sendiri juga sudah hampir mati."

Berkata sampai di situ dadanya nampak bergerak, napasnya tersenggal-senggal, mulutnya mengeluarkan darah.

Ie It Hoan lalu berkata dengan suara gemas:

"Nyonya Lie, lukamu tidak ringan, aku di sini membawa obat mustajab untuk menyembuhkan luka….”

Oey Yu Cu goyang-goyangkan tangannya yang sudah tidak bertenaga seraya berkata:

"Kebaikanmu… akan kuterima dalam hatiku, hanya pada saat mi sudah tidak ada gunanya. Suamiku kecuali terkenal sebagai ahli racun juga seorang ahli dalam ilmu obat obatan. Kalau aku masih bisa hidup sehingga saat ini, semata-mata karena mengandal pengaruh obat yang dibuatnya, pengaruhnya obat Po-beng Kim-tan. Di dalam dunia ini… tiada ada obat yang lebih baik daripada obat itu, tetapi denyutan jantungku sudah putus, darahku juga mengalir hampir habis, dewapun sudah tidak mungkin dapat menolong lagi."

Hui Kiam yang menyaksikan keadaan demikian, segera mengetahui bahwa nyonya itu memang benar adalah susah ditolong lagi jiwanya, kalau ia tidak lekas mengajukan pertanyaan yang terkandung dalam hatinya barangkali sudah tidak ada kesempatan lagi. Maka ia lalu bertanya:

“Nyonya Lie, maksud kedatanganku ini, ialah ingin mengajukan beberapa keterangan kepada nyonya!”

"Kau… ceritakan!"

"Apakah suami nyonya pernah pergi dengan Aiw-yang Hong membasmi orang orang Sam-goan pang?" “Tidak!”

Hui Kiam terkejut tetapi segera bertanya pula:

“Apakah Aiw-yang Hong mati di tangan suami nyonya?"

Bibir Oey Yu Cu bergerak-gerak beberapa kali baru menjawab: "Tuan bertanya.... makin lama semakin aneh. Suamiku dengan

Aiw-yang Hong bersahabat sangat erat!”

Jawaban ini tidak ubahnya bagaikan air dingin yang disiram di atas kepala Hui Kiam, dugaannya yang dulu-dulu telah dirobohkan seluruhnya, akan tetapi ia masih tetap tidak mau melepaskan dan bertanya pula:

"Apakah suami nyonya pada waktu akhir-akhir ini pernah mendapatkan kitab pelajaran ilmu silat dan sebagainya?"

Oey-Yu Cu mendongakkan serta mengelengkan kepalanya sebagai jawaban.

Hui-Kiam mengawasi Sukma Tidak Buyar dengan sinar mata penuh tanda tanya. Sukma Tidak Buyar menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa keterangan nyonya itu boleh dipercaya.

Keadaan Oy-Yu Cu sudah seperti lampu yang kekeringan minyak, ia   tiada   bertenaga untuk duduk lagi, dengan sangat lemah merebahkan diri di tanah, mulutnya mengeluarkan perkataaan dengan suara lemah:

"Tolong... cari... Oey-Yu Hong, ia tahu!"

Hui-Kiam dapat melihat gelagat tidak baik, cepat-cepat ia bertanya.

Bibir Oey-Yu Cu nampak bergerak-gerak tetapi sudah tidak mengeluarkan suara.

Sukma Tidak Buyar lalu berkata:

“Nyonya Lie, kuatkan hatimu, kalian suami-istri telah mengalami nasib sedemikian menyedihkan. Siapakah orangnya yang melakukan kejahatan itu?'' Ini adalah merupakan suatu kunci terpenting dalam persoalan ini. Huj-Kiam sangat menyeaal tetapi ia tidak menanyakan lebih dulu, selagi hendak menggunakan kekuatan tenaganya untuk membantu memberi semangat kepada nyonya yang bernasib malang itu, tetapi ternyata sudah tidak keburu karena pada saat itu Oy-Yu Cu sudah melayang jiwanya.

Hui Kiam cuma bisa memandang jenazahnya dengan hati pilu, kemudian berkata dengan suara parau:

“Nyonya Lie, aku terima baik permintaanmu, pasti hendak mendapatkan diri Oey-Yu-Hong.”

Sukma Tidak Buyar juga berkata sambil menggelengkan kepala serta menghela napas:

"Sayang, ia belum sempat mengatakan sudah menutup mata.

Oey-Yu-Hong itu kalau bukan kakaknya tentu adiknya.”

“Sungguh tidak diduga bahwa perjalanan kita ini ternyata sia-sia belaka. Apa keterangan nyonya itu kau anggap boleh dipercaya?"

"Boleh dipercaya!" "Sebabnya?"

"Seorang yang sudah dekat mati tidak bisa membohong. Kecuali itu, Lian-gie Sie-seng sudah mati, ia juga tahu bahwa dirinya sendiri juga pasti mati. Seorang yang sudah kehilangan jiwanya, benda bagaimanapun berharganya baginya sudah tidak ada gunanya sama sekali, perlu apa ia harus menyembunyikan rahasia?"

“Tetapi Sam-goan Lojin mati dengan kepandaian ilmu tiga jari Sam-ciok Ci dari Aiw-yang Hong, sedangkan orang-orang Sam-goan pang sebagian besar mati karena racun, dan menurut keterangan nyonya Aiw yang-Hong, sebelum menemukan ajalnya Aiw-yang- Hong pernah pergi bersama-sama ke Sam-goan-Pang dengan Liang- gie Sie-seng. Disamping itu, Liang-gie Sie-seng merupakan seorang ahli dalam berbagai jenis racun. Hal ini bagaimana kita harus memecahkannya?"

Sukma Tidak Buyar berpikir sangat lama baru menjawab: "Hanya ada satu kemungkinan, bahwa tindakan Liang-gie Sie- seng, sengaja tidak diberitahukan kepada istrinya. Maka ia tidak tahu sama sekali segala perbuatan suaminya dan si pembunuh itu mungkin setelah mendapatkan barangnya lalu kabur jauh-jauh."

"Siapakah pembunuhnya?"

"Tentang ini… bagaimana kita dapat menduganya?"

"Jika kita dapat membukakan Oey-Yung Hong dari keterangan wanita itu mungkin kita dapat mencari tanda-tanda jejak pembunuhnya!"

"Satu-satunya jalan memang hanya itu saja!" "Nah, mari kita kubur jenazahnya!" "Baiklah."

Dua pemuda itu lalu bertindak, dengan cepat mengubur jenazah wanita itu bahkan melekatkan batu nisan di atas makamnya. Setelah scmua selesai, Hui Kiam lalu berkata:

“Mari kita masuk. Dari jenazah Liang-gie Sie-seng mungkin kita dapat menduga siapa pembunuhnya….”

"Luka yang terdapat di badan Oey Yu Cu itu merupakan luka pedang, sudah tentu Liang-gie Sie-seng tidak kecualian!"

“Itu belum tentu. Umpama Sam-goan Lojin, jika di jidatnya tiada terdapat tanda tiga jari."

"Baiklah, mari jalan. "

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang menegur mereka: "Apakah kalian berdua mencari mati?"

Dua pemuda itu terkejut, kedua-duanya berpaling. Begitu melihat, Sukma Tidak Buyar ternganga. Hui Kiam yang wajahnya terlalu dingin juga berdiri terpesona.

Terpisah kira-kira tiga tombak di tempat kedua pemuda itu berdiri, nampak seorang wanita cantik sekali. Badannya mengenakan pakaian sutera yang putih sekali, pakaian dalamnya berwarna merah jambu, tampak tegas bentuk badannya yang padat yang penuh daya penarik.

Cantik sekali. Kecantikannya itu tidak dapat dilukiskan dengan pena. Kecantikannya membuat orang terpesona, tetapi tidak berani memandang lama.

Siapa percaya bahwa di dalam dunia ini ada makhluk demikian cantik?

Ia seharusnya bidadari yang tinggal di kahyangan. Suasana untuk sesaat agaknya menjadi sunyi.

Sinar mata wanita cantik itu yang penuh daya penarik ditujukan ke wajah Hui Kiam, kemudian beralih turun kepada perut, paha dan kaki, selanjutnya memandang lagi dari bawah ke atas lalu berhenti di wajahnya.

Hui Kiam dapat merasakan seluruhnya bahwa dirinya diperhatikan sedemikian rupa, tetapi ia tidak berdaya melawan juga tidak berdaya untuk mengelakkan pandangan itu. Semacam perasaan yang belum pernah ada timbul dari dalam hati sanubarinya membuat wajahnya dan sikapnya yang dingin telah lenyap seketika dan berubah menjadi warna kemerah-merahan.

Wanita itu tersenyum, tenang sikapnya tetapi sikap itu sangat menggiurkan dan menggayakan.

Dalam senyumnya yang memikat hati, agaknya mengandung semacam pengaruh yang kuat yang membuat orang terbenam dalam mabuk dan pikiran yang bukan-bukan.

"Hm!" terdengar suara tarikan napas, mirip suara keluhan tetapi juga mirip dengan orang yang mengigau. Suara itu keluar

dari mulut Sukma Tidak Buyar. Entah ia sudah lupa akan dirinya sendiri atau hilang semangatnya. Mungkin ia merasa tidak adil terhadap perhatian si cantik jelita yang hanya ditujukan kepada Hui Kiam....

Suara tarikan napas itu telah memecahkan kesunyian tetapi sebentar sudah kembali seperti semula, keadaan menjadi sunyi sepi lagi. Agaknya semua perhatian ditujukan kepada paras yang cantik luar biasa itu.

Jantung Hui Kiam tergoncang. Ia tahu bahwa ia sendiri sudah tidak mampu mengendapkan perasaannya sendiri.

Ia juga tahu bahwa tidak seharusnya berlaku demikian. Tetapi ia tidak dapat mengendalikan pandangan matanya. Ia berusaha tetapi selalu sia-sia, bagaikan ada semacam kekuatan hebat yang tidak berdaya menguasai dirinya sendiri.

Wanita cantik itu untuk kedua kalinya mengajukan senyumnya yang semakin memikat hati makin mengiurkan.

Hui Kiam merasakan bahwa dirinya sudah melayang-layang di tempat yang kosong.

Sinar mata si cantik ditujukan kepada Sukma Tidak Buyar.

Hui Kiam bagaikan seorang yang baru terlepas dari tindihan barang berat, mendapat kesempatan untuk bernapas, pada saat itu ia baru dapat melihat bahwa di belakang diri si jelita itu, masih ada seorang perempuan muda cantik, tetapi dibandingkan dengan kecantikan si jelita tadi, kecantikannya bukan merupakan apa-apa lagi.

Perempuan muda itu matanya memandang lurus ke depan dengan sikapnya dingin. Sinar matanya memancarkan perasaannya yang peuh dendam sehingga sangat tidak sesuai dengan suasana pada saat itu. Sikap demikian itu, agaknya telah menyadarkan pikiran Hui Kiam, ia seperti berada dalam kabut yang dapat melihat setitik sinar terang.

Warna merah di mukanya telah lenyap, darahnya mengalir seperti biasa, ia menarik napas dalam-dalam.

Ketika sinar mata si cantik yang menggiurkan itu untuk kedua kalinya ditujukan kepada wajahnya, meski ia merasa terpengaruh tetapi sudah dapat menguasai perasaannya sendiri.

“Kau adalah Penggali Makam?” Pertanyaan itu keluar dari mulut si jelita kedengarannya sangat menarik sekali.

“Aku benar, bolehkah aku bertanya….”

Huit Kiam ingin berusaha untuk menindas perasaannya sendiri, tetapi ia tidak bisa, sikapnya tidak seperti biasanya yang dingin angkuh.

“Aku bernama Tong-hong Hui-bunl” “Oh, nona Tong-hong….”

“Aku bukan nona lagi, sebutan ini... kau panggil aku kakak saja sudah cukup?"

Searang wanita, meminta seorang laki-laki yang baru dikenalnya memanggil dirinya “kakak", bukan saja ganjil, tetapi juga mendekati suatu perbuatan yang tidak tahu malu. Tetapi ucapan yang keluar dari mulutnya itu, agaknya sedikitpun tidak menusuk telinga atau menyinggung perasaan, sedikitpun tidak dirasakan aneh, sebaliknya malah menimbulkan perasaan hangat bagi yang mendengarkan.

Wajah Hui Kiam merasa panas. Ia lalu merobah sebutannya: ”Nyonya. "

“Apakah kau merasa sayang memanggil aku kakak?" “Ini..... ini. kita satu sama lain masih asing."

"Bukankah kita sekarang sudah kenal? Adik, sebutan itu jika dipandang dari sudut umur kita, tidak ada apa-apa yang kurang patut!"

Hui Kiam tidak dapat mengeluarkan perkataan itu, disebabkan karena sifatnya yang dingin dan angkuh.

Si cantik itu berkata pula sambil bersenyum:

"Adik, nama julukanmu ini tidak bagus, dengan keadaan sendiri sangat tidak sesuai, robah saja!"

Nada suara itu bagaikan terhadap kepada satu sahabat akrab yang sudah lama berkenalan, sedikitpun tidak merasa asing. Dengan tanpa banyak pikir lalu menjawab:

“Tetapi aku merasa senang dan puas dengan nama julukan ini." "Oh! Ya sudah.  Siapa gurumu?"

"Suhu sudah menutup mata. Maaf aku tidak dapat menyebut namanya."

Teringat akan suhunya, dalam hatinya timbul pula rasa dendam dan bencinya, maka di wajahnya segera menunjukkan perobahan dingin dan angkuh lagi seperti biasa.

Si jelita itu diam sejenak kemudian berkata pula dengan ramai senyuman:

"Adik, kita baru berkenalan, tidak usah bicara banyak-banyak, di kemudian hari apabila ada kesempatan kita boleh bicara lagi. Apakah kau ingin masuk ke lembah Bu-hwee-kok?"

Hui Kiam mengawasi lembah di luar gua sejenak, lalu berkata: "Apakah tempat ini bernama lembah Bu-hwee-kok?"

"Ya! Apakah kau tidak tahu, setiap tumbuhan di dalam lembah ini, tiada satu yang tidak mengandung racun, betapapun tinggi kepandaianmu, kalau sudah masuk juga tidak bisa kembali lagi. Itulah sebabnya dinamakan Bu-hwec-kok, yang berarti Lembah Tidak Bisa Balik Lagi."

Hui Kiam terkejut. Ia mengawasi Sukma Tidak Buyar, nyata pemuda itu saat itu sedang berdiri sambil mengarahkan pandangan mata lurus kepada hidungnya, bagaikan seorang padri yang sedang bersemedi. Sikapnya itu sangat lucu dan menggelikan, mungkin ia takut pandangan matanya kebentrok dengan si jelita maka ia juga tidak mengganggu padanya, kemudian berkata pula kepada si jelita:

"Kalau semua tumbuhan dalam lembah ini mengandung racun, sehingga tidak ada manusia yang keluar dari sini dalam keadaan hidup, mengapa Liang-gie Sie-seng suami-istri masih bisa terbunuh?" "Sudah tentu ini hanya menurut keadaan biasa dan bagi manusia umumnya, tetapi di atasnya orang pandai masih ada yang lebih pandai, segala sesuatu ada terkecualinya!"

Keterangan itu memang masuk di akal, tetapi pikiran lain timbul dalam hati Hui Kiam, maka ia lalu bertanya pula:

"Kalau bagitu pembunuh Liang-gie Sie-seng suami-istri, kau ..." “Panggil aku kakak saja!"

Hui Kiam diam saja, ia sesungguhnya tak dapat mengeluarkan sebutan demikian.

Si jelita itu berkata sambil menatap Hui Kiam.

"Adik! Aku hanya berkata menurut anggapan biasa, sama sekali tidak tahu pembunuhnya. Jika sekarang kau tidak sebutkan itu, aku malah masih belum tahu bahwa Liang-gie Sie-seng sudah menutup mata!"

"Kita bisa berjumpa di sini sesungguhnya sangat kebetulan. "

"Bukan kebetulan, melainkan jodoh. Adik, apakah kau percaya soal jodoh?"

Nada itu diucapkan dengan suara yang sangat meggiurkan sehingga Hui Kiam mulai terpengaruh lagi perasaannya, padahal waktu sebelumnya di dalam dadanya kecuali perasaan dendam dan sakit hati sudah tidak ada tempat lagi bagi yang lain, tetapi pada saat ini perasaan itu telah tergoncang pengaruh si jelita telah menembus tembok penjagaan dalam hatinya bahkan sudah barhasil menyusup ke dalam hati sanubarinya.

Si jelita itu melanjutkan ucapannya.

"Adik, dalam hatimu sudah mengakui tetapi kau tidak berani berkata, betul tidak? Tidak apa, kakakmu dapat mengerti ini, sudah cukup sebetulnya, dalam kujelaskan juga, tidak ada harganya sama sekali mengapa kau bisa datang kemari, bukankah karena kitab Thian-gie Po-kip bagian bawah itu, betul tidak? Aku juga mendengar kabar itu sehingga datang kemari, mungkin ada orang datang lebih dulu, mungkin juga masih ada orang yang akan datang lagi, tetapi tidak lebih dulu atau ketinggalan kita telah berjumpa di sini, maka dapat diartikan sebagai jodoh, bukan soal kebetulan seperti apa yang kau katakana. Perkataan kebetulan yang kau ucapkan tadi, di dalamnya masih ada mengandung maksud lain, betul tidak?”

Hui Kiam tunduk seratus persen terhadap keterangan si cantik itu, sinar matanya menunjukkan perasaan di dalam hatinya.

Si jelita itu menutup mulutnya, ia mengawasi Hui Kiam seperti pertama baru ketemu tadi.

Akhirnya, Hui Kiam runtuh semangatnya, ia tidak dapat lagi mempertahankan perasaannya. Dengan suara yang kurang tegas akhirnya ia mengeluarkan perkataan:

"Kakak!"

Si cantik itu tertawa, agaknya ia merasa puas. Ia maju beberapa langkah dan berkata dengan suara perlahan: "Adik, mendengar panggilanmu ini, di dalam dunia ini rasanya aku sudah tidak menginginkan apa-apa lagi!”

Apakah maksud ucapan itu? Dalam hati Hui Kiam mengerti, sehingga sesaat itu perasaannya bergolak, jantungnya berdebar keras.

Manusia tetap manusia yang terdiri dari darah dan daging, bukan terbuat dari kayu atau batu. Betapapun dingin perasaannya, satu waktu bisa runtuh juga. Teori cuma dapat dipertahankan dalam keadaan biasa, jika berjumpa dengan keadaan yang luar biasa, lain pula artinya. Demikian pula dengan keadaan Hui Kiam, ia dingin menyendiri dan angkuh tetapi sekarang telah berubah seluruhnya.

"Kakak, apakah kau juga tahu soal kitab Thian-gie Po-kip itu?"

Sudah tentu bagi orang-orang rimba persilatan sering menggunakan sebagai gantinya mata.

"Dan sekarang bagaimana?" "Sudah saja!” "Tetapi aku tidak boleh tidak harus mendapatkannya!” "Mengapa?"

"Tidak apa-apa, aku... hanya ingin dapatkan kitab itu!”

"Kau agaknya masih ada perkataan yang belum kau jelaskan?” Hui Kiam terkejut, ia dikagumkan oleh ketegasan wanita itu.

Tetapi biar bagaimana rahasia dirinya sendiri ia harus pegang teguh. Maka ia lalu menjawab:

"Aku tidak menyangkal. Tetapi setiap orang sudah tentu mempunyai rahasia hatinya sendiri yang perlu dirahasiakan."

"Tepat, ialah kita tidak usah membicarakan soal ini. Adik, apakah kau suka mendengar perkataanku?"

"Coba kau terangkan!"

"Apakah kau bermusuhan dengan Persekutuan Bulan Emas?" “Mengapa kau mengajukan pertanyaan ini?"

"Jawablah dulu pertanyaanku."

"Tidak ada permusuhan pribadi, yang ada hanya permusuhan umum!"

“Apakah artinya permusuhan umum?”

“Rimba persilatan daerah Tionggoan tidak mengijinkan sepak terjangnya yang sewenang-wenang, kebenaran dan keadilan rimba persilatan tidak boleh diinjak-injak.”

"Tetapi... aku... sangat khawatir suatu ketika nanti kau binasa di tangan orang-orang Bulan Emas!"

"Aku tidak memperhitungkan kalah menang atau rugi diriku sendiri!" la berhenti sejenak lalu berkata pula: "Apakah kakak ada hubungan dengan persekutuan itu?"

"Oh! Tidak, kau jangan berpikir yang bukan-bukan, aku hanya sangat mengkhawatirkan dirimu, karena Persekutuan Bulan Emas itu mempunyai banyak orang pembantu yang mempunyai kepandaian yang sangat tinggi, sehingga tidak boleh kau pandang ringan. Kabarnya telah kau binasakan beberapa anak buahnya. "

“Memang betul!”

"Maka itu persekutuan itu pasti tidak akan membiarkanmu begitu saja."

“Aku tidak perduli, aku hanya tahu berbuat apa yang aku harus perbuat.”

"Kegagahan seorang yang tak memakai perhitungan!"

Hui Kiam kembali terkejut dan terheran-heran. Wanita itu bukan saja mempunyai kecantikan yang luar biasa, tetapi juga mempunyai pengetahuan yaug melebihi dari manusia biasa. Agaknya Tuhan hanya mencurahkan cintaNya padanya seorang saja sehingga semua keindahan di luar dan di dalam, telah diberikan kepadanya. Dengan perasaan kagum ia menjawab:

"Ucapan kakak memang benar!"

Pada saat itu Sukma Tidak Buyar tiba-tiba membuka mulut dan berkata:

"Toako, kita harus pergi!"

Paras wanita cantik itu nampak berubah. Ia bertanya dengan heran:

"Apa, ia memanggilmu Toako?"

Hui Kiam menjawab sambil tertawa:

"Dia "

Baru saja mengeluarkan perkataan ‘dia’..... telah disela oleh suara tertawanya Sukma Tidak Buyar.

Dengan sikap sungguh-sungguh Sukma Tidak Buyar berkata: "Enci tidak tahu. "

"Apa? Kau… memanggil aku enci?" "Seharusnya memang begitu. Dengarkan keteranganku dulu, enci nanti mengerti sendiri. Toakoku ini menurut urutan tingkatan, masih setingkat lebih tua daripadaku. Mengenai usia memang aku yang lebih tua, apa boleh buat hubungan persahabatan kami begitu dalam, jadi terpaksa memanggilnya toako. Sekarang dia adalah adikmu, sudah tentu terpaksa aku juga memanggilmu enci."

Keterangan gila itu, hampir saja membuat Hui Kiam tertawa karena gelinya.

To-hong Hui Bun dengan alis berdiri ia bertanya: "Siapa gurumu?"

Ia ingin dari jawaban Sukma Tidak Buyar untuk menduga asal- usul perguruan Hui Kiam.

Dengan sungguh-sungguh Sukma Tidak Buyar menjawab: "Guruku, orang-orang menyebut namanya Tidak Buyar

Sukmanya!"

"Apa? Tidak Buyar Sukmanya, sedang kau mempunyai nama julukan Sukma Tidak Buyar.”

"Benar, begitulah gurunya beginilah muridnya."

“Tetapi dalam rimba persilatan aku belum pernah dengar ada orang kuat yang mempunyai nama julukan Tidak Buyar Sukmanya."

"Suhu jarang bergerak di dunia Kang-ouw."

"Berapa banyak persaudaraan dalam perguruanmu?" "Oh! Tidak banyak, cuma delapan!"

"Apakah semua menggunakan nama julukan Sukma Tidak Buyar?"

"Benar! Benar."

Hui Kiam malah merasa bingung, sebab ia sendiri tidak tahu asal- usul Ie It Hoan, ia tidak tahu keterangannya itu diberikan seenaknya saja ataukah benar-benar, tetapi dari tiga orang Sukma Tidak Buyar yang dijumpainya, hanya dia seoranglah yang menyaru, dari sini bisa ditarik suatu kesimpulan, bahwa keterangan mengenai saudara seperguruan yang katanya ada delapan orang, pasti bohong belaka.

Pada saat itu, beberapa bayangan orang telah muncul. Orang yang muncul lebih dahulu adalah seorang pemuda cukup tampan dengan pakaian seperti orang pelajar, tangannya membawa kipas, sayang nampaknya agak ceriwis. Dia bukan lain dari pada Bu-theng Kongcu. Di belakangnya ada dua orang pemuda dan tiga orang laki-laki berpakaian hitam dan membawa pedang selaku pengiringnya.

Kongcu itu begitu melihat Hui Kiam, wajahnya segera berobah, kemudian ia berkata:

"Manusia benar saja, dimana selalu akan berjumpa, kita kembali bertemu di sini!"

"Orang she Kang, hari ini kau jangan berharap bisa kabur lagi dalam keadaan hidup!” jawab Hui Kiam dingin.

“Mustahil."

Ucapan selanjutnya mendadak ditelan kembali. Sepasang matanya terus memandang paras Tong-hong Hui Bun dengan mata liar. Lama sekali, ia baru berkata lagi sambil tertawa cengar-cengir:

"Nona benar-benar bagaikan dewi yang turun dari kahyangan, aku yang rendah sungguh beruntung dapat berjumpa dengan nona, maafkan dosaku yang berlaku lancang ini!"

Mata Hui Kiam memancarkan sinar beringas kalau ia ingat bagaimana perbuatan Kongcu biadab itu hendak memperkosa diri Wanita Tanpa Sukma. Ia merasa benci terhadap sikapnya itu yang ditujukan kepada Tong-hong Hui Bun itu. Perempuan cantik ini kini sudah mempunyai tempat terpenting dalam hati Hui Kiam, ini juga berarti bahwa Hui Kiam selama itu bersikap dingin, ternyata sudah timbul cintanya terhadap perempuan yang mempunyai kecantikan luar biasa itu. Sudah tentu ia tidak dapat membiarkan kelakuan kongcu yang cerewet itu. Selagi hendak bertindak..... Sukma Tidak Buyar tiba-tiba mengeluarkan suara batuk-batuk. Ia memberi isyarat dengan mata kepada Hui Kiam sehingga Hui Kiam mengurungkan maksudnya.

Alis To-hong Hui Bun berdiri. Dengan suara yang merdu ia berkata:

"Kau panggil aku nona, itulah kurang tepat, panggil aku cian- pwee masih boleh. Aku sedikitnya   lebih   tua    duapuluh tahun dari usiamu!"

Untuk sesaat lamanya Bu-theng Kongcu nampak tercengang, tetapi ia berkata sambil tertawa cengar-cengir:

“Nona main-main.    "

"Apa yang kuucapkan adalah hal yang sebenarnya!”

"Kalau begitu, baik aku menurut panggil kau cianpwe, bolehkah aku numpang tanya. ”

“Siapakah namamu?"

"Namaku Kang-Lie, julukanku Bu-theng Kongcu!"

Sehabis berkata kembali ia menjura, semua tulang-tulangnya agaknya merasa lemas, sikapnya itu sesungguhnya sangat memuakkan.

Dengan senyuman sangat mengiurkan Tong-hong Hui Bun berkata:

"Oh, kau adalah Bu-theng Kongeu Kang-Lie!"

Bu-theng Kongcu nampaknya girang sekali, sikapnya sebagai pemuda yang gemar pipi licin telah ditunjukkan dengan nyata. Sambil kipas-kipaskan kipasnya ia berkata:

"Apakah Cian-pwee sudah lama tahu namaku yang rendah?" “Kabarnya Bu-theng Kongcu kalau membunuh orang tidak

membiarkan    bangkainya    tinggal    utuh,    kalau    memperkosa

perempuan tidak pernah meninggalkah nyawanya. Apakah semua itu benar?” Wajah Bu-theng Kongcu berobah seketika, tetapi sebentar saja balik seperti biasa. Sambil menggoyang-goyangkan tangannya ia menjawab:

"Cianpwe jangan mendengarkan segala kabar bohong yang tersiar di luaran, kau lihat apakah aku orang semacam itu?"

"Dengan maksud apa kau datang kemari?"

"Hanya ingin menonton keramaian. Sungguh tidak disangka aku berjumpa dengan Cianpwee, aku benar merasa sangat beruntung sekali."

“Sudah cukup kata-katamu?"

“Oh! Cianpwe masih belum memberitahuku namanya yang mulia... ?"

Senyum yang terakhir di bibir Tong-hong Hui Bun telah lenyap seketika, parasnya yang menggiurkan diliputi oleh kcmurkaan. Kemudian ia berkata:

“Kang Lie, dengan memandang muka gurumu kali ini aku beri ampun kepadamu satu kali. Lekas kau enyah dari sini!”

Hui Kiam saat itu juga hampir tidak dapat mengendalikan kemarahannya, tetapi di lain pihak ia juga merasa bingung dan terheran-heran ketika mendengar perkataan perempuan cantik itu tadi. Dilihat dari luar, usia Tong-hong Hui-Bun belum cukup tiga puluh tahun, tetapi mengapa ia menyuruh Bu-theng Kongcu memanggilnya Cianpwee? Dari pembicaraannya jelas ia merupakan seorang Kang-ouw kawakan.

Bu-theng Kongcu ketika mendengar perkataan Tong-hong Hui Bun nampaknya sangat terkejut sehingga mundur selangkah dan kemudian berkata:

"Apakah Cianpwee juga kenal suhuku?"

"Aku menyuruhmu pergi!” jawab Tong-hong Hui Bun dingin. Bu-theng Kongcu nampak berpikir keras, kemudian dengan sekonyong-konyong timbul pula sikapnya yang bawel. Dengan bertindak maju semakin dekat ia berkata:

"Aku sudah mendapat warisan suhu."

Perkataan itu siapapun mengerti apa yang dimaksudkan sebab, guru pemuda   ceriwis itu bukan saja berkepandaian tinggi tetapi juga terkenal romantis dengan perbuatannya yang cabul.

Hui Kiam hampir bergerak. Ia tidak menyangka bahwa kongcu biadab itu berani berlaku tidak senonoh terhadap wanita pujaannya itu.

Sekali lagi Sukma Tidak Buyar mencegah Hui Kiam bertindak, ia memberi isyarat supaya menunggu dulu reaksi Tong-hong Hui Bun.

Perempuan muda yang berdiri di belakang Tong-hong Hui Bun, dengan paras gusar berkata kepada Tong-hong Hui Bun dengan suara pelahan:

"Ibu majikan!"

Perkataan ibu majikan itu membuat Hui Kiam sekujur badannya dirasakan dingin. Kalau begitu perempuan cantik itu sudah bersuami.

Tong-hong Hui Bun dengan tangannya memberi isyarat kepada wanita di belakangnya supaya tak berbicara, kemudian dengan sekonyong-konyong parasnya menunjukkan senyumnya yang menggiurkan, lalu berkata:

"Kang Lie, jadi kau tidak tega meninggalkan aku?"

Bu-theng Kongcu benar-benar sudah hampir tidak terkendalikan.

Sambil membongkokkan badan ia berkata:

"Aku dengan sungguh-sungguh mengharap dapat melakukan apa-apa untuk kepentingan perempuan cantik semacam kau, setiap waktu aku selalu turut perintahmu!"

"Apakah itu benar?" "Sekalipun mati aku juga tidak berani berbuat yang berlawanan dengan kehendakku!"

Tong-hong Hui Bun tiba-tiba berkata dengan suara bengis:

"Baik, aku sekarang menyuruhmu mati dengan segera. Lebih dulu korek dua biji matamu, kemudian kau belah sendiri perutmu supaya aku bisa melihat kau apa benar-benar tidak mempunyai usus."

Bu-theng Kongcu melompat mundur tiga-empat langkah. Ia berkata dengan suara gemetar:

“Ini… ini….”

“Aku menyuruhmu pergi, tetapi kau sebaliknya tidak tahu diri!" "Cianpwee barang kali main-main saja."

"Bukan main-main melainkan bersungguh-sungguh!” "Bukankah Cianpwee berkata kenal dengan suhu?" “Tidak usah banyak bicara, lekaslah bertindak!”

Dalam waktu sekejap mata saja suasana telah berobah seluruhnya.

Wajah Bu-theng Kongcu beberapa kali menunjukkan perobahan.

Akhirnya ia bersikap seseorang yang minta dikasihani. Ia berkata:

"Cian-pwee mungkin percaya segala omongan yang tersiar di dunia Kang-ouw mengenai diriku. Sebetulnya aku. "

To-Hong Hui Bun segera mengulapkan tangan dan berkata kepada perempuan muda di belakangnya:

"Siao Ciau, bereskanlah dia!"

Perempuan muda itu lalu bertindak maju....

Bu-theng Kongcu menunjukkan senyumnya yang ceriwis. Ia berkata kepada perempuan itu sambil menunjuk dengan kipasnya: "Nona begini cantik aku benar-benar tidak tega merusaknya. Begini saja…" ia lalu berpaling dan berkata kepada salah seorang anak muda di belakangnya:

“Kau temani nona ini main-main beberapa jurus saja, tetapi jangan bertindak terlalu berat!"

Tindakan Kongcu itu sudah nyata, karena kedudukannya sendiri, ia tidak mau bertanding dengan orang bawahannya orang cantik itu.

Perempuan muda itu semakin gusar karena dianggapnya tidak dipandang mata oleh Bu-theng Kongcu.   Saat itu ia juga berada tidak jauh di depan Kongcu, sedangkan Tong-hong Hui Bun menyaksikan semua itu dengan berseri-seri, nampaknya tidak seperti sedang menghadapi pembunuhan.

Sekujur badan Hui Kiam gemetar, ini berlainan sekali dengan sifat biasanya. Sudah beberapa kali ia pernah menghadapi kematian, tapi belum pernah sedemikian terpengaruh perasaannya.

Sebaliknya dengan Sukma Tidak Buyar saat itu nampak sangat tenang sekali, itulah menunjukkan kecerdasan berpikir pemuda itu. Dengan suara perlahan ia berkata kepada Hui Kiam:

"Toako, kita menonton saja, jangan bertindak apa-apa."

Sifatnya pemuda pengawal Bu-theng Kongcu itu nampaknya sudah ketularan sifat Kongcunya, dengan sinar matanya yang ceriwis terus memandang perempuan muda itu seraya berkata:

"Nona, aku Tan Peng.   ”

Tetapi sebelum dapat mengeluarkan perkataan selanjutnya, mulutnya sudah mengeluarkan jeritan, kakinya mundur terhuyung- huyung dan kemudian rubuh di tanah tidak bisa bangun lagi.

Perempuan muda itu bertindak terlalu cepat juga terlalu tiba-tiba, hampir semua orang tidak melihat dengan cara bagaimana ia turun tangan membinasakan lawannya.

Hui Kiam dan Sukma Tidak Buyar yang menyaksikan itu juga tercengang. Kepandaian perempuan itu sesungguhnya sangat mengejutkan. Sebaliknya dengan Tong-hong Hui Bun, sikapnya masih biasa seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Bu-theng Kongcu dan empat orang pengawal yang lainnya, seketika tertegun, wajahnya berobah.

Perempuan muda itu dengan sikapnya tetap dingin berkata kepada Bu-theng Kongcu:

“Sekarang aku hendak membunuhmu!"

Bu-theng Kongcu mengawasi bangkai pemuda bekas pengawalnya sejenak lalu berkata kepada Tong-hong Hui Bun:

---ooo0dw0ooo---