-->

Pedang Keadilan I Bab 40 : Lolos Dari siasat Wanita Cantik

 
Bab 40. Lolos Dari siasat Wanita Cantik

Dalam keadaan antara sadar dan tidak itulah Lim Han- kim meneguk habis semangkuk kaldu penyadar mabuk yang terbuat dari cincangan daging ikan leihi emas itu.

Tak lama kemudian rasa mabuk yang mengaburkan pikiran serta kesadarannya itu hilang lenyap tak berbekas.

sekarang pemuda itu dapat melihat dengan jelas pemandangan di hadapan matanya.

Tampak seorang gadis berbaju merah sedang memandangnya dengan senyuman manis menghiasi ujung bibirnya. Tangan kirinya masih memegang sebuah mangkuk kosong, sedang di tangan kanannya memegang sendok.

Tiba-tiba saia muncul rasa malu dalam hati kecilnya, lamat-lamat ia teringat bahwa ia telah disuapi gadis tersehut menghabiskan semangkuk kaldu tadi. Mendadak cahaya bianglala yang terpancar keluar dari ketujuh buah lentera itu mulai berputar dengan kencangnya, Lalu terdengar suara seseorang yang merdu dan halus bergema tiba: "Apakah Lim siangkong sudah sadar dari mabuknya?"

Cahaya bianglala yang amat menyilaukan mata itu mempengaruhi daya pandang Lim Han-kim, saat itu ia cuma bisa mendengar kalau suara teguran itu berasal tak jauh dari sana, tapi ia tak bisa memastikan di manakah orang itu berada.

Terdengar gadis berpakaian keraton di sisinya menyahut dengan hormati "Lim siangkong telah menghabiskan semangkuk kaldu ikan leihi emas, kini kesadarannya telah pulih sama sekali."

"Ikan leihi emas?" pikir Lim Han-kim. "itu kan sejenis ikan yang mahal sekali.kenapa ia sudi memberikan semangkuk kaldu semahal itu untuk menyadarkan mabukku?"

sementara ia masih termenung, suara gadis tadi kembali bergema: "Kalau memang sudah sadar dari mabuknya, cepat gantikan pakaian yang dikenakan."

Tergerak hati Lim Han-kim mendengar ucapan itu, pikirnya: "Bagus sekali, entah hinaan apa lagi yang hendak mereka perbuat terhadapku.,.? Hendak menggantikan pakaianku?" Terdengar gadis berbaju model keraton itu menjawab dengan suara halus: "Cici tak usah kuatir, kami telah menggantikan pakaiannya."

"ooh aku lupa, rupanya enci siau-cui yang memimpin tugas malam ini. Tahu kau yang bertugas, aku tak usah repot- repot untuk bertanya lagi." seru suara di kejauhan itu sambil tertawa merdu.

Gadis berbaju keraton itu tertawa pula: "Aaah... cici tak perlu memuji, siau-cui sudah sepantasnya melaksanakan semua tugas ini." Lim Han-kim merasa amat terperanjat pikirnya: "Sejak kapan mereka telah menggantikan pakaian yang kukenakan? Kenapa aku tidak merasakan sama sekali?"

Ketika diperiksa, betul juga. Pakaian berwarna putih yang semula dikenakan kini telah berganti dengan sebuah pakaian berwarna merah. Tiba-tiba ia merasa kepalanya agak berat. Ketika diraba, entah sejak kapan ternyata ia pun sudah mengenakan sebuah kopiah mutiara.

pada saat itu cahaya lentera yang berputar kencang itu makin lama berputar makin cepat, kini seluruh ruangan telah terbias oleh panca warna yang menyilaukan mata, Lim Han-kim mencoba melihat sekeliling tempat itu, ia merasa di sekeliling tubuh nya seolah-olah telah berdiri banyak orang, Mereka semua mengenakan pakaian model keraton dan terdiri dari gadis-gadis muda yang cantik jelita.

Timbulperasaan bimbang di hati kecilnya, ia tak bisa menduga lagi apa yang sesungguhnya telah terjadi, tak tahan ia segera menegur: "Nona siau-cui. "

"Tak perlu ditambah dengan sebutan nona, cukup memanggil siau-cui saja " sela gadis berbaju keraton itu

sambil tertawa,

"Sebenarnya apa yang telah terjadi? siapa yang telah menggantikan pakaianku?" siau-cui tertawa.

"Mana ada rumah semacam ini di dunia ini dan siapa pun susah untuk menerangkan tempat macam apakah ini, anggap saja sebagai suatu impian yang akan meninggalkan kenangan manis "

Kini kesadaran Lim Han-kim telah pulih sama sekali, mendadak ia bangkit berdiri dan mencoba melepaskan kopiah mutiara dari atas kepalanya. Dengan perasaan terkejut siau-cui menegur: "Mau apa kau?"

"Aku hendak melepaskan kopiah mutiara ini dan melepaskan jubah merah yang kukenakan, aku ingin pulih dalam dandanan asliku"

"Jangan, sebentar lagi majikan akan muncul di sini. Bila kau lepaskan jubah merah itu dan lepaskan juga kopiah mutiara, maka tindakanmu ini sama artinya menolak untuk bertemu dengannya, Bila kau tak bisa bertemu dengan majikan kami maka jangan salahkan majikan kalau akan mengingkari janjinya kepadamu"

Lim Han-kim tertegun seketika, segera pikirnya: "Benar juga perkataan ini, tampaknya pemilik bunga bwee memang tak ingin bertemu dengan orang lain, Bila aku lewatkan kesempatan baik ini, maka sukar diramalkan apakah di kemudian hari aku bisa bertemu lagi dengannya. Kini nasib Pek Si-Hiang masih menjadi tanda tanya, kalau aku tak bisa bertemu dengan Pemilik bunga bwee, mungkin orang-orang lain tak bisa menjelaskan kepadaku bagaimana nasibnya sekarang "

Berpikir sampai disitu akhirnya dia menghela napas dan pelan-pelan duduk kembali.

Tiba-tiba gadis berbaju keraton yang bernama siau cui itu berbisik dengan suara lirih: "Sungguh beruntung kau bisa bertemu muka dengan majikan kami, apa sih salahnya untuk bersabar menunggu sesaat lagi"

suatu rasa gusar yang tak tersalurkan dengan cepat menyelimuti dada Lim Han-kim, begitu selesai mendengar bisikan itu kontan serunya ketus: "Sebetulnya majikanmu itu manusia atau bukan?"

siau cui tercengang, kemudian tegurnya serius: "Hei, hati-hati kalau bicara " Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh: "Apabila di dunia ini benar-benar ada dewi, maka majikan adalah dewi dari kahyangan"

Kembali Lim Han-kim merasa hatinya tergerak sambil mengendalikan hawa amarah nya yang berkobar, pikirnya: "Ilmu sihir apa yang telah digunakan Pemilik bunga bwee untuk mengendalikan anak buahnya,..? sungguh heran, kenapa orang-orang itu bersikap begitu normat kepadanya...?"

sementara ia termenung, cahaya lentera yang berputar kencang itu tiba-tiba berhenti berputar, pemandangan dalam ruangan itupun secara lamat- lamat dapat terlihat jelas.

Ternyata tempat itu merupakan sebuah ruang tamu yang sangat lebar. selain tujuh buah lentera berwarna warni di sekeliling ruangan, di situ tersedia pula tiga buah meja kayu berbentuk segi tiga, setiap meja dilapisi kain telapak meja dari sutera, hanya pada meja di tengah terdapat sebuah pot bunga berwarna putih dengan sekuntum bunga bwee tertancap di tengahnya.

Dua meja yang lain terlihat kosong, kini ia duduk seorang diri pada sebuah meja yang lain-

Empat lima orang gadis berbaju warna warni berdiri berjajar di belakang tubuhnya. samar-samar terendus bau harum yang menyegarkan dari bunga bwee putih di tengah meja itu.

Tiba-tiba berkumandang suara irama musik yang lamat- lamat bergema tiba dari kejauhan sana. siau cui segera berbisik: "Lim siangkong, majikan segera akan tiba, bila berjumpa dengan beliau nanti, kuharap kau bersikap lebih hormat"

Ketujuh buah lentera berwarna warni itu seketika padam semua, suasana dalam ruangan pun berubah jadi gelap gulita sukar untuk melihat kelima jari tangan sendiri

Diam-diam Lim Han-kim mengumpat: "sialan,.. lagaknya saja sok rahasia... dianggapnya dengan cara begitu orang jadi takut"

Belum habis ingatan itu melintas lewat, kembali terpercik cahaya api dalam ruangan itu, Empat orang gadis berdandan model keraton dengan masing-masing membawa sebuah baki kemala berjalan masuk ke dalam ruangan-

Di atas baki- baki kemala itu terletak sebuah tempat lilin terbuat dari emas dengan sebatang lilin berwarna merah, Ca-haya api memancar dari lilin warna merah itu menerangi seluruh ruangan tersebut. Di belakang keempat orang gadis itu menyusul delapan orang bocah perempuan yang masing-masing membawa sebatang hio wangi. Bau kayu dupa yang harum menyengat hidung segera memenuhi seluruh ruangan itu.

Keempat gadis pembawa lilin itu segera menyebarkan diri setibanya dalam ruangan dan berdiri mengelilingi ketiga buah meja kayu beralaskan kain sutera tadi, sedang kan kedelapan bocah perempuan pembawa dupa itu segera meletakkan dupa-dupa wangi itu di tengah ketiga buah meja tadi.

Dalam sekejap mata asap wangi yang memancar keluar dari dupa-dupa itu menyelimuti seluruh ruangan- semakin tajam bau harum dupa yang terbakar itu, semakin kabur pula suasana dalam ruangan tersebut karena asap putih yang menggumpal. saat itulah terdengar seseorang berseru nyaring: "Majikan telah tiba"

Keempat batang lilin itu padam seketika membuat suasana kembali dalam kegelapan Tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat memasuki ruangan ini.

Lim Han-kim mencoba pejamkan matanya untuk menyesuaikan diri dengan suasana gelap dalam ruangan itu, kemudian ia mencoba menengok ke depan, Di belakang dua buah meja tersebut kini telah bertambah dengan sesosok bayangan manusia.

Waktu itu hanya cahaya lirih dari kedelapan buah dupa yang terbakar saja yang menerangi ruangan.

Berbicara dari kemampuan tenaga dalam yang dimilikl Lim Han Kim sekarang, meski hanya andalkan cahaya lirih dari kedelapan buah dupa wangi itu pun sebenarnya ia masih sanggup melihat jelas wajah serta dandanan orang itu, tapi berhubung asap dupa itu membentuk kabut tebal di sekeliling tempat tersebut maka pandangan Lim Han Kim jadi kabur kendatipun jarak antara meja yang satu dengan lainnya amat dekat.

Terdengar orang itu menegur dengan suara dingin: "Kau ingin bertemu denganku?"

Lim Han Kim segera menangkap suara itu berasal dari meja disebelah kanan, ia segera berpaling, lamat- lamat ia dapat menangkap seraut wajah yang amat cantik dari orang itu. Maka ia segera memperkenalkan diri: "Aku bernama Lim Han Kim"

"Sudah kuketahui nama mu"

"Jadi nona adalah Pemilik bunga bwee?" "Betul"

Lim Han Kim mendehem berulang kali, ia merasa mempunyai banyak persoalan yang ingin ditanyakan namun untuk sesaat dia pun tak tahu bagaimana harus mulai bertanya.

Terdengar suara dingin tadi kembali ber-gema: "Kalau ada persoalan cepat utarakan, aku tak punya banyak waktu untuk menunggu"

Walaupun di hati kecilnya Lim Han Kim ingin bertanya tentang banyak hal, namun satu-satunya yang paling mencemaskan hatinya sekarang adalah keselamatan Pek Si-hiang, maka ia pun bertanya: "Boleh aku tahu di manakah nona yang datang bersamaku itu sekarang?"

"Dia baik sekali, sehat walafiat tanpa kekurangan apa pun, cuma saat ini kau belum boleh bertemu dengannya."

"Kenapa?"

"Walaupun aku telah menganggap kalian sebagai tamu agungku, namun aku tidak berniat mempertemukan kalian berdua, walaupun nona Pek itu cerdik orangnya sayang dalam taruhannya denganku tadi ia lupa menambahkan satu syarat lagi yaitu melarang aku memisahkan kalian berdua selama menjadi tamu kehormatanku"

"Asal aku sudah tahu bahwa ia sehat walafiat tanpa kekurangan sesuatu apa pun, hatiku sudah lega sekali" "Dan sekarang kau sudah tahu bukan?" seru pemilik bunga bwee itu tetap dengan suaranya yang dingin.

"Agaknya ia sudah mengusir tamunya Mumpung masih ada kesempatan untuk bertemu dengannya, pelbagai masalah yang mencurigakan hatiku harus kutanyakan dulu sampai jelas," pikir Lim Han Kim dalam hati.

setelah mendehem beberapa kali dia pun bertanya: " orang berbaju hitam yang kujumpai di ruangan pertemuan tadi benarkah adalah dirimu?"

"Anggap saja memang aku. Asal kau sudah tahu bahwa di sini benar-benar ada seorang pemilik bunga bwee, itu sudah cukup sekali dan tak perlu mengetahuinya lebih jelas lagi."

setelah melalui waktu yang cukup lama untuk menyesuaikan diri dengan suasana di situ, daya pandangan Lim Han Kim sekarang sudah lebih jelas, Dengan kemampuannya kini ia dapat melihat pakaian warna gelap yang dikenakan pemilik bunga bwee, diapun dapat melihat sarung tangan yang dipakai perempuan itu.

Ia tidak mengenakan topeng di wajahnya sehingga samar-samar dapat terlihat dengan jelas wajahnya yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan. Terdengar Pemilik bunga bwee menegur dengan suara dingin: "Dengan Cara memandang seperti ini, tentunya kau dapat melihat wajahku dengan jelas sekali bukan?"

"Asap tebal menyelimuti sekitar tempat ini, bagaimana mungkin aku bisa melihat wajahmu dengan jelas sekali?"

"ltu sudah lebih dari cukup bagimu, sebagai orang yang belum bergabung dengan perguruan bunga bwee, terhitung susah sekali bisa melihat wajahku macam dirimu sekarang."

"Baiklah, kita tak usah memperbincangkan soal ini, ada beberapa masalah yang ingin aku tanyakan kepadamu?"

"Cepat katakan, paling banyak kita cuma mempunyai waktu sepeminuman teh untuk berbincang-bincang . "

"Apa dendam dan permusuhan para jago dari kolong langit dengan dirimu, kenapa kau harus menghadapi mereka dengan cara begini?"

"Bagaimana aku menghadapi mereka?"

" Kenapa kau menyelenggarakan perjamuan di kuburan Liat-hu-bong untuk menjamu para jago dari seluruh kolong langit? sebenarnya apa maksud dan tujuanmu?" "Banyak sekali alasan di balik persoalan ini, sekarang aku tidak mempunyai banyak waktu untuk menjelaskan kepadamu."

"Tolong tanya apa kedudukanku sekarang di tempat ini?"

"Tamu agungku"

"sebagai tamu agung, apakah aku mempunyai hak untuk bergerak secara leluasa di tempat ini?"

"Tentu saja"

Tiba-tiba Lim Han Kim bangkit berdiri, katanya: "Aku mengucapkan banyak terima kasih atas perlakuan dan penyambutanmu terhadapku selama ini"

sambil berkata, pelan-pelan ia berjalan mendekati tempat duduk pemilik bunga bwee.

siau-cui yang berdiri di belakangnya segera menggerakkan tangannya menekan bahu Lim Han Kim sambil katanya: "Antara lelaki dan perempuan ada batasnya. Kendatipun kau termasuk tamu agung kami, toh tempat ini penuh dengan perempuan, lebih baik jangan berjalan ke sana ke mari semaunya sendiri"

Lim Han Kim dapat merasakan kelima jari tangan siau- cui yang menekan bahunya itu sangat kuat dan berat, bahkan letak ujung jarinya persis di atas tiga buah jalan darah penting di bahunya itu sehingga susah baginya untuk bergerak lagi.

sambil tertawa dingin teriaknya: "Ternyata cara pemilik bunga bwee melayani tamunya begini kasar dan tak tahu sopan santun-"

Pemilik bunga bwee termenung beberapa saat, katanya kemudian: "siau-cui, lepaskan dia Coba kita lihat mau apa dia?"

"Budak terima perintah," sahut siau-cui sambil melepaskan tekanannya pada bahu pemuda itu.

"Lim Han Kim" kata pemilik bunga bwee kemudian, "Aku telah melayanimu secara istimewa, bila tindak tandukmu kelewatan sehingga melangkahi peraturan pcrguruan bunga bwee kami, jangan salahkan kalau aku tidak menganggapmu sebagai tamu agung lagi dan menjatuhkan hukuman mati kepadamu"

Lim Han Kim mendengus dingin, "Aku bukan anggota perguruan bunga bwee kalian, tentu saja aku tak perlu mentaati peraturan dari perguruanmu"

Diam-diam hawa murninya dihimpun ke dalam telapak tangannya lalu pelan-pelan didorong ke muka. Meskipun gerakan mendorong ini dilakukan sangat lamban tapi karena mengandung tenaga dalam yang sangat kuat, maka begitu angin pukulan menggulung keluar, asap tebal yang menyelimuti sekeliling tempat itu pun segera tergulung menepi, pemandangan di hadapan mata pun jadi teramat jelas.

Ketika Lim Han Kim menengok ke depan, ia segera menyaksikan seraut wajah cantik yang diliputi rasa gusar sedang mengawasinya tanpa berkedip.

Hanya sedikit asap tebal itu membuyar untuk segera menggumpal kembali, wajah cantik yang diliputi rasa gusar tadipun seketika tertutup kembali oleh asap tebal itu. pelbagai kecurigaan segera bermunculan dalam benak Lim Han Kim, pikirnya: " Kalau dilihat dari bentuk wajah itu, jelas dia adalah seorang gadis muda yang amat cantik, mungkinkah pemilik bunga bwee yang terkenal akan kejam dan buasnya itu hanya seorang gadis muda yang jelita?"

seorang gadis muda yang cantik jelita ternyata sanggup mengendalikan banyak sekali jago lihai dunia persilatan yang rata- rata menyembunyikan jati dirinya, peristiwa macam ini benar-benar sukar diterima dengan akal sehat.

sayang sekali Pek Si Hiang yang cantik dan pandai memecahkan masalah tidak hadir di situ, Coba kalau gadis tersebut ada disini, banyak persoalan yang aneh dan tak terpecahkan itu segera akan diperoleh jawabannya secara tepat. "Lim Han Kim, kau sudah melihat dengan jelas?" tegur pemilik bunga bwee kemudian.

"Meskipun hanya sepintas lalu namun cukup meninggalkan kesan yang mendalam di benakku."

"Kau harus memikirkan dulu secara teliti dan jelas sebelum menjawab semua pertanyaanku"

" Kenapa?"

"Rejeki dan bencana masuknya tanpa pintu, melainkan oranglah yang mencarinya. Bila kau salah menjawab pertanyaanku kemungkinan besar kau bisa mati karena hukuman mati, sebaliknya jika kau menjawab secara tepat, maka kemungkinan besar kau akan kuantar meninggalkan tempat ini dengan selamat Kau tak perlu putar otak untuk membuat keputusan, jangan sampai gara-gara sok pintar akhirnya terjebak oleh kepintaranmu sendiri, Asal kau bersedia menjawab sejujurnya sekalipun akhirnya kau kuhukum mati, kau bisa mati tanpa menyesal."

"Aku datang kemari karena disambut sebagai tamu agung, jadi seandainya sampai terjadi bentrokan, aku tak bakal menyerahkan diri tanpa melawan-"

Mendadak pemilik bunga bwee tertawa terkekeh- kekeh, katanya: "Apakah kau beranggapan bahwa kepandaian silat yang kau miliki sangat hebat?" "sekalipun kemampuanku hanya mampu menandingimu satu jurus saja, aku tak akan takut dan mundur."

"Ehmmm, kau hebat sekali. " puji pemilik bunga

bwee setelah tertegun sesaat.

Kemudian setelah berhenti sejenak kembali katanya: "sekarang aku hendak mulai bertanya kepadamu,"

"silahkan saja bertanya."

"Misalnya kita berjumpa lagi di tempat lain, apakah kau masih mampu mengenali diriku?"

Lim Han Kim berpikir seb entar, lalu jawabnya: " Kalau kau masih tetap mengenakan pakaian seperti ini, tentu saja aku dapat mengenali kembali dirimu."

"Apa sih warna pakaian yang kukenakan sekarang?" "Biru tua atau mungkin hitam pekat" sampai lama

sekali pemilik bunga bwee berpikir, kemudian ujarnya dingin: "seandainya kita berjumpa lagi di tempat lain, meskipun kau belum tentu dapat mengenali diriku lagi, tapi dalam benakmu mungkin sudah tertinggal kesan yang mendalam sekali tentang diriku. Bila tempat perjumpaan kita bersuasana tenang dan hening, kemudian kuberi waktu kepadamu untuk berpikir lagi dengan seksama, mungkin kau dapat segera teringat kembali pada diriku?" "Perkataanmu itu memang tepat sekali."

"Tahukah kau apa akibatnya bagi mereka yang pernah menyaksikan wajah asliku?"

"Entahlah. "

"Hanya dua jalan yang bisa kau pilih" "Dua jalan yang mana?"

"Yang pertama adalah jalan kematian, sedang jalan kedua adalah bergabung dengan perguruan bunga bwee serta simbol bunga bwee di atas jidatnya."

Lim Han Kim segera meloloskan pedang pendeknya seraya berseru: "Buat seorang lelaki sejati, lebih baik hancur lebur dari pada menyerahkan diri menjadi budak orang. Aku bersedia melangsungkan pertarungan melawanmu"

"Baiklah" kata pemilik bunga bwee sambil tertawa dingin, "Akan kusaksikan, benarkah tubuhmu terbuat dari besi baja yang tahan diuji."

Lim Han Kim menarik napas panjang, pedangnya dituding ke muka siap melancarkan serangan, Serunya: "Kau boleh segera turun tangan-"

Pelan-pelan pemilik bunga bwee bangkit berdiri, katanya kemudian sambil mengulapkan tangannya: "Kalian boleh pergi dari sini." Menyusul derap kaki yang menjauh tak selang berapa saat kemudian suasana dalam ruangan itu telah pulih kembali dalam keheningan yang luar biasa, begitu heningnya sampai tak kedengaran Sedikit suara pun-

Lim Han kini pusatkan seluruh perhatiannya pada ujung senjatanya Begitu pemilik bunga bwee melancarkan serangan, maka dia akan membalas dengan sepenuh tenaga.

Entah berapa saat sudah lewat, suasana tetap hening, sepi, tak kedengaran sedikit suara pun- tangan Lim Han kini yang tegang mulai basah karena keringat, tubuhnya juga mulai gemetar karena menahan emosi.

sebaliknya pemilik bunga bwee tetap berdiri tak bergerak seperti sebuah patung batu,

sambil menyeka peluh yang membasahi wajahnya Lim Han Kim menegur: " Kenapa kau belum turun tangan?"

Pemilik bunga bwee tertawa dingin mendadak ia mengulapkan tangannya menyulut sebuah obor, Ruangan yang gelap gulita tiba-tiba terbetik oleh sekilas cahaya yang membuat suasana di situ menjadi terang dan jelas.

Di bawah cahaya api Lim Han Kim dapat melihat seraut muka yang cantik jelita bak bidadari yang turun dari kahyangan, Rambutnya yang panjang terurai di atas bahu, alis matanya panjang bagai semut beriring, matanya bulat besar teramat jeli, bibirnya yang kecil mengulumkan senyuman yang menawan.

Ketika para dayang mengundurkan diri dari ruangan tadi, mereka telah padamkan dupa wangi di atas meja, dengan begitu asap yang menyelimuti- ruangan pun makin lama semakin tipis dan menghilang akhirnya, otomatis wajah cantik gadis itu pun dapat terlihat makin lama semakin bertambah jelas dan nyata.

Lim Han Kim menghembuskan napas panjang, pujinya dalam hati: "Benar-benar seorang gadis yang amat cantik"

Terdengar pemilik bunga bwee menegur lagi dengan suara dingini "sudah kau lihat dengan jelas wajahku?"

"Yaa, sudah jelas sekali."

"Bila kau tidak melihat dengan jelas, matimu akan penasaran sekali. "

Mendadak Lim Han Kim teringat kembali akan Pek Si Hiang, nona yang lemah berpenyakitan itu hanya berumur berapa bulan saja. Dalam kondisi seperti itu seharusnya ia menikmati sisa hidupnya dengan penuh gembira, tapi kenyataannya gadis itu justru melibatkan diri dalam kancah kekalutan dunia persilatan, ini membuktikan betapa luhur-nya dan betapa besarnya jiwa gadis itu.

Terdengar pemilik bunga bwee berkata lagi: "sekarang kau telah melihat dengan jelas sekali, selanjutnya apa yang harus kau lakukan?"

"Harus bagaimana? Aku tidak tahu."

Mendadak pemilik bunga bwee mengerutkan dahinya sambil berseru: "Coba kauperhatikan sekali lagi wajahku"

Lim Han Kim benar-benar mendongakkan kepalanya dan mengawasi wajah gadis itu lekat-Iekat. Tapi begitu dipandang pemuda itu kontan merasakan peredaran darah dalam tubuhnya bergolak keras, ia merasa gadis itu memiliki daya tarik yang luar biasa membuat napsunya amat terangsang, sehingga tanpa sadar lagi pedangnya diturunkan kembali ke bawah.

"Sekarang kau tentu sudah mengerti bukan?" tanya pemilik bunga bwee itu lembut.

Bagaikan orang kesetanan Lim Han Kim membuang pedangnya ke atas tanah lalu dengan mata terbelalak lebar ia terjalan mendekati gadis itu sambil bergumam: "Aku mengerti... aku mengerti. "

Tiba-tiba cahaya api itu padam, suasana dalam ruangan pun pulih dalam kegelapan. Ternyata obor yang dibakar telah habis hingga apipun otomatis padam sendiri

Pikiran dan kesadaran Lim Han Kim yang mulai memudar itu seketika menjadi jernih kembali, ia segera menghentikan langkahnya,

Terdengar pemilik bunga bwee dengan suaranya yang lembut, halus dan merangsang kembali bergema: " Kenapa kau tidak mendekati aku..?"

Di balik seruan itu seakan-akan mengandung daya sembrani yang luar biasa, Lim Han Kim merasakan hatinya bergetar keras, hampir saja ia menuruti seruan gadis tersebut untuk berjalan menghampirinya. Tapi pada akhirnya ia dapatjuga mengendalikan diri dan tetap berdiri tegak di tempat semula.

situasi seperti itu berlangsung selama sepeminuman teh lamanya, suasana tetap hening.

Akhirnya sambil tertawa dingin pemilik bunga bwee berseru: "Kau cukup hebat, ternyata mampu bertahan sampai detik terakhir "

Kali ini di balik nada suaranya yang penuh rangsangan, terkandung juga nada ketus, dingin yang menggidikkan

sesungguhnya dalam hati Lim Han Kim sudah terjadi gejolak perasaan yang luar biasa, suatu dorongan napsu yang aneh membuatnya hampir saja menubruk tubuh nona itu....

Kejadian ini memang sangat kebetulan, seandainya Lim Han Kim tidak teringat akan Pek Si Hiang yang lemah penyakitan pada detik terakhir sehingga memecahkan perhatiannya dan pada detik itu juga obor yang berada di tangan pemilik bunga bwee telah habis terbakar, mungkin anak muda ini sudah terpengaruh oleh kecantikan wajah gadis itu serta menubruk tubuhnya yang ramping.

Dari balik kegelapan kembali terdengar suara pemilik bunga bwee yang dingin: "Sejak terjun ke dalam dunia persilatan, kau adalah satu-satunya lelaki yang mampu bertahan dari pengaruhku, imanmu sungguh tebal dan kuat Tapi. walaupun aku sangat kagum kepadamu,

justru kemampuanmu ini telah menimbulkan niatku untuk membunuhmu. "

Pelan-pelan Lim Han Kim dapat menjernihkan kembali pikiran dan kesadarannya dari pengaruh jahat, katanya: "Aku percaya kau memiliki kemampuan untuk membunuhku meskipun sejak kecil aku mulai belajar silat dan selama belasan tahun berlatih tanpa berhenti. sekalipun pada akhirnya aku harus mati terbunuh, aku hanya akan salahkan diriku sendiri yang belajar tak benar hingga mati pun tak perlu disesalkan, tapi nona Pek hanya seorang nona yang lemah tak bertenaga, aku rasa bukan pekerjaan yang sukar bagimu untuk membunuh seseorang yang belum pernah belajar silat macam dia."

"oooh, kau sedang mintakan ampun baginya?" tanya pemilik bunga bwee sambil tertawa dingin.

"Membunuh seorang gadis tidak memiliki kekuatan untuk melawan bukan perbuatan seorang gagah."

"sampai detik ini kalian masih menjadi tamu agungku, sekalipun aku hendak membunuh kalian, tak akan kulakukan sekarang "

sesudah berhenti sejenak. kembali katanya: "Bawa kemari nona Pek dan antar mereka pergi dari sini"

Dari balik kegelapan terdengar suara langkah kaki bergema tiba, tampaknya ada banyak orang yang sedang mondar mandir dalam ruangan itu

Lim Han Kim merasa ada angin berbau harum menerpa hidungnya, lalu terdengar seseorang berseru sambil tertawa merdu: "Majikan telah melanggar kebiasaan, kalian berdua boleh pergi meninggalkan tempat ini."

Lim Han Kim sangat kenal dengan suara itu, tak tahan tegurnya: "Kau adalah siau-cui?"

"Lim kongcu, bagus amat daya ingatmu" "Mati hidupku menjadi masalah nomor dua, nona Pek. "

"Apa yang dikatakan majikan selalu ditepati," tukas sia u-cui cepat, "setelah ia setuju membia rkan kalian berdua pergi dari sini, janjinya pasti ditepati jadi Lim siang-kong tak usah kuatir."

sambil mengeluarkan sebuah sapu tangan hitam katanya lagi: "Sebelum mengantar kalian berdua pergi dari sini, mata kalian mesti dikerudung dulu, bagaimana menurut pendapatmu?" - setelah berpikir sebentar Lim Han Kim mengangguk: "Baiklah, nona boleh lakukan"

setelah menutup sepasang mata Lim Han Kim dengan kain hitam itu, siau-cui berbisik: "sekarang aku akan mengantar kau pergi dari sini. "

"Bagaimana dengan nona Pek?" siau-cui segera tertawa cekikikan- "Jarang aku melihat ada kekasih yang begitu setia macam kau, mati hidup sendiri tidak digubris, justru keselamatan kekasihnya yang dipikirkan terus, Nona Pek benar-benar beruntung punya kekasih macam kau."

Lim Han Kim malas memberi penjelasan atas ucapan tersebut tapi dia pun rikuh untuk bertanya lagi, maka ia biarkan siau-cui menuntunnya pergi meninggalkan tempat itu. Langkah mereka makin lama semakin cepat, angin dingin mulai terasa menerpa badan, rasanya mereka sudah berada di tempat terbuka.

Lebih kurang sepenanakan nasi kemudian tiba-tiba Siau-cui berhenti seraya berkata. "Nah, sudah sampai di tujuan, pedangmu ada di samping badanmu, selamat tinggal. "

Kata terakhir itu kedengaran berkumandang dari berapa kaki jauhnya di depan sana, Lim Han Kim segera melepaskan kain penutup matanya, pandangannya segera terasa terang.

Waktu itu beribu-ribu bintang masih bertaburan di angkasa, tapi dari ufuk Timur sudah mulai tampak secerah cahaya berwarna merah, Agaknya sebentar lagi fajar akan menyingsing, Di kejauhan sana ia saksikan ada sesosok bayangan hitam sedang bergerak menjauh.

Melihat ilmu meringankan tubuh yang begitu sempurna, tanpa terasa Lim Han Kim berseru memuji: "Benar-benar cepat gerakan tubuhnya, padahal dia tak lebih hanya seorang dayang anak buah pemilik bunga bwee.,."

Tiba-tiba terdengar helaan napas sedih berkumandang memecahkan keheningan- Lim Han Kim segera sadar dari lamunan-nya, dia teringat akan Pek Si Hiang. Ketika berpaling, benar juga ia menjumpai seorang gadis yang matanya masih ditutup dengan kain hitam duduk bersandar pada sebatang pohon besar, Buru-buru Lim Han Kim menghampirinya seraya berseru: "Nona Pek. kau..."

Gadis itu memang Pek Si Hiang, sambil menghela napas sela gadis itu: "Aku dalam keadaan baik-baik, cepat bantu aku lepaskan kain hitam penutup mataku."

Lim Han Kim merasa sangat keheranan, pikirnya: "Masa tenaga untuk melepaskan kain penutup mata pun tidak ia miliki...? Aneh benar nona ini. "

Walaupun dalam hati kecilnya timbul banyak persoalan yang mencurigakan namun ia menurut saja untuk membukakan kain penutup matanya, Di bawah pancaran sinar fajar, kelihatan air muka gadis itu pucat pias seperti mayat, bahkan di antara kerutan dahinya tertera jelas rasa lelah yang luar biasa.

setelah menghembuskan napas panjang, gadis itu gelengkan kepalanya berulang kali sambil bergumam: "Betul-betul seorang wanita yang lihai"

" Kau telah bertemu dengan pemilik bunga bwee?" "Ya sudah, sayang kondisi badanku amat lemah saat

itu sehingga tidak banyak latar belakangnya yang

kuketahui" "Kau tampak lelah sekali, lebih baik kita pulang dulu ke dalam barisan untuk beristirahat sebelum membicarakan kembali persoalan ini."

"sudah tak sempat lagi, selisih waktu dari sekarang hingga tengah hari tinggal beberapa jam lagi, kita tak punya waktu lagi untuk beristirahat"

Dari dalam sakunya pelan-pelan dia mengeluarkan dua batang jarum emas, kemudian ujarnya: "Bantulah aku tancapkan dua batang jarum emas itu di atas jalan darah Tiong-teng-hiat dan ki-koan-hiat pada jalur nadi Jin-meh, kita hanya memiliki waktu yang amat singkat."

tangan kanannya yang menggenggam jarum emas itu kelihatan agak gemetar, seolah-olah ia sudah tak sanggup lagi menahan berat beban dari kedua batang jarum emas itu.

Lim Han Kim ragu-ragu sejenak. tapi akhirnya ia sambut juga kedua jarum emas itu dan ditancapkan di atas jalan darah Tiong-teng-hiat dan Ki-koan-hiatnya.

Begitu kedua jarum emas itu menembusi jalan darahnya, keadaan Pek Si Hiang yang sudah loyo dan lemah itu seketika bersemangat kembali, paras mukanya yang semula pucat pias kini muncul semu merah yang segar. Katanya sambil tertawa: "Dia membebaskan kita berapa jam lebih awal, hal ini disebabkan ia menduga kita sudah tak mampu melakukan persiapan lagi dalam waktu yang amat singkat ini untuk memberi perlawanan kepadanya."

"Pemilik bunga bwee benar-benar seorang tokoh yang susah dilawan," gumam Lim Han Kim sedih.

cahaya aneh segera berkilat dari balik mata Pek Si Hiang yang jeli, tegurnya sambil tertawa: "Kau maksudkan ilmu silatnya atau kecantikan wajahnya?"

"Tentu saja ilmu silatnya yang kumaksud, meskipun dia berwajah cantik namun ia selalu menutupi wajah aslinya itu."

"Jadi kau telah bertemu dengannya?" tanya Pek Si Hiang tersenyum.

"Benar, aku telah melihat wajah aslinya, Aaai... selembar wajah yang penuh dengan daya tarik aneh, membuat aku nyaris tak mampu mengendalikan diri"

"Coba beritahu aku lebih cermat lagi," sambung Pek Si Hiang cepat, "Mungkin bisa menambah daya pengenalku terhadapnya jauh lebih matang. Lebih banyak yang kuketahui tentang dirinya, berarti kita lebih ada harapan untuk meraih kemenangan-..." setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh: " jangan kau rahasiakan kisah pengalamanmu kalau bisa ceritakan dengan lebih seksama, ketahuilah selisih sedikit saja bisa berakibat kesalahan yang amat fatal."

"Aku pasti akan bercerita sesungguh-nya," kata Lim Han Kim sambil tertawa hambar

Maka dia pun menceritakan kembali semua pengalamannya dengan serius dan seksama. Pek Si Hiang mendengarkan kisah itu penuh serius, selesai mendengar semua kejadian tersebut ia baru berkata sambil menghela napas: "Ia terlalu percaya diri"

"Walaupun aku belum pernah menyaksikan ilmu silatnya, juga tak berani memastikan apakah orang berbaju hitam yang bertarung melawanku di ruang pertemuan itu dia atau bukan, Bila kutinjau dari ilmu silat yang dimiliki siau-cui, dapat kusimpulkan bahwa dia memang memiliki ilmu silat yang luar biasa, Bila ia tidak memiliki ilmu silat yang maha dahsyat, bagaimana mungkin bisa menguasai begitu banyak jago lihai?" Pek Si Hiang manggut-manggut.

" Kalau dibilang ia cantik, nyatanya dia memang amat cantik, tapi kecantikannya belum cukup memabukkan setiap pria yang bertemu dengannya dalam pandangan pertama .Berarti dia telah menggunakan sejenis ilmu hipnotis untuk mempengaruhi kesadaran orang, Aaai... mungkin saja orang-orang yang rela takluk kepadanya serta rela menjual nyawa kepadanya itu terpikat oleh kecantikan wajahnya."

"Bukankah nona pernah berjumpa dengan nya?" "Yaa, aku memang telah bertemu dengannya," Pek Si

Hiang tertawa, "Mungkin lantaran aku hanya seorang wanita, maka dia tak pernah melepaskan kain cadarnya."

Lim Han Kim menghela napas panjang. "Aaai...jumlah jagoan lihai yang bergabung dalam perguruannya sukar dihitung dengan jari, Dengan kemampuan kita beberapa orang bagaimana mungkin mampu menandinginya, apa lagi waktu sudah amat mendesak. Aku sendiripun belum lama terjun ke dalam dunia persilatan, belum punya pamor maupun kedudukan, perkataanku belum tentu mau

dipercaya oleh para jago dari kolong langit." pelan-pelan Pek Si Hiang bangkit berdiri, katanya

sambil tertawa: "Kalau kita memang tak mampu menandinginya, terpaksa kita semua harus menyerah dan pasrah pada nasib," setelah membetulkan rambutnya yang kusut, tambahnya: "Ia bersedia membebaskan kita berdua, agaknya ia memang tak berniat membunuh kita. Kalau menggunakan kesempatan ini untuk kabur jauh, hidup mengasingkan diri dan tidak menentangnya lagi, mungkin jiwa kita akan selamat sepanjang masa." "Bagi nona, sudah seharusnya kau berbuat demikian, sebagai gadis lemah yang tak berkekuatan, buat apa kau mesti mencampuri kancah pertikaian yang memusingkan kepala ini?"

"Kalau aku pergi, bagaimana dengan kau?"

"Aku sudah melibatkan diri dalam kancah pertikaian ini, mau melepaskan diri pun rasanya sudah tak mungkin, maka aku akan berusaha sekuat tenaga, Bila perlu, aku akan beradu jiwa dengannya."

"Sudah tahu kalau bukan tandingan tapi masih nekad untuk melawan. Aku lihat kendati pun keberanianmu amat mengagumkan, tapi tindakanmu tak lebih cuma pikiran seorang kasar," kata Pek Si Hiang tertawa.

"Yaa, kecuali berbuat begitu, aku tak bisa menemukan cara lain yang lebih baik,"

Pek Si Hiang tertawa enggan, pelan-pelan ia meneruskan langkahnya ke depan, Lim Han Kim mendongakkan kepalanya memperhatikan keadaan di sekeliling sana. Ternyata tempat di mana mereka berada sekarang adalah tepi kompleks kuburan Liat-hu-bong. sambil mengangkat ujung gaun panjangnya tampak Pek Si Hiang berlarian masuk ke dalam hutan.

Dengan perasaan masgul Lim Han Kim menyusul dari belakang, tegurnya: " Kenapa kau lari?" "Mari kita tengok keadaan Han locian-pwee serta barisan bambu yang kubuat, kita periksa apakah keadaan masih seperti semula?"

Lim Han Kim merasa banyak persoalan timbul dalam benaknya saat itu, maka ketika dilihatnya Pek Si Hiang lari dengan terburu-buru, ia pun tidak banyak bertanya lagi namun mengikuti terus dari belakang.

saat itu matahari sudah terbit, apa yang tertera di hadapan Lim Han Kim segera membuat anak muda itu tertegun, Barisan bambu yang semula dibentuk di sana, kini sudah lenyap. seluruh keadaan kuburan Liat-hu-bong telah berubah bentuk,