Pedang Keadilan I Bab 34 : ilmu Barisan Pembendung Musuh

 
Bab 34. ilmu Barisan Pembendung Musuh,

"Mungkin dia mempunyai taktik yang luar biasa."

" Justru di sinilah letak ketidak mengertianku. Kalau toh tak bisa menggunakan racun-lalu dengan cara apa kita bisa menaklukkan pemilik bunga bwee putih itu?"

Lim Han kim mencoba untuk berpikir sejenak, ketika tidak ditemukan juga jawabannya, dia pun berkata: "Dia sangat pintar dan luar biasa, pengetahuannya sangat luas, aku percaya ia pasti menguasai segala macam ilmu barisan. jika kulihat dari ketelitiannya memeriksa keadaan di seputar kuburan raksasa ini, bisa jadi dia bermaksud menggunakan ilmu barisan atau sebangsanya untuk mempermalukan pemilik bunga bwee putih itu."

"Yaa, bisa jadi begitu" seru Han si kong kegirangan "Akupun pernah mendengar orang bercerita tentang kepandaian tersebut Konon si dewa jinsom Phang Thian hua mahir juga dalam bidang ini, diseputar perkampungan pit tim san ceng nya bahkan ditebari pula pelbagai ilmu barisan..."

Mendadak dia berkerut kening, senyum gembira yang menghiasi wajahnya ikut lenyap pula tak berbekas, sambungnya: "Apabila dalam dunia persilatan terdapat banyak jago yang menguasai ilmu tersebut, berarti kepandaian semacam itu sudah tidak terhitung ilmu maha hebat lagi, Kau masih ingat sewaktu kita terjebak dalam barisan air yang diatur perkampungan Lak seng tong?

Aku percaya Hongpo Lan juga menguasai ilmu tersebut, bila semisalnya pemilik bunga bwee juga mahir dalam ilmu ngo heng dan ilmu barisan, bahkan persiapan yang kita buat jadi sia-sia belaka?"

Lim Han kim tertegun, lama kemudian ia baru berkata: "jawaban yang pasti akan segera kita peroleh besok pagi. Apabila nona Pek betul-betul hendak menerapkan ilmu barisan, lebih baik kita tanyakan dulu kemampuannya."

Han si kong tahu Lim Han kim sendiripun tak dapat memberi jawaban yang tepat, karena itu dia tidak banyak bertanya lagi, Matanya segera dipejamkan untuk beristirahat namun dalam hati dia berpikir dan berpikir terus, bagaimana pun ia berusaha tetap sukar untuk menenangkan pikirannya yang kalut itu.

Dengan susah payah dia menunggu sampai mahatari muncul di ufuk Timur, Dengan perasaan tak sabar ia segera menarik Lim Han kim untuk lari masuk ke dalam ruangan batu.

Gadis berbaju putih itu sudah menunggu disitu, ketika melihat kehadiran dua orang itu, sambil tertawa serunya: "Kebetulan sekali kedatangan kalian berdua, kita berangkat sekarang saja"

Han Si kong adalah seorang yang berangasan dan tidak sabaran, tapi orangnya polos lagi jujur. Dia tak pernah bisa menahan diri untuk menyimpan masalah yang mengganjal hatinya. Begitu berjumpa dengan gadis itu, ia langsung menegur: "Nona, apakah kau bermaksud menggunakan ilmu barisan atau sebangsanya untuk menghadapi pemilik bunga bwee?" "Apakah kau kuatir dia pun mahir dalam ilmu barisan sehingga usaha kita sia-sia belaka?" tanya si nona berbaju putih itu sambil tersenyum.

"Betul Aku memang berprasangka demikian"

"Ilmu seperti Hoo kok, pat kwa atau Ngo heng bukan termasuk ilmu langka yang luar biasa, setiap orang yang punya otak dan bersedia untuk mempelajarinya pasti menguasai pengetahuan tentang kepandaian itu."

"Jadi kalau begitu nona tak akan menggunakan ilmu barisan untuk menghadapi pemilik bunga bwee itu.,,."

Gadis berbaju putih itu tertawa, "Aku cuma seorang gadis lemah yang tak pandai main golok atau putar pedang, Jika tidak kupakai ilmu barisan untuk menghadapi pemilik bunga bwee itu, lalu apa yang mesti kulakukan?"

"Apakah nona menduga pemilik bunga bwee itu tidak mengerti ilmu barisan dan ngo heng?"

"Aku rasa bukan saja dia mengerti, bahkan sangat pandai dalam kepandaian tersebut."

Dengan perasaan tertegun Han si kong segera membungkam diri dalam seribu basa, sementara di hati kecilnya ia berpikir. "Ucapan seperti itu bukanlah sama artinya dengan tidak bicara? sudah tahu pihak musuh sangat menguasai ilmu barisan, buat apa kau mengatur ilmu barisan untuk menghadapinya? Bukankah perbuatan semacam ini sama artinya dengan mencari kerepotan sendiri..."

Ketika melihat gadis berbaju putih itu sudah berjalan keluar dari ruangan batu itu menuju ke Utara, Han si kong serta Lim Han kim mau tak mau harus mengikuti dibelakangnya.

Dengan tubuhnya yang begitu lemah tapi harus berjalan di antara sela-sela rumput ilalang, hal ini tampaknya membuat gadis itu sangat menderita dan susah sekali untuk melangkah.

Buru-buru Han si kong menyodorkan tangan kirinya sembari berseru: "Nona, silahkan berpegangan pada tanganku"

sambil berpaling dan tertawa nona itu berseru: "Kau benar-benar sangat baik. "

Han si kong menghela napas panjang, katanya setengah ragu: "Nona, kalau kau sudah tahu pemilik bunga bwee itu justru lantaran dia menganggap dirinya sangat mahir dalam ilmu barisan, maka dia tak bakal memandang sebelah mata pun terhadap ilmu barisan yang diterapkan untuk menghadapinya." "justru karena pandangan remehnya ini dia akan semakin gampang masuk perangkap kita," tukas si nona berbaju putih itu cepat.

Han si kong mendengus dingin, walaupun tidak berbicara namun jelas dia merasa tak puas dengan ucapan gadis itu. Dengan berpegangan pada lengan Han si kong, gerak langkah gadis berbaju putih itu menjadi semakin leluasa, ia segera tertawa hambar setelah mendengar Han si kong mendengus dingin, sambungnya: "Kenapa kau mendengus, apakah tidak percaya dengan perkataanku"

"setiap perkataan nona kuterima dengan perasaan kagum, cuma terhadap beberapa patah kata nona yang terakhir, aku... aku merasa kurang begitu percaya."

"seandainya pemilik bunga bwee itu tidak mengerti tentang ilmu barisan, lalu melihat kita mempersiapkan ilmu barisan Ngo heng untuk menghadapinya sehingga akhirnya dia enggan memasuki barisan tersebut, adakah cara bagimu untuk memaksanya masuk?"

Han si kong tertegun sesudah mendengar pertanyaan tersebut, untuk sesaat dia terbungkam dan tak tahu bagaimana harus menjawab, pikirnya: "llmu silat yang dimiliki utusan bunga bwee saja sudah begitu hebatnya sehingga tak mampu kutandingi, apalagi kepandaian silat yang dimiliki pemilik bunga bwee, sudah pasti jauh melebihi anak buahnya, itu berarti aku bukan tandingannya sama sekali."

Gadis berbaju putih itu berpaling dan memandang Han si kong sekejap. lalu sambungnya lebih jauh: "justru karena dia sangat menguasai ilmu barisan Ngo heng, maka aku baru menggunakan ilmu barisan Ngo heng untuk menghadapinya agar dia terjerumus ke dalam lumpur tanpa disadarinya sama sekali, inilah yang disebut orang sebagai taktik menggunakan cara yang sama untuk menghabisi orang yang sama."

setelah mengatur sebentar napasnya yang tersengal, ia meneruskan- "Apabila dugaanku tidak meleset, pemilik bunga bwee pasti akan mengatur barisan ngo heng juga di sekitar kuburan Liat hu bong ini untuk mengurung para jago yang menghadiri pertemuan ini."

"Masa para jago yang menghadiri pertemuan ini tak ada yang paham tentang ilmu barisan Ngo heng?"

"Menurut perkiraanku,para jago yang menghadiri pertemuan ini tidak sedikit yang mengerti dan menguasai ilmu barisan Ngo heng"

"Nona" seru Han Si kong sambil menggeleng dan menghela napas panjang, "perkataanmu semakin lama semakin membingungkan aku betul-betul tidak memahami maksudmu" "sebagaimana dalam ilmu silat, ilmu barisan Ngo heng pun terbagi menjadi berbagai tingkatan, satu bagian kekuatan tenagamu lebih ampuh berarti satu bagian pula daya pengaruh barisan itu makin hebat. perubahan di balik semua ini serta keruwetan dalam barisan tersebut tak mungkin bisa dipecahkan orang-orang yang berkepandaian jauh lebih rendah dari pada perancang ilmu barisan tersebut."

Han si kong segera merasakan semangatnya bangkit kembali, serunya: "Nona, penjelasanmu kali ini membuat aku semakin mengerti..."

Begitulah, di bawah petunjuk nona berbaju putih itu, Han si kong, Lim Han kim serta Hiang lan dan siok bwee segera bekerja keras mengumpulkan kayu ranting dan batu untuk dibentuk tiga buah barisan Ngo heng yang saling berhubungan satu sama lainnya.

Ketika melihat barisan Ngo heng itu cuma terdiri dari bambu, kayu dan ranting yang dirangkai menjadi semacam pagar kayu, Han si kong merasa sangat tak berkenan di hati, pikirnya: "Masa hanya mengandalkan berapa batang ranting dan bambu, kita bisa memukul mundur serangan musuh tangguh. ?"

sementara dia masih berpikir, tampak nona berbaju putih itu dengan membawa Hiang lan dan siok bwee dengan bekal banyak sekali batu kerikil telah melangkah masuk ke dalam barisan tersebut Tampak gadis itu berjalan amat santai sekali, setiap kali mendekati satu titik, dia tebarkan sendiri bebatuan tersebut ke dalam barisan bambu itu.

Ketika Han Si kong mencoba memperhatikan ia melihat Hiang lan serta Siok bwee mengikuti di belakang gadis berbaju putih itu dengan wajah sangat tegang, setiap langkah, setiap tindakan selalu dilakukan sangat berhati-hati dan tak gegabah, seolah-olah mereka kuatir salah melangkah hingga terjebak dalam barisan itu.

Berbeda dengan kedua orang pembantu-nya, gadis berbaju putih itu berjalan sangat santai. setelah selesai menumpuk bebatuan itu, di bawah bimbingan kedua orang dayangnya pelan-pelan ia berjalan keluar dari barisan tersebut, Dengan tubuhnya yang sangat lemah, ketika menyelesaikan proyek tersebut, ia sudah kecapaian setengah mati, peluh membasahi hampir seluruh pakaian-nya.

Dengan ujung bajunya dia mencoba menyeka peluh diatas jidatnya, lalu katanya: "Dalam ilmu barisan Ngo heng (lima unsur) yang barusan kusiapkan telah kuselipkan juga ilmu barisan delapan penjuru. Aku percaya kendatipun pemilik bunga bwee adalah seorang yang cerdik, tak nanti ia dapat memahami rahasia di balik ilmu barisan ini. " Belum selesai ucapan itu diutarakan, tiba-tiba saja tubuhnya terjengkang ke belakang dan ia roboh tidak sadarkan diri.

Buru-buru siok bwee membopong tubuh gadis berbaju putih itu sambil serunya: "Gara-gara kelewat capai, dalam keadaan sakitnya nona harus menderita seperti ini. Apabila kalian berdua tetap merepotkan dirinya terus menerus, aku takut jiwanya akan terancam..."

Kemudian sambil berpaling ke arah Hiang lan, tambahnya: "Mari kita pergi"

Disemprot pedas oleh dayang tersebut, untuk sesaat Han si kong dan Lim Han kim hanya bisa saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

sesaat kemudian Lim Han kim baru menghela napas dan katanya dengan suara rendah: "saudara Han, untuk sementara waktu lebih baik kita tak usah perbincangkan apakah barisan bambu yang dibentuk gadis itu benar- benar mampu mengurung pemilik bunga bwee atau tidak. Kita sudah berusaha dengan sepenuh tenaga, sedang nona Pek yang berada dalam kondisi lemah pun rasanya tak sanggup menahan derita lagi, lebih baik kita jangan mengusik ketenangannya lagi."

"Meskipun perkataanmu benar, tapi gara-gara memenuhi permintaan kita, nona Pek baru bekerja keras membuat barisan Ngo heng ini, Hal itu telah menyebabkan penyakitnya kambuh kembali, kita toh tak bisa berdiam diri saja, sekalipun harus pergi dari sini, kita harus menunggu sampai keadaan sakitnya pulih kembali."

"Betul juga perkataan saudara Han" Mereka lalu berjalan balik ke rumah batu itu. Dari jauh mereka melihat siok bwee dengan bertolak pinggang telah menunggu kedatangan mereka di muka pintu. Begitu melihat kedua orang itu mendekat, sambil menatap mereka tajam-tajam dan tertawa dingin, gadis itu menegur: "Mau apa lagi kalian datang ke mari? Agaknya kamu berdua belum puas kalau belum membuat nona kami mati karena kelelahan? Hmmm, lebih baik segera menggelinding pergi dari sini,"

"Hey, kau lagi memaki siapa" tegur Han si kong dengan wajah termangu-mangu.

"Maki siapa lagi, tentu saja kamu berdua" seru siok bwee dengan air mata bercucuran. "Kamu toh sudah tahu kondisi kesehatan nona kamiamat lemah, tapi kalian masih tanya ini tanya itu, minta dia membentuk barisan ini, barisan itu. Hmmmm, bukankah hal itu sudah jelas

sekali, kalian memang berniat membuat mati nona kami?"

"sreeet " pedangnya segera dicabut keluar, lalu

terusnya: "Jika kalian belum juga pergi, aku akan beradu jiwa dengan kalian berdua" Lim Han kini cukup mengetahui taraf kepandaian yang dimiliki nona tersebut, baginya bukan pekerjaan yang terlampau berat untuk menaklukkannya, Namun bila teringat bahwa pingsannya si nona berbaju putih sampai dua kali memang gara-gara dirinya, iapun menghela napas sambil katanya: "seorang lelaki sejati tak akan berkelahi dengan kaum wanita, Aku tak akan melayani perempuan lemah seperti kau. saudara Han, mari kita pergi"

sambil memberi hormat Han si kong pun berseru: "Bila nona Pek sudah sadar nanti, tolong sampaikan kepadanya, aku Han si kong mewakili semua jago dari kolong langit mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongannya."

siok bwee sama sekali tidak menggubris, sambil memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung ia mundur kembali ke ruangan batu.

Dengan sepasang matanya yang jeli Hiang lan mengawasi terus Lim Han kim tanpa berkedip. Menanti bayangan punggung kedua orang itu sudah menjauh, dia baru menatap siok bwee sekejap dengan pandangan dingin sambil tegurnya: "Kau toh tak bakalan menangkan orang lain, buat apa bersikap garang macam macan kelaparan?"

Pelan-pelan siok bwee duduk di sisi saudaranya, lalu menjawab: "Kalau kita tidak mengusir mereka dari sini, setelah sadar nanti, pasti nona tak dapat beristirahat dengan tenang."

"Aku rasa justru nona yang bersenang hati membantu Lim siangkong, Kalau ia tidak menyukai Lim siangkong, tak mungkin kita diperintahkan membawanya ke kuburan Liat hu bong ini dengan kereta kuda."

"oleh karena Lim siangkong pernah menyelamatkan kita, maka nona baru membalas budi kebaikannya dengan menyelamatkan jiwanya."

"Nah itulah dia Kau toh sudah tahu bahwa Lim siangkong adalah tuan penolong kita, kenapa kau mesti berlagak galak dengan mengusir mereka dia?"

"siapa yang mengumpat mereka?"

"Aku melihat dengan mata kepala sendiri, mendengar dengan telingaku sendiri, masa kau masih ingin mungkir?"

"sudah, sudah, aku segan ribut lagi denganmu" seru siok bwee sambil mendengus penuh rasa mendongkol "Kita tunggu sampai nona sadar nanti, biar nona yang membuat pertimbangan"

"Tunggu yaa tunggu, delapan puluh persen tanggung kau yang bakal kalah dariku." Dalam saat itu Lim Han kim dan Han si kong telah meninggalkan tanah kuburan Hu liat bong langsung menuju ke kota si ciu, sepanjang jalan Lim Han kim membUngkam diri dalam seribU basa, hatinya betul-betul merasa sangat mendongkol, sebaliknya Han si kong sedang sibuk memikirkan barisan aneh yang terbUat dari beberapa batang bambu hijau itu. ia edang berpikir, bagaimana mungkin beberapa batang bambu yang diatur secara aneh dapat membendung serangan si pemilik bunga bwee.

Ketika semakin dipikir ia merasa gelagat semakin tak beres, tak tertahan lagi teriaknya keras-keras: "Tidak bisa, saudara Lim Kita harus balik lagi ke situ"

"Mau apa?"

"Kita buktikan betul barisan aneh yang terbentuk dari beberapa batang bambu itu bisa membendung serbuan musuh, Kalau betul-betul terbukti, apalah artinya kita mesti bangun pagi-pagi dan berlatih ilmu silat mati- matian?"

"sekalipun tak bisa membendung serangan musuh, apa gunanya kita pergi ke situ...?" Mendadak dengan kening berkerut pemuda itu berbisik, "Coba dengar"

Ia tarik tangan Han si kong dan segera melayang naik ke atas sebatang pohon besar ditepi jalan- Han si kong segera pasang telinga baik-baik, Betul juga. Dari kejauhan sana terdengar suara derap kaki kuda yang semakin mendekat, suara itu sangat ramai, agaknya ada serombongan pasukan kuda yang berlari menuju kearah mereka.

Cepat-cepat orang tua itu alihkan pandangan matanya ke arah jalan raya menuju kota si ciu, Betul juga, tak selang berapa saat kemudian tampak debu beterbangan di angkasa, Ada serombongan pasukan kuda sedang bergerak mendekat.

Cepat sekali gerak lari kuda-kuda itu, sekejap mata kemudian rombongan itu sudah tiba di depan mereka.

Han si kong mencoba menghitung secara diam-diam, Ternyata jumlah penunggang-nya ada lima belas orang, setiap kuda diduduki seorang manusia berbaju hitam yang membawa sebuah tongkat berwarna putin Ditengah debu yang beterbangan menyelimuti angkasa hanya terlihat rambut mereka yang berkibar terhembus angin, sementara raut mukanya sama sekali tidak terlihat secara jelas.

Ketika melihat arah yang dituju rombongan berkuda itu adalah tanah kubur Liat hu bong, tiba-tiba Han si kong merasa hatinya tergerak. segera ujarnya: "saudara Lim, dandanan rombongan orang-orang itu sangat aneh dan mencurigakan Bisa jadi mereka adalah anak buah pemilik bunga bwee?" "Betul juga perkataan saudara Han," sahut Lim Han kim sambil manggut manggut. "Bila dugaanku tak keliru, sipenunggang kuda yang berada di barisan paling depan itu kemungkinan besar adalah utusan bunga bwee yang pernah kitajumpai di kantor perusahaan sin bu piaukiok tadi."

"Apa betul?Jadi saudara Lim telah melihatjelas raut mukanya?"

"ooh tidak, tapi telah kuperhatikan bentuk pakaian yang dikenakannya, ternyata persis seperti yang kita jumpai malam tadi."

Mendengar itu, Han si kong diam-diam berpikir: "Aneh, malam itu aku pun hadir di arena, kenapa tidak kujumpai perbedaan-nya?"

Agaknya Lim Han kim dapat menduga ketidak percayaan Han si kong atas perkataannya itu, Dengan suara hambar ia meneruskan ucapannya: " Utusan bunga bwee yang kita jumpai malam itu mengenakan jubah warna hitam yang bagian kerah belakangnya terbelah sebuah lubang selebar tiga inci, Kecuali ada orang lain yang mengenakan pakaian yang persis sama dengan orang itu, aku yakin dia adalah utusan bunga bwee yang pernah kita jumpai di kantor perusahaan sin bu piaukiok malam itu."

"Kalau begitu, hal tersebut tak perlu dicurigai lagi." Lim Han kim termenung sambil berpikir beberapa saat lamanya, kemudian katanya lagi:

"Ternyata apa yang diduga nona Pek tidak keliru, si pemilik bunga bwee betul-betul hendak membuat barisan Ngo heng di sekitar tanah kubur Liat hu bong itu."

"Aaah betul" seru Han si kong sambil bertepuk tangan, "Kalau begitu tongkat-tongkat putih yang dibawa rombongan tersebut hendak digunakan untuk membentuk barisan." Lim Han kim kembali manggut- manggut

"Kalau ditinjau dari kenyataan ini, rupanya nona Pek betul-betul memiliki kemampuan untuk meramalkan kejadian yang akan datang."

"Sudah hampir puluhan tahun lamanya aku berkelana di dalam dunia persilatan, banyak orang aneh dan kejadian aneh yang pernah kualami tapi rasanya belum pernah kusaksikan peristiwa mengerikan seperti apa yang kualami selama beberapa hari terakhir ini. Hanya sekuntum bunga bwee warna putih ternyata mampu mengundang kehadiran beratus-ratus orang jago silat dari pelbagai penjuru dunia, seorang gadis muda yang bertubuh sangat lemah kenyataannya memiliki kepintaran dan kemampuan yang luar biasa, Aaai... betul-betul kejadian aneh, betul-betul kejadian aneh..." "Ssttt,.. Ada orang datang kemari," Tiba-tiba Lim Han kim berbisik sambil menutup mulutnya.

Han si kong mencoba pasang telinga untuk mendengarkan, namun tak sedikit suara pun yang kedengaran, baru saja dia hendak menegur, tiba-tiba dari kejauhan sana tampak dua sosok bayangan manusia meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.

Melihat kejadian ini, diam-diam ia mengeluh di hati: "Benar-benar memalukan kemampuanku"

Sungguh cepat gerakan tubuh dua sosok bayangan manusia itu, bahkan sama sekali tidak kalah dengan keCepatan lari kuda, Dalam waktu singkat mereka telah sampai di bawah pohon besar di mana kedua orang itu sedang bersembunyi

Sambil menahan napas Han si kong mencoba menengok ke bawah lewat celah-celah dedaunan yang rimbun, ia melihat dua orang tersebut adalah dua orang pemuda berpakaian ringkas warna biru langit yang menggembol pedang.

Saat itu mereka sedang berdiri dibawah pohon sambil berbisik-bisik, tampaknya ada suatu masalah yang sedang dirundingkan-

Setelah berunding berapa saat, mereka berdua merogoh keluar kain hitam dari sakunya yang segera dikerudungkan pada wajah masing-masing, kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh mereka bergerak menuju ke arah tanah pekuburan Liat hu bong.

Menunggu sampai kedua orang itu sudah pergi jauh, HanSi kong baru berbisik: "Saudara Lim, apakah kau dapat melihat asal usul kedua orang anak muda itu?"

"Aku tak pernah berkelana di dalam dunia persilatan, mana mungkin bisa mengenali asal usul mereka berdua?"

"Mereka berdua datang dari perkampungan Pit tim san ceng, anak buah si Dewa jinsom Phang Thian hua."

"Atas dasar apa saudara Han yakin atas dugaanmu itu?" Han Si kong segera tertawa,

"Phang Thian hua adalah seorang tokoh silat berilmu tinggi dan bernyali besar. Pada pakaian yang dikenakan anak buahnya, secara khusus ia pasang lambangnya secara mencolok. oleh sebab itu dalam sekali pandangan saja kita dapat mengenali mereka sebagai anak buah Phang Thian hua."

"Oooh, rupanya begitu "

Sesudah berhenti sejenak. kembali lanjutnya: "Tampaknya Phang Thian hua benar-benar bukan seorang tokoh silat yang bernama kosong, Buktinya ia sanggup melacak tempat berkumpulnya orang-orang berbaju hitam itu serta mengirim orang untuk mematai- matai gerak-gerik mereka."

"Meskipun Phang Thian hua jarang mengadakan hubungan kontak dengan umat persilatan, meski wataknya angkuh dan enggan mengalah kepada orang lain, tapi apabila dia harus dibandingkan dengan pemilik bunga bwee yang serba aneh dan misterius itu, aku tetap berharap agar ia bisa menduduki posisi di atas angin."

"Aku kuatir apa yang akan terjadi jauh di luar kehendakmu."

"Aaaai.... pemilik bunga bwee itu..." Mendadak orang tua itu berkerut kening sambil berseru: "Aduh, celaka"

"Ada apa?"

sambil melompat turun dan atas pohon, Han Si kong berkata: "Kita harus segera balik ke tanah pekuburan Liat hu bong untuk menolong nona Pek"

"Betul, tapi... aku takut waktunya sudah terlambat," sahut Lim Han kim sambil melayang turun pula ke atas tanah.

"Masa kita harus berpeluk tangan belaka?" "Aku rasa dia pasti sudah memiliki cara untuk

membendung serangan musuh, kita tak perlu menguatirkan keselamatan mereka lagi." Mendengar itu, Han si kong segera berpikir "Ehmmm, ada benarnya juga perkataan ini, ia dapat menolong kami dengan segala kepintarannya, mana mungkin dia tak tahu bagaimana cara untuk menanggulangi serangan musuh...?"

sesudah termenung sebentar, katanya lagi: "Perlu tidak kita balik lagi ke sana untuk melihat keadaan, coba kita tinjau permainan setan apa yang sedang dipersiapkan anak buah pemilik bunga bwee itu. "

Mendadak ia saksikan ada sesosok bayangan manusia meluncur datang dengan kecepatan luar biasa, buru-buru serunya: "Awas, ada orang lain datang kemari"

"Kita tak sempat bersembunyi. " sungguh cepat

gerakan tubuh bayangan manusia itu, dalam waktu singkat dia sudah tiba di hadapan kedua orang itu. Begitu melihat bayangan punggung Lim Han kim, orang itu segera menegur: "Apakah saudara Lim di situ?"

Pelan-pelan Lim Han kim membalikkan tubuhnya, ia lihat orang itu adalah seorang pemuda berjubah hijau yang berusia antara dua puluh tiga empat tahunan, Dia tak lain adalah ketua muda dari perkampungan kolam enam bintang Hongpo Lan. Maka seraya menjura katanya: "saudara Hongpo, baik, baikkah selama ini. Aku memang Lim Han kim." Hongpo Lan segera memburu datang, lalu sambil menggenggam tangan kanan Lim Han kim erat-erat, katanya sambil tertawa: "Rindu benar aku dengan dirimu, Waktu kudengar kau ada di kuil awan hijau di kota Kim leng tempo hari aku sempat mengutus orang untuk mencarimu, sayang kau sudah pergi. sungguh tak disangka akhirnya aku bisa bertemu dengan saudara Lim di sini."

"saudara Hongpo, aku berterima kasih sekali atas hadiah pedangmu tempo hari, aku. "

"Aaah, cuma barang sepele tak perlu dimasukkan dalam hati," tukas Hongpo Lan cepat,

"Bila kau singgung kembali masalah tersebut, berarti kau memandang rendah diriku."

Kemudian setelah berhenti sejenak. lanjutnya: "Aku jadi orang selamanya angkuh dan tinggi hati, jarang bergaul dengan orang lain, Hanya terhadap saudara Lim seorang, aku rasanya akrab sekali."

"Terima kasih atas perhatianmu itu, saudara Hongpo. Kau tidak menikmati hidupmu di perkampungan lak seng tong, ada urusan apa ?"

"Aaai, tak usah disinggung lagi," tukas Hongpo Lan seraya mengulapkan tangannya, "Kali ini aku dipaksa orang untuk keluar dari kandang, bukan cuma diriku saja "

Tiba-tiba ia merendahkan suaranya seraya menambahkan "Bahkan ayahku yang sudah dua puluh tahun tak pernah meninggalkan perkampungan Lak seng tong barang selangkah pun, telah ikut hadir di kota si ciu ini."

Melihat dua orang muda itu bicara asyik hingga melupakan dirinya, tak tahan lagi Han si kong menimpali: "Apakah kehadiranmu gara-gara si pemilik bunga bwee putih?"

"Yaa betul jadi locianpwee sendiri pun terpancing datang kemari gara-gara pemilik bunga bwee?"

"Antara aku dengan Lim siangkong sudah akrab melebihi saudara sendiri, jadi sau cengcu (ketua kampung muda) tak perlu sungkan sungkan kepadaku, selanjutnya kita bisa saling membahasai dengan tingkatan sederajat "

Mendadak ia seperti teringat akan se-suatu, tak sempat lagi menjawab pertanyaannya dari Hongpo Lan. sambungnya lebih jauh setelah mendeham beberapa kali: "Aku si monyet tua selalu hidup mengembara di empat samudra, Aku tak pernah punya tempat tinggal yang tetap. jadi meskipun pemilik bunga bwee ada niat mengundang akupun, tak nanti bisa menemukan jejakku, sesungguhnya kehadiranku dan saudara Lim di sini gara- gara menjumpai masalah tersebut"

"Oooh, rupanya begitu."

"Hongpo heng, kau bisa datang kemari gara-gara pemilik bunga bwee, tentunya kau mengetahui latar belakang peristiwa ini dengan jelas bukan?" tanya Lim Han kim.

"Aaaai, kalau dibicarakan sebetulnya memalukan sekali," kata Hongpo Lan dengan kening berkerut "Aku tak kuatir kalian mentertawakan. sebetulnya aku dipaksa datang ke kota si ciu ini oleh pemilik bunga bwee, padahal latar belakang dari persoalan tersebut sedikit pun tidak kuketahui. Memang aneh sekali

kejadiannya "

Bicara sampai di sini, tiba-tiba saja paras mukanya berubah jadi amat serius, setelah termenung berapa saat, lanjutnya: "Suatu malam pada setengah bulan berselang, perkampungan Lak seng tong kami secara tiba-tiba diserbu orang, Tanpa menimbulkan sedikit suara pun dua orang penjaga malam kami dibunuh mati, kemudian si pembunuh meninggalkan secarik kertas "

"Apa isi surat itu?" tanya Han si kong. "isi surat itu singkat sekali, katanya apabila aku ingin menemukan kembali barang yang hilang, harap segera datang ke kota si ciu untuk menerima perintah."

"Hmmmmm sungguh tak disangka si pemilik bunga bwee ada kemampuan jUga untuk mencuri dan merampok." umpat Han si kong.

Lim Han kim segera bertanya: "Apakah saudara Hongpo sudah tahu benda apa yang tercuri?"

"Sudah kuperiksa semua barang berharga milik perkampungan kami, ternyata tak sebuah barang pun yang hilang, Ketika aku sedang merasa keheranan inilah tiba-tiba ayahku mengutus orang mencariku, Aku diminta segera menyiapkan kebutuhan yang perlu untuk segera berangkat ke kota si ciu."

"Padahal ayahku sudah lama tidak mencampuri urusan dunia ramai, bahkan aku sendiri pun susah untuk bertemu muka dengannya, tentu saja perintah yang menyuruh aku segera berangkat ke kota si ciu ini mencengangkan hatiku, sayang aku tidak diberi kesempatan untuk banyak bertanya, setelah menyampaikan pesan-pesannya, aku pun diperintahkan untuk menyiapkan barang kebutuhan dan segera berangkat"

"Setibanya di kota si ciu, aku berdiam sampai beberapa hari lamanya tanpa menerima berita apapun, tapi dari kehadiran para jago persilatan yang berbondong-bondong, aku percaya tentu ada kejadian besar yang tengah berlangsung di sini."

"Sepanjang hari ayahku hanya bersemedi saja tanpa pernah membicarakan alasan kehadirannya di sini, beliau hanya berpesan kepadaku agar hati-hati dengan pemilik bunga bwee putih."

"Pagi ini ketika aku baru bangun tidur, pelayan penginapanku datang mengantar sepucuk surat, katanya surat itu dikirim semalam, Aku segera membuka sampul surat tersebut, ternyata isinya adalah sekuntum bunga bwee putih serta secarik surat yang minta aku datang ke kuburan Liat hu bong tengah hari ini untuk menerima kembali barang kami yang dicuri."

"Aku pun segera menyerahkan surat itu kepada ayahku, Selesai membaca surat tersebut beliau menghela napas panjang, ia hanya berpesan kepadaku agar datang memenuhi janji tepat pada waktunya."

"Aaaai Meskipun dia orang tua tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun aku dapat melihat bahwa pikiran dan perasaannya amat tertekan, Agaknya ada kesedihan luar biasa yang ditutup tutupi, sikap ayahku inilah yang justru memancing niatku untuk menyelidiki kuburan Liat hu bong ini, tak disangka ternyata aku malah berjumpa dengan kamu berdua di sini." "Kalau ditinjau dari kisahmu ini, tampaknya pemilik bunga bwee putih benar-benar adalah seorang tokoh misterius yang memiliki kepandaian silat amat tangguh."

Mendadak terdengar suara derap kuda berkumandang datang dari arah Timur laut Tak selang berapa saat kemudian terlihatlah seorang lelaki berpakaian ringkas warna hitam duduk di atas pelana kuda tersebut sebenarnya kuda itu berlarian menelusuri jalan setapak. namun ketika melihat di tengah jalanan ada orang menghadang, tiba-tiba saja kuda itu berputar haluan dan lari ke arah rumput ilalang.

"Penunggang kuda itu agak mencurigakan mari kita tengok ke sana" seru Han si kong cepat, Tanpa membuang waktu, ia segera melompat ke depan dan melakukan pengejaran lebih dahulu.

Lim Han kim dan Hongpo Lan segera menyusul di belakang Han si kong berlarian mengejar penunggang kuda tadi.

Melihat dirinya dikejar orang, kuda itu berlarian semakin kencang dan cepat, Lebih kurang satu li kemudian ketiga orang itu baru berhasil menyusul kuda tersebut serta menghentikannya.

Begitu kuda itu berhenti berlari, Han si kong segera membangunkan tubuh penunggangnya. Ternyata dari lubang hidung serta telinga orang itu telah bercucuran darah segar sementara orangnya sudah putus nyawa sejak tadi, sementara wajahnya diukir orang dengan pisau tajam yang kira-kira berbunyi begini: "Mampus bagi mereka yang tidak menepati waktu."

Tubuh mayat itu terasa masih hangat, hal ini membuktikan bahwa orang itu belum lama putus nyawa.

sambil mendengus dingin Hongpo Lan segera berseru: "Hmmmm Besar amat bacot orang ini. ia kelewat takabur dengan ulahnya ini."

Mendadak ia teringat kembali dengan sikap ayahnya yang sangat aneh, seakan-akan ia menaruh rasa takut yang luar biasa terhadap pemilik bunga bwee putih, hal ini seketika membuat perasaan hatinya bergidik,

"Aduh celaka, aduh celaka.-." Tiba-tiba terdengar Han si kong berteriak keras. "Jangan-jangan nona Pek beserta kedua orang dayangnya telah dicelakai orang, mari kita tengok mereka" selesai bicara ia segera balik tubuh dan lari menuju ke arah kuburan Liat hu bong.

Melihat ulah rekannya itu, Lim Han kim berpikir di dalam hati: " orang ini bisa berkelana selama banyak tahun dalam dunia persilatan dan berkenalan dengan begitu banyak rekan persilatan, semuanya ini tak lain akibat semangat setia kawannya yang luar biasa. Aku benar-benar kalah jauh dibandingkan dengannya "

Berpikir begitu segera bentaknya keras-keras: "saudara Han, jangan gegabah"

sekali lompat dia hadang jalan pergi Han si kong. Pada saat itu, Hongpo Lan telah menyusul tiba seraya bertanya: "siapa sih nona Pek itu?"

Han si kong tidak menjawab pertanyaan itu, sambil menudingjenasah di punggung kuda itu katanya: "orang ini pasti bertemu dengan anak buah pemilik bunga bwee di kuburan Liat hu bong sehingga dibunuh orang, padahal nona Pek masih berada dalam ruang batu di sisi kuburan Liat hu bong, mana mungkin jejaknya tidak diketahui lawan?"

"Sekalipun hendak ke situ, paling tidak harus memikirkan dulu cara serta tindakan yang terbaik."

"Menolong orang ibaratnya menolong api, apa lagi yang harus dipikirkan kembali?"

sambil mendorong tubuh Lim Han kim, orang tua ini meneruskan larinya ke depan, Kali ini Lim Han kim tidak menghalangi kepergiannya lagi, dia pun mengikuti di belakangnya.

sebetulnya Hongpo Lan tidak mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, tapi ketika mendengar ada seorang nona dari marga Pek yang kini masih berada di kuburan Liat hu bong, bahkan jika mereka datang terlambat maka keselamatan jiwa nona itu terancam, maka dia pun tidak banyak bertanya lagi ia berharap bisa menolong orang lebih dulu sebelum mengetahui masalah yang sebenarnya, Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dia pun menyusul di belakang dua orang rekannya.

Kecepatan lari ketiga orang ini jauh lebih cepat daripada larinya kuda, Tak selang berapa saat kemudian mejeka sudah berada dekat sekali dengan tanah pekuburan Liat hu bong,

Mendadak tampak bayangan hitam berkelebat lewat Belum sempat Han si kong melihat jelas apa yang terjadi, tahu-tahu lehernya terasa menjadi kencang dan tubuhnya sudah meninggalkan permukaan tanah.

Ternyata ada seutas tali laso yang meluncur datang dan persis menjerat leher orang tua itu.

Terdengar Hongpo Lan membentak gusar, tubuhnya melompat ke udara disusul berkelebatnya cahaya berkilauan, tali laso itu putus seketika menjadi beberapa bagian.

Han si kong segera menghimpun hawa murninya sambil berjumpalitan beberapa kali di udara, kemudian dengan tenang tubuhnya meluncur kembali ke atas tanah.

"saudara Hongpo, cepat benar serangan pedangmu," puji Lim Han kim dengan suara rendah.

"saudara Lim terlalu memuji, padahal aku sudah menghunus pedang sejak tadi untuk bersiap sedia."

Ketika Han si kong berpaling dan melihat Hongpo Lan telah berdiri dengan menggenggam sebilah pedang pendek yang bersinar tajam, dalam hati kecilnya ia merasa malu, tapi di luar segera ia berseru: "Terima kasih banyak atas pertolonganmu"

"Tipu licik pihak lawan pasti bukan hanya terbatas permainan ini saja, Lebih baik kalian berdua lebih berhati hati," kata Hongpo Lan-

Mereka mencoba memeriksa keadaan di sekitar situ, namun suasana amat hening, tak terlihat sosok bayangan manusia pun di situ, yang ada hanya sebatang pohon berapa kaki jauhnya di hadapan mereka.

Lim Han kim melirik pohon itu sekejap. kemudian bisiknya: " orang itu bersembunyi di atas pohon, posisi musuh sekarang berada di gelap sedang kita berada di tempat terang, paling baik kalau kita paksa dia untuk unjukkan diri lebih dulu."

"Kalau soal itu mah gampang" kata Hongpo Lan. Tiba-tiba dia mengayunkan pergelangan tangan kanannya, segenggam mata uang segera meluncur ke udara dan menyerang pohon besar tersebut

Gerak serangan yang dipergunakan pemuda ini aneh sekali, Tatkala segenggam mata uang itu hampir mendekati pohon tersebut tiba-tiba saja mata uang itu saling bertumbukan sendiri satu sama lainnya hingga menimbulkan suara nyaring, menyusul kemudian terlihat enam batang mata uang berpencar ke empat penjuru.

Menyusul terpencarnya mata uang tadi, dedaunan dan ranting pohon itupun turut berguguran ke atas tanah, Ternyata permukaan ke enam mata uang tersebut amat tajam. Ketika berputar ke empat penjuru, benda-benda tersebut ibarat gergaji yang memangkas dedaunan disekitarnya, otomatis ranting dan dedaunan itu rontok semua.

sampai keenam batang mata uang itu terjatuh kembali ke atas tanah, keadaan di pohon tersebut tetap tenang tanpa kedengaran sedikit suara pun. Dengan perasaan tercengang Hongpo Lan segera berbisik: ..."Biar aku naik ke pohon itu untuk memeriksa" Dengan sekali lompatan d la sudah meluncur ke atas pohon besar itu

"saudara Hongpo, hati-hati" seru Lim Han kim sambil menghimpun tenaga dalamnya bersiap sedia. Tampak Hongpo lan menggenggam ranting lemas di tangan kirinya dan pedang pendek di tangan kanannya untuk melindungi dada berjumpalitan beberapa kali di udara kemudian meluncur ke atas pohon itu.

Lim Han kim memusatkan seluruh perhatiannya ke atas pohon itu Asal menemukan gelagat yang tidak beres, dia akan segera melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga.

siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali di luar dugaannya, setelah mengitari pohon itu berapa kali Hongpo Lan melayang turun kembali ke atas tanah sambil bergumam: "Aneh, sungguh aneh, kenapa tidak kujumpai jejak manusia di atas pohon besar itu?" 

Dengan wajah termangu-mangu Han si kong berseru pula: "sudah jelas tali yang menjerat leherku tadi datang dari atas pohon besar itu, mana mungkin tak ada orangnya?"

Mendadak terdengar seseorang berkata dengan suara yang dingin bagaikan es: "Waktu pertemuan puncak belum tiba, barang siapa berani melanggar batas wilayah di sini, HHmmmm jangan salahkan kalau kubunuh"

Buru-buru ketiga orang itu berpaling, tampak seorang manusia aneh berbaju serba hitam yang berambut panjang telah berdiri di bawah sebatang pohon besar berapa kaki di hadapan mereka. orang itu berdiri dengan membelakangi mereka bertiga hingga tak tampak raut mukanya.

sambil tertawa dingin Lim Han kim segera menegur "Sobat, tampaknya kita benar-benar berjodoh, kali ini adalah kali ketiga kita berjumpa muka."

"Pertama kali di kantor perusahaan sin bu piaukiok. "

kata Lim Han kim.

"Kedua kalinya belum lama berselang, sayang kau tidak merasakan hal tersebut," sambung Lim Han kim.

Han si kong yang masih teringat bagaimana lehernya dijerat dengan tali barusan tak bisa menahan amarahnya lagi. Dengan mata berapi-api bentaknya keras-keras: " Kalau sudah berani menghadang jalan pergi kami, kenapa tak berani berpaling untuk bersua dengan wajah aslimu?"

"orang-orang partai kami tak pernah mau berjumpa muka dengan orang lain di luar perkumpulan. "

"Kalau memang begitu, biar aku paksa kau untuk berpaling" seru Hongpo Lan dingin, sepasang bahunya segera bergerak.

secepat sambaran petir tubuhnya menerjang maju ke muka, Tangan kirinya segera diayunkan mencengeram bahu orang berbaju hitam itu. Dengan cekatan orang berbaju hitam itu memutar tangannya sambil merentangkan kelima jarinya lebar- lebar, Bagaikan senjata kaitan, ia balas mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kiri Hongpo Lan-

orang berbaju hitam itu tidak berpaling maupun menggeserkan tubuhnya, hanya mengandalkan ketajaman pendengarannya saja ternyata ia bisa mengarah urat nadi pada pergelangan tangan lawan secara tepat. kemampuan seperti ini betul-betul luar biasa.

Hongpo Lan terkejut, secepat petir badannya mengegos ke samping sejauh lima depa, serunya ketus: "Dari seranganmu sobat aku tahu bahwa ilmu silatmu memang luar biasa, Jadi kaukah pemilik bunga bwee putih?"

"Hmmm, jika majikanku yang turun tangan sendiri, sekarang nyawamu sudah menghadap raja akhirat" sahut orang berbaju hitam itu sambil tertawa dingin.

Hongpo Lan semakin terkesiap. pikirnya: 'jika didengar dari nada pembicaraan orang ini, nampaknya dia hanya seorang anak buah pemilik bunga bwee, padahal kepandaian silat yang dimilikinya sudah begitu hebat, tak heran jika ayah begitu risau, murung dan agak

ketakutan-' semenjak terjun ke dalam dunia persilatan, kecuali satu kali kalah di tangan Lim Han kim, boleh dibilang ia belum pernah berjumpa dengan musuh tangguh, tapi serangan balasan dari manusia aneh berbaju hitam barusan telah meningkatkan kewaspadaannya Hongpo Lan sadar musuh yang dihadapainya kali ini betul-betul sangat hebat.

Kedengaran orang berbaju hitam itu berkata lebih jauh dengan suara yang dingin: " Ketika majikan mengundang para jago dari seluruh kolong langit untuk berkumpul di kuburan Liat hu bong ini, waktu pertemuan telah ditetapkan secara jelas yakni besok tengah hari. sampai waktunya kami pasti akan menyambut kedatangan kalian semua menurut aturan dunia persilatan-

sekarang waktu pertemuan belum tiba, jadi siapa pun dilarang memasuki daerah ini semaunya, Bila saat ini kalian mau mundur teratur mungkin saja jiwa kalian masih bisa dipertahankan tapi kalau berani maju selangkah lagi, hmmmm jangan salahkan kalau aku bertindak keji terhadap kamu semua bertiga"

sebetulnya Hongpo Lan sendiri pun ada maksud untuk mengundurkan diri, hal ini disebabkan pertama ia tahu ilmu silat pihak lawan sangat hebat dan apa yang diucapkan bukan gertak sambal belaka, kedua dia ingin secepatnya pulang berjumpa ayahnya untuk melaporkan kejadian tersebut sehingga ayahnya bisa membuat persiapan secukupnya.

Baru saja dia akan mengundurkan diri, tiba-tiba terdengar Han si kong berseru keras: "Kami hendak mencari orang di kuburan Liat hu bong "

"Tidak usah ke situ" tukas orang aneh berbaju hitam itu dingin-

"Kenapa?" Han si kong semakin gusar.

"Kalau dia sudah tidak berada di kuburan Liat hu bong lagi, tentu saja tak perlu dicari lagi, Bila ia masih tinggal di situ, berarti ia sudah mampus. Datang saja besok untuk mengurusi jenasahnya."

Membayangkan kembali kesehatan tubuh si nona Pek yang lemah tak tahan angin, bila berjumpa dengan manusia buas berkepandaian tinggi semacam ini, bisa jadi jiwanya memang telah melayang, Karena itu hawa amarah Han si kong semakin berkobar, bentaknya nyaring: "Tanah pekuburan Liat hu bong ini toh bukan milik nenek moyangmu, atas dasar apa aku tak boleh datang ke situ. "

"Hmmm, apabila kau sudah bosan hidup. silahkan saja untuk mencoba menerobos masuk." jengek orang itu sinis. Han si kong terkesiap. ia tahu ucapan tersebut bukan gertak sambal belaka, Dasar wataknya keras dan berangasan, sekalipun sudah tahu kalau kepandaian silatnya bukan tandingan lawan, ia tetap nekad untuk mencobanya juga.

sambil melangkah maju ke muka, sepasang matanya mengawasi manusia aneh berbaju hitam itu tanpa berkedip, sementara hawa murninya telah dihimpun siap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Pada saat itu, meski manusia aneh berbaju hitam itu bercakap-cakap dengan beberapa orang tersebut, namun ia selalu berdiri membelakangi mereka dan tak pernah menengok beberapa orang itu barang sekejappun.

Namun ketika Han si kong menggeserkan tubuhnya maju mendekat, orang aneh berbaju hitam itu segera menyadari akan tindakan lawannya ini.

Di punggungnya seolah tumbuh sepasang mata saja, tangan kanannya segera diayunkan dan tubuhnya mendesak pula ke hadapan Han si kong.

Walaupun gerak geriknya sangat cepat, namun ia tetap berdiri membelakangi Han si kong. Kelima jari tangannya yang kurus hitam seperti cakar burung elang berputar kencang kemudian langsung mencengkeram dada orang itu. Menyerang musuh sambil berdiri membelakangi lawannya betul-betul merupakan suatu tindakan yang belum pernah dijumpai dalam dunia persilatan, namun Han si kong tak berani memiliki pikiran untuk memandang enteng lawannya.

Tenaga dalamnya yang sudah terhimpun di tangan kanannya segera diayunkan ke muka melepaskan sebuah pukulan, sementara tangan kirinya dengan jurus " Harimau hitam mencuri hati" menghajar jalan darah Mia bun hiat dipunggung orang aneh itu.

Tiba-tiba manusia aneh berbaju hitam itu menggeser tubuhnya dua langkah ke samping. Gerakan tubuhnya itu aneh se-kali, bagaikan bayangan setan yang gentayangan tak menentu arahnya. Dalam sekali putaran saja, bukan cuma serangan dahysat dari Han si kong berhasil dihindari, bahkan orang itu sudah mendesak makin dekat di sisi tubuh Han si kong.

orang tua dari keluarga Han ini sangat terperanjat pikirnya "llmu gerakan tubuh macam apa ini?" Buru-buru kepalan kanannya melepaskan satu pukulan dengan jurus "sekop sakti membentur lonceng", sementara tangan kirinya dengan jurus "Menampik harimau diluar pintu" berusaha melindungi beberapa buah jalan darah penting di tubuhnya dari serangan lawan-

sudah puluhan tahun lamanya ia berkelana dalam dunia persilatan, pengalamannya dalam menghadapi pertarungan pun sudah cukup matang, jauh di atas pengalaman Lim Han kim maupun Hongpo lan- Oleh sebab itu, meski dua jurus serangan yang digunakan kali ini hanya merupakan dua jurus biasa, tapi berhubung digunakan tepat pada saatnya, daya pengaruhnya juga luar biasa sekali