-->

Pedang Keadilan II Bab 36 : Memohon ijin ibu

 
Bab 36. Memohon ijin ibu

Seraya memandang bayangan kedua ekor monyet itu berlalu, Li Tiong-hui kembali menjelaskan.

"Dulu, penjaga pintu keluarga Hong-san kami hanya terdiri dari dua ekor harimau raksasa, kedua ekor monyet raksasa ini belum lama baru berhasil ditundukkan ibuku, Konon kedua ekor monyet ini memiliki kekuatan yang luar biasa, tenaga tarikannya sanggup membelah tubuh harimau menjadi dua bagian. Entah dari mana asalnya kedua makhluk itu hingga akhirnya bisa muncul di seputar kawasan Hong-san."

"Menurut apa yang kuketahui," ucap Phang Thian-hua, " Kedua makhluk tersebut disebut gorilla, masih termasuk dalam jenis monyet, biasanya banyak berkeliaran di tengah bukit yang terpencil atau hutan yang luas."

"Sungguh aneh makhluk itu," kata Hiang-kiok pula, "Padahal tak sedikit gunung kenamaan dan hutan belantara yang didatangi nona kami, rasanya selama ini belum pernah kujumpai makhluk seperti ini. Lantas, apa sebabnya mereka dapat muncul di bukit Hong-san?" 

"Waaah, kalau soal ini aku tak bisa menjawab ..."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba muncul hiasan cahaya lentera yang bergerak mendekati mereka, Dari kejauhan sana tampak muncul dua orang gadis berbaju hijau yang membawa lentera. usia kedua orang gadis itu hampir sebaya, kira-kira berusia enam- tujuh belas tahunan.

Begitu berjumpa dengan Li Tiong-hui, serentak mereka memberi hormat seraya berseru: "Rupanya nona telah pulang" Li Tiong-hui manggut-manggut, katanya: "Aku datang mengajak beberapa orang tamu agung, coba kalian siapkan beberapa buah kamar dan siapkan hidangan."

Budak di sebelah kanan menyahut dan segera beranjak pergi, sedangkan budak yang ada disebelah kiri dengan mengangkat lenteranya tinggi-tinggi, bergerak sebagai membawa jalan.

Sambil berjalan Li Tiong-hui berbisik, "Selama beberapa waktu belakangan, apakah nyonya besar pernah muncul dari pertapaannya?"

"Belum pernah." Budak itu menggeleng, "sejak kepergian nona dan tuan muda, nyonya besar belum pernah keluar dari gedung Tay-sang-kek. semua urusan rumah tangga selama ini hanya diurus nenek ong."

Dalam pembicaraan itu, mereka telah melewati beberapa buah dinding pohon dan tiba di depan sebuah ruangan besar. seorang nenek berbaju biru yang rambutnya telah beruban, berusia enam puluh tahunan dan membawa sebuah tongkat tampak berdiri di depan pintu, di kedua sisinya berdiri dua orang dayang berbaju hijau yang membawa lentera besar.

Sambil menuruni tangga batu, nenek itu memberi hormat seraya berkata: "Bila aku yang tua tak menyambut kedatangan nona dari jauh, harap nona sudi memaafkan."

Tampaknya Li Tiong-hui menaruh hormat terhadap nenek itu, buru-buru ia balas memberi hormat seraya menyahuti. "Terima kasih banyak atas perhatian nenek dan mau mengurusi rumah tangga selama ini."

Ong popo tertawa.

"itu sudah tugas dan kewajibanku, nona jangan merendah." Buru-buru ia menyingkir ke samping memberi jalan lewat buat majikannya.

Kepada Phang Thian-hua, siok-bwee dan Hiang-kiok bertiga Li Tiong-hui pun berseru: "Phang cengcu sekalian, silakan masuk"

Selama ini ong popo hanya mengawasi Phang Thian- hua bertiga tanpa bermaksud menghalangi namun keningnya jelas berkerut kencang.

Tiba dalam ruangan, air teh pun segera dihidangkan Ong popo menyusul masuk ke dalam ruangan, bisiknya: "Telah kuperintahkan ke dapur untuk menyiapkan makan malam buat nona sekalian,"

Li Tiong-hui angkat wajahnya memandang sekejap langit-langit ruangan, lalu katanya kembali.

"Harap popo sampaikan perintahku ke dapur, suruh mereka siapkan hidangan dan arak dalam jumlah banyak. dalam tiga-lima hari mendatang, bakal ada banyak jago persilatan yang akan berkunjung ke lembah Ban-siong- kok kita."

Agaknya ia sudah menduga, paras muka Ong popo pasti berubah amat jelek sesudah mendengar perkataan itu, karenanya ia enggan menatap wajah nenek tersebut selama berbicara. Benar juga, Paras muka Ong popo berubah hebat, rambutnya yang beruban kelihatan gemetar keras, setelah mendeham berulang kali baru katanya: "Apa perlu dilaporkan dulu ke nyonya?"

"Tidak usah," tolak Li Tiong-hui. "Jika ada yang menyalahkan biar aku yang menanggung resiko ini."

"Aaaaai... kalau memang begitu, akan kulaksanakan perintah ini." Akhirnya Ong popo menghela napas.

"Oya, masih ada satu urusan lagi, bila Ong popo berkunjung ke gedung Tay-sang-kek, sampaikan kepada ibuku, katakan aku ada urusan penting hendak berjumpa dengannya."

"Bagaimana jika nyonya belum selesai bertapa?" "Kalau hari ini tak bisa, besok saja" sahut Li Tiong-hui

setelah berpikir sejenak, "Cuma kau perlu ambilkan dulu sebotol bubuk obat si- mia-jit-po-san. Kedua orang sahabatku terluka sangat parah, hanya obat tersebut yang bisa selamatkan jiwanya".

"Ambil sebotol?" ong popo berseru kaget. "Yaa, ambil sebotol"

"Setahuku, obat si- mia-jit-po-san tinggal dua botol kurang, obat mestika itu sangat langka dan tiada duanya di kolong langit, nona".

"ong popo" tukas Li Tiong-hui cepat, "Kini ibuku masih bertapa, kakakku pergi jauh dan belum kembali, tolong tanya siapa yang paling berkuasa di keluarga Hong-san ini?" setelah tertegun sesaat, jawab ong popo: "Tentu saja nona yang paling berkuasa"

"Bagus sekali Nah, sekarang ambil keluar sebotol obat si- mia-jit-po-san"

"Aku turut perintah" Dengan perasaan berat Ong popo beranjak pergi dari situ.

Sepeninggal nenek itu, Phang Thian-hua baru mendeham seraya berkata: "Ada beberapa patah kata yang kurang pantas, entah bolehkah kuutarakan keluar?"

"Tidak apa-apa," sahut Li Tiong-hui. "Katakan saja" "Tampaknya dalam keluarga Hong-san, Ong popo

mempunyai hak kekuasaan yang amat besar, dan

menurut perasaanku, rupanya ia kurang senang atas kehadiran kami yang tak terduga ini.jadi menurut perasaanku, lebih baik Beng cu jangan kelewat memojokkan dirinya. Bila memang kurang berkenan di hati, lebih baik kami pindah saja keluar dari lembah Ban- seng-kok."

"Tidak usah, sejak kecil Ong popo sudah berada di keluarga Hong-san. Hingga kini boleh dibilang ia sudah berdiam puluhan tahun, bahkan sejak kecil aku dan kakakku dibesarkan olehnya. Memang tak keliru bila kita agak mengalah kepadanya, tapi dia pun seorang yang tahu keadaan dan persoalan, Meskipun pada saat ini mungkin hatinya kurang senang, tapi selewatnya beberapa hari, dia akan membaik sendiri"

Gerak langkah Ong popo kelihatannya amat lamban, padahal dalam kenyataan cepatnya luar biasa, sementara pembicaraan masih berlangsung, ia telah muncul kembali dalam ruang tamu.

Sambil menghampiri Li Tiong-hui dan menyodorkan sebuah botol porselen, terdengar nenek itu berkata: "Nona, obat bubuk si- mia-jit-po-san telah kubawa kemari."

Li Tiong-hui serahkan botol itu ke tangan phang Thian-hua sambil katanya: "Aku rasa Phang cengcu pasti sudah tahu kegunaan dari Jit-po-san ini dan rasanya tak perlu kujelaskan lagi, harap cengcu sudi memberikan obat ini kepada mereka, sedang masalah lain biar kita bicarakan besok saja setelah aku menghadap ibuku."

Melihat botol porselen itu masih disegel rapat, Phang Thian-hua segera menerimanya.

"Nona, obat ini luar biasa mustajabnya, sedang nona Pek dan Lim siangkong terbukti lukanya tidak mengalami perubahan apa pun kendati telah menempuh perjalanan jauh, ini menunjukkan bahwa mereka tidak perlu diobati lagi dengan obat mustajab tersebut"

"Kalau begitu, tolong Phang cengcu simpankan lebih dulu, Bilamana diperlukan, harap cengcu segera memberikan kepada mereka."

"Baik, bila tidak terpaksa, aku pasti tak akan menggunakan" janji Phang Thian-hua sambil masukkan botol itu ke dalam sakunya,

Li Tiong-hui pun berpaling ke arah Ong popo sambil bertanya: "Popo, sudah kau siapkan tempat pemondokan buat mereka?" "Semuanya telah disiapkan, nona tak perlu risau,"jawab Ong popo sambil menghela napas.

Pelan-pelan Li Tiong-hui bangkit berdiri, kembali pesannya kepada Phang Thian-hua: "Bila luka yang mereka derita mengalami sesuatu perubahan, tolong suruh mereka memberi kabar kepadaku."

"Baik, akan kuingat"

Dipimpin dua orang dayang berbaju hijau yang membawa lentera, Phang Thian-hua serta siok-bwee sekalian diajak masuk ke sebuah halaman terpencil di mana terdapat beberapa ruangan yang berjajar

Sambil menyulut lilin, pesan dayang itu. "silakan kalian beristirahat sejenak, hidangan akan segera tiba."

Keesokan harinya, baru saja Phang Thian-hua bangun tidur, seorang dayang telah muncul di depan pintu sambil berkata: "Nona kami menunggu kedatangan Phang cengcu"

Dengan cepat Phang Thian-hua diajaknya masuk ke dalam sebuah ruang besar di sisi gedung tersebut

Hari ini Li Tiong-hui mengenakan baju hijau dengan gaun hijau pula, Meski senyuman menghiasi bibirnya, namun keningnya nampak berkerut kencang dan diliputi kemurungan yang mendalam.

Begitu melihat Phang Thian-hua muncul disana, ia segera bangkit berdiri sambil serunya: "Cengcu, harap kau menemani aku pergi menjumpai ibuku." "Sudah lama aku mengagumi nama besar nyonya Li, beruntung sekali dapat menyambanginya, cuma leluasa tidak?"

"Tidak apa-apa..." setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya: "Cuma... sikap ibuku memang agak dingin dan hambar terhadap orang lain, untuk itu harap Phang Cengcu jangan gampang tersinggung."

"Oooh, kalau soal itu mah aku tak berani." "Kalau begitu mari kita berangkat"

Dengan mengikuti di belakang Li Tiong-hui, berangkatlah Phang Thian-hua menelusuri jalan setapak yang penuh aneka bunga dan pepohonan sebelum akhirnya tiba di sebuah bangunan yang dikelilingi hutan lebat.

Sambil menelusuri jalan setapak selebar dua depa yang beralas batu, Li Tiong-hui berbisik "lnilah gedung Tay-sang-kek tempat tinggal ibuku."

Phang Thian-hua cuma mengiakan pelan tanpa banyak bicara, Rupanya secara tiba-tiba ia merasakan betapa tenang dan seriusnya gedung putih yang dikelilingi pepohonan ini.

Ketika habis melewati tiga belas buah anak tangga beralas batu putih, tibalah mereka di depan sebuah pintu gerbang yang tertutup rapat.

Ong popo yang berambut putih telah berdiri serius di muka pintu, begitu melihat kehadiran kedua orang itu, segera ucapnya: "Ibumu telah setuju..."

"Terima kasih banyak Ong popo." Ong popo angkat muka dan menghembuskan napas panjang. "cuma, saat ini belum waktunya" ia berbisik

"Biar aku menanti di luar biliknya."

Ong popo tidak berkata apa-apa, namun sepasang matanya yang tajam mengawasi terus wajah Phang Thian-hua tanpa berkedip.

Ditatap seperti ini, Phang Thian-hua segera merasa amat gundah dan tak tenang, buru-buru dia melengos kearah lain dan tak berani beradu pandang dengannya.

Dalam suasana yang amat hening dan sepi, waktu berialu sangat lambat, seakan- akan siput yang sedang merangkak. Tiba-tiba kedengaran suara lonceng yang berdentang pelan bergema keluar dari balik pintu kayu yang tertutup rapat itu.

Ong popo segera menyingkir ke samping, lalu ia berkata: "Sekarang kau boleh masuk"

Buru-buru Li Tiong-hui berjalan mendekati pintu, mendorongnya hingga terbuka dan menyelinap masuk ke dalam, Phang Thian-hua ragu-ragu -sejenak. tapi dengan cepat ia menyusul di belakang gadis tersebut.

Setelah masuk ke balik pintu, tampak tempat itu merupakan sebuah ruangan kosong yang amat luas, Kecuali empat buah bangku yang terbuat dari kayu pinus, tiada perabot lain yang berada di sana, persis di tengah dinding sebelah depan tergantung sebuah kain dengan beberapa huruf yang amat besar, tulisan itu berbunyi: LUPAKAN SEMUA PERASAAN.

Membaca tulisan ini, Phang Thian-hua pun berpikir "Terhadap putra-putrinya sendiri pun nyonya Li bersikap begitu disiplin dan keras, rasanya tulisan yang tercantum dalam ruangan ini memang cocok sekali dengan sikapnya..."

Sementara ia masih berpikir, dari balik dinding ruangan telah berjalan keluar seorang nyonya setengah umur.

Dengan langkah cepat Li Tiong-hui segera memburu ke depan, berlutut sambil serunya: "Ananda memberi hormat kepada ibu"

"Bangunlah..." ucap nyonya Li sambil tertawa hambar.

Phang Thian-hua pelan-pelan alihkan perhatiannya ke wajah perempuan itu, ia saksikan nyonya Li mengenakan pakaian berwarna putih, meski tidak berdandan namun tidak menutupi kecantikan wajahnya yang alami. sekilas pandang orang akan mengira usianya baru dua puluh tujuh-delapan tahunan.

Menyaksikan semua itu, tanpa terasa kembali ia berpikir "Li Tong-yang sudah hampir belasan tahun meninggal dunia, jadi kalau di-hitung-hitung paling tidak usia Nyonya Li tahun ini sudah mencapai empat puluh tujuh-delapan tahunan, tak nyana ia masih tetap awet muda.

Sementara ia masih berpikir, Li Tiong-hui telah berbisik: "Phang cengcu, mari kesini menjumpai ibuku"

Dengan langkah lebar Phang Thian-hua maju mendekat, seraya memberi hormat katanya: "Phang Thian-hua dari perkampungan pit-tim-san-ceng menjumpai nyonya Li" "Silakan duduk Phang cengcu," kata Li hujin. ucapannya amat singkat, seakan-akan khawatir kalau kelewat banyak bicara saja.

"Terima kasih"

Setelah melihat tamunya duduk. nyonya Li baru berpaling kembali kearah Li Tiong-hui. "Ada urusan apa kau ingin bertemu denganku ?" tegurnya.

"Kaku benar hubungan ibu dan anak," batin PhangThian-hua segera, "seakan-akan sedang berbicara dengan teman lama yang sudah sekian tahun tak berjumpa saja..."

"lbu," sahut Li Tiong-hui. "Bila tak ada urusan penting, ananda tak akan berani mengusik ketenangan ibu..."

"Ada urusan apa? Cepat katakan"

"Kini, ananda telah diangkat menjadi Bulim Bengcu" "Ehmm, bagus sekali." Nyonya Li tertawa hambar. "Ananda mengerti, kemampuan yang kumiliki masih

belum pantas untuk menduduki jabatan tersebut, umat

persilatan justru memilih ananda, semua ini tak lain karena nama besar ayah dan ibu."

"Aku tahu, masih ada yang lain?"

Phang Thian-hua terkesiap. pikirnya: "Dingin benar sikap nyonya Li sebagai seorang ibu terhadap putrinya, Bukan cuma bicara singkat, nadanya pun dingin membeku seperti hembusan angin puyuh dari Kutub utara saja..."

Terdengar Li Tiong-hui menghela napas panjang. "Kini, beberapa orang anak buah ananda terluka parah dan hingga kini belum sadar, Ananda mohon kemurahan hati ibu, sudilah kiranya untuk menolong mereka agar lolos dari musibah kali ini."

Paras muka Nyonya Li tetap dingin membeku, sampai lama sekali dia tak mengucapkan sepatah kata pun.

Li Tiong-hui angkat wajahnya memandang ibunya sekejap. kemudian sambil menjatuhkan diri berlutut katanya lagi: "Ananda sadar, tidak seharusnya aku mengusik ketenangan ibu, tapi nasi sudah menjadi bubur, Masalah ini tak dapat dilepaskan dengan begitu saja. Ananda mohon ibu sudi memandang di atas hubungan kita sebagai ibu dan anak untuk mengabulkan permohonan ananda ini."

Nyonya Li berpaling memandang sekejap tulisan di atas dinding, kemudian katanya: "Hanya persoalan ini?"

"Masih ada masalah lain yang hendak ananda laporkan" Nyonya Li berkerut kening, namun ia tetap membungkam.

Pelan-pelan Li Tiong-hui melanjutkan "Ananda bisa diangkat sebagai Bulim Bengcu lantaran ingin melawan kekejaman seebun Giok-hiong, perempuan iblis itu memiliki ilmu silat yang luar biasa hebatnya. Ananda sadar masih bukan tandingannya, malahan berulang kali ananda keok di tangannya, Dalam keadaan begini, terpaksa ananda menyebar undangan ke seluruh penjuru daratan untuk mengundang kehadiran para jago di kolong langit guna bersama-sama kumpul di bukit Hong- san dan menyelenggarakan persatuan untuk bersama- sama melawan seebun Giok-hiong." Paras muka nyonya Li yang pada dasarnya sudah dingin, kini diliputi sikap yang lebih membekukan hati setelah mendengar penuturan tersebut, pelan-pelan ia duduk di bangku.

Phang Thian-hua mendeham pelan, sebetulnya dia ingin membantu Li Tiong-hui mengucapkan sepatah dua patah kata, Namun, setelah melihat sikap dingin dari nyonya Li, kata-kata yang telah sampai di tenggorokan itu segera ditelan kembali.

Ia berpengalaman luas,jadi orang pun pandai menahan diri setelah melihat semuanya ini segera pikirnya lagi: "sudah jelas Li Tiong-hui tahu bila sikap ibunya amat dingin dan kaku, semestinya ia datang menghadap sendirian Kenapa justru aku dipaksa untuk mendampinginya? Di balik semua ini tentu ada alasannya".

Berpendapat begitu, dia pun mengambil sikap berdiam diri, tutup mulut sambil menantikan perubahan selanjutnya. Terdengar Li Tiong-hui berkata lebih lanjut

"Ananda telah menyebar undangan untuk memanggil semua partai dan perguruan yang ada di daratan Tionggoan- agar mengutus jago-jago andalannya untuk ikut ambil bagian dalam pertarungan di bukit Hong-san. Namun, kepandaian silat yang dimiliki seebun Giok-hiong betul-betul luar biasa hebatnya, ditambah lagi anak buahnya banyak dan sebagian besar merupakan jago- jago tangguh berilmu tinggi. Karenanya, walaupun pihak ananda telah didukung para jago tangguh dari pelbagai aliran dan perguruan, kekuatan kami belum tentu sanggup menandingi kekuatan pihak seebun Giok-hiong." "Bagus" pekik Phang Thian-hua dalam hati. "Rupanya dia sedang menggunakan siasat menghasut dan memanasi hati ibunya untuk mensukseskan rencananya." ia coba melirik ke wajah nyonya Li, tapi paras muka perempuan itu tetap dingin, kaku, hambar dan sama sekali tidak termakan hasutan itu.

Melihat hal ini, kembali Phang Thian-hua berpikir: "Entah ilmu silat apa yang dipelajari nyonya Li, ternyata ia begitu teguh imannya dan tidak terpengaruh oleh hasutan macam begitu, sejak kemunculannya hingga kini, sikapnya tetap dingin dan kaku ibarat sebuah patung ukiran saja, sungguh luar biasa."

Tampak Li Tiong-hui angkat wajahnya memandang ibunya sekejap. lalu melanjutkan kembali ucapannya yang terhenti tadi.

"Pertempuran ini bukan saja menyangkut nasib seluruh umat persilatan, terlebih menyangkut pula nama besar keluarga Hong-san kita." Nyonya Li menghela napas pelan, tapi ia tetap membungkam.

"Ooh, ibu" pinta Li Tiong-hui. "semasa masih hidup dulu, ayah adalah seorang ksatria sejati yang disanjung dan dihormati setiap manusia, seandainya beliau masih hidup sekarang, niscaya beliau pun akan mendukung ananda... masa ibu..."

"Kau rindu sekali pada ayahmu?" Nyonya Li tertawa getir.

"Aaaai... dasar nasib ananda kurang beruntung, semasa ayah masih hidup dulu, ananda masih berusia kecil hingga kini bayangan wajah ayah pun hanya teringat samar-samar..." Pelan-pelan nyonya Li meraba bahu Li Tiong-hui dengan lemah lembut. Heran, begitu tangannya menyentuh tubuh gadis tersebut, tiba-tiba ia menarik tangannya kembali, kemudian setelah membenahi rambutnya ia menukas: "Bicaramu kelewat banyak"

Li Tiong-hui angkat wajahnya, dua titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Hingga detik ini Phang Thian-hua tak mampu menahan diri lagi, mendadak ia bangkit berdiri sambil berseru keras. " Nyonya Li"

"Ada apa?" Pelan-pelan nyonya Li berpaling memandang Phang Thian-hua.

"Atas sanjungan dan dukungan para jago dari seluruh kolong langit, putrimu telah diangkat menjadi Bulim Bengcu."

"Soal ini aku sudah tahu."

"Demi keselamatan seluruh umat persilatan aku bahkan tinggalkan kehidupanku yang tenang selama puluhan tahun untuk berbakti kepada Bengcu dan melaksanakan perintahnya, masa nyonya enggan mengingat hubungan ibu dan anak dengan membantu usaha putrimu itu?"

Nyonya Li tertawa hambar. "Nenek Ong ada di mana?" Tiba-tiba serunya.

"Hamba di sini" Dengan membawa tongkat bambu Ong popo munculkan diri. "Perintahkan mereka untuk menggotong kemari kedua orang yang terluka parah itu" Apabila terhadap Li Tiong-hui sikap Ong popo begitu keren dan serius, maka sikapnya terhadap nyonya Li justru menghormat sekali, setelah menyahut buru-buru dia beranjak pergi.

Agaknya sifat sayang seorang ibu terhadap anaknya, ditambah lagi dengan cucuran air mata putrinya telah melelehkan kebekuan hati Nyonya Li. setelah menghela napas sejenak, kembali ia melanjutkan ucapannya tadi.

"Orang bilang anak lelaki patuh pada ayahnya, anak perempuan patuh pada ibunya, Tampaknya ucapan ini memang benar dan patut dipercaya, Aaaai... kalian dua bersaudara, tak seorang pun yang mirip aku, kalian justru menuruni watak suka mencari gara-gara dari bapakmu"

"Ananda memang bersalah dan pantas menerima hukuman, Bila urusan ini telah beres, ananda pasti akan melepaskan jabatanku sebagai Bulim Bengcu dan siap menerima hukuman dari ibu."

Nyonya Li tertawa hambar tanpa memberi tanggapan, ia berpaling ke arah Phang Thian-hua, lalu ucapnya: "Phang cengcu tersohor sebagai Dewa jinsom yang mahir ilmu pengobatan dan pertabiban, sudah kau periksa keadaan luka mereka berdua?"

"Sudah kuperiksa, luka yang diderita kedua orang itu amat parah, bahkan aku pun dibuat gelagapan."

Sementara pembicaraan berlangsung, empat orang dayang berbaju hijau telah muncul dalam ruangan dengan membopong Lim Han-kim serta Pek si-hiang. "Baringkan saja di lantai, kalian boleh pergi" perintah nyonya Li.

Setelah meletakkan kedua tandu itu ke lantai, empat dayang tadi segera mengundurkan diri.

Nyonya Li berpaling memandang sekejap ke arah Li Tiong-hui, lalu perintahnya: "Kau boleh bangkit" Kemudian dengan langkah lebar ia mendekati Lim Han- kim.

Rupanya sedari tadi Li berlutut di tanah, mendengar perintah tersebut ia pun bangkit dan menyusul di belakang ibu-nya.

Pelan-pelan nyonya Li menyingkap selimut yang menutupi badan Lim Han-kim, namun ketika sorot matanya membentur di wajah anak muda tersebut. Bagaikan tersengat listrik bertegangan tinggi saja, mendadak badannya gemetar keras. Rasa kaget bercampur tercengang segera menghiasi wajahnya.

Selama ini, Li Tiong-hui hanya memperhatikan Lim Han-kim, ia sama sekali tidak perhatikan perubahan mimik wajah ibunya, Lain dengan Phang Thian-hua yang amati terus gerak-gerik nyonya tersebut, semua perubahan itu dapat dilihatnya dengan amat jelas.

Setelah berhasil menguasai gejolak perasaan hatinya, nyonya Li pun bertanya: "Anak Hui, siapa namanya?"

Betapa gembiranya Li Tiong-hui tatkala mendengar nada pembicaraan ibunya begitu lembut dan halus, seakan-akan sudah menaruh kesan yang baik terhadap pemuda itu, buru-buru ia memberikan jawaban. "Dia bernama Lim Han-kim." "Lim Han-kim..."

"Yaa, Lim Han-kim, dia baik sekali orang-nya.,."

Nyonya Li tidak membiarkan Li Tiong-hui melanjutkan kata- katanya, kembali dia menukas: "Anak Hui, tahukah kau akan asal-usul nya?"

"Tidak"

Nyonya Li tidak banyak bertanya lagi, ia periksa denyut nadi Lim Han-kim dengan seksama, kemudian berkata lagi dengan sikap serius.

"Meskipun lukanya cukup parah, hawa murninya belum sampai buyar. Asal ia diberi obat yang jitu, niscaya lukanya akan sembuh dan kesehatannya akan pulih kembali dengan cepat"

"Ibu, kau sanggup menyembuhkan luka-nya?" "Hal ini perlu bantuan dari Phang cengcu," kata

Nyonya Li sambil berpaling secara tiba-tiba ke arah Phang Thian-hua.

"Selama kemampuan aku she-Phang masih dibutuhkan, aku pasti akan berusaha dengan sepenuh tenaga."

"Untuk melindungi isi perutnya, ia telah kerahkan tenaga dalamnya yang terhimpun di dada, akibatnya di bagian dadanya sekarang terkumpul segumpal darah beku, Mula pertama kau mesti paksa keluar dulu gumpalan darah di dalam dadanya dengan tenaga dalam, setelah itu baru kita obati dengan ramu-ramuan."

"Yaa, aku pun sependapat dengan usul ini, hanya tadi tak berani ambil keputusan." "Kalau begitu aku minta tolong kepada Phang cengcu agar mendesak keluar gumpalan darahnya lebih dulu..."

Phang Thian-hua menyahut dan menghampiri Lim Han-kim dengan langkah lebar.

"Tunggu sebentar, kita tunggu sesaat lagi sebelum turun tangan" cegah nyonya Li tiba-tiba sambil menggeleng.

Phang Thian-hua agak tertegun, ia mundur balik ke tempat semula.

Pelan-pelan nyonya Li menghampiri Pek si-hiang, menyingkap selimutnya dan bertanya: "siapa pula nona ini?"

"Dia bernama Pek si-hiang" sahut Li Tiong-hui. "Tampaknya ia cerdik sekali."

"Tebakan ibu sangat tepat, nona Pek memang seorang gadis yang cerdik dan berkemampuan luas."

Dengan teliti nyonya Liperiksa luka yang diderita Pek si-hiang, lalu katanya: "Aku rasa luka yang diderita nona ini jauh lebih parah ketimbang Lim Han-kim."

"Masih bisa ditolong?"

"Ditolong sih masih bisa, cuma butuh banyak tenaga dan pikiran."

"Ibu, mohon belas kasihanmu untuk menyelamatkan jiwanya"

"Kondisi tubuh nona Pek sudah jelek sejak sebelum terluka, Aku tebak, ia tentu seorang nona yang berpenyakitan bahkan tenaga dalam yang dimilikinya tidak disertai dasar yang kuat, Aku sendiri kurang yakin apakah bisa menolongnya atau tidak."

"Maksud ibu... harapannya untuk sembuh kecil sekali?" "Yaa, mati dan hidup masing-masing menempati

setengah bagian, aku hanya bisa berusaha dengan

segala kemampuan."

Pelan-pelan air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Li Tiong-hui.

"Ibu" bisiknya. "Aku telah berhutang budi kepada nona Pek, beberapa kali ia telah selamatkan jiwaku. "

"Aku mengerti" Nyonya Li manggut-manggut. "Ong popo"

Tampaknya Ong popo belum pernah tinggalkan gedung Tay-sang-kek. ia segera muncul dengan langkah lebar begitu mendengar panggilan itu.

"Ada perintah apa, nyonya?" tanyanya,

"Suruh mereka siapkan sebuah wajan besar, dua gentong cuka yang sudah berumur puluhan tahun serta sebuah kukusan besar" Ong popo menyahut dan segera berlalu.

Berpaling kepada Li Tiong-hui, kembali nyonya Li berkata: "sekarang kalian boleh pergi, tengah malam nanti aku akan berusaha menyembuhkan luka yang diderita nona Pek."

"Terima kasih ibu"

Nyonya Li berpaling sekejap ke arah Phang Thian-hua, lalu katanya pula: "Minta tolong kepada Phang cengcu agar mendesak keluar gumpalan darah di dada Lim Han- kim. Malam ini aku akan meramu obat, besok kita bisa berikan kepadanya."

"Terima kasih, nyonya Li."

"Phang cengcu, mari kita pergi," bisik Li Tiong-hui kemudian. "Perlu gotong kembali Lim Han-kim dan Pek si-hiang?"

"Kita tak usah mengurusi."

Phang Thian-hua menyahut, bersama Li Tiong-hui mereka segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Tiba di depan pintu, tampak Ong popo dengan tongkatnya berdiri di samping halaman sambil tersenyum, Kepada Li Tiong-hui segera serunya: "selamat nona, akhirnya kau berhasil membujuk nyonya"

"Terima kasih juga untuk bantuan dari Ong popo," "Aaaai sudah sepantasnya bila aku membantu dengan

semampuku." Ong popo menghela napas panjang.

Dengan hormat Li Tiong-hui menjura kepada nenek itu kemudian baru pelan-pelan menuruni anak tangga.

Phang Thian-hua menyusul di belakangnya, sembari berjalan bisiknya: "Aku sempat khawatir ketika bertemu ibumu pertama kali tadi? sungguh tak nyana akhirnya Bengcu berhasil juga membujuknya."

"Padahal aku sendiripun kurang yakin ketika tiba di gedung Tay-sang-kek awal tadi, aku hanya adu keberuntungan..."

"Ketika ibumu bertemu Lim Han-kim tadi." "Ehmmm," tukas Li Tiong-hui sambil tertawa, "Nampaknya ibu punya kesan yang baik sekali terhadapnya, kejadian ini benar-benar berada di luar dugaanku."