Pedang Keadilan II Bab 25 : Mengirim suara Menolong sahabat

 
Bab 25. Mengirim suara Menolong sahabat

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, mendadak terdengar suara tertawa dingin berkumandang keluar dari balik kereta kuda itu, disusul seseorang berseru: "Hanya sekian banyak jago yang hadir?"

Tirai direbak. pelan-pelan muncullah seorang gadis berbaju hijau yang menyoren pedang di punggungnya. Gerak-geriknya tenang, santai dan indah menawan, seolah-olah kejadian di sekelilingnya bukan suatu masalah yang serius baginya.

Melihat kemunculan nona berbaju hijau itu, kembali Lim Han-kim berpikir: "Rasa-rasanya budak ini mirip sekali dengan siau-cui, dayang kesayangan seebun Giok- hiong."

Antara dia dengan siau-cui boleh dibilang hanya bertemu sekilas wajah, sehingga dengan sendirinya ia kurang begitu kenal dengan raut wajah gadis tersebut.

Dengan kelima jari tangannya yang lentik pelan-pelan gadis itu menggenggam gagang pedangnya, Mendadak pedang dihunus dari sarungnya dan dengan cepat ia membuat satu gerakan melingkar di hadapan tubuhnya. Di antara belasan cahaya berwarna keperak-perakan, terdengar suara desingan angin tajam yang amat memekikkan telinga.

Bersama dengan sirnanya cahaya perak itu, tahu-tahu dalam arena sudah bertambah dengan empat gadis berbaju ringkas warna hitam yang masing-masing menghunus sebilah pedang, saat itu mereka berdiri berjajar di belakang nona berbaju hijau itu.

Perubahan yang terjadi begitu banyak ini nyatanya hanya berlangsung dalam sekejap mata, Kedua belah pihak sama-sama sudah meloloskan senjata mereka, tampaknya suatu pertempuran sengit segera akan terjadi.

Terdengar gadis berbaju hijau itu mengejek sambil tertawa dingini "Kalian masih punya berapa orang lagi, kenapa tidak suruh mereka maju bersama?"

Lelaki bergolok yang berdiri di sudut sebelah timur segera menyahut: "Aku adalah si golok terbang Toan Peng, boleh kutahu siapa nona?"

"Kau adalah pentolannya kawanan gerombolan ini?" "Atas perintah Bengcu, terpaksa aku harus memangku

jabatan ini"

Nona berbaju hijau itu tertawa dingin, "Hmmmm, siapa yang kesudian banyak baCot denganmu?" setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan "Namaku adalah Cui Toa-nio"

"Cui Toa-nio... Cui Toa-nio... aaah, tidak betul, tidak betul, Rupanya kau sedang mengumpat orang"

Dalam saat itu Lim Han- kim sedang berpikir: "Ternyata dugaanku betul, dia memang nona siau-cui . .

. Hmmmm, nampaknya binal amat budak ini." Terdengar siau-cui menjawab: "Terserahlah apa maumu"

Mendadak pergelangan tangannya digetarkan secepat petir pedangnya menusuk ke sebelah kiri.

Terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati bergema memecahkan keheningan seorang lelaki berbaju hitam yang berdiri diposisi kiri terlempar mundur sejauh dua langkah dan roboh terjengkang ke atas tanah. Timbul perasaan bergidik dalam hati kecil Lim Han-kim sesudah menyaksikan adegan ini, pikirnya: "Benar-benar sebuah serangan yang keji dan buas. sedikit pun tidak berada di bawah kemampuan seebun Giok-hiong.

Malahan dalam soal kekejaman, rasanya dia masih jauh melampaui majikannya."

Kontan saja Toan Peng berkaok-kaok penuh amarah setelah menjumpai seorang rekannya roboh sebagai korban serangan lawan, umpatnya: "Budak busuk, budak sialan. Kau betul-betul kejam, buas dan tidak berperikemanusiaan-

"Kalian sembunyikan banyak jago dalam dusun terpencil ini, siapkan perangkap busuk untuk menjebakku, apakah perbuatan semacam ini bisa dihitung sebagai perbuatan orang gagah?"

Toan Peng tidak mau banyak berdebat, golok tipisnya segera diangkat ke udara dan diputar satu kali sebagai tanda, teriaknya keras-keras: "Atas perintah Bengcu, dalam menghadapi orang-orang partai bunga bwee, kita tak perlu berbicara lagi soal peraturan yang berlaku dalam dunia persilatan-

Dengan jurus Memenggal Awan Memotong Bukit, golok tipisnya langsung membabat pinggang siau-cui dengan ganas.

Siau-cui putar pedangnya dengan jurus Naik Naga Menunggang Angin, secara jitu dan manis dia giring golok tipis Toan Peng itu ke samping, lalu meneruskan gerakannya ini. permainan pedangnya tiba-tiba berubah dan langsung menembus ke arah atas. Dari jurus Naik Naga Menunggang Angin- ia segera mengubah diri jadi gerakan serat Emas Melilit Tangan, Walau perubahan tersebut tidak terhitung sesuatu hal yang aneh, namun kemampuannya untuk merangkai dua jurus yang berbeda sifat menjadi satu rangkaian yang bertautan betul-betul mengagumkan sulit bagi musuhnya untuk menghindarkan diri

Dalam posisi goloknya tergiring keluar dari arena pertarungan, sulit rasanya buat Toan Peng untuk menarik kembali senjata tersebut dalam waktu singkat, Dalam keadaan tergopoh-gopoh dan kritis, secepat kilat ia rendahkan pergelangan tangannya ke bawah lalu berkelit ke belakang.

Cepat nian gerakan pedang siau-cui, serasa cahaya tajam terkelebat lewat, tahu-tahu pergelangan tangan kanan Toan Peng sudah terbabat hingga robek besar.

Begitu berhasil melukai pergelangan tangan kanan lawan, siau-cui tidak bermaksud mengejar lebih lanjut, sambil mundur dua langkah bentaknya keras-keras: "Tahan Lebih baik kalian saksikan dulu apa yang dialami pentolan kalian ini sebelum melancarkan serangan"

Perkataan itu diucapkan dengan suara tinggi melengking hingga amat menusuk pendengaran. Kawanan lelaki berbaju hitam di empat penjuru yang sebetulnya sudah mulai bergerak akan melancarkan serangan, kini ter- henyak dan membatalkan niatnya setelah mendengar jerit lengking dari siau-cui ini.

Ketika semua orang mengalihkan perhatiannya ke tengah arena, terlihat golok tipis milik Toan Peng sudah terkulai lemas ke bawah, wajahnya diliputi rasa kaget dan ngeri yang luar biasa, malahan sekujur badannya masih gemetar keras.

Waktu itu awan hitam di udara telah buyar, di bawah sorotan cahaya bintang suasana di seputar sana lamat- lamat masih dapat terlihat dengan jelas.

Lim Han-kim yang menyaksikan kejadian ini merasa sangat keheranan, pikirnya: "Toan Peng adalah seorang lelaki gagah yang berjiwa besar dan ksatria. Bacokan pedang siau-cui barusan paling cuma melukai sedikit kulit badannya, tak mungkin gara-gara urusan ini lantas semangatnya jadi mengendor macam begitu."

Mendadak terdengar siau-cui berkata dengan suara dingin "llmu pedang maha sakti daripartai bunga bwee bukan kepandaian yang bisa ditandingi sembarangan orang..."

Belum habis ucapan tersebut diutarakan, tiba-tiba terdengar Toan Peng membentak keras, sembari memutar golok tipisnya ia menerjang ke luar arena.

Mimpi pun para jago tidak menyangka kalau pemimpinnya akan melakukan perbuatan seperti itu. Termakan serangan goloknya itu, dua lelaki segera roboh terluka.

Dalam keadaan begini terpaksa kawanan jago lainnya harus menyingkir ke samping untuk memberi-jalan lewat.

Begitu berhasil menerjang keluar dari kurungan para jago, Toan Peng segera melarikan diri terbirit-birit.

sambil tertawa terkekeh-kekeh siau-cui berseru: "Nah, kalian sudah menyaksikan sendiri bukan?" Dari tempat yang agak jauh berkumandang datang suara jeritan lengking dari Toan Peng yang memilukan hati, Dalam keheningan malam yang mencekam, jeritan itu kedengaran amat menggidikkan hati.

"Bagaimana? sudah kalian dengar suara-nya?" kembali siau-cui menjengek dingin.

Para jago yang hadir di sana hanya terbungkam dalam seribu basa, tak seorang pun memberi tanggapan-

setelah tertawa hambar kembali siau-cui berkata: "sudah terlalu jauh dia melarikan diri sehingga sulit bagi kalian untuk menyaksikan saat kematiannya yang amat mengenaskan- semestinya saat itu merupakan saat penderitaannya yang paling mengerikan-.."

setelah berhenti sejenak, lanjutnya lebih jauh: "Setiap korban yang terluka oleh sambaran pedang orang-orang perguruan bunga bwee akan mengalami nasib setragis itu"

Melihat semua kejadian itu, Lim Han-kim berpikir "Sekalipun bacokan pedang tadi berhasil mengutungi separuh bagian pergelangan tangan Toan Peng, belum tentu-jalan darah pentingnya ikut terluka, Tapi heran... kenapa ia menunjukkan sikap kalap macam orang tak waras pikirannya?"

sementara itu siau-cui telah persiapkan kembali pedangnya sambil menantang: "Ayoh, siapa lagi yang tak percaya dan ingin membuktikan sendiri?"

Jeritan ngeri dari Toan Peng yang menyayat hati ditambah gertak sambal dari siau-cui benar-benar menciutkan hati kawanan jago yang hadir di sekeliling tempat itu, untuk sesaat tak seorang pun di antara mereka berani bicara.

Lim Han-kim kembali berpikir "sayang sekali, meski Li Tiong-hui sudah mempersiapkan cukup banyak jago di tempat ini, namun tak seorang pun merupakan pentolan yang bisa diandalkan selain Toan Peng tersebut. Kini ia sudah terluka parah dan tiada orang kedua sanggup menggantikan kedudukannya, betul-betul patut disayangkan sekali..."

sementara dia masih termenung, dari kejauhan sana berkumandang datang suara tertawa panjang seseorang disusul seruan orangnya: "orang-orang Bwee-hoa-bun memang nyata kekejamannya, Tak disangka kalian telah membubuhkan racun keji pada ujung pedang"

Walaupun hanya beberapa patah kata yang singkat, namun sudah membongkar semua kebohongan dan kelicikan siau-cui.

Lim Han- kim segera merasa amat kenal dengan suara tersebut, Ketika berpaling, ia saksikan dua sosok bayangan manusia sedang bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi, mereka tak lain adalah Li Bun-yang serta Hansi-kong.

"Hmmm..." siau-cui segera tertawa dingin, " Kukira siapa yang datang, rupanya kau... Li Bun-yang, Li siangkong"

setelah menyapu sekejap kawanan jago yang berada di seputar arena dengan sorot mata yang tajam, kembali ia melanjutkan "Benar, aku memang sudah membubuhi racun di ujung pedangku, karena itu barang siapa terluka oleh sabetan pedang ini, jangan harap ia bisa hidup di dunia ini"

sementara itu Li Bun-yang sudah melewati para jago dan menghampiri ke hadapan siau-cui, katanya lagi sambil tertawa dingin: "Aku ingin sekali mencoba ilmu pedang nona yang beracun itu"

Dari balik bahunya pemuda itu meloloskan senjata kipasnya yang lalu dipentang lebar,

sementara tangan kanannya merogoh keluar sebilah pedang pendek dari sakunya, lalu kedua macam senjata itu disilangkan di depan dada siap menantikan datangnya serangan.

Ternyata hasil pengamatannya secara diam-diam memberitahu kepadanya bahwa kawanan jago di situ sudah dibuat keder oleh keberhasilan siau-cui dalam melukai lawannya, ini berarti bila ia tidak turun tangan sendiri niscaya semangat tempur mereka akan runtuh. 

Dengan suara dingin siau-cui menjawab: "sudah cukup lama kudengar akan kehebatan ilmu silat keluarga Hong- san, beruntung sekali aku dapat menjajalnya hari ini" sembari bicara, secepat kilat ia lancarkan sebuah tusukan pedang ke depan.

Li Bun-yang memang sudah siap sedia sejak tadi, Kipas di tangan kirinya segera dikebaskan membentuk selapis bayang-bayang untuk melindungi seluruh tubuhnya, sementara itu pedang pendek di tangan kanannya dengan- jurus "selaksa bunga menyembur benang sari" membentuk bertitik-titik cahaya tajam di balik bayangan kipas, langsung menyergap tubuh siau- cui.

jurus serangan yang dipergunakan ini merupakan jurus ciptaan keluarga Hong-san, selain hebatjuga sukar untuk dibendung.

Betul juga, Termakan oleh serangan balik tersebut siau-cui dipaksa untuk mundur dua langkah dari posisi semula.

"inilah salah satu jurus dari ilmu pedang keluarga Hong-san, bagaimana pendapatmu nona?" seru Li Bun- yang dengan suara keras.

Melihat keberhasilan Li Bun-yang mendesak mundur musuhnya dalam serangannya yang pertama, para jago segera merasa semangatnya bangkit kembali. serentak mereka menggerakkan senjata masing-masing dan siap melakukan pengeroyokan.

Dengan penuh amarah siau-cui berteriak: "Hmmm, tak lebih cuma segitu.." sambil menggetarkan pedangnya, la menerjang maju lebih ke depan. Kali ini ia tak berani memandang enteng musuhnya lagi, pedangnya diputar bagaikan roda. Di antara kilatan cahaya yang menyambar-nyambar, ujung pedangnya langsung mengancam bagian mematikan di tubuh Li Bun-yang.

sebaliknya, jago muda dari keluarga Hong-san ini cukup sadar akan kehebatan ilmu pedang perguruan bunga bwee itulah sebabnya ia keluarkan ilmu simpanannya berupa serangan gabungan antara kipas dan pedang. Pada saat itu keempat gadis berbaju hitam yang berjajar di belakang siau-cui telah membentuk sebuah barisan setengah lingkaran yang membentang di belakang siau-cui untuk melindungi sayap kiri dan kanannya.

Empat puluh gebrakan sudah lewat, namun posisi Li Bun-yang serta siau-cui tetap berimbang, tak ada yang kalah tak ada yang menang, Kalau siau-cui mengambil posisi menyerang dan mencecar habis-habisan, maka selama ini Li Bun-yang justru mengambil posisi bertahan.

sebenarnya para jago lain yang berada di sekeliling arena sudah siap untuk ikut terjun ke arena pertarungan, tapi melihat kedua orang itu sedang terlibat dalam pertarungan yang sengit, hingga sulit untuk turut menimbrung, maka mereka pun hanya berpeluk tangan belaka.

Berbicara tentang jurus pedang dari perguruan bunga bwee ini, sesungguhnya ilmu pedang mereka mengutamakan serangan yang ganas, buas, dan keji untuk mematikan lawannya, teramat sukar untuk ditangkis apalagi dihindari.

Namun sayang, musuh yang dihadapinya kali ini adalah keturunan dari keluarga Hong-san yang memiliki kepandaian maha sakti, hingga dengan begitu semua keganasan jurus pedang itu pun menjadi mentah dan tak berfungsi sebagaimana mestinya.

Pada saat itu Lim Han-kim secara diam-diam sudah menyusup keluar dari rumah gubuk itu, melompat naik ke atas pohon dan mengikuti jalannya pertarungan itu dari atas. sekilas pandang posisi siau-cui seakan-akan berada di atas angin, jurus serangannya berhasil mengurung musuhnya dan mencecarnya habis-habisan, tapi lama kelamaan ciri khas kehebatan ilmu silat keluarga Hong- san pun semakin kentara.

Perlu diketahui setiap perguruan maupun partai memiliki aliran ilmu silat yang tertentu dan pasti. Ada yang menganut aliran keras ada pula yang menganut aliran lunak, sekalicun tenaga dalam seseorang amat sempurna sehingga bisa menggabungkan aliran keras dan lunak. namun begitu ia bertarung, maka aliran yang dianutnya semula akan lebih dominan dan kentara.

Namun aliran ilmu silat dari keluarga Hong-san ini amat berbeda, Di antara aliran yang keras terkandung unsur lembut. Kadang- kala Li Bun-yang tampak keteter hebat oleh serangan siau-cui yang bertubi-tubi, tapi tiga sampai lima jurus kemudian ia berhasil mengembalikan posisinya dalam keadaan semula dan tetap berimbang.

Menyaksikan peristiwa ini, diam-diam Lim Han-kim menghela napas panjang, pikirnya: "Nyata sekali nama besar keluarga Hong-san bukan nama kosong belaka. Kehebatan ilmu silatnya boleh dibilang luar biasa.

Kendatipun jurus pedang dari perguruan bunga bwee cukup ganas dan buas, namun rasanya tidak gampang untuk mengalahkan ilmu silat aliran keluarga Hong-san."

Kembali pertarungan berlangsung dua puluh gebrakan, namun posisinya tetap seperti semula, siau-cui nampak unggul namun kenyataannya tidak unggul, sedangkan Li Bun-yang nampaknya kalah tapi kenyataannya juga tidak kalah. setelah bertarung sekian lama belum berhasil juga mengungguli lawannya, habis sudah kesabaran siau-cui, mendadak ia membentak nyaring, permainan pedangnya ikut berubah.

Tampak serangan pedangnya saling berantai dengan jurus berikutnya, kecepatan serangannya meningkat, seakan-akan ada belasan bilah pedang yang menyerang hampir pada saat yang bersamaan.

Menghadapi perubahan jurus serangan yang amat cepat ini, Li Bun-yang terdesak hebat dan mundur berulang kali, permainan senjatanya ikut menjadi kacau pula.

Lim Han-kim sangat cemas, pikirnya: "Kini kesabaran siau-cui sudah habis, Bila Li Bun-yang terdesak hebat pada akhirnya, niscaya dia akan tewas di ujung pedang perempuan itu".

sementara ia masih termenung, tiba-tiba dilihatnya Li Bun-yang mengubah cara serangannya, Tiga sampai lima gebrakan kemudian posisinya yang semula terdesak berubah menjadi berimbang kembali.

Lagi-lagi siau-cui mengubah jurus serangannya, serangkaian serangan berantai dilancarkan bertubi-tubi jurus pedangnya kini seperti gerak bertahan, tapi nyatanya suatu serangan.

Cahaya pedang berkilauan menyelimuti seluruh angkasa. sewaktu bertahan gerakannya seolah membentuk benteng baja yang berdiri kokoh, maka sewaktu menyerang ibarat air bah yang menggulung datang menjebolkan tanggul, luar biasa hebatnya. jurus gedang ini sangat ganas dan jahat, baru bertarung tiga gebrakan sekali lagi Li Bun-yang keteter hebat dan dibuat kalang kabut.

Lim Han-kim yang mengikuti jalannya pertarungan dari atas pohon dapat menyaksikan semua adegan itu dengan jelas. Pada awalnya jurus pedang yang digunakan siau-cui amat cepat, tapi kemudian gerakannya berubah sama sekali.

Di balik satu serangan terselip serangan berikut, di balik perubahan tersimpan perubahan lain, ibarat bayangan yang menempel di badan, kemana pun Lim Bun-yang menghindar, serangan tersebut menempel terus dengan ketat.

Dengan perasaan terkesiap anak muda itu segera berpikir "llmu pedang apaan itu? Tak nyana begitu ganas, buas dan jahat"

setelah diamati lebih seksama, dengan cepat ia menyadari apa sebenarnya yang telah terjadi, Ternyata jurus pedang yang digunakan siau-cui hanyalah jurus- jurus serangan umum, hanya saja perubahan gerakannya dilakukan teramat cepat.

Mengikuti perubahan gerak yang dilakukan lawannya, ia menyerang dan mendesak terus tanpa putus, menusuk ke atas menebas ke bawah membuat pihak lawan hampir tak punya kesempatan untuk melakukan perubahan jurus.

saat itu permainan pedang dan kipas yang dikembangkan Li Bun-yang sudah tak sanggup menangkis serangan siau-cui yang amat cepat itu, ia terdesak hebat dan mundur berulang kali. Melihat itu kembali Li Han- kim berpikir "Bila Li Bun- yang terluka dan kalah di tangan siau-cui malam ini, bisa dipastikan budak itu akan melakukan pembunuhan secara keji untuk membantai semua jago yang tersisa, Ehmm, bagaimana pun juga, aku harus berusaha untuk membantu Li Bun-yang secara diam-diam."

setelah berkumpul beberapa waktu dengan Pek si- hiang, banyak pengetahuan dan manfaat yang diperolehnya. ia pernah mendengar gadis itu membicarakan masalah ilmu silat dengan perubahan yang banyak.

Meski nampaknya hebat namun kebanyakan tak bisa melebihi batas kemampuan yang dimiliki seseorang. Asal kita mau mengawasi dengan teliti, maka tak sulit sebenarnya untuk menemukan titik kelemahan di tubuh lawan.

Berbicara dari kemampuan yang dimiliki Li Bun-yang, sebetulnya ia pun tahu akan teori tersebut Namun karena saat itu ia sudah terlanjur terdesak hebat oleh perubahan jurus pedang siau-cui, sulit bagi pemuda itu untuk memecah perhatiannya memikirkan hal lain.

sementara Lim Han- kim masih berpikir, dalam arena lagi-lagi terjadi perubahan situasi yang sangat besar. selangkah demi selangkah siau-cui mendesak maju terus, sementara Li Bun-yang selangkah demi selangkah terdesak mundur.

Han si-kong yang berdiam diri selama ini tak mampu mengendalikan emosinya lagi, sepasang telapak tangannya segera disiapkan untuk melancarkan serangan. Buru-buru Lim Han- kim berbisik dengan ilmu menyampaikan suaranya: "Saudara Li, kau tak boleh bertahan terus menerus, cepat lancarkan serangan dan berebut posisi dengan-nya"

Ketika itu Li Bun-yang sudah keteter hebat, posisinya kritis dan setiap saat ada kemungkinan tewas di ujung pedang lawan. semangatnya kontan bangkit kembali begitu mendengar suara bisikan dari Lim Han- kim ini.

senjata kipas di tangan kirinya segera diputar berulang kali membendung serangan pedang dari siau-cui, sementara pedang di tangan kanannya memanfaatkan peluang itu melancarkan terobosan nekat dengan jurus "Angin Barat Menggulung Tirai, selapis bayangan pedang segera berbalik mengancam tubuh musuh.

Kalau semula senjata kipas danpedangnya selalu melancarkan serangan gabungan, maka sekarang arah sasaran yang diancam senjata kipas serta pedangnya sama sekali berbeda.

Benar juga, titik kelemahan terbesar dari rangkaian ilmu pedang siau-cui adalah kurangnya sistem pertahanan. Begitu Li Bun-yang memecahkan serangan kipas dan pedangnya menjadi rangkaian serangan yang berbeda, siau-cui segera dipaksa untuk membuang sistem serangannya dan lebih mengutamakan pertahanan.

Dengan terjadinya perubahan ini, posisi Li Bun-yang yang kritis dan berbahaya pun segera berubah menjadi aman kembali.

Melihat kemenangan yang sudah di depan mata tiba- tiba lenyap tak berbekas lantaran Li Bun-yang mengubah sistem pertarungannya, siau-cui menjadi amat jengkel bercampur mendongkol. Paras mukanya berubah hebat, pedangnya segera ditarik kembali dan dia mundur sejauh delapan depa lebih.

Sambil tertawa Li Bun-yang mengejek: "Bagaimana?

Nyatanya ilmu pedang perguruan bunga bwee cuma begitu saja"

"Li Bun-yang, hati-hati kalau bicara" bentak siau-cui dingin "Hari ini, salah seorang di antara kita berdua bakal tergeletak mati di sini"

Melihat siau-cui telah mengangkat pedangnya sambil menghimpun seluruh perhatiannya ke ujung senjata, Li Bun-yang tak berani main-main lagi, wajahnya ikut berubah serius, ia sadar, dalam serangan kali ini siau-cui pasti telah menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya.

Kehebatan serangannya tak usah diungkit lagi, Buru- buru dia himpun pula seluruh tenaga dalam yang dimilikinya. Dengan kipas di tangan kiri, pedang di tangan kanan dia siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan-

"Li Bun-yang" kata siau-cui lagi dengan suara dingin "Apakah kau ingin melihat jurus sesungguhnya dari ilmu silat perguruan bunga bwee?"

saat ini, Li Bun-yang telah menghimpun sepuluh bagian tenaga dalamnya untuk menghadapi serangan lawan, mendengar tantangan tersebut, sambil tertawa hambar sahutnya: "Dengan senang hati akan kujajal kehebatan ilmu silat nona" "Kalau begitu, berhati-hatilah"

Mendadak pedangnya digetarkan keras, badan berikut senjatanya meluncur ke depan bersamaan waktu dan langsung menumbuk ke badan lawan.

sebagai pewaris ilmu silat keluarga Hong-san Li Bun- yang memiliki pengetahuan yang amat luas, Dari posisi dan sistem serangan yang dilakukan siau-cui, ia mengerti bahwa pihak lawan sedang menggunakan ilmu pedang terbang untuk mengajaknya duel habis-habisan-

sadar akan kelihaian ilmu tersebut, ia tak berani bertindak gegabah. Kipasnya segera diputar membentuk selapis bayangan hitam untuk membendung datangnya ancaman, sementara itu, pedang di tangan kanannya didorong keluar secepat kilat menciptakan b erkuntum- kuntum bunga gedang untuk melindungi badan-

Ketika serangan pedang dari siau-cui saling membentur dengan bunga pedang Li Bun-yang yang melindungi badan, terjadilah suara bentrokan nyaring yang amat memekikkan telinga.

Cahaya tajam tiba-tiba sirna, bayangan manusia pun tampak kembali. Tapi situasi yang terbentang dalam arena telah berubah sama sekali, sebuah suasana yang amat tragis.

Tampak Li Bun-yang berdiri dengan napas tersengal- sengal, senjata kipasnya sudah rontok ke atas tanah, sebaliknya siau-cui pun berdiri dengan napas ngos- ngosan dan pedang terkulai lemas ke bawah, agaknya dalam serangan tersebut ia telah menggunakan segenap kekuatan yang dimiliki. Tampaknya dalam bentrokan kali ini, masing-masing pihak sudah menggunakan seluruh tenaga simpanannya.

Han si-kong segera maju menghampiri Li Bun-yang dan menegur dengan suara lirih: "Bagaimana keadaanmu saudara Li, apa terluka?"

"Yaa, dengan susah payah aku masih sanggup menerima serangannya," sahut Li Bun-yang sambil tertawa getir.

Han si-kong melirik siau-cui sekejap, kemudian katanya lagi: "Aku rasa kehebatan budak itu tak lebih hebat dari saudara Li, kalau dilihat dari keadaannya yang amat letih, keadaannya tak berbeda jauh dengan keadaan-mu."

Baru habis perkataan itu diucapkan, mendadak terlihat semangat siau-cui telah berkobar kembali, sambil mempersiapkan pedangnya ia menantang dengan nada dingin: "Li Bun-yang, yakinkah kau masih mampu menerima sebuah serangan pedangku lagi?"

"Biar aku yang menjajal kepandaian silat nona" seru Han si-kong sambil membusungkan dada.

"saudara Han, tak perlu merepotkan Anda" tampik Li Bun-yang cepat, Kemudian sambil mengalihkan pandangan matanya ke wajah siau-cui, ia meneruskan- "Bila nona benar-benar masih punya kekuatan untuk melancarkan serangan lagi, dengan senang hati akan kuterima seranganmu itu"

"Bagus" Pelan-pelan dia mengangkat pedangnya dan siap melancarkan serangan lagi. Dengan paksakan diri Li Bun-yang menghimpun sisa kekuatan dan segera menyilangkan pedangnya di depan dada.

Lim Han-kim yang bersembunyi di atas pohon dapat melihat dengan jelas, kedua belah pihak sama-sama telah mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya, siap melakukan pertarungan habis-habisan.

Bila pertarungan semacam ini dibiarkan berlangsung, niscaya salah seorang di antara mereka akan terluka oleh musuhnya bahkan sampai tewas. Dilihat peluangnya, kemungkinan Li Bun-yang terluka sampai tewas jauh lebih besar daripada kemungkinan siau-cui.

Bila ingin mencegah terjadinya tragedi yang mungkin tragis ini, satu-satunya jalan adalah menghentikan sebelum masing-masing pihak terlanjur melancarkan serangan.

Lim Han-kim yang mengawasi situasi tersebut dapat melihat bahwa posisi menyerang ada di pihak siau-cui, berarti dia harus berusaha untuk mencegah siau-cui agar dia tidak melancarkan serangannya.

setelah termenung sejenak. dengan ilmu menyampaikan suara segera bisiknya: "siau-cui, bala bantuan musuh yang amat tangguh segera akan berdatangan. Bila kau lukai Li Bun-yang maka sulit bagimu untuk lolos dari sini dengan selamat jangan kacaukan urusan besar gara-gara menuruti emosi, lebih baik kaupikirkan lagi matang-matang"

Benar juga, kata-kata tersebut segera menimbulkan reaksi yang luar biasa, pedang yang sudah dipersiapkan siau-cui pelan-pelan diturunkan kembali. Lalu sambil mendongakkan kepalanya memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, tegurnya: "siapa di situ?"

Masih dengan mengerahkan ilmu menyampaikan suara jawab Lim Han-kim: "sekarang aku sedang bersembunyi di tempat gelap hingga tak leluasa banyak bicara, Berbicara kelewat banyak dapat menimbulkan kecurigaan orang. sekali lagi kuanjurkan, jagalah posisi seperti ini untuk sementara waktu,jangan sampai menimbulkan banjir darah"

Pengalaman Hansi-kong dalam dunia persilatan amat luas dan matang, begitu melihat mimik muka siau-cui, ia segera berbisik kepada Li Bun-yang: " Di seputar lima kaki dari tempat ini bersembunyi jago lihai dari perguruan bunga bwee."

Li Bun-yang mengerti siapa yang dimaksudkan, namun untuk sesaat dia pun merasa kurang leluasa untuk menyebut nama tersebut. Terpaksa sambil mendeham ia berkata: "Sebentar lagi bala bantuan kita akan tiba, sekalipun di sekitar sini ada jago lihai musuh, tak jadi soal."

Meskipun beberapa patah kata itu diucapkan tak terlampau keras, tapi Siau-cui dapat mendengar dengan sangat jelas, Sifat perempuan ini banyak curiga, Meski ia sudah mendengar hal tersebut dari bisikan Lim Han-kim dengan ilmu menyampaikan suaranya namun ia tetap kurang yakin dan percaya. sementara hatinya masih ragu, kebetulan ia menangkap pembicaraan antara Li Bun-yang dengan Han Si-kong yang ternyata klop dengan bisikan yang diperoleh, maka semua rasa curiganya kontan tersapu lenyap hingga tak berbekas. Rupanya Li Bun-yang mengerti bahwa sulit baginya untuk menerima sebuah serangan lagi dari Siau-cui, cuma ibarat sudah menunggang di punggung harimau, sulit baginya untuk menghindari lagi. Dalam keadaan begitu terpaksa dia harus keraskan hati untuk menerima lagi sebuah serangannya.

Tatkala melihat Siau-cui menurunkan kembali pedangnya, Li Bun-yang segera mengerti bahwa semua itu berkat ulah Lim Han-kim yang telah menolongnya secara diam-diam, maka dia pun manfaatkan kesempatan tersebut dengan menarik kembali pedangnya.

Diam-diam Lim Han-kim merasa lega juga setelah akal muslihatnya berhasil mencegah sebuah tragedi berdarah berlangsung di sana, Namun meski ia berhasil menyelamatkan nyawa Li Bun-yang, pemuda ini tak tahu bagaimana caranya mencairkan situasi yang telah membeku ini dengan membiarkan siau-cui beserta keempat anak buahnya meninggaikan tempat itu dalam keadaan selamat.

setelah berpikir sejenak. dengan ilmu menyampaikan suaranya dia berkata lagi: "saudara Li, baik si budak maupun keempat anak buahnya memiliki ilmu pedang yang sangat lihai dan luar biasa, Bila benar-benar terjadi pertarungan, meski pihak Anda unggul dalam jumlah manusia, bukan berarti kekuatanmu akan mampu mengurung kelima orang tersebut. Pada akhirnya akan terjadi adu jiwa yang sama-sama ruginya, Menurut pendapatku, daripada banjir darah masih mendingan biarkan mereka berlima pergi dari sini, Nah, saudara Li, apabila kau setuju dengan usulku, berdirilah tetap pada posisi semula, bila tak setuju harap segera menggerakkan pedangmu."

Beberapa saat berlalu dengan tenang, namun Li Bun- yang tetap berdiri tak bergerak, jelas ia sudah setuju dengan usul dari Lim Han-kim. Pemuda itu pun berkata lagi: "setelah saudara Li menyetujui usulku, aku harap kalian jangan menghalangi kepergian kelima orang gadis itu lagi."

setelah berhenti sejenak. dengan ilmu menyampaikan suara ia berkata lagi: "siau-cui, bala bantuan musuh segera akan tiba, gunakan kesempatan ini untuk segera meloloskan diri dari kepungan-.."

siau-cui angkat kepalanya memandang langit, namun tubuhnya tetap tak bergerak.

Melihat hal ini Lim Han-kim segera berpikir: "Bila tidak membohonginya habis-habisan, ia pasti tak mau percaya..." Maka setelah berpikir sejenak. ia kembali meneruskan

"setelah meninggalkan tempat ini nanti, harap kalian menungguku di sebuah tempat sepuluh li di sebelah timur"

siau-cui mengernyitkan alis matanya, ia tetap berdiri tak bergerak dari posisi semula.

"Aaah benar juga..." kembali Lim Han-kim berpikir "Daerah di sepuluh li dari tempat ini sangat luas, sebelum kujelaskan tempat yang pasti, tentu saja dia tak akan percaya..."

Karena pikiran itu kembali Lim Han-kim berujar: "sepuluh li dari sini ada sebuah kuil tempat memuja dewa tanah, tempat itu cukup untuk menampung kalian berlima, Tunggulah aku di dalam kuil tersebut"

Padahal dia sendiri tidak tahu apakah benar-benar ada sebuah kuil dewa tanah di tempat tersebut, karena ucapan itu hanya diutarakan sekenanya. Tapi kali ini nampaknya siau-cui sudah percaya penuh dengan perkataannya.

sambil menggerakkan pedangnya, ia segera menerjang keluar dari kepungan, Li Bun-yang sudah melakukan perjanjlan secara diam-diam dengan Lim Han- kim, maka dia pun tidak menghalangi kepergian kelima orang gadis itu.

Padahal kalau mau berbicara sejujurnya, kerja sama kelima orang gadis itu sanggup membentuk selapis dinding bianglala yang luar biasa dahsyatnya, Andaikata Li Bun-yang sekalian betul-betul berniat menghalangi kepergian mereka, meskipun sudah mengorbankan banyak jago, belum tentu mereka mampu mencegah kepergian gadis-gadis itu.

sungguh cepat gerakan tubuh siau-cui berlima, dalam sekejap mata bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata.

Melihat siau-cui sekalian sudah pergi jauh, Li Bun-yang baru berteriak dengan suara keras: "saudara Lim saudara Lim"

Ia berteriak beberapa kali memanggil nama rekannya itu, namun Lim Han-kim tak pernah menjawab panggilannya. Terdengar Han si-kong berseru: "Bila dugaan aku si engkoh tua tak keliru, semestinya saudara Lim sedang bersembunyi di atas pohon besar lebih kurang tiga kaki di hadapan”

"Aaai... sayang dia enggan bertemu dengan kita berdua," keluh Li Bun-yang sedih. "semenjak wajahnya rusak. semangatnya telah padam, Meski masih muda belia, namun nampaknya ia berusaha menghindari keramaian dunia."

Han si-kong segera tertawa terbahak-bahak, sambungnya: "saudara Lim Bila kau benar-benar berniat melarikan diri dari dunia nyata, tidak seharusnya kau bersembunyi di atas pohon dan secara diam-diam membantu kami"

"Aaaah..." mendadak Li Bun-yang menjerit dengan wajah berubah, "Bila ia bersedia untuk bertemu dengan kita berdua, seharusnya ia sudah tampilkan diri sekarang"

"Selama ini aku memperhatikan terus pohon besar itu, bila ia benar-benar bersembunyi di atas pohon tersebut, aku yakin ia belum pergi sekarang, Bagaimana jika kita mencarinya?"

Lim Han-kim yang bersembunyi di atas pohon dapat mendengar tanya jawab kedua orang rekannya ini dengan jelas, segera ia berpikir Jika mereka benar-benar akan periksa pohon ini, jejakku niscaya akan ketahuan. Tapi mereka sudah mengalihkan perhatiannya ke atas pohon ini, "jelas sudah terlambat bagiku untuk melarikan diri dari sini." setelah berpikir sejenak. Ia pun melepaskan pakaian luarnya dan menggantungnya di ranting pohon di mana ia berada sekarang, sambii mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, dia pindah ke ranting pohon lain yang berada lebih di atas puncak pohon itu.

Belum lama ia gantungkan baju luar tersebut, Li Bun- yang serta Han si-kong telah tiba di atas pohon.

Lim Han-kim menyembunyikan diri di balik dedaunan yang rimbun sambil tutup pernapasannya, dalam keadaan begini boleh dikata ia tidak mengeluarkan suara apa pun. Terdengar Li Bun-yang berseru keras: "saudara Han, ada di sini"

Menyusui kemudian terdengar pemuda itu menghela napas sambil menambahkan "Aaaai... dia telah pergi dengan meninggalkan baju luarnya, entah apa maksudnya?"

"Ia cuma meninggalkan bajunya dan enggan bertemu dengan kita berdua, apa mungkin hal ini berarti dia telah putuskan hubungan dengan kita?" sela Han si-kong sambil menghela napas pula,

"Aaai... perduli di mana maksud dan tujuannya, yang pasti dia memang menolak untuk bersua muka dengan kita. Yaa, bagaimana lagi? Tiap orang punya cita-cita dan pandangan tersendiri, kita memang tak bisa memaksakan kehendak kita. Mari kita simpan baju luarnya ini, Bila bertemu lagi lain hari, baju ini kita kembalikan kepadanya, sebaliknya jika tak ada jodoh untuk bersua lagi, kita simpan saja baju ini sebagai kenang-kenangan..." Lim Han-kim merasa terharu sekali setelah mendengar ucapan tersebut, Hampir saja dia lompat keluar dari tempat persembunyiannya untuk bersua dengan mereka, tapi akhirnya niat itu dibatalkannya.

Terdengar ujung baju terhembus angin, rupanya dua orang itu sudah pergi meninggalkan tempat itu. Lim Han- kim menunggu lagi beberapa saat sebelum menyingkap dedaunan untuk menengok ke bawah. Ternyata kawanan jago yang semula bergerombol di situ pun kini sudah pergi semua.

Diam-diam Lim Han-kim menghela napas panjang, setelah lompat turun dari pohon, ia lari menuju ke arah timur sambil berpikir "Seandainya sepuluh li dari sini benar-benar ada sebuah kuil dewa tanah, siau-cui berlima tentu sedang menunggu di situ, lantas apa yang mesti kukatakan kepada mereka?"

setelah termenung sebentar, kembali pikirnya: "Seandainya tempat itu berupa sebuah tanah datar atau sebuah dusun, siau-cui tentu sadar bila dirinya tertipu. Mustahil dia akan menunggu kedatanganku di sana..."

sambil berpikir ia berjalan terus ke arah timur dengan kecepatan tinggi. Ketika sudah berada sepuluh li dari tempat yang dimaksud, ia menghentikan perjalanannya.

Untuk bisa melihat pemandangan di sekeliling tempat itu dengan lebih jelas, dia melompat naik ke atas pohon yang tinggi, Tapi apa yang kemudian terlihat membuat jantungnya berdebar keras.

Ternyata delapan-sembilan kaki di sebelah timur dari pohon itu benar-benar berdiri sebuah bangunan rumah, Karena cahaya bintang yang redup, sulit baginya untuk melihat lebih jelas apakah bangunan rumah itu berupa rumah petani atau kuil, tapi menurut analisanya mustahil ada rumah penduduk di tengah hutan yang begini sepi dan terpencil. Atau jangan-jangan bangunan itu memang sebuah kuil?

Perasaan ingin tahu yang kuat segera muncul dari dasar hatinya, pikirnya: "Perduli amat bangunan apa yang berada di situ, kenapa tidak kuperiksa lebih dulu?"

Melompat turun dari pohon, pelan-pelan ia berjalan mendekati bangunan itu. setiap langkah dan gerak- geriknya dilakukan amat berhati-hati. Hawa murni dihimpun ke telapak tangan siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan

Walaupun jaraknya hanya sepuluh kaki, namun dia menempuhnya hanya dalam waktu sepeminuman teh saja,

Dari kejauhan ia dapat membaca sebuah papan nama yang tergantung di depan bangunan itu bertuliskan "Kuil Thian-li-bio". sambil menghela napas diam-diam Lim Han-kim berpikir "Tak disangka di kolong langit masih ada kejadian yang begini kebetulan Padahal aku hanya bicara sembarangan, ternyata apa yang kukatakan benar-benar terwujud, Entah siau-cui berlima masih menunggu kehadiranku atau tidak dalam kuil itu..."

sementara dia masih berpikir, tiba-tiba dari dalam kuil kedengaran suara seorang wanita sedang berbicara: "Nona Cui, aku rasa dia tak bakalan datang"

Dengan perasaan terkejut kembali Lim Han-kim berpikir. "Ternyata mereka masih menunggu aku di sana" Buru-buru dia menyusup masuk ke balik semak belukar di luar kuil, Ketika ia mencoba pasang telinga untuk mendengar dengan lebih seksama, terdengar suara Siau-cui sedang menjawab: "Mungkin saja di tengah jalan ia telah bertemu dengan suatu kejadian hingga kedatangannya terlambat, lebih baik kita menunggu beberapa saat lagi..."

Suara seseorang lain yang terasa masih asing bergema pula: "Perkataan nona cui memang amat beralasan, seandainya orang itu membohongi kita, masa dia bisa tahu kalau di tempat yang begini terpencil benar- benar ada sebuah kuil Thian-li-bio? Dia pasti sudah pernah kemari, karena itulah ia mengajak kita untuk berjumpa di sini,"

"Tak disangka ada kejadian yang begini kebetulan di dunia ini," pikir Lim Han-kim, "Kalau didengar dari pembicaraan mereka, nampaknya orang-orang itu akan menunggu lebih jauh. Yaaa, orang bilang semakin licik siasat perang suatu negara, maka negara itu semakin disegani. kini kami saling berhadapan sebagai musuh, kenapa aku harus mempersoalkan kejujuran?"

Sesungguhnya kehadiran pemuda tersebut ke sana tak lepas dari dorongan rasa ingin tahunya, ia tidak menyangka kalau di tempat tersebut benar-benar terdapat sebuah kuil.

Baru saja dia akan beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut, mendadak terdengar suara seorang wanita berkata: "Nona cui, ketika melewati pintu kuil tadi, rasanya aku seperti melihat sebuah papan nama. pada papan nama itu tercantum beberapa huruf"," "Apa yang tertulis di sana?" tanya Siau-cui. "Rasanya tulisan tersebut berbunyi begini: jangan

masuk tanpa diundang, pelanggar akan menghadapi

bencana."

"Aaaah, pasti tulisan iseng seseorang yang mengajak kita bergurau," sela perempuan lain sambil tertawa, "su- moay, kau jangan kelewat hati-hati dan berpikiran yang bukan-bukan, Apalagi di sini tak ada penghuninya, sekalipun ada setan dedemit, apa yang perlu kita takuti, toh di sini hadir nona Cui"

Terdengar siau-cui bertanya: " Lantas papan peringatan itu kini berada di mana?"

"Terpantek di sebelah kanan pintu masuk." "Mari kita keluar dan periksa sekali lagi"

Diiringi suara langkah kaki manusia, terlihat dua orang perempuan muda munculkan diri dari balik pintu.

Lim Han-kim yang bersembunyi di tempat gelap dapat menyaksikan semua peristiwa itu dengan jelas, orang pertama dia kenali sebagai siau-cui, sedang di belakangnya mengikuti seorang gadis berbaju ringkas warna hitam pekat. setelah keluar dari pintu gerbang, gadis berbaju hitam itu segera merapatkan pintu tadi.

Dengan ketajaman mata Lim Han-kim, ia dapat melihat bahwa sebuah papan peringatan benar-benar tergantung di pintu tadi, Cuma berhubung jaraknya terlampau jauh lagipula dalam suasana gelap. sulit baginya untuk melihat dengan jelas isi peringatan itu.