-->

Pedang Keadilan II Bab 20 : Gadis Cantik setengah Telanjang

 
Bab 20. Gadis Cantik setengah Telanjang

Lambat laun kegelapan mulai menyelimuti angkasa, pemandangan di sekitar situ pun mulai dicekam kegelapan yang redup, Entah berapa lama sudah ia menempuh perjalanan, akhirnya dari depan sana terlihat kilatan selintas cahaya.

Mengikuti arah datangnya cahaya lampu itu, Lim Han- kim berjalan mendekat Akhirnya ia mengetahui bahwa tempat itu adalah sebuah kuil kecil. Cahaya yang terlihat itu tak lain berasal dari balik kuil tersebut.

Ketika Lim Han-kim mencoba mendorong pintu depan, ternyata pintu itu segera terbuka, agaknya memang tidak terkunci Dengan langkah lebar Lim Han-kim berjalan masuk ke dalam ha la man kuil itu.

Luas halaman hanya sekitar setengah bau, termasuk dua ruang utamanya tak lebih hanya terdiri dari belasan bilik, cahaya lentera itu berasal dari balik sebuah ruang kecil di sisi balairum utama. Tanpa pikir panjang Lim Han-kim berjalan mendekati bilik kecil tadi dan mendorong pintunya.

Di dalam bilik itu ia jumpai seorang kakek berjubah pendeta sedang duduk bersia. Tak jauh disamping kakek itu duduk pula seorang gadis cantik berambut panjang yang tidak mengenakan pakaian atas, tubuhnya yang setengah bugil itu membuat payudaranya kelihatan jelas sekali. Dua ekor ular raksasa berwarna merah darah melingkar di sisi gadis itu sambil mengangkat kepalanya siap mematuk.

Dalam sekilas pandang saja Lim Han-kim segera merasa bahwa kakek berjubah pendeta itu rasanya seperti pernah ia kenal sebelumnya, tapi berhubung benaknya sedang dipenuhi pelbagai masalah yang pelik, ia segan untuk cabangkan pikirannya memikirkan masalah lain- Baru saja ia memutar badan siap mengundurkan diri dari situ, mendadak terdengar gadis cantik setengah bugil itu membentak keras: "Berhenti setelah berani menerjang masuk ke mari, kau masih ingin pergi dengan gampang?"

Kebetulan pada waktu itu Lim Han-kim sedang membayangkan keadaan Pek si-hiang, pikirnya: "Entah bagaimana nasib nona Pek sekarang? Apakah ia sudah mulai berlatih ilmu sesat?"

Karena itu ia segera menghentikan langkahnya setelah mendengar bentakan tersebut.

Terdengar gadis cantik setengah bugil itu kembali berseru dengan nada dingini "Jika masih ingin hidup, duduklah dengan sikap manis di sudut ruangan sana"

Tanpa berpikir sedikitpun, Lim Han-kim melangkah ke sudut ruangan dan duduk di situ, Agaknya gadis cantik setengah bugil itu tidak mengira kalau lawannya begitu penurut, padahal ia sudah menyiapkan seekor ular kecil berwarna hitam yang siap dilontarkan ke depan-

Ketika melihat Lim Han-kim menurut dan betul-betul duduk di tempat yang ditunjuk, terpaksa dia pun urungkan kembali niatnya,

Kakek berjubah pendeta itu melirik Lim Han-kim sekejap. lalu ujarnya kepada gadis cantik setengah bugil itu: "Urusan di antara kita berdua tak ada sangkut pautnya dengan pihak ketiga, kenapa kau melarangnya pergi?"

"Hmmmm Tempat ini sepi, terpencil, tiada jejak manusia di sekitarnya, siapa suruh dia datang kemari sendiri? ini yang dinamakan jalan sorga tak mau dilalui, jalan ke neraka justru ditelusuri, apa salahku kalau menahannya juga?"

"Kesalahan yang dibuat tanpa disengaja bukan merupakan kesalahan besar, apalagi menahannya di sini pun tak ada faedahnya, lebih baik biarkan saja dia pergi"

Kembali gadis cantik setengah bugil itu mendengus dingin. "Aku hendak menggunakan dia sebagai contoh, biar dia rasakan dulu kelihaianku" serunya.

Tergerak juga perasaan Lim Han-kim setelah lamat- lamat ia menangkap niat gadis itu untuk menjatuhkan hukuman kepadanya, kesadarannya juga ikut jernih kembali sambil menghimpun tenaga dalamnya bersiap sedia, ia menegur: "Apa kau kata?"

"Aku ingin kau mencicipi bagaimana rasanya bila racun ular menyerang hatimu," kata gadis cantik setengah bugil itu sambil tersenyum

" Kenapa?" seru Lim Han-kim terkejut "Di antara kita toh tiada ikatan dendam maupun sakit hati?"

Kembali gadis setengah bugil itu tertawa terkekeh- kekeh: "He he he... betul di antara kita memang tak ada ikatan dendam atau sakit hati, tapi berapa orang kah di dunia ini yang benar-benarpunya dendam denganku?"

Ia mendongakkan kepalanya sambil menarik napas panjang, kemudian melanjutkan "Bila aku tidak membunuh orang yang tak punya dendam denganku, bukankah di dunia ini aku sudah tak akan temukan korban yang bisa kubunuh lagi?" "Kejam amat perempuan ini,"pikir Lim Han-kim diam- diam. "Dia anggap nyawa manusia macam nyawa semut yang tak berharga saja, Kurang ajar betul, dianggapnya membunuh orang hanya permainan kanak-kanak^

Dengan cepat ia dapat mengambil kesimpulan bahwa kekejaman perempuan ini sesungguhnya berpuluh lipat lebih hebat ketimbang seebun Giok-hiong.

Kedengaran tosu tua berjenggot panjang itu menghela napas dan berkata: " Kalau kau masih punya cara siksaan yang lebih keji, silakan kaupergunakan di atas tubuhku, Tolong pandanglah pada wajahku dengan membiarkan dia pergi dari sini."

Lim Han-kim merasa kenal sekali dengan logat suara tosu itu, seakan-akan pernah didengarnya di suatu tempat, setelah dia mati dengan lebih seksama, pemuda itu segera terkesiap. rupanya tosu itu tak lain adalah Thian-hok sangjin-

Memang taksalah dugaannya, pendeta berjenggot putih ini memang Thian-hok sangjin dari bukit Mao-san.

Perempuan cantik setengah bugil itu mendengus dingin, jengeknya: "Mintakan ampun baginya? Hmmm, lebih baik kau saksikan dulu bagaimana tersiksanya bila seseorang digigit ular beracunku"

Tiba-tiba ia mengayunkan tangannya ke depan, seekor ular kecil segera melesat ke udara dan menyambar ke arah Lim Han-kim.

sudah sejak tadi Lim Han-kim membuat persiapan dengan mengerahkan tenaga dalamnya ke seluruh badan, Begitu melihat datangnya sergapan itu, tubuhnya melejit berapa depa ke samping dengan cekatan, lalu sebuah pukulan dilontarkan ke depan, segulung angin pukulan yang kuat dan ganas dengan cepat meluncur ke udara dan menghantam ular kecil itu.

"Aaaah" perempuan cantik setengah bugil itu menjerit kaget, "Tak nyana ilmu silatmu cukup tangguh"

setelah melepaskan sebuah pukulan tadi, dari sakunya Lim Han-kim sudah merogoh keluar pedang Jin-siang- kiam, dengan marah ia mengumpak "Perempuan busuk. sungguh kejam hatimu. Aku toh belum pernah menyalahimu, kenapa kau lepaskan ular beracunmu untuk menggigit aku?"

Perempuan cantik setengah bugil itu tertawa dingin, "Ada apa? Kau anggap pedang pendek di tanganmu itu cukup tajam?"

Mendadak Thian-hok sangjin menyela: "Anak muda, kalau tidak kabur saat ini, mau tunggu sampai kapan lagi?" Ujung bajunya segera dikebaskan ke muka segulung angin ribut menerpa dalam ruangan membuat cahaya lilin mendadak padam. suasana dalam ruanganpun seketika berubahjadi gelap gulita.

Kedengaran perempuan cantik setengah bugil itu kembali membentak nyaring, disusul kemudian seluruh ruangan terendus bau anyir yang sangat memualkan perut.

Lamat-lamat Lim Han-kim dapat merasakan munculnya beberapa ekor ular beracun yang menyergap ke arahnya. Buru-buru diaputar pedangnya untuk melindungi seluruh badan. Biarpun pedang Jin-siang-kiam bukan termasuk senjata mestika yang luar biasa, namun kemampuannya cukup untuk membelah besi baja serta benda keras pada umumnya, Dalam putaran pedangnya untuk melindungi badan ini, Lim Han-kim bisa merasakan senjata itu seperti membentur sesuatu benda, pikirnya: "Aku yakin ketajaman pedangku masih mampu mengutungi binatang melata, cuma berapa banyak ular yang akan menjadi korban senjataku ini?"

Tiba-tiba kelihatan cahaya api memercik kembali di ruangan, lilin yang semula padam kini terang benderang kembali. Dengan hilangnya kegelapan maka pemandangan di seputar ruangan pun bisa kelihatan lebih jelas.

Buru-buru Lim Han-kim periksa sekeliling tubuhnya, di situ ia jumpai ada dua ekor ular yang benar-benar menjadi korban pedang tajamnya, tergolek dengan perut terbelah.

Sementara itu si perempuan cantik setengah bugil itu sudah menggeser posisi berdirinya lebih dekat dengan pintu ruangan- Agaknya dia khawatir Thian-hok Sangjin manfaatkan peluang itu untuk melarikan diri.

Perlahan-lahan Lim Han-kim mengalihkan sorot matanya ke sudut ruangan, di mana Thian-hok Sangjin terduduk tadi. Namun apa yang kemudian teriihat olehnya segera membuat anak muda itu terperangah.

Rupanya ada seekor ular raksasa berwarna merah darah sebesar lengan bocah sedang membelit seluruh tubuh Thian-hok sangjin kencang-kencang. Kedua lengannya sudah terbelenggu oleh lilitan ular itu sementara lidah si ular yang berwarna merah persis berada di muka jidat pendeta tua itu.

Berdiri seluruh bulu kuduk Lim Han-kim setelah melihat adegan ini, dia ngeri bercampur bergidik, pikirnya: "Daripada menerima siksaan lahir batin seperti itu, mendingan mati dalam sekali tebasan golok..."

Anehnya, sikap Thian-hok sangjin sangat tenang, seolah-olah tak pernah ada kejadian apa pun terhadapnya, Malah dia menengok sekejap ke arah si ular raksasa itu pun tidak, matanya terpejam rapat dan mulutnya terkancing ketat.

Kembali terdengar perempuan cantik setengah bugil itu menjengek: "Hmmmm, untuk pertahankan keselamatan diri sendiri pun kau tak mampu, masih ada waktu untuk mengurusi urusan orang lain... Huuuh, betul-betul tak tahu diri"

Pelan-pelan Thian-hok sangjin membuka matanya kembali, ujarnya hambar: "Nona, ada sepatah dua patah kata aku ingin sampaikan kepadamu semoga saja kau terima bujukanku"

"soal apa?"

"Di dalam ruang sempit ini, melain kau dan aku sesungguhnya masih ada lagi seorang..."

"Seorang pemuda jelek, yakni dia" tukas perempuan cantik setengah bugil itu sambil menuding Lim Han-kim.

"Dia berdiri di situ dengan tegar dan blak-blakan, siapa saja bisa melihat kehadirannya, bukan dia yang kumaksudkan" " Kalau bukan dia, masa masih ada manusia keempat?" seru perempuan setengah bugil itu keheranan-

"Benar, memang orang keempat yang kumaksudkan orang itu memiliki ilmu silat yang sangat hebat, tapi wataknya juga amat jelek. Apabila aku tidak membujuknya berulang kali secara diam-diam, mungkin kau sudah terluka di tangannya."

"He he he... masa ada kejadian seperti itu?" perempuan bugil itu tertawa dingin.

"Jadi kau tak percaya pada perkataanku?" "sebelum dia menampakkan diri, aku tak bakal

percaya"

"Bila ia sampai dipaksa untuk tampilkan diri, aku takut ia akan menolak untuk menuruti bujukanku lagi, bila ia sampai turun tangan mencelakai dirimu..."

" Kau tak usah menakut-nakuti aku" hardik perempuan bugil itu naik pitam.

"Aku tahu kau sedang bohong, sengaja menggertak aku, padahal di sini tak ada orang keempat"

"sepasang lenganku sudah dililit oleh ular merahmu, pemuda itu juga lagi sibuk memutar pedang, sebaliknya kau berjaga di muka pintu, lalu siapa yang telah menyulut lilin dalam ruangan ini?"

Begitu pertanyaan tersebut diutarakan, perempuan cantik setengah bugil itu terbelalak seketika dan terbungkam dalam seribu basa, sementara sorot matanya dengan liar menyapu seluruh ruangan tersebut. "Benar juga ucapan ini," Lim Han-kim berpikir pula, "Sepasang lengannya terlilit ular hingga mustahil bisa bergerak, sedang aku tak pernah menyulut lilin, apalagi perempuan setengah bugil itu. Kecuali kami bertiga, berarti di sini telah hadir orang keempat, dialah yang telah menyulut lilin itu..."

Dia pun mencoba untuk melakukan pemeriksaan, tapi selain sebuah meja di mana lilin itu terletak, boleh dibilang dalam ruangan itu tak ada tempat lain yang bisa dipakai untuk menyembunyikan diri

selesai memeriksa seluruh ruangan itu sekejap. dengan nada dingin perempuan setengah bugil itu berkata: "Aku tahu kau licik dan banyak tipu muslihat aku tak bakal percaya dengan perkataanmu"

Thian-hok sangjin menghela napas panjang, katanya: "Musibah yang kuderita saat ini merupakan akibat dari salah langkah yang kuperbuat tempo dulu, Aku tak ingin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, Bila nona enggan menuruti bujukanku, yaaa sudahlah, apa boleh buat..."

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, terasa cahaya lilin bergoncang keras, lalu dalam ruangan itu sudah bertambah lagi dengan seorang kakek berambut putih.

"Rupanya dia sembunyi di atas tiang rumah yang melintang di belakang pintu," pikir Lim Han-kim.

Tampak kakek itu menggosok sepasang telapak tangannya berulang kali, lalu sambil mengangkat telapak tangan kanannya ke hadapan perempuan setengah bugil itu, serunya dingin: "Kenal kau dengan ilmu silatku ini?" setelah memandang telapak tangan itu sekejap. perempuan cantik setengah bugil itu segera menjerit tertahan- "sam-yang-sin-ciang"

"Betul, ilmuku adalah sam-yang-sin-ciang" kakek berambut putih itu mendengus.

sewaktu masih ada di bukit Im-lu-san, Lim Han-kim sudah pernah berjumpa dengan orang ini. Dia tahu kakek tersebut adalah suami Gadis naga berbaju hitam, atau dengan perkataan lain dia adalah Pek Ki-hong, ayah Pek si-hiang.

Terdengar Pek Ki-hong berkata dengan suara dingin: "setelah kau mengenali ilmu pukulan sam-yang-sin-ciang milikku, semestinya kau sudah mengerti bukan bahwa aku memiliki kemampuan untuk membinasakan dirimu"

"Kita kan belum pernah bertarung, siapa menang siapa kalah aku rasa kelewat dini untuk diramalkan"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Pek Ki-hong, serunya dingin- "Jadi kau memaksa aku untuk turun tangan" pelan-pelan dia mengangkat kembali telapak tangannya siap melancarkan serangan,

"Jangan lukai dia" tiba-tiba Thian-hok sangjin mencegah sambil menghela napas panjang, "Dulu aku sudah melakukan kesalahan besar gara-gara terburu emosi dan menuruti suara hati sendiri sampai kini rasa menyesalku belum juga hilang, maka bila kau membunuhnya hari ini, aku akan kehilangan kesempatan sama sekali untuk menebus dosa-dosaku itu. Apakah kau senang melihat aku tersiksa gara-gara kejadian ini?" sambil menarik napas panjang Pek Ki-hong menarik kembali serangannya, ia berkata: "Tak seorang manusia pun di dunia ini yang luput dari kesalahan, yang penting kita tahu salah, bertobat serta tidak mengulanginya kembali Apa sih gunanya kau menyiksa dirimu sendiri?"

"Aaaai... memang sulit untuk diterangkan di mana letak rasa menyesalku itu. Hanya keponakanku si- hiang seorang yang dapat memahami perasaan hatiku ini," kata Thian-hok sangjin serius.

"Kasihan keponakanmu itu lenyap bagai ditelan bumi, tak setitik berita pun yang diperoleh Gara-gara urusan ini, hampir saja istriku menjadi gila lantaran paniknya." Pek Ki-hong turut menghela napas.

seakan-akan batinnya peroleh gempuran yang sangat kuat, mendadak sekujur badan Thian-hok sangjin gemetar keras, bisiknya: "Apakah sampai sekarang si- hiang keponakanku belum berhasil melepaskan diri dari cengkeraman maut...?"

" Hidup tak ada beritanya, mati tak nampak jenasahnya, Aaai... Yang paling menjengkelkan lagi adalah siok-bwee dan Hiang-kiok, dua orang budak busuk itu, entah kemana perginya hingga sampai sekarang pun tidak mengirim berita"

Mendengar pembicaraan yang sedang berlangsung itu, dalam hati kecilnya Lim Han-kim segera berpikir "Ternyata orang tuanya tidak tahu kalau Pek si-hiang bersembunyi di pesanggrahan pengubur bunga..."

sementara dia masih termenung, Thian-hok sangjin telah berkata lagi: "Kau tak usah gelisah. Aku percaya dengan kemampuan serta kecerdikan yang dimiliki si- hiang, ia pasti dapat mengusahakan cara untuk meloloskan diri dari ancaman elmaut."

Kembali Pek Ki-hong menghela napas panjang, "selama bertahun-tahun sudah cukup banyak derita dan siksaan yang kami berdua alami gara-gara penyakitnya, Kalau ia betul-betul sudah mati, yaa sudahlah karena memang takdir. Tapi kini, tak secuil berita pun yang kami peroleh, hal ini betul-betul membuat kami panik dan tidak tenang."

"Kau tak usah panik," hibur Thian-hok sangjin sambil tertawa, "Sesungguhnya si-hiang sudah memperoleh cara untuk menolong diri, hanya ia sendiri yang enggan melanjutkan hidupnya, Aku yakin bila ia benar-benar sudah menjelang ajalnya, ia tentu akan teringat kembali dengan budi kebaikan kalian berdua, Apalagi masih ada aku, si empek yang tersiksa di istana panca racun, ia tak akan tega membiarkan kita-kita ini menderita."

Dalam hati kecilnya Lim Han-kim segera berpikir "Jawabanmu hanya benar separuh, meskipun ia mempunyai cara untuk menolong diri sendiri, namun tidak terlalu yakin akan keberhasilannya, jadi mati hidupnya tetap separuh-separuh..."

Mendadak terdengar wanita cantik setengah bugil itu mengejek dengan suara dingin- "Thian-hok sangjin, bila kau yakin keponakanmu mampu selamatkan jiwamu, kenapa tidak suruh dia mencoba?"

Dengan penuh amarah Pek Ki-hong menghardik: "Kalau aku mau membunuhmu aku bisa melakukannya segampang membalik telapak tanganku sendiri Tapi aku tak ingin mengusik niat rekanku. HHmmm... lebih baik tutup saja bacotmu yang bau, jangan membangkitkan amarahku hingga terpaksa kubunuh kau secara keji"

seraya berkata ia mengayunkan telapak tangannya melepaskan satu pukulan ke depan-seekor ular raksasa berwarna merah yang melingkar persis di depan perempuan setengah bugil itu segera berkelejitan beberapa kali lalu tergeletak mati.

Bergidik juga perasaan Lim Han-kim menyaksikan adegan ini, pikirnya: "Tak nyana ilmu pukulan sam-yang- sin-ciang benar-benar begitu hebat"

Agaknya kekuatan inti yang paling diandalkan perempuan cantik setengah bugil itu hanyalah beberapa ekor ular berbisa itu, ia terbungkam seketika setelah melihat kehebatan tenaga pukulan lawannya, Wanita itu agaknya sadar kemampuan yang dimilikinya masih bukan tandingan lawan, bila dia masih banyak mulut, maka jiwanya benar-benar terancam.

Melihat perempuan bugil itu sudah dibikin ciut nyalinya oleh kehebatan tenaga pukulannya, Pek Ki-hong pun berpaling ke arah Thian-hok sangjin sambil bertanya: "Kau sudah bertemu dengan ketua istana panca bisa?"

"Sudah"

"Apa dia bilang?"

"Aaaai..." Thian-hok sangjin menghela napas panjang, "Dia masih tidak dapat melupakan dendam sakit hatinya dulu..."

Mendadak ia berpaling ke arah Lim Han-kim dan segera membungkam. Pek Ki-hong turut mengalihkan pandangan matanya ke arah Lim Han-kim, lalu tegurnya dingin: "Mau apa kau berada di sini?"

"Jelek amat tabiat orang ini," batin Lim Han-kim, setelah mendeham katanya: "Aku hanya kebetulan saja lewat di sini, aku berniat menginap semalam di sini"

"Sekarang kau boleh pergi dari sini" tukas Pek Ki- hong.

"Baiklah" pelan-pelan Lim Han-kim membalikkan badan dan beranjak pergi dengan langkah lebar, Tapi ia terpaksa menghentikan kembali langkahnya setelah menjumpai perempuan cantik setengah bugil itu masih berdiri menghadang di depan pintu utama.

"Minggir kamu" hardik Pek Ki-hong penuh amarah.

Kali ini perempuan setengah bugil itu tidak membantah pelan-pelan ia bangkit berdiri dan menyingkir ke samping, agaknya ia sudah dibikin keder oleh kehebatan Pek Ki-hong.

sambil melangkah keluar dari ruangan, Lim Han-kim kembali berpikir "Sungguh aneh, Pek si-hiang begitu lembut, ramah dan halus tak nyana ayahnya begitu kasar, berangasan dan tak tahu aturan-.. perbedaan mereka benar-benar ibarat langit dan bumi.

Kini, ia sudah tidak percaya terhadap siapa pun, ia juga tidak menaruh perhatian kepada orang lain, Dalam anggapannya manusia di dunia ini tak lepas dari perburuan nama serta kedudukan, gara-gara ingin memenuhi kepentingan sendiri, mereka tak segan mengorbankan sahabat, rekan bahkan keselamatan seluruh umat persilatan. Maka dari itu dia pun tidak ambil pusing lagi siapa yang bakal menguasai dunia persilatan ini, baik dia seebun Giok-hiong maupun Li Tiong-hui, dalam bayangannya kedua orang ini tidak selisih terlalu jauh. satu-satunya masalah yang tak dapat dilupakan olehnya kini tinggal keselamatan Pek si-hiang.

selama beberapa waktu ini, benaknya telah dipenuhi banyak masalah yang memusingkan kepalanya, Dia berharap bisa menemukan jawabannya, tapi dia pun sadar bila dia harus berpikir sendiri untuk menemukan jawabannya, mungkin sampai tiga atau lima tahun pun belum tentu akan berhasil menarik suatu kesimpulan. Hanya kecerdikan Pek si-hiang seorang yang bisa membantunya untuk memperoleh semua jawaban tersebut.

Tentu saja semuanya ini terbatas pada jalan pikirannya sendiri, padahal ia tak sadar bahwa serat- serat cinta yang ditaburkan Pek si-hiang sesungguhnya telah menjerat perasaan hatinya, Gerak-gerik si nona yang lemah lembut, pandangan matanya yang bening penuh kehalusan cinta sudah jauh merasuk ke dasar lubuk hatinya,

Dengan perasaan bimbang ia berjalan terus ke depan tanpa arah dan tujuan- sejak hari itu, ia pun mulai dengan penghidupan mengembaranya, tidak mengenal waktu dan tanpa tujuan- Hari ini sampailah anak muda tersebut di sebuah kota yang amat besar Karena merasa lapar, ia pun berjalan menuju ke sebuah rumah makan terdekat Waktu itu tengah hari sudah menjelang tiba, suasana dalam rumah makan itu sangat ramai. setelah hidup luntang-lantung seorang diri sekian waktu, Lim Han-kim boleh dibilang hanya memikirkan persoalan sendiri tanpa ambil perduli terhadap urusan di sekelilingnya, keadaannya waktu itu tak ubahnya macam orang linglung saja.

setelah mencari sebuah tempat kosong di sudut ruangan, ia memesan hidangan lalu bersantap sendirian tanpa banyak bicara, Meskipun suasana di ruangan itu ramai dan banyak orang berlalu lalang di hadapannya, namun ia tidak melirik barang sekejap pun, seolah-olah dalam ruangan itu hanya ada dia seorang.

Entah berapa lama sudah lewat, mendadak dari belakang tubuhnya kedengaran seseorang menegur: "Tuan, apakah kau sudah selesai bersantap?"

Lim Han-kim segera tersadar kembali dari lamunannya, kini ia baru menjumpai tamu yang semula memenuhi ruangan rumah makan saat itu sudah pergi tak tersisa seorang pun-Melihat sisa arak dalam pocinya masih setengah, ia pun menggeleng seraya menjawab: "Arak dalam pociku belum habis, sebentar lagi"

Pelayan itu nampak sangat gelisah, peluh bercucuran membasahi wajahnya, namun ia pun tak berani bertindak apa-apa melihat wajah Lim Han-kim yang begitu menyeramkan, terpaksa sambil menjura dalam-dalam mohonnya lagi: "Tuan, kami tidak melarang tuan meneruskan santapannya, tapi bagaimana kalau berpindah ke tempat lain?"

"Baiklah" sahut Lim Han-kim sambil tertawa, tanpa banyak cincong dia pindah ke bangku lain, sambil membesut peluh yang mengucur membasahi jidatnya pelayan itu berkata lagi sambil menghembuskan napas lega: "Tuan, kau masih begitu tenang duduk santai di sini, tahu tidak bahwa hamba nyaris gila lantaran panik,"

"Apa yang telah terjadi?"

"Lhoo...?" pelayan itu berseru tertahan dengan wajah terlongong, "Jadi kau tidak mendengar sama sekali teriakan dari tauke kami tadi?"

Lim Han-kim gelengkan kepalanya berulang kali. "Tidak- aku tidak mendengar apa-apa, sepatah kata

pun tidak kudengar..." sahutnya.

sekali lagi pelayan itu menjura dalam-dalam seraya memohon- "Tuan, janganlah mengajak hamba bergurau, sungguh mati hamba betul-betul panik, Mumpung sekarang masih ada kesempatan, lebih baik cepatlah menyingkir dari sini"

"Sebetulnya apa sih yang sudah terjadi?" "jadi kau sungguh-sungguh tidak tahu?"

"Tentu saja aku betul-betul tidak mengerti, buat apa sih membohongi dirimu?"

sambil menyeka peluh yang membasahi wajahnya pelayan itu menjelaskan- "sebenarnya rumah makan kami sudah di-borong oleh Lau toaya hari ini, dan sekarang waktunya sudah hampir tiba, mumpung belum terlambat lebih baik cepatlah tuan beranjak pergi..."

Belum lagi perkataan itu selesai diucapkan, suara derap kuda telah bergema mendekat disusul munculnya empat ekor kuda jempolan di muka rumah makan itu. Empat lelaki kekar berpakaian ringkas yang duduk dipunggung kuda sebera melompat turun dengan gerakan cekatan, kemudian dengan langkah lebar masuk ke dalam ruangan.

"Mampus kau tuan," bisik pelayan itu ketakutan.

Keempat lelaki kekar itu langsung berjalan menghampiri Lim Han-kim. orang pertama melirik pemuda itu sekejap. lalu kepada si pelayan tegurnya ketus: "Cengcu kami toh sudah bilang seluruh rumah makan ini sudah diborong...? Kenapa kalian tak tahu diri?"

Tergopoh-gopoh pelayan itu menjura dalam-dalam segera menyahut: "Arak dalam poci tua ini masih ada setengah, begitu selesai ia pasti pergi"

Lelaki kekar itu mendengus dingin: " Kalau begitu percuma saja kami pernah berpesan kepadamu?"

"Ampun tuan, hamba tak bisa disalahkan, harap kau sudi memaafkan kesalahan ini..." seru pelayan itu semakin ketakutan, Tiba-tiba saja ia jatuhkan diri berlutut dan menyembah berulang kali,

Ketika itu, semangat Lim Han-kim boleh dibilang sudah punah sama sekali, ia tak punya emosi sedikit pun untuk membuat gara-gara. seandainya lelaki itu langsung mencarinya, meski ia dihadiahi berapa kali bogem mentah pun belum tentu dia akan membalas, tapi hatinya jadi tak tega setelah melihat sikap pelayan tersebut. Mendadak ia menegur dengan suara dingin: "Kamu berempat tak usah menyusahkan si pelayan Kalau ada urusan- langsung saja bicara dengan aku" Lelaki itu segera berpaling, serunya: "Besar amat bacotmu, tampaknya kau sedikit berisi juga"

Tanpa banyak membuang waktu ia sambar poci arak Lim Han-kim di atas meja lalu membantingnya ke lantai.

Mefihat tingkah laku lelaki itu Lim Han-kim tertawa terbahak-bahak, "Ha ha ha... bagus sekali bantinganmu" ejeknya.

Tampaknya lelaki itu semakin sewot, teriaknya makin gusar: "Bangsat, kau kira aku takut menghajarmu?"

"Waaah... waaah... antara kita berdua toh tak punya ikatan dendam, kenapa kau mesti ingin menghajarku?"

"Baik, hari initoaya bersumpah harus memberi pelajaran kepadamu, agar kau tahu diri" umpat lelaki itu sambil melepaskan sebuah cengkeraman ke depan .

Lim Han-kim tertawa ringan, ditangkisnya sambaran itu dengan gampang ke samping kiri, lalu jengeknya: "Janganlah kelewat kurang ajar terhadap orang yang belum kau kenali"

Termakan tangkisan Lim Han-kim yang nampak enteng itu, lelaki tersebut tergetar mundur sampai dua langkah lebih, kejadian ini kontan saja membuatnya melengak.

Melihat rekannya menderita kerugian, ketiga orang rekan lainnya serentak menyerbu maju. Pisau belati yang telah dipersiapkan langsung ditusukkan ke arah jalan darah kematian di tubuh Lim Han-kim.

Kekejian orang-orang itu dengan cepat memancing amarah Lim Han-kim, bentaknya gusar "Kalian berempat betul-betul tak tahu sopan santun Di tengah siang hari bolong begini kalian ingin berkomplot membunuh orang? Betul-betul tak tahu diri"

sebuah gempuran balasan segera dilontarkan, dalam waktu singkat tiga orang di antaranya tergeletak dengan menderita luka-luka.

Kegarangan keempat lelaki itu seketika lenyap tak berbekas, bagaikan anjing kena gebuk mereka segera balik badan dan melarikan diri sipat kuping.

Agaknya si pelayan itu tidak menyangka kalau Lim Han-kim memiliki ilmu silat begitu hebat. selain terharu dan berterima kasih, ia pun nampak sangat ketakutan, katanya kemudian sambil menghela napas panjang: "Tuan, kau telah membuat bencana besar..."

"Bencana apa?"

" Keempat orang itu adalah pelayan-pelayan tuan Lau, Gara-gara peristiwa ini..."

Belum lagi ucapan itu selesai, dari luar rumah makan sudah kedengaran seseorang menegur dengan suara ketus: "sahabat dunia persilatan dari mana yang telah mengajak aku orang she-Lau bergurau?"

Ketika Lim Han-kim mengangkat kepalanya, ia jumpai seorang lelaki setengah umur berusia antara empat puluh tahunan dengan memakai baju sutera berwarna hijau, muka hitam, alis tebal, mata lebar dan penuh amarah sedang melangkah masuk.

Pelayan itu nampak semakin ketakutan, meski dia jengkel kepada Lim Han-kim yang membuat gara-gara itu, ia pun merasa berterima kasih karena telah ditolong pemuda tersebut tadi, maka sambil menjura kepada lelaki setengah umur itu serunya: "Tuan Lau, harap kau..."

Lelaki setengah umur berbaju sutera hijau itu mendengus dingin, tanpa menjawab ia sambar lengan kiri pelayan itu lalu melontarkannya ke depan, "Aduuuh"

sambil mengaduh kesakitan pelayan itu terlempar sejauh enam-tujuh depa dari posisi semula dan jatuh terbanting keras-keras di atas tanah, Melihat musuhnya cukup tangguh, Lim Han-kim tak berani bertindak gegabah, diam-diam ia mengerahkan tenaga dalamnya bersiap sedia.

Dengan suara dingin kembali lelaki ber-sutera hijau itu menegur: "Sobat, tahukah kamu hari apa hari ini?"

Lim Han-kim berpikir sejenak lalu menggeleng "Entahlah..."

Lelaki setengah umur itu semakin gusar, kembali berteriak: "sobat, nampaknya kau memang sengaja hendak menyusahkan aku orang dari marga Lau?"

"Tapi aku betul-betu tidak tahu..."

Mendadak dari luar rumah makan muncul lagi seekor kuda, penunggangnya langsung melompat turun begitu sampai di depan pintu, lari masuk dan melapor "Taan Lau, rombongan Bengcu sudah berada dua li dari sini"

" Cepat selidiki lagi," titah lelaki setengah umur itu sambil mengulapkan tangannya, Kemudian kepada Lim Han-kim ia berseru pula: "sekarang kau tentu sudah tahu bukan"- "Bengcu apaan itu?"

"Tentu saja Bu- lim Bengcu" sahut lelaki itu. "Hei sobat, sebetulnya kau pernah berkelana dalam dunia persilatan atau tidak?"

Belum sempat Lim Han-kim menjawab, kembali seekor kuda berhenti di depan pintu, belum sempat turun dari kudanya penunggang itu sudah berteriak keras: "Bengcu telah tiba, harap ceng-cu segera datang menyambut"

Mendengar teriakan itu, lelaki tersebut tak sempat meladeni Lim Han-kim lagi, kepada si pelayan titahnya: "Ajak tuan itu ke sudut sana, anggap saja dia adalah tamuku" Kemudian tanpa menunggu jawaban lagi ia beranjak keluar dengan langkah tergesa-gesa.

Dengan jalan timpang pelayan itu berjalan mendekat seraya" berseru: "Tuan, coba lihat. Gara-gara ulahmu, aku jadi pincang, Bagaimana kalau sekarang ikut hamba pindah ke sudut dalam sana?"

Lim Han-kim tersenyum, sambil pindah ke sebuah bangku dekat pintu ia berkata: "Aku rasa tempat ini yang paling bagus"

Beberapa orang pelayan yang berada di situ tak satu pun berani merintangi kehendaknya. Apalagi setelah mereka menyaksikan kehebatan ilmu silatnya dalam merobohkan keempat lelaki kekar tadi, tentu saja mereka segan membangkitkan amarah pemuda ini.

Tak lama kemudian dari luar pintu rumah makan kedengaran seseorang berseru dengan nyaring: "Lau Cong dari Wan- lam menyambut dengan gembira kehadiran Bengcu terhormat" "saudara Lau tak usah banyak adat," seseorang menjawab dengan suara lembut. "Apakah hidangan siang telah disiapkan?"

"Yaa, hamba telah siapkan hidangan di rumah makan ini, setiap saat hidangan dapat dikeluarkan"

Tampak empat lelaki kekar yang menunggang kuda jempolan melompat turun dari tunggangannya lalu berdiri berjajar di kedua sisi pintu rumah makan dengan sikap serius.

Di belakang mereka mengikuti puluhan orang lelaki berdandan aneka ragam berjalan mengitari sebuah kereta kuda yang nampak megah dan mewah.

Lim Han-kim dapat melihat bahwa rombongan yang mengelilingi kereta itu terdiri dari aneka macam aliran, ada pendeta, ada hwesio, ada lelaki ada pula wanita.

Di muka kereta berjalan seseorang berdandan sastrawan yang memakai baju kuno, dia tak hentinya menuding ke sana kemari memberi petunjuk kepada rombongan yang berada di sekelilingnya.

sebuah bendera berwarna kuning berkibar dengan megahnya, pada bendera itu tertera empat huruf besar yang berbunyi: "BU-LIM BENGCU."

Tatkala kereta itu berhenti di depan pintu rumah makan, rombongan jago yang berada di seputar kereta serentak menyebarkan diri berdiri berjajar di kedua belah sisi.

Pelan-pelan tirai kereta disingkap dan muncullah seorang gadis cantik berbaju hijau dengan mantel kuning, rambut disanggul tinggi serta membaca sebuah panji Bengcu.

Dalam sekali pandang saja Lim Han-kim dapat mengenalinya sebagai Li Tiong-hui. ia jadi amat terkejut, sambil ngeloyor ke sudut ruangan yang lebih dalam, pikirnya: "Akhirnya ia berhasil juga merebut kursi Bu- lim Bengcu. Tak heran orang persilatan mengincar kedudukan tersebut, nampaknya menjadi seorang Bengcu cukup dihormati dan disanjung orang banyak-

Untuk sesaat ia merasa pikirannya kosong, dia tak tahu haruskah ikut bergembira bagi kesuksesan Li Tiong- hui?

Suara langkah manusia kedengaran bergema dari belakang tubuhnya, lebih kurang sepeminuman teh lamanya suara itu bergema sebelum akhirnya berhenti.

Dengan cepat Lim Han-kim berpikir lagi: " Kalau tidak pergi sekarang, mau tunggu sampai kapan lagi?"

Pelan-pelan ia berpaling dan mencoba memeriksa keadaan di sekeliling sana, keningnya segera berkerut setelah melihat ada empat lelaki kekar yang menyoren golok berjaga di muka pintu rumah makan, sekali lagi ia berpikir "Masa begitu ketat penjagaan di tempat penginapan seorang Bu-lim Bengcu sehingga orang awam tak boleh keluar masuk?" Berpikir sampai di situ, ia pun segera bangkit berdiri dan beranjak dari tempat itu.