Pedang Keadilan II Bab 11 : Tidur seranjang

 
Bab 11. Tidur seranjang

Akhirnya ia letakkan kembali kitab tersebut ke atas meja, pejamkan mata dan mulai berpikir: "Entah apa maksudnya mengurungku dalam ruang bawah tanah ini? Masa ia benar-benar begitu tega mengurungku di sini hanya gara-gara aku menariknya sampai terjerembab?

Aaaai... kendatipun suasana dan pemandangan di tempat ini sangat aneh, indah dan menarik tapi jelas bukan tempat tinggal yang ideal bagi manusia, apalagi tidak tersedia makan dan minum. Bagaimana orang bisa hidup terus di sini?"

sementara dia masih melamun, tiba-tiba kedengaran suara langkah kaki manusia berjalan mendekat Ketika dia palingkan kepala, terlihatlah Pek si-hiang dengan kepala basah oleh keringat dan napas tersengal-sengal sedang berjalan mendekat dengan berpegangan pada dinding lorong.

Begitu masuk ke dalam ruangan ia hembuskan napas panjang seraya keluhnya: "oooh betul-betul melelahkan"

Buru-buru Lim Han-kim bangkit berdiri dan menyongsong kedatangannya dengan langkah cepat. Tidak memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk bicara, Pek si-hiang sudah ulurkan tangannya seraya berseru: "Cepat bimbing aku naik ke pembaringan aku mau istirahat sebentar oooh... kakiku rasanya mau patah saking capainya"

Lim Han-kim menghampiri serta membimbing atau lebih tepat dikatakan membopong gadis itu ke atas pembaringan Bagaimana tidak. saking lelahnya Pek si- hiang sudah tak sanggup menyeret kakinya lagi saat itu. Bisa jadi gadis itu memang sengaja berlagak begitu agar ia bisa berbaring dalam pelukan sang pemuda dan membiarkan dirinya dibopong,

setelah berbaring dan menyeka keringat dari jidatnya, Pek si-hiang baru menegur sambil tertawa: "Kau sedang mengumpatku bukan?"

"Tidak" sahut sang pemuda tercengang,

"Aaaah, tak mungkin. Aku yakin kau pasti sedang menyumpahi aku," kata Pek si-hiang sambil tertawa lebar, " Kalau tidak. masa telingaku jadi panas dan gatal? Biarpun tidak sampai terutarakan keluar, paling tidak di hati kecilmu tentu sedang menyumpahi begini: "Huuuuh, dasar perempuan berjiwa sempit gara-gara aku menjerembabkan tubuhmu, kau sekarang balas dendam dengan mengurungku di bawah tanah, Dasar pikiran perempuan selalu picik Hmmm perempuan memang menakutkan... betul kan?"

"Huuss... aku tak pernah pikir begitu" bantah sang pemuda sambil tertawa.

Pek si-hiang tidak membantah lagi, ia lemaskan dulu otot kaki dan lengannya kemudian baru tanyanya lagi sambil tertawa: "Bagaimana dengan kuburanku ini?

Bagus bukan?" "Apa? Ruangan ini adalah kuburan yang kau persiapkan bagimu?" pemuda itu keheranan

"Kenapa? Bagus bukan? setelah mati, dari sini lewat kaca pada dinding aku masih bisa melihat keadaan di dunia luar."

Lim Han-kim menghela napas panjang, "Aaaai... seandainya kita ubah sedikit bentuk ruangan ini, sesungguhnya akan terwujudlah sebuah tempat kediaman yang amat bagus, Nona jikalau kau sudah bosan dengan segala keramaian dunia, apa salahnya kau bila sebuah tempat kediaman yang ideal di bawah tanah serta menikmati hidupmu di sini dengan tenang dan penuh damai, kenapa kau bersikeras harus mencari mati?"

"Tahukah kau, apabila aku hidup terus maka banyak kejadian luar biasa yang akan menimpa umat persilatan. Aku bisa sangat merugikan mereka..."

"Maksudmu seebun Giok-hiong membikin ulah?" tukas Lim Han-kim.

"Bukan" Pek si-hiang menggeleng. "semua tabib kenamaan telah kusambangi, semua kitab suci sudah kubaca habis, bahkan kitab pengobatan macam apa pun telah kupelajari tapi tak satu pun yang bisa dipakai untuk mengobati penyakitku ini, orang bilang Buddha menyelamatkan orang yang berjodoh, obat menyelamatkan orang yang sakit, sayang aku Pek si- hiang tak punya jodoh dengan Buddha dan tidak menemukan obat mestika yang bisa selamatkan jiwaku. .

. " "Aku pernah dengar di dunia ini terdapat sejenis jamur berusia seribu tahun yang mujarab untuk menyembuhkan pelbagai penyakit, betulkah ada benda seperti itu?"

"Yaa, benda mestika tersebut memang betul-betul ada, cuma obat mujarab itu tidak diketahui tumbuh di mana dan kapan tumbuhnya sehingga mustahil buat kita untuk menemukannya dalam sesaat, sedangkan sebenarnya obat-obat macam begitu tak berkhasiat apa- apa terhadap penyakitku."

Mendengar itu, Lim Han-kim berpikir di dalam hati: "Han-gwat pernah berdaya upaya mencuri pil jinsom berusia seribu tahun milikku, Bukankah pil itu juga bermaksud untuk mengobati penyakitmu? "

Meski begitu, ia berkata laini " Nona pintar dan berpengetahuan luas, aku percaya kau tentu sudah mengetahui cara untuk mengobati penyakit tersebut."

"Kau pernah menyaksikan ilmu tusukan jarum emasku bukan?"

"Yaa, pernah kulihat, ilmu tersebut memang betul- betul luar biasa"

"Meskipun khasiatnya luar biasa, sebenarnya cara yang digunakan amat sederhana," ucap Pek si-hiang sambil tertawa, "Kalau boleh dicari bagian yang sulit, maka kesulitan utama adalah harus menguasai letak ketiga ratus enam puluh empat buah jalan darah penting di tubuh manusia. Jalan-jalan darah itu ada yang termasuk dalam jalur nadi Jin-meh tapi ada yang masuk dalam jalur nadi Tok meh. selain itu dalam tubuh manusia terdapat empat belas jalur nadi, delapan nadi yang di luar garis serta banyak jalan darah aneh lainnya, Padahal setiap nadi, setiap urat memiliki khasiat serta kegunaan yang berbeda. Asal kita dapat menghapalkan semua letak, khasiat serta kegunaan dari nadi-nadi penting tersebut kemudian tusukan jarum kita tepat pada posisinya, segala sesuatunya akan berjalan sederhana sekali."

"Yaaa, kalau dibicarakan sih tampaknya gampang, padahal kalau sudah dilaksanakan susahnya bukan kepalang."

Kembali Pek si-hiang menghela napas panjang, "Aaaaai, ketika kusadari bahwa tubuhku mengidap penyakit aneh, mula pertama aku berusaha dulu lewat kitab-kitab pengobatan dengan maksud mencari cara yang paling tepat untuk mengobati penyakit itu.

Gara-gara penyakit ini, orang tuaku pun ikut bersusah payah mengarungi seluruh jagad untuk mencari tabib kenamaan serta obat mestika lainnya yang mungkin bisa digunakan untuk mengobati penyakitku. Kasihan mereka, meski sudah banyak tahun mengembara namun hasilnya tetap nihil, sebaliknya obat-obat mestika yang tercantum dalam kitab pengobatan termasuk barang langka yang susah ditemukan ini berarti jika kita gantungkan harapan kita pada obat-obatan yang tercantum dalam kitab, maka kita harus mengobrak-abrik seluruh jagad lebih dulu ..."

"Apakah dari catatan kitab pengobatan itu nona berhasil menemukan sistem pengobatan yang paling jitu?" potong Lim Han-kim cepat. "Sebagian besar sistem yang tercantum dalam kitab pengobatan itu tergantung pada kemujaraban obat langka, jadi sesungguhnya kitab itu tak berguna sama sekali bagiku."

"seterusnya?"

"Karena tak berhasil menjumpai sistem pengobatan yang jitu dari kitab pengobatan, aku pun mulai menelusuri kitab-kitab ilmu mengatur napas, Aku butuh waktu tiga tahun untuk membaca habis semua kitab pusaka tersebut tapi usahaku menemukan sistem pengobatan yang jitu belum berhasil juga ..."

sambil tertawa jengah ia menghembuskan napas panjang, kemudian melanjutkan "waktu itu aku takut mati, sebab orang yang sudah mati tak bakal bisa melihat apa yang ingin dilihat, mendengar apa yang ingin didengar dan merasakan apa yang ingin dirasakanjadi aku menaruh rasa takut dan ngeri yang luar biasa terhadap kematian. setiap kali aku gagal menemukan sistem pengobatan yang jitu, entah berapa banyak air mata bercucuran membasahi pipiku, Namun setiap kali berhadapan dengan orang tuaku, aku selalu bersikap seakan-akan tak takut mati, aku selalu berusaha mengulumkan senyum ketenangan-"

"Aaaah, tak heran nona menguasai pelbagai macam ilmu silat dan ilmu pengobatan, rupanya begitulah proses terjadinya," sela Lim Han-kim sambil manggut-manggut.

sementara dalam hati kecilnya berpikir "Darimana dia bisa peroleh begitu banyak kitab pusaka ilmu silat dan ilmu pengobatan?" Terdengar Pek si-hiang berkata lebih jauh setelah menghela napas panjang: "Akhirnya aku mengambil kitab-kitab rahasia aliran sesat untuk memperluas wawasan pengetahuanku Dari pelbagai aliran sesat inilah aku berhasil menjumpai sebuah cara."

"Apa cara itu?"

"sebuah cara yang amat keji dan mengerikan cara tersebut termasuk juga sejenis ilmu silat yang luar biasa, berasal dari satu sumber dengan ilmu hipnotis yang dipelajari Seebun Giok-hiong. Malahan menurut perasaanku ilmu tersebut masih setingkat lebih hebat daripada ilmu hipnotis."

"Kalau begitu aneh sekali, Kalau toh kau sudah mengetahui cara untuk menyembuhkan penyakit tersebut, kenapa kau sebut juga cara yang keji dan mengerikan?"

"Untuk mengobati penyakitku ini aku harus mengorbankan banyak sekali nyawa manusia tidakkah cara ini keji dan mengerikan?"

"Oooh, rupanya begitu," Lim Han-kim menghembuskan napas panjang.

"Dalam kitab itu dengan jelas diterangkan, apabila cara ini cocok dengan penyakit yang kuderita, maka hasilnya akan luar biasa, Dalam tujuh hari dijanjikan semua penyakit yang kuderita dapat disembuhkan sebaliknya kalau penggunaannya salah, maka dengan sia-sia akan terkorban banyak sekali nyawa manusia." "Dengan kepandaian serta kecerdasan nona, masa tak bisa membedakan mana cara yang benar dan mana tidak?"

"Menurut catatan dalam kitab pusaka itu, dijelaskan penyakit aneh yang kuderita ini bernama "Sam-im-coat- meh", jadi aku pikir tak bakal salah, Malah dalam kitab itu disebutkan juga untuk orang yang menderita penyakit Sam-im-coat-meh tentang ilmu silat jenis apa yang paling cocok dilatih.

Yang lebih hebat lagi, selain menyembuhkan penyakit orang itu pun bisa memperoleh ilmu silat yang maha dahsyat Begitu penyakitnya sembuh, ilmu silat yang dipelajari pun sudah mencapai tingkat kesempurnaan."

"Waaah... rasanya belum pernah kudengar kejadian seperti ini."

Pek si-hiang tertawa manis. "Hanya kelemahannya ialah orang itu bakal kecanduan dan tak bisa lepaskan diri dari latihan, setiap orang yang melatih kepandaian itu, asal sudah peroleh sedikit dasar, maka dia harus melatihnya terus, selama hidup, sepanjang masa ia tak bisa menghentikan latihannya dengan begitu saja."

"Kenapa?"

"Kalau bukan begitu, masa ilmu tersebut masuk dalam aliran ilmu hitam yang sesat?"

Lim Han-kim dapat merasakan bahwa gadis yang nampaknya lemah penuh penyakitan ini sesungguhnya memiliki pengetahuan yang luasnya bagaikan samudra. Bila dapat berkumpul dengannya maka pengetahuan yang diperolehnya seakan-akan tak bakal habis sepanjang masa, setiap ucapannya mengandung makna yang luar biasa. Maka tak tahan iapun bertanya:

"Dapatkah nona menerangkan lebih terperinci?" "Baiklah, ada baiknya juga kujelaskan agar

pengetahuamu ikut bertambah. Semua yang kujelaskan

tadi sesungguhnya berasal dari sebuah kitab yang disebut Klu-mo-hian-kang-liok, ilmu sakti sembilan iblis..."

"Kitab pusaka ilmu sakti sembilan iblis?"

"Ehmmm, cukup mengerikan bukan ? Satu iblis saja sudah menggetarkan sukma, apalagi sembilan iblis sekaligus."

"Rasa-rasanya belum pernah kudengar kalau di dalam dunia persilatan terdapat ilmu silat macam itu."

"Menurut penjelasan dalam kitab sembilan iblis itu, kitab pusaka tersebut merupakan hasil karya sembilan orang, Masing-masing mencatat sejenis ilmu sakti yang kemudian di-gabung menjadi satu, oleh sebab itulah kitab itu dinamakan kitab pusaka ilmu sakti sembilan iblis.

Bila seseorang mulai berlatih mengikuti catatan dalam kitab itu maka selama hidup ia tak bisa berhenti berlatih, sebab ilmu silat itu aneh dan sakti, Kemajuan yang dicapai luar biasa cepatnya, daya perusak yang dihasilkan pun luar biasa, Watak orang yang berlatih akan semakin berangasan dan kasar, ia akan kecanduan, tak dapat berhenti berlatih, sekali berhenti maka dia akan mengalami jalan api menuju neraka. coba bayangkan, haruskah aku melatih ilmu semacam ini?" Lim Han-kim menghela napas panjang " Aaaai... ternyata dalam jagad ada juga kejadian macam begini, betul-betul di luar akal sehat"

"Justru itulah aku selalu ragu untuk mengambil keputusan, aku tak tahu haruskah ilmu sakti sembilan iblis itu kulatih demi menyembuhkan penyakitku?"

"Ehmmmm, kalau memang begitu kejadiannya, aku rasa memang susah untuk diputuskan"

"Aaaai... sulitnya justru tak bisa diperoleh jalan keluar yang terbaik."

"selain melatih ilmu silat yang tercantum dalam kitab sembilan iblis, apakah di dunia ini betul-betul tiada cara lain?"

"Menurut pengetahuanku, rasanya di dunia saat ini memang sudah tiada cara lain lagi."

"Sekalipun hasilnya mengerikan toh nona tak bisa mengorbankan nyawa dengan begitu saja, apalagi situasi dalam dunia persilatan saat ini sedang kalut. Begitu nona mati, seebun Giok-hiong si iblis perempuan itu pasti akan merajalela dengan perbuatan biadabnya. Banyak orang akan menjadi korban, di dunia tak ada orang yang mampu menghentikan kebetulannya lagi, lalu ...

Haruskah kita biarkan dunia persilatan dilanda badai dan musibah besar ini?"

"Meski begitu, akupun tak tega menyaksikan ada banyak nyawa yang berkorban gara-gara ulahku."

"Apabila pengorbananku dapat selamatkan nona dari kematian, biar harus mati pun aku rela," kata Lim Han- kim cepat "Ucapan Lim siangkong terlalu serius," ucap Pek si- hiang dengan wajah berseri "sekalipun pengorbananmu bisa selamatkan aku dari jurang kematian, kau kira aku tega membiarkan Lim siangkong gentayangan seorang diri di alam baka sebagai setan?"

"Aaaai... aku jadi gelisah dan tak tenang..." keluh Lim Han-kim dengan wajah cemas.

"siapa bilang aku tak gelisah dan merasa tenang?" "Pokoknya nona tak boleh mati..." tukas Lim Han-kim

dengan wajah murung.

"sayang aku tak bisa terhindar dari kematian itu..."

" KaLau begitu kita harus pancing seebun Giok-hiong masuk jebakan lalu berusaha membunuhnya . "

"Apa pendapat Lim siangkong?"

"Menurut pendapatku, pesanggrahan pengubur bunga ini dibangun dengan alat rahasia yang berlapis-lapis, lagipula untuk masuk sampai di sini harus melewati jalan air. Aku percaya nona tentu sudah menyiapkan alat rahasia di dalam air seputar pesanggrahan ini bukan?

Besok, sebelum seebun Giok-hiong sampai di sini, kita gerakkan semua alat rahasia yang terpasang, Aku percaya dengan gebrakan yang tak terduga ini, kita bisa membinasakan dirinya."

"Apa tidak terlalu sayang tempat kubur yang telah kusiapkan bertahun-tahun untuk kupakai, pada akhirnya harus diserahkan kepadanya sebagai tempat kubur dia?"

"Jika seebun Giok-hiong sudah mati, nona juga bisa berlega hati untuk selamanya ..." Pek si-hiang tertawa hambar "Selama maut belum menjemputku, setiap saat aku masih bisa berubah pikiran..." Kemudian sambil meluruskan lengannya yang kaku, dia menambahkan "Aku merasa lelah benar dan ingin tidur sebentar, jangan ajak aku berbicara lagi." seusai berkata, ia betul-betul pejamkan matanya.

Nona ini memang luar biasa, begitu berniat tidur dia langsung tidur, dalam waktu singkat gadis itu sudah berada dalam alam mimpi seraya gelengkan kepalanya berulang kali Lim Han-kim bangkit berdiri dan mengambil sejilid buku lagi dan rak buku.

Ternyata huruf dalam kitab itu pun aneh bentuk dan gayanya, tak satu tulisan pun yang dapat dipahaminya. satu ingatan segera melintas dalam benaknya, pikirnya: "Bila kitab ini bukan berisikan tulisan yang aneh bentuknya dan susah dipahami maksudnya, Pek si-hiang tak mungkin akan menyimpannya dengan begitu saja. sayang aku tak mengerti apa maksud tulisan tersebut..." Berpikir begitu, kembali dia mengambil kitab yang lain.

Kitab dengan sampul depan terbubgkus kain sutera kuning ini ternyata berhuruf biasa, terbaca olehnya judul kitab tersebut: RAHASIA ILMU TUTUP MULUT.

"Aneh betul judul kitab ini," pikir Lim Han-kim kemudian dengan perasaan tercengang, "Masa ada judul kitab seaneh ini. hmmm, aku harus tengok isinya ..."

Ketika halaman pertama dibalik, maka terbacalah beberapa huruf besar yang berwarna merah: "siasat ketiga puluh tujuh."

Kontan saja Lim Han-kim tertawa geli, kembali pikirnya: "Yang kuketahui, di dunia ini cuma ada tiga puluh enam siasat, masa isi halaman pertama kitab ini sudah menyalahi aturan, Aku harus periksa apa yang dimaksud siasat ketiga puluh tujuh itu."

Ketika menelusuri lebih jauh, terbaca olehnya isi yang berbunyi begini: "siasat ketiga puluh tujuh: Tipu diri sendiri lebih dulu sebelum menipu orang lain."

"Bagus" pekik Lim Han-kim dalam hati, "Ternyata isi kitab ini memang luar biasa dan lain daripada yang lain

..."

ia pun membaca lebih jauh: "Bila menipu orang tanpa menipu diri sendiri lebih dulu, usaha untuk mengelabui jagad pasti akan gagal total dan akhirnya terbongkar Bila menipu diri tanpa menipu orang lain, akhirnya diri sendiri yang bakal sengsara, Cara yang terbaik adalah tipulah diri sendiri lebih dulu baru kemudian menipu orang lain, tipuanmu pasti sempurna dan mustahil terbongkar itulah yang disebut orang pintar sebetulnya bodoh^"

Lim Han-kim menghembuskan napas panjang, kembali pikirnya: "Sepanjang hari Pek si-hiang hanya membaca kitab yang aneh dan di luar aturan manusia, tak heran jika tingkah laku serta perbuatannya sangat aneh dan susah diramalkan ..."

Baru saja dia hendak membaca lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara tangisan yang sedih bergema memenuhi ruangan itu Dengan perasaan terkejut ia segera berpaling.

Tampak Pek si-hiang sedang menangis ter-sedu-sedu meski orangnya masih berada dalam keadaan tertidur, agaknya ia sedang memimpikan sesuatu kejadian yang memilukan hati, Mendadak satu ingatan melintas lewat, pikirnya: "Aku telah mencuri lihat isi kitabnya, bila ia bangun dan memakiku, kejadian ini pasti memalukan sekali..."

sementara itu isak tangis Pek si-hiang semakin bertambah keras, bahkan seluruh tubuhnya ikut gemetar keras, Lim Han-kim jadi gugup dan kelab akan, buru- buru teriaknya cemas: "Nona Pek... Nona Pek...^

Mendadak Pek si-hiang melompat bangun dari tidurnya, menubruk ke dalam pelukan Lim Han-kim lalu menangis tersedu-sedu, Kini ia sudah bangun dari tidurnya, pikirannya mulai jernih hingga suara tangisannya kedengaran lebih sedih, lebih memedihkan hati ketimbang tangisannya sewaktu masih bermimpi tadi.

Lim Han-kim ingin sekali menghibur dan membujuknya dengan beberapa patah kata, tapi melihat gadis itu menangis makin sedih, pemuda kita jadi gelagapan dan untuk beberapa saat lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Agaknya Pek si-hiang telah meluapkan semua perasaan sedih, murung dan masgul yang mengganjal dadanya selama ini dalam tangisan tersebut, karena itu isak tangisnya makin lama semakin keras dan memilukan hati sehingga siapa pun yang ikut mendengar akan turut sedih dan murung.

Lim Han-kim kemudian menyapa setelah berhasil menenangkan pikirannya: "Nona Pek, bila kau ada masalah yang memedihkan hati, utarakan saja keluar. Mungkin dengan mengatakannya kepadaku, kemurungan di hatimu akan berkurang ingat nona, badanmu lemah dan sedang sakit, kau tak boleh menahan derita dan siksaan seperti ini."

Pek si-hiang angkat kepalanya sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya, lalu katanya: "Barusan aku mendapat sebuah mimpi yang amat buruk."

" Kukira ada kejadian besar apa, rupanya cuma bermimpi..." batin Lim Han-kim, tapi di luarnya ia berkata sambil tertawa: " Kejadian dalam mimpi tak boleh kau tanggapi secara serius, nona, Kau cerdik dan berpengetahuan luas, tentunya kau tahu bukan mimpi hanya bunga tidur, kenapa mesti kau tanggapi?"

"Tapi impianku ini beda jauh dengan impiian biasa." "Bagaimana bedanya?"

"Apa yang kuimpikan justru merupakan masalah yang menjadi beban pikiranku selama ini"

"Kalau kau memikirkan sesuatu di siang hari, kemudian muncul dalam impian di malam hari, itu berarti kau memang betul-betul sedang bermimpi."

Pek si-hiang menggeliat manja dalam pelukan Lim Han-kim, lalu berkata sedih: "Apa yang kujumpai dalam impian justru merupakan jalan yang telah kuputuskan hendak kutempuh"

Mendengar itu, sekali lagi Lim Han-kim berpikir: "Bagaimana pun tangguhnya nona Pek, ia tetap seorang gadis, Hari ini aku baru tahu, rupanya betapa pun hebatnya seorang wanita dalam dunia persilatan, nyalinya tetap kecil, Baru bermimpi saja sudah ketakutan seperti ini..." secara tiba-tiba saja ia berpendapat bahwa sebagai seorang lelaki, bagaimana pun juga ternyata ia jauh lebih kuat dan tangguh ketimbang kaum wanita, tak terasa ia segera busungkan dada seraya berkata: "Bersediakah nona menceritakan impianmu itu? Mungkin kau bisa membantumu untuk melenyapkan semua kemurungan dan rasa takut itu."

Dengan air mata masih membasahi matanya tiba-tiba Pek si-hiang tersenyum, ditinjunya dada Lim Han-kim keras-keras lalu serunya manja: "Kau memang kuat sekali..."

"sebagai seorang lelaki sejati, biarpun menghadapi masalah pedih yang memilukan hati pun aku tak bakal menangis tersedu-sedu"

Dalam kondisi Pek si-hiang yang begitu lemah, kendatipun ia tinju dada pemuda itu keras-keras, namun Lim Han-kim tidak merasakan sedikit pun, sebaliknya malah gadis itu yang merasakan tangannya amat sakit.

setelah membetulkan rambutnya yang kusut, kembali nona itu berkata: "Dalam mimpiku tadi aku melihat seebun Giok-hiong memakai pakaian pengantin sedang mengadakan upacara perkawinan denganmu, sedang aku hanya berbaring saja dalam keadaan sekarat."

"Kau memang suka memikirkan hal yang bukan-bukan

..."

Tidak. aku sungguh-sungguh, Aku melihat seebun Giok-hiong memakai baju pengantin dengan wajah berseri-seri, sekejappun tidak melirik kepadaku, Aaaai... aku sudah hampir mati, tapi ia masih bersikap begitu kepadaku, aku jadi jengkel dan mendongkol Dalam sakitnya aku meronta untuk bangun, tubuhku sangat lemah hingga berdiri pun tak sanggup. Aku jatuh terjerembab di atas tanah ..."

"Kau tak boleh anggap kejadian dalam mimpi sebagai kejadian sungguhan," hibur Lim Han-kim.

"Walaupun aku sedang bermimpi tapi apa bedanya dengan kejadian nyata yang sedang kuhadapi sekarang?"

"Ehmm, betul juga ucapan ini," pikir Lim Han-kim. "Kejadian yang dialaminya sekarang memang tak berbeda jauh dengan mimpinya."

Kedengaran Pek si-hiang berkata lebih jauh: "Aku lihat kalian berdua amat gembira, wajah kalian berseri dan penuh senyuman, sedang aku tergeletak rapuh di atas tanah, Tak seorang tamu pun yang memandangku meski di situ banyak orang, bahkan siok-bwee serta Hiang- kiokpun tidak perdulikan aku lagi, mereka hanya sibuk meramaikan perkawinan kalian, Aaaai... hubungan cinta kasih antara majikan dan pembantu yang terbina sekian banyak tahun, ternyata harus berakhir dengan begitu saja."

"Kau jangan berpikir yang bukan-bukan," sela Lim

Han-kim dengan kening berkerut "siok-bwee serta Hiang- kiok amat menyayangimu, perhatian mereka terhadapmu luar biasa, mana mungkin akan menghianatimu?"

"Yaa, sekarang sih aku masih hidup. Coba bila aku sudah mati nanti, aku toh tak akan tahu bagaimana sikap kalian terhadapku" Bicara sampai di sini tiba-tiba wajahnya berubah serius, terusnya: "oleh sebab itu sekarang aku tak ingin mati, aku tak mau menyaksikan kau kawin dengan seebun Giok-hiong ..." "Kalau begitu kau mesti mempelajari ilmu silat dari sembilan iblis" pikir Lim Han-kim.

sementara itu Pek si-hiang telah berkata lagi sesudah menghela napas panjang: "seebun Giok-hiong liar dan susah dibujuk. lagipula ia pintar dan banyak akalnya, Apabila dia sampai tahu kalau aku tak pandai bersilat bisa jadi dia akan segera turun tangan membunuhku jikalau ia betul-betul sampai turun tangan, tenaga gabungan kau bersama siok-bwee dan Hiang-kiok masih tetap bukan tandingannya, kalian jangan harap bisa hidup tenang di dunia ini..."

"Apakah nona sudah menemukan cara untuk menaklukkan dia?"

"Asal aku masih hidup, jangan harap seebun Giok- hiong bisa bertindak apa-apa terhadap kalian"

"Kalau toh nona memiliki cara untuk menaklukkan iblis tersebut, kenapa kau tidak berusaha untuk membunuhnya dan melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan?"

Pek si-hiang segera tertawa, "Jika seseorang didesak hingga terpojok dan merasa jiwanya terancam, ia pasti akan nekat dan mempertaruhkan nyawanya untuk melawan, coba bayangkan sendiri, seandainya ia sampai nekat melancarkan serangan, bukankah semua rahasia kita bakal terbongkar?"

Lim Han-kim menghela napas panjang, "Aaaai... bagaimana punjuga aku tetap berpendapat bahwa cara ini terlalu berbahaya Kenapa kita tidak membuat persiapan sejak dini sehingga bilamana ia sampai nekat melancarkan serangan, kita pun bisa menghadapinya secara sempurna."

Dalam hati kecilnya ia sadar bahwa kondisi tubuh Pek si-hiang sangat lemah dan lagi penyakitan setiap saat jiwanya bisa melayang, Bilamana Pek si-hiang sampai mati, sudah bisa dipastikan seebun Giok-hiong akan menciptakan badai pembunuhan yang paling keji dalam dunia persilatan

Dengan watak seebun Giok-hiong yang begitu kejam dan dingin, ia tak akan membincangkan soal perasaan dengan siapa pun, begitu emosinya meluap. korban tentu akan berjatuhan

Selain daripada itu, pemuda ini pun menaruh rasa dendam terhadap seebun Giok-hiong dan berniat membinasakan gadis tersebut lantaran wajahnya dirusak. Ia berpendapat dengan tindakan itu bukan saja dendam kesumatnya bisa dibalas, bahkan ia dapat selamatkan begitu banyak jiwa umat persilatan dari bencana kematian ini berarti, biarpun jiwanya harus berkorban nama harumnya akan tetap dikenang orang sepanjang masa.

Lim Han-kim sangat sadar dengan kemampuan silat yang dimilikinya sekarang Meskipun ia berlatih sepuluh tahun lagi, ia masih belum mampu menandingi kepandaian silat seebun Giok-hiong. satu-satunya kesempatan baginya hanyalah memanfaatkan kemampuan Pek si-hiang untuk menyingkirkan gadis tersebut

Terdengar Pek Si-hiang berkata lembut: "Sekarang aku baru tahu, ternyata kau begitu benci dan dendam kepadanya, bahkan setiap detik berniat menghabisi nyawanya, Aaaai... seandainya seebun Giok-hiong tidak merusak wajahmu, begitu bencikah kau terhadapnya?"

Baru saja Lim Han-kim hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara ketukan lirih bergema dari dinding ruangan.

Meskipun suara itu tak terlampau keras tapi kedengaran amat jelas, lagipula ketukan itu mempunyai irama nada yang beraturan,

Dengan perasaan gugup bercampur tegang Lim Han- kim berpaling, dilihatnya Pek si-hiang sedang mendengarkan irama ketukan itu dengan seksama, wajahnya sedikit pun tidak menampilkan perasaan tegang, Lebih kurang seperminum teh kemudian baru suara ketukan itu berhenti bergema.

sambil menoleh Lim Han-kim sekejap. kata Pek si- hiang seraya tersenyum: "seebun Giok-hiong dengan membawa serombongan anak buahnya telah tiba di sini, perahunya sedang berkeliaran di seputar bukit".

"Dari mana nona bisa tahu?"

"Masa kau tidak mendengar suara ketukan pada dinding tadi?"

"Dengar"

"itulah sistim penyampaian berita yang kuciptakan, ruang bawah tanah ini khusus kubangun untuk mengubur jenasahku selain kau, tak pernah ada orang ketiga yang pernah sampai di sini, bahkan siok-bwee serta Hiang- kiok yang bersamaku sejak kecil pun belum pernah menginjakkan kakinya di sini, Ada kalanya aku membaca buku di sini sampai berapa hari lamanya tanpa melangkah keluar dari pintu, Mereka pun tak berani mencari aku ke dalam ruang ini, meskipun ada urusan harus disampaikan kepadaku, maka aku pun menciptakan sistim penyampaian berita seperti ini. Mula- mula kubuatkan sebuah alat rahasia dulu di luar lorong rahasia, Asal mereka mengetuk dinding bukit maka suara itu akan bergema sampai di sini dan aku yang berada di dalam pun dapat mengetahui apa yang telah terjadi."

"Rupanya begitu, tapi bagaimana cara nona untuk menjawab?"

"Tidak perlu dijawab, cukup asal mereka laporkan apa yang terjadi kepadaku. Bila kuanggap masalahnya penting dan serius, secara otomatis aku akan muncul sendiri untuk menyelesaikan masalah itu."

"Kini seebun Giok-hiong telah muncul dengan membawa kawanan jagonya, kau anggap persoalan ini serius atau tidak?"

"Bila perahunya langsung ditujukan kemari, tentu saja urusan jadi serius, tapi kalau cuma mondar-mandir tanpa membuat keputusan, kuanggap bukan suatu masalah besar."

"Aaaai... nona menderita penyakit aneh, sedang wajah ku pun telah dirusak orang, sehingga sejak saat ini tiada orang di dunia yang mengenali diriku lagi, Biar harus mati juga tak masalah, tapi siok-bwee dan Hiang- kiok masih muda, terlalu sayang kalau mesti mati muda."

Pek Si-hiang tertawa. "Nasib mereka sudah pernah kuhitung, Kedua orang itu punya nasib panjang umur, paling tidak mereka bisa hidup sampai tujuh-delapan puluh tahunan, kenapa sih kau menyumpahi mereka agar cepat mati?"

"Siasat benteng kosong yang pernah diterapkan Cukat Khong Beng untuk memukul mundur musuh hanya pernah digunakan orang pintar itu satu kali seumur hidupnya, sedang nona saban kali harus nyerempet bahaya untuk meloloskan diri dari cengkeraman seebun Giok-hiong. Aku rasa ini terlalu riskan, apalagi ia muncul dengan membawa kawanan jago lihaynya, bisa jadi ia sudah menaruh curiga kepadamu."

"Ehmmmm, tak nyana otakmu encer juga. Kalau begitu aku perlu mohon petunjukmu"

"Menurut pendapatku, lebih baik nona persiapkan suatu siasat untuk membunuhnya. Kalau bisa, membunuhnya dalam satu gebrakan atau paling tidak kita harus berhasil memunahkan seluruh ilmu silatnya"

"Keji amat hatimu" keluh Pek si-hiang sambil menghembuskan napas panjang, "Dari-pada memunahkan seluruh ilmu silatnya, lebih baik habisi saja nyawanya"

"Bila ia belum terbunuh, setiap saat setiap detik besar kemungkinan kitalah yang menjadi korbannya"

"Kau serius hendak membunuhnya?" tegas Pek si- hiang sambil membelalakkan matanya.

"Tentu saja serius"

"Kau tidak menyesal? satu orang hanya bisa mati sekali, begitu nyawanya melayang maka selamanya tak mungkin bisa dihidupkan kembali". "Membunuh seebun Giok-hiong berarti melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan ini tindakan seorang ksatria, tindakan yang sangat terpuji, kenapa mesti kusesalkan?"

"Bila kuberitahukan satu hal kepadamu, kau tentu tak berniat membunuhnya lagi."

"Jangankan satu hal, seratus seribu masalah pun aku tetap bertekad ingin membunuhnya"

Lama sekali Pek Si-hiang termenung, akhirnya sambil menghela napas panjang katanya: "Tampaknya lebih baik tidak kukatakan "

Waktu itu, seluruh pikiran dan perhatian Lim Han-kim hanya tercurahkan pada bagaimana cara membunuh seebun Giok-hiong, sedang masalah yang lain ia tak berminat memperhatikannya, karena itu ujamya: "Kini waktu sudah amat mendesak, lebih baik nona mencari akal dulu untuk menghadapi seebun Giok-hiong Masalah yang lain dibicarakan kemudian hari saja"

Pek si-hiang mengernyitkan alis matanya, tiba-tiba ia bergumam: "Daripada kau membenciku di kemudian hari, lebih baik kujelaskan saja sekarang"

"soal apa sih? Katakanlah" ujar Lim Han-kim kemudian setelah melihat keseriusan gadis itu.

"Sebetulnya seebun Giok-hiong belum merusak wajahmu."

Lim Han-kim meraba wajahnya yang penuh codet itu tanpa sadar, tapi kemudian ia tertawa terbahak-bahak.

"Apa yang kau tertawakan?" tegur Pek Si-hiang, "Aku melihat dengan mata kepala sendiri, mengalami dengan pikiran jernih lagipula bekas bacokan masih berbekas di wajahku sekarang, apakah semua bukti ini belum cukup?"

"Aaaai... aku bicara sejujurnya," kata Pek si-hiang sambil menghela napas, "sebetulnya ia cuma melumurkan bahan obat-obatan di atas wajahmu, kemudian menotok berapa buah jalan darahmu agar pikiranmu agak kabur. Dalam keadaan begini pikiran, perasaan dan tubuhmu akan terasa seolah-olah kulit badanmu sedang diiris."

"Apa betul?" Lim Han-kim mencoba meraba bekas bacokan yang menghiasi wajahnya, "Bila tak percaya, kau bisa membuktikannya sekarang"

"Bagaimana cara pembuktiannya? Aku sudah mencoba mencucinya berapa kali tapi bekas bacokan di wajahku tak pernah berubah."

"Kalau bisa dicuci dengan air, jangan lagi untuk menipu Li Tiong-hui, untuk membohongi dirimu pun tak mampu."

"Lalu bagaimana caranya untuk membuktikan?" "obat-obatan yang dilumurkan seebun Giok-hiong di

atas wajahmu itu diramu secara khusus, jadi untuk membersihkannya pun harus menggunakan cairan khusus hasil ramuannya juga."

"Waaah... kalau begitu percuma saja," pikir Lim Han- kim. "selama seebun Giok-hiong enggan menyerahkan cairan pencuci itu kepadaku, wajahku toh akan tetap jelek ..." Pada saat itu Pek si-hiang sudah bangkit berdiri, membenahi rambutnya yang kusut dan ujarnya lagi: "sekarang, apakah kau masih berniat membunuhnya?"

"Tentu saja"

"Nah nada suaramu sudah berubah, sudah tidak setegas tadi lagi..."

Mendadak suara ketukan pada dinding ruangan kembali bergema, kali ini ketukan itu berbunyi belasan kali kemudian berhenti "Apa lagi yang dia katakan?" buru-buru Lim Han- kim bertanya,

"seebun Giok-hiong telah menggerakkan perahunya meninggalkan pesanggrahan pengubur bunga."

"sekarang sudah jam berapa?"

"Mungkin sudah waktu lohor mendekati magrib, atau mungkin juga lebih malam lagi".

"Mari kita keluar" "Ke mana?"

"Keluar dari ruangan ini"

"Tidak, malam ini aku tak ingin meninggalkan tempat ini"

"Lalu bagaimana dengan aku?" "Kau temani aku di sini"

"Tapi di sini cuma ada sebuah pembaringan lagi pula lelaki dan perempuan bukan suami istri sah tak baik berada dalam satu kamar semalaman Aku takut ada orang akan berbicara yang bukan-bukan." "Seorang ksatria sejati tak akan takut dengan ruangan gelap. Bila kau anggap dirimu seorang ksatria, kenapa mesti takut berada seruangan dengan aku?"

Lim Han-kim mendeham berulang kali dan merasa tak mampu menjawab lagi, maka dia mundur ke sudut ruangan dan duduk bersila di situ.

sambil membetulkan seprei dan menarik selimut kembali Pek si-hiang berkata: "Lim Han-kim, aku mau tidur."

"Silakan beristirahat nona, biar aku duduk bersila semalaman di sini."

"Bila aku tidak meninggalkan ruangan ini, kaupun tak akan kubiarkan pergi dari sini, Masa dalam sepuluh hari sepuluh malam kau akan duduk terus di sudut ruangan?" goda si nona sambil tertawa.

"Kalau soal itu ... kalau soal itu ..."

Biarpun tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna, tapi kalau betul-betul mesti duduk bersila selama sepuluh hari sepuluh malam, ia sadar bahwa tak mungkin ia mampu berbuat begitu.

"Tidak usah ini itu lagi" potong Pek si-hiang cepat "Ranjang ini cukup lebar, rasanya masih muat untuk ditiduri kita berdua."

"Tapi antara laki dan perempuan ada batasnya, dalam satu ruangan saja sudah tak baik apalagi harus tidur seranjang..."

"Asal kita membuat batas pemisah dan masing-masing tidak melanggar batas pemisah tersebut, apa salahnya?" "Tentang soal ini . . . aku betul-betul tak berani..." Lim Han-kim bertambah gelisah.

setelah tersenyum Pek si-hiang berkata lagi: "Tentu saja bila kau menganggap imanmu kurang tebal, aku tak akan memaksakan kehendaki."

sambil berkata, dari bawah bantal ia keluarkan sebilah pedang dan meloloskannya, Di bawah cahaya lentera, terlihat kilatan sinar yang menyilaukan mata serta hawa dingin yang menggidikkan hati.

Pelan-pelan Pek si-hiang meletakkan pedang pendek itu persis di tengah-tengah ranjang, lalu katanya lagi sambil tertawa: "Pedang usus ikan ini tajamnya luar biasa dan merupakan pemberian ayahku untuk melindungi diri sayang sekali aku tak mampu menggunakan gedang yang luar biasa ini sebagaimana mestinya ..."

sesudah berhenti sejenak. kembali tambahnya: "Dengan melintangkan pedang di tengah ranjang berarti batas pemisah sudah amat jelas, Kalau sudah begini pun kau tak berani tidur bersamaku Hal ini menunjukkan kalau pikiranmu jahat, kau takut napsu birahimu timbul hingga melanggar batas pemisah dan terluka oleh ketajaman pedang usus ikan itu"

Lim Han-kim sebera tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha... kalau aku adalah orang yang suka

memperkosa wanita, jangankan cuma sebilah pedang, biar ditaruh tiga bilah pedang sekaligus pun tak nanti bisa menghalangi niatku." "Pedang ini berbeda dengan pedang biasa. selain tajamnya bukan kepalang juga memiliki sifat kepekaan yang tinggi, Dengan modal ilmu silatmu yang tak seberapa itu jangan harap bisa menangkis serangan pedang tersebut sebaliknya bila pikiran dan perasaanmu bersih, maka pedang ini akan menyatu dengan pikiran serta perasaanmu, dengan sendirinya ia pun tak akan melukaimu."

Biarpun di hati kecilnya Lim Han-kim kurang percaya, namun bila teringat bahwa Pek si-hiang berwawasan luas dan apa yang menjadi pemikirannya susah ditebak orang, mau tak mau pemuda tersebut harus menerima juga perkataan itu tanpa membantah, untuk sesaat dia pun terbungkam dalam seribu basa, pelan-pelan Pek si- hiang melepaskan baju luarnya, menyusup masuk ke balik selimut dan berkata lebih jauh: "Kau berani tidak tidur bersamaku?"

"Aku tak punya pikiran jahat apalagi sesat, kenapa tak berani tidur seranjang dengannya?" pikir Lim Han-kim dalam hati.

Berpikir begitu, ia segera menyahut: "Kenapa tak berani?" ia bangkit berdiri, berjalan menghampiri pembaringan dan segera menjatuhkan diri ke atas ranjang.

"Huuuh, nyalimu tak cukup besar" goda Pek si-hiang tertawa, "Buktinya pakaian luar pun tak berani dilepas."

Mendengar itu kembali Lim Han-kim berpikir: "Betapa pun suci dan bersihnya pikiran kita, namun kenyataannya sekarang seorang pria muda berada dalam satu ranjang dengan gadis muda. kejadian seperti ini pasti akan menjadi berita sensasi yang luar biasa, Heran, Pek si- hiang bukan wanita jalang, tapi kenapa berulang kali ia memanasi hatiku dengan ucapan-ucapannya yang berani? Aaaaai, tindak-tanduk perempuan ini memang serba misterius, susah diikuti dengan nalar sehat, atau mungkin ia punya maksud lain ...?"

sementara dia masih termenung, Pek si-hiang telah berkata lagi sambil tertawa: "Asal kau menganggap aku sebagai seorang bidadari yang suci bersih, atau menganggapku sebagai siluman wanita dan setan iblis berhati ular, maka kau tak akan punya pikiran sesat terhadapku."

sambil melompat bangun Lim Han- kim berseru: "Biarpun nona adalah gadis cantik yang menawan hati, tapi aku yakin imanku masih cukup tebal untuk tidak tergoda oleh pikiran sesat"

Dengan cepat dia lepaskan pakaian luarnya kemudian membaringkan diri lagi.

XXX