-->

Pedang Keadilan II Bab 01 : Siasat Lelaki Tampan

 
Bab 01. Siasat Lelaki Tampan

Dalam klsah "Pedang Keadilan" bagian pertama dikisahkan bagaimana kawanan jago dunia persilatan dibuat kocar-kacir oleh kehebatan ilmu silat Seebun Giok- hiong, bahkan sebagian jago terpengaruh oleh ilmu hipnotis hingga takluk kepada jago wanita tersebut.

Beruntung sekali di saat terakhir muncul Pek Si-hiang menyelamatkan jiwa mereka, bahkan berhasil Seebun Giok-hiong untuk berjanji tak akan mengganggu para jago dalam tiga bulan mendatang.

Untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi Seebun Giok-hiong tiga bulan kemudian, di mana jago perempuan itu telah mengancam akan menumpas mereka semua, para jago telah berpamitan kepada ketua Hian-thian-kau dan ciu Huang sekalian untuk kembali ke perguruan masing-masing guna mempersiapkan diri,

Dalam waktu singkat, hampir sebaglan besar jago-jago silat itu telah pergi meninggalkan kompleks pekuburan Liat-hu-bong. Yang tersisa dalam ruangan saat itu tinggal ciu Huang, Li Bun-yang, ketua Hian-hong-kau, kakek bermata satu serta Hongpo Tiang-hong ayah beranak tujuh Orang.

Setelah suasana hening beberapa saat lamanya, ketua Hian-hong-kau berpaling kearah kakek bermata satu itu sekejap, lalu tanyanya pelahan: "Bagaimana menurut pendapat locianpwe?"

Agak gelagapan kakek bermata satu itu menghadapi pertanyaan yang disampaikan secara mendadak itu, setelah tertegun sesaat ia balik bertanya: " Kaucu, apa maksud pertanyaanmu itu?"

"selama ini locianpwe lebih suka hidup menyendiri, jadi aku ingin tahu bagaimana keputusan cianpwe dalam masalah ini, bersediakah kau melibatkan diri dalam pertikaian dunia persilatan ini?"

setelah termenung cukup lama, jawab kakek bermata satu itu: "Sisa hidupku sudah tidak banyak, lagipula sudah lama aku segan mencampuri urusan dunia persilatan. selama ini aku mengikuti kaucu karena aku mendapat titipan hingga terpaksa harus memenuhi janji tersebut, jadi bila kaucu bersedia membebaskan diriku, aku akan sangat berterima kasih." "Sesungguhnya tidak baik kupaksakan kehendakku atas diri cianpwe, tapi berhubung masalah ini mempunyai akibat yang luar biasa, lagipula meski kita tidak mencari Seebun Giok hiong, perempuan itu pun tak akan membebaskan kita. Demi keutuhan perkumpulan Hian- hong-kau, tidak seharusnya locianpwe mencuci tangan dalam persoalan ini."

"Kecerdikan kaucu sangat menonjol, kemunculanmu sudah cukup memenuhi harapan para jago, apalah artinya kekuatanku satu orang?"

Ciu Huang yang selama ini duduk mengatur napas tiba-tiba membuka matanya, lalu sambil berdiri ia menegur: "Siang Lam-ciau ..."

Gemetar keras tubuh kakek bermata satu itu, tapi dengan penuh amarah teriaknya: "siapa yang kau sebut siang Lam-ciau?"

"Ha ha ha... inilah yang disebut belum digebuk sudah mengaku sendiri. Dalam ruangan ini toh tak ada orang lain yang bernama siang Lam-ciau, kenapa saudara siang mesti marah?"

Kakek bermata satu itu tertegun, akhirnya ia menghela napas sedih, "Betul, aku memang siang Lam- ciau" katanya.

Ciu Huan tertawa terbahak-bahak. dengan langkah lebar ia menghampiri kakek itu dan ujarnya lagi: "Ketika tersiar berita kematianmu dalam dunia persilatan, aku sudah tahu bahwa kau tak bakal mati. Wajahmu menunjukkan bahwa usiamu panjang, mungkin kematianmu malah jauh di belakang aku si manusia Ciu." "Aaaai.. siang Lam-ciau sudah lama mati, yang tersisa sekarang hanya sesosok tubuh yang tua renta."

"Bukankah kau masih hidup segar bugar?" kata Ciu Huan tertawa, setelah berhenti sejenak. sambungnya: "Meskipun matamu buta sebelah, namun kebutaanmu tidak mengubah sama sekali raut wajahmu. sejak bertemu denganmU pertama kali tadi aku sudah bisa mengenalimu. "

sekilas perasaan sedih bercampur murung menyelimuti wajah siang Lam-ciau yang penuh keriput, pelan-pelan ujarnya: "Selama banyak tahun terakhir aku hidup menyendiri, putus hubungan dengan semua rekan lama, sungguh tak nyana puluhan tahun kemudian saudara Ciu masih bisa mengenali diriku."

"Sekalipun saudara Siang hidup menyendiri dan putus hubungan dengan sobat-sobat lama, namun nama besarmu masih sering muncul dalam dunia persilatan."

"Yaa, tentang hal ini akupun pernah mendengar." siang Lam-ciau manggut-manggut.

"Gara-gara ingin melacak kejadian ini, aku sudah membuang waktu selama berbulan-bulan lamanya ..."

"Kau berhasil melacak orang yang mencatut namaku itu?"

"Tidak, ia berilmu silat sangat tinggi, jejaknya sukar dilacak, suatu malam aku berhasil mengikutinya hampir semalaman, bahkan berhasil adu kekuatan dengannya, tapi pada akhirnya ia toh berhasil meloloskan diri.."

sesudah mendeham beberapa kali, lanjutnya: "Terus terang saja aku bilang, ketika itu aku sudah menganggap bahwa orang tersebut benar-benar adalah saudara siang pribadi, oleh sebab itu aku tidak berusaha untuk melacaknya lebih jauh."

"sayang sekali selama beberapa tahun aku terbelenggu oleh suatu masalah," kata siang Lam-ciau dengan kening berkerut, "Sehingga aku tak sempat menyisihkan sedikit waktu untuk menyelidiki persoalan itu."

Ciu Huan tertawa. "Sepak terang saudara siang selalu aneh dan sukar diduga, kemampuanmu untuk meramalkan kejadian besar yang bakal terjadi dalam dunia persilatan termasuk juga suatu pekerjaan besar yang amat bermanfaat bagi umat persilatan ..."

"Aku bersumpah orang itu bukan diriku pribadi" tegas siang Lam-ciau dengan wajah serius.

" orang itu benar-benar bukan saudara siang?" Ciu Huan termangu-mangu.

"Bukan"

"Kalau begitu aneh sekali, kecuali saudara siang siapa lagi yang sanggup memukul mundur diriku hingga terlempar sejauh dua langkah?"

"Aku tahu siapa orang itu" sela ketua Hian-hong-kau tiba-tiba.

"siapa?"

"Seebun Giok-hiong"

"Seebun Giok-hiong? Yaa betul, pasti dia..." seru Ciu Huan seolah-olah baru sadar ia mengalihkan pandangan matanya ke wajah siang Lam-ciau kemudian lanjutnya: " Waktu itu aku benar-benar mengira orang tersebut adalah saudara siang, bahkan memanggil-manggil namamu, Namun orang itu tidak menggubris bahkan mempercepat langkahnya untuk berlalu."

Berkilat mata tunggal siang Lam-ciau, ia seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi niat tersebut kemudian diurungkan

Kembali ketua Hian-hong-kau berkata: " orang itu sengaja mencatut nama siang lo-enghiong, tujuannya tak lain adalah ingin meminjam ketenaran dan kewibawaan siang loenghiong untuk menyampaikan pesan dan tujuannya apalagi apa yang ia siarkan kemudian terbukti menjadi suatu kenyataan selain see-bun Giok-hiong, siapa lagi yang memiliki kemampuan seperti ini?"

"Tampaknya generasi muda sudah saatnya menggantikan generasi tua. Kecerdasan maupun ilmu silat yang dimiliki Seebun Giok-hiong, semua jauh di atas kemampuan kita semua. Aku lihat cuma kaucu seorang yang mampu mengimbangi kecerdasan otaknya, Kaucu, bagaimana kalau kau yang memimpin kita semua dalam menghadapi peristiwa besar ini?"

"Nama serta wibawa Ciu tayhiap jauh di atas kemampuanku, kalau ingin mencari pemimpin, sepantasnya kaulah yang memangku jabatan tersebut..."

"Tidak bisa, tidak bisa . , ." Ciu Huan goyangkan tangannya berulang kali. "Dalam beradu otak jelas aku kalah jauh, bila kaucu bersedia memangku jabatan itu, aku pasti akan membantumu dengan sepenuh tenaga"

"Ucapan ciu tayhiap sangat tepat" sambung Hongpo Tiang-hong pula, " Harap kaucu tidak menampik lagi." Ketua Hian-hong-kau berpikir sebentar, lalu ujarnya: " Kalau kita bisa menemukan tuan Pek..."

Tiba-tiba terlihat bayangan manusia berkelebat lewat, seorang pemuda tampan berbaju serba hijau telah muncul di tengah ruangan, Berdebar jantung ketua Hian- hong-kau setelah melihat jelas siapa yang muncul, teriaknya tertahan: "Lim ..."

Tapi ia segera sadar kalau salah bicara, buru-buru mulutnya dibungkam kembali. Kebanyakan mereka yang masih tertinggal dalam ruangan ini kenal dengan si pendatang tersebut orang itu tak lain adalah Lim Han- kim.

Cepat-cepat Hongpo Lan maju menghampiri menggenggam tangannya dan menegur: "saudara Lim, baik-baikkah kau?"

"Aku baik sekali, terima kasih atas perhatian saudara Hongpo," jawab Lim Han-kim cepat.

"Apakah tadi saudara Lim juga hadir di sini?"

"Yaa, aku membaurkan diri dalam kerumunan orang banyak. jadi semua peristiwa yang berlangsung di sini dapat kuikuti dengan jelas sekali,"

"Apakah kau selalu bersama dengan orang she-Pek itu?" sela ketua Hian-hong-kau tiba-tiba.

"Benar," jawab Lim Han-kim tertegun, "Li..."

Ketua Hian-hong-kau mendeham berat memotong ucapan Lim Han-kim yang belum selesai, selanya: "sebetulnya orang dari marga Pek itu seorang pria atau wanita?" Mendadak terdengar seseorang tertawa terkekeh- kekeh, sambungnya: "sebetulnya apa maksud kaucu begitu menaruh perhatian kepadaku?"

Ketika para jago berpaling, terlihat seorang pemuda berbaju hijau dengan bersandar pada bahu seorang kacung kecil pelan-pelan berjalan masuk ke dalam tenda.

Dengan langkah lebar ketua Hian-hong-kau menyambut kedatangannya seraya berseru: "Terima kasih banyak kami ucapkan atas bantuan dari saudara..."

ia berhenti sejenak. lalu terusnya: "Aku tidak tahu mesti memanggil saudara atau nona kepadamu?"

"Terserah mau panggil apa sajalah" jawab orang itu tertawa,

"Terima kasih banyak atas bantuan tuan Pek yang menyelamatkan kami semua dari mara bahaya, kami merasa sangat berhutang budi..."

" Kalian tak perlu berterima kasih kepadaku kalau harus berterima kasih, bersyukurlah pada nasib kalian sendiri yang baik sehingga tidak sampai terkubur di tempat ini."

"Tampaknya tuan Pek sudah mempunyai perhitungan yang masak hingga sekali gebrakan berhasil menaklukkan Seebun Giok-hiong." Kembali orang berbaju hijau itu tertawa.

"Aku tak suka mengibul, sesungguhnya kemenanganku diraih karena keberuntunganku saja, sedang kekalahan Seebun Giok-hiong adalah kekalahan yang tragis, seandainya dia tidak kelewat sombong sehingga persiapannya jadi agak kedodoran, mustahil ia bakal menderita kekalahan total..."

setelah melirik Lim Han-kim sekejap. terusnya: "Padahal seharusnya kalian berterima kasih kepada saudara Lim ini. Kalau dia tidak membantu secara diam- diam, mungkin tubuh kalian sudah tinggal abu sekarang,"

Ciu Huan tertawa terbahak-bahak, "Ha ha ha.. ayah harimau tak bakal beranak anjing, Nak. sejak kemunculanmu dalam dunia persilatan banyak kejadian besar yang menggemparkan telah kau lakukan.

Keberhasilanmu ini cukup membuat arwah ayahmu tenang dialam baka ..." Mendadak ia merasa telah salah bicara, buru-buru mulutnya ditutup kembali.

Paras muka Lim Han-kim nampak berubah hebat menahan gejolak emosi, namun akhirnya ia berhasil juga mengendalikan diri, katanya pelan: "sebetulnya aku tidak pantas peroleh pahala itu, sebab aku tak lebih hanya menjalankan perintah orang."

"Perintah siapa?"

"Nona Pek" jawab Lim Han-kim sambil memandang orang berbaju hijau itu sekejap.

orang berbaju hijau itu segera berteriak keras sambil tertawa: "Bagus sekali, akhirnya kau bongkar juga rahasia identitasku"

"sekalipun tidak ia katakan, sesungguhnya kami semua pun sudah tahu," sela ketua Hian-hong-kau. " Hanya saja lantaran nona Pek telah selamatkan jiwa kami semua, maka kami merasa tidak leluasa untuk membongkar rahasiamu itu." "Jika aku tidak mengaku, paling tidak di hati kecilmu masih setengah percaya setengah tidak. kau bakal menipu diri sendiri dengan membayangkan aku sebagai seorang pria."

Untung wajah ketua Hian-hong-kau bercadar hitam sehingga tidak nampak mimik mukanya, namun begitu kepalanya tertunduk juga dan mulutnya terbungkam dalam seribu bahasa.

orang berbaju hijau itu tertawa tergelak, kepada Ciu Huan katanya lagi: "Ciu tayhiap. ular tanpa kepala tak akan jalan, burung tanpa sayap tak bakal terbang, Tiga bulan adalah masa yang singkat Kalau kalian ingin menghadapi pemilik bunga bwee, maka cepatlah angkat seseorang menjadi pemimpin kalian, mungkin dengan cara persatuan tersebut kalian masih mampu menandingi musuh."

"Bila nona Pek bersedia menjabat kedudukan tersebut, keadaan tentu lebih menguntungkan" serobot ketua

Hian-hong-kau cepat

"Sekalipun aku berniat begitu, sayang kekuatanku tak mampu untuk memenuhinya."

"Nona Pek tak usah menampik lagi..." seru Ciu Huan pula,

orang berbaju hijau itu gelengkan kepalanya berulang kali, katanya: "Aku berbicara dengan sejujurnya, Kalau kurang percaya, tanyakan saja kepada dia"

Tiba-tiba di hati kecil ketua Hian-hong-kau muncul perasaan kecut bercampur getir, meski sudah tahu siapa yang dimaksud, ia pura-pura bertanya juga: "siapa sih dia?"

"Lim Han-kim Kau tak perlu menaruh perasaan macam-macam kepadaku. Kalau hendak menaruh pcrhatian awasi saja Seebun Giok-hiong"

Lim Han-kim segera merasakan wajahnya merah bercampur panas, agak tersipu-sipu serunya: "Apa yang diucapkan nona Pek benar Tubuhnya kelewat lemah, susah baginya untuk memangku jabatan penting itu"

"Kalau bicara soal pamor, ciu Huan pantas menduduki jabatan ini" sambung orang berbaju hijau itu.

"Aku tidak mampu, tidak mungkin aku sanggup memikul tanggung jawab ini" seru Ciu Huan buru-buru.

"Ehmmm, rupanya kau cukup tahu diri .." orang berbaju hijau itu tersenyum, "Kalau bicara soal kecerdasan otak. semestinya ketua Hian-hong-kau yang lebih cocok"

Walaupun wajah ketua Hian-hong-kau tertutup oleh kain cadar hingga tidak tampak perubahannya tapi perkataan dari orang berbaju hijau tadi tepat menghujam lubuk hatinya, Meski orang lain tidak melihat namun saat ini dia sudah dibuat tersipu-sipu hingga tak sanggup mendongakkan kepalanya, jadi ia sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan orang berbaju hijau barusan.

"Apabila nona Pek tidak bersedia memangku jabatan sebagai ketua persekutuan, maka ketua Hian-hong-kau yang paling pantas menduduki jabatan ini," kata Ciu Huang. "Yang menjadi masalah adalah di bawah kepimpinannya, bersediakah para jago menuruti perintahnya."

"Aku bersedia membantu dengan sepenuh tenaga" seru Ciu Huang memberikan dukungannya.

"Kendatipun pamormu cukup hebat dalam dunia persilatan, aku kuatir belum tentu para jago yang menganggap diri dari aliran lurus itu bersedia menuruti perkataanmu misalnya sembilan partai besar dari dunia persilatan tidak bersedia memberikan dukungannya kepadamu, dengan mengerahkan segenap kemampuan pun kau tetap tak akan mampu menghadapi Seebun Giok-hiong."

"Dari pihak siau-Iim-si sudah ada Coat-pin taysu yang pulang untuk memberi laporan kepada ketua partainya, Aku rasa si hwesio tua itu tak bakal berpeluk tangan belaka."

orang berbaju hijau itu termenung berpikir sebentar, katanya kemudian sambil tertawa: "Aku punya satu permintaan, bersediakah kalian untuk mengabulkan?"

"Katakansaja nona, kami pasti akan berusaha untuk memenuhi permintaanmu itu"

"Aku ingin bicara empat mata dengan ketua Hian- hong-kau, bagaimana jika kalian meninggalkan dulu tempat ini sementara waktu?"

Ciu Huan berpikir sebentar, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia beranjak keluar dari tenda dengan langkah lebar, siang Lam-ciau, Hongpo Tiang-hong, Li Bun- yang serta Hongpo Lan sekalian segera menyusul di belakang ciu Huan ikut beranjak keluar,

Baru saja Lim Han-kim siap ikut keluar dari situ, orang berbaju hijau itu telah menarik tangannya seraya berseru: "Kau harus tetap tinggal di sini"

Terpaksa Lim Han-kim menurut dan duduk kembali, Menunggu sampai semua jago sudah meninggalkan tempat itu, orang berbaju hijau itu baru menghampiri ketua Hian-hong-kau ambil katanya: "Aku mesti turun tangan atau kau yang melepaskan sendiri cadar mukamu itu?"

Pelan-pelan ketua Hian-hong-kau melepaskan kain cadar mukanya sehingga terlihatlah raut wajahnya yang cantik jelita.

setelah memperhatikan sekejap, sambil tertawa orang berbaju hijau itu berkata: "sangat cantik, kecantikanmu tidak berada di bawah Seebun Giok-hiong. Kau kalah dalam kegenitan dan kematangan, tapi menang dalam kelembutan serta kehalusan Namun kalau bicara soal cinta asmara, mungkin kau bakal kalah saingan."

"Aku lihat umurmu hampir sebanding dengan usiaku, kenapa bicaramu sok tua?"

"Kalau dilihat pada usiaku yang sudah hampir berakhir, paling tidak aku memang lebih matang ketimbang kau..." ucap orang berbaju hijau itu.

setelah berhenti sejenak, ia tarik kembali senyumannya. Dengan wajah serius terusnya: "Apakah kau menganggap aku sedang bergurau denganmu?" "Kau selalu menyinggung soal jodoh, gaya-mu tak berbeda dengan gaya mak comblang, kenapa? ini pun kau anggap sebagai masalah serius?"

"Ehmmm... lidahmu lebih tajam dari tombak, ucapanmu lebih mematikan daripada golok. Tampaknya dalam soal silat lidah kau masih sanggup menandingi Seebun Giok-hiong."

"Apabila kau berniat melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan dan selamatkan umat manusia dari tragedi berdarah, semestinya jangan kau lepaskan harimau ganas pulang ke gunung dengan membiarkan Seebun Giok-hiong pergi dari sini, Lain waktu dia akan muncul kembali sebagai ancaman besar jago-jago silat sebaliknya bila kau berniat menolong mereka dari kematian, tampillah ke depan memimpin semua jago dan bertarung habis-habisan melawan iblis wanita itu"

"Kau sudah selesai bicara?"

"sudah, sekarang aku siap mendengarkan penjelasanmu." .

Dengan wajah bersungguh-sungguh orang berbaju hijau itu berkata: "Aku hanya secara kebetulan bertemu dengan kejadian ini. Bila mana dalam gebrakan pertama aku berhasil mengungguli Seebun Giok-hiong, terus terang saja hal ini disebabkan nasibku jauh lebih baik ketimbang dia. Kemenanganku hanya secara kebetulan saja bisa kuraih, sebaliknya ia kalah dengan penasaran sekali."

"Kata-katamu susah untuk dipercayai dengan begitu saja, Aku tahu keberhasilanmu mengungguli Seebun Giok-hiong bukan mengandalkan kecerdikan saja. Dalam hal ini, ilmu silat serta kecerdasan masing-masing mempunyai andil separuh"

"Baiklah, aku hendak beritahusatu hal lagi kepadamu, terserah mau percaya atau tidak, seandainya Seebun Giok-hiong tidak terlalu cerdik, mungkin aku sudah tewas di tangannya sejak tadi."

"Apa maksud perkataanmu itu? Aku semakin bingung

..." keluh ketua Hian-hong-kau tidak habis mengerti.

"Padaha kalau kujelaskan masalahnya sederhana sekali," kata orang berbaju hijau itu sambil tertawa. "sesungguhnya ia ketakutan karena gertakanku saja hingga tak berani turun tangan, mengerti kau sekarang?"

"Kau minta aku lepaskan cadar mukaku, apakah hal ini hanya disebabkan persoalan tersebut?"

" Kalau aku mesti bicara sejujurnya, sebetuinya kesempatanmu untuk mengungguli Seebun Giok-hiong kecil sekali..,"

"Aku mengerti," tukas ketua Hian-hong-kau. "Justru karena itukah maka kau mencalonkan aku menjadi pemimpin persekutuan ini, agar aku kalah di tangan Seebun Giok-hiong, sedang kau menjadi penonton yang baik untuk kemudian mentertawakan kebodohanku"

"Masalah ini menyangkut mati hidup dunia persilatan, menyangkut keselamatan jiwa beratus-ratus manusia, masa aku menganggapnya sebagai barang gurauan saja..." seru orang berbaju hijau itu.

setelah berhenti sejenak, ia memandang Lim Han-kim sekejap lalu melanjutkan "Justru karena itulah sebelum hujan kau mesti sedia payung dengan membuat persiapan yang cukup"

Ketua Hian-hong-kau termenung dan berpikir sejenak tiba-tiba ia maju ke muka memberi hormat sambil serunya: "Aku harap nona Pek sudi memberi petunjuk. persiapan apa yang sepantasnya kami lakukan?"

orang berbaju hijau itu tidak langsung menjawab, kepada Lim Han-kim katanya: "Tolong kau berjaga-jaga di luar, jangan biarkan siapa pun mendekat sampai radius tiga kaki dari kami."

Lim Han-kim menyahut dan beranjak keluar dengan langkah lebar. sambil membetulkan letak duduknya orang berbaju hijau itu berta-nya: "Kau kenal dengan Lim Han-kim?"

"Tentu saja kenal, tampaknya kau sangat memperhatikan dia?"

orang berbaju hijau itu mengerutkan dahinya. "Dia pernah menyelamatkan jiwaku, Aku sangat berhutang budi dan berniat membalas budi kebaikannya itu. Karena itulah aku berniat membantunya, agar ia ternama dan bisa menjagoi dunia persilatan."

"oooh, rupanya begitu"

sambil tertawa kembali orang berbaju hijau itu berkata: "Aku bernama Pek si-hiang, dan kau?"

"Li Tiong-hui"

"oooh, rupanya nona Li dari keluarga persilatan bukit Hong-san sejak pertama kali bertemu denganmu, aku sudah menduga bahwa kau bukan ketua Hian-hong-kau yang sebenarnya "

" Ketua Hian-hong-kau telah berpulang kealam baka. Atas kepercayaannya sebelum wafat dia menunjuk aku sebagai ahli warisnya, Aku tak tega menampik permintaan terakhirnya. Juga tak ingin menyaksikan partai Hian-hong-kau yang begitu besar terseret kealiran sesat oleh sebab itulah aku bersedia meneruskan kedudukannya sebagai ketua partai."

" itulah dia, seandainya aku jadi kau, aku pun tak akan menampik tawaran tersebut. Dengan menjadi ketua partai Hian-hong-kau, hal ini akan sangat membantu sepak terjangmu selanjutnya. Tapi bila kau hanya andalkan kekuatan Hian-hong-kau saja untuk menandingi Seebun Giok-hiong, mungkin kekuatanmu masih belum mampu untuk menandinginya."

"soal ini akupun tahu tapi jika ada kau, Pek si-hiang yang diam-diam membantu, keadaannya pasti akan jauh berbeda"

"Tampaknya kau sudah bisa meramalkan bahwa aku pasti akan membantumu ..." seru Pek si-hiang. setelah tersenyum, lanjutnya: "Tapi sayang dugaanmu kali ini meleset jauh."

Li Tiong-hui tahu, gadis itu sudah membawa pembicaraan ke soal yang sebenarnya, maka ia tidak menimbrung lagi bahkan menunjukkan sikap yang hormat untuk mengikuti perkataannya.

setelah menghela napas panjang Pek si-hiang bertanya: "Apa rencanamu untuk menghadapi Seebun Giok-hiong?" "Hingga kini aku masih belum punya rencana yang mantap."

"Tapi sejak awal Seebun Giok-hiong sudah mempunyai rencana besar untuk menjagal umat persilatan."

"Tapi dalam pertarungan besar yang berlangsung selama ini, ia telah menderita kekalahan secara total. Aku rasa seluruh rencananya pasti akan terpengaruh juga."

"Waktu selama tiga bulan sudah lebih dari cukup bagi Seebun Giok-hiong untuk menghimpun dan mengatur kekuatannya kembali. Aku menduga begitu ia bergerak. maka pembantaian besar-besaran pasti akan dilakukan lebih dulu sehingga dalam satu gebrakan saja peristiwa tersebut telah menggemparkan dunia persilatan. Bila kau ingin mencegah perbuatannya maka kau harus memahami dulu arah sasarannya."

"Aku tak habis mengerti, dengan cara apa kita bisa selidiki sepak terjang Seebun Giok-hiong?"

Pek si-hiang tertawa, "Jika kau tak keberatan membiarkan Lim Han-kim menyerempet bahaya seorang diri, aku sih punya sebuah akal yang bisa membuatnya menyelundup masuk dalam perguruan bunga bwee."

Kontan Li Tiong-hui merasakan pipinya jadi panas lantaran jengah, serunya cepat-cepat: "Nona Pek tak usah menyindir atau menggoda aku, sesungguhnya antara aku dengan Lim Han-kim tak punya hubungan apa-apa Kami pun baru bertemu beberapa kali, dia adalah sahabat karib kakakku"

Kembali Pek si-hiang tertawa, "Bila kau benar-benar mencintainya, mari kita memainkan sebuah sandiwara, sebaliknya bila kau tidak mencintainya maka kau harus berperan sebaik mungkin hingga orang lain menganggap kau benar-benar sangat mencintai pemuda itu."

"Aku tidak mengerti, apa sangkut pautnya hal tersebut dengan Seebun Giok-hiong?"

"Seebun Giok-hiong adalah seorang gadis yang tak mau kalah terhadap siapa pun. Bila kita bersikap amat mesra terhadap Lim Han-kim, maka sikap kita ini tentu akan menarik perhatiannya ... "

"Tapi apa hubungannya dengan Seebun Giok-hiong?" "Dengan watak Seebun Giok-hiong yang ingin menang

sendiri, ia tentu akan berusaha menculik Lim Han-kim. Betul ia belum tentu benar-benar mencintai Lim Han-kim, tapi ia pasti akan berusaha agar kita berdua patah hati dan bersedih hati karena kehilangan kekasih."

"Waah... dari dulu sampai sekarang, orang hanya tahu menggunakan siasat wanita cantik, rasanya belum pernah kudengar ada orang menggunakan siasat lelaki tampan?" seru Li Tiong-hui sambil tertawa.

Pek si-hiang ikut tertawa, "Bila kau menganggap setelah Lim Han-kim diculik pergi maka dia akan melewati kehidupan yang senang dan gembira, maka pendapatmu itu keliru besar sekali."

"Kenapa?"

"Bagi seseorang yang berlatih ilmu yoga tingkat tinggi, terlebih dulu ia harus melatih diri menjadi seseorang yang dingin, kaku dan sama sekali tak berperasaan.

Tubuhnya yang indah dan senyumannya yang genit merangsang sebetuinya hanya bisa dipandang tidak bisa dinikmati..."

Ia tertunduk dengan wajah tersipu-sipu, setelah berhenti sejenak lanjutnya lirih: "Itu berarti ia mesti menjaga ketat keperawanan diri-nya, kalau tidak maka daya pengaruh ilmu hipnotisnya akan punah sama sekali."

"Tampaknya nona Pek sangat menguasai kepandaian tersebut."

"Tidak. aku hanya mengerti tapi belum pernah belajar..." setelah tersenyum, lanjutnya: "Misalnya ia tidak mencintai Lim Han-kim, yaa tidak apa-apa, tapi andaikata ia benar-benar terpikat hingga jatuh cinta kepadanya, akibat dari sikapnya itu tentu cukup untuk menyiksa dirinya."

"Aku tetap masih belum mengerti."

"Sebagian besar anak buah Seebun Giok-hiong mau tunduk dan jual nyawa kepadanya hal ini disebabkan lantaran mereka sudah dikuasai ilmu hipnotisnya. Apa bila daya kemampuan ilmu hipnotisnya tiba-tiba punah, otomatis anak buah Seebun Giok-hiong yang dikendalikan akan menjadi sadar kembali, pemberontak akan pasti tak bisa dihindari lagi, jadi aku percaya Seebun Giok-hiong tentu akan mempertimbangkan masalah tersebut dan tidak sampai berani menyerempet bahaya ini."

"Lalu apa hubungannya dengan Lim Han-kim?"

"Di sinilah cinta akan memakan korbannya, Apa bila Seebun Giok-hiong benar-benar mencintai Lim Han-kim, tapi tak bisa mempersembahkan tubuhnya sebagai pelampiasan rasa cintanya, maka rasa senang dan cinta kasihnya itu akan berubah jadi rasa benci yang mendalam. Dia pasti akan berusaha untuk menyiksa-nya habis-habisan." sambil menghela napas Li Tiong-hui manggut-manggut,

"Benar juga perkataan ini."

"Oleh sebab itulah aku harus bertanya dulu kepadamu, keberatan tidak bila dia pergi menyerempet bahaya?"

Li Tiong-hui termenung sambil berpikir sejenak. kemudian katanya: "Kenapa harus ditanyakan kepadaku? Kenapa tidak langsung bertanya saja kepadanya?"

Pek si-hiang tertawa. "Kau harus bersedia mencintainya lebih dulu baru rencana ini bisa dilaksanakan. Bila kau sudah muaknya setengah mati begitu bertemu dengannya, mau berlagak mesra kepadanya pun jelas tak mungkin bisa kau lakukan."

"Bagaimana dengan kau sendiri?" Li Tiong-hui balik bertanya sambil tertawa.

"Dia sudah tahu kalau umurku paling banter tinggal tiga bulan lagi, sekali pun aku tak usah berlagak. secara otomatis hal ini akan muncul dengan scndirinya."

sekalipun di hati kecilnya Li Tiong-hui sudah menaruh bibit cinta kepada Lim Han-kim, namun urusan semacam ini tentu saja tak bisa diucapkan secara terus terang jadi untuk berapa saat ia tak tahu apa yang mesti dikatakan

"sekali lagi aku tegaskan, aku hanya mengatur segala sesuatunya ini demi kepentinganmu, mau dituruti atau tidak terserah keputusanmu sendiri jangan kau anggap aku hanya iseng mengajakmu bergurau saja." selesai berkata Pek si-hiang bangkit berdiri dan beranjak keluar dari situ.

"Nona Pek.jangan pergi dulu, mari kita lanjutkan pembicaraan," seru Li Tiong-hui cepat.

Pek si-hiang berpaling, sahutnya: "Jika kau mau menuruti perkataanku, kita masih bisa melanjutkan pembicaraan tapi kalau menolak, tak ada yang perlu dibicarakan lagi di antara kita berdua."

"Mau beli barang pun harus ditawar dulu masa aku tak boleh menentukan harga tawar?"

"oooh, jadi kau ingin bicara soal dagang denganku?

Baiklah, kau boleh ajukan penawaranmu"

"Kita tak perlu bergurau lagi, mari kita bicara serius" " Kalau begitu kau harus menyanggupi dulu untuk

mencintai Lim Han-kim, kemudian kita baru lanjutkan pembicaraan"

"Baiklah, aku setuju Tapi kau harus membujuk Lim Han-kim lebih dulu, sebab meski aku setuju, bila ia tidak setuju, bukankah usaha kita bakal sia-sia belaka?"

"Betul" kata Pek si-hiang sambil mengerutkan dahi, "Agaknya Lim Han-kim mempunyai masalah yang sangat berat, keseriusan dan kemurungannya jauh melampaui taraf usianya."

"Dengan cara apa kau hendak membujuknya?"

"Cara terbaik adalah kau bisa memintal sebuah jaring cinta yang penuh kelembutan sehingga ia terperosok sendiri ke dalam perangkapmu." "Coba kau lihat sikapnya yang begitu kaku dan dingin, aku betul-betul tidak mempunyai keyakinan untuk bisa menundUkkan dirinya."

"Kalau begitu kita gunakan siasat kedua." "Bagaimana dengan siasat kedua itu?"

"Panggil dia lalu kita beberkan secara terus terang rencana yang kita susun, minta kepadanya untuk ikut berperan dalam sandiwara ini."

"Kalau ada siasat kedua tentu ada siasat terakhir, apa itu siasatmu yang ketiga?"

"Siasatku yang terakhir paling sederhana. Kuajarkan sejenis ilmu aneh kepadamu, lalu kau pengaruhi kesadarannya agar mau melakukan semua perintah yang kau ucapkan."

Li Tiong-hui segera menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya: "cara terakhir kelewat gampang sedang cara pertama amat susah, lebih baik kita gunakan cara kedua"

"Ehmmm, sebetulnya aku pun berpendapat demikian..." kata Pek si-hiang, lalu setelah berhenti sejenak katanya lagi sambil tertawa: "Bagaimana kalau kupanggil dia kemari ?"

"Tunggu, lebih baik aku menyingkir lebih dulu." "Kalau begitu tolong kau gantikan posisinya dengan

berjaga-jaga di luar sana."

Li Tiong-hui mengenakan kembali cadar mukanya dan beranjak keluar untuk memanggil Lim Han-kim. "Lim siangkong" Pek si-hiang ikut berteriak pula sambil menggapai "Kemarilah sebentar, ada persoalan yang hendak kubicarakan denganmu"

Lim Han-kim muncul dengan langkah lebar, tanyanya seraya menjura: "Ada urusan apa nona Pek?"

"Aku sudah hampir mati, kenapa sih kau tetap bersikap begitu kaku kepadaku?"

Lim Han-kim berpikir sebentar, laIu jawabnya: "Demi menyelamatkan dunia persilatan dari musibah besar nona Pek bersedia mengorbankan sisa waktumu yang berharga untuk mencampuri urusan ini, tindakan semacam ini patut dikagumi dan dihormati."

"Sekarang memang masih ada aku yang mampu menundukkan Seebun Giok-hiong, tapi begitu aku mati, ia toh tetap bisa menciptakan pembunuhan besar- besaran dalam dunia persilatan Kalau sampai terjadi begini, apapula yang hendak kau perbuat?"

"Soal ini . . . aku sadar kemampuanku tak cukup untuk mengatasinya, yaa... apa lagi yang bisa diperbuat?"

"Seandainya kau mampu untuk selamatkan dunia persilatan dari musibah ini, bersediakah kau untuk melakukannya dengan sepenuh hati?"

"Tentu saja, aku akan berjuang dengan sekuat tenaga, biar harus mati pun tak akan menyesal"

Pek si-hiang segera tertawa, "Bicara soal ilmu silat, jelas kau bukan tandingannya, Dalam soal kepintaran kaupun tak sebanding dengannya, bagaimana caramU dapat mengungguli dirinya?" "itulah sebabnya aku mohon petunjuk nona." "Aku takut kau enggan menuruti perkataanku ..."

"Asalkan pengorbananku bisa menyelamatkan umat persilatan dari kematian, biar tubuh harus hancurpun aku tak sayang."

"Lim Han-kim, kau harus pikirkan kembali ucapanmu secara cermat dan seksama. Ketahuilah perkataan seorang lelaki sejati lebih berat daripada bukit karang, kau jangan menganggapnya sebagai barang mainan."

"Silakan nona Pek memberi petunjuk."

"Aku ingin kau seorang diri menerjang masuk ke dalam barisan wanita cantik, Dengan membaurkan diri ke dalam tubuh musuh, kau dipersiapkan untuk membantu serangan kami dari luar, berani tidak kau melakukannya?"

"Barisan wanita cantik?" seru Lim Han-kim tidak habis mengerti

"Yaa, barisan wanita cantik, Barisan itu mempunyai perubahan yang tiada taranya. Kalau bukan seorang pendekar sejati yang pintar, pemberani dan gagah, tak mungkin ia mampu menghadapinya."

"Dari tujuh puluh dua macam barisan yang hapal di luar kepala, rasanya belum pernah kudengar nama barisan wanita cantik?"

"Aku hanya tanya, berani tidak kau melakukannya?" desak Pek si-hiang sambil tersenyum

"Aku tidak begitu paham dengan maksud-mu, bagaimana caraku menembus barisan tersebut?" "Asal kau punya keberanian untuk menembusnya, tentu akan kuberi petunjuk bagaimana cara untuk memasukinya."

"Baiklah, aku bersedia untuk mencoba"

Pek si-hiang segera tertawa terkekeh-kekeh, "Barisan pertama di jaga oleh nona Li dari keluarga persilatan bukit Hong-san, kau coba dulu dapatkah menembus penjagaannya."

seperti baru paham apa yang dimaksudkan Lim Han- kim segera berseru: "Nona Pek, rupanya kau sedang bergurau"

"siapa bilang aku sedang bergurau? Uruan ini betul- betul serius" kata Pek si-hiang sambil menarik kembali wajah senyumannya.

Melihat gadis itu bicara bersungguh-sungguh, Lim Han-kim jadi tertegun, "Nona Pek," katanya kemudian, "Bagaimana sih bentuk barisan wanita cantik itu?

Bersediakah nona untuk menjelaskan?"

"Wajahnya cantik seperti bunga ma war, kulitnya putih seperti saiju, pinggangnya ramping seperti ranting pohon Liu, langkahnya lemah gemulai, senyumannya cukup menghanyutkan hati kaum pria ..."

"Maksud nona ..." tukas Lim Han-kim. "Li Tiong-hui, apakah dia kurang cantik?"

"Nona, sebenarnya pengorbanan macam apa yang harus kulakukan?" seru Lim Han-kim dengan kening berkerut. "Coba buktikan apakah kelembutan dan kecantikan Li Tiong-hui dapat memancing seekor ikan macam kau"

"Aku yakin diriku tak akan sampai terpikat oleh kecantikan wajah seseorang, kendatipun Seebun Giok- hiong genit dan jalang, namun aku yakin tak bakal berlutut di bawah telapak kakinya."

"Woouw . . . sesumbar amat ucapanmu" seru Pek si- hiang.

"Apakah nona Pek tidak percaya?" Mendadak sepasang mata Pek si-hiang berbinar-binar, wajahnya yang pucat pun berubah jadi semu merah, katanya lembut: "Andaikata Seebun Giok-hiong diganti dengan aku, bagaimana sikapmu?"

"Kalau soal ini... soal ini... aku tidak bisa menjawab," sahut Lim Han-kim termangU,

"Kalau Li Tiong-hui?"

"Nona Li amat cerdik dan berjiwa besar, dia termasuk seorang pendekar wanita sejati, aku menaruh rasa kagum dan hormat kepadanya."

"Ehmmm, dari hormat tumbuh rasa cinta, kejadian semacam ini memang lumrah di dunia ini" seru Pek si- hiang sambil tertawa,

"Sebenarnya nona Pek hendak aku sumbang tenaga dengan cara bagaimana. Harap kau menjelaskan aku siap mendengarkan."

Dengan ujung bajunya Pek Si-hiang menyeka peluh yang membasahi jidatnya, kemudian katanya pelan: "Kau tentu sudah tahu akan kekejaman serta kebuasan Seebun Giok-hiong bukan. Bila ia benar-benar melancarkan pembantaian maka tak sulit baginya untuk menciptakan suatu tragedi berdarah yang amat mengerikan."

"Aku memahami maksudmu."

"llmu silat yang dimilikinya sangat hebat Dalam dunia persilatan dewasa ini sulit rasanya untuk menemukan orang yang bisa menandingi kehebatannya, apa lagi bila ia bersembunyi di tempat gelap. bisa datang pergi semaunya sendiri tanpa bisa diduga, Meskipun seluruh jago silat dari dunia persilatan bersatu padu, aku rasa sulit untuk menundukkan Seebun Giok-hiong ini, jadi satu-satunya cara untuk menangkalnya adalah kita harus mengetahui terlebih dulu segala sepak terjangnya hingga bisa membuat persiapan lebih dulu sebelum pertarungan betul- betul terjadi. "

"Bila kita ingin mengetahui sepak terjangnya sebelum dilakukan, kita harus utus seseorang untuk menyusup masuk dan membaur dengan mereka."

"Betul, dan pilihan kita jatuh pada dirimU." "Aku?"

"Betul, kau"

"Aku sama sekali tidak kenal dengan pemilik bunga bwee, bagaimana caraku untuk menyusup masuk?"

"itulah sebabnya kita harus membuat Seebun Giok- hiong yang menculikmu pergi" Lim Han-kim termenung sambil berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ia baru berkata: "Maafkan kebodohanku, aku merasa agak kurang mengerti." "lnilah yang dinamakan siasat lelaki tampan." "Dari dulu hingga sekarang yang ada cuma siasat

wanita cantik, mana ada siasat lelaki tampan? Aku Lim

Han-kim adalah seorang lelaki sejati, masa aku harus berbuat begitu?"

"Jangan lupa kau sudah menyanggupi untuk melaksanakan tugas ini asal umat persilatan bisa lolos dari musibah ini, kenapa kau tidak mau berkorban demi kesejahteraan orang banyak?"

Untuk sesaat Lim Han-kim jadi tertegun "Baiklah," katanya kemudian, "Aku Lim Han-kim

bersedia menjadi ujung tombak demi kepentingan orang banyak"

" Kalau ingin mengandalkan ilmu silat, kau tak bakal mampu menahan sepuluh jurus serangan Seebun Giok- hiong."

"sekalipun harus mandi darah, aku mati dengan perasaan rela."

"ltu pikiran orang kasar yang tak berotak, Kau anggap kematian semacam itu bisa menyelamatkan umat persilatan dari tragedi? Jika pengorbananmu sia-sia belaka, lantas apa gunanya? Bukankah kematian semacam itu merupakan kematian konyol?"

Lim Han-kim jadi gelagapan setengah mati menghadapi semprotan yang pedas dari gadis tersebut, untuk beberapa saat ia terbungkam dan tak tahu apa yang mesti diperbuatnya. Kembali Pek si-hiang berkata dengan suara dingin: "Aku toh sejak dulu sudah peringatkan kepadamu, dalam masalah apapun pikir dulu sebelum bicara,jangan menjanjikan sesuatu terlalu cepat, tapi kau berlagak sok hebat, sok gagah, belum dipikir sudah disanggupi dulu, nah sekarang merasa agak menyesal bukan?"

"Aku bukan manusia yang takut mati," sahut Lim Han- kim sambil menghela napas.

"Sudah, tak usah beralasan lagi, sekarang jawab saja singkat, mau atau tidak?"

"Mau apa?"

"Berperan sebagai kekasih Li Tiong-hui?"

"Dengan bertindak begitu belum tentu Seebun Giok- hiong akan terpancing perhatian nya."

"itu tergantung bagaimana nasibmu, akankah dia menangkap dirimu, Hal ini merupakan suatu taruhan yang aneh, akibat dari menang kalahnya pertaruhan ini akan menyangkut nasib beratus-ratus orang jago persilatan serta nasib dunia persilatan di masa yang akan datang."

Ia mengangkat kepalanya memandang Lim Han-kim dengan sepasang matanya yang bening, katanya lebih jauh: "Walaupun jago yang menghadiri pertemuan puncak ini sangat banyak, namun Seebun Giok-hiong hanya akan memperhatikan dua orang, Yang satu adalah ketua Hian-hong-kau sedang yang lain adalah aku. Aku menduga dia pasti akan berupaya untuk menyelidiki segala tindak-tanduk serta sepak terjangku serta ketua Hian-hong-kau, itu berarti dia pasti dapat melihat pUla sikap mesramu terhadap Li Tiong-hui, Asal perhatiannya sudah tercurah pada dirimu, maka ia pasti tak akan sanggup menahan diri."

"Atas dasar apa kau berpendapat begitu?" "Sepintas lalu kejadian ini nampaknya sangat

sederhana, padahal di balik kesederhanaan itu justru terkandung liku-liku yang berbelit dan rumit..." ia membetulkan rambutnya yang menutupi mata, kemudian meneruskan: "Kejujuran serta kepolosanmu justru merupakan titik kelemahan yang tidak dimiliki Seebun Giok-hiong, Asal dia mau menaruh perhatian kepadamu, lambat laun ia pasti akan terjerumus sendiri ke dalam jaring

"Kenapa?"

"Sebab aku sendiri pun akan berbuat demikian, masa ia lebih hebat daripadaku?" Lim Han-kim menghela napas panjang.

"Jelek-jelek begini aku, Lim Han-kim, masih terhitung seorang lelaki sejati Kalau aku sampai dianggap sebagai barang mainan, kalau mau lantas diambil kalau bosan segera dibuang, aku mana punya muka untuk tancapkan kaki lagi dalam dunia persilatan ..."

"Nah itulah dia, sifat lembut membawa keras, polos agak bodoh, agak kekanak-kanakan dan sok gagah justru merupakan suatu daya tarik tersendiri bagi kaum wanita yang melihatnya..." tukas Pek Si-hiang cepat Setelah tersenyum dan berhenti sejenak, lanjutnya: "Kau harus menyanggupi peranan ini, meski cuma berpura-pura, kau harus memerankannya secara hidup dan bersungguh hati." "Urusan semacam ini menyangkut martabat serta nama baik seseorang, aku khawatir Li Tiong-hui tak akan menyetujui."

Kembali Pek si-hiang tertawa, "Nona Li belum pernah mengucapkan sumpah di hadapanku ia pun belum pernah berjanji untuk melakukan suatu perbuatan yang bermanfaat bagi umat persilatan, tapi demi menghadapi Seebun Giok-hiong, ia tak segan-segan mempertaruhkan martabat serta nama baiknya."

"Lalu apa sebabnya nona Pek memilih aku?" tanya Lim Han-kim sambil menghela napas panjang.

"Kalau berbobot baru bisa dipakai, dan kebetulan kau sesuai dengan pilihan kami"