-->

Pedang Keadilan II Bab 16 : obat Pembangkit Tenaga

 
Bab 16. obat Pembangkit Tenaga

"selama hidup aku telah membunuh empat ratus sembilan puluh tujuh orang, semua yang kubunuh rata- rata adalah manusia bejad berhati keji dan buas, tapi selama ini aku tak pernah mempunyai perasaan menyesal, apa lagi usiaku sudah lanjut sekalipun tidak mati di tangan nona, aku pun tak bisa hidup lebih lama lagi.

Namun jika aku bisa mengorbankan nyawaku ini demi selamatkan dunia persilatan dari pembantaian berdarah, biar harus mati pun aku akan mati dengan perasaan lega. Aku tak perduli bagaimana pendapat serta pandangan generasi muda terhadap tingkah lakuku, satu hal yang pasti bagiku adalah aku bisa beristirahat dengan tenang di alam baka."

Kata-kata itu mengandung semangat dan kebesaran jiwanya sebagai ksatria, bahkan seebun Giok-hiong yang berhati dingin pun ikut berdebar keras jantungnya setelah mendengar ucapan itu. Tapi hanya sebentar saja ia sudah dapat menguasai diri lagi, jengeknya dingin: "Bila aku tak setuju?" "Terpaksa kami akan beradu jiwa denganmu. Meski kami benar-benar bukan tandingan nona, kami tetap akan berjuang terus hingga titik darah penghabisan"

seebun Giok-hiong segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terkekeh-kekeh.

"Ha ha ha... lebih baik kalian perhitungkan dulu secara cermat, bila yakin kalau pengorbanan kalian bisa mendatangkan kemenangan, silakan saja untuk dicoba, Tapi kalian harus tahu, bila aku didesak oleh keadaan terpaksa aku akan melanggar janji dengan melakukan pembantaian secara besar-besaran, lain hari kalian jangan salahkan aku bila mengingkari janji. . . "

Mendadak ia sambar lengan Lim Han-kim dan diajaknya masuk ke dalam ruang perahu, setelah menutup pintu rapat-rapat baru ia lepaskan cekalannya, diturunkannya tirai jendela sambil menuding ke arah bangku di sisi meja sambil serunya: "Duduklah di sana"

Lim Han-kim sadar bahwa ilmu silat yang dimilikinya masih selisih jauh bila dibandingkan perempuan ini. Bila terjadi pertarungan paling banter dia cuma mampu menahan dua gebrakan saja. ia tahu dalam keadaan seperti ini lebih baik beradu akal dari pada adu otot.

Berpikir begitu dia pun menurut dan duduk di bangku yang ditunjuk. sementara itu seebun Giok-hiong telah membuka almari di sisi dinding perahu dan ambil keluar sebuah botol porselen serta dua buah cawan arak.

Katanya kemudian sambil tertawa: "suami istri yang mau hidup senasib sependerita biasanya hubungan mereka akan langgeng, begitu juga kita, Bila hari ini kita bisa lolos dari musibah besar ini, di kemudian hari segala sesuatunya tentu akan lancar sampai tua."

sambil berkata ia penuhi cawan arak itu dengan arak wangi, terusnya: "Mari kita habiskan dulu isi cawan ini"

Diteguknya isi cawan itu hingga separuh, lalu sambil menyodorkan bekas cawannya ke hadapan Lim Han-kim serunya pula: "Ayolah cepatan sedikit."

Diam-diam Lim Han-kim berpikir: "Perempuan ini licik dan banyak akal muslihatnya. Entah permainan busuk apa lagi yang sedang ia persiapkan? Baiklah, lebih baik kuturuti saja semua perintahnya sambil mencari kesempatan untuk membantu Ciu Huang sekalian, Biarpun hari ini aku harus mati, asal bisa lenyapkan bibit bencana ini dari muka bumi, hitung-hitung pengorbananku tak akan sia-sia belaka."

Karena ia sudah punya rencana, sikapnya pun berubah halus dan menurut sekali, Diambilnya cawan arak itu, diteguk setengah lalu disodorkan pula kehadapan seebun Giok-hiong,

sambil tertawa terkekeh-kekeh seebun Giok-hiong sambut sisa arak dari bekas cawan Lim Han-kim itu, lalu sambil meneguk isinya sampai habis katanya: "Moga- moga saja perasaanmu seperti arak dalam cawan, mulai kini selalu menyatu dengan hatiku"

Ketika dilihatnya Lim Han-kim tidak menyentuh sisa arak dari bekas cawannya, tak tahan ia berseru lagi: "Kenapa tidak kau habiskan isi cawan itu?"

Pelan-pelan Lim Han-kim mengambil cawan bekas seebun Giok-hiong itu dan meneguk habis isinya, setelah itu ia baru berkata: "Kelihatannya kau sudah temukan siasat untuk memukul mundur serangan musuh?"

seebun Giok-hiong gelengkan kepalanya sambil tertawa, sahutnya: "Gara-gara salah langkah aku harus menghadapi situasi sepelik ini. Aaaai... selama ini, semua pikiran dan perhatianku hanya tercurahkan pada Pek si- hiang, aku telah melupakan kecerdikan dari Li Tiong-hui."

" Kalau begitu bila kita menolak usul dari ciu Huang, hari ini kita bakal mati di dasar telaga?"

"Kau takut mati?" seebun Giok-hiong tertawa.

"Meskipun masalah mati atau hidup tak pernah kurisaukan, paling tidak aku tak pingin mati di dasar telaga."

"Mati tetap mati, perduli amat mau mati di daratan atau dalam air, apa sih beda-nya?"

"Pandai betul ia pegang rahasia," kembali Lim Han-kim berpikir "Ternyata tak sedikit pun dia mau bocorkan siasatnya untuk memukul mundur musuh, jelas ia sudah menaruh perasaan was- was kepadaku sehingga tak ingin aku mengetahui rencananya..."

Berpikir begitu, dia pun berlagak seakan-akan sama sekali tak tertarik dengan masalah ini, sesudah termenung sejenak katanya lagi: "Kenapa kau hanya bersembunyi dalam ruang perahu tanpa perhatikan perubahan di luar? Bukankah tindakan ini hanya akan memberi kesempatan bagi mereka untuk turun tangan? Tapi heran juga... kenapa sampai kini mereka belum bergerak?" "semakin tenang aku di dalam ruang perahu tanpa menggubris mereka, makin besar kecurigaan mereka terhadapku Hal ini akan membuat mereka bimbang dan tak tahu harus segera menyerang atau tidak. Tapi bila keadaan seperti ini dibiarkan berlangsung terlalu lama, maka posisi kita pun akan semakin untung."

"Apakah kau sedang menunggu bala bantuan?" tanya Lim Han-kim, sementara otaknya berputar keras, ia sedang berpikir bagaimana caranya menyampaikan berita ini kepada Ciu Huang.

Ia cukup mengerti dtngan kehebatan ilmu silat serta kecekatan seebun Giok-hiong, sekalipun dia gunakan ilmu penyampaian suara pun mustahil rasanya bisa mengelabui dirinya, berarti dia harus mencari cara lain yang sama sekali tak terduga olehnya,

Terdengar Seebun Giok-hiong berkata lagi: "Asal kita dapat menunda sampai setengah jam lagi, kemenangan sudah pasti berada dipihak kita."

Ia berbicara dengan nada mesra, namUn Lim Han-kim mendengarkan dengan perasaan cemas bercampur gelisah, pikirnya: "setengah jam akan berlalu dengan cepatnya, begini pendek sisa waktu yang tersedia untuk membunuh perempuan ini, kenapa sampai sekarang Ciu Huang sekalian belum juga turun tangan?"

walaupun hatinya gelisah, namun untuk sesaat ia pun belum berhasil menemukan cara terbaik untuk mengirim berita.

Tiba-tiba seebun Giok-hiong menghela napas panjang, tegUrnya: "Apayang sedang kau pikirkan? Masih membenci aku?" Dengan perasaan terkejut Lim Han-kim berpikir "Perempuan ini memang hebat sekali, padahal aku sudah berusaha bersikap santai agar dia tak tahu aku sedang putar otak, tapi nyatanya perbuatanku ketahuan juga..."

Buru-buru ia menyahut "Aaaah, tidak ada, aku tidak berpikir apa-apa."

"Tak usah membohongi aku," kata seebun Giok-hiong sambil tertawa, "Aku tahu kau sedang berpikir ..."

Diam-diam Lim Han-kim menghimpun tenaga dalamnya bersiap sedia, ia siap menyerempet bahaya untuk memberi tanda kepada Ciu Huang agar segera turun tangan.

Terdengar seebun Giok-hiong berkata lagi: "Bagaimana kalau aku dibandingkan dengan Pek si- hiang?"

"Ia jauh lebih lembut, halus dan penurut dari padamu, kau kalah jauh darinya ..."

Pelan-pelan Seebun Giok-hiong tundukkan kepalanya, setelah termenung lama sekali baru katanya: "Kekasih Lim, ada satu hal yang ingin kusampaikan kepadamu sesungguhnya aku tak pernah merusak wajahmu, Bila kita berhasil lolos dari musibah hari ini, aku tentu akan mencuci bersih wajahmu yang berwarna-warni ini, cuma... Aaaai, kesempatan kita untuk lolos dari musibah ini kecil sekali."

"Bagus sekali" pekik Lim Han-kim di dalam hati. "Aku kira kau betul- betul menaruh rasa cinta kepadaku, Rupanya setelah tahu akan mati, kau hendak menyeretku agar selalu mengenangmu ..." sementara itu seebun Giok-hiong telah berkata lebih jauh: "Kekasih Lim, selama hidup aku belum pernah mencintai seorang pria dengan bersungguh hati, juga amat membenci kalian orang lelaki yang menunjukkan wajah tergiur bila melihat wajah cantik, tapi di saat musibah hendak menjelang tiba ini, tiba-tiba saja timbul keinginanku untuk mencicipi bagaimana rasanya orang bercinta, apakah itu kecut atau manis..."

Lim Han-kim tertawa dingin, tukasnya: "Aku tahu nona cantik dan rupawan, sayang sekali aku terlalu dalam mengetahui segala kelakuanmu ..."

"Kali ini aku bukan berpura-pura, tapi bersungguh hati

..." buru-buru seebun Giok-hiong berseru.

Pelan-pelan gadis itu bangkit berdiri, menghampiri Lim Han-kim dan katanya lagi dengan lembut: "Percayalah padaku Kali ini aku betul- betul serius, kalau tak percaya pukullah aku. Coba kau buktikan apakah aku akan membalas atau tidak."

Membayangkan kembali kekejaman serta kebuasan perempuan ini, kontan saja hawa amarah berkobar dalam benak Lim Han-kim,tanpa banyak bicara tangan kanannya diayunkan ke depan, Plaaaak.,.

Diiringi suara nyaring, tamparan itu persis bersarang telak dipipi seebun Giok-hiong yang cantik, seketika muncullah bekas lima jari yang jelas di atas pipinya yang halus.

Dalam perkiraan Lim Han-kim, dengan modal ilmu silatnya yang maha dahsyat Meski tamparan tersebut mengena pada sasaran namun tak akan menimbulkan bekas pada sasarannya, siapa tahu ternyata gadis itu tidak melawan, bahkan mengerahkan tenaga pun tidak. untuk sesaat anak muda ini jadi termangu.

sambil mengerdipkan matanya dan tertawa seebun Giok-hiong berkata: "Bila seseorang sudah jatuh cinta, biar ditampar sampai amat sakit pun ternyata rasanya tetap manis dan hangat."

Pelan-pelan Lim Han-kim menurunkan kembali tangan kanannya sambil menegur "Kenapa kau tidak membalas?"

seebun Giok-hiong tertawa, "Ternyata memukul orang dan dipukul orang mempunyai dua macam perasaan yang amat berbeda..." sesudah berhenti sejenak. kembali katanya: "Bukankah kau amat membenci diriku? Kenapa kau tidak pergunakan kesempatan ini untuk menghajarku habis-habisan?"

"selama kau tidak membalas, aku pun enggan memukulmu. Memukul wanita yang tidak melawan bukan perbuatan terpuji."

"Tahukah kau, kesempatan semacam ini teramat langka?"

Tiba-tiba Lim Han-kim meninggikan suaranya dan berseru: " Kalau toh pada akhirnya kita harus mati di sini, sekalipun aku menaruh rasa benci kepadamu, rasanya hal ini sudah tak perlu dipersoalkan lagi-"

ia memang sengaja memperkeras suaranya agar Ciu Huang sekalian bisa mendengar kabar ini dan secepatnya melancarkan serangan.

seebun Giok-hiong segera menarik kembali senyuman di wajahnya, dengan nada ketus ia menegur "Rupanya kau sengaja berteriak agar mereka tahu bahwa kita sudah terkurung di sini? Kau ingin mereka segera turun tangan?"

Dengan Cepat Lim Han-kim berpikir di dalam hati: "Perempuan ini sebentar dingin sebentar hangat sikapnya kepadaku, toh rahasiaku sudah terbongkar sekali, paling banter dia akan membunuh ku nanti, kini kesempatan sudah tak banyak. aku tak boleh menunda-nunda waktu lagi."

Berpikir begitu, dia pun berkata: "Kita butuh waktu tiga jam untuk menunggu datangnya bala bantuan, sedang kalau mereka segera turun tangan, tak sampai setengah jam kita sudah akan mati tenggelam di dasar telaga..."

perkataan ini bukan saja diucapkan dengan nada tinggi, bahkan terang-terangan.

Berubah hebat paras muka seebun Giok-hiong, Tampaknya dia hendak mengumbar marahnya, tapi kemudian secara tiba-tiba ia berubah pikiran, ujarnya sambil tersenyum: "Tahukah kau, mereka tak punya kemampuan untuk membunuh ku dengan andalkan ilmu silat, Bila ingin membunuhku, paling banter mereka lubangi perahu ini agar karam. Bila perahu ini sampai tenggelam, termasuk kau sendiri pun akan jadi korban."

"Tidak apa-apa, biar mati pun aku tak menyesal" " Kalau begitu, pandanganmu terhadapku sudah

kelewat mendalam. Rasa bencimu sudah merasuk ke

tulang ..." "Betul, kau keji dan berhati ular, Dengan andalkan ilmu silat kau membuat keonaran dalam dunia persilatan, membuat dunia jadi kacau dan tidak tenteram. Apa salahnya kalau kukorbankan nyawaku kini demi kesejahteran umat manusia?" Blaaaammm ...

Mendadak terasa sebuah kekuatan yang maha dahsyat menerjang dasar perahu, bersamaan dengan munculnya sebuah lubang besar pada dasar perahu itu, semburan air telaga pun menyembur ke atas membasahi seluruh tubuh seebun Giok-hiong.

seebun Giok-hiong berdiri tak bergerak di tempat semula dengan wajah serius, Dia seakan-akan sudah lupa dengan bahaya yang mengancam di sekeliling tubuhnya, Dengan dua sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu, dia awasi wajah Lim Han-kim tanpa berkedip.

Lim Han-kim merasakan di balik sorot matanya itu seakan-akan terselip pisau tajam yang beracun dan menghujam kehulu hatinya yang membuatnya tak tenteram dan panik, Tanpa banyak bicara mendadak ia membalikkan badan dan menerjang keluar dari ruang perahu.

"Turun" bentakan nyaring bergema membelah udara,

Di antara kilatan cahaya tajam, selapis kabut pedang mengunci rapat jalan keluar dari ruangan itu. Terkurung oleh cahaya pedang yang berlapis-lapis itu, Lim Han-kim terdesak hingga harus melompat mundur dan balik kembali ke dalam ruangan perahu.

"Jangan halangi dia..." perintah seebun Giok-hiong tiba-tiba. Kemudian sambil mengalihkan pandangan matanya ke wajah , Lim Han-kim, ujarnya lagi: "Harap kekasih Lim tidak menyalahkan ketidak tahuan dayang- dayangku, sekarang pergilah dari tempat ini secepatnya"

"Kenapa kau tidak berusaha membunuhku?" tanya Lim Han-kim sambil berdiri termangu.

"Kalau aku berniat membunuhmu, buat apa menunggu sampai sekarang?"

Lim Han-kim terbungkam dalam seribu basa, Suasana dalam ruangan perahu pun dicekam dalam keheningan, sedemikian sepinya sampai masing-masing pihak dapat mendengar detak jantung lawannya.

Pada saat itulah mendadak tubuh perahu kembali oleng keras, diikuti terdengar dua bentakan nyaring bergema di udara. jelas sudah kedua orang dayang yang berjaga di atas geladak telah bertarung dengan para penyerbu.

Tiba-tiba Lim Han-kim duduk kembali sambil berseru: "Aku tidak jadi pergi."

Wajah Seebun Giok-hiong tetap kelihatan serius sehingga sukar untuk melihat apakah ia gembira atau marah. Setelah menghela napas panjang tanyanya kemudian: "Kenapa kekasih Lim? Kau toh mengerti, kesempatanku untuk meraih kemenangan pada hari ini kecil sekali"

"Kau mempunyai banyak kesempatan untuk membunuhku, tapi setiap kali kau lepaskan dengan begitu saja, maka hari ini kuputuskan untuk tetap tinggal di sini menemanimu ..."

Blaaammmm . . . Lagi-lagi dasar perahu dipukul orang hingga retak dan muncul sebuah lubang besar,

Saat itulah terdengar ciu Huang berseru: "Nona Seebun, syarat yang kuajukan itu tidak terlalu memberatkan dirimu. Bila nona masih belum juga mau menerimanya, jangan salahkan bila aku terpaksa akan mengandalkan jumlah banyak untuk meraih kemenangan..."

seebun Giok-hiong berkerut kening, tanyanya mendadak: "Kekasih Lim, menurut kau haruskah kulangar pantangan membunuh pada hari ini?"

Lim Han-kim tertegun, untuk sesaat dia tak mampu menjawab, sementara dalam hati kecilnya berpikir "Bila harus berbicara dari situasi yang dihadapinya sekarang, tidak bisa disalahkan kalau ia melanggar pantangan membunuh, apalagi keadaan sudah terpepet, siapa sih yang sudi duduk menunggu mati tanpa berusaha melanggar janjinya untuk tidak membunuh?"

suara beradunya senjata bergema nyaring dari luar ruangan, disusul terdengar seseorang tercebur ke dalam air. Lim Han-kim tak bisa memastikan pihak mana yang telah terluka dan tercebur ke dalam air itu, tapi ia bisa merasakan bahwa posisi yang dihadapi seebun Giok- hiong makin lama semakin berbahaya dan kritis.

Ketika ia berpaling, dilihatnya seebun Giok-Hiong masih berdiri di tempat dengan wajah termangu, tidak nampak rasa kaget, gugup atau panik di wajahnya, juga tak terlintas rasa gusar atau sedih, ia seperti sebuah patung pualam yang sangat indah, sama sekali tak terpengaruh oleh ancaman kematian yang sudah berada di depan mata.

Tiba-tiba terasa tubuh perahu oleng keras, seakan- akan perahu itu terlempar tinggi ke udara dan kemudian terperosok jatuh kembali ke atas permukaan air. Percikan air menyembur keluar dari dua lubang di dasar perahu, membasahi seluruh pakaian seebun Giok-hiong.

Lim Han-kim menghela napas panjang, tegurnya pelan: "Apakah kau akan menunggu mati sambil duduk?"

Paras muka seebun Giok-hiong yang dingin kaku seakan-akan mencair secara mendadak oleh aliran hawa panas, sekulum senyuman kembali tersungging di ujung bibirnya, "Menurut pendapatmu, apa yang harus kulakukan?" ia balik bertanya.

"Kau harus berusaha melarikan diri"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, tiba-tiba pemuda itu merasa telah salah bicara, tapi untuk diubah jelas tak mungkin lagi.

"Kenapa?" kata seebun Giok-hiong. "Kau tidak berharap aku mati di tempat ini?"

Lim Han-kim menutup mulutnya rapat-rapat dan tidak berbicara lagi, pikirnya: "Bagaimana pun keadaan akan berubah, lebih baik aku jangan banyak bicara, Dalam situasi dan kondisi seperti ini bukan saja dia seharusnya mulai melancarkan serangan balasan, sekalipun harus membunuh orang juga tak bisa disalahkan Tapi aku .. . aku toh tak bisa menganjurkan dia untuk berbuat demikian ..." situasi di luar perahu semakin tegang dan kritis, empat orang jago lihai itu dengan andalkan tenaga dalamnya yang sempurna tiada hentinya meng hantam permukaan air di seputar perahu yang ditumpangi seebun Giok- hiong, getaran gelombang yang keras membuat perahu kecil itu terlempar kian kemari dengan hebatnya.

Rupanya setelah Ciu Huang sekalian berempat saling beradu pukulan dengan seebun Giok-hiong tadi, mereka menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki gadis itu memang luar biasa hebatnya, Mereka berempat sadar, bila diharuskan bertarung satu lawan satu, jelas mereka tak punya kesempatan untuk meraih kemenangan Maka ketika mereka saksikan seebun Giok-hiong melangkah masuk ke dalam ruang perahu dan sampai lama belum juga munculkan diri, pikiran mereka dibuat semakin bimbang dan ragu. Mereka tak tahu permainan apa lagi yang sedang dipersiapkan gadis tersebut

Begitulah, untuk beberapa saat suasana dalam ruang perahu itu amat hening, Lim Han-kim yang duduk saling berhadapan dengan seebun Giok-hiong juga terlibat dalam kebungkaman total. Entah berapa lama sudah lewat...

Tiba-tiba seebun Giok-hiong berbisik, " Kekasih Lim, aku tak ingin mati dalam keadaan begini."

Lim Han-kim mengerdipkan matanya sambil berpikir "Kalau kau mati, dunia persilatan akan kehilangan seorang gembong iblis pembunuh, semua orang tentu akan bersyukur dan bergembira. Apa salahnya kau cepat mati?" Tentu saja ia tak ingin mengungkapkan apa yang dipikir itu dalam bentuk kata-kata, karenanya pemuda itu tetap membungkam diri,

seebun Giok-hiong menghela napas panjang, "Aaaai... kekasih Lim, semua persoalan yang biasanya tak pernah terpikir olehku, ternyata disaat-saat yang kritis ini telah muncul dan memenuhi benakku."

"soal apa?"

"Aku merasa bahwa seseorang, baik dia lelaki atau wanita, bila ia sudah berhasil menjadi seorang pahlawan yang dihormati orang, atau menjadi pentolan iblis yang disegani setiapjago, maka selama hidup dia akan ditemani kesepian, begitu juga aku dan Pek si-hiang..."

Lim Han-kim hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat itu segera diurungkan.

"Kau tidak percaya dengan perkataanku?" sambung seebun Giok-hiong.

"selain bergaul dengan siok-bwee serta Hiang-kiok yang selalu mendampinginya, Pek si-hiang memang jarang sekali berhubungan dengan orang lain. pesanggrahan pengubur bunga pun ibarat kuburan bagi manusia hidup, Dia memang sangat kesepian, Apa lagi tubuhnya lemah, berpenyakitan, jika kau bilang dia kesepian, hal ini memang kenyataan dan tidak keliru, sebaliknya kalau dibilang nona pun kesepian, ini baru suatu lelucon yang sangat menggelikan Kau punya anak buah beribu orang banyaknya, setiap jago menganggap kau sebagai pemimpinnya, setiap hari kau pun dikelilingi begitu banyak pembantu, Atas dasar apa kau mengatakan bahwa dirimu kesepian?" "Justru karena itulah aku baru sadari bahwa keadaanku sesungguhnya jauh lebih parah ketimbang Pek si-hiang. Bagi Pek si-hiang, paling tidak dia masih ada kau, Lim Han-kim vang kasihan, sayang dan mengasihinya, sedang aku?"

"Kau punya anak buah beribu orang banyaknya, sahabat karib dan kenalan lama tak terhitung jumlahnya, Bahkan dengan kecantikanmu, rayuanmu, kau sudah banyak menaklukkan pria-pria yang rela tunduk di bawah telapak kakimu, masakau masih belum puas?"

Meskipun ucapan ini disampaikan dengan nada halus dan datar, namun penuh mengandung nada sindiran dan cemoohan

" Kalau ingin memaki, makilah sepuasnya" kata seebun Giok-hiong sambil tersenyum "Bila cacianmu kurang cukup, bencilah aku. Bila perlu hajarlah aku sepuas hatimu..."

Dia menghembuskan napas panjang, setelah berhenti sejenak lanjutnya: "Benar, sepintas lalu orang menilai aku mempunyai beribu orang anak buah, beratus orang dayang cantik, ke mana aku pergi selalu banyak orang mengiringi kepergianku di sana sini aku disanjung orang, dihormati dan disegani, tapi semua orang yang dekat denganku menaruh rasa jeri dan takut. setiap tingkah lakuku, kataku, tertawaku menjadi panutan bagi mereka, Mereka tak berani membangkang, tak berani melawan... semuanya menurut dan membosankan. . . "

"Waaah... hebat kalau begitu kamu ini" sindir Lim Han- kim. seebun Giok-hiong tertawa pedih, katanya: "Kau tak usah menyindir, dengarkan dulu perkataanku hingga selesai, Aku tahu, mereka kalau bukan menganggapku sebagai gembong iblis wanita yang membunuh orang tanpa berkedip. tentu menyanjungku sebagai malaikat yang suci bersih, Belum pernah ada orang yang menganggap dan menghadapiku sebagai antar manusia."

sebenarnya Lim Han-kim masih ingin menyindirnya lagi dengan kata-kata pedas, tapi setelah menyaksikan wajahnya yang diliputi kepedihan, ia jadi tak tega untuk mengutarakan keluar

setelah menghela napas panjang seebun Giok-hiong berkata lebih jauh: "Semenjak kecil, aku sudah kenyang merasakan penderitaan dan siksaan batin karena hidup sebatang kara, oleh sebab itu setelah terjun ke dalam dunia persilatan aku selalu bertindak keji dan buas.

Aku tak sudi mempercayai siapa pun, juga tak berani mempercayainya. Aku pasti akan berusaha mencari akal untuk mengendalikan serta menguasai mereka ke dalam genggamanku, Untuk mewujudkan hal tersebut aku pun tak segan-segan mempelajari berbagai ilmu silat yang kuanggap bakal bermanfaat bagiku.

Di waktu- waktu biasa, aku memang tidak terlalu merasakan hal ini. Tapi sekarang setelah keselamatan jiwaku terancam, tiba-tiba saja kusadari bahwa diriku sesungguhnya telah kekurangan banyak hal, sekarang aku telah menemukannya dan berhasil menjumpainya."

"Menemukan apa?" "Menemukan kenyataan bahwa aku sesungguhnya hanya seorang wanita, Hanya kau seorang yang menganggap diriku sebagai sesama manusia."

Mendengar itu Lim Han-kim mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. sampai lama sekali suara tertawa nyabaru berhenti

"Apa yang kau tertawakan?" tegur seebun Giok-hiong. "Cara kerja nona seebun betul-betul membuat hatiku

kagum, sekalipun kau ingin aku rela menemanimu

terkubur di dasar telaga, tidak seharusnya kau pergunakan cara ini..."

"Jadi kau tidak percaya dengan perkataanku ?" "Tidak percaya setiap patah katamu tidak kupercayai,

maka aku anjurkan kepadamu lebih baik tak usah

dilanjutkan"

"Tahukah kau apa sebabnya kau tidak percaya dengan ucapanku?"

Lim Han-kim belum pernah membayangkan kalau gadis tersebut akan mengajukan pertanyaan seperti ini, untuk beberapa saat dia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun,

"Kau tidak tahu bukan?" tanya seebun Giok-hiong lagi, "Yaa, untuk berapa saat aku memang tak bisa

menjawab."

"Kalau begitu biar aku yang beritahu kepadamu." "Baik, aku memang ingin mendengar petunjukmu." "Hal ini dikarenakan aku terlampau tangguh bagimu, ilmu silatku, kecerdasanku semuanya jauh lebih tangguh ketimbang dirimu, maka bagaimana pun serius dan bersungguh-sungguhnya aku bersikap kepadamu, aku tetap tak akan percaya, Coba bandingkan kalau aku adalah gadis yang lemah, gerak-gerikku patut dikasihani kaU pasti akan merasa berkewajiban untuk tampil ke depan dan rela melindungi serta membela kepentingannya..."

"seandainya kau berubah menjadi lemah, dunia persilatan tentu tak kau obrak abrik seperti macam sekarang ini," tukas Lim Han-kim.

seebun Giok-hiong menghela napas panjang: "Yaaa... memang beginilah kehidupan seorang jago, penuh diliputi kesepian"

Mendadak dari luar ruang perahu bergema datang suara jeritan lengking seseorang: "Nona, baik-baik jaga diri, budak terpaksa berangkat duluan"

Beberapa patah kata ini diucapkan dengan nada makin ke belakang semakin lirih, jelas budak itu sudah menderita luka parah sehingga dia harus mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya untuk berpamitan dengan seebun Giok-hiong.

Dengan perasaan sedih Seebun Giok-hiong berkata: " Kekasih Lim, inilah kesempatan terakhir bagimu, Ayo berangkat, aku antar kau pergi meninggalkan perahu ini" sambil menarik lengan Lim Han-kim, ia beranjak keluar dari ruang perahu itu.

"Tidak" tampik Lim Han-kim. "Aku telah berjanji akan menemani nona di sini..." " Kenapa? Kau toh tidak menyukai diriku barang sedikitpun, misalnya kita betul-betul mati di dasar telaga, jadi setan pun setiap hari kita akan ribut"

Waktu itu di atas geladak sedang berlangsung pertarungan yang amat seru antara seorang dayang berbaju hijau melawan Kim-hud totiang. sekujur badan budak berbaju hijau itu sudah dipenuhi luka, darah segar bercucuran membasahi seluruh badannya, namun ia masih melakukan perlawanan sengit

Di sisi geladak yang lain terbujur sesosok mayat dayang berbaju hijau, mukanya sudah rusak dan hancur sehingga panca inderanya tidak terlihat sama sekali.

Tergerak perasaan Lim Han-kim setelah menyaksikan kejadian ini, pikirnya: "Mereka menyebut diri sebagai para pendekar sejati dari dunia persilatan kenapa cara membunuh mereka begitu keji dan tidak berperi kemanusiaan...?"

sementara ia masih berpikir, seebun Giok-hiong telah membentak nyaring: "Berhenti"

Dayang berbaju hijau itu segera menarik kembali pedangnya sambil melompat mundur Waktu itu Kim-hud totiang sedang sengit-sengitnya melancarkan serangan, ia tidak menggubris bentakan itu, senjata kebutannya langsung disapu ke muka keras-keras.

Tak ampun serangan itu menghajar telak di atas lengan kiri dayang berbaju hijau itu, membuat lengan tersebut hancur dan memercikkan darah segar ke mana- mana. sesungguhnya dayang berbaju hijau itu sudah terluka parah, ia hanya bertarung dengan andalkan semangatnya yang berkobar-kobar. setelah termakan hajaran senjata kebutan yang amat dahsyat itu, tentu saja ia tak mampu mempertahankan diri lagi, Tubuhnya mundur sempoyongan lalu jatuh terguling di atas geladak. wajahnya menunjukkan rasa sakit yang tak terhingga.

Kepada seebun Giok-hiong ia berseru: "Nona, budak tak sanggup ..." Belum selesai perkataan itu diucapkan, ia sudah roboh tak sadarkan diri

Dengan wajah sedingin saiju seebun Giok-hiong memandang dayangnya yang terluka parah itu sekejap. lalu katanya ketus: " Kim- hud totiang, apa bila ia tidak menarik kembali pedangnya sambil melompat mundur, sanggupkah seranganmu itu melukainya?"

Rasa menyesal dan malu terlintas di atas wajah Kim- hud totiang, setelah termenung sejenak jawabnya: "sekalipun aku tak mampu melukainya dalam jurus tersebut, namun ia pun tak akan mampu bertahan sepuluh gebrakan lagi."

Dengan sorot mata yang tajam seebun Giok-hiong memandang sekejap Ciu Huang sekalian yang berada di situ, lalu ujarnya lirih: "Kekasih Lim, kau sudah harus berangkat."

"Tidak, aku tak akan pergi meninggalkan dirimu." Lim Han-kim menggeleng berulang kali.

seebun Giok-hiong tidak ambil perduli, kembali ujarnya serius sambil menatap wajah Ciu Huang: "Dia bukan anggota pergUruan bUnga bwee, permusuhan kalian dengan diriku sama sekali tak ada hubungannya dengan dia, bagaimana kalau aku minta kepada kalian agar tidak mencelakainya?"

Belum sempat Lim Han-kim mengucapkan sesuatu, dengan suara lantang ciu Huang telah menjawab: " Kami setuju dengan permintaan nona, kami tak akan melukai dia"

"ciutayhiap. aku percaya dengan perkataanmu itu, semoga saja kau tidak ingkar janji." Kemudian sambil mengalihkan pandangan matanya ke wajah Kim-hud totiang, ujarnya lebih jauh: "Kau mengira dalam sepuluh gebrakan dirimu pasti berhasil mengungguli dirinya?"

"Betul" Kim-hud totiang membenarkan. Hawa napsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajah seebun Giok-hiong, tantangnya: "Kau berani mencobanya sekali lagi?"

"Ia sudah terluka parah dan tak sadarkan diri, lengannya juga sudah hancur, mana mungkin perempuan itu bisa bertarung lagi me-lawanku?"

"Bagi anggota perguruan bunga bwee, asal dia masih bernapas berarti dia masih sanggup melanjutkan pertarungan."

"Aku tidak percaya"

"Hmmm, kalau tidak percaya buktikan saja sendiri"

Mendadak ia sambar tubuh dayang berbaju hijau itu dengan cepat tangannya merogoh ke dalam saku mengeluarkan sebuah botol porselen, Diambilnya dua butir pil berwarna merah lalu menjejalkan ke dalam mulut dayang berbaju hijau yang pingsan itu. Kim-hud lotiang berkerut kening, ia seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi niat itu diurungkannya .

setelah menjejalkan pil tersebut, dengan cepat seebun Giok-hiong menggaplok punggung dayang itu sambil bisiknya: "Ber-juang demi kehormatan, mati pun tak menyesal."

Tiba-tiba dayang berbaju hijau itu membuka matanya lebar-lebar, selapis cahaya berwarna merah segera menyelimuti wajahnya yang pucat.

Lim Han-kim terkejut sekali melihat kejadian itu, pikirnya: "Padahal dayang itu sudah menderita luka parah, masa ia betul-betul masih mempunyai daya kemampuan untuk bertarung?"

Setelah menelan dua butir pil berwarna merah itu, secara mendadak semangat dayang berbaju hijau itu bangkit kembali Sinar matanya yang semula sayu kini memancarkan sinar tajam yang menggidikkan hati, pelan-pelan ia berpaling memandang Seebun Giok-hiong dan bertanya: "Apa perintahmu nona?"

Sambil menuding ke arah Kim-hud totiang, Seebun Giok-hiong berseru dingin: "Tosu itu telah melukai tubuhmu, menghancurkan masa depanmu, Kini kau sudah hampir mati, kenapa tidak menuntut balas lebih dulu kepadanya?^

"Ucapan nona memang sangat tepat," sahut dayang itu cepat ia segera memungut kembali pedangnya yang tergeletak di tanah. Dengan wajah yang merah membara serta pedang berlumuran darah yang terlintang rti depan dadanya, perempuan itu nampak sangat mengerikan- Diam-diam bergidik juga Kim-hud totiang setelah menyaksikan keadaan itu, pikirnya: "Sudah begitu parah luka yang dideritanya, mana mungkin ia masih sanggup meneruskan pertarungan?"

Sementara ia masih berpikir, dayang berbaju hijau itu sudah menerjang maju ke muka,

pedangnya digetarkan membentuk dua kuntum bunga pedang yang secara terpisah menusuk dua buah jalan darah penting di tubuh Kim-hud totiang.

Buru-buru Kim-hud lotiang menggetarkan senjata kebutannya sambil menyapu ke depan, ia berusaha menggulung senjata lawan Di dalam anggapannya, setelah terluka begitu parah meski dayang berbaju hijau itu diberi obat mujarab pun tak nanti ia mampu menahan gempuran senjata kebutannya ini. Dalam sekali sapuan ia pasti akan berhasil mementalkan senjata lawan

siapa tahu apa yang terjadi kemudian sama sekali di luar dugaan Kim-hud totiang, ternyata dayang berbaju hijau itu tidak berusaha menghindar ia malah menyambut datangnya ancaman itu dengan kekerasan.

Kim-hud totiang segera menggetarkan pergelangan tangannya, di luar dugaan pedang di tangan dayang itu gagal digetar lepas, dalam terkesiapnya ia pun berpikir " Heran, kenapa tenaga yang dimiliki dayang ini bisa lebih hebat ketimbang sebelum terluka tadi?" 

sementara dia masih termenung, dayang berbaju hijau itu sudah memutar pedangnya menusuk tan-tian di bawah pusar tosu tersebut. Perubahan jurus serangan ini dilakukan sangat cepat dan luar biasa hebatnya. sreeet... Jubah yang dikenakan Kim-hud totiang tahu-tahu sudah tersambar oleh tusukan pedang lawan hingga robek besar Dengan perasaan kaget Kim-hud totiang menggetarkan senjata kebutannya, bulu-bulu emasnya berubah jadi gumpalan hujan gerimis dalam waktu singkat dan langsung membacok kepala musuh.

Dayang berbaju hijau itu mendorong pedangnya keluar, ia ciptakan selapis bunga pedang untuk membendung datangnya serangan dari Kim-hud lotiang itu.

Dalam waktu singkat kedua orang itu terlibat dalam suatu pertempuran yang amat seru. Meskipun sekujur tubuh dayang berbaju hijau itu sudah berlumuran darah, namun serangan-serangan pedangnya tetap dilancarkan dengan garang dan buas, pedangnya diputar bagaikan putaran roda, semua tempat mematikan di tubuh Kim- hud totiang sudah berada dalam ancamannya.

Tenaga dalam yang dimiliki pun tampaknya sudah bertambah kuat, desingan angin serangan yang dipancarkan amat menusuk pendengaran pertarungan berlangsung hampir dua puluh gebrakan namun keadaan tetap berimbang, tak ada satu pihak pun berhasil merebut posisi yang lebih menguntungkan

Melihat itu dengan perasaan tercengang Kim-hud totiang berpikir "obat apa yang ditelankan ke tubuh dayang itu? Heran, kenapa tenaga dalamnya bisa meningkat sehebat itu?"

Meskipun senjata kebutan yang dipergunakan Kim-hud totiang termasuk benda lunak, namun serangan yang dipancarkan justru hebatnya bukan kepalang, sebelum terluka parah tadi, setiap kali serangan pedang dari dayang berbaju hijau itu beradu dengan senjata kebutan lawan, pedangnya pasti akan terpental ke belakang.

Tapi anehnya setelah ia terluka parah dan diberi pil tersebut, tiba-tiba saja kekuatannya berlipat ganda.

Bukan saja senjatanya tak sampai mencelat malahan ia dapat paksakan pertarungan adu tenaga melawan tosu itu.

Pada saat itulah tiba-tiba Seebun Giok-hiong berpekik nyaring, suaranya melengking sangat memilukan hati.

Kembali kedua orang itu bertarung belasan jurus lebih, keadaan tetap berimbang. Hanya saja setelah pekikan aneh itu dikumandangkan, permainan pedang dari dayang berbaju hijau itu makin lama semakin bertambah kuat, serangan-serangannya juga makin gencar dan hebat.

secara diam-diam Lim Han- kim mencoba memperhatikan jalannya pertempuran itu, dengan cepat ia jumpai gerak serangan pedang dari dayang berbaju hijau itu ternyata mengikuti tinggi rendahnya suara pekikan yang dipancarkan seebun Giok-hiong, ini berarti di balik pekikan itu mengandung arti sandi yang memberi petunjuk kepada si dayang dalam menggerakkan pedangnya.

Terlihat jurus serangan yang dipergunakan dayang berbaju hijau itu makin lama semakin bertambah aneh, ada kalanya bahkan merupakan pertarungan adu jiwa yang tidak memperhitungkan keselamatan sendiri. Tentu saja Kim-hud lotiang tak ingin melayani pertarungan adu jiwa seperti ini, terpaksa ia hanya berkelit kian kemari berusaha untuk menghindarkan diri

Dengan langkah yang diambil ini, otomatis posisinya jadi terdesak hebat, Dayang berbaju hijau itu berhasil merebut posisi di atas angin dan serangan yang dilancarkan juga makin lama semakin bertambah ganas.

Kini, bukan hanya Kim-hud totiang seorang yang merasakan tidak beresnya keadaan, ciu Huang serta Hongpo Tiang-hong sekalian pun dapat merasakan gejala ini, Bila pertarungan dibiarkan berlanjut maka bukan saja dayang berbaju hijau itu akan berhasil merebut posisi di atas angin, malahan bisa jadi akan melukai Kim-hud lotiang dengan pedangnya.

Inilah rahasia terbesar dalam ilmu pengobatan, padahal para jago sadar bahwa hal ini disebabkan pengaruh obat yang ditelankan, tapi obat apakah itu? Kenapa bisa menghasilkan kekuatan yang begini hebat?

Ketika menengok kembali ke arah dayang berbaju hijau itu, wajahnya yang semula pucat pasi kini telah berubah jadi merah seperti hati babi, sepasang matanya melotot keluar, wajahnya menyeramkan sekali.