Pedang Pembunuh Naga Jilid 05

Jilid 05

“DAN kau melakukan balas dendam terhadap kaum laki-laki?” “Penggali Makam, kau rupanya tidak dapat memahami hati dan

perasaan seseorang yang sudah kehilangan sukma sehingga hanya tinggal raganya saja!”

“Memang, akan tetapi….”

“Cukup sampai di sini saja, tidak perlu kau memberi nasehat padaku.” “Baiklah, kita sama-sama pergi ke Sam-goan-pang. Setiba di tempat tersebut, setelah aku menyelesaikan tugasku, aku segera menarik diri, bagaimana kau hendak menyelesaikan persoalan itu adalah urusanmu sendiri!”

“Apa tidak boleh kita harus pergi?”

“Aku tidak akan sembarangan merobah pendirianku.”

“Baiklah, Penggali Makam, kali ini hitung-hitung kau yang menang. Mari pergi!”

Pada saat itu tiba-tiba terdengar seseorang tua berkata: “Wanita Tanpa Sukma tidak perlu kau mengaku kalah, aku ingin berbicara denganmu.”

Suara itu mengejutkan hati dua orang itu. Hui Kiam lalu berkata dengan nada suara dingin:

“Orang pandai darimanakah kau, mengapa main sembunyi- sembunyian?”

“Aku sebetulnya tidak ingin menemui orang!”

Demikan terdengar suara jawaban, lalu disusul oleh munculnya seorang orang tua yang menggunakan ranting kayu pohon sebagai tongkat, mengunjukkan diri dari belakang sebuah besar.

Hui Kiam menatap wajah orang tua itu sejenak lalu bertanya: “Bagaimana julukan kakek yang mulia?”

Orang tua itu dengan sinar mata tajam menyapu dua orang sejenak lalu menjawab dengan tenang:

“Aku adalah seorang tua yang mendapat julukan Sukma Tidak Buyar.”

Mendengar disebutnya nama julukan itu, Hui Kiam dan Wanita Tanpa Sukma terkejut, terutama Hui Kiam tampak sangat bingung, maka ia lalu menegaskan.

“Kakek, berjulukan Sukma Tidak Buyar?” “Benar!” Hui Kiam tidak habis mengerti. Saudara angkatnya sendiri Ie It Huan, mempunyai julukan Sukma Tidak Buyar, dan orang tua ini juga namakan dirinya Sukma Tidak Buyar. Berapakah sebetulnya orang yang mempunyai julukan demikian di dalam kalangan Kang- ouw? Kesimpulannya, kalau bukan orang tua ini yang bohong, tentunya adalah Ie It Huan yang mencuri nama orang lain. Tetapi siapakah yang tulen dan siapakah yang palsu sesungguhnya tidak mudah dipecahkan.

Setelah berpikir bolak-balik akhirnya ia bertanya:

“Di dalam rimba persilatan sebetulnya ada berapakah gelar Sukma Tidak Buyar?”

“Cuma satu, tidak ada cabangnya!” “Ini benar-benar aneh!”

“Apanya yang aneh?”

“Aku mengenal seseorang yang juga mempunyai julukan Sukma Tidak Buyar.”

Orang tua itu pelototkan matanya dan berkata: “Kurang ajar, dia berani mencuri gelarku!” Wanita Tanpa Sukma lalu menyelak:

“Aku pernah melihat seseorang yang juga mempunyai julukan Sukma Tak Buyar, usianya kira-kira empat puluh tahunan.”

Orang tua itu berseru:

“Benar-benar kurang ajar!”

Hui Kiam lalu berkata dengan nada suara dingin:

“Tidak perduli siapa yang tulen dan siapa yang palsu, siapa yang mencuri nama siapa?”

Orang tua itu lalu memotongnya dan berkata:

“Bagaimana boleh aku tidak perduli? Seumur hidupku aku paling benci kepada manusia yang suka mencuri!” “Baiklah aku akui kakek sebagai orang yang mempunyai julukan Sukma Tidak Buyar. Aku ingin bertanya, kakek ada urusan apa?”

Sukma Tidak Buyar mengisyaratkan dengan tangannya kepada Wanita Tanpa Sukma seraya berkata:

“Kau boleh pergi!”

Hui Kiam berkata dengan suara dingin:

“Tunggu dulu kakek, apa maksudmu?”

“Tidak apa-apa. Ia toh sudah menerangkan duduknya perkara, perlu apa masih memaksa mengadakan penjelasan sendiri kepada Sam-goan Lojin? Asal kau menyebutkan namanya Wanita Tanpa Sukma itu sudah cukup. Bukankah itu juga berarti satu penyelesaian? Tentang orang-orang Sam-Goan pang dan pihak keluarga penganten lelaki, bagaimana hendak membikin perhitungan dengannya, itu bukan urusanmu lagi!”

“Tidak bisa, seseorang laki-laki harus tegas, aku tidak suka kehilangan kepercayaan kepada orang lain….”

“Penggali Makam, pandanglah mukaku si orang tua, jangan kau memaksanya!”

“Aku dengan kakek belum pernah mengenalnya, di samping itu juga paling benci kepada orang yang suka mencuri dengar rahasia orang lain!”

“Kau memaki aku?” “Kalau benar mau apa?”

Sukma Tidak Buyar tidak memperdulikan sikap Hui-Kiam. Sambil mengawasi Wanita Tanpa Sukma ia berkata:

“Jikalau kau hendak mencari Bu-theng Kongcu, ia sedang menghina seorang wanita di pinggir jalan di bawah kaki gunung ini!”

Paras Wanita Tanpa Sukma berubah seketika. Ia heran mengapa orang tua yang menyebut dirinya Sukma Tidak Buyar ini, bisa mengetahui rahasia dalam hatinya.    Oleh karena kebenciannya terhadap kongcu keparat itu sudah terlalu dalam sekali, maka saat itu ia tanpa banyak bertanya kemudian berkata:

“Kakek, kalau kau membohongi aku, aku tidak akan mengampuni kau!”

Sehabis berkata demikian ia segera berlalu.

Hui Kiam segera beranjak untuk merintangi seraya berkata: “Kau hendak lari kemana?”

Tetapi hampir berbarengan pada saat itu, Sukma Tidak Buyar merintangkan tongkatnya, cepat sekali sudah menyapu dengan kekuatan yang hebat.

Hui Kiam yang tidak berjaga-jaga, terpaksa mengelakkan serangan tersebut, tetapi karena rintangan itu, Wanita Tanpa Sukma sudah menghilang dari depan matanya.

Hui Kiam balik ke tempatnya, dan berkata dengan suara bengis: “Kau cari mampus!”

Orang tua ini menggeser badannya dan berkata: “Tunggu dulu, bicaraku belum habis!”

Hui Kiam yang sudah naik darah lalu maju mendesak sambil berkata:

“Aku tiada waktu mengobrol denganmu!” Dengan cepat tangannya lalu menyerang.

Orang tua itu meski nampak sangat loyo, tetapi gerakannya gesit sekali, sambil berputaran ia menghindar ke samping kira-kira tiga tombak untuk menghindarkan diri dari serangan Hui Kiam, kemudian berkata sambil mengulap-ulapkan tangannya:

“Penggali Makam, aku bermaksud baik kepadamu!” “Tidak perduli kau bermaksud baik atau jahat. !”

“Kau barangkali tidak mengharap dirimu dan asal-usulmu diketahui orang?” Hui Kiam bercekat, ucapan itu terang mengandung maksud, orang itu dapat mengatakan demikian, tentu mengandung maksud yang tidak sedernana apakah maksud ucapan itu tadi? Apakah ia mengetahui bahwa dirinya adalah keturunan dari Lima Kaisar Rimba Persilatan? 

“Apa maksud ucapan kakek ini?” “Dalam hatimu harus mengerti sendiri.”

“Kedatangan kakek ini tentunya tidak secara kebetulan, bukan?” “Sudah tentu!”

“Apakah kakek mengetahui siapa diriku?”

“Tahu!   Bukan saja tahu sedalam-dalamnya, bahkan apa yang kau hendak lakukan pada sekarang ini aku juga mengetahui sejelas- jelasnya!”

“Cobalah kakek tuturkan ”

“Di balik dinding ada telinga, sudahlah kalau bicara, kedatanganku ini hanya sengaja mencari kau untuk turut keramaian. ”

“Menyaksikan keramaian      ?”

“Ya!”

“Keramaian apa?”

“Kita harus menggunakan kecepatan luar biasa lekas menuju ke Sam-goan-pang, kalau terlambat nanti repot!”

“Mengapa kakek tidak mau menerangkan duduk persoalannya!” “Ada tersiar kabar bahwa bagian bawah kitab Thian-kie Po kip. ”

Jantung Hui Kiam berdebaran keras, ucapan orang tua itu sangat menarik perhatiannya. Kematian supeknya, dengan kitab itu merupakan suatu hal yang ia ingin ketahui. Orang tua yang menyebut diri Sukma Tidak Buyar ini benar-benar sangat mengherankan, mengapa ia tahu akan dirinya dan mengapa pula ia mengetahui rahasia hati orang dan sengaja mencarinya? “Kakek kata kitab Thian-kie Po-kip!” “Ya !”

“Bagaimana?”

“Terjatuh di tangan Sam Goan Lojin. Sudah banyak orang rimba persilatan yang mendengar kabar itu menuju kesana. ”

“Apa berita itu benar?” “Mungkin tidak salah.”

“Bagaimana kakek tahu bahwa hal ini bisa menarik perhatianku?”

“Ha, ha, ha, bukan cuma tertarik saja. Penggali Makam, kitab itu barangkali lebih penting daripada dirimu sendiri.”

Hui Kiam bergidik. Apakah maksud sebenarnya dari orang tua itu? Jikalau ia tidak menerangkannya lebih dulu, akan merupakan suatu ancaman besar bagi dirinya, maka saat itu dengan tidak berkata apa-apa, cepat bagaikan kilat tangannya menyambar si orang tua. Meski serangannya itu dilakukan dengan cepat dan di luar dugaan orang, namun orang tua itu hanya menggoyangkan badannya sudah berhasil mengelakkan dirinya dari sambaran itu. Gerakan yang luar biasa aneh itu, benar-benar mengejutkan dan mengherankan Hui Kiam.

“Penggali Makam, dengan maksud baik aku menyampaikan kabar kepadamu, bagaimanakau balas dengan secara kasar ini?”

“Karena maksud kedatanganmu sangat mencurigakan.” “Saudara, anggap saja seperti tidak ada apa-apa!”

“Kalau kau tidak mau menerangkannya, jangan harap kau bisa lari.”

Penggali Makam, kepandaianmu memang hebat, tetapi kau masih belum sanggup menahan aku. Dalam pertempuran lawan keras, mungkin aku tidak mampu menandingi kau, tetapi dalam hal kegesitan, kau masih kalah setingkat. Jikalau tidak, julukan Sukma Tidak Buyar ini boleh kuhapus saja!” Hui Kiam dalam hati juga mengakui bahwa hal itu memang benar. Gerak badan orang tua itu benar-benar memang aneh. Tetapi apakah ia harus lepas tangan begitu saja?

“Kakek mengetahui terlalu banyak sekali.”

“Apa kau hendak membunuh aku supaya menutup rahasiamu?” “Aku tiada maksud demikian tetapi aku ingin tahu keadaan yang

sebenarnya!”'

“Mengapa kau tidak ikut aku ke tempat kejadian itu? Biar kenyataan nanti yang membuktikan perkataanku ini. Bukankah ini lebih baik daripada kita saling bertengkar?”

“Dan lagi dengan maksud apa kakek melepaskan Wanita Tanpa Sukma?”

“Kau tentunya tidak ingin ia mengetahui diri asal usulmu, bukan?”

Perkataan itu kembali mengherankan Hui Kiam. Orang tua itu nampaknya sudah memikirkan masak-masak, besar kemungkinannya ingin menggunakan dirinya untuk mendapatkan kitab pusaka itu, tetapi tentang semua rahasia dirinya yang sudah diketahui oleh orang tua itu, ini benar-benar merupakan suatu teka- teki yang sulit dipecahkan. Hanya ada satu kemungkinan, mungkin orang tua itu telah mencuri dengar pembicaraannya dengan Orang Tua Ttiada Turunan yang dilakukan di luar kota Kut-cin. Ya memang benar, kenyataannya memang begitu. Jikalau tidak, mengapa orang tua ini juga mengetahui isi hati Wanita Tanpa Sukma yang bertekad hendak membalas dendam kepada Bu-theng Kongcu?

Berpikir sampai di situ, hatinya merasa lega.   Karena tertarik ingin tahu permulaan selanjutnya dari orang tua itu maka lalu ia berkata:

“Kalau begitu mari kita berangkat. Aku memang ingin membuntutinya sendiri.” Keduanya lalu mengerahkan kepandaian masing-niasing lari pesat dalam perjalanannya itu, kecuali berhenti untuk makan dan tidur, dilakukan terus tanpa kenal waktu, menuju ke pusat perkampungan Sam-goan-pang di Ie-hun San-cung.

Dalam hati Hui Kiam masih mengandung lain harapan. Andaikata benar, bahwa bagian bawah kitab pusaka itu terjatuh di tangan ketua Sam-goan Lojin, maka yang tersiar di kalangan Kang-ouw itu, pasti juga akan menarik perhatiannya dengan demikian ia pasti akan menyendiri sehingga kabur semua rahasia tidak mengetahui ungkapnya.

Jikalau ia tidak berjumpa dengan Orang Tua Tiada Turunan, ia pasti tiada mengetahui siapa suhunya sendiri, sedangkan dalam perjalanan kali ini ke gunung Tay-hong-san, jikalau tidak menemukan makam si supeknya, sudah tentu ia juga tidak mengetahui bahwa ia masih mempunyai seorang sucie, yang bernama Pui Ceng Un, sementara itu bagaimana roman muka sang sucie itu, sudah tentu itu ia tidak dapat menggambarkannya.

Pada hari itu di waktu senja, dua orang itu sudah tiba di perkampungan le-hun Sancung,

perkampungan yang menempati tanah seluas sepuluh hektar lebih itu nampaknya sunyi sepi.

Kesunyiannya sesungguhnya sangat mengherankan, tiada terdengar suara orang juga tiada tertampak bayangan seorangpun juga.

Ini merupakan surtu pemandangan yang amat ganjil, jangan kata sudah tersiar kabar balhwa kitab pusaka itu akan muncul di tempat itu, yang sudah seharusnya menarik perhatian banyak orang tetapi sekalipun pada hari-hari biasanya, perkampungan yang merupakan pusat salah satu golongan besar itu, tidak mungkin demikian sunyi.

Dengan perasaan bimbang Hui Kiam bersama Si Sukma Tidak Buyar lari menuju ke pintu gerbang, tetapi masih tetap tidak tertampak bayangan seorangpun juga, suasananya dirasakan amat seram. Sukma Tidak Buyar berseru: “Aaaa!” lalu berhenti di salah satu kupel.

Perasaan curiga timbul dalam hati Hui Kiam. Ia melirik kearah Sukma Tidak Buyar dengan sinar mata mengandung berbagai pertanyaan.

“Aneh,” demikian Sukma Tidak Buyar berkata sambil menghela napas.

Hui Kiam dengan sinar mata bengis dan dingin mengawasi Sukma Tidak Buyar, sepatah demi sepatah ia berkata kepadanya:

“Aku menunggu keteranganmu!”

Sukma Tidak Buyar menggaruk-garuk kepalanya, lalu memanggil dengan suara nyaring:  “Apakah di dalam ada orang?”

la memanggil sampai tiga kali, tetapi tidak mendapat jawaban sehingga kecurigaannya semakin besar, ia lalu berkata:

“Mari kita masuk.”

Hui Kiam kembali menatap wajah Sukma Tidak Buyar, kemudian berkata:

“Kakek jalan dulu, aku nanti mengikuti dari belakang.”

Begitu memasuki pintu gerbang lalu terbentang satu jalanan yang lebar, mungkin dapat dilalui oleh empat ekor kuda dengan bersama.

Di kedua sisi jalannya ditanami pohon rindang, di bagian ujung, terdapat satu tanah lapang untuk melatih silat, melalui tanah lapang itu, barulah rumah-rumah yang dibangun berderet-deret.

Keadaan di sekitar itu tetap sunyi, perkampungan yang begitu luas, tidak terdapat jejak manusia.

Dua orang itu dengan pikiran bimbang saling berpandangan, lalu melanjutkan perjalanannya melalui tanah lapang, kemudian mendaki undakan batu yang menuju ke ruangan tamu.

“Astaga!” Dua orang itu berseru serentak, suaranya gemetar. Dalam ruangan yang luas itu, bangkai manusia berserakan di lantai, jumlahnya tak kurang dari seratus. Bangkai-bangkai itu sekujur badannya hitam hangus, terang kematian mereka itu disebabkan kena racun yang sangat berbisa.

Wajah Hui Kiam yang dingin tampak berkerenyut, dahinya penuh air peluh.

Siapa yang  membunuh orang-orang Sam-goan-Pang ini?”

Dari keadaan di perkampungan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa orang-orang dalam perkampungan ini, mungkin sudah tidak ada yang hidup.

Sam-goan-pang merupakan salah satu golongan besar, kepandaian Sam-goan Lojin pernah menggemparkan dunia Kang- ouw daerah Tionggoan, ini ternyata mengalami nasib demikian menyedihkan, benar-benar tidak bisa dimengerti.

“Kita datang terlambat, kesudahannya sungguh di luar dugaann kita!” berkata Sukma Tidak Buyar dengan suara gemetar:

Hui Kiam melompat melalui bangkai-bangkai itu, berjalan menuju ke ruangan kedua, disini, dulu ia pernah datang satu kali, untuk mengantar barang antaran, yaug berupa kepala orang atas permintaan Wanita Tanpa Sukma.

Di sini kembali terdapat banyak bangkai, darah merah dan hitam membasahi lantai. Di sini mungkin pernah terjadi suatu pertempuran sengit, dari ceceran darah dapat diduga-dan bangkai di ruangan depan, mungkin dipindahkan dari lain tempat, mungkin inilah sebabnya, maka dari pintu gerbang sehingga ke ruangan tamu, tidak tampak bayangan seorangpun juga.

Perkampungan le-hun Sanchung telah berubah menjadi perkampungan neraka penjagalan manusia.

Mata Hui Kiam setelah menyapu keadaan sekitar tempat itu sejenak, lalu menuju ke ruangan tengah, dan apa yang disaksikan? Itu adalah suatu pemandangan yang dapat membangunkan bulu roma. Tampak olehnya Sam-Goan Lojin dengan tangan memegang pedang dan mata beringas serta jenggot beterbangan, berdiri di dekat tiang rumah, di bawah kakinya rebah menggeletak diri Sam- goan Pangcu, Tan Kee Cun yang sudah menjadi bangkai.

“Locianpwee.....” demikian Hui Kiam memanggil dengan suara gemetar.

“Ia” tidak dapat menjawab kau!” demikian Sukma Tidak Buyar berkata.

Hui Kiam menggeretakkan gigi, ia maju menghampiri, benar saja, orang tua itu sudah tidak bernapas, setengah badannya tertahan di tiang, maka ia tidak roboh. Di dahinya terdapat tiga tanda darah sebesar kacang berbentuk segitiga.

Sukma Tidak Buyar berseru kaget:

“Sam ciok-sie!”

Hui-Kiam terperanjat, lalu bertanya:

“Kakek mengatakan bahwa Sam Goan Lojin mati karena serangan jari tangan Sam-Ciok Sie?”

“Benar!”

“Sam-Ciok-Sie ini ilmu kepandaian siapa?” “Aiw yang Hong jago dari daerah go-sec!” “Dia bagaimana itu mungkin?”

Hui-Kiam dalam hatinya merasa heran. Aiw-yang Hong adalah ayah Aiw-yang Khin, pemuda yang mati dipotong kepalanya oleh Wanita Tanpa Sukma, juga yang akan menjadi menantu Sam-goan Pangcu. Meskipun perjodohan itu menjadi batal tetapi biar bagaimana kedua pihak pernah ada hubungan satu sama lain. Mungkinkah Aiw-yang Hong sampai hati melakukan perbuatan sekejam itu?

Sementara itu orang tua si Sukma Tanpa Buyar itu berkata sendiri: “Ilmu kepandaian Sam-toksie dari jago daerah Gosee itu, memang merupakan satu kepandaian luar biasa dalam rimba persilatan tetapi apapun alasannya juga tidak sampai ia mengambil jiwa Sam-goan Lojin, kekuatan kedua orang tua itu selisih tidak berapa, kecuali. ” berkata sampai di situ, ia nampak berpikir.

“Kecuali apa?”

“Kecuali ada orang lain yang memberi bantuan, atau membokong secara menggelap.

Fakta sudahlah sangat nyata, orang yang mengganas ini jumlahnya tentu tidak sedikit. Jikalau tidak, siapa orang itu yang sanggup melakukan pembunuhan besar-besaran serupa ini tanpa ada seorang yang lolos?”

“Apakah maksud dan tujuan Aiw-yang Hong berbuat demikian?” “Sudah tentu karena kitab pusaka Thian-khie Po-kip.”

“Mari kita melihat ke ruangan belakang.”

Di pekarangan belakang, keadaannya lebih menyedihkan, yang mati semua adalah orang-orang perempuan dan anak-anak.

Dengan darah mendidih dan muka beringas Hui Kiam berkata: “Kalau aku tidak dapat menumpas keluarga Aiw-yang, aku

bersumpah tidak mau jadi orang lagi!”

Ia lalu mengadakan pemeriksaan satu persatu pada semua bangkai kaum wanita itu, ternyata tidak melihat bangkai putri Sam- goan Pangcu, Tan Hian Kun. Dalam hatinya lalu berpikir, apakah ia hanya seorang diri yang luput dari cengkeraman maut ini? Atau.....

Keadaan di luar batas prikemanusiaan itu, sesungguhnya sangat menyedihkan. Salah satu golongan besar dalam rimba persilatan, telah musnah dalam waktu satu hari, hal ini sesungguhnya jarang terjadi.

Hawa amarah nafsu membunuh merangsang dalam hati Hui Kiam. seorang yang sering mengalami kejadian ganas, paling mudah timbul rasa simpati terhadap nasib orang yang menjadi korban keganasan itu, apalagi ia memang sudah bertekad hendak mengubur semua orang jahat dalam kalangan Kang ouw.

Orang tua si Sukma Tidak Buyar bertanya kepadanya:

“Hui siaohiap, bagaimana tindakan kita selanjutnya. ?”

“Apa? Tindakan selanjutnya?” “Ya.”

“Dengan alasan apa kakek hendak bertindak bersama-sama dengan aku?”

“Di satu pihak aku ingin mencari tahu duduk persoalannya, di lain pihak kita di dalam hal ini mungkin sendirian!”

“Apakah maksud kakek hendak mencari Aiw-yang Hong?” “Apakah kau ingin mengusut kemana kitab pusaka itu?” “Itu urusanku sendiri ”

“Bagus sekali, sekarang telah berobah menjadi urusanmu sendiri, jikalau aku tidak memberi kabar padamu, bagaimana?”

“Aku sangat berterima kasih padamu.”

“Itu tidak perlu. Setiap orang mempunyai kesenangan sendiri- sendiri. Kesenanganku si orang tua adalah suka sekali mengurusi orang lain.   Kalau aku sudah campur tangan dalam suatu urusan aku akan terus campur tangan sampai pada akhirnya kini sudah merupakan hobi selama hidupku.”

“Perkataan kakek ini mungkin dengan tidak sejujurnya?” “Apa artinya?”

“Dalam urusan yang kakek ingin turut campur tangan ini, merupakan suatu permainan berbahaya yang akan membawa akibat melayangnya jiwa kakek, jikalau tidak ada maksud tertentu, apakah perlu kakek turut campur tangan?”

“Percaya atau tidak terserah kau sendiri, kalau kau tidak mau pergi aku juga bisa pergi sendiri.” Hui Kiam merasa kewalahan, ia lalu mengalihkan pembicaraannya ke lain soal.

“Mengapa di sini tidak ada orang yang memikirkan untuk mengubur jenazah orang-orang ini?”

“Kau tidak usah khawatir. Anak buah Sam-goan-pang tidak mungkin mati seluruhnya, mereka yang berada di luaran kalau mendengar berita ini pasti akan kembali. Yang kita khawatirkan adalah soal kita dapat menemukan Aiw-yang Hong atau tidak?”

“Kenapa?”

“Jikalau pengganasan ini benar dilakukan oleh Aiw-yang Hong, apalagi bila ia sudah dapatkan kitab pusaka itu. sudah tentu ia akan kabur jauh-jauh. Tetapi di lain pihak, jikalau perbuatan itu ia lakukan secara rahasia, bagaimana bodohnya juga tidak akan meninggalkan tanda tiga jari tangan Sam co-sienya di badan Sam- goan Lojin, yang berarti mencari susah sendiri. Selain daripada itu, di daerahnya yang mempunyai harta kekayaan yang besar, apakah ia dapat meninggalkan begitu saja?”

“Tepat. Dan menurut perdapat kakek bagaimana?”

“Dalam peristiwa ini ada terdapat banyak hal yarg mencurigakan.

Paling baik kita lekas pergi ke sana untuk menyaksikan sendiri.”

Di kota Kui-ciu, terdapat sebuah gedung mewah yang hampir menempati setengah komplek jalan di satu jalanan sebelah selatan. Gedung itu adalah tempat kediamannya Aiw-yang Hong yang terkenal dengan jago Gosee.

Di depan pintu gedung mewah itu, berdiri dua orang penjaga pintu yang pada hari itu nampaknya sangat lesu.

Seorang tua yang sudah loyo dan seorang pemuda gagah berbaju putih dan bersikap dingin, datang menghampiri dua penjaga pintu itu.

Seorang dari penjaga pintu itu berkata kepada kawannya: “Ada orang datang lagi.” Kawannya itu menjawab:

“Ini rombongan yang ke-sepuluh.      ”

Orang tua berbadan loyo itu memberi hormat dan berkata kepada penjaga pintu:

“Aku si orang tua si Sukma Tidak Buyar, ingin menengok tuanmu.

Tolong kabarkan kepadanya!”

Dua penjaga pintu itu ketika mendengar disebutnya nama julukan itu, wajah mereka berubah seketika. Satu di antaranya lalu berkata sambil menghela napas: “Silahkan masuk, tidak perlu melapor dulu!”

Jawaban itu mengejutkan kedua tetamunya yang bukan lain dari pada si Sukma Tidak Buyar dan Hui Kiam.

Dalam hati merasa segera ada apa-aoa yang agak aneh, dengan tanpa banvak bicara, lalu masuk ke dalam dengan langkah lebar.

Di tengah ruangan yang luas, terdapat meja sembahyang. Hui- Kiam mengawasi si Sukma Tidak Buyar sejenak dengan tidak berkata apa-apa, tetapi dari sinar matanya sudah menunjukkan perasaan terkejutnya.

Di depan meja sembahyang nampak kosong tiada seorangpun yang menjaga.

Tatkala dua tamu itu maju ke depan meja sembahyang, dari dalam muncul seorang tua yang segera menyongsong mereka seraya berkata dengan nada suara dingin: “Apakah tuan-tuan juga ingin memeriksa dan membuktikan kebenaran tentang kematian majikanku?”

Pertanyaan itu sangat mengejutkan kedua temannya. Si Sukma Tidak Buyar lalu menanya dengan suara gemetar.

“Apa? Apakah saudara Aiw-yang sudah meninggal dunia?” “Ya, bagaimana sebutan tuan?”

“Aku adalah si Sukma Tidak Buyar, benar-benar ada suatu kejadian di luar dugaanku!” “Kedatangan tuan ini….”

“Aku sebetulnya ingin menanyakan suatu persoalan kepada saudara Aiw-yang, tidak duga ia sudah menutup mata. Entah kapan ?”

“Tadi malam jam tiga hampir subuh, majikanku pulang dari luar, telah diserang secara mendadak oleh seorang yang tidak dikenal di dalam pekarangan rumah sendiri.”

“Oh; tetapi bagaimana bentuk perawakannya orang yang menyerang itu?”

“Tidak tahu. Penyerang itu menggunakan pedang, tinggi kepandaiannya kita tidak dapat membayangkan, nampaknya majikan kita tidak ada kesempatan untuk memberi perlawanan, ketika mendengar suara jeritan ngeri, orang-orang dalam rumah segera keluar, di situ baru mengetahui bahwa majikan kita dengan enam orang anak murid yang mengiringnya malam itu, semua telah binasa, tak seorangpun lolos sedang penyerangnya telah kabur.”

“Apakah saudara kepala pengurus rumah tangga sini?” “Ya!”

“Barusan kau kata hendak memeriksa dan membuktikan kebenaran kematian majikanmu, apakah maksudnya. ?”

“Majikan kita sudah mengalami nasib malang belum terang tanah sudah ada sahabat-sahabat rimba persilatan yang datang mencari. Mereka mengatakan hendak menyaksikan jenazah majikan sendiri. Dalam waktu singkat orang yang datang menengok sudah ada sembilan rombongan banyaknya. Ibu majikan telah memperintahkan kita jangan masukkan jenazah majikan ke dalam peti dulu supaya mereka dapat menyaksikan sendiri!”

“Tahukah apa sebabnya?”

“Orang-orang yang datang itu setelah melihat lantas berlalu, mereka tidak berkata apa-apa.”

Hui Kiam berpikir keras, ada satu kemungkinan! Aiw-yang Hong setelah mengganas kepada Sam-goan-pang, dan berhasil mendapatkan kitab pusaka Thian-khie Po-kip, lalu diikuti oleh orang lain dan dibunuh dan dirampas kitabnya. Ada juga kemungkinannya bahwa pembunuhnya itu adalah sekutunya sendiri.

Kitab pusaka Thian-khie Po kip itu adalah barang peninggalan gurunya Hui Kiam yang ia sedang cari, yang mungkin juga menyebabkan kematian si-supeknya. Andaikata Sam-goan Lojin adalah orang pertama yang menemukan kitab ifu, mungkin si-supek itu mati di tangannya.   Akan tetapi Sam-goan Lojin sendiri kini sudah binasa, sudah tentu tidak dapat diminta keterangannya.

Dan sekarang, orang ke-dua yang mendapat kitab itu juga sudah binasa, siapakah selanjutnya yang mendapat kitab pusaka itu? Hawa nafsunya yang semula berkobar, kini telah mereda oleh kejadian di luar dugaan ini. Aiw-yang Hong sudah mati, tidak perduli ia ada orang yang mengganas kepada Sam-goan-pang atau bukan, tetapi pada saat itu ia benar-benar tidak bisa bertindak terhadap keluarganya.

Pengurus rumah tangga itu lalu berkata kepada kedua tamunya: “Tuan-tuan sudah datang, silahkan menengok jenazah majikan!”

Sehabis berkata ia lalu mengajak tamunya ke dalam. Hui Kiam dan si Sukma Tidak Buyar saling berpandangan, kemudian mengikuti pengurus rumah tangga itu masuk ke dalam. Di belakang tirai kain putih, ada sebuah peti mati yang tidak ditutupi.   Dalam peti itu, rebah membujur seorang tua berpakaian merah, air mukanya sudah dingin kaku, masih menunjukkan bekas rasa takutnya, terang bahwa orang tua itu sebelum matinya pernah mendapat ancaman hebat.

Orang sudah mati, sedikitpun tidak bohong, tetapi siapakah pembunuhnya? Dengan kekuatan dan kepandaian Aiw-yang Hong, ditambah lagi dengan enam anak muridnya ternyata tidak sanggup memberi perlawanan sedikitpun juga, sedangkan tempat kejadiannya justru dalam pekarangan rumahnya sendiri, maka kita dapat bayangkan betapa tingginya kepandaian pembunuh itu.

Hui Kiam setelah berpikir beberapa kali, lalu bertanya kepada pengurus rumah tangga itu: “Bolehkah aku menanyakan beberapa soal?” “Boleh!”

“Harap tuan suka menceritakan terus-terang; jam berapa majikanmu keluar, apa yang dilakukan dan kemana perginya?”

“Majikan sudah keluar tiga hari lamanya, katanya hendak menengok sahabat, tadi malam baru pulang!”

“Siapakah orang yang akan dikunjungi oleh majikanmu?” “Sebelum berangkat majikan berkata hendak ke Ie-hun San-

chung!”

“Apakah hendak menengok Sam-Goan-Lojin?” “Mungkin!”

Hati Hui-Kiam kembali bergolak, nampaknya Aiw-yang Hong ini benar-benar adalah pembunuh orang-orang Sam-Goan-pang. Tetapi jikalau tidak ada orang lain berkepandaian amat tinggi yang memberi bantuan, dengan hanya kekuatannya Aiw-yang Hong sendiri serta enam anak muridnva, tidak mungkin ia dapat melakukan perbuatan tersebut, kecuali sudah direncanakan masak- masak. Di antara orang-orang Sam-Goam-pang yang telah mati, itu sebagian besar menjadi korban racun berbisa.

Ia lalu bertanya pula: “Waktu majikanmu pergi hendak menengok sahabatnya, kecuali enam anak muridnya sendiri, apakah masih ada orang lain yang pergi bersama-sama?”

“Tidak ada.”

“Pada waktu belakangan ini apakah ada sahabat dari rimba persilatan yang datang kemari?”

“Mengapa sahabat hendak bertanya sedemikian teliti?”

“Sudah tentu ada sebabnya, kuharap kau suka menceritakan terus terang.”

Pengurus rumah tangga itu berpikir sejenak baru menjawab: “Ada setengah bulan bercelang Liang-gie Sie-seng pernah datang kemari berdiam sekian waktu lamanya.”

Si Sukma Tidak Buyar segera berkata dengan suara kaget:

“Liang-gie Sie-seng seorang ahli kenamaan dalam menggunakan berbagai racun.  Sudah cukup, mari kita pergi.”

Hui Kiam bercekat. Keadaannya mendekati dugaannya hanya tiada seorang belum banyak pengalamannya sehingga tidak tahu siapa itu Liang-gie Sie-seng. Nampaknya orang tua si Sukma Tidak Buvar itu pasti tahu baik orang ini. Dalam persahabatannya selama beberapa hari ini, ia sudah tahu bahwa si Sukma Tidak Buyar ini adalah seorang Kang-ouw kawakan, pengalamannya mungkin lebih banyak dari pada si Manusia Gelandangan.

Pengurus rumah tangga itu kini baru bertanya kepada tamu mudanya itu:

“Siapa nama siaohiap yang mulia?” “Aku Penggali Makam!”

Pengurus rumah tangga itu membuka lebar kedua matanya. Ia mundur dua langkah dan berkata dengan suara gemetar:

“Kau. kau Penggali Makam?”

Hui-Kiam dengan sikap dingin menganggukkan kepala dan berkata:

“Benar!”

“Tidak terduga kalian datang sendiri.” “Apa artinya?”

Tepat pada saat itu, seorang wanita setengah tua berpakaian putih muncul dari dalam.   Dengan wajah beringas dan sikapnya yang menakutkan, wanita itu berkata sambil menunjuk Hui-Kiam:

“Penggali Makam, aku hendak cincang tubuhmu!” Dalam hati Hui Kiam mesti dikejutkan oleh sikap dan perkataan perempuan itu tetapi di luarnya masih mengunjukkan sikapnya yang dingin keras. Dengan suara datar ia bertanya:

“Apa sebabnya?”

Wanita itu menjawab dengan suara bengis:

“Apa sebabnya? Tanyalah kepada dirimu sendiri.”

Hui Kiam tiba-tiba memikirkan sesuatu hal, maka ia lalu bertanya:

“Apakah nyonya ini adalah nyonya Aiw-yang sendiri?” “Benar!”

“Apakah nyonya hendak maksudkan tentang kematian anak nyonya pada waktu hari pernikahannya?”

Mata nyonya Aiw-yang itu menunjukkan kemarahan yang sudah memuncak. Ia berkata dengan suara bengis: “Penggali Makam, ada permusuhan apakah antara kau dengan anakku, mengapa kau berbuat begitu kejam terhadapnya?”

“Anakmu itu bukan aku yang membunuh.” “Kau membantah?”

Pada saat itu satu suara seorang perempuan berkata dengan suara yang nyaring:

“Apa yang ia katakan memang benar, akulah orang yang membunuh Aiw-yang Khin!”

Suara itu lalu disusul oleh datangnya seorang perempuan muda berbaju merah cantik sekali, perempuan itu bukan lain dari pada Wanita Tanpa Sukma.

Kedatangan wanita itu, apalagi ia segera mengakui kesalahannya, benar-benar di luar dugaan Hui Kiam.

Semula nyonya Aiw-yang Hong terperanjat, kemudian berkata dengan nada suara bengis:

“Kau.    siapa ?” “Wanita Tanpa Sukma.” “Kau membunuh anakku!”

“Benar, aku membunuhnya tetapi masih belum dapat menghapus rasa dendam dan sakit hatiku.”

“Kau. ”

Aiw-yang Khin telah mempermainkan diriku. Semula ia memikat dan merayu aku tetapi kemudian ia buang aku seperti sampah lalu hendak kawin dengan perempuan lain. Tiga hari ke muka sebelum hari kawinnya, aku pernah berlutut di hadapannya dan minta kepadanya, tetapi ia tak bergerak sama sekali, sementara itu, di dalam perutku sudah ada bibit keturunan. ”

Berkata sampai di situ air mata mengalir bercucuran.

Nyonya Aiw-yang, mundur dua langkah, rasa terkejut menggantikan rasa marahnya.

Wanita Tanpa Sukma dari badannya mengeluarkan sebuah batu kumala lalu berkata pula:

“Nyonya, ini adalah barangmu. Benda ini berikan kepadanya sebagai tanda mata pertunangan kau rasanya masih dapat mengenalinya, bukan?”

“Aku… kenal nona, dalam perutmu.   ”

“Ha, ha ha!” suara tertawa yang menusuk telinga, tercampur dengan suara hancurnya benda nyaring, ternyata batu kumala itu sudah dilempar ke tanah dan hancur berantakan.

Hui Kiam melambaikan tangan kepada si orang tua Sukma Tidak Buyar, seraya berkata:

“Kakek, mari kita pergi.”

Keluar dari gedung keluarga Aiw-yang, Hui Kiam berkata:

“Kakek, andaikata Aiw-yang Hong bersekutu dengan Liang-gie Sie-seng untuk menghadapi Sam-goan-pang, terlebih dulu menggunakan racun yang menyebabkan Szm-goan Lojin dan anaknya kehilangan tenaga melawannya kemudian bertindak kepada orang-orang bawahannya ini dan juga telah mendapatkan kitab pusaka dari Thian-kie Po-kip, dan Liang-gie Sie-seng lalu timbul pikhannya hendak mendapatkan kitab pusaka itu, dengan cara yang serupa ahli racun itu lebih dulu menggunakan racunnya kemudian dilukakan dengan pedang, dengan mudah sekali ia dapat membinasakan Aiw-yang Hong bersama enam muridnya. Apakah kemungkinan ini ada?”

“Itu mungkin, aku sendiri juga berpikir demikian!” “Di mana tempat tinggalnya Liang-gie Sie-Seng?”

“Di perbatasan propinsi Su-coan, di dekat lembah Bu-hiap.” “Terima kasih!”

“Jangan terburu-buru, mari kita cari bersama-sama.” “Kakek agaknya sangat gembira terhadap perkara ini?”

“Angaplah demikian. Kita harus segera keluar kota, pergi beristirahat di tempat yang agak tenang. Di situ kita boleh makan dan minum arak dulu, kemudian kita melanjutkan perjalanan. Kota ini termasuk daerah kekuasaan orang-orang Persekutuan Bulan Emas, daripada banyak urusan lebih baik kurang urusan, kau pikir bagaimana?”

“Begitupun baik!”

Keluar dari kota, Sukma Tidak Buyar lalu berkata sambil menunjuk ke sebelah barat jalan raya:

“Kira-kira lima pal dari sini ada sebuah kota kecil. Tempat itu terkenal dengan pengcluaran araknya yang paling enak. Umumnya orang menganggap bahwa arak itu keluaran dari ibukota propinsi Su-coan, sebetulnya keliru.”

Setelah itu orang tua itu menyebutkan banyak namanya arak- arak yang terkenal, tetapi karena Hui-Kiam tidak gemar minum arak maka ia alihkau pembicaraannya ke lain soal.

“Tidak disangka Wanita Tanpa Sukma itu bisa datang kemari.” “Tetapi aku sudah duga ia pasti akan datang!” “Sebabnya?”

“Kau tentunya masih ingat, aku pernah berkata kepadanya tentang diri Bu-theng Kongcu, itu sebetulnya hanya membohonginya. Aku sudah menghitung dengan cepat, setelah ia tak berhasil menemukan pemuda itu, pasti dengan kabar berita tentang kitab pusaka Thian-kie Po- kip dan langsung menuju ke Sam-goan-pang.   Tetapi Sam-goan-pang sudah terjadi hal-hal di luar dugaan, sudah tentu ia akan berjalan mencari kita. Bagaimana kau pikir?”

“Memang sangat beralasan. Tetapi ia sudah mengandung. Kandungannya itu terhitung darah daging keluarga Aiw-yang, mengapa ia harus membunuh Aiw-yang Khin? Urusan ini. ”

“Urusan remeh semacam ini aku si orang tua tidak suka campur tangan!”

Ketika mereka sedang berjalan, Sukma Tidak Buyar tiba-tiba menghentikan kakinya. Sambil kerutkan keningnya ia berkata:

“Perjalanan ini tidak baik, aku tidak jadi minum arak!” “Kenapa?” tanya Hui-Kiam kaget.

“Kita sudah masuk perangkap!” “Masuk perangkap?! Apa artinya?”

“Di depan ada musuh, di belakang ada yang mengejar, bukankah berarti ini masuk perangkap?”

Hui-Kiam mengawasi ke depan dan ke belakang, tetapi keadaan jalan raya tetap sepi, tiada tertampak bayangan orang selain daripada itu, dengan kekuatannya pada masa itu bagi orang biasa yang dalam sejarak sepuluh tombak di sekitarnya jangan harap bisa lolos dari pendengarannya.

Tetapi saat itu pemandangannya terang benderang, tempat sejarak lima puluh tombak masih tampak oleh matanya, apakah orang tua Sukma Tidak Buyar mempunyai pengetahuan lebih dulu sebelum sesuatu terjadi? Ataukah ia ingin membuat malu dirinya?

Karena berpikiran demikan, maka ia lalu berkata dengan napda suara dingin:

“Tetapi aku tidak dapat lihat ada tanda apa-apa.”

“Sudah dekat, mereka akan lekas menunjukkan diri, maksudnya adalah kau!”

“Perkataan kakek ini pasti ada dasarnya?”

“Sudah tentu. Nah, kau lihat, bukankah itu orang yang datang?”

Hui Kiam kini memasang mata benar-benar. Benar saja, di dua ujung jalan raya ada beberapa titik hitam bergerak mendatangi, dalam waktu sekejap mata saja titik hitam itu berobah menjadi bentuk manusia. Dalam hatinya lalu timbul curiga, apakah itu akal muslihatnya orang tua yang sangat misterius itu?

“Orang dari golongan mana mereka itu?” “Orang-orang dari Persekutuan Bulan Emas?” “Adakah itu rencanamu?”

“Apa maksud pertanyaanmu ini?”

“Ha, ha ha ha, kakek di dalam Persekutuan Bulan Emas, kau mempunyai kedudukan apa, mungkin tidak rendah ya?”

Sukma Tidak Buyar melototkan matanya lalu berkata:

“Hui Kiam, kau jangan pikir yang bukan-bukan. Kedatangan mereka itu dengan tujuan dan tekad yang bulat, penumpahan darah sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Saat itu kau

nanti harus menurut perkataanku dalam suatu tindakanmu. Jikalau kau tidak beruntung terjatuh di tangan mereka, bagaimana akibatnya kau boleh bayangkan sendiri….”

Sementara itu beberapa orang berpakaian hitam yang jumlahnya hampir dua puluh jiwa telah datang dari dua jurusan dan mengambil sikap mengurung terhadap dua orang itu. Hui Kiam masih setengah percaya setengah tidak terhadap perkataan Sukma Tidak Buyar, tetapi sang waktu sudah tidak mengijinkan ia banyak berpikir lagi.

Di antara rombongan orang berpakaian hitam itu, nampak keluar seorang yang lengannya tinggal sebelah, lalu berkata dengan nada mengejek:

“Penggali Makam, kita bertemu lagi. Dunia memang luas, tetapi bagi orang-orang yang bermusuhan dirasakan sempit. Selamat bertemu!”

Orang itu, bukan lain dari pada Utusan Bulan Bintang yang dahulu sebagai utusan untuk mengantarkan barang antaran kepada Sam-goan Lojin di Sam-goan-pang, tetapi telah dipotong sebelah lengannya oleh Hui Kiam.

Hui Kiam menyapu orang-orang di sekitarnya. Diantara mereka itu kecuali dua orang tua yang masing-masing bersenjata pedang, yang lainnya nampak masih muda-muda dan berbadan kuat, di belakang mereka masing-masing membawa sebilah pedang. Hui Kiam lalu menatap wajah utusan yang lengannya tinggal satu itu dan berkata kepadanya dengan nada dingin:

“Dahulu aku cuma mengutungi satu lenganmu semata-mata karena jangan sampai Sam-goan Lojin mendapat susah. Tetapi hari ini, kematianmu sudah tiba!”

Salah satu dari kedua orang tua yang membawa pedang maju dua langkah dan berkata kepada utusan lengan satu:

“Nomor delapan, kau mundurlah!” kembali ia berpaling dan berkata kepada seorang berjanggut: “Nomor dua, kau coba menghadapinya!”

“Baik!”

Utusan lengan satu yang disebut nomor delapan lalu mengundurkan diri, dan utusan nomor dua sambil menghunus pedang maju ke hadapan Hui-Kiam seraya berkata:

“Penggali Makam, hunuslah pedangmu!” Hui-Kiam dengan sikap tenang dingin perlaban-lahan menghunus pedangnya. Ia berdiri dengan sikap acuh tak acuh, ujung pedang menunjuk ke bawah, ini merupakan pembukaan ilmu pedangnya yang hebat itu.

Suasana menjadi gawat, pembunuhan tidak akan dapat dihindarkan lagi.

Di lain pihak, orang tua membawa pedang, sudah berhadapan dengan Sukma Tidak Buyar dan berkata kepadanya:

“Apakah tuan ini orang yang mempunyai nama panggilan Sukma Tidak Buyar?”

“Benar!”

“Hari ini sukmamu mungkin akan buyar.” “Ha, ha, ha, bagaimana sebutan sahabat?''

“Anggota badan pelindung hukum Persekutuan Bulan Bintang, Malaikat dari Langit Kim Kui!”

“Sungguh tidak kuduga kalian dua saudara ternyata sudah menjadi anggaota badan pelindung dari Bulan Emas, dan yang satu itu tentunya adalah adikmu si Malaikat dari Bumi Kim Go!”

Orang tua itu berkata sambil menatapkan matanya kepada orang tua yang berdiri di samping Hui Kiam, suaranya nyaring, maksudnya ialah untuk memberitahukan kepada Hui Kiam bahwa dua orang tua itu adalah dua Malaekat Langit dan Bumi, yang namanya menggetarkan golongan hitam dan putih.

Hui Kiam meskipun sudah mendengar perkataan Sukma Tidak Buyar, tetapi karena pengalamannya belum banyak, ia tidak tahu dua Malaekat Langit dan Bumi itu orang dari mana, maka ia tidak menaruh perhatian.

Malaekat Langit Kim Hui menatap  wajah Sukma Tidak  Buyar sejenak lalu berkata:

“Nama aslimu?” “Nama asliku sudah hilang, tinggal nama julukan yang tidak sedap kedengarannya ini!”

“Ada hubungan apakah kau dengan Penggali Makam?” “Kawan sejalan.”

“Maksudmu apakah kawan sejalan dalam menghadapi kepada persekutuan kami?”

“Aku tidak berkata demikian, kawan sejalan ialah kawan sama- sama jalan.”

“Kau menyangkal ada hubungan dengan dia?” “Juga tidak menyangkal.”

“Inilah paling baik.   Tahukah kau apa akibatnya orang-orang yang berani bermusuhan dengan persekutuan kami?”

“Jelas sekali!”

''Bagus, tiga hari, kemudian kau harus datang melaporkan diri ke kantor cabang kita di daerah Go-see. Sekarang kau boleh pergi!”

“Maaf, kalau mau pergi harus bersama-sama pergi, dengan dia sudah menjadi kawan sejalan, tidak boleh tidak harus mempunyai sedikit perasaan setia kawan!”

“Kau ingin aku bertindak?” “Apa boleh buat!”

“Di bawah tanganku selamanya tidak ada yang hidup, tentang ini kau tentunya mengerti?”

“Sukma Tidak Buyar selamanya tidak bisa mati, tentang ini kau tentunya juga mengerti!”

“Bagus, mari kita coba!”

Dengan tanpa banyak rewel orang tua itu sudah melancarkan serangannya dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam.

Sukma Tidak Buyar terdorong mundur satu langkah, nyata kekuatan tenaga dalamnya masih kalah setingkat. Tetapi ia segera maju lagi dan balas menyerang, sehingga keduanya lalu bertempur sengit.

Di lain pihak, Hui Kiam dan utusan nomor dua, masih berhadapan bagaikan patung. Ini merupakan pertandingan mengadu keuletan, untuk siapa yang goyah pikirannya segera mendapat serangan yang membahayakan jiwa. Pertandingan semacam itu di luar nampak tenang, tetapi sebetulnya paling berbahaya.

Di wajah Hui Kiam nampak semakin tebal kemarahannya, maksudnya membunuh yang tidak tertampak wujudnya semakin meluap.

Dahi utusan nomor dua sudah penuh keringat, pedang di tangannya tiba-tiba nampak sedikit gemetar, hanya sedikit perubahan itu saja dalam mata orang kuat, sudah merupakan suatu kesempatan baik untuk mengambil jiwanya.

Malaikat Bumi Kim-Go yang menyaksikan hal yang demikian segera berseru:

“Nomor dua mundur ”

Hampir bersamaan pada saat itu suara jeritan mengerikan terdengar, tubuh utusan nomor dua sudah terkutung menjadi dua potong hingga isi perut dan darah berhamburan di tanah.

Setiap orang yang ada di situ, semua dikejutkan oleh kejadian itu.

Hui-Kiam masih tetap berdiri di tempatnya, ujung pedang masih tetap menunjuk ke bawah seolah-olah belum pernah digerakkan, hanya ujung pedang nampak tanda darah yang masih menetes ke tanah.

Semua orang-orang Bulan Emas sama terkejut. Dalam waktu sepintas lalu saja, selanjutnya semua nampak beringas, agaknya ingin mencoba kepandaian pemuda itu, setiap orang sudah siap hanya menantikan komando pemimpinnya.

Malaikat Bumi Kim-Go memperdengarkan suara tertawanya yang menyeramkan. Dengan pedang di tangan kirinya ia berkata: “Penggali Makam, aku ternyata salah hitung terhadap dirimu.

Sekarang serahkanlah jiwamu!”

Ucapannya itu ditutup dengan satu serangan. Gerakan pedangnya menimbulkan suara mengaung di udara, serangannya cepat, ganas dan tepat.

Hui-Kiam kembali menggunakan ilmu pedangnya yang cuma satu jurus itu saja untuk melawan musuhnya.

Dalam waktu sekejap mata saja, kedua pihak sudah saling menyerang sepuluh kali lebih, satu bukti bahwa ilmu pedang kedua pihak semua merupakan ilmu pedang yang lain dari biasanya.

Ilmu pedang Hui-Kiam yang mempunyai gerak tipu satu jurus saja, sudah digunakan berulang-ulang. Meskipun hanya satu jurus, tetapi hebatnya luar biasa. Meski Malaikat Bumi sudah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, ternyata masih tidak berdaya. Meski ia tahu bahwa ilmu pedang lawannya itu hanya sejurus saja, tetapi ia tidak dapat menemukan kelemahannya.

Di lain pihak, pertempuran antara Sukma Tidak Buyar dengan Malaikat Langit Kim Kui meskipun yang tersebut lebih dulu agak kalah sedikit setingkat kekuatan tenaga dalamnya, tetapi dengan mengandalkan gerakannya yang lincah dan aneh, ia masih dapat mengimbangi sampai berapa puluh jurus.

Dengan cepat pertempuran dua rombongan itu sudab berlangsung lima puluh jurus lebih. Hui Kiam yang berhasil merebut posisi, lalu melancarkan serangannya dengan sepenuh tenaga sehingga membuat lawannya terus mundur dan hanya mampu menangkis, tidak bisa membalas sama sekali.

Sesaat kemudian, terdengar suara seruan tertahan, ketiak kiri Malaikat Bumi tertusuk ujung pedang Hui Kiam, darah mengucur terus tetapi ia mencoba untuk bertahan terus. Sementara itu beberapa orang anak buahnya semua menantikan dengan pedang terhunus, asal ada perintah dari Malaikat Bumi, segera menyerang bersama. Hui Kiam dikejutkan oleh keuletan Malaikat Bumi itu. Ilmu pedangnya yang mematikan itu, meski sudah digunakan berulang- ulang sampai lima puluh kali tetapi masih belum merobohkan lawannya, sedangkan kekuatan tenaga dalamnya sendiri, sudah mulai berkurang. Jika semua anak buah Bulan Emas itu maju bersama-sama, bagaimana akibatnya tidak dibayangkan, akan tetapi ia sedikitpun tidak mempunyai pikiran untuk lari....

Di pihaknya Sukma Tidak Buyar, dengan gerakannya yang lincah ia bergerak kesana kemari bagaikan berkelebatnya bayangan, ada kalanya juga balas menyerang. Orang tua misterius itu agaknya menganggap pertempuran itu bagaikan permainan saja, andaikata ia mau berlalu dari situ, mudah saja baginya, dan mungkin tiada seorangpun yang dapat merintanginya. Tetapi ia tidak mau berbuat demikian. Setelah dapat melihat gelagat agak merugikan di pihaknya, tiba-tiba ia berseru:

“Penggali Makam, simpan tenagamu untuk digunakan lain lagi, mari kita pergi!”

Hui Kiam tergerak hatinya, tetapi ia tidak memberikan reaksi apa- apa, ia masih tetap menyerang dengan hebat, agaknya sudah bertekad hendak merobohkan lawannya.

Malaekat bumi keadaannya sudah sangat berbahaya, tetapi ia masih belum mengeluarkan perintah kepada anak buahnya untuk menyerang musuhnya secara beramai. Inilah sifat khas bagi orang gagah, mereka lebih suka mati daripada ternoda namanya.

Pada saat yang sangat gawat itu, tiba-tiba muncul seorang yang membawa buli-buli besar di pundak kirinya dan kantong besar di pundak kanannya. Orang tua itu bukan lain daripada Manusia Gelandangan Ciok Siao Ceng.

Semua orang dari Persekutuan Bulan Emas segera bergerak mundur ke samping dan semua membongkokkan badan memberi hormat seraya berkata:

“Selamat pagi bapak komandan?” “Sudah tidak perlu.” Hui Kiam yang menyaksikan keadaan orang tua aneh itu, sesaat badannya dirasakan hampir mau meledak. Sungguh tidak disangka bahwa seorang pendekar tua yang sudah kenamaan dalam rimba persilatan, ternyata sudah menjadi mabuk karena pengaruhnya mas, sehingga mengabdikan diri kepada Persekutuan Bulan Emas, bahkan sudah diangkat sebagai komandan. Tetapi meski kedudukannya kedengarannya tinggi sekali, padahal cuma bagaikan seekor anjing yang dituntun oleh majikannya. Orang-orang Persekutuan Bulan Emas telah bermaksud hendak menguasai dunia, hal itu sudah diketahui oleh semua orang. Manusia Gelandangan itu sudah mendapat nama baik dalam rimba persilatan, masih menyediakan tenaga untuk membantu orang-orang jahat itu mencapai cita-citanya, hal ini sesungguhnya sangat memalukan.

Sukma Tidak Buyar lalu berseru dengan sikap suaranya yang sangat lucu:

“A ha.....! Bagus sekali kau Manusia Gclandangan sekarang ternyata juga menjadi komandan dalam Persekutuan Bulan Emas, aku merasa sangat malu terhadap perbuatanmu ini!”

Orang tua aneh itu mulutnya berteriak-teriak tetapi gerak badannya masih tetap lincah, sedangkan Malaikat Langit menyerang semakin hebat.

“Bocah, kalau kau tidak segera pergi nanti sudah tidak keburu lagi,” demikian ia berseru kepada Hui-Kiam.

Kemudian ia sendiri mengeluarkan suara geraman hebat, lalu melepaskan diri dari tangan musuhnya. Sebentar kemudian ia sudah berada di suatu tempat sejauh delapan tombak. Kecepatan gerak kakinya itu sesungguhnya sangat mengagumkan.

Akan tetapi, walaupun ia cepat, si Manusia Gelandangan bertindak lebih cepat. Orang hampir tidak melihat bagaimana ia bergerak tahu-tahu sudah berada di hadapan Sukma Tidak Buyar. Dengan satu ayunan tangan, ia telah berhasil memaksa Sukma Tidak Buyar terputar balik lima tombak jauhnya.

Sementara itu ujung pedang Malaekat Langit sudah mengancam kepada dirinya. Tetapi Manusia Gelandangan kemudian berseru:

“Kim Kui kau menyingkir, aku hendak membunuhnya sendiri!”

Malaekat Langit menarik kembali pedangnya lalu pergi membantu saudaranya mengerubuti Hui Kiam. Dengan demikian keadaan lantas berubah.  Hui Kiam berbalik terdesak….

Sukma Tidak Buyar berkata dengan suara keras:

“Penggali Makam, kau jangan mengagungkan kegagahanmu. Kau mati tidak apa, tetapi aku Sukma Tidak Buyar tidak ada orang yang akan menuntutkan balas dendam, mati juga penasaran!”

Perkataan itu menggetarkan hati dan jiwa Hui Kiam.

Sementara itu Manusia Gelandangan sudah menyerang Sukma Tidak Buyar. Tiga jurus kemudian ia sudah tidak berdaya, gerakannya yang demikian lincah ternyata sudah tidak ada gunanya.

Di lain pihak, Hui Kiam sudah terkena tiga serangan hingga mundur terhuyung-huyung. Tetapi di pihaknya Malaikat Langit juga terbabat pundaknya oleh pedang Hui Kiam, darah mengucur keluar, hampir ia roboh.

---ooo0dw0ooo---