Pedang Pembunuh Naga Jilid 06

Jilid 06

KEDUA pihak sudah terluka tetapi pertempuran berlangsung terus. Malaekat Bumi serangannya sudah mulai kendor, walaupun demikian karena kekuatan dalam Hui Kiam sudah mulai berkurang, maka kalau dibanding keadaannya Hui Kiam yang lebih berbahaya.

Sementara itu Sukma Tidak Buyar sudah terkena serangan Manusia Gelandangan, mulutnya sudah mulai mengeluarkan darah.

Hui Kiam yang menyaksikan keadaan demikian, lalu mengerahkan seluruh sisa tenaganya, dengan secara kalap melancarkan serangannya.

Saat itu terdengar suaranya Sukma Tidak Buyar: “Penggali Makam, aku sudah pasti akan mati. Kau masih belum ingin pergi, apakah kau ingin mati bersama-sama? Bocah, ingatlah musuhmu….”

Tetapi pada saat itu kembali ia terkena salah satu serangan lagi sehingga badannya sempoyongan hendak pergi.

Mendengar perkataan terakhir dari Sukma Tidak Buyar tadi, dalam hati Hui Kiam lalu menjerit: “Ya, aku tidak boleh mati!”

Dengan sisa tenaganya ia melancarkan serangan untuk paksa mundur dua musuhnya, kemudian ia melompat melesat sambil berseru: “Manusia Gelandangan, satu hari kelak aku akan cincang tubuhmu!”

Setelah mengucapkan demikian, ia sudah berada di tempat jauh sejauh delapan tombak.

“Bocah, lari ke utara!”

Baru saja Hui Kiam merasa heran, ia sudah melihat Sukma Tidak Buyar yang mengeluarkan ucapan tadi sudah rubuh di tangan Manusia Gelandangan.

Hati Hui Kiam merasa sedih sekali, tetapi dalam keadaan demikian ia sudah tidak mempunyai tenaga untuk membantu kawannya.

Sebentar kemudian sepuluh lebih orang berpakaian hitam kembali sudah mengerubuti padanya.

Perasaan gemas dan ingin hidup, menyebabkan Hui Kiam melawan mati-matian kepada musuh-musuhnya itu. Setelah tiga musuhnya binasa di tangannya, yang lainnya merasa gentar.

Hui Kiam melompat melesat lagi. Pikirannya agak kalut. Ia cuma ingat pesan Sukma Tidak Buyar, lari menuju ke arah utara.   Tapi apa sebabnya harus menuju ke arah utara ia sudah tidak dapat memikirkan lagi.

Di antara riuhnya suara bentakan, orang-orang Bulan Emas mulai mengejarnya. Hui Kiam mengerahkan ilmunya lari pesat kabur ke arah utara.

Luka di badannya mengeluarkan darah. Akan tetapi ia tidak menghiraukan sama sekali. Ia mengerti, apabila ia kendorkan kakinya, sekalipun tidak dibunuh mati oleh musuhnya juga akan tertangkap hidup.

Lari belum berapa lama, orang yang mengejar sudah nampak di belakang dirinya. Pikirannya semakin kalut, hanya rasa dendam dan gemas memenuhi otaknya.

Tiba-tiba di hadapannya terbentang sebuah sungai. Di atas sungai melintang suatu jembatan batu.

“Habislah!' demikian Hui-Kiam mengeluh dalam hati sendiri.

Bayangan maut mulai terbayang dalam otaknya.

Di belakang dirinya ia mendengar suara Manusia Gelandangan yang memberi perintah kepada anak buahnya: “Pegat padanya, tangkap hidup-hidup, jangan biarkan melalui jembatan!”

Hui Kiam menggunakan sisa tenaganya yang terakhir menerjang jembatan. Di belakang dirinya merasa hembusan dari serangan orang banyak, sehingga ia terpental dan roboh di ujung seberang jembatan.

Ia telah roboh tidak bisa bangun lagi. Kaki dan tangannya sudah tidak dapat digerakkan, hanya hatinya masih memikirkan bahwa biar bagaimana ia tidak boleh mati. Akan tetapi maut sudah berada di depan matanya, apakah ia dapat menolak?

Entah berapa lama telah berlalu ingatannya telah pulih kembali. Pertama ia merasakan dirinya sendiri masih hidup, ini agaknya tidak mungkin kecuali....

Ia membuka matanya.   Kenyataan membuat ia terheran-heran. Ia masih rebah menggeletak di ujung jembatan. Di lain ujung Manusia Gelandangan dan semua orang-orang Bulan Emas masing- masing nampak berdiri menunggu.

Heran, mengapa mereka tidak melalui jembatan itu untuk menangkapnya? Ia mencoba menggerakkan badannya. Sekujur badannya dirasakan sakit, tangan kakinya dirasakan lemas, tenaganya sudah tak ada. Ia mengira dirinya sedang bermimpi tetapi semuanya merupakan suatu kenyataan. Hal ini sangat mengherankan, apakah yang mereka tunggu?

Ataukah mereka ada merasa jeri menghadapi sesuatu? Itu mungkin, sebab Manusia Gelandangan pernah menyuruh orang- orangnya merintangi dirinya jangan sampai menyebrangi jembatan. Apakah maksudnya? Dan apa sebabnya pula Sukma Tidak Buyar menyuruh ia lari ke arah utara...?

Mengingat akan dirinya Sukma Tidak Buyar, ia merasa sedih dan menyesal yang selama itu ia belum pernah merasakannya, sehingga pada saat menghadapi kematiannya, ia masih bclum percaya seluruhnya kepada kawan yang aneh sifatnya itu. Tetapi sekarang, ia tahu bahwa Sukma Tidak Buyar itu tiada bermaksud jahat. Namun sudah terlambat, kawannya itu sudah mati. Andaikata dalam dunia ini ada benar-benar 'setan’ dan 'sukma’, maka sukmanya gugur, mungkin benar-benar tidak buyar.

Menuntut balas. Ia harus menuntut balas bagi sahabatnya itu.

Ia harus mencincang tubuhnya Manusia Gelandangan itu.

Tetapi apakah kekuatannya sendiri dapat melaksanakan tugas itu? Dengan tiba-tiba ia teringat lagi kitab Thian-kie Po-kip bagian bawah. Dalam dugaannya, kepandaian ilmu silat yang tertulis di dalam kitab itu pasti merupakan suatu ilmu kepandaian yang tidak ada taranya. Pelajaran yang ia pelajari dari bagian atas, kecuali kepandaian dasar cuma satu pelajaran ihnu pedang yang mempunyai gerak tipu hanya satu jurus saja. Walaupun demikian, namun ilmu pedang sejurus ini pernah digunakannya untuk membunuh empat jago pedang golongan Khong-tong-pai, dan beberapa orang dari Persekutuan Bulan Emas.

Dari situ ia teringat pula dirinya Leng-gie Sieseng. Besar kemungkinannya bahwa kitab pusaka itu sudah terjatuh dalam tangannya. Jikalau tidak lekas didapatkan kembali, setelah jago ahli racun itu berhasil mempelajari isinya, maka…. Memikir sampai di situ, ia merasa ngeri sendiri.

Dengan tanpa disengaja matanya dapat melihat sebuah batu di atas jembatan yang terdapat tulisan yang sangat menyolok. Tulisan itu berbunyi: “Siapa yang lewat jembatan ini harus mati.”

Kini ia tersadar apa sebabnya orang-orang itu tidak berani mengejar melewati jembatan itu. Akan tetapi siapakah gerangan yang mengadakan larangan itu? Mengapa sampaipun orang Bulan Emas juga tidak berani melanggar?

Kini ia telah melewati jembatan itu sehingga tidak mati di tangan musuh-musuhnya, akan tetapi, mungkinkah ia lolos dari tangan orang yang mengadakan larangan itu?

Sementara itu ia mulai memperhatikan keadaan sekitarnya. Ia melihat sebuah jalanan kecil yang terus menuju ke dalam sebuah rimba. Samar-samar dalam rimba itu tampak ujungnya sebuah loteng. Karena pada saat itu dia sendiri sedang rebah terlentang di atas jalanan kecil itu, maka ia menduga bahwa jembatan batu ini dibuat oleh penghuni loteng merah itu, jadi bukan untuk jalan umum, pantas ia mengadakan larangan demikian.

Siapakah gerangan penghuni loteng itu? Mengapa ia mengadakan larangan yang kejam itu?

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara Manusia Gelandangan yang ditujukan kepada penghuni loteng itu. “Aku Ciok Sian Ceng, komandan pasukan Persekutuan Bulan Emas ingin memberitahukan kepada tuan rumah loteng merah. Bocah ini nama panggilannya Penggali Makam, tidak jelas asal usulnya, karena ia selalu bermusuhan dengan persekutuan kita, maka merupakan musuh yang pemimpin kita pasti dapatkan. Sudilah kiranya tuan rumah memberi kelonggaran kepada kami untuk membawa pulang bocah ini!”

Dalam hati Hui Kiam memaki: “Hm, ucapannya seorang budak yang tak tahu malu!”

Suara tindakan kaki orang berjalan tetdengar nyata, dan berhenti samping kepalanya. Pertama yang tampak dalam matanya adalah sepasang sepatunya yang bersulam indah, lagi ke atas, gaunnya yang bewarna lila, lalu baju atasnya yang bewarna serupa, dengan potongan yang ceking dan akhirnya potongan raut mukanya yang cantik, sayang diliputi oleh sikapnya yang dingin angkuh.

Siapa dia? Penghuni loteng merah, ataukah orang bawahannya? Perempuan cantik berpakaian lila itu akhirnya membuka mulut.

Satu pertanyaan ditujukan kepada dirinya:

“Kau bergelar Penggali Makam?”

Hui-Kiam setelah mendapat istirahat cukup lama, tenaganya berangsur-angsur mulai pulih kembali. Sambil menunjang dengan tangannya, ia bangun sendiri untuk menghadapi nona cantik berbaju lila itu.

Nona itu usianya sekitar tujuh belasan. Cantik memang cantik, cuma sikapnya terlalu dingin sehingga kelihatannya sangat sombong.

“Benar! Bolehkah aku bertanya….”

Perempuan cantik itu tidak memberikan kesempatan untuk ia memajukan lain pertanyaan, sudah memotong dengan nada suara dingin:

“Apakah kau tahu peraturan di sini?” “Peraturan apa?”

“Apakah kau tidak melihat larangan yang tertulis di atas batu?” “Sekarang sudah tahu!”

“Kalau begitu kau sudah boleh mati dengan puas ”

Tangannya segera diangkat, hendak menepok batok kepala Hui- Kiam.

Hui-Kiam sejak dapat lihat batu yang tertulis larangan itu, sudah tidak menghiraukan soal mati hidupnya sendiri, maka selagi menghadapi bahaya maut, ia juga tidak gentar bahkan masih berani berkata: “Sebelum aku mati, aku ingin tahu dulu nama penghuni tempat ini!''

“Bukankah itu percuma saja?”

“Mati di tangan seorang yang tidak tahu namanya, bukankah itu terlalu kejam?”

“Terpaksa kau harus menerima nasib. Tuan rumah di sini selamanya belum pernah memberitahukan namanya kepada orang luar!”

Hui-Kiam mengangkat kepala, matanya memandang ke angkasa.

Dengan tidak menunjukkan sikap apa-apa ia berkata: “Bunuhlah !”

“Kau benar seorang yang tidak takut mati!”

“Aku selamanya belum pernah minta ampun kepada siapapun juga!”

Paras perempuan cantik itu berubah seketika. Ia berkata dengan suara duka:

“Kau seorang laki-laki gagah, tetapi tidak lepas dari kematian.” Dengan cepat tangannya lalu bergerak hendak mencabut nyawa

Hui Kiam........

Hui-Kiam sebetulnya masih belum rela mati, tetapi saat itu ia sudah tidak mempunyai kekuatan untuk melawan. Pikirannya, mati secara demikian, setidak-tidaknya lebih baik daripada terjatuh di tangan Manusia Gelandangan yang sudah terang menjadi kaki tangan Persekutuan Bulan Emas.

Pada saat yang sangat berbahaya itu, tiba-tiba terdengar satu suara dari jauh:

“Bawa dia kemari menemui aku!”

Tangan pe.cmpuan cantik itu yang sudah hampir jatuh di batok kepala Hui-Kiam, hanya tinggal menyalurkan kekuatan tenaga dalam saja, ketika mendengar suara itu segera menarik kembali tangannya dan berkata:

“Kau adalah orang pertama yang ditarik kembali dari tepi jurang maut. Apakah kau bisa berjalan?”

Hal itu sesungguhnya di luar dugaan Hui-Kiam. Ia tahu bahwa orang yang memberi perintah itu pasti adalah penghuni loteng merah itu, tetapi di luar tidak menunjukkan sikap apa-apa sambil menganggukkan kepala ia berkata:

“Mungkin bisa!”

“Kalau begitu mari ikut aku!”

Setelah melalui jalan kecil itu, masuklah ke dalam rimba.   Di ujung rimba, terdapat dinding tembok warna merah.   Dua pintu yang dijaga berwarna merah nampak terbuka sebelah. Dalam pintu banyak terdapat tanaman bunga mengelilingi.

Menghadapi pemandangan indah dan agak luar biasa itu, Hui Kiam tidak timbul reaksi apa-apa, dalam otaknya hanya memikirkan bagaimana harus menghadapi penghuni loteng merah itu dan nasib apalagi yang harus dihadapi.

Seciap orang yang sudah tidak menghiraukan soal hidup matinya, dapat menghadapi kematian tanpa mengeluh atau mengerutkan keningnya. Tetapi jika ancaman maut itu kendor, perasaan ingin hidup timbul lagi. Setiap orang ingin hidup, tidak ada orang yang tidak takut mati. Hanya tidak ada orang yang sudah putus harapan dalam hidupnya, tidak mau bergulat untuk mempertahankan hidupnya, dapat menghadapi kematian dengan tenang. Perbedaan takut mati dengan tidak takut mati, hanya terpisah seutas tali saja.

Perbedaaan seorang gagah dengan seorang pengecut, juga hanya begitu saja.

Di bawah loteng, di atas batu lantai yang terbuat dari batu putih, berdiri dua perempuan muda berpakaian warna lila, semuanya cantik-cantik. Perempuan cantik yang membawa masuk Hui Kiam, berhenti di tengah pekarangan, berkata dengan sikap sangat menghormat:

“Tuan putri, orangnya sudah datang.”

Di atas loteng, di pinggir langkan, muncul seorang perempuan muda yang juga berpakaian warna lila, berkata dengan suara nada lembut:

“Ciecie, bawa itu orang ke ruangan barat, tuan putri kan menanyakan kepadanya sendiri.”

Jawab wanita itu kemudian berkata kepada Hui Kiam: “Mari ikut aku!”

Hui Kiam meski merasa tidak senang di bawa kesana kemari bagaikan seorang tawanan, tetapi karena tertarik oleh keinginannya untuk mengetahui rahasia di loteng merah itu, ia ingin melihat bagaimana macamnya orang yang menjadi tuan rumah tempat itu, maka ia mengikutinya sambil menutup mulut.

Setelah melalui jalan berliku-liku, tibalah ke satu rumah sisi loteng, mungkin itu yang dikatakan ruangan barat.

Hui Kiam disuruh berdiri di luar ruangan.

Ruangan itu terdapat enam buah kamar yang masing-masing dihiasi sangat indah.   Orang yang   berada di luar tak dapat melihat keadaan dalam kamar.

Lama sekali, dari belakang tirai pintu kamar terdengar suara seorang wanita yang agak sedikit parau:

“Kaukah yang bernama Penggali Makam?” “Ya, adakah nona tuan rumah di sini?”

“Benar! Penggali Makam, nama julukanmu ini dari mana asalnya?”

“Aku telah bertekad hendak menggali makam bagi orang-orang jahat di dunia.” “Hem, hem. Sangat unik sekali. Kalau begitu kau telah menganggap dirimu sendiri seorang pendekar dari golongan kebenaran?”

“Aku tidak mempunyai maksud itu!”

“Kau dengan Persekutuan Bulan Emas ada permusuhan apa sampai dikejar demikian rupa?”

“Permusuhan atau tidak, tidak ada bedanya, karena Persekutuan Bulan Emas tidak dapat membiarkan hidup kepada orang-orang yang tidak mau mengikuti kehendaknya.”

Hening sejenak. “Siapa gurumu?”

“Tentang ini, maaf aku tidak dapat memberitahukannya!”

“Hem, hem, tahukah kau bahwa tiap orang yang menyeberang jembatan itu tiada satu yang akan hidup lagi?”

“Tahu!”

“Bagaimana pikiranmu?”

“Mati ya, mati saja, apa yang dibuat pikiran?”

“Andaikata aku beruntung sehingga tidak mati, satu hari kelak aku juga akan menggali tanah bagi makammu!”

“Kau sangat sombong dan kejam!” “Begitulah!”

“Baru saja kau katakan andaikata tidak sampai mati, apakah kau anggap masih ada kesempatan?”

Hui Kiam tertegun, mututnya membungkam. Memang kesempatan itu boleh dikatakan sedikitpun tidak ada, kecuali apabila kekuatan tenaganya sudah pulih kembali seluruhnya. Tetapi terhadap seorang sangat aneh yang masih dimalui oleh Persekutuan Bulan Emas, sekalipun kekuatan tenaganya masih ada, harapan untuk bisa keluar dari tempat itu juga masih merupakan satu pertanyaan besar. Kembali terdengar pertanyaan dari penghuni loteng merah: “Bagaimana kau tahu bahwa oreng-orang yang masuk kemari,

semua adalah orang yang tak berdosa?”

Hui Kiam kembali bungkam. Larangan meski kejam tetapi sudah dijelaskan di dalam batu pada papan pcringatan, jadi jikalau orang tidak melanggar juga tidak akan mengalami kematian.

Jikalau bukan orang yang sengaja masuk dengan maksud tertentu, tidak nanti ada yang berani menentang maut. Tetapi bagaimana dengan dia sendiri? Kematian itu seharusnya ia terima ataukah tidak? Berpikir demikian, ia lalu menjawab dengan suara dingin:

“Contohnya seperti aku ini, adalah orang yang tidak berdosa!” “Apakah kau dengan alasan ini ingin supaya aku memberi

perkecualian kepadamu?”

“Aku tidak bermaksud minta dikasihani oleh siapapun juga!” jawab Hui Kiam gusar.

“Heemm, kau seorang laki-laki sejati, jikalau kau berlalu dari sini dalam keadaan hidup, apa kau yakin bisa meloloskan diri dari kejaran orang-orang Bulan Emas?”

“Ini adalah soal lain!”

“Kuberitahukan kepadamu, pada dewasa ini, yang dapat menghindarkan kejaran dari orang-orang Bulan Emas, kecuali loteng merah ini, barangkali susah untuk mencari tempat perlindungan yang lebih baik.”

“Apa maksud nona?”

“Tidak apa-apa, aku hanya memberitahukan kepadamu satu kenyataan saja.”

“Nona ingin perlakukan aku bagaimana?” “Membiarkan kau berlalu dari sini!” Jawaban itu sesungguhnya di luar dugaan Hui Kiam.   Dalam rimba persilatan, tiap orang vang mengadakan larangan kebanyakan adalah orang-orang yang beradat aneh, orang yang demikian jarang sekali yang mau merusak peraturannya sendiri, dan kini perbuatan penghuni loteng merah ini telah berbuat demikian, satu-satunya sebab mungkin mengandung lain maksud.

Penghuni loteng merah itu agaknya sudah menduga pikiran Hui Kiam. Ia berkata pula:

“Kau adalah orang pertama yang keluar dari loteng merah itu dalam keadaan hidup, tetapi juga merupakan orang pertama yang masuk kemari dengan tiada disengaja!”

Maksud perkataan ini sudah jelas bahwa penghuni loteng merah ini bukan seorang jahat yang gemar membunuh orang, dulu orang- orang yang dibunuh tentu semuanya mengandung maksud tertentu, sehingga itu berarti mencari mati sendiri.

Namun demikian Hui-Kiam masih belum hilang rasa curiganya, maka ia lalu bertanya:

“Tanpa syarat?” “Ada!”

“Apa syaratnya?”

“Syarat ini bukan dimestikan sebagai syarat untuk menukar kemerdekaanmu, melainkan syarat lain.”

“Aku ingin mendengarnya!”

“Aku ir.gin menggunakan obat mustajab buatanku sendiri supaya luka-lukamu sembuh dan kekuatan serta kepandaianmu kembali seluruhnya. ”

“Syaratnya?”

“Mudah sekali, ceritakan riwayatmu!”

Hui Kiam terperanjat. Apakah maksud penghuni loteng merah ini, tertarik oleh perasaan heran, ataukah....... Jika ia memberitahukan asal usul dirinya dan suhunya, hal itu akan mengakibatkan terjadinya sesuatu yang tidak diingini.    Maka ia lalu menjawab:

“Syarat ini maaf aku tidak dapat menerima!”

“Penggali Makam, mengertikah kau bahwa jiwamu saat ini masih bukan kepunyaanmu sendiri?”

'Mengerti!”

“Kau tidak terima baik syarat ini?” “Tidak!”

“Dengan lain perkataan, kau lebih suka mati daripada memberitahukan asal usulmu?”

“Apakah nona hendak menggunakan kematian untuk mengancam aku?”

“Itu bukan berarti ancaman, kau memang adalah orang yang pasti mati!”

“Asal usulku, apa sebab kau anggap begitu penting bagimu?” “Mungkin tidak ada harganya, tetapi juga mungkin sangat

penting!”

Hui Kiam berpikir sejenak lalu berkata:

“Jika nona suka menerangkan sebab-sebabnya, barangkali aku dapat mempertimbangkan jawaban tentang asal usul diriku itu.

“Penggali Makam, ucapanmu ini berarti kau telah mengambil alih kedudukanku sebagai tuan rumah?”

“Jika nona menganggapnya tidak pantas, boleh tidak usah terima!”

“Penggali Makam, kau adalah seorang paling sombong yang pernah kujumpai, terpaksa aku merobah lagi pikiranku. Kau ada membawa pedang, tentunya paham ilmu pedang. Sekarang aku memberikan kepadamu satu kesempatan yang paling adil. Kau akan menggunakan kepandaianmu untuk menentukan nasibmu sendiri. Orang yang berdiri di sampingmu itu, adalah muridku yang pertama, Siu-Bie. Jikalau kau bisa membunuhnya mati, kau boleh berlalu dari sini. Tetapi jikalau tidak, kau akan terbunuh.”

Hui Kiam melirik kepada perempuan cantik di sampingnya, nampaknya sangat dingin tidak menunjukkan sikap apa-apa.

Penghuni loteng merah itu berkata pada Siu Bie:

“Berilah kepadanya dua butir pil supaya ia pulih kekuatannya.

Satu jam boleh dimulai!” “Baik!”

Nona berbaju lila itu segera berlalu dan masuk ke belakang pintu.

Dalam hati Hui Kiam timbul macam-macam perasaan. Maksud penghuni loteng merah itu sesungguhnya sudah diduga, ia telah menggunakan jiwa muridnya sendiri sebagai barang taruhan. Jikalau tidak mempunyai keyakinan cukup tentunya adalah satu perbuatan gila.

Tidak berapa lama, perempuan berbaju lila itu nampak keluar lagi. Dari tangannya memegang dua butir pel yang berwarna putih. Dengan sikapnya yang tenang sekali ia berkata:

“Telanlah ini, satu jam kemudian akan pulih kembali kekuatanmu.”

Dengan perasaan agak bingung Hui-Kiam menyambuti pel itu dan segera ditelannya. Perempuan itu berlalu lagi. Hui-Kiam setelah mengawasinya sejenak, lalu duduk bersemedi untuk memulihkan kekuatannya.

Pel itu sesungguhnya sangat mujijat, begitu masuk ke dalam perut segera merasakan aliran hawa panas ke seluruh badan. Ia buru-buru pejamkan matanya untuk mengatur pernapasannya.

Ketika ia sadar, rasa sakitnya hilang sama sekali, kekuatan tenaga dalamnva sudah pulih kembali.   Saat itu ternyata sudah senja hari. Perempuan yang dipanggil Siu-Bie itu, dalam sekejap sudah berdiri di hadapannya sambil menenteng pedang. Ia segera melompat bangun, sementara itu dari belakang pintu terdengar suaranya penghuni loteng merah yang berkata:

“Penggali Makam, bertenpurlah untuk mempertahankan jiwamu!”

Hui Kiam bersama Siu Bie berjalan menuju ke pekarangan dan berkata dengan nada suara dingin:

“Apakah kita tidak boleh tidak harus bertempur sampai ada salah satu yang mati?”

“Sudah tentu!”

“Bukankah itu terlalu kejam?”

“Jikalau kau anggap kau sendiri seorang budiman, kejamlah terhadap dirimu sendiri!”

Hui Kiam menggertakkan gigi. Ia berpaling menghadapi perempuan baju lila. Sambil menghunus pedangnya ia berkata: “Silahkan, nona.”

Perempuan itu berkata dengan suara gemetar:

“Ini adalah suatu pertempuran antara mati dan hidup, apakah kau mengerti?”

“Mengerti!”

“Di sini aku adalah tuan rumah dan sebagai tetamu, maka seharusnya kau yang mulai lebih dulu!”

“Aku dengan nona, tidak mempunyai permusuhan apa-apa, hanya nonamu sendiri yang bermaksud demikian, jangan sesalkan aku seorang kejam.”

“Jangan terlalu mengandalkan dirimu sendiri.”

Ucapan itu hampir merupakan suatu ejekan sehingga membuat perasaan tidak lega Hui Kiam lenyap seketika. Membunuh orang, baginya bukan merupakan soal apa-apa, akan tetapi juga harus dilihat persoalannya. Dipaksa untuk melakukan pembunuhan, ini merupakan pengalamannya yang pertama.

Karena keadaan sudah mendesak, tak boleh ia tidak melakukan, sebab kalau ia tidak membunuh itu berarti ia sendiri akan terbunuh. Tidak mempunyai plihan lain, juga tidak ada yang dipertimbangkan lagi.

“Sambutlah!”

Setelah mengeluarkan ucapan demikian, ia mulai membuka serangannya.

Sebentar terdengar suara beradunya senjata. Serangannya yang begitu hebat, ternyata dapat ditangkis oleh lawannya. Ia terkejut, kepandaian dan kekuatan perempuan itu jauh lebih tinggi dari apa yang ia bayangkan. Perasaan berat dirasakan menindih hatinya.

Kini adalah gilirannya perempuan itu balas menyerang. Gerak tipunya yang ganas telah memaksa Hui Kiam mundur dua langkah.

Dengan tanpa ragu-ragu lagi, ia mengerahkan seluruh kekuatan dan kepandaiannya untuk balas menyerang.

Sinar pedang berkelebatan mengeluarkan suara beradunya dua pedang yang memekakkan telinga. Dua bayangan orang sebentar berpisah sebentar bertemu. Hui Kiam sudah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, tetapi pihak lawannya agaknya masih belum nengeluarkan seluruh tenaga. Perbedaan itu tampak nyata.

Perempuan baju lila itu menunjukkan senyum di bibirnya. Pedang di tangannya menikam dengan sikap yang tenang tidak ganas, seperti apa yang dilakukan semula. Apa yang lebih mcngherankan ialah ujung pedang itu tidak ditujukan ke bagian manapun dari badan lawannya, tetapi ditujukan ke arah tempat yang kosong di atas pundak kiri Hui Kiam.

Hui Kiam semula terkejut, tetapi kemudian wajahnya berobah, ia dapat mengenali bahwa ia sangat yakin bahwa itu ada satu gerak tipu yang amat dahsyat, tidak mudah diringkus juga tidak mudah dielakkan, untuk menyingkir saja juga sudah tidak mungkin lagi. Gerak tipunya sendiri, yang sebetulnya dapat digunakan untuk menyerang dan menjaga diri, tetapi saat itu sudah tidak berguna sama sekali.

Inilah ilmu pedang luar biasa yang pertama kali pernah dijumpainya.

Gerakan serangan pedang itu meskipun sangat terlambat, tetapi mengandung ancaman hebat. Ia tercengang dan tidak percaya, agaknya hanya bisa menantikan kematiannya saja.

Pada saat itu ujung pedang telah membuat lingkaran di tempat kosong samping dirinya dan akhirnya berhenti di salah satu bagian jalan darah atas tubuhnya. Gerakan itu agaknya membuat jalan darah di bagian atas dan tengah terancam dengan serentak.

“Tahan!” demikian suara yang keluar dari mulut penghuni itu.

Semangat Hui Kiam seketika itu dirasakan telah runtuh, kaki dan tangannya kesemutan, keringat dingin membasahi sekujur badannya.

“Aku mengaku kalah.”

Ucapan itu keluar dari milut Hui Kiam bagaikan seorang sedang mengigau, juga seperti merasa putus harapan terhadap dirinya sendiri.

Perempuan berbaju lila itu menarik pedangnya dan mundur dua langkah.

Perbuatan perempuan itu mengherankan Hui Kiam. Apakah ia harus menunggu lawannya yang bertindak? Diwajahnya yang dingin angkuh, nampak berkericut, tiba-tiba ia angkat pedangnya hendak menggorok lehernya sendiri.

Semacam kekuatan tenaga dalam telah berhasil merintangi maksud Hui Kiam, dan orang yang merintangi maksudnya itu bukan lain daripada Siu Bie.

Hui Kiam terkejut dan terheran-heran, lalu menanya dengan nada suara dingin: “Apakah maksud nona?”

Siu Bie tidak menjawab, sebaliknya   penghuni loteng merah yaag menyahut: “Penggali Makam, kau boleh pergi!”

Hui Kiam hampir tidak percaya kepada pendengaran sendiri. Tetapi wajahnya yang dingin tidak menunjukkan perasaan terkejut, juga telah menampakkan perasaan girang. Dengan suara sedih ia berkata:

“Tetapi aku kalah!”

“Benar, kau kalah tetapi juga boleh pergi!” “Kenapa?”

“Kau bukan orang yang aku cari. Maksudku minta kau turun tangan dengan Siu Bie, hanya ingin mengetahui asal-usulnya dari ge rak tipu ilmu pedangmu, walaupun aku masih belum berhasil mengenali ilmu pedangmu, tetapi itu bukan merupakan soal penting, kau boleh pergi.”

Hui Kiam kini benar-benar merasa tertarik, ia telah menghadapi suatu teka-teki yang sangat unik. Ia dapat memaafkan tindakan penghuni loteng merah seluruhnya, bahkan ia sangat berterima kasih atas pemberian obatnya yang telah memulihkan kekuatan tenaganya. ini juga berarti bahwa ia sudah terlepas dari tangan maut, maka ia lalu berkata:

“Bolehkah aku membantu nona?”

Penghuni loteng merah agaknya dikejutkan oleh pertanyaan di luar dugaannya itu.

“Apa, kau ingin membantu aku?” “Ya.”

“Sebab apa mendadak kau timbul pikiran demikian?”

“Sekedar untuk membalas budimu yang sudah memberi obat kepadaku….” “Penggali Makam, sesungguhnya tidak kusangka, meskipun sikapmu dingin tetapi hatimu hangat ”

“Aku adalah seorang yang menggariskan dengan tegas antara dendam dengan budi, tidak suka menerima budi orang secara cuma-cuma.”

“Aku memberi obat padamu bukan bermaksud melepas budi kepadamu.”

“Aku tahu, justru karena itu, maka aku majukan permintaan demikian!”

“Baiklah, kalau begitu tolong kau cari tahu tentang dirinya seseorang di kalangan Kang-ouw!”

“Bagaimana macamnya orang itu?”

“Ia ada seorang bernama Su-ma Suan, julukannya To-liong Kiam- khek!”

“Apa? To-liong Kiam-khek Su-ma Suan?” “Benar, kau kenal dengannya?”

Perasaan Hui Kiam tergetar. To-liong Kiam-khek adalah musuh besarnya yang menurut pesan ibunya harus dicari dan dibunuh mati. Terhadap pesan ini, sedikitpun ia tidak melupakan, dan kini, penghuni loteng merah itu juga minta ia mencari To-liong Kiam- khek, ini sangat kebetulan. Dengan menindas perasaan sendiri ia berkata dengan tenang:

“Aku juga justru hendak mencarinya!”

“Kau juga hendak mencari padanya? Mengapa?”

“Ini adalah satu rahasia, maaf aku tidak dapat memberitahukan!” “Kau sudah dapatkan tanda-tandanya?”

“Kabarnya sudah sepuluh tahun lebih ia menghilang dari dunia Kang-ouw. Hanya, biar bagaimanapun aku harus mendapatkan dirinya. Sekalipun ia sudah mati, juga akan dapatkan kuburannya!” “Ini sangat kebetulan. Jika menemukannya, katakan saja kepadanya apakah sudah lupakan perjanjiannya dengan loteng merah pada sepuluh tahun berselang. ”

Hui Kiam dalam hati merasa heran, pikirnya:

“Ini pasti soal asmara.”

“Kalau begitu, di sini nona menantikannya sudah lebih dari sepuluh tahun?”

“Ya.”

“Nama nona yang mulia?”

“Katakan saja padanya penghuni loteng merah, sudah cukup!”

Dalam bati Hui Kiam sebetulnya ingin tahu bagaimana paras aslinya penghuni loteng merah itu, tetapi ia tidak berani mengutarakan, tidak ada satu alasanpun baginya untuk minta nona itu menunjukkan muka juga tidak pantas untuk menanyakan rahasianya. Ia tak dapat membayangkan bagaimana reaksi nona itu kalau mendengar keterangannya bahwa To-liong Kiam-khek itu adalah musuh besarnya. Tetapi hal itu tidak boleh tidak harus diberitahukan kepadanya lebih dulu, sebab permintaan untuk melakukan sesuatu pekerjaan bagi nona itu, adalah keluar dari mulutnya sendiri, kalau ia tidak menerangkan keadaan yang sebenarnya, di kemudian hari pasti akan menimbulkan kerewelan.

Oleh karena itu, maka ia kemudian berkata:

“Ada sedikit persoalan yang harus kuterangkan lebih dulu!” “Persoalan apa?”

“Pesan nona yang minta aku sampaikan, nanti apabila aku dapat menemukan To-liong Kiam-khek, aku pasti sampaikan kepadanya, tetapi aku tidak dapat menjamin bisa membawanya kemari dalam keadaan hidup!”

“Mengapa?”

“Sebab aku sudah bersumpah hendak mengambil jiwanya!” “Kau. ada permusuhan dengannya?”

“Ya.”

“Musuh mati-matian, ataukah musuh dari ayah bundamu?” “Kenyataan memang demikian!”

“Kan jujur, jika aku minta kau menceritakan sebab musababnya permusuhan itu, kau mungkin tidak akan terima, sebab kau pernah menolak permintaanku untuk memberitahukan asal-usulmu, aku juga terus terang memberitahukan kepadamu, aku cinta padanya, andaikata untuk menghindarkan terjadinya sesuatu yang tidak diingini….”

“Kau boleh membunuhku lebih dulu!”

“Aku memang ada pikiran demikian, tetapi aku tidak dapat berbuat demikian!”

“Sebabnya?”

“Pertama, hal ini kau sendiri yang memberitahukan secara terus terang, kalau aku membunuhmu, ini berarti satu perbuatan yang kurang bijaksana. Ke-dua, aku tidak perlu khawatir, sebab kau pasti bukan tandingannya, dan ketiga, mungkin, aku sendiri juga hendak membunuhnya. ”

“Semua sudah kujelaskan, bolehkah aku sekarang pergi?”

“Kau boleh pergi!” hening sejenak, lalu perintahnya kepada Siu Bie:

“Siu Bie, antarkan ia keluar!”

Hui Kiam mengangkat tangan memberi hormat ke arah pintu kamar. Ia lalu mengikuti Siu Bie keluar dari loteng merah. Tiba di ujung jembatan ia memasang mata, ternyata sudah tak tertampak bayangannya orang-orang Persekutuan Bulan Emas, begitu pula Manusia Gelandangan Ciok Siao Ceng.

Ia berhenti dan berkata kepada Siu Bie:

“Nona Siu, sampai di sini saja, aku mohon diri.” Siu Bie memandangnya sejenak, lalu berkata:

“Hati-hatilah terhadap pembalasan Persekutuan Bulan Emas.” “Aku mengerti!”

Setelah menyebrangi jembatan, ia ingin menengok sejenak jenasah Sukma Tidak Buyar, supaya dikubur secara pantas, jangan sampai terlantar.

Tiba-tiba di tempat bekas pertempuran, ia hanya mendapatkan bekas tanda darah yang sudah kering, tidak terdapat satupun bangkai manusia, mungkin sudah dikubur.

“Tetapi siapakah gerangan yang mengubur? Mungkinkah orang- orang Persekutuan Bulan Emas sudi mengubur jenazah Sukma Tidak Buyar?”

Ia melakukan pemeriksaan sepanjang jalan sepuluh tombak, mengharap supaya mendapatkan jawabannya.

Tiba-tiba matanya dapat melihat gundukan tanah di bawah sebuah pohon besar kira-kira lima puluh tombak terpisah dari tempat ia berdiri.

Ia lalu menghampiri. Hatinya merasa pilu seketika. Benar saja, gundukan tanah itu adalah makamnya Sukma Tidak Buyar. Sebuah batu nisan yang masih baru dengan sebaris huruf yang berbunyi: Disini bersemayam seorang pendekar berkelana Sukma Tidak Buyar.

Tiada nama aslinya, hanya nama julukannya. Juga tidak diterangkan, siapa yang mendirikan kuburan itu?

Hanya di bagian kiri bawah batu nisan itu, terdapat sebaris tulisan yang isinya memuji tinggi sekali diri dan jiwa Sukma Tidak Buyar. Dikatakannya sebagai seorang pendekar yang jiwa dan sukmanya tetap hidup, benar-benar tidak buyar, melanjutkan perjuangannya menumpas kejahatan dengan semangat menyala- nyala.

Susunan kata-katanya kurang sempurna, tetapi mengandung maksud yang mendalam. Cuaca mulai gelap, burung-burung beterbangan pulang ke kandangnya, beberapa anak gembala juga sudah mulai pulang dengan binatang gembalanya, begitu pula paman-paman tani, juga berbondong-bondong pulang dari sawah, merupakan suatu pemandangan pedusunan di waktu damai. Tetapi bagi orang Kang- ouw seperti Hui Kiam, sangat berbeda keadaannya, hampir setiap saat jiwanya terancam bahaya.

Hui Kiam berdiri dengan hati sedih di hadapan kuburan Sukma Tidak Buyar, untuk memberi hormatnya yang terakhir.

Andaikata Sukma Tidak Buyar tidak berjalan bersama-sama dengannya, mungkin sekarang ia belum mati.

Mengingat sepak terjang orang-orang Persekutuan Bulan Emas ingin menguasai dunia, terutama jika teringat diri Manu:ia Gelandangan, hatinya segera menjadi panas, rasa kebenciannya meluap-luap, maka ia lalu komat-kamit dan berdoa di hadapan makam Sukma Tidak Buyar: “Kakek, aku akan menuntut balas untukmu, akan menagih hutang darah pada mereka, kau bersemayamlah dengan tenang.”

Sekonyong-konyong terdengar suara orang berkata:

“Sukma Tidak Buyar mempnnyai sahabat seperti kau, benar- benar boleh merasa bangga!”

Hui Kiam diam-diam terkejut, cepat ia berpaling dan menegur: “Siapa?”

“Aku!”

Jawaban itu disusul oleh munculnya seorang laki-laki setengah tua berpakaian sebagai seorang pelajar, dari belakang sebuah pohon besar. Ia berjalan dengan gayanya yang sopan, benar-benar seperti orang terpelajar. Namun wajahnya pucat seperti habis sembuh dari sakit. Ia berjalan sampai kira-kira lima langkah di hadapan Hui Kiam, baru berhenti.

Dengan sinar mata dingin Hui Kiam memandang kepadanya, kemudian bertanya: “Bagaimana sebutan nama tuan yang mulia?” “Sukma Tidak Buyar!”

Hui Kiam terperanjat, ia mundur dua langkah. “Apa? Tuan juga bernama Sukma Tidak Buyar?” “Benar!”

“Apa artinya ini?”

“Eh, Penggali Makam, pertanyaanmu ini sangat aneh. Apakah nama julukan Sukma Tidak Buyar itu boleh dipakai oleh orang lain, tetapi aku tidak.”

“Memakai nama julukan orang, apa tuan tidak merasa malu?”

Hui Kiam mulutnya bertanya, tetapi dalam hati diam-diam merasa heran, bagaimana laki-laki itu mengetahui nama julukannya sendiri, bahkan nampaknya seperti tidak asing sama sekali.

Laki-laki itu mengurut-urut kumisnya dan berkata dengan suara datar:

“Nama julukan cuma merupakan satu tanda bagi orang, bagaimana kau tahu aku yang memakai nama orang?   Apa tidak bisa jadi orang yang sudah mati itu yang memakai nama julukanku?''

“Tuan pandai berputar lidah tetapi orang yang sudah mati itu adalah sahabatku di masa hidupnya. Aku tidak mengijinkan orang lain menggunakan nama julukannya!”

“Maksudmu. “

“Mulai saat ini, kau tidak boleh sebut dirimu Sukma Tidak Buyar!” “Apabila aku tidak mau?”

“Aku bukan orang berhati Budha!” “Maksudmu mengajak berkelahi?” “Mungkin begitu.”

“Jika aku juga sahabatnya orang yang sudah mati itu?” “Kau.     sahabatnya?”

“Ehm! Apabila aku bukan sahabatnya, perlu apa aku mengubur jenazahnya dengan menempuh bahaya dimusuhi oleh orang-orang Bulan Emas?

Hati Hui Kiam bergerak, ia berkata sambil menunjuk batu nisan: “Batu ini tuan yang mendirikan?”

“Benar!”

“Kalau begitu aku harus mengucapkan terima kasih padamu.” '“Tidak perlu. Ini memang sudah menjadi kewajibanku!”

“Tuan menggunakan nama julukan Sukma Tidak Buyar, tentu ada sebabnya.”

“Sudah pasti sebabnya sudah jelas, apa yang dinamakan dengan istilah Sukma Tidak Buyar ialah sukmanya orang yang mati itu tidak turut mati. Apakah kau tidak membaca kata-kata terakhir dalam tulisan di atas batu nisan itu? Dimana disebutkan dengan kata-kata semangat bernyala-nyala, kata-kata itu sudah mencakup semua- muanya.”

“Tuan menganggap diri sebagai Sukma Tidak Buyar ke dua?” “Kesatu atau kedua tidak perlu kita perdebatkan. Bagaimanapun

juga Sukma Tidak Buyar toch belum mati, titik.” “Tuan agaknya mempunyai maksud tertentu.” “Anggaplah begitu!”

“Kalau tuan tidak mempunyai maksud tertentu, untuk memperingati orang yang mati, ku ingin bersahabat dengan tuan.

Laki-laki setengah tua itu lalu menatapnya dan kemudian berkata:

“Kau Penggali Makam mau menganggapku sebagai sahabat, aku merasa sangat beruntung dan dengan ini lebih dahulu kuucapkan banyak terima kasih!”

“Sudikah kiranya tuan memberitahukan nama tuan yang mulia?” “Sukma Tidak Buyar!”

Hui-Kiam sangat mendongkol, tetapi ia tidak bisa berbuat apa- apa.

“Mari kita berangkat, lebih dulu kita minum beberapa cawan arak di kampung depan!” berkata Sukma Tidak Buyar.

“Apa tuan ”

“Ini toka, memang urusan yang sudah seharusnya!” “Aku tidak mengerti!”

“Perkara di dalam dunia kadang-kadang benar-benar, kadang- kadang bohong; Perlu apa menganggapnya terlalu serius?”

“Tuan tadi berkata hendak berangkat, apa artinya ini?

“Eh, bukankah kau hendak mencari Liang-giee Siee-seng?”

Hui .Kiam terperanjat, wajahnya berobah seketika. Benarkah orang ini jelmaannya orang tua Sukma Tidak Buyar yang sudah mati itu? Jikalau tidak bagaimana ia tahu rahasia sendiri yang tidak diketahui oleh orang lain? Bcnarkah di dalam dunia ini ada orang yang sudah mati bisa menjelma lagi? Ini benar-benar merupakan suatu hal yang tidak habis dimengerti.

“Penggali Makam, kau tidak pernah merasa heran, aku adalah keturunan Sukma Tidak Buyar. Segala sepak terjangnya di masa hidup tidak bisa lolos dari mataku, maka aku juga berani menganggap diriku sebagai Sukma Tidak Buyar, ingatlah kata-kata terakhir di atas batu nisan kuburan itu. Semangat Sukma Tidak Buyar tetap bernyala-nyala, ini berarti bahwa sukmanya memang tidak buyar.”

“Bernyala-nyala untuk apa?”

“Untuk membantu dalam usaha menegakkan kebenaran!”

“Dalam dunia ini sebetulnya ada berapakah orang yang mempunyai gelar Sukma Tidak Buyar?”

“Cuma satu!” “Tuan terhitung nomor berapa?” “Dua tetapi satu!”

“Tetapi aku juga mempunyai seorang sahabat yang mempunyai julukan demikian!”

“Bagaimana macamnya?”

Seorang pemuda yang belum lama muncul di dunia Kang-ouw, nama aslinya Ie It Hoan.”

Laki-laki setengah tua itu tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata:

“Oh! Dia? Bocah itu terlalu banyak akalnya. Aku kenal dengannya.”

Hui Kiam sebetulnya berkepala dingin dan cerdas otaknya namun ia juga dibingungkan oleh kejadian yang aneh ini maka ia lalu bertanya:

“Tuan juga kenal kepadanya?”

“Sudah tentu, jikalau tidak bagaimana aku mengijinkannya memakai nama gelar itu?”

“Menurut dugaan itu, Ie It Huan dengan tuan dan orang yang sudah mati ini, satu sama lain agaknya mempunyai hubungan satu dengan yang lain.”

“Bukan cuma erat saja, bahkan sudah seperti saudara sedaging.” “Hah! Persaudaraan seperguruan ataukah. ”

“Tepat, memang seperguruan, bahkan kekuatan dan kepandaian kita seimbang tidak hanya juga sehaluan, pikirannya juga sama.”

“Ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang aneh.” “Penggali Makam, kau terhadap Ie It Huan agak keterlaluan!” “Apakah maksud dari perkataanmu ini?” “Ia ingin bersahabat denganmu dengan hati sejujur-jujurnya, tetapi mengapa kau menolak keras jangan bersama-sama dengannya?”

Hui Kiam melongo sekian lama, tetapi hatinya mendadak bergerak, ia tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya dialihkan ke lain soal, katanya:

“Jika ada seseorang pandai menyamar, juga mempunyai kepandaian meniru suara orang lainnya serta segala gerak-geriknya, orang itu pasti dapat meniru segala tingkah laku orang itu untuk mengelabui mata orang lain.”

Laki-laki setengah tua itu sekonyong-konyong mundur dua langkah, kemudian bertanya:

“Apa yang kau maksudkan dengan perkataanmu ini?” “Kau!”

“Ie It Hoan, lain kali jika kau hendak menyamar, harus perhatikan sedikit terhadap pakaianmu. Pakaian bagian bawahmu dalam pakaian baju panjangmu ini adalah itu pakaian yang dahulu pernah kau kenakan ketika kau menyamar sebagai pengemis. Sahabat, jikalau bukan karena pakaian bawahmu tersingkap oleh tiupan angin, aku benar-benar kena kau tipu.”

Laki-laki setengah tua itu tertawa mengikik. Lekas-lekas ia membuang kumisnya dan penyamaran di mukanya, sehingga tampak wajahnya yang semula yang tampan. Dia, ternyata adalah samaran dari Ie It Hoan. Hanya, menyamar dan merobah suara sedemikian rupa bagusnya, di dalam rimba persilatan sebetulnya merupakan suatu ilmu kepandaian yang tersendiri.

Dengan tertawa cengar-cengir Ie It Hoan menjura di hadapan Hui Kiam, kemudian ia berkata sambil meniru nada suara pemain sandiwara di atas panggung:

“Toako, maafkanlah perbuatanku ini.”

Hui-Kiam senang akan kecerdikan pemuda itu, tetapi di mukanya masih tetap menunjukkan sikap dingin, ia berkata: “Adik Hoan, tidak perlu dikatakan, orang yang menyamar sebagai orang itu tentunya juga kau?”

“Ini kau tidak boleh salahkan aku, sebab kau tidak mengizinkan aku jalan bersama-sama kau!”

“Tetapi bagaimana dengan kuburan ini?”

“Untuk mengunjukkan bahwa Sukma Tidak Buyar sudah mati!” “Jadi itu kuburan kosong?”

“Ya!”

“Bagus sekali perbuatanmu! Sampai aku beberapa kali memanggil kau kakek. ”

Ie-It Hoan kembali menjura dan berkata:

“Toako orang besar tidak meladeni urusan orang kecil, maafkanlah sekali lagi!”

“Jikalau orang-orang Persekutuan Bulan Emas mengetahui bahwa itu ada kuburan kosong, bagaimana?”

“Justru demikianlah maksudku orang dunia Kang-Ouw tahu bahwa Sukma Tidak Buyar tidak bisa mati.”

“Tetapi aku melihat sendiri kau roboh di tangan Manusia Gelandangan, bagaimana itu bisa jadi?”

“Rahasia alam tidak boleh dibocorkan. Aku mempunyai akal sendiri untuk menghindarkan diri dari segala macam bencana, yang bagaimana tidak bisa mati.”

Hui-Kiam benar-benar sangat kagum tetapi juga merasa mangkel terhadap sepak terjang pemuda itu.

“Penghuni loteng merah itu orang golongan mana?” “Tentang ini tidak tahu!”

“Kalau begitu mengapa kau minta aku lari ke arah utara!”

“Inilah yang dikatakan pertaruhan jiwa. Kalau kau tidak pergi, pasti mati! Tetapi kalau menerjang loteng merah itu tentu masih ada sedikit harapan. Toako, kau tidak tahu betapa besar kekhawatiranku. Andaikata kau tidak keluar lagi, aku terpaksa masuk ke sana!”

“Mempertaruhkan nyawa?”

“Satu orang kalau sudah terdesak betul-betul apa boleh buat, cuma satu jalan ialah mempertaruhkan jiwanya. Tetapi orang yang pandai mempertaruhkan jiwanya banyak menangnya daripada kalahnya.”

“Hem! Tetapi pertaruhan semacam itu, kalah satu kali saja habislah jiwanya!”

Ie It Huan membuka matanya lebar-lebar. Sambil menghapus keringatnya yang mengalir keluar ia berkata:

“Sudilah kiranya toako menceritakan pengalaman toako di loteng merah itu?”

Hui Kiam lalu menceritakan semua pengalaman di dalam loteng merah.

Setelah mendengarkan cerita itu, Ie It Huan lalu berkata sambil mengerutkan keningnya:

“Kepandaian muridnya saja ternyata sudah melampui kepandaianmu, kalau begitu kita tidak dapat menaksir betapa tinggi kepandaian penghuni loteng merah itu sendiri. Siapakah ia? Apa sebabnya pula ia mempunyai persoalan dengan To-liong Kiam- khek….?”

Hui Kiam mendongakkan kepala melihat cuaca, lalu berkata: “Kita harus pergi!”

Ie It Huan kembali menggunakan penyamarannya. Setelah berubah pula wajahnya seperti seorang pelajar setengah tua, ia lalu berkata:

“Toako, kita harus berjalan dengan terpisah satu jalan. Andaikata terjadi apa-apa di luar dugaan, kita dapat segera menghadapinya. Kau boleh melakukan menurut pikiranmu sendiri, jangan memperdulikan aku, aku bisa mengikuti kau dari jarak jauh. Sebaiknya. ”

“Sebaiknya bagaimana?” “Kau juga menyamar!”

“Seorang laki-laki harus berani berlaku terus terang, aku tidak suka merubah wajahku!”

“Kalau begitu aku adalah manusia rendah? Baiklah, tidak apa. Toako, tenggorokanku sudah kering, ingin sekali aku minum arak, terpaksa aku jalan lebih dulu.”

Sehabis berkata dengan cepat ia bergerak, sebentar mungkin sudah menghilang di antara kegelapan.

Hui Kiam dengan seorang diri berdiri di hadapan kuburan kosong, terhadap Ie It Huan timbul kesannya yang sangat dalam sejak semula menunjukkan diri sehingga bersahabat dengannya semua terjadi secara tidak diduga-duga semua tindak-tanduknya, juga diliputi oleh kabut misterius yang sangat tebal, siapa gurunya belum pernah ia sebutkan.

la lalu teringat kepada musuh gurunva, musuh orang tuanya dan semua pertikaian yang menyangkut dirinya sendiri.

Sekonyong-konyong ia dapat melihat bayangan seseorang tampak di tempat sejauh tiga tombak. Bayangan orang itu agaknya memang sudah berdiri di situ, oleh karena ia tidak dapat melihat bagaimana munculnya hanya dengan ketajaman pandang matanya, ia dapat melihat bayangan orang itu ada seorang berkedok berpakaian warna lila.

Sinar mata Hui Kiam baru saja tertumbuk dengan sinar mata orang yang keluar melalui dari lobang kedoknya segera merasakan suara tindasan yang belum pernah ia alami, rasa tertindas itu seperti terus menusuk ke ulu hati sehingga diam-diam ia merasa bergidik, dengan tanpa sadar kakinya mundur selangkah.

Orang berkedok itu tidak mengeluarkan suara, ia berdiri dengan tenang bagaikan satu patung. Hui Kiam setelah pikirannya tenang kembali lalu bertanya: “Tuan orang pandai dari mana?”

Tak ada jawaban dari orang ini, hanya sinar matanya tajam, terus memandang wajahnya, agaknya hendak menembusi isi hatinya.

Kelakuan orang itu telah membangkitkan sifat dingin dan sombong Hui Kiam. Ia memandang orang itu sejenak, lantas membalikkan badannya dan berlalu.

Tetapi baru saja kakinya bergerak, orang berkedok itu tiba-tiba sudah menghadang di hadapanaya, lalu ia menegur pula:

“Apakah maksud perbuatan tuan ini?”

Orang berkedok itu akhirnya membuka mulut. Dengan suaranya yang tajam bagaikan peluru ia berkata:

“Kau, benarkah Penggali Makam?” “Benar, bagaimana sebutan tuan?” “Oraug berbaju lila!”

“Ada urusan apa?”

“Kau pernah masuk ke loteng merah?” “Ya!”

“Kau. tidak dibunuh?”

“Kalau sudah dibunuh bagaimana aku bisa berbicara dengan tuan?”

“Mengapa tidak dibunuh?”

“Rasanya hal ini tidak mempunyai hubungan dengan tuan.” “Tetapi aku ingin tahu!”

Nada suaranya bagaikan perintah itu, diucapkannya dengan sikap tegas, agaknya hendak memberitahukan kepadanya, meskipun Hui Kiam tahu bahwa tinggi kepandaian orang itu tidak dapat diukur, tetapi ia tidak sudi diperlakukan demikian rupa, maka lalu berkata dengan nada suara dingin:

“Aku tidak berkewajiban untuk menceritakan kepadamu.” “Kau terlalu sombong.”

“Terserah bagaimana tuan pikir.” “Sebaiknya kau mengaku terus terang.”

“Mengaku? Ha, ha, ha, istilah ini sesungguhnya sangat unik, tetapi aku bukan seorang pesakitan….”

“Tetapi tidak ada bedanya!”

“Apakah tuan tidak menganggap itu terlalu sombong?” “Itu sudah merupakan satu perlakuan yang cukup pantas!” “Kalau tidak?”

“Kau tidak mungkin hidup lebih lama lagi!”

Kemurkaan Hui Kiam timbul. Orang berbaju lila itu bukan saja tidak pandang mata pada Hui Kiam, tetapi juga menganggap dirinya sebagai barang permainan yang tak berharga, bahkan dengan tindakannya itu ia agaknya memang sengaja mencari gara-gara. Di dalam dunia mana ada hak memaksa orang lain untuk menceritakan rahasianya. Maka seketika itu ia lalu berkata dengan suara gusar:

“Kita satu sama lain belum pernah kenal, ini bagaikan air sumur dengan air sungai, yang satu dengan yang lain tidak saling mengganggu, tuan demikian memaksa orang, apakah tuan menganggap bahwa aku ini adalah seorang yang boleh kau perbuat sesukamu?”

“Semua percuma saja, kau cuma bisa menjawab pertanyaanku!” “Tidak bisa!”

“Kau berani mengulangi sekali lagi?” “Tidak bisa!” Mata orang berbaju lila itu memancarkan sinar yang menakutkan. Ia menggeser kakinya maju selangkah, lalu mengulurkan tangannya untuk menyambar Hui Kiam dengan satu gerakan yang luar biasa aneh dan cepatnya. Hui Kiam segera teringat gerak tipu ilmu pedang Siu Bie, murid pertama penghuni loteng merah, biar bagaimana sulit dielakkannya. Pikiran itu hanya sepintas lalu saja terlintas dalam otaknya dan hampir berbareng prda saat terlintasnya pikiran itu, tangannya sudah menghunus pedangnya dan melancarkan serangannya untuk mengimbangi gerakan orang berbaju lila itu.

Orang berbaju lila itu tiba-tiba berseru: “Eh,” lalu dengan cepat menarik kembali tangannya, selanjutnya secara bagus sekali ia mengelakkan serangan Hui Kiam yang sangat hebat itu, kemudian ia mengulur tangannya lagi dengan kecepatan luar biasa untuk menyambar tangan Hui-Kiam.

Hui Kiam coba membalikkan pedangnya untuk memapas tangan lawannya, tetapi sudah tidak keburu. Orang berbaju lila itu ternyata bergerak lebih dulu, sehingga sesaat kemudian tangannya sudah tertangkap.

Untung kepandaian yang dipelajari oleh Hui Kiam jauh berlainan dengan ilmu kepandaian biasa, ia tidak takut jalan darahnya ditotok, maka meskipun badannya sudah tidak bisa bergerak, gerakan pedangnya masih belum kendor. Ia melanjutkan serangannya kepada tangan lawannya….

Orang berbaju lila mengendorkan tangannya. Tangan yang lain melancarkan satu serangan kilat.

Serangan itu mengenakan dengan telak. Lengan tangan kanan Hui Kiam hampir patah, pedangnya hampir terlepas, badannya mundur terhuyung-huyung.

Orang berbaju lila itu berkata dengan nada suara dingin: “Aku ternyata telah memandang rendah dirimu, kau tidak takut ditotok.”

Sehabis berkata tangannya menyerang lagi. Tempat yang diarah, bukan bagian jalan darah, juga bukan bagian urat melainkan tempat mengalirnya darah. Hui-Kiam meski tahu dirinya diserang lagi tetapi ia tak dapat menyingkir. Serangan itu ketika mengenakan dirinya, seluruh tenaganya seolah-olah lenyap seketika.

Orang berbaju lila mundur selangkah dan berkata:

---ooo0dw0ooo---