Pedang Pembunuh Naga Jilid 03

Jilid 03

“B O C A H ini merupakan lawan berat!”

Salah satu di antara tiga orang itu dengan sinar matanya yang tajam menatap wajah Hui Kiam yang dingin kecut. Lalu menanya:

“Kau muridnya nenek tua itu?”

Nenek tua? Hui Kiam tidak tahu siapa yang dikatakan nenek tua itu. Tapi ia dapat menduga bahwa bangkai-bangkai itu tentunya terbunuh oleh itu orang perempuan yang disebut nenek tua.

Apakah nenek tua itu adalah itu Iblis Wanita Bertusuk Konde Emas yang ia sedang cari?

Karena berpikir demikian, maka sesaat semangatnya lantas terbangun.

Laki-laki berwajah kejam itu lantas menyahut: “Masih belum dapat dibuktikan, mungkin ya!” “Sudah kau selidiki?”

“Nampaknya berada dalam lembah ini.”

Merdadak muncul lagi seorang tua yang hidungnya bengkok dan rambut serta jenggotnya sudah putih seluruhnya. Di pinggangnya tergantung sebilah pedang berbentuk besar yang agak panjang kira- kira setengah kaki lebih panjang daripada pedang biasa.   Ia berdiri di sebuah batu besar terpisah kira-kira dua tombak dari mereka. Dengan sinar matanya yang tajam, ia mengawasi keadaan orang- orang itu. Empat orang yarg datang duluan ketika mendapat lihat orang tua itu, semua mengunjukkan sikap kegirangan. Semuanya lalu memberi hormat seraya berkata:

“Congkam, kami memberi hormat!”

Orang tua yang disebut congkam atau komandan itu, matanya tetap menatap wajah Hui Kiam, kemudian berkata kepada anak buahnya:

“Kalian bukanlah tandingannya, mundurlah!”

“Empat laki-laki itu lalu mundur sejauh tiga tombak.   Orang tua itu lalu maju menghampiri Hui Kiam dan berkata padanya:

“Sahabat, kepandaianmu bagus sekali. Kau barangkali adalah itu orang yaug mempunyai gelar Penggali Makam?”

“Benar!”

“Lohu adalah komandan pasukan Persekutuan Bulan Emas, namaku K o Han San. Apakah orang-orang itu mati di bawah tanganmu?”

“Satu diantaranya memang benar aku yang bunuh!” “Yang lainnya?”

“Aku tidak tahu!” “Guru sahabat?”

“Maaf, aku tak dapat memberitahukan.”

“Sahabat, sebaiknya kau terangkan dulu supaya tidak timbul salah paham.”

“Tidak ada kesalahan paham yang perlu diperbincangkan!”

Komandan pasukan itu nampaknya sangat gusar, tapi ia agaknya menindas perasaannya.

“Pemimpin kami sudah lama menghargakan dan junjung tinggi Kim-cee (tusuk konde emas) locianpwee, maka telah mengutus orang-orangnya untuk mengunjungi. Semua ini semata-mata dengan kemauan yang baik dan hati sejujurnya, tiada lain maksud. Apakah sahabat ada murid locianpwee?”

Hati Hui Kiam bergerak, nampaknya ia tak salah alamat. Sungguh tidak nyana Persekutuan Bulan Emas juga mencari Iblis Wanita Bertusuk Konde Emas. Tapi meski hatinya tergerak di luarnya masih tetap dingin.

“Kalau begitu, aku dapat memberitahukan padamu bahwa aku bukan muridnya!”

“Apakah itu benar?”

'Tidak ada perlunya untuk membohong.” “Numpang tanya tentang asal usulmu!” “Maaf, aku tidak dapat menerangkan!”

“Apa saudara hendak tanggung jawab sendiri atas perbuatanmu!”

“Sudah tentu!”

Komandan itu setelah berpikir sejenak, lalu berkata:

“Penggali Makam, kalau kau suka menjadi anggota persekutuan kita, dengan kepandaianmu ini, pasti dapat berbuat banyak untuk kepentingan masyarakat. Pemimpin kami sedang mencari orang- orang pandai, terutama dari angkatan muda selalu mendapat perhatian khusus. Apa kau suka timbang ucapanku ini?”

Dengan tanpa banyak pikir Hui Kiam lantas menjawab:

“Mencari orang-orang pandai, apakah itu bukan berarti menyingkirkan orang-orang yang tidak sepaham dengannya dan mengumpulkan kawanan anjing?”

“Kau terlalu sombong. Tujuan persekutuan kami ialah hendak mempersatukan memperkokoh kedudukan orang-orang rimba persilatan.”

“Sungguh enak didengarnya!”

“Penggali Makam, maksudku adalah baik!” “Terima kasih!”

“Apa kau bermaksud hendak bermusuhan dengan persekutuan kami?”

“Aku sudah bersumpah hendak bermusuhan dengan semua orang jahat dalarn rimba persilatan, tidak pandang bulu.”

“Kau jangan kukuh dengan pendirian sendiri, jikalau kau tidak mau menginsafi, kau nanti akan menyesal sendiri!”

“Ucapanmu ini sebaiknya katakan kepadamu sendiri!”

“Penggali Makam, sayang kepandaianmu, kami sesungguhnya tidak tega turun tangan.”

Hui Kiam mendadak ketawa bergelak-gelak:

“Orang she Ko, jangan salah hitung, aku nanti yang turun tangan terhadap kau.”

Ko Han San menjadi sengit, dengan segera menghunus pedangnya, begitu diputar, ujung pedang menciptakan lima buah sinar berbentuk bunga bwee. Awak pedang itu tebal dan agak lebar dari pedang biasa, bentuknya sangat menyolok. Itu adalah pedang ajaib yang jarang tertampak dalam rimba persilatan.

Dari gerak pembukaan orang she Ko itu, dapat diduga bahwa ia bukan menggunakan ilmu pedang golongan Tionggoan.

Kedua pihak sudah siap, masing-masing mengerti telah menjumpai lawan tangguh.

Kedua pihak berhadapan sekian lama, agaknya sedang mengukur kekuatan masing-masing.

Mendadak Ko Han San keluarkan suara bentakan keras, pedangnya bergerak, dengan gerak satu tipu gunung Thay-san menindih kepala, membacok kepala Hui Kiam.

Hui Kiam yang sudah siap segera menyambuti serangan tersebut, hingga dua senjata saling beradu. Kedua pihak mundur satu tindak. Setelah itu, masing-masing maju lagi berdiri dengan sikap saling menantang. Keduanya mengerti bahwa kekuatan mereka ternyata berimbang.

Suara beradunya pedang terdengar lagi, kali ini lebih hebat daripada yang pertama, hanya gerak tipu Hui Kiam masih tetap tidak berubah, tetap itu-itu saja.

Selanjutnya pertempuran berlangsung dengan sengitnya. Sejurus demi sejurus. Hingga jurus ke delapan, mulut kedua pihak sudah mengalirkan darah, badan terhuyung-huyung, nampaknya kedua pihak akan rubuh sama-sama.

Ketika jurus kesembilan dimulai, mendadak terdengar suara keluhan tertahan dari kedua pihak. Kedua-duanya jatuh numprah di tanah dengan napas memburu, hanya mata masing-masing yang tetap memandang lawannya.

Kira-kira setergah jam kemudian, dua orang berdiri berbareng, akan mulai kejurus kesembilan, tapi kedua pihak ternyata sudah kehabisan tenaga. Serangan kedua pihak tidak hebat, badannya sempoyongan kemudian rubuh lagi.

Empat orang yang datang duluan, ketika menyaksikan keadaan demikian, mereka saling memandang lalu menghampiri Hui Kiam.

Hui Kiam diam-diam mengeluh: “Kali ini habislah jiwaku!”

Karena dalam keadaan terluka hebat demikian, jangan kata empat lawan, satu di antaranya sudah cukup menamatkan riwayat. Tapi satu keinginan hidup dan perasaan penasaran telah membangkitkan sisa kekuatannya yang masih ada. Ia berusaha untuk pertahankan jiwanya.

Empat ujung pedang mulai mengancam dari empat penjuru......

Mendadak terdengar suara jeritan ngeri, satu di antara empat orang itu rubuh dalam keadaan mengerikan, kepalanya telah terpisah dari badannya. Ternyata Hui Kiam telah menggunakan sisa kekuatan tenaganya dengan satu gerakan luar biasa gesitnya sudah menabas kutung kepala salah satu di antara empat orang tersebut. Tapi setelah itu, ia sendiri benar-benar sudah kehabisan tenaga, hingga jatuh numprah lagi di tanah. Darah segar keluar dari mulutnya. Sekarang ia tidak bisa terbuat lain cuma bisa menantikan kematiannya saja.

Tiga kawan yang mati tadi sangat penasaran, sambil keluarkan geraman hebat mereka maju lagi.

Ko Han San mendadak keluarkan perintah: “Jangan bunuh dia, musnahkan saja kekuatan dan kepandaiannya. Bawa pulang dalam keadaan hidup!”

Dimusnahkan kepandaiannya, itu ada lebih daripada kematian. Hui Kiam tidak sudi menghadapi siksaan demikian. Tapi apa daya? Kekuatan untuk bunuh diri saja sudah tidak ada.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suatu bentakan: “Siapa berani berlaku kurang ajar di sini?”

Setelah itu, sesosok bayangan kecil langsing dari seorang wanita berkerudung dan berbaju hijau muncul bagaikan setan.

Dengan munculnya wanita berkerudung itu, tiga orang yang hendak memusnahkan kepandaian Hui Kiam hentikan gerakannya seketika.

Wanita berkerudung itu lalu berkata pula:

“Lekas enyah dari sini!”

Salah satu di antara tiga laki-laki itu, mengawasi wanita berkerudung itu sejenak, lalu berkata dengan nada suara dingin:

“Apakah nona penghuni tempat ini?” “Benar.”

“Apakah orang-orang ini mati di tangan nona?”

“Benar!” jawabnya dingin sekali, soal membunuh jiwa orang itu agaknya bukan merupakan apa-apa baginya.

“Guru nona?”

“Aku suruh kau lekas enyah!” “Kira-kira nona bicara.” “Kalau aku tidak punya kira-kira, siang-siang kau sudah menggeletak di sini!”

“Tahukah nona, siapa yang nona bunuh ini?” “Omong kosong!”

Laki-laki itu mengawasi komandannya yang masih numprah di tanah, sejenak dengan menindas perasaan gusarnya ia berkata:

“Apa nona muridnya Kim-cee-locianpwee?”

Nona itu tidak menjawab pertanyaannya, sebaliknya dengan suara keras ia ulangi ancamannya:

“Kalau tidak lekas pergi, jangan harap kau nanti bisa berlalu dari sini!”

“Nona terlalu jumawa. Aku yang rendah cuma khawatir akan timbul salah paham. Kalau tidak. ”

“Kalau tidak bagaimana?”

“Aku tidak segan melakukan pembunuhan!”

Nona itu perdengarkan suara ketawanya terkekeh-kekeh. Mendadak nampak berkelebatnya bayangan hijau kemudian disusul oleh suara jeritan ngeri. Bayangan hijau itu sudah kembal i lagi ditempatnya, tapi lelaki yang bicara dengannya tadi, ternyata sudah rubuh binasa. Kepalanya sudah remuk, darah merah tercampur putih berhamburan di tanah.

Semua orang terpaku. Pembunuhan kejam serupa itu, jarang tertampak di dunia rimba persilatan. Dengan kepandaiannya laki- laki itu ternyata sudah tidak mampu memberi perlawanan sama sekali, bahkan menangkis pun tidak, tahu-tahu sudah remuk kepalanya. Kepandaian nona itu, benar-benar sangat menakjubkan.

Ko Han San yang sudah dapat waktu cukup lama untuk mengatur pernapasannya kekuatan tenaganya mulai pulih. Ia berbangkit perlahan-lahan dengan mata mengawasi wanita berbaju dan berkerudung hijau, agaknya sedang memikirkan apa. Mendadak ia kibaskan tangannya seraya berkata: “Pulang!”

“Wanita berbaju hijau itu, lantas berkata dengan nada dingin: “Sudah terlambat!”

“Aku telah menyaksikan gerakan nona tadi. Apakah….”

Wanita baju hijau itu angkat tangannya yang putih. Di udara ia membuat gerakan satu lingkaran, lalu turunkan lagi tangannya.

Badan Ko Han San gemetaran, ia mundur dua langkah. Dengan suara ketakutan ia berkata:

“Aku yang rendah mempunyai mata tapi tidak bisa melihat, sehingga melakukan pelanggaran ini, sekarang rela menerima dosa!”

Sehabis berkata, ia mengorek sebelah biji matanya sendiri. Dengan darah berlumuran, biji mata itu diletakkan dalam telapakan tangannya, kemudian berkata pula!

“Mohon supaya kita diijinkan pulang!'“ lalu berpaling pada kedua anak buahnya dan berkata:

“Bukan lekas turun tangan sendiri, apa kau hendak cari mampus!”

Wajah kedua laki-laki itu pucat seketika. Sambil kertak gigi, masing-masing mengorek satu biji matanya sendiri.

Wanita baju hijau itu lantas berkata sambil ulapkan tangannya: “Kalau memang sudah tahu aturannya, mengingat pelanggaran

ini kamu lakukan tidak disengaja, maka pergilah!”

Tiga orang itu bagaikan mendapat suatu keampunan besar, dengan terbirit-birit lari pulang.

Hui Kiam yang menyaksikan adegan luar biasa itu, keringat dingin mengucur keluar. Wajahnya yang dingin kecut, untuk pertama kalinampak ada perubahan, tapi itu hanya sepintas lalu saja, cepat sudah kembali ke asalnya. Wanita baju hijau itu melayang turun ke depan Hui Kiam, dengan nada dingin ia menegur:

“Kau ingin tinggal?”

Hui Kiam berbangkit. Ia simpan pedangnya sebelum membuka mulut. Wanita baju hijau itu sudah ayun tangannya, menekan batok kepala Hui Kiam, tapi mendadak ditarik kembali kemudian menanya:

“Kau, tidak takut mati?”

Wajah Hui Kiam yang tampan dingin nampak semakin dingin. Sepasang matanya memancarkan sinar buas, tapi sedikitpun tidak mempunyai perasaan takut. Ia mengawasi wanita baju hijau itu dengan mata melotot, kemudian berkata dengan nada dingin:

“Kalau kau ingin turun tangan, terserah. Pada saat ini aku sudah tidak mempunyai kekuatan tenaga untuk melawan!”

Wanita baju hijau itu kembali ayun tangannya, tapi tidak diturunkan. Entah karena merasa kagum atas keberaniannya Hui Kiam, ataukah ketarik oleh sikap laki-laki sejati pemuda itu, kembali ia turunkan tangannya. Sambil ketawa dingin ia berkata:

“Kau siapa?”

“Orang yang sudah hampir mati, perlu apa menyebut namanya?” “Kau sombong, tapi nonamu tetap hendak menanya.”

“Penggali Makam!”

“Penggali Makam? Ng! Orangnya mirip dengan gelarnya, luar biasa dingin dan ketusnya. Siapa namamu?”

“Hui Kiam!”

“Cukup menarik! Untuk pertama kali nonamu mengadakan kecualian terhadap kau, apa kau anggap jika kau tidak terluka parah, bisa bertanding dengan aku?”

“Mungkin!”

“Mungkin? Kalau begitu kau belum mempunyai keyakinan untuk menang.” “Sebelum melihat buktinya, siapapun tidak bisa keluarkan omong besar!”

“Baik! Itu mudah, aku tunggu kau setengah jam,” berkata si nona, kemudian dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebuah botol kecil. Ia mengambilsebutir pil dari dalamnya, diletakkan di atas batu depan Hui Kiam, ia berkata pula:

“Ini kau telan, setengah jam kemudian kekuatan tenagamu akan pulih kembali. Tapi ingat, jika kau masih bukan tandinganku, kau akan mati lebih mengenaskan!”

Tergerak hati Hui Kiam, tapi di luarnya masih tetap bersikap dingin. Katanya dengan suara datar:

“Dengan memandang budimu yang memberikan obat padaku ini, aku akan mengampuni kau satu kali, aku tidak akan mengambil jiwamu!”

Wanita baju hijau itu dikejutkan oleh ucapan Hui Kiam yang sangat jumawa itu, kemudian ia perdengarkan suara ketawa dingin berulang-ulang kemudian berkata:

“Penggali Makam, apa kau tahu pasti akan berlalu dari sini dalam keadaan hidup?”

“Sudah tentu, tapi yang kumaksudkan ialah kalau hari ini aku tidak mati!”

“Itu hanya terjadi apabila timbul kejadian gaib, sekarang telanlah obat ini!”

Sehabis berkata ia lantas menyingkir.

Hui Kiam telan pil itu dengan perasaan rupa-rupa. Memang benar, ia masih belum mempunyai keyakinan akan dapat menenangkan lawannya. Tentunya si nona murid dari salah satu jago kenamaan, dengan pengalamannya yang masih cetek sudah tentu tidak dapat meraba-raba asal-usulnya nona yang sangat aneh itu. Tapi di luar dugaannya, si nona itu sudi memberi obat padanya untuk memulihkan kekuatan tenaganya, supaya bisa bertanding dengannya. Mungkin nona itu ada mempunyai keyakinan untuk merebut kemenangan. Kalau tidak, tidak nanti ia berani berbuat demikian.

Wanita baju hijau itu sudah berdiri lagi di hadapannya. Dengan suara dingin Hui Kiam berkata:

“Boleh mulai!”

“Keluarkan pedangmu! Nampaknya kau pandai menggunakan pedang!”

“Dan pedangmu sendiri?”

“Aku tak mempergunakannya!”

“Kalau begitu aku juga harus melayani dengan tangan kosong, itulah baru adil!”

“Kau tidak menggunakan pedang ini, berarti kau mencari jalan yaug keliru. Kau harus tahu bahwa pertempuran ini berarti mati hidupmu.”

“Aku mengerti!”

“Kalau kau tidak menggunakan pedang pasti tak mampu melawan lebih dari tiga jurus.”

Sifat sombongnya Hui Kiam terbangkit, katanya dengan suara tegas:

“Jika aku mampu melawan lebih dari tiga jurus, bagaimana?” “Kau boleh berlalu dalam keadaan hidup, dan selanjutnya aku

tidak akan membunuh orang lagi.” “Baik, silahkan!”

“Kau yang turun tangan lebih dulu, tapi harus dengan tenaga penuh!”

“Sebagai tamu tidak boleh merampas haknya tuan rumah, sebaiknya nona yang turun tangan lebih dulu.”

“Perlu apa harus memakai banyak aturan, kalau aku yang turun tangan lebih dulu, tiga jurus kau tidak sanggup menahannya!” Darah Hui Kiam bergolak, untuk pertama kali ia merasakan dirinya dihina, dan rasa itu sungguh pahit, lebih tidak enak daripada dikalahkan dalam pertempuran.

“Sebaiknya nona yang turun tangan lebih dulu!”

“Penggali Makam, ini bukan pertandingan persahabatan. Kau jangan bermain dengan jiwamu.”

“Aku mengerti.” “Kalau begitu, awas.”

Cepat sekali nona itu sudah melancarkan serangannya. Hui Kiam ketika menyaksikan gerakan nona itu, hampir keringat dinginnya keluar, karena serangannya itu sulit untuk diduga dan luar biasa anehnya, jalan darah penting di badannya, hampir seluruhnya dibawahi ancaman, bahkan sangat sulit untuk mengeluarkannya, baik menyambuti atau berkelit, tidak akan luput dari ancaman kematian.

Tapi sang waktu sudah tidak memberikankesempatan padanya untuk berpikir. Karena serangan sudah mengancam, pikiran itu hanyasekejap mata saja terlintas dalam otaknya, daya ingatan yang dimiliki oleh setiap orangyang sudah berkepandaian tinggi, ini membuat ia selalu bertindak secara gesit. Ia memudar tubuhnya dan melesat sejauh lima kaki,berbareng dengan itu dua belas bagian jalandarahnya merasakan agak kesemutan. Terang meski dengan gerakannya yang aneh itu sudah berhasil lolos dari serangan kematian, tapi tidak luput dari ancaman yang dahsyat. Untung ilmu kepandaian yang ia sudah pelajari jauh berbeda dengan kepandaian biasa, darah dan urat nadi mengalir ke arah yang berlawanan. jika orang lain, mungkin sudah menggeletak menjadi bangkai.

la bergidik. Kepandaian nona itu ternyata jauh lebih tinggi daripada apa yang dibayangkan.

Wanita baju hijau itu agaknya juga menjumpai kejadian di luar dugaannya. Ia keluarkan suara jeritan kaget: “Eh!” kemudian berkata: “Bagus gerakanmu, bagus kepandaianmu, aku ternyata terlalu pandang ringan dirimu. Sambutlah sekali lagi.”

Ucapannya itu ditutup dengan serangannya yang luar biasa cepatnya. Dengan kepandaian seperti yang dipunyai oleh Hui Kiam, sudah tidak mendapat kesempatan untuk memikir, dengan sendirinya ia melakukan perlawanan sekenanya. Karena ia tidak mengetahui arah yang diserang oleh si nona, terpaksa balas menyerang dengan tenaga sepenuhnya untuk menyambuti serangan lawannya, tapi kesudahannya sangat mengenaskan.

Sekujur badannya merasa tergoncang hebat. Kekuatan tenaga dalamnya merosot turun seketika. Serangan semacam ini, bukan satu serangan totokan yang umum dalam kalangan rimba persilatan. Hui Kiam yang tidak takut ditotok, kini ternyata sudah tidak berdaya. Di luar dugaan ia telah ditundukkan. Berbareng dengan itu, satu tangan halus sudah mengancam diatas kepalanya. Andaikata nona itu bermaksud hendak mengambil jiwanya, batok kepalanya sudah siang-siang hancur.

“Aku kalah, bunuhlah!” Itu saja yang Hui Kiam mampu katakan.

Untuk sesaat, pikirannya mulai dingin, segala cita-citanya hendak menuntut balas, telah lenyap semua, ia sudah siap sedia untuk menyambut kedatangan maut.

Di luar dugaan, nona baju hijau itu tarik kembali tangannya.

Katanya dengan nada dingin:

“Kuberikan kesempatan terakhir bagimu, kau menggunakan pedang untuk melawan!”

Hui Kiam merasa sangat terhina, sikapnya yang tidak mudah berubah, saat itu wajahnya nampak berkerenyut sejenak. Mati baginya bukan apa-apa, tapi hinaan itu lebih hebat daripada kematian. Maka ia lantas menjawab sambil kertak gigi:

“Tidak usah, aku terima kalah!” “Kau rela mati?” Sudah tentu ia tidak rela karena sakit hatinya belum terbalas. Tugas yang diberikan oleh suhunya belum terlaksana, bagaimana ia rela mau? Tapi apakah ia bisa minta ampun terhadap orang perempuan? Apakah ia sudi menurunkan derajatnya sendiri?

“Seorang laki-laki yang sudah berani menerjang ke dunia Kang- ouw, apa arti kematian?”

Wanita baju hitam itu kewalahan, sudah nyata bahwa ucapan Hui Kiam itu menggerakkan hatinya.   Sayang parasnya tertutup oleh kain kerudung, hingga tidak dapat dilihat perubahannya. Setelah hening agak lama, ia baru membuka mulut dan berkata dengan nada duka:

“Perggali Makam, kau tidak kecewa menjadi seorang gagah. Begini saja, seperti biasa, kau korek satu biji matamu sesudah itu kau berlalu dari sini!”

“Tidak bisa!”

“Apa? Kau lebih suka mati daripada memberikan satu biji matamu?”

“Aku Hui Kiam tidak sudi minta dikasihani jiwaku di bawah ancaman seperti ini!”

“Apa kau ingin aku antar kau berlalu dari sini dengan secara hormat?”

“Sudah kalah tidak ada apa-apa yang aku harus ucapkan. Kalau aku menang, aku juga akan bunuh mati kau!”

“Kau pasti suruh aku bunuh kau?” “Terserah!”

“Sudah berkali-kali aku mengalah tapi kau tetap menghendaki kematian, sudah tentu aku tidak bisa berbuat apa-apa!”

Untuk ke tiga kalinya nona itu mengangkat tangannya hendak menghajar kepala Hui Kiam.   Meski Hui Kiam tahu bagian mana yang di arah oleh wanita itu, tapi heran serangannya itu membuat orang yang diserang tak dapat memberikan perlawanan sama sekali.

Hui Kiam membuka matanya tanpa berkedip matanya serangan si nona itu tidak ditujukan kepada dirinya.

Kalau ia mati, bagaimana rupanya nona itu, dari dari mana asal usulnya, ia tak tahu sama sekali. Tapi ia juga tak perlu menanya. Pertama, karena menanya juga tak ada gunanya. Ke dua, nona itu belum tentu sudi menerangkan.

Inilah adatnya Hui Kiam yang berbeda dengan orang lain.

Serangan tangan nona itu sudah hampir turun, di luar dugaan ia tarik kembali.

Sambil menghela napas perlahan ia berkata: “Sudahlah, kau boleh pergi!”

Hal ini kembali di luar dugaan Hui Kiam. Manusia tetap manusia, bukannya kayu atau batu. Keinginan Hui Kiam untuk hidup tadi hanya tertindas bukan lenyap, maka ucapan si nona itu telah membangkitkan keinginannya untuk hidup lagi. Tapi dia tidak merasa girang, sebab dalam matanya, hal itu tetap masih merupakan satu kehinaan. Maka untuk sesaat dia masih berdiri kesima di tempatnya, tidak tahu apa yang harus diucapkannya.

“Kau… masih belum mau pergi?” “Kedatanganku ini ada mempunyai tujuan!” “Tujuan apa?”

“Mencari seseorang.” “Siapa?”

“Iblis Wanita Bertusuk Konde Emas.”

Wanita berbaju hijau itu mengeluarkan seruan “Ow!” kemudian berkata:

“Kedatanganmu juga hendak mencari iblis wanita itu?” “Ya !” “Mengapa?”

“Hendak membuktikan ia adalah musuhku atau bukan!”

“K.au jujur tapi kelewatan. Jika aku justru adalah muridnya iblis wanita itu, sudah pasti kau sudah mampus!”

“Tapi nona toh bukan muridnya?” “Bagaimana kau tahu?”

“Kalau betul, barisan orang-orang Persekutuan Bulan Emas itu tidak akan berlalu begitu saja tanpa melawan.”

“Kalau kau sudah tahu bukan, mengapa masih belum mau pergi?”

“Karena aku pikir, mungkin nona tahu di mana adanya iblis wanita itu?”

“Taruhlah aku tahu, apa kau kira aku bisa memberitahukan padamu?”

“Kalau begitu, aku minta diri. Budimu yang sudah memberikan obat dan tidak mengambil jiwaku ini, aku nanti pasti akan balas!”

“Kau tidak kepingin tahu aku siapa?” “Tidak usah, aku nanti bisa datang lagi.” “Kau, masih berani datang lagi?”

“Ya, nanti setelah aku yakin bahwa kepandaianku sudah cukup kuat untuk menandingi nona, aku bisa datang berkunjung lagi.”

“Kesombonganmu jarang ada di dalam dunia.” “Terima kasih atas pujianmu.”

“Jika kau tidak mendapatkan kepandaian yang mampu menandingi aku lagi, bagaimana?”

“Tidak mungkin.”

“Kau berani pastikan?” “Dalam satu tahun kalau aku tidak mampu menepati janjiku ini, aku akan bunuh diri ”

“Kau....” Badan wanita itu menggetar tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

Hui Kiam juga tiada maksud memikirkan maksudnya si nona. Ia angkat tangan memberi hormat kemudian balikkan badannya dan angkat kakinya yang berat….

“Tunggu dulu!” demikian terdengar suara si nona. Hui Kiam merandak. Ia berpaling dan menanya: “Nona menyesal?”

“Apa benar kau hendak mencari Iblis Wanita Bertusuk Konde Emas?”

“Ya.”

“Apa kau ingin aku memberitahukan padamu?”

“Kalau nona sudi, aku haturkan banyak-banyak lerima kasih!” suaranya tetap dingin.

“Kau tidak usah membuang-buang tempo untuk mencari padanya lagi.”

Kenapa?”

“Iblis wanita itu sudah lama tidak ada dalam dunia.”

Hui Kiam merasa kecewa. Tanyanya dengan suara gemetar: “Iblis wanita itu sudah tidak ada di dalam dunia?”

“Benar. Rahasia ini dalam kalangan Kang-ouw barangkali belum ada orang ke dua yang tahu. ”

“Dia… tak boleh mati.    ”

“Eh! Kau ini benar-benar tidak patut. Dengan maksud baik aku beritahukan padamu tapi kau katakan tidak bisa mati. Apa kau anggap aku membohongimu? Atau ” “Maaf, aku tadi salah kata. Maksudku ialah aku tidak mengharap musuhku itu mati sehingga kandaslah keinginanku untuk menuntut balas.”

“Apa kau masih ingin dengar?” “Teruskanlah!”

“Dua puluh tahun berselang, iblis wanita itu di gunung Bu-leng- san telah berjumpa dengan musuh kawakannya, Sam-im Kui-sin. Mereka bertempur sampai seratus jurus lebih. Kesudahannya kedua-duanya terluka parah dan mati di tempat itu. Jenazah mereka dikubur oleh orang yang kebetulan lewat di situ.”

“Kata nona bahwa iblis wanita itu sudah mati pada dua puluh tahun berselang?”

“Sedikitpun tak salah!”

“Nona dengar kabar atau melihat sendiri?”

“Meski cuma mendengar, tapi tidak ada bedanya dengan melihat sendiri.”

Dalam hati Hui Kiam lantas berpikir, iblis wanita itu sudah mati pada dua puluh tahun berselang sedang kematian ibunya terjadi sepuluh tahun berselang. Perbedaan waktu ada sepuluh tahun. Sudah tentu pembunuh ibunya itu bukan Iblis Wanita Bertusuk Konde Emas. Tapi siapa?

Siapakah yang membunuh orang dengan tusuk konde berkepala burung Hong?  Apakah….

Karena berpikir demikian, maka ia lantas menanya: “Numpang tanya, apakah iblis wanita itu mempunyai murid?” “Hal ini aku tidak tahu!”

“Apakah iblis wanita itu menggunakan tusuk konde emas sebagai senjata rahasia?” “Iblis wanita itu tinggi sekali kepandaiannya jarang menemukan tandingan, belum pernah dengar ia menggunakan senjata rahasia. Tapi tusuk konde emas itu adalah tanda kepunyaannya.”

Hui Kiam tundukkan kepala sambil berpikir.   Dalam hal ini ada dua kemungkinan pertama, adalah dia iblis wanita itu, belum mati, ke dua ialah dia mempunyai murid keturunan, dan yang melakukan pembunuhan itu mungkin ada muridnya.

Mungkin waktu ibunya mati terbunuh ia baru berusia delapan tahun, tapi dia masih ingat bahwa kepandaian ibunya tidak terhitung lemah, orang yang berkepandaian biasa tidak mampu membunuh padanya. Dari sikap ibunya ketika menyembunyikan padanya, ke dalam di bawah tanah, dapat diduga bahwa musuh itu pasti bukan orang sembarangan. Sayang, karena ia sendiri sembunyi di dalam goa, itu tidak dapat lihat dengan tegas raut dan raut mukanya sang musuh itu juga tidak dengar suaranya. Kalau tidak pasti lebih mudah baginya untuk mengenali orangnya. Dan sekarang, satu-satunya jalan ialah mencari keterangan apakah iblis wanita itu juga ada mempunyai murid atau tidak, ataukah iblis wanita itu sendiri belum mati?

Berbareng dengan itu, ia juga teringat akan pesan ibunya, yang menyuruh membunuh satu musuhnya lagi, ialah To-liong Kiam khek Su-ma Suan. Ada dendaman apa antara Su-ma Suan dengan keluarga ibunya, ia sendiri tak mengetahuinya, tapi dia percaya akan pesan ibunya, sedikitpun tidak salah. Menurut keterangan Manusia Gelandangan Ciok Siao Ceng, Su-ma Suan sudah sepuluh tahun lebih menghilang dari dunia Kang-ouw. Kembali ini merupakan satu persoalan yang amat pelik....

Sikapnya wanita baju hijau itu sudah tidak seperti semula yang demikian galak dan dingin. Dengan suara perlahan ia berkata:

“Penggali Makam, kau sedang memikirkan apa?” 'Tidak apa-apa.”

Pada saat itu, mendadak ia ingin menanya nama dan asal-usul wanita itu, tapi baru hendak membuka bibir, ia lantas telan kembali. Asal ia mau membuka mulut, menurut keadaan pada saat itu, nona itu pasti tidak akan menolak. Tapi ia tidak bisa tampar pipinya sendiri, sebab ia barusan sudah menyatakan tidak ingin tanya dirinya nona itu.

Beberapa kali pikirannya beberja, akhirnya ia ini menyoja dan berkata:

“Terima kasih atas petunjukmu. Aku sekarang minta diri.” “Baiklah! Aku… akan menunggu kau sampai satu tahun!” “Mungkin tidak usah satu tahun aku sudah kembali.”

Sehabis mengucapkan demikian, ia lantas berlalu. Baru saja membelok ke satu tikungan telinganya mendadak dapat menangkap suara pantun yang sudah tidak asing baginya.

Hui Kiam kerutkan alisnya. Benar seperti yang ia duga, pengemis cilik yang pernah dijumpai di gunung Bu-san, sudah berjalan menuju ke arahnya dalam lagaknya yang amat jenaka.

Meski keduanya berpapasan, tapi Hui Kiam tidak hiraukan sama sekali.

“Saudara berhenti dulu sebentar!” Demikian Hui Kiam dengar suara pengemis cilik itu. Tapi ia pua-pura tidak dengar, terus melanjutkan perjalanannya. Si pengemis itu mengejar sambil memanggil dengan suara nyaring:

“Penggali Makam, apa kau berhasil menemukan Iblis Wanita Bertusuk Konde Emas?”

Pertanyaan pengemis cilik itu mengejutkan Hui Kiam. Ia terpaksa hentikan kakinya. Sementara itu, sang pengemis itu sudah berada di depannya.

“Apa maksudmu?”

“Aku si pengemis selalu pikirkan diri saudara!”

“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku mencari Iblis Wanita Bertusuk Konde Emas?” “Tentang ini... bukankah aku si pengemis pernah berkata bahwa aku pandai ilmu penebak hati orang?”

“Aku juga pernah kata bahwa aku tidak suka disukai orang!” Pengemis itu ketawa haha hihihi lalu berkata padanya: “Saudara Hui, mari bersahabat, bagaimana?”

“Aku selamanya suka berjalan seorang diri, terima kasih!” jawabnya Hui Kiam dingin.

“Apa kau anggap diriku rendah, tidak sederajat dengan kau?” tanya si pengemis sambil mendelikkan matanya.

“Terserah padamu, bagaimana kau pikir, boleh saja.”

“Penggali Makam, menurut penglihatanku, sampaipun darahmu mungkin juga dingin.”

“Sebelum aku mengambil keputusan hendak membunuh kau, lekas kau pergi. Ingat, aku tidak suka dikintil orang. Lain kali apabila ketemu lagi, jangan sesalkan aku tidak memberi peringatan padamu!”

Pengemis itu leletkan lidahnya tapi wajahnya tak berubah.

Sambil ketawa cengar-cengir ia berkata:

“Saudara, perjanjianmu ke gunung ini nampaknya tak mendapat hasil apa-apa!”

“Ada hubungan apa denganmu?”

“Kalau tidak ada hubungannya dengan aku, aku tidak akan ambil pusing urusan ini.”

“Aneh, coba kau ceritakan ada hubungan apa denganmu?” “Umpama kata, tusuk konde emas berkepala burung Hong yang

berada di badanmu. ”

“Kenapa?”

“Kau ingin tahu asal-usulnya, bukan?” Hui Kiam menyambar badan pengemis itu. Oleh karena badannya yang kokoh kekar, pengemis itu terangkat tinggi. Dengan suara bengis ia menanya:

“Apa kau tahu?”

“Sekalipun aku tahu juga tak mau menerangkannya.” “Tidak mau menerangkan, aku nanti robek mulutmu!” “Kau robek juga aku takkan menerangkan, kecuali….” “Kecuali apa?”

“Kau jawab dulu bahwa kau suka bersahabat denganku, kemudian aku si pengemis akan beritahukan semua apa yang aku tahu.”

“Boleh kau terangkan dulu mengapa kau hendak bersahabat denganku?”

“Kalau namanya tidak benar perkataannya juga tak tepat.” “Apa artinya?”

“Ada orang kata bahwa ketemu orang cuma mengatakan tiga bagian, persahabatan yang belum akrab tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang dalam, maka itu aku cuma bisa berkata sampai di sini saja!”

Hui Kiam dibuat tidak berdaya. Memang benar, asal usulnya tusuk konde ini ia ingin tahu bahkan tidak memperhitungkan akibatnya. Maka ia melepaskan si pengemis kecil itu, dan berkata padanya:

“Baiklah kita perlu bersahabat, tapi aku perlu menerangkan lebih dulu, jikalau mengetahui kau memandang maksud jahat, aku juga akan bunuh kau.”

Pengemis cilik itu gerak-gerakkan tangan dan kakinya yang tadi bekas dicekal oleh Hui Kiam, setelah itu ia berkata sambil ketawa getir: “Terserah padamu, segalanya kuterima baik. Bersahabat kita harus menurut aturan. Aku bernama le It Huan. Julukanku Sukma Tidak Buyar, tahun ini usiaku masuk tujuh belas.”

“Benar-benar Sukma Tidak Buyar... “

“Sama-sama!   Julukanmu Penggali Makam juga ada lebih baik dari julukanku dan saudara?

“Apa kau murid golongan Kay-pang (Pengemis)?”

“Bukan. Suhuku sudah meninggal dunia.   Suhu yang sudah wafat tidak perlu disebut perguruannya, maka nama suhu juga tidak perlu diungkap lagi!”

Hui Kiam berpikir sejenak, lalu berkata:

“Aku bernama Hui Kiam, usia dua puluh tahun. Keadaanku serupa dengan kau, suhu sudah meninggal, tidak perlu disebut lagi!”

“Keluarga saudara Hui ”

“Ayah bundaku sudah meninggal, aku hidup sebagai piatu.”

“Oh! Maaf aku kesalahan omong. Kita tidak usah memakai segala aturan, yah? Sudah bulukan cukup dengan lisan saja. Saudara Hui lebih tua, aku harus bahasakan 'heng' atau saudrra tua. Aku sebagai adik, terimalah hormatku!”

Sehabis berkata ia lantas menjura dalam-dalam.

Dalam keadaan demikian, Hui Kiam terpaksa membalas hormatnya, tapi suaranya masih tetap dingin:

“Mari kita balik lagi kepada persoalan kita. Coba kau terangkan urusanku, bagaimana bisa ada hubungannya dengan kau?”

le It Huan ketawa cekikikan, lalu berkata:

“Hui toako, kau dengan aku sudah menjadi saudara, maka urusanmu juga menjadi urusanku, bukankah itu ada hubungannya?”

Hui Kiam delikkan matanya, dengan suara tandas ia berkata: “Kau hendak permainkan aku?” le It Huan nampaknya jeri, ia mundur satu tindak. Sambil goyang-goyangkan tangannya, ia berkata:

“Hui toako, kau jangan salah paham. Siaoteemu ini, sejak dilahirkan dalam dunia, mempunyai adat sudi gawe, atau senang mencampuri urusan orang lain. Sejak di pusat Sam-goan-pang secara tersembunyi aku dapat melihat sepak terjang toako. Diam- diam aku merasa kagum, maka aku bertekad hendak mengikat tali persahabatan dengari toako. Jika ada maksud jahat, biarlah Tuhan akan kutuk aku!”

Hui Kiam meski belum lenyap rasa curiganya tapi karena ingin tahu rahasianya tusuk konde emas burung hong, terpaksa ia menindas hawa amarahnya. Sambil anggukkan kepala ia berkata:

“Baiklah, apa benar kau paham ilmu menebak hati orang?”

“Itu hanya lelucon saja. Ketika toako berada di luar perkampungan Ie-hun San chung, dan melakukan pembicaraan dengan Manusia Gelandangan Ciok Siao Ceng, siaotee dengan tanpa sengaja telah dapat dengar seluruhnya. Hihihi, begitulah duduknya perkara.”

Hui Kiam merasa mengkal, ia tak menduga kalau dipermainkan oleh pengemis cilik itu. Maka ia berkata dengan perasaan mendongkol:

“Kalau begitu, kau sendiri ternyata juga tidak tahu sama sekali tentang tusuk konde emas itu?”

“Sekalipun Manusia Gelandangan yang banyak pengetahuannya juga tidak tahu apa lagi siaotee.”

“Kau cari mampus!”

“Toako, kau jangan cemas dulu. Siaotee tentu akan membantu membereskan. Numpang tanya, bagaimana kabarnya tentang Iblis Wanita Bertusuk Konde Emas?”

“Sudah meninggal pada dua puluh tahun yang berselang! O ya, apa kau tahu iblis wanita itu ada mempunyai murid atau tidak?” “Tentang ini..... siaotee malah belum pernah dengar, tapi aku ada akal untuk mencari keterangan. Mari kita bicarakan lebih dulu tentang tusuk konde emas. ”

“Bagaimana?”

“Apa toako pernah dengar nama Manusia Tangan Seribu atau tidak?”

“Manusia Tangan Seribu? Sangat asing bagiku.”

“Manusia Tangan Seribu oleh umum dianggap sebagai rajanya ahli senjata rahasia. Ia dapat menggunakan kedua tangannya melancarkan dengan berbareng sepuluh rupa senjata rahasia, dan terhadap segala bentuk dan rupa senjata rahasia yang digunakan oleh tokoh-tokoh berbagai partai rimba persilatan ia dapat mengenali semua. Jika kita dapat menemukan padanya, mungkin dapat membuka tabir rahasia tusuk konde emas ini!”

Semangat Hui Kiam terbangun. Katanya: “Manusia Tangan Seribu itu berdiam dimana?”

“Ia mengasingkan diri di lemoah Cian-hui-kok di gunung Bo-po- san.”

“Bo po-san? Terpisah beberapa ribu lie dari sini.     ”

“la harus memasuki propinsi San-see. Orang tua itu pada tiga puluh tahun berselang telah mengasingkan diri tidak lagi mengurusi persoalan dunia, juga tidak lagi muncul di dunia Kang-ouw, bahkan adatnya sangat aneh ”

“Itu tidak menjadi soal, asal dapat menemukan padanya sudah cukup!”

“Mengapa kita tidak berangkat sekarang?”

Kita? Maksudmu kau hendak berjalan bersama-sama dengan aku?”

“Toako, siaotee akan jadi petunjuk jalan. Ada baiknya buat toako supaya tak usah mencari susah!”

“Baiklah!” “Toako, apakah sikapmu ini bisa dirubah agak menyenangkan sedikit?”

“Kalau kau tidak senang lihat, terserah!”

“Baik! Baik! Siapa suruh aku bersahabat denganmu! Tunggulah sebentar, aku akan tukar rupa, berjalan sama-sama rada pantesan.”

Sehabis berkata ia lari ke tepi sungai untuk mencuci muka dan badannya, lalu balik lagi kepada Hui Kiam.

“Aaaa! Hui Kiam hampir saja berseru. Pengemis cilik itu ternyata adalah satu pemuda tampan. Dari sinar matanya dapat diduga bahwa ia adalah seorang yang cerdik dan banyak akalnya.

Pakaiannya yang semula begitu mesum, sebentar saja entah dengan cara bagaimana, ia sudah menyulap menjadi berpakaian necis dan rapi, dengan demikian hingga kini bukan berupa seorang pengemis jembel lagi, melainkan seorang pemuda terpelajar atau satu kongcu anak seorang berpangkat tinggi. Perubahan itu membuat Hui Kiam melongo.

Setelah selesai berdandan, ia berkata sambil menyoja: “Toako, silahkan!”

Dua pemuda tampan berlari larian di gunung Bu-san menuju ke kota Kiu ciu. Kepandaian ilmu meringankan tubuh Ie It Huan ternyata tidak di bawah Hui Kiam.

Kira-kira jam dua pagi mereka sudah sampai di kota yang dituju. Diwaktu tengah malam buta itu kota tersebut keadaannya sudah ramai dengan para pedagang yang datang dari berbagai desa.

Ie-It-Huan berkata sambil menunjuk satu tempat yang banyak lampu:

“Toako, mari kita berhenti sebentar. Perutku sudah berbunyi!” Hui Kiam yang jarang bersenyum, cuma menganggukkan kepala. le It Huan agaknya kenal betul keadaan tempat itu. Rumah

makan nomor satu di kota itu yang bernama Ceng-lian-kie ternyata dikenal baik olehnya. Begitulah ia ajak Hui Kiam memasuki rumah makan itu.

Dua pemuda itu memilih tempat yang agak sepi. Mereka minta disediakan arak dan hidangan.

Ie-It Huan yang gemar arak begitu melihat arak matanya lantas terbuka lebar, sambil angkat cawan araknya ia berkata:

“Toako, malam ini untuk pertama kali aku minum bersama-sama dengan toako, siaotee minta toako keringkan tiga cawan arak ini!”

Sehabis berkata, ia sendiri menenggak tiga cawan. Hui Kiam kerutkan keningnya. Dengan tanpa banyak omong ia juga minum sampai tiga cawan.

le It Huan meski masih muda, ternyata dapat minum arak tanpa takeran. sSecawan demi secawan lewat tenggorokannya mirip dengan setan pemabokan. Hal ini sangat tidak sesuai dengan bentuk luarnya.

Selagi enak minum, dari meja tidak jauh terdengar suara ketawanya suara wanita. Suara ketawa itu bukan saja nyaring, tapi juga mengandung daya penarik bagaikan magnit.

Di jaman itu jarang tertampak wanita muda berada di rumah makan seorang diri, apalagi tertawa dan berlaku sesukanya dengan bebas, sudah merupakan satu kejadian yang janggal.

Oleh karena tingkahnya wanita itu, hingga semua mata para tamu rumah makan tersebut ditujukan ke arahnya.

Hui Kiam yang dengan tanpa sengaja juga turut berpaling, segera dapat lihat seorang wanita muda dengan bentuk badannya yang langsing menarik serta dandannya yang serba merah. Perempuan itu bukan lain daripada Wanita Tanpa Sukma, yang memikat kemudian membunuh kaum laki-laki dengan kecantikannya.

Munculnya wanita genit itu di tempat umum benar-benar diluar dugaan Hui Kiam. Laki laki muda yang duduk bersama dengannya ada seorang bagaikan kongcu yang romantis nampaknya. Kongcu itu nampaknya sudah mabuk. Sambil menggoyang-goyangkan kipasnya yang terbikin dari emas, matanya menatap wanita tanpa sukma dengan sikap yang memualkan.

Ie It Huan agaknya tidak mau ambil pusing itu semua, ia cuma perhatikan araknya.

Seorang tamu yang tak dikenal, berkata sambil menghela napas: “Aih, arak tidak membikin orang mabuk, orangnya sendiri yang

mabuk, paras cantik tidak menyesatkan orang, orangnya sendiri

yang tersesat oleh paras cantik!”

Mendengar ucapan itu, hati Hui Kiam menjadi sadar. Samnil mengetok meja dengan jari tangannya ia berkata:

“Ow, kau lihat perempuan itu?”

“Siapa?” tanya Ie It sambil angkat kepala. “Lihat sana!”

“O! Wanita Tanpa Sukma!” reaksinya ternyata sangat hambar.

Hui Kiam dalam hati merasa heran. Tanyanya agak heran dan bingung:

“Kau mabuk?”

“Baru minum beberapa cawan saja, bagaimana bisa mabuk?” “Bukankah kau sedang memikirkan dirinya?”

Ie It Huan ketawa cekikikan, lalu berkata:

“Toako, kau jangan anggap benar-benar. Itu hanya siasatku hanya hendak menarik perhatian toako.”

Sementara itu, wanita cantik menarik itu sudah berdiri di hadapan mereka.

Dengan sikapnya yang tetap dingin Hui Kiam berkata: “Wanita Tanpa Sukma, dunia ini meski luas tapi jalannya ternyata sempit. Kita telah berjumpa lagi!”

“O ya!”

Mulut Wanita Tanpa Sukma berkata kepada Hui Kiam sedang matanya yang jeli melirik kepada Ie It Huan yang saat itu mukanya sudah merah karena pengaruh arak.

“Siaohiap ini bagaimana scbetulnya?” Ia menanya dengan sikapnya yang luwes menarik, sementara tangannya yang putih halus membcreskan rambatnya yang terurai di atas pundaknya.

“Sukma Tidak Buyar!” jawabnya Hui Kiam dengan nada tetap dingin.

Wanita Tanpa Sukma ketawa terkekeh-kekeh dan berkata: “Sukma tidak buyar! Orang begini cakap, bagaimana

menyerobot gelar nama demikian menakutkan...?”

Ie It Huan tenggak kering araknya, lantas menanya: “Menyerobot? Apa artinya?”

“Orang yang mempunyai gelar Sukma Tidak Buyar itu aku sudah pernah ketemu, kau tidak bisa menipu aku! Apa sukma tidak buyar itu bukan berarti terus mengikuti orang, betul tidak?”

“Benar, begitu kena diikuti sampai mati baru dilepaskan!” Hui Kiam lantas menyelak:

“Wanita Tanpa Sukma, kau jangan salah lihat orang, kalau kau memikirkan yang bukan-bukan itu berarti kau cari mati sendiri.

“Oh! Penggali Makam, kita satu sama lain tokh tidak saling melanggar, bukan?”

“Antara kau dengan aku masih ada perhitungan yang belum diselesaikan. Hari itu kau telah berbasil meloloskan diri, tapi kali ini tidak mungkin lagi!”

“Begitu penting kau anggap?” “Wanita genit seperti kau ini, kalau aku tidak bunuh kau, gelarku Penggali Makam ini harus dihilangkan.”

Wauita Tanpa Sukma malah bersenyum. Dengan sikap dan gayanya yang menggairahkan ia balik ke tempatnya semula. Tindakannya itu menarik sermua perhatian para tamu, hingga ramai membicarakannya.

Ie It Huan berkata sambil menyengir:

“Toako, Wanita Tanpa Sukma itu ada mempunyai pantangan untuk dirinya sendiri….”

“Pantangan apa?”

Ia hanya turun tangan terhadap pemuda-pemuda nakal, takkan membunuh orang baik!

“Maksudmu supaya aku tidak membunuh padanya?”

“Bukan! Tidak perduli bagaimana tujuannya tapi sepak terjangnya itu memang patut mendapat hukuman mati.”

“Bagaimana asal usulnya?”

“Tidak tahu, kepandaiannya cukup tinggi!”

“Siapa itu kongcu perlente yang duduk di satu meja dengan ia?” “Masih asing bagiku.”

“Nampaknya kongcu itu tidak bisa hidup sampai hari besok pagi. ”

Tepat pada saat itu kongcu itu sudah berbangkit dari tempat duduknya. Ia membayar uang makannya, kemudian berlalu dengan Wanita Tanpa Sukma.

Ie It Huan berkata kepada Hui Kiam dengan suara perlahan: “Toako, kita bagaimana?”

“Kau kata bagaimana?”

“Pergi melihat Wanita Tanpa Sukma bagaimana membereskan kongcu itu.” “Kau benar-benar suka mengurusi urusan orang lain.”

“Eh! Bukankah toako kata hendak menghitungkan dengannya?” “Kau tidak makan dulu?”

“Arak dan sayuran sudah cukup kenyang, tidak usah!”

Ie It Huan mengeluarkan sepotong uang perak, diletakkan di atas meja lalu gapaikan tangannya kepada salah satu pelayan, bersama Hui Kiam buru-buru keluar dari rumah makan.

Di luar, orang yang berjalan mondar-mandir masih ramai, mereka sudah tidak dapat lihat bayangannya orang yang dicari.

“Ia sudah lolos lagi,” berkata Hui Kiam sambil menengok kesana kemari.

Mendaelak seorang tua kurus kering berambut putih berjalan dingklak dingkluk dengan memegang tongkat, mulutnya menyanyikan sebuah syair dari jaman Song yang hingga saat itu masih banyak penggemarnya.

“Di rumah mencari padanya ubek-ubekan ketika mendadak menengok orang itu ternyata berada di suatu tempat yang jarang lampunya.”

Sehabis menyanyikan syair itu, orarg tua itu berkata kepada dirinya sendiri: “Aku orang tua selamanya tidak suka makan cuma- cuma barangnya orang, rekening arak itu hitung-hitung sudah lunas!”

Orang tua itu meski jalannya dingklak dingkluk, tapi dalam waktu sekejap mata, tahu-tahu sudah menghilang di antara orang banyak.

Ie-It Huan menarik tangan Hui Kiam, katanya dengan girang: “Mari kita pergi kesana!”

“Kau… dapat lihat?”

“Tempat yang jarang lampunya. Tidak salah, mari pergi!” Hui Kiam agaknya tersadar dua pemuda itu dengan cepat berjalan menuju ke tempat itu.

“Siapa orang tua tadi itu?”

“Tidak tahu, pada lima hari berselang di sini siaotee ajak minum arak padanya!”

“Kiranya begitu. Tapi bagaimana ia bisa tahu kalau kita sedang mencari orang?”

“Mudah sekali, Wanita Tanpa Sukma berpakaian serba merah menyolok bagi semua mata dan kemudian kita keluar dari rumah makan itu. Di depan pintu kita longok sana longok sini. Toako bahkan pernah membuka suara. Andai aku juga dapat menduga delapan sampai sembilan bagian.”

“Ng! Masuk akal, kau benar-benar banyak akal dan pikiran!” “Toako memuji.”

Penerangan lampu di jalanan makin jarang. Ternyata sudah tiba di pinggir pintu kota, namun masih belum kelihatan orang yang dicari.

Dua pemuda itu saling berpandangan sejenak, lalu lari ke luar kota.

Tidak jauh ada terdapat rimba pohon Liu. Di bawah sinar rembulan, tempat itu merupakan satu tempat yang sangat baik untuk mengadakan pertemuan bagi muda-mudi yang sedang tenggelam dalam asmara.

Di antara lebatnya dua pohon, sebuah sungai kecil melingkar ke dalam rimba tersebut. Di pinggir sungai, nampak berdiri dua bayangan orang.

Ie It Huan berkata dengan suara perlahan: “Di sana.”

Dengan cepat mereka menghampiri tempat tersebut. Bayangan orang itu ternyata adalah Wanita Tanpa Sukma dengan kongcu perlente itu.

Kongcu itu nampak sudah mabuk dengan kecantikan Wanita Tanpa Sukma. Sambil ketawa cengar-cengir ia lalu berkata:

“Adikku yang baik, nampaknya kau sedang gembira menghadangi puteri malam yang indah permai, tapi menurut pikiranku, bukankah lebih baik kita duduk-duduk di sana?”

“Kau toh tidak akan mampus, kenapa begitu kesusu?”

“Ow! Adikku memaki aku. Meski, meski aku tidak akan mampus, tapi toh sayang kalau kita lewatkan saat yang baik ini begitu saja!”

“Apa artinya perkataanmu ini?”

“Adikku yang manis, kalau sedang marah nampaknya semakin cantik….”

“Biarlah aku terangkan dulu pikiranku, kau jangan mengganggu.” “O, ya, barusan itu pemuda yang minum bersama-sama dengan

Penggali Makam itu siapa?”

Hui Kiam yang mengintip, ketika mendengar pertanyaan itu, agak kaget. Bagaimana kongcu itu kenal padanya, sedangkan ia sendiri tidak tahu siapa dia?

Wanita Tanpa Sukma lantas menyahut dengan suara duka: “Tidak tahu, mungkin orang baru!”

“Heh, hch. Penggali Makam meski sikapnya terlalu dingin, tapi masih terhitung satu tipenya seorang pemuda tampan. Kau, apa akan lepaskan padanya begitu saja?”

“Kongcu, kau anggap aku perempuan semacam apa?” “Adikku yang manis, aku hanya main-main saja.”

Wanita Tanpa Sukma itu terkekeh-kekeh. Ia rapatkan badannya kepada sang kongcu, lalu berkata dengan suara lemah-lembut:

“Engkoku yang baik, kau sungguh baik sekali.” ---ooo0dw0ooo---