Pedang Keadilan I Bab 50 : Ketua Persekutuan (Tamat)

 
Bab 50. Ketua Persekutuan (Tamat)

"Benar" sahut Coat-pin taysu, "sebagai pendekar sejati yang berhati lurus ciu tayhiap sangat gusar setelah mendapat tahu kejadian tersebut, ia naik ke bukit Hong- san untuk merundingkan persoalan ini dengan Li Tong- yang, akhirnya disimpulkan bahwa si pedang racun Pek siang adalah manusia licik yang amat berbahaya, maka mereka berdua mengarungi dunia persilatan untuk melacak jejak Pek siang, peristiwa itu dengan cepat tersebar luas dalam dunia kangouw, semua yang menghadiri peristiwa berdarah tempo hari pun ber-duyun duyun datang untuk menggabungkan diri..." "Taysu juga turut serta?"

"Berhubung ada urusan penting aku tak bisa meninggalkan kuil siau-lim-si, oleh ketua perguruan diutuslah seorang jago kami bersama Bok-tok sUheng untuk terjun ke dunia persilatan melacak jejak Pek siang, sepuluh bulan kemudian Pek siang bersama istrinya baru berhasil ditemukan"

" Ketika ditanyakan soal kitab ilmu silat ternyata Pek siang menyangkal maka suatu perta ruangan sengit pun kembali terjadi.

Dalam waktu tiga tahun yang amat singkat, ternyata ilmu silat yang dimiliki Pek siang suami istri mengalami kemajuan yang luar biasa pesatnya, kerja sama sepasang pedang mereka sanggup menandingi para jago sampai ratusan gebrakan tanpa menunjukkan Kekalahan, malahan empat orang jago berhasil dilukai kedua suami istri itu.

Gara-gara kejadian itu Li Tong-yang serta Ciu Huang jadi naik darah, mereka berdua turun tangan menggempur Pek siang suami istri habis-habisan walaupun ilmu silat mereka telah mengalami kemajuan pesat namun masih belum mampu untuk membendung gempuran dua orang pendekar besar ini.

seratus gebrakan kemudian Pek siang kena dihajar Li Tong-yang, sedangkan Gadis naga berbaju hitam dilukai pula oleh Ciu Huang, tampaknya dua orang suami istri ini bakal terkena musibah, pada saat itulah tiba-tiba Thian- hok sangjin muncul disertai ketua dari istana panca racun yang membantu Pek siang suami istri kabur dari kerubutan para jago "

"Aneh" seru Pemilik bunga bwee, "Bu-kankah Thian- hok sangjin termasuk juga salah satu tokoh silat yang mengerubuti mendiang orang tuaku?"

"Benar, Thian-hok sangjin amat mahir dalam permainan pedang, kehebatan ilmu silatnya mungkin tidak berada di bawah kepandaian Li Tong-yang maupun ciu Huang, hanya saja ia tak suka berkelana dan sepanjang tahun hidup menyepi dipondok Lian-im-lu nya, setelah keberhasilannya mengalahkan jago pedang dari negeri timur, nama besarnya baru menonjol dalam dunia kangou. "

"Aku hanya ingin tahu orang serta masalah yang berkaitan dengan kematian orang tuaku" tukas pemilik bunga bwee tiba-tiba, "sedang mengenai soal nama dan pamor orang lain lebih baik tak usah kita bicarakan-"

"Sekalipun begitu, paling tidak aku mesti menerangkan dengan sejelas-jelasnya " setelah berhenti sejenak.

kembali pendeta itu melanjutkan

"Ketua istana panca racun muncul dengan membawa beratus jenis makhluk beracun untuk membantunya, ditambah pula dengan kemahiran Thian-hok sangjin dalam permainan pedang, setelah melepaskan Pek siang berdua dari ancaman maut, mereka menghadang para jago yang mengejar Pek siang berdua di sebuah mulut selat. pertarungan sengit pun berkobar, Li Tong- yang serta Ciu Huang harus dibantu dua orang jago lagi untuk menggembur mundur Thian-hok sangjin pada seratus gebrakan kemudian, tapi tatkala mereka berhasil menembusi mulut selat itu, sipedang racun Pek siang berdua sudah kabur entah ke mana."

" Kenapa Thian-hok sangjin membantu sipedang racun Pek siang suami istri ber-dua?"

" Ketika terjadi peristiwa tersebut waktu itu semua orang dibuat tercengang dan tidak habis mengerti, Thian-hok sangjin termasuk seorang tokoh yang amat dihormati dalam dunia persilatan, nama besarnya nyaris tidak berada di bawah nama Li Tong- yang maupun ciu Huang, tapi mengapa ia bertindak begitu? setelah dilakukan penyelidikan dan penelusuran yang amat teliti oleh Ciu tayhiap akhirnya baru diketahui ternyata Thian- hok sangjin adalah kakak kandung sipedang racun Pek siang."

"oooh, rupanya begitu."

"sejak melarikan diri dari maut, sipedang racun Pek siang serta Gadis Naga berbaju Hitam tak pernah muncul lagi di dalam dunia persilatan, entah mereka telah bersembunyi di mana, hampir tiga tahun lamanya Hakim sakti Ciu Huang berusaha melacak jejak mereka tapi usahanya tetap gagal total..."

"Kalian pernah mencari di tempat tinggal Thian-hok sanjin?"

"ciu Huang telah mengirim mata-mata untuk menjaga di sekitar jalan menuju ke pondok Lian-im-lu, tiga tahun lamanya pelacakan dilakukan tanpa henti namun jejak mereka tidak ditemukan juga . "

"Kenapa tidak mencari Thian-hok sangjin untuk membuat perhitungan?"

"Sebab ilmu silat yang dimiliki Thian-hok sangjin amat tangguh, pamor serta nama besarnya amat cemerlang, sebelum diperoleh bukti yang menunjukkan bahwa dialah yang sembunyikan si pedang racun Pek siang serta Gadis Naga Berbaju Hitam, tak mungkin mereka akan menyerang secara gegabah,"

"Aku ingin tanya sekarang, kalian bisa memaafkan Thian-hok sangjin yang telah menyelamatkan jiwa Pek siang berdua, juga bisa memaklumi perbuatan Pek siang suami istri berdua menyimpan kitab pusaka, kenapa terhadap mendiang orang tuaku kalian justru bertindak keji? Bukankah hal ini menunjukkan bahwa kalian memang takut terhadap Thian-hok sangjin?" "Aaaai... begitulah kisah sesungguhnya yang dialami kedua orang tuamu, mungkin di sana sini masih ada sedikit kekurangan, tapi pada garis besarnya begitulah cerita." setelah menghembuskan napas panjang pendeta itu berkata lagi:

"Sekarang aku pun ada masalah yang tidak kupahami, semoga seebun sicu bersedia untuk menjawab."

"Soal apa?"

"Bukankah kitab pusaka Tat-mo-ie-cin-keng telah diperoleh Pek siang suami istri berdua, darimana seebun sicu bisa peroleh sejilid lagi?"

"siapa bilang kitab pusaka Tat-mo-ie-cin keng diambil Pek siang? Kau anggap barang peninggalan mendiang orang tuaku bisa disentuh orang lain seenaknya?" Coat- pin taysu tertegun.

"Jadi kalau begitu sipedang racun Pek Siang tidak merampas barang peninggalan orang tuamu?" serunya tertahan.

"Ayahku bukan orang tolol, ia sudah mempersiapkan segala sesuatunya sejak awal."

"Aaa.„ lagi-lagi sebuah tragedi yang ditimbulkan karena salah paham." keluh Coat-pin taysu sambil menghela napas panjang, "Ini semua tak lain disebabkan orang persilatan yang kelewat memandang tinggi soal nama dan kedudukan- sehingga sering kali banyak persoalan yang sebetulnya bisa dijelaskan tapi tak mau diterangkan agaknya si pedang racun Pek siang juga terjangkit penyakit ini, sudah berulang kali Li Tong- yang serta Ciu Huang menanyai dia, tapi ia selalu menyangkal hingga akibatnya terjadi peristiwa ini, bahkan nyaris tragedi berdarah kembali terulang."

"Apakah kau merasa kasihan bagi nasib sipedang racun Pek siang dan istrinya?"

"Yaa, aku kasihan terhadap orang-orang di dunia ini, terutama terhadap para jago yang sok menjaga nama baik..."

"Pek siang berdua sedikit pun tidak menyesal kenapa kalian tidak membunuhnya? Bukankah kelewat enak baginya?"

"seebun sicu, bila kau bukan bicara karena emosi, aku bersedia mendengarkan pendapatmu."

"sebetulnya kejadian ini sederhana sekali, ketika mendiang ayahku menemukan tempat penyimpanan kitab pusaka itu, sebenarnya sipedang racun Pek siang sudah mengetahuinya lebih dulu, bahkan telah melarikan sebagian dari kitab itu dan disembunyikan oleh sebab itu ketika mendiang ayahku menyuruh dia berjaga-jaga di luar, karena ia sudah berbuat curang lebih dulu maka ia menurut saja tanpa membantah. " "omintohud Tak nyana hati manusia begitu licik dan keji, aku belum pernah membayangkan ada kejadian seperti ini."

"Setelah berbuat curang, Pek siang mengira ayahku telah mengetahui perbuatan-nya, padahal ayahku sama sekali tidak tahu." Coat-pin taysu manggut-manggut.

"Seebun sicu memang amat cerdik, meskipun hanya dugaan namun pendapatmu ini sangat beralasan-"

"Hmmm... dia tamak lebih dulu dengan melarikan sebagian kitab pusaka, tapi kemudian menuntut bagian yang sama dari ayahku, ketika ayahku sadar bahwa sebagian kitab itu sudah dicuri lebih dulu tentu saja amarahnya memuncak..." kata Pemilik bunga bwee sambil tertawa dingin.

"Darimana sicu mengetahui hal ini?" tukas Coat-pin taysu dengan kening berkerut.

"Aku hanya berpendapat begitu, kau anggap salah?"

"Baiklah, harap seebun sicu melanjutkan pendapatmu" "Karena gusarnya maka mendiang ayahku segera

mendorong sipedang racun itu ke dalam jurang."

"Aaaai... seandainya ayahmu tahu bahwa dorongan itu tidak mematikan Pek siang, mungkin dia tak akan mendorongnya ke dalam jurang." Pemilik bunga bwee tidak perduli dengan ucapan pendeta itu, kembali lanjutnya:

"ia tak sampai mati di dasar jurang, anggap saja hal ini karena nasibnya yang baik, semestinya setelah peristiwa itu ia sembunyikan diri baik-baik, siapa tahu sifat tamaknya kembali muncul dan ia mencari orang tuaku lagi untuk menuntut pembagian, coba kalau ia tidak munculkan diri, kedua orang tuakujuga tak bakal mati dikeroyok para jago persilatan, sehingga kalau disimpulkan kembali sekarang, seharusnya biang keladi dari kematian kedua orang tuaku tak lain adalah si pedang racun Pek siang serta Gadis Naga Berbaju Hitam."

"Setahuku, Pek siang dan ayahmu adalah sobat karib yang baik sekali hubungannya, tak disangka hanya gara- gara tamak dan iri berakibat terjadinya peristiwa tragis itu."

"Dalam soal ini ayahku tak bisa disalahkan kalau ingin mencari penyebab kesemuanya ini maka kita mesti menyalahkan ketamakan Pek siang suami istri, sudah mencuri kitab pusaka lebih dulu masih minta bagian orang lain, jadi tidak salah bila ia mesti terluka parah di ujung pedang ayah-ku."

"Tak bisa menyalahkan ayahmu tapi harus salahkah Pek siang, adilkah pendapat seperti ini?" pikir Coat-pin taysu di dalam hati. sementara itu pemilik bunga bwee telah berkata lagi:

"Sekarang aku sudah mengetahui dengan jelas sebab kematian orang tuaku yang tragis, maka selanjutnya adalah bagaimana caraku membalas sakit hati ini."

"Seebun sicu, dengan cara apa kau hendak menuntut balas?" seru Coat-pin taysu dengan perasaan terkesiap.

"Hutang uang bayar uang, hutang nyawa bayar nyawa, sejak ratusan tahun berselang peraturan dan tradisi inilah yang dipegang teguh umat persilatan, maka mula-mula aku hendak membantai habis semua orang yang terlibat dalam pengeroyokan terhadap orang tuaku, kemudian baru menghabisi tiga generasi anak muridnya."

"Sekalipun hutang nyawa bayar nyawa, itu hanya terbatas satu nyawa dibayar satu nyawa, mana ada ratusan lembar jiwa manusia dicabut untuk membayar satu nyawa " tukas Coat-pin taysu cemas.

"Sudah hampir dua puluh tahun lamanya orang tuaku meninggal, masa aku tak pantas menerima sedikit bunganya?"

"Terlepas mampukah seebun sicu melaksanakan niatmu itu, tapi yang pasti tindakan semacam ini tidak menurut aturan-" "Mengingat kau telah menerangkan semua duduknya persoalan maka kuampuni jiwamu, tapi kau tidak berusaha menolong ketika melihat orang tuaku dibantai, karena dosa tersebut maka sepasang matamu harus kucongkel keluar, tentu kau tidak keberatan bukan?"

"Bila selembar nyawaku bisa ditukar dengan keselamatan para jago lainnya, aku bersedia mati di tanganmu."

"sebagai umat persilatan, kita wajib membedakan mana budi mana dendam, dulu kau tak ikut mengerubuti orang tuaku, sekarang kau pun membantu aku untuk mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, tentu saja dosamu tak perlu ditebus dengan kematian-"

Bicara sampai di situ, ia berpaling memandang sekejap ke arah kakek tinggi besar berbaju kuning itu, lalu menegur: "Apa waktunya sudah tiba?"

"sudah lewat sejak tadi, namun berhubung Tongcu sedang menyelidiki kejadian lampau, maka hamba tak berani menimbrung."

"Kalau waktunya sudah lewat, mari kita segera turun tangan"

Para jago sama-sama tercengang setelah mendengar pembicaraan itu, pikir mereka: "Sekali pun kau telah mencampuri arak dan sayur dengan arak, namun kami tidak menyentuhnya sama sekali, ada racun pun apa gunanya? Masa kau betul-betul hendak mengandalkan kepandaian silat untuk beradu kekuatan dengan kami? Pihak kami ada ratusan orang, sekali pun ia sanggup membunuh seorang musuh dalam tiga gebrakan, mana mungkin ratusan jago bisa dihabisi- nya sama sekali..."

Belum habis ingatan tersebut melintas, mendadak terdengar suara terompet yang memilukan hati bergema di udara, kawanan gadis pemusik, penggotong meja abu serta pembawa lilin itu serentak bangklt berdiri dan mengelilingi meja abu.

Sebetulnya sifat kawanan jago yang hadir di situ ibarat sebaskom pasir halus yang tak mungkin dipersatukan siapa pun enggan tunduk kepada orang lain, tapi setelah melihat sikap pemilik bunga bwee yang berniat membasmi mereka semua, tanpa terasa timbul perasaan bersatu padu di hati kecil masing-masing. Entah siapa yang berteriak dulu, terdengar seseorang berseru:

"Kalau memang pemilik bunga bwee hendak membasmi kita, kenapa kita tidak bersatu padu untuk melawannya bersama-sama "

"Sayang tiada orang yang mampu memimpin kita semua " sambung yang lain-Seseorang dengan suara

yang kasar tapi nyaring segera menyela: "Seandainya ciu tayhiap ciu Huang berada di sini, semua jago tentu bersedia tunduk di bawah pimpinannya."

Tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, seorang lelaki berbaju hijau melompat naik ke atas meja dan sambil mengacungkan goloknya berseru keras:

"Menurut pendapatku lebih baik kita pilih Dewa Jinsom Phang Thian-hua menjadi pemimpin kita sementara waktu, ia punya nama besar yang sejajar dengan nama Ciu Huang, aku rasa kita pantas mengangkatnya menjadi pemimpin. " Belum selesai perkataan itu, teriakan lain

telah berkumandang:

"Tidak bisa, tidak bisa, Phang Thian-hua selalu menyendiri dan tidak akrab dengan umat persilatan, mana mungkin ia bisa memimpin kita semua?" seseorang dengan suara parau segera berteriak:

"Aku rasa lebih cocok Coat-pin taysu saja, kuil siau- lim-si selama ratusan tahun terakhir selalu dianggap sebagai tonggak dunia persilatan, jadi paling patas jiwa taysu yang memangku jabatan tersebut." seseorang yang lain sambil tertawa dingin menjengek: 

"Yang sedang kita hadapi sekarang adalah musuh dengan akal muslihat yang amat banyak, kita butuhkan seorang pemimpin cerdik yang bisa menghadapi segala akal busuk lawan. betul Coat-pin taysu berasal dari perguruan kenamaan tapi ia kelewat polos dan jujur, tidak mengerti tipu muslihat bagaimana mungkin bisa memimpin para jago? Menurut pendapatku lebih baik kita undang ketua Hian- hong- kau saja menjadi pemimpin kita untuk menghadapi Pemilik bunga bwee."

seketika itu juga suasana dalam arena berubah jadi hening, sampai lama sekali tak kedengaran sedikit suara pun, padahal dalam hati kecilnya para jago sedang berpikir:

"Kalau bicara soal kecerdasan, ketua Hian- hong- kau memang paling cocok menjadi pemimpin kita, tapi nama besarnya kurang tenar dan lagi hanya seorang wanita, bila kita sebagai lelaki sejati mesti mengikuti perkataan kaum wanita, waaah.,, hilang mUka rasanya, tapi bila berbicara dari situasi sekarang, ketua Hiang- hong- kau memang rasanya paling cocok menjadi Ketua Persekutuan."

seperminum teh lewat tanpa terasa, di tengah keheningan yang mencekam seluruh arena mendadak terdengar suara tiupan terompet yang dibunyikan bersahut-sahutan. Dengan suara lirih Hongpo Lan segera berbisik kepada Li Bun-yang

"sekarang para jago sudah tak segaduh tadi, nampaknya mereka berpendapat bahwa ketua Hian- hong- kau memang paling cocok memang ku kedudukan sebagai Ketua Persekutuan, entah bagaimana menurut pendapat saudara Li?"

"Menurut pendapatku, satu-satunya kemungkinan hidup bagi kita hanya terletak pada pundaknya, selain dia mungkin sulit untuk menemukan orang kedua yang mampu menandingi kehebatan Pemilik bunga bwee."

"Nama besar serta kedudukan saudara Li cukup tenar, asal kau diusulkan aku yakin para jago pasti akan mendukungmu." Li Bun- yang tertawa getir, katanya:

"Dengan kemampuanku sekarang, mana mungkln bisa memimpin umat persilatan dari seluruh kolong langit?"

"saudara Li adalah ahli waris generasi ketiga dari keluarga persilatan bukit Hong-san, apa salahnya jadi ketua Persekutuan?"

Buru-buru Li Bun- yang goyangkan tangannya berulang kali serunya:

"Aku menyadari bahwa kemampuanku tak sampai separuhnya kemampuan ketua Hian- hong- kau, aku betul-betul tak mampu membawa para jago lolos dari bencana kali ini. "

"Baiklah, kalau begitu biar aku yang mengusulkan ketua Hian-hong-kau menjadi Ketua Persekutuan,"

"Bila saudara Hongpo bersedia, hal ini lebih baik lagi." sambil tersenyum Hongpo Lan segera melompat naik ke atas meja seraya berseru lantang:

"Sekarang pemilik bunga bwee sudah menggerakkan pasukannya untuk mengepung kita empat penjuru, namun kita belum berhasil menemukan seorang jago pun yang cocok menjadi Ketua Persekutuan, daripada situasi bertambah runyam dan nasib kita terancam bahaya, kuusulkan bagaimana kalau ketua Hian-hong-kau saja yang kita pilih menjadi Ketua Persekutuan? Menurut pendapatku selain dia mungkin tiada orang lain yang sanggup membendung kebrutalan pemilik bunga bwee lagi."

Mendadak terjadi kegaduhan yang luar biasa di tepi arena pertemuan itu, disusul kemudian terdengar seseorang berseru:

"Cepat lolos kan senjata, pasukan Pemilik bunga bwee sudah mulai bergerak untuk menyerang"

Ketika Hongpo Lan berpaling, terlihatlah dari empat penjuru telah bermunculan pasukan manusia aneh berdandan nyentrik, setiap dua orang manusia berambut panjang dan berbaju serba hitam, terselip seorang manusia aneh berbaju merah darah. Kawanan manusia berbaju merah itu membungkus seluruh tubuhnya dengan kain berwarna merah darah, bahkan rambutnya ikut terbungkus pula, sebaliknya manusia berbaju hitam itu mempunyai wajah yang kaku, sama sekali tiada hawa kehidupan, kaku pada sepuluh jari tangannya kelihatan amat panjang dan runcing.

Meskipun kemunculan rombongan manusia aneh itu terjadi di tengah siang bolong, namun cukup membawa segulung suasana dingin yang menyeramkan dan menggidikkan hati. Dengan suara lantang Hongpo Lan segera berseru:

"Ular tanpa kepala tak bisa jalan, burung tanpa sayap tak bisa terbang, bila kalian belum juga menetapkan siapa yang menjadi Ketua Persekutuan, bila bencana keburu tiba kalian bakal menyesal sepanjang sejarah."

suasana kembali jadi gaduh dan hiruk pikuk, tapisesaat kemudian terdengar kawanan jago itu berseru:

"Baik Kita angkat ketua Hian-hong-kau menjadi Ketua Persekutuan kita"

Tampaknya setelah melalui pemikiran yang tenang berapa saat, kawanan jago itu mulai menyadari bahwa cuma kepintaran ketua Hian-hong-kau saja yang mampu menghadapi kehebatan Pemilik bunga bwee, Di tengah teriakan dan seruan mendukung itulah, bergema datang beberapa kali jeritan ngeri yang memilukan hati, di tengah muncratnya darah segar keempat sosok tubuh manusia robeh ke tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi. Rupanya kawanan jago yang berdiri di garis terdepan telah bentrok dengan kawanan manusia berbaju hitam itu, tapi begitu bertempur empat sosok tubuh telah berubah jadi mayat. Tiba-tiba pemilik bunga bwee memberi tanda, kakek berbaju kuning itu segera bersuit panjang, kawanan manusia berbaju hitam yang sedang mendesak maju itu seketika menghentikan langkahnya.

Dalampada itu para jago telah meloloskan senjata masing-masing, didesak oleh situasi dan kebutuhan bersama, secara otomatis mereka telah bersatu padu untuk menghadapi serangan musuh bersama.

Dengan pandangan tajam pemilik bunga bwee menyapu sekejap wajah para jago kemudian serunya:

" orang yang kalian pilih sebagai Ketua Persekutuan memang cocok sekali, dewasa ini memang hanya ketua Hian-hong-kau seorang yang mampU menandingi kecerdasanku"

situasi yang gaduh dan riuh tiba-tiba saja menjadi hening, tapi keheningan tersebut hanya permulaan datangnya badai, tampaknya suatu pertempuran paling berdarah akan segera tergelar di tempat tersebut.

Dengan langkah pelan ketua Hian-hong-kau berjalan menuju ke depan Pemilik bunga bwee, setelah diangkat menjadi Ketua Persekutuan, kedudukan maupun pamornya saat ini jauh berbeda, di mana dia lewat para jago sama-sama menyingkir untuk memberi jalan lewat. sambil menghela napas panjang coat-pin taysu bergumam: "Dosa, dosa,., suatu pembantaian berdarah tampaknya tak bisa dihindari lagi. " sementara itu ketua

Hian-hong-kau sudah memberi hormat sambil berkata:

"Terima kasih banyak atas pujianmu, aku rasa kau pasti sudah ada persiapan matang sebelum mengundang kehadiran kami di tempat ini bukan?"

"Betul, kecuali Coat-pin taysu, siapa saja yang ikut hadir dalam pertemuan hari ini jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan selamat"

"Tapi kau bilang hendak mengorek sepasang matanya, dalam keadaan buta, bukankah keadaannya jauh lebih tersiksa ketimbang mati?"

"Aku sudah persiapkan tindakan berikut yang bisa membuat ia tidak menyesal meski harus kehilangan penglihatan. "

"Tampaknya situasi hari ini sudah ibarat air bertemu api" ucap ketua Hian-hong-kau kemudian setelah memandang sekejap sekeliling arena, "Aku lihat mustahil ada peluang untuk berbicara secara baik-baik lagi. "

Pemilik bunga bwee tertawa.

"Dendam kematian orang tuaku lebih dalam daripada samudra, bila kau berniat membujukku dengan mulutmu yang manis itu, aku nasehati lebih baik jangan bermimpi di siang bolong lagi, usahamu itu bakal sia-sia belaka."

"Baiklah, meskipun kita harus langsungkan pertempuran habis-habisan, sepantasnya bila kita bicarakan soal peraturan, entah bagaimana menurut pendapatmu?"

"Katakan maksudmu" jawab Pemilik bunga bwee setelah termenung dan berpikir sejenak,

"Bila dugaanku tidak keliru, dalam radius puluhan li seputar arena pertempuran ini sudah kau persiapkan kekuatan yang luar biasa, di mana tak mungkin buat kami untuk melarikan diri bukan?"

"Tampaknya bila aku berhasil menarikmu menjadi dayang kepercayaan, kepintaranmu akan banyak membantu pekerjaanku."

"Sayang sekali kita sudah berhadapan sebagai musuh bebuyutan sekarang, kalau bukan kau yang mampus tentu aku yang mati."

Pemilik bunga bwee segera mengalihkan pembicaraan kesoal lain, katanya:

"sebelum menang kalah diketahui, kau tak bakal percaya dengan perkataanku, baiklah, perjanjian apa yang ingin kau sampaikan katakan saja secepatnya" "Melihat situasi saat ini sudah tak mungkin diredakan dengan suatu perundingan, maka aku rasa daripada pertarungan berlangsung secara massal, bagaimana kalau kita tentukan dalam sepuluh babak pertarungan saja untuk melihat siapa yang lebih unggul?"

"Jika kami yang menang lantas bagaimana?Jika mereka bersedia menggorok leher sendiri untuk menebus dosanya, cara seperti ini mah bisa saja kita lakukan."

"saudara seebun, tampaknya kau masih bisa berpikir bila kemenangan dipihakmu, semisalnya kami yang beruntung dan menang, lantas apa pula yang hendak kau perbuat?"

"Setelah aku hitung punya hitung, rasanya kesempatan bagi kalian untuk meraih kemenangan kecil sekali, oleh sebab itu aku belum sempat untuk berpikir masalah bila kami yang kalah."

"Apakah kau tidak menganggap keyakinanmu berlebihan?"

"Aku sudah melatih diri selama empat lima tahun, kalau tidak mempunyai keyakinan yang luar biasa mustahil akan kuundang kalian untuk berkumpul semua di sini."

"sekalipun kau mempunyai persiapan yang matang namun situasi yang kau hadapi hari ini sangat berbeda, ada beberapa orang tokoh silat yang jarang muncul dalam dunia persilatan, hari ini ikut berdatangan pula ke mari, perubahan yang mungkin terjadi bisa jauh di luar dugaanmu semula."

"siapa yang kau maksud?"

"Usiamu paling banter baru dua puluhan tahun, sekali pun kusebut namanya belum tentu kau akan mengenal."

"oooh, kau maksudkan si Hakim berwajah besi Ciu Huang? Hmmm, mungkin selama hidup ia tak bakal bisa muncul lagi di dalam dunia persilatan."

"Kecuali Ciu Huang, dalam dunia persilatan masih terdapat beberapa orang tokoh silat lain yang memiliki ilmu silat dahsyat, kau mengenali mereka?"

"Kau maksudkan si Datuk sepuluh penjuru siang Lam- ciau?"

"selain siang Lam-ciau masih ada lagi Dewa cebol Cu Gi si pendekar cu, pernah mendengar namanya?"

Pemilik bunga bwee termenung sambil berpikir berapa saat lamanya, kemudian bertanya:

"Kau maksudkan si cebol yang berlagak bisu tuli dan menunggang keledai putih kecil itu?"

Dalam hati kecil ketua Hian-hong-kau bersorak gembira, pikirnya: "Aku memang berniat untuk memancingmu agar mengumpat dia, bila babak pertama ditangani si cebol itu, niscaya kau akan merasakan kehebatannya." sekali pun dalam hati kecilnya merasa girang, tapi di mulut ia tetap berkata dengan suara dingin:

"sejak puluhan tahun berselang Cu tayhiap sudah termashur dalam dunia persilatan, kalau bicara soal tingkatan maka semua yang hadir di sini sekarang adalah angkatan muda, kini kau bersikap kurang-ajar kepadanya, rupanya kau memang pingin merasakan kehebatannya?"

Rupanya Cu Gl mempunyai sifat yang aneh dan nyentrik, ia paling tak suka kalau dikatai orang lain, ia sedang ke Timur dan orang mengatakan dia hendak ke Timur, maka tiba-tiba saja dia akan mengubah arahnya. Ketua Hian-hong-kau sadar, dengan cara biasa mustahil baginya untuk memohon bantuan manusia nyentrik ini, maka ia sengaja memancing pemilik bunga bwee agar mengeluarkan kata-kata yang kurang hormat terhadap pendekar itu hingga memancing hawa amarahnya.

Benar juga, sambil tertawa dingin pemilik bunga bwee mengumpat:

"Si cebol itu beriagak bisu tuli dengan niat menakut- nakuti orang lain, boleh saja orang takut kepadanya, tapi aku tak bakal jeri menghadapi si cebol itu." Li Bun- yang mencoba memperhatikan sekeliling tempat itu, ketika tidak melihat Cu Gi munculkan diri, juga tidak mendengar Dewa cebol itu mengumpat, diam- diam hatinya jadi gelisah, pikirnya:

"Jangan-jangan orang tua itu sudah pergi? Kalau ia masih di sini, mana mungkin bisa menahan diri?"

Belum habis dia berpikir, tiba-tiba terdengar seseorang mengumpat dengan nyaring:

"Budak busuk, budak ingusan, perempuan jelek, berani amat mengumpat aku si orang tua."

Para jago sama-sama tertegun, maka tak tahu siapa yang sedang dimaki orang itu. Terdengar pemilik bunga bwee membentak lagi dengan gusar: "Hey si cebol, kalau punya nyali ayo cepat menggelinding keluar"

Diiringi suara derap kuda yang ramai, tampak seekor keledai putih kecil berlari masuk ke dalam arena dengan kecepatan tinggi, Gerak gerik keledai itu sangat lincah, meski harus menerobos di antara kerumunan orang banyak namun gerak geriknya tetap cepat dan lincah, dalam waktu singkat telah tiba ditengah arena.

Pemilik bunga bwee segera berpaling ke arah kakek berbaju kuning sambil serunya: "Jangan biarkan dia kabur" Kakek berbaju kuning itu mengiakan dan menghampiri si Dewa cebol Cu Gi dengan langkah lebar.

si Dewa cebol Cu Gi betul- betul tahan uji, biarpun melihat kakek berbaju kuning itu datang menghampirinya dengan langkah lebar, ia tetap berbaring di atas punggung keledainya tanpa bergerak.

Ketika mencapai enam tujuh langkah dari keledai kecil itu, kakek berbaju kuning tadi menghentikan langkahnya seraya menegur "Kau benar-benar Dewa cebol Cu Gi?"

"Hmmm, kau tidak berhak bicara denganku, suruh budak kecil itu maju ke muka" Kakek berbaju kuning itu agak tertegun sejenak. lalu serunya lagi penuh amarah: "Kau rasakan dulu kehebatan ilmu jari pencabut nyawaku"

Tiba-tiba tangan kanannya menyambar ke wajah Dewa cebol Cu Gi dengan kecepatan luar biasa.

Mendadak keledai putih kecil itu melompat maju sejauh empat lima depa, dengan lompatan tersebut serangan maut dari kakek berbaju kuning pun terhindar.

Menyaksikan kejadian tersebut diam-diam para jago merasa hormat bercampur kagum, pikirnya:

"Tak nyana keledai kecil ini pun pandai ilmu berkelit" sementara itu si kakek berbaju kuning tadi sudah mendesak maju lebih ke depan, dalam waktu singkat ia lancarkan empat buah pukulan berantai yang maha dahsyat.

Di tengah angin pukulan yang menderu-deru, serangan itu segera mengurung keledai kecil tadi hingga jalan mundurnya ke empat penjuru tertutup sama sekali.

selama pertarungan berlangsung si Dewa cebol Cu Gi masih tetap berbaring dipunggung keledainya tanpa bergerak. kali ini dia pun belum bergerak juga, bahkan tatkala serangan dari kakek berbaju kuning itu hampir menyentuh tubuhnya ia masih belum merasa juga.

Kejadian ini kontan saja mengejutkan para jago, pikir mereka:

"Tenaga pukulan orang ini amat kuat dan hebat, bila si Dewa cebol Cu Gi tak mau membalas juga, ia pasti rugi besar."

Dalam pada itu si kakek berbaju kuning itu sedang keheranan ketika melihat Dewa cebol Cu Gi belum juga melepaskan serangan balasan kendatipun secara beruntun ia sudah melepaskan empat lima buah pukulan, tanpa terasa ia menghentikan serangannya sambil berjalan mendekat.

Baru saja iaakan mencengkeram tubuh lawannya, mendadak Cu Gi yang berbaring di punggung keledainya itu menggerakkan tangan kanannya seraya menghardik: "Jangan sentuh aku si orang tua."

Kakek berbaju kuning itu segera membalikkan tangan kirinya langsung mencengkeram pergelangan kiri Cu Gi. Mendadak terlihat Cu Gi menggerakkan kaki kirinya, seperti sebuah ruyung lemas saja tahu-tahu kaki itu berputar balik menendang sikut kakek berbaju kuning tadi.

Lengan kanan si kakek berbaju kuning yang hendak mencengkeram itu kontan saja terkulai lemas.

Menyaksikan kejadian ini para jago sama-sama merasa terkejut, pikirnya:

"Tak disangka si Dewa cebol Cu Gi mampu melatih ilmu lemasnya hingga mencapai taraf sedemikian tinggi, andaikata tidak menyaksikan sendiri, sungguh membuat orang sukar untuk percaya.":

Tiba-tiba terlihat si Dewa cebol Cu Gi melejit bangun, kemudian dengan suara dingin berseru:

"Budak tua, sudah kubilang jangan bikin malu diri sendiri tapi kau tak mau percaya, sekarang cepat gelinding pergi, suruh si budak busuk itu yang maju mencoba kehebatanku."

Kembali para jago dibuat tertegun, kalau didengar pembicaraan itu tampaknya si "budak busuk" yang dimaksud adalah pemilik bunga bwee, tapi jelas si Pemilik bunga bwee adalah seorang kakek berjenggot panjang, sedang orang yang diumpat Cu Gi adalah Budak busuk yang jelas menunjukkan seorang gadis muda, lalu siapa yang dimaksud dan apa artinya?

Pemilik bunga bwee sendiri hanya menengadah ke atas pura-pura tidak mendengar seakan-akan perkataan si Dewa cebol itu bukan ditujukan kepadanya.

Dalam pada itu si kakek berbaju kuning yang sikut kanannya kena ditendang cu Gi, seluruh lengan kanann yakini sudah lumpuh dan sama sekali tak berfungsi, tentu saja ia tak mampu melanjutkan pertarungan dalam keadaan begini terpaksa ia harus mengundurkan diri dari arena.

sambil tertawa dingin kembali si Dewa cebol Cu Gi berseru:

"Hmmm Budak busuk. kau tak usah berlagak lagi, mungkin saja orang lain tidak mengetahui latar belakangmu, tapi jangan harap bisa membohongi aku si orang tua."

Mendadak sorot mata si pemilik bunga bwee yang tajam dialihkan ke wajah Dewa cebol, kemudian menegur: "Hey, kau ngomel melulu, sebetulnya siapa sih yang kau umpat?"

"Hehehehe... siapa yang sedang kumaki, tentunya kau lebih jelas daripada orang lain."

Pelan-pelan Pemilik bunga bwee melangkah maju ke muka, di bawah sinar matahari tampak di antara sepasang matanya lamat- lamat terpancar keluar cahaya putih yang mirip selapis kabut.

Mendadak Dewa cebol Cu Gi menarik kembali sikap ugal-ugalannya, dengan mata terpejam ia duduk bersila dipunggung keledainya, sikapnya amat serius, tampaknya ia sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan datangnya serangan dari luar, hanya saja kekuatan tersebut tidak terlihat dengan mata telanjang.

setibanya di hadapan Dewa cebol Cu Gi, dengan suatu gerakan yang amat lambat pemilik bunga bwee menggerakkan tangan kirinya mencengkeram lengan lawan. Mendadak ketua Hian-hong-kau membentak keras: "Tahan"

sambil membentak, tubuhnya meluncur ke hadapan pemilik bunga bwee.

menghadapi kejadian ini Pemilik bunga bwee tidak mengubah gerak tangan kirinya yang mencengkeram lengan cu Gi, sementara tangan kanannya diayunkan ke belakang menghantam tubuh ketua Hian-hong-kau.

Tubuh ketua Hian-hong-kau yang sedang menerjang ke muka itu mendadak tertahan, buru-buru ia menarik kembali gerak maju badannya.

Terasa segulung desingan angin dingin melesat tiba, buru-buru dia himpun tenaga dalamnya sambil melepaskan satu pukulan untuk menahan datangnya sergapan tersebut

Walaupun beberapa desingan angin dingin itu tertahan juga oleh pukulannya, namun tak kuasa tubuhnya terdesak juga mundur selangkah, melihat itu ketua Hian- hong-kau segera berpikir

"Untung sekali aku bertindak cepat, coba kalau tidak, niscaya aku akan menderita kerugian besar, tampaknya ilmu silat yang dimiliki Pemilik bunga bwee sungguh luar biasa, meski digencet dari muka dan belakang namun kekuatan serangannya tetap begitu hebat.."

sementara ingatan tersebut melintas lewat, tangan kiri Pemilik bunga bwee sudah hampir menyentuh pergelangan tangan si Dewa cebol Cu Gi.

pada detik yang terakhir inilah mendadak Dewa cebol Cu Gi membuka matanya lebar-lebar, dengan sinar tajam ditatapnya wajah pemilik bunga bwee itu, sementara tangan kanannya menyodok ke samping untuk menghindari ancaman lawan, lalu dengan memancarkan tenaga pukulan yang maha dahsyat berbalik menumbuk tubuh Pemilik bunga bwee itu.

Tenaga dalamnya memang amat sempurna, bukan saja bisa digunakan sekehendak hati, bahkan orang lain tidak menyangka sama sekali akan kedahsyatan tenaga serangan itu, Tampak pemilik bunga bwee menarik tangan kirinya ke belakang lalu menyentil sementara tubuhnya mundur dua langkah.

Pakaian yang dikenakan Dewa cebol Cu Gi seketika menggelembung dan bergetar keras, keledai putih itu pun tiba-tiba menekuk lutut depannya nyaris terjungkal ketanah.

Dalam waktu yang amat singkat inilah kedua orang tersebut sudah saling bertarung satu gebrakan, kedua belah pihak sama-sama telah menggunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya untuk membinasakan lawan, hanya saja para jago yang menyaksikan peristiwa itu tidak mengetahuinya sama sekali.

Kakek bermata satu yang berdiri di belakang ketua Hian-hong-kau segera bersorak memuji:

"llmu silat hebat, kepandaian hebat, harap kaucu mundur, biar aku coba beberapa jurus ilmu silatnya." Ketua Hian-hong-kau menyingkir kesamping, Kakek Bermata satu itu segera melejit ke depan, tongkat bambu di tangan kanannya segera ditekan dan dibenamkan ke atas tanah, setelah itu ia berdiri bersiap sedia.

Pelan-pelan pemilik bunga bwee membalikkan badannya menatap kakek itu sekejap. lalu tegurnya dingin: "siapa kau?"

"Aku sudah melupakan namaku, jadi tak perlu ditanya" sahut kakek bermata satu itu sambil tertawa hambar.

Pemilik bunga bwee memperhatikan sekejap seluruh badannya, lalu jengeknya dingin: "silahkan turun tangan"

"Aku siap melepaskan segenap kekuatanku untuk menghadapi kau yang sudah lelah tidak sepantasnya bila aku melepaskan serangan terlebih dulu."

"Bagus" seru Pemilik bunga bwee, tangan kirinya segera diayun ke muka melancarkan sebuah pukulan.

Tangan kanan kakek bermata satu yang disilangkan di depan dada itu segera ditolak pula ke muka, tapi dengan cepat tangan itu ditarik kembali yang mana persis menangkis tangan kanan Pemilik bunga bwee yang sedang menyodok dadanya.

begitu bentrok satu gebrakan, masing-masing pihak mundur dua langkah dari posisi semula. Pemilik bunga bwee segera mendengus dingin:

"Hmmm sungguh tak nyana di antara para jago yang hadir hari ini masih terdapat seorang jago sehebat kau, aku benar-benar salut"

"Terima kasih, terima kasih,"

Tiba-tiba kakek bermata satu itu menyodok tangan kanannya ke muka lalu kiri kanan atas bawah masing- masing melepaskan satu pukulan, sedemikian cepat gerak tangannya ini membuat orang lain tak sempat mengikuti semua gerakan secara jelas,

Bagi kawanan jago itu, mereka mengira tangan itu hanya disodok ke muka lantas ditarik kembali, mimpipun mereka tak bisa membayangkan bahwa dalam sodokan tersebut justru dia telah melepaskan empat buah pukulan yang mengancam empat bagian tubuh pemilik bunga bwee yang berbeda.

Empat gulung tenaga dahsyat dari empat arah yang berbeda serentak menerjang Pemilik bunga bwee.

Tatkala tenaga pukulan itu sudah meluncur dan mengancam tubuh Pemilik bunga bwee, kakek bermata satu sendiri justru sudah menarik kembali tangannya sambil mundur sejauh empat lima depa dan menonton perubahan dalam arena secara serius. Tampak Pemilik bunga bwee menyilangkan sepasang tangannya di depan dada, ia terima pukulan itu dengan keras melawan keras.

Kecuali kakek bermata satu serta Dewa cebol Cu Gi, kawanan jago lainnya tak ada yang melihat bahwa gerak silang yang dilakukan Pemilik bunga bwee itu sesungguhnya merupakan tindakan untuk melindungi jantungnya dari serangan sementara tenaga dalamnya membendung keempat serangan yang mengancam tubuhnya dari arah yang berbeda. Menyaksikan adegan ini, kakek bermata satu itu segera bergumam:

"Tampaknya ombak belakang sungai Tian-kang telah mendorong ombak di depannya, generasi muda sudah saatnya menggantikan generasi tua, aku betul- betul sudah tua bangka..."

Ternyata setelah menerima serangan tersebut keadaan Pemilik bunga bwee tetap tenang saja, seakan- akan tidak terjadi sesuatu apapun, tangannya yang disilangkan di depan dada pelan-pelan diturunkan.

Ketua Hian-hong-kau melirik kakek bermata satu itu sekejap. lalu sambil memberi hormat kepada Pemilik bunga bwee tegurnya: "Kita sudah bertarung berapa babak?"

Pemilik bunga bwee tidak menjawab, dia hanya menunjukkan dua jari tangannya lalu ditarik balik. sekali pun para jago dan ketua Hian-hong-kau mengerti bahwa dua jari yang ditunjukkan mengartikan dua babak. namun timbul juga kecurigaan dalam hati mereka setelah melihat ia enggan bicara.

Dengan suara lirih Li Bun-yang segera berbisik kepada Hongpo Lan:

"Agaknya Pemilik bunga bwee telah menderita luka dalam yang cukup parah sehingga untuk berbicara pun tak sanggup, jika ada orang bisa memaksanya untuk berbicara, kemungkinan menang bagi pihak kita akan semakin bertambah besar."

"Entah ketua Hian-hong-kau sudah mengetahui belum?"

"Tentu saja sudah tahu, kecerdasannya berapa kali lipat lebih hebat dariku, masa ia tidak melihatnya?"

"Aaaah... rupanya saudara Li mengetahui begitu jelas tentang segala sesuatu ketua Hian-hong-kau?"

Li Bun-yang tahu kalau ia salah bicara maka sambil tersenyum tidak berkata-kata lagi.

Terdengar ketua Hian-hong-kau mendesak lebih jauh: "Kau tunjukkan kedua jari tanganmu, sebenarnya apa

artinya?" Nadanya tajam, memaksa pemilik bunga bwee mau tak mau harus memberikan jawabannya.

Kakek berbaju kuning yang ada disisi arena segera menimbrung:

"Majikanku maksudkan kita sudah bertarung dua babak. masa urusan begini gampang pun tidak kau pahami?"

"siapa yang kalah dalam dua babak ini?" jengek ketua Hian-hong-kau sambil tertawa dingin.

Kakek berbaju kuning itu tertegun dan tak tahu bagaimana harus menjawab, ketika berpaling ia saksikan pemilik bunga bwee menunjukkan satu jari pada masing- masing tangannya, maka ia pun menyambung:

"Kita masing-masing menangkan satu babak. berarti masih ada delapan babak lagi."

Cepat ketua Hian-hong-kau menggeleng. "Menurut pendapatku kita sudah bertanding tiga

babak. kau sudah menyerang si Dewa cebol Cu Gi sebanyak puluhan jurus tanpa dibalas satu jurus pun oleh lawanmu, masa dia dianggap kalah?"

"Sekali pun aku kalah lantas kenapa? Toh masih ada tujuh babak." Ketua Hian-hong-kau termenung sebentar mendadak ia berjalan mendekati pemilik bunga bwee, katanya: "Aku ingin-..."

Buru-buru kakek berbaju kuning itu menghadang di depan Pemilik bunga bwee sambil berseru:

"Biar kulayani dulu beberapa jurus seranganmu"

Meskipun tendangan Dewa cebol membuat lengan kanan kakek berbaju kuning ini menderita luka parah, namun setelah beristirahat berapa saat, keadaan lukanya sudah jauh lebih ringan, maka ketika dilihatnya Pemilik bunga bwee terluka dan butuh waktu untuk mengembalikan daya tempur-nya, terpaksa ia harus menyerempet bahaya dengan menghadang ketua Hian- hong-kau lebih dahulu, rencananya asal ia bertarung melawan ketua Hian-hong-kau tersebut, berarti pemilik bunga bwee akan peroleh waktu yang cukup untuk memulihkan kembali kekuatannya. sambil tertawa dingin ketua Hian-hong-kau menjengek:

"Aku sebagai seorang ketua partai tak bakal sudi bertarung melawan manusia macam kau. "

ia segera memberi tanda, seorang manusia berbaju serba hitam yang selama ini berdiri di sisi kirinya segera maju sambil berseru: "Biar aku saja yang bertarung melawanmu." Tangan kanan disilangkan di depan dada, tangan kiri setengah ditekuk ke depan, ia siap menanti datangnya serangan dari lawan.

"siapa kau?" tegur kakek berbaju kuning itu sambil tertawa dingin, "Kau anggap dirimu pantas bertarung melawanku?"

"Budak tua yang tidak tahu malu" umpat manusia berbaju hitam itu gusar, sebuah pukulan dilontarkan ke muka.

Kakek berbaju kuning itu ayunkan tangan kirinya balas mencengkeram pergelangan tangan manusia berbaju hitam itu.

Dengan cekatan orang itu menarik kembali tangan kanannya, sementara telapak tangan kirinya secepat kilat didorong ke muka, maka kedua orang itu pun terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.

Kendatipun lengan kanan kakek berbaju kuning itu terluka sehingga gerak geriknya kurang leluasa, namun perubahan jurus serangannya tetap aneh, ampuh dan luar biasa, bagaimana pun cepat dan hebatnya manusia berbaju hitam itu melancarkan serangan, semuanya berhasil dibendung hanya dengan lengan kirinya.

Dalam pada itu ketua Hian-hong-kau telah lewat dari sisi kedua orang itu langsung menghampiri Pemilik bunga bwee, tantangnya: "Aku siap mencoba beberapa jurus ilmu silatmu"

Tanpa membuang tempo kelima jari tangan kanannya segera menyambar ke muka mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan pemilik bunga bwee, selama ini pemilik bunga bwee hanya pejamkan mata sambil mengobati lukanya, dia seolah-olah tidak merasa sama sekali akan datangnya kelima jari tangan dari ketua Hian- hong-kau.

Menunggu sampai ujung jari lawan hampir menyentuh pergelangan tangannya ia baru membalik pergelangan tangannya secepat kilat lalu menyentil ke depan.

segulung desingan angin tajam segera meluncur ke muka dan menghantam kelima jari tangan ketua Hian- hong-kau yang hampir mengenai badannya itu.

Mimpipun ketua Hian-hong-kau tidak mengira dalam keadaan terluka parah ternyata lawan masih memiliki kekuatan sedemikian hebatnya, untuk menghindar ternyata tak sempat lagi, tahu-tahu pergelangan tangannya terasa jadi kaku, tangan kanannya yang mencengkeram tangan kanan Pemilik bunga bwee kehilangan tenaga hingga tanpa sadar terkulai lemas ke bawah.

Berhasil melukai musuhnya pemilik bunga bwee tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan serangan lagi, kembali dia pejamkan matanya rapat- rapat.

Jelas gempuran tersebut telah banyak menghabiskan tenaganya sehingga ia tidak memiliki tenaga lagi untuk meneruskan serangan.

Ketua Hian-hong-kau kembali menghimpun tenaga dalamnya, setelah menotok jalan darah di lengan kanannya, dengan tangan kiri sekali lagi dia cengkeram pergelangan tangan kiri Pemilik bunga bwee Tiba-tiba Pemilik bunga bwee membuka matanya lebar- lebar sambil menatap wajah ketua Hian-hong-kau tanpa berkedip. sementara tubuhnya mundur dua langkah dengan cepat.

Dengan suara rendah ketua Hian-hong-kau menghardik:

"Posisimu sudah terjepit sekarang, lebih baik menyerahkan diri saja "

Belum habis ucapan itu diutarakan, mendadak Pemilik bunga bwee membalik telapak tangan kanannya lalu dihantamkan ke dada lawan.

Gempuran itu sangat mengambang dan sama sekali tak bertenaga, ketua Hian-hong-kau segera memutar tangan kirinya dan menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras melawan keras. sekali pun ketua Hian-hong-kau tidak tahu apakah Pemilik bunga bwee masih memiliki kekuatan untuk bertarung atau ti-dak. namun di hati kecilnya ia sadar bahwa inilah satu-satunya kesempatan baginya untuk meraih kemenangan.

oleh sebab itu kendatipun lengan kanannya terluka, ia tetap bersikeras menyambut serangan dari Pemilik bunga bwee itu dengan keras melawan keras.

Begitu sepasang tangan saling beradu, terjadilah suara benturan yang sangat ringan, Pemilik bunga bwee tergetar mundur sejauh tiga langkah dari posisi semula sebaliknya ketua Hian-hong-kau tetap berdiri tak bergerak sedang tangan kirinya pelan-pelan ditarik kembali.

Tempik sorak segera bergema memecahkan keheningan, para jago sama-sama bersorak memuji:

" Ketua Hian-hong-kau telah menang, kita sudah menang kan satu babak lagi"

Hanya Li Bun-yang seorang yang mengetahui bahwa gelagat tidak beres, tanpa perduli bakal dicemooh orang lain ia segera berjalan menghampiri ketua Hian-hong-kau sambil tegurnya:

"Parah tidak lukamu?" sambil bertanya ia bermaksud menggenggam lengan ketua Hian-hong-kau. Mendadak terdengar seseorang membentak dengan suara berat: "Jangan disentuh"

Tampak kakek bermata satu itu maju mendekat dengan langkah lebar. Li Bun-yang tertegun, ditatapnya kakek bermata satu itu sambil bertanya penuh gelisah: "Locianpwee, bagaimana keadaan lukanya?"

Kecuah Li Bun-yang sekalian beberapa orang terbatas, hampir boleh dibilang para jago lainnya tidak tahu siapa gerangan kakek bermata satu itu, ketika para jago melihat ahli waris generasi ketiga dari bukit Hong-san ini bersikap begitu hormat terhadap kakek itu, tentu saja mereka semua jadi tercengang,. Terdengar kakek bermata satu itu menjawab:

" Ia sudah terkena ilmu pukulan penghancur hati. "

"Ilmu pukulan penghancur hati.,." seru Li Bun-yang terkejut

"Benar, ilmu pukulan ini sudah ratusan tahun lamanya punah dari dunia persilatan sungguh tak disangka sekarang dapat muncul kembali di sini. "

"Locianpwee, apakah masih bisa ditolong?" "Aku belum pernah tahu adakah obat yang bisa

digunakan untuk mengobati luka akibat pukulan penghancur hati. " Li Bun-yang menghela napas panjang. "Locianpwee, kalau toh kau tidak tahu cara untuk menolongnya, terpaksa aku harus membawanya pulang ke bukit Hong-san."

"Dalam keadaan dan saat seperti ini lebih baik jangan sentuh dia."

"Dari pada membiarkan dia duduk menunggu ajal, lebih baik kita berusaha untuk mencoba menolongnya, untuk sementara waktu urusan partai bisa locianpwee selesaikan" Bicara sampai di situ kembali ia bermaksud menangkap tangan ketua Hian-hong-kau. Mendadak terdengar seseorang berkata dengan suara lembut:

"Lebih baik jangan kau sentuh dia lebih dulu, ilmu pukulan penghancur hati bukan kepandaian yang mematikan,jadi tak usah kau herankan-"

Li Bun-yang menarik kembali tangan kanannya seraya berpaling, tampak seorang pemuda bertopi kecil sedang berjalan mendekat dengan langkah lambat.

Perawakan tubuh orang ini kecil mungil, sepintas lalu usianya baru empat lima belas tahunan.

Satu ingatan melintas dalam benak Li Bun-yang, ia segera menghadang jalan pergi pemuda itu dan menegur seraya memberi hormat:

"llmu pukulan penghancur hati merupakan ilmu sakti yang sudah punah dari dunia persilatan, setiap anggota persilatan tahu bahwa ilmu tersebut hebat dan sukar ditolong, siapa kau, kenapa berani bicara sesumbar?"

"Aku hanya bertanya saja tanpa mempunyai maksud lain, harap saudara bersedia menolong jiwanya . "

orang berbaju hijau itu tidak bicara lagi, pelan-pelan dia berjalan mendekati ketua Hian-hong-kau lalu dari sakunya mengambil keluar sebuah kotak kemala yang penuh berisi jarum emas.

Dengan amat cekatan dia mengambil sebatang jarum dan langsung ditusukkan ke atas jalan darah Cian-keng- hiat pada bahu kanan ketua Hian-hong-kau itu.

Tampak orang itu bekerja cepat, dalam waktu singkat ia telah menusuk tubuh ketua Hian-Hong-kau itu dengan delapan belas batang jarum emas.

sementara itu perhatian semua jago telah ditujukan ke wajah orang berbaju hijau serta ketua Hian-hong-kau, mereka menantikan perubahan yang bakal terjadi.

Li Bun-yang paling gelisah, diam-diam ia sudah menghimpun tenaga dalamnya sambil bersiap sedia, begitu melihat gelagat tidak beres maka ia berniat menyerang orang berbaju hijau itu dengan sepenuh tenaga.

Waktu pun berlalu dalam suasana hening namun menegangkan, meskipun di tempat itu berkumpul beratus-ratus orang jago namun tak kedengaran sedikit suara pun, siapa saja di antara mereka tak bisa menduga perubahan apa yang bakal terjadi di situ sehingga keheningan tersebut mendatangkan suasana sumpek di dada setiap orang.

Tiba-tiba terdengar ketua Hian-hong-kau yang berdiri kaku itu menghela napas panjang sambil pelan-pelan menggerakkan lengannya.

Pemuda berbaju hijau itu segera tersenyum hingga teriihat sebaris giginya yang rapi bersih, sambil menengok Li Bun-yang sekejap serunya: "Kau sudah percaya dengan perkataanku bukan?"

Tampak Pemilik bunga bwee yang semula pejamkan matanya itu mendadak membuka matanya kembali, katanya dingin: "Kalian telah kalah"

Paras muka Pemilik bunga bwee waktu itu sudah nampak normal kembali, matanya memancarkan sinar tajam dan air mukanya merah dadu, tampaknya menggunakan waktu yang amat singkat itu dia sudah memulihkan kembali kekuatan badannya yang hilang.

Kakek bermata satu itu menghentakkan tongkatnya ke atas tanah, sambil maju dengan langkah lebar serunya: "Ilmu silat yang anda miliki betul-betul sempurna, kau terhitung tokoh sakti nomor satu yang pernah kujumpai selama hidup-ku. "

"Kau masih ingin bertarung melawanku?"

"Meskipun kepandaian silat yang kau miliki amat luas dan sempurna, namun aku yakin masih mampu menandingi kehebatanmu, lihat saja nanti siapa yang lebih unggul."

"Kau telah melepaskan kesempatan yang amat baik untuk menghabisi nyawaku. "

"Belum pernah aku cari keuntungan dari kesulitan orang lain"

"Sayang sekali kesempatan bagimu untuk menghadapi dirikupun sudah tak ada lagi "

"Aku tidak paham dengan maksud perkataanmu itu." "Gampang sekali, maksudku kau sudah tidak memiliki

kemampuan untuk bertarung lagi. "

"oooh, kalau soal ini mah aku tak percaya" tukas kakek bermata satu dingin.

"Kalau tak percaya kenapa tidak dicoba mengerahkan tenaga?" Kakek bermata satu itu menurut dan mencoba mengatur pernapasan, tiba tiba paras mukanya berubah hebat, dengan penuh amarah bentaknya:

"Kau menyebut dirimu sebagai seorang manusia gagah, kau tidak merasa tindakanmu itu kelewat munafik dan licik?" Pemilik bunga bwee tertawa hambar.

"Ketika delapan belas orang jago mengerubuti mendiang orang tuaku dulu, apakah di antara mereka bukan jago-jago kenamaan semua? Main keroyok seperti itu tidak kau anggap munafik dan licik?" setelah berhenti sejenak, kembali sambungnya dengan suara lantang: "silahkan kamu semua mencoba untuk mengatur pernapasan,"

Walaupun para jago tidak paham dengan apa yang dimaksudkan tapi semuanya menurut juga untuk mengatur pernapasan,

Tapi dengan cepat mereka berdiri tertegun dan tak tahu apa yang harus diperbuat.

Ternyata begitu para jago mencoba untuk mengatur pernapasan, mereka segera merasa daerah "tan-tian" mereka secara lamat- lamat terasa sakit, seperti terkena racun yang amat ganas, bukan begitu saja, semakin mereka coba untuk menghimpun tenaga dalam, rasa sakit yang menyerang justru makin menghebat. Tak bisa disangkal lagi semua jago telah keracunan yang menyebabkan ilmu silat mereka punah sama sekali, berarti juga mereka telah kehilangan kemampuan untuk bertempur,jangan lagi melakukan perlawanan, kekuatan untuk melarikan diripun ikut lenyap.

Helaan napas panjang pun berkumandang memecahkan keheningan, siapa saja mengerti, dalam keadaan dan situasi seperti ini mereka sudah kehilangan kemampuan untuk menentukan nasib sendiri

Dengan suara keras pemilik bunga bwee berkata: "Aku percaya anda semua telah mencoba untuk

mengatur pernapasan dan membuktikan bahwa apa yang kukatakan bukan gertak sambal belaka " setelah

berhenti sejenak, terusnya lagi dengan suara keras:

"Kini tersedia dua jalan bagi kalian semua untuk memilih, ke satu bunuh diri di tempat atau kedua menyerahkan diri sambil menunggu hukuman, aku yakin kamu semua tentu paham bahwa kesempatan bagi kalian untuk melarikan diripun ikut lenyap."

Mendengar perkataan tersebut, tanpa terasa Li Bun- yang berpaling memandang kakek bermata satu itu sekejap. lalu bisiknya:

"Locianpwee, benarkah kita sudah kehilangan sama sekali kemampuan untuk memberikan perlawanan?" setelah mendengarkan penuturan coat-pin taysu tentang peristiwa lalu, ia segera mengambil kesimpulan bahwa Ciu Huang serta almarhum ayahnya merupakan pentolan daripara jago yang mengerubuti seebun Hong suami istri tempo dulu, apabila asal usulnya sampai ketahuan pemilik bunga bwee sekarang, sudah dapat dipastikan ia pasti tak akan dilepaskan dengan begitu saja.

Dengan penuh amarah kakek bermata satu itu menjawab:

"Benar, kita semua telah kehilangan daya kemampuan untuk melawan, kecuali menyerah tak ada jalan lain lagi."

Li Bun-yang menghela napas panjang, sambil berpaling ke arah Pemilik bunga bwee dia menegur:

"Tahukah kau siapa aku?"

"setiap orang yang ikut hadir dalam pertemuan hari ini merupakan jago-jago kenamaan dalam dunia persilatan, hanya saja aku tak bisa menghapal nama kalian satu persatu."

"Meskipun anda tak kenal diriku, paling tidak kau tentu kenal dengan ahli waris generasi kedua dari keluarga persilatan bukit Hong-san bukan. " "Kau maksudkan Li Tong-yang?" seru Pemilik bunga bwee dengan sepasang mata berkilat

"Dia adalah mendiang ayahku."

"oooh, kalau begitu kau tentulah Li Bun-yang, ahli waris generasi ketiga dari keluarga persilatan bukit Hong- san-"

"Tepat sekali dugaanmu"

"Bagus, bagus sekali, kematian ayahmu memang sempat mengecewakan perasaanku sebab aku tak mampu mengorek keluar hatinya untuk sesaji di depan abu orang tuaku, kehadiranmu sangat kebetulan, kau bisa menggantikan kedudukannya.,."

"saat ini semua jago yang ada di sini ibarat burung dalam sangkar semua nasib Mereka berada di tanganmu, meski aku tak menguatirkan keselamatan jiwaku namun ada satu hal yang tetap tidak kupahami, bersediakah kau memberi penjelasan agar kami semua bisa mati dengan meram?"

"Tanya saja, bagaimana yang tidak kau pahami?" "Kami sama sekali tidak menyentuh arak serta

hidangan yang kau sajikan, dengan cara apa kau mampu meracuni beratus orang jago tanpa mereka sadari?" "Tahukah kau apa sebabnya kupilih tempat semacam ini sebagai tempat untuk men-jamu kalian?"

"Aku tidak paham."

"Aku hendak menggunakan rerumputan liar itu untuk meracuni kalian tanpa kalian sadari sebelumnya."

"Bagaimana mungkln rerumputan di sini bisa beracun, bahkan bisa meracuni kami tanpa menimbulkan sedikit baupun?"

"Sepintas lalu peristiwa ini kelihatanya aneh dan penuh misteri, padahal kalau dijelaskan tak ada anehnya "

ia berhenti sejenak. setelah memandang sekejap para jago yang berdiri termangu itu, sambungnya lebih jauh:

"Mula-mula kulumuri rerumputan liar dan pepohonan di sekitar tempat ini dengan air yang sudah dicampur dengan racun ganas, embun pagi akan membuat bubuk racun yang hampir mengering itu menempel dan menyebar di seluruh tangkai, daun serta ranting pohon, karena

disinari matahari hampir setengah hari lamanya, embun pagi itu akan mengering, maka tatkala angin berhembus lewat, bubuk racun yang sudah menempel pada dahan, ranting serta dedaunan akan berguguran dan beterbangan ke-empat penjuru, padahal bubuk racun yang kupakai tidak berwarna maupun berbau, ketika kalian berbicara dan bernapas di sekitar tempat ini, bubuk racun itu ikut terhirup masuk ke tubuh kalian tanpa disadari, otomatis kalian pun akan keracunan tanpa terasa "

"ooh. rupanya begitu, betul- betul hebat."

"Tapi semuanya itu bukannya tanpa syarat yang bisa dilakukan setiap orang, perubahan cuaca, kekuatan angin,arah angin serta situasi medan harus diperhitungkan sebelumnya dengan jelas dan pasti, dengan demikian, sekali tembak kita baru akan mendatangkan hasil yang luar biasa."

"Apakah kau sendiri tidak kuatir ikut keracunan?" tanya Li Bun-yang keheranan Pemilik bunga bwee tersenyum.

"Aku berharap kalian semua keracunan, tentu saja kalau aku sendiri pun ikut keracunan hal ini kelewat menggelikan"

"Dari kemampuan anda untuk meracunkan semua jago dengan cara begini dapat disimpulkan bahwa kecerdasanmu memang luar biasa" kata Li Bun-yang dengan kening berkerut, "Padahal semenjak memasuki arena aku selalu memperhatikan situasi di sekeliling tempat ini, aku tak berhasil menemukan gejala-gejala yang mencurigakan" "Kalau persiapanku sampai ketahuan kalian, mana mungkin aku bisa meracuni kamu semua?"

"Caramu itu memang hebat, jitu dan sukar diduga orang, tapi tindakan ini kelewat licik, keji dan pengecut."

"Menggunakan tentara harus pandai bertaktik perang, makin hebat taktik itu makin luar biasa hasilnya, sekarang kita berhadapan sebagai musuh, buat apa kita mesti hiraukan soal welas kasih atau kejujuran?"

"Bila anda mampu menghabisi kami dengan mengandalkan ilmu silat, itu baru kemenangan yang betul- betul mengagumkan "

"Jadi kau tak puas dengan kekalahan ini?" "Menghilangkan daya kemampuan kami untuk

melawan dengan cara yang licik dan keji, bukan saja aku kalah dengan perasaan tak puas, bahkan rasa kecewakupun luar biasa."

"Ketika orang tuaku mati dicincang para jago, apa kau anggap mereka kalah dengan perasaan puas, mereka bisa mati dengan mata meram?" Coat-pin taysu yang selama ini membungkam tiba-tiba menyela:

"Meskipun orang tuamu tewas dikerubuti para jago, namun mereka mati dalam pertarungan di mana masing- masing pihak mengandalkan kepandaian silat yang dimiliki kalau dibandingkan dengan membokong menggunakan racun tentu saja beda sekali."

"Jadi maksud taysu?"

"Maksudku, sepantasnya bila seebun sicu memberi kesempatan kepada mereka untuk mengandalkan ilmu silatnya meraih kemenangan,"

Pemilik bunga bwee termenung sambil berpikir berapa saat lamanya, mendadak ia berjalan menghampiri ketua Hian- hong- kau dan menyambar kain cadar mukanya sembari berseru:

"lngin kulihat bagaimana sih ketua Hian- hong- kau yang amat cerdik ini?"

Ketika ujung jarinya hampir menyentuh di atas kain Cadar muka ketua Hian-hong-kau, mendadak ketua itu mundur dua langkah menghindari sambaran lawan, sahutnya dingin:

"Bila tindakanmu meracuni para jago termasuk juga dalam taruhan ini, maka sekali lagi kau kalah dalam babak ini, masih ada seorang di antara para jago yang hadir di tempat ini sama sekali tidak keracunan-"

"Aku tak percaya kalau kau tidak keracunan?" seru Pemilik bunga bwee sambil menarik kembali tangannya.

"Apa yang harus kuperbuat hingga kau percaya?" "Terima dulu tiga buah pukulanku, akan kulihat betulkah kau tidak keracunan-..."

"Tidak bisa" tukas Li Bun-yang, "Dia baru saja terkena ilmu pukulan penghancur hatimu di mana beruntung ditolong saudara itu, sekarang tusukan jarum emas di tubuhnya pun belum dicabut, bagaimana mungkin bisa bertarung melawanmu?"

"Jalan pikiran orang ini memang keji dan kejam" sela ketua Hian-hong-kau dingin, "Ia memang berharap aku terluka dalam tiga pukulannya itu, bila demikian, sekali pun aku tak sampai keracunan, orang mati mana bisa memberikan kesaksian?" Pemilik bunga bwee segera tertawa dingin:

"Hmmm, jadi kau pun tahu bahwa dirimu tak mampu menerima ketiga buah pukulan-ku?"

"Aku sudah terkena ilmu pukulan penghancur hatimu hingga kondisi tubuhku belum pulih kembali, dalam satu jam mendatang aku tidak memiliki kemampuan untuk bertarung lagi."

"Hehehe... kasihan amat perkataanmu itu,jadi kau ingin mohon aku mengampuni jiwamu?" ejek Pemilik bunga bwee sambil tertawa dingin tiada hentinya.

"Kini, para jago sudah termakan bokonganmu hingga keracunan hebat dan menyerahkan nasibnya di tanganmu, apa pula arti kematian bagiku seorang? Bagaimana pun hebatnya ilmu silatmu dan kecerdikanmu, tak mungkin kau bisa melawan para jago dari seluruh dunia, suatu ketika nanti toh bakal menemui ajalnya juga, jadi kematian antara kau dan aku hanya berbeda dalam soal waktu saja." sekali lagi pemilik bunga bwee tertawa dingin.

"Ketajaman lidahmu tak akan membantu kau untuk lolos dari musibah hari ini, baiklah, kalau toh kau mengatakan tidak keracunan, biar aku membunuhmu lebih dulu."

Tubuhnya segera bergerak maju dan membabat tubuh ketua Hian-hong-kau. Dengan penuh amarah Li Bun- yang menghardik: "Tahan"

Tubuhnya menerjang maju ke muka, siapa tahu baru saja kakinya menjejak tanah, badannya sudah roboh terjungkal.

Rupanya dalam gelisah dan gUsarnya ia sudah lupa kalau dirinya keracunan, begitu hawa murninya coba dikerahkan, racun dalam tubuhnya pun segera kambuh, akibatnya diapun roboh terjungkal.

Meskipun ia menggertak gigi tanpa bicara, namun dari peluh yang bercucuran membasahi jidatnya, siapa pun tahu bahwa ia sedang berjuang untuk melawan penderitaan dan siksaan yang dialaminya akibat daya kerja racun di tubuhnya.

Dalam pada itu ketua Hian-hong-kau telah berkelit ke samping menghindarkan diri dari serangan musuh, tangan kanannya segera merogoh ke dalam saku menggenggam sesuatu, ancamnya:

"Baiklah, mari kita mati bersama-sama, pengorbananku ini pasti akan dianggap sebagai pahala besar bagi umat persilatan,"

"Hmmm, kau anggap aku takut dengan gertak sambalmu. " seru pemilik bunga bwee.

Meskipun berkata begitu, ia toh tak berani mendesak lebih jauh, kepalanya berpaling dan memandang kakek berbaju kuning itu sekejap. Ketika itu si kakek berbaju kuning telan berhenti bertarung melawan orang berbaju hitam itu, begitu mendengar perintah majikannya, ia segera melompat maju ke depan-

" Coba kau periksa benda apa yang digenggamnya itu"perintah Pemilik bunga bwee.

Kakek berbaju kuning itu mengiakan, tubuhnya menerjang maju ke muka mendekati ketua Hian-hong- kau.

Kakek bermata satu yang berdiri di belakang ketuanya segera berseru pula: "silahkan ketua berdiri di sisiku" Baru saja ketua Hian-hong-kau hendak menyingkir kakek berbaju kuning itu sudah memburu maju lebih dulu menghadang jalan mundurnya. Dalam pada itu, pemuda baju hijau yang memakai topi kecil itu hanya membungkam diri selama ini, menanti kakek berbaju kuning itu sudah menghadang jalan pergi ketua Hian- hong-kau, ia baru maju ke muka sambil berseru: "Tahan"

"Kenapa? Kau juga ingin turut campur dalam urusan ini?" tegur kakek berbaju kuning itu gusar.

Pemuda berbaju hijau itu tertawa. "Meskipun aku memiliki kemampuan untuk

menghidupkan kembali orang mati, sayang dalam ilmu silat tak mengerti apa-apa, bagaimana mungkin aku, dapat bertarung melawanmu?"

" Kalau memang tak mengerti ilmu silat, lebih baik cepat-cepat menyingkir dari sini,"

"Di tubuhnya masih penuh tancapan jarum emas, dalam keadaan begini mana mungkin ia bisa bertarung? Lebih baik biar kucabuti dulu jarum-jarum tersebut sebelum kalian bertarung."

Baru saja kakek berbaju kuning itu hendak mengumbar hawa amarahnya, Pemilik bunga bwee telah menyela:

"Biarkan dia cabuti dulu jarum-jarum emas itu" sambil tersenyum pemuda berbaju hijau itu segera mengejek:

"Nah, sudah kau dengar perintah ketua mu? sebagai budak kenapa tidak segera menggelinding ke samping?"

Hijau membesi paras muka kakek itu saking gusar dan mendongkolnya, namun ia tak berani membangkang perintah majikan-nya, terpaksa dengan wajah bersungut- sungut mengundurkan diri dari situ.

Pelan-pelan orang berbaju hijau itu menghampiri ketua Hian-hong-kau, ketika tangannya bekerja keras mencabuti jarum-jarum emas dari tubuh ketua Hian- hong-kau itu, bisiknya lirih:

"Caramu ini hanya bisa mendong situasi untuk sesaat, sebentar kemudian rahasiamu pasti akan ketahuan, kini hanya ada satu cara saja untuk melewatkan kalian dari ancaman bahaya."

setelah menyaksikan kemampuannya untuk mengobati luka akibat pukulan penghancur hati tadi, ketua Hian- hong-kau sudah menaruh perasaan kagum terhadap orang ini, segera pikirnya:

"Tampaknya untuk meloloskan diri dari ancaman bahaya hari ini, aku harus tergantung pada kemampuan orang ini. " Berpikir demikian, ia pun bertanya lirih: "Akal apa yang kau miliki?"

"Dengan cara yang sama kita kerjai mereka"

"Maksudmu dengan racun melawan racun ?"

Mendadak terdengar Pemilik bunga bwee menegur sambil tertawa dingin-

"Hmmmm Apa yang sedang kalian bicarakan?

HHuuuh.,, sekali pun kalian punya akal busukpun aku tak bakal takut"

Ternyata mereka berdua berbicara dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara, maka meski pemilik bunga bwee memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa pun ia tak berhasil menangkap pembicaraan itu secara jelas. Terdengar orang berbaju hijau itu berkata lagi:

"Buka tangan kananmu lebar-lebar, aku hendak serahkan sejenis racun jahat kepadamu, ketika melakukan pertarungan nanti manfaatkan kesempatan tersebut untuk menyalurkan racun tadi ke dalam tubuhnya."

"Baik Akan kulaksanakan idemu itu."

Agaknya untuk menyelesaikan perkataannya tadi orang itu sudah menggunakan seluruh tenaganya, maka ketika selesai berbicara, ia sudah kecapaian hingga bermandikan keringat.

Dengan wajah pucat pias dan keringat bercucuran membasahi tubuhnya, orang itu mencabut semua jarum emas dari tubuh ketua Hian-hong-kau, menggunakan kesempatan tersebut dia serahkan sebuah benda kecil ke tangan orang itu, kemudian baru pelan-pelan mengundurkan diri dari situ.

Dengan sorot mata yang tajam Pemilik bunga bwee mengawasi pemuda berbaju hijau itu lekat-lekat, kemudian tegurnya: "siapa kau?"

"Aku pemilik bunga anggrek" sahut pemuda itu sambil menyeka peluh dari wajahnya.

"Kurang ajar, kau berani mempermainkan aku" teriak pemilik bunga bwee penuh amarah, tangan kanannya diayunkan kedepan siap melancarkan sebuah pukulan-

"Eeeeeh,.. tunggu dulu, tunggu dulu, bila bertanding silat aku pasti bukan tandinganmu tapi kalau bertarung di bidang lain, aku akan siap melayani tantanganmu" sementara itu ketua Hian-hong-kau telah menarik napas panjang kemudian berkata:

"Pemilik bunga bwee, jika aku mampu menerima tiga buah pukulanmu, maka apa yang akan kau perbuat?" Agaknya Pemilik bunga bwee tidak mengira ketua Hian-hong-kau yang jelas sudah tahu bukan tandingannya ternyata berani mengajukan usul tersebut, untuk sesaat dia berdiri tertegun, tapi jawabnya kemudian-

"Bila kau mampu menerima tiga buah pukulanku, anggaplah nasibmu memang lagi bagus"

Ia tahu ketua Hian-hong-kau banyak akalnya dan tidak diketahui permainan apa yang sedang dipersiapkan, karena itu ia tak berani menjanjikan apa-apa. sambil tertawa dingin ketua Hian-hong-kau segera menjengek:

"Bagaimana? Kau tak berani bertaruh denganku untuk membebaskan para jago yang hadir di sini bila aku sanggup menerima tiga buah pukulanmu?" Pemilik bunga bwee tertawa hambar.

"Aku tahu kau berbuat demikian bukan lantaran ingin beradu kekuatan denganku, sebab kemampuanmu jelas bukan tandinganku setelah aku tahu bahwa kau berniat jelek kepadaku, kenapa pula aku mesti menuruti kemauanmu dengan menghantarkan diri masuk ke dalam perangkapmu? "

"Hmmmm... sayang sekali dugaanmu keliru besar, kali ini aku benar-benar ingin mengandalkan ilmu silat untuk beradu kekuatan denganmu." " Kalau benar-benar begitu, mungkin hanya satu pukulan pun kau tak bakal mampu untuk menerimanya . "

"Tak usah banyak bicara, kenapa tidak kita buktikan segera?"

Dia hanya tahu di antara sela jari tangannya terselip sebuah benda kecil mirip kacang hijau, sedang mengenai benda apakah itu dan bagaimana caranya menyalurkan racun ke dalam tubuh pemilik bunga bwee, ia sama sekali tak paham.

Dalam keadaan yang terjepit seperti saat ini dia hanya tahu mencoba setiap cara yang mungkin bisa dilakukan untuk mencoba meloloskan diri dari bahaya maut, karena itulah pelan-pelan dia berjalan mendekati Pemilik bunga bwee.

Tampaknya Pemilik bunga bwee sendiripun sudah menduga bahwa di antara sela jari tangan lawan terselip sesuatu, maka dengan sorot mata yang tajam dia awasi gerak gerik lawannya tajam-tajam.

Ketika menyaksikan tangan kiri ketua Hian-hong-kau dipentangkan sedang tangan kanannya dikepal kencang, sambil tertawa dingin ia menegur lagi: "Benda apa yang berada dalam genggaman tangan kananmu?" "Coba lihatlah sendiri" sahut ketua Hian-hong-kau sambil mementangkan tangannya,

"Hmmm, aku tahu kau hendak menipu aku"

" Kalau sudah tahu aku menggunakan akal untuk menipumu, kenapa kau tak berani maju sendiri untuk menghadapiku kalau takut, suruh saja budak tuamu itu untuk maju ke depan"

Dimaki habis-habisan sebagai "budak", kakek berbaju kuning itu kontan saja naik pitam, dengan penuh amarah bentaknya: "siapa yang kau maki? Kubacok tubuhmu sampai mampus"

Tubuhnya melompat ke depan dan langsUng menerkam ketua Hian-hong-kau. Mendadak terlihat cahaya tajam berkilauan, tiga titik cahaya yang amat menyilaukan mata meluncur ke muka.

Kakek berbaju kuning itu segera menarik kembali tenaga murninya sambil melayang turun ke bawah, dengan cekatan ia menghindarkan diri dari sergapan tiga batang paku penembus tulang.

Terdengar suara dengusan tertahan bergema memecahkan keheningan, seorang lelaki berbaju hitam tahu-tahu roboh terjungkal ke atas tanah.

Rupanya untuk membantu ketua Hian-hong-kau, secara diam-diam ia mengeluarkan tiga batang jarum penembus tulang dan disambitkan ke arah kakek berbaju kuning, sayang racun dalam tubuhnya segera bekerja hingga tubuhnya roboh terjungkal ke tanah. sambil tertawa dingin pemilik bunga bwee segera berkata:

"Ahli waris generasi ketiga dari bukit Hong-san serta lelaki berbaju hitam itu merupakan contoh yang paling bagus, barang siapa tak kuatir mampus, silahkan saja mengikuti jejak mereka berdua dengan melancarkan serangan kepada kami "

sementara berbicara tangan kanannya diayunkan menghalangi gerak maju kakek berbaju kuning itu, kemudian dengan langkah lebar menghampiri ketua Hian-hong-kau sambil ujarnya lebih jauh:

"Asal kau berani menyambut seranganku ini, akan kubuat kau mampus dengan darah berceceran"

Tangan kanannya diayun ke muka, sebuah pukulan dahsyat dilontarkan-

"Belum tentu begitu" sahut ketua Hian-hong-kau sambil diam-diam menggertak gigi.

Dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya, ia sambut datangnya pukulan dari Pemilik bunga bwee itu dengan tangan kirinya, "Blaaammmm. . .

" Begitu sepasang tangan saling beradu, terjadilah suara ledakan yang amat keras. Tubuh ketua Hian-hong-kau tiba-tiba saja mencelat ke tengah udara dan terlempar sejauh tujuh-delapan depa dari posisi semula.

sebaliknya Pemilik bunga bwee tetap berdiri tak bergerak. wajahnya tenang seolah-olah tak terjadi sesuatu apa pun-

Buru-buru Kakek Bermata satu itu menghampiri ketua Hian-hong-kau, berjongkok dan memeriksa denyut nadi pada pergelangan tangan kanannya.

"Bagaimana keadaan lukanya?" tanya pemuda berbaju hijau itu sambil menghela napas panjang.

"Parah sekali lukanya"

"Asal denyut nadinya belum putus, tak akan jadi masalah." Dari sakunya ia mengeluarkan sebutir pil, kemudian melanjutkan-

"TOlong locianpwee, berikan pil ini kepadanya, dalam keadaan dan situasi seperti ini dia tak boleh mati."

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu kakek bermata satu itu menatap wajah pemuda berbaju hijau itu lekat-lekat, lalu tegurnya? "obat apakah itu?"

"Aku tak akan mencelakai dia, harap lo-cianpwee segera memberikan pil itu kepadanya." setelah menerima pil itu dengan cepat kakek bermata satu itu membuka sedikit kain cadar muka ketua Hian- hong-kau dan menjejalkan obat itu ke dalam mulutnya.

Dari dalam sakunya pemuda berbaju hijau itu mengeluarkan dua batang jarum dan dengan cepat ditusukkan pula ke arah dua buah jalan darah ditubuh ketua Hian-hong-kau.

Begitu jalan darah tertusuk jarum, tiba-tiba saja ketua Hian-hong-kau melompat bangun.

Dengan suara lirih pemuda baju hijau itu berbisik: "Kau harus kobarkan semangatmu untuk memimpin

para jago serta mengatasi masalah didepan mata, ingatlah nasib para jago berada ditanganmu seorang "

"Terima kasih atas petunjukmu"

Dengan langkah lebar dia berjalan menghampiri pemilik bunga bwee, kemudian ujarnya lagi:

"Masih ada dua pukulan yang belum diselesaikan" Paras muka Pemilik bunga bwee kaku tanpa emosi,

seakan-akan ia sama sekali tidak mendengar apa yang diucapkan ketua Hian-hong-kau itu. Tiba-tiba pemuda berbaju hijau itu berkata sambil tersenyum:

"Ia sudah sadar kalau dirinya keracunan hebat, sekarang kau boleh berunding dengannya." "Benarkah kejadian ini?" Ketua Hian-hong-kau setengah percaya setengah tidak.

"Tentu saja sungguh, bicaralah dengan perasaan lega, kecuali ia memang berniat menghabisi nyawamu"

Keseriusan ucapan tersebut semakin menambah rasa percaya ketua Hian-hong-kau terhadap pemuda berbaju hijau itu, dengan kecepatan tinggi tangan kanannya menyambar depan mencengkeram pergelangan tangan kanan pemilik bunga bwee.

siapa tahu Pemilik bunga bwee sama sekali tidak menghindar atau menangkis, ia tetap berdiri kaku dan membiarkan pergelangan tangannya dicengkeram lawan-

Tentu saja peristiwa ini jauh di luar dugaan ketua Hian-hong-kau, untuk berapa saat ia sampai berdiri termangu.

Melihat urat nadi pada pergelangan tangan majikannya berhasil dicengkeram musuh, kakek berbaju kuning itu amat terkejut sambil membentak penuh amarah ia menubruk ke depan-

"Berhenti" kakek bermata satu membentak nyaring, setelah menghadang jalan pergi kakek berbaju kuning itu, ujarnya lebih jauh, "Aku bisa menahan-siksaan dari racunmu dengan menghajar mampus kau dalam satu gebrakan saja " Kakek berbaju kuning itu cukup tahu akan kehebatan kakek bermata satu ini, terbukti majikannya sempat terluka di bawah serangan orang ini, maka ia pun sadar bahwa ucapan lawan bukan gertak sambal belaka, katanya kemudian-

"Bila kau nekad melancarkan serangan, maka keadaanmu tak akan berbeda dengan ahli waris generasi ketiga bukit Hong-san-"

"Hmmmm" kakek bermata satu itu mendengus, "sekalipun racun ditubuhku bekerja bukan berarti aku pasti mampus, tapi kau... kau sudah pasti mati di tanganku. " ia berhenti sebentar, kemudian katanya

lagi:

"Meski kau mati, kematianmu tak akan merubah posisi kalian yang kalah menjadi menang, coba kau lihat Pemilik bunga bwee sendiri pun tahu diri dengan tidak melakukan perlawanan, buat apa kau nekad melancarkan serangan untuk beradu nyawa?"

Kakek berbaju kuning itu melirik pemilik bunga bwee sekejap. mulutnya terbungkam dalam seribu bahasa, jelas ia sudah terbujuk oleh kata-kata si Kakek Bermata satu itu dan tidak memaksakan diri untuk melakukan perlawanan. Dalam pada itu ketua Hian-hong-kau telah membetot lengan lawan kuat-kuat, Pemilik bunga bwee yang berdiri kaku itu tanpa terasa ikut maju dua langkah ke muka.

Ketua Hian-hong-kau agak termangu, tiba-tiba ia lepaskan genggamannya atas pergelangan tangan Pemilik bunga bwee, lalu katanya:

"Kau telah kehilangan tenaga untuk melawan, aku tak boleh melukai seseorang yang tak mampu melawan-..."

Belum habis perkataan itu diutarakan, tiba-tiba ia seperti teringat suatu urusan yang penting, sambil berpaling ke arah pemuda berbaju hijau itu katanya cepat:

"Mungkinkah pil sekecil itu memiliki daya kekuatan yang begini hebat sehingga seorang jago berilmu amat dahsyatpun bisa kehilangan kekuatannya sama sekali?"

"Kalau bukan begitu, jangan harap kalian bisa lolos dalam keadaan hidup hari ini" Ketua Hian-hong-kau menghela napas panjang

"Masih ada satu hal lagi yang tidak kupahami kalau memang pil racun itu amat lihai sehingga begitu tersentuh bisa membuat Pemilik bunga bwee yang berilmu tinggipun berdiri kaku, kenapa aku sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda keracunan?" "Diluar pil racun itu terdapat lapisan pelindung yang keras apa bila lapisan pelindungnya tidak hancur maka racun pun tak akan melukai orang, ketika tenaga kalian saling beradu tadi, lapisan pelindung obat itu hancur berantakan membuat kamu berdua sama-sama keracunan, tapi lantaran tenaga dalammu jauh lebih rendah dari padanya maka racun yang menyerang tubuhmu jauh lebih berat ketimbang dirinya, hanya saja kau sudah minum pil pemunahnya sedang dia tidak."

"oooh... rupanya begitu..." sambil berpaling kearah pemilik bunga bwee tegurnya kemudian-

"sudah kau dengar semua?"

"sudah" jawab pemilik bunga bwee lirih. "Bagus sekali, kau berniat membasmi para jago

dengan menggunakan racun, tapi tidak kau sangka ternyata dirimu juga keracunan, cepat benar hukum karma yang menimpa dirimu."

"Hmmm, dengannya wakus eorang bisa diganti dengan ratusan lembar jiwa, biar mati pun aku tak akan menyesal." kata Pemilik bunga bwee dingin- " orang sering bilang gigitan ular tidak terhitung racun, lebih jahat hati wanita, tampaknya perkataan ini tepat sekali,"

Para jago yang mendengar perkataan itu sama-sama jadi tertegun dan tidak habis mengerti, pikir mereka:

"Ditempat ini hanya ketua Hian-hong-kau yang wanita, masa dia memaki diri sendiri?" sementara itu ketua Hian- hong-kau telah berkata lagi:

"Biarpun kau pandai mengubah suara, mengubah dandanan dan wajah, namun jangan harap bisa mengelabuhi sepasang mataku."

Pemilik bunga bwee mendengus dingin, ia seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi kemudian diurungkan-Ketua Hian-hong-kau berkata lagi:

"Dalam keadaan dan situasi seperti ini, gampang sekali bagiku untuk menghabisi nyawamu, tapi aku tak ingin membunuhmu, aku ingin membuka tabir wajah aslimu agar para jago yang hadir di sini, dapat melihat wajahmu itu sebelum mereka mati keracunan, agar mereka tahu bagaimanakah bentuk rupa orang yang telah mencelakai mereka." Ia maju ke depan dan menarik jenggot yang menempel pada dagu pemilik bunga bwee. Mimpipun para jago yang hadir dalam pertemuan itu tidak mengira kalau Pemilik bunga bwee ternyata adalah seorang wanita yang menyaru sebagai pria, rasa ingin tahu membuat suasana jadi gempar, semua orang ingin tahu bagaimanakah bentuk rupa pemilik bunga bwee, hingga untuk sesaat mereka lupa tentang racun yang mengeram di tubuhnya.

suasana jadi sangat hening, beratus-ratus pasang mata bersama-sama ditujukan ke tengah arena di mana ketua Hian-hong-kau dan Pemilik bunga bwee telah berdiri saling berhadapan

Terdengar ketua Hian-hong-kau menjengek sambil tertawa dingin-

"Hmmm, ilmu penyaruanmu sungguh hebat dan luar biasa, bukan hanya wajah telah kau rubah, bahkan suara pun berhasil dirubah seperti suara kakek-kakek, sayang kau telah meninggalkan sebuah titik kelemahan coba kalau tidak begitu, mungkin aku sendiripun tak akan menyangka "

Tampaknya Pemilik bunga bwee sadar, melawan berarti mendatangkan rasa malu yang lebih besar baginya, maka ia cuma membungkam diri sambil berdiri tak bergerak. Dengan cepat ketua Hian-hong-kau membetot jenggotnya, betul juga, begitu di-tarik, jenggot itu segera terlepas.

sambil menghela napas panjang Pemilik bunga bwee bertanya:

"Darimana kau bisa tahu kalau aku adalah wanita yang sedang menyaru sebagai pria?"

"Apabila jenggot palsumu ini lebih lebat sehingga menutupi sama sekali kulit pada lehermu, mungkin susah bagi orang lain untuk mengetahui penyaruanmu itu"

"Ehmmm, kau sangat teliti, padahal sejak tadi aku sudah tahu bahwa kau cerdik dan banyak akal, seharusnya aku sudah waspada sejak awal."

"sesungguhnya kau bukan kalah di tanganku. " ucap

ketua Hian-hong-kau. setelah melirik pemuda berbaju hijau itu sekejap. lanjutnya:

"Kau sudah kalah di tangan saudara ini, dialah yang mengajarkan akal tersebut kepadaku, pil beracun itu juga pemberiannya, padahal baik ilmu silat maupun kepintaranku jauh bukan tandinganmu apakah kau kalah dengan perasaan tak rela?" Pemilik bunga bwee berpaling ke arah kakek berbaju kuning itu, tiba-tiba perintahnya: "Perintahkan mereka agar menyerbu masuk dari empat penjuru, semua jago yang hadir disini telah keracunan sekali pun mereka nekad beradu jiwa, paling banter hanya satu jurus serangan yang dapat digunakan aku ingin menyaksikan darah mereka menggenangi seluruh permukaan tanah kompleks pekuburan ini. "

"Tapi majikan, kau. "

"Jangan perdulikan aku, aku sudah terkena racun yang jauh lebih jahat daripada racun yang kita gunakan, ilmu silatku telah punah, sekali pun bisa tetap hidup didunia ini tapi apa gunanya?"

"Keinginanmu tak bakal terwujud." jengek ketua Hian- hong-kau cepat, " asalkan anak buahmu mulai bergerak. maka aku akan suruh kau merasakan siksaan dan penderitaan yang paling keji didunia ini."

Tiba-tiba pemuda berbaju hijau itu menyela: "Sekalipun kau sudah terkena racun yang paling jahat

di kolong langit, bukan berarti tiada obat yang tak bisa sembuhkan dirimu."

"Bila aku kehilangan ilmu silat, siapa yang mampu membalaskan dendam sakit hati orang tuaku? Bila dendam tak terbalas, apa artinya aku tetap hidup di kolong langit?" "Asal luka keracunanmu sembuh, otomatis ilmu silatmu akan pulih kembali seperti sedia kala."

"Aku punya sebuah usul yang tidak merugikan kedua belah pihak. " timbrung ketua Hian- hong- kau.

"Kau suruh aku mengobati para jago yang keracunan lalu kau sembuhkan luka racunku?" seru Pemilik bunga bwee cepat, "Kalau dengan satu nyawaku harus ditukar dengan ratusan lembar jiwa, bukankah kerugian berada dipihakku?"

"Itu mah belum tentu, sekalipun kami sudah keracunan bukan berarti kami akan menyerah dengan begitu saja, betul kesempatan menyerang bagi kami hanya satu jurUs, tapi serangan tersebut tentu merupakan himpunan segenap kekuatan yang mereka miliki, bisa dibayangkan betapa dahsyat dan hebatnya pukulan itu, sekalipun belum tentu selembar nyawa mereka bisa ditukar dengan selembar nyawa lawan, paling tidak perlawanan para jago sanggup membantai separuh dari kekuatanmu yang ada."

"setelah kematianku, perguruan bunga bwee memang sepantasnya ikut lenyap dari muka bumi. "

" Kau tak boleh mati" "Biar aku pikirkan secara cermat sebelum mengambil keputusan. " Mendadak pemuda berbaju hijau itu

menyela:

"Jika kau ingin mengobati luka racunmu dengan tenaga dalam, sari racun dengan cepat akan menyebar ke seluruh isi perut, bila sampai begitu maka kau tak bakal tertolong lagi."

Mendadak terdengar suara pekikan nyaring berkumandang datang, dalam waktu singkat suara itu sudah semakin mendekat

Menyusul pekikan nyaring itu terdengar pula beberapa jeritan ngeri yang menyayat hati berkumandang, lalu terdengar pula suara orang bersorak sorai:

" Hakim sakti Ciu Huang, ciu tayhiap telah datang, kita bakal tertolong... kita bakal tertolong "

Buru-buru para jago menyingkir kesamping dan memberikan sebuah jalan lewat.

Tampak seorang Kakek berwajah hitam pekat seperti pantat kuali dan penuh codetan bekas luka bacokan berjalan masuk ke dalam arena dengan langkah lebar. Di belakangnya mengikuti seorang kakek kekar berjenggot putih. Melihat kemunculan kakek itu, Hongpo Lan segera maju menyongsong sambil serunya: "Anak Lan menyambut kedatangan ayah." Ternyata kakek berjenggot putih ini adalah ketua perkampungan kolam enam bintang, si pedang sakti dari Lam-kiang Hongpo Tiang-hong.

sambil menunjuk kearah kakek berwajah hitam pekat itu Hongpo Tiang-hong berseru: "Cepat memberi hormat kepada empek ciu." Hongpo Lan segera memberi hormat seraya berseru: "Menjumpai empek Ciu. "

"Hahaha rupanya putramu sudah dewasa,

kegagahannya tak kalah dengan bapaknya," kata Ciu Huang tertawa.

Kemudian sambil berpaling memandang sekejap sekeliling arena, tanyanya lagi: "Bagaimana keadaan di sini?"

"semua yang hadir telah keracunan, mereka tak mampu mengerahkan tenaga untuk melakukan perlawanan. "

"Aaaah, racun apa yang dia gunakan? Masa begitu hebat?" Ciu Huang mengerutkan dahinya.

"Apa racunnya aku sendiri juga tak tahu, tapi caranya menyebarkan racun sungguh luar biasa."

secara ringkas Hongpo Lan menceritakan apa yang telah didengarnya tadi, sambil menghela napas dan manggut-manggut Ciu Huang bergumam: "Ombak belakang sungai Tiangkang mendorong ombak di depannya, generasi muda memang harus menggantikan generasi tua."

"Sekali pun pemilik bunga bwee telah meracuni semua orang, tapi dia sendiri ikut keracunan."

"Oooh, siapa yang telah meracuninya?" "Saudara itu" kata Hongpo Lan sambil menunjuk

kearah pemuda berbaju hijau itu, "Kedatangannya sangat mendadak, tak diketahui siapa namanya "

"Oooh, begitu. lalu berapa orang yang tidak

keracunan sekarang.,.?" tanya ciu Huang sambil manggut-manggut,

"Mungkin hanya saudara itu beserta ketua Hian-hong- kau."

"Bagus, sekarang beristirahatiah dulu"

Dengan langkah lebar ciu Huang mendekati pemuda baju hijau itu, setelah memberi hormat katanya:

"Aku ciu Huang, boleh kutahu siapa namamu?" "Aaaah, namaku tak dikenal orang, lebih baik tak usah

disebut" jawab pemuda itu tertawa. "Jago muda memang banyak yang aneh, baiklan, kalau kau enggan menyebut namamu, aku pun tak akan memaksa."

"Nama besar ciu tayhiap sudah termasyhur di Bu Lim. kedatanganmu tepat sekali pada waktunya, sekarang kau boleh berbincang dengan Pemilik bunga bwee."

Tiba-tiba Pemilik bunga bwee membuka matanya seraya berseru: "sudah terpikir sekarang "

"Bagaimana keputusanmu?" tanya ketua Hian- hong- kau cepat

"Bila aku tak mampu membunuh habis semua musuh besar pembunuh orang tua-ku, biar matipun aku tak akan meram "

"Jadi kau setuju saling bertukar obat pemunah?" "Bila hari ini aku bisa selamat dari musibah, maka

jangan harap dunia persilatan akan menjadi tenang sejak hari ini, terutama kau sebagai ketua Hian-hong-kau.

Dalam dua bulan mendatang, aku akan membuat perkumpulan Hian-hong-kau mu itu hancur berantakan."

"Bila kau yakin punya kemampuan tersebut, setiap saat kunantikan kedatanganmu"

sementara itu ciu Huang telah menengok ketua Hian- hong-kau sekejap sambil berpikir di hati: "Nama Hian-hong-kau amat jelek dalam dunia persilatan, konon mereka sengaja menggunakan kecantikan wanita untuk menarik para jago bergabung dengan mereka dan menipu ilmu silatnya, kenapa ketua mereka sekarang bersedia menggadaikan nyawa demi umat persilatan? Aaah, pasti ada alasannya di balik semuanya ini, jangan-jangan ia sengaja berbuat demikian agar para jago yang bisa lolos dari cengkeraman Pemilik bunga bwee mau bergabung dengan perkumpulannya karena merasa hutang budi. "

Tiba-tiba terdengar Pemilik bunga bwee berkata: "Aku pernah mendengar orang berkata bahwa Hian-

hong-kau adalah suatu organisasi misterius yang menggunakan wanita cantik untuk menjebak para jago agar bergabung dengan partainya, tapi setelah melihat perbuatan kaucu hari ini, rasanya tindakanmu jaUh berbeda dengan apa yang pernah kudengar ?"

"Berita yang tersiar dalam dunia persilatan belum tentu benar pemberitaannya."

Dengan langkah lebar Ciu Huang maju ke muka, seraya mengulapkan tangannya dia menimbrung: "Aku Ciu Huang "

"Bagus amat nasibmu. " jengek Pemilik bunga bwee.

Ciu Huang tertawa. "Kalau Thian menolak nyawaku, setan pencabut nyawa susah menarik jiwaku, darimana mungkin aku bisa mampus?"

"Bila kau hidup mengasingkan diri ditempat yang sepi dan tidak mencampuri urusan dunia persilatan lagi, mungkin hidupmU bisa berlangsUng berapa tahUn lagi, SUngguh tak disangka kau adalah manusia yang tidak tahu diri"

"Jadi kalau begitu pengeroyokan atas diriku tempo hari merupakan hasil karya-mu?"

"Delapan belas tusukan pedang gagal merenggut nyawamu, kejadian ini benar-benar suatu peristiwa yang aneh."

"Mati hidupku seorang buat apa dipermasalahkan, apa lagi kejadian itu berlangsung selama berapa bulan, dalam berapa bulan itu bisa saja terjadi perubahan besar hingga siapa pun sukar untuk menduganya, yang penting sekarang adalah apa yang hendak kau perbuat terhadap kawanan jago yang telah keracunan itu?"

"Dengan sebutir pil menyelamatkan ratusan jiwa manusia, masa itu belum cukup?"

"Alasannya saja demi orang lain padahal yang benar adalah demi dirimu sendiri, baiklah, karena kedua belah pihak sama-sama diuntungkan, silahkan kau keluarkan obat pemunah racunnya."

"Meskipun aku membawa obat penawar racun itu tapi jumlahnya sangat terbatas, tak mungkin bagiku untuk membagikan mereka seorang sebutir."

"soal itu tak perlu kau risaukan, aku bisa mengaturnya sendiri"

"Kalian harus perlihatkan dulu obat penawar racun untukku. "

Ketua Hian-hong-kau kuatir Pemilik bunga bwee berubah pikiran, sambil berpaling ke arah pemuda berbaju hijau itu katanya: " Harap serahkah obat penawar racun itu kepadaku. " Ciu Huang yang

mendengar perkataan itu buru-buru menyela:

"Jika saudara berniat menyelamatkan jiwa para jago dari kolong langit, lebih baik serahkan obat penawar racun itu kepadaku."

Dari sakunya pemuda berbaju hijau itu mengeluarkan sebUah kotak kemala, katanya:

" obat penawar racun itu cuma sebutir, sedang kalian berdUa sama-sama merupakan tokoh silat yang bernama besar, aku harus serahkan pil ini kepada siapa?" "Itu mah mesti saudara putuskan sendiri, aku tak akan memaksakan kehendakku terserah kepada siapa akan kau serahkan obat itu. " ucap Ciu Huang cepat

"Kalau berbicara soal kedudukan serta nama besar, seharusnya lebih bisa dipercaya jika pil itu kuserahkan kepada Ciu tayhiap " ucap pemuda berbaju hijau itu.

"Kalau begitu aku mewakili para jago yang keracunan mengucapkan terima kasih banyak kepadamu,"

"Kau jangan keburu senang dulu, perkataanku belum selesai Ciu tayhiap jadi orang kelewat jujur dan polos, tidak mengerti soal akal licik orang lain,jika kuserahkan pil ini kepadamu, mungkin kau tak mampu mengungguli kepintaran Pemilik bunga bwee,jadi aku pikir lebih baik kuserahkan pil ini kepada ketua Hian-hong-kau." ciu Huang menghela napas panjang.

"Terserah keputusan anda sendiri, aku hanya ingin mengingatkan dirimu bahwa nasib beratus orang jago kini berada pada keputusanmu." Pemuda berbaju hijau itu tertawa hambar.

"Bila aku tidak memikirkan nasib para jago yang keracunan, pasti pil ini sudah kuserahkan kepada ciu tayhiap." ciu Huang menghembuskan napas panjang untuk menghilangkan rasa mendongkol di hati kecilnya, tapi ia tetap membungkam diri.

Pemuda berbaju hijau itu segera menyerahkan pil tersebut ke tangan ketua Hian-hong-kau, pesannya.

"sebutir pil pemunah ini bisa ditukar beratus lembar nyawa manusia,jangan sekali-kali kau tertipu oleh akal busuk Pemilik bunga bwee."

setelah menerima pil itu ketua Hian-hong-kau berpaling kearah pemilik bunga bwee sambil katanya:

"Kini pil pemunah sudah berada ditanganku, kaupun harus perlihatkan obat penawar racunmu."

Dari dalam sakunya Pemilik bunga bwee mengeluarkan sebuah botol porselin, katanya:

"Botol ini berisikan seratus butir pil pemunah, tapi mereka yang hadir dalam pertemuan ini mendekati empat ratusan orang, dengan cara apa kau hendak membaginya?"

Ketua Hian-hong-kau berpaling memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya:

"ciu tayhiap. kau punya akal?" "suruh dia serahkan sebutir dulu." "Baiklah" sahut Pemilik bunga bwee sambil membuka penutup botol dan mengeluarkan sebutir pil pemunah, lalu sambil dilemparkan ke depan terusnya, "kau cobalah sebutir dulu."

setelah menerima pil tersebut dengan langkah lebar ciu Huang berjalan mendekati Li Bun-yang, ujarnya serius:

"Racun dalam tubuh Li sauhiap sudah mulai bekerja, maafkan aku kalau terpaksa menggunakan kau sebagai kelinci percobaan, nama besar keluarga bukit Hong-san sudah tersohor sampai di mana-mana, tentunya Li sauhiap tak keberatan dengan tindakanku ini bukan-" 

Agaknya Li Bun-yang sudah tak sanggup berbicara lagi, dia hanya mengangguk pelan. Ciu Huang segera berjongkok dan memasukkan pil itu ke dalam mulut Li Bun-yang.

Perhatian semua jago segera dialihkan ke wajah Li Bun-yang sambil menantikan perubahannya.

Peluh yang semula bercucuran membasahi jidat Li Bun-yang lambat laun menghilang, agaknya rasa sakit ditubuhnya mulai surut dan berkurang, tak selang sepeminuman teh kemudian pemuda itu sudah bangkit dan duduk. "Bagaimana rasamu saudara Li?" Ciu Huang menegur sambil menghembuskan napas panjang.

"Bagus sekali, racun dalam isi perutku sudah punah sama sekali," Ciu Huang segera berpaling kearah Hongpo Tiang- hong dan berseru: "Tampaknya terpaksa aku harus minta tolong kepadamu."

"soal apa?"

"Tolong ambilkan dua gentong air bersih dari sumur lima li dari sini dan mengangkutnya dalam keadaan tertutup rapat." Hongpo Tiang-hong mengiakan dan segera berangkat.

Ketua Hian-hong-kau segera berkata:

"ciu tayhiap. apakah kau bermaksud mencampurkan sebotol pil pemunah ini ke dalam air bersih kemudian baru dibagikan kepada para jago?"

"Benar."

"Walaupun cara ini bagus cuma aku takut takaran obatnya tidak sesUai hingga tak bisa membebaskan mereka dari pengaruh racun, lebih baik kita tolong seorang demi seorang."

"Kaucu, kendatipun aku tidak secerdik dirimu, paling tidak aku tak akan bertindak sembrono dengan menganggap ratusan lembar nyawa manusia sebagai bahan permainan."

Li Bun-yang cukup memahami watak orang ini yang keras,jujur dan sangat membenci kejahatan, oleh karena ia sudah mempunyai pandangan yang salah terhadap perbuatan ketua Hian-hong-kau hingga tanpa disadari sikap tersebut terbawa juga dalam tindak tanduknya. 

Tentu saja dalam keadaan seperti ini ia tak leluasa untuk menerangkan dUdUknya persoalan, maka ia cuma tersenyUm tanpa bicara.

Mendadak terdengar sUara pekikan aneh berkUmandang datang dari empat penjuru. Kakek berbaju kuning itu segera berkata:

"Anak buah kita di empat penjuru sudah tak sabar menunggU, apa yang harus kita perbuat sekarang harap majikan memberi perintah."

"Perintahkan mereka untuk membubarkan diri"

Kakek berbaju kuning itu mengiakan, diambilnya terompet tanduk kerbau lalu ditiupnya keras-keras.

Bersamaan dengan bergemanya suara terompet itu, pekikan aneh pun seketika berhenti . Tiba-tiba ketua Hian-hong-kau berseru sambil tertawa terkekeh-kekeh: "Hehehe,., Pemilik bunga bwee, kau tidak merasa terlalu awal untuk mengundurkan para jagomu dari sekeliling tempat ini?"

"Asal kuhancurkan obat pemunah di tanganku, kalian toh tetap sama saja akan mampus."

"sayang kau sudah tak punya kesempatan" "Alasanmu?"

"Dengan membubarkan pasukan dari sekeliling tempat ini, berarti orang yang masih mampu bertempur saat ini tinggal kakek bersangkar burung itu, sebaliknya pihak kami telah kedatangan tenaga baru, bila sampai terjadi pertarungan jelas pihakmu yang akan menderita kerugian besar."

"Bila kau betul- betul hendak ingkar janji, siapa menang siapa kalah masih terlalu awal untuk dibicarakan"

saat itulah terlihat Hongpo Tiang-hong muncul kembali dengan membawa sepikul air yang tertutup rapat. sambil membuka penutup gentong air itu Ciu Huang berpaling kearah Pemilik bunga bwee seraya berseru: "Bagaimana kalau berikan sebutir pil lagi untukku?"

Pemilik bunga bwee mengeluarkan sebutir pil dan dilemparkan ke depan, ciu Huang segera menghancurkan pil itu dan masukkan ke dalam mangkuk. lalu setelah dicampur dengan air bersih serunya lantang:

" Harap lima orang tampil ke depan untuk meneguk secawan air obat ini, kita buktikan lagi apakah racun dalam tubuh kalian bisa dipunahkan"

serentak para jago menyahut dan bergerak maju ke muka, paling tidak ada empat puluhan orang yang maju merubung, MeIihat hal itu Ciu Huang segera berkerut kening, dia tak tahu apa yang mesti diperbuatnya. Ketua Hian-hong-kau maju mendekat, katanya pelahan: "Lebih baik biar aku yang membagi jatah air obat ini. "

Ia terima cawan tersebut dari tangan ciu Huang lalu disodorkan ke depan kakek bermata satu sambil katanya: "silahkan locianpwee minum secawan lebih dulu."

kakek bermata satu itu menerima cawan dan meneguk habis isinya, Ketua Hian-hong-kau memenuhi secawan air obat lagi, kali ini diangsurkan ke hadapan Phang Thian-hua seraya berkata:

"Kau disebut orang dewa jinsom, berarti menguasai sekali tentang obat obatan, silahkan kau teguk cawan ini serta diperiksa apakah sisa racun dalam tubuhmu bisa dihilangkan"

Phang Thian-hua menerima cawan berisi air obat itu dan meneguknya hingga habis. secara beruntun ketua Hian-hong-kau membagikan pula tiga cawan air obat itu untuk Hongpo Lan serta dua orang jago yang ilmu silatnya paling cetek. setelah itu baru katanya dengan suara lantang:

"Sekarang harap saudara sekalian atur pernapasan, coba diperiksa apakah racun sudah hilang dari isi perut kalian?"

sebutir pil pemunah ternyata dibagikan lima orang dari pengaruh racun, kenyataan ini segera membuat para jago menaruh perhatian yang serius dan sama-sama mengalihkan perhatiannya terhadap mereka, suasana punjadi hening.

Waktu bergulir sangat lambat, meskipun hanya sepertanak nasi namun lamanya melebihi puluhan tahun, Andaikata obat yang dicampur ke dalam air putih itu mampu membebaskan lima orang itu sekaligus dari pengaruh racun, berarti delapan puluh persen jago yang keracunan sekarang ada harapan untuk tertolong, Akhirnya terdengar Phang Thian-hua berseru sambil mendehem berat: "semua racun dalam isi perutku telah punah"

Sekulum senyum segera tersungging di wajah Ciu Huang yang serius, ia berpaling dan memberi hormat kepada kakek bermata satu itu sambil menegur: "saudara siang, bagaimana perasaanmu sekarang?" "Aku bukan dari marga siang " potong kakek

bermata satu itu dingin-setelah berhenti sejenak, lanjutnya: "Aku merasa racun dalam isi perutku telah punah."

"Masa sepasang mataku benar-benar sudah kabur "

kata Ciu Huang sambil tertawa hambar.

"Aku suka hidup menyendiri dan paling segan mengajak orang berbincang ciutay-hiap. lebih baik hentikan perbincanganmu itu."

Ketanggor pada batunya Ciu Huang berkerut kening, tapi akhirnya ia berhasil menahan kegusaran hatinya, sambil berpaling kearah Hongpo Lan katanya pula: "Bagaimana perasaanmu sekarang?"

"Aku merasa racun dalam isi perutku sudah punah." ciu Huang segera menoleh kearah ketua Hian-hong-kau, ujarnya:

"Kaucu, sekarang kau boleh mulai merundingkan tentang pertukaran obat penawar racun."

Kini obat penawar racun itu berada di tangan ketua Hian-hong-kau, bagi Ciu Huang, kecuali merampasnya dengan kekerasan terpaksa ia harus merundingkan masalah ini secara baik- baik,

Ketua Hian-hong-kau berjalan menghampiri Pemilik bunga bwee, lalu katanya pelan: "sebelum racun yang mengeram dalam tubuh masing- masing dapat dipunahkan Lebih baik masing- masing pihak jangan melakukan bentrokan phisik."

"setelah kukabulkan permintaanmu itu, tentu saja kami akan pegang teguh janji itu."

Kaucu dari Hiang- hong- kau segera menyodorkan obat penawar racun itu kehadapannya sambil berkata:

"Baik, kita tentukan dengan janji ini, sebelum racun di tubuhmu punah, kami pun tak akan menyerang dirimu."

Kedua orang itu pun saling bertukar obat penawar racun, Pemilik bunga bwee segera menelan pil tersebut begitu diterimanya, sebaliknya ketua Hian-hong-kau menyerahkan sebotol pil tersebut ke tangan ciu Huang, sesudah menerima obat itu Ciu Huang mencampurkan semua obat yang ada ke dalam air bersih, setelah itu baru serunya:

" Harap saudara sekalian antri kemari," setiap orang hanya boleh minum secawan, bila melanggar ketetapan ini, jangan salahkan bila aku akan bertindak dengan memakai kekerasan-"

Dengan kedudukannya yang tinggi dalam dunia persilatan, para jago rata- rata menaruh perasaan keder kepadanya, dengan sendirinya tak ada yang berani mencoba melanggar ketetapan itu, masing- masing orang antri maju ke muka dan meneguk secawan air obat.

Ketika semua jago sudah selesai minum obat, dengan langkah lebar ketua Hian-hong-kau baru tampil ke muka sambil kata-nya:

"sisa obat ini masih ada kegunaannya, lebih baik kita simpan dulu." Diambilnya sisa air obat itu dan diserahkan kepada kakek bermata satu, Waktu itu suasana tegang yang semula mencekam kini makin mereda, seluruh permukaan tanah dipenuhi manusia yang duduk mengatur pernapasan Mendadak Pemilik bunga bwee melejit ke muka dan secepat kilat menerjang kearah ketua Hian-hong-kau sambil mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangannya.

Gerakan tubuhnya kali ini amat cepat bagaikan sambaran kilat, belum sempat ketua Hian-hong-kau itu berbuat sesuatu, tahu-tahu urat nadinya sudah tercengkeram.

Dengan wajah serius Ciu Huang mengangkat tangan kanannya siap melancarkan serangan, hardiknya: "Lepaskan dia"

Pemilik bunga bwee tertawa hambar, ujarnya: "Apabila aku berniat hendak mencelakai jiwanya,

sekarang ia sudah menggeletak di-tanah sebagai mayat, kau pikir masih punya kesempatan untuk memberi pertolongan?"

"Kalau memang tak berniat mencelakai dia, lalu apa maksudmu dengan tindakan ini?

"Ia sudah mencabut jenggot palsuku maka sekarang aku pun hendak menengok wajah aslinya."

sambil berkata dengan cepat ia sambar kain cadar muka ketua Hian-hong-kau.

Mendadak segulung desingan angin tajam menyergap pergelangan tangan kiri Pemilik bunga bwee. Buru-buru Pemilik bunga bwee menarik pergelangantangan kirinya untuk menghindarkan diri Tampak kakek bermata satu itu sudah berdiri lebih kurang empat-lima depa disisi tubuhnya sambil berkata:

"Urungkan niatmu itu, meski kau ingin mengetahui wajah aslinya, sekarang masih belum waktunya."

Dalam pada itu Ciu Huang, Phang Thian-hua maupun Hongpo Tiang-hong sekalian telah merubung ke muka dan melakukan pengepungan pemilik bunga bwee tidak menyangka kalau anak buahnya telah mengundurkan diri dari situ, dalam keadaan begini kendatipun ilmu silat yang dimilikinya jauh lebih hebatpun, mustahil baginya untuk menghadapi tiga empat ratus orang jago hanya mengandalkan puluhan orang dayangnya saja, apalagi diantara mereka tak sedikit merupakan jago lihai kelas satu dari dunia persilatan waktu itu.

Pelan-pelan sorot matanya menyapu sekejap kawanan jago di hadapannya, kemudian ancamnya:

"Bila kalian berani turun tangan, saat ini juga akan kubunuh ketua Hian-hong-kau."

" Kalau satu nyawa ditukar ratusan lembar nyawa, mungkin kau memang dipihak yang beruntung, tapi jika satu nyawa ditukar satu nyawa, tidakkah kau merasa bahwa hal ini sangat merugikan dirimu?" ucap kakek bermata satu.

"Kau yakin ratusan orang jago yang berada di sekitar tempat ini akan membantu kalian semua?"

"syarat apa yang kau kehendaki? Kata-kan saja terus terang"

"Aku hanya menginginkan satu kesempatan untuk membuat mereka yang hadir saat ini mau berbakti kepadaku."

"Kesempatan apa?" tanya Ciu Huang tertegun.

"Di sekeliling tempat ini terdapat banyak sekali tenda, asal mereka yang hadir sekarang mau masuk ke dalam tenda satu persatu dan bicara sekejap denganku maka aku akan merasa puas, aku ingin menggunakan kecakapanku berbicara untuk membujuk mereka agar takluk kepadaku."

"Aaaah, masa kau begitu mampu? Aku kurang percaya."

"Aku minta setiap kali satu orang masuk ke dalam tenda maka orang lain tak boleh mengintip."

"Baik, kita pastikan dengan ucapan ini" sahut Ciu Huang cepat, "lngin kulihat kemampUan hebat apa yang kau miliki sehingga dalam sekejap mata bisa mengubah musuh jadi sahabat"

Pemilik bunga bwee segera melepaskan cekalannya atas ketua Hian-hong-kau, kepada kakek berbaju kuning itu perintahnya:

"Kau berjagalah di muka tenda, kalau ada orang mengintip segera laporkan kepadaku."

Habis berkata ia segera masuk ke dalam sebuah tenda besar. Kawanan dayang kecil berbaju putih dan dayang berbaju hijau serentak mengikuti pula dibelakang pemilik bunga bwee.

"Tunggu sebentar" seru ketua Hian-hong-kau tiba-tiba sambil menghembuskan napas panjang.

"Ada urusan apa?" tanya Pemilik bunga bwee seraya berpaling, "Tidak boleh menggunakan racun-"

"Tentu saja" dengan cepat dia masuk ke dalam tenda.

Dipimpin oleh kakek berbaju kuning itu berpuluh puluh orang dayang cantik tadi segera menyebarkan diri membentuk sebuah barisan bunga bwee serta mengurung tenda itu rapat-rapat.

Phang Thian-hua yang menyaksikan kejadian ini segera berbisik,

"Pemilik bunga bwee banyak akal dan licik, tidak diketahui permainan busuk apa lagi yang sedang dipersiapkan?"

Pemuda berbaju hijau yang selama ini berdiam diri mendadak menghela napas dan berkata:

"Kalian semua sudah tertipu, seharusnya jangan beri kesempatan kepadanya untuk mencoba menaklukkan para jago."

Tampaknya ketua Hian-hong-kau sudah merasa amat kagum dengan kemampuan pemuda berbaju hijau ini, hatinya tergetar keras setelah mendengar perkataan itu, buru-buru tanyanya:

"Tahukah saudara cara apa yang hendak digunakan untuk membujuk para jago agar takluk kepadanya?" "Banyak sekali cara yang dimilikinya, aku sendiripun tidak tahu jenis apa yang hendak digunakan."

"Sudah banyak tahun aku mengembara didalam dunia persilatan," sela Ciu Huang "Banyak sudah kejadian aneh dan manusia aneh yang pernah kujumpai, tapi rasanya belum pernah kujumpai kejadian seperti ini,"

"Justru lantaran rasa ingin tahu kalian maka posisi kalian yang semula kuat kini berubah jadi lemah, kalian sudah dipencundanginya,"

sekali pun ciu Huang tidak percaya penuh dengan perkataan ini,tak urung hatinya goyah juga, pikirnya:

"Masa didunia ini benar-benar terdapat sejenis ilmu yang bisa mengubah jalan pikiran orang dalam waktu singkat?"

Kendatipun orang ini memiliki ilmu silat yang sangat tangguh, namun kebanyakan ilmu yang dipelajarinya adalah kepandaian silat murni, sedang mengenai ilmu sampingan yang lain boleh dibilang tidak tahu sama sekali. Terdengar seseorang dengan suara yang amat nyaring berseru: "Biar aku yang mencobanya lebih dulu."

Ternyata si pembicara adalah lotoa dari empat ruyung dari Juan-pak, tampak orang itu berjalan menuju kearah tenda dengan langkah lebar, serentak perhatian semua orang tertuju ke arahnya, Tak selang berapa saat kemudian tampak bayangan tubuh yang tinggi kekar itu muncul kembali dari balik tenda, cuma mimik mukanya jauh berbeda dengan keadaan semula, kini paras mukanya diliputi keseriusan, ia berjalan dengan kepala terangkat dan dada dibusungkan

Tiga orang saudara lainnya dari empat ruyung Juan- pak serentak maju menghampirinya seraya menegur:

"Lotoa, apakah kau menyaksikan sesuatu yang aneh?"

Dengan pandangan dingin lelaki itu menengok ke tiga orang itu sekejap. mulutnya tetap membungkam diri dalam seribu bahasa. Tiba-tiba terdengar kakek berbaju kuning itu berseru:

"Apabila saudara bersedia untuk berbakti kepada majikan, harap berjalan ke arah Timur sejauh tiga tombak."

Lelaki itu menengok kearah kakek berbaju kuning itu sekejap lalu dengan langkah lebar berjalan menuju kearah Timur.

Kontan saja tindakan lelaki itu membuat suasana jadi gempar, yang paling cemas dan gusar tentu saja ke tiga orang saudara angkatnya. Dengan penuh amarah ketua Hian-hong-kau berseru:

"Ia tidak menjawab pertanyaan, berarti belum tentu kemauannya sUka rela, aku tebak kalau bukan keracunan tentu sudah tertotok jalan darahnya."

"Kenapa tidak kau tanyakan sendiri?"

Ketua Hian-hong-kau ini segera maju menghampiri lelaki tersehut, tanyanya dengan lembut:

"siapa namamu?" "The Toa"

"Kau terluka?" "Tidak"

" Keracunan?" "Juga tidak."

"Lantas mengapa rela berbakti kepada pemilik bunga bwee?"

"Aku bukan anggota perkumpulan Hian-hong-kau, kau tak usah mencampuri urusanku." teriak The Toa gusar.

Ketua Hian-hong-kau itu agak tertegun. tapi segera ujarnya lagi lembut: "Masih ingatkah kau bagaimana pemilik bunga bwee telah melepaskan racun tadi dan nyaris mencelakai jiwamu?"

" Kalau masih ingat kenapa?"

Ketua Hian-hong-kau menghela napas panjang, ia segera mundur kembali ke tempat semula, sementara itu ketiga anggota empat ruyung dari Juan-pak telah berderet keluar dari tenda, seperti The Toa, mereka pun berjalan menuju kearah Timur dan terdiri di sisi saudaranya.

Kejadian ini segera memancing rasa ingin tahu para jago, berduyun-duyun mereka masuk ke dalam tenda untuk mencoba, tapi sekeluarnya dari tenda, sikap mereka sama sekali berubah, dari sikap permusuhan kini mereka tunjukkan sikap yang setia kepada pemilik bunga bwee.

Tak selang sepertanak nasi kemudian sudah ada empat- lima puluh orang yang mengalami nasib sama.

Dengan terjadinya peristiwa ini bukan cuma Ciu Huang saja dibuat gelagapan, bahkan ketua Hian-hong-kau yang cerdikpun kelabakan dibuatnya, apa bila kejadian seperti ini dibiarkan berlangsung, sudah bisa dipastikan semua jago akan berpaling kearah lawan. "Berhenti" bentak Ciu Huang tiba-tiba kepada para jago yang sedang berbaris memasUki tenda, "Biar aku yang mencobanya lebih dulu."

"Tunggu sebentar locianpwee" seru Li Bun-yang sambil menghadang, "Biar aku yang mencobanya lebih dulu."

"Ehmm. saudara Li cerdas dan berilmu tinggi, memang ada baiknya jika kau yang mencobanya."

Belum sempat Li Bun-yang melangkah masuk. mendadak ketua Hian-hong-kau berseru: "Daripada kau yang masuk. lebih baik biar aku saja yang mencobanya lebih dulu."

"Apabila aku pun berubah pikiran setelah keluar dari tenda nanti, belum terlambat bila kaucu juga ingin masuk ke dalam."

Ketua Hian-hong-kau menghela napas sedih, bisiknya kemudian:

"Kau mesti berhati-hati, dalam menghadapi setiap masalah yang penting harus dihadapi dengan pikiran tenang "

Bicara sampai disitu ia melirik pemuda berbaju hijau itu sekejap. kemudian melanjutkan: "Jika saudara ini bersedia masuk ke dalam tenda, tak sulit baginya untuk menemukan apa alasannya sampai terjadi peristiwa ini,"

Tampak pemuda berbaju hijau itu sedang berdiri membungkam, agaknya ia sedang memikirkan suatu masalah besar hingga apa yang diucapkan ketua Hian- hong-kau sama sekali tak terdengar olehnya.

sementara itu Li Bun-yang sudah melewati barisan para jago dan menuju ke dalam tenda dengan langkah lebar.

Dari kejauhan terdengar seseorang berseru dengan suara dalam:

"saudara Li, orang bilang sesat tak akan mengungguli lurus, kau harus menghadapi persoalan dengan pikiran bersih."

Li Bun-yang menarik napas panjang, dengan langkah mantap ia berjalan masuk ke dalam tenda.

Di balik tenda ia menjumpai seorang perempuan cantik yang memakai baju tipis duduk dengan membelakangi pintu. Baju sutera tipis berwarna putih itu nampak berkibar karena hembusan angin hingga terlihat kulit tubuhnya yang putih halus. Li Bun-yang segera merasakan hatinya bergelora keras, buru-buru ia berpaling kearah lain seraya berseru: "Li Bun- yang dari bukit Hong-san-..."

"Mengapa tak berani memandang ke arahku?" suara yang halus dan lembut menukas pembicaraannya .

"Aku sudah mengetahui apa yang kau perbuat, selamat tinggal" ia siap meninggalkan tenda itu.

Tiba-tiba pandangan matanya jadi kabur, terasa segulung angin harum berhembus lewat, selembar wajah yang cantik jelita tahu-tahu sudah menghadang dihadapan-nya dan menegur sambil tertawa:

"Bagaimana kalau pandang dulu wajahku sebelum pergi?"

Li Bun-yang mendongakkan kepalanya, persis sorot matanya bentrok dengan sinar matanya yang jeli.

Dari balik biji matanya yang bening terasa penuh mengandung daya pengaruh yang luar biasa, Li Bun- yang sudah mencoba untuk menekan gejolak perasaan hatinya, namun jantung terasa berdebar keras.

sebuah lengan yang putih bagaikan saiju dan lembut bagaikan kapas diulurkan ke muka dan menggenggam pergelangan tangan kanan Li Bun-yang lembut- lembut. Dari balik telapak tangannya yang halus lembut itu seakan-akan membawa aliran listrik yang bertegangan ting gi, tiba-tiba Li Bun-yang merasakan hatinya bergetar keras, darah yang mengalir dalam tubuhnya juga ikut mengalir semakin cepat sekuat tenaga ia berusaha mengendalikan gejolak emosinya seraya berseru keras: " Cepat lepaskan aku, sudah cukup yang kulihat."

Mendadak ia merasa dari balik matanya yang bening dan jeli itu memancar keluar cahaya yang sangat aneh, tajam seperti mata pisau yang menghunjam ulu hati Li Bun yang....

"Cepat lepaskan aku. " teriak Li Bun-yang sambil

berusaha menekan gejolak emosinya dan berusaha melepaskan diri dari genggaman.

Namun seperti ada lem yang menempel keras pada lengannya, bagaimana pun pemuda itu berusaha melepaskan diri, tangan gadis tersebut tetap menempel pada pergelangan tangannya.

"Apa sih yang kau takuti? Kau anggap aku akan menggigitmu?" suara bujuk rayu yang lembut kembali bergema.

Dengan napas terengah-engah Li Bun-yang menyahut: "Kau menjebak orang dengan menggunakan

kecantikan wajahmu, terhitung jagoan macam apa dirimu itu." ia merasa setiap kali sinar matanya bentrok dengan sorot matanya maka gejolak emosi dalam dadanya semakin menghebat maka ia berusaha keras menghindari sorot matanya.

Ternyata betul juga, asal ia terhindar dari sorot matanya maka tekanan pada batinnya terasa makin enteng.

Terdengar perempuan cantik itu berkata sambil menghela napas panjang:

"Ternyata ilmu silat dari keluarga persilatan bukit Hong-san memang luar biasa, kau bisa bertahan sekian lama hal ini membuktikan bahwa kau memang cukup hebat " setelah berhenti sejenak, terusnya:

"Barang siapa terkena ilmu hipnotisku ini maka dia akan terluka, jadi lebih baik jangan kau paksakan diri untuk melawan dengan tenaga dalam, sebab akibatnya bisa mati, lebih baik takluk saja kepadaku untuk selamatkan nyawamu itu." Mendadak dari luar tenda terdengar seseorang membentak keras: "Kau mau menyingkir tidak?"

suaranya nyaring, jelas suara dari si Hakim sakti Ciu Huang,seseorang dengan suara keras menyahut:

"ciu tayhiap. kedudukanmu dalam dunia persilatan amat tinggi, apa yang telah diucapkan selalu dipegang teguh, bukankah kau telah berjanji dengan majikan kami bahwa tiada orang lain masuk ke dalam tenda kecuali yang bersangkutan kenapa kau ngotot hendak menyerbu ke dalam?"

"Kalau sehari suntuk dia tidak keluar dari tenda, masa aku mesti menunggu sehari juga?"

"Dia baru masuk tenda seperminum teh, tidak terhitung terlalu lama."

"Kalau cara yang dipergunakan majikanmu lurus, apa salahnya jika dilihat sekejap?"

silat lidah berlangsung amat seru di luar tenda, namun Li Bun-yang seakan-akan tidak mendengar, tubuhnya gontai dan tak sanggup untuk berdiri tegak.

Jelas sudah ia sudah tak sanggup mempertahankan diri, sekarang dia hanya bisa mengandalkan sedikit daril kejernihan otaknya untuk mempertahankan perasaannya yang kalut.

Tiba-tiba gadis cantik itu melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Li Bun-yang seraya berkata pelan:

"Kau betul-betul seorang lelaki yang berhati baja, keluarlah dari tenda ini" Ketika tangan kanannya mendorong ke depan, tubuh Li Bun-yang segera terlempar keluar dari tenda.

suasana diluar tenda waktu itu sudah amat meruncing, Ciu Huang sudah nekad akan menyerbu masuk ke dalam tenda, sebaliknya si kakek berbaju kuning bersitegang menampik maksudnya hingga suasana jadi tegang dan pertarungan segera akan pecah.

Disaat yang amat kritis itulah Li Bun-yang muncul dari tenda dengan langkah sempoyongan.

Ketua Hian-hong-kau paling kuatir atas keselamatan pemuda itu,buru-buru ia maju menyongsong .

serentak para dayang berbaju hijau yang berjaga diluar tenda melepaskan pukulan untuk menghadang jalan masuk lawan sekuat tenaga ketua Hian-hong-kau menyambut datang serangan gencar itu, kendatipun ia berhasil membendung semua serangan namun ia pun sadar bahwa tiada kemungkinan baginya untuk menyerbu masuk. terpaksa ia mundur dari situ.

Menunggu setelah Li Bun-yang keluar dari barisan bunga bwee, ketua Hian-hong-kau baru maju menyongsong sambil menegur: "Parah tidak lukamu?"

"Dia adalah perempu. " Belum habis Li Bun-yang

bicara, ia sudah muntah darah dan roboh terjengkang ke atas tanah. Buru-buru ketua Hian-hong-kau membimbing tubuh Li Bun-yang menuju kearah Ciu Huang.

Dengan seksama Ciu Huang periksa seluruh badan Li Bun-yang, tapi ia segera mengerutkan dahinya ketika tidak menjumpai tanda luka di tubuhnya, sambil berpaling ke arah Phang Thian-hua katanya:

"saudara Phang, kau lebih pandai dalam ilmu pertabiban- coba kau periksa di mana letak lukanya?"

setelah mengalami kejadian tadi sikap Phang Thian- hua sudah berubah sama sekali, dengan cepat ia menghampiri Li Bun-yang, memeriksa denyut nadinya dan termenung berpikir lama sekali, akhirnya sambil hela napas dan menggeleng ujarnya: "Aneh sekali lukanya "

"Apa bisa diselamatkan?" tanya Hongpo Lan cemas. "sukar untuk dikatakan "

"Phang cengcu, harap kau berusaha keras untuk menolongnya," pinta Ciu Huang sungguh-sungguh .

"Seandainya berada diperkampungan pit-tim-san- ceng, kesempatan hidup baginya mungkin tambah besar, sedang tempat ini. "

Dari sakunya ketua Hian-hong-kau mengambil keluar sebuah botol porselin, sambil diserahkan ke tangan phang Thian-hua katanya: "isi botol ini adalah pil sakti pelindung hati dari keluarga Hong-san, coba kau periksa apa ada kasiatnya?"

Dalam saku ketua Hian-hong-kau ternyata terdapat obat mestika dari keluarga persilatan bukit Hong-san, para jago tentu dibuat keheranan, tapi dalam situasi begini tak seorang pun ingin buka suara.

"Menurut pendapatku." kata Phang Thi-an-hua, "Kalau diagnosanya salah, obat mestika pun tak ada kasiatnya."

"Aku dengar pil pelindung hati dari bukit Hong-san dapat mengobati pelbagai luka dalam, siapa yang minum pil itu maka jiwanya bisa dipertahankan sementara waktu, aku lihat lebih baik kita hantar dia balik ke bukit Hong-san saja, siapa tahu ibunya bisa selamatkan jiwanya "

Mendadak satu ingatan melintas lewat, ia segera berpaling ke empat penjuru. Tampaknya Ciu Huang mengetahui apa yang dimaksud, bisiknya: "Kau sedang mencari pemuda berbaju hijau itu?"

"Benar, mungkin tusukan jarumnya bisa selamatkan jiwanya."

Tapi pemuda berbaju hijau itu entah sudah pergi ke mana, tak seorang pun berhasil menemukan jejaknya .

"Aaai. " Hongpo Lan segera menghela napas panjang,

"semestinya kita perhatikan gerak geriknya." Mendadak terdengar kakek berbaju kuning itu berseru:

"siapa lagi yang ingin masuk ke dalam tenda? "Biar aku yang mencoba." kata ciu Huang setelah

memandang sekejap sekeliling tempat itu.

"Jangan, kau tak boleh pergi, biar aku yang mencoba." Cegah ketua Hian-hong-kau.

"Kenapa aku tak boleh pergi? Kaucu anggap ilmu silatmu lebih hebat daripada ke-pandaianku? "

"Bukan begitu, justru karena Pemilik bunga bwee adalah seorang wanita maka aku rasa ciu tayhiap tidak seharusnya bertarung dengan kaum wanita."

"Oooh, rupanya begitu, harap kaucu hati-hati." "Terima kasih atas perhatianmu harap ciu tayhiap sudi

merawat baik-baik luka Saudara Li."

Dengan langkah lebar ia berjalan menuju ke dalam tenda, kakek bermata satu yang ada di sisinya segera berseru: "Kaucu, biar aku menemani dirimu."

"Tidak usah, kita sudah berjanji dengan pemilik bunga bwee tadi, setiap kali hanya seorang yang boleh masuk ke tenda." "Bila kaucu menjumpai bahaya, segera kirimlah tanda bahaya, aku segera akan menyerbu masuk."

"Baiklah, berjaga-jagalah di luar." Masuk ke dalam tendaia meniumpai sebuah tubuh yang indah berdiri membelakanginya,

sambil tertawa dingin ketua Hian-hong-kau segera berseru:

"Rupanya kau memancing orang dengan perangkap wanita cantik."

"Sudah kuduga kau pasti akan datang" kata gadis itu sambil membalikkan tubuh-nya,

Memandang bentuk tubuhnya yang begitu indah, ketua Hian-hong-kau segera berpikir:

"Benar-benar tubuh yang montok dan merangsang, tak heran kaum lelaki kasar itu rela menjadi budaknya." Terdengar gadis itu berkata lagi:

"Kalau kau menganggap aku sedang menjebak dengan menggunakan kecantikan wajah, maka pengetahuanmu betul- betul sangat cupat."

"Masa inipun termasuk sejenis ilmu silat?"

"Betul, inilah sejenis ilmu hipnotis yang berasal dari negeri Thian-tok (India), di situ termasuk dalam aliran ilmu yoga." "oooh, jadi untuk menggunakan ilmu tersebut kau harus melepaskan semua pakaianmu hingga hampir telanjang?"

"Dalam melatih ilmu hipnotis kita mempunyai berapa macam cara, antara lain potongan tubuh kaum wanita, sering kali potongan tubuh kita amat membantu dalam menyukseskan kepandaian yang kita pergUnakan"

"oooh, jadi kau pun mengatur jebakan dengan umpan keindahan tubuhmu untuk membuat para pria tunduk di bawah telapak kakimu serta mau berbakti kepada-mu?

Tindakkah kau merasa bahwa perbuatanmu ini telah membuat malu semua wanita dijagad ini? Hmmm Kau tidak menganggap tindakanmu ini kelewat porno dan tak tahu malu?"

Ketua Hian-hong-kau. memang sengaja mengumpatnya habis-habisan dengan niat agar ilmu hipnotisnya buyar, meski dia tidak tahu di mana letak kehebatan ilmu tersebut namun ia mengerti bahwa orang yang melakukan ilmu tersebut membutuhkan ketenangan serta konsentrasi tinggi.

siapa sangka Pemilik bunga bwee betul- betul memiliki daya tahan yang luar biasa, bukan saja ia tidak gusar atas makian tersebut malahan katanya sambil tersenyum: "sebelum orang belajar ilmu hipnotis, maka ia perlu belajar dulu mengendalikan emosi dan ketenangan pikiran, sebelum hal tersebut dikuasahi maka jangan harap ilmu hipnotis tersebut bisa dikuasahi, jadi kaupun tak usah mengungkat kemarahanku dengan menggunakan kata-kata kotor tersebut, sebab usahamu itu percuma,"

sambil berbicara, sepasang matanya mengawasi wajah ketua Hian-hong-kau itu lekat-lekat.

Ketua Hian-hong-kau merasa hatinya bergolak keras begitu sorot matanya bentrok dengan sorot mata lawan, ia berusaha keras untuk menghindar, tapi hatinya terasa tak kuasa untuk menatapnya lagi. sambil tertawa Pemilik bunga bwee berkata lagi:

"Kau bukan ketua Hian-hong-kau yang sebenarnya, kau bisa menipu orang lain tapi jangan harap bisa membohongi aku"

Pelan-pelan perasaan ketua Hian-hong-kau makin dikuasai, meski pikirannya masih jernih namun ia sudah tak mampu melepaskan diri dari kendali lawan. sebaliknya parasaan muka Pemilik bunga bwee mulai menunjukkan tanda-tanda kecapaian, pe-luhnya bercucuran membasahi tubuhnya. sekalipun ia berhasil menempati posisi di atas angin, namun kemenangan itu diperoleh secara tak mudah. Akhirnya ketua Hian-hong-kau menghela napas panjang, gejolak perasaannya menjadi tenang kembali, tanyanya:

"Tongcu ada perintah apa, aku segera akan melaksanakan"

"Keluarlah dari tenda ini" kata Pemilik bunga bwee sambil ulapkan tangannya.

Ketua Hian-hong-kau menyahut dan keluar dari tenda, nampaknya ia sudah dikuasai sama sekali oleh ilmu hipnotes itu.

sebaliknya Pemilik bunga bwee tak kuasa menahan diri lagi, ia segera duduk bersila untuk mengatur pernapasan.

Dalam pada itu ketua Hian-hong-kau langsung berjalan menuju ketimur begitu keluar dari tenda.

Dengan perasaan terkejut Ciu Huang berseru: "Kaucu, tunggu sebentar"

Ketua Hian-hong-kau berpaling memandang Ciu Huang sekejap. lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia melanjutkan langkahnya menuju ke arah Timur. Ciu Huang segera menghadang di hadapannya, dengan wajah serius tegurnya: "Jadi kaucu juga sudah tunduk kepada pemilik bunga bwee?" "Benar" jawab ketua Hian-hong-kau tegas, "llmu silat Pemilik bunga bwee tiada tandingannya dikolong langit, kita semua bukan tandingannya."

"Tapi anak buah kaucu amat banyak. bila kau takluk kepada pemilik bunga bwee, bagaimana nasib beribu- ribu orang anak buahmu?"

"Biar mereka ikut bergabung dengan pemilik bunga bwee."

" Kaucu, apakah kau dicekoki obat racun?" seru ciu Huang makin tertegun.

"Tidak. secara sukarela aku takluk kepada Pemilik bunga bwee."

Karena gagal menjumpai hal yang mencurigakan terpaksa Ciu Huang menghela napas panjang seraya berkata:

"Kalau begitu biar aku menjajal dulu berapa jurus ilmu silat kaucu."

Tangan kanannya segera menyambar ke muka mencoba menyambar kain cadar di wajah lawan, Dengan cekatan ketua Hian-hong-kau berkelit sambil melepaskan serangan balasan.

Diam-diam Ciu Huang menghimpun tenaga dalamnya dan menyambut serangan itu dengan kekerasan. Begitu sepasang tangan saling beradu, tubuh ketua Hian-hong-kau tergetar mundur sejauh satu langkah.

sebaliknya Ciu Huang merasakan lengan kanannya tergetar kaku, pikirnya: "Hebat juga tenaga dalam orang ini. "

Tangan kanannya dari memukul segera diubah jadi ilmu cengkeraman Ki-na-jiu untuk mencengkeram pergelangan tangan kanan ketua Hian-hong-kau.

Mendadak terasa desingan angin menyerang tiba dari samping dan memukul pental serangan itu, dalam keadaan begini terpaksa Ciu Huang harus menangkis datangnya ancaman tersebut.

Tampak si kakek bermata satu itu dengan wajah gusar telah berdiri tujuh depa di hadapannya.

"Kau yang barusan menyerang aku?" tegur Ciu Huang sambil tertawa dingin, "Betul, jika tak puas silahkan bertarung melawanku, sebagai pelindung hukum dalam Hian-hong-kau aku tak bisa membiarkan ketua ku dianiaya orang."

"Tapi kaucu mu sudah takluk kepada Pemilik bunga bwee"

"sekalipun ia betul-betui tunduk kepada Pemilik bunga bwee, kau ciu Huang juga tak perlu ikut campur dalam urusan-nya." Berubah wajah Ciu Huang, dia ingin mengumbar amarah tapi akhirnya dibatalkan, katanya kemudian:

"sekarang musuh di depan mata, aku tak ingin ribut gara-gara urusan pribadi hingga mempengaruhi suasana."

Dengan meninggalkan ketua Hian-hong-kau, ia langsung menyerbu masuk kearah tenda.

sebaliknya kakek bermata satu itu mempercepat langkahnya menyusul ke belakang ketua Hian-hong-kau, katanya dengan suara dalam: "Maafkan kekurang- ajaranku" sebuah totokan kilat langsung dilontarkan ke muka,

Dalam anggapannya totokan ini pasti akan mengenai secara tepat, siapa tahu dengan cekatan ketua Hian- hong-kau menghindar ke samping seraya menegur: "Mau apa kau?"

"Kaucu sebagai ketua partai tidak seharusnya berubah pikiran,.,."

"Menurut aturan partai, semua tindak tanduk diputuskan oleh ketua, setelah aku tunduk kepada Pemilik bunga bwee, bagaimana seharusnya sikap kalian?" Dengan wajah berubah kakek bermata satu itu menjawab pelan: "Aku sudah meninggalkan partai mengikuti kematian ketua angkatan ke dua, kedudukanku sekarang hanya sebagai tamu, jadi tidak ikut terikat oleh peraturan partai lagi."

"jadi kau siap meninggalkan Hian-hong-kau?"

Tangan kanan si kakek bermata satu yang diulurkan keluar kini sudah berubah jadi merah membara, katanya serius:

"sekalipun aku hendak tinggalkan partai, paling tidak akan kucabut dulu bibit bencana ini."

Dari warna merah yang makin membara pada telapak tangan lawan, tiba-tiba ketua Hian-hong-kau teringat akan ilmu pukulan hwee-yan-ciang (pukulan api membara) bahkan ia sadar bahwa kakek itu sudah mengerahkan tenaganya hingga mencapai sepuluh bagian, ini berarti setiap saat ia bisa dihabisi nyawanya. Terdengar Kakek Bermata Tunggal itu berkata serius:

"Aku tak ingin melawan perintah kaucu, juga tak ingin melukaimu, tapi masalah ini menyangkut nama baik, bukan saja aku berkewajiban menjaga nama besar itu, akupun tak bisa berdiam diri saja membiarkan Hian- hong-kau hancur berantakan di tanganmu." Melihat ketua Hian-hong-kau tidak memberikan reaksinya, setelah berhenti sejenak kakek itu berkata lebih jauh:

"Ilmu pukulan api membara ku ini khusus melukai isi perut, bagi si penderita pada awalnya hanya akan merasa tubuhnya kepanasan tapi dua belas jam kemudian racun api akan menjalar keseluruh isi perut yang mengakibatkan kematian, aku tak ingin melukai kaucu di hadapan umum dan kaucu tentu sepaham dengan pendapatku bukan? Nah ulurkan tangan kaucu, agar aku bisa melukaimu tanpa diketahui siapa pun."

"Kalau aku menampik?" tanya ketua Hian hong- kau. "Kaucu pasti mengerti bahwa kau tak akan lolos dari

tanganku, bila kaucu enggan memberi muka kepadaku terpaksa aku akan memakai kekerasan."

Dalam pada itu Ciu Huang dengan langkah cepat telah menerjang masuk ke dalam tenda, Pemilik bunga bwee yang menyadari datangnya jago tangguh itu segera melompat bangun dan melompat ke sudut ruang tenda, Padahal ketika itu Ciu Huang telah menghimpun tenaga dalamnya mencapai sepuluh bagian, ia sudah siap menyerang secepat kilat untuk berusaha menguasai lawannya.

siapa tahu setibanya dalam tenda, apa yang tertera di depan mata sama sekali di-luar dugaannya, memandang gadis bertubuh indah yang duduk membelakanginya, untuk sesaat dia tak tahu harus diapakan tenaga sepuluh bagian yang telah dipersiapkan itu. Akhirnya setelah mendehem pelan, sapa-nya: "siapa kau? Di mana Pemilik bunga bwee?"

Gadis cantik itu pelan-pelan berpaling, dari balik matanya memancar keluar cahaya aneh yang membuat sekujur badan ciu Huang bergetar keras, ia merasa hatinya terangsang dan bergolak, nyaris tak terkendalikan-

"Akulah Pemilik bunga bwee" ucap gadis itu Iembut, "sudah lama kukagumi nama Ciu tayhiap. sungguh beruntung aku dapat menjumpaimu hari ini."

Ciu Huang tarik, napas panjang dan berusaha melawan tenaga godaan yang membara di dadanya itu.

Tiba-tiba pemilik bunga bwee menggenggam pergelangan tangan ciu Huang, setelah itu katanya lagi lembut:

"Kudengar Ciu tayhiap tak pernah dekat dengan wanita, benarkah berita ini?"

Ciu Huang merasa peredalan darahnya mengalir semakin cepat, ia merasa seakan akan ada semacam benda yang menerjang dari tubuhnya. Ia tak kuasa menjawab pertanyaan itu, juga tak berani menjawab, semua perhatiannya dipusatkan untuk melawan tenaga aneh itu.

Mendadak dari tangan kanannya mengalir masuk suatu kekuatan aneh yang membuat sekujur tubuh ciu Huang jadi lemas, apalagi ketika jalan darah Ci-ti-hiatnya ditotok oleh tangan yang lembut itu, kontan segenap tenaga dalamnya punah.

Ia merasa ada sebuah kekuatan maha dahsyat yang menyusup ke dalam otaknya, membuat seluruh tubuhnya bergetar keras.

"Ciu tayhiap" bisik Pemilik bunga bwee kemudian sambil tersenyum.

ciu Huang berdiri terbelalak dengan mata menatap wajah pemilik bunga bwee lekat-lekat, sahutnya pelan: "Apa perintahmu tongcu?"

Pemilik bunga bwee menghembuskan napas lega, dengan wajah amat letih dia lepaskan cengkeramannya atas pergelangan tangan lawan.

Begitu genggaman dilepas, mendadak Ciu Huang mengerdipkan matanya seraya berpaling kearah lain- pemilik bunga bwee sangat terkejut, buru-buru ia cengkeram pergelangantangan ciu Huang lagi seraya berseru manja: "Cepat berpaling dan tengok lagi ke arah mataku"

Walaupun pemilik bunga bwee telah menguasai Ciu Huang dengan ilmu hipnotis-nya, namun oleh karena tenaga dalamnya amat sempurna, begitu gadis tersebut sedikit teledor maka Ciu Huang pun terlepas dari kendali dan nyaris sadar kembali

Begitu Ciu Huang memandang lagi ke arah mata Pemilik bunga bwee, tak selang berapa saat kemudian wajahnya kembali nampak bingung dan kehilangan kesadaran, sepertanak nasi kemudian ciu Huang baru berbisik: "Apa perintahmu tongcu?"

"Keluarlan dari tenda " sahut pemilik bunga bwee sambil tertawa, Ciu Huang menyahut dan segera melangkah keluar dari tenda,

Memandang bayangan punggung ciu Huang yang menjauh, Pemilik bunga bwee tak kuasa menahan diri lagi, ia roboh terjungkal ke atas tanah.

Perlu diketahui menggunakan ilmu hipnotis, paling boros dalam menggunakan tenaga dalam, apalagi musuhnya bertenaga dalam sempurna, tak heran kalau hampir seluruh kekuatan tubuh yang dimiliki Pemilik bunga bwee terkuras habis. Dengan langkah lebar Ciu Huang berjalan melewati rombongan para dayang, langsung menuju ke tempat ketua Hian-hong-kau berdiri

Waktu itu ketua Hian-hong-kau sedang bersiap-siap menerima pukulan api membara dari kakek bermata satu itu, Ciu Huang yang menyaksikan kejadian ini dengan suara keras segera membentak: "Tahan"

sebetuinya kakek bermata satu itu pun sudah mengetahui bahwa ketuanya telah dikendalikan oleh sejenis kekuatan aneh yang membuat kesadarannya punah, bahkan ilmu tersebut jauh lebih hebat dari pada ilmu pemindah sukma, karena itu untuk sesaat diapun ragu untuk turun tangan-

Pada saat pikirannya masih sangsi ini-lah, Ciu Huang muncul tepat pada saatnya. Dengan cepat kakek bermata satu itu membalikkan tubuhnya sambil menegur dingin: "ciu Huang, urusan partai Hian-hong-kau kami tak perlu kau campuri. "

"Aku melarang kau melukai ketua Hian-hong-kau."

sebenarnya selama ini dia memandang ketua Hian- hong-kau sebagai musuh, perubahan sikap yang drastis sekarang seketika membuat para jago terbelalak keheranan mereka tak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi: Mendadak terdengar Phang Thian-hua berteriak keras: "Aku mengerti, aku mengerti sekarang, tampaknya Pemilik bunga bwee setelah menggunakan ilmu pemindah sukma untuk menguasai pikiran ciu Huang serta ketua Hian-hong-kau sehingga mereka tunduk kepadanya."

Dalam pada itu antara si kakek bermata satu dan ciu Huang sudah bersitegang hingga mencapai puncaknya, kedua belah pihak telah bersiap sedia melakukan pertarungan.

Begitu mendengar teriakan Phang Thian-hua, kakek bermata satu itu segera menarik kembali pukulan bara apinya yang siap dilontarkan itu sementara para jago lainnya sudah tak berani menyerempet bahaya untuk memasuki tenda tersebut.

Padahal dalam keadaan demikian si Pemilik bunga bwee sudah tergeletak kehabisan tenaga di dalam tenda, siapa pun yang muncul di sana niscaya dapat membinasakan dirinya secara mudah.

Dengan langkah lebar Phang Thian-hua berjalan menghampiri Ciu Huang berdua, lalu katanya:

"sementara waktu lebih baik kalian berdua tunda dulu pertarungan, dengarkan ucapanku." saat ini apa yang dipikir Ciu Huang hanya berbakti kepada Pemilik bunga bwee, mendengar ucapan tersebut segera katanya:

"Bukannya aku hendak memadamkan semangat tempur kalian, sesungguhnya kita semua bukan tandingan pemilik bunga bwee, daripada mati konyol lebih baik berbakti kepadanya saja."

Ucapan semacam ini ternyata diutarakan oleh manusia macam Ciu Huang, kejadian ini benar-benar diluar dugaan para jago, sebaliknya bagi mereka yang sudah terpengaruh ilmu hipnotis dari pemilik bunga bwee, mereka segera manggut-manggut mendukung.

Pedang sakti dari Lam-kiang Hongpo Ti-ang-hong yang selama ini membungkam, tiba-tiba menyela:

"Entah kepandaian apa yang telah digunakan Pemilik bunga bwee hingga membuat pikiran Ciu tayhiap kabur, aku harap kalian jangan terima perkataannya itu ke dalam hati, sebab jelas ucapan itu bukan muncul dari hati sanubarinya."

"Benar, aku pun berpendapat begitu." sambung phang Thian-hua.

"Nama besar empek Ciu tak boleh dibiarkan hancur dengan begitu saja" seru Hong-po Lan pula, "Biar kutengok Pemilik bunga wee dalam tenda itu, sebenarnya ilmu apa yang telah digunakan-"

sambil berkata ia melangkah masuk ke arah tenda. "Berhenti" bentak Hongpo Tiang-hong tiba-tiba. "Ada apa ayah?"

"Dengan kecerdikan dan kehebatan empek Ciu serta ketua Hian-hong-kau pun mereka masih bukan tandingan Pemiiik bunga bwee, apalagi kau yang berpengalaman cetek, bagaimana mungkin bisa menghadapi kehebatan Pemilik bunga bwee?"

"Biarkan dia pergi" Mendadak terdengar seseorang menimbrung dengan suara lembut.

Ketika Hongpo Lan berpaling, ia jumpai pemuda berbaju hijau tadi entah sejak kapan sudah muncul lagi dalam arena:

Buru-buru Phang Thian-hua memberi hormat seraya berkata:

"Aku sangat kagum dengan kehebatan ilmu pengobatan yang anda miliki, tolong periksa mereka, sebenarnya luka racun apa yang telah mereka derita?"

"Tidak usah diperiksa lagi" jawab pemuda berbaju hijau itupelan, "Kesadaran mereka telah dikendalikan pemilik bunga bwee dengan ilmu hipnotisnya,justru karena pemilik bunga bwee belum luncurkan diri maka mereka masih dapat dikendalikan tapi begitu pemilik bunga bwee muncul, mereka semua pasti akan tunduk pada perintahnya."

"Masa tiada harapan untuk diobati?" tanya Coat-pin taysu.

"Kecuali kita dapat menaklukkan Pemilik bunga bwee lebih dulu."

"Kecerdasan ketua Hian-hong-kau sudah dibuktikan di depan umum, kehebatan ilmu silat Ciu tayhiap juga tiada keduanya dalam kolong langit, tapi mereka berdua telah dikuasai ilmu hipnotis dari Pemiiik bunga bwee, situasi demikian amat tidak menguntungkan diri kami, nampaknya saudara harus turun tangan sendiri" kata Phang Thian-hua.

semua jago telah menyaksikan kehebatan pemuda ini dalam menggunakan tusukan jarum sehingga tanpa sadar dihati kecil mereka sudah muncul perasaan hormat yang mendalam, oleh sebab itu ucapan phang Thian-hua ini tidak menimbulkan rasa heran para jago lainnya.

Dalam pada itu Hongpo Lan sudah menerjang masuk ke dalam tenda.

Hongpo Tiang-hong hanya melirik pemuda berbaju hijau itu sekejap. ia tidak bermaksud menghalangi niat putranya. Memandang bayangan punggung Hongpo Lan yang masuk ke balik tenda, pemuda berbaju hijau itu berkata sambil menghela napas panjang:

"Bila dugaanku tak meleset, setelah melalui beberapa kali pengurasan tenaga, kondisi Pemilik bunga bwee sudah sangat lemah sekali, bila kita utus seseorang lagi untuk masuk ke dalam tenda maka tak susah buat kita untuk menangkap dirinya."

Dalam pada itu, ketika Hongpo Lan masuk ke dalam tenda, Pemilik bunga bwee baru saja duduk untuk mengatur pernapasan .

Saat ini merupakan detik yang amat kritis, bila Hongpo Lan datang seperminum teh lebih awal maka Pemilik bunga bwee tak akan memiliki kekuatan untuk melakukan perlawanan.

Ketika sinar mata Hongpo Lan membentur pada tubuh si nona yang cantik, ia segera berdiri tertegun.

Pelan-pelan pemilik bunga bwee membuka mata memandang Hong-po Lan, sambil tertawa katanya. "Bantulah aku untuk bangkit berdiri" suatu cahaya mata yang aneh menyorot tajam wajah Hongpo Lan.

Ketika sinar mata pemuda itu bentrok dengan pandangan mata pemilik bunga bwee, hatinya segera bergetar keras, tanpa sadar ia melangkah majU ke depan, Dengan pelan-pelan pemilik bunga bwee bangkit berdiri, mendadak tubuhnya roboh ke dalam pelukan anak muda tersebut.

saat itu pikiran Hongpo Lan masih agak jernih, hawa murninya segera dihimpun ke dalam telapak tangan kanannya dan segera ditekan kepunggung pemilik bunga bwee.

Belum sempat tenaga murninya dipancarkan Pemilik bunga bwee telah merasa kan datangnya ancaman bahaya, ia segera berpaling dan ujarnya lembut: "Berpaling dan tengoklah wajahku"

suara itu halus dan lembut membuat Hongpo Lan berpaling tanpa sadar, begitu empat mata saling bertemu, sekali lagi perasaannya bergetar keras, tenaga pukulan pun tak sanggup dipancarkan keluar.

Lebih kurang seperminum teh kemudian, Hongpo Lan telah berjalan keluar dari balik tenda dengan pandangan kosong,

Hongpo Tiang-hong segera maju menyongsong sambil menegur "Kau tidak apa-apa bukan nak?"

"Aku sudah tunduk kepada Pemilik bunga bwee..." jawab Hongpo Lan sambil tertawa dingin.

Mendadak dari balik mata pemuda berbaju hijau itu memancar keluar cahaya mata yang aneh, sambil menatap wajah Hongpo Lan, pelan-pelan tegurnya:. "Baik-baikkah Pemilik bunga bwee?"

Kembali sekujur tubuh Hongpo Lan bergetar keras begitu empat mata mereka saling bertemu, sahutnya cepat: "Ia sangat baik."

"Apakah dia amat lelah?" Nada suara pemuda berbaju hijau itu berubah amat serius. Hongpo Lan berdiri termangu-mangu, lama kemudian baru jawabnya: "Yaa, dia sangat lelah."

Hongpo Tiang-hong jadi amat cemas ketika melihat putra kesayangannya tiba-tiba berubah jadi begitu bodoh, tanpa sadar ia mengulurkan tangannya hendak menggenggam pergelangan tangan kanannya.

"Jangan sentuh dia" bentak pemuda berbaju hijau itu tiba-tiba.

"Kenapa?"

"Ia sudah dikendalikan ilmu hipnotis dari pemilik bunga bwee, sekarang pikirannya kubuat kalut dengan ilmu pemindah sukma ku, kondisinya sekarang sangat rawan dan pikirannya dikuasai dua kekuatan, meski kau ayahnya, tapi aku takut ia sudah tidak mengenalmu lagi sekarang, jika kau berusaha memegang pergelangan tangannya maka hal ini akan memancing reaksi yang keras, bahkan bisa jadi dia akan menyerangmu dengan sepenuh tenaga, takutnya ia jadi kalap dan menyerangmu mati-matian. "

Kemudian telah berhenti sejenak, ia berpaling ke arah kakek bermata satu dan berkata lagi serius:

"Meskipun kau merahasiakan indentitas-mu tapi aku tahu bahwa ilmu silatmu paling hebat di antara mereka yang hadir hari ini, kecuali Pemilik bunga bwee, hanya Dewa cebol Cu Gi yang mungkin bisa menandingi kehebatanmu tapi sekarang Dewa cebol belum selesai bersemedi, maka setelah aku masuk ke dalam tenda nanti, sementara Memimpin para jago, sebelum itu waktu kaulah yang memimpin para jago, sebelum aku muncul dari tenda, jangan biarkan siapapun mengintip keadaan dalam tenda tersebut, aku percaya ilmu pukulan bara apimu sangat sempurna, siapa yang nekad melanggar larangan ini, hadiahkan satu pukulan kepadanya."

Tampaknya kakek bermata satu itu ingin menampik, tapi seorang manusia berkerudung di sampingnya telah mewakilinya menyanggupi.

" Kau sudah setuju?" tegur pemuda itu kemudian- Kakek bermata satu itu menghela napas panjang.

"Aaaai, jika kaupun bukan tandingan Pemilik bunga bwee, terpaksa akulah yang akan memikul tanggung jawab terakhir." "semisalnya akupun kalah di tangan Pemilik bunga bwee, kau harus membawa para jago lainnya melarikan diri dari sini."

Selesai berkata ia menuju ke dalam tenda dengan langkah lebar.

Kakek berbaju kuning yang menjaga di depan tenda merasa amat gembira ketika melihat para jago satu persatu berhasil ditundukkan Pemilik bunga bwee, ia tak sadar bahwa majikannya sudah kehabisan tenaga waktu itu, maka ketika melihat pemuda berbaju hijau itu melangkah datang, ia pun tidak berniat menghalangi jalan masuknya.

Ketika pemuda berbaju hijau itu tiba di dalam tenda, peluh yang membasahi wajah Pemilik bunga bwee belum lagi mengering.

Ia segera angkat kepalanya setelah mendengar suara langkah manusia mendekat, tapi wajahnya segera berubah hebat setelah mengetahui yang muncul adalah pemuda berbaju hijau itu, musuh paling tangguhnya, dengan cepat ia melompat bangun. "Nona seebun, hebat juga ilmu hipnotis mu" ejek pemuda itu sambil tertawa dingin-

"Sebenarnya siapa kau? Kenapa selalu menyusahkan aku?" tegur Pemilik bunga bwee sambil menatap wajah lawannya tajam-tajam. "Kau ingin membunuh sedang aku ingin menolong orang, kau berbuat kejahatan dan aku berbuat kebaikan, jalan yang kita tempuh memang selalu berlawanan, kita sudah ditakdirkan untuk bermusuhan-"

Pemilik bunga bwee segera merasakan cahaya aneh dari sorot mata lawan membuat perasaan hatinya bergolak keras, buru-buru ia melengos ke arah lain seraya berseru: "Kau juga pandai ilmu hipnotis?"

"Walaupun antara ilmu hipnotis dan pengalih sukma berasal dari satu aliran, namun yang satu bersumber dari agama To sedang yang lain berasal dari ilmu Yoga di negeri Thian-tok. aku rasa hari ini adalah saat paling tepat bagi kita untuk menguji ilmu,"

"Kau bukan lelaki"

"faktor inilah yang mengurangi kesempatanmu untuk meraih kemenangan"

"Sebenarnya siapa kau?" hardik pemilik bunga bwee makin penasaran

"Semalam kita baru bersua, masa secepat itu kau sudah lupa?"

"Jadi kau adalah nona berbaju putih yang berjumpa semalam "

"Betul Aku bernama Pek si-hiang." Diam-diam pemilik bunga bwee menghimpun tenaga dalamnya siap melancarkan satu pukulan tapi ia segera tertegun dan mengurungkan niatnya setelah melihat Pek si-hiang menancapkan sebatang jarum emas di atas bahu sendiri, tegurnya: "Apa-apaan kau ini?"

"Turunkan tanganmu" perintah Pek si-hiang dengan mata bersinar aneh.

Ketika sinar mata pemilik bunga bwee beradu dengan pandangan matanya, ia segera merasa hatinya bergelora keras, pelan-pelan dia turunkan kembali tangan kanannya dan berkata:

"Bagaimana kalau kita berunding secara damai?"

Ucapan tersebut diutarakan dengan amat ngotot, agaknya harus mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya.

"Boleh saja" jawab Pek si-hiang, "tapi kau sangat binal, aku mesti tusuk dulu berapa buah jalan darahmu dengan jarum emas, setelah itu kita baru berunding secara damai."

"Baiklah" Sekujur badan pemilik bunga bwee sudah gemetar keras, Dengan cepat Pek si hiang menusukkan lima batang jarum emas kejalan darah penting di tubuh pemilik bunga bwee, setelah itu dia baru menghela napas panjang sambil katanya: "sekarang kita boleh duduk untuk beristirahat"

Pemilik bunga bwee yang angkuh dan keras kepala kini berubah jadi sangat penurut tanpa membantah ia segera duduk.

sambil menyeka peluh yang membasahi jidatnya Pek si- hiang cabut lepas jarum pada bahUnya lalu duduk bersila pula.

Lebih kurang sepertanak nasi kemudian Pemilik bunga bwee membuka matanya lebih dulu, ketika melihat Pek si- hiang masih mengatur pernapasan, mendadak napsu membunuhnya timbul, diam-diam ia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya,

siapa tahu lengan kanannya itu kaku dan tak mau turut perintah, tiga kali dia mencoba untuk menggerakkan lengannya tapi gagal, hal ini segera membuat hatinya tertegun-"Kau ingin mencelakai aku?" ejek Pek si- hiang sambil membuka matanya dan tertawa, Pemilik bunga bwee menghela napas panjang,

"Jalan darahku telah kau tusuk dengan jarum emas, biar ada niat begitu pun percuma saja."

"Ilmu tusukan jarumku ini bernama lima panah memantek sukma, bukan cuma kedua lenganmu kehilangan fungsinya, sepasang kakimupun tak mampu melancarkan tendangan-"

"Kalau begitu untuk berjalanpun aku tak mampu?" seru pemilik bunga bwee terkejut.

"Untuk berjalan sih tak menjadi soal, cuma kau tak sanggup berkelahi lagi."

Pemilik bunga bwee bangkit berdiri dan mencoba berjalan kian kemari, setelah itu baru ujarnya:

" Katakan sekarang, apa syaratmu?" "Gampang sekali?" sahut Pek si- h iang sambil

tertawa, "Asal kau pulihkan kembali kesadaran mereka

yang terpengaruh oleh ilmu hipnotis mu, kemudian dalam tiga bulan berjanji tak akan melakukan keonaran lagi."

"Bagaimana setelah tiga bulan kemudian?"

"Bila saat itu aku masih hidup, aku yakin pasti ada cara untuk mengendalikan diri-mu, meski kau ingin membuat keonaran lagi, akhirnya kekalahan toh tetap dipihak-mu, sebaliknya jika tiga bulan kemudian aku mati, terserah apa yang hendak kau perbuat, toh aku tak bisa mengurusi dirimu lagi." "Baik, tiga bulan kemudian bila aku muncul kembali dalam dunia persilatan, tahukah kau siapa yang bakal kubunuh pertama kali?" .

"Aku tebak pasti ketua Hian-hong-kau?" "Kenapa tidak kau katakan dirimu sendiri?" seru

Pemilik bunga bwee dengan kening berkerut. "sebab kau tak mampu membunuh aku."

Tiba-tiba Pemilik bunga bwee tertawa tergelak. serunya:

"Nona Pek, aku lihat usiamu lebih kecil dua tahun dariku, maaf kalau aku memanggilmu adik,"

" Kau tidak merasa bahwa panggilan tersebut kelewat memuakkan?"

" Kau tak perlu berlagak sok pintar, hanya berdasarkan tebakanmu ini, aku semakin yakin dapat mengalahkan dirimu."

"Jadi dugaanku ini keliru besar?" kata Pek si-hiang dengan wajah serius.

"Yaa, tebakanmu salah besar sekali." "Lalu siapa yang akan kau bunuh?" "Lim Han-kim Akan kusuruh kau merasakan bagaimana pahitnya bila seseorang ditinggal mati kekasihnya."

Mendengar perkataan ini, Pek si hiang tertawa geli. "Jawabanmu sungguh di luar dugaan-ku, apa kau

tidak merasa dugaanmu itu kelewat batas? Biar kau bunuh dia seribu kali pun apa sangkut pautnya dengan aku?"

"Bila kau tidak patah hati, aku akan mewakili Lim Han- kim merasa kecewa."

"oooh, apa kau menaruh hati kepada-nya? Aku sih bersedia menjadi mak comblang untuk kalian berdua."

"Kau jangan ngaco belo" teriak Pemilik bunga bwee gusar. Pek si-hiang tertawa cekikikan

"Baiklah, kita tak usah bicarakan soal ini, beritahu kepadaku bagaimana caranya menyadarkan kembali mereka yang terpengaruh ilmu hipnotis mu?"

"Bila kau percaya kepadaku, cabut dulu jarum-jarum dari tubuhku, aku segera akan membawa semua anak buahku mundur dari sini. "

"Tidak, aku tak percaya kepadamu. " tukas Pek si-

hiang, setelah berhenti sejenak lanjutnya, "Bila aku tidak berbelas kasihan kepadamu, saat ini kau pasti sudah mati."

"Setelah aku mati, kau akan menjadi jago yang tak tertandingkan di kolong langot, aku duga hidupmu juga tak bakal senang."

"Aku tidak berambisi menguasahi jagad, lagi pula hidupku tak lama lagi, permusuhan kita hari ini hanya terjadi secara kebetulan saja, dan sekarang aku sudah terlanjur ikut campur dalam urusan ini, jadi aku harus menyelesaikan hingga tuntas."

"Baiklah, kalau begitu kau boleh totok jalan darah tidur mereka, biarkan mereka tidur selama dua belas jam, setelah itu guyur kepala mereka dengan air dingin dan tepuk bebas jalan darahnya, maka mereka akan sadar kembali seperti sedia kala."

"Ehmm, kalau begitu aku akan menolong mereka lebih dulu kemudian baru mencabut jarum emas dari tubuhmu."

Ia membalikkan badan berjalan berapa langkah, lalu berpaling dan sambungnya:

" Untuk mencabut jarum tersebut lebih baik tunggu aku yang melakukan, sebab kalau salah cabut kau bisa jadi cacad seumur hidup, nah aku sudah peringatkan kepadamu, jika kau nekad jangan salahkan diriku nanti." Dengan perasaan setengah percaya setengah tidak Pemilik bunga bwee berseru:

"Bukan kah ilmu yang pandai menusuk jalan darah dengan jarum rasanya belum pernah kudengar ada kejadian seperti ini."

"Kalau tak percaya kenapa tidak kau cabut keluar sebatang jarum tersebut " jengek Pek si-hiang sambil

tertawa.

Pemilik bunga bwee merasa kan timbulnya semacam suasana misterius yang sangat aneh, umuk sesaat ia tak dapat menentukan apakah ucapan itu gertak sambal atau sungguhan.

sambit mengambil sebuah jubah luar, kembali Pek si- hiang berkata seraya tertawa: "Kenakan pakaian luar, kita keluar bersama-sama."

pemilik bunga bwee memandang jubah luar itu sekejap, tiba-tiba teriaknya keras: "Mana Cing-im?"

"Ada perintah apa nona?" suara merdu segera menyahut disusul munculnya seorang dayang kecil berbaju hijau.

"Ambilkan pakaianku" perintah pemilik bunga bwee.

Cing-im mengiakan dan lenyap di balik tenda. "Tampaknya kau ada persiapan di dalam tenda ini" goda Pek si hiang sambil tertawa.

"Mereka berdiam di tenda yang lain, antara kedua tenda ini dihubungkan dengan sebuah lorong bawah tanah, sekalipun bisa pulang pergi tanpa hambatan namun sebelum mendapat perintah ku mereka tak akan berani memasuki tendaku sesuka hati."

"Rupanya begitu, sempurna benar persiapanmu meski dalam anggapanmu kemenangan pasti berada dipihakmu namun tetap mempersiapkan jalan untuk melarikan diri"

sementara pembicaraan masih berlangsung, cing-im sudah muncul dengan membawa pakaian, buru-buru Pemilik bunga bwee mengenakan pakaiannya lalu setelah menutup wajahnya dengan topeng kulit manusia, ia berkata: "Sekarang kita boleh berangkat."

"Tunggu dulu, siapa sih namamu?" "Panggil saja Pemilik bunga bwee..."

"Tidak. kalau kau tidak mengatakan maka kau akan kupanggil nyonya seebun."

"Aku bernama seebun Giok-hiong" jawab Pemilik bunga bwee sambil tertawa. Maka sambil bergandeng tangan mereka berdua pun berjalan keluar dari tenda. Ketika para dayang dan kakek berbaju kuning yang berada di luar tenda menyaksikan dandanan majikannya itu, serentak mereka bungkukkan badandan memberi hormat.

secara tiba-tiba Pek si-hiang memahami apa sebabnya seebun Giok-hiong bersikeras mengenakan dandanan seperti ini, rupanya setiap kali dia munculkan diri di hadapan anak buahnya maka dandanan yang digunakan selain berbeda, maka secara diam-diam ia juga memperhatikan warna pakaian yang dipakai, dandanan serta benda apa saja yang digunakan lalu diingat baik- baik.

sementara itu seebun Giok-hiong sudah berkata setelah menyapu sekejap para dayangnya: "Kalian segera kembali ke dalam tenda dan laksanakan perintahku. " Kemudian sambil menghampiri kakek

berbaju kuning itu tambahnya:

" Karena salah langkah permainan kita kali ini gagal total, perintah kan semua orang agar mundur sejauh dua puluh li."

Kakek berbaju kuning itu agak tertegun, tapi segera jawabnya: "Hamba turut perintah."

"Tinggalkan dua belas pelajar serta Cing-in dan Ciu- gwee di sini, lainnya segera mengundurkan diri" Lalu setelah memandang Pek si- hiang sekejap sambil tertawa, tambahnya lebih jauh: "selanjutnya kita dapat beristirahat selama tiga bulan penuh."

"Harap tongcu baik-baik menjaga diri" seru kakek itu segera sambil memberi hormat, kemudian memutar badan dan berlalu dari situ.

"Hey, apa sih yang kau maksudkan dengan dua belas pelajar?" Tiba-tiba Pek si-hiang bertanya lirih.

"Mereka adalah dua belas orang pelajar yang pandai dalam ilmu sastra maupun ilmu silat"

Mendadak ia berubah nada, serunya:

"Nona Pek. bagaimana kalau kau pulihkan sebuah lenganku?" Pek si-hiang tersenyum, sahutnya lembut:

"Jika kau tidak kuatir mati, tidak takut cacad seumur hidup, tidak takut ilmu silatmu punah, mari kucabut lepas sebatang jarum emas dari lenganmu."

"Aaaah, masa sampai begitu serius?" seru seebun Giok-hiong dengan perasaan terkesiap.

"Apa kau tidak percaya?"

"Aku memang setengah percaya setengah tidak..." Ditatapnya wajah Pek si-hiang lekat-lekat, "Tapi aku tak akan menyerempet bahaya." "Nampaknya kau seperti percaya benar dengan aku?"

"sementara ini aku kalah di tanganmu,jadi mau tak mau harus berusaha menahan diri"

"Aaai... lelakl sejati bisa maju bisa mundur, sayang kau hanya seorang gadis, moga-moga saja aku bisa mengaturkan suatu cinta kasih yang membelenggu hatimu hingga saat itu kau tak akan melakukan perbuatan yang melanggar hukum lagi."

"Dalam dunia saat ini siapa yang cocok menjadi kekasih hatiku?"

Walaupun mereka saling membantah namun sikap maupun gerak geriknya amat mesra, seakan-akan sepasang saudara yang sudah lama berpisah, Dengan suara lirih Phang Thian-hua segera berbisik kepada Hongpo Tiang-hong:

"Nampaknya kemampuan pemuda berbaju hijau itu jauh di atas kemampuan kita semua, nyatanya ia mampu menundukkan pemilik bunga bwee, aaaai... dari kejadian ini bisa disimpulkan bahwa kita, semua sudah tua." Sementara itu Pek Si-hiang dengan suara lantang telah berseru:

"Berkat kesediaan nona Seebun untuk memberi muka kepadaku, ia bersedia menarik mundur semua kekuatannya dari sekeliling tempat ini. " "Tapi bagaimana dengan mereka yang terpengaruh ilmu hipnotisnya?" tanya Hongpo Tiang-hong kuatir.

"Tentu harus ditolong, tapi ilmu hipnotis bukan semacam racun, jadi terpaksa harus merepotkan kalian semua."

"Bantuan apa yang harus kami lakukan?" "Gampang sekali, tolong totok jalan darah tidur

mereka agar mereka tidur selama dua belas jam, setelah itu guyur kepala mereka dengan air dingin dan bebaskan pengaruh totokannya, maka mereka akan segera sadar kembali."

"Tunggu sebentar" Tiba-tiba seebun Giok-hiong berseru.

"Kau membohongi aku?" tegur Pek si-hiang. "Meskipun kesadaran mereka terpengaruh, tapi

lantaran bukan pengaruh obat maka ilmu silat mereka tetap utuh, bila kalian menotok jalan darahnya maka tindakan tersebut akan menimbulkan perlawanan mereka

.... "

setelah menyapu sekejap kawanan jago di hadapannya ia melanjutkan.

"Bila sampai terjadi pertarungan bisa dibayangkan akibatnya tentu sangat mengerikan." "Aaaai..." Pek si-hiang menghela napas panjang, "Hampir saja aku terjebak oleh tipu muslihatmu, kenapa kau menerangkan jebakan tersebut kepadaku?"

"Akibat dari pertarungan massal ini tentu mengerikan dan tragis, bila berapa orang pentolan yang menyebabkan kematian orang tuaku ikut terbunuh dalam pertarungan untuk membalas dendam dengan tangan sendiri?"

"Aku mengerti maksudmu" jengek Pek si-hiang, "selain alasan yang kau sebutkan tadi, tampaknya kau pun kuatir nyawamu ikut melayang dalam pertarungan itu bukan?"

"Lagi-lagi rahasia hatiku tertebak. aaai,.. semisalnya kau tidak menarikku keluar bersama, saat ini pasti sudah ada orang yang tergeletak mampus."

"Bagaimana pula dengan keadaan saat ini?"

"Akan kukacaukan dulu perhatian mereka, kemudian kalian baru turun tangan menotok jalan darahnya, cuma kalian harus turun tangan dengan gerakan tercepat." sambil berkata ia segera bertepuk tangan berapa kali.

Betul juga, kawananjago yang terpengaruh ilmu hipnotisnya itu serentak mengalihkan perhatiannya ke wajah seebun Giok-hiong begitu mendengar suara tepuk tangannya. "Cepat turun tangan" bisik Pek si-hiang cepat,

Hongpo Tiang-hong, Coat-pin taysu serta kakek bermata satu itu segera menyahut dan turun tangan bersama dengan kecepatan tinggi.

Beberapa orang ini merupakan jago paling top dalam dunia persilatan dewasa ini, gerakan tubuh mereka amat cepat, dalam waktu singkat kawanan jago itu sudah bertumbangan tertotok jalan darah tidur-nya.

Menunggu sampai semua jago roboh, seebun Giok- hiong baru menghembuskan napas panjang, sambil melirik Pek si-hiang sekejap tanyanya: "Masih ada perintah lain?"

"Kau musti menunggu dua belas jam lagi, setelah semua orang sadar, kau baru boleh pergi dari sini."

"Dalam segala hal aku berusaha percaya kepadamu, kenapa kau justru tidak percaya kepadaku?" tegur seebun Giok-hiong dingin.

"Aku tak mau nasib puluhan orang jago itu ditentukan oleh sepatah kata yang salah kuucapkan."

"oooh, jadi kau hendak menjadikan aku sebagai sandera?" seebun Giok-hiong mulai naik pitam. "Aku tahu kau tak senang hati gara-gara masalah ini, tapi apa boleh buat, terpaksa kau harus menuruti kemauanku."

"Baik, kali ini aku terpaksa menuruti kemauanmu, tapi ingat, jika suatu saat kau terjatuh ke tanganku maka akan kusiksa dirimu habis-habisan."

"Kalau benar-benar terjadi kasus seperti itu, aku pun akan menuruti semua kehendakmu. . . "

Dengan rasa mendongkol seebun Giok-hiong mendengus dingin dan tidak berbicara lagi.

sambil menggandeng tangan seebun Giok-hiong, kembali Pek si-hiang berkata sambil tertawa:

"Nona seebun tak usah marah, ayoh kita balik ke dalam tenda untuk berbinCang-binCang . "

"sayang kau juga seorang gadis."

"Aaai... meski aku lelaki, tak nanti kukawini perempuan macam kau sebagai istriku."

"Kenapa?"

"Kau jalang dan genit, tidak cocok menjadi seorang istri teladan."

"Kau anggap aku seorang wanita murahan?" "Kenapa?jadi kau anggap dirimu gadis baik-baik?"

"Aaai... sudahlah, biar kuterangkan juga percuma, lebih baik tak usah kita perbincangkan lagi."

"Bersediakah kau melepaskan topeng mukamu itu?" kata Pek si-hiang kemudian sambil menarik tangan lawannya.

"Apa yang ingin kau lihat?"

"ingin kulihat apa kau masih perawan?"

"Aku masih perawan" jawab seebun Giok-hiong setelah memandang Pek si-hiang sekejap, "sayang kau tak akan mengawini aku, jadi dilihatpun percuma."

"Meskipun aku tak bisa mengawinimu, paling tidak bisa kucarikan jodoh yang ideal untukmu."

"sebenarnya apa maksudmu mencemooh aku?" tegur seebun Giok-hiong dingin

"Aku bicara sejujurnya, bila kau tetap tak percaya yaa sudahlah,"

sementara pembicaraan berlangsung mereka sudah masuk ke dalam tenda.

Pek si-hiang segera melepaskan tangan seebun Giok- hiong lalu katanya seraya tertawa: "Dua belas jam kemudian kau boleh tinggalkan tempat ini, tapi sekarang lebih baik beristirahatlah disini dengan tenang,jangan punya pikiran jelek lagi."

Biarpun seebun Giok-hiong memiliki ilmu silat yang tangguh, namun berhubung berapa buah jalan darah pentingnya ditusuk oleh jarum, maka ia tak mampu melakukan sesuatu gerakan apa pun.

Pelan-pelan Pek si-hiang berjalan keluar dari tenda itu, mendadak ia berpaling seraya berseru:

"Di luar tenda aku akan siapkan perlindungan yang paling ketat, jadi kau boleh beristirahat dengan tenang."

seebun Giok-hiong merasa amat mendongkol pikirnya: "sungguh tak nyana tenda yang kupersiapkan untuk

mengurung para jago dari kolong langit, sekarang justru dipergunakan untuk mengurungku."

sementara ia masih berpikir, tiba-tiba di hadapannya telah muncul seorang manusia berbaju hitam yang memakai kain cadar muka, kepadanya orang itu berkata dingin: "Dua belas jam akan kau lalui amat lambat, aku takut kau tak akan sabar menunggu" suaranya lengking dan merdu, jelas suara sorang wanita. Dengan perasaan terkesiap seebun Giok-hiong segera menegur: "Mau apa kau?" "Aku ingin bantu kau agar bisa tidur selama dua belas jam dengan tenang, bukankah dengan begitu waktu akan kau lalui dengan cepat?"

"Kau anggota Hian- hong- kau?"

"Benar" Dengan cepat orang itu menotok jalan darah tidur di tubuh seebun Giok hioang.

Ketika ia mendusin kembali dari tidurnya, pemandangan di sekeliling tempat itu telah berubah, sekeliling ruangan telah dipenuhi manusia, orang yang duduk di sudut kiri tak lain adalah si Hakim sakti Ciu Huang.

Di sampingnya secara beruntun duduk Coat-pin taysu dari siau-lim-pay, Hongpo Tiang-hong, lalu Li Bun- yang dari bUkit Hong-san dan lain-lainnya, semUanya berjUmlah empat lima belas orang.

sedangkan di sudut kanan duduk ketua Hian-hong- kau, lalu di sisinya adalah kakek bermata satu dan empat- lima belas orang jago lainnya.

seebun Giok-hiong mencoba menggerakkan lengan kanannya, ternyata lengan itu bisa digerakkan dengan leluasa, agaknya jarum yang ditusukkan pada jalan darahnya telah dilepaskan. Diam-diam ia mencoba mengatur pernapasan ternyata hawa murninya dapat di-alirkan dengan sempurna, kenyataan ini membuat keberaniannya meningkat.

Terdengar ciu Huang berseru: "Nona seebun, ilmu hipnotismu betul-betul hebat." seebun Giok-hiong tidak menanggapi secara langsung, selanya:

"Banyak amat jagoan kalian, oooh, kamu ingin mengandalkan jumlah banyak untuk mengurungku di sini?"

"Kami semua adalah para wakil yang terpilih untuk datang berunding dengan nona."

"Di mana orang she-Pek itu?" tanya see-bun Giok- hiong sambil memandang sekejap sekeliling tempat itu.

"Karena ada urusan, ia telah pergi lebih dulu. "

55. Meredanya Badai

"Kalau dia sudah pergi, apa lagi yang akan kalian bicarakan dengan aku?" kata seebun Giok-hiong dingin, "Aku hanya kalah di tangan orang she-Pek itu, sedang kalian adalah panglima yang kalah perang di tanganku, orang bilang panglima yang kalah perang tak boleh bicara, kalaU kalian yang merundingkan syarat denganku, bUkankah kejadian ini sangat menggelikan?" Para jago segera menunjUkkan wajah tersipu-sipu, tak seorang pun sanggup menjawab, Setelah hening berapa saat, ketua Hian- hong- kau baru berbicara:

"Kami sedang menjalankan perintah dari tuan Pek untuk berunding dengan nona seebun."

"Kalau begitu bicaralah" kata seebun Giok-hiong sambil tertawa.

"Kami hanya ingin membujuk nona agar tinggalkan pikiran untuk merajai dunia persilatan dan tidak membuat keonaran lagi di dunia" ucap Ciu Huang.

"ooh, kalian ingin membujukku agar mengurungkan niatku untuk membalas dendam?"

"Meskipun seebun Hong suami istri mati karena kami kerubuti, namun nona tidak seharusnya menggusarkan jagad gara-gara persoalan ini."

"Jadi kalian sudah siap untuk bunuh diri di depan meja abu orang tuaku?"

"Bukan begitu, tapi aku berjanji akan berusaha semampuku untuk mengundang semua jago yang terlibat dalam peristiwa hari itu untuk melangsUngkan pertarungan habis-habisan melawan nona, apa bila nona sanggup menghabisi kami semua, dengan belasan lembar nyawa untuk ditukar dengan nyawa orang tuamu, rasanya kau sudah untung banyak." "semisalnya mereka yang terlibat sudah mati duluan, apakah kedudukannya akan digantikan putra putrinya?"

"Apakah nona yakin dapat membinasakan kami semua?"

seebun Giok-hiong segera tertawa.

"Tentu saja ada, bukankah peristiwa semalam merupakan bukti yang nyata?"

" orang bilang, bila seseorang telah mati maka dendam pun ikut dibawa mati, bila orang itu benar-benar sudah mati duluan, nona pun tak usah mengusutnya lagi, sebab kalau ingin mencari dalang yang sebenarnya dari peristiwa dulu, aku Ciu Huanglah dalang utamanya, sedang mereka yang lain hanya kena bujukanku."

"Jadi kau ingin menanggung dosa semua orang? Menurut pengusutanku ada tiga orang yang menjadi dalang atas kematian orang tuaku, selain kau masih ada lagi Li Tong-yang serta Thian hok-sang ini"

Tiba-tiba Li Bun- yang menjura seraya menyela: "Aku Li Bun-yang adalah keturuan dari Li Tong-yang,

sampai waktunya aku bersedia mewakili orang tuaku." Ciu Huang menghela napas panjang, selanya: "setengah tahun berselang aku telah dikerubuti orang sampai terluka parah, jadi nona yang melakukan hal tersebut?"

"Aku juga heran, padahal mereka sudah menusuk tubuhmu dengan tujuh belas tusukan, kenapa kau belum juga mampus?"

"Cepat atau lambat aku pasti sumbangkan nyawaku ini kepada nona, kenapa kau mesti terburu napsu..."

Kemudian setelah berhenti sejenak. kembali katanya: "Bagaimana nona seebun, setuju tidak dengan usulku?"

"Kalau tidak setuju?"

"Dari pada dikemudian hari nona masih mengacau ketenangan dunia persilatan, maka lebih baik kita selesaikan saja persoalan tersebut saat ini juga." seebun Giok-hiong segera tertawa tergelak.

"Hahahaha...jadi kalian beranggapan punya kemampuan untuk mengungguli aku sekarang?"

"Bertanding beda sekali dengan pertarungan adu jiwa, kalau pertarungan biasa mungkin orang hanya mencari kesempatan untuk meraih kemenangan, sebaliknya kalau adu jiwa maka tujuannya adalah menghabisi nyawa musuh, kekuatan yang dipakai pasti berbeda." "Sayang sekali bukan begitu cara kita menentukan lemah atau kuatnya ilmu silat seseorang" kata seebun Giok-hiong sambil bangkit berdiri, "Bila kalian tak percaya, suruh saja tiga orang yang berilmu paling tinggi untuk mencoba mengerubuti aku."

"Apakah nona yakin bisa mengungguli kami"

"Aku kan sudah bilang, menentukan kehebatan ilmu silat berbeda dengan rumus satu tambah satu jadi dua,." setelah menyapu sekejap para jago, terusnya, "siapa ingin mencoba?silahkan segera tampil ke depan, tapi kalau merasa tak mampu menandingi lebih baik jangan sok pintar hingga menyesal kemudian tak ada guna-nya."

Berubah hebat paras muka para jago, tapi mereka tahu bahwa gadis itu berilmu dahsyat sehingga tak seorang pun berani berkutik.

"Bagaimana kalau aku yang mencoba duluan?" seru Ciu Huang tiba-tiba sambil melompat bangun dan menerjang ke hadapan lawan.

"Masih ada yang lain?" jengek seebun Giok-hiong.

Bayangan manusia segera berhamburan, belasan orang serentak melompat bangun.

"Tidak perlu sebanyak itu..."

Li Bun- yang melangkah ke muka, selanya: "Aku termasuk musuh besar nona, sepantasnya masuk hitunganmu bukan?" seseorang yang lain segera menambahkan:

"Aku pernah belajar silat dari ciu locian-pwee, hubungan kami lebih erat daripada hubungan guru dan murid, sepantasnya ikut masuk bagian pula-"

Ketika seebun Giok-hiong berpaling, ia segera kenali orang itu sebagai Hongpo Lan, belum sempat Ciu Huang menghardiknya agar mundur, seebun Giok-hiong telah berkata duluan sambil tertawa:

"Baik, kalian bertiga saja, silahkan turun tangan" Li Bun-yang menoleh sekejap ke arah Hongpo Lan, lalu bisiknya: "Tampaknya ada yang dia andalkan, kau mesti berhati-hati."

"Kalau ia betul-betul mengandalkan ilmu silatnya untuk mengungguli kita, biar kalah pun aku puas."

Mendadak terdengar ciu Huang membentak keras: "Nona, berhati-hatilah. "

"serang saja sekuat tenagamu"

"Baik" sebuah pukulan segera dilontarkan ke depan,

Dengan cekatan seebun Giok-hiong mengigos ke samping, jengeknya sambil tertawa: "Hebat sih hebat, sayang melenceng satu depa ke samping, coba rada geser ke kiri? pukulan itu tentu menyarang dengan jitu."

Ciu Huang mendengus dingin, secara beruntun ia lancarkan serangkaian pukulan berantai.

Dengan nama besarnya selama puluhan tahun, ilmu silat si hakim sakti ini memang hebat, dalam waktu singkat seluruh angkasa telah diliputi hawa pukulan yang menderu-deru.

Li Bun-yang serta Hongpo Lan hanya bersiap siaga di kedua sisi arena, namun mereka enggan menyerang secara sembarangan

Dengan tindakan tersebut, terpaksa see- bun Giok- hiong harus pecahkan konsentrasinya untuk berjaga-jaga terhadap kedua orang lawannya itu.

serangan dari ciu Huang makin lama semakin gencar, tapi ilmu berkelit dari seebun Giok-hiong luar biasa, setiap kali angin pukulan menyerang tiba, ia selalu dapat menghindarinya berapa inci saja dari sasaran semula, Dalam waktu singkat lima enam puluh gebrakan sudah lewat, bukan saja ciu Huang gagal melukai seebun Giok- hiong, untuk memaksanya mundur selangkah pun tidak berhasil, kenyataan ini membuat hatinya mulai gelisah. sementara Li Bun-yang serta Hongpo Lan berharap dari sisi arena untuk memperoleh satu kesempatan bagus guna melukai seebun Giok-hiong, paling tidak mereka berharap serangannya bisa mengalutkan gerakan tubuh lawan. siapa tahu meski sudah menunggu puluhan jurus, kesempatan itu belum juga kelihatan. Mendadak terdengar seebun Giok-hiong berseru merdU: "Hati-hati, aku akan mulai menyerang." sebuah serangan gencar dilontarkan

Waktu itu Ciu Huang sedang gelisah, semangatnya kontan berkobar begitu melihat musuhnya melancarkan serangan balasan,sambil membentak ia sambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.

setelah gagal meraih kemenangan, harapannya kini tertumpu pada kesempurnaan tenaga dalamnya, ia berharap dengan andalkan kehebatan tenaga dalamnya ia bisa mengungguli lawan.

sembari menyambut datangnya pukulan itu, ia berpikir:

"Sekali pun pukulan ini tak berhasil melukai lawan, paling tidak aku akan memaksanya sama-sama menderita kerugian."

siapa tahu begitu tenaga pukulannya saling beradu dengan tenaga lawan, ia merasa seakan-akan pukulan itu menghantam di tubuh seekor ular air, begitu licin telapak tangan lawan, tahu-tahu kekuatan yang sangat dahsyat itu sudah tergelincir ke samping.

Pukulan itu meluncur lewat dari depan dadanya langsung menumbuk Li Bun-yang yang berada disana.

Gagal untuk mengendalikan kekuatan yang dipancarkan itu dengan perasaan kaget ciu Huang berseru: "Hati-hati keponakan Li"

Li Bun-yang segera menyadari akan datangnya bahaya, cepat-cepat dia ayunkan tangannya untuk menangkis, meski begitu tak urung tubuhnya tergetar mundur juga sejauh dua langkah.

sambil tertawa terkekeh-kekeh seebun Giok-hiong segera berseru:

"Ciu tayhiap. hebat betul pukulanmu" Dengan mementangkan kelima jari tangan kanannya ia coba mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Ciu Huang.

Buru-buru si Hakim sakti ini menarik tangannya sambil berkelit ke samping, tangan kirinya mengeluarkan jurus aneh dan berputar ke belakang untuk menggempur bahu kiri gadis tersebut

seebun Giok-hiong miringkan tubuhnya, ia tidak bermaksud menghindarkan diri sebaliknya malah menyongsong datangnya gempuran itu dengan bahunya. Begitu tenaga pukulan Ciu Huang menggempur di atas bahu gadis itu, sekali lagi tenaga pukulannya tergelincir ke samping, kali ini menggempur tubuh Hongpo Lan.

Buru-buru Hongpo Lan silangkan tangannya untuk membendung serangan tersebut ia segera merasakan betapa dahsyatnya kekuatan itu hingga membuat tubuhnya bergetar keras dan mundur beberapa langkah.

Dengan perasaan terkesiap Ciu Huang mundur ke belakang, serunya tertahan: "Nona, ilmu silat apaan itu?"

seebun Giok-hiong tersenyum, ia tidak menjawab pertanyaan itu, hanya ujarnya:

"Bila kalian puluhan orang maju menyerang bersama, maka benturan dari puluhan gulung tenaga pukulan tersebut pasti akan menimbulkan kekalutan yang luar biasa."

"Kepandaian nona hebat betul-betul ilmu sakti yang belum pernah dijumpai sebelumnya, bukan saja bisa menggelincirkan tenaga serangan musuh, bahkan bisa dipakai untuk menyerang orang lain,"

"Bila kau belum puas, silahkan untuk dicoba lagi." Ciu Huang berkerut kening, katanya:

"Sekali pun nona berilmu tinggi dan kebal pukulan, namun belum tentu kau bisa mengungguli kami semua, selesainya kami gunakan senjata, aku tak percaya nona bisa menggelincirkan pula ujung senjata yang tajam dari atas tubuhmu." seebun Giok-hiong mendengus dingin.

"Tampaknya kau tak akan melelehkan air mata sebelum melihat peti mati, baik-lah, kalau tak percaya, cobalah sekali lagi dengan menggunakan senjata."

Ciu Huang segera memandang sekeliling arena sekejap. kemudian serunya dengan suara dalam:

"siapa yang bersedia meminjamkan senjata kepadaku?"

Hongpo Tian hong segera bangkit berdiri, dari sakunya ia merogoh keluar sebilah pedang pendek, serunya sambil disodorkan ke muka: "Toako, gunakan senjataku."

Begitu senjata itu diloloskan dari sarung-nya, cahaya berkilau segera memancar ke-empat penjuru, semua jago segera menyadari bahwa senjata itu merupakan sebilah pedang mestika.

"Tampaknya pedangku amat tajam" seru seebun Giok- hiong sambil mengawasi pedang itu lekat-lekat.

"Betul, meski tak dapat mengutungi baja, paling tidak bisa melubangi batu cadas, sanggupkah nona menghadapi tusukan pedang ini?" "ltu mah harus dilihat sanggup tidak kau menusUk tubuhku." jawab seebun Giok-hiong sambil tertawa nambar.

"sudah puluhan tahun aku tidak menggunakan senjata, tapi untuk menghadapi musuh setangguh nona hari ini, terpaksa aku harus melanggar kebiasaanku."

"Terima kasih atas pujianmu, silahkan turun tangan." "Hati-hati nona "

pedangnya ditusuk. ke muka, dua kuntum bunga pedang segera menyergap dua buah jalan darah penting di tubuh lawan.

Dengan cekatan seebun Giok-hiong berkelit ke samping, ia belum juga turun tangan.

Bagaimanapun juga Ciu Huang adalah seorang pendekar besar yang ternama, tentu saja ia merasa amat malu karena harus menghadapi seorang gadis muda dengan senjata tajam, apalagi ditonton banyak orang.

Maka sambil menarik kembali senjatanya ia berseru: "Nona tak perlu sungkan-sungkan, turun tangan saja sesukamu."

"Bila aku membalas, dalam sepuluh gebrakan aku pasti berhasil merampas pedang pendekmu."

Ciu Huang termenung berpikir sesaat, katanya lagi: "Aku percaya mungkin saja nona benar-benar memiliki kemampuan seperti itu, silahkan turun tangan"

Kembali pedangnya disodok ke depan melancarkan totokan.

seebun Giok-hong segera memutar tangan kanannya dan berusaha mencengkeram pergelangan tangan kanan ciu Huang yang menggenggam pedang.

Buru-buru ciu Huang menarik tangan-nya, kali ini pedangnya menyergap dari bawah ke atas.

Dengan tangan kanannya Seebun Giok-hiong menggiring permainan pedang lawan, sementara tangan kirinya bagaikan bayangan menyambar lagi ke arah pergelangan tangan kanan orang tua itu.

Pertarungan segera pecah dengan amat serunya, kedua belah pinak sama-sama berusaha untuk merobohkan lawannya.

Mendadak terdengar bentakan nyaring bergema memecahkan keheningan: "Lepas tangan"

Bayangan tangan yang saling menyambar mendadak lenyap tak berbekas, Ketika semua orang mengalihkan perhatiannya, maka tampaklah jari tangan kiri seebun Giok-hiong telah mencengkeram pada pergelangan tangan kanan Ciu Huang, sebaliknya Ciu Huang menggenggam pedang pendeknya kencang-kencang. Kedua belah pihak saling bertahan berapa saat lamanya, tiba-tiba Ciu Huang mengayunkan tangan kirinya melepaskan satu pukulan.

seebun Giok-hiong menyambut serangan itu dengan tangan kanannya, dengan suara dingin jengeknya:

"Aku dengar ciu tayhiap menjadi tenar karena andalkan tenaga dalamnya yang sempurna, hari ini aku harus menjajal kehebatanmu itu."

Ciu Huang tidak mengucapkan sepatah kata pun, diam-diam ia kerahkan tenaga dalamnya untuk menumbuk tubuh lawan, satu-satunya kesempatan baginya untuk mengalahkan seebun Giok-hiong adalah memaksanya beradu tenaga dalam, sebab akal muslihat gadis tersebut susah baginya untuk menghadapinya.

siapa tahu apa yang kemudian tcrjadi sama sekali diluar dugaan para jago, setelah saling menyerang selama seperminum teh lamanya, butir keringat mulai membasahi jidat Ciu Huang, sebaliknya keadaan seebun Giok-hiong tetap tenang saja tanpa kekurangan sesuatu apa pun.

Ketua Hian- hong- kau yang pertama-tama melihat gelagat tak beres, ia melompat bangun sambil berteriak keras: "Ciu tayhiap. cepat hentikan seranganmu." Sesungguhnya Giu Huang sendiripun merasa gelagat tidak beres, ia merasa tenaga dalamnya yang mengalir keluar dari tubuhnya seakan-akan pasir yang disebar ke dalam samudra, sedikit pun tidak memberikan reaksi, ia sadar keadaan seperti ini tidak benar, tapi ia pun tak bisa mengundurkan diri dengan begitu saja, terpaksa sambil menggertak gigi ia melanjutkan serangannya. sampai ketua Hian-hong-kau berteriak keras ia baru menghentikan serangannya sambil menegur: "Nona, ilmu apaan yang kau latih?"

"Ilmu sakti pelumat tenaga" jawab Seebun Giok-hiong tenang.

"Ilmu sakti pelumat tenaga?"

"Benar, biar pun tenaga dalam Ciu tayhiap lebih hebat pun tak nanti kau bisa bertahan selama satu jam."

Ketua Hian- hong- kau menghela napas panjang, ujarnya:

"Aku lihat semua ilmu silat terjahat di dunia rupanya sudah kau pelajari semua?"

"Kaucu .terialu memuji. " Dengan pandangan dingin

gadis itu menyapu para jago sekejap lalu terusnya, "Aku sudah berjanji kepada Pek Si-hiang untuk tidak melukai kalian selama tiga bulan. " "Pek Si-hiang?" seru ketua Hian- hong- kau, "Kau maksudkan pemuda berbaju hijau itu?"

"Kenapa? Kalian pun kenal?"

"Rasanya Pek Si-hiang bukan nama seorang pria?" "Perduli dia lelaki atau wanita, pokoknya aku telah

berjanji untuk tidak melukai kalian dalam tiga bulan mendatang, tapi jika kalian tetap menghalangi kepergianku sekarang, jangan salahkan jika aku tidak memegang janji" dengan langkah lebar ia keluar

dari situ.

setelah menyaksikan kemampuan see- bun Giok-hiong dalam menghadapi Ciu Huang tadi, para jago sudah menaruh rasa jeri kepadanya, maka tak seorang pun berani menghalangi jalan perginya.

setibanya di depan pintu, seebun Giok-hiong berpaling dan katanya lagi tiba-tiba.

"Kalian masih punya kesempatan untuk hidup selama tiga bulan lagi, selewatnya tiga bulan, setiap saat kalian bisa mampus."

Ketika selesai bicara, tubuhnya telah melesat pergi sejauh berapa kaki dari posisi semula.

Memandang bayangan punggung seebun Giok-hiong yang menjauh, pelan-pelan phang Thian-hua berkata: "Kalau kita melepaskan harimau pulang gunung, selanjutnya dunia persilatan tak pernah akan tenang kembali." Ketua Hian- hong- kau menghela napas pula, katanya:

"Kita masih punya waktu selama tiga bulan untuk melakukan persiapan, aaaaai..Jika dalam tiga bulan ini kita bisa menggalang persatuan dalam dunia persilatan untuk bersama-sama menghadapinya, sekali pun ilmu silatnya hebat dan ia menguasai berbagai macam ilmu sesat dalam kolong langit, paling tidak kita masih bisa mengimbanginya, justru yang kutakuti adalah terjadinya saling gontok gontokan di antara kita sendiri, hal semacam ini pasti akan memberi peluang kepadanya untuk mempersiapkan diri"

Mendadak terlihat tubuh Ciu Huang limbung lalu jatuh terduduk. wajahnya memperlihatkan rasa kepenatan yang luar biasa.

Dengan langkah lebar Phang Thian-hua menghampirinya, sebuah botol porselin di keluarkan dari saku lalu menuang dua butir pil warna merah, katanya sambil menyodor-Kan pil itu:

"saudara Ciu, bagaimana kalau mencoba kemanjuran pil buatanku?"

"Aaaai... aku sudah tua, tidak berguna lagi" kata Ciu Huang sambil menghela napas dan membuka matanya, ia segera terima pil itu dan ditelannya, selama berkelana dalam dunia persilatan ciu Huang banyak membantu kaum lemah untuk menindas kaum laknat, selama ini belum pcrnah ia menderita kekalahan di tangan orang, secara lamat-lamat nama besarnya telah sejajar dengan nama besar keluarga Hong-san.

Maka beberapa patah kata yang diucapkan dari mulutnya itu segera mendatangkan suasana kelabu bagi yang mendengar-nya. Li Bun-yang segera berkata:

"Aku pernah mendengar ibuku berbicara tentang ilmu sakti pelumat tenaga, konon ilmu tersebut merupakan sejenis ilmu silat yang sangat jahat, jadi bukan kemampuan locianpwee yang tak bisa menandinginya."

senyuman tersungging di ujUng bibir Ciu Huang, pelan-pelan dia pejamkan matanya dan mulai mengatur pernapasan, agaknya ucapan Li Bun-yang itu telah memberikan hiburan yang besar baginya.

Mendadak Coat-pin taysu bangkit berdiri seraya berkata:

"Aku harus berangkat duluan untuk kembali ke kuil siau-lim serta melaporkan semua yang telah kulihat dan kualami kepada ketua, agar kami bisa membuat persiapan sejak awal." Ketua Hian- hong- kau segera maju mendekat dan memberi hormat, sahutnya:

"selama ini siau-lim-pay dianggap sebagai tonggak dunia persilatan, setiap gerak gerik partai kalian sangat mempengaruhi keadaan dunia kita, oleh sebab itu apabila ketua kalian bersedia tampilkan diri untuk memimpin kita semua, aku percaya setiap orang gagah pasti bersedia untuk mentaati setiap kata- katanya,"

Coat-pin taysu menghela napas panjang, "Aaaai... wibawa kuil kami sudah sirna, buktinya anak murid kami berani membuat keonaran di hadapanku, dalam hal ini aku yakin ketua kami tak akan berdiam diri saja, cuma apakah beliau bersedia memimpin para jago hal ini perlu dirundingkan dulu sebelum menjawab, tapi percayalah, aku pasti akan sampaikan semua pesan kaucu kepada ketua kami."

"Harap taysu sudi membujuknya."

"Aaaai... orang persilatan banyak yang mengatakan bahwa ketua Hian- hong- kau adalah seorang manusia emosional dan merupakan pentolan dari suatu organisasi yang penuh misteri, keseraman dan kengerian, tapi setelah perjumpaan hari ini baru kuketahui bahwa kaucu bukan cuma pintar, kau pun terhitung seorang pendekar wanita yang menjunjung tinggi keadilan serta kebenaran, tampaknya berita sensasi dalam dunia persilatan memang tak bisa dipercayai dengan begitu saja." Apa yang dikatakan coat-pin taysu justru merupakan masalah yang tidak dipahami pula oleh para jago, tanpa terasa perhatian mereka sama-sama dialihkan ke arahnya.

Ketua Hian- hong- kau tahu bahwa masalah seperti ini sulit baginya untuk menjelaskan maka dengan suara hambar katanya:

"Mungkin lantaran gerak gerik dan sepak terjang organisasi kami serba aneh dan misterius, maka berita semacam ini sampai beredar dalam dunia persilatan, jadi tak bisa menyalahkan orang lain."

sambil tertawa Coat-pin taysu manggut-manggut. "Kaucu betul-betul seorang pendekar wanita sejati,

apabila kau bisa membuka lebar sepak terjang organisasi

Hian- hong- kau dalam dunia persilatan, aku yakin tak sulit bagimu untuk berdiri sebagai salah satu kekuatan yang patut diperhitungkan dalam dunia persilatan-"

Ketua Hian- hong- kau ikut tertawa.

"Sepak terjang kami merupakan peraturan yang sudah turun temurun dalam perkumpulan kami, jadi kendatipun aku berniat untuk berbUat demikian, namUn sulit rasanya untuk mengubah tradisi kami ini dalam waktu yang amat singkat" "Apa yang telah kuucapkan tadi hanya merupakan ucapan sambil lalu saja, kaucu jangan sakit hati atau tersinggung " Kemudian setelah memberi hormat,

tambahnya:

"Kalau begitu aku mohon diri lebih dulu." selesai berkata dengan langkah lebar ia berjalan meninggalkan ruangan tersebut setelah mengalami kejadian yang sama sekali diluar dugaan ini, antara sesama jago tanpa terasa telah timbul suatu ikatan batin yang sangat mendalam, serentak kawanan jago itu bangkit berdiri untuk menghantar keberangkatan pendeta itu.

Phang Thian-hua yang selama ini tak pernah berhubungan dengan orang persilatan pun tiba-tiba bangkit berdiri seraya berkata:

"Selama ini aku hanya tahu mengurusi masalahku sendiri dan jarang sekali berhubungan dengan dunia persilatan. "

setelah berhenti sejenak dan menyapu sekejap kawanan jago di hadapannya, ia melanjutkan "Mulai detik ini aku berjanji akan mengubah sifat menyendiriku itu, sekembaliku ke perkampungan Pit-tim-san-ceng, pasti akan kubuka pintu perkampunganku lebar- lebar, siapa saja kawan persilatan yang hendak singgah ke rumahku, tentu akan ku-sambut kehadirannya dengan senang hati." "Apabila Phang cengcu bersedia membuka diri, dengan ilmu pertabiban dan pengobatan yang kau kuasahi, tindakan ini pasti akan memberi banyak keuntungan bagi umat persilatan-" seru ketua Hian- hong- kau. Phang Thian-hua tertawa terbahak bahak,

"Hahahaha... setelah mengalami kejadian yang luar biasa ini, sifat serta watakku benar- benar telah mengalami banyak perubahan semoga saja dengan sisa hidupku ini aku bisa berbakti demi umat persilatan. "

setelah mendehem beberapa kali lanjut-nya:

"Akupun harus berangkat duluan, dalam perkampungan Pit-tim-san-ceng masih ada beberapa orang yang bisa kumanfaatkan, aku harus pulang untuk mempersiapkan diri,"

Habis berkata dengan membawa tongkatnya ia beranjak keluar dari ruangan itu. Ketua Hian- hong- kau menyapu sekejap para jago yang tersisa, kemudian katanya:

"Kini Pemiiik bunga bwee sudah pergi, aku rasa kalian pun perlu pulang untuk mempersiapkan diri,"

Di antara para jago yang hadir di sana, kalau bukan seorang pentolan suatu daerah tentu merupakan pendekar kenamaan dalam dunia persilatan, tapi setelah mengalami banyak kejadian dalam pertemuan kali ini, pikiran maupun perasaan mereka telah mengalami suatu perubahan yang sangat aneh, ambisi mereka terasa tenggelam bahkan hubungan batin antara mereka pun terasa bertambah kental.

Apalagi perkataan seebun Giok-hiong sebelum meninggalkan tempat itu, ancaman tersebut telah meninggalkan selapis bayangan gelap dalam perasaan mereka, semua orang dapat meras akan bahwa perkataan seebun Giok-hiong bukan cuma gertak sambal.

Tiga bulan kemudian setiap saat mereka ada kemungkinan menghadapi ancaman maut, hanya tidak diketahui siapa yang bakal menjadi korban pertama, padahal ilmu silat perempuan itu sangat hebat, para jago mengerti bahwa kekuatan mereka tak seorang pun bisa menghadapinya. Melihat para jago hanya duduk termenung dengan wajah serius, terpaksa ketua Hian- hong-kau berkata lagi:

"Walaupun pemilik bunga bwee keji dan buas tapi ia sangat menepati janji, setelah berjanji tak akan membuat keonaran dalam tiga bulan mendatang, aku percaya dia pasti akan menepatinya. Dalam persilatan ada pepatah yang mengatakan: Ada rejeki tentu bukan bencana, kalau ada bencana tentu susah dihindari Aku rasa masalah terpenting yang kalian hadapi sekarang adalah bagaimana memanfaatkan kesempatan selama tiga bulan ini, jika kalian belum apa-apa sudah takut dengan kehebatan ilmu silat Pemilik bunga bwee hingga kehilangan keberanian sendiri, bukankah hal ini sama artinya dengan menunggu saat ajal saja?"

"Ucapan kaucu betul" sahut seseorang dengan suara berat, "Jika harus mati, paling tidak kita harus mati secara jantan-"

Ketika para jago berpaling, ternyata sipembicara adalah si kepalan sakti tanpa tandingan Liok Gi-wan. orang ini sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan sejak sepuluh tahun berselang, tak disangka kali ini pun ikut muncul untuk memenuhi undangan Pemilik bunga bwee.

Tampaknya ucapan itu segera membangkitkan kembali semangat para jago, serentak mereka bangkit berdiri sambil berseru:

"Perkataan guru Liok sangat tepat, kalau memang harus mati, kita harus mati secara jantan."

Ketua Hian- hong- kau segera mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk memberi tanda, serentak para jago menjadi tenang kembali.

setelah melalui peristiwa ini, tanpa disadari ketua Hian- hong- kau telah menjadi pemimpin kawanan jago tersebut Terdengar ketua Hian- hong- kau berkata:

"Sesungguhnya kalian pun tidak usah memandang kelewat tinggi kemampuan Pemilik bunga bwee, kalian manusia, dia juga manusia, bukan berarti di dunia ini tak ada orang yang tak mampu melampaui kemampuannya, seperti contohnya Pek siangkong yang berbaju hijau itu, dia telah menjadi tandingan Pemilik bunga bwee, dalam adu otak berulang kali Pemilik bunga bwee dapat dipecundanginya, aku yakin asal ia mau mencampuri urusan ini maka posisi kita masih bisa diselamatkan, apa lagi dia sengaja mengatur waktu kosong selama tiga bulan, aku percaya ia pasti mempunyai tujuan tertentu..."

"Betul juga perkataan kaucu" seru para jago serentak. "oleh sebab itu kalian boleh pulang dengan perasaan

lega, usahakan membuat persiapan sebanyak mungkin, lebih baik lagi jika kalian bisa saling membuat kontak dan hubungan, dengan kekuatan yang lebih besar pasti pengaruhnya akan lebih hebat." serentak para jago memberi hormat seraya berseru:

"Kami pasti akan menuruti perkataan kaucu, waktu lebih berharga daripada emas, kami akan mohon diri lebih dulu."

Ketua Hian- hong- kau manggut-manggut, katanya lagi:

"Mungkin saja ketua siau-lim-pay bersedia menerima permintaan coat-pin taysu untuk tampilkan diri memimpin kita semua, bila hal ini sampai terjadi, dalam dua bulan mendatang kalian pasti sudah mendapatkan beritanya, nah waktu sangat berharga bagi kita sekarang, kini kalian boleh segera berangkat"

serentak para jago memberi hormat kepada ketua Hian- hong- kau dan mohon diri

Dalam waktu singkat sebagian besar kawanan jago itu sudah berpamitan dan meninggalkan tempat itu.

Bersambung ke Seri Kedua