-->

Pedang Keadilan II Bab 31 : pertarungan Di Atas Perahu

 
Bab 31. pertarungan Di Atas Perahu

sementara itu batu api yang berada di tangan Pek si- hiang sudah terbakar habis, cahaya apipun padam secara tiba-tiba, suasana dalam ruangan perahu itu kembali dicekam dalam kegelapan yang luar biasa. sambil membopong tubuh Lim Han-kim, dengan cepat Li Tiong- hui menggeser tubuhnya lagi berganti keposisi lain

Mendadak terdengar Pek si-hiang membentak keras: "seebun Giok-hiong, kau sudah bersiap sedia?"

"setiap saat aku siap seranganmu"

sementara itu Li Tiong-hui telah berpikir kembali: "semula nona Pek adalah satu-satunya orang yang paling kukagumi dan kuhormati. Tak nyana baru berpisah setengah tahun, wataknya telah berubah secara drastis, seakan-akan dua orang yang berbeda.

Ditinjau dari situasi malam ini, semestinya aku harus biarkan mereka bertarung lebih dulu hingga aku tinggal memungut hasilnya, tapi bila aku harus membiarkan Pek si-hiang terluka di tangan seebun Giok-hiong tanpa berusaha menolong, rasa-rasanya kok berat juga..."

sementara ia masih termenung, tiba-tiba tampak cahaya berkilauan berkelebat lewat, langsung menerjang kearah seebun Giok-hiong.

situasi saat ini benar-benaramat pelik, seebun Giok- hiong yang tinggi hati ternyata menaruh perasaan jeri terhadap Pek si-hiang. sebaliknya Li Tiong-hui justru menaruh rasa simpati dan kasihan kepada Pek si-hiang.

Apa sebabnya Pek si-hiang secara tiba-tiba menantang seebun Giok-hiong untuk berduel? Apa maksud dan tujuannya yang sebenarnya?

Terdengar seebun Giok-hiong berseru dengan nada dingin: "Nona Pek, aku berada di sini"

Rupanya di saat cahaya api berkelebat lewat tadi, secara diam-diam seebun Giok-hiong telah berganti posisi, Kembali terlihat cahaya tajam berkilauan, kali ini dengan cepat meluncur kearah mana seebun Giok-hiong barusan berbicara.

Kali ini seebun Giok-hiong tidak berkelit lagi. Di tengah kegelapan kembali terlihat sekilas cahaya tajam berkilauan langsung menyongsong datangnya cahaya pertama. Traaanngg Diiringi benturan nyaring, tampak percikan bunga api menyebar ke mana-mana, dua bilah senjata telah saling beradu satu dengan lainnya.

Terdengar Pek si-hiang tertawa tergelak sambil berseru: "Nona seebun, aku lupa beritahu kepadamu tadi, sesungguhnya pedang yang kugunakan ini adalah sebilah pedang mestika yang tajamnya luar biasa, ia sanggup mengutungi senjata lain secara mudah, apakah kau menderita kerugian?"

Lebih kurang lima depa kearah sudut ruangan, segera bergema suara dari seebun Giok-hiong: "Apakah kau telah menggunakan pedang usus ikan?"

"Benar"

sekali lagi cahaya tajam berkilauan langsung menerjang kearah seebun Giok-hiong.

Terlihat cahaya tajam berkilauan, serentetan bintang berwarna keperak-perakan menerjang langsung kearah Pek si-hiang.

Di tengah kegelapan yang mencekam seluruh ruangan, berkumandang serangkaian suara gemerincing nyaring yang menusuk pendengaran. Menyusul suara bentrokan nyaring itu, suasana kembali pulih dalam keheningan yang luar biasa.

Agaknya bentrokan yang terjadi kali ini sangat dahsyat dan hebat, tapi belum diketahui siapa menang siapa kalah.

Angin puyuh yang berhembus semakin menggila, Tubuh perahu pun lebih hebat digoncang kian kemari, sebentar naik sebentar turun diiringi pula oleh suara benda-benda yang terjatuh dan hancur.

Dalam hati Li Tiong-hui berpikir ”Jangan-jangan kedua belah pihak sama-sama terluka parah? Kalau tidak, kenapa tak terdengar suara mereka berdua setelah terjadinya bentrokan sengit tadi?"

sementara dia masih berpikir, dari luar geladak kedengaran suara Hiang- kiok berteriak keras: "Nona, dayungnya patah ombak semakin menggila"

Berapa kali Hiang-kiok berteriak memberikan laporannya, tapi Pek si-hiang tidak menjawab juga, maka dayang itu pun tidak berteriak lagi.

Diam-diam Li Tiong-hul membopong tubuh Lim Han- kim, pikirnya: "Tampaknya kedua belah pihak sama-sama sudah menderita kerugian besar dalam pertarungan barusan sehingga untuk beberapa saat kehilangan kemampuannya untuk bertarung kembali. Hiang-kiok serta siok-bwee tidak berpengalaman sama sekali dalam mengemudikan perahu dalam cuaca begini, cepat atau lambat perahu ini pasti akan tenggelam. Kenapa aku tidak angkat kaki sekarang juga? Apa lagi yang harus kutunggu?"

Berpikir sampai di sini diam-diam ia bangkit berdiri, Dengan tangan kanan menggenggam pedang, tangan kiri membopong Lim Han-kim, ia bergerak mendekati pintu ruangan perahu, semua perhatian dan kekuatannya telah dipersiapkan untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak dlinginkan Baru tiba di depan pintu ruangan dan baru saja ia berniat mendorong daun pintunya, mendadak terdengar Pek si-hiang membentak keras: "Berhenti"

Dengan kecepatan tinggi Li Tiong-hui membalikkan badan, meletakkan Lim Han-kim ke lantai dan menyilangkan pedangnya di depan dada siap menghadapi segala kemungkinan-

"Kau ingin kabur?" jengek Pek si-hiang lagi sinis.

Li Tiong-hui tidak langsung menanggapi pertanyaan tersebut, ia balik bertanya: "Nona Pek, baik-baikkah kau?"

"Aku baik sekali"

setelah berhenti sejenak. lanjutnya: "Kau telah mengambil keuntungan yang sangat besar dalam peristiwa malam ini, apa bila kau ingin manfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri, aku rasa pikiranmu itu kelewat sempurna"

"Jadi maksud nona Pek?"

"Tetap bertahan di sini setelah salah seorang di antara kami tewas dalam duel ini, baru kau boleh mengambil keuntungan akhirnya, Tindakanmu untuk kabur dari sini benar-benar merupakan keputusan yang bodoh"

"Benar," sambung seebun Giok-hiong. "Apabila perahu ini sampai karam, nona Li masih punya tugas untuk menemani kami masuk ke dasar sungai dan sama-sama menjadi santapan ikan"

Dari nada pembicaraan kedua orang itu Li Tiong-hui dapat menyimpulkan bahwa kedua orang tersebut meski sudah terluka, luka yang dideritanya tidak terlampau parah. ia sadar bila dirinya tetap bersikeras hendak pergi dari situ, kedua orang jagoan tersebut niscaya akan bergabung untuk menghadapi dirinya.

Dalam keadaan begini terpaksa ia berkata: "Aku hanya ingin melihat situasi di luar geladak sana"

"Lebih baik kau tak usah putar otak lagi" tukas Pek si hiang cepat.

"Yaa, jangan sampai membangkitkan amarah kami berdua" sambung seebun Giok-hiong. "Kalau sampai terjadi begitu, bukan keuntungan yang kau raih, mungkin kau malah akan menghadapi kematian yang lebih cepat"

Diam-diam Li Tiong-hui berpikir "Bila mereka berdua turun tangan bersama menghadapi diriku, rasanya sulit bagiku untuk membendung gempuran itu, bahkan kesempatan untuk hidup pun bakal lenyap. Aku tak boleh bertindak bodoh..."

Berpikir sampai di sini, ia bopong kembali tubuh Lim Han-kim dan balik ke tempatnya semula.

Terdengar seebun Giok-hiong berkata lagi: "Aku rasa kedahsyatan ilmu sakti sembilan iblis hanya begitu-begitu saja, justru ketajaman pedang usus ikanmu itu yang merupakan ganjalan bagiku, sudah banyak senjataku yang terkutung"

"Hmmmm, tampaknya cukup banyak pedang pendek dan pisau belati yang kau bawa?" ejek Pek si-hiang sambil tertawa dingin. "Benar" sahut seebun Giok-hiong tertawa, "Semuanya aku membawa delapan belas buah pedang pendek dan empat bilah pisau belati yang sudah dilumuri racun"

"Meski membawa banyak. tapi apa gunanya? Akhirnya toh tak akan mampu menahan ketajaman pedang usus ikanku, Bila perhitunganku tak keliru, mestinya aku sudah berhasil mengutungi tujuh bilah pedang pendekmu."

"Nona Pek kelewat sungkan, masa kau lupa menghitung sebilah lagi?"

"Selama hidup belum pernah aku bertarung melawan orang lain, Hari ini merupakan hari permulaanku untuk mengumbar napsu membunuhku. sayang, aku harus bertemu dengan kau, seebun Giok-hiong. Rasanya aku patut merasa sayang bagimu"

"Apanya yang patut disayangkan?"

"sebab kau telah melewatkan kesempatan yang sangat baik untuk membunuhku"

"Aaaaah, masa iya?" seru seebun Giok-hiong sambil tertawa.

"Betul Kau tahu kenapa aku ragu-ragu untuk menyerangmu sejak tadi? ini disebabkan aku belum punya pengalaman bertarung dengan orang sebelum kejadian hari ini. seandainya kau melancarkan serangan pada saat itu, mungkin dengan gampang nyawaku dapat kau cabut. sayang sekali kau tidak memiliki keberanian tersebut, kau telah menyia-nyiakan sebuah kesempatan emas yang berharga sekali"

"Aku rasa sekarang pun belum terlambat" "Terlambat sudah, Apa bila kau masih memiliki peluang untuk melakukan hal tersebut, tak mungkin kukatakan masalah ini kepadamu"

seebun Giok-hiong segera tertawa terkekeh-kekeh: "Ha ha ha... nona Pek, bila kau bermaksud menggertak dan menakut-nakuti aku dengan perkataan itu, maka usahamu tersebut hanya akan sia-sia belaka"

"Ada satu hal, pernahkah kau merasakannya?" "soal apa?"

"Jurus serangan yang kupakai untuk menyerangmu tadi, bukankah jurus yang satu lebih ganas dan hebat ketimbang jurus sebelumnya?"

seebun Giok-hiong termenung sambil berpikir sejenak. kemudian katanya sambil manggut-manggut: "Yaaa, rasanya memang begitu."

"Kehebatan ilmu sakti sembilan iblis justru terletak pada pemahaman yang sangat cepat. setiap kali kau lepaskan sebuah tusukan, maka tenaga iblis yang terpancar pun satu bagian lebih menghebat. Hal ini berarti jika kita bertarung berapa puluh jurus lagi, kemenangan mutlak sudah jelas berada di pihakku .. ." setelah berhenti sejenak, kembali Pek si-hiang meneruskan: "Tapi sekarang, kau masih punya satu kesempatan untuk memilih."

"Kesempatan apa? pilihan apa?" kata seebun Giok- hiong tertawa.

"Pilihan antara mati dan hidup" "Coba kau jelaskan lebih terperinci" "Kau menyombongkan diri sebagai pakar ilmu silat yang menguasai aneka ragam kepandaian di dunia ini, beranikah kau untuk mempelajari sejenis ilmu silat dariku?"

"Mempelajari sejenis ilmu silatmu? Apanya yang aneh?"

"Aku hendak mewariskan sejenis ilmu silat kepadamu, Aku hanya minta kau mengulangi ko-koat (teori) tersebut sepuluh kali saja di hadapanku"

"setelah mempelajari ilmu tersebut?"

"Perahu akan segera menepi dan kau boleh tinggalkan tempat ini, bahkan sejak hari ini aku Pek si-hiang tidak akan memusuhi dirimu lagi"

seebun Giok-hiong termenung sambil terpikir berapa saat lamanya, kemudian ia baru menjawab: "syaratmu nampaknya sederhana dan gampang, seandainya syarat tersebut diucapkan orang lain, maka aku seebun Giok- hiong tanpa berpikir panjang segera akan menyanggupi tapi bila ucapan itu keluar dari mulutmu, Pek si-hiang..."

"Kenapa? Tampaknya kau takut sekali kepadaku?" "Takut sih tidak. tapi dalam pandanganku kau adalah

satu-satunya musuh tangguhku, Kedudukanku

berimbang, otomatis aku tak ingin rugi di tanganmu"

"Keadaan macam apa yang kau anggap sebagai tidak menderita rugi?"

"Mula-mula aku harus tahu terlcbih dulu sejenis ilmu silat macam apakah itu, kemudian kau harus melakukannya terlebih dulu di hadapan kami semua" "soal ilmu apakah itu, aku rasa biar kujelaskan juga percuma toh kau tak bakal mengerti. Mengenai aku harus melakukannya terlebih dulu, tentu saja, aku kan mesti memberi contoh kepadamu"

seebun Giok-hiong tertawa dingin, "Hmmmm, hmmmm... aku tidak menggubris ilmu silat ganas macam apa pun yang ingin kau ajarkan kepadaku. Bagiku, asal Pek si-hiang berani melakukannya di depan umum, aku seebun Giok-hiong juga bersedia untuk melakukannya"

"Baik Kita tetapkan dengan ucapanmu itu" sesudah berhenti sejenak. kembali katanya: "Li Tiong-hui, kau bersama seebun Giok-hiong sama-sama merupakan pemimpin umat persilatan dewasa ini. Berapa tahun berikut akan menjadi saat yang paling cemerlang buat kalian berdua untuk malang melintang tanpa tandingan. sayangnya, bila ditambah dengan kehadiranku maka situasi dalam dunia persilatan segera akan mengalami perubahan besar, apalagi jika aku dengan seebun Giok- hiong dari musuh berubah jadi teman, aku yakin kedudukanmu sebagai Bu-lim Bengcu tak akan mampu bertahan selama tiga bulan lagi"

"Nona Pek. apa maksudmu mengancam aku dengan kata-kata itu?"

"Bila kau pun bersedia seperti seebun Giok-hiong, mempelajari sejenis ilmu silat dariku, maka mulai hari ini aku akan mengundurkan diri dari dunia persilatan dan tidak menyusahkan kalian berdua lagi"

Walaupun dalam hal ilmu silat serta kecerdikan Li Tiong-hui masih setingkat di bawah kemampuan seebun Giok-hiong, namun ketegasannya justru setingkat di atas gadis iblis itu, setelah termenung sejenak. Ia pun menyahut "Kalau masalah ini sih sulit bagiku untuk segera mengambil keputusan, beri sedikit waktu kepadaku untuk berpikir dulu sebelum memberikan jawaban."

Pada saat itu dari luar perahu kembali terdengar suara Hiang-kiok berseru: "Nona, kemudi ikut patah, kini perahu kita ibarat kuda yang terlepas kendali, meluncur mengikuti arus sungai dan tak mungkin bisa dikendalikan lagi"

Mendengar laporan tersebut Seebun Giok-hiong segera tertawa terkekeh-kekeh, serunya: "Bagus, bagus sekali. Kelihatannya siapa pun yang bakal unggul dalam pertarungan malam ini, hasilnya tetap sama saja, mati di dasar sungai dan mayatnya untuk umpan ikan, Aaaaai... betapa pun hebatnya ilmu silat yang dimiliki seseorang, tak mungkin ia mampu melawan kekuatan alam yang maha dahsyat"

"Hmmm, sejak semula aku telah memasang rangkaian rantai yang mengelilingi tubuh perahu ini. Kecuali bila perahu ini menumbuk di atas batu karang, sekalipun ombak lebih menggila pun tak nanti kapal ini bakal hancur berantakan"

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Li Tiong-hui, pikirnya: "Lim Han-kim menderita luka dalam yang cukup parah, bahkan sampai sekarang masih tidak sadarkan diri, Apabila perahu ini benar-benar menumbuk batu karang, mungkin kesempatan baginya untuk mempertahankan hidup pun tak ada. Yaaa, kenapa aku tidak manfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk menolong dia?"

Berpikir sampai di situ, diam-diam dia menyalurkan hawa murninya ke dalam telapak tangan dan mulai menguruti jalan darah penting di seluruh badan anak muda tersebut.

Mendadak terdengar Pek Si-hiang menegur dengan suara dingin "Bagaimana Li Tiong-hui, apakah sudah kau pertimbangkan?"

"Aaaah, masa secepat itu?"

"Berapa lama kau butuhkan untuk mempertimbangkan tawaranku ini?"

"Paling tidak sampai nona seebun selesai mempelajari ilmumu itu"

"Aku rasa itu kelewat lama."

"Kemampuanku masih kalah jauh bila dibandingkan kalian berdua, karena itu aku harus memikirkan baik-baik lebih dulu sebelum memberikan jawabannya."

"Nona Li, kenapa sih secara tiba-tiba kau bersikap begitu sungkan?" ejek seebun Giok-hiong mendadak.

"selama ini aku belum pernah bersikap tinggi hati seperti nona seebun, kapan pula aku tak pernah bersikap sungkan kepada orang?"

Tiba-tiba suasana dalam ruang perahu itu dicekam keheningan yang luar biasa, Lamat-lamat semua orang dapat merasakan bagaimana perahu yang mereka tumpangi sedang meluncur mengikuti arus sungai dengan kecepatan tinggi. Hening, sepi... Lebih kurang sepeminuman teh kemudian seebun Giok-hiong kembali memecahkan keheningan, tegurnya: "Nona Li, bagaimana keadaan Lim Han-kim?"

Mendengar pertanyaan itu, dalam hati Li Tiong-hui berpikir: "Kenapa secara tiba-tiba ia menguatirkan keselamatan Lim Han-kim? sebenarnya apa maksud dan tujuannya?"

Berpikir begitu, segera ia menjawab: "Dia belum mati, tapi keadaannya juga belum membaik."

"Heran, kenapa nona Pek begitu tega turun tangan sekeji ini terhadap Lim Han-kim?"

Pek si-hiang tertawa terkekeh-kekeh: "Ha ha ha... apanya yang mengherankan terhadap kalian berdua pun aku sanggup melancarkan serangan yang sama"

Dari luar ruang perahu terdengar lagi suara Hiang-kiok berteriak keras: "Nona, enci siok-bwee kehilangan sebuah jari tangannya, Angin puyuh semakin menggila, kami tak mampu mengobati luka tersebut Bagaimana kalau biarkan dia masuk sejenak untuk merawat lukanya?"

"Huuuh, baru kehilangan sebuah jari tangan sudah ribut, kenapa sih berteriak-teriak macam orang gila?" sahut Pek si-hiang dingin.

Li Tiong-hui yang menyaksikan kejadian ini segera menghela napas panjang, dan berkata: "Nona Pek. kau benar-benar telah berubah. Dulu sikapmu tidak sekasar dan sekejam ini" Bukan menanggapi perkataan itu Pek si-hiang balik bertanya: "Bagaimana dengan keputusanmu? sudah selesai kau pikirkan? Kami berdua sedang menunggumu" setelah termenung sebentar sahut Li Tiong-hui: "Yaa, sudah selesai kupikirkan"

"Jadi kau sudah setuju?"

"Boleh saja aku menyetujuinya, cuma ada satu syarat" "Apa syaratmu? Cepat utarakan"

"Kau segan menghadapi aku serta seebun Giok-hiong dengan andaikan ilmu silat, Hal ini tak lain karena dua sebab, pertama kau tidak memiliki keyakinan untuk berhasil membunuh kami dalam satu gebrakan, dan kedua karena kau menganggap kami bisa mati dalam sekali gebrakan akan terlalu enak bagi kami berdua..."

"Tepat sekali"

"Ditinjau dari kekejaman, kebuasan dan kekejianmu sekarang, hukuman yang kau persiapkan berikut pasti lebih kejam dan mengerikan, berarti pula ilmu silat yang kami harus pelajari itu akan menjadi belenggu tak berujud yang akan mengurangi keleluasaan kami".

"Hmmm, sudah setengah harian kau bicara, belum kau sebutkan apa syaratmu," tukas Pek si-hiang dingin.

"sangat sederhana, kau harus sembuhkan dulu luka yang diderita Lim Han-kim dan biarkan dia pergi dari sini. sepeninggalnya, kita bertiga boleh melanjutkan pertarungan ini dengan cara apa pun hingga sama-sama mampus" "Waaah Nampaknya cinta kasihmu terhadap Lim Han- kim betul-betul amat mendalam dan sudah mendarah daging" olok Pek si-hiang sambil tertawa.

"Apa yang diucapkan nona Li tepat sekali," sambung seebun Giok-hiong pula, "Urusan kita bertiga lebih baik diselesaikan oleh kita bertiga, Lim Han-kim tidak usah mengorbankan diri gara-gara urusan ini"

Pek si-hiang segera tertawa terkekeh-kekeh: "Ha haha...kenapa, kaupun menaruh hati kepadanya?"

"Hmmm Aku tak perduli apa yang kau pikirkan dan apa yang kau ucapkan, pokoknya aku tetap berpendapat bahwa masalah ini tak ada sangkut pautnya dengan Lim Han-kim, jadi tak ada gunanya membiarkan ia tetap berada di sini. Lagipula membebaskan dia pergi tak akan merugikan siapa pun, kenapa kau mesti bersikeras untuk menahannya?"

Pek si-hiang tertawa dingin.

"Hmmm, jika kalian tidak seia sekata dan mengaku sejujurnya, aku justru sengaja akan menahannya di sini," ancamnya.

"Apa yang harus kulakukan sehingga kau bersedia membebaskan dia pergi?” tanya Li Tiong hui.

"Aku minta kalian mengaku sejujurnya, tak boleh berlawanan dengan apa yang terpikir dalam hati"

"Baiklah, kuakui bahwa aku sangat mencintainya, Nah, dia sudah boleh pergi, bukan?"

"Nona seebun, bagaimana dengan kau sendiri?" desak Pek si-hiang sambil tertawa. "Bila kau ingin mendengar, anggap saja aku pun sangat mencintai dirinya" jawab seebun Giok-hiong.

"Tidak bisa, kalau cinta yaa cinta, mana ada anggap saja mencintai... ayoh beri jawaban yang lebih tegas"

"Pek si-hiang" tegur seebun Giok-hiong geram, "sampai detik ini kita belum tentukan siapa bakal hidup siapa bakal mampus, menang kalah masih susah diramalkan. Apalagi kau memojokkan kami terus menerus,jungan salahkan bila aku akan bergabung dengan Li Tiong-hui untuk bersama-sama memusuhi dirimu. Hmmmm Kalau sampai terjadi hal itu, berarti posisi akan berubah, kami berdua akan bersama-sama menghadapi kau seorang"

Pek si-hiang termenung sambil berpikir sejenak, akhirnya dia mengangguk: "Baiklah, kalau toh kalian berdua sudah mengaku, melihat di atas wajah kalian berdua, akan kubiarkan dia pergi dari sini"

Sementara itu hembusan angin topan dan gulungan ombak sudah makin mereda, perahu yang semula oleng kini menjadi tenang kembali, Dari dalam sakunya Pek si- hiang mengambil keluar batu api dan disulutnya sebatang lilin. sambil menatap wajah Li Tiong-hui, katanya dengan senyuman di kulum: "Serahkan padaku, akan kubebaskan dulu urat nadinya yang terluka."

sambil membopong Lim Han-kim, pelan-pelan Li Tiong-hui maju ke depan dan membaringkan pemuda tersebut di hadapan Pek si-hiang.

Dengan cepat Pek si-hiang menempelkan tangan kanannya di atas dada pemuda itu, setelah memandang sekejap Li Tiong-hui dan seebun Giok-hiong, katanya sambil tertawa: "Betulkah kalian berdua amat mencintainya?"

"Apa maksud pertanyaanmu itu?" tegur Li Tiong-hui dengan wajah keren dan serius.

"Apa salahnya kuulangi sekali lagi pertanyaanku?" "Sudah kukatakan semenjak tadi, aku bicara dengan

sejujurnya"

"Seebun Giok-hiong, apakah kau pun mengaku dengan sejujurnya?"

"Benar" seebun Giok-hiong mengakui.

Pek si-hiang segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak: "Ha ha ha... sekarang, asal kukerahkan sedikit saja tenaga dalam yang telah terhimpun, ia akan tewas seketika di tanganku"

"Pek si-hiang, tak nyana kau telah berubah menjadi begitu licik, busuk dan memalukan" umpat Li Tiong-hui marah.

Pek si-hiang kembali tertawa, "Untuk menghadapi musuh, makin licik siasat yang digunakan semakin bagus hasilnya, Apa salahnya bila aku pun memakai akal licik?"

"Pek si-hiang" bentak seebun Giok-hiong sambil tertawa dingin, "Jika kau berani membunuh Lim Han-kim, kau akan sebera merasakan kehebatan tenaga gabunganku dengan Li Tiong-hui"

"Lebih baik kalian duduk dulu dengan tenang" ucap Pek si-hiang sambil tertawa hambar.

Sementara itu seebun Giok-hiong telah menghimpun tenaga dalamnya dan siap melancarkan serangan, kembali dia berkata: "selama ini kau memaki aku, seebun Giok-hiong, sebagai manusia kejam yang tidak berperikemanusiaan, Paling tidak aku adalah jagoan yang mau memegang janjiku sendiri, apa yang telah kuucapkan tak pernah kusesali kembali"

Pek si-hiang tidak banyak bicara, Telapak tangannya yang menempel di atas dada Lim Han-kim mendadak digetarkan dan menekan kuat-kuat, Tak selang berapa saat kemudian terdengar anak muda itu menghembuskan napas panjang.

Waktu itu Li Tiong-hui telah menggenggam pedangnya kencang-kencang siap melancarkan serangan, Asal ia temukan Pek si-hiang hendak mencelakai Lim Han-kim, maka dia pun akan melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga. Begitu pula dengan seebun Giok-hiong, telapak tangan kanannya sudah diangkat siap melepaskan serangan.

Dengan pandangan dingin Pek si-hiang menyapu sekejap wajah kedua orang gadis itu, kemudian katanya sambil tertawa: "Duduk bersila sambil pusatkan seluruh perhatian ke satu titik tertentu"

Jari tangannya kembali menyentil, untuk kedua kalinya Lim Han-kim menghembuskan napas panjang.

Li Tiong-hui yang pertama-tama membuang pedangnya lebih dulu, ia menurut dan segera duduk bersila sambil pusatkan pikiran.

Terpaksa seebun Giok-hiong ikut bersila pula di atas tanah, katanya: "Kami sudah siap mempelajari ilmu iblismu, sekarang kau harus bebaskan Lim Han-kim lebih dulu" "Kenapa mesti gelisah? setelah kalian pelajari ilmuku, belum terlambat untuk membebaskan dia pergi."

"Kau tidak pegang janji dan aku sudah merasakan kecuranganmu itu. Lebih baik sembuhkan dulu lukanya sebelum berbicara lebih jauh," kata Li Tiong-hui dingin.

"Baik, akan kusembuhkan dia lebih dulu." selesai berkata sepasang tangannya segera menyentil beberapa kali di atas dada Lim Han-kim, tak lama kemudian anak muda itu membuka matanya kembali.

"Pek si-hiang," seebun Giok-hiong berkata kemudian. "Bagaimana setelah kami turuti kemauanmu dengan melatih ilmu tersebut sepuluh kali?"

"Aku segera akan mengundurkan diri dari dunia persilatan dan tidak mencampuri urusan kalian lagi."

"Hmmm, aku takut kau bakal ingkar janji." "Jadi kau minta aku bersumpah?"

"Paling baik memang bersumpah dulu, paling tidak akan menambah rasa percaya kami."

"Aku, Pek si-hiang, apabila tidak mengundurkan diri dari dunia persilatan setelah kalian mengikuti petunjukku dengan melatih ilmuku sebanyak sepuluh kali, maka... maka..."

Mendadak ia tutup mulut.

"Kenapa? Tidak berani angkat sumpah?" ejek seebun Giok-hiong.

"Dia pasti takut bersumpah karena punya rencana busuk lainnya," sambung Li Tiong-hui. " Lebih baik kita tak usah menuruti kemauannya, mari kita bertarung habis-habisan, biar mati pun mati dengan gagah" seraya berkata ia siapkan kembali pedangnya,

"Tunggu sebentar, ada sepatah dua patah kata perlu kuterangkan lebih dulu sebelum aku angkat sumpah."

"Apa yang ingin kau katakan?"

"Seandainya ada seorang di antara kalian berdua yang mengundangku untuk terjun kembali ke dalam dunia persilatan, bagaimana pula keputusannya?"

seebun Giok-hiong melirik Li Tiong-hui sekejap sambil berpikir: "seandainya benar-benar ada orang hendak mengundangmu, orang itu pasti bukan aku"

Sementara Li Tiong-hui segera menjawab: "Tentu saja lain ceritanya bila ada seorang di antara kami yang mengundangmu."

"selain salah seorang di antara kalian berdua, misalnya orang lain yang mengundang pun belum tentu aku mau," kata Pek si-hiang.

"Baik, kalau begitu kita berjanji dengan ucapan tersebut, biar sampai mati pun tak nanti aku akan memohon kepada nona Pek lagi"

sepasang tangan Pek Si-hiang kembali menyentil berapa kali di tubuh Lim Han-kim, tiba-tiba saja anak muda itu melompat bangun.

Terdengar Pek si-hiang bersumpah: "Bila kedua orang ini selesai melatih ilmu iblisku sebanyak sepuluh kali dan Pek si-hiang tidak bersedia mengundurkan diri dari dunia persilatan, biar langit mengutuk dan membasmiku" Kemudian setelah berhenti sejenak, ia mulai membacakan teori ilmu iblisnya: " Himpun tenaga murni ke atas kepala, dengan perasaan membawa hawa melintas nadi."

"Aku tak percaya di dunia ini benar-benar terdapat ilmu silat yang bisa membunuh manusia" seru seebun Giok-hiong.

"Tentu saja tak akan mematikan" sahut Pek si-hiang tertawa. "Buktinya dalam setengah tahun saja aku, Pek si-hiang, dari seorang gadis lemah yang tidak mengerti ilmu silat, kini sudah berubah sehebat ini. semuanya tak lain berkat melatih ilmu sakti ini, jadi kalian berdua boleh mengikuti petunjukku untuk melatih ilmu ini"

Sementara berbicara dia mengangkat tangan kirinya sambil melakukan gerakan, tambahnya: "silakan kalian berdua menirukan gerakanku."

selesai melakukan satu gerakan, kembali ia berkata sambil tersenyum: "Jurus ini disebut senyum Manis Bunga Layu, Tangan kanan diluruskan di depan dada, kelima jari tangan setengah ditekuk setengah mencengkeram..."

Terpaksa seebun Giok-hiong dan Li Tiong-hui mengikuti gerakan tersebut dan melakukannya.

Tampak Pek si-hiang menarik balik tangan kirinya sambil menekan ke arah dada, sementara badannya pelan-pelan bergerak maju ke muka, katanya lagi sambil tertawa: "Setiap gerakan ilmu silatku pasti memiliki nama yang indah dan menawan, jurus kedua ini disebut Gadis Ayu Mempersembahkan Hati." seebun Giok-hiong serta Li Tiong-hui serentak merasa bahwa hawa murni yang terhimpun dalam nadi Tok-meh secara tiba-tiba menyimpang dari jalur dan menerjang ke arah dada. Terjangan itu datangnya begitu cepat, bahkan maha dahsyat hingga sukar dibendung. Kenyataan ini kontan saja membuat kedua orang gadis ini berkerut kening.

Pek Si-hiang sama sekali tidak memberi kesempatan kepada kedua orang ini untuk berpikir, dengan cepat ia sudah berganti dengan jurus lain sambil menjelaakan: "cepat perhatikan gerakan ini Angkat tangan kanan ke atas dengan tangan kiri menyanggah sikut tangan kanan, posisi badan pelan-pelan bergeser ke sisi kanan, Gerakan ini dinamakan Menunggu Gundik Di Sisi Tiang,"

Dalam keadaan hawa murni menerjang keluar dari jalurnya, keadaan Seebun Giok-hiong dan Li Tiong-hui pada saat itu belum stabil kembali, tanpa sadar mereka mengikuti petunjuk tersebut dan menirukan gerakannya. seketika itu juga hawa murni yang menerjang ke arah dadanya itu tiba-tiba menyebar diri menembusi nadi- nadi penting di sekujur badannya, penyebaran kali ini berlangsung amat lambat, seakan-akan ada seakan-akan pula tak ada.

Mendadak Pek Si-hiang mengangkat sepasang tangannya menempel di atas kepala, lalu pelan-pelan tangan itu digerakkan dari atas ubun-ubun menuju ke belakang tengkuk. katanya lagi: "Jurus ini dinamakan Ratu Kui-hui Terluka Hati"

Sementara itu Li Tiong-hui serta seebun Giok-hiong sudah hampir tak dapat mengendalikan lagi aliran hawa murninya, di bawah petunjuk Pek Si-hiang, tenaga dalam mereka menyebar ke seluruh nadi di tubuhnya hingga susah dikontrol lagi.

Pek si-hiang tersenyum, sepasang tangannya didorong pelan ke depan sambil berseru:

"Jurus ini dinamakan Mengantar Kekasih seribu Li." Menyusul kemudian paras mukanya berubah jadi serius, lanjutnya: "Jurus yang terakhir dinamakan pintu Neraka Terbentang Lebar."

Tiba-tiba ia menarik kembali sepasang tangannya lalu diputar ke samping sambil menolak keluar, pelan-pelan ia bangkit berdiri, Ternyata seebun Giok-hiong serta Li Tiong-hui mengikuti juga gerakan tersebut dan bangkit berdiri pula. "Nah, pelajaran telah selesai, Bagaimana perasaan kalian berdua?" tanya Pek si-hiang.

"Hmmm, aku rasa cuma begitu saja..." sahut seebun Giok-hiong dingin

"Ini baru satu kali. Apabila kalian berdua bisa melakukan sembilan kali lagi, aku Pek Si-hiang segera akan mengundurkan diri dari dunia persilatan."

"Hmmm, kenapa tidak berani?"

Mendadak terdengar Lim Han-kim berteriak keras: "Kalian berdua jangan mau menuruti kata-katanya, kalian akan termakan oleh siasat busuknya"

sayang teriakan tersebut sudah terlambat, kedua orang gadis itu sudah mengulangi kembali untuk kedua kalinya. Begitu ilmu iblis ini diulangi untuk kedua kalinya, seebun Giok-hiong dan Li Tiong-hui segera merasakan hawa murninya bergolak seakan-akan ada ribuan ekor kuda liar yang lari bersama dalam tubuh mereka, Gerakan itu tak mampu dihentikan di tengah jalan.

Mereka baru dapat berhenti berlatih ketika sudah mencapai jurus penghabisan.

Pek si-hiang tersenyum, serunya cepat: "Latihan kedua telah selesai, berarti bila kalian lakukan delapan kali lagi, maka kemenangan mutlak berada di pihak kalian berdua"

"Nona berdua, kalian jangan termakan tipu muslihatnya" teriak Lim Han-kim gelisah. "llmu sembilan iblisnya ini merupakan sejenis ilmu jahat yang berbahaya sekali, Bila kalian melatihnya, maka selama hidup kalian bakal ketagihan dan tak bisa menghentikannya lagi, selama hidup kalian akan tergantung dengan ilmu itu"

Pek si-hiang cuma tertawa dingin saja, ia tidak menggubris ulah Lim Han-kim ini, meski anak muda tersebut telah membocorkan rahasianya.

"saudara Lim," seebun Giok-hiong segera berkata, "Bila Pek si-hiang mampu untuk melatihnya, kenapa kami tak boleh melakukannya juga?"

"Aku tidak begitu tahu tentang keadaan yang lebih terperinci tapi aku tahu dengan pasti bahwa ilmu tersebut pantang dipelajari. Aku harap kalian berdua jangan termakan siasatnya, jangan sampai gara-gara ingin mengunggulinya, kalian malah terjebak dalam perangkapnya itu" seebun Giok-hiong merasakan hawa murni dalam tubuhnya yang menerjang ke seluruh penjuru badan sukar dikendalikan lagi, bahkan nadi-nadi yang di hari biasa sukar dicapai pun kini tertembus oleh hawa murninya yang lepas kontrol itu. Kenyataan ini tentu saja membuat hatinya amat terkesiap, pikirnya: "sebenarnya apa yang telah terjadi? Masa hanya melatih ilmu tersebut dua kali saja lantas terjadi gejala seperti ini?"

Ia mencoba menengok ke arah Li Tiong-hui. Tampak gadis itu sedang mengerutkan dahinya kencang-kencang. jelas penderitaan yang dialaminya sedikit pun tidak berada di bawah penderitaan sendiri.

Terdengar Pek si-hiang berkata lagi: "Bila kalian berdua merasakan tubuh kalian tak enak. lebih baik berlatihlah kembali sesuai dengan petunjukku, jangan biarkan hawa murni yang lepas kontrol itu menembusi nadi- nadi penting dan melukai isi perut kalian," 

Agaknya pada mulanya Li Tiong-hui masih mencoba untuk bertahan, tapi lama kelamaan ia tak sanggup lagi mempertahankan diri sehingga akhirnya mengikuti petunjuk Pek si-hiang dengan melatih kembali ilmu iblis ajarannya itu.

sebagaimana keadaan Li Tiong-hui, keadaan seebun Giok-hiong juga tak jauh berbeda. Pada akhirnya dia tak tahan untuk melatih ulang ajaran dari Pek si hiang itu.

Menyaksikan keadaan tersebut, sambil tertawa Pek si- hiang memandang Lim Han-kim sekejap. lalu ejeknya: "Bagaimana? sudah kau saksikan sendiri bukan?"

"Mereka berdua tak mampu menahan diri lagi." Lim Han-kim tertawa dingin, tiba-tiba ia berjalan menghampiri Li Tiong-hui, pemuda ini sadar, untuk mencegah orang itu terjerumus dalam keadaan tak diinginkan maka hanya ada satu jalan yang bisa ditempuhnya saat itu, yaitu menotok dulu jalan darah mereka berdua.

"Berhenti" hardik Pek si-hiang dengan marah. "Ada apa?" Lim Han-kim berhenti.

"Bila kau ingin mengusik kedua orang itu, berarti kau sudah bosan hidup, ingin mencari jalan kematian sendiri"

Lim Han-kim segera berpikir "Bila tidak kutolong mereka berdua saat ini, mungkin aku tak akan peroleh kesempatan lagi."

Berpikir begitu, sembari mempersiapkan diri untuk menghadapi sergapan maut dari Pek si-hiang, dia maju selangkah ke depan lalu dengan cepat tangan kirinya diayunkan ke muka menotok jalan darah di Li Tiong-hui.

"Kurang ajar" umpat Pek si-hiang sangat gusar, "Coba kau rasakan dulu kehebatan peluru pencabut nyawaku"

Buru-buru Lim Han-kim menghindar ke samping berusaha berkelit dari ancaman tersebut, Ketika berpaling, ternyata tidak nampak ada sesuatu benda yang datang mengancam, Keningnya segera berkerut, tapi belum sempat dia menegur, tiba-tiba terasa segulung angin kuat telah menerjang tiba.

Lim Han-kim sama sekali tidak menduga akan datangnya sergapan ini, Termakan oleh gempuran itu, badannya sempoyongan dan mundur sejauh empat- lima langkah sebelum berhasil mempertahankan diri. Berhenti memukul mundur Lim Han-kim dengan serangannya, dengan ketus Pek si-hiang berkata: "Hmmmm Hanya andalkan sedikit kepandaian silatmu itu, kau sudah ingin menolong nyawa mereka berdua? Betul- betul manusia tak tahu diri"

Diam-diam Lim Han-kim mencoba mengatur pernapasan untuk memeriksa apakah isi perutnya terluka parah. Ternyata ia tidak menderita luka, bahkan masih memiliki kemampuan untuk melanjutkan pertempuran, karena itu tegurnya: "Dendam sakit hati apa terjalin antara kau dengan Li Tiong-hui serta seebun Giok-hiong? Kenapa kau bersikap begitu kasar dan kejam terhadap mereka?"

"Mereka berdua sama-sama adalah musuh cintaku" sahut Pek si-hiang sambil tertawa, "Bila mereka berdua sudah mati terbunuh, maka mau tak mau kau harus kawin denganku"

"Hmmm, walau semua wanita di dunia ini sudah pada mampus pun tak nanti aku akan mengawinimu"

"Kenapa? Bagian mana ku yang kalah dengan mereka?"

"Kau kejam dan tak berperikemanusiaan, kekejianmu ibarat ular yang amat berbisa, Meski kecantikan wajahmu amat menawan hati, tak nanti ada orang berani mengawinimu"

"Apa kau bilang? Kau anggap selain kawin dengan dirimu, maka di dunia ini sudah tak ada pria lain yang mau kawin denganku?" "Mungkin saja masih beribu-ribu bahkan berjuta-juta pria di dunia ini yang bersedia kawin denganmu, tapi aku. Lim Han-kim tak akan melakukannya"

Pelan-pelan Pek si-hiang bangkit berdiri. tersenyum manis dan berjalan menghampin Lim Han-kim, bisiknya lembut: "Masa kau lupa dengan sumpah setia kita tempo hari? Bukankah kau telah berjanji akan mengawini aku?"

Di bawah cahaya lilin tampak wajahnya yang cantik dipenuhi oleh pancaran sinar cinta, sepasang matanya yang bulat besar bersinar bening dan penuh kemesraan. Agaknya pada saat itu Pek si-hiang telah pulih kembali dalam kelemah lembutannya semula, langkahnya nampak lamban seakan akan ada gankalan dalam hatinya.

Cukup lama Lim Han-kim termangu mengawasi gadis di hadapannya itu, sampai lama kemudian ia baru berbisik: "Nona Pek"

"Ada apa?" Pek si-hiang menghela napas pelan "Apakah kesadaranmu sedang jernih saat ini?" "Kesadaranku selalu jernih"

"Kalau begitu cepat bebaskan mereka berdua"

sinar mata Pek si-hiang yang lembut beralih ke wajah seebun Giok-hiong, setelah menatapnya sekejap. pelan- pelan ia berjalan menghampiri gadis tersebut

Tapi sebelum mencapai sisi tubuh seebun Giok-hiong, mendadak tangannya menekan ke arah perut sendiri lalu pelan-pelan berjongkok. Buru-buru Lim Han-kim menghampiri gadis itu dengan langkah lebar, tegurnya: "Kenapa kau nona Pek?"

"Aku sangat baik" jawab Pek si-hiang sambil mendorong anak muda itu ke belakang, Ketika sorot mata Lim Han-kim bentrok dengan sinar mata Pek Si- hiang, seketika itu juga anak muda tersebut tertegun dibuatnya.

Ternyata sinar mata Pek si- hiang yang semula lembut dan penuh perasaan cinta itu kini sudah berubah lagi menjadi cahaya keji, buas dan licik, wajahnya pun berubah jadi dingin dan kaku sementara selapis hawa napsu membunuh menghiasi wajahnya.

"Nona Pek" buru-buru Lim Han-kim menegur. "Ada apa?" tukas si nona ketus.

"Bukankah kau telah berjanji akan membebaskan mereka berdua? Kenapa berubah pikiran?"

Pek si-hiang pejamkan sepasang matanya rapat-rapat sambil berdiri serius, ia tidak menanggapi pertanyaan dari anak muda tersebut.

Melihat gelagat ini dengan perasaan keheranan Lim Han-kim berpikir "Kenapa sih orang ini? Kenapa sikapnya sebentar dingin, sebentar hangat, sebentar gembira, sebentar gusar?"

Ketika mencoba mengamati lebih seksama, terlihat olehnya napas Pek si-haing tersengal-sengal, tampaknya ia sedang mengatur napas untuk mengendalikan gejolak perasaan yang terjadi dalam dadanya.