-->

Pedang Keadilan I Bab 41 : Lolos Dari Bahaya Kebakaran

 
Bab 41. Lolos Dari Bahaya Kebakaran

Ternyata tumpukan kayu bakar di sekeliling tempat itu telah menenggelamkan sama sekali barisan bambu yang terbentuk di situ, bahkan tumpukan kayu bakar itu amat teratur dan rapi sehingga bila dilihat dari luar, siapa pun tak akan menyangka kalau dibalik tumpukan kayu bakar itu masih ada sebuah barisan bambu.

Ketika Lim Han Kim mencoba menghitung tumpukan kayu bakar itu, jumlahnya ternyata mencapai ribuan pikul. ini berarti harus ada ratusan orang yang mengerjakannya dalam semalam untuk menyelesaikan tugas tersebut, apa lagi berapa li di sekitar tempat itu tak ada penghuninya. Tidak diketahui dari mana pemilik bunga bwee bisa mendapatkan kayu bakar sebanyak itu dalam semalam, dari sini bisa disimpulkan bahwa pemilik bunga bwee memang bukan tokoh sembarangan.

Tampak tumpukan kayu itu tiba-tiba bergerak dua orang manusia berbaju hitam munculkan diri seraya berkata: "silahkan kalian berdua masuk ke dalam barisan melalui pintu ini."

Dandanan dua orang manusia berbaju hitam inipun sangat aneh, kecuali berpakaian serba hitam, wajah pun dikerudungi kain hitam.

Lim Han Kim segera berpikir " Kalau memasuki tumpukan kayu bakar itu bukankah berarti mengantar diri masuk perangkap.?"

sementara dia masih berpikir, Pek Si Hiang telah mengayunkan langkahnya masuk ke balik tumpukan kayu, terpaksa Lim Han Kim mengikuti di belakang tubuhnya,

Di balik tumpukan kayu bakar itu terdapat sebuah jalan setapak yang terbuat dari tonggak kayu, lebarnya hanya tiga depa dan cuma muat untuk dua orang yang berjalan berbareng, setelah melewati empat lima buah tikungan dan berjalan sejauh enam tujuh kaki sampailah mereka di tepi barisan bambu.

Mendadak Pek Si Hiang menghcntikan langkahnya seraya berkata seolah berbisik "Jalan darah Han locianpwee telah ditotok orang, setelah bebaskan totokannya bawa dia masuk ke dalam barisan. situasi saat ini amat kritis dan berbahaya, setiap saat mereka dapat melepaskan api untuk membakar kita semua, jadi lebih baik jangan bertindak secara sembarangan-"

Lim Han kini segera menoleh ke sisi barisan bambu itu, betul juga tubuh Han si-kong tampak tergeletak di tepi barisan itu dalam keadaan tertotok jalan darahnya, Maka ia segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk membebaskan totokan di tubuh orang tua itu.

Han si kong menghembuskan napas panjang sambil membuka matanya, setelah memandang Lim Han Kim lama sekali dengan pandangan termangu, dia gelengkan kepalanya berulang kali sambil mengeluh: "Yaa... sudah, sudahlah, kali ini aku si monyet tua benar-benar telah dipecundangi orang."

"Locianpwee jangan panik atau gelisah, mari kita masuk ke dalam barisan dulu baru berbicara," ajak Pek Si Hiang, "Hiang-lan dan siok-bwee berdua "

" Kenapa mereka?" tanya Lim Han Kim terkejut. "Mereka sudah ditawan orang?" sambung Pek Si Hiang.

"Benar," jawab Han si-kong sambil bangkit berdiri "Mereka telah ditawan dua orang manusia berbaju merah. Aaai... Aku benar-benar tak becus, hanya melindungi kedua orang bocah perempuan itu pun tak mampu."

"Apakah kedua orang itu meninggalkan pesan?" tanya Lim Han Kim gelisah bercampur cemas.

sebelum Han si- kong menjawab, Pek Si Hiang telah menyela: "Kita bicara di dalam barisan saja"

Dengan langkah cepat dia masuk dulu ke dalam barisan, Keadaan barisan bambu itu tetap seperti sedia kala, selain tertutup oleh tumpukan kayu bakar sehingga sukar melihat keadaan di luar, segala sesuatunya masih tetap seperti sedia kala.

Barisan bambu itu berdiripada tanah seluas empat kaki persegi Ternyata anak buah pemilik bunga bwee telah menggunakan kekuatan tali temali untuk membuat sebuah barak seluas empat kaki persegi dalam semalam saja, bahkan tumpukan kayu bakar di sekitar tempat itu begitu tebalnya membuat cahaya matahari sukar menembus masuk. Lim Han Kim memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu ujarnya: "Pekerjaan semacam ini benar-benar luar biasa, Apabila tali temalinya kurang kokoh sehingga putus satu saja, maka kita pasti akan mati tertimbun kayu- kayu itu atau paling tidak akan luka berat"

"Menurut pandanganku, satu-satunya kesempatan bagi kita untuk hidup adalah berusaha menerjang keluar dari tempat ini," kata Han si- kong.

"Kayu yang mereka tumpuk di sekitar tempat ini terdiri dari bahan-bahan kering yang mudah terbakar," kata Pek Si Hiang, "Cukup sebuah obor rasanya sudah dapat mengubah tempat ini menjadi lautan api. Agaknya pemilik bunga bwee telah memperhitungkan kemungkinan bagi kita untuk meloloskan diri dari sini, maka ia hanya membuat sebuah jalan penghubung yang dibangun sengaja berliku-liku. "

Han si kong menghela napas panjang, selanya: "Aku sudah hidup cukup lama, sekalipun mereka akan membakar tempat ini termasuk diriku, aku tak menyesal harus mati Kalian berdua masih muda, terlalu sayang rasanya bila kalian harus duduk pasrah di tempat ini sambil menunggu kematian-"

"Apa bila mereka bermaksud membunuh kita, aku rasa mereka tak perlu membuang banyak waktu dan tenaga untuk membentuk keadaan seperti ini," kata Pek Si Hiang. "Justru mereka berbuat begini tak lain karena hanya ingin menggertak kita, supaya kita ketakutan"

" Kenapa dia harus menakut-nakuti kita?" tanya Han si- kong tidak habis mengerti. Pek Si Hiang tersenyum.

"sebab pemilik bunga bwee terlalu memandang berat kemampuan kita, menganggap kita sebagai musuh tangguh, maka ia baru mengerahkan anak buahnya untuk melakukan kesemuanya ini guna menghadapi kita."

sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka telah tiba dipusat barisan bambu itu.

Pek Si Hiang periksa sekejap sekeliling tempat itu, setelah melihat bahwa segala sesuatunya tak berubah, ia baru duduk sambil katanya: "Dia tak ingin kita melibatkan diri dalam pertikaian tersebut, sehingga merusak semua rencananya, maka dia sengaja menawan kedua orang dayangku dan menumbukkan banyak sekali kayu bakar di seputar tempat ini, tujuannya tak lebih hanya ingin menakut-nakuti kita."

"Bila berbicara dari situasi semalam," kata Lim Han Kim. "Apabila dia berniat mencelakai kita, hal itu bisa dilakukan tanpa bersusah payah, tak perlu dia membuang banyak tenaga danpikiran untuk menyiapkan segala sesuatunya ini." "Walaupun pemilik bunga bwee telah mendapat kemenangan mutlak dalam kejadian semalam, meski jiwa kita beberapa kali sudah terjatuh ke dalam genggamannya, namun aku duga ia sendiripun merasa amat tidak tenang."

" Kenapa?"

"Gampang saja. Ketika ia menerima laporan dari anak buahnya pertama kali, dia sudah memandang kita sebagai musuh tangguh. Tapi setelah bertemu muka dan melihat kemampuan kita tak seberapa, ia telah memandang enteng diri kita. sampai dia bertaruh denganku, sekali lagi dia menilai tinggi kemampuan kita, sungguh tak nyana gertak sambalku cuma bisa bertahan sementara waktu, Bagi aku yang tak pernah belajar silat, begitu jarum emas pada jalan darahku dicabut, akupun jatuh tak sadarkan diri Waktu itu meski aku tak tahu apa yang telah dia lakukan terhadap diriku, tapi bisa kuduga ia tentu berusaha mencobaku secara diam-diam, saat itulah dia baru tahu kalau aku benar-benar tak mengerti ilmu silat, Di satu pihak dia telah berjanji sendiri kepada kita, dipihak lain dia pun merasa kita tak berguna karena setiap saat dapat membunuh kita secara gampang, maka ia baru memutuskan untuk membebaskan kita berdua "

setelah menghembuskan napas panjang, tambahnya seraya tertawa: "Mungkin sekarang ia sudah mulai menyesal" "Dari mana nona bisa tahu?"

"Jikalau pemilik bunga bwee tidak merasa menyesal, dia tak akan mengirim orang untuk mengawasi gerak gerik kita."

"Jadi nona Pek sudah tahu akan hal ini?"

Kembali Pek Si Hiang tertawa, "Tentu saja sudah kulihat, pemilik bunga bwee memang pintar tapi ada kalanya diapun pikun, rupanya dia tak bisa menduga apa sebabnya tiba-tiba aku jatuh pingsan, setelah dicoba beberapa kali dan ternyata aku memang tidak berpura- pura, ia jadi teringat dengan kekalahannya di tanganku malam itu, timbul perasaan tak puasnya .

Namun bagaimana pun juga ia memang memiliki kemampuan yang luar biasa. ia sengaja melepaskan kita dengan maksud menyelidiki rahasia kita secara diam- diam, maka ketika aku sadar dari pingsan tadi, tatkala kejernihan pikiranku belum pulih kembali aku telah menyuruh kau menusuk jalan darahku dengan jarum emas, Aku pikir rahasiaku ini pasti sudah dilaporkan orang yang mengawasi kita secara diam-diam itu kepadanya "

"Aaai. seharusnya aku pun dapat berpikir sampai di

situ," ucap Lim Han Kim sambil menghela napas panjang. Pek Si Hiang tertawa manis. "Kau tak perlu menyesali diri sendiri," katanya, "Anggaplah kejadian itu memang nasib, lihat saja perkembangannya nanti, Moga-moga keadlan tersebut malah bermanfaat bagiku."

"Waah... aku jadi semakin tak paham dengan kata- kata mu ini" seru Lim Han Kim.

"Yaa, aku pun makin mendengar semakin bingung," sambung Han si- kong.

"Kecerdasan pemilik bunga bwee mungkin jauh melebihi kemampuanku, mungkin juga apa yang kubayangkan tidak benar"

"Terhadap kemampuan nona dalam memecahkan setiap masalah, kami sudah kagum luar biasa, Nona tak usah merendahkan diri lagi. "

"Pemilik bunga bwee terlalu memandang tinggi kemampuannya. Ketika ia melihat semangatku tiba-tiba bangkit kembali setelah jalan darahku ditusuk jarum emas, maka ia akan berusaha mencari jawaban dari kejadian itu. Asal pikirannya bercabang artinya kita telah memberi satu peluang bagi para jago yang hadir dalam perjamuan tengah hari nanti untuk tetap hidup."

"Tapi ia kan bisa menyingkirkan dulu masalah tersebut untuk sementara waktu. " ucap Lim Han Kim. "Apabila kemampuan pemilik bunga bwee sepuluh kali lipat lebih hebat dari kemampuanku, mungkin ia bisa singkirkan pikiran tersebut sementara waktu. Kalau kemampuannya sepuluh kali lipat di bawah kemampuanku, ia pun bisa membuang jauh-jauh pikiran ini, tapi aku duga saat ini ia pasti sedang gundah karena memikirkan persoalan ini."

setelah berhenti sejenak dan menengok dua orang itu sekejap. terusnya: "Kejadian ini dapat mengakibatkan dua keputusan, susahnya aku tak dapat menduga secara pasti apa keputusan yang bakal terjadi, itulah sebabnya aku hendak mohon bantuan dari kalian berdua."

"Kalau berbicara tentang pengalaman dan pengetahuan dalam dunia persilatan, mungkin aku bisa memberikan saran-sarannya..." kata Han si- kong sambil mengelus jenggotnya,

"Entah dua keputusan macam apa yang kau maksudkan?" kata Lim Han Kim pula.

"Andaikata ia menguasai ilmu pertabiban maka tidak sulit baginya untuk menduga bahwa fungsi tusukan jarum emas itu tak lebih hanya merangsang munculnya tenaga simpanan si penderita, Namun ilmu semacam ini tidak pernah tercantum dalam ilmu silat, jadi meskipun dia menguasai segala macam aliran ilmu silat, tak mungkin kepandaian tersebut diketahuinya bila dilacak lewat jalur ilmu silat." "Lalu apakah keputusannya yang kedua?"

"Keputusan kedua berkisar seandainya dia tak mengerti ilmu pertabiban sebagai seorang tokoh silat yang tinggi hati, terlalu percaya diri dan tak mau mengakui kekalahan sendiri, ia tentu akan mencari alasan lain guna menjaga martabat serta harga dirinya."

"Alasan apa pula yang bisa ia temukan?"

"Ia bisa saja beriagak sok pintar, mengira kita sedang menggunakan akal muslihat untuk menipunya dan sengaja bersandiwara di hadapannya "

"Ehmmm, sangat beralasan, sangat beralasan "

komentar Han Si-Kong sambil manggut-manggut. Pek Si hiang menghela napas panjang.

"Aaaai. seandainya benar begitu, posisi kita saat ini

jadi sangat berbahaya " katanya.

Han Si-Kong membelalakkan matanya, tiba-tiba ia menepuk kepala sendiri sambil serunya: "Keteranganmu ini semakin membingungkan aku. Bila pemilik bunga bwee benar-benar mengira nona sedang menggunakan akal untuk menipunya dan tidak mengetahui latar belakang yang sebenarnya, bukankah hal ini semakin menguntungkan kita?"

"Yang kuharap adalah ia mengerti sedikit tentang ilmu pertabiban, tapi tidak begitu memahami tentang penggunaan jarum emas untuk membangkitkan tenaga. Dengan demikian ia tentu akan memutar otak habis- habisan untuk memecahkan teka teki ini. Bila sampai begini, pasti pikirannya terpecah dalam pertemuan puncak tengah hari nanti.

Secara otomatis kesempatan hidup para jago dari kolong langit pun semakin besar, sebaliknya bila ia menganggap semua yang kuperbuat hanya tipu muslihat untuk menipunya, aku kuatir ia tak akan menggubris diri kita lagi, akibatnya semua pikiran dan perhatiannya akan tercurahkan untuk menghadapi para jago dalam pertemuan puncak tengah hari nanti,"

"Aaai... Kemampuan nona benar-benar jauh di atas kemampuanku" kata Han Si-Kong sambil menghela napas, "setelah mendengar penjelasanmu ini, aku baru betul-betul paham."

"Ada satu hal yang masih belum kupahami, harap nona sudi memberi petunjuk." sela Lim Han kim.

"Aku tahu, bukankah kau ingin bertanya kepadaku mengapa kita harus mengantar diri masuk perangkap dengan memasuki lagi barisan bambu yang telah dikurung tumpukan kayu bakar ini?"

"Betul, memang soal itulah yang ingin kutanyakan" "sederhana sekali alasannya, Aku ingin pemilik bunga bwee mempunyai dugaan yang keliru tentang langkah kita ini, Aku memang sengaja mengatur agar dia mengira kita sudah masuk perangkap sehingga tidak menaruh perhatian lagi untuk mengawasi gerak gerik kita "

"Dalam keadaan dan situasi sekarang ini, kenyataannya kita memang benar-benar sudah masuk perangkap. jadi ia tak usah menduga-duga lagi, semuanya telah menjadi kenyataan," sela sang pemuda,

" inilah yang disebut mencari kehidupan dari jalan buntu, Kelihatannya saja kita sudah masuk perangkap, padahal dalam kenyataannya kesempatan hidup bagi kita justru jauh lebih besar bila kita memasuki perangkap ini dibandingkan seandainya kita tetap berada di luar."

"Tampaknya nona sudah mempunyai persiapan yang matang dalam hal ini?" tanya Han Si-Kong.

"Meskipun memang ada jalan, tapi tidak menjamin pasti berhasil sepenuhnya."

Diam-diam Lim Han kim berpikir "Kini posisi kita sudah terjebak. mati hidup menjadi tanda tanya, kesempatan untuk lolos pun sangat minim, tapi nona ini masih sesumbar, ingin kulihat akal bagus apa yang telah dipersiapkannya " sementara itu Han Si-Kong telah berkata lagi: "Nona, waktu bagi kita saat ini sangat berharga, Bila kau ada akal bagus, kami siap untuk membantu."

"Kita harus pancing mereka agar membakar tumpukan kayu-kayu bakar ini lebih dulu."

"Membakar kayu itu untuk bunuh diri?" komentar Lim Han kim.

"Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin akal ini kusebut mencari kehidupan dari jalan kematian?"

Han Si-Kong memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya: "Tumpukan kayu bakar ini amat mudah terbakar dan lagi meliputi daerah seluas berapa kaki persegi. Bila api mulai berkobar, maka kebakaran yang terjadi pasti luar biasa hebatnya. Aku rasa kecil harapan bagi kita untuk meloloskan diri..."

"Pendapat kalian berdua memang betul, tapi seandainya kita sudah bersembunyi di atas barak ketika kebakaran itu mulai ter-jadi, kemudian di saat kebakaran makin menghebat kita melompat ke belakang kompleks kuburan Liat-hu-bong dan bersembunyi di balik semak belukar Dalam kondisi kacau balau lantaran kebakaran tersebut, anak buah pemilik bunga bwee yang ditugaskan menjaga sekeliling tempat ini pasti panik dulu sebelum sempat memikirkan tentang kita, dan lagi dengan terjadinya kebakaran ini maka kita bisa memaksa para jago yang akan hadir dalam pertemuan puncak tengah hari ini untuk lebih meningkatkan kewaspadaannya "

Kemudian setelah menghembuskan napas panjang, terusnya: "Apabila kita dapat menawan pula tiga orang anak buah pemilik bunga bwee yang ditugaskan mengawasi sekitar tempat ini, kita bisa gunakan pakaian mereka untuk menyusup ke dalam barisan mereka, dengan begini bukankah gerak gerik kita jadi lebih leluasa lagi. "

"Yaa, aku mengerti maksudmu," kata Lim Han kim. "Dengan mengenakan pakaian ketiga orang anak buah pemilik bunga bwee, kita bisa menyusup dan berbaur di antara mereka "

"Betul" Pek si hiang tertawa. "sebagian besar anak buah pemilik bunga bwee mengerudungi wajahnya dengan kain hitam. Keadaan semacam ini sangat membantu penyusupan kita dalam barisan mereka."

Lim Han kim segera mengalihkan perhatiannya ke atap barak yang dibangun di atas tumpukan kayu bakar itu, ia menilai ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sekarang masih mampu mencapai atap tersebut dalam sekali lompatan, maka ujarnya: "Berbicara dari situasi sekarang, aku rasa siasat mencari hidup dari jalan kematian yang nona terapkan memang paling tepat Baiklah, kita laksanakan sesuai rencana." sambil menghimpun tenaga dalamnya ia segera melejit ke tengah udara, lalu sambil berpegangan pada sebatang ranting kering, ia berjumpalitan naik ke atap barak tersebut

"Kau harus berhati-hati," pesan Pek si hiang, "Perhatikan pohon-pohon besar di sekeliling tempat itu, mungkin pemilik bunga bwee telah menempatkan jagonya untuk mengawasi kita dari tempat tersebut"

Lim Han kim manggut-manggut, dari sakunya ia mengeluarkan pedang jin-siang-kiam lalu sekali tebas, kutunglah kayu bakar tersebut Pedang ini terbuat dari campuran baja dan emas, jauh berbeda dengan senjata biasa, Bukan saja amat tajam, pedang biasa pun dapat dikutunginya, apalagi dipakai untuk memotong kayu bakar sekarang, tentu saja pekerjaan ini mudah sekali.

sesudah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, sambil tertawa Pek si hiang berkata: "Barak itu kuat sekali, kita tak perlu kuatir kalau sampai roboh, sekarang kita bisa mulai membuat tongkat-tongkat api"

Di mulut Han Si-Kong tetap membungkam diri, sedang dalam hati pikirnya: "Apa itu tongkat api..? Meski masih muda usia bocah perempuan ini, namun akalnya sungguh banyak. "

Tampak Pek si hiang mengumpulkan banyak sekali rumput kering yang mudah terbakar dari sekeliling tumpukan kayu bakar itu, lalu sambil tertawa katanya: "Locian-pwee, bagaimana kalau kau relakan bajumu untuk dirobek?"

semula Han Si-Kong agak tertegun, kemudian ia robek baju sendiri dan diberikan kepada gadis itu.

oleh Pek si hiang robekan baju itu dibuatnya menjadi tiga lembar sumbu kain, setelah itu katanya lagi: "Apakah locianpwee membawa korek api?"

"Barang itu merupakan perbekalan penting bagi orang yang berkelana dalam dunia persilatan, tentu saja aku selalu mempunyai persediaan." Diambilnya korek api dari saku dan segera disodorkan kepada nona itu.

Pek si hiang meletakkan korek api itu diujung sumbu kain yang kini terikat menjadi satu sumbu yang panjang itu, kemudian meletakkannya di dekat tumpukan rumput kering tadi, setelah itu ujarnya sambil tertawa: " Lebih kurang satu jam kemudian, api itu sudah akan mulai membakar tumpukan rumput kering itu. "

"Nona, kau jarang berkelana dalam dunia persilatan, tapi kemampuanmu ternyata jauh lebih hebat ketimbang aku si tua bangka yang sudah kawakan mengembara ini." "Sekarang pekerjaan kita tinggal satu, Locianpwee, tolong kumpulkan rumput-rumput yang masih basah dan tumpukkan ke mari."

Han Si-Kong tahu, gadis ini banyak akal dan cerdik, maka tanpa banyak bertanya, ia kumpulkan seikat rumput basah dan ditumpukkan di sana.

"Sekarang tambahkan rumput kering dan ranting- ranting kayu yang mulai terbakar itu di sekelilingnya," pinta Pek si hiang.

Han Si-Kong menurut saja dan segera melaksanakan, tak lama kemudian api pun mulai berkobar

"Sekarang tutupkan rumput-rumput basah itu di atas kobaran api, dengan cara begini kita dapat menciptakan asap yang cukup tebal untuk mengaburkan pandangan orang."

seperti baru memahami persoalan tersebut Han Si- Kong segera berseru: "Aaah, masa pekerjaan segampang ini pun tidak terpikirkan olehku sejak tadi. "

seperti yang diperintahkan, ia tutup kobaran api itu dengan rerumputan basah. Tak selang beberapa saat kemudian asap tebal telah menyelimuti seluruh angkasa.

Pada saat itu Lim Han kim telah merobek atap barak itu dan menurunkan seutas tali yang terbuat dari kain untuk menarik tubuh Pek si hiang naik ke atas. ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Han Si-Kong cukup sempurna, apalagi ada tali kain sebagai pegangan, dengan mudah ia dapat mencapai atap barak tersebut dengan selamat.

Waktu itu paras muka Pek si hiang sudah berubah jadi merah padam karena hawa panas yang membara, asap yang tebal membuat air matanya bercucuran, sambil merebahkan diri dalam pelukan Lim Han kim, katanya: "Coba kau melongok ke bawah, bila tebalnya asap sudah bisa melindungi jejak kita, cepatlah kabur dari tempat ini, aku sudah tak tahan untuk batuk.,.,"

Lim Han kim segera melompat ke bawah, melihat asap tebal telah menyelimuti hampir seluruh permukaan tanah, ia pun berbisik: "Kita bisa berangkat sekarang juga"

Dengan membopong tubuh Pek si hiang ia segera melompat turun dari atap barak tersebut.

sisi barak itu berdempetan dengan kuburan Liat-hu- bong. sejak semula Lim Han kim juga telah memperhatikan situasi di sekelilingnya, maka sekali lompat ia sudah turun dari barak dan menyusup masuk ke balik semak belukar di sisi kuburan Liat-hu-bong itu.

Han Si-Kong menyusul di belakangnya kabur pula ke dalam semak lebat di sisi kuburan, sebagaimana diketahui, rumput ilalang yang tumbuh di sisi kuburan Liat-hu-bong itu tingginya melebihi dada manusia dewasa, maka begitu mereka bertiga menyusup ke dalam semak tersebut, tubuh mereka pun segera lenyap tertelan rumput ilalang.

Sambil mengatur napasnya yang ter-engah-engah, Pek Si hiang berbisik pelan: "sekarang coba perhatikan, adakah orang yang melihat jejak kita?"

Lim Han kim melongok keluar, ia saksikan belasan orang manusia berbaju hitam sedang berlarian ke sana ke mari dengan gugup dan panik, jelas mereka gelagapan menghadapi perubahan yang tak diduga ini sehingga kalang kabut dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

"Bagaimana?" tanya Pek si hiang cemas.

"Ada banyak orang yang berlarian mengitari barak tersebut, tapi tidak kuketahui apa maksudnya?"

"Huuuh.,. Kalau begitu masih mendingan" seru Pek si hiang sambil menghembuskan napas panjang. "jelas mereka tidak melihat jejak kita, Dengan mengenakan kain kerudung muka sesungguhnya pandangan mereka sudah terganggu, ditambah lagi asap tebal yang menyelimuti angkasa, Hal ini membuat pandangan mereka makin kabur hingga tidak melihat jejak kita. Aaai... Memang beginilah kejadian di dunia ini, ada untungnya tentu ada sisi ruginya pula, pemilik bunga bwee membiarkan anak buahnya memakai kain kerudung muka dengan maksud agar indentitasnya tertutup dan menciptakan suasana aneh dan seram bagi yang melihat, tapi justru memberikan peluang yang sangat baik bagi kita sekarang.

Coba kalau mereka tidak memakai kain kerudung, jangkauan pandangan mereka tentu lebih luas, siasat kita mencari kehidupan dari jalan kematian ini pun tak bakal lolos dari pengamatan mereka, Kini kita tinggal satu langkah lagi untuk mencapai keberhasilan tapi juga merupakan langkah yang paling penting, yaitu bagaimana cara kita menawan tiga orang musuh."

"Anak buah pemilik bunga bwee rata-rata memiliki ilmu silat yang sangat tangguh, bukan pekerjaan gampang bagi kita untuk menawan mereka hidup, hidup," kata Lim Han kim.

"Kau bisa melepaskan senjata rahasia?" tanya Pek si hiang sambil tersenyum.

"Meskipun aku bisa melepaskan senjata rahasia namun tidak mempunyai keyakinan bisa membuat mereka pingsan dalam sekali gempuran, Kalau sampai terjadi begitu, bukankah jejak kita malah akan ketahuan?" "Mari kuajarkan satu cara melepaskan senjata rahasia yang cukup tangguh"

Lim Han kim cukup mengetahui kemampuannya dalam hal ilmu silat sehingga sedikitpun tidak merasa ragu, tanyanya: "Cara baru macam apa itu?"

"llmu menusuk jalan darah dengan jarum emas "

Dari dalam sakunya ia mengeluarkan beberapa batang jarum emas, lalu sambil menunjuk ke atas jalan darah di tubuhnya ia meneruskan: "Asalkan jarum emas yang kau sambit tepat mengenai beberapa buah jalan darah yang kutunjuk ini, sang korban pasti akan segera jatuh tak sadarkan diri, tapi bila jarum itu dicabut maka orangnya akan segera sadar, dengan cara ini tidak sulit bagimu untuk menawan beberapa orang dari mereka "

"Aku takut bidikanku tidak mengenai sasaran secara tepat " Lim Han kim tetap ragu.

"Kalau begitu mari kita coba dulu," sambil berkata Pek si hiang menyodorkan jarum emas itu ke tangan Lim Han kim.

"Bagaimana cara kita mencoba?"

" Cobakan pada tubuhku" sambil berkata Pek si hiang pejamkan matanya rapat-rapat. Han Si-Kong segera memprotes: "Tidak boleh, nona amat lemah dan sedang sakit, mana boleh tubuhmu dijadikan kelinci per- cobaan? Lebih baik aku saja yang mewakili diri nona menjadi kelinci percobaan."

"Tapi. " Lim Han kim tetap ragu, keningnya berkerut,

"Aku kuatir tusukanku tak tepat, bagaimana kalau sampai melukai locianpwee?" Han Si-Kong sebera tertawa.

"Tidak apa-apa, aku yakin masih sanggup menahan tusukan tersebut"

" Kalau begitu cepat turun tangan" seru Pek si hiang sambil tersenyum, "Kita sudah tak punya banyak waktu lagi."

secara ringkas tapi jelas ia mewariskan cara melepaskan jarum emas itu kepada Lim Han kim.

sesaat kemudian pemuda itu pun ber-seru: " Hati- hati saudara Han"

"Tidak a "

Belum selesai perkataan itu diucapkan,

Han Si-Kong sudah roboh terjungkal tak sadarkan diri. sambil tertawa Pek si hiang segera memuji:

"sasaranmu amat tepat, aku rasa cukup mampu untuk menghadapi musuh" Lim Han kim segera mencabut keluar jarum emas itu dari tubuh Han Si-Kong, katanya: "Tapi jarak seranganku barusan kan dekat sekali, ditambah pula saudara Han berdiri tak bergerak. "

" Kalau memang tidak terlalu yakin, lebih baik jangan mengharapkan sasaran yang luar biasa, ketika melepaskan serangan nanti, cukup asal bisa mengenai tubuh lawan"

"Yaa, betul" sambung Han Si-Kong sambil melompat bangun, "sekarang kita sudah terperangkap dalam kepungan musuh, kau tak usah sungkan-sungkan lagi, laksanakan saja dengan penuh keyakinan"

"Baiklah, harap saudara Han melindungi keselamatan nona Pek. jika dalam sepenanakan nasi aku belum balik ke mari, saudara Han juga tak usah menghadiri pertemuan puncak para jago lagi, tunggulah sampai pertemuan itu selesai kemudian ajak nona Pek kabur dari tempat berbahaya ini."

"Bila kau menuruti ajaranku dengan melepaskan jarum emas tersebut sesuai petunjukku tadi, aku tanggung sasaranmu tak akan meleset sesungguhnya ilmu senjata rahasia itu merupakan sejenis ilmu langka yang sangat tangguh.

Nanti kalau kau bisa menawan musuh dan kembali ke sini dengan selamat, akan kuajarkan lagi dua macam ilmu lain yang lebih hebat, kutanggung kau bakal menjadi ahli senjata rahasia yang tiada tandingannya di kolong langit" Lim Han kim hanya tertawa hambar, ia segera bergerak meninggalkan tempat itu.

Memandang hingga bayangan tubuh Lim Han kim lenyap dari pandangan, Peksi hiang baru berpaling ke arah Han Si-Kong sambil berkata: " Locianpwee dapat mengembara selama puluhan tahun dalam dunia persilatan, aku duga ilmu silatmu pasti hebat sekali bukan?"

"Aaaai, kalau dibicarakan benar-benar memalukan sekali, ada pepatah mengatakan: jago tangguh muncul di saat muda, aku sudah tua sekarang, sudah tak berguna lagi. "

"Tapi ada juga pepatah yang mengatakan: jahe semakin tua semakin pedas, aku rasa locianpwee tak perlu merendah."

"Tidak, aku tidak merendah, aku bicara sejujurnya." " Kalau memang begitu, bagaimana kalau kuajarkan

tiga jurus ilmu silat kepadamu?"

"Aaaah, masa aku harus merepotkan nona?" "Tak perlu sungkan-sungkan, Mumpung ia belum

kembali ke sini, mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk belajar ilmu, dengan begitu kita tak usah menunggu dengan perasaan harap-harap cemas "

setelah berhenti sejenak, terusnya: "Meskipun ilmu silat ini hanya terdiri dari tiga jurus, namun daya kekuatannya mengerikan sekali, ilmu ini disebut tiga jurus penghancur bukit sejenis ilmu pukulan yang maha ampuh."

"Tiga jurus penghancur bukit?" Han Si-Kong tercengang,

"Betul Zaman dulu ada seorang pendeta sakti yang terluka karena dibokong orang, ia disekap dalam sebuah goa. siapa tahu dalam kurungan tersebut bukan saja ia dapat menyembuhkan luka sendiri, bahkan bisa meloloskan diri dengan menjebol dinding gua, padahal mulut goa disumbat dengan batu raksasa ribuan kati beratnya.

Nah, ketiga jurus serangan itu tak lain adalah jurus serangan yang digunakan pendeta tersebut untuk menjebol dinding gua tempo dulu, Dulu ilmu ini disebut ilmu pukulan menghancur batu, kemudian diganti menjadi tiga jurus penghancur bukit."

"Yaa rasanya aku pun pernah mendengar kisah

cerita tersebut, hanya tidak se-jelas apa yang nona Pek ceritakan sekarang. Boleh aku tahu siapa nama pendeta itu?" " Waktu yang tersedia bagi kita sekarang amat terbatas, yang penting kita bicarakan dulu tentang ilmu silat, Bila kau ingin mendengar kisah-kisah semacam ini, aku masih mengetahui banyak sekali, lain hari kita bisa lanjutkan."

setelah menghembuskan napas panjang, tanpa menanti Han Si-Kong bicara ia telah melanjutkan "Kunci utama dari tiga jurus ilmu penghancur bukit ini adalah harus mampu menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya ke dalam telapak tangan sewaktu melepaskan pukulan, . . . "

Mendadak Han Si-Kong menempelkan ujung jarinya di atas bibir, kemudian bersiap sedia melancarkan serangan.

Ternyata ada seorang manusia berbaju hitam lewat di sekitar tempat persembunyian mereka menuju ke belakang kuburan

Tampaknya Pek si hiang ingin secepatnya mewariskan ketiga jurus ilmu penghancur bukit itu kepada Han Si- Kong, begitu melihat orang itu sudah pergi jauh, ia segera melanjutkan "setiap orang yang pernah belajar silat tentu tahu bagaimana caranya menghimpun seluruh tenaga dalamnya ke dalam lengan Dalam kenyataannya, tenaga yang berhasil terhimpun dalam lengan mereka itu masih ada batas-batasnya. Nah, ketiga jurus ilmu penghancur bukit ini justru lain daripada yang lain ia bisa mengerahkan seluruh cadangan tenaga yang dimilikinya ke dalam lengan, otomatis serangan yang dilancarkan pun luar biasa dahsyatnya. sekarang aku akan menurunkan dulu cara menghimpun tenaga, setelah itu baru kuajarkan jurus serangannya."

Han Si-Kong sudah tak ragu lagi atas kemampuan gadis tersebut, dengan serius katanya: "Aku mengucapkan terima kasih banyak atas petunjukmu ini."

Pek Si hiang tidak berbasa-basi lagi, setelah tertawa hambar ia mulai mewariskan sim hoat tenaga dalam dan cara menghimpun tenaga kepada Han Si-Kong.

Aliran ilmu tersebut memang jauh menyimpang dari kebanyakan ilmu silat yang ada, selain dapat membangkitkan cadangan tenaga dalam tubuh, cara yang digunakanpun. berbeda.

Pek si hiang cerdik dan hebat, ia tahu bila semua tujuan dan makna dari jurus silat itu diterangkan satu persatu kepada Han Si-Kong, maka pekerjaan ini tak bakal selesai dalam waktu singkat, sekalipun ia dapat menerangkan secara jelas, belum tentu kakek itu mampu menerima seutuhnya, maka yang diajarkan sekarang adalah cara yang praktis.

sebaliknya bagi Han Si-Kong sendiri, walaupun kepandaiannya jauh di bawah kemampuan Lim Han kim, namun dengan pengalamannya puluhan tahun berkelana dalam dunia persilatan serta pengetahuannya yang cukup luas, ini dapat membantu untuk menutup kekurangannya dalam kecerdasan. Tak sampai sepenanakan nasi kemudian Han Si-Kong sudah dapat mengingat semua pelajaran tersebut.

Pada saat itulah semak di sekeliling tempat itu bergerak. lalu tampak Lim Han kim muncul di situ.

"Bagaimana hasilnya?" Pek si hiang sebera menegur. "Untung aku berhasil mencopot tiga buah pakaian-

salah satu di antaranya agak kurus kecil, mungkin cocok dengan perawakan nona."

"Bagus sekali, cepat bagikan pakaian tersebut dan segera kita kenakan, waktu sudah tak banyak."

Lim Han kim sodorkan pakaian itu, kemudian katanya: "saudara Han, mari kita menyingkir dulu, biar nona Pek berganti pakaian."

"Tidak usah" potong Pek Si hiang sambil tersenyum, "Berdiri saja menghadap ke arah lain dan jangan mengintip, aku hanya akan melepas pakaian luarku saja."

Dua orang itu menurut dan segera berpaling ke arah lain, Dengan cepat Pek Si hiang berganti pakaian-

Han Si-Kong serta Lim Han kim- juga tukar pakaian mereka dengan seperangkat baju ringkas berwarna hitam, wajah mereka pun ditutup dengan kain kerudung hitam.

Setelah siap semua, baru Pek Si hiang berkata: "Kita tak tahu kode rahasia apa yang mereka gunakan untuk mengadakan kontak, maka hati-hati dalam tindak tanduk nanti Lebih baik jangan mengambil prakarsa sendiri sehingga rahasia identitas kita tidak sampai terbongkar"

"Kita ikuti saja semua arahan nona," kata Han Si- Kong.

"Kalau begitu ingat baik-baik. Setiap saat kalian harus berada bersamaku, kita harus menimbulkan kekacauan dalam pertemuan puncak para jago yang dilangsungkan tengah hari nanti, agar rencana pemilik bunga bwee untuk membantai para jago dari kolong langit mengalami kegagalan total."

Lim Han kim menghela napas panjang, tiba-tiba ujarnya: "Nona Pek, ada satu urusan aku ingin tanyakan kepadamu, kalau disimpan terus dalam hati rasanya tidak leluasa "

"Kalau begitu cepat katakan Kita harus secepatnya tinggalkan tempat ini."

"Apa benar antara pemilik bunga bwee dengan para jago dari kolong langit terikat dendam kesumat yang luar biasa, Kalau tidak, kenapa dia harus menyiapkan siasat jahat int untuk mencelakai mereka?",

"Bila kita dapat menemukan alasannya, maka tak sulit bagi kita untuk memahami asal usul pemilik bunga bwee "

Bicara sampai di situ, ia segera menyingkirkan rerumputan dan pelan-pelan berjalan menuju ke luar. Lim Han kim segera berebut berjalan di depan Pek si hiang untuk membuka jalan.

setelah keluar dari rerumputan, mereka bertiga saksikan asap tebal telah menyelimuti seluruh angkasa, puluhan orang manusia berbaju hitam dengan senjata terhunus melakukan pengawasan di sekeliling tempat itu. Ternyata tak seorang pun di antara mereka berniat memadamkan api.

"Kita terlambat selangkah," bisik Pek si hiang, sambil berkata ia sebera belok menuju ke selatan.

Kompleks kuburan Liat-hu-bong yang sepi kini berubah menjadi ramai sekali, puluhan orang lelaki berbaju putih bekerja keras menyiapkan meja dan membersihkan debu, Rupanya ada lima puluhan meja berwarna merah telah disusun rapi di bawah pepohonan yang rindang. Kawanan manusia berbaju putih itu tidak mengenakan kain kerudung muka, tapi dilihat dari gerak geriknya seperti tidak mengerti ilmu silat, jadi rupanya mereka bukan anak buah pemilik bunga bwee.

Waktu itu kira-kira sudah pukul tujuh pagi, selain pekerja berbaju putih serta puluhan lelaki berpakaian ringkas yang melakukan penjagaan di sekitar tempat itu, tak nampak orang lain yang hadir di situ, Mendadak tampak seorang lelaki kekar berjalan menghampiri mereka sambil menegur: " Kalian bertiga berasal dari utusan yang mana? Apakah datang untuk melaksanakan perintah?"

"Aduh celakai" pikir Pek si hiang dalam hati, "seharusnya aku dapat menduga bahwa pemilik bunga bwee tak akan mengutus orang-orang berkerudung yang berdandan aneh untuk menyambut kedatangan para jago dari kolong langit "

sementara berpikir, dengan mengubah suaranya menjadi parau sahutnya: "Kami datang atas perintah nona siau-cui"

"Kaiian adalah utusan dari nona siau-cui?" seru lelaki itu tertegun-

"Boleh hamba tahu apa pesannya?" sikap maupun gerak geriknya tiba-tiba berubah jadi sangat hormat.