Pedang Keadilan II Bab 40 : Rahasia isi surat

 
Bab 40. Rahasia isi surat

Dengan wajah sedingin salju, Li Tiong-hui meng alihkan pandangan matanya melirik sekejap seputar tempat itu. Ketika dilihatnya seekor kupu-kupu terbang lewat, ia segera ayunkan tangan kanannya. Tampak cahaya perak berkelebat lewat, tahu-tahu kupu-kupu yang sedang terbang lewat itu sudah rontok ke tanah.

Ternyata di balik baju Li Tiong-hui tersembunyi pula sebuah tabung penyembur jarum Hui- hong- ciam.

Dari kejauhan secara lamat-lamat kelihatan tubuh kupu-kupu itu sudah dipenuhi dengan lubang-lubang kecil.

Dengan wajah berubah hebat, siau-cui berkata: "Tak nyana anggota keluarga persilatan Hong-san juga memakai senjata rahasia sebangsa Bwee-hoa-ciam."

"Keliru besar bila kau menganggap senjata itu Bwee- hoa-ciam Bila dibandingkan dengan Bwee-hoa-ciam, maka kehebatan senjata ini masih sepuluh bahkan seratus kali lebih hebat, bukan saja dapat digunakan di tengah kegelapan malam, kendatipun seebun Giok-hiong datang sendiri pun, belum tentu ia mampu menghindarkan diri"

Bekernyit sepasang alis mata siau-cui, dia seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi niat tersebut sebera diurungkan kembali. Kepada kedelapan orang dayang yang berada di belakangnya Li Tiong-hui berkata lagi: "Kalian jaga di mulut lembah Bila sampai malam menjelang tiba nanti mereka belum mau angkat kaki, jangan segan-segan pergunakan jarum Hui-hong-ciam untuk hadapi mereka, Bunuh semua orang tersebut tanpa kecuali..."

Serentak kedelapan orang dayang itu menyahut "Budak akan laksanakan perintah"

"Tapi sebelum matahari terbenam, jangan sekali-kali kalian usik mereka" titah Li Tiong-hui lagi.

Tanpa membuang waktu lagi, ia beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.

Lim Han- kim segera menyusul di belakangnya, sedang kedelapan orang dayang itu turut pula mengundurkan diri masuk ke dalam lembah.

Memandang bayangan punggung Lim Han- kim yang menjauh, siau-cui mendengus dingin, lalu sambil menengadah ia termenung sambil berpikir.

Kehebatan, kekejian serta keganasan jarum Hui-hong- ciam sudah terbukti di depan mata. siau-cui sadar bahwa kemampuannya tak akan mampu membendung ancaman tadi, namun dia pun tak rela angkat kaki begitu saja sehingga untuk sementara waktu ia jadi bimbang dan tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

Pada saat itu Lim Han- kim yang menyusul di belakang Li Tiong-hui segera percepat langkahnya begitu sudah masuk ke dalam lembah, katanya cemas: "Nona Li, mungkinkah siau-cui akan menarik diri sebelum batas waktunya berakhir?" "Aku percaya dia tak akan membandel terus, justru yang membuatku tak habis mengerti adalah sebab musabab kehadiran mereka di sini."

"Benarkah di dalam lembah Ban-siong-kok ini terdapat sebuah mata air yang besar?"

"Kenapa?"

"Seebun Giok-hiong menyinggung masalah itu..." "Apa dia ingin menggali sumber mata air tersebut

untuk menenggelamkan perkampungan keluarga Hong- san kami?"

"Di dalam suratnya ia berkata, apabila sumber mata air itu tergali, maka seluruh lembah Ban-siong-kok akan tenggelam oleh air bah, tapi orang yang berniat menggali sumber mata air itu bukan dia."

"Kalau bukan dia, lantas siapa?"

"Soal itu tak disinggung dalam suratnya, tapi ia bilang bila nona tidak mengetahui dengan jelas masalah sumber mata air itu, dianjurkan untuk bertanya kepada nyonya, Katanya, ibumu pasti mengetahui dengan jelas."

"Boleh kubaca ini suratnya?" pinta Li Tiong-hui kemudian

Dari dalam sakunya Lim Han-kim mengambil keluar surat itu, katanya kemudian sambil menghela napas.

"Dalam suratnya, ia masih menyinggung banyak masalah yang tak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Dia tentu sedang ngaco belo, harap nona tidak mempercayainya" sambil berkata ia sodorkan surat itu ke tangan Li Tiong-hui. setelah menerima surat itu, Li Tiong- hui pun membaca isinya: "Ditujukan untuk Lim Han-kim, Lim siangkong:

"Aku dengar di dalam keluarga Hong-san tersimpan aneka macam obat-obatan yang mustajab dan tak ternilai harganya, Di samping itu nyonya Li sendiri sebagai seorang tokoh sakti dalam dunia persilatan, bukan cuma ilmu silatnya yang tinggi, bahkan ilmu pengobatannya juga luar biasa, jauh mengungguli kemampuanku. Aku percaya kesehatan siangkong pasti telah pulih kembali seperti sediakala, untuk itu aku mengucapkan selamat kepadamu"

Membaca sampai di sini, sambil tertawa hambar Li Tiong-hui berkata: "Tampaknya ia sangat memperhatikan dirimu" ia lalu membaca lebih jauh.

"Aku dengar di masa lalu nyonya Li pernah patah hati, Walau peristiwa itu sudah lewat belasan tahun, namun luka-luka hatinya hingga kini belum sembuh juga sehingga akibatnya beliau tak mau banyak campur urusan tentang putra-putrinya. Tapi aku percaya kasih seorang ibu terhadap anaknya tetap ada. Bila putrinya menghadapi bencana besar, niscaya dia akan turut membantunya."

"Perasaan hatiku kini pernah diliputi dendam dan benci, hawa napsu membunuhku sudah muncul, bisa kubayangkan pertarungan seru ini pasti sangat mengerikan, Dengan kedudukannya sebagai seorang Bu- lim bengcu, Li Tiong-hui pasti akan manfaatkan kesempatan ini untuk menghimpun kekuatan segenap jago di kolong langit agar berkumpul di keluarga Hong- san. Dengan tindakannya itu, aku percaya lembah Ban- siong-kok segera akan berubah menjadi ladang pembunuhan yang paling brutal sepanjang sejarah, Mayat akan bertumpuk menggunung, darah akan menggenangi bumi bagaikan telaga.”

Membaca sampai di sini, dengan kening berkerut Li Tiong-hui berkata: "Kalau dibaca isi surat ini, tampaknya seebun Giok-niong sudah bertekad untuk mengubah pertarungan ini menjadi ladang pembunuhan yang paling sadis."

"Coba nona baca dulu isi surat itu hingga selesai." Lim Han-kim menganjurkan-

"Aku percaya di dalam dunia saat ini teramat sedikit manusia yang sanggup menandingi kemampuanku. Betul kecerdasan otak Pek si-hiang mengagumkan, tapi ilmu silatnya amat terbatas, apalagi aku sudah menggunakan cara yang paling hebat untuk melenyapkan kepandaian silatnya, sekalipun di dalam keluarga Hong-san terdapat obat-obat mestika, paling banter obat-obatan itu cuma dapat selamatkan jiwanya dari kematian, Dengan luka yang begitu parah, meski kubunuh Pek si hiang juga tiada artinya sama sekali”

Membaca sampai di sini, kembali Li Tiong-hui mendengus dingin "Hmmmm, bicara tak ada juntrungnya, Antara kau dengan dirinya toh tak ada dendam sakit hati, tak perlu dia membalaskan dendam bagimu"

"Dasar perempuan," pikir Lim Han-kim dalam hati, "Dalam suasana dan situasi seperti ini pun kau masih punya minat untuk mempermasalahkan soal kecil." Tampaknya Li Tiong-hui segera menyadari akan kekeliruannya, ia pun membaca surat itu lebih lanjut.

"Sebenarnya aku ingin menuruti nasehat siangkong dengan mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan dan tidak mencampuri segala urusan tetek bengek yang ada hubungannya dengan persilatan lagi, tapi kematian orang tuaku yang mengenaskan segera menyulut kembali perasaan dendamku. Rasa benci ini sulit kulupakan hingga pada akhirnya aku harus menyia- nyiakan harapan siangkong."

"Satu permintaanku kepada siangkong, hanyalah berharap kau keluar dari lingkaran masalah ini, tak usah membantu pihakku pun tak usah membantu pihak Li Tiong-hui, saksikan saja jalannya pertarungan ini sebagai seorang penonton yang baik. Asal aku dapat membalas dendam sakit hatiku ini, aku pasti akan mohon maaf di hadapan siangkong."

Li Tiong-hui segera menghela napas panjang: "Aaaai... ternyata rasa cintanya kepadamu sudah begitu mendalam..."

Lim Han- kim turut menghela napas, "seebun Giok- hiong amat licik dan banyak akalnya, apalagi pikiran dan perasaannya sudah terbalut oleh rasa dendam kesumat, bagaimana kau boleh percaya dengan ucapannya itu?"

Li Tiong-hui tidak menanggapi lagi ucapan mana, bacanya lebih jauh:

"Menggunakan tentara tak bisa terhindar memakai taktik, bahkan makin licik taktik itu makin baik, Dalam posisi saling berhadapan sebagai musuh, berlaku aturan kalau bukan kau yang mati, akulah yang mampus. semula aku berniat hendak menggali sumber mata air dari bukti Hong-san untuk menenggelamkan perkampungan keluarga Hong-san. Dengan kekuatan air bah yang meluap. aku hanya butuh waktu amat singkat untuk melenyapkan perkampungan keluarga Hong-san yang sudah seratus tahun termashur dalam dunia persilatan ini.

Meski Nyonya Li memiliki kepandaian silat yang luar biasa pun, tak nanti kekuatannya sanggup membendung kekuatan alam berupa air bah yang datang menggulung, Aku yakin lembah Ban-siong-kok akan berubah jadi telaga."

"Tapi aku pun merasa bahwa tindakanku seperti ini amat merusak tata krama, apalagi siangkongpun masih berada di dalam keluarga Hong-san, Air bah tak mungkin bisa memilih mangsanya, Mengingat hubungan siangkong dengan diriku selama ini amat baik, akhirnya kubatalkan niatku itu. Aku ambil keputusan untuk mengajak nyonya Li berduel dengan mengandalkan ilmu silat."

"Hmmm" Li Tiong-hui mendengus dalam-dalam. "Rupanya ia mengurungkan niat untuk menggali sumber mata air bukit Hong-san lantaran takut kau turut mati tenggelam... sungguh romantis perempuan itu sungguh bijak hatinya." Lim Han-kim kembali menghela napas panjang.

"Nona Li, bacalah surat itu lebih lanjut, sekalipun seebun Giok-hiong tidak bermaksud menggali sumber mata air bukit Hong-san, tapi ada orang lain yang berniat mencelakai keluargamu" Dengan perasaan kesal bercampur sedih, Li Tiong-hui melirik Lim Han-kim sekejap. kemudian membaca isi surat itu lebih jauh:

"Sekalipun aku batalkan niat keji itu, namun banyak umat persilatan di dunia ini yang berhati lebih kejam dariku, Menurut informasi rahasia yang berhasil kuterima, agaknya ada orang lain yang berencana hendak memanfaatkan situasi serba kacau ini untuk menggali sumber mata air bukit Hong-san dan menenggelamkan perkampungan itu."

"Setelah kuselidiki kasus ini lebih mendalam, ternyata maksud "orang itu pertama, ingin memfitnah diriku dengan kejadian tersebut, Kedua, orang itu pasti punya dendam kesumat yang amat mendalam dengan pihak keluarga Hong-san sehingga dia ingin manfaatkan situasi serba kacau ini untuk membalas sakit hatinya. orang bilang, dengan sekali timpuk memperoleh dua ekor burung, Harap siangkong sampaikan berita ini kepada nona Li Tiong-hui hingga kejadian yang menyesalkan bisa dihindari "

"Dengan pemberitahuan siangkong ini, tak bisa disangkal kau telah selamatkan beratus lembar jiwa anggota keluarga Hong-san, siangkong pun bisa membalas budi pertolongan mereka yang telah selamatkan jiwamu, Dengan impasnya hutang piutang ini, maka siangkong pun bisa cuci tangan atas masalah tersebut."

" Hanya kata-kata itu saja yang bisa kupersembahkan kepada siangkong diiringi tetesan air mata." Di bawahnya tercantum: salam dari seebun Giok- hiong.

Selesai membaca surat tersebut, dengan kening berkerut Li Tiong-hui kembalikan surat itu ke tangan Lim Han-kimi katanya: "Apakah kau hendak menuruti nasehatnya dan meninggalkan keluarga Hong-san kami?"

"Urusan ini tidak mendesak. lebih baik kita kesampingkan dulu, Yang paling penting kini adalah mencari tahu siapa gerangan yang berniat merusak sumber mata air bukit Hong-san, Nona, tahukah kau letak sumber mata air itu?"

"Rasanya aku pernah mendengar ibu berbicara soal ini, Tapi aku sendiri kurang tahu di mana letak sumber mata air itu Aku rasa sebelum peroleh persetujuan dari ibu, aku tak berani mengambil keputusan secara gegabah."

"Urusan ini besar sekali pengaruhnya dan tak boleh ditunda lagi, lebih baik nona segera pergi menjumpai nyonya."

"Baiklah" sambil menyahut Li Tiong-hui mempercepat langkahnya melesat ke depan-

Tiba di ruang tamu, Lim Han-kim berseru: "silakan nona pergi menjumpai hujin, sedang aku akan menunggu di ruang tamu saja."

"Bukankah ibuku sangat baik terhadapmu?" "Kalau soal itu sih, aku kurang tahu."

"Lim siangkong, aku rasa lebih baik lagi jika kau bersedia mendampingi aku untuk bertemu dengan ibu, lebih baik lagi apabila surat dari seebun Giok-hiong itu kau perlihatkan kepada ibu. Aaai... selama belasan tahun terakhir, ibuku selalu hidup mengasingkan diri di gedung Tay-sang-kek dan tak pernah mencampuri urusan keduniawian lagi. Semua masalah besar maupun urusan kecil yang berkenaan dengan keluarga Hong-san, selama ini diurus oleh ong popo, jadi terus terang saja aku sendiri tak begitu yakin akankah berhasil membujuk ibuku turun tangan serta mencampuri urusan ini. Kini seebun Giok-hiong telah menganggap ibuku sebagai musuh tangguhnya, aku rasa bila siangkong bersedia mendampingi diriku serta melukiskan betapa congkaknya seebun Giok-hiong, ada kemungkinan ibuku akan tergerak hatinya untuk ikut serta dalam masalah ini."

"Kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya tak terkalahkan oleh apa pun, mana ada seorang ibu yang tidak memperdulikan keselamatan jiwa putri sendiri.." bantah Lim Han-kim. setelah berhenti sejenak. lanjutnya: "Bila nona merasa lebih leluasa mengajakku, tentu saja dengan senang hati akan kutemui nyonya."

"Kalau begitu, mari kita segera berangkat"

Terpaksa Lim Han-kim menyusul di belakang Li Tiong- hui, mereka berangkat menuju ke gedung Tay-sang-kek.

Di depan pintu gerbang gedung Tay-sang-kek berdiri dua orang dayang berbaju serba putih yang menggenggam pedang, kedua orang itu segera menghadang jalan pergi Li Tiong-hui berdua seraya menegur. "Nyonya telah berpesan, kecuali peroleh panggilan khusus, siapa pun dilarang memasuki gedung Tay-sang- kek."

"Kurang ajar" umpat Li Tiong-hui mendongkol. "Masa kau tidak kenal siapa aku?"

"Mana berani budak tidak mengenali diri nona," sahut dayang berbaju putih yang ada di sebelah kiri cepat- cepat.

"Nah, itulah dia, kenapa kalian masih belum mau menyingkir?"

"Maaf nona, nyonya sudah turunkan perintahnya sehingga sebelum peroleh persetujuan beliau, budak berdua tak berani ambil keputusan, untuk itu harap nona sudi memaafkan" Sembari berkata, kedua orang dayang itu sama-sama bungkukkan badan memberi hormat.

Sepasang alis mata Li Tiong-hui semakin berkerut, katanya lebih jauh dengan nada dingin: "Kelihatannya nyali kalian tambah lama bertambah berani, sampai aku pun berani dihalangi?"

Dayang di sebelah kiri itu buru-buru menarik tangan rekannya dan bersama-sama berlutut sambil menyahut: "Budak berdua tak berani menghalangi nona, tapi hamba pun tak berani membangkang perintah nyonya."

"Ayoh, cepat masuk beri laporan kepada nyonya, katakan aku ingin bertemu" bentak Li Tiong-hui marah.

"Nyonya sudah berpesan, hamba berdua benar-benar tak berani menerobos masuk." kata dayang di sebelah kanan cepat, Sedang dayang di sebelah kiri buru-buru menambahkan: "Bila nona bersikeras hendak masuk ke dalam gedung Tay-sang-kek. silakan bunuh dulu budak berdua."

Li Tiong-hui tertawa dingin.

"Hmmm, kau anggap aku tak berani membunuh kalian?"

Kedua orang dayang itu tundukkan kepalanya sambil melelehkan air mata, ia menyahut lirih.

"Budak berdua terpaksa harus membangkang perintah nona, harap nona mau memaklumi keadaan kami. Tapi bila nona bersikeras hendak menghukum mati budak berdua, silakan saja beri perintah, Tanpa nona harus turun tangan sendiri, budak berdua sanggup menghabisi nyawa kami."

Menyaksikan keadaan itu Lim Han-kim menghela napas panjang, katanya: "Nona Li, kau tak boleh salahkan mereka berdua."

Pada saat itulah dari dalam gedung Tay-sang-kek. tiba-tiba berkumandang suara teguran yang dingin dan kaku: "siapa di situ?"

Li Tiong-hui segera mengenali suara teguran itu berasal dari suara ibunya, buru-buru dia menyahut.

"Anak Hui yang berada di sini."

Pintu gerbang yang semula tertutup rapat segera terbentang lebar, nyonya Li dengan mengenakan pakaian berwarna putih dan berwajah dingin bagaikan es telah berdiri kaku di muka pintu. Cepat-cepat Li Tiong-hui jatuhkan diri berlutut seraya berseru: "Ananda ada urusan penting ingin berjumpa dengan ibu".

Nyonya Li tertawa hambar. "Aku lihat nyalimu tambah hari bertambah besar.”

"persoalan ini menyangkut mati hidupnya keluarga Hong-san kita, jadi mau tak mau terpaksa ananda harus nyerempet bahaya untuk bertemu dengan ibu."

Dengan sinar mata yang tajam bagaikan sembilu, nyonya Li menatap wajah Li Tiong-hui dan Lim Han-kim sekejap. kemudian tanyanya: "Urusan apa?"

"Lim siangkong telah menerima sepucuk surat rahasia dari seebun Giok-hiong, dalam suratnya diberitakan bahwa ada orang berniat membongkar sumber mata air bukit Hong-san dengan maksud menenggelamkan seluruh perkampungan kita."

Agak berubah paras muka nyonya Li " Hmmmmm" "

Setelah mendengar ucapan itu, serunya tertahan "Masa ada kejadian seperti ini?"

"Yaa, justru lantaran persoalan ini maha penting dan gawat, terpaksa ananda harus mengusik ketenangan Ibu."

"Di mana surat itu sekarang?"

Li Tiong-hui berpaling melirik Lim Han-kim sekejap. lalu jawabnya: "surat itu berada di tangan Lim siangkong."

Melihat hal ini, Lim Han-kim berpikir "Kelihatannya mau tak mau aku harus keluarkan surat itu" Dari dalam sakunya ia ambil keluar surat itu dan disodorkan ke tangan nyonya Li sambil ujarnya: "surat itu berada di sini, silakan locianpwee periksa." Pelan-pelan nyonya Li menerima surat itu dan membaca isinya,

Li Tiong-hui yang secara diam-diam memperhatikan terus perubahan wajah ibunya, dengan cepat merasa amat gembira, begitu dilihat hawa amarah telah menyelimuti wajah nyonya Li, pikirnya: "Bila isi surat tersebut bisa membangkitkan amarah ibu, sudah bisa dipastikan pertarunganku melawan seebun Giok-hiong akan memberi keuntungan bagi posisiku."

Dengan cepat nyonya Li membaca habis isi surat itu, kemudian sambil melipat kembali surat tersebut dan serahkan ke tangan Lim Han-kim, katanya: "seebun Giok- hiong sudah menantang kau berduel"

Lim Han-kim tak tahu bagaimana harus memberikan tanggapannya, terpaksa ia berlagak tidak mendengar dan menyimpan kembali surat tersebut ke dalam saku.

"Anak Hul, bangunlah," kata nyonya Li kembali seraya menghela napas panjang.

"Terima kasih ibu," sahut Li Tiong-hui sambil bangkit berdiri.

"Apa yang dikatakan dalam surat itu memang benar." nyonya Li melanjutkan kembali kata-katanya. "Di belakang gedung Tay-sang-kek memang terdapat sebuah sumber mata air, Apabila sumber mata air tersebut terbongkar, bukan saja dalam waktu semalam seluruh perkampungan keluarga Hong-san akan tenggelam, mungkin air bah yang terjadi akan menggenangi pula seluruh keresidenan di seputar bukit ini." "Ibu, harap kau memberi petunjuk kepada kami bagaimana cara mencegah perbuatan keji ini, ananda akan segera kirim orang untuk menghalanginya."

"Yang aneh adalah sumber mata air itu tersimpan beratus-ratus kaki di bawah permukaan tanah, dari mana seebun Giok-hiong bisa mengetahui rahasia tersebut..."

Tiba-tiba muncul seorang dayang berbaju hijau yang berlarian mendekat sambil berseru: "Lapor nyonya, nona Pek mohon bertemu"

Tiba-tiba saja sekilas senyuman cerah tersungging di balik wajah nyonya Li yang dingin kaku itu, sahutnya: "Cepat undang dia masuk kemari" Dayang berbaju hijau itu mengiakan dan segera berlalu. Kembali nyonya Li ulapkan tangannya seraya berkata.

"Kalian boleh pergi dulu, tentang bagaimana cara menghadapi orang yang akan menggali sumber mata air itu, akan kuutus orang untuk memberitahukan kepada kalian"

Li Tiong-hui berpaling memandang Lim Han-kim sekejap. lalu putar badan dan berlalu dari situ

Lim Han-kim berjalan mengikuti di belakang Li Tiong- hui, sambil berjalan dengan perasaan keheranan pikirnya: "Tampaknya Pek si- hiang benar-benar memiliki kemampuan yang luar biasa, hingga nyonya Li yang dingin kaku pun dapat menjalin hubungan yang begitu akrab dengannya."

Sementara dia masih termenung, tampak dayang berbaju hijau tadi sudah muncul kembali dengan langkah tergesa-gesa. Di belakang dayang berbaju hijau itu menyusul siok-bwee dan Hiang-kiok yang menggotong sebuah tandu.

Di atas tandu inilah Pek si-hiang membaringkan diri, matanya terpejam rapat dan wajahnya pucat pias bagaikan lilin.

Mendadak Li Tiong-hui memperlambat langkahnya dan berbisik kepada Lim Han-kim: "Tampaknya aku harus minta pertolonganmu"

"Apa yang dapat kubantu?" tanya Lim Han-kim tertegun-

"Tampaknya ibuku menaruh kesan yang luar biasa terhadap Pek si-hiang, seingatku belum pernah ibu bersikap demikian terhadap orang lain jadi menurut pendapatku, untuk bisa mengundang ibu turut serta dalam kelompok penentang seebun Giok-hiong, aku harus minta bantuan dari Pek si-hiang untuk mendukung soal ini."

"Lantas apa yang bisa kubantu?"

"Tentu saja membujuk Pek si-hiang agar membantuku"

"Rasanya... sama saja bukan bila nona sendiri yang mengatakan kepadanya?" Li Tiong-hui tertawa getir.

"Kau bukan wanita, tentu saja tidak mengetahui perasaan seorang wanita terhadap pria, semakin cerdik perempuan itu, semakin gampang dia tergoda cinta, Dan sekali wanita sudah jatuh cinta, maka sampai mati pun rasa cintanya tak akan berubah, Yaa, dari dulu nasib perempuan cantik memang selalu jelek, orang bilang kecantikan mereka menarik hati banyak orang dan mudah mencari pasangan, padahal perasaan cintanya yang tak pernah mau berubah seringkali merupakan penyebab utama terjadinya tragedi dan kejadian sedih."

Dia seolah-olah sedang membicarakan soal Pek si- hiang, tapi seperti juga sedang menuturkan diri sendiri, ini membuat Lim Han-kim gelagapan dan tak tahu bagaimana harus menjawab.

Ketika mereka berdua balik ke ruang tamu, koancu dari kuil Cing-im-koan ci Mia-cu masih duduk seorang diri sambil menikmati air teh, sementara pencuri sakti Nyoo cing-hong berdiri di luar ruangan sambil memandang ke angkasa dengan pandangan kosong.

Rupanya Nyoo Cing-hong turut balik ke ruang tamu itu ketika Li Tiong-hui dan Lim Han-kim meninggalkan mulut lembah, Hanya saja tatkala sepasang muda mudi itu menuju ke gedung Tay-sang-kek. pencuri tua ini menunggu dalam ruang tamu.

Melihat kehadiran kembali Li Tiong-hui, Ci Mia-cu angkat wajahnya memandang gadis itu sekejap. lalu ujarnya: "Berhubung ibumu enggan terima tamu, terpaksa pinto harus menunggu dengan sabar dalam ruangan ini."

"Sungguh hebat iman totiang, kau mampu menahan diri." Ci Mia-cu tertawa.

"Pinto toh tak mungkin menyerbu masuk ke dalam gedung Tay-sang-kek, kalau bukan sabar menunggu, apa lagi yang bisa kuperbuat?"

Pelan-pelan Li Tiong-hui duduk. katanya: "Bila dilihat dari tekad totiang yang ingin bertemu ibuku, pasti ada masalah penting yang hendak kau sampaikan, boleh diberitahukan kepadaku?"

Ci Mia-cu menggeleng.

"Urusan yang menyangkut generasi lalu, lebih baik diselesaikan generasi yang lalu, meski disampaikan pada nona, belum tentu nona akan memahami, jadi lebih baik tak usah disinggung."

"Soal apa sih? Apa salahnya kau utarakan?" "Nona ingin tahu?"

"Betul."

Ci Mia-cu meneguk air tehnya sambil termenung berapa saat, kemudian sambil menggeleng katanya: "Lebih baik jangan kukatakan"

"Kalau begitu totiang hanya membawa pesan orang lain yang harus kau sampaikan?"

"Tak ada orang yang titip pesan kepadaku, tapi selama hidup aku memang gemar berusaha demi orang lain."

"Demi ibuku?"

"Selain demi ibumu, juga demi segenap umat persilatan di kolong langit." Li Tiong-hui segera menghela napas panjang.

"Jadi urusan ini ada hubungannya dengan si raja pedang yang pernah termashur dulu?"

"Apa? Jadi ibumu telah memberitahukan soal ini kepadamu?" Ci Mia-cu kelihatan agak terperangah. "Tidak, tapi aku pernah mendengar orang lain membicarakannya."

Ci Mia-cu segera terbungkam sambil merenung berapa saat, sampai lama kemudian baru ia berkata: "Kalau memang ibumu belum pernah menyinggung masalah ini, lebih baik aku pun tutup mulut."

Mendadak terdengar suara langkah kaki manusia yang ramai bergema tiba disusul munculnya seorang dayang berbaju hijau yang lari masuk ke dalam ruang tamu dengan langkah tergopoh-gopoh.

Dayang itu langsung berlari menuju ke sisi Li Tiong-hui dan membisikkan sesuatu ke sisi telinganya.

Mendengar bisikan tersebut, paras muka Li Tiong-hui berbuah hebat, tapi sebentar kemudian dengan lagak setenang-tenangnya dia bangkit berdiri, membenahi rambutnya yang kusut dan memberi tanda kepada si dayang sambil serunya: "Aku sudah tahu, kau boleh pergi dulu."

Dayang berbaju hijau itu membungkukkan badan memberi hormat dan mengundurkan diri dari situ.

Menunggu hingga dayang tadi keluar dari gedung dan tak nampak bayangan tubuhnya, baru Li Tiong-hui berkata lagi: "Harap lotiang dan Lim siangkong menunggu dulu dalam ruangan, aku akan pergi sejenak."

"Silakan nona," sahut Ci Mia-cu cepat.

Dengan cepat Li Tiong-hui beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut. Sepeninggal nona itu, Lim Han-kim turut bangkit berdiri dan ujarnya sembari memberi hormat kepada Ci Mia-cu: "Totiang, ada sedikit masalah ingin kutanyakan kepadamu, harap kau bersedia memberi jawaban."

"Itu sih tergantung masalah apa yang ingin kau tanyakan dan tahukah aku akan jawaban nya."

"Totiang kenal dengan ibuku?"

"Tentu saja kenal." Ci Mia-cu manggut-manggut, "Totiang juga kenal dengan nyonya Li?"

"Benar."

"Sudah lama totiang kenal dengan ibuku?"

"Tentu saja, waktu itu kongcu belum lahir." Ci Mia-cu tertawa.

"Kalau begitu pasti totiang kenal juga dengan ayahku, bukan?" Mendapat pertanyaan ini ci Mia-cu tertegun-

"Kalau masalah ini sih aku kurang tahu, sebab setelah perkawinannya ibumu tak pernah bertemu aku lagi."

"Aaaai..." Lim Han-kim menghela napas panjang, "Padahal totiang mengetahui masalah ini, hanya enggan mengaku terus terang, bukankah begitu?"

"Bila kongcu ingin mengetahui latar belakang asal- usulmu, kenapa tidak kau tanyakan langsung kepada ibumu?"

"lbu selalu melarang aku menyinggung masalah tersebut" "Nah, itulah dia Kalau ibumu sendiri pun keberatan membicarakan masalah tersebut, mana boleh kubicarakan masalah orang lain?"

"Mungkin saja ibu memang segan menyinggung masalah yang ada hubungannya dengan ayahku, sebagai orang luar apa salahnya totiang membicarakan masalah tersebut?" Cepat-cepat Ci Mia-cu gelengkan kepalanya berulang kali.

"Maaf, sebelum mendapat persetujuan dari ibumu, aku tak dapat membicarakan masalah tersebut..."

Sesudah termenung sambil berpikir sejenak. kembali ia menambahkan: "Tapi ada satu hal aku dapat memberitahukan kepadamu, paling lama akhir bulan nanti kau pasti sudah mengetahui dengan jelas asal- usulmu."

"Apa maksud ucapan lotiang ini?"

"Badai besar yang pernah melanda dunia persilatan ini pasti ada penyelesaiannya dalam tiga bulan mendatang, Bila badai tersebut telah mereda, secara otomatis jago- jago yang mengetahui dengan jelas asal-usul kongcu pun akan berdatangan semua ke perkampungan keluarga Hong-san ini. sudah barang tentu salah satu di antara mereka ada yang bakal membongkar rahasia asal-usulmu itu."

"Masa begitu sederhana?"

"Betapa pun sulitnya masalah yang ada di dunia ini, asal sudah peroleh penyelesaian secara tepat, maka segala sesuatunya akan nampak begitu gampang dan sederhana. Kini kongcu merasa segala sesuatunya serba aneh dan misterius, hal ini lantaran kau belum mengetahui secara jelas rahasia yang menyelimuti asal- usulmu, padahal begitu penjelasan diperoleh dan segalanya menjadi terang, maka kau akan memperoleh perasaan bahwa segala sesuatunya hanya begitu saja."

"Aku rasa masalah ini tak akan sesederhana apa yang locianpwee utarakan, menurut pendapatku dalam dunia persilatan dewasa ini tak banyak orang yang mengetahui rahasia asal-usulku."

"Paling tidak. toh bukan cuma pinto seorang yang tahu." Ci Mia-cu tersenyum.

Melihat hal ini Lim Han-kim pun berpikir "Melihat kekerasan kepalanya, mungkin sulit bagiku untuk peroleh jawaban yang memuaskan darinya, Kalau begitu aku mesti menjebaknya dengan pembicaraan, siapa tahu aku berhasil mengorek sedikit rahasia."

Berpikir demikian ia pun berkata: "Tampaknya bukan kebanyakan jago lihay yang locianpwee maksudkan, melainkan si raja pedang dari Lam-hay itu bukan?"

Benar juga, Ci Mia-cu langsung tertegun dibuatnya, Namun bagaimana pun juga semakin tua jahe memang makin pedas, dengan dasar pengalamannya yang matang, ia tak sampai kalut dibuatnya.

Setelah termenung sejenak. katanya: "Tentang hal tersebut, aku kurang begitu jelas."

Dari jawaban yang diperolehnya ini, Lim Han-kim dapat mengambil kesimpulan bahwa pendeta tersebut susah dipojokkan, sehingga ditanya lebih jauh pun tak ada gunanya, maka setelah menghela napas panjang dia pun tidak banyak bicara lagi.

Dalam saat itu si pencuri sakti Nyoo Cing-hong telah masuk ke dalam ruangan, ia bicara kepada Ci Mia-cu dengan suara dalam:

"Kini Li bengcu sedang menghadapi masalah yang amat besar dan pelik, kendatipun kau enggan membantunya memukul mundur musuh-musuh tersebut, sepantasnya bila kau pikirkan suatu cara untuk membebaskan dirinya dari kesulitan ini."

"Kesulitan apa?" tanya Lim Han-kim sambil melompat bangun

"Aku sendiri kurang tahu apa latar belakang masalahnya, tapi sempat kulihat air matanya berderai tatkala pergi meninggalkan ruang tamu tadi."

Ci Mia-cu menghela napas panjang.

"Beban yang harus ditanggung olehnya memang kelewat berat. seorang gadis muda berusia belasan tahun mesti memikul tanggung jawab untuk memikirkan keselamatan segenap umat persilatan di dunia. Beban tersebut masih harus ditambah dengan beban hancurnya perasaan dan hatinya gara-gara cinta. Aaaai... hampir seratus tahun lamanya keluarga Hong-santelah berbakti demi umat persilatan, apakah Thian begitu tega dengan memberi ganjaran kepada ibu beranak dua orang itu hidup penuh penyesalan hanya disebabkan percintaan yang gagal?" Lim Han-kim memahami betul apa artinya perkataan itu walaupun tidak terlampau mendalam, ia segera bangkit berdiri seusai mendengar perkataan itu.

"Biar kupergi lihat keadaan Li bengcu, andaikata ia benar-benar menjumpai kesulitan, pasti akan kubantu dirinya." seusai berkata ia segera beranjak keluar.

Ci Mia-cu menggerakkan bibirnya seperti mau mencegah, tapi niat tersebut segera diurungkan kembali.

Keluar dari ruang tamu, Lim Han-kim saksikan suasana di seputar tempat itu amat hening. Bayangan tubuh Li Tiong-hui sudah tidak nampak lagi. Mendadak dari balik sebatang pohon besar muncul seorang gadis berbaju hijau yang menggenggam pedang, Lim Han-kim segera berjalan menghampirinya seraya menegur. "Boleh kutahu kemana nona Li telah pergi?"

"Kau ingin mencarinya?" tanya dayang berbaju hijau itu setelah memandang Lim Han-kim sekejap.

"Benar."

Setelah merenung sejenak, sahut dayang tadi: "la pergi ke arah barat"

Tidak menunggu banyak waktu lagi, Lim Han-kim berbalik ke arah barat dan menyusul ke situ.

Setelah melalui sebuah dinding yang terdiri dari pepohonan rapat, tibalah pemuda itu di sisi kebun bunga yang luas, Di sisi kebun itu terbentang sebuah jalan setapak yang beralas batuan kecil berwarna putih.

Lim Han-kim mencoba memeriksa keadaan di sekitarnya, ia jumpai jalanan yang mengarah ke utara adalah jalan yang menuju ke gedung Tay-sang-kek, maka dia pun menelusuri jalanan ke arah barat.

Beberapa puluh kaki kemudian, kembali jalanan itu berbelok menuju ke arah selatan-

Baru saja Lim Han-kim melalui sebuah tikungan, mendadak terdengar seseorang membentak nyaring. "Berhenti"

Ketika pemuda itu angkat wajahnya, tampak seorang perempuan setengah umur yang mengenakan celana warna biru berjubah biru pula dengan mengangkat tinggi toya kepala naganya telah menghadang jalan perginya.

Buru-buru Lim Han-kim menjura sambil memperkenalkan diri: "Aku Lim Han-kim..."

"Tahukah kau tempat apakah ini? Berani amat kau memasukinya secara sembarangan?" tukas perempuan setengah umur itu ketus.

"Aku tidak bermaksud apa-apa, aku sampai di sini karena sedang mengejar nona Li."

"Baiklah, kau boleh berbalik sekarang"

"Berbalik?" Lim Han-kim tertegun "cian-pwee, kau melihat ke mana nona Li pergi?"

"Kau maksudkan nona kami?"

Lim Han-kim tidak langsung menjawab, pikirnya: "Berapa banyak saudara sih yang dimiliki keluarga Hong- san? Kok. perlu bertanya-tanya lagi?" Meski begitu, jawabnya juga: "Tentu saja nona kalian, nona Li Tiong- hui" Perempuan setengah umur itu menatap tajam anak muda tersebut berapa saat, lalu katanya: "Walaupun aku tahu di mana ia berada sekarang, tapi sebelum peroleh persetujuan darinya, tak mungkin bisa kukatakan kepadamu. Kalau memang nona tidak mengundang kamu bertemu di sini, lebih baik kau tak usah mencarinya"

Lim Han-kim semakin keheranan dibuat-nya, kembali ia berpikir "Masa Li Tiong-hui menyimpan sebuah rahasia yang tak boleh diketahui orang lain?"

Ia mencoba memperhatikan keadaan di depannya, di situ ia temui sebuah pintu yang tertutup rapat, Di seputar bangunan tumbuh pepohonan yang rindang dan rapat setinggi satu kaki lebih. sehingga sulit untuk melihat dengan jelas keadaan di dalam sana . . .

Mendadak perempuan setengah umur itu menghentakkan tongkatnya ke tanah sembari membentak: "Apa yang perlu kau lihat? Ayoh cepat mundur dari sini Kalau kau membandel terus, jangan salahkan kalau aku bertindak kurang ajar"

Dengan kening berkerut Lim Han-kim mengundurkan diri ke belakang, pikirnya: "semua dayang yang bekerja di perkampungan keluarga Hong-san ini rata-rata cantik dan lemah lembut. Heran, kenapa tabiat perempuan setengah umur ini justru kasar dan berangasan...?"

Belum lagi ia beranjak pergi darisiiu, tiba-tiba dari belakang tubuhnya berkumandang suara teriakan Li Tiong hui. "siangkong, silakan kemari"

Tatkala Lim Han-kim berpaling, tampak pintu yang semula tertutup rapat itu kini sudah terbuka, Tampak Li Tiong-hui bersandar di pintu sedang mengawasi dirinya, mukanya lesu dan murung, masih basah oleh air mata.

Kenyataan ini kontan saja membuat pemuda kita keheranan, tapi ia tetap melangkah maju menghampirinya.