Pedang Keadilan II Bab 08 : Menyambangi Gadis pujaan

 
Bab 08. Menyambangi Gadis pujaan

"Jadi tempat ini adalah kamar tidur cici?" seru Lim Han-kim terperanjat.

"Betul, kecuali kau, belum pernah ada lelaki lain yang memasuki kamar tidur cici."

" Kalau begitu mana boleh aku berbaring dalam kamar tidurnya cici..." seru Lim Han-kim sambil meronta bangun dan berusaha turun dari pembaringan.

Dengan cepat Im-yang Losat menekan dada pemuda itu, tidak membiarkannya bangun, kemudian sambil tertawa katanya: "sekarang kau sedang mengidap penyakit parah, tidak boleh sembarangan bergerak, lebih baik tidur saja di tempatku."

Lim Han-kim merasa daya tekanan itu berat sekali, membuatnya tak mampu bergerak, Terpaksa ia berbaring lagi seraya sahutnya: "Kalau begitu terpaksa aku turut perintah"

Sementara dalam hati kecilnya ia berpikir "Menurut Pek si-hiang, dia sudah datang ke tempat pertemuan jauh sebelum kedatanganku tapi sekarang dia mengaku baru datang selewatnya kentongan kedua. Jika dipertimbangkan kembali jawaban kedua orang ini, rasa- rasanya perkataan Pek si-hiang jauh lebih bisa dipercaya

..."

Sementara itu Im-yang Losat telah meletakkan baki porselen itu di sisi pembaringan. Di atas baki terlihat sebuah mangkuk porselen yang penuh berisikan cairan berwarna hijau tua. ia tak tahu cairan tersebut arak atau air teh.

Seraya mengangkat mangkuk porselen itu, Im-yang Losat segera berseru sambil tertawa: "Adikku, minumlah kaldu pemunah racun ini, Bukan cuma bisa sembuhkan segala pengaruh racun, juga menambah kuat kondisi badanmu."

Dengan tangan kirinya dia merangkul tubuh Lim Han- kim, mangkuk di tangan kanannya segera diantar ke mulut pemuda itu.

Dalam hati kecilnya Lim Han-kim berpikir "Tidak kuketahui apa isi cairan itu, tapi kalau dilihat keadaanku sekarang, nampaknya cairan itu harus kuhabiskan..."

Melihat tiada pilihan lain, dengan paksakan diri ia teguk habis isi mangkuk tcrsebut suatu cairan yang dingin menyegarkan badan segera mengalir masuk ke dalam perutnya dan mendinginkan Tan-tian.

"Sekarang beristirahatlah baik-baik di sini," kata Im- yang Losat kemudian sambil tersenyum "setelah obat itu bekerja dan memunahkan racun dalam tubuhmu, besok kita baru melakukan perjalanan. "

"Terima kasih banyak atas perhatian cici," - ucap Lim Han-kim serta tertawa kendatipun di hati kecilnya ia murung dan kesal "Kau adalah satu-satunya sanakku yang terdekat, kenapa harus bersikap begitu sungkan?"

Satu ingatan segera melintas dalam benak Lim Han- kim, tiba-tiba ia bertanya: "Tahukah cici penyakit apa yang sebenarnya kuderita?"

"Entahlah, aku sendiri kurang jelas, tapi dapat kurasakan badanmu panas sekali. Kalau dilihat dari gejalanya, bila racun itu mulai bekerja, kau tentu merasa kepanasan."

"Betul juga dugaannya ..." batin Lim Han-kim, Maka setelah menghela napas panjang katanya: "Kalau begitu obat yang kau berikan kepadaku tadi adalah obat yang khusus menghilangkan racun panas?"

"Bukan cuma racun panas, bahkan semua jenis racun yang ada di dunia ini dan betapa beratnya sakit yang kau derita sekarang, aku yakin dengan cepat racun itu akan punah dan penyakitmu akan hilang."

"Masa sehebat itu?"

"Buat apa cici membohongimu?" Im-yang Losat tertawa, "Aaaai ... meskipun tampang mukaku sangat jelek. tapi selama hidup belum pernah aku melayani laki- laki, apa lagi menyeduh obat sendiri di dapur dan menyuap langsung ke muIutnya, Kau adalah lelaki pertama yang pernah kulayani selama hidupku hingga kini".

"Apakah hal ini dikarenakan wajahku juga amat jelek?" tanya pemuda itu tertawa.

"Entahlah, tapi aku percaya masalah itu termasuk salah satu alasan yang paling penting." Lim Han-kim tertawa hambar "seandainya bukan aku yang sakit, atau seandainya wajahmu jauh lebih cantik dari sekarang, agaknya tak mungkin bagi kita untuk saling bertemu dan berkumpul."

"Kau tak usah banyak pikir lagi, baik-baiklah beristirahat," potong Im-yang Losat sambil tersenyum, "Mungkin suatu ketika kita dapat menemukan sejenis obat mustajab yang dapat mengubah wajah kita menjadi seseorang yang lain, kau berubah jadi tampan dan aku berubah jadi cantik."

"Benarkah ada hari seperti itu? Kalau benar demikian, mungkin kita..." mendadak pemuda itu berhenti bicara.

"Mungkin kenapa?"

Selama pembicaraan berlangsung, secara diam-diam Lim Han-kim perhatikan terus perubahan paras muka dan mimik wajah gadis itu. ia berharap bisa mengambil kesimpulan secara tepat, apakah gadis itu mengenakan topeng kulit manusia atau tidak.

Tapi sayang wajah Im-yang Losat yang setengah merah setengah pucat itu telah menutup hampir semua perubahan mimik mukanya, sukar baginya untuk memastikan apakah gadis itu mengenakan topeng kulit manusia atau tidak.

Akhirnya sambil menghela napas panjang Lim Han-kim berkata: "seandainya benar-benar ada hari seperti itu, di mana kita temukan obat mujarab yang mengubah wajah kita menjadi wajah-wajah lain, apa bedanya kita saat itu dengan kebanyakan umat manusia lainnya? Berhadapan dengan begitu banyak lelaki ganteng dan gadis cantik, siapa yang dapat menjamin bahwa perasaan kita tak akan berubah?"

"oooh, kau takut aku yang berubah pikiran atau kau sendiri yang berubah pikiran?" kata Im-yang Losat sambil tertawa hambar

"Aku"

Tampaknya Im-yang Losat merasa dadanya secara tiba-tiba dihantam dengan martil berat sekujur tubuhnya bergetar keras, sedemikian hebat gejolak perasaannya sampai mangkuk porselen yang dipegangnya jatuh berantakan di atas lantai.

Dengan sorot mata yang berkilat ia segera menatap wajah Lim Han-kim lekat-lekat, kemudian serunya: "Kau begitu yakin dengan dirimu, kenapa tidak kau katakan bahwa aku yang akan berubah pikiran?"

"Jika kau yang berubah pikiran dan membiarkan aku yang menderita karena perasaan rindu, itu masih mendingan sebaiknya jika aku yang berubah pikiran dan membiarkan cici menderita, bukankah aku telah menyia- nyiakan kasih sayang cici selama ini kepadaku?"

Suatu pancaran sinar aneh menyorot keluar dari balik mata Im-yang Losat, ucapnya sedih: "Kita belum lama berkenalan, berkumpulpun belum genap dua hari, buat apa kau memikirkan begitu banyak persoalan?"

Lim Han-kim tertegun sesaat, kemudian buru-buru katanya: "Aaaah, anggap saja aku salah bicara, harap cici sudi memaafkan." ia segera membalikkan badan, pejamkan mata dan pura-pura tidur Im-yang Losat menghela napas panjang, katanya: "Adikku, kau jangan salah mengartikan maksudku ..."

Mendadak ia berhenti bicara, tundukkan kepala dan pelan-pelan beranjak keluar dari ruangan itu, Menyusul kepergian gadis itu, Lim Han-kim turut membalikkan badannya dan mengawasi gerak-geriknya dengan seksama.

Tampak sebuah bayangan punggung yang sangat indah dengan membiaskan perasaan murung dan masgul yang mendalam lambat laun lenyap di balik pintu sana.

Lim Han-kim segera melompat bangun dan mencoba mengatur pernapasan ia dapatkan kesadaran bahwa hawa murninya telah mengalir lancar. sisa racun panas dalam isi perutnya juga lenyap tak berbekas, kenyataan ini membuatnya berpikir dengan keheranan

"Entah siapa yang lebih dulu menyembuhkan racun panas dari isi perutku, Kelihatannya gertak sambal Cau- hua lojin hanya kosong belaka, Tapi gerak-gerik perempuan jelek ini amat misterius dan sangat mencurigakan, aku harus berusaha untuk menyelidiki asal-usulnya ..."

Berpikir sampai di situ ia baringkan kembali tubuhnya sambil berpikir lebih jauh: "Dia tahu aku sedang sakit, kenapa aku tidak pura-pura sakit dan melihat apa yang hendak ia lakukan terhadapku?"

Lim Han-kim segera memejamkan mata dan pura-pura tidur, siapa sangka begitu matanya terpejam, ia jadi tertidur sungguhan Ketika bangun kembali, cahaya lilin telah menerangi seluruh kamar, ia berpaling, tampak olehnya di bawah cahaya lilin, im-yang Losat sedang duduk bertopang dagu sambil melamun

Sambil mendeham Lim Han-kim segera menegur: "Tampaknya hari sudah gelap?"

Mula-mula Im-yang Losat agak tertegun, menyusul kemudian serunya seraya tertawa: "Kentongan pertama baru saja lewat, kau sudah lama bangun?"

"ooh tidak, baru saja"

Im-yang Losat bangkit berdiri, diambilnya sebuah cawan dari meja lalu sambil mendekat katanya: "Minumlah dulu kuah teratai ini sebagai penyegar badan."

Lim Han-kim menerima cawan itu dan meneguknya satu tegukan, tapi keningnya segera berkerut ia melihat bahwa teratai dalam cawan itu setengah matang dan setengah lagi masih mentah.

Sambil tertawa tersipu-sipu im-yang Losat berseru: "Maafkan aku, belum pernah aku masak hidangan sendiri Kalau masakanku setengah mentah, harap kau jangan marah ..."

"Ooh tidak, bagus sekali, enak sekali masakanmu" Dengan cepat pemuda itu menghabiskan sisa teratai dari dalam cawan-

"Tadi aku menanak sepanci nasi, cuma bagian bawahnya gosong sedang bagian atasnya belum matang, rasanya susah untuk dimakan"

"Aaah, kebetulan aku sedang lapar sekarang cepat bawa kemari biar kusantap" Im-yang Losat agak ragu, tapi akhirnya sambil mengambil nasi itu katanya lagi: "Kalau tak bisa dimakan, kau jangan marah kepadaku lho..."

Waktu itu Lim Han-kim sudah turun dari pembaringan tanpa banyak bicara ia sikat nasi yang dihidangkan itu dengan lahap. santapan yang dimakannya kali ini boleh dibilang merupakan hidangan paling buruk yang pernah dirasakannya. Bukan cuma nasinya yang setengah gosong setengah mentah, gorengan ayam pun setengah masak setengah mentah, Tapi pada dasarnya ia sedang lapar sekali, nyatanya semua hidangan yang tersedia disikatnya sampai habis.

Setelah perutnya terasa kenyang ia baru memuji sambil tertawa: "Ehmmm, sungguh lezat hidangan yang kau sediakan"

"Aku tahu kau bohong. Kau tidak jujur. sengaja memuji agar hatiku senang, betul bukan?" seru Im-yang Losat tertawa.

"Sekalipun aku sengaja membuat gembira, kalau tidak enak, aku toh tak bisa menghabiskan semua hidanganmu dengan lahap?"

Sambil tertawa Im-yang Losat bangkit ber-diri, membereskan semua mangkuk dan sumpit, kemudian beranjak pergi.

Lim Han-kim ikut bangkit berdiri, menggerakkan lengannya untuk melemaskan otot-otot badan lalu pikirnya: "Kalau aku disuruh hidup dalam suasana begini tenang dan penuh kedamaian, biar puluhan tahunpun akan kulewati dengan senang hati" Dalam saat itu Im-yang Losat telah muncul kembali sambil membawa secawan air teh, serunya: "Ayohlah minum secawan teh"

Pelan-pelan ia letakkan cawan teh itu ke atas meja. Gerak-geriknya sangat lembut dan halus, penuh sikap hati-hati, seakan-akan kuatir kalau sampai gerakannya yang kasar mengejutkan Lim Han-kim.

Setelah menghirup seteguk air teh, pemuda itu merasa bau harum dan segar yang luar biasa, dalam hati segera pikirnya: "Entah darimana ia peroleh daun teh ini, harum betul."

"Bagaimana?" terdengar im-yang Losat bertanya sambil tertawa, "Enak air tehnya?"

"Yaa, enak sekali, selama hidup belum pernah aku mencicipi air teh seenak ini."

"Air teh ini diseduh dengan daun teh harum yang dihasilkan dari puncak bukit Thian-san di wilayah Tibet sana, tentu saja tak gampang kau cicipi air teh semacam ini."

"Daun teh harum dari puncak bukit Thian-san? Waaah

... itu barang langka yang mahal harganya Dari mana kau memperolehnya?"

Im-yang Losat segera tertawa, "Aku punya persediaan yang cukup banyak. Asal kita dapat hidup bersatu terus hingga hari tua nanti, kau pasti dapat menikmatinya setiap hari."

"Besar amat nada bicara gadis ini," pikir Lim Han-kim. "Kalau selama hidup aku bisa menikmati air teh tersebut, berarti dia harus punya simpa nan ratusan kati daun teh kering. Rasa-rasanya sih tak mungkin hal ini terjadi"

Meski ia tak percaya namun pikiran itu tak diungkap keluar, pemuda itu hanya tersenyum dan membungkam diri

"Apa yang kau tertawa kan? Tidak percaya?" tegur im- yang Losat.

"Kalau harus menjawab sejujurnya, yaa ku katakan tidak percaya"

"Hmmm Jadi kau kira dalam secawan air teh tersebut, semuanya diseduh dengan daun teh harum? Bila apa yang kau duga benar, maka teh itu tak bisa dibilang teh yang mahal harganya, Kau harus tahu, bila dalam satu cawan diberi selembar daun teh, maka selama tiga bulan bau harum yang ikut kau minum bersama teh itu akan tetap menyusup dalam tubuhmu dan memancarkan bau harum di mana pun kau berada."

Setelah berhenti sejenak. terusnya sambil tertawa: "sayang sekali wajahmu kelewat jelek dan tak sedap dipandang coba kau miliki wajah yang ganteng, lalu dari badanmu memancar keluar bau harum yang semerbak, entah berapa banyak wanita cantik di dunia ini yang akan jatuh hati dan menjadi korbanmu."

"lni yang disebut rejeki susah dicari, tapi kalau sudah datang sukar ditolak, Coba kalau seebun Giok-hiong tidak merusak wajahku, mungkin aku pun tak akan berjumpa dengan cici"

"Seebun Giok-hiong memang kelewat jahat, kenapa ia merusak wajahmu sampai sejelek ini? Hmmm, jangan kuatir, kau bisa belajar silat bersama cici, bila sudah berhasil nanti, kau bisa pergi mencarinya, membunuhnya untuk membalas dendam."

Lim Han-kim tertawa. "Waktu awalnya aku memangamat dendam dan benci kepadanya, rasa benciku serasa sudah merasuk ke tulang sumsum, Tapi setelah dipikirkan kembali sekarang, semua rasa benci dan dendamku malah sudah lenyap tak berbekas."

"Kenapa?"

"Seandainya dia tidak merusak wajahku, bagaimana mungkin aku bisa merasakan kehidupan yang begini tenang, begini menggembirakan seperti apa yang kualami sekarang?"

"Jadi sekarang kau merasaamat gembira?"

"Aku dilahirkan dalam suasana yang amat susah, sepanjang tahun dirundung kemurungan dan kemasgulan semenjak aku mengerti urusan, belum pernah sedetikpun kurasakan kehidupan yang begini tenang, begini damai dan menggembirakan seperti sekarang ..."

Mendadak Im- yang Losat bangkit berdiri dan menukas sambil tertawa: "Aku harus keluar sebentar Besok. sebelum fajar menyingsing, aku akan datang menjemputmu untuk melakukan perjalanan-"

Sebetulnya Lim Han-kim ingin bertanya kepadanya di tengah malam buta begini hendak ke mana, tapi kata- kata yang sudah sampai di tepi bibir segera ditelan kembali. "Silakan cici" ucapnya kemudian sambil tertawa hambar.

Im-yang Losat menghela napas panjang, ia segera bangkit berdiri dan beranjak pergi

Lim Han-kim menunggu lagi beberapa saat lamanya, sampai ia yakin Im-yang Losat benar-benar telah pergi jauh, Dipadamkannya lilin di meja dan membaringkan diri di atas pembaringan ia merasa banyak kejadian aneh telah dialaminya selama ini, banyak hal yang mencurigakan juga menyelimuti benaknya, tapi ia merasa bingung, tak tahu bagaimana harus memecahkannya ...

Lim Han-kim bolak- balik mencoba untuk tidur tapi tak berhasil, akhirnya sambil duduk kembali di tepi meja, piklrnya: "Kira-kira siapa gerangan Im-yang Losat ini?

Tampaknya ia sibuk sekali. Jika dia betul-betul tak pernah berhubungan dengan orang lain, jika la benar- benar sebatang kara dan dikucilkan dari masyarakat kenapa ia kelihatan begitu sibuk?

Kelihatannya dugaan Pek Si-hiang sangat tepat, ia pasti sudah mengenakan topeng kulit manusia untuk menutupi wajah aslinya dan sengaja datang permainkan aku ..."

Membayangkan soal Pek Si-hiang, mendadak satu ingatan melintas di dalam benaknya. Sebelum ia tertidur, lamat-lamat ia mendengar pesan dari Pek Si-hiang menjelang pergi meninggalkannya .

Gadis itu berpesan agar dia datang mencarinya di pesanggrahan pengubur bunga di telaga Tay-oh... selanjutnya apa pula yang diucapkan gadis itu? Lim Han- kim mencoba untuk mengingatnya kembali, tapi sayang gagal...

"Pesanggrahan pengubur bunga...?" gumamnya kemudian "Kenapa ia tinggal di pesanggrahan dengan yang tak sedap didengar? Apa arti semua ini...?"

Buruknya kesehatan Pek Si-hiang dan lemahnya tubuh gadis ini persis ibarat sekuntum bunga yang sedang layu dan mendekati saat rontok. Kini ia berdiam di pesanggrahan pengubur bunga, bukankah hal ini mengartikan bahwa di situlah dia akan mengubur jasadnya? 

Suatu dorongan emosi yang meluap muncul dari hati kecil Lim Han-kim, ia segera berpikir "Aku harus pergi menjumpainya, Kalau datang terlambat, mungkin aku akan menyesal sepanjang zaman ..."

Begitu keputusan diambil, ia segera melompat bangun Dengan mengerahkan tenaga dalamnya ke ujung jari, ia mengukir kata-kata "Aku pergi" ke atas meja ditepi pembaringan ia tak tahu apakah kekuatan jari tangannya mampu mengukir tulisan tersebut pada permukaan meja, tapi paling tidak hal ini menunjukkan niatnya untuk berpamitan.

Dalam waktu sekejap kedudukan Im-yang Losat dalam hatinya telah merosot tajam.

Sebagai gantinya bayangan tubuh Peksi-hiang yang lemah telah menguasai seluruh benaknya, setelah menutup kembali pintu rumah, pemuda ini mendongakkan kepala memanda bintang yang bertaburan di langit, kemudian setelah menentukan arah pelan-pelan ia berjalan meninggalkan pagar pekarangan. Ternyata sepanjang perjalanan ia tidak menjumpai ada orang lain yang menghalangi kepergiannya, setelah berjalan sejauh dua li lebih, baru Lim Han-kim mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan langsung berangkat ketelaga Tay-oh.

Lim Han-kim sadar wajah yang dimilikinya sekarang amat jelek dan tak enak dipandang itu berarti bila ia melewati kota besar, kehadirannya tentu akan menarik perhatian orang banyak. Untuk menghindari segala kerepotan sepanjang jalan, ia sengaja memilih jalan setapak yang sepi dan selalu berjalan di tengah maIam.

Hari ini, tatkala fajar baru saja menyingsing, sampailah pemuda itu di tepi telaga Tay-oh, Memandang telaga luas yang terbentang di depan mata, diam-diam ia berpikir "Luas telaga Tay-oh mencapai tiga puluh ribu enam ratus li persegi, ke mana aku harus mencari letak pesanggrahan pengubur bunga itu?"

Dalam keadaan seperti ini mau tak mau ia harus bertanya pada orang lain, Tapi mengingat wajah sendiri yang begitu jelek. untuk menjaga agar orang lain tak ketakutan, terpaksa ia gunakan selembar kain untuk membungkus wajahnya, setelah itu baru berjalan menuju ke dermaga di mana banyak perahu nelayan berlabuh.

Waktu itu pagi baru menjelang, suasana di dermaga sangat ramai, Kebanyakan adalah para nelayan yang membawa hasil tangkapan-nya menuju kepasar untuk dijual

Dengan wajah terbungkus kain Li Han-kim berdiri menunggu di tepi jalan, Tatkala seorang nelayan tua kebetulan lewat di hadapannya, ia segera memberi hormat seraya menyapa: "Kakek. boleh numpang tanya, adakah tempat yang disebut pesanggrahan pengubur bunga di sekitar telaga Tay-oh ini?"

Sambil menurunkan pikulannya, nelayan tua itu mengamati Lim Han-kim sekejap. lalu sambil gelengkan kepalanya berulang kali katanya: "pesanggrahan pengubur bunga? sudah hampir tiga puluh tahun aku hidup menangkap ikan di telaga Tay-oh, tapi rasa- rasanya belum pernah mendengar ada tempat seperti itu"

Lim Han-kim tertegun, buru-buru ia memberi hormat lagi sambil serunya: " Kalau begitu, maafkan aku ..."

Tanpa arah tujuan yang pasti pemuda itu meneruskan kembali perjalanannya menelusuri tepi telaga.

Memandang riak ombak telaga yang saling mengejar Lim Han-kim berdiri termangu-mangu, pikirnya: "Di mana letak sebenarnya pesanggrahan pengubur bunga itu?

Aaaai... telaga Tay-oh begini luas dan lebar, ke mana aku harus mencari untuk menemukan tempat tersebut...?"

Mata hari makin tinggi tergantung di awang-awang, cahaya keemasan yang memancar di permukaan air, membiaskan cahaya bianglala yang menyilaukan mata.

Entah sudah berapa lama Lim Han-kim berdiri termangu di tepi telaga sambil melamun... Mendadak sebuah sampan kecil melucur membelah ombak menuju ke tepian, Kehadiran sampan itu seketika menyadarkan kembali Lim Han-kim dari lamunannya, Begitu ia mendongakkan kepalanya, pemuda itu segera menjerit kegirangan Ternyata dari atas sampan kecil itu melompat naik seorang gadis berbaju serba hijau, Gadis itu tak lain adalah siok-bwee, salah seorang dayang Pek si-hiang yang dikenalnya, Buru-buru ia maju menyongsong kedatangan gadis itu sambil menyapa: "Nona siok-bwee"

Dalam terkejut bercampur girangnya ia sudah lupa kalau wajahnya telah rusak dan berubah jadi jelek. setelah berteriak memanggil, ia baru sadar akan hal ini.

Pelan-pelan siok-bwee berpaling, setelah memandang Lim Han-kim sekejap. sahutnya seraya tertawa: "Kau adalah Lim siangkong?"

"Betul, darimana nona bisa ..."

"Cepat naik ke sampan" tukas siok-bwee cepat, "Kalau ada persoalan, kita bicarakan lagi di atas perahu."

Tanpa membuang waktu lagi ia melompat balik ke atas sampannya, Lim Han-kim pun tak mau membuang waktu lagi, ia turut melompat naik ke atas sampan.

Siok-bwee segera mendayung perahunya membelah ombak meluncur ke tengah telaga, setelah sampan berada ratusan kaki dari tepi daratan, siok-bwee baru berpaling seraya ujarnya: "Nona telah berpesan kepadaku serta Hiang- kiok agar masing-masing dengan menumpang sebuah sampan, tiap hari meronda di seputar telaga untuk menunggu kedatangan siangkong."

"Dari mana ia bisa tahu kalau secepat ini aku bakal datang kemari?"

"Tentang hal itu aku kurang jelas." siok-bwee menggeleng, "Tapi aku yakin semua persoalan yang dipesan nona tak pernah meleset." "Kecerdasan nonamu memang luar biasa hebatnya, rasanya setiap perkataan dan keputusan yang dibuatnya tak bisa dibayangkan sebelumnya oleh manusia macam kita- kita ini."

Tiba-tiba siok-bwee menghela napas sedih, matanya jadi merah dan dua baris air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya, ia berkata: "Selama beberapa hari terakhir ini penyakit yang diderita nona semakin bertambah parah, Untuk makan tiap haripun sukar untuk ditelan, badannya makin lama makin kurus, setiap hari dia hanya merindukan Lim siang-kong seorang, karena itu aku dan Hiang- kiok setiap malam selalu bersembahyang berharap kau bisa datang ke sini secepatnya".

"Thian maha pengasih, untung apa yang kalian harapkan bisa segera terkabul" Lim Han-kim menengadah sambil menghembuskan napas panjang.

"Menurutpengamatan budak serta adik Hiang-kiok, tampaknya nona mengerti sekali mengenai kondisi penyakit yang dideritanya. Mungkin juga ia sudah tahu bagaimana cara penyembuhan sakitnya itu, tapi ia selalu menolak untuk berusaha menyembuhkan diri sendiri Lim siangkong, bila kau bertemu dengan nona nanti, tolong bujuklah dia agar mau menyembuhkan penyakit yang diderita-nya."

Waktu itu perahu sudah berada ditengah telaga yang sepi, tiba-tiba siok-bwee berpaling dan memandang Lim Han-kim sekejap. lalu tegurnya lagi: "Lim siangkong, kenapa kau bungkus wajahmu dengan sapu tangan?" "Aku... aku rada kurang enak badan ," sahut Lim Han- kim setelah ragu sesaat.

"Nonaku memang betul-betuI bisa meramalkan kejadian yang akan datang, sebelum berangkat ia telah berpesan kepada kami berdua bahwa kemungkinan besar Lim siangkong muncul dengan wajah dibungkus sapu tangan. oleh sebab itulah ketika budak berjumpa dengan siangkong tadi, tanpa banyak bertanyapun budak sudah yakin bahwa kau pastilah Lim siangkong."

Mendengar penjelasan itu Lim Han-kim kembali berpikir "Kalau di siang hari belong aku tidak membungkus wajahku yang jelek dan menyeramkan ini dengan kain, apakah orang tak akan heboh karena melihat kehadiranku? Padahal nona Pek sudah tahu kalau wajahku telah dirusak orang, rasanya juga tak heran kalau ia bisa menduga bahwa aku akan membungkus wajahku dengan kain. Meski begitu, nona Pek terhitung luar biasa juga, karena nyatanya dia bisa meramalkan kedatanganku yang tak terduga ini."

Berpikir demikian, ia pun berkata: "Aku memang selalu merasa salut dan kagum atas kehebatan nona Pek dalam meramalkan pelbagai masalah."

Siok-bwee tersenyum dan tidak bicara lagi. Dengan sepenuh tenaga ia mengayuh dayung membawa sampan itu melesat makin cepat menembusi gulungan ombak.

Lim Han-kim mencoba mengalihkan perhatiannya memandang sekeliling tempat itu, tapi sejauh mata memandang, hanya air telaga melulu yang terlihat, akhirnya tak tahan lagi ia bertanya: "Masih jauhkah tempat tinggal nona Pek yang dinamakan pesanggrahan pengubur bunga itu?"

"Letaknya di atas bukit Tong-ting-san persis sebelah barat telaga Tay-oh ini. Paling cepat kita butuh waktu setengah jam lagi untuk mencapai tempat tersebut."

"Perlu kubantu mendayung sampan ini?" "Tidak usah"

Bagaikan terbang, sampan kecil itu melesat dipermukaan air dan meluncur ke depan. Memandang gelombang air yang menggu1ung-gulung, tiba-tiba satu ingatan yang menyeramkan dan menggidikkan hati muncul dalam benak Lim Han-kim. Tanpa terasa ia bersin berulang kali dan tubuhnya mulai gemetar keras, sebetulnya, sejak dia menelan obat racun milik Cau-hua Lojin lalu sempat terjun ke dalam kolam air untuk minum sepuas-puasnya, pemuda itu sudah tak seberapa takut lagi dengan air.

Siapa tahu kini, tiba-tiba saja rasa takut terhadap air yang diidapnya kambuh kembali, Entah kenapa ia merasa begitu ngeri dan seram menghadapi air yang begitu banyak.

Makin lama rasa seram yang mencekam perasaannya semakin menjadi-jadi. Akhirnya Lim Han-kim tak dapat menguasai diri lagi, ia sembunyikan diri di dalam ruang perahu, pejamkan mata rapat-rapat dan tak berani menengok lagi kearah permukaan air telaga.

Entah berapa lama sudah lewat... Tiba-tiba ia mendengar suara siok-bwee berteriak dari luar ruangan sampan itu: "Lim siangkong, kita sudah tiba di bukit Tong-ting-san sebelah barat, mari naik ke daratan"

Pelan-pelan Lim Han-kim menengok keluar ruangan, Benar juga, sampan itu sudah berlabuh di bawah sebuah dinding karang yang besar. siok-bwee melompat naik lebih dulu ke daratan, setelah itu baru ia menggapai tamu-nya.

Dengan hati berdebar keras karena ngeri melihat gelombang air yang naik turun- Lim Han-kim mengincar tempat di mana siok-bwee berdiri, lalu sekali lompat ia meluncur ke daratan,

Melihat Lim Han-kim sudah melompat naik, siok-bwee segera melompat lagi ke atas batu karang yang lain, sambil melompat katanya: "Lim siangkong, setelah melewati anak tangga yang terbuat dari batu karang ini kita akan sampai di pesanggrahan pengubur bunga, tempat tinggal nona kami"

Dengan cekatan Lim Han-kim menutulkan ujung kakinya pa da batu karang tersebut, untuk kemudian meluncur ke atas batu karang yang lain, sementara itu siok-bwee sudah menelusuri anak tangga di belakang batu menuju ke belakang bukit, maka pemuda itu cepat- cepat menyusul di belakangnya.

Ternyata di belakang batu karang besar itu terdapat sederet anak tangga beralas batu yang dibuat manusia, setibanya pada anak tangga terakhir, pemandangan yang terbentang di depan mata pun berubah.

Dikelilingi batu karang yang curam dan terjal terbentang sebuah tanah datar seluas berapa hektar yang penuh ditumbuhi aneka pohon dan bunga, Persis di depan sana berdiri sebuah pintu pagar yang terbuat dari ranting pohon dengan sebuah papan nama tergantung di tengahnya, papan nama itu bertuliskan "Pesanggrahan pengubur bunga."

Dengan suara setengah berbisik, siok-bwee berkata: "Aku tidak tahu nona sedang tertidur atau tidak. lebih baik kita peringan langkah kaki supaya tidak mengganggu kenyenyakan tidurnya."

Lim Han-kim manggut-manggut, "Silakan nona beejalan dulu"

Setelah melalui sebuah taman bunga yang luas dan indah, sampailah mereka di depan sebuah bangunan loteng yang kecil tapi indah, Sambil membuka pintu ruangan kembali Siok-bwee berbisik: "Siangkong, silakan menunggu sebentar di luar, biar kutengok apakah nona masih tidur atau tidak."

"Silakan nona."

Dengan langkah yang pelan dan berhati-hati Siok- bwee masuk ke dalam ruangan utama, Tak lama kemudian ia sudah muncul kembali sambil katanya: "Nona sedang menunggu siangkong di atas loteng."

Sambil berkata ia berjalan lebih dulu naik ke atas anak tangga,

Tempat itu merupakan sebuah ruang tamu yang kecil tapi indah, ruang tamu itu mencakup setengah dari bangunan loteng ini, Agaknya di dinding ruangan tergantung dua buah lukisan, tapi sekarang lukisan- lukisan itu tertutup oleh kain berwarna putih. Lim Han-kim berpaling memandang ruang tamu itu sekejap, lalu pikirnya: "Meskipun susunan ruangan ini indah dan bersih, tapi rasa-rasanya seperti membawa suasana sedih yang mendalam..."

Waktu itu Siok-bwee sudah menuding kearah ruang sebelah kiri yang tertutup oleh tirai sambil berbisik: "ltulah ruang tidur nona, masuklah sendiri"

"Tapi... mana boleh aku masuk sembarangan ke dalam kamar tidur nona...? Rasanya..."

"Sekarang nona sedang sakit dan tak punya tenaga, masa kau hendak memaksanya untuk keluar sendiri menyambut kedatanganmu?"

Dalam saat itu dari balik kamar sudah bergema keluar suara teguran yang amat lembut: "Apakah Lim siangkong sudah datang?"

Siok-bwee segera mendorong tubuh pemuda itu sambil berbisik: "Cepat masuk, nona sudah memanggilmu"

Lim Han-kim menyahut, ia menyingkap tirai dan berjalan masuk, Tampak olehnya Pek si-hiang dengan mengenakan pakaian dalam berwarna putih sedang berbaring di atas pembaringan Begitu melihat Lim Han- kim masuk, ia segera meronta untuk bangun sambil serunya: "Aku hanya seseorang yang sudah dekat dengan ajal, kau tak usah perdulikan lagi batasan antara laki dan perempuan"

"Nona, lebih baik kau berbaring saja, lebih enak kita bicara dengan santai..." buru-buru Lim Han-kim mencegah. Pek si-hiang tersenyum. "Dalam dugaanku, umur masih ada dua bulan lamanya. oleh sebab itu aku mengadakan janji dua bulan denganmu. siapa tahu sekembaliku kemari, kondisi penyakitku semakin parah, kelihatannya untuk hidup lebih dari sebulan pun sudah berat bagiku."

Dari sepasang pipinya yang cekung Lim Han-kim dapat menyaksikan bahwa gadis itu memang bertambah kurus, rasa sedih dan haru segera menyelimuti perasaannya, dengan suara lirih bisiknya: "Kalau nona sudah tahu bahwa penyakitmu bertambah parah, kenapa tidak berusaha untuk mengobatinya?"

"Kalau aku sendiri pun tak mampu menyembuhkan penyakit itu, siapa lagi orang di dunia ini yang sanggup mengobati sakitmu ..." jawab Pek si-hiang sambil tertawa.

Lim Han-kim berdiri tertegun, ia terbungkam seketika dan tak mampu berkata-kata lagi.

Sambil tertawa kembali Pek si-hiang ber-kata: "Lepaskan kain pembungkus wajahmu. Duduklan di sini. Aku ingin berbincang denganmu."

Lim Han-kim menurut dengan melepaskan kain pembungkus wajahnya, kemudian katanya "Nona sangat pandai dan menguasai ilmu pengobatan, apa betul di kolong langit dewasa ini tak ada obat yang bisa dipakai untuk menyembuhkan penyakitmu itu?"

Pek si-hiang menghela napas sedih, "lbarat pelita yang kehabisan minyak. mana mungkin bisa menyala terlalu lama? Apa lagi obat mestika susah diperoleh, ke mana kita harus pergi mencarinya?" "Umur nona belum genap dua puluh tahun, inilah usia remaja yang paling bagus bagi setiap pemudi, Kenapa kau ibaratkan dirimu seperti pelita yang kehabisan minyak?"

"Sebetulnya aku dapat hidup lebih lama lagi, asal aku bisa memelihara kekuatan hidupku. Tapi apa mau dikata sifatku memang tak bisa berdiam diri, aku sering menggunakan tusukan jarum emas untuk membangkitkan tenaga hidupku yang tersimpaa Aaaai... dengan kondisi badanku yang sangat lemah, ditambah lagi dengan kelakuanku yang tak sayang terhadap kesehatan sendiri, akibatnya umurku bertambah pendek. Kini ajal sudah berada di depan mataku."

"Jikalau kau sudah memahami teori tersebut kenapa kau justru sengaja melanggarnya?"

Tiba-tiba Pek si-hiang tersenyum

"Bila sepanjang hari aku mesti berbaring terus di tempat pembaringan biarpun bisa hidup tiga sampai lima tahunpun apalah arti dan kenikmatannya bagiku?"

"Andaikata nona tidak mencampuri masalah pertemuan puncak di kota si-ciu kali ini, mungkin juga kau tak perlu membuang banyak tenaga dan pikiran, otomatis nona bisa hidup berapa tahun lebih lama..."

Pelan-pelan Pek si-hiang menggeser posisi tubuhnya, kemudian menghela napas panjang, "Aaaaai,.. sebetulnya aku ingin datang secara diam-diam lalu pergi secara diam-diam, Pikiran kosong, perasaan lega dan pergi tanpa beban apa pun. soal mati hidup sudah lama tak pernah terlintas di dalam benakku, siapa tahu Thian menghendaki yang lain. Di saat terakhir aku harus meninggalkan dunia ini, ternyata dalam pikiran dan perasaanku harus tertinggal pelbagai persoalan dan beban."

"Nona, aku mengerti bahwa kemampuanku terbatas, tapi aku bersedia menggunakan segenap kemampuan yang kumiliki untuk membantu nona. jika kau ada keinginan yang belum terwujud, katakan saja padaku, sehari aku Lim Han-kim belum dapat menyelesaikannya, aku pun akan berjuang seharian penuh, sepuluh tahun belum beres maka aku pun tak akan beristirahat selama sepuluh tahun Pokoknya selama hayat masih dikandung badan, aku tetap akan berjuang untuk menyelesaikan keinginanmu itu"

Selapis cahaya semu merah melintas di wajah Peksi- hiang yang pucat pasi, ia tertawa.

"Kalau menyangkut masalah jenazahku, aku sudah mempunyai persiapan yang masak.jadi kau tak perlu kuatir..."

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya: "Kenapa kau tidak menemani im-yang Losat-mu pergi mencari barang peninggalan tokoh persilatan jaman dulu? Mau apa kau datang kemari?"

"Aku datang memenuhi janjiku dengan nona" sahut Lim Han-kim setelah tertegun sesaat.

"Ehmmm, kenapa begitu cepat sudah sampai kemari?" kembali Pek Si-hiang tertawa.

Untuk sesaat Lim Han-kim jadi gelagapan dan tak tahu bagaimana harus menjawab, terpaksa ia cuma membungkam diri. Setelah menghela napas panjang kembali Pek Si-hiang berkata: "Di tempat ini cuma ada kau dan aku, tiada kehadiran orang ketiga, Bila kau ingin mengucapkan sesuatu, katakan saja secara blak-blakan, tak periu ragu atau sangsi ."

"Betul juga pertanyaan nona Pek." Lim Han-kim mulai berpikir di hati kecilnya, "Kenapa aku harus terburu-buru datang mencarinya? Apakah hal ini karena aku menyadari bahwa Im-yang Losat mungkin sedang mempermainkan diriku? Atau karena aku memang amat mencemaskan dirinya...?"

Dia alihkan pandangan matanya keluar jendela, di sana teriihat aneka bunga berwarna merah yang sedang tumbuh mekar dengan indahnya. Untuk sesaat ia terbungkam, tak tahu apa yang harus dikatakan-..

Setelah menghembuskan napas panjang dan membetulkan rambutnya yang kusut, Pek Si-hiang bertanya lagi: "Apa kau belum paham?"

"Selama hidup aku paling tak suka bohong."

"Aku mengerti," tukas Pek Si-hiang manggut-manggut, "Apa kau menemukan bukti bahwa gerak-gerik serta tingkah laku nona Im- yang Losat mencurigakan? Dalam keadaan begitu lantas kau teringat pada ku secara tiba- tiba dan ingin secepatnya bertemu aku ...?"

Dalam hati kecilnya Lim Han-kim ingin sekali menyangkal tapi dia pun sadar bahwa apa yang dikatakan gadis itu memang jawaban yang sebenarnya hendak diutarakan. Untuk sesaat ia jadi gelagapan dan tak tahu bagaimana harus menjawab. Akhirnya setelah menghela napas panjang sahutnya: "Perkataan nona memang benar, sebab memang begitulah kejadian yang ku-alami, hanya saja..."

" Hanya saja kenapa?" tukas Pek si-hiang. "Sebelum datang kemari, aku telah memikirkannya

masak-masak"

" Kalau sudah dipikirkan masak-masak. berarti kau sudah mengambil satu kesimpulan. Boleh kutahu apa maksud kedatangan saudara Lim?"