-->

Pedang Keadilan II Bab 03 : siasat Lawan siasat

 
Bab 03. siasat Lawan siasat

"Aku telah berjanji dengan Seebun Giok-hiong Selain dengan dirinya aku tak akan bicara dengan orang lain, jadi aku tak perduli siapakah kau dan apa kedudukanmu Pokoknya kami merasa tak perlu menjalin kontak dengan dirimu Maaf, kami harus mohon diri" kata Li Tiong-hui tegas.

Pelan-pelan manusia berbaju hijau itu melepaskan topengnya hingga tampak sebuah raut muka yang tampan, bermata jeli, gigi putih rapi dan bibir berwarna merah, sekalipun rambutnya disisir ke atas namun dalam sekali tatap saja siapa pun bisa melihat bahwa dia adalah wanita yang mengenakan dandanan pria.

Tampak ia membalikkan badannya memandang ke arah meja panjang yang berisi meja abu itu, lalu serunya: "susah orang lain menganggap sudah ada janji denganmu, ia tak mau menjalin hubungan denganku, bagaimana sekarang?"

Dari belakang meja panjang segera terlihat bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu dalam ruangan itu telah bertambah dengan seorang kakek berjenggot putih.

Li Tiong-hui segera berseru: "Apakah kau sangat berkesan dengan peristiwa lama dari pemilik bunga bwee itu?"

orang itu tertawa hambar, tidak menjawab ia malah balik bertanya: "Kau benar-benar ingin bertemu aku?"

"Yang ingin kami jumpai adalah Seebun Giok hiong" "Akulah orangnya"

"Bohong, bagaimana aku bisa mempercayaimu?"

Pelan-pelan Seebun Giok-hiong melepaskan topengnya hingga tampak seraut wajah yang cantik jelita, katanya kemudian: "sekarang kaucu tentu sudah percaya bukan?"

"Aku masih agak kurang percaya" "Kenapa?"

"sebab suaramu tidak mirip"

Seebun Giok-hiong segera tersenyum, "Kau ingin mendengar aku bicara dengan dialek mana?" katanya,

"Dialek mana pun sama saja, tapi sekarang aku sudah percayai Jadi kau sudah tidak menaruh curiga lagi kepadaku?"

"Kau janji denganku untuk bertemu di sini tapi kau sendiri justru bersikap sok rahasia dan misterius. MuIa- mula kau suruh anak buahmu mempermainkan aku, lalu kau sendiri yang datang menggoda, sebetulnya apa maksud tujuanmu?"

"Aku harus berjaga-jaga seandainya kau tidak datang atau kau menyuruh orang lain menyamar sebagai dirimu, atau jika kau sudah mempersiapkan jebakan di tempat ini, maka bagaimana pun aku mesti berhati-hati"

"Baiklah, kita tak usah membicarakan masalah ini lagi, Apa maksudmu mengundangku datang kemari ?"

Seebun Giok-hiong memandang Lim Han-kim sekejap. kemudian ujarnya: "Bagaimana kalau kau suruh pelindungmu itu keluar duIu?"

" Tidak usah, ia bersama aku adalah kekasih sehidup semati. Ada senang dinikmati bersama ada sengsara dipikuI berbareng ..."

"Lim Han-kim?" seru Seebun Giok-hiong. "Bukankah ia selalu bersama Pek si-hiang?"

"Tidak mungkin," jawab Li Tiong-hui sambil melepaskan kain kerudung mukanya, "Dia bukan manusia semacam itu"

Dengan sepasang matanya yang tajam Seebun Giok- hiong mengawasi anak muda itu tanpa berkedip. sesaat kemudian ia baru berkata: "Kau mengatakan dia sangat baik kepadamu?"

"Yaa, biar samudra mengering, batu melapuk.. cintanya kepadaku tak akan berubah"

"Dari sepasang matanya yang romantis aku berani memastikan bahwa dia adalah seorang lelaki yang suka main perempuan, Bila kau kelewat percaya kepadanya maka kau sendiri yang akan menderita kerugian."

Melihat sikap yang diperlihatkan perempuan tersebut, dalam hati kecilnya Li Tiong-hui berpikir "Tampaknya apa yang diduga Pek si-hiang tepat sekali. ia segera akan masuk perangkap ..."

Meskipun berpikir demikian, namun di luar ia mengejek sambil tertawa dingin: "Kau sengaja mengundangku untuk bertemu di sini, apakah hanya beberapa patah kata itu saja yang ingin kau sampaikan kepadaku?"

"Aku hendak menasehatimu akan satu hal" "soal apa?"

"Lepaskan pikiranmu untuk bermusuhan denganku" "Apa syaratnya?"

"Kau boleh sebutkan sendiri"

"Bila kau bersedia melepaskan semua masalah tentang dunia persilatan, kita segera akan menjadi sahabat."

"Kau jangan salah paham dengan maksudku Aku sayang dengan kecerdikanmu, maka sengaja aku membujukmu jika kau nekat tak mau menuruti perkataanku sampai waktunya jangan salahkan jika aku bertindak keji kepada-mu."

Diam-diam Li Tiong-hui merasa terkejut, pikirnya: " Kalau sampai geger dengannya sekarang, akulah yang bakal menderita kerugian besar..." Maka sambil tertawa katanya: "Betapa pun hebatnya ilmu siiatmu, paling tidak aku masih bisa hidup senang selama tiga bulan..."

"Bukan tiga bulan tapi delapan puluh enam hari" potong Seebun Giok-hiong cepat "Kalau kau tolak bujukanku maka sampai waktunya orang pertama yang akan kubunuh adalah kau, ketua Hian- hong- kau"

Melihat kehadiran Lim Han-kim telah berhasil memancing perhatiannya, sambil tertawa Li Tiong-hui berkata: "Kalau tak ada urusan lain kami ingin mohon diri lebih dulu."

Seebun Giok-hiong tertawa dingin, "Tahukah kau bencana kematian yang akan menimpamu tiga bulan mendatang terjadi karena sikapmu hari ini?"

"Aku mengerti, setelah pertemuan hari ini tekadmu untuk membunuhku semakin kuat Aku merasa amat berbangga hati bisa memperoleh perhatian yang serius darimu."

"Jika kau hendak memohon sesuatu kepadaku, datanglah tengah malam nanti, seandainya kau tak bisa datang sendiri, suruh saja tunanganmu yang datang mencariku" kata Seebun Giok-hiong dingin.

"Memohon kepadamu?" Li Tiong-hui tertegun "Kenapa? Kau berani bilang tak bakal?" ejek Seebun

Giok-hiong sambil tertawa dingin.

Pelan-pelan Li Tiong-hui mengenakan kembali kain cadar mukanya, lalu menjawab: "Mungkin saja, asal aku memang ingin memohon sesuatu, sampai waktunya pasti akan datang sendiri" "Pertemuan kita kali ini bubar dengan rasa kecewa, untung saja ada sedikit masukan yakni kita berjanji akan bertemu lagi malam nanti."

Ucapan tersebut segera menimbulkan kecurigaan Li Tiong-hui, dengan cepat dia bertanya: "Tampaknya kau sangat yakin bahwa aku pasti akan mencarimu tengah malam nanti?"

"Benar, salah satu di antara kalian berdua pasti akan menjumpaiku tengah malam nanti, Aku hanya tak bisa memastikan siapa di antara kalian berdua yang bakal muncul..."

Setelah berhenti sejenak, kembali tambah-nya: "Mati hidup seseorang bukan sebangsa permainan kanak- kanak. Kuanjurkan kepadamu lebih baik tak usah mengulur waktu lagi, sebab amat besar resikonya bagi kelangsungan hidup."

"Kelangsungan hidup siapa?"

"sampai sekarang masih belum diketahui kelangsungan hidup siapa, tapi yang pasti dia adalah satu di antara kalian berdua."

"oooh, rupanya secara diam-diam kau telah meracuni kami berdua?" teriak Li Tiong-hui penuh marah.

"Selama ini aku toh cuma berdiri tanpa bergerak," kata Seebun Giok-hiong sambil tertawa. "Lagipula meski ilmu silatmu masih bukan tandinganku, namun kau memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi, sekalipun aku betul- betul berniat mencelakaimu secara diam-diam, belum tentu usaha tersebut bisa berhasil secara mudah." Mendengar perkataan itu Li Tiong-hui berpiklr "Benar juga perkataan ini, sekalipun ilmu silat yang ia miliki jauh di atas kepandaianku, tapi kalau dibilang dia mampu mencelakai aku secara diam-diam tanpa kusadari, rasanya hal ini sulit juga dilakukannya." 

Tanpa banyak bicara lagi ia segera menggandeng tangan Lim Han-kim dan beranjak keluar meninggalkan ruangan itu.

Dari belakang terdengar Seebun Giok-hiong berseru sambil tertawa dingin tiada hentinya: "Kendatipun kau berotot kawat tulang besi, jangan harap bisa tahan atas daya kerja racun itu"

Li Tiong-hui pura-pura tidak mendengar, ia melanjutkan langkahnya keluar dari ruang tengah. Di sisi pintu ia temui iblis jahat berbaju hijau dan Setan gusar berbaju kuning berdiri berjajar di sana tanpa bergerak.

Sikap sombong dan takaburnya telah hilang lenyap tak berbekas. jelas mereka telah menderita kerugian yang cukup parah hingga sikap mereka berubah seratus delapan puluh derajat

Li Tiong-hui berlagak seolah-olah tidak tahu, segera serunya: "Kalian berdua melindungi dari belakang" Kemudian sambil bergandeng tangan dengan Lim Han- kim mereka melanjutkan langkahnya keluar dari bangunan itu.

Keluar dari rumah abu keluarga Go, si Dewa jahat berbaju hijau dan Sukma murung berbaju putih segera maju menyongsong sambil memberi hormat dengan sikap yang amat tunduk Melihat sikap kedua orang ini, Lim Han-kim nampak tertegun, Dalam hati kecilnya ia merasa amat keheranan. Tampak Li Tiong-hui mengulapkan tangannya sambil berseru: "Tak usah banyak adat" Dia langsung naik ke atas kereta.

sikap keempat manusia buas itu sangat berbeda dengan keadaan biasa, Tanpa banyak bicara mereka mengiring di belakang. Menunggu setelah Li Tiong-hui naik ke dalam kereta dan turunkan tirai, dengan sikap hormat Dewa buas berbaju merah baru bertanya: "Lapor kaucu, kita hendak ke mana?"

"Kembali ke tempat semula."

Dewa buas berbaju merah mengiakan, kereta pun pelan-pelan bergerak meninggalkan tempat itu,

Dalam kereta, dengan suara setengah berbisik Lim Han-kim berkata: "Kau dapat merasakan tidak. sikap keempat orang itu seperti berubah seratus delapan puluh derajat, sekarang jadi begitu penurut dan alim?"

"Mereka tentu sudah menerima pelajaran dari Seebun Giok-hiong."

"Tapi selama ini Seebun Giok-hiong cuma bersembunyi di belakang meja abu, boleh dibilang tak pernah bertemu dengan mereka berempat. Bagaimana mungkin mereka telah mendapat pelajaran dari dirinya?"

Pelan-pelan Li Tiong-hui melepaskan kain cadar mukanya, lalu sambil geleng kepala dan menghela napas panjang gumamnya: "Betul- betul perbuatan yang sangat keji" Ucapan itu diutarakan tanpa ujung pangkalnya, Lim Han-kim seketika dibuat bengong dan tak habis mengerti, serunya tak tahan: "apa yang telah terjadi?"

"Kita sudah tertipu oleh Seebun Giok-hiong"

"Hei, makin bicara semakin melantur, Aku makin tak habis mengerti, dalam hal apa kita tertipu?"

"Kita berdua telah keracunan" "Keracunan?" seru Lim Han-kim terkejut

"Betul, menggunakan kesempatan di saat ia mengajak kita berbincang-bincang tadi secara diam-diam ia telah melepaskan bubuk racun yang tak berbau dan berwarna."

Lim Han-kim mencoba untuk mengatur pernapasan tapi tidak menjumpai gejala yang aneh, maka segera serunya: "Kenapa aku tidak merasakannya?"

"Kalau bisa dirasakan, ia tidak bernama Seebun Giok- hiong" kata Li Tiong-hui.

Ia menyingkap tirai kereta sambil melongok sedikit ke depan dan teriaknya: "Belok ke kiri"

Dewa buas berbaju merah menyahut dan membelok arah kereta menuju ke sebelah kiri dan menelusuri sebuah jalan setapak.

"Kita akan pergi ke mana?" tanya Lim Han-kim keheranan

"Pergi menemui Pek si-hiang" "Agaknya kalian sudah mengatur kesemuanya ini dengan sempurna, tinggal aku seorang yang dibuat macam orang bloon."

"Apa salahnya macam orang bloon? Yang penting kau toh tidak merasa dirugikan apa pun" Mendadak gadis itu merasa bahwa ia telah salah bicara, setelah menghela napas ujarnya lagi lembut: "Jangan marah padaku, pikiranku sedang kalut"

Lim Han-kim hanya tertawa hambar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Kenapa kau tidak berbicara lagi? Marah?" tegur Li Tiong-hui sambil menghela napas.

Cepat-cepat Lim Han-kim menggeleng, "Bagaimana pun tujuan kita adalah berusaha menjebak lawan dengan berlagak menjadi sepasang kekasih, bagaimana kasarnya kau menegur aku pun tak bakal sampai marah."

"Jadi sedikitpun kau tidak khawatir atas keselamatan jiwaku yang sedang keracunan?" Li Tiong-hui tertawa dingin.

"Kau keracunan?" seru Lim Han-kim tercengang. "Seebun Giok-hiong tidak tega meracunimu maka ia

gunakan diriku sebagai bahan pelampiasan."

Lim Han-kim segera merasakan bahwa setiap patah katanya penuh mengandung nada kesal, gusar dan mendongkel Karena tak memperoleh jawaban yang sesuai untuk menanggapi ucapan tersebut, sambil menghela napas panjang ia tundukkan kepalanya dan tidak berbicara lagi. Tampaknya hawa amarah Li Tiong-hui semakin meledak. katanya kembali dengan suara ketus: "Sekarang kau mengerti bukan, Seebun Giok-hiong suruh kita datang memenuhi janjinya tengah malam nanti, sesungguhnya ucapan tersebut ditujukan kepadamu seorang"

Lim Han-kim semakin tak habis mengerti, pikirnya: "Kalau memang begitu kejadiannya, bukankah apa yang kita inginkan sudah terpenuhi? Kenapa ia jadi marah- marah?"

Sementara itu dari luar kereta sudah kedengaran Dewa buas berbaju merah berseru: "Lapor kaucu, di depan kereta sudah tiada jalan tembus lagi"

Li Tiong-hui segera mengenakan kain cadar mukanya dan melompat keluar dari kereta.

Melihat gadis itu masih dicekam hawa amarah yang membara, seakan-akan setiap saat bisa meledak keluar, dalam hati kembali Lim Han-kim berpikir "Lebih baik aku menyingkir agak jauh hingga bila kau ingin mengumbar amarahmu, aku tidak menjadi sasaran."

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, terdengar Li Tiong-hui telah membentak keras: "Kenapa kau tidak segera turun, mau apa sembunyi terus dalam kereta?"

Lim Han-kim termangu-mangu, ia segera melompat turun dari kereta dan celingukan kesekeliling tempat itu. ia semakin keheranan setelah melihat tempat itu sangat sepi, liar dan terpencil, pikirnya lagi: "Di sekeliling tempat ini tak tampak sebuah bangunan rumah pun, di mana Pek si-hiang berdiam?" "Eeei, lihat apa kamu? Ayoh cepat ikut aku" hardik Li Tiong-hui lagi.

Lim Han-kim gelengkan kepalanya berulang kali, pikirnya: "Seorang lelaki tak akan ribut dengan perempuan, biar kau berangasan dan ingin marah- marah, asal tidak kulayani juga percuma..." Maka tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia menyusul di belakang Li Tiong-hui.

Setelah berjalan berapa langkah tiba-tiba Li Tiong-hui berbalik dan katanya kepada empat manusia buas: "Kalian semua jaga di sini, tak usah ikut aku"

Tanpa menunggu jawaban dari keempat manusia buas itu, ia balikkan badan dan beranjak pergi dari situ, Melihat gadis itu lari semakin cepat terpaksa Lim Han-kim mengikuti di belakangnya, Beberapa saat kemudian mereka sudah menempuh sejauh empat- lima li dan tiba di tepi hutan.

Di sisi hutan lebat itu berdiri sebuah rumah gubuk. Li Tiong-hui memeriksa sekejap sekeliling tempat itu kemudian langsung masuk ke dalam rumah gubuk itu.

Meskipun dinding rumah gubuk itu terbuat dari batu bata namun keadaannya bersih sekali, di tengah ruang utama terdapat sebuah meja dengan dua buah bangku.

"Apakah nona Pek ada?" sapa Li Tiong-hui setelah mendeham beberapa kali.

Tirai di sisi kanan ruangan tersibak. pelan-pelan muncullah Pek si-hiang yang memakai baju warna putih, ia sudah berganti dengan pakaian wanita, Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai di bahu, wajahnya yang cantik kelihatan amat menarik dengan dandanannya sekarang.

Sambil munculkan diri katanya seraya ter-senyum: "Ayo kita berbicara dalam kamarku saja" Lalu sambil mengalihkan pandangan matanya ke arah Lim Han-kim, ujarnya pula: "Coba kau lihat, bagaimana dengan dandananku hari ini?"

Sebelum Lim Han-kim sempat berbicara, Li Tiong-hui telah melepaskan kain cadar mukanya sambil menyela: "Ternyata dugaan nona Pek sangat tepat, aku telah berjumpa dengan Seebun Giok-hiong"

"Bagus sekali" kata Pek si-hiang sambil tertawa. "Tak kusangka ia telah melepaskan racun secara diam-diam

..."

"Apa iya?" seru Pek si-hiang sambil menarik kembali senyumannya, "Ayoh kita berbicara di dalam saja"

Dengan cepat dia melangkah masuk lebih dulu, Li Tiong-hui dan Lim Han-kim segera mengikuti dari belakang, Perabot dalam kamar itu amat sederhana, selain sebuah pembaringan kayu hanya terdapat dua buah bangku yang terbuat dari bambu.

Menyaksikan semua ini, Lim Han-kim berpikir "Dengan tubuh yang begitu lemah dan rapuh ternyata ia menyukai kehidupan aneh semacam ini, menginap di kuil terbengkalai berdiam di rumah gubuk reyot, Tampaknya perempuan ini juga terhitung seorang manusia aneh" 

Sementara itu Pek si-hiang telah membersihkan bangku bambu dengan ujung bajunya ya bersih, lalu katanya: "silakan duduk." Li Tiong-hui memandang Lim Han-kim sekejap. kemudian serunya: "Sekarang katakan, ceritakan semua pengalaman kita secermatnya kepada nona Pek"

Kembali Lim Han-kim berpikir "Hati wanita memang paling susah diduga, tergopoh-gopoh dia datang kemari seperti takut kehilangan waktu, tapi setelah berjumpa ia justru menunjukkan sikap santai..."

Sekalipun berpikir begitu, namun ia ceritakan juga semua pengalamannya dalam rumah abu keluarga Go secara terperinci Pek si-hiang mendengarkan dengan seksama, kemudian ia termenung dan berpikir beberapa saat sebelum ujarnya: "Kalau apa yang kau kisahkan itu benar, kemungkinan besar ia telah mencelakaimu secara diam-diam, Dan racun yang dipakai sudah pasti bukan racun sembarang racun"

"Aku yakin dia bukan lagi gertak sambal, sebelum tengah malam nanti racun itu tentu akan mulai bekerja" kata Li Tiong-hui.

"Kalian cobalah mengatur napas untuk memeriksa isi perut, adakah gejala keracunan?"

"Aku tak dapat merasakannya" ucap Lim Han-kim. "Kalau bisa dirasakan, kita pun bisa membuat

persiapan sebelumnya" sela Li Tiong-hui.

Tiba-tiba Pek si-hiang tertawa, katanya: " Kalian tak usah takut, agaknya ia cuma berbohong."

"maksudmu ia cuma gertak sambal?"

"itu pun tidak. Mula-mula ia berbohong untuk menanamkan sugesti di hati kalian bahwa tubuh kalian berdua sudah diracuni setelah itu kalian akan termakan oleh sugesti itu dan merasakan bahwa tubuh kalian seolah-olah betul-betul keracunan, dengan begitu malam nanti kalian pasti akan muncul lagi untuk menjumpainya."

"Kenapa ia tidak secara langsung mengundang kami untuk berjumpa tengah malam nanti? Buat apa ia gunakan tipu muslihat ini?"

"sebab ia tak berhasil menemukan alasan yang tepat Dengan mengatakan kalian keracunan, bukankah cara ini yang terbaik?"

"Aaaai... sebetulnya apa tujuannya dengan berbuat begitu?"

"Ia sengaja hendak menanamkan bayangan gelap dalam hatimu, agar pikiranmu kalut dan kacaukan semua rencana sebelum berbuat."

"Lantas apa perlu kupenuhi undangannya tengah malam nanti?" Pek si-hiang segera menggeleng.

"Tak usah pergi, kalau semua langkah kita sudah berada dalam dugaannya, maka posisi kita akan terperosok di bawah angin."

"Lantas kita acuhkan saja undangan tersebut?"

"itu pun kelewat kasar Kita harus mencari sebuah jalan keluar yang sama sekali di luar dugaannya."

"Lalu bagaimana caranya? Aku tak bisa menemukan cara yang terbaik lagi, lebih baik nona Pek saja yang carikan akal." "Seebun Giok-hiong tentu akan sangat gusar apabila sampai tengah malam nanti kalian tak datang memenuhi undangan Lebih baik kita bikin ia naik darah dulu, selewatnya tengah malam baru kau utus seseorang untuk mengantar sepucuk surat. Beritahu kepadanya bahwa racun di tubuhmu sudah mulai bekerja, Bila ia bersikeras ingin menjumpaimu, suruh ia datang menjumpaimu bersama si pengantar surat. "

"Kalau ia menolak untuk datang?"

"Aku yakin ia pasti ikut datang, Kalau ia menolak. belum terlambat bagi kita untuk mencari akal lain."

"Lantas apa yang harus kuperbuat?" "Pura-pura sakit."

"Tapi aku tak bisa berlakon dengan baik,"

"Tidak apa-apa, kita justru harus bersikap sedemikian rupa agar sekali pandang ia tahu kalau kau sedang pura- pura sakit..." Kemudian sambil berpaling kearah Lim Han- kim, tambahnya: "Kau harus mendampingi nona Li"

"Tentu saja"

"Kau harus bersikap sayang, mesra dan penuh kasih melayani keperluan nona Li. Tunjuk-kan mimik muka khawatir tapi penuh rasa sayang."

"Bagaimana aku harus berperan? Aku takut tak sanggup memikul tanggung jawab ini," keluh Lim Han- kim.

Pek si-hiang tertawa. "Kalau tak pandai berpura-pura, lakukanlah sungguh-sungguh," ucapnya. Kemudian setelah berhenti sejenak. tambahnya: "Disatu pihak kau harus mesra kepada nona Li, dipihak lain sikapmu terhadap Seebun Giok-hiong harus dingin dan hambar, tapi bukan berarti sama sekali tak acuh kepadanya, Bagaimana harus berperan secara pas, kau mesti lakukan sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu."

"Aaaah ... setelah mendengar uraian nona Pek. aku sudah semakin paham sekarang" seru Li Tiong-hui. "Maksudmu kita buat amarahnya berkobar lebih dulu hingga dia kehilangan kendali sebelum melangkah ke cara lain ... ehmm, cara ini memang bagus sekali"

"Tampaknya kau memang pintar, sekali berpikir segera mengetahui niat hatiku"

"Kalau begitu aku mohon diri lebih duu, sekarang aku harus membuat sedikit persiapan."

Tiba-tiba Pek si-hiang berpaling kearah Lim Han-kim dan dengan wajah serius katanya: "Kau harus ingat perkataanku jangan ambil keputusan sesuka hati sendiri, juga tak boleh bertindak menurut emosi, apa lagi bersikap sok pintar, Kau harus tahu bahwa persoalan ini menyangkut keselamatan jiwa seluruh umat persilatan di dunia, kau tak boleh merusak rencana besar ini"

"Aku pasti akan berusaha dengan sepenuh tenaga" "Bagus, kalian boleh pergi sebab aku juga harus

pindah rumah."

"Pindah rumah?" seru Li Tiong-hul keheranan "Benar, kehadiran kalian kemari pasti sudah

memancing kecurigaan Seebun Giok-hiong, jika aku tidak

segera pindah rumah, jejakku tentu akan berhasil dilacaknya." "Aku harus mencarimu ke mana bila ingin menemuimu

?"

"Tak usah dicari, aku sendiri yang akan menghubungi

kalian"

"Aaaai..." Li Tiong-hui menghela napas panjang, "Kelihatannya kau lebih menderita daripada aku."

"Beginipun aku sudah amat gembira, apalagi bisa bertemu dengan musuh setangguh Seebun Giok-hiong, Mungkin saja gara-gara urusan ini, aku bisa hidup berapa bulan lebih lama"

"Kalau begitu kita berpisah sampai di sini," kata Li Tiong-hui. setelah memberi hormat ia menggandeng tangan Lim Han-kim untuk diajak pergi dari situ.

Memandang bayangan punggung kedua orang itu, tiba-tiba muncul perasaan duka yang sangat aneh dalam hati kecil Pek si-hiang, buru-buru ia menutupi wajahnya dengan sapu tangan.

Tampaknya semua kemurungan yang mencekam Li Tiong-hui semula kini sudah tersapu lenyap. sepanjang jalan ia selalu nampak riang, jauh berbeda dengan keadaan sewaktu berangkat tadi.

Lim Han-kim sangat keheranan, tak tahan ia pun menegur: "Persoalan apa sih yang membuat kau nampak begitu gembira?"

" Kenapa? Aku tak boleh senang?"

"Aku hanya tak mengerti persoalan apa yang membuatmu begitu gembira?" Li Tiong-hui segera tertawa, "Tipu muslihat Seebun Giok-hiong telah menutupi kejernihan otakku tadi hingga membuatku panik, bingung dan tak tahu apa yang mesti diperbuat itulah sebabnya aku amat kesal. Tapi sesudah mendengar penjelasan nona Pek, tali simpul yang membelenggu pikiranku terbebas sudah, dengan sendirinya hatiku menjadi riang kembali."

"Oooh, kiranya begitu," kata Lim Han-kim sambil tertawa tawar,

Li Tiong-hui mempercepat langkahnya kembali ke tempat keretanya diparkir, ia jumpai Dewa buas berbaju merah, iblis jahat berbaju hijau, setan gusar berbaju kuning dan sukma murung berbaju putih sedang duduk bersamadi. Kalau dilihat dari peluh yang membasahi jidat mereka, tampaknya suatu pertarungan sengit baru saja berlangsung.

Sesaat kemudian Dewa buas berbaju merah menggerakkan matanya lalu bangkit berdiri seraya memberi hormat "Rupanya kaucu telah kembali," katanya.

"Kalian baru saja berkelahi dengan orang?" tegur Li Tiong-hui.

"Yaa, kehebatan ilmu silat si penyerang jauh di luar dugaan kami, Kami empat bersaudara terpaksa harus turun tangan bersama sebelum berhasil memukul mundur dirinya."

"Siapa penyerang itu?"

"Entahlah, ia enggan menyebutkan namanya juga tak bersedia muncul dengan wajah aslinya, tapi jurus serangan yang digunakan sangat ganas, jahat dan kejam"

"Oooh... laki-laki atau perempuan?"

"Laki-laki ia berniat menggeledah kereta kaucu tapi berhasil kami hadang, maka tanpa bicara orang itu mencabut pedangnya secara tiba-tiba dan menyerang kami. Bukan saja serangannya cepat, jurus yang dipakaipun ganas, Dalam dua gebrakansaja nyaris tubuhku tertusuk oleh pedangnya, sampai kami empat bersaudara turun tangan bersama, baru orang itu meloloskan diri"

"Kalian tentu amat lelah..." seru Li Tiong-hui sambil melangkah naik ke dalam keretanya.

Lim Han-kim menyusul dari belakang, setibanya dalam kereta ia baru berkata: "Besar kemUngkinan berubahnya sikap keempat manusia buas ini jadi begini penurut disebabkan suatu alasan, kau tak boleh menurunkan sikap waspadamu."

"Kenapa kau memperhatikan diriku secara tiba-tiba?" tanya Li Tiong-hui tertawa.

Lim Han-kim tertegun, tak mampu memberikan jawaban, sementara di hati kecilnya berpikir "Dengan niat baik aku bermaksud memperingatkan dirimu, kau malah balik bertanya begitu? Aaai... empat manusia buas ini sudah terbiasa berbuat kejam, kalau tidak waspada, suatu ketika kau tentu akan menderita kerugian di tangan mereka..." Tiba-tiba terdengar Dewa buas berbaju merah bertanya: "Kita akan ke mana?"

"Pulang ke rumah." Dewa buas berbaju merah mengiakan, kereta pun dilarikan kencang menuju ke depan.

sesudah melepaskan kain cadar mukanya, dengan seksama li Tiong-hui periksa seluruh ruang kereta itu, setelah yakin tidak menjumpai sesuatu yang mencurigakan baru ia berbisik kepada Lim Han-kim: "Kau percaya dengan perkataan Dewa buas berbaju merah?"

"Tidak"

"Dia kan bicara sejujurnya, kenapa kau tak percaya?" tanya Li Tiong-hui lagi sambil tertawa.

"Dari mana kau tahu kalau mereka tidak bohong?" " Kalau bohong mereka hanya berbentuk ucapan

tersebut, berarti kau memandang mereka kelewat enteng." Kemudian setelah berhenti sejenak, ia menambahkan: "Ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu."

"soal apa?"

"Antara Seebun Giok-hiong, Pek si-hiang dan aku, siapa yang paling kau sukai?"

Lim Han-kim tidak menyangka kalau dia akan mengajukan pertanyaan semacam ini, untuk sesaat ia malah tertegun, "Aku tak bisa menjawab," katanya kemudian "Tapi kalian bertiga sama-sama terhitung orang yang sangat kukagumi."

"selama ratusan tahun sejarah manusia, hampir selalu kaum pria yang pegang peranan, Kini telah muncul situasi baru, kemungkinan besar nasib umat persilatan selama puluhan tahun mendatang berada di tangan kaum wanita"

Lim Han-kim menghela napas panjang, "Baik Pek si- hiang maupun Seebun Giok-hiong dan nona Li, kalian bertiga sama-sama terhitung tokoh aneh dari dunia persilatan ..."

"Kau tak usah sertakan diriku dalam masalah ini.

Bicara soal ilmu silat, aku bukan tandingan Seebun Giok- hiong, bicara soal kecerdikan aku pun tak mampu menandingi Pek si-hiang. Dalam memperebutkan kedudukan paling tinggi dalam dunia persilatan dewasa ini, posisiku tak lebih hanya benang pembuka jalan untuk menembus lubang jarum."

"Nona Pek berada di belakang layar, jadi sesungguhnya nona Li yang berhadapan langsung dengan Seebun Giok-hiong dalam pertarungan akal maupun kekerasan kali ini."

"Yang paling aku risaukan adalah kesehatan badan nona Pek yang amat lemah, Aku takut ia tak mampu bertahan hingga persoalan ini selesai, Bila ia sampai mati duluan, aku takut dalam pertarungan ini kitalah yang berada dalam posisi kalah ..."

Mendadak wajahnya berubah jadi amat keren dan serius, terusnya: "Oleh karena aku adalah wanita, pengetahuanku tentang wanita tentu lebih mendalam ketimbang kau. Tampaknya bila Pek si-hiang sampai tewas duluan, maka tanggung jawab dalam pertarungan ini bakal terjatuh di atas bahumu."

"Aku..." "Yaa, kau, bila tak ingin menyaksikan dunia persilatan berubah jadi sungai darah, bukit mayat, maka hanya ada dua jalan yang bisa kau pilih"

Makin didengar Lim Han-kim semakin bimbang, akhirnya dtngan kening berkerut tanyanya: "Dua jalan yang bagaimana?"

"Kesatu, kau harus mencintai Seebun Giok-hiong dengan sepenuh hati. Apa bila ia sampai membalas cintamu, maka dia tak akan melakukan perbuatan terkutuk ini"

"Bagaimana dengan jalan kedua?"

"Tak mungkin manusia macam kau bisa melakukannya lebih baik tak usah kujelaskan."

"Aaah, siapa tahu, coba kau terangkan dulu."

"Diam-diam meracuni Seebun Giok-hiong agar dia mati keracunan,"

"Kalau meracuni secara diam-diam, apakah tindakan ini tidak memalukan?"

"Untuk mengalahkan musuh kita tak segan-segan menggunakan segala taktik, menghalalkan semua cara, sebab biasanya semakin licik cara itu semakin besar kemungkinannya untuk berhasil. Demi keselamatan jiwa ratusan manusia, apa salahnya kita racuni Seebun Giok- hiong sampai mati?"

"Kalau begitu kita bicarakan sampai waktunya saja Aku rasa terlalu awal untuk dibicarakan sekarang, Aaaai... sebagai seorang lelaki aku harus melaksanakan semua langkah yang telah kalian atur, setelah terjun kembali ke dalam dunia persilatan waktu mendatang, entah bagaimana pandangan umat persilatan lainnya kepada aku Lim Han-kim?"

Li Tiong-hui tertawa. "Sejak dulu tak sedikit jago persilatan yang tunduk pada kaum wanita, apa salahnya kau pun mengalami hal yang sama..."

sementara itu dari luar kereta sudah terdengar suara dari Dewa buas berbaju merah sedang berseru: "Lapor ketua, kereta sudah sampai di depan rumah"

Li Tiong-hui mengenakan kembali kain cadar mukanya, kepada Lim Han-kim bisiknya: "Tidak perduli kau bersedia atau tidak. pokoknya kau harus tunjukkan sikapmu yang mesra dan penuh rasa cinta. Bimbinglah aku semasa melangkah masuk ke rumah." selesai berkata ia menyingkap tirai kereta dan berjalan keluar

Tempat itu merupakan sebuah bangunan rumah yang tinggi besar, sekilas pandangan saja dapat diketahui bahwa rumah itu merupakan rumah kediaman orang kaya. Dengan mesra Li Tiong-hui membimbing Lim Han- kim berjalan masuk ke dalam bangunan itu diikuti keempat manusia buas dari belakang.

Setelah memasuki pintu gerbang, tibalah mereka di sebuah halaman yang luas, di sekeliling halaman banyak ditumbuhi tetumbuhan yang indah.

Tiba-tiba Li Tiong-hui berpaling kearah empat manusia buas sambil penntahnya: "Kalian berjaga-jaga di halaman luar, sebelum ada perintah jangan memasuki pintu lapis kedua ini" Serentak empat manusia buas itu mengiakan sambil membungkukkan badan memberi hormat Di bawah bimbingan Lim Han-kim, Li Tiong-hui segera mempercepat langkahnya memasuki pintu lapis kedua.

"Bangunan apa sih tempat ini?" Lim Han-kim berbisik kemudian

"Kantor cabang perkumpulan Hian- hong- kau untuk kota si-ciu, cepat bawa aku ke halaman sebelah timur"

Lim Han-kim mencoba memeriksa sekeliling tempat itu, namun tak tampak sesosok bayangan manusia pun dalam halaman rumah yang amat luas itu, maka iapun percepat langkahnya menuju ke timur setelah melewati taman bunga tibalah mereka di depan sebuah pintu berbentuk bulat.

Saat itulah Li Tiong-hui melepaskan diri dari bimbingan Lim Han-kim dan dengan mempercepat langkahnya melewati pintu bulat langsung menuju ke bangunan utama.

Begitu melalui pintu gerbang, terbentang sebuah ruang tamu yang bersih dan mewah, di sisi kiri terdapat pintu kecil yang tembus ke ruang tidur sambil melepaskan kain cadar mukanya lalu tertawa Li Tiong-hui berkata: "Duduklah dulu, di sini aku adalah tuan rumah jadi seharusnya akulah yang melayanimu"

"Banyak persoalan yang meragukan pikiranku boleh aku bertanya?"

"Utarakan saja" "Biasanya dalam rumah yang megah dan mewah semacam ini pasti banyak terdapat dayang dan pelayan, kenapa tak kelihatan sesosok bayangan manusia pun?"

Li Tiong-hui tertawa, "semua pelayan dan dayang sudah diungsikan malam ini juga, yang masih tertinggal di rumah ini sekarang hanya jago-jago pilihan dari Hian- hong-kau kami, Dalam sekilas pandang tempat ini memang kelihatan lengang, tak ada manusianya, padahal penjagaan sangat ketat dan rapat, setiap langkah berarti kematian."

"Kenapa aku tidak melihat sedikit tanda pun?" "Mereka semua telah mempunyai posisi tertentu. Ada

yang sembunyi di balik semak belukar, ada yang sembunyi di balik ruangan. Asal aba-aba diberikan, maka serentak mereka akan muncul untuk menyergap musuh, Kau tidak mengetahui rahasianya, tentu saja tidak menjumpai apa pun."

"Aaaah betul, kau telah memancing Seebun Giok- hiong untuk datang kemari malam ini, rupanya kau hendak membunuhnya di tempat ini?"

"Ketika mengatur persiapan di sini tadi aku memang punya pikiran begitu, tapi pertaruhan ini kelewat bahaya dan besar resikonya, Bila sampai gagal maka kejadiannya bakal runyam, oleh sebab itu sekarang aku telah berubah pikiran."

"Pek si-hiang mengetahui rencanamu ini?" "Tidak, dia tidak tahu perubahan yang kita alami

dalam perjalanan ke rumah abu keluarga Go hari ini

sama sekali di luar dUgaanku Aku jadi semakin sadar bahwa adU kecerdikan dengan Seebun Giok-hiong berarti mati konyol bagiku, maka aku harus segera menghapus pertaruhan yang menyerempet bahaya ini."

"Apa rencanamu berikut?"

"Kita lakukan seperti apa yang dirancang Pek si-hiang, membubarkan semua penjagaan yang ada di bangunan ini."

"Apa tidak terlalu riskan dengan membubarkan semua penjagaan di tempat ini? Menurut pendapatku lebih baik kita jangan menggerakkan posisi mereka dulu, bagaimana kalau kita persiapkan mereka untuk menghadapi hal-halyang di luar dugaan?"

"Aaaai . . . kau bisa ditipu bukan berarti Seebun Giok- hiong pun dapat dikelabui persiapan kita yang kelewat ketat dan rapat mungkin malah memancing dia melakukan periawanan yang setimpal, salah-salah kita bisa merangsang emosinya untuk membunuh Betul pertarungan berdarah belum tentu segera terjadi, tapi rasanya kurang baik untuk kedua belah pihak, jadi aku rasa lebih baik membubarkan saja penjagaan di sini."

"Ehmmm, pemikiran nona Li amat cermat, aku bukan tandinganmu"

"Sewaktu Seebun Giok-hiong datang nanti, apa kau juga akan memanggil nona Li kepada- ku?"

"Kalau tidak mema nggil nona Li, lantas aku harus memanggil apa?"