-->

Pedang Keadilan II Bab 23 : Ancaman Datang Dari Empat Penjuru

 
Bab 23 Ancaman Datang Dari Empat Penjuru

Dalam waktu singkat bayangan tangan berlapis-lapis bagaikan bukit, angin topan menderu-deru menyapu seluruh ruangan, membuat cahaya lilinpun bergoncang tiada hentinya.

Jurus pedang yang digunakan Yu siau-liong boleh enteng, lincah dan ganas, namun bagaimana mungkin ia mamcu membendung tenaga pukulan dari sukma murung yang sudah dilatihnya hampir puluhan tahun lamanya itu? Belum sampai tiga gebrakan, ia sudah keteter habis-habisan, permainan pedangnya kacau balau dan jiwanya terancam bahaya.

Lim Han-kim panik bercampur gelisah, pikirnya: "Dilihat dari posisinya sekarang, mustahil Yu siau-liong mampU bertahan sepuluh gebrakan lagi"

sementara dia panik dan tak tahu apa yang mesti diperbuatnya, mendadak terdengar Cau-hua lojin membentak marah: "Tahan"

Ujung bajunya dikebaskan ke depan, segulung tenaga pukulan yangamat kuat segera meluncur ke depan.

Ketikaang in pukulan yang dipancarkan sukma murung berbentur dengan tenaga dalam yang dipancarkan cau- hua lojin, terjadilah gelombang angin berpusing yang membelah kekuatan tenaga serangannya. Di antara bayangan tangan yang berlapis-lapis, terbukalah secara tiba-tiba sebuah titik kelemahan.

Yu siau-liong yang binal tapi cerdas segera manfaatkan peluang itu dengan sebaik-baiknya, secepat kilat ia lepaskan sebuah tusukan menerobos titik kelemahan itu Menghadapi serangan yang datang mendadak ini, tergopoh-gopoh sukma murung mengendapkan lengan kanannya ke bawah berusaha untuk melepaskan diri, akan tetapi sayang... desingan angin dingin tahu-tahu menyambar lewat, lengan kanan baju sukma murung sudah terbabat hingga robek.

Memanfaatkan kesempatan yang sangat baik inilah Yu siau-liong melejit ke belakang dan mengundurkan diri ke belakang tubuh Cau-hua lojin.

Meledak hawa amarah sukma murung menghadapi kejadian ini, Matanya merah berapi-api karena gusar. sambil mencak-mencak seperti kambing kebakaran jenggot, teriaknya penuh amarah: "Bocah kunyuk, cepat menggelinding keluar. Bila aku tak mampu mengalahkan kau dalam sepuluh gebrakan, mulai hari ini aku bersumpah akan mengundurkan diri dari dunia persilatan"

Diam-diam Lim Han-kim berpikir: "Tampaknya watak seseorang memang susah diubah, nyatanya empat manusia buas ini tetap liar dan buas".

Terdengar Cau-hua lojin menjengek dengan suara ketus: "Hmmm, kalau ditinjau dari kemampuan kalian empat manusia buas yang terkenal dalam dunia persilatan selama puluhan tahun, berhasil mengungguli seorang bocah berusia lima belas tahun tidak terhitung suatu kejadian yang membanggakan"

sukma murung semakin marah. tantangnya: "Aku lihat umurmu sudah cukup tua, kenapa tidak berani maju sendiri untuk bertarung habis-habisan melawan-ku?" "Suatu tantangan yang amat bagus" sorak Lim Han- kim di dalam hati. "Bila Cau-hua lojin turun tangan sendiri, sekalipun ia mampu mengungguli si Dewa buas, iblis jahat, setan gusar dan sukma murung, disana toh masih hadir Li Bun-yang serta Ciu Huang dan Phang Thian-hua sekalian. Andaikata Cau-hua lojin bisa dibikin keok, otomatis perguruan Cau-hua-bun akan berantakan dengan sendirinya..."

siapa tahu Cau-hua lojin tidak menanggapi tantangan tersebut, malah ejeknya sambil tertawa dingin: "Hmmm, kau belum pantas untuk bertarung melawanku"

Mendadak ia bangkit berdiri sambil memberi tanda, serunya: "Di mana pelindung hukum Kim?"

"Tecu ada di sini" seseorang dengan suara yang berat seperti guntur menjawab dari balik ruangan.

Menyusul suara yang menggeledek itu muncul seorang lelaki kekar yang memakai baju serba kuning. Tak terkirakan rasa kaget sukma murung setelah menyaksikan kehadiran lelaki itu.

Ternyata lelaki itu memiliki sepasang mata yang bulat besar dan memancarkan sinar buas yang menggidikkan hati, Gerak-geriknya sangat lamban, selangkah demi selangkah ia bergerak menuju ke tengah arena.

sukma murung sudah terhitung cukup buas dan ganas, tapi pelindung hukum Kim justru mendatangkan rasa seram dan bergidik bagi siapa pun yang melihatnya, Bukan cuma kulit wajahnya yang kaku berotot, bahkan seluruh badannya begitu kaku nyaris mirip sesosok mayat hidup yang baru bangkit dari liang kubur. Dengan kening berkerut Dewa buas segera berbisik: " Hati- hati lo-su, orang ini agak aneh, dia pasti sudah melatih sejenis ilmu silat khusus"

sementara itu lelaki berbaju kuning tersebut melangkah terus selangkah demi selangkah mendekati sukma murung, sedang sorot matanya yang liar menggidikkan hati mengawasi lawannya tanpa berkedip.

sukma murung yang selama ini terkenal sebagai gembong iblis yang membunuh orang tak berkedip. untuk pertama kalinya selama hidup merasa hatinya begitu takut, seram dan menggidikkan hati.

Untuk mengatasi semua perasaan yang bercampur aduk itu, tanpa membuang waktu lagi ia segera membentak keras, sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke depan. segulung angin pukulan yang kuat dan dahsyat langsung menerjang ke dada lelaki berbaju kuning itu.

Walaupun menyaksikan datangnya pukulan yang langsung mengarah ulu hatinya, lelaki berbaju kuning itu sama sekali tidak menangkis maupun menghindar ia sambut datangnya serangan itu dengan dadanya.

Duuuukkkk

Pukulan maha dahsyat yang dilontarkan sukma murung segera menggempur telak di atas dada lelaki berbaju kuning itu. Hasilnya lelaki itu tetap tenang, bahkan gerak tubuhnya yang melangkah maju tetap berianjut, serangan tadi ibarat pukulan yang menghantam batu cadas, sedikitpun tidak menimbulkan kesakitan atau kerusakan. Menyaksikan ketangguhan lawan, dengan perasaan terperanjat sukma murung berpikir "Gempuranku barusan paling tidak memiliki kekuatan empat- lima ratus kati, sekalipun seseorang memiliki ilmu silat yang luar biasa hebatnya, mustahil ia sanggup menahan gempuranku ini tanpa cedera. sungguh aneh... kenapa orang berbaju kuning ini tetap tenang, seolah-olah tak kekurangan sesuatu apa pun?" setelah berhenti sejenak, kembali pikirnya:

"Untung aku hanya menggunakan tenaga tiga bagian saja, Coba kalau kuserang dengan sepenuh tenaga, saat ini aku pasti sudah terluka oleh tenaga pantulan yang diakibatkan dari pentalan tubuhnya."

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, lelaki berbaju kuning itu sudah mendesak maju makin dekat, sepasang tangannya pelan-pelan digerakkan menyambar langsung ke tubuh sukma murung.

Gerakan orang itu sangat lamban, bebal dan kelihatan bodoh. orang awam pasti akan tertawa geli melihat gerak serangan macam itu.jangankan ditujukan pada seorang ahli silat, terhadap orang awam yang tak mengerti ilmu silat pun orang tersebut akan mampu

menghindarkan diri secara gampang.

Tapi bagi pandangan seorang jagoan yang ahli dan berpengalaman, gerakan tersebut mempunyai tanggapan yang sangat berbeda.

Kelihatannya saja gerak serangan itu amat sederhana, Ternyata sudut bentangan serta lingkungan yang berada dalam ancamannya sungguh luar biasa, seandainya serangan itu dilakukan dengan gerak cepat, bisa jadi seorang ahli masih punya peluang untuk meloloskan diri. Kini gerakan itu dilakukan sangat lamban- hal mana justru mendatangkan perasaan bimbang dan tak menentu bagi mereka.

sukma murung segera merasakan makin dekat orang itu mendesaknya, jangkauan dan ancaman yang timbul dari bentangan lengan orang tersebut makin besar dan luas, dalam posisi demikian kecuali bergerak mundur, tampaknya sudah tak ada cara lain lagi untuk menghindarkan diri

Perlu diketahui, ruang tamu itu sempit lagi kecil, ditambah pula dipenuhi kawanan jago, dalam situasi seperti ini gerak melompat bukanlah cara yang tepat dan sesuai. Dalam panik dan gelisahnya sifat liar dan buas sukma murung segera bangkit kembali, sambil membentak nyaring kelima jari tangan kanannya tiba- tiba menyambar ke muka mencengkeram dada orang berbaju kuning itu.

Pentangan tangan kanan lelaki berbaju kuning itu mendadak bergerak lebih cepat, ia langsung mencengkeram pergelangantangan kanan sukma murung. Biarcun gerak serangan dari sukma murung sudah cukup cepat, namun gerak mengcengkram dari lelaki tersebut ternyata jauh lebih cepat lagi.

Tatkala kelima jari tangan kanan Sukma murung hampir menempel di atas dada lelaki berbaju kuning itu, tangan kanan lelaki itu sudah berada di atas pergelangan tangan kanan sukma murung lebih dahulu. Terdengar lelaki berbaju kuning itu membentak keras, tangan kanannya segera mencengkeram pergelangan tangan sukma murung dan menggenggamnya kuat-kuat.

Tahu-tahu sukma murung merasakan pergelangan tangan kanannya jadi kaku dan kesemutan. Rasa sakit yang merasuk hingga ke tulang sumsum membuat segenap kekuatan tubuh yang dimilikinya hilang lenyap secara tiba-tiba.

Dewa buas yang kebetulan berdiri di sampingnya segera memberikan reaksi yang cukup cepat, secepat petir ia lancarkan sebuah totokan menghajar nadi penting di tubuh lelaki berbaju kuning itu.

Tampak lelaki itu mengayunkan tangan kirinya yang kosong kearah luar dan berbalik mencengkeram pergelangan tangan kanan Dewa buas.

Di antara empat manusia buas, ilmu silat yang dimiliki Dewa buas terhitung paling tinggi dan hebat. ia cun telah menyaksikan bagaimana sukma murung menderita kerugian berulang kali, sudah barang tentu ia tidak biarkan pergelangan tangan kanannya kena dicengkeram musuh.

Mendadak tangannya diendapkan ke bawah untuk meloloskan diri dari serangan balasan itu, kemudian sambil membalikkan lengannya ia lepaskan sergapan lagi melintang dari samping.

Perubahan jurus ini sangat aneh dan di luar dugaan, kecepatannya bagaikan sambaran petir di udara, Kendatipun gerak serangan yang dilakukan lelaki berbaju kuning itu cukup cepat, tapi pergeseran tubuhnya itu tetap kelihatan pelan dan bebal. Dduuukkk serangan tersebut bersarang telak di tubuhnya.

Berbicara dari kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Dewa buas, gempuran tersebut cukup untuk menghancurlumatkan batu cadas sekeras apa pun. semestinya, kendatipun orang berbaju kuning itu mempunyai ilmu pelindung badan macam apa pun, mustahil ia sanggup mempertahankan diri

siapa sangka tatkala gempuran dari Dewa buas itu menghantam telak di tubuh lelaki berbaju kuning itu, mendadak ia berteriak keras lalu menyusut mundur sejauh dua langkah.

Ketika semua orang menengok ke arahnya, tampaklah kulit kepalan kanan si Dewa buas kelihatan sudah robek besar, darah segar bercucuran keluar membasahi lantai, sementara lelaki berbaju kuning itu terdesak mundur juga sejauh lima langkah oleh gempuran dahsyat Dewa buas, genggaman kelima jari tangannya atas urat nadi sukma murung pun turut mengendor.

Memanfaatkan peluang ini buru-buru sukma murung meronta sambil melepaskan diri, sebuah tendangan kilat dilontarkan ke depan.

"Lo-su, jangan gegabah" cegah Dewa buas keras- keras. "Ia mengenakan baju lapis baja yang dilengkapi pisau tajam"

Tendangan yang dilontarkan sukma murung betul- betul luar biasa cepatnya, meskipun Dewa buas segera mencegahnya, namun sayang teriakan itu tetap terlambat. Tendangan kilat dari sukma murung itu bersarang telak diperut lelaki berbaju kuning itu. Terdengar cau-hua lojin tertawa ter-bahak-bahak: "Ha ha ha... tepat sekali perkataanmu ia memang mengenakan baju tameng baja yang dilengkapi pisau tajam. sayang sekali sudah kelewat terlambat kalian berdua mengetahuinya"

Terdengar suara ujung baju tersampok angin bergema memecah keheningan iblis jahat dan setan gusar yang selama ini berdiam diri sama-sama bergerak maju melancarkan pukulan dahsyat yang mengarah tubuh lelaki berbaju kuning itu.

Betul si lelaki berbaju kuning itu mengenakan baju lapis baja yang bisa melindungi badannya dari gempuran, namun bagaimana mungkin ia mampu membendung serangan ampuh dari empat manusia buas secara bersamaan ini? Tak ampun isi perutnya segera terluka parah, sambil muntahkan darah segar badannya mundur dengan sempoyongan lalu jatuh terduduk ke atas tanah.

Dengan suara dingin cau-hua lojin mengejek: "Dalam gedung ini aku sudah siapkan dua belas orang pasukan yang memakai baju berlapis baja. Bila kalian anggap kalian memiliki kemampuan untuk menghadapi mereka semua, silakan turun tangan sepuasnya" selesai berkata ia segera memberi tanda, empat orang lelaki berbaju hijau segera munculkan diri dengan gerak-gerik yang lambat dan bebal.

Melihat kemunculan orang-orang berbaju lapis baja itu, Li Tiong-hui segera berbisik, "Cabut senjata, jangan layani mereka dengan tangan kosong"

Mendadak terdengar Dewa buas berteriak tahu-tahu tubuhnya roboh terjungkal ke atas tanah, Menyusul kemud ian sukma murung ikut menjerit kesakitan dan roboh terjengkang pula ke tanah.

Melihat kejadian ini, iblis buas serta setan gusar jadi amat terperanjat, bentaknya penuh amarah: "Tua bangka celaka, kau betul-betul kejam danjahat, Rupanya di ujung senjatamu telah kau bubuhi racun jahat."

"Benar," sahut Cau-hua lojin dingin. "Aku memang sudah bubuhkan racun kejipada ujung senjata yang ada pada lapis baja tersebut. selain obat penawar racun ramuan khususku, jangan harap ada orang kedua di dunia ini yang bisa menolong kalian"

Dari sakunya ia ambil keluar sebuah botol porselen, kemudian melanjutkan "Ini dia obatpenawar racunnya, Asal kalian berempat manusia buas bersedia untuk bergabung dengan perguruan Cau-hua-bun-"

Tidak menunggu sampai Cau-hua lojin menyelesaikan kata-katanya, iblis buas melejit ke udara dan langsung menerkam orang tua tersebut, berada di tengah udara, tangan kirinya lepaskan sebuah pukulan dahsyat dari kejauhan mengarah dada Cu-hua lojin, sementara tangan kanannya bergerak cepat berusaha merampas botol obat di tangan orang tua itu.

Cau-hua lojin tertawa dingin, dia ayunkan pula tangan kanannya menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras melawan keras, segulung tenaga pukulan yang sangat kuat langsung menyambar ke depan menumbuk badan iblis jahat. B la a aammmmm

Ketika dua gulung tenaga kekuatan itu saling menumbuk satu sama lainnya, terjadilah suara ledakan keras yang memekikkan telinga, Pusaran angin berpusing berhamburan keempat penjuru, cahaya lilin bergoncang hampir mati, suasana jadi redup, remang-remang dan mengerikan.

Gerak tubuh iblis jahat yang sedang menerkam Cau- hua lojin seketika tertahan oleh gempuran itu dan terpaksa melompat mundur kembali keposisinya semula.

setan gusar yang melihat rekannya terancam, buru- buru mengerahkan tenaga dalamnya sambil menyongsong datangnya sang rekan, tapi ia sendiri pun harus mundur beberapa langkah sebelum berhasil mempertahankan tubuh saudaranya agar tak sampai roboh.

sebaliknya tubuh Cau-hua lojin sendiripun turut gontai, kendatipun sebuah pukulannya berhasil memaksa mundur iblis jahat.

Dengan pandangan mata yang tajam bagai sembilu Li Tiong-hui awasi Cau-hua lojin ini tanpa berkedip, lalu katanya: "Situasi dalam dunia persilatan saat ini telah berubah, sekarang sudah muncul dua blok kekuatan yang saling bermusuhan- Bila kalian perguruan Cau-hua- bun bercita-cita mendirikan blok ketiga di antara dua blok kekuatan yang saling bertentangan ini, hmmm sama artinya kau mencari penyakit untuk diri sendiri, Lebih baik pertimbangkan dulu tawaranku sebelum ambil keputusan, daripada akhirnya menyesal".

Cau-hua lojin tertawa dingin, "Bila kau terlalu memojokkan aku, sama artinya memaksa aku untuk bergabung dengan blok perguruan bunga bwee"

Berubah hebat paras muka Li Tiong-hui sehabis mendengarperkataan itu, ancamnya: "Baiklah, kalautoh kau tetap bersikeras dengan pendirian kolotmu, jangan salahkan kalau aku akan mengambil tindakan tegas"

Selesai berkata, panji kekuasaannya segera dikebaskan beberapa kali, Menyusul berkibarnya panji Bengcu itu, tiba-tiba Hongpo Lan mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring, suaranya keras bagaipekikan naga sakti yang membumbung tinggi hingga tembus ke atas awan-

"Waktu sudah tak banyak lagi," ucap Li Tiong-hui dingin, "Bila kau tidak menyesali keputusanmu itu, suatu pembantaian besar-besaran segera akan terjadi, jangan salahkan bila perguruan cau-hua-bun tertumpas dari muka bumi"

saat itulah dari empat penjuru sekeliling gedung bangunan itu bergetar suara pekikan nyaring yang saling bersahut-sahutan, Kembali Li Tiong-hui berkata: "Aku telah siapkan ratusan orang jago lihai di sekeliling gedung bangunan ini. Asal kuturunkan perintah, mereka akan segera turun tangan untuk membumi hangus seluruh bangunan ini"

Cau-hua lojin mencoba untuk mengamati sumber suara pekikan itu ia segera menyadari bahwa suara itu memang datang dari empat penjuru, tapi sikapnya sangat aneh, ia tidak nampak panik ataupun bingung, malahan sambil tersenyum ia tetap duduk santai.

Lim Han-kim yang mengikuti jalannya perkembangan itu, diam-diam berpikir pula: "Gertak sambal Li Tiong-hui ini nampaknya segera akan memaksa Cau-hua lojin menuruti kemauannya." sementara ia masih termenung, tiba-tiba terdengar ujung baju tersampok angin bergema di ruangan menyusul kemudian tampak dua sosok bayangan manusia melayang turun dari atas atap rumah.

Lim Han-kim segera mengenali kedua orang itu sebagai Phang Thian-hua serta Ciu Huang, dalam gelisahnya kembali ia berpikir: "Bila aku berdiam diri terus menerus di sini, mereka berdua pasti akan menaruh curiga kepadaku, tampaknya aku harus menggunakan taktik lama untuk menyusup masuk ke dalam ruangan."

Berpikir begitu, dia pun mengayunkan langkahnya menuju ke dalam ruangan.

Li Tiong-hui menoleh dan memandang Lim Han-kim sekejap, Baru saja ia hendak menegur, Phang Thian-hua serta Ciu Huang sudah menyusul masuk pula ke dalam ruangan.

Ketika Dewa jinsom Phang Thian-hua menyaksikan Dewa buas maupun sukma murung sudah tergeletak luka semua di atas tanah, buru-buru ia memberi hormat kepada Li Tiong-hui sambil berkata: "Tolong tanya Bengcu, apakah mereka berdua sudah terluka?"

"Yaa" Li Tiong-hui manggut-manggut. "Mereka sudah dipecundangi cau-hua lo-jin-"

Dengan langkah lebar phang Thian-hua mendekati kedua orang korban- bungkukkan badan dan periksa sejenak keadaan lukanya, setelah itu katanya lagi: "Luka yang mereka derita tak sampai mematikan, namun racun yang menyusup ke dalam tubuhnya telah merasuk sangat dalam." "Masih bisa ditolong?" tanya Li Tiong-hui dengan kening berkerut,

Phang Thian-hua segera tersenyum, "Selama masih ada aku orang she-Phang, jangan takut kalau mereka sampai mati karena keracunan. Kalau aku begini tak becus, apa gunanya julukan Dewa jinsom dilekatkan pada namaku?"

"Aku tak percaya kau mampu memunahkan racun khusus hasil ramuan perguruan Cau-hua-bun" seru Cau- hua lo-jin-

"Kalau tak percaya, bagaimana kalau kita buktikan bersama?"

Dari sakunya ia keluarkan sebuah botol porselen putih dan menuang keluar dua butir pil berwarna merah, katanya kemudian- "Aku manusia dari marga Phang tak perlu meramu obat khusus. obat anti racun yang kubawa sekarang sudah lebih dari mampu untuk memunahkan racun di tubuh mereka"

"Aku tetap tak percaya"

Phang Thian-hua tidak banyak bicara lagi, dicekalnya mulut Dewa buas lalu sebutir pil berwarna merah dijejalkan ke dalam mulutnya, setelah itu ia tepuk punggung iblis tersebut satu kali, Menyusul kemudian ia cekal pula tubuh sukma murung, dengan cara yang sama ia jejalkan pula sebutir pil.

Tiba-tiba saja suasana dalam ruangan berubah sangat hening, perhatian semua orang sama-sama ditujukan ke arah Dewa buas dan sukma murung sambil menantikan reaksi dari mereka berdua. Kejadian ini boleh dibilang merupakan pertarungan besar bagi reputasi Phang Thian-hua selama hidupnya, ia sudah terlanjur omong besar tadi. Andai kata dua pil yang dijejalkan ke mulut Dewa iblis dan sukma murung gagal mengobati luka racunnya, akibatnya nama besar Dewa Jinsom yang telah dipupuknya selama puluhan tahun akan sirna dengan begitu saja.

segenap perhatian Li Tiong-hui tertuju pula ke masalah tersebut, otomatis dia kesampingkan kehadiran Lim Han-kim di tempat itu.

Memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini Lim Han-kim mengundurkan diri ke belakang pintu, Dengan berdiri di tempat yang agak redup, ia berusaha menghindari perhatian orang.

Lebih kurang sepeminuman teh kemudian, Dewa buas yang sadar lebih dahulu, Tiba-tiba saja ia melompat bangun dan duduk. sifat buas, liar dan ganasnya meski sudah banyak terkendali oleh bimbingan Li Tiong-hui, namun peristiwa yang mempermalukan dirinya ini sulit diterima dengan begitu saja, tak bisa dikendalikan lagi meledaklah sifat buasnya dulu.

sambil membentak keras, ia sambar sepasang kaki lelaki berbaju kuning itu lalu dengan menggunakan tubuh orang sebagai senjata, ia hantam dada Cau-hua lojin.

Menyadari bahwa pisau yang tersembunyi di balik baju lapis baja yang dikenakan anak buahnya mengandung racun jahat, Cau-hua lojin tak berani menangkis datangnya serangan itu, tergopoh-gopoh ia menghindarkan diri ke samping, "Tahan" bentak Li Tiong-hui mendadak. Biarpun liar dan ganas namun sikap Dewa buas terhadap Li Tiong-hui amat penurut dan hormat, begitu mendengar bentakannya, buru-buru ia mengundurkan diri.

sambil tertawa hambar Phang Thian-hua menoleh kearah Cau-hua lojin dan mengejek:

"Bagaimana? Aku orang she-Phang tidak mengibul bukan?"

Cau-hua lojin tidak menjawab, ia menengadah dan memandang ke atas pohon besar di luar gedung tanpa mengucapkan sepatah kata pun- Dia seolah-olah memandang pohon itu dengan terpesona sehingga terhadap sindiran dari Phang Thian-hua itu bukan cuma tak menanggapi, menggubris pun tidak.

Li Tiong-hui yang cerdik setelah termenung sejenak segera mengetahui apa sebab lawannya berbuat begitu, buru-buru bisiknya kepada Hongpo Lan yang berada di sisinya:

"Di atas pohon besar di luar halaman sana bersembunyi tokoh musuh yang mengendalikan semuanya ini, cepat kau paksa dia agar menampakkan diri"

Hongpo Lan menyahut, dari sakunya ia loloskan sebilah pedang pendek lalu sambil melayang keluar ke halaman depan, serunya seraya mendongakkan kepalanya memandang puncak pohon- "Bu-lim Bengcu hadir di sini, sobat dari mana yang sembunyi di sana? Harap segera menampakkan diri" suara tertawa cekikikan yang merdu segera bergema dari puncak pohon, seseorang menyahut: "Hei, adik Li, hebat betul gayamu"

Menyusul omongan tersebut, sesosok bayangan manusia melayang turun dari atas pohon, dia adalah seorang gadis cantik berbaju ringkas warna hitam dengan mantel berwarna hitam pula.

Mengetahui siapa yang muncul, dengan perasaan terperanjat Hongpo Lan mundur dua langkah dari posisi semula.

Terdengar Li Tiong-hui berseru dari dalam ruang tamu: "Apakah nona seebun yang datang?"

"Betul," jawab Hongpo Lan- "Dia memang ketua perguruan bunga bwee, seebun Giok-hiong"

Tanpa melirik sekejappun kearah Hongpo Lan, dengan langkah lebar seebun Giok-hiong langsung berjalan menuju ke ruang tamu.

Kawanan jago yang menyertai Li Tiong-hui seketika merasa terkesiap setelah melihat kehadiran gembong iblis wanita ini, serentak mereka meloloskan senjata masing-masing.

Hanya Li Tiong-hui serta Ciu Huang berdua yang dapat mempertahankan ketenangan hatinya tanpa melakukan sesuatu reaksi. Mereka tetap berdiri tegak pada posisi semula.

Dengan sorot matanya yang tajam seebun Giok-hiong melirik sekejap kawanan jago yang hadir dalam ruangan itu, lalu katanya sambil tertawa: "Akhirnya apa yang diharapkan nona Li terwujud menjadi kenyataan, kau berhasil menduduki kursi kebesaran sebagai Bu-lim Bengcu."

"Enci seebun terlalu memuji"

"sayang kedatangan nona Li terlambat satu langkah," kembali seebun Giok-hiong berkata sambil tertawa, "Perguruan cau-hua-bun telah mengambil keputusan untuk berpihak kepadaku, lagi- lagi aku membuat keinginanmu sia-sia..."

Li Tiong-hui nampak tertegun, sorot matanya segera dialihkan ke wajah Cau-hua lojin sambil menandaskan- "Benarkah apa yang dia katakan itu?"

"Benar" sahut cau-hua lojin dengan wajah bersungguh-sungguh.

Li Tiong-hui segera tertawa hambar, katanya: "Enci seebun, kelihatannya kau selalu berhasil mendahului aku dalam hal apa pun, aku sungguh merasa kagum."

"Moga-moga saja apa yang kau ucapkan betul- betul keluar dari hati sanubarimu, bukan cuma sekedar basa- basi."

"Tentu saja aku memujimu sejujurnya, hanya saja..." "Hanya saja kenapa?"

"Sebuah perguruan kecil macam Cau-hua-bun masih belum merupakan ancaman yang serius bagi posisi kita berdua."

seebun Giok-hiong segera tertawa, "saudara Li, bila kau ingin pertemuan kita malam ini bubar secara baik- baik, lebih baik tak usah kita bicarakan masalah perselisihan kita berdua." " Kalau toh enci seebun tak punya maksud lain pada pertemuan malam ini, baiklah, biar aku mohon diri lebih duiu."

"Eeeh... tunggu dulu, tak usah tergesa-gesa pergi" cegah seebun Giok-hiong mendadak. Agak berubah wajah Li Tiong-hui, tegurnya: "Kau masih ada urusan apa lagi?"

"Ada sebuah kabar yang amat buruk perlu kusampaikan kepada Li Bengcu."

"soal apa?"

sambil membenahi rambutnya yang kusut karena tertiup angin, seebun Giok-hiong berbisik, "Masalah Pek si-hiang, nona Pek ..."

"Ada apa dengan nona Pek?" dengan alis melentik karena rasa tertarik, Li Tiong-hui mendesak.

"Dia sudah mati."

"Kau yang membunuhnya?" hardik Li Tiong-hui penuh amarah.

"oooh, bukan" sahut seebun Giok-hiong sambil tertawa, "la mati karena sakit, cuma... kalau kau ingin membalaskan dendam bagi kematiannya, boleh saja langsung mencari aku, dengan senang hati akan kulayani keinginanmu itu..."

Li Tiong-hui merasakan hatinya bergetar keras, nyaris tak sanggup menahan diri. setelah termangu beberapa saat barulah ia berteriak: "Aku tak percaya"

"Mau percaya atau tidak terserah pada kau sendiri," seebun Giok-hiong tertawa hambar. "Toh, Pek si-hiang nyata sudah mati, ia tak mungkin bisa bangkit kembali dari liang kuburnya"

Diam-diam Li Tiong-hui mengatur pernapasannya untuk menekan gejolak perasaan dalam hatinya, setelah itu pelan-pelan baru ia berkata: "Bagaimana dengan kecerdasan serta kemampuan nona Pek bila dibandingkan dengan kau, Seebun Glok-hiong?"

"Ia masih setingkat lebih unggul dariku" sahut Seebun Giok hiong sambil tertawa.

"Aku rasa bukan cuma setingkat, bahkan jauh melebihi kemampuanmu yang tidak seberapa itu."

"Yaa, pandangan tiap orang memang berbeda, Kalau toh kau menganggap demikian, yaa sudahlah, Anggap saja pandanganmu memang betul."

Setelah berhenti sejenak, kembali ia melanjutkan "Sekalipun dia jauh mengungguli kemampuanku, sayang hal itu sudah menjadi masa lalu, Selama hidupmu kali ini, jangan harap bisa bertemu lagi dengan seseorang yang bernama Pek Si-hiang"

Sementara itu Li Tiong-hui telah mampu menenangkan kembali perasaannya, ia berkata: "Ketika aku berpisah dengan nona Pek tempo hari, ia tak pernah membicarakan masalah penyakit yang dideritanya, Hal ini menunjukkan bahwa ia tak pernah mempermasalahkan penyakit yang sedang dideritanya itu."

"Betul aku tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana dia menghembuskan napasnya yang terakhir, tapi aku sempat melihat keadaannya sewaktu sekarat jangankan aku, Seebun Glok-hiong, yang memang mengerti ilmu silat, orang yang mengerti sedikit ilmu silat atau ilmu pengobatan pun dapat melihat bahwa ia pasti akan mati akhirnya. Kau boleh percaya boleh tidak, dan kita pun tak usah mempersoalkan hal ini lebih jauh."

setelah berhenti sejenak, kembali terusnya: "Masih ada lagi satu masalah yang teramat penting bagimu, juga ada kaitannya dengan Pek si-hiang"

"soal apa?"

"soal Lim Han-kim..." bicara sampai di situ, ia sengaja berhenti.

Betul juga, Li Tiong-hui segera memburu dengan penasaran: " Kenapa dengan Lim Han-kim?"

"Pek si-hiang telah memanfaatkan keadaannya yang lemah untuk merebut cinta kasih Lim Han-kim terhadapnya, mungkin kau kurang percaya bukan dengan kisah ini?"

Li Tiong-hui segera merasakan pandangan matanya jadi gelap. hawa darah menggelora di dalam dadanya, nyaris ia tak sadarkan diri

Dengan sorot mata yang tajam seebun Giok-hiong mengawasi wajah Li Tiong-hui tanpa berkedip. sesaat kemudian baru ia berkata lagi: "Bagaimana? Kau tidak sakit hati?"

"Tentu saja tidak,"juwab Li Tiong-hui sambil tertawa, "Lim siangkong adalah pemuda yang tampan dan romantis, sedang nona Pek seorang gadis cerdik yang cantik jelita, Mereka memang pasangan yang serasi, kenapa aku harus sedih? Untuk bergembira pun rasanya tak sempat..."

"Ha ha ha... aku rasa kau tidak bicara dengan sejujurnya bukan..." ejek seebun Giok-hiong sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Li Tiong-hui mencoba untuk membangkitkan kembali semangatnya, katanya seraya tertawa: "Enci seebun, tampaknya kau tak dapat melupakan Lim Han-kim, apakah kau juga sangat merindukan kehadirannya?"

"Benar, aku memang amat merindukannya, Tidak seperti kau, Li Tiong-hui, lain di mulut lain di hati"

"Ooooh, rupanya begitu, tak aneh jika kau mengharapkan nona Pek cepat-cepat mati," sindir Li Tiong-hui sambil tertawa.

"Buat apa aku mesti menyumpahinya? sekarang pun ia sudah mati dan tubuhnya sudah membeku."

Mendadak Li Tiong-hui bangkit berdiri seraya berseru: "Enci seebun, apa yang ingin kau ucapkan rasanya sudah selesai kau utarakan bukan?"

"Belum, kalau tadi kita bicarakan soal pribadi, maka sekarang kita mulai bicara urusan dinas"

Li Tiong-hui mencoba memeriksa keadaan di sekeliling ruangan. ia baru lega setelah melihat seebun Giok-hiong tidak mengajak anak buah, pikirnya: "Bila ia tidak membawa anak buah dan kedatangannya kemari seorang diri, sekalipun ditambah dengan kekuatan perguruan Cau-hua-bun pun rasanya kami masih mampu untuk menghadapi mereka." setelah membuat persiapan dan perhitungan yang matang dalam hati kecilnya, dia pun membentak keras: "Baik, kita bicara soal dinas, aku sudah siap mendengarkan"

Dengan wajah keren dan serius seebun Giok-hiong berkata: "sekarang kau telah berhasil mencapai kursi Bu- lim bengcu, kemegahan seseorang bila sudah mencapai pada puncaknya, maka akan tiba gilirannya untuk menyusut mundur, semestinya kau mengerti bukan, semua jago di kolong langit bersedia menuruti perintahmu hal ini disebabkan mereka ingin bersama- sama menghadapi aku, seebun Giok-hiong"

setelah menghembuskan napas panjang, gadis itu meneruskan: "Aku tak perduli kau berani mengakui atau tidak, tapi semestinya dalam hati kecilmu pun mengerti dengan jelas bahwa ketika kau merebut kursi kebesaran tersebut, aku tidak mencoba mengusikmu dengan sepenuh tenaga. Aku telah memberi kesempatan kepadamu untuk merasakan bagaimana bahagianya menjadi seorang Bu-lim Bengcu. Kini nama besarmu telah diketahui hampir seantero jagad.-."

"Kau keliru besar" tukas Li Tiong-hui. "Nama besar keluarga persilatan bukit Hong-san sedikit pun tidak kalah dengan nama besar seorang Bu-lim Bengcu."

"Jadi kau betul-betul ingin bermusuhan denganku?" jengek seebun Giok-hiong tertawa.

"Sesungguhnya aku tak punya niat ke sana, tapi semuanya tergantung bagaimana enci seebun akan melangkah." "salahkah bila aku ingin membalaskan dendam bagi kematian orang tuaku?"

"Bila kau bersedia menyelesaikan masalah tersebut langsung pada pokok persoalannya, bersedia mengumpulkan semua jago dari kolong langit untuk mencari penyelesaian, dengan senang hati aku akan membantu usaha dan keinginanmu itu"

" Kenapa aku mesti minta bantuanmu untuk menyelesaikan masalahku?" teriak seebun Giok-hiong gusar. Dari balik matanya mencorong keluar sinar tajam yang berapa api hingga ia nampak mengerikan sekali.

setelah berhenti sejenak, kembali ia meneruskan dengan suara dingin: "Aku tak ingin kau terseret dalam masalah ini, maka dengan niat baik aku berusaha membujukmu agar cepat-cepat keluar dari kancah permasalahan tersebut. Namun bila kau menilai tindakanku ini sebagai pertanda aku takut padamu, maka dugaanmu itu akan keliru besar."

"Maksud baik enci seebun biar kuterima dalam hati saja, tapi sayang aku sudah dipercaya segenap umat persilatan untuk memegang jabatan sebagai Bu-lim Bengcu, sudah barang tentu aku tak bisa berpeluk tangan belaka membiarkan kau berbuat sewenang- wenang dalam dunia persilatan tanpa berusaha untuk mencegahnya"

Berubah wajah seebun Giok-hiong setelah mendengar ucapan itu, serunya: "setelah kematian Pek si- hiang, kau pun sudah kehilangan tulang punggung yang menunjang kehadiranmu dalam dunia persilatan- Baiklah, kalau toh kau tetap keras kepala dan tak mau mundur dari sini, jangan salahkan bila aku seebun Giok-hiong bertindak keji kepadamu"

"Enci seebun, bila kau enggan menarik diri dan tetap membuat keonaran dalam dunia persilatan, terpaksa dengan berat hati aku pun akan tetap memusuhi diri mu"

Hijau membesiparas muka seebun Giok-hiong saking jengkelnya, tapi setelah termangu sesaat mendadak ia tertawa terkekeh-kekeh: "Ha ha ha... baik, bila fajar telah menyingsing nanti, kita pun akan berubah jadi musuh bebuyutan, kalau bukan kau yang mampus tentu aku yang tewas"

"Bagus, mengingat kita pernah kenal dan punya hubungan yang cukup baik, malam ini aku pun bersedia melepaskan perguruan cau-hua-bun dari kebinasaan," ucap Li Tiong-hui pelan. Kemudian sambil mengalihkan pandangan matanya ke wajah Cu-hua lojin, lanjutnya dengan suara dingin "setelah fajar menyingsing nanti, perguruan cau-hua-bun akan menjadi musuh umum seluruh umat persilatan"

"Makin banyak makin bagus" seru Cau-hua lojin tertawa, "satu-satunya cita-citaku adalah ingin memperkenalkan ilmu silat perguruan cau-hua-bun kami ke seluruh dunia persilatan"

Li Tiong-hui tidak banyak bicara lagi, ia kebaskan panji Bengcu-nya seraya berseru: "Ayoh kita pergi"

Dengan langkah lebar Li Tiong-hui tinggalkan ruang tamu itu lebih dulu. Li Bun-yang segera mempercepat langkahnya mendekati Li Tiong-hui, lalu bisiknya: "Kelihatannya murid termuda dariperguruan cau-hua-bun yang turun tangan lebih dulu tadi adalah adik seperguruan Lim Han-kim yang sudah lama lenyap..."

Waktu itu sebenarnya Li Tiong-hui sudah melangkah keluar dari pintu ruang tamu, ia segera menghentikan langkahnya setelah mendengar perkataan itu, dan berusaha menegaskan: "Kau tidak salah melihat?"

"Tak bakal salah"

Pelan-pelan Li Tiong-hui berpaling memandang wajah seebun Giok-hiong lekat-lekat, kemudian katanya: " Enci seebun, ada satu permintaan hendak kusampaikan kepadamu, bersediakah kau untuk mengabulkan?"

"soal apa?"

"Aku harap enci mau mewakili aku untuk meminta Cau-hua-bun menyerahkan seseorang"

"Menyerahkan seseorang?" walau bagaimana pun cerdasnya seebun Giok-hiong, agak tertegun juga dia setelah mendengar perkataan itu.

"Yaa, dia cuma seorang anggota perguruan cau-hua- bun yang tak ternama, lagipula kehadirannya di sini baik memihak kepadamu atau memihak kepadaku juga tak berarti banyak."

seebun Giok-hiong tidak langsung menjawab, pikirnya: " Entah permainan busuk apa lagi yang sedang disiapkan budak ini?" setelah termenung sesaat, ia pun menjawab dingin "Kalau memang tak berpengaruh banyak bagi kita berdua, kenapa kau minta orang tersebut?"

"Sederhana sekali alasannya" "Bisa kau jelaskan?" "Sebab dia adalah anak murid seorang famili jauhku yang diculik oleh Cau-hua lojin dan dipaksa untuk menjadi anggota perguruannya"

seebun Giok-hiong memutar biji matanya melirik Cau- hua lojin sekejap. lalu ia bertanya lagi: "siapa sih orang itu?"

"Jawab dulu, bersedia atau tidak kau mintakan orang itu? jika sudah bersedia, akan kujelaskan latar belakangnya dengan jelas."

Lama sekali seebun Giok-hiong putar otak memikirkan persoalan itu, kemudian ia baru menjawab: "Bila kau tidak membohongi aku, pasti kukabulkan permintaanmu itu"

Baru saja Li Tiong-hui hendak menuding, Li Bun-yang sudah keburu berseru lebih dulu: "Orang itu tak lain adalah bocah berpakaian ringkas yang berdiri di samping cau-hua lojin"

Pelan-pelan seebun Giok-hiong berjalan menghampiri Yu siau-liong. Ditariknya lengan bocah itu sambil menegaskan: "Dia yang kau maksudkan?"

"Benar."

seebun Giok-hiong memandang Yu siau-liong sekejap. kemudian tanyanya lembut: "saudara cilik, apa nama margamu?"

"Aku bermarga Yu."

"Kau kenal dengan nona Li?"

sebagaimana diketahui Yu siau-liong sudah dicekoki obat khas bikinan Cau-hua lojin sehingga kecuali nama marga sendiri, kejadian yang lampau sudah terlupakan sama sekali, oleh sebab itu dia hanya bisa mengawasi Li Tiong-hui beberapa saat lamanya dengan mata terbelalak lebar tanpa berhasil mengenalinya, sesaat kemudian ia baru menggeleng. "Tidak, aku tak kenal."

seebun Giok-hiong segera alihkan pandangan matanya ke wajah Cau-hua lojin sambil tanyanya: "siapa dia?"

"Dia adalah guruku" jawab Yu siau-liong cepat

" Kau tak boleh ajukan pertanyaan semacam itu," sela Li Tiong-hui,

" Usianya relatip masih muda, tentu saja dia tak kenali aku"

"sekalipun umurnya lebih besar juga tak ada gunanya" timbrung Phang Thian-hua tiba-tiba. "sebab Cau-hua-bun telah cekoki obat khusus kepadanya sehingga apa yang dialaminya di masa lampau sudah terlupakan sama sekali"

seebun Giok-hiong segera menatap tajam Cau-hua lojin, ucapnya: "Boleh membiarkan mereka membawanya pergi?"

Rasa berat hati segera menyelimuti wajah Cau-hua lojin, katanya dengan nada menderita: "Di antara sekian banyak muridku, dialah muridku dengan bakat terbaik, bahkan aku sedang bersiap-siap untuk mendidiknya dengan sepenuh tenaga agardia bisa mewarisi segenap kepandaian yang kumiliki. Kalau kubiarkan mereka membawanya pergi... rasanya kok amat sayang."

"Tidak apa-apa," kata seebun Giok-hiong sambil tersenyum. "Besok, akan kucarikan lagi seorang bocah yang lebih berbakat lagi untuk menjadi ahli warismu..." Kemudian sambil berpaling lagi ke arah Li Tiong-hui, ia meneruskan

"Baik-baik kau rawat dia" seraya berkata pelan-pelan dia tepuk batok kepala Yu siau-liong sebanyak dua kali.

Li Tiong-hui bukan bocah kemarin sore yang tak punya pengetahuan luas, satu ingatan segera melintas dalam benaknya setelah menyaksikan perbuatan lawannya, hanya saja perasaan tersebut tak sampai diutarakan keluar.

Terdengar seebun Giok-hiong berkata dengan lembut: "Nah, saudara cilik, sekarang pergilah mengikuti cici itu"

Yu siau-liong berpaling memandang cau-hua lojin dan seebun Giok-hiong sekejap. wajahnya kelihatan bimbang dan kebingungan, ternyata ia tidak membantah dan benar-benar berjalan menuju ke arah Li Tiong-hui.

Dengan lemah lembut Li Tlong-hui menggenggam tangan Yu siau-liong dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya secepat kilat menotok dua buah jalan darah di tubuh bocah itu, kemudian sambil menyerahkan kepada Li Bun-yang ia berbisik, "Bawa dia pergi"

setelah itu sambil menoleh lagi ke arah seebun Giok- hiong, ujarnya: " nampaknya cici telah berbuat sesuatu ke atas tubuhnya."

seebun Giok-hiong tersenyum. "Bengcu tidak usah kelewat curiga, kalau sikapmu kelewat hati-hati dan pandanganmu kelewat cupat, bagaimana mungkin kau mampu memimpin segenap orang gagah dari kolong langit?" "soal itu cici tak perlu risaukan. Baik-lah, kalau begitu aku mohon diri lebih dulu." ia membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.

Terdengar seebun Giok-hiong berseru sambil tertawa: "saudara cilik itu sudah diberi pil Cau-hua- wan ramuan khusus perguruan cau-hua-bun, lebih baik layani dia dengan lebih berhati-hati"

selama ini, cau-hua lojin yang liar dan sukar dikendalikan ternyata sama sekali tidak memberikan perlawanan terhadap semua keputusan yang diambil seebun Giok-hiong. Dia cuma bisa berdiri di samping dengan wajah termangu.

ciu Huang serta Phang Thian-hua dengan mengerahkan hawa murninya bersiap sedia bergerak di paling belakang sambil melakukan perlindungan, dengan cepat mereka telah membawa Li Tiong-hui sekalian keluar dari ruang tamu itu.

Lim Han-kim mengerti, dengan dandanannya sekarang bahkan Li Tiong-hui pun sudah menaruh curiga kepadanya, berarti ia tak akan mampu mengelabui seebun Giok-hiong. Asal dia berjalan di bawah cahaya lampu, maka jejaknya segera akan diketahui seebun Giok-hiong.

Tapi menyaksikan Li Tiong-hui sekalian telah membawa pergi Yu siau-liong, ia pun gelisah bercampur panik, pikirnya: "Tampaknya agak sulit bagiku untuk menyusup keluar dari ruangan ini tanpa diketahui lawan. Aku mesti cari tempat yang terbaik untuk menyembunyikan diri lebih dulu, menunggu sampai seebun Giok-hiong sudah pergi, baru berusaha menyusup keluar"

Ternyata seluruh ruangan nampak amat terang bermandikan cahaya lilin- selain belakang pintu di mana ia sembunyikan diri sekarang terasa agak remang, tempat lain boleh dibilang terang benderang semua.

sementara ia masih panik bercampur gelisah, mendadak seebun Giok-hiong berjalan langsung menuju ke hadapannya sambil membentak: "siapa di sana?"

"Aduh celaka," pikir Lim Han-kim. "Setelah jejakku ketahuan, nampaknya sulit bagiku untuk meloloskan diri hari ini..."

Dalam keadaan demikian, terpaksa ia harus tampilkan diri dari tempat persembunyiannya .

Ia sadar, kelewat banyak bicara sama artinya memberi peluang lebih besar kepada seebun Giok-hiong untuk mengenali dirinya, maka tanpa berbicara sepatah kata pun ia berjalan langsung menuju ke luar gedung dan menyusul ke arah Li Tiong-hui dan rombongan tadi lewat.

Waktu itu Li Tiong-hui baru saja melewati pintu lapis kedua sementara Ciu Huang dan Phang Thian-hua masih berada di balik pintu lapis kedua. Tindakan Lim Han-kim yang langsung melompat keluar dari gedung begitu tampilkan diri tadi sama sekali di luar dugaan seebun Giok-hiong, sementara ia masih tertegun, Lim Han-kim sudah berada dua kaki lebih dari posisinya semula, Dalam gelisahnya ia segera melejit ke udara sambil menghardik: "Berhenti" Dengan kecepatan bagaikan sambaran petir dia menyusul ke belakang tubuh Lim Han-kim sementara tangan kanannya langsung melancarkan sebuah cengkeraman maut

sambil membalikkan badan, Lim Han-kim melepaskan sebuah serangan balik, memanfaatkan peluang tersebut badannya melesat lebih cepat lagi ke arah depan.

ilmu silat yang dimiliki seebun Giok-hiong luar biasa hebat dan lihainya, meskipun dalam keadaan gugup bercampur cemas, perubahan gerak serangannya ternyata masih canggih jauh melebihi manusia biasa, Ketika melihat datangnya serangan balik yang dilancarkan Lim Han-kim, ia segera menekuk pergelangan tangannya ke bawah, sementara kelima jari tangannya dikebaskan mendatar keluar.

Lim Han-kim segera merasakan lengan kanannya kesemutan, tahu-tahu lengannya menjadi lumpuh dan kehilangan sama sekali fungsi serta kekuatan tubuhnya.

Namun anak muda tersebut enggan menyerah dengan begitu saja. sambil menggeretak gigi menahan rasa sakit yang luar biasa ia lanjutkan gerakan tubuhnya untuk melompat ke depan dengan sepenuh tenaga. sekali melompat ia sudah berada satu tombak dari posisi semula.

seebun Giok-hiong tertawa dingin, bagaikan bayangan tubuh saja ia menempel terus di belakang anak muda tersebut dan mengejar tiada hentinya.