-->

Pedang Keadilan II Bab 35 : janji pertarungan Di Hong-san

 
Bab 35. janji pertarungan Di Hong-san

Dari dalam sakunya Phang Thian-hua mengeluarkan sebuah botol porselen dan menuang ke luar dua butir pil berwarna merah tua, lalu setelah menjejalkan ke mulut Lim Han-kim, ia berkata dengan nada yakin-

"Pil Hui-seng-wan ramuanku merupakan obat mestika yang tiada taranya di kolong langit. Bila kedua butir pil tersebut masih belum mampu menyembuhkan lukanya dengan cepat, maka paling tidak Lim Han-kim harus beristirahat selama tiga bulan penuh sebelum dapat pulih kembali seperti sediakala."

Rasa girang yang semula menghiasi wajah Li Tiong-hui hilang lenyap seketika, sebagai gantinya kabut murung yang tebal menyelimuti wajahnya. " Kenapa begitu?" serunya.

"Aku telah memulihkan kembali denyut jantungnya dengan tenaga murni, ditambah lagi dengan khasiat Hui- seng-wan tersebut untuk memulihkan kembali kondisinya yang lemah, Bila lukanya tidak terlampau parah, kedua butir pil Hui-seng-wan itu pasti dapat memulihkan kembali kekuatannya dalam waktu singkat Tapi, jika obat itu pun tak manjur, berarti..." Ketika dilihatnya rasa murung dan sedih menyelimuti wajah Li Tiong-hui, tak kuasa lagi ia segera menghentikan perkataannya.

" Lanjutkan perkataanmu," pinta Li Tiong-hui lirih, "Jangan bohongi aku. Meski dia bakal mati, paling tidak Phang cengcu telah berusaha dengan sepenuh tenaga." setelah menghela napas panjang phang Thian-hua berkata: "Apabila pil mestika Hui-seng-wan gagal pulihkan kembali tenaga murninya dalam waktu singkat, hal ini membuktikan bahwa isi perutnya telah mengalami luka yang teramat parah, berarti pula kekuatan tubuhnya mustahil dapat dipulihkan dalam sehari dua."

"Ehmmm, mengerti aku kini, bila dalam waktu singkat tenaga dalamnya tak berhasil pulih kembali, maka keselamatan jiwanya bakal terancam bukan?"

"Tidak separah dugaanmu Maksudku, bila ia gagal pulihkan kekuatannya dalam waktu singkat, maka dibutuhkan waktu paling cepat setengah sampai setahun untuk memulihkan kembali kondisi badannya."

"Aaaai Moga-moga ilmu pengobatan phang cengcu memang hebat sehingga kesehatan tubuhnya dapat pulih dalam waktu singkat."

Tiba-tiba Ciu Huang bangkit berdiri dan menjura kepada Phang Thian-hua lalu katanya: "sudah lama ibunya hidup menjanda, ia cuma punya putra seorang, Apabila anaknya sampai mengalami suatu musibah, sulit rasanya untuk mencegah ibunya mengambil keputusan pendek. saudara Phang, bagaimana pun kau harus berupaya dengan sepenuh tenaga"

"Aku pasti akan berusaha dengan sepenuh tenaga" janji Phang Thian-hua seraya menghembuskan napas panjang.

Dengan perasaan agak tercengang Li Tiong-hui mengawasi wajah Ciu Huang, kemudian tegurnya: "Jadi Ciu tayhiap mengetahui asal-usulnya?" Dengan kepala tertunduk ciu Huang termenung sejenak. lalu sahutnya: "Yaa, di kolong langit saat ini, paling banyak hanya ada tiga orang yang tahu akan asal- usulnya..."

"Dan locianpwee adalah satu di antara ketiga orang itu?"

"Tapi aku telah bersumpah tak akan bocorkan asal- usulnya kepada siapa pun, jadi aku harap Bengcu maklum dan sudi memaafkan." Berkilat sepasang mata Li Tiong-hui sehabis mendengar ucapan itu, mendadak bisiknya: "Apakah asal-usulnya ada sangkut paut dengan si Raja pedang?"

Ciu Huang agak tertegun, setelah menghela napas katanya: "Liku- liku di balik persoalan ini banyak melibatkan orang ternama dalam dunia persilatan. Betul aku punya watak bicara blak-blakan tanpa tedeng aling, tapi harap Bengcu maafkan diriku, Dalam masalah ini, aku benar-benar harus bungkam, lebih baik jangan kau desak lagi."

Biarpun perkataan itu diucapkan setengah berbisik, tapi Phang Thian-hua yang berada persis di hadapan mereka berdua dapat mendengar dengan jelas sekali.

Agaknya Li Tiong-hui masih pantang menyerah, sekali lagi desaknya dengan suara lirih: "Ciutayhiap. apakah kau takut menyinggung perasaan si Pangeran pedang itu hingga segan bicara terus terang?"

Ciu Huang tersenyum "Ketika nama besar Raja Pedang masih tersohor dalam dunia persilatanpun aku tak pernah takut kepadanya, apalagi sekarang." "Kalau begitu, locianpwee lebih takut menyalahi sesama umat persilatan ketimbang berhadapan dengan si Raja pedang?"

"Selama hidup, sudah kenyang aku hidup malang melintang dalam dunia persilatan Tak sedikit jagoan tangguh yang pernah kujumpai, rasanya selama ini belum pernah kukenali perkataan takut."

" Kalau memang begini bukan, begitu pun bukan, lantas lantaran apa kau enggan bicara?"

"Aaaai panjang untuk mengisahkan peristiwa ini, lagi pula menyangkut reputasi serta nama baik seseorang, jadi aku berharap agar Bengcu jangan kelewat memaksaku."

Melihat keseriusan orang tersebut, tentu saja Li Tiong- hui sungkan untuk mendesak lebih jauh, terpaksa semua pertanyaan ditelan kembali ke dalam perut. Tiba-tiba terdengar seebun Giok-hiong membentak nyaring: "Lepaskan senjatamu"

Kutungan pedangnya diayun ke depan secepat kilat menghantam pergelangan tangan kanan Pek si-hiang.

Waktu itu, pedang yang berada dalam genggaman pek si-hiang sudah terlanjur menyodok ke depan untuk mengunci gerak serangan seebun Giok-hiong, bukan masalah gampang baginya untuk menarik kembali senjatanya dalam waktu singkat.

Tampaknya bila tabokan pedang seebun Giok-hiong yang begitu cepat berhasil menghajar tangannya, kecuali melepaskan senjatanya, pergelangan tangan kanannya niscaya akan terluka. Dalam posisi yang terdesak. mau tak mau Pek si- hiang harus lepaskan pedangnya, seebun Giok-hiong sama sekali tidak menggubris pedang mestika yang rontok ke tanah itu, kutungan pedangnya kembali diayun secepat kilat menyapu tenggorokan musuh.

Melihat keadaan amat kritis, Kim-hud lotiang segera membentak keras: "Atas perintah Li bengcu, kita wajib menghalangi niat jahat nona seebun ..."

Buru-buru senjata kebutannya dikebut ke depan menggempur tubuh seebun Giok-hiong.

"Hey, apa-apaan kau?" bentak seebun Giok-hiong sembari memutar kutungan pedangnya untuk membendung ancaman senjata kebutan.

"Atas perintah Li Bengcu, terpaksa pinto harus melaksanakan semua titahnya" sahut Kim-hud totiang sambil menarik kembali senjata kebutannya,

Tiba-tiba terlihat cahaya tajam berkelebat lewat, sebuah tusukan maut meluncur tiba. Buru-buru Kim-hud totiang mengegos ke samping, Ketika berpaling, dilihatnya sipenyerang ternyata adalah Pek si-hiang.

Kontan saja tosu ini naik darah, terutama bila teringat baru saja ia berusaha selamatkan jiwanya.

"Budak sialan" umpatnya, "Apa-apaan kamu? Hmmm, tahu begini, tak nanti kutolong dirimu."

"Hmmm, dengan susah payah aku baru berhasil memancingnya untuk masuk perangkap. bahkan nyaris berhasil mengungguli dirinya, siapa suruh kau turut campur hingga semua usahaku gagal total?" "Hmmm sudah jelas pedangmu berhasil dipaksa orang hingga terlepas dari genggaman, sekarang malah menyalahkan aku, Hmmmm, hmmmm, benar-benar manusia tak tahu diri"

Tiba-tiba Pek si-hiang berpaling ke arah seebun Giok- hiong, lalu katanya sambil tertawa: "Bagaimana keyakinanmu sekarang untuk dapat mengungguli aku?"

seebun Giok-hiong termenung sambil berpikir sejenak. kemudian sahutnya: "Yaa, aku telah melanggar pantangan terbesar, yakni kelewat pandang enteng kemampuanmu sepantasnya kaulah pemenang dari pertarungan barusan."

Melihat seebun Giok-hiong sudah mengaku kalah, Kim- hud totiang makin tercengang dibuatnya. Untuk sesaat ia jadi termenung dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Pada saat inilah si Pangeran pedang yang selama ini hanya menonton dari sisi arena mendadak melangkah maju menuju ke luar ruang perahu. "Halangi dia" bentak Li Tiong-hui begitu melihat hal tersebut

Hongpo Tiang-hong menyahut dan maju ke depan menghadang persis di depan ruang perahu.

Terdengar bentakan nyaring bergema dari luar ruangan, keempat- lima orang lelaki bertameng yang ada di situ serentak menyerbu masuk dan siap membantu pangeran pedang,

"Tahan" hardik seebun Giok-hiong cepat dengan kening berkerut

Pangeran pedang segera memberi tanda, kawanan busu yang siap menyerbu masuk itu segera mundur kembali ke belakang, lalu sembari berpaling ke arah seebun Giok-hiong tanyanya: "Apa yang hendak kau sampaikan nona?"

"Bukankah maksud kedatanganku ke daratan Tionggoan adalah untuk mencari nama? Nah, tak perlu susah-susah naik ke gunung siong-san untuk mencari siau-lim-pay. Asal kau mampu mengungguli kawanan jago yang hadir di sini kini, nama besarmu pasti akan lebih termashur ketimbang Raja pedang tempo dulu.."

Kemudian setelah menoleh sekejap ke arah Li Tiong- hui, lanjutnya: "Pertarungan hari ini lebih baik dihentikan sampai di sini saja, Bicara soal kekuatan yang terbentang saat ini, meski kekuatanmu setingkat lebih unggul, tapi bila aku bergabung dengan Pek si-hiang serta Pangeran pedang, mungkin pihakmu tak akan mampu meraih keuntungan apa pun. Bagaimana kalau kita tetapkan masa lain untuk melakukan pertarungan habis-habisan?"

Li Tiong-hui tidak langsung menjawab, pikirnya: "Bila kusia-siakan kesempatan baik pada hari ini, mungkin aku bakal kehilangan peluang untuk membunuh seebun Giok- hiong".

Belum sempat ia mengucapkan sesuatu, mendadak terlihat bayangan abu-abu berkelebat lewat dari sisi Hongpo Tiang-hong, menerobos masuk ke ruang perahu dan hinggap di pundak seebun Giok-hiong.

Li Tiong-hui segera mengenali bayangan itu sebagai burung aneh yang sehari-hari bertengger di bahu kakek berbaju kuning, anak buah andalan seebun Giok-hiong. Justru karena bentuknya yang sangat aneh itulah, siapa pun akan segera mengenalinya dalam sekilas pandangan.

Terdengar seebun Giok-hiong tertawa terkekeh- kekeh sambil ejeknya: "Li Tiong-hui, bala bantuanku akan segera tiba, Perlu kau ingat, kekuatanku maha dahsyat, jauh di atas kekuatanmu"

"Bila kami berhasil mencegah burung aneh yang bertengger di bahumu terbang meninggalkan perahu ini, belum tentu bala bantuanmu berhasil mencapai tempat ini," kata Hongpo Tiang-hong.

"Burung ini tak perlu terbang lagi. ia memang datang sebagai petunjuk jalan, Lihat saja nanti, bala bantuanku toh akan tiba dengan sendirinya di sini..."

Kemudian sambil berpaling ke wajah Pek si-hiang, lanjutnya: "Kalau ingin disalahkan, maka keteledoran nona Pek yang mesti disalahkan Tatkala naik ke perahu ini tadi, secara diam-diam aku telah tinggalkan kode rahasia, sayang nona Pek tidak menyadari akan hal ini."

Tampak Pek si-hiang sedang berdiri mendelong sambil mengawasi Lim Han-kim yang tergolek di sudut ruang perahu tanpa berkedip.

"Nona Li" Mendadak siok-bwee berteriak keras, "sebentar lagi nona kami akan mendusin sayang, luka yang diderita Lim siangkong kelewat parah hingga tak dapat berbicara ..."

seebun Giok-hiong berkerut kening, tanpa bersuara ia melangkah ke depan menghampiri Pek si-hiang. Waktu itu, perhatian semua orang sedang tertuju ke wajah Pek si-hiang, hingga gerak-gerik seebun Giok- hiong lolos dari pantauan mereka.

sampai seebun Giok-hiong sudah tiba di sisi Pek si- hiang, Li Tiong-hui baru menyadari akan gawatnya situasi, buru-buru hardiknya: "Cepat halangi dia"

sayang keadaan sudah terlambat, telapak tangan seebun Giok-hiong secara telak sudah menghantam punggung Pek si-hiang. Gempuran tersebut tidak menimbulkan sedikit suara pun, tahu-tahu kelihatan tubuh Pek si hiang gontai, muntahkan darah segar dan segera roboh terjungkal ke lantai.

"Benar-benar perbuatan yang keji" umpat Hongpo Tiang-hong sambil tertawa dingin Dengan jurus " menggapai ke air memancing naga" pedangnya langsung ditusukkan ke tubuh seebun Giok-hiong.

si Hakim sakti ciu Huang pun tidak mengira seebun Giok-hiong bakal membokong musuhnya secara begitu licik, dengan penuh amarah ia membentak keras dan melepaskan pula sebuah pukulan segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat langsung meluncur ke depan dengan iringan suara yang nyaring.

Seebun Giok-hiong tertawa terkekeh-kekeh, tangan kirinya diputar untuk menyambut datangnya serangan dari ciu Huang, sementara kutungan pedang di tangan kanannya digetarkan menangkis tusukan pedang dari Hongpo Tiang-hong, kemudian badannya mengegos ke samping dan secepat petir menyerbu maju ke depan Kim-hud lotiang mengebaskan senjata kebutannya, dengan jurus Bidadari cantik menyebar bunga, ia babat tubuh lawan

Seebun Giok-hiong mengangkat kutungan pedangnya ke atas menyongsong kedatangan senjata kebutan itu, lalu keempat jari tangan kanannya secara beruntun disentilkan keluar Empat gulung desingan angin tajam serentak meluncur ke udara dan menyerang musuhnya.

Buru-buru Kim-hud totiang mengegos ke samping, Berhasil menghindari ketiga gulung desingan tajam yang pertama, sayang gagal menghindari serangan keempat. Tahu-tahu bahu kirinya terasa amat sakit, serangan tersebut sudah bersarang telak.

Sebuah tendangan kilat dari Seebun Giok-hiong mendesak Hongpo Tiang-hong. Ter-gopoh-gopoh Hongpo Tiang-hong menarik kembali pedangnya yang sedang menggempur lawan Tubuh Seebun Giok-hiong segera miring ke samping dan langsung menyerbu ke tepi pintu ruang perahu.

Sambil mengayun golok panjangnya Li Tiong-hui mengejar dari belakang, teriaknya: "cepat halangi dia"

Kebetulan waktu itu Seebun Giok-hiong sudah sampai di tepi pintu ruang perahu, pangeran pedang yang mendengar teriakan Li Tiong-hui itu tiba-tiba mencabut keluar pedangnya dan membentak nyaring: "Kembali kau ke dalam ruangan."

"Aaaah, belum tentu" ejek seebun Giok-hiong.

Kutungan pedangnya diputar... Traaaang Diiringi suara benturan nyaring pedang si Pangeran pedang berhasil ditangkis ke samping, sepasang kakinya segera meluncur ke atas melepaskan tendangan maut, dua lelaki kekar yang menghadang persis di depan pintu segera termakan tendangan itu dan roboh terjungkal ke tanah.

Memanfaatkan peluang inilah, seebun Giok-hiong menerobos keluar ke atas geladak perahu, Lengan kirinya langsung digetarkan ke atas, burung aneh berwarna abu-abu yang bertengger di bahunya tadi langsung terbang ke angkasa.

Bersamaan dengan terbangnya burung aneh itu, seebun Giok-hiong menjejakkan pula kakinya meluncur ke udara dan menyambar sepasang kaki burung tadi, Memanfaatkan ke sempatan ini, badannya ikut meluncur pula ke tengah sungai sejauh dua kaki dari tempat semula.

Dalam saat itu ciu Huang dan Li Tiong-hui telah menyusul ke ujung geladak perahu, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki seebun Giok-hiong benar-benar luar biasa, walaupun hanya meminjam sedikit tenaga dari burung aneh tersebut, namun tubuhnya dalam waktu sekejap telah berada empat-lima kaki dari posisi semula.

Terdengar dari kejauhan sana ia berseru lantang: "Li Tiong-hui, cepat atau lambat akhirnya kita harus berduel juga. Lebih baik tetapkanlah waktu dan tempat yang sesuai untuk melangsungkan pertarungan antara kita"

Li Tiong-hui berpaling memandang sekejap ke ruang perahu, lalu bisiknya lirih: "Bagaimana keadaan luka nona Pek?"

"Parah sekali" jawab Phang Thian-hua. sambil menggeretak gigi dan menghela napas Li Tiong-hui bergumam: "Tampaknya aku tak bisa menggubris makian dari ibu lagi..."

sambil mempertinggi nada suaranya ia berteriak: "seebun Giok-hiong, aku khawatir kau tak berani mendatangi tempat yang akan kutentukan"

"Biar ke sorga atau neraka, seebun Giok-hiong tak akan mundur setapak pun"

"Bagus, berani kau mendatangi lembah Ban-siong-kok di bukit Hong-san?" tantang Li Tiong-hui.

"Bagus sudah lama kudengar nama besar lembah Ban- siong-kok di bukit Hong-san. Kalau memang nona Li bersedia mengundang,sampai waktunya, aku seebun Giok-hiong pasti akan hadir, tentukan juga waktu pertemuan kita."

"Tengah hari tanggal sepuluh bulan dua belas, akan kunantikan kehadiranmu di lembah Ban-siong- kok"

"Baiklah, mumpung jaraknya dari hari ini masih ada tiga bulan, segera akan kuundang bala bantuan sebanyak-banyaknya."

"sampai waktunya lebih baik nona seebun ajak serta segenap anak buah andalanmu, kita selesaikan pertikaian kita hingga tuntas"

"Baik" seebun Giok-hiong tertawa, "Dengan selesai- nya pertikaian di antara kita. Tahun baru mendatang pun bisa kulewati dengan lebih tenang dan santai."

"Kalau begitu, kita tetapkan begini saja, silakan nona seebun lanjutkan perjalananmu" "Bila nasib Pek si-hiang kurang beruntung dan keburu mati, harap nona Li sudi mewakiliku untuk tancapkan sekuntum bunga berkabung di hadapan pusaranya."

"Dalam keluarga Hong-san kami banyak tersimpan obat Hui-seng-wan yang mujarab dan hebat, Asal nona Pek sanggup bertahan sehari semalam lagi untuk mencapai bukit Hong-san, aku yakin selembar jiwanya pasti akan selamat"

"Moga-moga saja apa yang kau ucapkan dapat terkabul, semoga ia mampu bertahan sehari semalam lagi" ejek seebun Giok-hiong sambil tertawa.

"Nona seebun, rupanya kau sudah melupakan kehadiranku di sini" sela Phang Thian-hua tiba-tiba sambil melangkah keluar dari ruang perahu dengan langkah lebar. "Dengan andalkan kemampuan ilmu pengobatan-ku serta persediaan obat yang kumiliki masih lebih dari cukup untuk melindungi keselamatan nona Pek serta Lim siangkong selama tiga hari dua malam"

seebun Giok-hiong tertawa hambar.

"Kalau begitu, tolong sampaikan rasa haru-ku kepada Lim siangkong bila telah sadar nanti," katanya, kemudian putar badan dan berlalu dari situ.

Memandang bayangan punggung seebun Giok-hiong yang menjauh, Phang Thian-hua berkata: "Hanya andalkan kekuatan seekor burung, ternyata ia mampu menyeberangi sungai berarus deras ini dengan selamat. Tampaknya kita harus akui bahwa ilmu silat yang dimiliki orang ini luar biasa sekali." Sementara itu Hakim sakti Ciu Huang telah datang menghampiri sambil berbisik: "Benarkah Bengcu hendak gunakan bukit Hong-san untuk berduel dengan seebun Giok-hiong?"

Li Tiong-hui menghela napas panjang, "Aaaaai... kecuali bukit Hong-san, tidak kutemukan tempat lain yang lebih sesuai."

"Bagaimana kalau ibumu tak setuju?"

"Nasi sudah terlanjur menjadi bubur, Kalau ibuku mau marah, biarlah dia mengumpat diriku habis-habisan"

Ciu Huang termenung dan berpikir beberapa saat, lalu katanya: "Ada beberapa patah kata, entah pantas tidak kuutarakan keluar?"

Li Tiong-hui tidak menanggapi perkataan Ciu Huang, sambil berpaling ke arah Pangeran pedang, katanya: "Kau boleh pergi sekarang"

Dengan langkah lebar Pangeran pedang keluar dari ruang perahu, serunya seraya menjura: "sebenarnya maksud kedatanganku ke Tionggoan adalah ingin menjumpai para jago lihay dari dunia persilatan tapi sekarang, aku sadar bahwa kemampuanku masih ketinggalan jauh, maka aku segera akan pulang ke Lam- hay dan mengajak ayah untuk bersama sama menghadiri pertemuan di bukit Hong-san..."

Tampaknya ia belum selesai dengan perkataannya, ditatapnya wajah Li Tiong-hui lekat-lekat, namun tak sepatah kata pun diucapkan.

Melihat itu, dengan kening berkerut Li Tiong-hui segera menegur: "Masih ada yang ingin disampaikan?" sesudah mendeham pelan kata Pangeran prdang: "Harap nona sudi menyediakan sebuah meja perjamuan untuk ayahku dalam pertemuan puncak di bukit Hong- san nanti."

"Ayahmu pasti datang?"

"Nona tak usah khawatir seandainya ayahku menolak. aku punya cara yang dapat membuat beliau penuhi harapanku, jadi harap nona sediakan sebuah tempat baginya."

selesai berkata ia pun memberi hormat, lalu sambil memberi tanda kepada para pengawal elitnya ia berseru: "Kembali ke perahu"

Dengan langkah lebar ia tinggalkan perahu tersebut diikuti puluhan orang pengawal elit-nya.

Memandang kepergian kawanan jago tersebut, Li Tiong-hui menghela napas panjang, bisiknya kepada Ciu Huang: "Apa yang ingin ciu tayhiap katakan, sekarang boleh kau sampaikan"

"Aku mendukung nona menjadi Bulim Bengcu, tujuannya tak lain agar kau bersedia memimpin umat persilatan untuk melawan seebun Giok-hiong, tapi bila nona ingin kembali ke bukit Hong-san, makaaku pun terpaksa harus mohon diri"

"Kenapa?"

"Semasa ayahmu masih hidup, meski dia adalah sahabat karibku tapi antara aku dengan ibumu pernah terlibat percekcokan yang sangat hebat. sejak peristiwa itu belum pernah aku bertemu lagi dengannya,judi aku merasa kurang leluasa bila harus mengikuti nona pulang ke bukit Hong-san!"

"Aaaah, mungkin ibuku sudah lupa dengan peristiwa itu, buat apa Ciu tayhiap masih memikirkannya di hati?"

Ciu Huang tertawa tergelak "Ha ha ha... aku tak pernah risau dengan masalah tersebut, justru yang kukhawatirkan adalah bila ibumu masih menyimpan masalah ini di dalam hati."

"Ciu tayhiap tak usah khawatir, selama belasan tahun terakhir ibuku selalu hidup menyepi dan tak pernah memikirkan urusan keduniawian lagi, jadi beliau tak akan memikirkan peristiwa itu lagi."

Ciu Huang menghela napas panjang, "Aaaai... kendatipun begitu, aku pernah diusir ibumu tempo hari dari bukit Hong-san. sekalipun kejadian ini sudah berlangsung cukup lama dan sepantasnya dilupakan, tapi..."

"Kalau begitu demikian saja," tukas Li Tiong-hui cepat "Bagaimana kalau Ciu tayhiap mewakili aku pergi mengundang siau-lim-pay, Bu-tong-pay, Cing-shia-pay, serta Kun-lun-pay untuk hadir di bukit Hong-san pada bulan dua belas sebelum tanggal sepuluh?"

"Dengan senang hati kuterima tugas ini, namun..." "Aku tentu akan melaporkanmu kepada ibuku

bahwasanya kesediaan ciu tayhiap hadir di Hong-san

adalah lantaran ingin selamatkan umat persilatan dari tragedi." Ciu Huang termenung berpikir sejenak. kemudian katanya: "Baiklah, bila ibumu bersedia menerima aku, tentu aku akan hadir di bukit Hong-san."

Li Tiong-hui pun alihkan sorot matanya ke wajah Kim- hud totiang, tegurnya: "Bagaimana keadaan luka totiang?"

"Enteng sekali" jawab Kim-hud lotiang cepat.

"Bagus, kalau begitu aku minta tolong kepada totiang agar memberitahukan setiap umat persilatan yang kau jumpai agar bersedia datang ke lembah Ban-siong-kok di bukit Hong-san sebelum tanggal sepuluh bulan dua belas..."

"Bagaimana kalau yang datang lebih banyak mereka yang cuma menonton keramaian?"

"Tidak apa-apa, makin banyak makin baik," sahut Li Tiong-hui seraya tertawa getir.

"Aku benar-benar tak habis mengerti," sela Ciu Huang. "Apakah nona sudah temukan suatu rencana yang

bagus?" Li Tiong hui menghela napas panjang.

"ibuku saban hari cuma menutup diri di belakang gunung, beliau semakin lama semakin jarang mencampuri urusan kami dua bersaudara, Hubungan batin kami sebagai ibu dan anak pun makin lama semakin mendingin dan hambar, tapi apabila umat persilatan yang hadir di bukit Hong-san banyak sekali, demi reputasi dan nama baik keluarga Hong-san, kendatipun ibu enggan campur tangan, paling tidak mau tak mau terpaksa ia harus tampilkan diri juga." "oooh, jadi tampaknya nona ingin gunakan cara ini untuk paksa ibumu tampilkan diri?" Kembali Li Tiong-hui menghela napas.

"Aaaaai Apabila sampai waktunya kondisi badan nona Pek belum pulih juga, aku benar-benar tak tahu dengan cara apa kita harus hadapi seebun Giok-hiong." Tiba-tiba Hongpo Tiang-hong tertawa tergelak

"Ha ha ha... semasa ayahmu masih hidup, ia pernah bilang kepadaku bahwa ilmu silat yang dimiliki ibumu luar biasa hebatnya, setiap umat persilatan pasti pernah mendengar bahwa nyonya Li memiliki ilmu silat hebat, tapi tak seorang pun pernah saksikan beliau turun tangan menghadapi lawan. jika sampai waktunya aku berkesempatan menyaksikan peristiwa itu, biarpun harus mati, aku akan mati dengan meram."

"Aaaai... jangan lagi umat persilatan, kami sebagai putra-putrinya pun tidak mengetahui sampai di mana watak serta sifat ibuku yang sebenarnya, terutama pada beberapa tahun terakhir. Tidak gampang bagi aku serta kakakku untuk bersua muka dengannya."

Ciu Huang manggut-manggut, ia seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi niat itu diurungkan kembali.

Kim-hud totiang pun berkata: " Kalau memang begitu, pinto akan gunakan segala kemampuan yang kumiliki untuk melaksanakan perintah nona dan di dalam tiga bulan mendatang, berita ini sudah tersiar merata di seantero daratan Tionggoan."

"Terima kasih atas kesediaan totiang." "Bengcu tak usah banyak adat." Mendadak Ciu Huang menengadah, lalu serunya sambil menghembuskan napas panjang: "Nona Li, si pangeran pedang itu ..."

Tiba-tiba ia tutup mulut

"Ada apa dengan pangeran pedang?" tanya Li Tiong- hui.

"Lebih baik utus orang memberitahu kepadanya agar lebih baik mereka tidak menghadiri pertemuan di bukit Hong-san," kata Ciu Huang setelah mendeham berapa kali.

seakan-akan menyadari akan sesuatu, Li Tiong-hui bertanya: "Kenapa?"

"Panjang untuk menceritakan masalah ini, menurut apa yang kuketahui tentang latar belakang persoalan ini, tampaknya semasa masih hidupnya dulu ayahmu pernah mempunyai hubungan yang luar biasa akrabnya dengan si Raja pedang. Konon mereka berdua pernah berjanji untuk berduel pedang di atas sebuah puncak tebing yang terjal, siapa yang kalah dalam pertarungan tersebut, meski tak sampai terluka di ujung pedang lawan ia pasti akan terperosok ke dalam jurang dan tubuhnya hancur lebur."

"Tentu ayahku yang berhasil unggul dalam pertarungan itu?"

"Atas dasar apa nona berani mengatakan begitu?" "Setahuku, mendiang ayahku tidak mati dalam

pertandingan pedang itu, jelas mendiang ayahku yang

menang."

ciu Huang gelengkan kepalanya berulang kali. "Tak seorang pun berhasil unggul dalam pertarungan itu Bila ada seorang di antara mereka yang berhasil unggul, dengan watak ayahmu serta si Raja pedang yang keras dan berangasan, tak nanti mereka akan biarkan lawannya tetap hidup."

"Jadi maksudmu kekuatan mendiang ayahku seimbang dengan si Raja pedang, tak ada yang menang dan tak ada yang kalah?"

"itu pun tidak, Bila ayahmu harus bertarung habis- habisan melawan si Raja pedang, salah seorang di antara mereka pasti akan tewas atau paling tidak akan terluka parah."

"Waaah, aku jadi tak habis mengerti Kalau toh, mereka berdua sudah duel habis-habisan, kekuatan mereka berdua pun tidak berimbang, kenapa mereka berdua sama-sama selamat tanpa luka?"

"Sebab ibumu muncul tepat pada saatnya dan melerai pertarungan mengerikan itu..."

setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya: "Tidak banyak umat persilatan yang mengetahui peristiwa ini, selain aku seorang, mungkin tiada orang kedua yang tahu."

"Rupanya begitu Tahukah Ciu tayhiap kenapa ibuku melerai pertarungan mereka berdua?"

Pertanyaan ini diajukan dengan perasaan berharap, ia berharap bisa mengorek sedikit keterangan dari mulut ciu Huang. Terdengar ciu Huang menghela napas panjang. "Latar belakang yang sesungguhnya tak pernah dijelaskan ayahmu kepadaku, jadi apa yang kuketahui pun hanya terbatas sampai di sini saja."

Li Tiong-hui termenung dan berpiklr sejenak, lalu tegasnya lirih: "ciu tayhiap betul-betul tidak tahu?"

"Aku benar-benar tak tahu."

Li Tiong-hui angkat wajahnya dan menghela napas panjang katanya kemudian: "Kalau memang ciu tayhiap enggan menjelaskan yaa sudahlah, aku juga tak bisa mendesakmu terus."

"Menurut pandanganku peristiwa yang sudah lewat biarkan saja berlalu, toh tak ada sangkut pautnya dengan keadaan sekarang, justru yang penting adalah usaha Bengcu untuk mencegah si Raja pedang dan putranya ikut hadir dalam pertemuan puncak di bukit Hong-san-"

"Begitu penting urusan tersebut?" "Yaa menurut pandanganku"

"Bagaimana kalau kupikirkan dulu sebelum diputuskan?"

"Perahu mereka bergerak ke selatan mengikuti arus sungai yang deras, bila nona tak segera ambil keputusan, mungkin kau akan terlambat menyusul mereka."

Sementara pembicaraan berlangsung, perahu telah merapat di tepi pantai sungai. Li Tiong-hui berpaling memandang Siok-bwee dan Hiang-kiok sekejap lalu tanyanya: "Kalian berdua ingin turut aku pulang ke bukit Hong-san?" "Kami berdua akan mengikuti nona kami ke mana pun pergi, biar harus mati juga tak menyesal," jawab siok- bwee cepat.

"Bagus sekali Dengan kehadiran kalian berdua, nona kalian tentu akan lebih terawat sepanjang jalan."

Sambil menghela napas siok-bwee memberi hormat dalam-dalam, katanya: "Terima kasih banyak atas kemurahan hati Li Bengcu"

"Nona Pek pernah lepas budi kepada umat persilatan, sudah sepantasnya bila setiap anggota persilatan ikut memperhatikan keselamatan jiwanya."

Begitu perahu merapat ke darat, Kim- hud totiang segera mendarat duluan sambil serunya: "Bengcu, pinto harus berangkat duluan untuk melaksanakan perintah Anda..."

"Terima kasih totiang"

"Bengcu kelewat serius." Kim- hud lotiang tersenyum, dengan cepat ia bergerak meninggalkan tempat itu, sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Sambil menghela napas Ciu Huang berkata lagi: "Li bengcu, harap kau pertimbangkan kembali usulku tentang menyusul Pangeran pedang dan mencegah ayahnya ikut hadir dalam pertemuan puncak di bukit Hong-san. sekarang aku harus mohon diri lebih dulu." Dengan cepat ia beranjak pergi pula dari situ.

Sepeninggal Ciu Huang, Li Tiong-hui berpaling kearah Hongpo Tiang-hong dan berkata: "Biar aku pulang diiringi Phang cengcu saja, sedang lo-cengcu boleh sampaikan perintahku, minta kakakku beserta para jago lainnya langsung berangkat ke bukit Hong-san"

"Nona Li," sela Phang Thian-hua. "Luka yang diderita Lim Han-kim dan Pek si-hiang sangat parah, mereka harus dibawa dengan kereta kuda, Perlu kujelaskan bahwa perjalanan jauh ini berpengaruh sangat besar terhadap kondisi lukanya, benar aku punya obat-obatan yang hebat, tapi obat-obatan tersebut belum cukup menjamin keselamatan jiwanya."

"Phang cengcu, aku hanya berharap kau bisa pertahankan keselamatan mereka hingga tiba di bukit Hong-san. setibanya di rumah, aku yakin ibuku dapat mengobati luka-luka mereka."

"Bagaimana pun juga, aku berkewajiban memberi keterangan yang sejelasnya lebih dulu, bagaimana keputusannya terserah Bengcu"

Agaknya Li Tiong-hui sudah ambil keputusan, tukasnya: "sekarang juga kita berangkat."

Mereka menempuh perjalanan dalam suasana yang amat sepi, yang terdengar hanya suara roda kereta yang berputar membawa dua orang penderita yang sakit parah.

Untuk menjaga keselamatan jiwa kedua orang itu, sepanjang jalan phang Thian-hua tak berani menyadarkan kedua orang pasiennya, Dengan andalkan obat mestika ramuannya ia mencoba mempertahankan kondisi sakit mereka agar tidak bertambah buruk.

Siok-bwee dan Hiang-kiok mendampingi majikannya dengan perasaan kosong dan bimbang, luka Pek si-hiang yang sangat parah membuat mereka berdua kehilangan kendali, mereka tak memiliki lagi kemampuan untuk mengambil keputusan.

Li Tiong-hui sendiripun jarang bicara sepanjang jalan, tampaknya pikirannya sedang dibebani masalah yang serius.

Hari ini, ketika matahari sudah tenggelam di balik bukit, tibalah rombongan tersebut di bukit Hong-san. Dipimpin Li Tiong-hui sendiri, mereka berjalan menelusuri dua buah tikungan bukit yang terjal.

"Untuk mencapai lembah Ban-siong-kok, kita harus melewati perjalanan yang terjal dan berbahaya, Aku rasa kereta-kereta tersebut terpaksa harus kita tinggalkan di sini..." kata Li Tiong-hui kemudian.

Setelah memandang sekejap siok-bwee dan Hiang- kiok. lanjutnya: "Aku harap nona berdua mau menggendong nona Pek."

"Yaa" tukas Hiang-kiok cepat. "Biar enci siok-bwee menggendong nona kami sedang budak akan membopong Lim siangkong"

Sesungguhnya Li Tiong-hui sedang serba salah, tentu saja ia sungkan menyuruh Phang Thian-hua membopong Lim Han-kim, sedang ia sendiri juga tak bebas membopong pemuda tersebut. Untung saja Hiang-kiok menyediakan diri untuk menggendong Lim Han-kim, maka tanpa banyak bicara lagi serunya: "Bagus sekali kalau begitu, mari kita segera berangkat."

Dari sakunya Phang Thian-hua mengambil keluar sepotong emas dan diberikan kepada kusir kereta, kemudian ia berangkat menyusul di belakang rombongan lainnya.

Ketika mereka selesai melewati sebuah bukit, senja telah menjelang tiba, angin kencang yang menerpa pohon cemara, menimbulkan suara berisik yang memekak telinga.

Li Tiong-hui berpaling memandang sekejap dua orang dayang itu, lalu bisiknya: "Nona berdua baru sembuh dari luka, masih mampu untuk melanjutkan perjalanan?"

"Budak yakin masih sanggup bertahan diri," jawab siok-bwee sambil menyeka peluh yang membasahi jidatnya .

Sambil menunjuk ke arah sebuah lembah hijau di kejauhan sana, Li Tiong-hui menjelaskan: "Lembah di depan itulah lembah Ban-siong-kok. mari kita percepat perjalanan, sebelum malam tiba kita pasti sudah tiba di sana,"

"Nona tak usah menguatirkan kami, teruskan perjalanan dengan cepat, budak percaya masih mampu menyusul"

"Kalau begitu terpaksa harus repotkan kamu berdua." Li Tiong-hui tertawa getir sambil meneruskan perjalanan.

Tatkala tiba di depan lembah Ban-siong-kok. siok- bwee dan Hiang-kiok sudah kepayahan, napas mereka tersengal-sengal.

Lembah Ban-siong-kok adalah sebuah lembah yang berada di balik dua tebing karang yang mengapit sebuah lorong sempit jalan masuk itu lebarnya cuma satu kaki, tapi setelah masuk. jalanan menjadi sangat lebar. Di atas sebuah batu cadas setinggi satu kaki, tertera beberapa huruf dengan tinta berwarna emas, tulisan itu berbunyi: KELUARGA PERSILATAN BUKIT HONG-SAN.

Di sisi tulisan itu tertera dua baris tulisan kecil yang berbunyi: Harap turun dari kuda, lepaskan pedang sebelum masuk ke lembah. Dengan agak sangsi siok- bwee berkata: "Nona, budak berdua menggembol senjata, apa perlu ditinggal di luar lembah?"

"Tidak usah, datang bersama aku tak perlu tinggalkan senjata," jawab Li Tiong-hui seraya masuk ke dalam lembah.

Bukit Hong-san terkenal karena pohon pinusnya yang lebat. Bentuk pohon-pohon tersebut sangat aneh lagi kokoh, ada yang berbentuk manusia, ada berbentuk monyet, ada pula yang berbentuk naga, sungguh indah dan menakjubkan,

Sambil menghela napas Phang Thian-hua berkata: "padahal dalam perkampungan Pit-tim-san-ceng, aku telah menanam pelbagai jenis pohon pinus yang berbentuk aneh dan luar biasa, tapi kalau dibandingkan dengan pohon pinus disini, benar-benar ketinggalan jauh, Aaaai Hari ini, sepasang mataku benar-benar terbuka."

"Di belakang lembah Ban-siong-kok terdapat sebidang kebun yang dinamakan Kebun raya seribu pohon, kebun itu dibina keluarga kami secara turun temurun, disitu ditanam aneka ragam pepohonan dan tumbuhan dari segala penjuru dunia. Ketika masih kecil, aku sering bermain di sana dengan kakakku hingga lupa waktu.

Apabila bencana besar ini dapat kita lewatkan dengan selamat, aku berjanji akan menjamu para jago dari segala penjuru dunia di kebun raya tersebut, agar semua orang dapat ikut menikmati hasil karya keluarga Hong- san dalam membina kebun raya tersebut,"

"Yaaa, hanya cukup mendengar penuturan nona, aku bisa bayangkan betapa hebatnya kebun raya yang dimaksud."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka sudah ratusan kaki menerobos masuk ke dalam lembah, pemandanganpun kembali berubah. Kini di kedua sisi jalan berdiri berjajar pohon pinus yang diatur secara rapi dan teratur hingga mirip dengan lapisan dinding, Di tengah kegelapan malam lamat-lamat kelihatan bayangan bangunan yang berdiri tegak dan anggun.

Di tengah keheningan yang mencekam jagad inilah, tiba-tiba terdengar bunyi desingan anak panah yang melintas menembus angkasa, kian lama suara itu kian menjauh sebelum akhirnya lenyap dari pendengaran.

Sambil tersenyum Li Tiong-hui menerangkan "Keempat pengawal pintu keluarga kami memang nakal dan suka menggoda orang, Agar tidak sampai mengejutkan kalian, harap tunggu sebentar di sini".

Belum selesai ia berkata, terdengar suara auman harimau yang memekakkan telinga bergema datang, disusul berhembusnya angin puyuh yang kencang dan berbau amis.

Dua ekor harimau belang bertubuh besar muncul secara tiba-tiba dari balik pepohonan dan langsung menerkam ke hadapan mereka. "Jangan ganggu tamu-tamu kehormatan-ku" Li Tiong- hui segera menghardik nyaring.

Tampaknya kedua ekor harimau itu pintar dan jinak. setelah menengok Li Tiong-hui sekejap. mereka segera mendekam ditanah sambil mendesis pelan, setelah itu baru putar badan dan berlalu dari situ.

Melihat adegan ini, diam-diam siok-bwee berpikir "Rupanya keempat penjaga pintu yang dia maksudkan adalah harimau- harimau tersebut. Kini yang muncul hanya dua ekor, berarti masih ada dua ekor lagi yang belum muncul..."

Baru saja ingatan tersebut melintas, dari balik pohon di sisi sebelah kanan kembali terdengar suara pekikan keras disusul munculnya dua ekor makhluk raksasa menghadang di tengah jalan.

Dengan perasaan terkejut Hiang-kiok berpikir "Waaah... Dari mana datangnya monyet sebesar ini? betul- betul binatang langka..."

Tampak Li Tiong-hui mengebaskan tangannya memberi tanda sambil berseru keras: "Ayoh pergi dari sini, suruh mereka ambil lampu untuk menyambut kedatangan tamu"

Kedua ekor monyet besar berbulu emas itu mencicit berulang kali, kemudian balik badan dan berlalu.