Pedang Pembunuh Naga Jilid 01

Jilid 01

PERKAMPUNGAN Ie-hun Sancung.

Letaknya di sebelah Timur lereng gunung Bu-san, luasnya kira- kira sepuluh hektar lebih.

Itulah pusatnya golongan Sam-goan-pang, yang riwayatnya baru dua turunan.

Pangcu atau ketua yang sekarang adalahTan Kee Cun, putra tunggal ketua yang pertama Tan Peng, yang nama julukan Sam- goan-lojin.

Usia Sam-goan-lojin sudah hampir seratus tahun, kepandaian ilmu silatnya tinggi sekali, lagi pula ia gemar bergaul, tangannya terbuka bagi siapa saja, hingga banyak kawannya, hampir di seluruh pelosok ada sahabatnya. Dalam dunia rimba persilatan ia mendapat nama baik. Semua kawannya sangat menghormatinya, sehingga mereka menyebut padanya Sam-goan-lojin.

Pada sepuluh tahun kemudian, ia telah menyerahkan tugas dalam golongannya kepada putra tunggalnya Tan-Kee-Cun, dan ia sendiri melewatkan sisa hidupnya dengan tentram. Sam-goan-Pang mempunyai anak buah hampir seribu orang, diantaranya banyak terdapat orang yang termasuk dalam golongan orang kuat dalam rimba persilatan. Kekuatan golongan Sam-goan- Pang hampir merendengi partay atau golongan persilatan lainnya!

Hari itu, perkampungan le-hun Sancung diliputi oleh suasana gembira. Seluruh perkampungan dihias dengan pajangan indah- indah.

Kiranya hari itu adalah hari nikahnya putri pangcu yang bernama Tan-Hian-Kun, dan bakal suaminya adalah Auw-yang-Khim putra sulungnya Auw-yang Hong, salah satu orang terkemuka di daerah Go-see. Kedua keluarga itu merupakan satu tingkatan.

Di gedung pusatnya Sam-goan-pang, sudah disediakan beberapa meja perjamuan. Dengan kedudukkannya Sam-goan-pang di kalangan rimba persilatan, dapat diduga bahwa para tetamu yang akan datang pasti akan memenuhi perkampungan itu.

Siapa nyana, kenyataannya di luar dugaan. Jam untuk bertemunya kedua mempelai sudah hampir tiba, tapi para tamu yang datang jumlahnya dapat dihitung, hingga medan perjamuan yang luas itu, nampak hampa.

Meski para tamu yang datang merasa heran, tapi karena terikat oleh peraturan dan adat istiadat, tiada satupun yang berani menanya.

Pangcu Tan Kee Cun hanya mempunyai satu anak perempuan itu saja, sudah tentu ia sangat menyayanginya. Pada hari pernikahannya itu ia sengaja mengadakan pesta besar-besaran. Surat undangan yang dikirim jumlahnya tak kurang dari dua ribu. Tidaklah heran ketika menyaksikan keadaan demikian, hatinya amat gelisah. Ia mondar-mandir di tengah ruangan, keringat dingin membasahi dahinya. Wajah yang biasanya selalu gembira, hari itu nampak murung.

Di antara tamu-tamu yang datang sudah ada yang merasa cemas dan tak tenang, dan ada juga yang mengunjukkan rasa keheranan. Betapapun halnya, keadaan ‘ganjil’ itu memang merupakan suatu kejadian ‘aneh’.

Sudah terima surat undangan tapi tidak datang untuk memberi ‘selamat’, ini merupakan suatu penghinaan bagi Sam-goan-pang, juga suatu perbuatan yang tak sopan terhadap Sam-goan Lojin.

Akhirnya, di antara tetamu itu, ada juga yang tak sabar. Seorang pertengahan umur yang berpakaian mewah, mendekati Tan pangcu dan menanya sambil kerutkan keningnya:

"Pangcu, mungkin sudah tak ada tamu yang datang lagi, apakah. "

Sam-goan pangcu segera memotong:

"Kejadian ini sungguh aneh, sekalipun partay-partay yang letaknya paling dekat seperti Bu-tong, Bu-san dan lainnya, juga belum tertampak orang-orangnya yang datang."

"Apa dalam peradatan….”

"Aku merasa bahwa dalam soal peradatan sudah cukup sempurna, selain daripada itu, juga tidak terdapat suatu kesalahan yang menyinggung perasaan sahabat-sahabat rimba persilatan."

"Joli pengantin juga seharusnya sudah datang."

Disebutnya joli pengantin yang harus menyambut kemantin perempuan itu, membuat Tan pangcu semakin cemas. Ia lantas tepuk-tepuk tangan memanggil pengurusnya:

"Congkoan!"

Dari dalam terdengar suara orang menyahut, segera muncul seorang tua berpakaian hitam yang jalan terbirit-birit menghampiri pangcunya seraya berkata sambil memberi hormat:

"Hamba Li Bun Hoa menghadap pangcu!"

Li Congkoan segera berlalu untuk menjalankan tugasnya.

Tan Kee Cun lalu berkata sambil memberi hormat kepada para tamunya: "Tuan-tuan sekalian, sudah lama tuan-tuan menunggu, di sini aku si orang Tan lebih dulu minta maaf!"

"Sama-sama," demikian terdengar suara riuh para tetamu. Tapi sejak saat itu, di sana-sini terdengar suara bisik-bisik, hingga suasana menjadi ramai.

Seorang pelayan perempuan berpakaian warna hijau, keluar dari dalam mendekati Tan Kee Cun dan berkata padanya dengan suara pelahan.

"Pangcu, hunjin suruh hamba menanyakan…” Tidak menantikan sang pelayan menjelaskan soalnya, Tan Kee Cun sudah ulap- ulapkan tangannya dan berkata:

"Beritahukan kepada nyonya, katakan saja bahwa joli pengantin belum sampai, pangcu sudah utus orang untuk mencari keterangan.''

"Baik!”

Demikianlah pelayan wanita itu lantas berlalu. Tepat pada saat itu, dari luar terdengar suara: "Manusia gelandangan Ciok Siao Ceng tiba!” Wajah Tan Kee Cun nampak gembira, dengan tindakan lebar ia keluar untuk menyambut. Semua tetamu juga berdiri untuk menyambut kedatangan tetamu itu.

Tetamu yang disebut Manusia Gelandangan itu sudah lanjut usianya, sedikitnya juga sudah delapan puluh tahun ke atas, dengan Sam-goan Loo-jin merupakan sahabat akrab, kedudukannya di dunia rimba persilatan sangat tinggi, kepandaian ilmu silatnya sudah mencapai taraf tertinggi, sukar diduga sampai berapa tingginya. Sifatnya suka mengurus segala urusan orang lain, semua orang tahu bahwa orang tua itu mempunyai kegemaran semacam itu.

Terhadap segala kejadian dan urusan dalam rimba persilatan, banyak sekali pengetahuannya, cuma ia ada mempunyai adat sangat aneh dan luar biasa, ia tidak ijinkan orang anggap ia 'tua' ia pantang sekali orang padanya, orang tua, tidak peduli siapa saja, baik yang mempunyai kedudukan tinggi ataupun yang rendah paling paling cuma ijinkan orang panggil padanya saudara paling tua ataupun Ciok-heng, bahkan lebih suka bila disebut nama saja atau gelarnya yang kurang sedap itu. Maka petugas yang menyambut kedatangan tetamu tadi cuma disebut julukannya, tidak ditambah dengan sebutan saudara atau tuan. Dengan sikap yang sangat menghormat tuan rumah membimbing seorang tua berambut dan berjenggot putih perak masuk ke dalam ruangan.

Orang tua itu wajahnya merah bagaikan anak bayi, badannya masih kekar kekar kekas pundak kiri menggendong sebuah buli-buli arak yang besar sekali, pundak kanannya menggendong sebuah kantong besar, di matanya orang-orang rimba persilatan, kantong itu dipandangnya bagaikan kantong wasiat siapa pun tidak tahu isinya.

Dipandang dari dandanan dan bawaannya, mirip dengan seorang yang tidak beres pikirannya, apalagi tingkah lakunya dan tindak- tanduknya yang lucu dan jenaka, benar-benar seperti orang berotak miring.

Semua tetamu pada memberi hormat sambil berseru: "Selamat dalang!”

Dengan matanya seperti orang sedang mabuk arak, Manusia gelandangan itu menyapu keadaan dalam ruangan itu, kemudian berkata sambil kibaskan lengan bajunya yang lebar:

"Sahabat-sahabat tidak usah banyak peraturan, aku Ciok Siao Ceng tidak sanggup menerima."

Sehabis mengucap demikian, dengan melalui meja-meja tetamu, terus masuk ke ruangan besar, dengan tanpa malu-malu duduk di atas kursi pertama.

Ketika pelayan menyuguhkan teh wangi, ditolaknya sambil berkata:

“Tidak usah, aku sendiri ada membawa barang untuk menyegarkan tenggorokanku."

Lalu membuka buli-buli arahnya, dan ditenggak ke dalam mulutnya. Kemudian dengan menggunakan lengan bajunya, ia memesut bekas  arak yang  membasahi  bibirnya.  Setelah merasa puas tenggak araknya, ia angguk-anggukkan kepala kepada Sam- goan Pangcu seraya berkata:

"Lotee, apa hanya beberapa orang tetamu ini saja yang datang?"

Orang tua itu dengan Sam-goan-Lojin merupakan orang yang sebaya usianya, tapi panggil anaknya Sam-goan Lojin 'lotee' atau adik, bagi yang tahu adatnya orang tua itu, sudah tidak anggap hal yang aneh lagi.

Sam-goan Pangcu terpaksa menjawab sambil ketawa getir: "Siaotit juga merasa heran dengan kejadian ini!"

"Hm! Yang mau datang, siang-siang sudah datang yang tidak mau datang, tidak akan datang lagi!”

"Numpang tanya apa sebabnya?" "Apa sedikitpun kau tidak dengar?"

Apakah sebetulnya yang telah terjadi?"

"Sepanjang perjalanan kemari, pernah dengar orang kata bahwa berbagai partai dan golongan persilatan, dalam waktu satu malam saja, telah kedatangan seorang jahat yang sangat aneh, sehingga menimbulkan banyak kematian atau luka di antara anak murid partai-partai itu mungkin mereka sedang repot mengurusi partainya sehingga tidak mempunyai kegembiraan untuk datang minum arak kemantin."

Keterangan orang tua itu benar-benar mengejutkan semua tetamu.

"Ada kejadian demikian mengapa siaotit tidak dengar? Entah siapa adanya orang yang sangat aneh itu?" tanya Sam-goan Pangcu kaget.

"Utusan Persekutuan Bulan Emas!"

"Persekutuan Bulan Emas?" demikian terdengar suara pertanyaan riuh dari para tetamu. Persekutuan yang sangat aneh itu baru beberapa bulan saja sudah muncul di dalam rimba persilatan tapi hanya terdengar desas- desus saja, siapa orang yang tahu siapa pemimpinnya persekutuan tersebut? Juga tiada orangpun tahu bagaimana bentuknya persekutuan tersebut. Lebih-lebih lagi tidak tahu di mana letaknya pusat atau markas besarnya persekutuan itu.

Dengan wajah pucat dan suara gemetar Sam-goan Pangcu berkata:

"Bagaimana bentuknya Persekutuan Bulan Emas itu?” "Siapa tahu!"

"Siapakah pemimpinnya?" "Entahlah!"

"Mengapa turun tangan terhadap orang-orang berbagai partai persilatan?"

"Bukan turun tangan, melainkan kirim surat. Dalam surat itu minta agar semua partai persilatan itu angkat Persekutuan Bulan Emas sebagai pemimpin semua partai persilatan. Ini memang merupakan satu permintaan gila, sudah tentu ditolak semua partai. Semula bertengkar mulut, kemudian turun tangan. Utusan itu masing-masing mempunyai kepandaian sangat tinggi, dalam suatu pertempuran sudah tentu ada yang mati ataupun terluka."

"Ini memang ada suatu kejadian aneh yang belum pernah terdengar pada waktu sebelumnya tapi mengapa perkumpulan kita dikecualikan, tidak diganggu?”

“Aku juga tidak mengerti, mungkin hanya soal waktu saja.”

Selama pembicaraan berlangsung, dari ruangan dalam nampak keluar seorang tua yang berambut putih dengan jalannya yang masih gagah.

Semua tamu pada berdiri untuk memberi hormat seraya berkata: “Kami ucapkan selamat kepada locianpwee!” “Tuan-tuan tidak usah memakai banyak peradatan, silahkan duduk!”

Sam-goan Pangcu buru-buru menyilahkan duduk kepada orang tua itu.

Manusia Gelandangan ketawa bergelak-gelak. Sambil duduk ia lambaikan tangannya seraya berkata:

“Loko, kau sungguh beruntung!”

Orang tua itu adalah Sam-goan Lojin yang mendapat nama baik dalam kalangan rimba persilatan.

Sambil mengurut-urut jenggotnya yang putih panjang Sam-goan Lojin lalu berkata:

“Siaulote, angin apa yang membawa kau kemari? Sudah sepuluh tahun kita tidak bertemu, aku benar-benar merasa sangat beruntung berjumpa lagi denganmu.”

"Haaa, mengarungi lautan dan gelandangan ke seluruh pelosok, itulah pekerjaanku. Aku si siaote ini memang ada seorang yang repot tanpa gawe, asal ada satu hari menganggur saja semangatku entah melayang kemana, tulang-tulangku pada sakit sekarang sukurlah rasanya agak baik untuk menghadapi kerepotan luar biasa, hihi, dalam dunia ini rasanya lebar, kalau sudah bertemu dengan poci arak, hari rasanya amat panjang.”

Sehabis berkata kembali ia tenggak araknya.

"Lotee, kau benar ada seorang yang berpendirian. Betapa besarpun urusannya, kalau sudah mabuk lantas menjadi habis."

Manusia gelandangan membuka matanya yang sudah mabok, dengan sinar tajam ia berkata dengan nada sungguh-sungguh:

"Loko, memang benar urusan ini sangat besar tapi mabok tak boleh habis. Rimba persilatan sudah timbul malapetaka, kebenaran sudah lenyap dan pengaruh jahat mulai merajalela, kita akan menghadapi hari depan yang sangat guram.”

. "Ucapan lotee ini bukan mustahil tidak ada sebabnya." "Loko nanti akan tahu sendiri.”

Wajah Sam-goan Lojin berubah dengan mendadak. Ia lalu berpaling dan berkata kepada anaknya:

“ Jam bertemunya kedua penganten sudah tiba, mengapa belum kelihatan joli kemantin?"

Pada saat itu kepala pengurus Li-congkoan mendadak lari terbirit- birit masuk kedalam ruangan. Lebih dulu ia memberi hormat kepada Sam-goan Lojin, kemudian dengan sikap gugup, berkata kepada Sam-goan Pangcu:

"Benar-benar ada seorang tetamu muda yang ingin bertemu." "Dan memang tetamu yang datang hendak menghadiri

perjamuan, perlu apa harus dilaporkan, undang saja ia masuk?" “Tetapi tetamu itu ..."

"Bagaimana?"

"Menurut pemandangan hamba, agaknya dengan maksud tidak baik!"

“Uh, apa dia ada memberitahukan namanya?”

"Dia adalah "Si Penggali Makam" yang belum lama muncul di dunia Kang-ouw, dengan kepandaiannya yang menggemparkan atas kematiannya empat jago pedang Khong-tong-pay cuma dalam tiga jurus, dan dengan satu kali pukul telah merenggut jiwa si Setan Rambut Merah.”

"Apa? Penggali Makam?”

Suara keras dari Sam-goan Pangcu telah mengejutkan semua tamu. Sekalipun Sam-goan Lojin sendiri dan Manusia Gelandangan Ciok Sian Ceng juga berubah wajahnya.

Empat jago pedang Khong-tong-pay adalah jago pedang kenamaan di daerah Tionggoan, sedangkan Setan Rambut Merah adalah seorang yang menakutkan yang sudah beberapa puluh tahun lamanya malang-melintang di dunia Kangouw. Mereka ternyata telah dibinasakan oleh seorang muda yang mempunyai julukan aneh dengan sebutannya: "Penggali Makam, hanya tiga jurus dan satu kali pukul saja. Betapa hebat kepandaiannya Penggali Makam dapat dibayangkan sendiri. Terutama nama sebetulnya itu, kedengarannya sangat tidak menyenangkan.

Hakekatnya semua tamu yang ada di situ satupun tidak ada yang pernah melihat bagaimana rupanya manusia yang mempunyai gelar aneh itu. Apa yang diketahui hanya atas pendengaran saja, sudah tentu pula mengenai asal-usulnya si Penggali Makam itu, lebih-lebih tidak ada yang tahu.

"Dengan wajah sungguh-sungguh Sam-goan Pangcu menanyai Manusia gelandangan.

"Soesiok sudah menjelajahi seluruh negeri, tahukah dari mana asal usulnya Penggali Makam?”

“Belum pernah lihat,” jawabnya sambil geleng-gelengkan kepala. “Kalau sudah melihat, mungkin aku dapat menduga asal usulnya.”

"Kalau begitu sebaiknya undang dia masuk saja?"

"Sudah tentu orang yang datang adalah tamu. Lagi pula hari ini adalah hari baik atas pernikahan putrimu. Apa maksudnya kedatangan tamu itu, kita masih belum tahu, bagaimana kita harus tolak? Apakah itu tidak akan membuat tertawaan orang?"

"Kalau begitu, Li congkoan, kau undang tamu itu masuk!" "Ya!''

Kepala pengurus itu keluar. Dari pintu tengah terdengar suara orang yang mengundang tamu itu masuk.

Setiap orang yang ada disitu, dengan perasaan aneh menantikan kedatangan orang yang mempunyai gelar aneh itu. Mereka ingin menyaksikan bagaimana rupanya orang itu.

Tidak antara lama, sesosok bayangan orang muncul. Dalam pandangan mata banyak orang dengan serentak para tamu pada narik napas panjang. Dalam perkiraan mereka, orang yangmempunyai gelar Penggali Makam itu tentunya ada satu manusia dengan wajah buas yang menakutkan, tapi tidaklah demikian kenyataannya. Apa yang muncul di hadapan mereka, ternyata cuma satu anak muda yang usianya belum cukup duapuluh tahun, dengan potongan muka yang cakap ganteng badan pada tegap dengan pakaian yang ringkas berwarna putih-putih sesungguhnya merupakan satu tipe yang sangat ideal bagi satu pemuda tampan, yang penuh daya penariknya.

Tangan pemuda itu membawa satu buntelan. Mungkin itu ada barang sumbangan. Dergan tindakan tenang berjalan masuk ke dalam ruangan besarnya.

Setelah semua orang sudah menyaksikan dengan tegas air muka pemuda itu, dalam hati setiap orang timbul rasa heran. Sikapnya yang dingin dan sinar matanya yang mengandung perasaan dendam dan kebencian, menimbulkan rasa bergidik bagi siapa yang melihatnya. Seolah-olah setiap orang yang ada didalam ruangan itu, ada mempunyai permusuhan hebat dengannya. Sikap itu sangat tidak sesuai dengan potongan muka dan badannya tapi sipat dengan nama gelarnya: 'Penggali Makam'.

Sam-goan Pangcu sudah keluar menyambut kedatangan tamu, sambil angkat tangan ia berkata:

"Kedatangan siaohiap ke perkampungan kami, aku belum sempat menyambut dengan sempurna, mohon supaya dimaafkan."

Pemuda itu membalas hormat sambil angkat tangan seraya berkata:

"Ah, pangcu terlalu merendah," dengan suara dingin, dan setelah mengucapkan perkataan yang sangat singkat itu, lantas tutup rapat lagi mulutnya sepatahpun tidak ada yang keluar lagi.

Setelah masuk ke dalam ruangan, terhadap semua tetamu agaknya acuh tak acuh, sepasang matanya cuma ditujukan kepada Sam-goan Pangcu seorang. Kemudian ia menanya:

"Tuan adakah Sam-goan Pangcu?"

"Benar, siaohiap bergelar Si Penggali Makam?" "Benar!" "Numpang tanya nama siaohiap yang mulia?" "'Namaku yang rendah Hui Kiam!"

"Aaaah! Kedatangan Hui siaohiap ini. "

"Atas permintaan seseorang, untuk menyampaikan barang sumbangan. Di samping itu, juga ingin minta sedikit keterangan dari pangcu.”

Sehabis berkata, ia letakkan bungkusan itu ke atas meja baru mengawasi semua orang yang berada dalam ruangan itu dengan pandangan matanya yang dingin dan mengandung rasa dendam kebencian, hingga menimbulkan perasaan tidak enak bagi yang dipandangnya.

Sam-goan Pangcu berkata sambil menunduk kepada ayahnya: "Inilah ayahku!"

"Lo pangcu baik-baik!"

“Ini adalah Manusia gelandangan Ciok Siao Ceng."

"Oh, nama besar ini aku sudah lama dengar,” katanya sambil melirik orang tua aneh itu.

"Ini adalah   "

Demikianlah Tan pangcu perkenalkan satu persatu para tamunya, kemudian mempersilahkan Hui Kiam duduk.

Sambil mengawasi bingkisan antaran itu, Sam-goan pangcu berkata pula:

"Numpang tanya Hui siaohiap atas permintaan siapa, membawa barang antaran ini?"

"Dalam perjalanan kemari di tengah jalan aku berpapasan dengan satu nona, yang minta aku mengantarkan barang sumbangan ini kemari. Sayang ia tidak mau memberitahukan namanya. Ia cuma kata bahwa pangcu nanti setelah melihatnya pasti akan tahu sendiri!”

"Oh!" Dengan perasaan heran Sam-goan pangcu maju ke depan meja dan membuka bungkusan itu ….

Sementara itu, Hui Kiam sedang berbicara dengan Manusia Gelandangan.

"Tidak nyana di sini aku berjumpa dengan Ciok locianpwee, benar-benar "

Manusia gelandangan delikkan matanya, dengan suara gusar: "Bocah kurang ajar, apa locianpwee, locianpwee …. "

Hui Kiam melongo, mendadak ia tersadar, maka lantas berkata pula:

"Ciok loheng "

Apa loheng, loheng? Ciok-heng saja toch sudah cukup!” “ Oh, ya Ciok-heng ”

Pembicaraan mereka itu mendadak dikejutkan oleh suara teriakan Sam-goan pangcu: “Bagus benar kau... Penggali makam… kau… kau. ”

Tiba-tiba terdengar pula suara jeritan yang keluar dari mulut orang lain. “Kepala manusia!”

Suara itu segera menimbulkan kegemparan. Semua tamu pada berbangkit, dari tempat duduknya semua mata ditujukan kepada bungkusan di atas meja itu.

Di atas meja, selembar kain sutra yang sudah terbuka. Tertampak sebuah kotak indah dari kotak itu ada beberapa lapis kertas minyak dan dalam kertas minyak itu ternyata ada satu kepala manusia yang masih berlumuran darah, nampaknya mati belum lama.

Kepala manusia dibuat barang sumbangan di hari perkawinan, ini benar-benar merupakan suatu kejadian ganjil dalam sejarah. Wajah Sam-goan pangcu nampak pucat pasi, badannya gemetar, matanya terbuka lebar, dengan sikap sangat marah menatap wajah Hui Kiam, seolah-olah ingin menelan hidup-hidup tetamunya itu.

Wajah Hui Kiam juga berubah. Sepasang matanya mengunjukkan sinar beringas tapi sebentar kemudian sudah pulih seperti biasa, hanya sikapnya dingin, nampak semakin dingin guram seolah-olah hawa udara yang sedang dilimuti oleh awan gelap.

Semua mata memandang Hui Kiam dengan perasaan marah.

Sam-goan Lojin jenggotnya bergerak-gerak, sepasang alisnya berdiri, matanya beringas.

Mata manusia gelandangan yang seperti matanya orang mabuk, kini juga terbuka lebar, dengan sinar tajam mengawasi kotak itu.

Seorang tua dengan suara gemetar berkata:

"Ini apakah bukan kepalanya bakal kemanten lelaki Auw-yang Khin-siaoya?"

Kemarahan timbul dalam hati setiap orang dari para tamu lantas terdengar suara riuh:

"Bunuh!"

Pesta perkawinan mendadak berubah menjadi tempat kematian ini benar-benar di luar dugaan semua orang. Suasana segera diliputi kedukaan, kematian, kegusaran dan… nafsu pembunuhan.

Siapapun tidak akan menyangka bahwa barang antaran itu ternyata adalah kepalanya bakal kemantin lelaki.

Beberapa puluh anak buah yang termasuk golongan orang kuat segera memasuki ruangan tamu itu.

Hui Kiam merupakan sasaran utama mereka.

Dengan suara menggeleger Sam-goan pangcu membentak: "Penggali makam, aku hendak cincang badanmu!”

Bibir Hui Kiam bergerak, sikapnya tidak berubah, dengan nada suaranya yang dingin ia berkata: "Pangcu, aku jelaskan padamu dalam soal ini kita telah dipermainkan orang?"

"Hm, apa hanya dengan sepatah keterangan ini, kau kira sudah cukup untuk mengelakkan tanggung jawabmu?"

'Tidak perlu untuk mengelakkan." "Siapa yang membunuh?”

"Aku tidak tahu!”

"Perkataan ini juga tidak bisa membohongi anak umur tiga tahun!"

"Menurut pikiran pangcu bagaimana?” "Membunuh orang harus ganti jiwa!"

Begitu menutup mulut tangan kanannya dengan kecepatan bagaikan kilat sudah menyambar sedang tangan kirinya dengan secara ganas menotok jalan darah badan Hui-Kiam seolah-olah hendak mengambil jiwa Hui-Kiam untuk melampiaskan amarahnya.

Dengan tenang Hui-Kiam geser kakinya serangan demikian cepat dari Sam-goan pangcu ternyata sudah menubruk tempat kosom! Hingga semua tetamu, termasuk Manusia Gelandangan yang sudah mempunyai banyak pergalaman, tiada seorangpun yang tahu, ilmu apa dan dari golongan mana yang digunakan oleh anak muda itu, hingga semua pada terperanjat dan terheran-heran.

Sam-goan pangcu yang sudah dapat didikan dan warisan semua kepandaian avahnya, dengan serangan yang sudah bertekad hendak mengambil jiwa anak muda itu, ternyata tidak mampu menyentuh baju si anak muda itu benar-benar merupakan suatu kejadian di luar dugaannya, tidak heran kalau ia semakin gusar, hingga menyerang lagi untuk kedua kali.

Hui Kiam masih tetap dengan sikapnya yang tenang, mengelakkan serangan tersebut. la tidak balas menyerang.

Sam-goan pangcu semakin penasaran, kembali menyerang dengan menggunakan telapak dan jari tangannya, beruntun masing-masing tiga kali serangan tangan dan empat kali serangan dengan jari. Serangan ini merupakan suatu tipu serangan yang membuat Sam-goan Lojin mendapat nama sebagai salah satu orang kuat dalam kalangan Kang-ouw. Tipu serangan itu, dinamakan 'Sam-goan sie-hie', orang-orang dalam kalangan Kang-ouw yang mampu menyambuti serangan itu, jumlahnya dapat dihitung dengan jari.

Tapi Hui Kiam dengan gerakannya yang gesit dan lincah, bagaikan bayangan berkelebat, ia sudah berhasil menyingkir dari serangan hebat itu, sementara itu mulutnya berkata:

"Aku telah dipermainkan orang, sehingga melakukan perbuatan sesuatu kurang sopan ini, sudah seharusnya aku mandah menerima serangan sampai tiga kali, sebagai tanda permintaan maaf.”

Sam-goan Pangcu menghardik:

"Penggali makam, betapapun pandainya kau main lidah, kami tidak dapat menerima begitu saja, maka kalau kami tidak dapat mampu menghancurleburkan tubuhmu, aku bersumpah tidak akan menjadi orang lagi!"

Hui Kiam cuma kerutkan alisnya. Sikapnya tetap dingin tidak mengunjukkan reaksi apa-apa.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring:

"Penggali makam Iblis, serahkan nyawamu!”

Seorang wanita muda dengan air mata berlinang-linang dan tangan menggenggam pedang telah muncul ke dalam ruangan taman itu. Meski sikapnya sedang kalap, tapi masih tidak mengurangi kecantikan parasnya.

Sam-goan pangcu memanggil dengan suara agak gemetar: “Hiang-kun, kau jangan turut campur tangan. Biarlah ayahmu

yang membereskan."

Gadis itu seperti tidak dengar. Dengan mata beringas ia memandang Hui-Kiam kemudian menyerang dengan pedangnya yang dielakkan oleh Hui Kiam dengan baik. Serangan kedua menyusul, begitu pula serangan ketiga.

Ketika serangan ke empat melurcur keluar, Hui Kiam ulur tangan. Dengan kedua jari tangannya dia menjepit ujung pedang si nona, hingga pedang si nona tidak bisa berkutik.

Tapi gadis itu tidak mau mengerti, dengan tangan kiri ia menyerang enam bagian jalan darah Hui Kiam. Serangan itu merupakan suatu tipu serangan aneh dan jarang tampak dalam rimba persilatan, namun Hui Kiam agaknya tidak pandang mata sama sekali, ia biarkan dirinya diserang oleh si nona.

Enam jalan darah itu masing-masing terkena totokan satu jari tangan, tapi Hui Kiam hanya bergoyang sedikit, tubuhnya tidak terluka apa-apa.

"Aaaaaa........." demikian terdengar suara riuh yang keluar dari mulut para tetamu.

Sam-goan Pangcu bergerak maju dan menyerang Hui Kiam dengan hebatnya.

Dua jari tangan Hui Kiam yang menjepit ujung pedang si nona tidak dilepas, dengan mengibaskan tangan kiri ia menyambuti serangan Sam-goan pangcu.

Suara ‘Bum’ yang keluar karena terbenturnya kedua kekuatan, terdengar nyaring. Sam-goan pangcu terpental mundur sampai tiga tindak dengan mata dan mulut terbuka lebar.

* Dengan nada …. Hui-Kiam berkata:

"Nona ba… adalah Giok-lie Tan-Hiang Kun?” "Benar!”

"Aku yang rendah minta maaf kepada nona. Apakah nona mau dengar keteranganku?"

"Aku hendak bunuh mati kau!”

“Nampaknya tidak ada gunanya aku banyak bicara, biarlah kenyataannya nanti yang akan membuktikannya. Sekarang aku minta diri.” Sehabis mengutarakan demikian ia lepaskan kedua jari tangannya lalu balikkan badannya dan berjalan keluar.

Tujuh atau delapan anak buah dengan lintangkan pedang masing-masing merintangi perjalanan Hui Kiam.

"Serahkan jiwamu!" demikian terdengar suara Tan Hiang Kun, yang lantas menikam Hui Kiam dari belakang.

Dengan tanpa menoleh Hui Kiam kibaskan tangannya. Sungguh hebat kesudahannya, pedang Tan Hiang Kun hampir terlepas dari tangannya sedang badannya sempoyongan mundur.

"Kamu mundur!" demikian terdengar suara nyaring yang keluar dari mulut Sam-goan Lojin.

Hingga saat itu, jago tua itu baru buka mulut. Dengan kedudukannya dalam perkampungan itu, suara jago tua itu bagai firman raja hingga semua anak buah Sam-goan Pangcu yang merintangi Hui Kiam, lantas pada mundur semuanya, begitu juga dengan Sam-goan Pangcu dan puterinya.

"Sahabat kecil, balikkan badanmu!" Hui Kiam menurut.

Sam-goan Lojin berbangkit dari tempat duduknya, sikapnya nampak sangat sungguh-sungguh, tapi suaranya luar biasa tenangnya.

"Sahabat kecil, siapa suhumu dan dari mana asal usulmu?" “Maaf boanpwee tidak dapat menerangkan.”

"Emm! dengan maksud apa kau membunuh dan mengantar kepala orang kemari?”

"Tadi sudah berkali-kali boanpwe memberi keterangan bahwa hal itu adalah perbuatan orang jahat yang hendak mempermainkan boanpwee!”

“Hanya itu saja, agaknya tidak dipercaya begitu saja.” “Kenyataan memang demikian boanpwee tidak bisa berbuat lain cuma mengenai urusan ini boanpwee bersumpah hendak menyelidiki sampai terang.”

“Sedikitnya kau harus memberitahukan suhumu dan asal usulmu serta dari golongan mana si pembunuh yang sebenarnya?”

Tentang ini maaf, boanpwee tidak sanggup menjelaskan.” "Sudah beberapa puluh tahun lohu tidak campur tangan urusan

dunia Kangouw, kau tentunya tidak akan paksa lohu untuk membuka pantangan membunuh bukan?"

Ucapan jago tua itu nampaknya sangat tentu segera dimengerti oleh Hui Kiam.

Dengan sikap tidak berubah Hui Kiam menjawab:

"Jika locianpwee mempercayai boanpwee, berikanlah waktu beberapa hari, boanpwee nanti akan menyelesaikan perkara ini, jikalau tidak, terserah kehendak locianpwee!”

“"Kau jangan kira bahwa kepandaianmu boleh diandalkan." "Boanpwee tidak ada maksud demikian.”

"Jawaban ini belum memuaskan lohu!"

“Tapi boanpwee cuma bisa menjawab demikian!”

Jago tua itu perdengarkan suara dari hidung kemudian lompat maju, dan ulur tangan kanannya menyambar tangan Hui Kiam.

Gerakan itu nampaknya biasa saja tapi ternyata ada mengandung banyak perubahan luar biasa.

Dengan turun tangannya jago tua itu sendiri, sudah tentu menarik perhatian semua tamu. Semua ingin menyaksikan kepandaiannya jago tua itu. Selain dari pada itu, juga ingin tahu sampai di mana kemampuan anak muda, yang menyebut dirinya Penggali Makam itu, untuk menghadapi lawannya.

Hui Kiam putar tubuhnya, dengan gerakan luar biasa ia berhasil mengelakkan sambaran tangan itu. Semua orang yang menyaksikan pada terkejut, gerakannya itu hampir merupakan ilmu gaib.

"Locianpwee ada orang tua, boanpwee seharusnya mengalah!"

Jago tua itu tidak pedulikan sikap mengalah Hui Kiam, ia melanjutkan serangannya. Selanjutnya, terbentanglah suatu pertempuran luar biasa. Apa yang disaksikan oleh para tamu hanya berkelebatnya dua bayangan orang yang berkibaran di sebidang tempat yang kira-kira satu tombak lebih, sehingga membuat kabuar mata setiap orang, mereka tidak dapat melihat dengan nyata gerakan apa yang digunakan oleh kedua pihak.

Hembusan angin yang keluar dari kekuatan tenaga dalam, membuat yang menonton terpaksa mundur jauh-jauh, hanya Manusia Gelandangan yang masih tetap duduk di tempatnya tanpa goyah.

Mendadak dua orang yang sedang bertempur itu berpencaran. Siapa ia tidak tahu siapa yang menang dan siapa yang kalah, hanya pakaian kedua orang itu terdapat banyak lubang, dari sini dapat dibayangkan betapa hebatnya pertempuran tersebut.

"Ambil pedang!" demikian terdengar suara Sam-goan Lojin, dan Tan Hiang Kun dengan cepat memberikan pedangnya.

“Hunus pedangmu!" katanya pula terhadap Hui Kiam.

Wajah Hui Kiam nampak adanya perubahan, kemudian menjawab dengan nada suara dingin:

"Boanpwee tidak inginkan adanya pertumpahan darah di sini!" "Lohu suruh kau hunus pedang!" bentaknya Sam-goan Lojin. "Engkong, kematian iblis ini masih belum cukup untuk menebus

dosanya, perlu apa banyak bicara dengannya."

Dengan sinar mata dingin, gemes, penuh rasa benci dan menakutkan, Hui Kiam mengawasi Tan Hian Kun, sehingga membuat si nona bergidik, tapi semua itu tidak mengurangi rasa dendam sakit hatinya! Ya, di waktu perkawinannya, kepala bakal suaminya telah dipenggal, kemudian diantar sebagai barang sumbangan, ini bukan saja sangat keterlaluan tapi juga berarti membikin musnah keberuntungan dan kebahagiaan untuk seumur hidupnya.

“Hunus pedangmu! Kalau lohu sudah turun tangan, kau nanti sudah tidak dapat kesempatan lagi!"

Jago tua ini ada seorang berjiwa besar, sekalipun terhadap musuhnya ia ingin tetap berlaku kesatria, benar-benar sangat mengagumkan.

Hui Kiam terpaksa menghunus pedangnya. Gerakannya lambat- lambat….

Suasana semakin gawat. Semua orang menahan napas.

Selagi pertempuran hendak berlangsung, Manusia Gelandangan mendadak membuka mulut:

“Loko, dengar dulu kata siaotee, biarlah ia pergi!” demikianlah katanya.

Sam-goan Lojin memandang ke arah Manusia Gelandangan.

Sejenak ia nampak heran kemudian berkata: "Apa, Siaolotee? Maksudmu biar ia pergi?"

Usul orang tua aneh itu bukan saja tidak dimengerti oleh Sam- goan Lojin, tapi juga mengejutkan dan mengherankan semua orang.

Manusia Gelandangan kepandaiannya tidak dapat dijajaki. Sejak tadi ia terus menyaksikan perkembangan kejadian itu dengan mata dingin. Sekarang mendadak mengusulkan supaya melepaskan pemuda yang dianggap sebagai pembunuh dan biang keladi peristiwa ini, benar-benar merupakan suatu kejadian luar biasa.

Dengan sikap sungguh-sungguh dan nada sungguh-sungguh Manusia Gelandangan berkata:

“Benar, loko, biarlah ia pergi!” "Kenapa?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Sam-goan Lojin, Sam-goan Pangcu dan puterinya dengan serentak.

"Ya, menurut penglihatanku, jikalau tidak keliru, apa yang ia katakan itu memang benar, aku Ciok Siao Ceng suka menanggung resiko, memikul tanggung jawabnya, biarlah, loko bersabar dulu, bagaimana?”

Sam-goan Lojin nampaknya merasa keberatan, alisnya dikerutkan, tidak menjawab, sedangkan Sam-goan pangcu dan putrinya dengan wajah penuh hawa amarah mengawasi si Manusia Gelandangan, tapi mereka tidak berani membuka mulut.

Hui Kiam memandang Manusia Gelandangan dengan sorot mata berterima kasih, tapi apa yang terkandung dalam pandangan matanya itu, sesungguhnya tak mudah dilihat, sebab dalam mata orang banyak, sikap dingin pemuda itu benar-benar bagaikan patung hidup atau manusia berhati batu.

Manusia Gelandangan meski seorang beradat aneh dan suka berlaku jenaka, tapi dapat meninjau sesuatu kejadian di sekitarnya dengan kepala dingin dan hati cemas, sedikitpun tak akan terlepas dari matanya. Pandangan mata Hui Kiam itu menambah keyakinannya, hingga ia merasa puas. Kemudian berkata pula:

"Loko, apa kau tidak percaya padaku?”

Pertanyaan ini keluar dari mulutnya Manusia Gelandangan nampaknya sangat berpengaruh. Sam-goan Lojin lantas menjawab sambil gabrukkan kakinya:

"Baiklah, aku Tan Peng sudah tidak bisa kata apa-apa lagi.”

Kemudian dengan mata bengis ia memandang Hui Kiam seraya berkata:

"Sahabat kecil, kau boleh pergi. Ingat, urusan ini belum selesai, kau harus menyelesaikan baik!”

“Boanpwee tidak akan lupa!” jawabnya dengan nada suara dingin.

“Ayah . . . kau . . . “ berseru Sam-goan pangcu. "Jangan banyak bicara!" bentaknya sang ayah.

Dengan sinar mata membenci Sam-Goan pangcu memandang Hui Kiam kemudian melengos ke arah lain, sedang Tan Hian Kun lantas menangis dan lari ke dalam.

Semua tamu merasa tidak senang terhadap keputusan tersebut, tapi karena keputusan itu keluar dari mulutnya Sam-goan Lojin, bahkan keluar dari usul dari Manusia Gelandangan apalagi bila ditilik kepandaian dan kekuatan penggali makam, kecuali kedua jago tua itu yang masih belum diketahui dengan pasti, tiada seorangpun yang ada disitu merupakan tandingan Penggali Makam, maka semua lantas diam.

Hui Kiam mengawasi Manusia Gelandangan sejenak. Sikapnya mengunjukkan keragu-raguannya.

Pada saat itu seorang anak buah Sam-goan pang masuk dari luar sambil membawa bungkusan merah, yang kemudian berlutut di hadapan Sam-goan pangcu seraya berkata:

"Pangcu, di sini ada tamu yang mengantarkan antaran ini.”

Sam-goan pangcu kerutkan alisnya, ia sambuti barang itu, dan segera dibukanya. Wajahnya nampak berubah. Dalam bungkusan itu

Halaman 47-48 tidak ada

Di belakang punggung orang itu ada membawa bingkisan indah. Semua tamu pada berbangkit untuk memberi jalan. Baru tiba di ambang pintu, orang itu sudah berkata dengan suaranya yang lantang:

"Utusan persekutuan Bulan E nas, atau utusan pemimpin kami, datang menyampaikan dengan ini mengunjungi Sam-goan Lojin dan Manusia Gelandaugan." Sam-goan pangcu sambut padanya di pintu ruangan, sambil memberi hormat ia berkata:

"Silahkan masuk."

Utusan Bulan Emas itu memandang pada tetamu seputaran, lantas berjalan masuk dengan tindakan lebar, kemudian berkata sambil memberi hormat kepada Sam-goan Lojin dan Manusia Gelandangan:

“Sedikit bingkisan ini, mohon, kedua locianpwee sudi menerima dengan tenang!"

Ia lalu membuka bungkusan di belakang punggungnya, lalu diletakkan dan dibuka di atas meja.

“Aaaa” demikian dari para tamu terdengar suara teriakan pelahan. Di atas itu tersebar beberapa puluh butir mutiara sebesar buah kelengkeng yang memancarkan sinar berkilauan dan beberapa puluh butir intan berlian serta batu giok dan yang berwarna indah, selain daripada itu juga ada sebuah kotak yang berisi sebatang pohon obat mujijat.

Barang-barang itu merupakan barang-barang 'yang sangat berharga yang tidak mudah didapat.

Utusan Bulan Emas itu membagi barang-barang itu menjadi dua, kemudian undurkan dirinya.

Semua orang memandangnya dengan mata terbelalak.

Sam-goan Lojin agaknya tidak tertarik sama sekali oleh pameran barang berharga itu.  Ia berkata dengan suara datar:

“Tuan datang di kampung kami, entah ada keperluan apa?" “Pemimpin kami sudah lama mendengar nama besar kedua

cianpwee, karena khawatir tidak ada jodoh untuk bertemu muka dengan kedua cianpwee, hingga utus kami datang untuk menyampaikan hormat serta mengantarkan sedikit barang.”

Semua orang mendengarkan dengan menahan napas, hingga suasana dalam ruangan itu nampak sangat tegang. Persekutuan Bulan Emas itu belum lama muncul di rimba persilatan, dalam mata dan hati orang-orang rimba persilatan, masih merupakan satu teka-teki.

Dengan sikap sungguh-sungguh Sam-goan Lojin menjawab: "Bagaimana sebutan pemimpin tuan, mengapa di atas karcis tak

terdapat namanya?"

“Tentang ini maaf, kami tidak dapat memberitahukan."

"Emmm....., pemimpin tuan minta tuan menyampaikan kabar apa?''

"Pemimpin kami karena mengingat keadaan rimba persilatan makin hari makin busuk berbagai partai persilatan saling cakar suasana tidak satu hari tentram terang hingga timbul keinginan untuk memperbaiki keadaan tersebut sedapat mungkin hendak menghentikan pertikaian dan adu kekuatan supaya rimba persilatan dapat dipersatukan…."

Manusia Gelandangan mendengarkan sejenak lalu berpaling dan berkata kepada Utusan Bulan Emas:

"Kepandaian ilmu silat dalam dunia sebenarnya memang berasal dari satu sumber tapi karena berbagai partai persilatan ada mempunyai sumber tersendiri-sendiri meski partainya berlaianan bentuk dan ilmu kepandaiannya tapi tujuannya tetap satu. Umpama manusia yang melahirkan anak-anak juga ada yang pandai pandai, bodoh, baik, jahat, tidak berbakti dan sebagainya ini adalah suatu soal yang wajar, kalau ilmu silat yang terdiri daribeberapa aliran itu hendak dipersatukan, lohu tidak setuju.”

Wajah utusan itu lantas berubah kemudian berkata:

“Kami sebagai utusan hanya menjalankan perintah untuk menyampaikan saja, mengenai pendapat locianpwee tidak berani menyanggahi apa-apa!"

“Tapi bagaimana dengan pikiran pemimpin tuan?" "Mengajak kedua locianpwee masuk persekutuan, bersama-sama melaksanakan tujuan tersebut!"

"Usia lohu sudah lanjut, sudah lama mengasingkan diri dari dunia Kang-ouw. Harap tuan sampaikan kepada pemimpin tuan, lohu mengucapkan terima kasih atas perhatiannya.

“Harap locianpwe pikir masak-masak!”

"Tidak perlu. Ucapan lohu cukup kiranya sampai di sini saja. Barang antaran ini lohu tidak berani terima, harap tuan terima kembali.”

Wajah utusan itu kembali berubah, ia tidak berani menjawab, ia lalu berpaling dan berkata kepada Manusia Gelandangan:

“Bagaimana dengan pikiran tuan?”

Manusia Gelandangan berpikir sejenak, baru menjawab lambat- lambat:

"Aku Ciok Siao Ceng, si gelandangan di mana-mana tidak mendapat hasil apa-apa, ada tempat untuk meneduh, boleh juga!”

"Kalau begitu tuan berarti menerima baik masuk persekutuan kami?"

"Hmmmm, boleh kupikir-pikir dulu!" Sam goan Lojin lantas berkata:

"Siao lotee! Tindakanmu ini agaknya, tidak sesuai dengan pendirian hidupmu selama ini."

"Loko, setiap orang mempunyai cita-cita sendiri bukan?" jawabnya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Kau….”

“Apa loko menganggap bahwa aku keliru?”

“Kita kenal telah 20 tahun, aku menganggap sudah tahu benar watakmu, nampaknya anggapanku ini ada keliru!”

“Loko, kau tidak salah, hanya kalau ingin mengetahui keadaan seseorang, mesti diselediki sedalam-dalamnya.” “Kalau begitu kau sudah mengambil keputusan demikian?”

Manusia Gelandangan mengangkat buli-buli araknya dan ditenggakkan ke dalam mulutnya. Sehabis puas meminum, ia berkata:

“Kini orang-orang Kang-ouw ini hampir seumur hidupnya mempelajari ilmu silat dengan tekun, apakah tujuannya. Dan inilah saatnya!”

Wajah Sam-goan Lojin nampak berkericut, jenggotnya berkibaran, agaknya sangat gusar. Dengan suara agak gemetar ia berkata:

"Ciok Sian Ceng. bukankah kau sering berkata: "sudah cukup senang dimasa hidupnya dapat menenggak secawan arak, untuk apa mati membawa-bawa nama? Mengapa sekarang kau rubah pendirianmu, dengan tanpa memperhitungkan untung ruginya, kau mengejar nama kosong!”

"Saatnya sudah berlainan! Loko, ingat bahwa setiap orang mempunyai cita-cita sendiri.”

"Tahukah kau apa yang kau sedang lakukan?" "Menegakkan keadilan dunia Kang-ouw!"

"Menegakkan keadilan? Hahaha! Ciok Siao Ceng, kau tentunya bukan sungguh smgguh?”

"Aku si orang she Ciok selamanya mentaati ucapan ysng sudah keluar dari mulutnya, ini sungguh-sungguh bukan main-main."

“Apa kau hendak membantu Persekutuan Bulan Emas untuk menguasai dunia?"

"Menguasai dunia tidak tepat "

"Ciok Siong Ceng, aku Tan Peng hari ini baru tahu kau orang macam apa.  Sekarang silah!"

“Apa? Loko mengusir?” Wajah Sam-goan Lojin pucat pasi, dengan pedang menggurat di atas tanah, ia berkata:

“Silahkan!”

Ow! Maksud Loko hendak memutuskan perhubungan. Apa tindakan loko ini tidak keterlaluan?”

“Ini sudah terhitung satu tindakan yang paling pantas. Silahkan barang permata itu sangat berharga, kau bawalah semuanya.”

Manusia Gelandangan benar-benar lantas berbangkit. Ia ambil sebagian barang antaran itu dan masukkan ke dalam kantongnya yang besar lalu tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata kepada Utusan Bulan Emas.

“Aku hendak jalan lebih dulu!” “Silahkan!” sahut utusan itu.

Manusia Gelandangan dengan sikapnya yang jenaka ngeluyur keluar. Di belakangnya terdengar suara tarikan napas dan makian yang keluar dari mulut para tetamu Sam-goan Lojin.

Sam-goan Lojin mengawasi dengan mata melotot, sedang Sam- goan pangcu memandang dengan muka pucat. Satu-satunya orang yang tidak mengunjukkan reaksi apa-apa hanya Hui Kiam itu pemuda dengan julukan penggali makam, ia masih tetap dengan sikapnya yang dingin, siapapun tak tahu apa yang sedang dipikiri.

Utusan Bulan Emas membuka suara dengan nada jumawa dan dingin.

"Locianpwee, urusan sudah kusampaikan, kami minta diri." “Tunggu dulu!”

Utusan itu mengangkat muka, tanyanya: “Locianpwee masih ada pesan apa lagi?”

“Barang antaran ini aku tidak berani terima. Harap terima kembali.” “Ini hanya sekedar maksud baik pemimpin kami. Harap locianpwee suka terima dengan senang hati.”

"Lohu tidak berani terima.”

"Permintaan kami barusan kalau locianpwe tidak setuju sudah saja. Tapi barang antaran ini harus locianpwe terima."

"Tidak!"

"Kami sebagai seorang bawahan cuma berbuat menurut perintah saja tidak bisa mengambil keputusan sendiri "

Sam-goan pangcu melintang di depan utusan itu seraya berkata: “Harap tuan bawa pulang barang-barang itu.”

"Pangcu, kami tadi sudah katakan bahwa kami hanya melakukan perintah saja. Perlu apa pangcu menyulitkan kedudukan kami?"

"Perbuatan tuan ini berani datang ke rumah orang untuk melakukan penghinaan tapi Sam-goan-pang jangan kau pandang enteng!”

"Tan pangcu, kami datang menurut tata tertip dunia Kang-ouw, bagaimana kau katakan datang menghina?"

"Tapi tuan paksa orang untuk menerima barang antaran?" “Mengantar barang berarti menghormat.”

"Tidak berjasa tidak boleh menerima hadiah. Terima kasih!”

"Kami sudah berkata bahwa kami tidak bisa ambil putusan sendiri!"

“Sekali lagi kukatakan, harap kau bawa pulang!" "Kalau tidak bagaimana?

"Barangkali aku terpaksa akan bertindak.”

Utusan Bulan Emas ketawa terbahak-bahak. Dengan sikap menantang ia berkata:

"Pangcu bertindak harus pikir masak-masak lebih dahulu, jangan menurut hawa nafsu." "Bagaimana?"

"Apa pangcu tidak memikirkan bahwa tindakan pangcu ini berarti satu penghinaan maupun tidak pandang mata.”

“Pendeknya kau bawa saja barang itu.” "Maaf kami tidak sanggup!"

Sam-goan Lojin berdiri sambil kibaskan lengan jubahnya, katanya dengan suara gusar:

"Tidak ada aturan memaksa orang terima barang antaran. Tuan datang kemari merupakan tetamu kita, aku sudah berlaku sepantasnya terhadap tetamu, tapi karena rumah tangga kami sedang mengalami kesusahan, terpaksa berlaku kurang sopan. Harap tuan terima kembali barang-barang antaran itu. Tolong sampaikan kepada pemimpin tuan, bahwa kita berterima kasih atas perhatiannya.”

“Barang antaran ini kami tidak bisa terima kembali, hanya pesan locianpwee ini kami pasti akan saya sampaikan. Kami minta diri!"

Sambil menyoja utusan itu lantas balikkan badan berjalan keluar

....

Semua anak buah Sam-goan pang mengawasi dengan sikap

gusar, tapi karena tak ada perintah mereka tidak berani bertindak.

Sam-goan pangcu lompat maju. Tetap merintangi berlalunya utusan itu, ia berkata tegas:

"Kalau tuan tidak bawa barang-barang antaran ini, jangan harap bisa keluar dari sini!”

Utusan itu pelototkan matanya dan berkata: “Apa pangcu hendak menahan orang?” "Mungkin !"

"Barangkali tidak mungkin!" "Coba saja!” "Kami ingin meninggalkan sedikit rasa persahabatan untuk hari kemudian, saat ini tidak ingin turun tangan."

Dengan gerakan yang gesit sekali, utusan itu sudah memutari Sam-goan pangcu, sebentar saja sudah berada di luar pintu.

"Jangan lari!”

Tujuh lebih anak buah Sam-goan pang bergerak dengan serentak merintangi utusan itu, sementara para tamu yang berada di ruangan tamu, pada bergerak ke pekarangan luar.

“Minggir!” demikian terdengar suara bentakan Utusan Bulan Emas sambil kibaskan tangannya.

Anak buah Sam-goan-pang yang hendak merintangi padanya pada mundur sempoyongan.

Sam-goan pangcu maju beberapa tindak dan melancarkan serangan dengan tangan kosong.

Utusan Bulan Emas menangkis dengan tangannya. Sam-goan pangcu terpental mundur.

Sam-goan pangcu tidak sanggup menahan tangkisan satu utusan, maka dapat dibayangkan betapa tingginya kepandaian dan kekuatan Utusan Bulan Emas.

Di antara para tetamu tiba-tiba muncul dua orang tua, satu di antaranya membentak:

“Sahabat, kau terlalu menghina orang!”

Dengan sinar mata dingin Utusan Bulan Emas menyapu dua orang itu, lalu berkata:

“Oh, dua jago dari Seecoan Timur, kalau kalian tahu diri jangan coba-coba campur tangan.”

“Kawanan tikus, kau terlalu jumawa.”

Sesaat kemudian, mendadak terdengar suara “Ouw! Ouw!” yang mengerikan, lalu disusul muncratnya darah merah, dan dua jago dari See-coan Timur itu sudah rubuh dua-duanya, sementara itu Utusan Bulan Emas dengan tenang masukkan pedang kedalam sarungnya.

Perbuatan Utusan Bulan Emas sedemikian gesitnya. Ia menghunus pedangnya dan membunuh dua lawannya secara di luar dugaan, hingga membuat lawannya tidak keburu bergerak tahu- tahu sudah diserang dan rubuh binasa. Tindakan itu membikin geger semua orang.

---ooo0dw0ooo---