-->

Pedang Keadilan II Bab 41 : Nasib jelek si Nona cantik

 
Bab 41. Nasib jelek si Nona cantik

Meskipun perempuan setengah umur itu tidak turun tangan menghalangi ternyata dia juga tidak menghindar Terpaksa Lim Han-kim berjalan lewat melalui sampingnya.

"Silakan masuk. siangkong" ucap Li Tiong-hui sambil menyingkir ke samping memberi jalan lewat.

"Leluasakah?" Lim Han-kim agak sangsi. "Sebetulnya kurang leluasa, cuma tidak apa-apa.

Ayoh, cepat masuk ke dalam" setelah menghela napas

panjang, Lim Han-kim pun berjalan memasuki ruangan itu.

Setelah melalui pintu gerbang, di depannya terbentang sebuah bangunan besar yang terbuat dari batu granit, Bangunan itu mirip benteng, tapi juga mirip sebuah kuburan-yang pasti bentuk bangunannya angker tapi kokoh, sebuah terali besi yang besar dan berat tampak tertutup rapat dan memisahkan bangunan bagian dalam dengan bagian luar.

"Tempat apaan ini?" tanya Lim Han-kim agak tertegun- "Tempat menyimpan abu leluhur kami, tiga generasi keluarga Hong-san semuanya berada di sini, di samping tempat menyimpan barang-barang penting dari keluarga kami."

"Aaaah, mana boleh kumasuki daerah yang begitu penting dari perkampunganmu?" Li Tiong-hui tertawa getir.

"Tempat ini memang merupakan daerah terlarang dari perkampungan keluarga Hong-san. jangan lagi orang luar, anggota keluarga Hong-san sendiri pun tak boleh memasuki daerah ini secara sembarangan..."

Dengan perasaan terkejut bercampur cemas Lim Han- kim mundur dua langkah.

"Kalau begitu kau pun tak boleh sembarangan memasuki daerah terlarang, lebih baik aku keluar saja..."

Mendadak air mata jatuh berderai membasahi wajah Li Tiong-hui, setengah berbisik, ia berkata:

"Aku ingin kau pergi menjumpai seseorang." "Siapa?"

"Boleh dibilang dia adalah suamiku, juga bisa dikatakan sebagai sahabat karibku, terserah apa pun penilaianmu."

"Apa? jadi nona telah berkeluarga?" seru Lim Han-kim semakin terperanjat. Kembali Li Tiong-hui tertawa getir.

"Masih seorang diri atau sudah berkeluarga, buat aku maupun kau sudah bukan suatu persoalan yang penting lagi, seandainya aku belum berkeluarga kini, apa pula yang bisa kau lakukan terhadapku?" "Soal ini... soal ini..." Lim Han-kim tertegun dan tak mampu melanjutkan kata-katanya.

"Kau tak perlu ini itu lagi," tukas Li Tiong-hui. "Kini kau sudah memiliki Pek si-hiang yang begitu mencintai dirimu, ada pula seebun Giok-hiong yang bermanja- manja denganmu, Dalam keadaan demikian, tak mungkin aku Li Tiong-hui tebalkan muka dan ngotot ingin dikawini dirimu pula, jadi kau tak usah khawatir." Lim Han-kim menghela napas sedih.

"Aaaai... nona Li, kenapa kau bilang begitu? Aku Lim Han-kim bukan manusia bangsa kurcaci, terhadap siapa pun aku punya pandangan dan perasaan yang sama."

"Sudahlah, kita tak usah mendebatkan soal ini lagi," sela Li Tiong-hui sambil tertawa getir, "Mari kita masuk ke dalam untuk menjenguk dirinya..." sambil berkata dia melangkah maju ke depan

Lim Han-kim mengikuti di belakang gadis itu dengan ketat, mereka memasuki sebuah ruangan yang ditata indah, Tampak seorang pemuda berwajah pucat pias dan berambut kusut sedang duduk termenung di situ sambil mengawasi sebuah lukisan yang dibentang di hadapannya.

Pelan-pelan Li Tiong-hui berjalan mendekati pemuda itu sambil bisiknya: "Ngo-long, sehatkah tubuhmu akhir- akhir ini?"

Pelan-pelan pemuda itu meletakkan lukisan tersebut ke meja, angkat kepala dan memandang Li Tiong-hui sekejap. sekulum senyuman segera tersungging di ujung bibir-nya. "Akhirnya kau datang juga..." bisiknya lirih. Li Tiong- hui coba tersenyum kecil, sahutnya:

"Sesungguhnya sejak awal aku berhasrat datang menjengukmu namun masih banyak masalah yang harus kuselesaikan terlebih dulu hingga tak sempat pulang, padahal akupun sering merindukan kau."

Pemuda berwajah pucat itu nampak tertegun. "Apa?

Kau merindukan aku?" Ia coba menegaskan.

"Betul, siang kubayangkan malam kuimpikan, aku rindu sekali kepadamu sampai-sampai duduk pun melamunkan dikau, aku dapat rasakan bahwa di antara semua lelaki yang ada di dunia ini, hanya kau seorang yang benar-benar mencintaiku secara tulus hati."

"Sedang mimpikah aku ini...?" gumam pemuda berwajah pucat itu dengan wajah mendelong.

"Tidak, kau bukan lagi bermimpi, kita masih hidup di dunia ini, pikiran kita masih segar, siapa pun tak ada yang sedang bermimpi"

Mendadak pemuda berwajah pucat itu bertepuk tangan sambil menari-nari. Menari sambil diiringi suara nyanyiannya yang keras dan parau.

Wajahnya yang semula murung dan alis matanya yang semula bekernyit terus, kini telah berubah jadi cerah, perasaan riang, gembira dan luapan emosi yang

meledak-ledak mewarnai seluruh tingkah lakunya.

Lim Han-kim hanya berdiri melongo di sisi ruangan, memandang tingkah polah gila dari si pemuda tersebut dengan perasaan agak gugup bercampur gelagapan. Sekulum senyuman kini tersungging di ujung bibir Li Tiong-hui, kendatipun begitu, titik air mata nampak jatuh bercucuran membasahi wajahnya yang cantik,

"Nona Li" kata Lim Han-kim kemudian setelah menghela napas panjang, "Rasa cintanya kepadamu sudah mendekati rasa cinta dari seorang sinting yang tak waras otaknya, garang kujumpai manusia semacam ini."

Sembari membesut air mata yang membasahi pipinya, Li Tiong-hui mengangguk.

"Yaa... dulu, aku tak pernah ambil peduli, tapi sekarang aku benar-benar sudah paham, betul-betul sudah mengerti apa arti "cinta" yang sesungguhnya."

"Mengerti soal cinta?"

"Dulu, bukan saja aku tak pernah merasa bahagia atas perhatian dan luapan cinta kasih yang diperlihatkan dirinya kepadaku, bahkan timbul rasa muak dan benci yang sangat mendatang Aku merasa orang itu sangat menyebalkan Tapi kini aku baru sadar, aku baru tahu bahwa penderitaan dan siksaan batin yang dialaminya selama ini amat menusuk perasaan, penderitaannya mustahil bisa dihadapi orang lain selain dia. Oleh sebab itulah aku wajib membayar ganti rugi kepadanya, aku harus menebus dosa-dosaku selama ini kepadanya dengan cara mencoba mencintainya dan menyayanginya dengan sepenuh hati."

Dengan mulut terbungkam dalam seribu basa Lim Han-kim menundukkan kepalanya, untuk beberapa saat ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun-setelah menarik napas panjang, kembali Li Tiong-hui berkata: "Saudara Lim, betul bukan perkataanku ini?" Pelan-pelan Lim Han-kim angkat wajah-nya, sahutnya dengan wajah bersungguh-sungguh:

"Terus terang saja, kau benar-benar kagum dan menaruh hormat kepada ketulusan cinta saudara ini, cintanya betul-betul murni dan sejati, rasa cinta yang muncul dari sanubarinya yang murni."

"Yaaa... tak dapat dipungkiri, semua kenyataan yang kualami sekarang ini tak lain akibat dari nasehat serta ajaran saudara Lim kepadaku selama ini." Li Tiong-hui tertawa getir,

"Bukan saja aku harus berterima kasih kepadamu, terutama saudara Ong, dia wajib mengucapkan banyak terima kasih kepadamu, sebab berkat pelajaranmu, rasa cintanya kepadaku baru bisa kesampaian."

"Aku yang telah memberi ajaran kepadamu?" "Benar..."

Tiba-tiba nampak pemuda berwajah pucat itu membalikkan badannya dan langsung menubruk ke dalam pelukan Li Tiong-hui.

Menghadapi tindakan tak terduga yang dilakukan pemuda tersebut, secara otomatis Li Tiong-hui membentangkan lengannya dan balas memeluk pemuda itu, bahkan menyandarkan pula kepalanya di dada pemuda tadi dengan penuh rasa cinta. Tak terlukiskan rasa gembira pemuda itu, mendadak teriaknya keras- keras:

"Thian benar-benar maha tahu dan maha pengasih, akhirnya aku Ong Yong-jing berhasil melumerkan kebekuan hati adik Hui..." Menyusul kemudian ia tertawa terbahak-bahak.

Saking gembiranya ia tertawa dan saking memuncaknya luapan emosi saat itu, mendadak napasnya jadi sesak. disusul kemudian badannya roboh terjungkal ke atas tanah.

"Kekasih Ong..." jerit Li Tiong-hui terperanjat buru- buru ia totok jalan darah Mia-bun-hiat di punggung pemuda itu.

Ong Yong-jing mengeluh pelan lalu menghembuskan napas panjang, setelah itu badannya mulai menggeliat dan tersadar kembali dari pingsannya.

Perasaan gembira, kaget, panik dan masgul bercampur aduk menghiasi wajah Li Tiong-hui, tiba-tiba dengan wajah serius ia totok jalan darah di tubuh ong Yong-jing. Peristiwa ini kontan saja membuat Lim Han kim termangu, pikirnya: "Apa-apaan ini, waaah... perasaan wanita memang paling susah ditebak..."

Sementara itu Li Tiong-hui telah membopong tubuh Ong Yong-jing dan dibaringkan ke atas tempat pembaringannya, kemudian ia baru berjalan ke luar dari balik kamar.

"Nona Li" sapa Lim Han-kim kemudian setelah menghembuskan napas panjang, "Bagaimana keadaan saudara Ong?"

"Bukankah kau merasa sangat keheranan dengan kejadian ini?" tanya Li Tiong-hui setelah menyeka air matanya. "Benar, aku memang agak tercengang dengan peristiwa ini."

"Kau tentu heran bukan, apa sebabnya kutotok jalan darahnya?"

"Benar, aku memang tak habis mengerti, kenapa kau mesti menotok jalan darahnya?"

"Aku harus menunggu hingga pertarunganku melawan seebun Giok-hiong berakhir, saat itu aku akan mengundurkan diri sebagai Bu-lim Bengcu dan datang menengoknya, saat itulah aku bersama dia akan mengundurkan diri dari keramaian dunia dan tidak mencampuri urusan keduniawian lagi."

"Oooh, rupanya begitu, nona tak perlu menerangkan lebih jauh, aku sudah memahami maksudmu."

"Sepantasnya kuajak dirimu untuk melihat sekeliling tempat ini, namun untuk itu aku perlu membicarakan terlebih dulu dengan ibuku."

"Tidak usah cukup bertemu dengan saudara Ong pun sudah membuatku merasa amat puas."

Selesai berkata ia putar badan dan beranjak pergi dari situ.

Sambil menyusul di belakang Lim Han-kim, tiba-tiba Li Tiong-hui berkata lagi:

"Apakah saudara Lim ingin tahu urusanku dengan saudara Ong?"

"Bila nona bersedia menjelaskan aku siap untuk mendengarkan" "Mendiang ayahku adalah sahabat karib ayahnya, beliau sangat dikagumi ayahku, suatu ketika mendiang ayahku minum arak bersama ayahnya, di kala mabuk. ayah saudara ong menyuguhkan secawan air teh kepada ayahku, dalam girangnya ayahkupun berjanji, bila beliau punya putri, pasti akan dijodohkan kepada putranya..."

"Jadi hanya dasar ucapan di kala mabuk itu?"

"Yaa, bagi mendiang ayahku, ucapan tersebut tidak bermakna apa-apa, lagipula tak pernah tercatat dalam benaknya, siapa tahu setengah tahun kemudian ayah saudara Ong mengirim sejumlah kado kepada ayahku, saat itu aku baru dilahirkan tiga bulan..."

"Tajam betul pendengaran paman Ong mu itu..." "Tentu saja ibu kaget setelah menerima kado tersebut,

ketika ditanyakan kepada ayahku, ayah pun ikut

terperanjat setelah diingat kembali, beliau baru teringat bahwa di kala mabuk sempat mengutarakan janjinya itu."

Lim Han-kim menghela napas panjang.

"Aaaai... tak disangka empek Ong itu menanggapi secara serius ucapan orang mabuk."

"Mendengar ayah sudah mengaku ada kejadian seperti ini, terpaksa ibu pun cuma membungkam diri, tak nyana ketika belum genap aku berusia satu tahun, ternyata ayah sudah pergi mendahului diriku hingga bagaimana wajah ayah pun aku tak sempat melihatnya,"

"Bagaimana dengan empek Ong itu..."

"Tatkala ayah meninggal, empek Ong sempat datang melayat, ia menangis hampir tiga hari tiga malam di hadapan layon ayahku, bahkan saking sedihnya terakhir dia pun mati di depan meja sembahyang ayah."

"Waaah... tak nyana ayahmu mempunyai seorang sahabat sejati macam begitu..."

"Meski demikian, ibu berpendapat lain, karena ia sudah mempunyai kesan yang kurang simpati terhadap empek Ong, maka kematiannya di depan layon ayah dianggapnya sebagai intrik busuk yang telah direncanakan sebelumnya." Kembali Lim Han-kim menghela napas.

"Kematian merupakan suatu kejadian maha besar bagi umat manusia, ibumu kelewat banyak curiga."

"Anehnya, justru kejadian tersebut sudah terduga oleh ibu jauh hari sebelumnya."

"Apa benar?" Lim Han-kim melengak. "Apa mungkin kematian orang she Ong di depan layon ayahmu merupakan suatu intrik yang telah direncanakan sebelumnya?"

"Boleh dibilang begitu setelah terjadinya peristiwa itu, ibu mengundang datang berapa orang tabib kenamaan untuk melakukan otopsi, dijumpai empek Ong memang sudah menelan pil racun yang bekerja lambat sebelum datang ke rumah kami."

"Nah di sinilah aku kurang paham, sekalipun kematiannya disebabkan racun bereaksi lambat, toh kematiannya demi ayahmu, ia mati karena rasa setia kawannya yang tinggi, mungkinkah kematian semacam itu dianggap sebagai sebuah intrik?" Li Tiong-hui melirik Lim Han-kim sekejap. lalu sahutnya:

"Empek Ong adalah seorang jago dalam ilmu pertabiban, ia sadar bahwa dirinya telah mengidap semacam penyakit aneh, sekalipun tidak mati di depan layon ayah, usianya tak bakal melebihi tiga bulan lagi."

"Oooh, rupanya begitu..." Lim Han-kim menghembuskan napas panjang. setelah berhenti sejenak, terusnya:

"Kesemuanya ini hanya berdasarkan analisa atau memang terbukti?"

"lbu sendiri yang mengisahkan hal tersebut, tentu saja suatu kejadian yang nyata."

Cepat Lim Han-kim menggeleng. "Tapi harus diingat, ibumu punya kesan yang kurang simpati terhadap empek Ong itu."

" Untuk membuktikan ia tak berniat memfitnah orang seenaknya, maka ibu telah mengawetkan jenasah ayah serta empek Ong dengan semacam obat-obatan dengan maksud agar di kemudian hari kami dapat ikut melakukan penelitian"

"Kalau memang begitu tak bakal salah lagi." "Kecerdasan ibuku luar biasa dan tiada tandingannya

di dunia ini, bahkan Pek si- hiang juga tak bakal mampu

menandinginya, cuma selama ini beliau enggan menonjolkan kelebihannya."

Mendadak Lim Han-kim menghentikan langkahnya sambil berkata: "Nona Li, ada beberapa patah kata entah pantas tidak kukatakan?"

"Katakan saja, meski salah tanya juga tak apa, cuma bila kuanggap tak pantas untuk dijawab, aku tak akan menjawabnya."

"Baik..."

Setelah termenung sejenak, lanjutnya:

"Di saat ayahmu masih hidup, apakah hubungannya dengan ibumu kurang harmonis?" Li Tiong-hui menarik napas panjang.

"Watak mereka bertolak belakang, mendiang ayahku berjiwa terbuka, gagah dan berhati ksatria, sebaliknya ibuku lebih suka menutup diri dan selalu hidup menyendiri, dua sifat yang bertentangan"

"Maaf, tidak sepantasnya kuajukan pertanyaan semacam ini."

"Tidak apa-apa, toh sudah kau ajukan"

Lim Han-kim tidak berani banyak bertanya lagi, ia percepat langkahnya meninggalkan tempat itu.

Li Tiong-hui mempercepat langkahnya dan menyusul ke belakang Lim Han-kim, katanya lagi:

"Saudara Lim, ada satu persoalan ingin kumohonkan kepadamu, harap kau jangan menampik,"

"Bila dapat kulakukan, tentu kulaksanakan sepenuh tenaga."

"Kau pasti bisa melakukan" "Baiklah, katakan" "Setelah pertarunganku melawan Seebun Giok-hiong, aku berniat mengumumkan pengunduran diriku di hadapan para jago dari kolong langit serta meletakkan jabatan sebagai Bengcu, tolong pada saat itu kau mewakili aku untuk umumkan soal perkawinanku ini sekalian mengundang mereka agar turut menikmati arak perkawinanku."

"Maaf nona, masalah ini merupakan masalah besar, rasanya kedudukanku kurang cocok untuk mengumumkan kejadian besar ini, kenapa tidak meminta ibumu saja yang umumkan perkawinan ini?"

"Ibu tak setuju dengan perkawinan ini, otomatis beliau enggan menyelenggarakan pesta perkawinan bagiku." Lim Han-kim menghela napas panjang.

"Perkawinan adalah suatu kejadian besar bagi kehidupan manusia, bila ibumu keberatan, masa kau akan selenggarakan sendiri pesta perkawinan itu?"

"Itulah sebabnya aku minta tolong padamu untuk umumkan perkawinanku ini ke hadapan umum, dengan begitu meski ibu tak setuju, ia akan rikuh untuk menghalangi perkawinanku ini."

"Kalau sampai begini, ibumu pasti akan sangat membenciku"

"Sebenarnya aku berniat minta tolong kakakku untuk mengumumkan perkawinan ini, tapi aku takut setelah peristiwa ini ibu akan sangat membencinya, hubungan kami dua bersaudara dengan ibu pada dasarnya sudah dingin dan jauh, bila sampai begitu pasti hubungan itu akan merosot hingga ke titik beku, kalau sampai begitu, selama hidup kami tak punya harapan untuk berbaikan lagi, beda dengan dirimu, kau adalah orang luar, tingkatanmu juga lebih muda, meski ibu membencimu, rasanya beliau tak sampai akan membalas dendam kepadamu."

Lim Han-kim menghela napas panjang, "sekalipun begitu, bagaimana kehidupanmu selanjutnya dengan ibumu?"

"Anak perempuan yang sudah menikah ibarat air dalam baskom yang telah dibuang, setelah perkawinan kami, andai tak bisa bertemu dengan ibu lagi pun tak menjadi masalah, aku bisa mengajak suamiku pergi tinggalkan perkampungan bukit Hong-san dan tak pulang kemari lagi untuk selamanya, dunia begini luas, masa tak ada tempat lain bagiku untuk berteduh?"

Lim Han-kim termenung sambil berpikir sejenak. kemudian ucapnya: "Masih ada satu hal lagi kurang kupahami."

"Tanyakan saja, asal kuketahui pasti akan kujawab." "Mengapa Ong Yong-kim dipenjara di dalam benteng

batu?"

"Bukan dipenjara tapi atas keinginannya sendiri untuk berdiam di situ, setelah datang untuk bersembahyang di depan makam ayah-nya, ia menolak untuk meninggalkan benteng batu itu kecuali aku bersedia menerima perkawinan dengannya."

"Sudah berapa lama ia berdiam di sana?"

"Lebih kurang tiga tahun lebih, tiga tahun berselang ketika ia datang untuk bersembahyang di depan makam ayahnya, sekalian ia singgung soal perkawinan kami tapi permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh ibuku, sejak itulah dia menolak untuk meninggalkan benteng tersebut."

"Aaai... orang ini betul-betul terbuai oleh cinta buta," keluh Lim Han-kim sambil menghela napas.

Sebetulnya dia mau bilang bahwa orang ini tebal muka, tapi kata-kata yang sudah sampai di depan mulut segera ditelannya kembali

"Kala itu, aku pun tak menaruh perhatian atas kejadian tersebut, maka dia pun berdiam di situ selama bertahun-tahun, tiap kali kami datang untuk bersembahyang, dia hanya menengok dari kejauhan dengan termangu-mangu, aaai... dalam setahun dia hanya sempat menengokku sekali, itu pun hanya berlangsung dalam waktu singkat, namun ia menanti terus di situ dengan sabar, menanti hanya untuk menengokku dalam sekejap."

Tiba-tiba Lim Han-kim busungkan dadanya seraya berseru: "Baik, kukabulkan permintaanmu itu."

Sekulum perubahan wajah yang aneh segera menghiasi wajah Li Tiong-hui, tak dapat dibayangkan perubahan itu berupa senyuman atau tangisan, juga tak bisa dibedakan apakah ia gembira atau murung, hanya sahutnya pelan: "Kalau begitu aku harus berterima kasih kepadamu."

"Menjodohkan perkawinan seseorang merupakan kejadian yang patut digembirakan, nona tak perlu sungkan denganku." Tatkala tiba di depan ruang tamu, tampak Ci Mia-cu masih duduk termangu-mangu di tengah ruangan.

Si pencuri sakti Nyoo Cing-hong berdiri di muka pintu sambil memandang langit dengan termangu.

Li Tiong-hui melirik Lim Han- kim sekejap. kemudian ujarnya:

"Saudara Lim, kini sudah tak ada urusan lagi, kau boleh pulang untuk beristirahat. Menurut dugaanku, dalam berapa hari ini seebun Giok-hiong pasti akan menyusul kemari, jadi saudara Lim patut menyimpan tenaga secara baik-baik." Mendengar ucapan tersebut, pemuda kita berpikir.

"Dia sengaja menyuruhku pergi tinggalkan tempat ini, agaknya ada urusan penting hendak ia bicarakan dengan Ci Mia-cu . . ." Maka dia pun berkata: "Kalau begitu aku mohon diri lebih dulu." Kemudian sambil balik badan, ia pun memberi hormat kepada Ci Mia-cu.

Seraya balas memberi hormat kata Ci Mia-cu: "Besok tengah hari aku akan tinggalkan tempat ini,

sebelum pergi, aku berharap bisa berjumpa lagi denganmu."

"Baik, akupun ada urusan hendak dibicarakan dengan totiang, besok tengah hari aku pasti akan kemari untuk bertemu denganmu."

"Pasti kutunggu kehadiranmu." Lim Han-kimpun beranjak pergi dari situ. Selama ini dia sangat menguatirkan keselamatan Pek si hiang, maka dia langsung menuju ke kamar gadis tersebut,

Waktu itu Phang Thian-hua sedang duduk berhadapan dengan si pedang racun Pek siang suami istri, tampaknya ada suatu urusan besar yang sedang dibicarakan.

Melihat kehadiran anak muda tersebut, buru-buru Phang Thian-hua bangkit berdiri seraya berkata:

"Kebetulan sekali kedatanganmu saudara Lim, kami sedang sangsi untuk memutuskan suatu masalah besar."

"Masalah apa?" tanya Lim Han-kim dengan kening berkerut

"Nona Li adalah Bu-lim Bengcu saat ini, tapi selama berada dalam perkampungan keluarga Hong-san, tampaknya gerak geriknya terbelenggu dan kurang leluasa, ini sangat menghambat sepak terjangnya."

"Dia masih mempunyai seorang ibu, tentu saja segala urusan tak bisa dia putuskan sendiri"

Pedang racun Pek siang menyela:

"Nyonya Li telah selamatkan jiwa putriku, bagaimana pun juga aku harus sumbangkan tenagaku demi kepentingannya..." setelah menghembuskan napas panjang, lanjutnya:

"Menurut hasil pengamatanku situasi perkampungan keluarga Hong-san saat ini amat gawat dan berbahaya, sudah banyak jagoan tangguh yang menyusup kemari."

"Apakah nona Li sudah mengetahui urusan ini?" tanya Lim Han-kim. "Di antara jago-jago tangguh itu ada seorang di antaranya punya hubungan yang sangat akrab denganku, sebetulnya aku enggan banyak bicara, tapi mengingat nyonya Li telah selamatkan jiwa putriku, rasanya tak tega aku membungkam terus."

"Oooh, kau maksudkan Thian-hok sangjin?" "Betul"

"Selain Thian-hok sangjin, masih ada siapa lagi?"

"Masih ada dua orang lagi, sayang aku tak sempat melihat bentuk wajahnya secara jelas, namun ditinjau dari ilmu meringankan tubuh yang dimiliki, sudah dapat disimpulkan mereka adalah jago-jago tangguh berilmu tinggi."

"Kalau begitu mereka pasti si penggali sumber mata air itu."

"Mata air apa?"

Lim Han-kim sadar bahwa ia sudah salah bicara, untuk menarik kembali jelas tak mungkin maka katanya lebih lanjut:

"Dalam wilayah perkampungan keluarga Hong-san ini konon terdapat sebuah mata air yang mengalir di bawah perut bumi, ada orang berniat merusak mata air tersebut agar seluruh perkampungan ini tenggelam disapu air bah."

"Haaah, ada kejadian begini?" pedang racun Pek siang tersentak kaget.

"Berita ini kudengar dengan mata kepala sendiri, pasti betul." "Kalau benar-benar begitu, aku tak boleh bertepuk tangan saja."

Tiba-tiba gadis naga berbaju hitam menimbrung: "Aku rasa, kendatipun Thian-hok sangjin dipaksa oleh

keadaan, mustahil ia bersedia melakukan tindakan

terkutuk semacam itu, pasti rombongan lain yang berniat berbuat begitu."

"Betul," sambung Pek siang pula "Tapi sayang wilayah lembah Ban-siong-kok ini luas sekali, sedang kita pun tak tahu dimana letak mata air tersebut, bagaimara cara kita untuk mengamankan daerah itu?"

Sembari berbicara, sorot matanya dialihkan ke wajah Lim Han-kim. Lim Han-kim tidak langsung menjawab, pikirnya:

"Biarpun tahu orangnya, tahu wajahnya, aku belum tahu bagaimana isi hatinya, betul dia adalah ayah Pek si- hiang, tapi aku tak boleh bertindak gegabah dengan menunjukkan letak mata air tersebut, siapa tahu dia pun bermaksud sesuatu."

Berpikir sampai di situ, buru-buru dia alihkan pembicaraan ke soal lain, tanyanya sambil menengok Phang Thian-hua: "Phang cengcu, bagaimana keadaan nona Pek?"

"Masalah ini sulit untuk kujawab secara pasti, kecerdasan nyoya Li tiada taranya, beliau pun tidak membicarakan hasil pengamatannya atas penyakit yang diderita nona Pek. karena itu aku cuma bisa bilang bahwa mati hidupnya nona Pek tergantung hasil pengobatan dari nyonya Li pribadi..." Dalam pada itu Pek siang sudah naik darah, ia merasa dicemooh oleh sikap Lim Han-kim yang berusaha merahasiakan hal tersebut kepadanya, mencorong sinar buas dari balik matanya, hawa membunuh pun mulai menyelimuti seluruh wajahnya. Gadis naga berbaju hitam cukup mengenal watak suaminya ini, buru-buru serunya: "suamiku, jangan bertindak gegabah"

Pek siang menghela napas panjang, meski amarahnya tak sampai meledak namun bukan berarti rasa gusarnya telah mereda, hardiknya keras. "Lim Han-kim"

"Ada apa locianpwee?" Lim Han-kim membalik badan. "Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan,

konon hubunganmu dengan putriku sangat akrab, benarkah begitu?" Lim Han-kim agak tertegun, buru-buru jawabnya: "Boleh dibilang begitu, aku memang cocok sekali dengan putri Anda."

"Mulai detik ini aku melarang kau berhubungan lagi dengan putriku"

"Hubunganku dengan nona Pek hanya sekedar teman biasa, aku sangat menaruh hormat kepadanya."

"Antara lelaki dan wanita ada batasnya, aku adalah ayahnya, aku berhak memutuskan segala sesuatu baginya, Awas Bila di kemudian hari aku masih melihat kau berhubungan dengan putriku, hmmm jangan salahkan bila aku bersikap keji kepadamu."

Setelah termangu sesaat Lim Han-kim mengangguk "Baik Pesan locianpwee akan kuingat selalu."

"Antara kau dengan aku tak punya hubungan apa-apa. kau tak usah memanggilku Locianpwee" Setelah beberapa kali terbentur batunya, untuk sesaat Lim Han-kim jadi gelagapan sendiri, akhirnya setelah melirik Phang Thian-hua sekejap. ia pun balik badan beranjak pergi.

Baru berjalan berapa langkah, tampak Pek si-hiang dibimbing oleh siok-bwee dan Hiang-kiok muncul dari balik ruangan. Hiang-kiok segera berseru begitu melihat anak muda itu:

"Lim siangkong, ada berita gembira untukmu, nona kami sudah tertolong dari ancaman bahaya."

Lim Han-kim cuma tertawa getir, sambil menyingkir ke samping, ia membungkam diri. sementara itu pedang racun Pek siang telah berteriak keras: "Benarkah begitu?"

Belum sempat Hiang-kiok menjawab, Pek si-hiang sudah berkata duluan:

"Hanya sudah ditemukan titik terang tentang sumber penyakitku, apakah berhasil disembuhkan atau tidak, masih terlalu dini untuk diduga."

Ketika pembicaraan masih berlangsung, Lim Han-kim telah melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu.

Hiang-kiok sangat tercengang melihat kelakuan anak muda itu, pikirnya: "Bagaimana sih orang ini, belum lagi selesai bicara, masa sudah ngeloyor pergi?" Dasar masih lugu dan periang, buru-buru serunya: "Hei, Lim siangkong"

"Tidak usah dipanggil" potong Pek siang ketus. Hiang- kiok tertegun dan tak berani banyak bicara lagi. Pek si- hiang menghela napas panjang, bisiknya tiba- tiba: "Bawa aku ke pembaringan"

Hiang-kiok dan siok-bwee menyahut, buru-buru mereka bimbing Pek si-hiang naik ke atas pembaringan.

Sambil menarik selimut untuk menutupi badannya, Pek si-hiang berkata lembut: "Ayah, kau sudah marahi Lim Han-kim?"

"Yaa, dia sudah kumaki-maki, sudah ku-ancam mulai hari ini tak boleh mengganggu dirimu lagi"

Mendengar perkataan itu berubah wajah Hiang-kiok, cepat teriaknya: "Loya, Lim siangkong tak pernah mengganggu nona..."

"Plookk . . ." Tanpa banyak bicara Pek siang menampar mulut Hiang-kiok keras-keras, umpatnya:

"Budak sialan, siapa suruh kau banyak ngoceh"

Keras betul tempelengan itu, bukan cuma pipinya membengkak. darah pun ikut bercucuran dari mulutnya, dengan wajah melengak dayang itu cuma bisa berdiri mematung dan tak berani banyak bicara lagi.

Pek si-hiang gelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil tertawa hambar:

"Ayah, sepantasnya kau urusi anakmu sendiri terlebih dulu sebelum memaki Lim siangkong, apa tidak kau anggap tindakanmu kelewat batas?"

"Putriku pintar dan hebat, kenapa aku mesti memakimu?"

"Tapi dia tidak jujur dan penuh dosa" sambung Pek si- hiang sambil tersenyum. "Siapa bilang putriku penuh dosa?" Berubah air muka Pek siang.

"Lim siangkong adalah seorang pemuda jujur yang berjiwa besar, justru akulah yang telah berusaha dengan segala cara untuk mengusik serta mengganggunya."

Pek siang malu sekali setelah mendengar perkataan ini, sesudah termangu sesaat ia berkata:

"Tapi... tapi rasanya putriku bukan manusia semacam itu?"

"Aku telah mengaku sendiri secara terus terang, masa ayah tak percaya dengan kata-kataku?" Pek si-hiang tertawa.

"Bila aku harus percaya, lantas apa yang mesti kulakukan?"

"Ayah mesti memberi hajaran yang setimpal kepada putrimu."

"Bagaimana kalau kelewat berat?"

"Ayah, kau menggembel apa di balik bahumu?" "Pedang mestika"

"Kalau begitu bunuhlah dia dengan pedangmu, daripada anakmu harus tersiksa terus sepanjang masa oleh gerogotan penyakit-nya."

Mendadak si pedang racun Pek siang mendongakkan kepalanya dan tertawa keras, kemudian serunya:

"Nak, tahukah kau apa julukan bagi ayah dalam dunia persilatan?"

"Tentu saja tahu." "Lantas apa sebutan orang persilatan untukku?" "Si Pedang Racun"

"Nah itulah dia, nak jadi kau anggap aku tak tega turun tangan membunuhmu?"

"Yaa, betul" sahut Pek si-hiang sambil tertawa, "Kalau ayah tega membunuh anak sendiri, kau baru pantas dijuluki si pedang racun."

Dengan suatu gerakan cepat Pek siang meloloskan pedangnya, lalu ujarnya dingin: "Anggap saja aku tak pernah mendidik dan memeliharamu sejak kecil."

Dengan rasa cemas bercampur panik siok-bwee dan Hiang-kiok buru-buru-jatuhkan diri berlutut dan memohon berulang kali: "Loya, ampunilah jiwa nona... ampunilah jiwa nona"

"Tutup mulut" hardik Pek siang keras, "Di sini tak ada urusan yang berhubungan dengan kalian berdua, jangan banyak bicara"

Kedua orang dayang itu benar-benar tak berani bicara lagi, dengan kepala tertunduk mereka menangis sesenggukan.

Selama ini Phang Thian-hua hanya membungkam diri saja, setelah melihat kejadian tersebut segera pikirnya:

"Orang persilatan berkata bahwa pedang racun Pek siang berhati keji dan tak punya perasaan, kelihatannya berita itu betul juga. seganas-ganasnya harimau tak akan menyantap anak sendiri, tapi orang ini tega membunuh putri sendiri, nampaknya aku tak boleh berpangku tangan belaka." Dalam pada itu Pek si- hiang kembali sudah berkata: "Ayah, silakan turun tangan segera, aku rela mati di

ujung pedang ayah sendiri ketimbang sepanjang masa

aku harus tersiksa oleh derita penyakit ini."

"Baik" bentak Pek siang dengan wajah membesi, "Setelah membunuhmu, akan kubunuh juga Lim Han-kim agar tubuh kalian bisa dikubur bersama dalam satu liang." selesai bicara, pedangnya segera diayun ke bawah untuk membabat tubuh Pek si-hiang.

"Ampuni jiwanya saudara Pek." bentakan nyaring bergema disusul berkelebatnya sebuah tongkat untuk membendung babatan tersebut.

Ketika mengetahui si penghadang adalah Phang Thian-hua, dengan penuh amarah Pek siang berteriak:

"Phang Thian-hua, kenapa kau menghalangi aku?" "Sudah setua ini aku hidup di dunia, belum pernah

kudengar ada ayah ingin membunuh anak sendiri,"

"Lalu apa urusannya dengan kau?"

"Aku tahu, nona Pek adalah anakmu yang tidak seharusnya kucampuri urusannya, tapi situasi saat ini berbeda sekali, sehingga aku tak bisa berpangku tangan belaka."

"Situasi yang berbeda?"

"Yaa, situasi yang berbeda sekali, sebab nona Pek sudah bukan milik saudara Pek seorang,"

"Tapi dla kan putriku, aku berhak mengurusi dirinya..." "Betul, aku tahu dia putrimu, tapi semua harapan umat persilatan di dunia saat ini telah tertumpu pada dirinya, sebab hanya dia seorang yang dapat selamatkan semua rekan persilatan dari ancaman bahaya kematian. sedang aku telah mendapat perintah dari Bengcu untuk melindungi keselamatan jiwanya, jadi aku tak bisa membiarkan Anda membunuhnya."

"Kalau aku bersikeras hendak membunuh-nya?" teriak Pek siang penuh amarah.

"Terpaksa aku pun akan melindungi keselamatan jiwanya dengan sepenuh tenaga."

Tanpa banyak bicara sipedang racun Pek siang menarik senjatanya lalu dibabarkan langsung ke pinggang Phang Thian-hua.

Buru-buru jago tua itu memutar toyanya untuk membendung datangnya ancaman.

Pek siang memutar kembali pedangnya, dengan gerak jurus yang aneh tapi cepat dalam waktu singkat ia sudah lepaskan delapan buah serangan berantai

Begitu hebat dan cepatnya ancaman tersebut, mau tak mau Phang Thian-hua harus mundur dua langkah dari posisi semula, dengan perasaan kaget pikirnya: "Tak nyana jurus serangan yang dimiliki orang ini begitu keji dan menakutkan..." Buru-buru ia lepaskan tiga buah serangan balik untuk mendesak mundur lawannya,