Pedang Keadilan II Bab 17 : Lolos Dari kepungan

 
Bab 17. Lolos Dari kepungan

sementara itu seebun Giok-hiong masih tiada hentinya mengeluarkan bunyi pekikan, mengikuti pekikan aneh itu serangan dari dayang berbaju hijau makin lama makin gencar dan mengerikan Dalam waktu singkat Kim-hud lotiang sudah terdesak di bawah angin, kini ia lebih banyak bertahan ketimbang melancarkan serangan.

Dalam suasana kritis itulah tiba-tiba Kim-hud totiang membentak keras, senjata ke-butannya melepaskan tiga buah serangan berantai, selapis bayang-bayang kuning menyelimuti seluruh udara.

seebun Giok-hiong segera mempertinggi nada pekikannya, Mengikuti perubahan ini pedang yang diputar dayang berbaju hijau itu ikut berubah, sekejap mata selapis cahaya perak berkembang membungkus seluruh tubuhnya. Plaaaak Plaaaak

Mengikuti bergemanya suara benturan, bayangan pedang maupun kebutan sama-sama lenyap tak berbekas.

Dengan cepat Seebun Giok-hiong menerjang maju ke muka dan menotok jalan darah dayang itu, katanya dingin: "Hei, Kim-hud totiang sudah kau hitung berapa jurus sudah lewat?"

"obat apa yang nona pergunakan itu?" tanya Kim-hud totiang pelan.

seebun Giok-hiong tidak menjawab, kembali jengeknya: "Bagaimana? Masih ingin dilanjutkan pertarungan ini?"

"Tadi aku sudah terlanjur omong besar, kini kenyataannya aku gagal mengalahkan dia dalam sepuluh gebrakan Terlepas apa pun alasannya, aku mengaku kalah."

"sebagai seorang pendekar kenamaan, tentunya kau tahu bukan bagaimana kalau sudah mengaku kalah?" " Katakan saja nona, apa yang bisa kulakukan tentu akan kuusahakan untuk menerima syarat dari nona."

"syaratku gampang sekali, aku hanya minta kau segera mengundurkan diri dari pertikaian hari ini."

"Waaah, kalau soal ini... soal ini..." Kim-hud totiang jadi gelagapan setelah termenung sejenak.

"Tak usah ini itu lagi, bila kau enggan mengaku kalah yaa sudahlah."

Perlu diketahui, Kim-hud totiang adalah seorang tokoh yang cukup ternama dan disegani dalam dunia persilatan Kendatipun sebelum terjadinya pertarungan tadi tak pernah dibicarakan soal syarat, namun sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam dunia persilatan, setelah Kim-hud totiang tekebur dengan mengatakan bisa merobohkan musuhnya dalam sepuluh gebrakan, tapi kenyataannya ia gagal mewujudkan kata-katanya, maka secara otomatis dia harus mengaku kalah.

Mendadak dari kejauhan sana terdengar suara dayung yang membelah permukaan air, kembali muncul sebuah perahu dari kejauhan sana.

"Habis sudah ..." pikir Lim Han-kim. "Ter-nyata bala bantuan seebun Giokshlong telah tiba, sayang ... sayang sekali"

Ketika berpaling, tampak olehnya pada ujung geladak berdiri dua orang dayang berbaju biru yang masing- masing membopong sebilah pedang.

Begitu melihat datangnya perahu itu. ciu Huang segera tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha... bagus sekali, Kim-hud toheng" serunya, "Harap segera balik ke perahumu, nona Li sudah datang, jadi soal urusan selanjutnya tak perlu kita risaukan lagi"

Perahu itu memperlambat lajunya setelah berada delapan-sembilan depa dari perahu yang ditumpangi seebun Giok-hiong. Pintu ruangan segera terbuka dan tampillah Li Tiong-hui yang mengenakan pakaian serba hitam.

Baru saja Kim-hud totiang membalikkan tubuh siap meninggalkan perahu itu, mendadak seebun Giok-hiong membentak keras: "Berhenti" secepat sambaran kilat ia menerjang maju ke muka.

Buru-buru Kim-hud totiang mengebaskan senjata kebutannya, segulung desingan angin tajam menyongsong datangnya ancaman lawan,

seebun Giok-hiong menolak sepasang tangannya ke depan, segulung tenaga pukulan dahsyat menyingkirkan senjata kebutan itu dari hadapannya, kemudian tangan kanannya secepat petir mencengkeram pergelangan tangan kiri tosu itu.

Kim-hud totiang sangat terperanjat, pikirnya: "cepat betul gerak serangannya"

Buru-buru ia merendahkan pergelangan tangan kirinya ke bawah, nyaris serangan lawan menghajar tubuhnya.

Seebun Giok-hiong mendengus dingin, tubuhnya berputar cepat, Tanpa menimbulkan sedikit suara pun ia lepaskan sebuah tendangan yang secara telak menghajar lutut pendeta itu. Tahu-tahu Kim-hud totiang merasakan lututnya amat sakit, tak mampu badannya terjungkal ke arah telaga.

Tak teriukiskan kecepatan gerak tubuh seebun Giok- hiong ini, di saat terakhir tangan kirinya menyambar ke depan mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kanan Kim-hud totiang, kemudian menyentaknya ke belakang dan menarik tubuh pendeta itu naik ke daratan kembali.

Semua gerakannya ini kelihatan amat lamban, padahal cepatnya bukan kepalang, menendang, membetot semuanya dilakukan hampir pada saatyang bersamaan.

Waktu itu Li Tiong-hui sudah tiba di ujung geladak, sambil memberi hormat dan tertawa sapanya: "Nona, selama ini baik-baik bukan? Terimalah salam hormatku"

Dengan cepat Seebun Giok-hiong menotok tiga buah jalan darah penting di tubuh Kim-hud totiang, kemudian setelah meletakkannya ke geladak, ia baru membalikkan badan sambil menyahut: "Selamat berjumpa lagi nona Li"

Dengan sorot mata yang tajam Li Tiong-hui awasi wajah Seebun Giok-hiong sekejap, kemudian katanya: "Bersediakah nona memandang di atas wajahku dengan membebaskan Kim-hud totiang terlebih dulu?"

"Baik" seebun Giok-hiong tersenyum.

ia menotok bebas jalan darah Kim-hud totiang, lalu terusnya: "Memandang di wajah nona Li, silakan totiang pergi dari sini"

Tak terlukiskan rasa malu dan gusar yang menyelimuti perasaan Kim-hud totiang waktu itu, ditatapnya seebun Giok-hiong dengan mata mendelik, lalu serunya: "nampaknya ilmu silat yang nona miliki sudah jauh melampaui kehebatan orang tuamu di masa lampau"

seebun Giok-hiong mendengus, ia melirik sekejap mayat dayang berbaju hijau yang tergeletak di tepi geladak lalu tegurnya: "Kau yang membunuh orang itu?"

"Benar"

"Kau tahu, membunuh orang harus membayar nyawa?"

" Usia ku sudah melampaui tujuh puluh tahun, mati pun tak akan menyesali."

"Hmmmm... membunuhmu bukan pekerjaan yang terlampau sulit bagiku, tapi kini janjiku selama tiga bulan belum terpenuhi Kau boleh kembali ke perahumu, Begitu waktunya sudah genap. aku pasti akan datang mencabut nyawamu"

Kim-hud totiang tidak banyak berbicara lagi, ia membalikkan badan dan melompat balik ke perahu sendiri

Li Tiong-hui sebera memberi hormat lagi sambil berkata: "Terima kasih nona, kau telah memberi muka kepadaku"

"Hanya urusan kecil, tak usah banyak adat" sorot mata Li Tiong-hui yang tajam tiada hentinya berputar memeriksa setiap sudut perahu yang ditumpangi seebun Giok-hiong, tampaknya ia sedang mencari sesuatu, sementara mulutnya kembali berkata dengan lembut:

"Enci seebun, bukannya berada di kota si-ciu, mau apa jauh-jauh kau datang ke telaga tay-oh ini?" "Ada urusan apa pula nona Li datang kemari?" "Terus terang saja aku beritahu, sebenarnya aku

datang kemari karena membuntuti dirimu."

seebun Giok-hiong menoleh, ketika tidak melihat Lim Han- kim berada di situ, kembali ujarnya sambil tertawa hambar: "sesungguhnya aku pun sedang membuntuti seseorang,"

"siapa?"

"Pek si-hiang"

"sekarang nona Pek ada di mana?" tanya Li Tiong-hui dengan perasaan terkesiap.

" Kenapa? Kau ingin sekali bertemu dengan nona Li?" Li Tiong-hui mempermainkan biji matanya sebentar,

lalu tertawa hambar "Bertemu atau tidak bukan masalah

bagiku."

"sesungguhnya nona Pek bersembunyi di ..." seebun Giok-hiong berpaling dan melirik ruang perahunya sekejap lalu secara tiba-tiba membungkam.

Kadang kala di dunia ini memang sering terjadi peristiwa yang kebetulan, seandainya tadi seebun Giok- hiong tidak teringat pada Lim Han- kim secara tiba-tiba hingga berpaling melirik ruang perahunya sekejap. sekarang walaupun ia berlagak lebih persispun jangan harap bisa membohongi Li Tiong-hui.

Justru karena lirikan yang tidak di-sengaja itulah, hal mana segera membangkitkan rasa curiga Li Tiong-hui. sebagaimana diketahui, Li Tiong-hui adalah seorang gadis yang kelewat pintar, sejak kehadirannya di situ ia selalu perhatikan terus setiap gerak-gerik dan tingkah laku seebun Giok-hiong.

Tapi justru karena ia kelewat memperhatikan seebun Giok-hiong inilah ternyata ia tak sempat memperhatikan kehadiran Lim Han- kim di situ.

Justru karena kelengahannya inilah maka hal ini malah membantu bobot seebun Giok-hiong dalam menjalankan peranannya ber-bohong,

Dengan wajah berubah Li Tiong-hui segera berseru: "Apa?Jadi Pek si-hiang telah cici tawan?"

seebun Giok-hiong tidak langsung men-jawab, hanya ujarnya: "sayang kedatangan nona Li terlambat satu langkah, mungkin usahamu akan sia-sia..."

Ciu Huang maupun Hongpo Tiang- hong sama-sama ikut terkesiap. pikir mereka: "Tak heran sikapnya begitu tenang dan pandai menahan diri, Rupanya ia sudah menangkap Pek si-hiang untuk dijadikan sandera, Untung aku tidak bertindak ceroboh tadi, seandainya perahu itu keburu tenggelam, bukankah nona Pek akan ikut menjadi korban?"

Pelan-pelan wajah tegang dari Li Tiong-hui surut menjadi tenang kembali, ia benahi rambutnya yang kusut berkata: "Pepatah mengatakan: sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga. Enci seebun, kali ini kau terjebak oleh perangkapku hingga tak mampu mengundurkan diri, hitung-hitung kejadian ini termasuk suatu peristiwa yang sangat memalukan dirimu bukan?"

"Ditinjau dari situasi saat ini, siapa kalah siapa menang masih sukar untuk dibicarakan Apa gunanya kau gembira kelewat dini? Lagipula meski aku belum tentu mampu mengungguli dirimu, paling tidak aku toh masih punya kemampuan untuk melarikan diri"

Li Tiong-hui segera tertawa, "Andaikata peristiwa ini berlangsung di tanah daratan, aku sangat percaya dan yakin sekali dengan kemampuan cici. sayang saat ini kau berada di tengah telaga Tay-oh, biarpun cici memiliki ilmu silat yang maha dahsyat, sayang sekali kau tak pandai ilmu di dalam air."

seebun Giok-hiong tertawa hambar, ia - tidak memberi tanggapan

Kembali Li Tiong-hui berkata: "Di dalam keempat buah perahu yang mengelilingi perahu cici itu sudah dipenuhi bahan mesiu, kayu bakar dan minyak tanah, tentunya kau sudah tahu bukan bahwa aku tersohor karena peralatan apiku. seandainya keempat buah perahu itu meledak bersama, bisa kau bayangkan apa jadinya bila permukaan telaga seluas empat puluh kaki persegi secara tiba-tiba berubah jadi lautan api."

" itu pun belum tentu mampu membakar mati diriku." "Meskipun belum tentu, toh cici tak usah

menyerempet bahaya yang amat besar ini."

"Tidak apa-apa. Bila nona Li memang ingin mencoba kehebatan ilmu silatku, kenapa tidak dilakukan sekarang juga?"

Li Tiong-hui tertawa. "Aku sudah mengetahui akan kehebatan cici, aku pun sadar bukan tandinganmu, tapi kalau dibilang kau mampu meloloskan diri dari lautan api yang kupersiapkan ini. Waaah... kau mengibul terlalu besar..."

Mendadak wajahnya berubah amat serius, lanjutnya: "Namun kemampuanmu untuk menangkap nona Pek sebagai sandera benar-benar jauh di luar perhitunganku."

"Mungkin kejadian yang berada di luar perhitunganmu bukan sampai di situ saja," ejek seebun Giok-hiong.

" Kecuali hal ini, aku tak bisa menemukan tindakan kejutan apa lagi yang bisa cici kemukakan."

seebun Giok-hiong termenung dan berpikir beberapa saat, kemudian ujarnya: "Kita tak perlu banyak bicara lagi, silakan nona Li mulai melancarkan seranganmu..."

"Jadi enci seebun hendak paksa aku untuk melangsungkan duel?"

" Cukup berbicara dari situasi sekarang ini, tampaknya posisiku amat buruk dan berbahayaJadi mau bertarung atau tidak rasanya kunci semua ini bukan berada di tanganku."

Melihat nada pembicaraan lawannya telah berubah melunak, diam-diam Li Tiong-hui mengeluh: "sayang sekali, dengan susah payah kuatur persiapan untuk meraih kemenangan pada hari ini, tak nyana Pek si-hiang telah tertawan olehnya. Dilihat dari kejadian ini tampaknya sekali lagi aku bakal keok di tangannya."

Berpikir sampai di situ, sambil tersenyum ujarnya: "Bila cici bersedia membebaskan nona Pek. aku pun bersedia mengantar cici sampai ke daratan..." Mendengar ucapan itu, seebun Giok-hiong mengumpat di dalam hati: "Sialan, hebat betul budak busuk ini.

Kelihatannya sebelum ia dapat bertemu dengan nona Pek. hari ini dia tak akan lepaskan aku."

Bagaimana pun cerdiknya dia dan betapa hebatnya ilmu silat yang dimiliki, untuk sesaat sulit baginya untuk menciptakan seorang Pek si-hiang untuk dimunculkan di situ waktu itu Tapi keadaan yang amat mendesak membuat dia tak bisa berpikir panjang lagi,

sebab makin lama ia berpikir akan menambah kecurigaan Li Tiong-hui terhadapnya. Karena itu sambil tertawa hambar ujarnya:

"soal ini sulit bagiku untuk mengambil keputusan, biar kurundingkan dulu dengan nona Pek."

ia segera membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam ruang perahu, Dilihatnya Lim Han-kim sedang duduk termangu dalam ruang perahu dan memandang ke arah dinding tanpa berkedip.

sambil menghela napas panjang seebun Giok-hiong berbisik: "Kekasih Lim, kau sudah lihat bukan?"

Walaupun ia tidak menyinggung soal nama, namun Lim Han-kim mengerti siapa yang dimaksud, ia mengangguk "Ya a, aku sudah melihatnya."

"Semua perkataan Li Tiong-hui tentu juga sudah kau dengar bukan, Apa yang dia ucapkan memang benar. Pada saat dan keadaan seperti ini nyaris aku sudah kehilangan semua kekuatan untuk melawan. Kalau hanya bicara soal ilmu silat, aku memang tak perlu takut menghadapi mereka, tapi mereka sudah persiapkan suatu serangan dengan menggunakan api. serangan ini membuat aku kehilangan daya kemampuan untuk melawan.

Daripada aku harus tewas di tangan mereka, lebih baik pahala yang bisa menggemparkan seluruh dunia persilatan ini kuberikan saja kepadamu."

"Pahala apa?"

"Kau bisa membunuhku atau menotok jalan darahku, Beritahu kepada mereka, kaulah yang membunuh aku atau menangkap hidup, hidup seebun Giok-hiong. Coba bayangkan, bukankah peristiwa ini akan segera menggemparkan seluruh dunia persilatan?"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Lim Han- kim. Ditatapnya wajah gadis itu tanpa berkedip. lalu tegasnya: "sungguhkah perkataanmu itu?"

"Tentu saja bersungguh-sungguh, Bila kau masih tak percaya, sekarang juga akan kubuktikan di hadapanmu." Habis berkata, ia pejamkan mata rapat-rapat.

Mengawasi wajah seebun Giok-hiong yang masih dihiasi senyuman itu, timbul perasaan serba salah dalam hati kecil Lim Han-kim. ia tahu, membiarkan iblis wanita ini tetap hidup di dunia berarti hanya akan mendatangkan banyak bencana bagi umat persilatan sekaranglah kesempatan terbaik baginya untuk membinasakannya.

Namun ia pun berpendapat bahwa cara kerja semacam ini bukan perbuatan seorang ksatria sejati, pabila kejadian ini sampai tersiar luas dalam dunia persilatan di kemudian hari, namanya tentu akan ternoda, Apalagi siapa yang mau percaya bahwa dia sanggup menangkap seebun Giok-hiong hidup, hidup?

Terdengar seebun Giok-hiong kembali bergumam: " Kekasih Lim, kenapa kau tidak turun tangan? Asal jari tanganmu menyodok jalan darahku, sebentar lagi namamu akan ter-mashur di seantero dunia persilatan."

Lim Han-kim segera berpikir "Bila aku masih tak tega untuk segera bertindak, selanjutnya entah ada berapa banyak umat persilatan yang bakal jadi korbannya..,?"

Berpendapat begitu, sambil menggeretak gigi ia mengangkat tangannya siap melepaskan serangan Namun begitu menyaksikan sikap seebun Giok-hiong yang begitu tenang, pejamkan matanya rapat-rapat dan mengulumkan senyuman di ujung bibirnya, jari tangan yang sudah hampir menyentuh tubuh gadis tersebut tiba- tiba terhenti.

sambil menghela napas panjang katanya kemudian: "selama ini kau selalu bertindak tegas, membunuh orang tanpa berkedip. kenapa secara tiba-tiba watakmu berubah jadi begitu lemah?"

seebun Giok-hiong membuka matanya kembali, sahutnya sambil tertawa hambar: "sikap ini bukan sikap seorang yang lemah, inilah keberanian terbesar yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Menyerahkan diri bulat-bulat tanpa melakukan perlawanan merupakan suatu tindakan yang teramat sulit bagiku."

setelah membetulkan letak rambutnya, ia melanjutkan "Sekalipun aku sudah terpojok saat ini, tapi andaikata aku mau melakukan perlawanan dengan sepenuh tenaga, paling tidak setengah dari jumlah mereka akan menjadi korban pula di tanganku, sedangkan aku masih punya kesempatan kabur sebesar tiga puluh persen-"

"Kalau memang begitu, kenapa pula kau tidak melakukan perlawanan terakhir melawan mereka?"

"sebab kau" seebun Giok-hiong tertawa. " Karena aku? Hmmm, ngaco belo"

Kembali seebun Giok-hiong tertawa, "Bila aku berhasil meloloskan diri dari musibah hari ini, maka selanjutnya perbuatan dan tindakan yang kulakukan akan menjadi hal yang paling kau benci, betul bukan?"

Lim Han-kim termenung sambil berpikir sebentar, kemudian ia mengangguk "Yaa, betul."

"Sebaliknya bila aku harus mati atau terluka di tangan orang lain, hatiku sangat tak rela, berbeda jika aku harus mati di tangan mu."

"Apa bedanya?"

seebun Giok-hiong tertawa sedih. "sebab dengan mati di tanganmu, aku mempunyai perasaan seolah-olah pengorbananku ini adalah demi cinta..."

"Aaaah, tidak seharusnya kau berpendapat begitu, selama ini kita tak sependapat dan tak sealiran, bagaimana mungkin bisa dibilang pengorbananmu demi cinta?"

"Aku tak perduli apa pun yang kau ucapkan, pokoknya aku berpendapat bila aku bisa mati di tanganmu, maka Pek si-hiang serta Li Tiong-hui bakal tertinggal selangkah ketimbang aku, mungkin mereka bisa hidup mendampingimu sampai tua, tapi mereka tak akan mampu menghapus kenangan pedih yang tergores dalam hatimu gara-gara pengorbananku ini. Aaaai... selama hidup aku tak pernah membiarkan orang lain mendahuluiku, hanya kau ... kau seorang..."

"Kenapa aku?" tukas Lim Han-kim. "Kau mesti tahu, aku Lim Han-kim adalah seorang lelaki sejati, sekalipun soal ilmu silat maupun kecerdasan aku masih kalah dari kalian semua, namun aku tak sudi diatur dan menuruti saja semua kehendak kalian. Bagi seorang lelaki lebih baik mati terbunuh daripada dihina..."

"soal ini tak perlu kau terangkan lagi, aku sudah tahu sejak awal..." tukas seebun Giok-hiong tersenyum.

"Bagus sekali..." setelah berhenti sejenak. lanjutnya: "Dalam persoalan yang terjadi hari ini, aku mengerti bahwa aku tak berdaya untuk turut campur Aku pun tidak berkemampuan untuk membunuhmu, sekalipun kau tidak melawan dan aku bisa menghabisimu dengan mudah, tapi bila urusan ini sampai tersiar luas, tak nanti ada orang yang akan mempercayai aku ..."

"Kenapa tidak percaya? Toh kenyataan sudah di depan mata, lagipula di sini ada empat tokoh silat yang berbobot turut menjadi saksi mata."

Lim Han-kim gelengkan kepalanya berulang kali, "Maksudmu biar kuterima dalam hati kecil saja, aku tak akan melakukan perbuatan semacam ini, aku tak bisa membantumu, juga tak ingin membantumu terlebih aku tak ingin mencari nama dengan membohongi seluruh umat persilatan-" "Aaaai..." seebun Giok-hiong menghela napas, "Wahai kekasih Lim, mumpung aku belum berubah pikiran, cepatlah turun tangan-.."

sementara itu dari luar ruang perahu terdengar suara Li Tiong-hui berteriak: "Enci seebun, bersediakah nona Pek bertemu dengan aku?"

"Bila kau punya keberanian, silakan menyeberang ke perahuku."

"Enci seebun, terus terang saja aku bilang, sesungguhnya aku tetap tidak percaya bila kau telah berhasil menawan nona Pek."

"Sekalipun tidak percaya, kau juga tak bisa apa-apa." "Baiklah, aku akan membunyikan genderang sepuluh

kali, Bila sampai hitungan kesepuluh kau belum juga

menampilkan nona Pek ke depan geladak. aku akan segera perintahkan orang untuk melakukan penyerbuan kau bisa saja menganggap kesepuluh pukulan genderang ini merupakan kesempatan terbaik bagimu untuk memikirkan cara melarikan diri. Namun berhasil atau tidak meloloskan diri dari sini, dalam hal ini kita harus melihat dulu sampai di mana kemampuan yang aku miliki."

selesai berkata, bunyi genderang yang pertama segera bergema.

seebun Giok-hiong berkerut kening, segera bisiknya: "Li Tiong-hui sudah ada niat untuk membunuhku, tapi satu-satunya cara yang bisa mereka lakukan untuk membunuhku hanyalah menggunakan taktik membakar semua lautan dan perahuku ini. Bila ia betul-betul berbuat begitu berarti kau pun akan turut terbakar habis".

Belum sempat Lim Han-kim memberikan jawabannya, bunyi genderang kedua telah bergema, ia mencoba mengintip keluar lewat celah-celah ruang perahu, tampak olehnya Li Tiong-hui sedang memberi petunjuk kepada beberapa buah perahu untuk melakukan gerak pengepungan

Yang paling aneh adalah perahu milik seebun Giok- hiong yang dasarnya sudah dilubangi ini, hingga kini ternyata perahu itu masih mengapung di atas permukaan air tanpa menunjukkan tanda-tanda akan karam.

Dengan kening berkerut ia pun ber-kata: "Bila saat ini kau punya dua orang pembantu, tanpa menunggu sampai pukulan genderang kesepuluh dibunyikan, kau sudah dapat menerjang keluar dari kepungannya." seebun Giok-hiong segera tertawa.

"Perahu ini sudah diikat dengan rantai besi yang dihubungkan dengan ke-empat perahu yang sudah dipenuhi kayu bakar serta bahan mesiu itu. Kecuali menceburkan diri ke dalam air, kita sudah tak punya jalan lain untuk melarikan diri" Bunyi genderang keempat kembali bergema ...

Dengan perasaan cemas Lim Han-kim menegur "Masa kau berniat menyerah begitu saja?"

seebun Giok-hiong tersenyum, ia duduk di samping pemuda itu, jawabnya: "Aku dilahirkan di dunia ini dengan membawa rasa benci dan dendam yang membara, itu berarti aku tak bisa tidak harus membunuh orang daripada membuat kau bersedih hati, lebih baik aku mati saja."

Dalam hati Lim Han-kim berpikir "Agaknya dia sudah menyadari bahwa nasibnya akan berakhir hari ini, maka dalam keadaan apa boleh buat, ia harus menunjukkan sikap seakan-akan tidak takut mati". sementara dia masih berpikir, mendadak terendus bau harum yang menusuk hidung, ternyata seebun Giok-hiong telah menjatuhkan diri ke dalam pelukannya.

sebenarnya Lim Han-kim ingin mendorong tubuh si nona, tapi tiba-tiba saja ia merasa gadis itu begitu sepi, seorang diri dan menyedihkan perasaan hatinya jadi tak tega, pikirnya: "setelah terjebak dalam situasi pelik seperti ini, keadaan si iblis wanita ini tak ubahnya seperti harimau yang terkurung dalam kerangkeng, patut dikasihani Aaaai... bagaimana pun ia toh sulit terlepas dari musibah hari ini, apa salahnya bila ia peroleh sedikit kehangatan dariku...

Waktu bergulir sangat cepat, pukulan genderang kedelapan sudah bergema di udara, Lim Han-kim mencoba untuk mengamati wajah gadis itu, ternyata seebun Giok-hiong tetap amat tenang, tidak terlihat rasa panik ataupun gundah, malahan sekulum senyuman tersungging di ujung bibirnya, ia seperti sudah tertidur dalam rangkulan pemuda itu.

Lim Han-kim merasa kagum sekali, pujinya: " Ketenangan perempuan ini sungguh mengagumkan. tak malu ia mendapat predikat sebagai pentolan pendekar wanita." Terdengar suara Li Tiong-hui kembali berkumandang: "Enci seebun- tinggal dua kentongan lagi sebelum kugerakkan pasukan untuk melakukan penyerbuan sisa waktu yang tersedia sudah tak banyak. apakah kau telah membuat persiapan?"

Baru selesai ia berkata, kentongan kesembilan sudah bergema, Melihat itu Lim Han-kim segera berpikir "Li Tiong-hui juga keterlaluan Kalau toh ia berniat membunuhnya dengan mempersiapkan jebakan lautan api untuk membakar perahunya dan tidak memberi-jalan kabur kepadanya yaa sudahlah, kenapa masih memanggilnya cici, cici, terus dengan suara halus? ia betul-betul licik dan berhati busuk ..."

Perlu diketahui, Lim Han-kim sendiri sadar bila perahu itu betul-betul dibakar, maka dia sendiripun akan turut terbakar hidup, hidup. sekalipun-jiwanya besar, namun menghadapi ancaman kematian yang begitu mengerikan, tak urung timbul juga perasaan antipatinya.

Terdengar Li Tiong-hui berkata lagi sambil menghela napas: "Enci seebun, apakah nona Pek tidak bersedia untuk bertemu muka denganku?"

Rupanya ketenangan luar biasa yang diperlihatkan seebun Giok-hiong telah mendatangkan perasaan panik dan tidak tenteram bagi Li Tiong-hui. Dia khawatir api yang dilepas untuk membakar perahu seebun Giok-hiong akan membinasakan Pek si- hiang juga, bila sampai terjadi peristiwa ini dia tentu akan merasa menyesal sepanjang masa.

sementara itu suasana di permukaan telaga amat tenang, tiada ombak tiada hembusan angin, s uatu suasana yang betul-betul mendatangkan perasaan ngeri bagi siapa pun- Dalam keadaan begini tanpa terasa Lim Han-kim membayangkan kembali ibunya, gurunya dan rekan-rekan lainnya, Teringat bahwa setelah ini ia tak akan bisa bertemu mereka lagi, tak kuasa lagi dia menghela napas sedih.

Mendadak seebun Giok-hiong membuka matanya kembali dan memandang Lim Han-kim sekejap. bisiknya: " Kekasih Lim, apakah kau merasa takut?"

Lim Han-kim menghela napas panjang

"Tak disangka aku Lim Han-kim akhirnya harus terkubur di dasar telaga Tay-oh untuk temani kau."

"Kau menyesal?" tanya si nona sambil tertawa. "semua perkataan yang telah kuucapkan tak pernah

kusesali lagi"

Kembali seebun Giok-hiong tertawa.

"Kekasih Lim, Li Tiong-hui bukan seorang yang gegabah, seandainya ia tidak keburu menyusul kemari, mungkin kita benar-benar akan mati terbakar di sini, Dengan kehadirannya di sini, justru kita bakal terselamatkan dari ancaman ini."

"Kenapa?"

"BetuI Li Tiong-hui adalah seorang gadis yang cerdik dan hebat, tapi kalau dibicarakan dari usia serta kedudukannya, ia belum pantas untuk menduduki kursi pemimpin dunia persilatan Bayangkan saja pamor serta nama besar dari Li Tong-yang tempo dulu, bukankah ia jauh lebih hebat dari putrinya sekarang? Tapi kenyataannya, sulit bagi dia untuk menundukkan para jago dari dunia persilatan dan mendukungnya menjadi pemimpin.

saat ini Li Tiong-hui bisa disanjung dan dihormati seluruh umat persilatan hal ini tak lain disebabkan kehadiranku seebun Giok-hiong, dalam percaturan dunia kangouw, karena itulah apabila ia membakar mati aku di telaga Tay-oh hari ini, berikutnya dia pun akan di- turunkan dari kursi kebesarannya sebagai Bengcu umat persilatan.

Terlebih lagi saat ini ia baru saja mulai tampilkan diri, dasarnya belum cukup kokoh, kedudukannya masih goyah, bila aku menjadi Li Tiong-hui,aku pun tak akan lepaskan api untuk melenyapkan diriku."

Lim Han-kim tertegun- sebera bantahnya: "Li Tiong- hui adalah seorang jago wanita yang cerdik dan berjiwa pendekap masa dia begitu egois?" seebun Giok-hiong sebera tertawa.

" Ketika pertemuan puncak di kota si-ciu belum diselenggarakan dia memang seorang nona yang cerdik, pemberani dan berjiwa ksatria, tapi keadaannya sekarang sudah jauh berbeda, Mimpi pun dia tak pernah mengira hanya dalam berapa bulan yang singkat ternyata ia sanggup mendaki ke puncak kariernya menjadi ketua bengcu umat persilatan, ditambah pula ia baru saja patah hati darimu, semua pikiran dan perasaannya kini sudah ter-curahkan semua pada nama besar dan kedudukan, tentu saja keadaannya kini berbeda sekali." Lim Han-kim termenung sambil berpikir sejenak. kemudian ia menggeleng, "Aku masih tetap kurang percaya," katanya.

seebun Giok-hiong tertawa rendah, katanya: "seharusnya kentongan kesepuluh sudah mesti dibunyikan sejak tadi, kenapa hingga kini belum kedengaran juga suara kentongan yang terakhir itu dibunyikan?"

Diam-diam Lim Han-kim mencoba memperhitungkan selisih jarak antara satu kentongan dengan kentongan yang lain. Betul juga, semestinya kentongan itu sudah dibunyikan, tapi hingga kini kentongan yang terakhir itu belum juga kedengaran

Ia mencoba untuk mengintip dari balik jendela perahu, segera terlihat olehnya perahu yang ditumpangi Li Tiong- hui telah membalikkan haluannya dan berlayar pergi dari situ secara diam-diam. Disusul kemudian perahu yang ditumpangi ciu Huang, Hongo.o Tiang- hong, Thian-peng Taysu serta Kim-Eud totiang ikut ditarik pergi meninggalkan tempat tersebut

Perubahan yang sama sekali di luar dugaan ini kontan saja membuat Lim Han-kim terkejut bercampur keheranan, sambil gelengkan kepalanya berulang kali gumamnya: "Apa yang sebenarnya terjadi?"

"soal apa?" seru seebun Giok-hiong sambil melompat bangun. "Mereka telah menarik mundur semua pasukannya dari sini"

Ketika seebun Giok-hiong melongok keluar, kelima buah perahu itu sudah berada jauh sekali dari lokasi semula, "Aaaaai... lagi-lagi kau berhasil menebaknya secara jitu," ujar Lim Han-kim sambil menghela napas.

seebun Giok-hiong mengernyitkan alis matanya rapat- rapat, termenung dan membungkam diri, tampaknya dia sendiri pun dibuat tak habis mengerti oleh ulah Li Tiong- hui yang menarik mundur kelima buah perahunya.

Lolos dari lubang jarum membuat Lim Han-kim merasakan sesuatu yang kosong dalam perasaan hatinya, pelan-pelan ia duduk kembali dan berkata: " Kelihatannya sikap Li Tiong-hui terhadap nona persis seperti sikap nona terhadap Pek si-hiang, betapa pun besarnya kesempatan baginya untuk meraih kemenangan betapapun sempurna dan ketatnya ia menyusun strategi, pada akhirnya tetap kalah juga di tanganmu."

setelah menghembuskan napas panjang, terusnya: " Contoh yang paling gamblang adalah peristiwa yang baru saja berlangsung, sudah jelas dia akan memperoleh kemenangan yang gemilang, tapi ia secara tiba-tiba menarik kembali pasukannya, Aaaai . . . Aku betul-betul dibuat bodoh sekali, entah di mana letak alasannya hingga dia berbuat begitu?"

seebun Giok-hiong menggeliat mengendorkan otot- otot pinggangnya kemudian melangkah keluar dari ruang perahu, menotok bebas jalan darah dayangnya, membopongnya masuk, menjejalkan sebutir pil lagi ke mulutnya kemudian baru berkata pelan-

"Dari kedua orang dayangku yang pegang kemudi, satu telah tewas dan satu lagi terluka, boleh aku minta tolong kepadamu kekasih Lim untuk memegang kemudi?"

Melihat seebun Giok-hiong berusaha menghindari pembicaraan tentang ditarik mundurnya pasukan oleh Li Tiong-hui, Lim Han-kim pun tidak mendesak lebih jauh, dengan langkah lebar dia keluar dari perahu dan serunya: "Aku sama sekali tak punya pengalaman dalam pegang kemudiperahu, bila sampai menumbuk di batu karang, jangan salahkan aku ..."

Tampaknya seebun Giok-hiong sedang memikirkan satu masalah yang amat pelik, pada hakekatnya ia tidak mendengar sama sekali apa yang diucapkan pemuda itu, ia cuma berpaling memandangnya sekejap dan tertawa.

Lim Han-kim segera berpikir, iblis wanita ini tak boleh dibiarkan hidup. sekarang Li Tiong-hui rela melepaskan kesempatan baiknya untuk membunuh dia, tampaknya aku Lim Han-kim terpaksa harus turun tangan sendiri, bukankah dia tak pandai berenang? Kenapa aku tidak sengaja menumbukkan perahu ini ke atas batu karang agar dia mati tenggelam?"

Berpikir begitu, dia pun memutar arah kemudinya dan mulai mendayung, Pelan-pelan perahu itu melaju ke depan membelah keheningan yang menyelimuti telaga itu.

seebun Giok-hiong hanya duduk termangu- mangu, termenung dan membungkam diri jelas dia sendiri pun dibuat tak habis mengerti oleh tingkah laku Li Tiong-hui yang melepaskannya begitu saja.

sementara itu Lim Han-kim telah mengambil keputusan dalam hati kecilnya untuk menumbukkan perahu itu ke atas batu karang yang dijumpai Dia bertekad hendak membunuh seebun Giok-hiong hingga bencana dalam dunia persilatan dapat dihindari.

sayang sekali pemuda ini sama sekali tak berpengalaman meskipun sudah mencarinya ke sana kemari, namun batu karang yang dimaksud belum juga ditemukan. sementara ia masih gelisah, tiba-tiba tirai pintu ruang tersingkap dan seebun Giok-hiong pelan- pelan munculkan diri

Melihat arah perahu yang dituju, seebun Giok-hiong segera berkerut kening, tegurnya: "Hendak ke mana kau?"

"sejauh mata memandang hanya air telaga melulu yang terlihat, aku pikir ke manapun kita pergi adalah sama saja." Ketika itu matahari sudah hampir tenggelam di langit barat, cahaya senja yang kemerah-merahan membiaskan sinar yang indah dan menawan.

sambil memandang cahaya yang mulai redup, seebun Giok-hiong berseru sambil tertawa:

" Kekasih Lim, perahu kita kini ibarat selembar daun yang terapung di tengah telaga yang luas, coba kau lihat burung yang terbang berpasangan, sungguh bebas dan penuh kegembiraan ..."

Lim Han-kim tertawa hambar.

"Bila perahu ini kita tumpukkan keatas batu karang hingga tenggelam dan kita ikut terkubur di dasar telaga, bukankah siang malam kita bisa selalu menikmati keindahan alam di sekitar tempat ini?" Pelan-pelan seebun Giok-hiong berjalan ke samping Lim Han-kim dan duduk di sisinya, tegurnya sambil tertawa: " Kekasih Lim, tampaknya hatimu sedang dipenuhi perasaan gusar dan mendongkol?"

" Kenapa? Kau merasa tak suka hati?"

"Dengan susah payah kita berhasil meloloskan diri dari musibah maha besar, sepantasnya bila kita merasa gembira, pernah kau dengar orang berkata: Mereka yang bisa lolos dari kematian, di hari-hari selanjutnya tentu banyak rejeki..."

"Kau yang punya rejeki sedang umat persilatan bakal sengsara seumur hidup."

" Kenapa?"

"sebab dengan lolosnya kau dari bencana kematian hari ini, semua dendam- mu pasti akan kau lampiaskan dengan melakukan pembantaian secara besar-besaran dalam dunia persilatan bukankah hal ini akan menyengsarakan semua umat manusia?"

"Tapi paling tidak, kau toh bisa merasakan kegembiraan bersamaku," Lim Han-kim tertawa dingin.

"Sekalipun kini kau bisa malang melintang lagi secara bebas, suatu saat di kemudian hari kau pasti akan kalah dan mati,"jengeknya.

" Kekasih Lim, bagaimana kalau kita jangan membicarakan persoalan ini lagi?" pinta seebun Giok- hiong lembut "saat ini suasana dalam telaga amat indah, inilah kesempatan bagi kita untuk berpesiar dan bergembira, kau bersedia bukan?" Habis berkata ia mengerling sekejap ke arah pemuda itu dengan manja, "Bencana besar sudah hampir menjelang tiba dalam dunia persilatan, bagaimana mungkin aku dapat menikmati keindahan alam dengan perasaan tenang..?" keluh sang pemuda.

Dengan penuh manja dan kelembutan seebun Giok- hiong merayu: "Kekasih Lim, apa kau tidak kelewat serius? orang bilang, di saat dapat bergembira kita harus gembira, ucapan ini memang tepat sekali, bagaimana pendapatmu kekasih Lim?"

"Aku tak punya waktu untuk berpacaran."

seebun Giok-hiong tidak menjadi marah, malahan katanya lagi dengan lembut: "Kalau memang kekasih Lim tak punya keinginan untuk berpesiar,aku pun tak akan memaksa, cuma aku tetap merasa tak tenteram karena kali ini kau telah ikut menanggung derita gara-gara aku."