-->

Pedang Keadilan I Bab 49 : Asal Usul Pemilik Bunga Bwee

Bab 49. Asal Usul Pemilik Bunga Bwee

Pemilik bunga bwee mendengus dingin, tukasnya: "Hmmm, sekalipun kalian turun tangan bersama pun

jangan harap bisa lolos dari bencana kali ini."

"Bagus, kau sudah mengaku sendiri sekarang, berarti orang-orang yang semula masih sangsi pun sekarang sudah yakin benar dengan tujuan jahatmu itu"

"Hmmm, sebetulnya aku hanya ingin menyaksikan sedikit keramaian di mana kalian saling membunuh, kalau dibilang aku hendak memanfaatkan kesempatan ini untuk membasmi kalian, hahahaha kau kelewat

memandang enteng kemampuanku"

"Kau sudah berterus terang sekarang, rasanya segala sesuatu pun tak perlu dirahasiakan lagi, aku percaya kau memiliki kemampuan tersebut, aku pun tahu barang siapa ingin lolos dari bencana hari ini maka ia harus mengandalkan kepandaian serta nasib sendiri, meski begitu ada sedikit hal yang kurang kupahami, bersediakah kau memberi penjelasan? "

"Hahanaha... kalau ingin bertanya, tanyakan saja" pemilik bunga bwee tertawa nyaring, "Kematian kalian sudah di ambang pintu, aku tak ingin kalian menjadi sukma pikun setelah kematian nanti."

"Sebenarnya apa dendam sakit hati umat persilatan dengan dirimu? Kenapa kau bersikeras ingin memusnahkan kami semua?"

Pemilik bunga bwee termenung sambil berpikir berapa saat lamanya, kemudian katanya: "Soal ini panjang sekali untuk diceritakan lebih baik tak usah dibicarakan. "

"Paling baik kalau kau terangkan dulu sejelas-jelasnya, setelah kau persiapkan rencana yang begitu matang untuk memusnahkan semua jago yang hadir hari ini, aku rasa kau tak akan mempersoalkan cepat sedikit atau lebih lambat turun tangan bukan?"

"Jadi kalian benar-benar ingin tahu?" tanya Pemilik bunga bwee dengan nada serius.

"Betul" sambung Li Bun-yang, "Meski-pun kau telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk membantai para jago yang hadir dalam pertemuan hari ini, namun kami semua tak akan menyerah dengan begitu saja, aku percaya pertempuran yang bakal berlangsung pasti luar biasa hebatnya."

"Hmmmm... kalian jangan berpikir segampang itu," sela Pemilik bunga bwee angkuh, "Ketahuilah, begitu aku turunkan perintah, dalam sekejap mata kalian akan hancur menjadi abu."

"Aaah, belum tentu, kau tak usah kelewat yakin dengan kemampuanmu itu."

"Bila kalian tak percaya, kenapa tidak dibuktikan sendiri?"

"Tunggu sebentar" seru ketua Hian hong kau tiba-tiba, "Lebih baik kau terangkan dulu apa sebabnya sampai memusuhi seluruh jago di kolong langit, paling tidak kalau diharuskan mati pun kami akan mati dengan perasaan puas,"

"Aku yakin bisa menangkan pertarungan hari ini" "Sekalipun kau dapat membinasakan semua orang

yang hadir dalam sekejap. namun kami ingin mati

dengan perasaan jelas, kami ingin tahu apa yang menyebabkan kematian kami. "

"Ehmmm... benar juga perkataan ini... benar juga perkataan ini.,." gumam Pemilik bunga bwee lirih.

Terdengar ketua Hian hong kau berkata lebih jauh: "Kau sengaja membuang nama aslimu dengan menyebut diri sebagai pemilik bunga bwee, aku pikir dendam kesumat ini pasti ada hubungannya dengan bunga bwee bukan?" Pemilik bunga bwee agak tertegun, tapi ia segera berseru:

"Sebagai seorang wanita, kau mampu memimpin beribu anggota Hian hong kau yang terdiri dari manusia aneka ragam, terbukti sekarang kau memang memiliki kemampuan yang luar biasa."

"Terima kasih atas pujian anda, aku percaya kemampuanmu juga tidak berada di bawah kemampuanku. "

Tiba-tiba Pemilik bunga bwee berseru dengan nada serius:

"Kalau toh kalian ingin mengetahui duduknya persoalan secara jelas, baiklah, akan kukabulkan permintaan kalian yang terakhir kali ini."

"Sekalipun kami tidak menyinggung aku percaya kau tentu akan menjelaskan juga kepada kami."

"Betul, lagi-lagi kau berhasil menebak secara benar, sayang sekali bila seorang wanita cerdik macam kau harus mati sia-sia di sini hari ini."

"Asal kau dapat membuat aku mati dengan perasaan puas, biarpun harus mati juga tak perlu disayangkan." Pemilik bunga bwee berpaling ke arah kakek berjubah kuning ini, kemudian perintahnya:

"Tarik dulu burung-burung itu" Kakek berbaju kuning itu menyahut dan berpekik aneh, suara pekikannya tinggi melengking amat menusuk pandangannya.

Dua ekor burung aneh berwarna abu-abu itu segera meluncur balik dan hinggap di atas sangkar besi pada tekukan lengan kakek itu.

Pemilik bunga bwee segera mengangkat tangannya memberi tanda sambil memperdengarkan suara pekikan rendah.

Dalam waktu singkat bergemalah suara musik yang berkumandang datang dari kejauhan.

irama musik yang dibawakan amat memilukan hati, membuat siapa pun yang mendengar merasakan hatinya bergetar keras.

Empat orang gadis memakai baju berkabung dengan membawa lilin berwarna putih pelan-pelan berjalan masuk ke dalam arena. irama musik yang membawakan lagu sedih makin lama semakin dekat, nada irama-nya juga makin memedihkan hati, seakan- akan para pemain musik itu mempunyai perasaan sedih yang luar biasa sehingga semua perasaan hatinya itu disalurkan keluar melalui nada-nada lagunya. Menyusul di belakang keempat gadis berbaju putih itu menyusul delapan orang gadis muda berbaju sutera dengan ikat pinggang warna putih, setiap empat orang membentuk satu rombongan yang menggotong keluar sebuah meja, di atas meja itu tertutup kain warna putih hingga tidak diketahui benda apa di balik kain itu.

Disusul kemudian enam belas orang gadis berbaju hijau membentuk sebuah barisan musik, walaupun jumlah alat musiknya tidak banyak namun berhubung dimainkan oleh para ahli musik yang hebat, maka irama lagu yang dimainkan pun kedengaran luar biasa.

Dua puluh delapan orang gadis cantik dengan dandanan pakaian yang berbeda pelan-pelan berjalan masuk ke dalam arena, mereka membentuk sebuah barisan yang serius, aneh dan penuh misteri.

Tampaknya para jago sudah terpengaruh oleh irama lagu sedih yang dibawakan rombongan pemusik itu, serentak mereka menyingkir ke kedua belah sisi untuk memberi sebuah jalan lewat.

Ketika tiba di depan pemilik bunga bwee, kedua puluh delapan orang gadis itu serentak menggerakkan badannya membentuk sebuah barisan bulat, delapan gadis berbaju sutera itu dengan cepat meletakkan kedua buah meja yang digotongnya di tengah arena, sedang keempat gadis yang memakai baju berkabung meletakkan lilin putih yang dibawanya ke atas meja. Enam belas gadis berbaju hijau dari rombongan pemusik mengelilingi kedua buah meja itu dan sama-sama berlutut.

Dengan langkah lebar pemilik bunga bwee berjalan menuju ke depan meja kemudian menjatuhkan diri berlutut serta melakukan penghormatan besar sebanyak tiga kali.

Menyaksikan kesemuanya ini, di hati kecil para jago sesungguhnya sudah terbentik setitik jawaban, hanya saja tak seorang pun di antara mereka yang mau berbicara.

selesai memberi hormat di depan meja itu, Pemilik bunga bwee bangkit berdiri, ditatapnya para jago sekejap lalu berseru:

"Bila kalian ingin mengetahui duduk persoalan pada hari ini, silahkan membaca tulisan pada meja abu itu."

Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut, dua orang gadis berbaju sutera yang berdiri di samping meja itu segera membuka penutup kain putih tersebut.

serentak para jago mengalihkan perhatiannya ke atas dua meja itu, ternyata pada masing-masing meja terdapat sebuah papan nama kecil Pada papan nama. di sebelah kiri tertulis: "Tempat abu dari ketua angkatan ketiga perguruan bunga Bwee." sedangkan pada papan nama di sebelah kanan bertuliskan-

"Tempat abu dari istri ketua angkatan ketiga perguruan bunga bwee, shen siok-giok."

Begitu selesai membaca tulisan itu, seketika itu juga para jago menjadi mengerti siapa gerangan pemilik bunga bwee sekarang ini, ternyata dia adalah keturunan dari see bun Hong, ketua dari perguruan bunga bwee. peristiwa ini menyangkut suatu tragedi besar yang terjadi pada belasan tahun berselang, dan melibatkan banyak sekali jago-jago tangguh dari dunia persilatan-...

Sementara itu Pemilik bunga bwee telah berseru lantang:

"Setelah kalian membaca tulisan pada meja abu itu, tentunya kamu semua sudah tahu bukan alasan dari terjadinya peristiwa hari ini." coat-pin taysu menghela napas panjang, sahutnya:

"Aaaai... walaupun kejadian ini sudah lama berlangsung, namun tragedi yang menimpa perguruan bunga bwee rasanya masih baru saja dalam ingatanku. " "Apakah taysu termasuk salah seorang saksi mata yang hadir dalam peristiwa itu?" tegur Pemilik bunga bwee dengan suara dalam.

"Benar, sejak awal sampai akhir aku mengikuti terus dengan mata kepala sendiri. " Dia memandang sekejap

sekeliling arena, kemudian melanjutkan

"Adakah di antara kalian yang hadir hari ini ikut hadir pula dalam peristiwa tempo dulu? Kalau ada, harap segera tampilkan diri untuk menjadi saksi bersamaku" Suasana di sekeliling arena amat hening, tak seorang manusia pun memberi jawaban. Sambil tertawa dingin pemilik bunga bwee berkata:

"Sudah banyak tahun aku menyelidiki peristiwa ini namun gagal untuk menemukan mereka yang hadir di arena saat peristiwa itu berlangsung, meskipun ada di antara mereka yang berhasil kulacak, namun mereka tetap belum mau mengakuinya "

"Aaai. hal ini tak bisa salahkan mereka" kata coat-pin

taysu sambil menghela napas panjang, "Siapa sih yang mau mengakui perbuatan sendiri yang jelas-jelas merupakan suatu tindakan keliru yang tak bisa dimaafkan?" Tiba-tiba Pemilik bunga bwee berseru keras:

"Locianpwee selama banyak tahun, baru kali ini

kudengar ada orang yang mengatakan bahwa kedua orang tuaku almarhum tidak bersalah, selama ini aku benci umat manusia bukan karena kematian tragis kedua orang tuaku, tapi aku benci dengan sikap munafik mereka, tahu kalau perbuatannya salah tapi tak berani mengakuinya"

"Jadi maksudmu mengundang para jago berkumpul di sini hanya ingin menanyakan peristiwa masa lampau?"

"Benar, aku hendak menyelidiki kesalahan apa yang telah diperbuat orang tuaku almarhum sehingga mengundang keroyokan para jago lihay dari kolong langit"

Dengan sinar mata berkilat Coat-pin taysu menatap wajah Pemilik bunga bwee lekat-lekat, kemudian katanya:

"Sebelum kita membicarakan soal peristiwa tragis yang menimpa sebun Hong suami istri, terlebih dulu aku ingin mengajukan beberapa buah pertanyaan yang membingungkan hatiku."

"Silahkan locianpwee bertanya" ucap pemilik bunga bwee sambil memberi hormat, sikap angkuhnya hilang sama sekali.

setelah termenung berapa saat coat-pin taysu baru berkata lagi:

"Bila dihitung dengan jari, paling banter peristiwa tragis itu baru terjadi pada dua puluh tahun berselang andaikata sebun Hong suami istri masih hidup pun paling tinggi usianya sebanding dengan dirimu. padahal kau bilang sebun Hong suami istri berdua sebagai almarhum orang tuamu, berarti kau adalah anak kandungnya "

"Wajah pemilik bunga bwee yang kau saksikan sekarang memang bukan wajah asliku, aku bosan dan kecewa melihat kebuasan serta kemunafikan manusia di dunia ini, karenanya aku segan menjumpai mereka dengan wajah asliku."

"salah besar bila kau berpendapat demikian" ucap Coat-pin taysu dengan wajah serius, "setelah peristiwa tragis yang menimpa perguruan bunga bwee tersiar dalam dunia persilatan dulu, banyak sekali mereka yang sesungguhnya tidak terlibat dalam kejadian itu berkoar- koar dengan mengatakan mereka terlibat, tujuannya hanya ingin menaikkan pamor mereka saja, sebaliknya kawanan jago yang sesungguhnya betul-betul terlibat justru berusaha menyangkal kalau mereka terlibat dalam kejadian tragis itu."

"Apakah mereka sadar kalau perbuatannya salah hingga malu terhadap diri sendiri dan tidak berani mengakuinya?"

"sebenarnya juga tidak begitu, hanya saja kau tidak berhasil menemukan orang yang berani mengakui saja " setelah berhenti sejenak, lanjutnya: "seandainya sedari dulu kau mencari aku atau Thian- hong tootiang dari pondok Lian-im-lu, atau si Hakim berwajah besi Ciu Huang, ketua keluarga persilatan bukit Hong-san generasi kedua "

"Aku pernah naik ke bukit Hong-san, sayang ahli waris generasi kedua keluarga persilatan bukit Hong-san telah wafat,.,." tukas Pemilik bunga bwee. Kembali Coat-pin taysu menghela napas panjang.

"Aaaai. sejak menyaksikan peristiwa tragis yang

menimpa perguruan bunga bwee dulu, selama dua puluh tahun terakhir aku tak pernah terjun lagi ke dalam dunia persilatan, aku tidak tahu kalau ahli waris generasi kedua dari keluarga persilatan bukit Hong-san telah berpulang ke alam baka misalnya Ui sicu masih hidup, mungkin

pertemuan puncak hari ini tak bakal terselenggara "

Mendadak Hongpo Lan teringat kembali dengan suratnya, dia masih ingat bahwa sampul surat itu tertulis ditujukan kepada seebun tayhiap. ini membuktikan bahwa ayahnya telah mengetahui latar belakang dari peristiwa tersebut. sementara itu ketua Hian hong kau telah bertanya:

"Apa sih sangkut paut ahli waris generasi kedua keluarga persilatan bukit Hong-san dengan kejadian ini? Kenapa bila ia masih hidup maka pertemuan puncak hari ini tak akan terselenggara?" "semisalnya ahli waris generasi kedua dari keluarga persilatan bukit Hong-san masih hidup, ketika seebun siangkong ini mengunjungi bukit Hong-san ia pasti akan mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya atas peristiwa tragis yang menimpa perguruan bunga bwee, otomatis dia pun tak usah mengundang para jago dari seluruh kolong langit untuk mengadakan pertemuan puncak di sini."

"oooh... rupanya begitu" Mendadak pemilik bunga bwee menyela: "Taysu, aku mempunyai sebuah permintaan harap taysu bersedia untuk mengabulkan" Nada pembicaraannya kali ini kembali telah berubah.

"Asal dapat kulakukan dan permintaanmu tidak menyalahi hukum aku pasti akan mengabulkan. "

"Sesungguhnya bukan suatu permintaan yang luar biasa, aku hanya ingin mendengar kisah nyata yang sesungguhnya dari peristiwa tragis itu, taysu tak perlu menutupi kesalahan almarhum ayah ibuku, juga tak perlu menutup,nutupi kesalahan yang telah dilakukan mereka yang telah mengurung mendiang orang tuaku, untuk itu aku tentu merasa berterima kasih sekali."

Coat-pin taysu termenung sambil berpikir juga beberapa saat, kemudian katanya:

"Aku pun mempunyai satu permintaan entah bersediakah seebun sicu untuk mengabulkan?" "Katakan taysu" Pemilik bunga bwee berkerut kening.

"Demi melacak peristiwa tragis ini sicu tak segan- segan mengundang para jago untuk berkumpul di tempat ini, bisa dibayangkan betapa mendalamnya rasa dendammu dan betapa hebatnya niatmu untuk membalas dendam, tapi sembilan puluh persen dari mereka yang hadir saat ini sesungguhnya tak ada kaitan maupun sangkut pautnya dengan peristiwa tersebut, oleh sebab itu aku berharap seebun sicu bersedia membebaskan mereka lebih dulu, entah bagaimana menurut pendapatmu? "

"Maksud taysu mereka yang hadir di arena saat ini tak ada sangkut pautnya dengan peristiwa itu?"

"sepuluh tahun berselang, hampir separuh bagian di antara mereka yang hadir hari ini belum punya nama di dalam dunia persilatan, oleh sebab itu aku simpulkan mereka yang berusia empat puluh tahun ke bawah seharusnya tidak tersangkut dalam peristiwa itu."

"Taysu berani menjamin orang tua atau saudara mereka tidak terlibat dalam peristiwa itu?"

"Walaupun disebutkan mereka yang mengeroyok perguruan bunga bwee adalah para jago dari kolong langit, padahal seingatku mereka hanya terdiri dari delapan belas orang." "Masa kurang cukup? Kalau anak buah mereka atau saudara dan familinya dihitung semua maka jumlahnya akan mencapai berapa ratus orang."

"Maksud Seebun sicu... apakah kau hendak mengalihkan sakit hatimu atas terbunuhnya kedua orang tuamu itu ke pundak semua jago dari kolong langit?"

"Andaikata dalam sekali gebrakan aku bisa membunuh habis semua orang jahat yang berhati kejam, maka dikemudlan hari dunia persilatan akan aman dan tenang selalu, salahkah tindakanku ini?" coat-pin taysu menghela napas panjang.

"Aaaai... bila kita harus menuruti pandangan Seebun suci, antara guru dan murid berkaitan, antara ayah dan anak, antara saudara sekaum, sekelompok berhubungan satu sama lainnya, bukankah berarti semua manusia yang ada di kolong langit pasti dibunuh untuk membalaskan dendam atas kematian orang tuamu?"

"Jadi menurut pendapat taysu? " tanya pemilik bunga bwee setelah termenung berpikir sejenak.

"Kau sudah memendam rasa dendam selama belasan tahun, jadi aku pun tak ingin berbicara soal belas kasihan atau peri kemanusiaan lagi, tapi kalau kita berbincang tentang peraturan dunia persilatan, seharusnya hutang ditagih kepada si penghutang, jangan mereka yang ada sangkut pautnya dengan si penghutang ikut teriibat dalam tanggung jawab, Menurut pendapatku lebih baik seebun sicu membalas dendam langsung kepada mereka yang tersangkut saja, jangan merempet ke orang lain. "

"Oooh, mengerti aku sekarang," tukas Pemilik bunga bwee, "Jadi maksud locian-pwee bila aku tidak bersedia maka kau pun enggan menceritakan kembali peristiwa tragis tersebut?"

"Bila aku punya kesempatan untuk selamatkan jiwa seribu orang, kenapa tidak kumanfaatkan kesempatan ini?" jawab Coat-pin taysu dengan wajah serius.

Pelan-pelan pemilik bunga bwee mengalihkan sorot matanya menyapu sekejap para jago di arena, kemudian dengan suara dalam katanya:

"Baiklah, memandang di atas wajah lo-siansu aku bersedia memberi satu keuntungan buat mereka, selewat peristiwa hari ini secara terpisah aku hendak melakukan pertemuan dengan masing-masing peserta, asal mereka dapat menghindar dari godaan perempuan, pahala dan kedudukan, aku pasti akan memberi satu jalan kehidupan buat mereka," Mendengar janji itu Coat-pin taysu pun berpikir di dalam hati:

"Bila seseorang yang sudah tahu bahwa jiwanya terancam tapi tak berhasil mengendalikan diri terhadap godaan wanita, ia memang pantas untuk menerima kematian." Berpikir begitu dia pun manggut-manggut seraya menjawab: "Aku percaya apa yang telah seebun sicu katakan pasti akan dipegang teguh"

"Lo-siansu tak usah kuatir, apa yang telah kusanggupi tak akan kusesali kem-bali, sampai waktunya lo-siansu bisa membuktikan sendiri"

"Baiklah, kita tetapkan saja dengan ucapan itu.,.,"

Setelah berhenti sejenak. terusnya lagi: "Tentang peristiwa tragis yang menimpa perguruan bunga bwee, seingat diriku. "

"Mengenai latar belakang peristiwa ini aku telah mengerti sebagian besar setelah melakukan pelacakan selama banyak tahun, hanya beberapa bagian yang belum kupahami saja harap lo-siansu memberi penjelasan secukupnya."

"Bagian mana yang tidak kaupahami? Tanyakan saja, aku pasti akan menjawab dengan sejujurnya."

"selain lo-siansu, siapa lagi yang ikut hadir dalam peristiwa berdaran itu?"

"peristiwa ini merupakan suatu kejadian besar yang cukup menggemparkan dunia persilatan pada dua puluh tahun berselang, bukan hanya pemilik bunga bwee saja yang ingin tahu," bahkan para jago yang hadir dalam pertemuan itu pun ikut menaruh perhatian maka perhatian semua orang pun ditujukan ke arah pendeta siau-lim pay itu. sesudah menghembuskan napas panjang Coat-pin taysu berkata:

"selain diriku, yang utama ada tiga orang yaitu ketua generasi kedua dari keluarga persilatan bukit Hong-san, si Hakim sakti Ciu Huang serta Thian hok sangjin dari pondok Lian-im-lu. "

Ketiga tokoh silat ini terhitung pendekar-pendekar sejati yang mewakili kekuatan kaum lurus dalam dunia persilatan, baik golongan putih maupun golongan hitam mereka selalu memuji ketiga orang tersebut sebagai pendekar sejati yang berjiwa luhur. Terdengar pemilik bunga bwee bertanya lagi: " Kecuali mereka bertiga masih ada siapa lagi?"

"Masih ada Bok-tok taysu dari Siau-lim pay, Hian-hok- ceng-cu dari Bu-tong pay, si pedang hijau Pek siang, si pedang sakti dari Lam-Kiang Hongpo Tiang-hong, ketua lembah Hong-yap-kok-Tan Ceng-po, Kim-hud totiang dari Kun-lun-pay, sepasang manusia aneh dari Thian-lam yakni si naga botak siang Co dan nenek naga berambut putih serta si Gadis Naga Berbaju Hitam"

setiap nama yang disebut pendeta ini rata-rata merupakan tokoh persilatan yang bernama besar, kontan saja para jago yang ikut mendengar menjadi gempar, pikir mereka tanpa terasa: "Kesalahan apa yang telah dilakukan seebun Hong suami istri sehingga dikero-yok begitu banyak jago lihay...?"

Tiba-tiba pemilik bunga bwee berteriak keras memotong ucapan coat-pin taysu, serunya:

"sebetulnya apa kesalahan mendiang orang tuaku sehingga begitu banyak jago tangguh datang mengerubutinya?"

sebab musabab terjadinya tragedi yang menimpa perguruan bunga bwee memang tetap menjadi misteri hingga kini, meski peristiwa berdarahnya sendiri banyak diketahui umum, jadi apa yang dipertanyakan Pemilik bunga bwee sekarang justru merupakan tanda tanya dalam hati kecil para jago itu. Pelan-pelan coat-pin taysu berkata:

"sesungguhnya peristiwa berdarah ini terjadi gara-gara berapa jilid kitab pusaka ilmu silat, keserakahan ayah dan ibumu membuat situasi ibarat api bertemu air, kendati pun aku turut menyaksikan sendiri peristiwa itu, namun aku pun dibuat serba salah. "

"Apakah orang-orang itu berniat merampas kitab pusaka yang ditemukan mendiang orang tuaku, karena ditolak maka mereka dianggap telah melanggar peraturan dunia persilatan?" "Ahli waris dari bukit Hong-san serta si hakim sakti Ciu Huang bukan manusia tamak, mustahil mereka bertindak begitu gara-gara kitab pusaka itu."

"Lantas karena apa?"

"salah satu buku yang ditemukan kedua orang tuamu dulu memuat sejenis ilmu sesat yang amat keji dan jahat, konon ilmu sesat itu gampang sekali dipelajari tapi begitu berhasil maka kehebatannya tiada tandingan hanya saja selama latihan dibutuhkan beratus-ratus lembar nyawa manusia sebagai tumbal, sebagai tokoh silat yang menjunjung tinggi keadilan ciu tahiap dan Thian-hok sangjin berusaha membujuk kedua orang tuamu agar membatalkan niatnya mempelajari ilmu sesat itu demi kesejahteraan manusia, tapi bujukan ini ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tuamu, akibatnya suasana menjadi kaku."

Pemilik bunga bwee termenung sesaat, kemudian katanya:

"Bukankah kitab pusaka itu ditemukan oleh mendiang orang tuaku? semestinya menjadi hak mereka untuk menentukan pilihannya, mau dilatih atau tidak merupakan urusan pribadi kedua orang tuaku, kenapa orang lain, harus mencampuri urusannya?"

" Walaupun alasanmu itu benar, tapi gara-gara ingin melatih ilmu sesat itu kedua orang tuamu telah menculik empat puluh orang bocah lelaki dan perempuan, penculikan tersebut berhasil dilacak oleh ahli waris dari bukit Hong-san, sebagai pendekar sejati yang menjunjung tinggi kebenaran, sudah barang tentu keluarga persilatan bukit Hong-san tak bisa berpangku tangan saja "

"Jadi Ciu Huang dan Thian-hok sangjin juga datang mencari kedua orang tuaku gara-gara usaha penculikan keempat puluh orang bocah lelaki dan perempuan itu terbongkar?"

"ciu Huang serta gedang sakti dari Lam-kiang datang gara-gara kitab asli Delapan jurus pedang naga sakti, sipedang beracun Pek siang serta Gadis Naga Berbaju Hitam juga datang untuk meminta berapa macam kitab pusaka dari mendiang orang tuamu. "

"Bukankah kitab pusaka itu ditemukan oleh mendiang orang tuaku? Atas dasar apa si pedang beracun Pek siang dan Gadis Naga Berbaju Hitam meminta kitab tersebut?" seru Pemilik bunga bwee gusar.

"Panjang untuk menceritakan kisah ini, dulu ayahmu adalah sahabat karib dari pedang racun Pek siang, tempat penyimpanan kitab pusaka itu pun ditemukan bersama oleh mereka berdua, gara-gara ingin mengangkangi sendiri kitab pusaka itu, ayahmu telah mendorong Pek siang masuk kejurang, siapa tahu Pek siang tidak tewas, ia bertemu dengan Gadis Naga Berbaju Hitam yang membantunya mengobati luka yang diderita, setelah sembuh dia pun melacak jejak orang tuamu, bayangkan sendiri masa ia tidak berhak untuk berbuat begitu?"

"Aaaai... seandainya memang begitu kejadiannya, berarti ayahku yang salah" ucap Pemilik bunga bwee sambil menghela napas.

"setelah mendapat kitab pusaka tersebut di samping merasa pamornya semakin menanjak, kedua orang tuamu juga tahu bahwa mereka telah menjadi musuh umum seluruh umat persilatan, maka mereka berusaha keras untuk merahasiakan jejaknya, dunia begitu luas, sesungguhnya amat sulit untuk melacak jejak mereda berdua, sayang mereka tak bisa menahan diri untuk tidak melatih ilmu yang diperolehnya, gara-gara menculik empat puluhan orang bocah lelaki dan perempuan inilah jejak mereka baru ketahuan, tapi saat itu ilmu silat yang dimiliki kedua orang tuamu sudah mengalami kemajuan pesat, bahkan di sekitar tempat persembunyiannya telah dipersiapkan juga aneka alat jebakan yang mematikan."

Mencorong sinar tajam dari balik mata Pemilik bunga bwee, ditatapnya wajah Coat-pin taysu lekat-lekat, kemudian tegurnya dingin:

"Apakah kehadiran taysu serta Bok-tok taysu juga dikarenakan kitab pusaka itu?" "Aku bersama Bok-tok suheng menghadiri kejadian itu lantaran hendak minta kembali kitab pusaka Ta-mo-ie- cin-keng kami yang hilang."

"Taysu ikut dalam pengeroyokan mendiang orang tuaku hingga mengakibatkan terjadinya peristiwa berdarah itu?"

"Tatkala melewati pos-pos penjagaan yang ada di situ aku telah melukai dua orang, tapi belum pernah ikut serta dalam pengeroyokan terhadap ayah ibumu."

"Lalu siapa yang turun tangan paling dulu?" tanya Pemilik bunga bwee sambil menghela napas panjang.

"Kim-hud totiang dari Kun-lun-pay melancarkan serangan lebih dulu, ia bertarung hampir tiga puluh gebrakan melawan ayahmu tapi sebuah pukulan keras membuatnya kalah dan mundur, kemudian Hakim sakti Ciu Huang tampil kembali dengan mengajak ayahmu berunding, ia tetap berharap ayahmu melepaskan niatnya dengan membakar kitab pusaka berisi ilmu sesat itu di depan umum, selain itu juga berjanji tak akan melatih ilmu sesat itu lagi di samping membebaskan para bocah lelaki dan perempuan menyerahkan kitab Tat-mo- ie-cin-keng kepada siau-lim-pay serta tidak melakukan kejahatan lagi. Ciu Huang dan ahli waris dan bukit Hong-san menjamin untuk seterusnya tak akan ada orang yang mencari gara-gara dengan mereka lagi,"

"Apakah mendiang ayahku bersedia?"

"Walaupun ayahmu tidak langsung menyanggupi tapi nampaknya sangat setuju dengan usul tersebut, sebab dalam kitab pusaka yang ditemukan ayahmu termuat tujuh jenis silat yang tangguh, selain ilmu pertabiban, ilmu racun serta ilmu barisan, kitab yang khusus memuat ilmu silat ada empat macam, yaitu sim hoat dari ilmu Mo- kang, Tat-mo-ie-cin-keng dan dua macam ilmu sakti lainnya yang telah lama punah, asal berhasil mempelajari setengah saja dari kepandaian itu, sudah cukup bagi ayah ibumu untuk menjagoi dunia persilatan " Pemilik

bunga bwee segera tertawa dingin.

" Kalau toh mendiang ayahku sudah setuju, kenapa kalian masih mengeroyok mereka hingga terjadi peristiwa tragis itu?"

"Aaai. nasib manusia memang di tangan takdir, di

saat ayahmu masih termenung itulah si pedang racun Pek siang serta Gadis Naga Berbaju Hitam muncul di tempat tersebut dengan membeberkan dosa ayahmu, kejadian tersebut dengan cepat mengobarkan kembali amarah para jago yang sebetulnya sudah mulai mereda, ayahmu juga dibuat gusar oleh peristiwa ini, dia tolak mentah-mentah syarat yang diajukan ciu tayhiap yang berakibat suasana pun kembali jadi kaku dan tegang,"

Jadi kalian semua yang hadir waktu itu percaya penuh dengan apa yang dikatakan si pedang racun Pek siang?"

"semua yang dikatakan disertai dengan bukti membuat orang lain susah untuk membantah, apalagi ayahmu telah mengakui semua perbuatannya."

"Waaah, kalau begitu mendiang ayahku gagah sekali..."

Coat-pin taysu menghembuskan napas panjang, setelah termenung sejenak terusnya:

"Ayahmu segera bertarung melawan si pedang racun Pek siang, pertarungan berjalan amat seru tapi tiga puluhan gebrakan kemudian Pek siang sudah menunjukkan gejala akan kalah, demi menyelamatkan jiwa pek siang, si gadis naga berbaju hitam pun terjun ke arena melibatkan diri dalam pertempuran, tentu saja ibumu tak ingin menyaksikan ayahmu dikerubuti maka ia pun turut terjun ke dalam arena bertempur melawan Gadis Naga Berbaju Hitam. Kendatipun ilmu pedang yang dimiliki ibumu jauh lebih hebat ketimbang kepandaian silat Gadis Naga Berbaju Hitam, tapi berhubung senjata yang dipakai lawan adalah pedang usus ikan yang amat tajam, akibatnya betapa pun hebatnya ilmu silat ibumu, susah juga untuk meraih kemenangan dalam waktu singkat."

"Aku yakin si pedang racun Pek siang serta Gadis Naga Berbaju Hitam bukan tandingan ayah ibuku."

"Dugaan seebun sicu memang tepat, ketika Pek siang melihat Gadis Naga Berbaju Hitam melibatkan diri dalam pertempuran, semangatnya langsung bangkit kembali, pertarungan lagi-lagi berlangsung hampir dua gebrakan lebih, tapi akhirnya ia toh terluka juga oleh sabetan pedang ayahmu yang membuat darah membasahi seluruh tubuhnya, jelas luka yang dideritanya cukup parah.

"Melihat Pek Siang teriuka, Gadis Naga Berbaju Hitam merasa hatinya bergetar keras, ibumu segera melihat adanya kesempatan baik, peluang itu digunakan sebaik- baiknya dengan melukai lengan kiri Gadis Naga Berbaju Hitam"

"Andaikata setelah berhasil melukai lawannya kedua orang tuamu segera menghentikan pertarungan, mungkin hal mana tak sampai menimbulkan kemarahan orang banyak, sayang sekali setelah berhasil melukai kedua orang musuhnya kedua orang tuamu tak mau menghentikan serangan, bahkan berniat membunuh Pek Siang serta Gadis Naga Berbaju Hitam, tusukan pedang mereka langsung ditujukan ke arah jalan darah penting di tubuh Pek Siang berdua " Setelah menghela napas panjang, terusnya:

"Tindakan semacam ini seketika mengobarkan hawa amarah para jago, Li Tong- yang ahli waris kedua dari bukit Hong-san serta si Hakim sakti ciu Huang segera turun tangan bersama memukul pental pedang yang ada di tangan ayah ibumu.,.,"

"Selanjutnya para jago pun turun tangan bersama mengerubuti kedua orang tuaku?" sela pemilik bunga bwee.

"Tidak, ketika kedua orang tuamu melihat Li Tong- yang serta ciu Huang turun tangan bersama, segera mereka merogoh keluar dua genggam pasir beracun dan segera disambit ke depan. "

"Berhasil melukai orang?"

"Tatkala pasir beracun beterbangan di udara, jeritan ngeri dan teriakan gusar segera bergema silih berganti, banyak di antara para jago yang menonton di tepi arena terluka oleh pasir beracun itu Li Tong-yang ahli waris kedua bukit Hong-san turut terluka juga oleh sambaran pasir beracun itu. Kejadian inilah yang sesungguhnya merupakan sumbu yang menyulut terjadinya pe- ngeroyokan atas diri ayah ibumu berdua."

"Apakah luka yang diderita Li Tong-yang dari bukit Hong-san teramat parah?" Tampak seluruh tubuh ketua Hiang hong kau yang berkerudung hitam itu bergetar keras, agaknya ia baru saja mendengar suatu kejadian yang mengagetkan, tapi berhubung perhatian semua orang sedang tertuju ke arah Pemilik bunga bwee serta Coat-pin taysu, maka perubahan tersebut tidak diketahui siapa pun. Terdengar Coat-pin taysu menyahut:

"seingatku, meski luka yang diderita Li Tong-yang, Litayhiap cukup parah, tapi oleh karena tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna maka luka tersebut tidak sampai mempengaruhi jiwanya, ia segera terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru melawan ayahmu. "

"Kalau begitu, pembunuh utama dari kematian ayah ibuku adalah Li Tong-yang dari bukit Hong-san?"

" itu pun tidak. waktu itu ayah ibumu dikeroyok empat belasan orang jago tangguh, jadi siapa yang berhasil melukai kedua orang tuamu aku sendiri juga kurang jelas. Pokoknya kedua orang tuamu tewas dalam pertarungan sengit itu"

"Dari delapan belas orang jago tangguh yang hadir waktu itu, selain lo-siancu apakah masih ada orang lain yang tidak turun tangan?"

"Ada, sipedang racun Pek siang serta Gadis Naga Berbaju Hitam." "Tentu saja mereka tidak ikut mengerubut sebab sudah terluka parah, coba kalau tetap sehat, masa mereka akan berpeluk tangan belaka?jadi dari delapan belas orang yang hadir, kecuali taysu berdua masih ada satu orang lagi yang tidak ikut menyerang, siapakah orang itu?"

"Tan Ceng-poo, ketua lembah Hong- yap- kok" " Kenapa ia tidak ikut turun tangan?"

"Apa sebab yang sebenarnya aku sendiri pun tidak tahu, tapi bisa jadi dikarenakan ia kenal baik dengan kedua orang tuamu, jadi hubungan persahabatan masih dipertahankan."

Pemilik bunga bwee kembali berpikir sejenak^ kemudian serunya: "sudahlah, kita tak usah mempersoalkan hal tersebut " setelah menghela napas

panjang, tambahnya:

" Kalau mengikuti kisah dari taysu tadi, berarti kedua orang tuaku memang tak punya jalan lain lagi? Tapi kemudian taysu pernah berkata bahwa setelah kejadian, mereka yang ikut mengeroyok kedua orang tuaku mulai menyesal dengan perbuatannya, apa yang taysu maksudkan?"

"Penyakitnya justru muncul pada si pedang racun Pek siang serta Gadis Naga Berbaju Hitam, setelah kematian kedua orang tuamu, Pek siang dan Gadis Naga Berbaju Hitam berhasil tertolong jiwanya oleh obat mestika yang dibawa Li Tong- yang, kemudian para jagopun menggunakan waktu selama sehari semalam menggeledah seluruh tempat tinggal kedua orang tuamu, meski tidak sampai menggali semua tanah, tapi hampir setiap sudut tempat telah diperiksa dengan seksama, alhasil kibat pusaka itu tidak ditemukan juga, maka para jago pun bersepakat untuk membakar ludas tempat tinggal orang tuamu, kendatipun kitab pusaka tak berhasil ditemukan, mereka berharap kitab itu ikut terbakar habis."

"setelah membunuh lalu membakar, apa bedanya perbuatan semacam ini dengan perbuatan perampok? Hmmm, apakah kawanan jago yang menganggap diri sebagai pendekar sejati itu tidak merasa bahwa tindakan mereka ini kelewat keji?"

"sampai seluruh bangunan sudah hancur menjadi abu, dan para jago melakukan pemeriksaan sekali lagi, mereka baru membubarkan diri turun gunung" sambung coat-pin taysu.

"Dari mereka yang terkena pasir beracun, apakah tak seorang pun yang tewas?"

" Racun dari pasir besi yang dilancarkan orang tuamu memang amat jahat, tapi ber hubung Li Tong-yang membekali diri dengan banyak obat mestika, ditambah lagi dia pun pandai ilmu pertabiban, atas pertolongan serta usahanya, beberapa orang yang terkena pasir beracun itu berhasil diselamatkan jiwanya."

"Penyakit apa pula yang ditimbulkan pedang racun Pek siang serta Gadis Naga Berbaju Hitam?"

"Dua tahun berselang, tanpa disengaja si Hakim sakti Ciu Huang berhasil mendapat kabar yang mengatakan bahwa Pek siang memiliki banyak sekali kitab pusaka ilmu silat"

"Aaaah, masa ada kejadian itu?" seru Pemilik bunga bwee tercengang.