Pedang Pembunuh Naga Jilid 02

Jilid 02

S A M - G O A N Lojin dan anaknya maju menghampiri. Dengan alis berdiri Sam-goan Lojin berkata:

“Kau berani membunuh tamu lohu?”

Dengan acuh tak acuh Utusan Bulan Emas menjawab: “Ini ada salah mereka sendiri!”

“Kalau lohu tidak bunuh kau, bagaimana ada muka menghadapi sahabat rimba persilatan…?”

“Jika locianpwee dapat melakukan itu, tidak keberatan kami tinggalkan jiwa kami yang tidak berharga ini!”

“Hunus pedang!”

“Kami sebetulnya tidak ingin turun tangan terhadap locianpwee!” “Tidak perlu banyak bicara.”

“Apa harus juga turun tangan?” “Lohu pasti akan menahan kau!”

“Kami sudah dipesan oleh pemimpin kami tidak berbuat dosa terhadap locianpwee, terpaksa kami minta diri.”

Baru saja menutup mulut, orangnya sudah berada di tempat sejauh sepuluh tombak lebih kemudian bergerak lagi naik ke atas genteng. “Kau lari kemana?” bentaknya Sam-goan Lojin, dan segera mengejar.

Tepat pada saat itu, di atas genteng mendadak muncul sesosok bayangan orang, berdiri merintangi di depan Utusan Bulan Emas. Bayangan orang itu ternyata adalah Hui Kiam, pemuda sangat misterius itu.

Dengan cara bagaimana Hui Kiam yang semula berada di ruangan tamu mendadak berada di atas genteng memegat perjalanan Utusan Bulan Emas, tiada seorangpun yang tahu.

Sam-goan Lojin dan anaknya serta empat anak buahnya yang terkuat, dengan beruntun naik ke atas genteng. Masing-masing berdiri mengurung Utusan Bulan Emas, hingga Hui Kiam juga terkurung dalam lingkaran mereka.

Dengan sinar mata buas Utusan Bulan Emas memandang Hui Kiam, kemudian berkata:

“Bagaimana sebutnya nama sahabat yang mulia?” “Penggali Makam!”

“Apa! Kau. adalah Penggali Makam?”

“Sedikitpun tak salah.” “Kau mau apa?”

“Tidak apa-apa. Bawa kembali barang-barangmu itu, lalu kutungkan satu lenganmu dan segera enyah dari sini!”

Utusan Bulan Emas perdengarkan suara ketawa dingin, kemudian berkata:

“Penggali Makam, kau terlalu jumawa, bukan begitu caranya mencari mampus. Dua jago dari Seecoan Timur itu tadi adalah contohnya. Apa kau tak melihat?”

“Sudah. Aku berkata cukup satu kali, kalau kau tidak mau melakukannya aku nanti akan mewakili kau!”

“Kau cari mampus?” “Trang!” demikian suara terhunusnya pedang terdengar nyaring. Pedang kedua pihak sudah berada di tangan masing, bahkan sudah saling menyerang.

Bagaimana caranya mereka menghunus pedang masing-masing, kecuali Sam-goan Lojin tidak seorangpun yang dapat melihat dengan tegas.

Wajah Utusan Bulan Emas nampak berubah. Sikapnya yang sombong, sekejap sudah lenyap tanpa bekas, ia kini tahu telah ketemu dengan lawan tangguh.

Sekali lagi Hui Kiam keluarkan perkataan yang dingin dan tidak mempunyai perasaan:

“Perkataanku tadi kau sudah dengar bukan? Kutungkan satu lengan tanganmu, bawa pulang barang antaranmu dan enyah dari sini!”

“Penggali Makam, apakah kau sudah memikirkan akibatnya jika kau berani bermusuhan dengan persekutuan kami?”

“Akibat apa?”

“Akan membuat perhitungan dengan segala bunganya yang harus menumpas seluruh keluarga dan perguruanmu!”

“Aku tidak perduli, sebaiknya kau lekas lakukan apa yang aku minta.”

“Bo….”

Perkataan ‘cah’ belum lagi keluar dari mulutnya, terdengar suara ‘plak’ yang amat nyaring, sementara pipi Utusan Bulan Emas terdapat tanda lima jari tangan, mulutnya mengeluarkan darah. Tamparan itu tidak ringan sedang yang ditampar tidak berdaya sama sekali.

“Aku menghitung satu sampai tiga. Kalau kau tidak turun tangan, aku terpaksa bertindak sendiri,” katanya Hui Kiam dengan nada suara tetap dingin.

“Satu!” “Dua!”

Utusan Bulan Emas keluarkan suara bentakan keras, ia menyerang dengan pedangnya.

“Ow!” demikian terdengar suara jeritan ngeri, tangan Utusan Bulan Emas yang memegang pedang telah terkutung batas lengan, badannya mundur sempoyongan, hampir roboh di tanah, wajahnya yang memang tidak sedap dipandang nampak semakin buas.

Seorang anak buah Sam-goan-pang sudah siap membungkus barang-barang antaran utusan tadi.

Utusan Bulan Emas itu benar-benar kejam, ia cuma menggeram sejenak, dengan cepat menotok urat nadi lengan dengan menggunakan jari tangan kiri untuk menghentikan mengalirnya darah kemudian ia menyambar bungkusan barangnya, dan berkata kepada Hui Kiam dengan suara bengis:

“Perlukah meninggalkan kepalaku?”

“Aku kata hanya suruh kau tinggalkan sebelah tanganmu!” “Kalau begitu kita sampai ketemu di lain waktu.”

“Tunggu dulu!”

“Kau masih ingin kata apa?”

“Rekening ini kau perhitungkan di bawah namaku, tidak ada hubungannya dengan Sam-goan-pang!”

“Masih ada apa lagi?” “Begitu saja pergi!”

Dengan tindakan terbirit-birit Utusan Bulan Emas itu melayang turun ke bawah dan menghilang.

Hui Kiam masukkan pedang ke dalam sarungnya. Dengan sinar mata dingin ia menyapu semua orang sejenak, kemudian juga melesat lari keluar dari perkampungan Sam-goan-chung.

Dengan mengawasi si anak muda, Sam-goan Lojin berkata dengan suara terharu: “Bocah itu adatnya sangat aneh dan pendiam sekali tapi kepandaiannya luar biasa, ditinjau dari sepak terjangnya masih terhitung seorang kesatria, kalau dipimpin ke jalan yang benar ia akan menjadi seorang gagah bagi golongan kebenaran tapi kalau tersesat sangat berbahaya. Ia tidak membunuh mati Utusan Bulan Emas karena ia khawatir kalau persekutuan itu akan membalas terhadap kita, bahkan ia memberi pesan khusus bahwa tindakan itu menjadi tanggung jawabnya, perbuatan itu sesungguhnya merupakan perbuatan satu laki-laki sejati cuma sayang aih. ”

“Sayang apa?” tanya Sam-goan pangcu.

“Hari depannya masih belum dapat diduga. Persekutuan Bulan Emas pasti akan menuntut balas baru merasa puas!”

”Ayah percaya bahwa bakal suami Hiang-kun bukan terbunuh mati olehnya?”

“Sekarang aku percaya sepenuhnya!”

“Yang patut disesalkan adalah perbuatan Manusia Gelandangan yang telah khilaf dengan nama dan harta kekayaan….”

“Jangan sebut nama dia lagi, sekarang lakukan apa yang perlu!”

Usia Penggali Makam itu nampaknya belum cukup pengetahuan dan pengalaman ternyata masih belum lama dapat terka ia sebetulnya dari golongan mana.

Selama bicara mereka sudah turun semua dari atas genteng. Mari kita tengok kepada Hui Kiam setelah meninggalkan le-hun

San-chung, ia berjalan demikian, terpaksa ia urungkan.

Semula, ia mendapat kesan baik terhadap dirinya Manusia Gelandangan. Beberapa patah kata Manusia Gelandangan yang membela dirinya, benar-benar telah menggerakkan hati. Tapi Manusia Gelandangan itu telah menerima undangan Persekutuan Bulan Emas, sehingga kesan baik yang tumbuh dalam hatinya lenyap sama sekali. Dengan tanpa sadar ia berkata kepada dirinya sendiri: “Apa dalam rimba persilatan ini benar-benar susah dicari seorang yang baik?” Tiba-tiba terdengar satu suara yang menyahut: “Itulah anggapanmu sendiri!”

Hui Kiam berpaling tapi tidak melihat bayangan seorangpun juga.

Ia terheran-heran. Apakah itu ada suaranya setan? Andai kata manusia, tidak nanti akan lolos dari pemandangan matanya. Tapi suara itu nyata ada suara manusia bahkan kedengarannya rada tidak asing.

Selagi masih berada dalam keadaan bingung, mendadak sesosok bayangan orang melayang turun. Kiranya orang itu bersembunyi di atas pohon, pantas cuma terdengar suaranya tidak kelihatan orangnya.

Orang itu ternyata adalah Manusia Gelandangan Ciok Siao Ceng. Hui Kiam berkata dengan suara dingin:

“Dalam Ie-hun Sam-chung, aku yang rendah mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas bantuanmu yang sangat berharga.”

Manusia Gelandangan ketawa terbahak-bahak, kemudian berkata:

“Itu tidak perlu. Penggali Makam nama gelarmu ini bagaimana asal usulnya?”

“Sebab aku sudah bertekad hendak menggali liang kubur!” “Apa artinya?”

“Menggali liang kubur untuk mengubur jenazah-jenazah orang- orang jahat rimba persilatan.”

“Haha, benar-benar sangat berarti, cuma….” “Bagaimana?”

“Dengan peristiwa untuk menghentikan peristiwa, agaknya menyalahi etiket kerukunan.”

Hui Kiam perdengarkan suara dari hidung.   Dengan suara tegas ia berkata: “Membunuh seorang jahat untuk mencegah mengalirnya darah lebih banyak itu apa salahnya?”

“Sedikit beralasan tapi masih tergolong perantawan.”

Dalam hati Hui Kiam diam-diam berpikir: “Kau seorang yang sudah sangat lanjut usianya tapi tidak ijinkan orang menyebut tua sebaliknya sudah khilaf karena harta sehingga abdikan diri kepada Persekutuan Bulan Emas. Perbuatan yang sangat memalukan golongan orang gagah ini bukan saja patut dicela lagi juga harus diberantas.”

Tapi walaupun dalam hatinya berpikir demikian, mulutnya tidak mengatakan demikian bahkan mengalihkan pembicaraan ke lain soal.

“Tuan sembunyikan diri di sini, agaknya memang disengaja menantikan aku?”

“Tepat, sedikitpun tidak salah, aku memang menunggu kau!” “Untuk keperluan?”

“Dalam ruangan tadi di Ie-hun Sanchung, aku melihat sikapmu agak ingin bicara dengan aku!”

Hui Kiam diam-diam sangat kagumi ketajaman mata orang tua itu. Ia lalu menjawab sambil menganggukkan kepala:

“Ucapanmu ini memang benar.” “Kau ingin bicara apa? Katakanlah.”

“Kedatanganku ke Ie-hun Sanchung ini, sebetulnya dengan maksud hendak minta sedikit keterangan kepada Sam-goan pangcu dua hal, tidak nyana karena kelalaianku, hingga menerbitkan bencana besar. Di luar dugaan aku ketemukan tuan ada di sana, maka aku rubah maksudku yang semula. Dua soal itu kalau aku tanya kepada tuan, itulah yang baik, dengan pengetahuan tuan yang sangat luas, pasti dapat menerangkannya.”

“Melihat sikapmu yang dingin bagaikan es, tidak kusangka kau pandai juga memberikan topi tinggi di atas kepala orang. Tentang ucapanmu ‘pengetahuan luas’, ini jangan kau sebut-sebut lagi. Aku Ciok Siao Ceng, selamanya yakin kepada pergetahuan sendiri, tidak nyana telah terjungkal di tanganmu!”

“Terjungkal di tanganku?” “Ya!”

“Apa maksudmu?”

“Dari gerak tipu ilmu silatmu, aku tidak dapat mengenali siapa suhumu. Ini bukankah berarti aku terjungkal di tanganmu?”

“Tidak semuanya benar. Kepandaian ilmu silat terlalu banyak cabangnya, ada yang membuka dan menyebarkan secara luas, ada yang menyimpan rahasia yang hanya dituturkan kepada satu orang saja, juga ada yang menganggap dirinya sebagai orang gagah, sejak menciptakannya tidak pernah diturunkan kepada siapapun juga, sehingga makin lama makin hilang, tapi ada juga ilmu kepandaian yang sudah lama menghilang dari muka bumi, kemudian muncul lagi. ”

“Bagus, bagus! Kau pandai bicara, sekarang mari kita bicarakan soal apa yang kau ingin tanyakan itu.”

Wajah Hui Kiam yang tidak mudah terpengaruh oleh emosi, terlintas sedikit perasaan keguncangan di hatinya, tapi sebentar sudah kembali asal semulanya yang dingin, tanpa perasaan dan penuh kebencian.

“Pertama, sebagai seorang yang sudah menjelajahi seluruh pelosok negeri, apakah tuan tahu dimana adanya seorang mempunyai gelar To-liong-kiam-khek (Jago pedang pembunuhNaga)?”

“Apa yang kau maksudkan adalah To-liong Kiam-khek Su-ma Suan?”

“Benar!”

“Sahabat kecil, kau akan kecewa karen aku tak dapat menjawab pertanyaanmu ini.'' “Kenapa?”

“To Liong Kiam-khek Su-ma Suan sudah sepuluh tahun lebih menghilang dari dunia Kang ouw, tiada seorangpun yang tahu ia masih hidup atau sudah mati!”

Hui K-iam kertak gigi ia menggumam sendiri. “Aku pasti dapat menemukan padanya tidak perduli aku harus naik kelangit atau masuk kebumi. ”

“Kau… ada permusuhan dengan dia?”

' Benar. Sekalipun sudah mati aku juga akan hajar jenazahnya!” “Musuh turunan?”

“Tentang ini, maaf aku tidak dapat memberitahukan.” “Dan sekarang katakanlah yang kedua.”

Dari dalam sakunya Hui Kiam mengeluarkan sebuah tusuk konde emas berkepala burung Hong panjang tiga chun, ia letakkan tangannya dan berkata:

“Numpang tanya, dalam rimba persilatan, siapa yang menggunakan senjata rahasia tusuk konde semacam ini?”

Manusia gelandangan mengambil tusuk konde itu dari tangan Hui Kiam, diperiksanya dengan seksama lantas berkata:

“Pertanyaanmu yang sulit ini kembali aku harus mengaku jatuh di tanganmu lagi. Tidak tahu!”

Sehabis berkata, ia kembalikan tusuk konde kepada Hui Kiam.

Hui Kiam merasa mendelu, dengan perasaan kecewa ia berkata sambil menghela napas:

“Terima kasih, aku minta diri!”

la lalu memberi hormat dan berjalan menuju ke jalan raya....

“Tunggu dulu!”

Hui Kiam merandek, ia berpaling dan menanya: “Tuan masih ingin memberi petunjuk apa?'' “Aku mendadak ingat dirinya seseorang, mungkin dapat membuka rahasia tusuk konde itu?”

Dengan tidak sabar Hui Kiam menanya:

“Tuan teringat orang macam apa?” “Iblis Wanita Bertusuk Konde Emas!” “Iblis Wanita Bertusuk Konde Emas?”

“Benar, wanita itu pada lima puluh tahunberselang merupakan salah seorang cantik genit, kalau dihitung sekarang usianya mungkin tiga perempat abad lebih, selama beberapa puluh tahun belum pernah dengar muncul lagi di dunia Kang-ouw. Aku sendiri juga pada masa permulaan ceburkan diri ke dunia Kang ouw, baru dengar dirinya perempuan cantik genit yang sangat aneh dan menakutkan itu.

Tinggi kepandaiannya dan kekejamannya serta keganasannya, jarang tertampak selama hampir seratus tahun ini. Cuma perempuan itu meski mendapat julukan nama Iblis Wanita Bertusuk Konde Emas, tapi apabila ia ada menggunakan tusuk konde emasnya sebagai senjata rahasianya atau tidak, aku tidak tahu.

Sebab dulu di masa ia masih malang-melintang di dunia Kang ouw, jarang menemukan tandingan yang mampu menghadapi padanya di atas sepuluh jurus, dan selama itu belum pernah dengar ia menjatuhkan lawan-lawannya dengan senjata rahasia.

Sudah tentu, ini juga belum dapat untuk membuktikan bahwa ia tidak menggunakan senjata rahasia. ”

“Dia sekarang ada di mana?”

“Kabarnya dia sering muncul di pegunungan gunung Bu-san, tapi sekarang masih ada di dalam dunia atau tidak, aku sendiri juga tidak tahu.”

“Terima kasih atas petunjukmu, aku pasti hendak menyelidiki soal ini sedalam-dalamnya, sampai kita berjumpa lagi!” Hui Kiam melanjutkan perjalanannya menuju ke barat, dalam hatinya selalu teringat nama Iblis Wanita Bertusuk Konde Emas, besar kemungkinannya bahwa iblis wanita itulah yang membunuh ibunya. Di telinganya seolah-olah masih berkumandang suara mengenaskan yang keluar dari mulut ibunya sebelum menutup mata.

“Iblis… tusuk konde emas… bunuh… To-liong Kiam-khek ….”

Andaikata itu ia sudah dewasa, atau sang waktu mengijinkan, ia bisa menanya jelas sehingga tidak perlu menerka-nerka….

Kejadian mengenaskan di masa lampau, pengalaman yang menyedihkan menggores sangat dalam sekali di lubuk hatinya sehingga berubah menjadi rasa benci dan membuat ia berubah menjadi seorang pemuda yang dingin dan beku perasaannya serta agak pendiam. Kalau bukan karena dasar sifatnya yang masih baik, entah berapa jauh ia melakukan kejahatan.

Sebab dalam otaknya cuma kenal benci, seolah-olah semua orang tak ada yang baik.

Selagi berjalan, dari rimba tiba-tiba terdengar suara perempuan ketawa genit.

Cepat Hui Kiam bergerak ke arah datangnya suara itu.

Dalam rimba dua pemuda sedang berhadap-hadapan dengan sikap saling menantang bagaikan dua ekor ayam jago yang hendak bertarung di samping seorang perempuan berpakaian serba merah yang usianya kira-kira dua puluhtahunan nampak sedang tertawa terkekeh-kekeh, sambil mengawasi kedua pemuda itu.

Perempuan baju merah itu cantik sekali, bentuk badannya sangat menggairahkan.

Salah satu pemuda yang berpakaian warna hijau berkata kepada salah satunya yang berpakaian warna hitam.

“Kang Hoan, ini adalah peringatan yang terakhir padamu. Kau lekas berlalu dari sini. Jikalau tidak, jangan kau sesalkan bahwa aku yang menjadi saudara piauwmu berlaku kejam terhadap dirimu!” Pemuda baju hitam itu dengan sikap amat dingin ia berkata: “Oh Siu Tie, aku juga peringatkan kau supaya berlalu dari sini!” “Apa maksudmu?”

“Dan kau sendiri, apa maksudmu?” “Kang Hoan kau jangan paksa aku!” “Oh Siu Tie, sama-sama!”

Kang Hoan lalu berpaling dan berkata kepada perempuan cantik genit itu:

“Nona, katakanlah, kau sebetulnya mencintai siapa?”

Perempuan cantik itu menutupi mulutnya dengan lengan bajunya, dengan suara dan gayanya yang sangat merangsang ia menyahut:

“Aku sendiri juga tak tahu kepada siapa aku harus cinta, kalian berdua sama-sama cakap dan tampannya sama-sama.”

“Kau toh tidak bisa mencinta dua-duanya?” “Sudah tentu tapi aku… tidak tahu harus….” “Kau harus memilih salah satu di antara kita.”

“Aku tidak bisa! Begini saja, siapapun aku tidak cinta, anggap saja tidak ada persoalan ini. Sekarang aku hendak pergi!”

Oh Siu Tie berkata sambil ulapkan tangannya: “Nona, kau jangan pergi….”

Perempuan genit itu kerlingkan matanya, bibirnya menunjukkan senyum menantang, pinggang dan kibulnya sengaja digoyang- goyangkan, lalu berkata dengan suaranya yang penuh rayuan:

“Tidak, aku tak dapat membiarkan kalian dua saudara saling bermusuhan karena aku!”

“Tunggu dulu, aku ada mempunyai suatu cara untuk menyelesaikan persoalan ini!” berkata Oh Siu Tie, yang lalu berpaling dan berkata kepada Kang Hoan: “Dengan memandang bibiku yang sudah menutup mata, sekali lagi aku peringatkan padamu lekas menyingkir, untuk menjamin jangan sampai tali persaudaraan kita putus!”

“Jikalau aku berkata tidak, bagaimana? jawabnya Kang Hoan menantang.

“Kau boleh bayangkan sendiri apa akibatnya.” “Akibat apa?”

“Jangan lupa, kau bukan tandinganku!” “Apa kau ingin membunuh aku?” “Mungkin!”

Wanita baju merah itu lantas berseru:

“Tidak, kalian tidak boleh berbuat demikian. Aih, sebetulnya… aku tidak suka terjadi pertumpahan darah antara kalian ”

Oh Siu Tie berkata dengan suara gemetar:

“Nona, jika aku seorang diri apa kau perlu pertimbangkan juga?” “'Sudah tentu tidak, tapi kalian toh ada berdua?”

“Baiklah itu sudah cukup!” katanya sambil menghunus pedang dan berkata kepada Kang Hoan:

“Piauwtee, jangan sesalkan aku, ini adalah kau sendiri yang paksa aku bertindak!”

Kang Hoan juga hunus pedangnya untuk menghadapi saudara tuanya.

Wanita baju merah itu berkata sambil ulap-ulapkan tangannya: “Kalian tidak boleh bertindak demikian!”

Di antara suara bentakan, dua saudara misan itu sudah mulai bertarung mati-matian, seolah-olah berhadapan dengan musuh besar. Wanita baju merah itu dengan tenang meyaksikan pertarungan itu, sikapnya tidak berubah, tetap menantang dengan aksinya yang genit.

Saat itu mendadak terdengar suara trang, ternyata pedang Kang Hoan sudah terpental terbang dari tangannya, ujung pedang Oh Sim Tie sudah menempel di dadanya.

“Kang Hoan, aku tadi sudah kata, kau jangan sesalkan aku berlaku kejam….”

“Kau… kau… berani membunuh aku?”

“Ini adalah kau sendiri yang cari mampus.”

Wajah Kang Hoan seketika menjadi pucat, keringat dingin membasahi dahinya, ancaman maut membuat wajahnya yang tampan berubah menjadi demikian rupa.

“Tahan !” Demikian mendadak terdengar suara bentakan, sesosok bayangan putih melayang, muncul bagaikan bayangan setan.   Dia adalah Penggali Makam yang datang menuruti jejak suara yang telah ia dengar.

Oh Siu Tie segera tarik kembali pedangnya dan lompat mundur.

Wajah wanita baju merah itu lantas berubah, kemudian dengan ketawanya yang menggiurkan ia berkata:

“Ya, kau!”

Dengan sinar mata dingin Hui Kiam mengawasi wanita genit itu sejenak, kemudian berkata kepada Kang Hoan dan Oh Siu Tie:

“Lantaran satu wanita yang tidak tahu malu kalian berdua saudara baku hantam sendiri, pui!”

“Plak! Plak!” dua kali suara nyaring menyusul mulut Kang Hoan dan Oh Siu Tie menyemburkan darah, badannya terhuyung-huyung mundur beberapa tindak, sebelah mukanya matang biru.

Sikap wanita baju merah itu yang genit itu lenyap seketika, dengan suara bengis ia berkata: “Siapa yang kau katakan perempuan tidak tahu malu?”

Dengan sikap tidak berubah Hui Kiam menjawab: “Di sini kecuali kau barangkali tidak ada perempuan kedua lagi.”

Paras wanita itu berubah merah padam….

Dengan sinar mata bengis Hui Kiam mengawasi dua pemuda itu, kemudian berkata kepada mereka:

“Kalian tak lekas pergi dari sini, apa menantikan kematian?”

Oh Siu Tie putar pedangnya, ia maju mendekati Hui Kiam sambil membentak:

“Kau manusia macam apa, berani sembarangan turun tangan mencampuri urusan orang lain?”

“Aku tidak bunuh mati kau masih bagus, kau berani banyak mulut lagi!”

Oh Siu Tie masih penasaran, sambil melirik kepada wanita baju merah ia berkata pula:

“Sungguh jumawa, beritahukan namamu!” “Si Penggali Makam!”

Oh Siu Tie dan Kang Hoan berseru berbareng, “Kau adalah si Penggali Makam?”

Dengan tanpa menantikan jawaban yang ditanya, mereka sudah kabur terbirit-birit.

Hui Kiam setelah mengawasi berlalunya kcdua pemuda itu, baru mendekati wanita baju merah itu seraya berkata:

“Aku mengira kau sudah kabur jauh-jauh!”

Wanita itu kembali mengunjukkan sikapnya yang centil genit, dengan suara lemah lembut ia  berkata:

“Mengapa aku harus kabur jauh-jauh?” “Melarikan diri!” “Melarkan diri? Apa artinya?” “Sebab aku hendak membunuh kau!”

Wanita itu ketawa terbahak-bahak, katanya:

“Penggali Makam, apa sebabnya kau hendak membunuhku?” “Kau tentu sudab mengerti sendiri.”

“Ow, yang kau maksudkan apakah tentang barang antaran yang berupa kepala manusia itu?”

“Aku tidak sudi dipermainkan orang.”

“Mengapa dapat dikatakan dipermainkan? Kau hendak pergi ke Sam-g oan-pang, dan aku menunjukkan jalannya sekalian minta tolong bawa barang antaran untuk sumbangan kawin anak perempuannya, kedua pihak tokh tidak ada yang dirugikan….”

“Mengapa kau membunuh orang?”

“Kau telah menabas kutung empat jago pedarg dari Khong-tong- pay, dan kemudian menghajar mampus si Setan Rambut Merah,itu kutanya apa sebabnya?”

“Karena mereka patut dibinasakan.”

“Apakah kau tahu bahwa orang yang kubunuh itu juga tidak ada alasannya yang patut dibinasakan?”

Sejenak Hui Kiam merasa kewalahan, tapi akhirnya ia berkata. “Barusan kau pancing pemuda itu dengan kecantikanmu, supaya

kedua saudara itu saling bunuh. Bagaimana kau maksudkan?”

“Melihat paras cantik lantas timbul nafsu birahi. Penyakit itu toh mereka yang cari sendiri, mereka yang suka perbuat demikian apa salahnya dengan aku?”

“Kau memang pandai omong, sudah terang adalah kau yang sengaja mengadu. kau bukan saja tidak tahu malu, tapi juga sangat jahat bagaikan ular berbisa!”

Paras wanita itu nampak merah padam, dengan suara bengis ia berkata: “Penggali Makam, dengan hak apa kau mencampuri urusanku?” “'Tidak usah banyak bicara. Kau permainkan aku maka sekarang

aku hendak bunuh kau!”

“Apa kau kira kau mampu bunuh aku?” “Kenyataan nanti yang akan menjawab!”

Wanita itu memandang wajah Hui Kiam yang dingin tapi tampan.

Perasaannya beberapa kali berubah, katanya dengan suara duka:

“Penggali Makam, tidak   perduli kau yang membinasakan aku atau aku yang membinasakan kau, baik jangan kita bicarakan dulu, sekarang bicarakan soal yang lainnya dulu!”

“Apa yang perlu dibicarakan?” “Kau terlalu kejam dan sombong!”

Terserah apa kau kata, aku tidak perduli!” “Apa kau seorang yang terluka hatimu?” “Ini tidak ada hubungannya dengan kau!” Wanita itu ketawa terkekeh-kekeh:

“Mungkin kau ingin tahu siapa aku ini?” Hati Hui Kiam lantas tergerak.

Benar, sebab aku sudah berjanji kepada Sam-goan Lojin dan anaknya, hendak menyelesaikau soal barang antaran yang berupa kepala manusia ....

“Namaku Wanita Tanpa Sukma.” “Wanita tanpa sukma?”

“Benar, sebab aku adalah seorang perempuan yang tidak berjiwa lagi. Apa yang ada hanya ragaku!”

“Setidak-tidaknya kau toch mempunyai she dan nama yang asli?” “She dan namaku sudah ikut terkubur bersama jiwaku!” “Mengapa kau melakukan pembunuhan?” “Membalas dendam!”

“Kau membunuh mati bakal menantunya Sam-goan pangcu juga lantaran membalas dendam?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Kau membunuh Auw Yang Kim, sebaliknya mengorbankan keberuntungan seorang perempuan yang tidak berdosa untuk seumur hidupnya.  Ini….”

Sinar mata Wanita Tanpa Sukma mengunjukkan rasa kebenciannya yang memuncak. Katanya sambil kertak gigi:

“Anak perempuan Sam-goan Pangcu, Tan Hiang Kun memang tidak berdosa, tapi apakah aku harus berdosa? Dia masih belum tentu akan kehilangan keberuntungan benar-benar. Tapi aku? Hahahahaha ”

Suara ketawanya menandakan pikirannya yang sudah terganggu, agaknya mengandung rasa benci dan sakit hati yang meluap-luap.

“Tidak perduli bagaimana keadaan yang sebenarnya, kau sendirilah yang pergi menyelesaikannya urusan kepalanya Auw-yang Khin itu kepada Sam-goan Lojin! Kau suka pergi ke Ie-hun-San chung secara baik-baik ataukah aku yang ”

“Tidak ada perlunya bagiku untuk menyelesaikan kepada siapapun juga.”

“Kalau begitu kau ingin aku minta dengan kekerasan?” “Barang kali kau tidak sanggup lakukan.”

Tepat pada saat itu sesosok bayangan orang melayang turun di hadapan Wanita Tanpa Sukma. Agaknya sangat kegirangan bagaikan menemukan benda berharga, orang itu berkata:

“Adik yang manis, alangkah sengsaranya aku mencari kau!”

Orang itu adalah seorang pemuda berdandan ringkas, usianya kira-kira duapuluhan. Wajahnya cukup tampan, tapi dari sikapnya yang ceriwis, ia termasuk satu jenis dari pemuda hidung belang. Berhadapan dengan Wanita Tanpa Sukma sekujur badannya dan tulang-tulangnya seperti sudah lemas. Sepasang matanya memandang liar kepada wanita cantik itu. Sikapnya ini benar-benar sangat menjemukan.

Wanita Tanpa Sukma unjukkan ketawanya yang melewati batas kegenitannya. Setelah puas ketawa, ia baru berkata:

“Kau masih ingat aku?”

“Adikku yang manis, terhadap kau, begitu aku melihat lantas jatuh hati. Sebaiknya dengan kau sehabis pertemuan kita itu lantas pergi tanpa pamit, sehingga membuat aku memikiri dirimu hampir menjadi gila….”

“Sudah cukup!” memotong Hui Kiam dengan nada suara dingin.

Pemuda itu agaknya hingga saat itu baru sadar kalau di situ masih ada Hui Kiam. Setelah mengawasi sejenak, timbullah perasaan cemburunya. Tapi ketika sinar matanya kebentrok dengan sinar mata Hui-Kiam yang tajam dingin, dengan tanpa sadar ia mundur satu tindak dan dengan suara gusar ia berkata:

“Kau siapa?”

Hui Kiam diam saja, agaknya segan menjawab pertanyaan itu.

Wanita Tanpa Sukma ketawa terkekeh-kekeh. Kemudian dengan acuh ia berkata:

“Mengapa kau cemburu? Tidak apa-apa, kita adalah musuh!”

Pemuda itu melirik Hui Kiam sejenak. Dengan sikap mengumpak ia berkata kepada Wanita Tanpa Sukma:

“Adikku yang manis, biarlah aku yang membereskan!” 'Barangkali kau bukan tandingannya….”

“Mustahil!”

“Tahukah kau siapa dia?”

“Siapakah dia sebetulnya bocah liar ini?” “Penggali Makam!” “Apa? Dia... adalah Penggali Makam?”

Muka pemuda itu segera mengunjukkan rasa ketakutan. Setindak demi setindak ia melangkah mundur. Dengan tanpa sadar sudah berdiri berendeng dengan Wanita Tanpa Sukma.

Wanita Tanpa Sukma lantas berkata sambil ketawa cekikikan: “Lihat,   kau   sekarang   ketakutan   setengah   mati.      Jangan

perdulikan dia. Sekarang aku hendak tanya padamu, apa kau cinta

aku?”

Pemuda itu nampaknya kegirangan. Dengan mata merem melek ia menjawab:

“Perlu kujelaskan lagi?”

“Sekalipun mati kau juga masih cinta aku?” “Ini… sudah tentu!”

“Hingga saat ini, kita baru saling bertemu dua kali, bagaimana kau dapat mencintai diriku begitu dalam?”

“Adikku yang manis, inilah yang dinamakan jodoh, begitu lihat lantas jatuh hati!”

Paras Wanita Tanpa Sukma terlintas suatu perubahan aneh. Ia rapatkan tubuhnya kepada pemuda itu. Dengan nada genit ia berkata:

“Aku tidak percaya. Lelaki mulut manis paling tidak boleh dipercaya. Mula-mula saja manis melebihi madu, tapi akhirnya dibuang seperti sampah.”

“Adikku yang manis, apakah aku perlu membelek hatiku untuk kuperlihatkan padamu?”

“Aku pikir memang ingin lihat hatimu!” “Ini ... ini “

Wanita Tanpa Sukma ulur tangannya yang putih halus mengelus- elus pundak pemuda, kemudian dengan kecepatan bagaikan kilat ia menotok…. Pemuda itu keluarkan jeritan ngeri, badannya mundur sempoyongan dengan mata terbuka lebar mengawasi Wanita Tanpa Sukma sambil menuding dengan jarinya, mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas, kemudian rubuh di tanah dan jiwanya lantas melayang.

Dengan jantung berdebaran Hui Kiam menyaksikan itu semua, kemudian berkata dengan suara agak gemetar: “Kau kembali melakukan pembunuhan!”

Dengan acuh tak acuh wanita itu menjawab, “Adalah dia sendiri yang mencari mampus!”

“Apakah ini juga termasuk golongan pembalasan dendam?”

“Tepat, pembalasan dendam. Aku akan membalas dendam terhadap setiap pemuda yang anggap dirinya romantis. Aku ingin mereka jatuh satu-persatu di bawah tanganku.”

Sehabis berkata ia tertawa terbahak-bahak, hendaknya memuaskan rasa dendamnya.

Tanpa menyadari Hui Kiam timbul rasa simpatiknya terhadap wanita itu. Dia sendiri namakan dirinya Penggali Makam. Ia telah bersumpah hendak menggali lubang bagi orang-orang jahat dalam rimba persilatan agar dapat mengubur satu persatu manusia- manusia jahat itu. Perbuatan wanita yang menamakan dirinya sendiri Wanita Tanpa Sukma ini, bukankah mirip dengan dirinya sendiri?

Ia menantikan sampai Wanita Tanpa Sukma puas ketawa baru berkata:

“Wanita tanpa sukma, mari kita balik pada pembicaraan kita semula. Sekarang mari kau ikut aku ke Sam-goan-pang ”

“Mengapa aku harus pergi?“

“Kau harus selesaikan dan tanggung jawab atas barang antaran kepala manusia itu!”

Sangat menytsal sekali, aku anggap bahwa hal itu tidak perlu!” “Tapi aku sudah berjanji kepada mereka hendak mencarikan orang, maka kuanggap itu perlu!”

“Itu adalah urusanmu sendiri.” “Kau tidak pergi?”

“Tidak!”

“Ingin aku turun tangan?” “Terserah!”

Hui Kiam lalu ulur tangan menyambar tangan wanita itu, tapi dengan cepat wanita itu sudah berhasil mengelakkan sambaran tangan tersebut.

Hui Kiam terperanjat, ternyata kepandaian nona itu agaknya tidak di bawah kepandaiannya sendiri hanya dengan caranya berkelit itu saja dalam rimba persilatan sudah jarang tertampak.

la kini sudah rubah siasat, dengan satu gerakan luar biasa cepatnya ia menyerang dengan amat dahysat.

Sambil ketawa Wanita Tanpa Sukma menyambuti serangan tersebut.

Tatkala kekuatan tenaga kedua pihak saling beradu, masing- masing nampak mundur satu langkah.   Hui Kiam terperanjat, ia tidak menyangka bahwa kekuatan tenaga Wanita Tanpa Sukma itu ternyata berimbang dengan kekuatannya sendiri.

Di muka paras Wanita Tanpa Sukma masih tetap ramai dengan senyumannya, sikapnya itu benar-benar sangat menggiurkan. Ia berkata:

“Penggali Makam, kekuatanmu benar-benar sukar dicari tandingannya, tapi kau masih belum mampu membinasakan aku, kau harus mengakui kenyataan ini. Sampai ketemu di lain waktu.”

Ucapan terakhir masih berkumandang di telinga Hui Kiam, orangnya sudah menghilang dari depan matanya. Hui Kiam tidak menduga perempuan itu akan pergi, sesaat setelah merasa terkejut 1antas bergerak untuk mengejar, tapi ternyata sudah tidak berhasil menyandaknya hingga cuma bisa berkata sendiri sambil menggabrukkan kakinya: ''Kau tidak akan bisa lolos!”

Keluar dari dalam rimba, Hui Kiam melanjutkan perjalanannya melalui jalan raya.

Belum berapa lama ia berjalan, di telinganya tiba-tiba terdengar suara orang berpantun dengan suaranya yang mengalun.

“Minum beberapa cawan arak dalam kedai minuman di jalan. Dalam keadaan mabuk alis dikerutkan.

Tidak mungkin akan ketiduran.

Kapan aku sadar dari mabuknya, tahu atau tidak? Benar menjadi kurus lantaran dia.

Aha, kurus lantaran si dia!”

Demikian rentetan syair yang dinyanyikan yang disusul oleh suara keluhan setelah mengakhiri syairnya.

Itu adalah sebuah syair dari seorang penyair di dalam Song Selatan.

Karena merasa ketarik, Hui Kiam menoleh tapi apa yang dilihatnya merasa hatinya mendelu, sebab orang yang menyanyikan syair itu tadi ternyata cuma satu pengemis muda yang usianya kira- kira tujuh atau delapan belas tahun, mukanya mesum, pakaiannya kotor, ruyung yang dinamakan ruyung penggebuk anjing dipanggul di pundaknya, sepasang kakinya telanjang berjalan seenaknya.

Hui Kiam mengawasi sejenak, terus melanjutkan perjalanannya.

Suara nyanyian terdengar pula dan kali ini pengemis muda itu menyanyikan syairnya Hoan Tiong Am bagian terakhir. “Hati sudah patah tidak bisa mabuk lagi.

Sebelum arak tiba, lebih dulu sudah menjadi air mata. Tiada sinar lampu tiada sinar rembulan.

Tidur seorang diri di atas tumpukan puing. Segala urusan dan pikiran,

tak berdaya untuk dielakkan.”

Dalam syair di atas, telah melukiskan bagaimana rasanya seorang pengemis atau anak piatu yang terlunta-lunta nasibnya, tidur dalam kelenteng tua dan menggunakan puing sebagai alas batu bata sebagai bantal.

Hui Kiam kembali menoleh mengawasi pengemis muda itu, ternyata cuma terpisah dengannya kira-kira lima tombak, nampaknya terus mengikuti jejaknya.

Ia terheran-heran karena ia tahu bahwa jalannya sendiri sudah cukup pesat, tapi pengemis itu ternyata dapat mengikutinya dengan tetap terpisah sejarak kira-kira lima tombak di belakang dirinya. Nampaknya pengemis muda itu bukan pengemis sembarang pengemis.

Tapi karena pengemis itu tidak mengganggunya, ia tetap melanjutkan perjalanannya sendiri.

Baru berjalan kira-kira sepuluh tombak, suara kaki sudah berada di belakangnya dan satu suara terdengar nyata: “Sahabat, mengapa hatimu tidak bergerak sama sekali?“

Hui Kiam dengan cepat berpaling, hingga berdiri berhadapan dengan si pengemis. Saat itu ia baru dapat lihat dengan tegas, pengemis muda itu meski sangat mesum dan kotor pakaiannya, tapi mempunyai potongan muka tampan.

“Apa maksudmu?” tanyanya dengan nada dingin. “Pikiranku si pengemis ini sedang merana tapi saudara sedikitpun tidak merasa simpati.”

Hui Kiam mendongkol, sambil ulap-ulapkan tangannya ia berkata: “Pergilah! Aku tidak sempat bicara soal asmara denganmu!” “Mengapa saudara menolak begitu saja?”

“Apa maksudmu yang sebenarnya?”

“Ah, saudara bermuka dingin berhati bagaikan besi, sudah tentu tidak mengerti perasaan halus orang perempuan, bagaimana rasanya seorang yang sedang merana. ”

Hui Kiam memandang si pengemis dengan sinar mata gusar, lalu berpaling dan berjalan pergi........

“Penggali Makam, aku si pengemis hendak menanyanya padamu!”

Karena disebut nama gelarnya, Hui Kiam terpaksa berpaling dan katanya dengan nada suara dingin:

“Mengapa kau tahu aku adalah Penggali Makam?” Pengemis itu ketawa cekikikan dan berkata:

“Nama saudara telah menggemparkan orang-orang golongan hitam atau putih, dengan dandananmu serba putih ini dan dengan sikapmu yang kecut dingin ini, bagaimana aku tak tahu?“

“Kau mencari aku?”

“Ah, tidak, tidak, aku si pengemis kecil sekalipun makannya hanya mengandal pemberian orang tapi masih belum kepingin mati. Aku hanya ingin tanya padamu tentang dirinya seseorang….”

“Siapa?”

“Seorang perempuan cantik manis berbaju merah.” “Wanita Tanpa Sukma?” “Benar, benar,” berkata ia sambil pesut ingusnya dengan lengan bajunya yang kotor.   “Apa saudara belum lama berpisah dengan dia? Tentunya tahu kemana ia pergi?”

“Kau menaksir padanya?”

“Bukan cuma menaksir saja, kita berdua malah saling menyinta kepada sesamanya?”

“Bukankah nabi kita Khong Hu-cu pernah berkata bahwa nafsu makan dan nassu birahi itu adalah kodrat manusia? Aku si pengemis kecuali nafsu makan dan nafsu birahi tidak mempunyai apa-apa lagi!”

“Kalau kau ingin mati, aku Penggali Makam dapat mengikuti kehendakmu, cukup dengan gerakan satu tangan saja.“

Pengemis itu kerlingkan matanya, dari mulutnya menyembur hawa arak, katanya dengan suara keras:

“Saudara tidak mau memberitahukan?”

Hui Kiam perdengarkan suara dari hidung. Ia tidak mau perdulikan si pengemis lantas balikkan badannya hendak berlalu ....

Si pengemis lompat melesat menghadang di depannya kemudian berkata dengan nada sedih:

“Kalau saudara memang tidak sudi memberitahukan, ya sudah. Aku si pengemis kecil tidak akan memaksa, tapi aku hendak tanya, benarkah perjalanan saudara ini hendak mencari seseorang di gunung Bu-san?”

Hui Kiam terperanjat, pergi kegunung Bu-san hendak mencari Iblis Wanita Bertusuk Konde Emas, adalah urusan ia sendiri yang belum dibicarakan kepada siapapun juga, bahkan hal ini hanya Manusia Gelandangan seorang diri saja yang tahu, bagaimana pengemis ini bisa mengetahuinya? Tapi meski dalam hati merasa heran dan curiga, di luarnya masih tetap begitu dingin.

“Nampaknya kedatanganmu padaku ini ada mengandung maksud tertentu?” demikian ia berkata dengan suara datar. “Benar, benar. Maksudku memang hendak membantu kepada saudara. Marilah kita bersahabat. Aku si pengemis kenal baik keadaan gunung Bu-san, hingga setiap pohon aku dapat menghitungnya di luar kepala!”

“Bukankah kedatanganmu ini lantaran Wanita Tanpa Sukma?” “Itu hanya urusan iseng saja!”

“Bagaimana kau tahu kalau aku hendak mencari orang di gunung Bu-san?”

“Kalau aku terangkan barang kali kau tidak percaya. Aku si pengemis kecil ini pernah mendapat pelajaran ilmu gaib dari seorang yang pandai. Aku paham menebak hati dan pikiran orang. Asal kita sudah bicara beberapa patah kata saja, sudah dapat menebak isi hati orang yang aku ajak bicara!”

“Di dalam dunia di mana ada ilmu kepandaian begitu aneh?” “Bukankah saudara sudah buktikan sendiri? Apakah dugaanku

ada keliru?” katanya si pengemis dengan bangga.

“Taruhlah itu benar, tapi aku tidak memerlukan bantuan, silahkan!”

“Eh! Saudara malu bersahabat denganku?” '“Terserah bagaimana anggapanmu!”

“Aku si pengemis bisa membantu kau ke gunung Bu-san untuk mencari orang yang sedang kau cari itu!”

“Aku selamanya suka menyendiri, tidak suka berjalan bersama- sama dengan orang lain.”

Sehabis berkata, dengan tanpa menoleh lagi ia terus berjalan dan meninggalkan si pengemis berdiri kesima di tempatnya, lama baru terdengar suaranya si pengemis yang berkata kepada dirinya sendiri: “Benar-benar hatinya sudah beku sikapnya dingin bagaikan salju. Bagus sekali tugas yang diberikan oleh si tua bangka.”

Sehabis berkata ia juga berjalan mengikuti jejaknya Hui Kiam. Gunung Bu-san yang terkenal dengan dua belas puncaknya yang menjulang tinggi ke langit merupakan salah satu gunung besar yang amat luas daerahnya.

Untuk mencari jejak seseorang di gunung yang luas itu, tak ubahnya bagaikan mencari jarum di dasar laut.

Sudah tujuh hari lamanya Hui Kiam mencari ubek-ubekan di gunung tersebut, tapi tidak ketemukan orang yang dicari.

Menurut keterangan Manusia Gelandangan, Iblis Wanita Bertusuk Konde Emas itu dulu pernah muncul   di antara duabelas puncak, tapi juga belum boleh dianggap sebagai satu patokan bahwa iblis wanita itu ada berdiam di situ. Tapi tidak perduli bagaimana, iblis wanita itu harus diketemukan, untuk mencari pembunuh ibunya yang sebenar-benarnya.

Ia merasa bahwa satu-satunya yang selama masih bernapas, ialah menuntut balas dendam atas kematian ibunya dan gurunya serta mengubur itu semua manusia-manusia jahat dalam rimba persilatan.

Ia tak akan mundur setapakpun juga, walaupun harus mendapat banyak rintangan hebat.

Penggali Makam tujuannya hendak menggali makam-makam yang disediakan untuk mengubur orang-orang jahat, dengan lain perkataan, ialah hendak membunuh habis kawanan penjahat. Nama julukan itu sendiri, sudah cukup seram, dan di balik nama julukan seram itu, ternyata masih mengandung maksud tujuan yang nampaknya sangat samar-samar.

Karena jumlahnya, orang-oang jahat dalam rimba persilatan mungkin tidak dapat dibunuh habis, ini berarti bahwa pembunuhan akan terus berlangsung tidak hentinya, sedangkan seseorang tidak mungkin untuk menjadi seorang kuat tanpa tanding. Selain daripada itu, seorang kuat betapapun tinggi kepandaiannya, walaupun mempunyai kecerdikan dan kepandaian yang tak ada taranya, sedikit banyak masih bisa mengalami hal-hal di luar dugaan yang cukup membawa akibat kematiannya. Dan Hui Kiam tinggi kepandaian ilmu silatnya, cerdas otaknya, tapi masih belum termasuk golongan kuat kelas atas, untuk mencapai ke tahap demikian, mungkin masih terpisah jarak yang sangat jauh, kemudian kalau ia sudah bertekad dan berbuat demikian, tidak lain karena terdorong oleh rasa dendam dan kebenciannya terhadap orang-orang jahat, tumbuhnya pikiran itu adalah akibat dari rasa dendam yang hebat itu.

Sudah tentu, akibat demikian kalau timbul dalam hatinya seorang yang berkepandaian terlalu tinggi dan berkemauan keras, sesungguhnya sangat menakutkan.

Ketika menginjak hari ke delapan, ramsum kering yang dibawa oleh Hui Kiam telah habis. Terpaksa ia mencari makanan apa saja yang didapatnya untuk menahan lapar, untuk dapat melanjutkan usahanya.

Dalam usahanya mencari orang, ia memilih jalan dan tempat yang tersembunyi. Tempat-tempat demikian, sudah tentu sukar dan banyak bahayanya.

Selagi ia berjalan menyusuri sungai yang airnya sangat jernih, tiba-tiba hidungnya mengendus bau amis yang memualkan.

Bukan kepalang kagetnya ia. Ia lalu celingukan untuk mencari dari mana datangnya bau amis itu. Tidak berapa lama matanya sudah dapat lihat di suatu tempat tidak jauh ada menggeletak beberapa bangkai manusia. Dengan tanpa ayal lagi, ia sudah 1oncat ke tempat itu.

Keadaan di situ sangat menyeramkan dan mengenaskan. Di antara tulang-tulang manusia berserakan di tanah, terdapat tujuh bangkai manusia yang mati dalam keadaan mengerikan, kepala mereka hancur semuanya. Dari darah yang sudah membeku, dapat diduga bahwa semua korban itu telah dibunuh mati kira-kira satu hari di muka.

Siapakah orangnya yang melakukan pembunuhan secara kejam demikian?

Dan siapakah tujuh orang itu? Mengapa dibunuh di gunung yang sepi sunyi ini ? Dari banyaknya tulang-tulang-manusia yang berserakan itu dapat diduga bahwa jumlah manusia yang dibunuh tentunya tidak sedikit.

Di antara tumpukan bangkai itu, Hui Kiam dapat menemukan sebuah panji segi tiga berwarna putih, yang tergenggam dalam tangan salah seorang korban. Di tengah-tengah panji itu terdapat sulaman lukisan bulan sabit berwarna emas. Di bawah bulan sabit terdapat tiga bundaran warna hitam.

Dari situ dapat diduga bahwa korban-korban itu adalah orang- orangnya Persekutuan Bulan Emas, dan korban yang menggenggam panji itu ternyata adalah pemimpin rombongan tersebut.

Apa sebabnya anak buah Bulan Emas binasa di tempat itu?

Itulah pertanyaan yang mengaduk dalam otak Hui Kiam. Mendadak ia merasa desiran angin di belakang dirinya. Dari desiran angin itu ia dapat tahu bahwa dari belakang ada yang mendatangi. Ia sengaja diam-diam saja kemudian menegurnya dengan nada suara dingin:

“Siapa?”

Pertanyaannya itu segera dijawab oleh seorang yang suaranya kasar:

“Telinga sahabat ternyata sangat tajam sekali, eh, hehehe! Benar-benar terhitung sangat kejam dan telengas. Menengoklah kemari!“

Hui Kiam balikkan badannya. Di satu tempat sejauh satu tombak, ada berdiri berendeng dua laki-laki pertengahan umur. Satu di antaranya berwajah kejam, yang lainnya berhidung pesek dan mata jereng, di atas mulutnya penuh dengan berewok, benar- benar ada satu potongan muka yang buruk sekali.

Manusia buruk itulah yang barusan berkata padanya.

Dua orang itu ketika menyaksikan wajah Hui Kiam yang tampan tapi dingin kecut, semuanya tercengang. Laki-laki yang berwajah kejam itu mengamat-amati wajah Hui Kiam sejenak, mendadak berkata dengan suaranya yang menyeramkan:

“Apakah tuan Penggali Makam?” “Benar!” jawabnya Hui Kiam singkat.

Laki-laki wajah jelek itu mengawasi tujuh bangkai di tanah sejenak, kemudian berkata dengan suaranya yang keras:

“Penggali Makam, kau telah menggali liang makam untuk tujuh anak buah persekutuan kami?”

Sinar mata Hui Kiam yang tajam bagaikan pedang, terus menatap wajahnya kedua laki-laki itu, dengan suaranya yang dingin dan lambat ia menjawab:

“Kalian berdua kiranya juga orang-orang Persekutuan Bulan Emas?”

“Benar, dugaanmu tepat!” sahutnya laki-laki bermuka kejam. “Kedudukanmu?”

“Kau masih belum berhak untuk menanyakan hal itu!”

Sementara itu, laki-laki bermuka jelek itu agaknya sudah tidak sabaran, dengan mendahului kawannya ia menanya:

“Penggali Makam, beberapa hari berselang di Sam-goan-pang kau telah mengunjukkan keganasanmu, mengutungi satu lengan utusan persekutuan kami, hari ini kembali kau telah membunuh satu ‘hiocu’ dan enam anak buah cabang persekutuan kami di daerah Go- see, apa kau sudah memikirkan apa akibatnya?”

“Apa akibatnya?”

“Barang siapa yang bermusuhan dengan persekutuan kami, akan ditumpas serumah tangga dan perguruannya!”

Dengan wajah tanpa berubah Hui Kiam berkata: “Soal menguntungi lengan utusan itu, aku sudah menerangkan bahwa rekening itu boleh diperhitungkan di bawah namaku, sementara tujuh orang ini bukanlah aku yang membunuh!”

“Siapa yang membunuh?”

“Kau tanya aku? Aku harus tanya siapa?”

“Penggali Makam, memungkir tidak ada gunanya        ”

“Tidak perlu aku berbuat demikian?”

“Nampaknya kau akan menggali liang makam untuk mengubur kau sendiri bersama guru dan seluruh anggota keluargamu!”

“Dengan sepak terjangnya Persekutuan Bulan Emas, ada harganya bagiku menggali makam untuk mengubur kalian berdua!”

Laki-laki berwajah kejam itu perdengarkan ketawanya yang kejam, kemudian berkata:

“Penggali Makam, sebutkan nama gurumu!” “Apa kau berhak menanyakan hal itu?”

“Cepat atau lambat kau beritahukan ada sama saja. Sekarang aku undang kau untuk pergi ke markas cabang kita di Go-see.”

“Aku tidak sempat!”

“Kau ingin kami turun tangan?”

“Tidak usah lagi, sudah ambil keputusan hendak minta kalian berdua supaya berdiam di sini untuk selama-lamanya!”

“Bagus, kau tentunya sudah bosan hidup di dunia!”

Laki-laki berwajah jelek itu setelah membentak demikian, lantas lompat menerjang sambil menyambar dengan kedua tangannya.

Hui Kiam memapaki dengan kedua tangannya. Laki-laki itu mendadak menarik kembali serangannya dan lompat mundur.

Kawannya yang berwajah kejam, sudah menghunus pedangnya.

Ia berkata sambil ketawa dingin: “Kau berani omong besar, ternyata mempunyai kepandaian yang berarti!” Kemudian ia berpaling dan berkata kepada kawannya:

“Kita harus bereskan bocah ini, karena mau ada urusan lain yang mesti kita urus!”

Di antara berkelebatnya sinar gemerlapan, ujung pedang laki-laki itu sudah melakukan serangannya dengan kecepatan bagaikan kilat.

Hui Kiam dengan gerakannya yang luar biasa gesitnya, menerobos lingkaran pedang. Wajahnya yang memang kecut dingin, nampak semakin dingin menakutkan. Lambat-lambat ia menghunus pedangnya. Sepasang matanya menatap lawannya, ujung pedangnya menatap ke bawah, ia berdiri bagaikan patung batu, tidak membuka mulut.

Dua laki-laki itu menyaksikan keadaan demikian hati mereka panas.

“Kita mulai!”

Demikian kedua laki-laki itu mengeluarkan suaranya bagaikan komando, keduanya saling berpandangan sejenak, lalu angkat pedang mereka.....

Pertempuran ttu merupakan suatu pertempuran mati-matian, hingga suasana mendadak menjadi tegang.

“Trang, trang!” demikian terdengar suara benturan pedang.

Hui Kiam masih berdiri tegak, agaknya tidak pernah bergerak dari tempatnya. Sedangkan laki-laki berwajah jelek itu sudah rubuh menjadi dua potong, badannya kutung batas pinggang.

Kawannya yang berwajah kejam, saat itu menjadi pucat pasi, badannya gemetar.

Tepat pada saat itu kembali, muncul lagi tiga orang yang dandanannya serupa dengan dua orang yang datang duluan. Usia mereka berkisar antara empat puluhan. Satu di antaranya lantas berseru  kaget: “Dia Penggali Makam!” Tiga orang itu begitu tiba, lantas mengambil sikap mengurung terhadap Hui Kiam.

Hui Kiam agaknya tidak perdulikan kedatangan ketiga orang itu.

Laki-laki berwajah kejam saat itu baru pulih kembali semangatnya. Dengan suara gemetar ia berkata:

---ooo0dw0ooo---