Pedang Keadilan II Bab 43 : Seruling Penakluk Ular

 
Bab 43 Seruling Penakluk Ular

Pelan-pelan Pek si-hiang berjalan menghampiri nyonya Li dan bisiknya lirih: "Terima kasih banyak atas kemurahan hati nyonya."

"Darimana kau bisa tahu akan peristiwa ini?" tegur Nyonya Li dengan wajah dingin. Pek si-hiang tersenyum.

"Bukankah nyonya selalu memuji kecerdikanku? Kalau cuma masalah seperti ini pun tak bisa kuduga, percuma nyonya memujiku selama ini."

"Aaaai... lagi-lagi anak Hui yang beritahukan persoalan ini kepadamu bukan?" nyonya Li menghela napas panjang. Pek si-hiang menggeleng.

"Aku rasa enci Hui tak memiliki keberanian sebesar ini."

Dengan sepasang matanya yang tajam Nyonya Li mengerling Pek si-hiang sekejap. lalu sindirnya:

"Demi Lim Han-kim ia bersedia mengorbankan segala sesuatunya, masa dia masih teringat dengan ibunya?"

"Nyonya keliru besar." Pek si-hiang menggeleng, "Enci Hui amat berbakti kepadamu." Nyonya Li menghela napas panjang: "Aaaai... aku berharap nak, lain kali kurangilah sifat mencampuri urusan orang lain yang kau miliki, bisa bukan?"

Kemudian tanpa menunggu jawaban dari Pek si- hiang, ia beranjak pergi dari situ diiringi Tui-im dan Po- hong.

Memandang hingga bayangan tubuh ketiga orang itu lenyap dari pandangan, Pek si-hiang baru berkata kepada Lim Han-kim: "Baik,baikkah kamu?"

"Hebat benar ilmu pedang dayang-dayang itu, untung nona datang tepat waktunya, coba tidak. aku sudah mati atau terluka parah di tangan mereka berdua."

"Asal kau selamat, cukuplah..." kata Pek si- hiang, lalu dibimbing kedua orang dayangnya dia dekati Thian-hok sangjin dan melanjutkan: "Kau terluka parah empek?" Thian-hok sangjin manggut-manggut:

"Rasanya aku sudah tak tahan lagi, ada baiknya juga aku peroleh pelepasan dengan cara begini, paling tidak banyak keruwetan bisa kuhindari."

"Empek kelewat serius, selama ini aku menaruh curiga bahwa kejadian tempo hari bukan kesalahanmu, mumpung para jago dari seluruh dunia akan berkumpul di perkampungan bukit Hong-san ini, siapa tahu pertemuan tersebut bisa membantumu untuk menuntaskan kesalahan paham yang telah berlangsung puluhan tahun."

"Anak Hiang, sungguhkah ucapanmu itu?" Tiba-tiba Thian-hok sangjin melotot besar. "Berulang kali sudah kuteliti dan kuanalisa peristiwa yang kau alami itu, mungkin saja kau menggempurnya satu kali waktu itu, tapi mustahil dia bakal terluka oleh gempuran tersebut."

Setelah mengatur napasnya yang tersengal-sengal, dia melanjutkan:

"Oleh sebab itu kau wajib mempertahankan sisa hidupmu yang sangat berguna ini untuk menuntaskan angan-anganmu yang telah terkandung melama puluhan tahun." Thian-hok sangjin berpikir sejenak. lalu katanya:

"Anak Hiang, kau tidak merasa bahwa ucapanku sudah agak terlambat..."

"Begitu serius luka yang kau derita?" tukas Pek si- hiang dengan rasa terperanjat.

"Yaa, aku rasa jiwaku tak bisa dipertahankan lagi, isi perutku sudah mulai terjadi perubahan"

"Kau terluka oleh gempuran nyonya Li?" tanya Pek si- hiang lagi.

"Yaa, dia menghajar dadaku"

"Orang-orang keluarga Hong-san pasti mampu menyembuhkan luka yang kau derita"

"Percuma, kau berniat minta obat dari nyonya Li?" Thian-hok sangjin gelengkan kepalanya.

"Betul."

"Dia sangat baik kepadamu?" "Aku dianggap sahabat karibnya." "Batas kesabarannya amat jelek. desakanmu bisa timbulkan masalah, bisa-bisa ia membunuhmu"

"Aku tahu, separuh hidupnya yang dilewati dalam kesepian dan kesendirian menimbulkan rasa dendam kesumat yang mendalam, kemasgulan dan kemurungan memaksa dia harus melatih diri lebih giat agar melupakan kejadian di masa lampau, maksudnya agar dia bisa melupakan semua kesedihan serta keruwetan hatinya, sayang ia lupa bahwa kesedihan dan keruwetan yang terkandung dalam tubuhnya tak akan hilang sebelum disalurkan ke luar, akibatnya semakin dia berusaha untuk menenangkan hati, pikirannya semakin kalut dan tak tenang, semakin dingin sikapnya terhadap orang lain, semakin dalam juga kemurungan yang menindas perasaan hatinya, semuanya ini pada akhirnya membentuk watak yang lebih aneh lagi bagi dirinya."

"Setelah mengetahui masalahnya, kenapa kau masih mencoba mencabut gigi harimau?" tegur Thian-hok sangjin

"Sekalipun rasa dedamnya mungkin muncul terhadapku, tak mungkin dia membunuhku."

"Kenapa?"

"Dewasa ini hanya aku seorang yang dapat mengimbangi pembicaraannya dan mungkin hanya aku seorang yang paling dicocokinya, dia ingin ketenangan tapi juga takut kesepian, sudah terlalu lama dia menahan kesepian tersebut hingga sebenarnya dia sudah tak tahan lagi."

"Kalau cuma masalah ini saja yang kau anggap sebagai penyebabnya, mungkin pikiranmu tersebut kelewat kekanak-kanakan," sela Thian-hok sangjin tiba- tiba.

Dengan sepasang mata yang melotot besar Pek si- hiang menatap wajah pendeta itu lekat-lekat serunya: "Jadi kau tahu?"

"Tahu apa?"

"Dimana ibu kandungku sekarang?"

"Siapa yang beritahu urusan ini padamu?" "ibuku, aaaai... padahal dia toh tak boleh

membohongiku sepanjang masa..."

Thian-hok sangjin membuka mulutnya ingin mengucapkan sesuatu, sayang yang muncul justru semburan darah segar yang segera mengotori seluruh jubahnya Menyaksikan hal ini, Pek si-hiang menghela napas panjang. "Biar kucoba mintakan obat untukmu"

Lalu dengan dibimbing siok-bwee dan Hiang-kiok dia berlalu meninggalkan tempat tersebut

Sepeninggal nona itu, Lim Han-kim ambil keluar sebuah sapu tangan dan dipakainya untuk menyeka darah yang mengotori tubuh Thian-hok sangjin, bisiknya lirih: " Locianpwee, kau harus mempertahankan dirimu"

Thian-hok sangjin tarik napas panjang menahan rasa sakit di dadanya yang luar biasa. "Anak muda..." bisiknya, "Kau harus tinggalkan perkampungan keluarga Hong-san secepatnya, Nyonya Li..."

"Tidak" Lim Han-kim menggeleng, "Aku rasa mustahil bagiku untuk tinggalkan tempat ini." "Bila kau tak mampu tinggalkan tempat ini, carilah tempat yang rahasia dan cepatlah kubur kantung yang kuberikan kepadamu itu..."

Kemudian dari sakunya dia mengeluarkan lagi dua jilid kitab yang tipis, sambil disodorkan terusnya:

"Kedua kitab ini berisikan dua jenis ilmu silat yang sangat hebat, simpanlah kitab-kitab itu dalam kantung yang kuberikan kepadamu. setelah isi kantung yang sebetulnya kau sembunyikan, bila nyonya Li kembali memaksamu untuk periksa isi kantung tersebut, serahkan kantung berisi kitab silat ini kepadanya, dengan kelihayan ilmu silat yang dimilikinya tak nanti dia akan rampas kitab tersebut"

Meskipun Lim Han-kim menganggap cara ini kurang ksatria, namun bila teringat sifat nyonya Li yang begitu aneh, mau tak mau terpaksa ia turuti juga nasehat tersebut. Kembali Thian-hok sangjin berkata:

"Bila aku tewas gara-gara luka ini, maka kau akan menjadi satu-satunya orang di dunia ini yang menyimpan rahasia besar itu, tentang apakah berita tersebut akan siarkan secara luas atau tidak dalam dunia persilatan di kemudian hari, kau boleh putuskan sendiri.."

Belum sempat Lim Han-kim menjawab, mendadak ia saksikan Li Tiong-hui muncul dengan langkah tergesa- gesa sambil berseru:

"seebun Giok-hiong telah menyiapkan pasukan penyergapnya di luar perkampungan keluarga Hong-san dengan tugas menghalau jago-jago kita yang sedang berdatangan- sudah dua kelompok jago persilatan yang terhalau oleh mereka bahkan ditumpas sampai habis" "Haaah, masa begitu?" Lim Han-kim tersentak kaget. "Masa kau belum mau percaya?"

"Dari siapa nona dengar berita ini?"

"Dari seorang murid Bu-tong-pay, tujuh orang jago Bu-tong-pay datang kemari bersama lima orang gagah dari Kang-tang, siapa tahu mereka terperangkap di tengah jalan oleh jago-jago yang disiapkan seebun Giok- hiong, dari dua belas orang yang ada, sepuluh rekan mereka terbunuh saat itu juga, sedang dua lainnya berhasil melarikan diri, merekalah yang membawa kabar buruk tersebut."

"Kalau begitu, berita tersebut dapat dipercaya sumbernya, lantas apa rencana nona?" tanya Lim Han- kim.

"Akan kupimpin sekelompok jago untuk menyambut tamu-tamu kita."

"Sepantasnya aku turut serta dalam rombonganmu, tapi... luka totiang ini sangat parah."

"Kau tak perlu mengurusi aku" tukas Thian-hok sangjin tiba-tiba, "Pergilah bersama mereka"

"Tapi... tapi..."

Pada saat itulah Pek si-hiang muncul di sana dibimbing kedua orang dayangnya.

Tanpa memperdulikan kehadiran Li Tiong-hui lagi, Pek Si-hiang langsung menghampiri Thian-hok sangjin sambil serunya: "Nyonya Li telah menghadiahkan obat, cepat empek telan." "Nak" bisik Thian-hok sangjin setelah melirik gadis itu sekejap. "Kau benar-benar memiliki kemampuan yang luar biasa."

Tanpa membuang waktu diterimanya obat tadi dan langsung ditelan.

Setelah Thian-hok sangjin menelan pil itu, Pek si-hiang baru berpaling ke arah Li Tiong-hui sambil menegur: "Enci Hui, apakah terjadi sesuatu perubahan?"

"Yaa, dengan suatu tindakan kilat seebun Giokshiong telah pindahkan semua kekuatannya kemari."

Mendengar itu Pek si-hiang menghela napas panjang. "Aaaai... enci Hui, ada berapa patah kata yang kurang

patut terpaksa harus kuucapkan, harap kau tidak marah." "Katakan saja."

"Dengan menantang seebun Giok-hiong bertarung di lembah Ban-siong-kok, apakah kau bermaksud memancing nyonya Li turut campur dalam peristiwa ini?"

"Meski aku berniat begitu, rasanya ibu belum tentu mau."

"Sekalipun kau berhasil memperoleh bantuan dari jago-jago sembilan partai besar, bila ibumu segan turut campur maka kesempatanmu untuk meraih kemenangan dalam pertarungan ini tetap kecil."

Li Tiong-hui termenung dan berpikir sejenak kemudian katanya: "Kalau begitu aku mohon petunjuk dari nona Pek."

Pek si-hiang pejamkan matanya berpikir sejenak. lalu sambil menghembuskan napas panjang katanya: "Selama ibumu belum bersedia turun tangan, maka hal ini justru menguntungkan posisimu."

"Keuntungan apa?"

"Selama ibumu belum turun tangan, seebun Giok- hiong masih menaruh perasaan was-was dan ragu, ia tak akan berani turun tangan secara gegabah apalagi memaksakan suatu pertarungan habis-habisan, lain ceritanya bila ibumu sudah turun tangan, dipaksa oleh situasi dan keadaan yang memojokkan terpaksa seebun Giok-hiong akan membalas dengan sekuat tenaga, terlepas siapa yang bakal menangkan pertarungan akbar ini, satu hal pasti akan terjadi yakni pembantaian secara besar-besaran."

"Nona pernah menyinggung soal ini dengan ibuku?" "Yaa, aku pernah mengajak ibumu membahas

masalah ini."

"Lantas bagaimana pendapat ibu?"

"Tidak seperti apa yang nona duga, tampaknya ibumu sangat hambar memandang masalah ini..."

"Oooh, berarti ibu mulai menaruh perhatian?" "Tampaknya ada sesuatu masalah yang

disembunyikan sebab tiap kali bahan pembicaraan

menyinggung masalah tersebut, ibumu selalu mengurungkan perkataannya."

Li Tiong-hui termenung berpikir sesaat, setelah itu baru katanya:

"Yaa, ibarat nasi sudah menjadi bubur, sekalipun kekalahan berada dipihak kita toh kita wajib melawan habis-habisan, masalah apakah ibu bersedia membantu atau tidak. biarlah beliau putuskan sendiri.." sesudah berhenti sejenak. kembali terus-nya:

"Tapi sekarang ada satu masalah lagi yang amat pelik dan perlu bantuan dari nona."

"Soal apa?"

"llmu silat yang dimiliki Ong popo memang sangat hebat, sayang dia harus memikul tanggung jawab atas keselamatan lembah Ban-siong-kok serta mengatur keempat puluh delapan orang dayang yang dikomando oleh-nya, hal ini membuat dia tak mungkin bisa menolongku lagi, padahal sekarang seebun Giok-hiong telah ingkar janji, dengan suatu serangan kilat dia telah mengatur perangkap di seputar bukit Hong-san untuk membantai jago-jago kita yang akan hadir kemari, akibatnya sebelum pertarungan akbar itu dimulai, aku sudah banyak kehilangan kekuatan.."

"Oooh... maksudmu, kau suruh aku meminjamkan Tui- im dan Po-hong dari nyonya Li agar bisa membantumu?" tukas Pek si- hiang cepat.

"Yaa, memang itulah harapanku, ilmu silat yang dimiliki kedua orang dayang itu sangat hebat karena kepandaian mereka langsung dididik ibu sendiri, bantuan mereka besar sekali manfaatnya bagiku."

"Baiklah, akan kucoba ajukan permintaan ini..."

Tak selang berapa saat kemudian, Pek si- hiang telah muncul kembali diikuti Tui-im dan Po-hong, dua orang dayang itu. sambil tersenyum Li Tiong-hui berkata: "Heran, selama ini watak ibuku sangat aneh dan susah didekati, tapi kebaikannya terhadapmu bukan cuma menimbulkan perasaan dengki dan iri dari kami sebagai keturunannya, bahkan membuat orang sukar untuk mempercayainya."

Sementara itu Tui-im dan Po-hong telah tiba di situ seraya memberi hormat kepada Li Tiong-hui.

"Tak usah banyak adat," tukas si nona cepat, "Aku berharap kalian mau membantuku."

"Perintahkan saja nona, budak pasti akan laksanakan," sahut Tui im seraya menjura.

"Perjalanan kita kali ini berbahaya sekali, kalian harus mempersiapkan senjata rahasia."

"Kami sudah siap nona, jangankan cuma menghadapi pertarungan, biarpun harus terjun ke lautan api pun kami sudah siap."

"Bagus sekali, mari kita sebera berangkat."

Tiba-tiba Lim Han-kim melompat bangun seraya berseru: "Nona, aku pun bersedia mendampingimu"

"Seebun Giok-hiong telah mengerahkan segenap kekuatannya, apakah bakal selamat atau tidak sukar untuk diramalkan mulai sekarang, saudara Lim, sebagai Bu-lim Bengcu sudah menjadi kewajibanku untuk menyerempet bahaya ini, sedang kau... apa gunanya ikut menyerempet bahaya karena masalah yang tak berhubungan denganmu?"

"Justru karena kekuatan nona sangat minim, maka aku bersedia mendampingimu." "Bagaimana menurut pendapat nona Pek?" tanya Li Tiong-hui kemudian sambil berpaling ke arah Pek si- hiang.

"Bawalah dia pergi," sahut Pek si-hiang sesudah melirik anak muda itu sekejap. "Tak nanti seebun Giok- hiong membunuhnya."

"Tapi... pabila seebun Giok-hiong berniat menahannya di sana, aku tak yakin bisa mengajaknya pulang kembali kemari."

"Tak usah kuatir, ajak saja dia pergi." Pek si- hiang tersenyum.

"Baiklah, kalau begitu aku mesti merepotkan saudara Lim."

Lim Han-kim manggut-manggut, kepada Pek si- hiang bisiknya:

"Nona, kau harus merawat Thian-hok lotiang baik- baik, aku akan pergi dulu."

"Sebelum berangkat, ingin kusampaikan sepatah kata dulu untukmu."

"Soal apa?"

"Kau harus banyak menggunakan akal dan pikiran, kurangi menggunakan kekerasan sebab ilmu silat yang dimiliki seebun Giok-hiong jauh melebihi kemampuanmu, berbicara soal pertarungan, tak nanti kau mampu mengungguli dirinya." Bagaikan menyadari sesuatu Lim Han-kim berseru tertahan: "Yaaa... betul, kecuali nona seorang, memang tak ada manusia kedua di dunia ini yang mampu menandingi kecerdasan seebun Giok-hiong."

Tiba-tiba Pek si- hiang tersenyum.

"Padahal kau pun sanggup menundukkan dia, tak usah pakai akal atau tipu muslihat, cukup asalkan bersikap lebih ramah dan halus terhadapnya."

"Waktu sudah semakin larut, aku harus berangkat sekarang," kata Li Tiong-hui kemudian

"Enci Hui harus baik-baik jaga diri" "Terima kasih atas perhatianmu."

Dengan diikuti Tui-im dan Po-hong berangkatlah gadis itu meninggalkan tempat tersebut.

Lim Han-kim menyusul di paling belakang.

Tampaknya Li Tiong-hui gelisah sekali, sepanjang perjalanan ia menempuh perjalanan mata cepat tanpa berhenti sedetik pun

Tak selang berapa saat kemudian sampailah mereka di mulut lembah Ban-siong-kok.

Waktu itu suasana di mulut lembah tersebut amat sepi, siau-cui yang membawa jago-jagonya berjaga di situ, kini sudah mengundurkan diri

Dalam pada itu matahari sudah tenggelam di langit barat, waktu senja pun menjelang tiba.

Lim Han-kim mempercepat langkahnya menyusul ke belakang Li Tiong-hui sambil serunya: "Nona Li" "Ada apa?" tanya Li Tiong-hui sambil berhenti berjalan,

"Aku teringat satu hal." "Katakan saja."

"Sebagai seorang Bu-im Bengcu tidak seharusnya nona maju sendiri untuk menghadapi musuh, seandainya benar-benar bertemu seeburi Giok-hiong, bukankah akibatnya bisa terjadi pertarungan habis-habisan?"

"Kalau bukan aku sendiri yang pergi, siapa lagi yang bisa mewakili aku?"

"Bila nona mau mempercayai diriku, biar aku saja yang mewakili nona."

"Hanya kau seorang?" Li Tiong-hui tertawa hambar. "Lebih baik lagi jika Tui-im dan Po-hong berdua mau

berangkat bersama aku..."

Cepat-cepat Li Tiong-hui menggeleng.

"Sebagai seorang ketua persekutuan dunia persilatan wajib bagiku untuk menangani sendiri masalah ini, bila aku sendiri saja enggan pergi menyerempet bahaya, lantas mana ada jago yang bersedia menuruti perintahku? Maksud baik saudara Lim biar kuterima di dalam hati saja."

Selesai bicara kembali dia percepat langkahnya meneruskan perjalanan

Tiba-tiba Lim Han-kim teringat kembali dengan kantung yang diserahkan Thian-hok sangjin masih berada dalam sakunya, andaikata bertemu dengan anak buah seebun Giok-hiong nanti hingga terjadi pertarungan dan andaikata nasibnya kurang beruntung hingga tewas dalam pertarungan tersebut, bukankah dia akan mengecewakan harapan orang?

Tapi keadaannya sekarang ibarat menunggang dicunggung harimau, tak mungkin lagi baginya untuk mengundurkan diri dari situ, oleh sebab itu sambil meneruskan perjalanan dia mulai perhatikan keadaan di seputarnya, dia berharap bisa temukan suatu tempat yang baik untuk sembunyikan kantung tersebut.

Sebagai orang yang sejak kecil tumbuh menjadi dewasa di lembah Ban-siong-kok. Li Tiong-hui boleh dibilang sangat hapal dengan daerah tersebut, tampak ia belok ke kiri berputar ke kanan, sepanjang jalan bergerak cepat sekali, dalam waktu singkat hampir separuh bagian lembah tersebut telah habis dikelilingi

Namun apa yang mereka saksikan hanya hembusan angin gunung yang kencang, tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak. Diam-diam Lim Han-kim berpikir:

"Kalau seebun Giok-hiong benar-benar sudah persiapkan jagonya di luar lembah Ban-siong-kok, kenapa tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak meski separuh lembah sudah selesai diputar?"

Mendadak Li Tiong-hui menghentikan perjalanannya, melompat naik ke puncak sebatang pohon raksasa dan dari situ dia coba periksa seputar tempat tersebut sebelum meluncur turun kembali.

"Apa nona berhasil menemukan suatu pertanda yang mencurigakan?" bisik Lim Han-kim. Li Tiong-hui menggeleng. "Aku rasa agak sulit bagi kita untuk menemukan jejak mereka, bisa saja ketika melihat kehadiran kita, mereka segera sebarkan kode rahasia dan perintahkan jago- jagonya yang sudah dipersiapkan di sekeliling tempat ini untuk segera mengundurkan diri atau menyembunyikan diri, bagaimana mungkin kita bisa menemukan mereka?"

"Dimana anggota Bu-tong-pay serta lima jago dari Kang-tang mendapat sergapan dari jago-jagonya seebun Giok-hiong?"

"Di tempat ini."

"Mustahil jago-jago dari Bu-tong-pay serta lima jago dari Kang-tang menyerah begitu saja tanpa melakukan perlawanan, bila pernah bertempur berarti di sini pasti ditinggali jejak-jejak atau bekas pertarungan, ayoh kita periksa dengan teliti." sembari berkata, ia mulai mengawasi seputar tempat itu.

Mendadak terdengar Tui-im si dayang itu berseru: "Cepat kemari, di sini dijumpai banyak noda darah"

Lim Han-kim memburu ke sana, betul juga di atas batu gunung terlihat banyak noda darah yang sudah mengering, maka setelah menghela napas katanya: "Tampaknya berita itu memang benar."

Sementara itu Li Tiong-hui dengan suara keras telah berteriak lantang:

"Seebun Giok-hiong, setelah berani melakukan tindakan terkutuk seperti ini, kenapa kau tak berani munculkan diri untuk berjumpa dengan aku?" Desiran angin lembut berhembus lewat, sesosok bayangan manusia melayang turun dari atas sebatang pohon besar

"Seebun Giok-hiong..." umpat Li Tiong-hui sambil tertawa dingin.

Tapi setelah diamati lebih teliti ternyata orang itu bukan seebun Giok-hiong melainkan siau-cui yang mendapat tugas berjaga di luar lembah, Tanpa terasa dengan kening berkerut katanya: "oooh, rupanya kau..." siau-cui tertawa hambar.

"Nona kami belum tiba di bukit Hong-san, jadi nona Li tak usah terlalu memikirkan" Li Tiong-hui berkerut kening, agaknya dia hendak mengumbar amarahnya tapi niat tersebut segera diurungkan ujarnya kemudian sambil tertawa lebar:

"Jadi kalian yang telah membunuh lima jago dari Kang-tang serta tujuh jago dari Bu-tong-pay..." siau-cui tertawa-tawa.

"Jika hutang darah ini hendak kau catat atas namakupun tak ada masalah."

"Apa maksud ucapanmu nona?" tegur Lim Han-kim. "Sekalipun sudah kujelaskan belum tentu nona Li mau

percaya, lebih baik tak usah kubantah." "Coba jelaskan"

"Sesungguhnya tujuh jago dari Bu-tong-pay saling bertarung dan saling membunuh dengan lima jago dari Kang-tang, percaya tidak dengan penjelasanku ini?" Li Tiong-hui termenung sambil berpikir sejenak. kemudian katanya:

"Asal kau dapat mengajukan sebuah alasan yang bisa diterima dengan akal sehat, sudah barang tentu aku akan mempercayainya.." siau-cui tertawa terkekeh- kekeh.

"Alasan? Ha ha h a ... bila kujelaskan mungkin kau pun akan tertawa terpingkal-pingkal karena geli."

"Katakan saja."

"Mereka terbakar oleh rasa cemburu... hahahaha... aneh bukan? Aku pun tidak mengira ketujuh pendeta yang menyebut diri berasal dari perguruan suci begitu rela dan tega saling membunuh dengan lima jagoan dari Kang-tang itu hanya gara-gara seorang gadis. Coba kau bayangkan nona, lucu tidak peristiwa ini?"

"Kaukah si nona yang dimaksud?"

"Aku berwajah jelek dan tidak menarik perhatian, tentu saja ketujuh orang pendeta serta kelima jago dari Kang-tang itu tak bakal saling membunuh gara-gara aku."

"Bila kau ingin agar kami percaya dengan perkataanmu, undang keluarkan nona yang kau maksud itu agar kami bisa tahu macam apakah dirinya itu."

"Sebelum nona kami muncul di sini, kunasehati kalian berdua agar lebih baik urungkan saja niat tersebut"

"Bila nona melarang kami untuk menjumpainya, berarti kau bohong dan cuma membuat alasan.."

Siau-cui segera tersenyum. "Baiklah, bila kalian berdua bersikeras ingin bertemu juga, terpaksa aku harus mengabulkan permintaan itu."

"Bagus, ingin kusaksikan permainan busuk apa saja yang bisa diperankan Seebun Giok-hiong."

Pelan-pelan Siau-cui mengalihkan pandangan matanya ke wajah Lim Han-kim, setelah mengamatinya sekejap, ia berkata:

"Sebagai seorang wanita, tentu saja bukan masalah bila nona Li pingin melihatnya, tapi Lim siangkong adalah seorang pria, lebih baik jangan melihat hal tersebut..."

"Aku masih yakin dengan kemampuanku sendiri," sela Lim Han-kim cepat.

Dari dalam sakunya siau-cui pun mengeluarkan sebatang seruling pendek, katanya lebih jauh:

"Bagaimana kalau kumainkan sepotong lagu lebih dulu untuk kalian berdua dengar?"

Baru saja Li Tiong-hui hendak menampik, Siau-cui telah tempelkan serulingnya di tepi mulut serta memainkan lagu.

Irama seruling tersebut aneh sekali, ketika didengar pada awalnya nada tersebut seperti punya tekanan yang amat berat, namun setelah didengarkan lebih jauh, lama kelamaan suara tersebut menjadi semakin terbiasa hingga lambat laun seperti enak betul kalau didengarkan serta dinikmati

Kurang lebih sepeminum teh kemudian, mendadak terdengar Li Tiong-hui membentak penuh amarah:

"Apa anehnya suara seruling ini? Ayoh cepat hentikan" Siau-cui sama sekali tidak menggubris bentakan tersebut, bahkan melanjutkan tiupannya.

Dalam hati kecilnya Lim Han-kim mulai berpikir "Aneh betul irama seruling ini, dari mana siau-cui

pelajari kepandaian tersebut? Ehmmm, di balik

permainan serulingnya ini tentu ada suatu sebab tertentu."

Sementara dia masih termenung, mendadak terendus bau amis yang menusuk hidung di seputar tempat itu.

Sewaktu dia menengok. terlihatlah berbagai macam ular yang aneh-aneh bentuknya muncul dari empat arah delapan penjuru, rombongan ular itu dengan cepat mengurung beberapa orang tersebut di tengah arena.

"Aaah... ular" pekiknya dengan penuh rasa terkejut "Betul, memang ular" jawab siau-cui sambil berhenti

memainkan serulingnya, "semua jenis ular aneh yang berada dalam radius sepuluh li sekeliling lembah Ban- siong-kok telah kuundang kemari, lima puluh kaki di sekeliling kalian sekarang telah dipenuhi berbagai macam ular berbisa..."

Li Tiong-hui segera tertawa terkekeh-kekeh: "Hahahaha . . . rupanya anak buah seebun Giok-hiong

tidak punya kepandaian hebat lainnya kecuali bermain ular?"

"Hmmmm" siau-cui mendengus, "Asal kalian berempat berani sembarangan bergerak sekarang, segera kuperintahkan berbagai macam ular beracun itu untuk menyerang kalian dari empat arah delapan penjuru." Lim Han-kim coba memperhatikan dengan seksama, betul juga, sekeliling mereka sudah berkumpul begitu banyak ular beracun, kontan saja api amarahnya berkobar, dengan penuh amarah teriaknya:

"Nona, apa maksudmu memanggil datang begitu banyak ular beracun untuk mengurung kami di sini?"

Siau-cui tertawa.

"Perempuan itu bernama Coa-nio (Wanita ular), bila sekeliling tempat ini tak ada ular maka keadaannya ibarat ikan di atas daratan, semakin banyak ular beracun yang berkumpul di sini, dia akan semakin nampak daya pikat- nya."

"Aaah, masa ada kejadian begitu?" seru Lim Han-kim keheranan.

"Kalau tak percaya buktikan sendiri, segera kuundang kehadirannya." sementara itu Li Tiong-hui sudah berbisik kepada Tui-im dan Po-hong:

"Kalian berdua coba periksa dengan teliti sekitar sini, masih adakah jalan mundur yang tidak tertutup ular beracun, kita tak boleh terkurung di sini," Dua orang dayang itu saling bertukar pandangan sekejap, lalu menyahut:

"Biar kami membuka jalan, nona menyusul di belakang, untuk lolos dari kurungan ular beracun bukan suatu pekerjaan yang sulit."

"Menurut pendapatku, lebih baik kita jangan gegabah," bisik Lim Han-kim pula. Sementara itu siau-cui sudah putar badan beranjak pergi dari situ, ia berjalan melalui rombongan ular beracun itu dengan santainya,

Meski kawanan ular itu sama-sama angkat kepalanya sambil menjulurkan lidah, ternyata tak seekor pun di antara ular-ular itu yang bermaksud menerkam siau-cui.

Tak selang berapa saat kemudian bayangan tubuh dayang tersebut sudah lenyap dari pandangan .

Sepeninggal siau-cui, Li Tiong-hui baru berpaling ke arah Lim Han-kimsambil bertanya:

"Saudara Lim punya akal baik untuk meloloskan diri dari kepungan ular ini?"

"Menurut pendapatku lebih baik jangan nyerempet bahaya, sebab jumlah ular beracun yang berada di sekitar kita saat ini sudah mencapai puluhan ribu banyaknya, kita bakal kewalahan jika harus bertarung melawan binatang-binatang melata itu."

"Jadi menurut pendapat saudara Lim?" Lim Han-kim angkat wajahnya memandang sekejap sebatang pohon siong di hadapan-nya, lalu tanyanya:

"Siapa di antara kamu bertiga yang paling hebat ilmu meringankan tubuhnya?" Li Tiong-hui menoleh ke arah Tui-im: "Kau dan Po-hong siapa yang lebih hebat?"

"Budak lebih baik,"jawab Tui-im cepat,

"Nona bersedia melompat naik ke puncak pohon besar itu?" tanya Lim Han-kim kemudian. Tui-im melirik pohon itu sekejap lalu mengangguk "Yaa, rasa-rasanya aku mampu mencapai ke dahan pohon itu." "Bagus Tolong nona naik ke atas pohon itu lalu turunkan tali dari situ, dengan bantuan tali tersebut kami semua bisa mencapai ke atas pohon itu..."

Ngeri juga perasaan Tui-im setelah menyaksikan kawanan ular yang bergerak semakin dekat dari empat penjuru, dalam keadaan begini dia tak berani ayal lagi, hawa murninya segera dihimpun dan tubuhnya melejit naik ke atas batang pohon. Dengan cepat Tui-im turunkan tali pinggang seraya teriaknya: "Siapa yang hendak naik duluan?"

"Saudara Lim, kau naik dulu" ucap Li Tiong-hui sambil berpaling ke arah pemuda itu.

Melihat kawanan ular itu bergerak semakin mendekat, buru-buru Lim Han-kim meloloskan pedang Jin-siang- kiamnya sambil membuat persiapan, dia menggeleng: "Tidak, lebih baik nona naik lebih dulu"

Sementara pembicaraan masih ber-langsung, Tui-im telah menurunkan tali pinggangnya.

"Kita tak boleh membuang waktu lagi," bisik Li Tiong- hui sambil menyambar ikat pinggang itu dan melejit ke atas.

Dengan bantuan tenaga tarikan dari Tui-im, Li Tiong- hui berhasil mencapai batang pohon siong itu secara mudah.

"Sekarang giliran nona yang naik" ucap Lim Han-kim sambil berpaling ke arah Po-hong.

Sementara itu Tui-im telah turunkan kembali ikat pinggangnya, Po-hong pun dengan cepat ikut melompat naik ke atas batang pohon. Ketika tiba giliran Lim Han-kim, baru saja dia hendak meloncat ke atas, mendadak terdengar seseorang berseru sambil tertawa dingin "Lim siangkong, bila tak ingin mati, cepat berdiri di tempat semula."

Lim Han-kim urungkan niatnya seraya ber-paling, ketika menjumpai siau-cui telah muncul di atas sebuah batu besar tiga kaki di hadapannya, sambil tertawa dingin segera serunya:

"Nona anggap kawanan ular itu betul-betul mampu melukai aku Lim Han-kim?"

"Lima kaki di sekeliling pohon besar itu tak nampak tumbuhan lain, bila kau naik ke atas batang pohon tersebut, bukankah sama artinya masuk ke dalam perangkap?"

"Paling tidak toh lebih aman ketimbang mati digigit ular di tempat ini"

"Bila Lim siangkong bersedia mempercayai ucapanku, turuti perkataanku dan pelan-pelan berjalan ke luar dari kepungan kawanan ular itu."

"Kalau aku tidak percaya?"

"Berarti siangkong mencari kematian buat diri sendiri, yaa apa boleh buat lagi, terserah padamu."

Dalam pada itu kawanan ular yang bergerak dari empat penjuru telah semakin mendekat, jaraknya tinggal empat- lima depa dari tubuh Lim Han-kim. "saudara Lim." Kedengaran Li Tiong-hui berteriak keras, "Ayoh cepat naik kemari" sambil berteriak, ikat pinggang itu kembali dilempar turun ke bawah. Lim Han-kim segera menyambar ikat pinggang tersebut dan dibantu tenaga tarikan dari Li Tiong-hui, tubuh si anak muda tersebut segera meluncur naik ke atas batang pohon.

Pada saat itulah sekilas cahaya tajam berkelebat lewat, tahu-tahu sebuah sambaran cahaya putih telah memutuskan tali pinggang tersebut.