-->

Pedang Keadilan I Bab 48 : Murid Yang Durhaka

 
Bab 48. Murid Yang Durhaka

Pada saat ini phang Thian-hua sudah menaruh kepercayaan penuh atas perkataan dari ketua Hian-hong- kau, mendengar teguran tersebut segera sahutnya:

"Ucapan kaucu amat tepat, sisa satu jurus ini tak boleh. kulepaskan secara sembarangan."

sementara itu sukma murung berbaju putih telah menghampiri iblis jahat berbaju hijau begitu berhasil lolos dari serangan Phang Tnian-hua, cepat-cepat dia periksa denyut nadi saudaranya itu, ia baru lega setelah merasakan denyut nadinya masih berdetak, hanya saja luka yang dideritanya cukup parah. Terdengar ketua Hian-hong-kau berkata lagi:

"Jangan kuatir, ketiga orang itu tak bakalan mampus, mereka hanya pingsan karena getaran pukulan penghancur hati milik Phang Thian-hua." semua sifat buas dan liar pada diri sukma murung berbaju putih telan lenyap sudah saat itu, buru-buru dia memberi hormat sambil bertanya: "Tolong tanya kaucu, bagaimana caranya menyadarkan mereka?"

"Luka yang mereka derita hanya bisa diobati oleh dua orang saja di dunia saat ini, yang satu adalah si Dewa cebol Cu Gi sedang yang lain adalah aku sendiri" sambil mendehem pelan Phang Thian-hua menimbrung:

"Kalau soal obat-obatan dan pertabiban, aku yakin kemampuanku tidak kalah dibandingkan orang lain,"

Ketua Hian-hong-kau segera tertawa.

"Paling baik jika Phang cengcu pun sanggup menolong mereka, sayang sekali untuk menolong mereka dibutuhkan obat-obatan yang amat langka ditambah dengan suatu sistem pengobatan yang unik,..."

sekali lagi Phang Thian-hua mendehem, kali ini dia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, serunya kepada sukma murung berbaju putih: "Kalau memang kau tak berani menerima pukulanku, berarti dalam taruhan ini akulah dipihak pemenang bukan?"

Melihat sampai di sini kembali Hongpo Lan berbisik kepada Li Bun-yang dengan suara lirih:

"saudara Li, sebenarnya apa yang telah terjadi?" "Tampaknya ketua Hian-hong-kau memang pantas

menjadi pimpinan para jago" kata Li Bun- yang sambil

tertawa, "Kalau dugaanku tidak keliru, penyakitnya tentu terletak pada saat bertepuk tangan sebagai tanda setuju dengan taruhan tadi." Bagaikan baru sadar dari impian Hongpo Lan berseru keras:

"Betul-betul hebat, betul-betul hebat, kecuali itu memang tiada yang patut dicurigai."

Teriakan yang sangat keras ini segera memancing perhatian para jago untuk berpaling ke arahnya.

satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Li Bun-yang, ia ikut berseru lantang:

" Kalau memang sukma murung berbaju putih tak berani menyambut pukulan dari Phang Thian-hua, maka taruhan ini tentu saja dimenangkan oleh Phang Thian- hua."

sebenarnya para jagopun mempunyai pendapat yang sama hanya tak ada yang berani bicara, maka setelah mendengar seruan dari Li Bun-yang ini, serentak mereka pun ikut berseru:

"Betul, Dewa buas berbaju merah, iblis jahat berbaju hijau, serta setan gusar berbaju kuning tak sanggup menerima satu pukulan dari Phang Thian-hua, jelas sukma murung berbaju putih pun tak nanti bisa menerima serangan ini, tentu saja taruhan kali ini dimenangkan oleh Phang Thian-hua."

Waktu itu, sukma murung berbaju putih sudah tidak memikirkan tentang menang kalahnya lagi dalam taruhan, ia cuma menguatirkan keselamatan jiwa ketiga orang rekannya itu, maka kendatipun mendengar sorak sorai dari kawanan jago, namun ia tidak memikirkannya di dalam hati.

Pelan-pelan ketua Hian-hong-kau berjalan mendekati sukma murung berbaju putih, kemudian dengan suara dingin tegurnya: "Kau ingin menyelamatkan ketiga orang saudaramu?"

"Dari empat manusia buas kini sudah terluka tiga orang, tinggal aku si sukma Murung seorang diri, apa senangnya hidup sendirian. "

"Tidak nyana kalian empat manusia buas mempunyai hubungan persaudaraan yang begitu erat dan akrab" sela ketua Hian-hong-kau, "Kini nama besar kamu berempat sudah rontok, jadi tak perlu dibicarakan soal kedudukan serta martabat lagi, lebih baik bergabunglah dengan perkumpulan Hiang hong- kau kami, paling tidak kalian akan mendapat tempat penampungan yang aman dan tenteram "

"Apa?" teriak Sukma murung berbaju putih gusar, "Sebuah perkumpulan kecil macam Hian-hong-kau pun berani menjaring kami empat bersaudara? Kaucu, apakah kau tidak merasa bahwa pikiranmu itu kelewat batas?"

"Bila kau ingin menyelamatkan jiwa ketiga orang saudaramu maka inilah salah satu jalan yang dapat kalian tempuh, tentu saja aku tak akan memaksa kalian dengan kekerasan."

Dengan sorot mata yang berapi-api karena amarah yang meluap sukma murung berbaju putih berseru lagi:

"selama ini kami empat manusia buas dari sin-ciu hanya tahu malang melintang dalam dunia persilatan menuruti suara hati sendiri, segala peraturan yang berlaku dalam dunia persilatan tidak berlaku untuk kami, kalau sekarang kami harus bergabung dengan perkumpulan Hian-hong-kau serta terbelenggu oleh pelbagai peraturan, HHmmm Lebih baik kami mampus saja daripada hidup tersiksa "

"Bersedia atau tidak menggabungkan diri dengan Hian-hong-kau, lebih baik kalian empat manusia buas mengambil keputusan sendiri, aku hanya bermaksud mengingatkan kalian saja."

"selama kami bertindak dan berbuat, kami empat manusia buas tak pernah takut pada siapa pun, sekalipun akhirnya kami setuju untuk bergabung dengan perkumpulan Hian-hong-kau, kami pun tak akan tunduk untuk selamanya."

"Anak buah perkumpulan kami berpuluh ribu orang jumlahnya, di antara mereka tak sedikit yang memiliki kemampuan jauh lebih hebat dari pada kalian berempat, asal kalian berempat sudah setuju untuk bergabung dengan kami, pihak perkumpulan pasti ada cara untuk mengendalikan sifat liar kalian semua."

sukma murung berbaju putih berpaling dan memandang Dewa buas berbaju merah, iblis jahat berbaju hijau serta setan gusar berbaju kuning sekejap. tiba-tiba semua semangatnya runtuh, setelah menghela napas panjang katanya:

"Baiklah, asal kau bersedia menyembuhkan luka yang diderita ketiga orang saudaraku itu, kami bersedia untuk bergabung dengan perkumpulan kalian. " Dalam pada

itu setelah melalui suatu pemikiran yang cukup lama, akhirnya Phang Thian-hua menyadari juga apa yang sesungguhnya telah terjadi Meskipun tenaga dalam yang dimiliki empat manusia buas dari sin-ciu masih kalah satu tingkat dibandingkan dengan kemampuannya, namun mustahil baginya untuk bisa merobohkan mereka dalam sekali pukulan saja. ini berarti secara diam-diam ketua Hian-hong-kau telah bertindak untuk membantunya.

Kini kemenangan telah berhasil diraih dengan mengandalkan kekuatannya seorang, padahal di antara para jago yang hadir saat ini tak sedikit yang berotak pintar, bila ia harus berlarut-larut dalam keadaan demikian niscaya rahasia "macan kertas" nya bakal terbongkar.

Berpikir begitu, buru-buru dia memberi hormat kepada ketua Hian-hong-kau sambil katanya:

"Terima kasih banyak atas kesediaan kaucu menjadi juri, aku Phang Thian-hua mengucapkan banyak terima kasih, bila di- kemudian hari kaucu berkesempatan lewat di perkampungan pit-tim-san-ceng, mampirlah dan aku pasti akan menyambut kedatanganmu dengan segala hormat sifatku paling tak suka segala keramaian, aku rasa berdiam lebih lama disinipun tak ada gunanya maka aku hendak mohon diri lebih dulu."

Tanpa menunggu jawaban dari ketua Hian-hong-kau lagi, ia membalikkan badandan berlalu dari situ.

"omintohud " Tiba-tiba Coat-pin taysu berseru, "

Harap Phang cengcu tunggU sebentar " "Ada Urusan apa taysu?" Pelan-pelan Phang Thian-hua membalikkan tubuhnya.

"Bagaimana kalau kotak kemala itu ditinggalkan sebelum Phang cengcu pergi dari sini?"

"Hmmm" Phang Thian-hua mendengus dingin, "Gara- gara kotak ini aku harus melangsungkan serangkaian pertempuran, tujuanku tak lain adalah agar kabut beracun bunga tho tak sampai mencelakai orang banyak. taysu toh tidak mengerti ilmu pengobatan apa gunanya benda semacam ini bagimu?"

"Bukannya aku tidak percaya kepada Phang cengcu, tapi berhubung Pemilik bunga bwee telah menghadiahkan kotak kemala itu kepadaku, maka sebagai pemilik barang itu sudah sepantasnya bila aku pun ikut melihat sekejap. kalau tidak semua rekan persilatan tentu akan mentertawakan diriku."

"Jadi taysu bersikeras untuk melihatnya?" "Benar, apa pun yang terjadi"

"Baiklah," kata Phang Thian-hua kemudian sambil merogoh sakunya, tapi air mukanya segera berubah hebat, untuk berapa saat lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

"Phang cengcu, apa yang terjadi?" tanya coat-pin taysu keheranan. "Kotak itu sudah lenyap "

"Hebat benar sandiwaramu... hebat betul lakonmu. "

jengek Pemilik bunga bwee sambil tertawa dingin.

Dengan penuh amarah Phang Thian-hua menghentakkan tongkatnya ke atas tanah, teriaknya:

"Aku berani menyimpan kotak itu, kenapa tidak berani untuk mengakuinya " Pemilik bunga bwee tertawa

terbahak-bahak.

"Hahahaha apabila kotak kemala itu tidak berada di

tangan phang cengcu, berarti pasti ada di tangan empat manusia buas dari sin-ciu atau ketua Hian-hong-kau, sebab di arena hanya ada kalian beberapa orang, tak mungkin kotak itu bersayap dan bisa terbang sendiri ke angkasa."

Bagaimanapun juga Phang Thian-hua adalah seorang tokoh kawakan yang banyak pengalaman, setelah termenung sebentar, dia berusaha mengendalikan kobaran hawa amarahnya kemudian berkata:

"Padahal kau hendak menggunakan benda itu sebagai pancingan untuk mengadu domba kami semua, agar para jago saling gontok-gontokan sendiri, aku yakin kotak kemala itu pasti sudah kau simpan kembali. "

Ia memandang sekejap seluruh arena, kemudian melanjutkan: "Mungkin apa yang kuucapkan tak akan dipercaya para jago, tapi aku pun bersedia bersama-sama pemilik bunga Bwee digeledah seluruh badannya, asal pemilik bunga bwee setuju untuk digeledah sakunya, aku pun bersedia digeledan pertama-tama" Ucapan ini sangat berterus terang, mau tak mau para jago harus mempercayainya. Tiba-tiba Li Bun-yang berbisik:

"saudara Hongpo, kau sudah menemukan titik terangnya?"

"Belum, apa kau sudah tahu?" Lin Bun- yang tertawa, katanya:

"Phang Thian-hua memang tak malu disebut seorang tokoh sejati, tampaknya ia sudah mengetahui tujuan pemilik bunga bwee dengan siasat liciknya itu hendak mengadu domba para jago, agaknya dia berniat mengandalkan beberapa macam benda mestika untuk memancing pertikaian antara pihak siau-lim-pay dengan phang Thian-hua, tapi tampaknya usaha itu telah gagal total, Phang Thian-hua sudah menyadari apa yang terjadi, kini dia malah berbalik menghadapi Pemilik bunga bwee."

"Aku masih ada satu persoalan yang kurang jelas, dapatkah saudara Li memberi penjelasan?"

"soal apa?" "Aku tak habis mengerti apa sebenarnya isi kotak kemala itu sehingga Phang Thian-hua rela bentrok dengan Siau-lim-pay bahkan tak segan-segan bertikai dengan empat manusia buas dari Sin-ciu?"

Lin Bun yang termenung sambil berpikir sesaat, ujarnya kemudian:

"Aku rasa kecuali pemilik bunga bwee serta Phang Thian-hua, orang lain tak akan tahu benda apa yang tersimpan dalam kotak kemala itu, tapi aku yakin benda tersebut pasti tak ternilai harganya " Mendadak

terdengar pemilik bunga bwee berseru sambil tertawa dingin:

"Semua orang menyaksikan bahwa aku tak pernah bergeser dari posisiku barang selangkah pun, mana mungkin aku bisa menarik balik kotak kemala itu?"

Ketua Hian-heng-kau yang selama ini membungkam, tiba-tiba menyela pula dengan suara yang merdu:

"Saat ini, kotak kemala tersebut tidak berada di saku Phang Thian-hua atau empat orang manusia buas dari sin-ciu. "

Beratus-ratus pasang mata para jago serentak dialihkan ke wajah ketua Hian-hong-kau, sejak itu bersama Phang Thian-hua berhasil menangkan pertaruhannya dengan ke-empat manusia buas dari Sin- ciu, ketua Hian-hong-kau yang serba misterius ini kembali menambah bobot kedudukannya dalam pandangan kawanan jago tersebut.

oleh karena itulah begitu ia berbicara, suasana menjadi hening seketika, semua perhatian para jago dialihkan ke arahnya.

Terdengar ketua Hian-hong-kau melanjutkan kembali perkataannya:

" Kotak kemala itu memang betul-betul sudah ditarik kembali pemilik bunga bwee "

"Kaucu dapat membuktikan kalau kotak itu sudah kutarik kembali?" tugas Pemilik bunga bwee cepat.

Inilah masalah yang paling diperhatikan para jago, juga merupakan suatu masa percobaan yang paling serius bagi ketua Hian-hong-kau. Apabila ketua Hian- hong-kau benar-benar dapat membuktikan bahwa kotak kemala tersebut telah ditarik kembali pemilik bunga bwee, maka para jago yang hadir di seputar arena sekarang tentu akan semakin takluk atas kepintarannya. Tiba-tiba Hongpo Lan menghela napas, katanya:

"Selama ini aku hanya tahu perkumpulan Hian-hong- kau sebagai suatu organisasi kaum sesat yang jahat, licik dan bejad moralnya, suatu perkumpulan sampah masyarakat yang dicemooh orang banyak. tapi setelah menyaksikan tingkah laku serta perbuatan ketuanya hari ini, aku dapat merasakan bahwa dia sesungguhnya adalah seorang tokoh persilatan yang pintar dan luar biasa "

"Pandangan saudara Hongpo sangat tepat, ketua Hian-hong-kau memang benar-benar seorang tokoh silat yang mengandalkan kecerdasan otaknya untuk mengatasi setiap masalah, bila para jago bersedia mendengarkan rencana serta pengaturannya, aku yakin kita semua dapat lolos dari siasat busuk pemilik bunga bwee kali ini."

Mendengar perkataan itu, Hongpo Lan segera berpikir: "Pamor serta kedudukan keluarga persilatan bukit

Hong-san dalam dunia persilatan amat terhormat jauh melebihi partai-partai besar, heran, kenapa generasi penerus dari keluarga persilatan bukit Hong-san ini bisa menaruh kesan yang luar biasa baiknya terhadap ketua Hian-hong-kau?

Bila dibahas dari keadaan umum, sekalipun pihak keluarga persilatan bukit Hong-san tidak bermusuhan dengan ketua Hian-hong-kau, sepantasnya posisi mereka ibarat api dan es yang tak mungkin duduk berdampingan, tapi kenyataannya sekarang Li Bun-yang selalu menyanjung kehebatan ketua Hian-hong-kau itu, sungguh aneh. " Dalam pada itu ketua Hian-hong-kau

telah berkata lagi dengan suara lantang: "Bila aku dapat membuktikan bagaimana kau menarik kembali kotak kemala tersebut lantas bagaimana?" Pemilik bunga bwee tertawa tergelak.

"Hahahaha... tampaknya kaucu memang seorang yang gila bertaruh, jadi kau ingin bertaruh juga denganku?"

"Dalam suatu pertaruhan meski ada menang juga ada yang kalah, aku rasa jauh lebih baik daripada harus melakukan suatu pertarungan dengan kekerasan, bila kau berniat tentu saja aku pun bersedia untuk mengimbangi."

"Lalu apa yang menjadi bahan taruhan?"

"Tentu saja tak dapat terlalu merugikan dirimu. "

"Kaucu tak usah kelewat percaya diri" tukas Pemilik bunga bwee dingin, "Kau anggap siapa diriku ini sehingga mau mencari keuntungan darimu dengan cara begini? sekarang kau boleh sebut dulu apa taruhan-nya, percayalah barang taruhanku tak bakal di bawah dirimu."

"Bila aku kalah bertaruh, segera kububarkan perkumpulan Hian-hong-kau, kemudian aku akan mencukur rambut jadi nikou dan selama hidup tak akan muncul lagi di dalam dunia persilatan-"

sambil mengelus jenggotnya pemilik bunga bwee termenung sampai lama sekali, kemudian ia baru berkata: "Baik, jika aku yang kalah di tanganmu, aku bersedia menjadi anak buah perkumpulanmu dan selama hidup mentaati perintahmu."

Begitu dua orang tokoh persilatan yang penuh misteri ini mengutarakan bahan taruhannya, suasana di seputar arena segera berubah jadi amat gaduh, masing-masing jago pada membicarakan masalah ini.

Tak ada yang bisa menduga siapa pemenang pertaruhan ini, juga tak ada yang berani percaya akankah mereka mentaati janjinya, tapi kalau dilihat kedudukan mereka berdua dalam dunia persilatan, tak mungkin taruhan tersebut akan dihapus begitu saja.

Tiba-tiba saja Hongpo Lan merasakan Li Bun-yang yang berada di sampingnya sedang berdiri dengan tubuh gemetar, ia jadi sangat keheranan, ketika berpaling tampak pemuda itu berdiri dengan peluh sebesar kacang kedele bercucuran membasahi jidatnya. Dengan perasaan terkejut ia segera menegur: "saudara Li, apa kau sakit?"

"oooh, aku tidak apa-apa hanya sedikit masuk angin" sahut Li Bun-yang sambil menyeka keringatnya, "Mari kita menonton dari depan sana" Hongpo Lan berkerut kening, diam-diam pikirnya:

"Pikirannya tidak tenang mendekati panik, mungkinkah ia sedang menguatirkan keselamatan ketua Hian hong kau? Waah... jangan-jangan hubungan di antara mereka berdua sangat akrab....

sementara dia masih termenung, Li Bun-yang sudah menerobos maju ke depan, Dengan perasaanpenuh tanda tanya, Hongpo Lan segera menyusul di belakang Li Bun-yang.

Dalam pada itu ketua Hian- hong kau sudah menuding ke arah bangku yang diduduki Pemilik bunga bwee sambil berseru:

" Kotak kemala itu sudah kau sembunyikan di bawah bangkumu?" Begitu perkataan tersebut diucapkan, suasana dalam arena kembali menjadi gempar, sebagian besar jago menunjukkan sikap setengah percaya setengah tidak.

Rupanya selama ini pemilik bunga bwee belum pernah bergeser dari tempat duduk-nya, di bawah pengawasan para jago, dia pun belum pernah mendekati Phang

Thian-nua,jadi kalau dibilang kotak kemala tersebut telah disembunyikan di bawah bangku- nya, hal ini betul-betul sukar dipercayai oleh siapa pun. sambil tertawa pemilik bunga bwee berkata:

"Bila di bawah bangkuku ini tak ada kotak kemala, aku segera akan membuka kain kerudung mukamu serta menggunduli rambutmu" Tanpa menunggu jawaban dari ketua Hian- hong kau lagi ia segera melompat bangun sambil mengangkat bangkunya.

Perhatian beratus-ratus pasang mata para jago pun serentak dialihkan ke bawah bangku.

Tapi begitu dipandang semua jago sama-sama tertegun, apalagi pemilik bunga bwee, dengan sikap yang berubah hebat ia berdiri tertegun dan tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Ternyata di bawah bangkunya betul-betul terdapat sebuah kotak kemala. seruan kaget dan helaan napas bergema memecahkan keheningan, sekali lagi perhatian semua jago dialihkan ke arah ketua Hian hong kau.

Wajah Li Bun-yang yang semula tegang pun seketika berubah jadi lega, bahkan sekulum senyuman segera tersungging di ujung bibirnya.

Hongpo Lan sendiri pun sangat terkejut, dia tidak mengira ketua Hian hong kau mampu menunjukkan tempat persembunyian kotak kemala tersebut dalam sekali tudingan saja.

sementara itu Pemilik bunga bwee telah berseru sambil tertawa dingini "siapa yang berani mempermainkan aku?" Dengan sorot matanya yang tajam dia sapu sekejap sekeliling arena, Dari sekian ratus jago yang hadir dalam pertemuan hari ini, sebagian besar di antara mereka adalah tokoh-tokoh termashur dalam dunia persilatan, sebelum memperoleh bukti, sudah barang tentu Pemilik Bunga bwee tak berani sembarangan menuduh.

setelah memandang sekejap kawanan jago di seputar arena, ketua Hian hong kau menegur:

"sekarang terbukti kotak kemala itu berada di bawah bangkumu, apakah kau bersedia mengaku kalah?"

"Hmmn, aku bukan manusia yang mau dipermainkan orang seenaknya," kata pemilik bunga bwee dingin, "sudah jelas kaucu telah mengutus orang untuk secara diam-diam sembunyikan kotak kemala itu di bawah bangkuku." sambil bicara dia ayunkan tangannya menghajar kotak kemala itu hingga hancur, betul juga, ternyata kotak itu kosong.

"Hmmm" Ketua Hian hong kau mendengus, "Kau dapat menarik kembali kotak itu, kenapa tak bisa menyembunyikan isi kotak itu ke tempat lain?"

"Dapatkah kau terangkan dengan cara apa kuambil kembali kotak kemala itu? Lagipula seandainya aku benar-benar mengambilnya kembali, tak nanti akan kusembunyikan di bawah bangku ku, hmmm Tak heran kaucu berani bertaruh dengan aku, rupanya kau sudah punya niat jahat terhadapku?"

Ketua Hian hong kau termenung sebentar, kemudian katanya:

"Tadi, Phang Thian-hua mengira kotak kemala itu sudah diambil olehnya, padahal di saat ia hendak menyimpan kotak tersebut, kau telah mengambilnya kembali."

"Benar-benar suatu alasan yang menarik" Tiba-tiba sekulum senyuman tersungging di wajah Pemilik bunga bwee yang dingin, "Jika aku dapat menunjukkan di mana kotak kemala yang asli disembunyikan bersediakah kaucu untuk mengaku kalah?" Tantangan balik yang diucapkan olehnya ini kembali membuat para jago jadi gempar.

Kawanan jago yang sudah banyak tahun berkelana di dalam dunia persilatan ini, sepanjang sejarah mereka sudah banyak menyaksikan peristiwa aneh dan menegangkan tapi belum pernah menjumpai situasi serumit dan sekacau hari ini, mereka rasakan banyak kejadian aneh yang bermunculan secara tiba-tiba dengan perubahan yang tak terhingga banyaknya, membuat pandangan mata jadi silau dan tak mampu untuk mengikuti secara jelas.

Tak seorang pun dapat menyaksikan perubahan mimik wajah ketua Hian hong kau di balik kain kerudungnya, tapi kalau ditinjau dari sikapnya yang termenung sambil membungkam lama sekali, dapat diduga bahwa dalam benaknya saat ini sedang memikirkan suatu persoalan yang sangat menyulitkan jelas tantangan balik dari Pemilik bunga bwee membuat ia sangsi dan tak berani mengambil keputusan.

sikap Li Bun-yang kembali dicekam rasa tegang, mukanya jadi murung dan amat gelap.

Tiba-tiba Hongpo Lan menemukan pancaran sinar mata yang amat tajam dari balik kain kerudung muka ketua Hian hong kau, sorot mata itu seakan-akan ditujukan ke wajah Li Bun-yang, hal ini membuat perasaannya segera bergetar keras.

"Ternyata dugaanku betul juga" Demikian ia berpikir, "Antara dia dengan ketua Hian hong kau memang mempunyai hubungan yang luar biasa..."

sementara dia masih berpikir, terdengar pemilik bunga bwee telah mengejek sambil tertawa nyaring: "Bagaimana Kaucu? Kau takut?" Ketua Hian hong kau tertawa dingin-

"Bila anda bisa membuktikan bahwa kotak kemala yang lain berada di suatu tempat, gebrakan yang pertama ini kita anggap seri, tapi bila anda ada minat untuk bertaruh lagi, dengan senang hati pasti akan kulayani keinginanmu itu." sesungguhnya perasaan hati para jago waktu itu sudah kebat kebit lantaran menguatirkan keselamatan ketua Hian hong kau, siapa pun tidak mengira ia dapat menghindarkan diri dari tantangan tersebut dengan begitu mudah sekalipun sedikit mencari menangnya sendiri, tapi bagaimanapun juga ia tetap berhasil melepaskan diri dari jebakan itu.

Pemilik bunga bwee tertawa hambar.

"Pandai amat kau mencari pasal untuk melepaskan diri, apa boleh buat, rupanya aku harus menerima keadaan."

Li Bun-yang berpaling ke arah Hongpo Lan, lalu bisiknya: "Pemilik bunga bwee betul-betul manusia yang susah dihadapi."

"saudara Li, nampaknya kau sangat menguatirkan keselamatan ketua Hian hong kau?" tegur Hongpo Lan sambil mendehem

Li Bun-yang cuma tersenyum tanpa menjawab sepatah kata pun-

sementara itu Pemilik bunga bwee telah menuding ke arah Coat-pin taysu seraya berseru:

"Tadi ketua Hian hong kau telah memfitnah aku dengan tuduhannya, padahal si pencuri kotak kemala yang sebenarnya adalah pendeta agung dari siau-lim pay yang selama ini dianggap sebagai tonggak dunia persilatan-..."

"Apa?" teriak Coat-pin taysu tercengang, "Kotak kemala itu berada di sakuku?"

"Kau bisa saja mengelabui para jago dari seluruh kolong langit serta ketua Hian hong kau, tapi jangan harap bisa mengelabui sepasang mataku. "

"Kau jangan memfitnah orang seenaknya sendiri. "

"Sejak tadi aku telah menghadiahkan kotak kemala itu untuk taysu" tukas pemilik bunga bwee cepat, "Jadi sebetulnya hilang tidaknya kotak itu sudah tiada hubungannya lagi denganku, tapi berhubung ketua Hian hong kau sok pintar dengan pamer kemampuannya tadi, mau tak mau terpaksa aku harus membongkar juga rahasia taysu"

Baginya ucapan tersebut diutarakan amat santai dan ringan, namun bagi Coat-pin taysu, paras mukanya segera berubah hebat, badannya gemetar karena menahan emosi, teriaknya tak tahan-

"Aku toh tak akan menelan kotak itu ke dalam perut, kau bisa menunjukkan di mana aku sembunyikan kotak kemala itu?"

"Seandainya aku menjadi taysu, kotak tersebut tentu tak akan kusembunyikan dalam saku sendiri. " ujar Pemilik bunga bwee santai, kemudian sambil menuding seorang pendeta di samping kanan coat-pin taysu serunya lagi:

" Kenapa kau tidak segera keluarkan kotak kemala itu?

Kau hendak paksa aku untuk mengambilnya sendiri?"

Pendeta itu melirik Coat-pin taysu, sekekejap lalu memandang pula Pemilik bunga bwee, akhirnya dari balik sakunya yang lebar ia keluarkan sebuah kotak kemala yang segera diangkat tinggi-tinggi.

Perubahan ini sama sekali diluar dugaan para jago, perubahan aneh yang datang ber-tubi-tubi ini membuat kawanan jago itu jadi bingung, seruan kaget dan helaan napas panjang bergema di sekeliling arena, tidak diketahui mereka sedang memuji kehebatan pemilik bunga bwee atau merasa kecewa atas kelakuan pendeta dari siau-Iim pay itu. Dengan wajah penuh amarah Coat- pin taysu segera berseru:

"Kau tahu bukan menurut peraturan siau- lim pay kita, siapa pun dilarang mengambil barang milik orang lain?"

"Tecu tahu" jawab pendeta itu.

"Kau sudah tahu kenapa kau curi kotak kemala tersebut? Bukankah tindakanmu itu sengaja melanggar peraturan?" " Kotak kemala ini sudah dihadiahkan pemilik bunga bwee kepada siau- lim pay kita, kenapa kita tak boleh mengambilnya?" bantah pendeta itu cepat.

Coat-pin taysu tertegun, tapi kemudian dengan nada serius katanya lagi: "Khong- hoat, meskipun kau menjadi pelindung hukum di ruang Lo-han-tong, tapi kedatanganmu kali ini adalah atas ajakanku, jadi seharusnya kau tunduk pada perintahku"

"soal ini tecu mengerti"

"Di hadapan umum kau berani membantah perkataanku tahukah kau perbuatan ini telah melanggar peraturan nomor berapa?" Paras muka coat-pin taysu berubah semakin serius. Khong-hoat taysu tertawa hambar.

" Kalau soal ini mah tecu kurang jelas" katanya. "Kau masih berani membangkang, ayoh cepat

berlutut"

Khong-hoat taysu berpaling memandang dua saudara seperguruannya sekejap. kemudian berkata:

"sekalipun pinceng (saya) bersalah, sepantasnya tiang lo kami yang membicarakan kesalahan tersebut sebelum menjatuhkan hukuman, maaf tecu tak bisa menerima perlakuan seperti ini." setiap jago dari kolong langit tahu bahwa kuil siau- lim-s i mempunyai peraturan perguruan yang sangat ketat, tapi siapa pun tidak mengira Khong-hoat taysu berani membangkang perintah coat-pin taysu di hadapan orang banyak.

Berkilat sinar mata coat-pin taysu karena gusar, setelah memandang sekejap dua pendeta lainnya dia berseru:

"Khong tin, Khong jin, cepat tangkap murid durhaka itu"

Meskipun Khong-tin taysu dan Khong-jin taysu merupakan pelindung hukum juga di ruang Lo-han-tong bersama-sama Khong-hoat taysu, namun mereka tak berani membangkang perintah coat-pin taysu gara-gara hubungan pribadi, segera mereka menyahut dan maju ke depan mencengkeram pergelangan tangan saudara seperguruannya itu.

Khong-hoat taysu segera mengerahkan tenaga murninya untuk bergegas mundur sejauh tiga depa dari posisi semula, begitu lolos dari serangan kedua orang itu serunya dingin-

"Suheng berdua benar-benar sudah melupakan hubungan persaudaraan di antara kita selama belasan tahun-..." Dengan wajah kaku bagaikan besi tukas Khong-tin taysu:

"Hubungan pribadi tak bisa menghalangi tugas resmi, perintah paman guru coat pin terpaksa harus kulaksanakan tegas."

"Lebih baik sute segera berlutut." sambung Khong-jin taysu, "Terima saja hukuman dari coat pin susiok, aku dan Khong tin suheng tentu akan mohonkan keringanan untukmu." Khong-hoat taysu tertawa terbahak-bahak

"Hahahaha... silahkan suheng berdua takut dengan kepandaian silat coat pin, tapi aku tak bakal jeri. "

" Kurang ajar, kau berani bicara sembarangan?" hardik Khong-tin taysu gusar. sebuah pukulan yang amat kuat dilontarkan ke depan.

Khong-hoat taysu segera memutar badan meloloskan diri dari serangan itu, ejeknya: "Jadi suheng berdua betul-betul ingin bertarung melawanku?"

"sute, kau sudah memberontak jangan salahkan jika aku lupakan hubungan persaudaraan kita dulu" bentak Khong-jin taysu sambil melepaskan sebuah pukulan pula.

"Tahan" teriak Khong-hoat taysu sambil berkelit dari serangan itu. Khong-jin taysu menarik kembali serangannya lalu berseru: "samudra penderitaan tiada bertepi, berpaling akan mencapai daratan, apakah sute telah menyesal?"

" Kalau sute sudah tahu salah cepatlah berlutut minta ampun kepada coat-pin susiok" sambung Khong-tin taysu pula, Dengan cepat Khong-hoat taysu menyimpan kotak kemala itu ke dalam sakunya, setelah itu jengeknya dingin: "Aku harap suheng berdua tahu diri, kalian bukan tandinganku"

"Bagus" teriak Khong-tin taysu gusar. "Kau benar- benar sudah tersesat, tampaknya kau ingin menjadi murid durhaka dari siau- lim pay?"

"Hehehehe... jika kalian mendesakku terus menerus, apa boleh buat, kita tak usah bicara lagi."

"Hmmm Tampaknya kau memang sudah berniat untuk berkhianat" bentak Coat-pin taysu penuh amarah, "Tak usah berdalih lagi, Khong tin, Khong jin, cepat tangkap murid murtad ini, apa lagi yang kalian nantikan?"

Khong-tin taysu tidak banyak bicara lagi, ia segera turun tangan melepaskan satu pukulan-

Kali ini Khong-hoat taysu tidak menghindar lagi, dia mengayunkan telapak tangannya menyambut datangnya ancaman itu dengan keras melawan keras.

Khong-tin taysu tidak menyangka lawannya akan melancarkan serangan balasan, padahal ia cuma menggunakan tenaganya sebesar empat bagian, sebaliknya Khong-hoat taysu yang sudah punya rencana jahat justru mengerahkan tenaganya mencapai sepuluh bagian-

Begitu sepasang tangan saling beradu, Khong-tin taysu baru menyadari kalau gelagat tidak beres, sayang dia tak sempat menghadapi perubahan itu lagi.

Terasa segulung tenaga pantulan yang maha dahsyat meluruk ke dadanya, seketika itu juga ia merasa hawa darahnya bergolak keras, secara beruntun tubuhnya mundur sejauh empat lima langkah sebelum jatuh terjerembab dan muntahkan darah segar. sambil tertawa tergelak Khong-hoat taysu segera mengejek:

"Hahahaha... sedari tadi aku toh sudah bilang, suheng berdua masih bukan tandinganku tapi kalian justru tak mau percaya "

Khong-jin taysu sangat gusar, dengan menghimpun tenaganya ia lepaskan satu pukulan sambil menerjang ke muka. Khong-hoat taysu segera memainkan jurus "Membendung langit pintu selatan" untuk menangkis serangan Khong jin, sementara tangan kanannya secepat kilat melepaskan sebuah totokan.

Ia licik dan banyak akal, ketika melihat Khong- jin taysu melancarkan serangan dalam keadaan gusar, ia sadar bahwa serangan tersebut tentu disertai tenaga dalam mencapai sepuluh bagian hingga susah ditandingi dengan kekerasan.

Maka dia pun mengubah sistim pertarungannya, dengan menggunakan tangan kirinya membendung serangan dari Khong-jin taysu, ia keb askan ujung bajunya yang lebar untuk menutupi pandangan mata lawannya, sementara tangan kanannya secara diam-diam mengeluarkan ilmu jari Kim-kong-ci untuk melancarkan sebuah totokan.

Di antara tiga orang pendeta itu Khong-jin taysu paling polos dan jujur, mimpipun dia tak menyangka Khong-hoat taysu bakal melepaskan serangan jahat secara diam-diam, tahu-tahu lengan kirinya terasa sakit sekali dan terkulai lemas, ternyata totokan Khong-hoat taysu yang diluar dugaan itu telah mematahkan persendian tulangnya. Dengan penuh amarah Coat-pin taysu menghardik: "Murid murtad, berani amat kau kasar "

sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan memukul mundur Khong-hoat taysu sejauh selangkah, juga menyelamatkan jiwa Khong-jin taysu dari serangan mematikan berikutnya.

Khong-hoat taysu tahu bahwa ilmu silat yang dimiliki Coat-pin taysu sangat hebat, apabila membiarkan pendeta itu merebut posisi di atas angin niscaya dia bakal menderita kekalahan hebat, karena itu buru-buru ia tarik kembali serangan totokan jarinya.

setelah melepaskan pukulan tadi Coat-pin taysu ikut mendesak maju ke muka, dua jari tangannya bagaikan tombak langsung menyodok jalan darah Hian ki hiat di tubuh Khong-hoat taysu.

Dengan amat cekatan pendeta dari ruang Tat-mo-wan ini berkelit ke samping untuk meloloskan diri dari sergapan lawan, kemudian secara beruntun ia lancarkan empat buah pukulan berantai

Pada dasarnya kecerdasan maupun ilmu silat pendeta ini jauh melebihi kedua orang kakak seperguruannya, ditambah lagi ia menyerang secara licik, tidak aneh jika dalam tiga gebrakan ia sudah berhasil melumpuhkan Khong-tin taysu serta Khong-jin taysu, sebaliknya keadaan coat-pin taysu jauh berbeda sekali, kehebatan ilmu silatnya mustahil bisa ditandingi Khong-hoat taysu, maka dari itu selesai melancarkan empat pukulan cepat ia menarik diri sambil melompat mundur dari arena.

"Parahkah luka kalian?" tanya Coat-pin taysu sambil memandang kedua orang pendeta itu sekejap.

"Tecu berdua masih sanggup mempertahankan diri" sahut Khong-tin taysu cepat, "Lebih baik susiok membekuk murid murtad itu lebih dulu." Coat-pin taysu menghela napas panjang, setelah berpaling lagi ke arah Khong-hoat taysu katanya:

"Murid murtad, kenapa tidak segera berlutut untuk minta ampun? Kau memaksa aku untuk turun tangan sendiri?"

Dia tak ingin memainkan peranan saling membunuh antar sesama seperguruan di hadapan para jago dari seluruh kolong langit, maka sambil menahan hawa amarahnya ia berharap Khong-hoat taysu bisa segera menyadari kesalahannya serta menyerah.

Khong-hoat taysu tertawa dingin- "Hehehehe... bukan tecu sengaja memandang enteng paman guru, tapi seandainya betul-betul terjadi pertarungan tecu yakin dalam seratus gebrakan pertama aku tak bakal kalah di tangan susiok."

Bagaimana pun kuatnya hati Coat-pin taysu, tapi kali ini ia tak sanggup menahan diri lagi, nardiknya:

"Murid durhaka, ingin mampus rupanya kau"

sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan, Khong-hoat taysu tak mau kalah, dia mengayunkan telapak tangan kanannya juga untuk menerima serangan tersebut. Dalam gusarnya tadi Coat-pin taysu telah mengerahkan tenaga dalamnya mencapai delapan bagian, akibatnya begitu kekuatan saling bertemu, tubuh Khong-hoat taysu terlempar mundur sejauh dua langkah, hawa darahnya bergolak dan wajahnya berubah jadi merah padam.

Diam-diam Pemiiik bunga bwee mengayunkan jari tangannya, segulung desingan angin tajam segera meluncur ke depan menotok jalan darah Mia- bun- hiat di tubuh Khong-hoat taysu.

Termakan totokan itu, paras muka Khong-hoat taysu yang semula merah membara kontan pulih kembali menjadi sedia kala, napasnya yang ngos-ngosan juga mereda kembali.

semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata, sementara serangan kedua dari Coat-pin taysu telah dilepaskan

Dalam serangannya ini coat-pin taysu telah menggunakan tenaganya mencapai sepuluh bagian, ia berniat melukai murid durhaka itu dalam serangan tersebut.

siapa sangka apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaannya, meski Khong-hoat taysu sudah menerima serangannya yang kedua, ia tetap tenang saja seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apa pun. sambil tersenyum Khong-hoat taysu mengejek: "Bagaimana susiok dengan pukulan tecu ini? Lebih hebat daripada pukulanmu bukan?" Sebetulnya Coat-pin taysu sudah curiga, betapa pun hebatnya ilmu silat Khong-hoat taysu mustahil dia mampu menerima serangannya tanpa merasa, karena itu dia berhasrat melakukan penyelidikan-

Namun sikap serta ejekan Khong-hoat taysu barusan membuat kobaran hawa amarahnya tak terbendung lagi, sebuah pukulan kembali dilontarkan ke depan-

Diam-diam Pemilik bunga bwee kembali mengebutkan tangan kanannya, mendadak semangat Khong-hoat taysu bangkit kembali, lagi-lagi dia berhasil menerima pukulan tersebut tanpa kekurangan sesuatu apapun-

Padahal di dalam serangannya terakhir ini, Coat-pin taysu telah menggunakan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan tersebut

Tapi Khong-hoat taysu kembali berhasil menghadang pukulan itu, bahkan tidak menunjukkan gejala apa pun-

Kontan saja Coat-pin taysu menjadi tertegun, kali ini dia melancarkan sebuah cengkeraman.

Dengan cekatan Khong-hoat taysu berkelit ke samping sambil melepaskan serangan balasan- .

Setelah keberhasilannya menerima ketiga pukulan tadi, keberanian Khong-hoat taysu makin menjadi-jadi, dengan andalkan pukulan yang dahsyat ia melibatkan diri dalam pertarungan yang seru melawan Coat-pin taysu.

Setiap orang mengerti bahwa peraturan perguruan dari Siau-lim pay paling ketat di seluruh kolong langit, sejak didirikan boleh dibilang belum pernah ada murid yang berani melawan atasannya di hadapan umum, tak heran kalau peristiwa ini memancing perdebatan sengit di antara para jago yang hadir di seputar arena.

Di tengah berlangsungnya pertarungan itu, tiba-tiba terdengar ketua Hian-hong-kau berseru keras:

" Harap taysu hentikan serangan, bila pertarungan dilangsungkan macam begini, biar bertarung delapan- sepuluh tahun pun kau tak bakalan mampu mengungguli murid murtad itu."

seakan-akan memahami sesuatu Coat-pin taysu menarik kembali serangannya sambil melompat mundur.

sebaliknya Khong-hoat taysu segera mengejek sambil tertawa dingin: "Jika kaucu tak puas, aku bersedia melayani tantanganmu?"

Ketua Hian hong kau mendengus dingin- "Hmmm Apabila Pemilik bunga bwee tidak secara diam-diam membantumu dengan ilmu penyaluran tenaga dalamnya, sejak-tadi kau sudah terluka di tangan Coat-pin taysu, sekarang kenyataan sudah di depan mata, kau masih ingin berlagak terus?"

"Hahahaha... rupanya begitu" seru Coat-pin taysu tiba- tiba sambil tertawa tergelak, " Hampir saja aku tertipu olehmu."

Begitu boroknya dibongkar oleh ketua Hian hong kau, seketika itu juga Khong-hoat taysu dibuat tersipu-sipu karena malu, untuk sesaat dia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun selain memandang ke arah pemilik bunga bwee.

Mendadak kakek tinggi besar berbaju serba kuning itu menggerakkan lengan kirinya, dua ekor burung aneh berwarna abu-abu yang semula bertengger pada kerangka besi di lengan tersebut segera terbang ke udara dan meluncur ke atas kepala ketua Hian hong kau.

Kakek bermata satu yang berdiri di belakang ketua Hian hong kau mendengus pelan, ia lihat burung aneh itu sekejap kemudian pelan-pelan mengangkat tongkatnya ke udara.

Dari kerumunan para jago segera muncul empat lelaki bergolok yang segera mengelilingi seputar ketua Hian hong kau dengan senjata terhunus, perhatian mereka ditujukan ke arah burung-burung aneh itu. Dalam pada itu Phang Thian-hua sudah merasa segar kembali setelah mengatur napas berapa saat dan menelan obat mestika ramuan sendiri, ketika menengok ke arah empat manusia buas, ia menjumpai mereka masih duduk melingkar sambil mengatur napas, sifat buas mereka telah lenyap sama sekali.

Melihat kesemuanya itu, dengan perasaan kaget bercampur keheranan Dewa jinsom ini berpikir:

"Heran, obat apa yang telah digunakan ketua Hian hong kau sehingga empat manusia buas ini bisa hilang sifat buasnya dan menurut sekali,..?"

sementara itu situasi dalam arena pun telah menjadi tegang kembali, sekarang bentrokan langsung terjadi antara ketua Hian hong kau melawan Pemilik bunga bwee.

Terdengar ketua Hian hong kau berkata dengan suara lantang:

"Tujuanmu mengundang para jago dari seluruh kolong langit untuk berkumpul di sini tak lain karena ingin meringkus mereka semua dengan siasat busukmu, mula- mula kau gunakan kitab pusaka Tat-mo-ie-cin-keng untuk mengadu domba, dengan harapan sifat tamak manusia akan menimbulkan badai saling membunuh di antara para jago, sedang kau akan menjadi nelayan yang beruntung, aku yakin tanpa kujelaskan pun setiap orang sudah

memahami hal tersebut karena kenyataan sudah di depan mata "