Pedang Pembunuh Naga Jilid 04

Jilid 04

SEMENTARA itu, tangannya yang halus sudah memeluk badannya si kongcu. . . .

Ie It Huan berkata kepada Hui Kiam sambil menyentuhnya. “Toako, dia sudah akan turnn tangan. ”

Tapi belum lenyap suaranya, ia sudah dapat lihat kipas kongcu itu mendadak bergerak, kemudian tubuh Wanita Tanpa Sukma itu mundur terhuyung-huyung sambil keluarkan jeritan, selanjutnya lantas rubuh di tanah.

Kongcu itu lantas berkata sambil ketawa tergelak-gelak:

“Wanita Tanpa Sukma, kau salah hitung. Dengan kepandaianmu ini tidak berlaku di hadapan kongcumu. Apa kau kira kongcupun tidak tahu riwayatmu? Ha ha ba adikku yang manis, mari kita bersenang-senang dulu, dan kemudian... heh, tempat ini baik sekali bagi tempat mengasomu untuk selama-lamanya.”

Wanita Tanpa Sukma ternyata sudah tcrtotok jalan darahnya, ia kini sudah tak berdaya sama sekali.

“Kau. kau… siapa?'' demikian ia bertanya dengan suara bengis.

“Bu-theng Kongcu. Apa kau pernah dengar? Bu-theng itu artinya tidak mempunyai isi perut, tapi bukan seorang yang suka malang melintang sesukanya, ha ha ha. ”

Dengan kepandaiannya Wanita Tanpa Sukma dalam waktu sekejap mata sudah dibikin tidak berdaya oleh Bu-thcng Kongcu, ini kalau bukan karena Wanita Tanpa Sukma yang terlalu pandang ringan korbannya, sehingga salah hitung, tentu saja kepandaian Bu- theng Kongcu ini yang terlalu tinggi bagi Wanita Tanpa Sukma.

Dengan perasaan tidak kaget dan heran, Ie It Huan berkata kepada Hui Kiam: “Toako, Bu-theng kongcu ini belum lama muncul di dunia Kang- ouw tapi namanya sudah menggetarkan baik kalangan putih maupun golongan hitam. Malam ini aku baru menyaksikan wajah aslinya. Kabarnya, ia ada satu Don-yuan yang sangat ganas, tidak mempunyai perasaan prikemanusiaan, kalau membunuh orang, tidak meninggalkan bangkainya dalam Keadaan utuh, perempuan yang ia sudah cemarkan kehormatannya lantas diambil jiwanya….”

Kini kembali terdengar suara Bu-theng kongcu yang berkata kepada Wanita Tanpa Sukma sambil ketawa terbahak-bahak:

“Wanita Tanpa Sukma, bentuk tubuhmu ini benar-benar sangat menarik hati!”

Sehabis berkata demikian, kipasnya bergerak digunakan untuk merobek baju korbannya.

Wanita Tanpa Sukma berteriak dengan suara kalap:

“Bu-theng kongcu, sekalipun aku sudah menjadi setan, juga tidak akan mengampuni kau!”

“Bagus sekali.   Ingat, kalau kau sudah jadi setan, jangan lupa aku bernama Kang Lie.”

Tepat pada saat itu, sesosok bayangan putih melayang turun dari tengah udara sambil mengeluarkan suara bentakan: “Kawanan tikus, kau berani.”

Bu-theng kongcu lompat mundur beberapa tindak. Tatkala matanya menatap bayangan putih itu, ia lantas berkata sambil ketawa:

“Penggali Makam, tidak nyana kau juga antarkan nyawa.”

“Bu-theng kongcu, aku juga hendak menggali makam untukmu.”

Sementara Ie It Huan yang juga sudah tiba di situ segera dapat lihat Wanita Tanpa Sukma yang telah menggeletak di tanah tanpa berdaya bajunya berkoyak, hingga badannya setengah telanjang. Ketika menyaksikan keadaan demikian, ia lantas pelengoskaa kepalanya. Bu-theng kongcu lagaknya sangat sombong, agaknya tidak pandang mata pada Penggali Makam.

Dengan wajah penuh amarah, Hui Kiam berkata padanya:

“Orang she Kang, sudah lama kudengar semua kejahatanmu. Malam ini, aku hendak melenyapkan satu anasir kejahatan dalam rimba persilatan!”

“Kau mampu?” “Coba saja!”

Dengan tanpa banyak bicara lagi, ia sudah melancarkan serangannya dengan sepenuh tenaga.

Bu-theng kongcu pentang kipasnya, anginnya menghembus keluar, hingga berbenturan dengan hembusan angin yang keluar dari serangan Hui Kiam.

Kedua-duanya segera terpental mundur satu langkah, ternyata kekuatan mereka berimbang.

Hui Kiam agak kaget, ia tidak menduga bahwa satu kipas saja membawa hembusan angin demikian hebat.

Bu-theng kongcu kini balas menyerang dengan senjata kipasnya yang ampuh itu.

Hui Kiam sambuti serangan tersebut. Kali ini juga mengunjukkan keseimbangan kekuatan mereka.

Bu-theng kongcu agaknya merasa penasaran. Dengan kecepatan luar biasa ia membuka serangannya dengan berbagai gerak tipunya yang aneh-aneh, hingga Hui-Kiam terdesak mundur.

Ie-lt Huan coba hendak memberi bantuan, tapi ia tidak berani berlaku gegabah. Ia takut akan menimbulkan kemarahan Hui-Kiam karena walaupun bergaul hanya belum lama, tapi sudah kenal baik sifatnya pemuda bermuka dingin itu.

Menghadapi serangan musuh yang demikian dasyat, Hui-Kiam terpaksa hunus pedangnya, kemudian dengan gerakan tipunya yang tidak ada taranya, ia melakukan serangannya. “Trang!” demikian suara benturan senjata terdengar nyaring. Keduanya lantas memisahkan diri. Baju Bu-theng kongcu bagian dadanya terkoyak bekas senjata Hui Kiam, tetapi aneh, kongcu itu nampak tenang saja, juga tidak tertampak darah mengalir keluar.

Hui Kiam heran. Apakah kongcu itu mempunyai ilmu gaib yang tidak mempan senjata tajam?

Tiba-tiba terdengar suaranya Wanita Tanpa Sukma yang nyaring: “Dia ada mengenakan baju kulit yang tidak mempan senjata tajam. Barusan karena aku tidak mengetahui, hingga terpedaya olehnya.”

Hui Kiam baru sadar apa sebabnya senjatanya tidak mampu menembusi dadanya dan apa sebabnya Wanita Tanpa Sukma ditundukkan dengan mudah oleh kongcu keparat itu.

Kedua pemuda itu kembali saling menyerang. Karena keduanya ada berimbang kekuatannya, sedang gerak tipu serangan Hui Kiam cuma serupa saja, meski serangannya cukup hebat, tapi karena Bu- theng kongcu mempunyai senjata ampuh yang melindungi tubuhnya, maka ia tidak perlu menjaga bagian-badannya dan bisa melakukan serangan dengan sepenuh tenaga.

Sebentar saja pertempuran itu sudah berlangsung duapuluh jurus lebih, tapi keduanya masih belum kelihatan tanda-tandanya siapa yang akan menang dan siapa yang bakal kalah.

Tiba-tiba terdengar pula suaranya Wanita Tanpa Sukma yang ditujukan kepada le It Huan:

“Sukma Tak Buyar, tolong bebaskan totokanku!”

Ie It Huan melengak. Mengingat keadaannya wanita itu, jantungnya berdebaran. Dengan tanpa menoleh ia menjawab:

“Kau tertotok bagian mana?”

“Bagian buah dada, perut dan pusar!”

Ie It Huan hampir jatuh semaput. Ketiga jalan darah itu letaknya di bagian terlarang, bagaimana bisa ia turun tangan? Maka seketika lamanya ia tidak dapat membuka mulut. “Sukma Tak Buyar, kau ternyata ada hati menyaksikan seorang wanita diperhina dengan berpeluk tangan saja. Percuma kau menjadi seorang Kang-ouw!” berkata Wanita Tanpa Sukma dengan penuh ejekan.

Ucapan itu memang hebat. Ie It Huan tahu Hui Kiam hendak membunuh wanita itu, tapi tentunya juga tidak akan turun tangan bila ia tahu wanita itu dalam keadaan tidak berdaya.

Karena wanita itu sudah membuka mulut untuk minta pertolongan, kalau tidak diterima, agaknya keterlaluan dan memang benar itu bukan sikapnya orang-orang Kang-ouw, yang mengutamakan sifat kesatriaannya. Maka ia lantas maju sambil kertak gigi, kemudian ia ulur tangannya untuk membebaskan totokan wanita itu.

“Terima kasih!” berkata Wanita Tanpa Sukma, yang lantas lompat bangun dan membereskan pakaiannya, kemudian dengan rasa gemas ia menerjang Bu-theng kongcu.

Pada saat itu, tiba-tiba muncul empat laki-laki berpakaian serba hitam.

“Kongcu, kami datang terlambat. Harap maafkan kesalahan kami!” Demikian empat laki-laki itu berkata dan berpencar menjadi dua rombongan masing-masing menghadapi le-It Hoan dan Wanita Tanpa Sukma.

Waktu itu, Bu-theng kongcu sudah bertempur empat jurus lebih. Serangan Bu-theng kongcu sangat aneh, makin lama makin dahsyat. Kipasnya sebentar terbuka sebentar tertutup. Hawa dingin menyambar-nyambar bagaikan ujung pedang.

Hui Kiam merasa agak berat karena Cuma mengerti semacam gerak tipu itu-itu saja, walaupun sudah digunakan berkali-kali dan masih tetap ampuh, tapi sedikit banyak masih bisa memberi kesempatan bagi lawannya untuk balas menyerang. Ia juga tahu, sekalipun kongcu itu tidak memakai baju kulit untuk melindungi badannya, tapi hendak mengalahkan padanya setidak-tidaknya juga masih memerlukan waktu seratus jurus lebih. Dari pihaknya bagi Bu-theng kongcu juga merasa kaget dan terheran-heran terhadap kepandaian Hui Kiam. Ia sudah salah hitung.

Saat itu Wanita Tanpa Sukma sudah kalap benar-benar. Bagaikan harimau betina yang sedang mengamuk karena kehilangan anaknya, ia hajar dua laki-laki pakaian hitam itu.

Belum berapa jurus, satu di antaranya sudah rubuh sambil mengeluarkan jeritan ngeri, tinggal satu lagi sudah tentu tidak dapat berbuat apa-apa maka sebentar kemudian sudah tamat riwayatnya.

Dengan matinya dua pengawal kongcu ini, dua lainnya yang melawan Ie It Huan lantas merasa keder. Satu di antaranya sudah dihajar mampus oleh pemuda itu, sedang satu nya lagi meski sudah tahu tidak ada harapan tapi masih melawan mati-matian.

Sementara itu, Wanita Tanpa Sukma yang masih penasaran, lantas maju menerjang dan dengan satu serangan, ia sudah bikin remuk kepala pengawal tersebut.

Bu-theng kongcu yang melihat gelagat tidak baik, buru-buru meninggalkan lawannya dan kabur jauh-jauh.

Wanita Tanpa Sukma yang masih kalap itu lantas mengejar sambil berteriak: “Kemana kau lari!”

Hui Kiam kesima. Ia simpan pedangnya dan berkata kepada Ie- It Hoan:

“Mari kita pergi!” “Balik ke kota?”

“Aku pikir tidak usah, sebaiknya kita bermalam di luar kota saja!” Selagi hendak berlalu, tiba-tiba terdengar suara orang tua: “Jangan kesusu pergi dulu, aku ingin bicara sebentar.”

Berbareng pada saat itu di hadapan mereka sudah berdiri seorang tua. Ternyata adalah itu orang tua yang mengunjukkan di mana adanya Wanita Tanpa Sukma. Ie It Huan buru-buru maju memberi hormat seraya berkata: “Lotiang hendak memberi petunjuk apa?”

Tapi orang tua itu tidak perdulikan pertanyaan le It Huan, sebaliknya dengan sinar matanya yang tajam menatap wajah Hui Kiam, lama baru menanya:

“Anak, kau murid siapa?”

“Mohon dimaafkan, tentang ini boanpwee tidak dapat menerangkan.”

Wajah orang tua itu berubah, dengan tongkatnya ia ketukkan ke tanah lalu berpaling dan berkata kepada Ie It Huan:

“Bocah, kau hendak kemana?”

Satu dipanggil anak satunya dipanggil bocah ini nyata ada bedanya, bagi le It Huan meski bukan berarti suatu penghinaan, tapi sedikit banyak merasa mendongkol maka ia menjawab meniru jawaban Hui Kiam:

“Tentang ini boanpwee tidak dapat menerangkan.”

“Bocah! Aku si orang tua akan memukulmu baru nanti berhitungan dengan setan tua pemabukan.”

Ie It Huan terperanjat, wajahnya berubah seketika. Ia buru-buru memberi hormat dan berkata:

'“Kau orang tua bagaimana panggilannya?”

“Jangan menanya dulu. Beritahukan padaku, kau hendak kemana!”

“Ini… ini… ada urusan rahasia. Boanpwee tidak dapat….”

“Tidak bisa. Bagaimanapun juga kau harus terangkan. Kalau tidak, urusan setan tua pemabukan itu aku si orang tua tidak mau memperdulikannya lagi!”

Hui Kiam yang berdiri di samping merasa heran, entah apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu. Ie-It Huan nampaknya sangat murung. Matanya terus menatap Hui Kiam, agaknya ingin menanyakan kepadanya apakah ia boleh menerangkan maksud perjalanan ini kepada orang tua itu.

Hui Kiam juga dapat mengerti kesulitan pemuda itu. Karena pikirannya bahwa kepergiannya hendak mencari Manusia Tangan Seribu itu tidak perlu dirahasiakan, maka ia lantas anggukkan kepala.

le-It Huan bagaikan seorang yang baru terlepas dari siksaan.

Lebih dulu ia unjukkan senyumnya, barulah berkata:

“Boanpwee dengan saudara angkat ini hendak pergi ke gunung Bo-po-san!”

“Bo-po-san? Perlu apa kau hendak pergi ke tempat sejauh ribuan lie itu?”

“Untuk menjumpai seorang locanpwee yang berdiam di lembah Pek hui-kok!”

“Itu ahli senjata rahasia Si Tangan Seribu?” “Ya!”

“Tidak usah pergi. Untung aku tadi menanyakan, kalau tidak itu tentu akan menubruk angin!”

“Kenapa?”

“Sebab Manusia Tangan Seribu sudah meninggal pada setengah tahun berselang karena perbuatannya orang jahat.”

Kepala Hui Kiam seperti diguyur air dingin. Manusia Tangan Seribu sudah binasa di tangan orang jahat! Maka rahasia mengenai tusuk konde emas siapa lagi yang dapat memberi keterangan?”

“Benarkah Manusia Bertangan Seribu itu sudah meninggal di tangan orang jahat?” demikian ia bertanya.

Orang tua itu segera menyahut dengan alis berdiri: “Aku si orang tua tidak ada perlunya membohongimu. Sebaliknya, apakah kau suka memberitahukan kepadaku apakah maksudmu hendak mencari ahli senjata rahasia itu?”

“Ingin minta kepadanya untuk menyelidiki asal-usulnya sebuah senjata rahasia!”

“Ow, senjata rahasia apa?”

“Sepasang tusuk konde emas kepala burung hong.” “Coba perlihatkanlah kepadaku!”

Hui Kiam lalu mengeluarkan tusuk konde tersebut dan diberikan kepada orang tua itu.

Orang tua itu memeriksa dengan seksama, akhirnya ia mengembalikan tusuk konde itu seraya berkata: “Aku tidak dapat membedakan dari mana kau dapat senjata ini?”

“Boanpwee dapat dari seorang yang terbinasa karena senjata ini!”

“Oh, aku belum pernah mendengar ada orang rimba persilatan yang menggunakan tusuk konde sebagai senjata rahasia, mungkin itu perbuatan seorang rendah….”

Dari kepandaian orang yang binasa itu, orang yang menggunakan senjata ini bukanlah orang sembarangan.”

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara seruan le It Huan: “Boanpwee tahu siapa kau si orang tua ini.”

Orang tua itu menatap wajah Ie It Huan dengan sinar mata dingin, lalu berkata:

“Bocah, tabiatmu ini serupa benar dengan setan tua pemabukan. Melihat pakaianmu begini necis bagaikan satu kongcu, tapi masih tidak terlepas dari tabiatmu yang bobrok bagaikan besi rongsokan itu. Kau tahu siapa aku si orang tua?”

Ie It Huan tidak marah, sebaliknya malah tertawa cengar-cengir: “Kau si orang tua adalah Orang Tua Tiada Turunan….” Hui Kiam ketika mendengar disebutnya nama Orang Tua Tiada Turunan itu, nampaknya sangat heran, kemudian ia berkata: “Jadi locianpwee adalah Orang Tua Tiada Turunan?''

“Kenapa?”

“Dicari kesegala pelosok, tidak tahunya diketemukan dengan secara mudah!”

Orang tua itu membuka lebar matanya dan bertanya: “Anak, apakah artinya perkataanmu ini?”

Hui Kiam baru memberi hormat seraya berkata:

“Boanpwee Hui Kiam, atas pesan suhu hendak mencari locianpwee!”

“Cari aku si orang tua?” “Ya.”

“Siapa suhumu?”

“Dimasa hidupnya suhu belum pernah memberitahukan namanya, tetapi beliau meninggalkan sepotong barang kepercayaan, pesan pada boanpwee biar bagaimana harus mencari locianpwe sehingga ketemu, nanti pasti mengerti sendiri.”

Sehabis berkata demikian, dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebuah benda, yang ternyata cuma merupakan sepotong belahan uang tembaga kuno yang aneh bentuk dan rupanya.

Orang Tua Tiada Turunan itu setelah menyaksikan belahan uang tembaga itu, wajahnya berubah seketika, badannya gemetar. Ia menerima uang itu dan diperiksanya dengan seksama, kemudian ia berkata:

“Suhumu sudah menutup mata?” “Ya,” jawabnya singkat. “Bagaimana matinya?”

Dengan air mata berlinang-linang dan kertak gigi Hui Kiam menjawab: “Tiga hari tiga malam suhu mengeluh terus-menerus, kemudian baru menutup mata dalam keadaan musnah seluruh kepandaiannya. Atas pertanyaan boanpwee, suhu cuma mengatakan bahwa dahulu ia pernah terkena tangan jahat musuhnya. Luka lama itu telah kambuh lagi.”

Orang Tua Tiada Turunan juga mengucurkan air mata. Ia berkata dengan suara gemetar:

“Kembali seorang gagah perkasa telah mengalami nasib demikian menyedihkan, aih..!”

Ie-It Huan yang sejak tadi berdiri mendengarkan dengan tenang, sama sekali tak bisa campur mulut, tapi ia telah dapat melihat di balik sifat Hui Kiam yang dingin angkuh masih terdapat suatu perasaan yang halus tulus.

Dengan suara sedih Hui Kiam berkata:

“Mohon locianpwee sudi memberitahukan sedikit keterangan!

Orang Tua Tiada Turunan itu berpikir sejenak lalu mengembalikan potongan uang lama itu kepada Hui Kiam seraya berkata:

“Mari kita pindah ke lain tempat untuk beromong-omong!”

Di bawah pimpinan Orang Tua Tiada Turunan itu, tiga orang itu melalui sungai dan rimba pohon Liu, tiba di suatu tempat yang tersembunyi, setelah masing-masing mengambil tempat duduk, Orang Tua Tiada Turunan itu lalu berkata sambil menghela napas panjang:

“Dengarlah ceritaku tentang peristiwa aneh dalam kalangan rimba persilatan...”

la lalu menatap Hui Kiam dan berkata pula:

“Bocah, apakah kau pernah mendengar nama julukan Lima Kaisar Rimba Persilatan?”

Ie It Huan tiba-tiba menyela dengan suara nyaring: “Lima Kaisar Rimba Persilatan?”

“Bocah, tutup mulutmu. Aku tidak bertanya kepadamu. Kau jangan sembarangan membuka mulut, kalau tidak mau kau dengar aku nanti usir kau pergi!”

Ie lt Huan membasahi lidahnya, agaknya merasa takut terhadap orang tua itu. Benar saja, ia lalu bungkam.

Hui Kiam berkata:

“Boanpwe muncul di kalangan Kang-ouw belum lama. Terhadap beberapa tokoh terkemuka, tidak begitu jelas.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepala dan berkata:

“Lima Kaisar Rimba Persilatan itu, adalah lima tokoh yang paling menonjol dalam rimba persilatan pada lima puluh tahun kemarin. Baik kepandaiannya maupun nama kedudukannya, kecuali Tiga Raja Rimba Persilatan yang sudah tidak tahu di mana jejaknya, sudah tidak ada lagi yang dapat menandingi. Orang-orang rimba persilatan, kebanyakan cuma mendengar nama Lima Kaisar, tetapi tidak tahu siapa sebetulnya Lima Kaisar itu?” Sejenak dia berdiam, kemudian berkata pula:

“Dari mana asal-usulnya Lima Kaisar itu, tiada orang yang tahu.

Urutan gelar mereka dibagi Kim, Bok, Bui, Hwee dan Tho….”

le-It Huan kembali hendak membuka mulut, tetapi baru saja bergerak bibirnya, sudah dipelototi oleh Orang Tua Tiada Turunan.

“Di antara Lima Kaisar itu, dipandang dari sudut kepandaian ilmu silatnya, Kim-tee-Cui-Pin yang paling tinggi, dan yang paling cerdik adalah Thio-tee Sun Thian Kuat, sementara itu Bok tee-Kong-sun Yu-To Cui-tee Thio Cek Leng dan Hwee-tee Pui Un Tiong termasuk orang-orang yang berkepandaian biasa saja, sudah tentu itu menurut perbandingan kepandaian antara Lima Kaisar itu, tetapi dalam rimba persilatan, tiada seorangpun yang mampu menandingi salah satu di antara mereka berlima. Pada sepuluh tahun berselang Thio-tee Sun Thian Kuat dengan tidak sengaja telah menemukan sejilid kitab ajaib dalam rimba persilatan.” Ie lt Hoan lalu menyela:

“Thian-khie Po-kip!”

Orang Tua Tiada Turunan itu mendelikkan matanya dan berkata: “Benar, kitab itu adalah Thian-kie Po-kip. Disamping kitab itu

disertai sehelai gambar peta, yang menunjukkan tempat tersimpannya sebilah senjata pedang dari jaman purbakala.”

Hui Kiam segera menyela:

“Apakah itu bukan sebuah makam pedang sangat rahasia yang letaknya di lembah Ciok-leng-gai, yang ramai dibicarakan oleh orang-orang rimba persilatan?”

“Tepat, itulah pedangnya makam yang sangat aneh itu. Waktu itu, menurut hasil perundingan Lima Kaisar itu, gambar peta itu dibawa oleh Kim-tee Cui-pin untuk mencari tempat tersimpannya senjata purbakala itu, sedangkan kitabnya dipelajari lebih dulu oleh Thio-tee Sun Thian Kuat yang paling cerdik. ”

“Bagaimana hal itu bisa tersiar ke dunia Kang-ouw?”

“Dengar dulu penuturanku. Kitab itu terlalu susah dipahami. Thio-tee menggunakan waktu satu tahun, baru dapat memahami isinya satu bagian saja. Sementara itu, tiba-tiba tersiar kabar tentang kematiannya Kim-tee di bawah gunung Tay-hong-san. ”

“Aaa!”

“Berita itu pernah menggemparkan seluruh rimba persilatan. Empat Kaisar yang lainnya ketika mendengar berita itu segera pergi kesana. Tiba di tempat tersebut, benar saja segera dapat menemukari jenazah Kim-tee di bawah kaki gunung dengan luka parah di badannya, sedang tubuhnya sudah mulai membusuk.”

“Kalau begitu betapa hebatnya kepandaian si pembunuh?”

“Em! Empat Kaisar selesai mengurus jenazah Kim-tee mendadak muncul seorang jago pedang berkedok yang sangat aneh.   Orang itu mengaku bahwa Kim-tee itu mati di tangannya, bahkan menantang keempat Kaisar itu….” Hui Kiam dan Ie It Huan berseruan “Oh” berbareng, bukan kepalang terkejut mereka.

Orang Tua Tiada Turunan itu pejamkan mata berpikir sejenak, lalu berkata pula:

“Kedua pihak lalu mengadakan pertempuran di atas gunung Tay- hong-san. Jago pedang berkedok itu Tak mau memberitahukan namanya dan asal-usulnya, tetapi ia mengaku bahwa maksudnya ialah ingin mendapatkan kitab Thian-khie Po-kip….”

“Lebih dulu Bok-tee yang maju melayani musuh tidak dikenal ini, tetapi baru tiga jurus ia sudah kalah.   Cui-tee turut membantu, tetapi juga tidak tahan sampai sepuluh jurus. Kemudian Empat Kaisar bergabung menjadi satu, bertempur sengit lebih dari dua ratus jurus lebih. Tho-tee terluka parah, sedang serangan pedang jago pedang berkedok itu tetap ganas. Jika keadaan itu berlangsung terus, pada akhirnya Empat Kaisar itu pasti jatuh di tangan jago pedang tidak dikenal itu semuanya.”

Berkata sampai di situ, Orang Tua Tiada Turunan itu menghela napas panjang. Dengan nada berubah tinggi ia berkata pula:

“Thio-tee dan Hwee-tee meskipun sudah terluka parah, tetapi tidak mau mengundurkan diri. Mereka dengan bahu membahu bertempur terus secara mati-matian. Dengan demikian, pertempuran itu dilanjutkan hampir seratus jurus lagi.

Sekonyong-konyong Bok-tee menggeram hebat. Ia melancarkan satu serangan ganas. Dengan secara nekad ia melesat ke dalam lingkaran pedang musuhnya. Serangan nekad ini membuat jago pedang berkedok itu berlubang dada kirinya, tetapi Thio-tee sendiri jiwanya melayang seketika.”

Hui Kiam dan Ie It Huan yang mendengarkan nampak tertegun.

Wajah Orang Tua Tiada Turunan nampak berkerenyit beberapa kali. Ia berkata pula:

“Karena serangan itu, gerakan jago pedang itu mulai kendor. Tiga Kaisar mendesak hebat. Jago pedang itu pelahan-lahan mulai terdesak. Sekonyong-konyong ia melepaskan senjata rahasia. Dengan kepandaiannya yang begitu tinggi, tiga Kaisar itu ternyata tidak satu pun yang mampu mengelakkan senjata rahasia tersebut….”

“Dari senjata rahasia tersebut, tiga Kaisar itulah baru dapat mengenali siapa adanya jago pedang berkedok itu….”

Hui Kiam sudah menduga sebagian. Dengan tidak sabar lagi ia bertanya:

“Dari mana asal-usul jago pedang itu?”

“Senjata rahasia itu bernama 'Hut-kut-sim-ciam’ atau jarum yang melekat tulang, senjata tersebut sebetulnya merupakan senjata tunggal dari Jin-ong, adalah satu tokoh dalam barisan Tiga Raja Rimba Persilatan….”

“Apakah jago pedang itu murid Jin-ong?”

“Tiga Kaisar kala itu telah membuka kedok jago pedang itu, tetapi jago pedang itu tidak mengaku juga tidak membantah. Karena Tiga Raja Pedang itu sudah lima puluh tahun lebih tidak muncul di dunia Kang-ouw sedangkan Jin-ong juga seorang golongan baik. Apa yang disebut jarum melekat tulang itu hakekatnya dalam cerita saja, yang pernah digunakan satu kali oleh Delapan Iblis dari Thian-ik pada delapan puluhan tahun berselang….”

“Dan selanjutnya?”

“Tiga Kaisar tahu setelah terkena senjata rahasia itu, kalau melanjutkan pertempuran paling-paling cuma bisa tahan hidup sampai setengah jam lagi, maka Cui-tee mendesak supaya Thio-tee dan Hwe-tee, segera berlalu untuk berusaha menuntut balas, agar tidak binasa bersama. Dengan bercucuran air mata kedua kaisar itu akhirnya mengundurkan diri….”

“Kalau begitu Cui-tee telah berkorban.”

“Ya, setelah Thio-tee dan Hwee-tee pergi, di bawah kaki gunung Keng-san, Thio-tee merobek kitab itu menjadi dua bagian, bagian atas dibawanya sendiri, bagian bawahnya diberikan kepada Hwee- tee, maksudnya apabila mereka tidak berhasil melindungi kitab itu, sekalipun dirampas oleh musuh, juga Cuma hanya dapatkan sebagian saja.

Thio-tee dan Hwee-tee berpisahan, masing-masing memberi serupa benda sebagai tanda kepercayaan. Thoitee berkata, semasa masih hidup, ia akan mencari seorang turunan, untuk diberi pelajaran bagian ke atas, di kemudian hari orang yang diambilnya sebagai murid itu dengan membawa benda kepercayaan itu boleh minta kepada Hwee-tee untuk menyempurnakannya!”

Hui Kiam tiba-tiba bangkit dan berkata dengan suara bergetar: “Mungkinkah suhu adalah Thio-tee Sun Thian Kuat?”

“Benar, suhumu adalah Thio-tee. Setelah ia berpisahan dengan Hwee-tee, di bawah kaki gunung Keng-san kebetulan menemukan kau yang sedang terlantar. Karena melihat bakat dan tulang- tulangmu yang bagus, dengan sangat girang ia membawamu pergi. ”

Mata Hui Kiam tiba-tiba mengunjukkan kemurkaan dalam hatinya. Dengan suara keras dan air mata berlinang ia berseru:

“Dengan darah menukar darah, dengan pembunuhan menghentikan pembunuhan.”

Orang Tua Tiada Turunan juga bangkit, sambil menepuk pundak Hui Kiam ia berkata:

“Anak, suhumu tidak memberitahukan namanya kepadamu, juga tidak mewariskan kepandaiannya sendiri, karena ia takut akan dikenali oleh musuhnya sehingga mensia-siakan pengharapannya. Kau harus dapat menyadari suhumu, rahasiakanlah asal-usul dirimu….”

“Boanpwe akan ingat pesan locianpwe ini.”

“Sekarang kau harus berusaha untuk mencari orang yang membawa sepotong belahan uang logam kuno itu ”

“Si supek?” “Sudah dikatakan, mungkin Hwee-tee sendiri tetapi mungkin juga bukan.”

“Mengapa?”

“Suhumu selama sepuluh tahun ini masih belum berhasil mengeluarkan Jarum Melekat Tulang dari dalam tubuhnya, sehingga akhirnya meninggal dunia setelah musnah semua kepandaiannya. Hwee-tee mungkin juga tidak terkecuali. Sudah tentu jika ia mengetahui bahwa ajalnya sudah akan tiba, tentunya bisa mengadakan persiapan. ”

Hui Kiam bergidik.

Orang tua itu berkata pula:

“Adalah tidak sengaja aku berjumpa dengan suhumu setelah kejadian itu. Ia lalu menceritakan peristiwa tersebut serta memintaku untuk mencari jejak Hwee-tee, tetapi hingga saat ini aku masih belum dapat menemukan. Anak, jika kau tidak dapat menemukan Si supekmu untuk mempelajari bagian bawah kitab Thian khie-po-kip, jangan membicarakan soal menuntut balas lagi.”

“Biar bagaimana boanpwee pasti hendak mencari Si supek.”

“Kau boleh mencoba mengadakan penyelidikan di gunung Tay- hoan-san lebih dulu ”

“Ya!”

“Dan lagi, kau harus berlaku sangat hati-hati, Persekutuan Bulan Emas pasti tidak akan melepaskan kau, aku sekarang masih hendak melanjutkan usahaku untuk mencari Si supekmu, untuk melaksanakan janjiku kepada suhumu.   Urusan selanjutnya, aku bisa mencari kau sendiri.”

“Terima kasih atas budi kebaikan locianpwee.”

“Tidak usah kau mengucapkan terima kasih. ingat, jangan melakukan banyak pembunuhan.”

“Ya.” “Mengenai urusan tusuk konde emas berkepala burung hong itu, aku akan memperhatikannya….”

“Bolehkah aku bertanya, apakah locianpwee tahu siapa orangnya yang dinamakan To-liong Kiam-khek itu?”

“Ia sudah sepuluh tahun lebih menghilang, kita harus menyelidikinya perlahan-lahan. Sekarang aku hendak pergi.”

Gesit sekali gerakan Orang Tua Tiada Turunan itu, sebentar sudah menghilang dari depan mata Hui Kiam.

Dengan perasaan heran Kui Kiam bertanya kepada le It Huan: “Apakah adik Hoan tahu riwayatnya orang tua itu?”

“Riwayat orang tua ini sangat unik sekali. Ia dengan suhu hubungannya erat sekali, tetapi aku hanya mendengar saja, belum pernah melihat orangnya. Ia sebetulnya tidak disebut Orang Tua Tiada Turunan, nama julukannya semula adalah Dewa Dalam Arak. Nama itu disesuaikan dengan kegemarannya akan arak. Sepuluh tahun berselang, ia bercerai dengan isterinya. Sang istri itu kemudian menghilang dengan membawa anak laki satu-satunya yang lahir dalam usianya sudah lanjut. Karena rumah tangganya berantakan, juga tidak pernah menerima seorang muridpun juga, maka ia menyebut dirinya sendiri menjadi Orang Tua Tiada Turunan.

Oleh karena mencari anak dan istrinya, ia sampai melakukan perjalanan jauh ke perbatasan, maka aku cuma mendengar namanya tidak tahu orangnya!”

'Bagaimana kelakuannya?”

“Orang dari golongan kebenaran, tapi tidak menghiraukan segala peraturan yang tidak perlu!”

“Sebentar sudah akan terang tanah, aku pikir kita tidak usah balik ke dalam kota, kita berpisah di sini saja!”

“Apa, berpisah?” “Aku lihat kau bukan seorang penganggur sedang aku masih banyak sekali urusanku tidak ada alasan kau terus menerus mengikuti aku.”

“Toako, aku memang benar-benar tidak mempunyai pekerjaan apa-apapun juga, baiknya, aku ikut kau saja?”

“Aku suka pergi seorang diri saja!”

“Terhadapku kau agaknya masih tidak percaya?” “Terserah bagaimana kau pikir, aku harus pergi.” “Tidak perlu mengucapkan sampai berjumpa lagi?”

“Berkumpul atau berpisah, bagi manusia yang masih hidup belum menentu, biar saja kita serahkan kepada nasib.”

Sehabis berkata, lalu bergerak pergi.

Sambil memandang bayangannya, le It Huan berkata: “Dalam dunia ternyata ada seorang bersikap dingin dan tidak berperasaan begitu rupa. Kalau aku tidak mengikuti jejakmu, bukankah percuma saja aku mempunyai nama julukan Sukma Tidak Buyar?”

Dengan cepat ia segera lari menyusul.

Dalam perjaialan ke gunung Tay-hong-san, meski Hui Kiam belum tahu akan hasilnya, tapi seperti apa yang dikatakan oleh Orang Tua Tiada Turunan, gunung Tay-hong san merupakan tempat kematian supeknya, mungkin dapat diketemukan sedikit tanda- tanda yang dapat digunakan sebagai petunjuk. Dalam perjalanan, hatinya merasa tidak karuan.

Benarkah musuhnya itu adalah muridnya Jiu-ong?

Dengan seorang diri, orang itu hampir memusnahkan semua Lima Kaisar, kekuatan dan kepandaian demikian, sesungguhnya tidak habis dimengerti. Jika ia sendiri tidak berhasil menemukan Si- supeknya, untuk mempelajari kepandaian dalam kitab Thian-khie Po-kip seluruhnya, maka soal menuntut balas dendam akan merupakan suatu impian saja! Siapakah musuh yang membinasakan ibunya? Apa sebab musababnya?

Mengapa To-liong Kiam-khek menghilang? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam otaknya.

Pergi ke gunung Tayhong san, jika mengambil jalan lurus, harus melalui gunung Keng-san. la takut melihat tempat terjadinya peristiwa berdarah semasa kanak-kanak, tetapi mau tidak mau kakinya menginjak tanah yang meninggalkan bekas darah itu. Rumah tinggalnya yang dibakar pada sepuluh tahun berselang sedikitpun sudah tidak meninggalkan bekasnya, semua hanyut terbawa oleh berlalunya sang waktu, tinggal ingatannya yang tetap masih segar, peristiwa menyedihkan yang terjadi pada sepuluh tahun berselang, kembali terbayang dalam otaknya dalam bayangan air matanya ia seolah-olah dapat melihat paras ibunya dan pengalamannya yang menyedihkan, sehingga menimbulkan perasaan pilu dalam hatinya.

Di bawah sebuah pohon tua, terdapat segundukan tanah kuburan. Ia ingat itu adalah suhunya yang membantunya mencari tulang-tulang ibunya dalam reruntuhan puing dan abu, lalu ditanam di tempat itu, dan sekarang, suhunya juga sudah meninggal setelah menderita tiga hari tiga malam......

Ia berlutut di depan makam, airmata mengalir deras, tekadnya untuk menuntut balas semakin teguh.

Sinar matahari yang menyinari dirinya membuat satu bayangan di atas tanah kuburan.

Tiba-tiba ia dapat melihat satu bayangan lain bertumbuk di atas bayangan dari badannya sendiri.

Ia terperanjat. Dari bayangannya dapat diukur bahwa orang itu berada di belakangnya tidak jauh dari tiga kaki, tetapi siapakah dia dan sejak kapan berada di belakangnya? Mengapa ia sendiri tidak berasa? Apakah karena kepandaian orang itu yang terlalu tinggi ataukah karena ia sendiri sedang berduka sehingga menjadi lengah? Kalau orang itu adalah musuh, ia benar-benar sudah tidak mempunyai banyak kesempatan untuk melawan.

Tetapi meski dalam hatinya merasa terkejut dan khawatir, di mukanya masih tetap tidak mengunjukkan reaksi apa-apa. Dengan tenang ia mengusap air matanya. Dengan nada suara dingin ia menanya: “Siapa?”

Sebuah benda keras dan dingin terasa menempel di jalan darab Ben bun-hiat di belakang punggung.   Ia tahu bahwa itu adalah ujung pedang. Meski ia mempunyai kepandaian ilmu luar biasa, jalan darahnya tidak takut tertotok tetapi itu hanya bagi totokan dengan jari biasa, jika dengan ujung pedang, sekalipun dewa juga tidak mampu mengelakkan.

Satu suara yang dingin dan menusuk telinga terdengar di belakangnya:

“Penggali Makam, sekarang ceritakanlah siapa suhumu?”

“Kau siapa?” demikian Hui Kiam bertanya dengan mengeraskan hatinya.

“Tidak halangan aku beritahukan kepadamu. Utusan Bulan Emas.”

Hui Kiam merasa bergidik, terjatuh di tangan musuh besarnya itu tidak mungkin ia dapat meloloskan diri, tetapi pada saat itu ia sudah tidak mempunyai kesempatan sedikitpun untuk memberi perlawanan. Betapapun tinggi kepandaiannya, betapapun gesit gerakannya juga sulit untuk meloloskan diri dari ujung pedang musuhnya. Meski hatinya merasa panas, tetapi apa daya?

“Membokong dari belakang, bukan perbuatan seorang gagah!” demikian ujarnya.

“Penggali Makam, dengan kau untuk apa harus berbicara soal licik atau tidak? Sekarang, beritahukanlah lekas siapa suhumu?”

“Tidak!”

“Apakah kau ingin mampus?” “Soal mampus bagiku tidak berarti!” “Benarkah kau tidak mau menjawab?” 'Tidak!”

Rasa sakit luar biasa mendadak seperti menusuk ulu hatinya, ujung pedang sudah masuk setengah dim dalam jalan darah, ia masih ingat hawa panas mengalir melalui jalan darahnya, tetapi ia mengatupkan gigi, sedikitpun tidak mengeluh.

“Kau jawab tidak?” “Tidak!”

Ujung pedang terasa digerakkan, tulang di belakang gegernya mengeluarkan suara seperti dikerik, rasa sakit itu, tidak dapat dilukiskan dengan pena, tubuhnya mulai gemetar, dahinya mengeluarkan keringat dingin, tetapi ia tetap mengatupkan gigi. Ia yang dihidupkan dalam suasana dalam kebencian dan amisnya darah telah belajar banyak segala kekejaman terhadap dirinya sendiri atau terhadap musuh

nya, kekuatan benci tidak terbatasi ia dapat membuat orang tidak menghiraukan siksaan badannya, tidak menghiraukan hidup atau mati.

“Penggali Makam, setengah dim lagi, nyawamu akan tamat!” demikian terdengar suara ancaman.

“Ber… tin… dak… lah….”

Darah mengucur tiada hentinya, suatu pertanda bahwa jiwanya pelahan-lahan mendekati ajalnya, melambai-lambaikan tangannya, ia masih menolak. Dengan mati secara demikian, itu sesungguhnya merupakan suatu hal di luar dugaannya.

Sekonyorig-konyong dua sosok bayangan orang lari mendatang dan berkata dengan serentak:

“Tahan!”

Dengan seorang memegang tangan Hui Kiam, dua orang itu tarik berdiri badannya. Utusan Bulan Emas yang berada di belakangnya bertanya dengan suara bengis:

“Penggali Makam, siapa orang dalam makam ini?”

“Kalian tidak perlu tahu!” jawab Hui Kiam dengan suara gemetar.

“Membuat kau menangis sedih, orang dalam makam ini tentunya mempunyai hubungan erat dengan kau. Bagaimana? Apakah kau ingin aku berlaku sebagai Penggali Makam?”

“Kau… berani?”

“Ini bukan soal berani atau tidak berani. Kecuali kau suka memberitahukan suhumu dan riwayatnya ”

“Kalau aku tidak sampai mati, jika aku tidak mampu membunuh habis kalian orang-orang seperti iblis binatang ini, aku bersumpah tidak mau jadi orang lagi!”

“He he he be, sayang sekali kawan, kau sudah tidak akan mendapat kesempatan lagi untuk selama-lamanya.”

Kedua orang berpakaian hitam yang memegang dua tangan Hui Kiam berkata:

“Menurut pikiranku sebaiknya musnahkan kepandaian dan kekuatannya terlebih dulu, kemudian kita membawanya ke pusat!”

Utusan yang berada di belakang diri Hui Kiam lalu menjawab: “Baik.”

Tepat pada saat itu….

Sesosok bayangan merah dengan kecepatan bagaikan kilat meluncur turun ke hadapan tiga orang itu dan membentak dengan suara bengis:

“Penggali Makam, aku akan ambil jiwamu!”

Bersamaan dengan itu, tangannya sudah menyambar Hui Kiam yang tertawan oleh tiga Utusan Bulan Emas.

“Jangan bertindak!” Demikian Utusan Bulan Emas berseru, lalu merintangi tindakan orang yang baru datang tadi….

Orang yang baru datang itu ternyata adalah Wanita Tanpa Sukma.

Tindakan Wanita Tanpa Sukma itu benar-benar di luar dugaan semua orang.

Utusan Bulan Emas yang menggunakan pedang mengancam Hui Kiam, berkata:

“Wanita Tanpa Sukma, apakah maksudmu?”

Wanita Tanpa Sukma mengunjukkan tingkahnya yang genit. Ia berkata sambil tersenyum menggiurkan:

“Tuan-tuan utusan dari Bulan Emas, tolong kalian serahkan dia kepadaku, bagaimana?”

“Serahkan kepadamu?'“ berkata utusan yang memegang pedang itu. “Wanita Tanpa Sukma, daging ini kau sudah tidak mendapat bagian. Carilah ke lain tempat!”

“Tuan ternyata salah faham. Maksudku ialah memberikannya kepadaku supaya aku yang membunuhnya.”

Mendengar perkataan demikian, dada Hui Kiam dirasakan seperti mau meledak. Ia tidak menyangka bahwa dirinya dibuat rebutan sebagai barang hidangan empuk.

Utusan itu menjawab sambil tertawa dingin:

“Wanita Tanpa Sukma, kau tak perlu berlagak, dalam dunia ini masih banyak laki-laki tampan, jangan kau memikir yang tidak- tidak.”

Wanita Tanpa Sukma mendekati utusan tersebut. Dengan sikapnya yang semakin genit ia berkata:

“Tuan, maksud kalian tidak lain juga menginginkan dia mati. Siapa bertindak bukan serupa saja. Mengapa kau tidak mau memberi muka?” “Kami tidak akan tertipu oleh akal muslihatmu. Sudah saja.” “Eh, tuan bicara harus tahu aturan sedikit.”

“Wanita Tanpa Sukrma, kau harus tahu bahwa kami bukan orang-orang yang sayang kepada paras elok.”

Wanita Tanpa Sukma kembali maju selangkah. Ia berkata dengan paras dingin:

“Aku sudah bertekad bulat akan mendapatkan dirinya.”

Sambil mengayunkan tangan kirinya, dengan kecepatan bagaikan kilat menyerang belakang kepala Hui Kiam.

Utusan itu sambil berseru: “Kau berani!” menangkis dengan tangannya.

Tetapi tangan kanan pada saat itu mendadak menusuk ketiak kiri utusan itu.

Utusan tersebut yang tangan kanannya memegang pedang mengancam Hui Kiam, sedangkan tangan kiri digunakan untuk menangkis, kecuali berkelit sudah tidak ada lain jalan lagi. Disamping itu, serangan Wanita Tanpa Sukma itu juga merupakan serangan mematikan, sudah tentu tidak berani menyambut dengan kekerasan.

Keadaan sudah tidak memberikan kesempatan baginya untuk banyak berpikir. Hampir dengan secara otomatis utusan itu memiringkan badannya. Tangan kiri berbenturan dengan tangan Wanita Tanpa Sukma yang menyerang belakang kepala Hui Kiam, sehingga mengeluarkan suara “Duk!” Utusan itu lalu terpental mundur satu langkah, sehingga ujung pedang terpisah dari tubuh Hni Kiam.

Dua utusan yang memegang kedua tangan Hui Kiam hanya bisa berteriak:

“Kau cari malapetaka!”

Terjadinya perubahan itu sesungguhnya tidak terduga-duga. Daya reaksi Hui Kiam juga cepat sekali. Karena seluruh kekuatannya masih utuh, luka di belakang punggung hanya merupakan luka luar, tidak ada artinya, setelah dari ancaman, dua orang itu tak dipandang mata lagi olehnya. Dengan cepat ia gerakkan dua tangannya, sehingga dua orang yang memegang kedua tangannya terpental jauh.

Di lain saat, pedang Hui Kiam sudah berada dalam tangannya.

Tiga Utusan Bulan Emas itu dengan mata membara dan suara menggeram hebat menyerang Wanita Tanpa Sukma dan Hui Kiam.

Hui Kiam yang sedang murka, melakukan serangan mematikan satu-satunya yang terdiri hanya satu jurus.

Tiba tiba terdengar suara jeritan ngeri. Utusan yang menyerang dari kanan terpotong putus badannya batas pinggang, sedang utusan yang menyerang dari kiri tertabas pedangnya sehingga menjadi dua potong.

Wanita Tanpa Sukma berulang-ulang perdergarkan suara tertawanya, badannya bergerak bagaikan ikan berenang menerobos dalam sinar pedang si utusan.

Betapapun tinggi kepandaian Utusan Bulan Emas saat itu juga tidak berdaya terhadapnya.

Hui Kiam pada saat itu sudah mengerti maksud Wanita Tanpa Sukma. Setelah membinasakan satu lawannya, ia menyerang lagi kepada utusan yang masih memegang pedang.

Utusan itu sangat gusar. Ia menetakkan pedangnya yang tinggal sebilah itu kepada Hui Kiam. Pemuda itu terpaksa menangkis dengan pedangnya......

Setelah menetakkan senjatanya, utusan itu lalu kabur terbirit- birit.

Utusan yang bertempur melawan Wanita Tanpa Sukma, ketika melihat gelagat tidak baik lalu berseru:

“Wanita Tanpa Sukma, kau tunggu saja!” kemudian juga melarikan diri. Hui Kiam menyimpan kembali pedangnya, kemudian berkata kepada Wanita Tanpa Sukma sambil mengangkat tangan memberi hormat:

“Kuucapkan banyak-banyak terima kasih atas bantuan nona.”

Kata-katanya meski sangat menghormat tetapi sikapnya dingin sekali.

Wanita Tanpa Sukma kembali memperlihatkan sikapnya yang menggiurkan. Ia berkata sambil tersenyum:

“Tidak usah. Kau membantu aku melepaskan diri dari tangan Bu- theng kongcu, dan aku bantu kau melepaskan kepungan Utusan Bulan Emas, untuk selanjutnya kita satu sama lain tidak ada yang hutang.”

Hui Kiam masih ingin berkata apa-apa, bibirnya bergerak tetapi tidak dikeluarkan.

Wanita Tanpa Sukma memandang Hui Kiam sejenak, kemudian berkata dengan sungguh-sungguh:

'“Penggali Makam, Persekutuan Bulan Emas mempunyai banyak penganut yang berkepandaian sangat tinggi. Para utusan tadi itu, cuma terhitung orang-orangnya yang termasuk golongan kelas dua ke bawah, selanjutnya harus berlaku hati-hati. Tujuan utama persekutuan itu hendak menguasai rimba persilatan. Mereka tidak melepaskan seorang musuhnyapun juga. Tokoh-tokoh ternama yang tidak mau menuruti kehendaknya juga tidak dilepaskan begitu saja. Sampai ketemu lagi!”

Hui Kiam sebetulnya masih ingin mengucapkan beberapa parah kata, tetapi wataknya yang dingin menyebabkannya segan nembuka mulut, hanya dari sinar matanya saja yang menunjukkan perasaan terima kasihnya.

Setelah mengawasi Wanita Tanpa Sukma berlalu, ia berlutut lagi di hadapan kuburan ibunya kemudian melanjutkan perjalanannya ke gunung Tay hong-san. Wanita Tanpa Sukma itu meski menggunakan kecantikannya dan kegenitannya untuk memikat dan membunuh laki-laki hidung bejlang, tetapi dalam kalangan Kang-ouw tidak pernah tersiar cerita yang menjelekkan namanya. Dari hal ini bisa dilihat bahwa tindakannya itu semata-mata karena terdorong oleh perasaan hatinya yang disakiti sehingga menimbulkan hasrat untuk menuntut balas. Hal ini mirip keadaannya dengan Hui Kiam yang menyebut dirinya Penggali Makam.

Hari itu juga Hui Kiam tiba di gunung Tay hong-san dan melakukan penyelidikannya.

Keadaannya mirip dengan usahanya mencari Iblis Wanita Bertusuk Konde Emas. Tiada sedikitpun keyakinan, tetapi tidak boleh tidak harus mencarinya.

Dalam waktu tiga hari ia sudah menjelajahi seluruh gunung tetap tidak mendapatkan apa-apa.

Ia tahu bahwa perjalanannya ini akan tersia-sia. Tetapi ia masih belum putus harapan sebab dalam hatinya masih mempunyai keinginan untuk mencoba-coba. Karena dari semula tidak menaruh banyak harapan, maka perasaan putus harapan dengan sendirinya juga berkurang.

Kini tempat yang diinjak itu, adalah puncak terakhir gunung tersebut. Keadaan alamnya sangat indah dan menawan hati.

Tiba tiba matanya dapat melihat tidak jauh dari tempat ia berdiri, ada sebuah tumpukan batu yang mirip dengan sebuah kuburan.

Siapakah gerangan orang yang dikubur dalam puncak gunung yang tinggi dan mempunyai pemandangan alam demikian indah ini?

Dengan tidak disadarinya ia berjalan menghampiri gundukan tanah itu. Tidak salah, itu adalah sebuah kuburan yang dibuat oleh tangan manusia! Meski nampaknya bukan sebuah kuburan kuno tetapi sedikitnya sudah berumur.

Ia menghapus lumut yang tumbuh di lapisan batu nisan. Segera tertampak tulisan di atasnya. Ketika ia membaca bunyinya tulisan itu, seketika berdiri terkejut. Huruf-huruf di atas batu nisan itu berbunyi:

“Di sini bersemayam Pui In Tiong. Didirikan oleh putrinya: Pui Ceng Un.”

Pui Un Tiong adalah Hwee-tee, salah satu dari Lima Kaisar, orang yang merupakan supeknya dan kini sedang dicarinya. Beliau sudah meninggal? Pui Ceng Un adalah putrinya? Dan di mana ia sekarang berada?

Si supeknya sudah meninggal dunia. Bagaimanakah kematiannya itu? Mati karena Jarum Melekat Tulang ataukah… Sepotong uang logam yang berada di tangannya, apakah meninggalkan pesan kepada keturunannya?

Ia berlutut di hadapan makam supeknya. Harus mencari puterinya itu?

Soal ini, harus dapat menemukan putrinya yang bernama Pui Ceng Un itu dahulu, baruIah dapat jawabannya. Tetapi kemana harus mencari putrinya itu?

Ia berlutut di hadapan makam supeknya untuk menyatakan hormatnya.

Dengan diketemukannya makam itu, kini telah terbukti bahwa Lima Kaisar itu sudah tiada seorangpun yang masih hidup. Jago pedang berkedok yang digambarkan oleh Orang Tua Tiada Turunan, kini telah terbayang dalam otaknya. Seorang jago pedang luar biasa, tetapi juga merupakan satu hantu yang menakutkan. Hanya untuk mendapatkan jilid kitab Thian-khie Po-kip, lima orang kuat luar biasa dalam rimba persilatan telah dilenyapkan dari dunia.

Benarkah orang itu adalah muridnya Jin-ong?

Sudah sepuluh tahun lamanya, mengapa tiada dengar kabar tentang diri jago pedang berkedok itu muncul lagi di kalangan Kang- ouw? Sudah tentu, maksudnya mengenakan kedok hanya untuk menutupi wajah aslinya dan kejahatannya.

Tiga Raja Rimba Persilatan sudah lima puluh tahun lebih menghilang dari dunia Kang-ouw. Peristiwa berdarah yang mengenaskan ini bukankah akan terpendam untuk selama-lamanya?

“Aku hendak menuntut balasl”

Demikianlah Hui Kiam menggeram dan mengacungkan kepalan tangannya ke atas. Rasa benci dan dendam telah meluap berubah menjadi suatu keinginan yang dingin dan buas.

Wajahnya yang memang sudah dingin, nampak semakin dingin.

Sekonyong-konyong dari tempat apak jauh, terdengar suara jeritan ngeri. Hui Kiam terkejut. Dengan tanpa pikir lagi dia lari bergerak menuju ke puncak gunung sebelahnya.

Tidak berapa lama, ia sudah berada di atas puncak gunung tersebut. Matanya berputaran melihat keadaan sekitarnya. Segera menemukan bangkai seorang pemuda berpakaian ringkas warna hitam, rebah menggeletak dalam darah. Sebilah pedang terletak beberapa kaki di sisi badannya. Awak pedang masih ada bekas tanda darahnya sedang badan terkorban terdapat sebuah sarung pedang yang kotor. Sudah terang bahwa pembunuhnya telah menggunakan pedang sendiri.

Siapakah pembunuhnya?

Tiga tombak dari tempat kejadian itu, di belakang sebuah pohon besar, kelihatan satu bayangan merah.

“Kau?” berseru demikian dengan suara gemetar.

“Ya, aku. Mengapa?'' demikian terdengar satu jawaban dari si Wanita Tanpa Sukma, berjalan menghampirinya.

“Kau membunuh orang lagi?”

“Benar, aku yang membunuh orang itu. Sebelum aku mati dibunuh, aku tidak akan menghentikan tindakanku ini!” Ucapan ini dikatakan dengan paras gusar sehingga membuat gemetar. Siapa yang melihatnya, inilah suatu perbuatan kejam bagaikan perbuatan orang gila. Hui Kiam dengan sinar mata dingin menatap paras wanita itu kemudian berkata:

“Untuk menghentikan perbuatanmu yang gila itu, nampaknya aku harus membunuhmu!”

“Kau si Penggali Makam barang kali tidak sanggup melakukan!” jawabnya wanita itu acuh tidak acuh.

“Coba libat saja!” Berkata demikian, segera mengangkat tangannya, tetapi ketika hendak melakukan serangan, tiba-tiba ditarik kembali dan berkata dengan suara gemetar:

“Wanita Tanpa Sukma, kali ini aku lepaskan kau tetapi harus menerima baik satu syaratku!”

“Syarat apa?”

“Kita bersama-sama pergi ke Ie-hun San-cung untuk menyelesaikan persoalanmu yang minta aku mengantarkan barang sumbangan kepala manusia kepada Sam-goan Lojin.”

“Dalam soal ini rupanya tidak perlu kau yang harus bertindak.” “Tetapi aku sudah menyanggupi Sam-goan Lojin untuk

menyelesaikan persoalan ini!” “Tetapi jikalau aku tak mau?”

“Aku terpaksa akan memotong kepalamu!” “Benarkah?”

“Aku sudah akan mempertaruhkannya dengan nama baikku.”

Paras Wanita Tanpa Sukma itu nampak berobah, ia berkata: “Penggali Makam, aku bukan takut kepadamu, melainkan oleh

karena dahulu kau sudi menolong aku mengantarkan kepala orang itu sehingga kau terbawa-bawa oleh persoalan itu, maka rela aku menceritakan kepadamu hal yang sebenarnya ”

“Ceritakanlah!” Paras Wanita Tanpa Sukma itu menunjukkan perasaan dendam sakitnya yang hebat. Dengan suara menggeletar ia mulai menceritakan kisahnya:

“Seorang gadis piatu yang belum mempunyai pengalaman hidup di dalam dunia yang kotor ini telah membayangkan keberuntungan hidup di masa yang akan datang. Ia berikan semua cintanya kepada seorang laki-laki yang diangapnya boleh dijadikan saudara seumur hidupnya paling akhir. Ia bahkan menyerahkan kesuciannya yang amat berharga. Tetapi laki-laki itu setelah mendapatkan cinta dan dirinya gadis piatu itu, lalu meninggalkannya dengan seorang gadis lain. Cobalah kau pikir sendiri, laki-laki yang kejam dan tidak berperasaan ini harus dibunuh atau tidak?”

“Apakah gadis piatu itu adalah kau sendiri?” “Tepat!”

“Apakah kau juga pernah memikirkan diri gadis baru bakal isterinya yang tiada berdosa?”

“Sudah. Kalau ia menikah dengan lelaki demikian, tidak akan beruntung, maka aku telah membunuh bakal suaminya sebelum mereka melakukan upacara perkawinan, dengan demikian ia boleh merasa beruntung karena kehormatannya belum dicemarkan.”

---ooo0dw0ooo---