Pedang Keadilan I Bab 45 : Dewa Jinsom Membacok Kotak pusaka

 
Bab 45. Dewa Jinsom Membacok Kotak pusaka

"Nona, jangan kau minum Arak itu beracun-.." terdengar seseorang berteriak dengan suara keras. Paras muka gadis itu berubah hebat, sambil memegangi perutnya dia menjerit lengking: "Aduh celaka, arak itu benar-benar beracun Aduh sakit benar perutku... Ach..sakit..."

Kakek berbaju kuning itu tak sanggup menahan diri lagi, ia melompat ke hadapannya lalu menegur: "Nona, rupanya kau memang sengaja datang untuk mengacau?"

Dua ekor burung aneh berwarna abu-abu itu mendadak terbang ke udara sambil memperdengarkan suara pekikan nyaring,

sepasang tangan si nona yang memegangi perutnya itu segera diturunkan, dengan tubuh yang sempoyongan ia tinju perut kakek berbaju kuning itu.

sambil tertawa dingin kakek itu berkelit dua depa ke samping untuk menghindari tubrukan gadis tersebut, tangan kirinya segera diayunkan ke depan, bagaikan babatan sebilah golok dia bacok tubuh nona itu.

Dengan gerakan yang amat genit gadis itu mundur ke belakang, seakan-akan tubuhnya tak sanggup untuk berdiri tegak. Dengan amat lincahnya ia sudah lolos dari serangan kakek berbaju kuning itu.

Li Bun yang maupun Hongpo Lan yang mengikuti jalannya pertarungan itu dapat melihat jelas bahwa nona itu memiliki ilmu silat yang amat tangguh, Gerakan untuk menghindari sergapan kakek tersebut barusan menunjukkan bahwa ilmu yang digunakan adalah ilmu gerakan tubuh tingkat tinggi.

Perlu diketahui selisih jarak antara si kakek dengan gadis tersebut hanya terpaut beberapa depa, ini berarti serangan kakek tersebut dapat mengancam semua jalan darah penting di tubuh lawannya.

Tapi dalam kenyataan gadis itu tidak mencoba menangkis dengan sepasang tangannya dan nyatanya dapat meloloskan diri dengan selamat Apabila ia tidak memiliki gerakan tubuh yang luar biasa, sulit rasanya untuk bisa lolos dengan selamat.

Dari kemampuan si nona untuk menghindarkan diri, kakek berbaju kuning itu sudah sadar kalau ia telah bertemu musuh tangguh, sambil tertawa dingin katanya kemudian-"Bagus sekali, nona benar-Denar seorang pandai yang tidak menonjol, aku ingin minta berapa petunjukmu"

Gadis itu meluruskan badannya, lalu katanya: "Pemilik bunga bwee telah datang"

Kakek berbaju kuning itu berpaling, tampak empat manusia aneh berbaju serba hitam dan berkerudung kain hitam telah muncul di situ dengan langkah pelan- Tanpa menggubris gadis itu lagi buru-buru ia maju untuk menyambut. Di belakang keempat manusia berbaju hitam itu mengikuti seorang kakek pendek bertubuh ceking yang memakai baju warna hijau, jenggot putihnya panjang sedada, mukanya dingin dan kaku. Tampak kakek berbaju kuning itu membungkukkan badan memberi hormat sambil serunya: "Menyambut kedatangan majikan"

"Tak usah banyak adat" seru kakek berbaju hijau itu sambil mengulapkan tangannya Dengan langkah lebar ia berjalan menuju ke meja perjamuan yang terletak di bagian tengah.

Pemilik bunga bwee yang menggemparkan seluruh kolong langit ternyata hanya seorang kakek ceking yang amat bersahaja, Kenyataan ini sama sekali di luar dugaan para jago. Meskiperhatian semua orang tertuju ke arahnya, namun perasaan yang semula tak tenang kini jauh lebih tenang dan tenteram.

Dengan suara lirih Hongpo Lan berbisik: "saudara Li, jadi inikah pemilik bunga bwee yang menyebar undangan mengundang seluruh jago dari kolong langit untuk berkumcul di sini? Benar-benar tidak serasi dengan nama besarnya"

Dengan wajah agak bimbang Li Bun yang berkata: "Dalam situasi dan keadaan seperti ini, semestinya pemilik bunga bwee tak akan bermain gila lagi dengan kita semua, Tapi kalau dibilang kakek berbaju hijau itulah pemilik bunga bwee, rasanya aku sukar untuk percaya."

Jadi saudara Li curiga kalau orang itu hanya duplikat si pemilik bunga bwee?"

Tiba-tiba terdengar ketua Hian hong kau berkata: "Apakah kalian berpikir begitu karena menganggap kehadirannya yang diikuti anak buah minim kurang begitu memancarkan kewibawaannya? "

"Kalau menurut pandangan kaucu?" Li Bun yang balik bertanya.

" orang ini amat cerdik, apa yang dilakukan seringkali di luar dugaan orang lain, ia justru sengaja muncul dengan kekuatan yang minim tak lain bermaksud agar kewaspadaan para jago jadi mengendor dan berkurang. Bila semua orang sudah menurunkan kewaspadaannya, maka ia baru bisa bertindak menurut kehendak hatinya..."

Li Bun yang manggut-manggut "Pendapat kaucu memang tepat sekali."

sementara itu Hongpo Lan sudah merasa amat curiga setelah melihat hubungan an-

o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o Jilid ^ Ha la man 62/6-^ Hilang o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o

dah timbul rasa kecewanya setelah melihat keadaanmu itu. jika aku menjadi kau, aku tak akan mengundang seluruh jago untuk menghadiri pertemuan puncak ini." Pemilik bunga bwee tertawa hambar.

"Apakah karena aku tak punya wajah yang luar biasa serta kekuatan yang terlalu minim sehingga para jago merasa kecewa dengan kehadiran mereka di sini?"

"Maksudku, aku minta anda segera mengumumkan kejadian besar apa yang kau maksudkan dalam surat undanganmu itu. Kalau tidak, aku segera akan mengundurkan diri dari perjamuan ini..."

"Kau sudah jauh-jauh datang kemari untuk menghadiri pertemuan ini, sebelum memperoleh hasil apakah kau akan pulang dengan tangan hampa? Tidakkah kau merasa bahwa perjalananmu jadi sia-sia?" kata pemilik bunga Bwee tenang.

"Meskipun aku tak senang mencampuri urusan dunia persilatan, tapi dengan tegas kubedakan mana budi dan mana dendam. Kalau ada budi tentu kubayar, kalau ada dendampun harus kubalas"

Pemilik bunga bwee tidak menggubris Phang Thian hua lagi, dia berpaling memandang Dewa buas berbaju merah yang telah bangkit berdiri pula, tanyanya: "Kau ada urusan apa?"

"Bagaimana kalau aku memohon beberapa orang dayangmu untuk menemani kami berempat?"

"Ya, empat orang yang berada di sisi kami sekarang.

Apakah kau bersedia.,.?" sambung iblis jahat berbaju hijau.

" Lebih baik kalian berempat jangan kelewat terburu napsu. sekalipun aku setuju, belum tentu kalian berempat sanggup mengajak mereka pergi dari sini"

"soal ini tak perlu kau kuatirkan" sela setan gusar berbaju kuning.

Tiba-tiba pemilik bunga bwee mengangkat tangan kanannya ke atas dan melakukan gerakan melingkar di atas kepalanya, suara musik pun segera bergema memecahkan keheningan, dua orang bocah berwajah tampan dengan menggotong sebuah peti berwama hitam berjalan menuju ke sisi pemilik bunga bwee dan meletakkan kotak kayu itu ke atas tanah.

Tanpa menunggu perintah dari pemilik bunga Dwee, keempat manusia berbaju hitam yang berdiri di belakang majikannya itu serentak maju ke depan dan meletakkan kotak tadi ke atas meja. Pelan-pelan pemilik bunga bwee bangkit berdiri, membuka penutup peti itu, melongok sekejap isinya kemudian duduk kembali.

Para jago yang hadir dalam arena tak ada yang bisa melihat apa isi kotak kayu itu, tapi justru karena itu merangsang timbulnya rasa ingin tahu di hati mereka, meski demikian tak nampak ada yang berusaha untuk bangkit berdiri dan menghampiri kotak tadi.

sementara itu Hongpo Lan merasa amat gelisah, tengah hari telah menjelang tapi bukan aja ayahnya tak tampak muncul di situ, bahkan Lim Han kimpun tidak tampak muncul disana untuk mengembalikan suratnya,

Karena panik, ia pun celingukan kian ke mari dengan peraSaan tak tenang.

Untung saja perhatian para jago waktu itu sudah tersedot oleh benda dalam kotak kayu itu sehingga kegelisahan Hongpo Lan ini tak ada yang memperhatikan.

Mendadak tampak seseorang bangkit berdiri lalu berjalan menghampiri kotak kayu itu dengan langkah lebar, Dengan berdirinya satu orang, jago-jago lainnya segera memberikan reaksi yang sama, dalam waktu singkat ada belasan orang yang bangkit berdiri dan memburu ke depan-

Bagi kawanan jago yang mempunyai kedudukan dan menjaga gengsi meski tetap duduk namun sorot mata mereka yang tajam bergerak mengikuti gerakan kawanan jago itu,

Di antara jago- jago itu ada seorang lelaki kekar bergolok besar melangkah paling cepat, dalam dua lompatan saja ia telah tiba di tepi kotak serta melongok isinya, Baru saja dia hendak mengambil benda di dalam kotak itu, dari arah Utara seorang jelaki bersenjata gelang emas telah tiba di tepi kotak kayu tersebut Dengan suatu gerakan cepat lelaki bergolok itu menutup kembali kayu peti itu, serunya: "Tak ada yang bisa dilihat dalam peti itu, lebih baik tak usah diperiksa lagi."

Belum sempat lelaki bersenjata gelang emas itu melihat jelas barang apa yang berada dalam peti itu, penutup peti sudah ditutup kembali secara tiba-tiba. Tentu saja tindakan tersebut sangat tidak memuaskan hatinya, dengan cepat ia berusaha membuka kembali penutup peti itu.

Lelaki bergolok itu memutar tangan kanannya dan menekan di atas penutup peti itu agar tak bisa dibuka, kembali serunya: "Sudah kubilang jangan diperiksa lagi isi-nya Kau sudah dengar belum kata2 ini?" Ucapannya tajam memojokkan orang dan bernada seolah-olah dialah yang paling berkuasa.

"Siapa bilang tak boleh dilihat" teriak lelaki bersenjata gelang emas itu gusar,

" Kalau aku memaksa untuk melihatnya, mau apa kau?" Lelaki bergolok itu tertawa dingin-

"He he he... kapan sih ucapan harimau sakti penakluk kerbau tak digubris orang"

"Kebetulan sekali senjata gelang emasku memang khusus dipakai untuk menaklukkan harimau macam dirimu itu..."

Tanpa banyak bicara si Harimau sakti penakluk kerbau mencabut keluar golok raksasanya, Di atas golok itu terdapat tujuh buah gelang tembaga yang berbunyi keliningan apabila senjata tersebut digerakkan sambil menggebrak peti itu keras-keras tantangnya: "Kalau kau tak percaya, coba saja untuk membuka penutup peti ini"

Lelaki bersenjata gelang emas itu maju ke muka, sambil mengerahkan tenaga tangan kanannya menyambar penutuppeti itu dan berusaha membukanya secara paksa.

Harimau sakti penakluk kerbau segera mengayunkan goloknya melancarkan sebuah bacokan, Tampaknya ia sudah membuat persiapan yang matang, bacokan ini dilancarkan dengan kecepatan luar biasa. Buru-buru lelaki itu menarik kembali tangannya, sayang terlambat Tampak cahaya tajam berkelebat lewat disusul kemudian darah segar berhamburan ke dua jari manis dan kelingking lelaki itu sudah terbabat hingga kutung.

Harimau sakti penakluk kerbau tertawa terbahak- bahak,jengeknya: "Ha ha ha... kalau tidak kuberi sedikit pelajaran tentu kau tak mau menuruti perkataan Sun toaya-mu..."

Sambil menahan rasa sakit lelaki itu mundur dua langkah, merobek ujung bajunya dan membalut luka kutungan tersebut, kemudian senjata gelang emasnya dicabut keluar. Dengan jurus "sepasang angin menembusi telinga" ia lepaskan satu serangan kilat,

Harimau sakti penakluk kerbau memutar golok bergelang tujuhnya lalu di dorong ke depan melepaskan satu bacokan.

Buru-buru lelaki bersenjata gelang emas itu menggerakkan gelang di tangan kanannya untuk menangkis golok lawan, bentrokan diiringi suara dentingan nyaring segera bergema memecahkan keheningan.

Selama pertarungan berlangsung, Harimau sakti penakluk kerbau hanya melayani gelang emas musuhnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya tetap menekan di atas penutup peti itu, perbuatannya yang sangat aneh ini otomatis memancing kecurigaan kawanan jago lainnya, terdengar seseorang berseru keras:

"Barang apa sih di dalam peti itu sehingga kau melarang orang lain untuk menengoknya? Aku mau periksa..."

Menyusul seruan itu sebuah ruyung lemas telah diayunkan ke depan menyodok tangan kiri Harimau sakti penakluk kerbau.

Dipaksa oleh keadaan mau tak mau Harimau sakti itu melepaskan tangan kirinya sambil mundur dua langkah.

Tiba-tiba tampak bayangan manusia berkelebat lewat, seorang manusia berbaju hitam yang kecil pendek telah melompat maju lebih dulu, Gerakan tubuh orang ini cepat dan gesit, ilmu meringankan tubuhnya benar-benar hebat, ternyata ia sanggup menerobos dari bawah sambaran senjata ruyung lemas itu untuk melompat naik ke atas meja dan membuka penutup peti kayu itu

sedetik sebelum peti itu terbuka, kembali tampak bayangan putih berkelebat lewat, sebuah titik cahaya tajam meluncur ke depan tepat menghajar pipi kanan manusia berbaju hitam itu. Kontan tangannya mengendor dan peti itu menutup kembali " Keparat" suara tertawa dingin bergema di udara. "Berani amat menggunakan senjata rahasia untuk melukai saudara kami.,."

"Kenapa?" suara lain yang tinggi melengking balas berteriak " Kalau tak puas, kalian tujuh iblis dari Leng pak boleh maju bersama Buktikan saja nama Malaikat bertangan delapan hanya nama kosong atau bukan."

Dalam waktu singkat sebagian besar para jago sudah mengerumun ke depan, suasana amat kalut dan gaduh malah banyak di antara mereka yang telah meloloskan senjata, agaknya suatu pertarungan massal akan segera terjadi.

Tiba-tiba terdengar lagi suara bentakan keras bergema di udara: "Berhenti"

segulung angin pukulan meluncur ke depan. Lelaki bergolok gelang tujuh itu menjerit keras, tahu-tahu tubuhnya bersama senjatanya sudah mencelat ke udara dan terlempar sejauh tujuh delapan depa, untung saja ada seseorang yang segera menyongsong badannya, kalau tidak mungkin orang itu sudah terluka parah.

Ketika para jago berpaling, tampaklah orang yang barusan bicara ternyata adalah si Dewa jinsom Phang Thian hua. Nama besarnya sudah cukup termashur di seantero dunia, banyak orang kagum bercampur jeri kepadanya apalagi setelah dibuktikan dengan kehebatan pukulannya barusan, kontan saja para jago yang mulai kalut itu menjadi tenang kembali.

Dengan sorot mata yang tajam Dewa jinsom Phang Thian hua menyapu sekejap sekeliling arena, lalu ujarnya: "Aku lihat kalian telah meloloskan senjata dan siap beradu nyawa, boleh aku tahu sebenarnya lantaran apa kalian hendak bertarung?"

Para jago saling bertukar pandangan tanpa menjawab, tak seorang pun bisa memberikan jawabannya.

selang berapa saat kemudian baru terdengar seseorang berseru: "Malaikat bertangan delapan telah melukai seorang saudara kami dengan mengandalkan senjata rahasia, apakah hutang ini tak boleh ditagih?"

"Kenapa si Malaikat bertangan delapan menggunakan senjata rahasia untuk melukai kalian tujuh malaikat dari Leng pak?" seru Phang Thian hua dingin, Meski ia amat jarang berkelana di dalam dunia persilatan, tapi cukup hapal dan kenal dengan nama-nama para jago dari dunia persilatan, orang yang berbicara tadi adalah Pemimpin dari tujuh iblis Leng pak, orang menyebutnya si Elang api Tu swan.

setelah berpikir sejenak si Elang api membantah: "Dalam dunia persilatan berlaku satu aturan, membunuh orang membayar nyawa, hutang uang bayar uang, Ba- gaimana pun seorang saudaraku telah dilukainya dengan senjata rahasia, kami tetap akan menuntut bafas kepadanya"

"Bagus" jengek Phang Thian hua dingin. "Apabila kalian tujuh iblis dari Leng pak menganggap mampu untuk menyambut tenaga pukulanku, silahkan saja untuk men-coba."

Begitu semua urusan dilimpahkan ke atas pundaknya, tujuh iblis dari Leng pak itu tak berani berkutik lagi, serentak mereka terbungkam dalam seribu bahasa.

Pada saat itu lelaki yang bersenjata gelang emas itu sudah menyimpan kembali senjatanya dan balik ke dalam kerumunan para jago. Meskipun kawanan jago tersebut masih mengelilingi kotak kayu itu, namun suasana yang semula gaduh dan kacau balau kini menjadi tenang sekali, Dewa jinsom Phang Thian hua berpaling ke arah pemilik bunga bwee, sesudah memberi hormat tanya- nya:

"sebenarnya apa isi peti itu? silahkan saudara untuk mengeluarkan sendiri.." pemilik bunga bwee tertawa hambar.

" Kenapa kau tidak membuka sendiri?"

Pelan-pelan phang Thian hua mengalihkan pandangan matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya: "sekalipun aku ingin melihatnya, aku rasa tak ada yang berani menghalangi diriku bukan?"

Dengan langkah lebar ia berjalan maju ke muka.

Tiba-tiba terdengar si Harimau sakti penakluk kerbau membentak keras dan menyerbu ke depan, Golok bergelang tubuhnya dengan jurus "naga sakti muncul di mega" langsung menusuk ke depan.

Phang Thian hua mengayunkan tangan kanannya ke depan, tampak cahaya tajam berkilauan disusul kemudian terdengar jeritan ngeri yang menyayat hati bergema memecahkan keheningan-

Ternyata ujung golok bergelang tujuh milik si Harimau sakti penakluk kerbau itu tahu-tahu sudah berbalik menembusi dada sendiri Darah segar berhamburan ke luar dan tewaslah orang itu dalam keadaan sangat mengenaskan

Dari sekian banyak jago yang hadir di sana, dialah orang pertama dan satu-satu-nya yang telah melihat isi kotak kayu itu. Tapi nyatanya justru dia pula yang tewas nomor satu.

Berubah hebat paras muka para jago yang hadir di sana setelah menyaksikan peristiwa itu. Nama besar Phang Thian hua terbukti memang bukan nama kosong belaka, bukan saja dalam satu gebrakan ia berhasil mengalihkan serangan yang tertuju ke arahnya bahkan mampu pula meminjam tenaga lawan untuk memaksa orang itu senjata makan tuan dengan akibat hilangnya nyawa sendiri

Di tengah kepanikan dan keseraman yang mencekam perasaan para jago, tiba-tiba terdengar seseorang berseru dengan suara di-ngin "HHmmm, suatu siasat meminjam tangan membunuh orang yang amat jitu"

Ketika Phang Thian hua berpaling, ia jumpa si pembicara ternyata adalah iblis jahat berbaju hijau, sekalipun dia tak takut menghadapi manusia buas itu, tapi ia pun sadar bahwa keempat manusia buas ini sukar dihadapi, karena itu dia hanya tertawa dingin tanpa menggubris.

semua perhatian kawanan jago itu kembali dialihkan ke arah Phang Thian hua serta peti kayu itu. Dalam hati kecil setiap orang pun timbul pertanyaan serta tanda tanya besar, pikir mereka: "Apa isi sebenarnya peti kayu itu? Kenapa Harimau sakti penakluk kerbau rela mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan peti itu?" Semakin dipikir rasa ingin tahu mereka pun semakin bertambah tebal.

sebaliknya Phang Thian hua pun segera putar otak untuk mencari-jalan keluar dalam menghadapi situasi seperti ini. Dipandang sekian banyak jago dari Seantero du-nia, timbul juga suatu perasaan ngeri dan takut yang aneh dalam hati kecilnya, setelah berpikir lama sekali, baru ia berteriak keras ke arah pemilik bunga bwee: "Barang dalam peti itu milikmu, lebih baik kau sendiri yang membuka peti itu"

"Kenapa?" jengek pemilik bunga bwee. "Dewa jinsom yang termashur di seluruh kolong langit pun sudah pecah nyali..."

Setelah tertawa hambar, tambahnya: "Kalau isi peti itu cuma barang biasa, Harimau sakti penakluk kerbau tak nanti rela berkorban diri..."

Perkataan itu amat singkat dan sederhana tapi justru ibarat menambah bensin dalam api. Rasa ingin tahu kawanan jago di sekitar arena pun semakin menjadi-jadi, pikir mereka: "Betul juga perkataan ini, kalau isi peti itu bukan barang yang,sangat ber-harga, tak mungkin Harimau sakti penakluk kerbau akan nekad menyerang Phang Thian hua "

Rasa ingin tahu yang semakin tebal secara otomatis membangkitkan pula keberanian mereka untuk menentang Dewa jin-som tersebut.

Terdengar pemilik bunga bwee berkata lebih iauh: "Salah satu tujuanku mengundang kehadiran kalian di sini pun tak lain karena ada hubungannya dengan benda dalam peti itu. " "Kau tak usah sengaja bicara sok rahasia, katakan saja apa isi peti itu, kenapa kau tak berani mengutarakannya keluar sehingga menghilangkan rasa curiga para jago?" Pemilik bunga bwee tertawa hambar.

"Bila kau yakin tak akan timbul sifat tamakmu setelah melihat benda itu, kenapa kau tidak mencoba untuk membukanya sendiri? Toh peti itu sudah berada di hadapan-mu?" Phang Thian hua tertawa dingin.

"Kau tak usah memanasi hatiku dengan kata-kata macam begitu, kau anggap aku Phang Thian hua benar- benar tak berani membuka peti itu? Baik, akan kubuka sekarang juga" ia maju dua langkah mendekati peti itu lalu menggetarkan tongkatnya ke atas tanah, Blaaam.,.

Ketika tongkat itu membentur tanah, terjadilah suara benturan yang cukup keras. Empat orang pemuda berbaju biru yang berada di sisinya serentak meloloskan pedang dan menyebarkan diri ke empat penjuru untuk melindungi belakang dan kedua sisi Phang Thian hua.

Bersamaan waktunya keempat manusia berbaju hitam yang bergolok pun mengeluarkan sarung tangan dari sakunya dan dikenakan lalu dari dalam kotak kayu yang dipanggulnya mereka mengeluarkan segenggam benda hitam macam pasir besi bersiap siaga di sekitar pemuda berbaju biru itu. Kenekadan Harimau sakti penakluk kerbau telah meningkatkan kewaspadaan Phang Thian hua dalam menghadapi situasi tersebut, dengan menggunakan tanda menggempur tanah dengan tongkatnya tadi secara diam-diam ia telah memerintahkan anak buahnya untuk melakukan perlindungan.

Hampir sebagian besar para jago yang hadir di situ saat ini tahu kalau Phang Thian hua jago dalam ilmu pertabiban dan obat-obatan. Begitu melihat anak buahnya telah mengenakan sarung tangan sambil menggenggam segenggam pasir besi, semua orang pun segera berpikir: "Pasir besi itu tentu sudah direndam dengan racun jahat, kalau tidak. mustahil anak buahnya mengenakan sarung tangan. "

Menunggu sampai anak buahnya sudah menyebarkan diri melakukan persiapan, phang Thian hua baru mendongkel penutup peti kayu itu dengan tongkatnya.

Tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna, dongkelan tersebut boleh dibilang memiliki kekuatan sampai ratusan kati, siapa tahu ternyata peti kayu itu tak bergerak sedikit pun

Phang Thian nua segera merasakan pipinya jadi panas, matanya berubah jadi merah, setelah menyapu sekejap sekitar tempat itu ia menegur ketus: "Siapa yang secara diam-diam memusuhi aku? silahkan tampil ke muka untuk bicara" suasana tetap hening, tak seorang pun menjawab tapi dalam hati kecilnya sama-sama berpikir: "Tenaga dalam yang dimiliki orang itu pasti luar biasa, buktinya ia bisa mempermalukan Phang Thian hua "

Terdengar pemilik bunga bwee berkata dengan pelan: "Peti kayu milikku ini memang memiliki suatu tabiat yang aneh, dia hanya mau dibuka jika si pembuka menggunakan tangannya, kalau coba-coba memakai benda, ia pasti akan ngambek. "

"Hmmm, aku tak percaya ada kejadian seperti ini" seru Phang Thian hua gusar.

" Kalau kau tak percaya, kenapa tidak dicoba sendiri?" "Baik"

Diam-diam hawa murninya dihimpun ke-dalam tongkat kayunya, kemudian dengan sekuat tenaga didongkel ke atas. siapa tahu peti itu seolah-olah sudah ditindih dengan benda yang beratnya mencapai ribuan kati.

Kendatipun dongkelan phang Thian hua itu dilakukan dengan sekuat tenaga, peti itu tetap tak bergeming.

Dengan terjadinya peristiwa itu, bukan saja Phang Thian hua dibuat amat terperanjat, kawanan jago yang hadir di seputar arena pun sama-sama terkesiap dibuatnya. Tiba-tiba pemilik bunga bwee bangkit berdiri, menyentil debu dari pakaiannya dan berkata sambil tertawa: "sekarang tentunya kau sudah percaya bukan...?" Phang Thian hua mendengus dingin-

"Hmmmm sekalipun tutup peti itu kokoh bagaikan baja, bukan berarti peti itu kuat sekali" Mendadak tongkatnya diayunkan ke muka melancarkan sebuah bacokan keras.

Ia tak tahan dipermalukan orang di hadapan para jago, hawa amarahnya kontan saja memuncak. bisa dibayangkan betapa dahsyatnya babatan tongkatnya itu. Blaaammmm., .

Diiringi suara benturan yang amat dahsyat, hancurlah peti kayu itu menjadi berkeping- keping .

sambil mengelus jenggotnya pemilik bunga bwee tersenyum lalu duduk kembali. Dengan hancurnya peii kayu itu, maka di antara hancuran dan serpihan kayu lamat-lamat tampak ujung sebuah kitab, Baru saja Phang Thian hua hendak mencongkel kitab itu dari tumpukan kayu, tiba-tiba muncul segulung asap tebal Ternyata kitab beserta serpihan kayu itu mulai terbakar. sambil tertawa tergelak pemilik bunga bwee berseru: "Ha ha ha. sayang sayang"

"Apanya yang patut disayangkan?" bentak Phang Thian hua gusar Tongkatnya bekerja cepat menyingkirkan serpihan kayu dari atas kitab tersebut, dengan cepat terbacalah judul buku itu: "Tiga belas bab kupasan kitab pusaka Tat mo ie cin keng."

Mimpi pun Phang Thian hua serta para jago yang hadir di sekitar tempat itu tak pernah mengira kalau isi peti itu ternyata adalah kitab pusaka Tat mo ie cin keng yang dipandang sebagai ilmu maha sakti oleh semua jago persilatan, untuk sesaat semua orang jadi tertegun dibuatnya.

sebenarnya pusaka itu milik siau lim pay, tapi orang persilatan sudah mendengar kabar kalau kitab tersebut telah dicuri orang kendati pun pihak siau limpay sendiri tak pernah mengakui secara resmi, lalu bagaimana mungkin kitab tersebut bisa muncul dalam peti saat ini?

Kobaran api yang membakar kitab itu semakin membesar, dalam waktu singkat kitab tersebut telah berubah menjadi sebuah gumpalan api. "omintohud..."

Menyusul bentakan keras, sesosok bayangan abu- abu secepat sambaran petir menyerang masuk ke dalam arena.

Kesatu gerakan orang itu sangat cepat, kedua para jago yang berjaga-jaga di seputar arena sedang kecewa karena punahnya kitab pusaka itu sehingga ketajaman pendengaran mereka berkurang, Ketika merasa datangnya sambaran angin, keadaan sudah terlambat, tahu-tahu bayangan manusia itu sudah menembus pertahanan mereka dan mendekati arena.

seorang pemuda berbaju biru yang berada paling dekat dengan Phang Thian hua segera mengayunkan pedangnya melancarkan bacokan. Traaang.,.

Dentingan nyaring berkumandang, tusukan pedang dari pemuda berbaju biru itu tahu-tahu sudah terpental ke samping.

"Berhenti" hardik Phang Thian hua-sambil berpaling.

Padahal tanpa disuruh berhenti pun bayangan putih tadi telah berhasil menembus pertahanan dan tiba di sisi tubuhnya, bahkan tangannya langsung menyambar ke arah kitab yang sedang terbakar itu Dengan tenaga pukulan yang amat kuat, sekali sambaran saja kobaran api itu padam seketika, tapi debu bekas bakaran pun ikut beterbangan keempat penjuru karena hembusan angin pukulannya.

semua peristiwa ini berlangsung dalam waktu sekejap mata. Belum habis ingatan pertama melintas dalam benak Phang Thian hua, sisa kitab yang terbakar itu sudah jatuh ke tangan bayangan putih itu.

Ketika para jago mencoba untuk mengawasi kitab tersebut, ternyata sebagian besar telah terbakar habis, yang utuh kini hanya tinggal dua puluh persen saja. sambil tertawa dingin phang Thian hua segera berseru: " Kukira siapa yang begitu bernyali, rupanya Coat pin taysu, hmm Tak heran kalau kau tidak pandang sebelah mata pun terhadap aku Phang Thian hua"

Mimik muka Coat pin taysu penuh diliputi rasa sedih dan kecewa, ia berdiri ter-mangu-mangu sambil mengawasi sisa buku yang terbakar itu. ia seakan-akan tidak mendengar sama sekali apa yang diucapkan Phang Thian hua.

Terdengar seseorang berseru nyaring: "To heng, kau jangan termakan siasat adu domba orang lain, Coba bayangkan saja tiga belas bab kupasan kitab pusaka Tat mo ie cin keng merupakan kitab pusaka yang tiada ternilai harganya, sekalipun benar-benar terjatuh ke tangan orang lain, siapa yang rela membakarnya dengan begitu saja?"

Ketika perhatian semua orang dialihkan ke arah si pembicara, ternyata orang itu adalah si Bangau hijau ui Yap cu, salah satu di antara tiga bangau partai Bu tong.

Nama serta kedudukan tiga bangau dari Bu tong dalam dunia persilatan cukup tegar dan terhormat, karena itu para jago pun kembali mulai berpikir setelah mendengar perkataannya itu. "Benar juga perkataan ini, Tat mo ie cin keng adalah kitab pusaka yang tak ternilai harganya, masa pemilik bunga bwee tega membakarnya dengan begitu saja? Jangan-jangan ia sengaja menggunakan buku palsu untuk menipu kita semua.,.?"

sekalipun di hati kecilnya para jago telah berpikir demikian, namun mereka tetap masih penasaran, sebab daya tarik kitab pusaka Tat mo ie cin keng memang luar biasa hebatnya, Bahkan bagi sebagian besar umat persilatan tersebut, mereka lebih suka mempertaruhkan nyawa untuk memperebutkan kitab itu dari pada membiarkan pusaka itu terjatuh ke tangan orang lain.

Terdengar Coat pin taysu menghela napas panjang, sambil memegangi sisa kitab yang hangus ia termangu- mangu seperti orang kehilangan akal, sampai lama sekali tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Dalam keadaan begini, andaikata Phang Thian hua melancarkan serangan bokongan maka dalam sekali gebrakan saja ia pasti berhasil membinasakan Coat pin taysu. Tapi nama besar siau Limpay kelewat luar biasa, di samping itu kedudukan Coat pin taysu dalam partai pun sangat tinggi dan terhormat, seandainya Phang Thian hua sampai melukai jiwanya, sudah pasti permusuhannya dengan pihak siau lim si tak bakal ada habisnya. oleh sebab itulah ia tak berani turun tangan secara sembarangan

Tiga orang pendeta pelindung hukum yang ikut hadir disana telah menghimpun tenaga dalam masing-masing siap turun tangan, tapi mereka sudah terhadang oleh kawanan lelaki berbaju hitam itu sejauh berapa kaki di luar arena, karena itu meski mereka saksikan keadaan Coat pin taysu yang macam orang kehilangan sukma, tak seorang pun dari antara mereka berani turun tangan secara sembarangan Mereka takut bila sampai bentrok hingga membangkitkan amarah Phang Thian hua., bisa jadi Coat pin taysu bakal segera dilukainya.

si Bangau hijau Ui Yap cu mempunyai hubungan persahabatan yang amat erat dengan coat pin taysu, ia jadi sangat kuatir setelah melihat keadaannya yang macam orang mabuk itu, teriaknya keras-keras: "Phang cengcu, bolehkah aku menghampiri Coat pin toh eng serta mengajaknya bicara?"

Rupanya semua anak buah yang dibawa Phang Thian hua kini sudah menempati posisi masing-masing siap untuk menghadapi serangan musuh, Dalam keadaan begini tanpa peroleh ijin dari yang bersangkutan berarti orang yang hendak mendekati tempat itu harus bersiap- siap menerima gempuran.

Rupanya Phang Thian hua sendiri pun sudah melihat keadaan Coat pin taysu yang tidak beres, ia segera mengangguk "silahkan to heng"

Manusia berbaju hitam yang menghadang di tengah jalan itu serentak menyingkir ke samping memberi jalan lewat. Dengan langkah lebar Ui Yap cu melangkah masuk ke dalam arena dan mendekati Coat pin taysu, begitu sampai dia langsung menghantam punggung pendeta itu keras-keras.

Ketika itu Coat pin taysu sudah kehilangan kontrol karena panik dan sedihnva, gaplokan dari Ui Yap cu persis di atas jalan darah Mia bun hiat nya ini seketika menyadarkan kembali pikirannya.

"To heng" Ui Yap cu segera menegur. " Kitab pusaka Tat mo ie cin keng itu asli atau palsu?"

"Kitab Tat mo ie cin keng yang asli..." jawab Coat pin taysu sedih, tangannya yang menggenggam sisa kitab itu kelihatan gemetar Mimik mukanya yang semula layu dan loyo tiba-tiba saja berubah jadi bersemangat kembali, sepasang matanya memancarkan sinar yang tajam menggidikkan setelah memandang sekejap para jago dalam arena, ujarnya keras-keras: "Hari ini lolap (saya) hendak mengumumkan satu kejadian yang nyata, yakni tiga belas bab kupasan dari kitab pusaka Tat mo ie cin keng milik siau lim si telah dicuri orang. Meski sudah lama berita ini beredar dalam dunia persilatan, tapi latar belakang yang sesungguhnya dari peristiwa ini tidak banyak diketahui orang.,."

Perlu diketahui kedudukan Coat pin taysu dalam memimpin ruang Tat mo wan di kuil siau lim si sesungguhnya hanya setingkat di bawah kedudukan seorang ketua partai, dengan sendirinya apa yang dia ucapkan amat berbobot sekali, serentak para jago mendengarkan dengan serius.

Namun Coat pin taysu tidak meneruskan kata-katanya lagi meski telah disinggung setengah jalan, ia seperti teringat akan sesuatu kejadian yang berat danpenting hingga merasa kurang leluasa untuk melanjutkan kata- katanya.

seseorang dengan nada dingin segera menegur: "Hey hweesio tua, kalau mau bicara, katakan secara gagah, apalagi kau sudah menyinggung setengah bagian, kenapa tidak kau lanjutkan?"

orang yang barusan berbicara adalah seorang kakek berjenggot putih yang memakai baju warna hijau, meski gagah dan keren namun amat asing wajahnya dan selama ini belum pernah dikenal olehnya. Dengan kening berkerut pendeta tua itu pun berkata:

"Ucapan sicu memang benar. setelah terlanjur kusinggung memang sepantasnya bila kuterangkan lebih jauh, tapi berhubung ada sesuatu dan lain hal aku tidak berniat lagi untuk menjelaskan masalah ini, Hanya satu hal yang dapat kutegaskan di sini adalah kitab Tat mo ie cin keng yang terbakar ini benar-benar adalah kitab asli milik kami yang tercuri" suasana kembali berubah jadi gempar dan ramai sekali setelah penjelasan itu di-berikan, para jago merasa terkejut, kegaduhan pun muncul di sana sini.

Tiba-tiba Phang Thian hua membentak keras "Harap kalian tenang, dengarkan dulu berapa patah kataku"

Para jago yang sedang gaduh seketika berubah menjadi tenang kembali.