-->

Pedang Keadilan I Bab 33 : pertempuran Besar Di si Ciu

 
Bab 33 pertempuran Besar Di si Ciu.

"Sesungguhnya apa yang kuketahui terbatas sekali," kata Chin Hui hau cepat. "Sehingga meski ingin dibicarakanpun rasanya tak banyak yang bisa kuutarakan."

Lim Han kim segera memberi hormat, "Untuk melacak jejak adikku aku masih membutuhkan pertolongan serta bantuan saudara Chin, untuk itu sebelumnya kuucapkan banyak terima kasih."

"Aku pasti akan berusaha."

"Sekarang pemilik bunga bwee putih telah minta saudara Chin untuk menyiapkan meja perjamuan. Aku pikir mereka tak akan bertindak tak menguntungkan terhadap kalian. Baiklah, untuk sementara waktu kami mohon diri lebih dahulu."

Chin Hui hau menghela napas panjang, "Aaaai... apabila pelayananku selama ini kurang berkenan di hati, harap kalian berdua sudi memaafkan" seraya berkata ia memberi tanda untuk menghantar tetamunya, jelas dia memang tak berniat untuk menahan tamunya tadi.  "Kalau begitu kita berjumpa lagi tiga hari kemudian di tanah pekuburan Liat hu bong" seru Han si kong.

Sekilas rasa malu dan menyesal melintas di wajah Chin Hui hau, namun ia hanya menunduk saja tanpa bicara.

Ketika Han si kong dan Lim Han kim berjalan keluar dari perusahan sin bu piau-kiok, waktu telah menunjukkan kentongan pertama, sepanjang jalan Lim Han kim memikirkan terus masalah yang berkaitan dengan pemilik bunga bwee putih itu, namun ia merasa masalah tersebut amat rumit danpelik, walaupun ia sudah berusaha memeras otak untuk mengaitkan masalah yang satu dengan masalah lain, namun tak pernah berhasil menemukan titik terang.

Akhirnya sambil menghela napas katanya: "Saudara Han sering bilang kejadian dalam dunia persilatan aneh sekali susah diduga, kelihatannya perubahan di balik kesemuanya ini benar benar memusingkan kepala."

"Sudah enam tujuh puluh tahunan aku si tua bangka ini hidup di dunia ini. separuh umurku kuhabiskan untuk berkelana dalam dunia persilatan, tapi kejadian semacam ini baru pertama kali ini kujumpai seorang yang belum pernah terdengar namanya dan terlihat wujudnya ternyata hanya mengandalkan sekuntum bunga bwee putih saja sudah berhasil mengundang seluruh jago lihai dari kolong langit untuk berkumpul di kota si ciu ini. " "Yang lebih aneh lagi adalah mereka yang mendapat undangan tersebut ternyata tak seorang pun yang tahu bahwa orang yang mengundang kehadiran mereka di tempat ini adalah pemilik bunga bwee putih itu."

"Betul" seru Han Si kong sambil menepuk pahanya keras keras, "Tak heran setelah mencari berita sekian lama, ternyata aku tak berhasil mendapat tahu apa sebabnya kawanan jago dari dunia persilatan ini berdatangan ke kota Si Ciu."

"Kebanyakan dari orang-orang yang datang ke mari sebetulnya hanya datang secara membabi buta. Ada yang datang lantaran mendengar kabar, ada pula yang datang karena ingin tahunya, Kita tak usah memikirkan kawanan jago yang berdatangan ke kota Si ciu karena hanya mengikuti arus saja. Yang lebih aneh lagi adalah sekawanan tokoh persilatan kenamaan yang punya kedudukan terhormat dalam dunia kangouw ternyata bersedia pula hadir kemari serta mentaati semua perintah pemilik bunga bwee putih itu, Kejadian inilah yang membuat kita tak habis mengerti."

"Mungkin saja mereka mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan dengan kata-kata," ucap Han Si kong.

"Justru di sinilah letak persoalan itu. Bagi orang-orang kenamaan yang berkedudukan terhormat, tak mungkin mereka rela datang ke kota Si ciu ini hanya lantaran seorang utusan datang mengundang mereka dengan membawa simbol bunga bwee putih. "

"Ehmmm, benar juga ucapan ini Si Dewa jinsom Phang Thian hua adalah seorang tokoh silat yang berkepandaian tinggi dan berkedudukan terhormat Selama puluhan tahun terakhir belum pernah meninggalkan perkampungannya barang selangkah pun.

Bahkan ia selalu menolak kehadiran para jago, termasuk juga para jago yang dikirim sembilan partai besar, tapi sekarang kenapa ia rela datang sendiri kemari? Di balik kesediaannya datang kemari tentu ada sebab-sebab yang luar biasa."

"Tapi apakah alasannya?"

Han si kong termenung sambil berpikir berapa saat, kemudian baru katanya: "satu-satunya kemungkinan yang bisa membuat ia datang sendiri kemari secara sukarela adalah karena ia mendapat tekanan atau ancaman yang maha berat."

"Tapi tekanan atau ancaman macam apakah yang dia terima?"

"Aaai. kalau itu sih susah untuk dikatakan," sahut

Han si kong sambil menghela napas panjang.

Untuk beberapa saat lamanya kedua orang itu berjalan menelusuri jalan raya sambil membungkam diri, Lama kemudian, baru Lim Han kim bergumam secara tiba-tiba: "Kelihatannya kita harus pergi mencarinya untuk menanyakan persoalan ini sampai jelas."

"Mencari siapa?"

"Si nona berbaju putih yang kita jumpai di rumah makan Kun eng losiang tadi"

"Dia berada di mana sekarang?" "Tanah pekuburan Liat hu bong."

"Kuburan Liat hu bong? Apakah tempat yang dijanjikan pemilik bunga bwee putih untuk menjamu para jago dari seluruh kolong langit?"

"Mungkin benar Kecuali kalau di sekitar kota si ciu masih terdapat kuburan lain yang bernama Liat hu bong."

"Maksud saudara cilik, kita mendahului datang ke kuburan Liat hu bong lebih dulu untuk melihat keadaan?"

"Tiba-tiba saja aku teringat dengan ucapan gadis berbaju putih itu. Dia bilang akan menunggu aku selama tiga hari di tanah pekuburan Liat hu bong. Dalam tiga hari ini, jikalau aku menjumpai masalah yang pelik dan susah dipecahkan dengan nalar sehat, maka aku diundang datang ke sana untuk menanyakan masalah tersebut kepada nya. Aneh nya, kenapa dia hanya memberi batas waktu tiga hari saja kepadaku?

Padahal batas waktu tersebut rasanya persis dengan waktu yang dijanjikan pemilik bunga Bwee Putih untuk mengundang para jago dunia persilatan untuk berkumpul di situ. Mungkinkah sebelum ini dia sudah mengetahui akan kejadian tersebut secara jelas dan pasti?"

Tanpa terasa bayangan wajah si nona berbaju putih yang pucat pasi, mukanya yang cantikj elita dengan sepasang matanya yang bulat besar dan memancarkan sinar bagaikan kabut, ditambah tubuh nya yang lemah gemulai, ucapannya yang tajam serta suara tertawa nya yang merdu melintas satu persatu dalam benak pemuda ini.

Semenjak berpisah dengan gadis berbaju putih itu, dia belum pernah membayangkan kembali raut muka gadis itu, setelah dipikirkan kembali sekarang, ia segera merasakan bahwa gadis berbaju putih yang lemah lembut itu sesungguhnya menyimpan kemisteriusan yang luar biasa, kepintaran otaknya terasa kontras sekali dengan tubuh nya yang lemah.

Bila ditinjau situasi saat ini, tampaknya dia harus segera berangkat ke tanah kuburan Liat hu bong untuk menemui gadis berbaju putih itu, sebab ia dapat merasa kan kecuali si nona berbaju putih itu, tiada orang kedua di dunia ini yang bisa membongkar rahasia ini. Lim Han kim pun memikirkan kembali semua kejadian yang menimpanya selama ini. ia merasa segala sesuatunya seakan-akan sudah berada dalam dugaan gadis berbaju putih itu.

Sesudah menghembuskan napas panjang, gumamnya seorang diri: "Benar, kita harus kembali dulu ke tanah kubur Liat hu bong, mungkin dia benar- benar dapat membongkar rahasia dari si bunga bwee putih itu."

"Baiklah mari kita berangkat sekarang juga"

Dengan menembusi kegelapan malam, berangkatlah kedua orang itu menuju ke tanah kubur Liat hu bong, Dengan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki dua orang ini, jarak sependek ini bisa ditempuh dalam waktu singkat.

Kuburan Liat hu bong yang sepi dan hening, kelihatan bertambah menyeramkan di suasana malam gelap ini, suara angin yang menggoyangkan rumput ilalang, membuat suasana semakin menggidikkan hati.

Han si kong berpaling memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian bisiknya sambil menghela napas: "Betul-betul suatu tempat yang sepi, terpencil dan menyeramkan Pasti bukan tanpa sebab pemilik bunga bwee putih itu memilih tempat semacam ini sebagai ajang pertemuannya" Lim Han kim sudah cukup hapal dengan jalanan di sekitar situ, Dia segera mengajak Han si kong menuju ke rumah batu di sisi kuburan tersebut sebuah lentera menerangi ruangan batu itu. si nona berbaju putih itu sedang duduk bersandar pada dinding sambil memejamkan mata. Di sisi kiri kanannya duduklah siok bwee dan Hiang lan.

Dalam genggaman kedua orang dayang itu terlihat sedang yang memancarkan sinar tajam. Meski mata mereka terpejam rapat, namun tubuh mereka kelihatan agak gemetaran, jelas hati mereka sedang dicekam ketakutan yang luar biasa.

Lim Han kim mendehem pelan, Belum sempat dia buka suara untuk menyapa, tiba-tiba terdengar Hiang lan menjerit keras sambil melompat bangun, dengan senjata pedang siap menyerang, teriaknya keras-keras: "Enci Bwee, cepat bangun, hajar setan..." Nada suara nya penuh dikecam perasaan kaget bercampur rasa takut yang amat sangat.

Sebenarnya siok bwee sudah melompat bangun bersamaan waktunya dengan Hiang lan, cuma dia yang berusia lebih tua tidak macam Hiang lan yang gagal mengendalikan emosinya, Kendatipun di hati kecilnya dia merasa ketakutan setengah mati seperti halnya Hiang lan, namun tidak sampai menjerit histeris. "Jangan panik" seru Lim Han kim dengan suara dalam, "Aku Lim Han kim ada urusan hendak menjumpai nona Pek."

Nona berbaju putih yang duduk bersandar pada dinding itu segera melompat bangun, sambil membuka matanya ia berseru seraya tertawa: "Sudah kuduga kau pasti akan balik kemari, maka dengan penuh kesabaran aku duduk menantimu disini. sebenarnya aku sudah lelah sekali, aku harus pergi tidur"

Beberapa patah kata ini diucapkan dengan nada manja dan lembut, sikap manja seorang gadis remaja kentara sekali dalam gerak geriknya, sehingga boleh dibilang jauh berbeda dengan sikap tegas dan ucapan tajam di waktu- waktu sebelumnya. "Aku merasa tak enak hati harus mengganggu nona di tengah malam buta begini."

"Memang paling susah menerima kunjungan tetamu di tengah hujan badai. Ruangan batu ini terpencil dan terletak di sisi kuburan, rumput ilalang yang tumbuh liar membuat suasana bertambah menyeramkan. Aku justru menyambut gembira kunjungan kalian di tengah malam buta ini, paling tidak akan membuat keberanian kami lebih besar."

Lim Han kim segera berpaling sambil menuding ke arah Han Si kong dan memperkenalkan "Dia adalah Han locianpwee, Han Si kong" "Tak perlu diperkenalkan lagi, kami sudah pernah bertemu," gadis berbaju putih itu manggut-manggut sambil tertawa.

"Yaa, aku sudah beberapa kali bertemu dengan ayahmu" ucap Han Si kong seraya memberi hormat.

"Kita pun sudah bertemu tiga kali" Si nona menambahkan

Diam-diam Han Si kong berpikir di dalam hati: "Sewaktu ada di Pondok Lian im lu kami pernah berjumpa satu kali, Ketika dia menghantar Thian hok sangjin berangkat ke istana panca racun bersama Dewi seratus racun, kami bertemu sekali lagi, ketika di rumah makan Kun eng lo tadi sekali lagi kami berjumpa, hanya saja waktu itu wajahnya mengenakan kain kerudung hitam sehingga aku tidak berhasil mengenali dirinya, Terlepas malam ini., kami memang sudah tiga kali bertemu muka "

Berpikir sampai di situ, dia pun berseru: "Daya ingatan nona betul-betul hebat, aku merasa kagum sekali."

Segulung angin malam berhembus lewat, menggoyangkan cahaya lentera dalam ruangan Lim Han kim segera maju menghadang hembusan angin malam itu, kemudian katanya: "Kedatangan kami malam-malam ini sebenarnya ada dua tujuan. Kesatu, mohon petunjuk dari nona tentang suatu masalah yang amat pelik, sedang kedua minta kepada nona agar secepatnya meninggalkan tempat yang sangat berbahaya ini."

"Kalau begitu coba katakan dulu persoalan yang pertama," ucap nona berbaju putih itu sambil tertawa.

Lim Han kim mencoba putar otak untuk membayangkan kembali kejadian tersebut, tapi ia segera merasa kan betapa pelik dan ruwetnya kejadian itu, untuk sesaat dia tak tahu harus mulai berbicara dari mana, sampai lama kemudian ia baru berkata: "Apa-kah nona kenal dengan benda ini?"

Dari dalam sakunya dia mengeluarkan bunga bwee putih itu dan disodorkan ke depan sambil menerima bunga itu, si nona berbaju putih tersebut tertawa, "Kau maksudkan bunga bwee putih ini?" tegurnya.

"Benar, pemilik bunga bwee putih itu akan mengadakan perjamuan besar di tanah kubur Liat hu bong ini tiga hari kemudian Di sinilah para jago silat dari seluruh kolong langit akan berkumpul. Apabila nona tetap tinggal di sini, bukankah keadaanmu jadi berbahaya sekali?"

"Inikah masalah kedua yang hendak kau kemukakan?"

Lim Han kim agak tertegUn, tanpa terasa pipinya jadi merah dan panas sekali karena jengah, walaupUn nona berbaju putih itu tidak menerangkan secara jelas tapi arti dari perkataan itu sudah jelas sekali, secara lamat- lamat ia menegur dirinya yang bicara tanpa aturan.

Han Si kong yang menyaksikan hal itu segera tertawa terbahak-bahak. serunya: "Ha ha ha ha... saudara Lim memang kelewat tipis mukanya, lebih baik biar aku saja yang berbicara."

Maka secara ringkas dia ceritakan semua peristiwa yang telah mereka alami selama ini.

Ketika selesai mendengar penuturan tersebut,pelan- pelan nona berbaju putih itu pejamkan matanya rapat- rapat, bagaikan seorang pendeta yang sedang bersamadi.

Sampai lama sekali ia tak berbicara, Han si kong segera berpikir di dalam hati: "Usia bocah perempuan ini baru belasan tahun, betapapun pintarnya dia, aku rasa mustahil ia mengetahui asal usul bunga bwee putih ini secara pasti. "

Berpikir sampai di situ, sambil tersenyum segera ujarnya: "Nona tak usah bersedih hati.Bila kau tidak mengetahui asal usul pemilik bunga bwee putih itu, lebih baik tak usah membuang pikiran dan tenaga dengan percuma "

Mendadak nona berbaju putih itu membuka matanya kembali Di bawah sinar lentera tampak dari balik matanya yang bulat besar terpancar sinar yang aneh sekali, dengan suara lirih ia bersenandung: "Bunga bwee muncul dalam dunia persilatan. Banjir darah mengalir dalam kanal, Mayat bergelimpangan menumbuk bagai bukit "

"Apa?" seru Han si kong tertegun.

Terdengar gadis berbaju putih itu berkata lebih jauh "Pedang sakti to Thian liong, si Dewa siu lo Kie Tay

seng"

"Nona, mantera apa yang sedang kau baca?" Kembali Han si kong menegur dengan wajah keheranan,

Sementara itu Lim Han kim sudah dapat menangkap arti dari ucapan itu. serunya keras-keras: "Nona, kalau kau sudah tahu badai bencana segera menjelang tiba, kenapa kau masih berpeluk tangan tidak menggubris?"

"Bagaimana caraku untuk mencampurinya?" sahut nona berbaju putih itu sambil menghela napas.

Lim Han kim segera membayangkan kembali kejadian di rumah makan Kun Eng lo di mana nona dipaksa orang berbaju abu-abu untuk menurunkan ilmu silat kepada- nya. Kalau dilihat keadaannya waktu itu, jelas gadis tersebut tidak pandai bersilat, lalu bagaimana mungkin seorang gadis yang tak pandai ilmu silat bisa diberi tanggung jawab untuk mengatasi masalah bunuh membunuh ini?

Namun dia pun menaruh perasaan curiga yang sangat mendalam terhadap semua ucapan serta ramalannya yang serba misterius, Maka sambil memberi hormat serunya:

"Mungkin nona memang sengaja menyembunyikan kepandaian yang dimiliki dengan berpura-pura tak pandai silat.,,."

"Tidak Aku betul-betul tak pandai bersilat," kata gadis berbaju putih itu seraya menggeleng.

"Dari mana nona bisa mengerti tentang delapan jurus ilmu pedang naga langit?"

Gadis berbaju putih itu tersenyum, "Walaupun aku mengetahui rahasia teorinya, namun tak mampu untuk mempraktekkan. "

Tiba-tiba biji matanya terbalik, tubuh nya tahu-tahu terjengkang dan roboh ke belakang, siok bwee dan Hiang lan buru-buru menyambar tubuh nona berbaju putih itu kemudian menguruti sekujur badannya.

Melihat kejadian ini, sambil menggeleng Han si kong berkata: "saudara Lim, aku lihat kita tak akan berhasil memperoleh apa-apa, lebih baik pergi saja." "Dia kan sudah mengatakannya?"

"Mengatakan apa? Kenapa aku si tua bangka tidak mendengar?"

"Dia bilang, bunga bwee muncul dalam dunia persilatan, darah akan mengalir seperti kanal, mayat akan bertumpuk seperti bukit, bukankah hal ini berarti bencana besar telah menjelang tiba dalam dunia persilatan? sedang kan mengenai pedang sakti penjagal naga langit dan dewa suci menghimpun hasil, rasa-rasa nya seperti dua dua jenis ilmu silat atau nama dari seseorang, sayang kecerdasan kita terbatas sehingga tak dapat meresapi rahasia di balik nama itu"

Han si kong termenung sambil berpikir berapa saat, kemudian katanya: "Jika dilihat dari rasa takut yang luar biasa pada wajah si gelang emas panji sakti Chin Hui hau serta Golok kilat Tong san, aku pikir si pemilik bunga bwee putih itu pasti seorang gembong iblis yang berhati kejam dan telengas sehingga menggetarkan perasaan siapa saja."

"Rasanya memang begitu, ketika aku bertarung melawan utusan bunga bwee tadi, meski hanya dua gebrakan, namun dapat kurasakan ilmu silat yang dimiliki orang itu sama sekali tidak berada di bawah kepandaianku. Aaai... Bahkan bagaimana raut wajah orang itu pun tak sempat kulihat dengan jelas." Sementara itu si nona berbaju putih yangj atuh pingsan tadi kini telah siuman kembali, tampak paras mukanya pucat pias seperti mayat Di bawah sinar lentera kelihatan wajah itu sama sekali tak ada warna darah, ia menggerakkan matanya yang sayu untuk memandang dua orang itu sekejap, kemudian pelan-pelan dipejamkan kembali, sedang tubuhnya tetap bersandar pada bahu Siok bwee.

Hiang lan memandang Lim Han kim sekejap, lalu katanya: "Lim siangkong, duduk dan beristirahatlah sejenak, Setiap kali penyakit nona kami sedang kambuh, dia butuh istirahat selama setengah jam lamanya sebelum mampu berbicara lagi."

"Apakah penyakitnya ini seringkali kambuh?" tanya Lim Han kim dengan kening berkerut.

"Kadangkala dalam sehari bisa kambuh beberapa kali, kadangkala pula dalam beberapa hari tak pernah kambuh,"

Siok bwee segera melototi Hiang lan sekejap bermaksud menghalanginya bicara lebih jauh, namun seluruh perhatian Hiang lan telah tertuju ke wajah Lim Han kim sehingga kerlingan mata rekannya itu sama sekali tidak dilihatnya.

Terdengar dayang itu dengan suara yang merdu berkata lebih jauh: "cuma nona kami tak boleh banyak menggunakan tenaga, Kalau berbicaranya terlalu lama atau pekerjaannya terlalu banyak, maka penyakitnya itu segera akan kambuh kembali."

Mendengar penjelasan ini, diam-diam Lim Han kim berpikir di dalam hati: perkataan gadis ini jujur dan terbuka, jelas dia bukan seseorang yang licik dan berpengalaman. jelas apa yang diucapkan boleh dipercayai seratus persen, Tapi sungguh aneh sekali, Kalau memang dia takpandai bersilat kenapa dalam otaknya tersimpan catatan semua ilmu silat dan ilmu pedang tingkat tinggi dari kolong langit bahkan rahasianya sempat bocor sehingga ada orang yang datang menyatroni dia serta memaksanya mengajarkan ilmu silat itu kepadanya?

Dengan tubuhnya yang begitu lemah, rasanya kontras sekali dengan ucapan-ucapannya yang mengandung arti serta makna yang mendalam "

Ketika ia menengok kembali, tampak kelopak mata gadis berbaju putih itu tertutup rapat. Di bawah sinar lampu dapat terlihat bulu matanya yang panjang, Kecuali air mukanya pucat pias serta agak kekurusan, dia benar- benar seorang perempuan Cantik yang sangat menawan hati. KeCantikan wajahnya, kelemah lembutan tubuhnya serta keberaniannya yang luar biasa menciptakan hawa misterius di tubuh gadis itu. Han si kong adalah seorang jago silat yang kasar dan berangasan. Walaupun begitu, dengan pengalamannya selama puluhan tahun dalam dunia persilatan serta pengamatannya yang seksama ia dapat merasakan bahwa gadis berbaju putih yang tampak sangat lemah ini sesungguhnya memang luar biasa dan berbeda sekali dengan orang awampada umumnya, Cuma dia tak bisa menjelaskan di mana letak perbedaan itu.

Lim Han kim berpaling memandang Han si kong sekejap, kemudian katanya: "saudara Han, mari kita duduk dan menunggu sejenak"

"Betul, memang sepantasnya kita tunggu. Toh semalam bukanlah suatu jangka waktu yang terlalu lama."

"Kalau begitu kalian duduklah segera," kata Hiang lan sambil tersenyum manis.

selama berada di tempat sepi yang gelap dan menyeramkan selalu kuatir dan ketakutan Kini setelah ada dua orang lelaki yang menemani mereka dalam ruangan tersebut, tentu saja perasaan hatinya jadi lega bercampur senang,

Lebih kurang sepertanak nasi kemudian pelan-pelan gadis berbaju putih itu baru bangun dari pelukan siok bwee. Waktu itu Han si kong sudah menarik kembali sikap memandang entengnya terhadap gadis itu, buru-buru dia memberi hormat seraya menegur: "Nona sudah sadar?"

"Tampaknya kalian harus menunggu lama," kata nona berbaju putih itu sambil menggosok matanya.

"Tidak berani, sesungguhnya di hati kecil kami terdapat satu masalah pelik yang sangat membingungkan dan tidak dipahami kami berharap nona bersedia memberi petunjuk." Nada ucapan Han si kong kali ini sangat menaruh hormat.

"Katakanlah," ucap nona berbaju putih itu sambil menghela napas, "Aaai Kalian jangan.,., jangan

menilaiku terlalu tinggi."

"Tadi nona mengatakan, bunga bwee muncul dalam dunia persilatan, darah akan mengalir bagaikan kanal, mayat akan menumpuk bagaikan bukit, apakah pemilik bunga bwee putih yang kau maksudkan?"

Nona berbaju putih itu memejamkan matanya sambil berpikir sejenak, kemudian sahutnya: "Tentu saja dia"

"Pemilik bunga bwee putih telah mengundang semua jago yang ada di kolong langit untuk berkumpul di kuburan Liat hu bong ini tiga hari kemudian, bukankah ini berarti bencana besar telah berada di depan mata?"

"Aku rasa tidak bakal keliru." "Nona bisa meramal kejadian akan datang serta memiliki wawasan pandangan yang amat luas, bersediakah kau membantu para jago dari kolong langit untuk melolos kan diri dari bencana kali ini. "

Gadis berbaju putih itu segera menggelengkan kepalanya seraya menukas: "Aku hanya seorang gadis lemah yang tak punya kekuatan untuk memotong seekor ayam pu, mana mungkin aku bisa menolong umat manusia?"

Membayangkan kembali keadaan gadis itu tatkala penyakitnya kambuh tadi, Han si kong tahu bahwa perkataannya ini bukan alasan saja. Untuk sesaat lamanya dia tak tahu bagaimana harus menyambung pembicaraan tersebut, orang tua ini jadi termangu dan membungkam dalam seribu bahasa.

Lim Han kim mengerutkan dahinya, Baru saja dia hendak berbicara, nona berbaju putih itu telah berkata lebih jauh sambil tertawa: "Walaupun aku tak dapat menolong orang, tapi bisa memberitahu kepada kalian suatu cara untuk menghindarkan diri dari bencana kali ini."

"Aku siap mendengarkan keteranganmu itu."

"Pemilik bunga bwee putih sengaja mengundang para jago dari seluruh kolong langit untuk berkumpul di kota si Ciu ini. Kejadian tersebut benar-benar merupakan suatu peristiwa besar yang menggetarkan hati, tapi anehnya, tempat kenamaan di kolong langit banyak sekali jumlahnya, mengapa ia justru memilih tempat terpencil yang menyeramkan seperti ini sebagai tempat perjamuannya "

"Ehmmm, betul juga perkataan ini," gumam Han si kong, "Kenapa ia justru memilih tempat terpencil yang menyeramkan seperti ini sebagai tempat pertemuannya..?"

"Nona, kau berpengetahuan luas, ketelitianmu luar biasa. Kami benar-benar merasa tak mampu menandingimu" kata Lim Han kim penuh rasa kagum. semula dia mengira nona berbaju putih ini benar-benar memiliki ilmu sesat atau ilmu sihir yang bisa membuatnya ampuh, tapi setelah mendengar kupasan-kupasan yang dilakukan gadis tersebut terhadap permasalahan yang sedang terjadi, sadarlah pemuda ini bahwa nona tersebut bukan memiliki ilmu sesat, tapi kepintaran serta ketelitiannya yang luar biasa sehingga ia dapat membahas semua masalah secara nyata. Karena itulah tanpa sadar timbul rasa kagum dan hormatnya yang luar biasa terhadap gadis itu.

Terdengar gadis berbaju putih itu berkata lebih jauh: "Tempat yang dipilihnya sebagai tempat pertemuan ini bukan tempat yang mematikan, juga bukan lembah buntu yang mudah dipakai sebagai perangkap. Meskipun ilmu silat yang dimilikinya sangat tangguh sehingga orang lain tak mampu menandinginya, tapi tempat ini terbuka lebar, empat penjuru tanpa penghalang, orang bisa kabur dari sini secara gampang "

"Perkataan nona tepat sekali." Dengan napas agak tersengkal gadis berbaju putih itu berkata lebih jauh: "Dia memerintahkan chin Hui hau untuk menyiapkan meja perjamuan Hidangan yang dipesan pun dia minta dikirim ke kuburan Liat hu bong ini secara terbuka, Hal ini menunjukkan bahwa dia tidak bermaksud mencampuri racun dalam hidangan dan arak yang akan dihidangkan"

Dengan penuh rasa kagum Han si kong manggut- manggut. "Perhitungan nona benar-benar tepat dan hebat, aku merasa kagum sekali."

Gadis berbaju putih itu tersenyum, sambungnya: "Kalau toh ia tak sanggup meringkus semua jago yang hadir dalam pertemuan itu sekali pukul, buat apa ia mesti kumpulkan semua jago dari kolong langit serta memusuhi mereka?"

"Betul sekali" seru Han si kong sambil bertepuk tangan, "Kata-kata nona begitu hebat seolah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, aku betul-betul takluk dibuatnya." Nona berbaju putih itu menghela napas panjang, katanya dengan napas terengah-engah: "Apakah kau masih belum paham?"

"Paham apa? Harap nona jelas kan" seru Han si kong tertegun

Dari sakunya nona berbaju putih itu mengeluarkan sapu tangan untuk menyeka peluh yang membasahi jidatnya, kemudian ujarnya: "jikalau dia berniat mencelakai para jago yang hadir dalam pertemuan ini, maka tempat disekitar sini pasti dikerjai lebih dulu, kalau dilihat tumbuhan rumput ilalang yang begitu lebat di sekitar sini, aku percaya dia pasti akan mengerjai rumput ilalang tersebut sehingga dengan demikian setiap orang yang melalui rumput ilalang itu tak seorang pun bisa melepaskan diri "

"Waah... kecerdikan nona betul-betul luar biasa.,." seru Han si kong sambil menghela napas.

"sekarang kau pasti sudah paham bukan?"

"Yaa, sudah paham sekali. Kalau begitu aku segera akan memberitahukan para jago yang akan hadir ke pertemuan ini agar berhati-hati dengan jebakan mereka."

"Tidak boleh,jika kau memberitahukan para jago yang akan hadir ke pertemuan ini, maka pemilik bunga bwee putih pun akan mendapat tahu juga." "Lantas apa yang mesti kulakukan?" tanya Han si kong kebingungan-

"Lebih baik kita menggunakan cara yang sama untuk mengerjai mereka, ia dapat mengenai rumput ilalang di sekitar tempat ini, masa kalian tak bisa mendahului mereka mengerjai lebih dulu tempat di sekitar kuburan ini.,.?"

"Betul... betul sekali. " sesudah berbicara cukup

lama, kembali gadis berbaju putih itu tersengal sengal napasnya, Dia segera pejamkan mata dan bersandar di bahu siok bwee untuk beristirahat.

sementara itu Han si kong telah mengerutkan dahinya lagi sesudah beberapa kali memuji perkataan gadis tersebut Ternyata dia hanya merasa perkataan nona itu sangat masuk di akal, tapi dia tak tahu apa yang mesti diperbuatnya terhadap rumput ilalang tersebut guna balas mengerjai lawan-lawannya.

setelah termenung berapa saat lamanya, ia berpaling ke arah Lim Han kim sambil berkata: "saudara cilik, aku sudah dibuat pusing tujuh keliling, Coba bantulah aku berpikir, apa yang mesti kita lakukan terhadap rumput ilalang ini agar dapat mengerjai pula pihak bunga bwee putih."

padahal tak usah Han si kong bertanya pun, Lim Han kim sudah memutar otaknya habis-habisan, namun ia tetap gagal menemukan jawabnya yang pantas hingga akhirnya sambil tertawa getir dia gelengkan kepalanya berulang kali.

"Aai... apabila Li Tiong hui hadir di sini, kita tak usah kesal dan murung lagi..." bisik Han si kong.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, ia segera berseru: "Aaah... sudah ada, sudah ada Kita bisa tebarkan racun ganas di dalam rumput ilalang yang lebat ini. "

Tapi ia kembali gelengkan kepalanya seraya bergumam: "Tidak bisa, tidak bisa jangan lagi tak ada

ahli racun pada saat ini, sekalipun ada juga tak mungkin bisa menghindarkan para jago yang hadir keperjamuan ini dari bahaya racun."

Tiba-tiba nona berbaju putih itu membuka matanya kembali seraya bertanya: "siapa sih Li Tiong hui itu?"

"Kalau menyinggung tentang orang ini, sesungguhnya dia punya asal usul yang luar biasa, Nona Pek tahu tentang keluarga persilatan dari bukit Hong san?"

"Yaa, aku pernah mendengar nama ini dari cerita ayahku," gadis berbaju putih itu manggut-manggut

"Nona Li Tiong hui adalah keturunan ketiga dari keluarga persilatan bukit Hong san, ia bersama kakaknya Li Bun yang menjadi tenar dalam dunia persilatan Aaai.,. setiap anggota persilatan yang menyinggung tentang keluarga persilatan bukit Hong san, terutama kakak beradik keluarga Li, hampir semuanya acungkan jempol sambil memuji tiada hentinya."

"sayang sekali aku belum pernah bertemu dengan nona Li itu," kata gadis berbaju putih itu sambil tersenyum "Di kemudian hari aku mesti cari kesempatan untuk bertemu dengannya."

Han si kong segera merasa hatinya tergerak sesudah mendengar perkataan itu, diam-diam ia mengumpat kepikunan dirinya. "saat ini sudah ada seorang juru pikir yang hebat di sini, bahkan kemungkinan besar kepintarannya jauh melebihi nona Li, kenapa aku tidak minta tolong dia saja?" Demikian ia berpikir di dalam hati. Lalu sambil memberi hormat, ujarnya:

"Aku si monyet tua sudah separuh abad lamanya mengembara dalam dunia persilatan Dalam anggapanku pengalaman yang kuperoleh sudah cukup banyak, tapi setelah mendengar petunjuk dari nona malam ini, aku baru menyadari bahwa selama ini perjalananku di dunia persilatan ternyata hanya sia-sia saja."

Nona berbaju putih itu hanya tersenyum, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

setelah mendehem beberapa kali, Han si kong berkata lebih lanjut: "setiap patah kata nona hampir semuanya mengetuk perasaan hatiku, Aku rasa satu masalah tak perlu merepotkan dua orang, Harap nona sudi memberikan petunjuk yang jitu untuk menghadapi pemilik bunga -bwee putih itu. "

orang ini betul-betul berhati mulia, dia selalu memikirkan keselamatan para orang gagah di kolong langit, seakan-akan setiap orang yang hadir di pertemuan tersebut adalah sahabat karib atau saudaranya saja.

"Kita tak boleh mengguna kan racun,.,." kata nona berbaju putih itu pelan.

"Hal ini telah kupikirkan juga sekalipun dengan cara tersebut kita dapat menghadapi pemilik bunga bwee putih itu, tapi racun tersebut akan mencelakai pula para orang gagah yang bakal menghadiri pertemuan besar ini."

Gadis berbaju putih itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali, ucapnya: "Bagi orang yang memiliki ilmu silat setaraf pemilik bunga bwee putih itu, mungkin ia sudah kebal terhadap segala macam serangan racun, Seorang ahli racun nomor wahid pun rasanya paling banter cuma bisa melukai beberapa orang jago dunia persilatan-"

"Perkataan nona kembali membuka cakrawala pandangan mataku, Aaai. sekarang aku semakin merasa bahwa kehidupanku selama banyak tahun ternyata hanya sia-sia belaka "

Gadis berbaju putih itu kembali termenung berpikir beberapa waktu lamanya, setelah itu ujarnya lebih jauh: "Pemilik bunga bwee putih itu berani mengundang para jago dari seluruh kolong langit untuk berkumpul di sini, tentu saja ia sudah membuat persiapan yang matang.

Jadi siasat atau jebakan yang sering dipergunakan umat persilatan tak mungkin bisa mencelakai dirinya."

Tiba-tiba ia sodorkan tangannya ke hadapan Lim Han kim dan katanya lagi sambil tersenyum: "Bimbinglah aku, mari kita tengok keadaan tanah di luar sana."

Perkataan itu ditujukan kepada Lim Han kim, maka walaupun Han Si kong ingin memberikan bantuannya, namun dia rikuh untuk mengutarakannya keluar.

Lim Han kim tampak agak tertegun, tapi kemudlan menghampirinya dengan langkah pelahan, Tangan kiri gadis berbaju putih itu menggenggam pergelangan tangan Lim Han kim kemudlan bangkit berdiri, Dari sakunya ia mengeluarkan sebatang jarum emas dan katanya seraya tertawa: "Sambutlah jarum ini"

Dengan wajah kebingungan Lim Han kim menerima jarum emas itu. "Kau mengerti letak jalan darah?" tanya gadis itu kemudian.

"Aku percaya tak bakal keliru."

"Bagus" seru gadis berbaju putih itu sambil tertawa, "sekarang tusukkan jalan darah Ci kiong hiat pada nadi Jin meh ku." Lim Han kim mengangkat jarum emas itu tinggi-tinggi namun tak berani ditusukkan ke bawah. ia tak mengerti ilmu pertabiban, padahal jalan darah Ci kiong hiat merupakan jalan darah penting di tubuh manusia. ini berarti tusukan jarum tersebut dapat berpengaruh lain jika ditusuk secara keliru, maka dari itulah ia tak berani bertindak gegabah,

"Ayo tusuklah Asal kau yakin tak bakal salah menusuk, mati hidupku tak perlu kau risaukan"

Lim Han kim tidak banyak bicara lagi, Tangan kanannya segera bergerak ke bawah dan menancapkan jarum emas itu dijalan darah Ci kiong hiat gadis tersebut, Tampak gadis berbaju putih itu mengernyitkan alis matanya sambil mengerdipkan matanya yang besar beberapa kali. sinar mata yang semula telah memudar itu tiba-tiba saja memancarkan Cahaya hitam yang berkilauan,

"Mari kita berangkat" katanya sambil tertawa merdu, Dengan meletakkan tangan kirinya di atas bahu Lim Han kim, pelan-pelan ia berjalan keluar dari ruangan. Han si kong segera berjalan paling depan untuk membuka jalan, sementara Hiang lan dan siok bwee mengikuti di belakang tubuh gadis berbaju putih itu.

"Kita akan ke mana dulu?" tanya Lim Han kim kemudian.

"Mari kita keliling bukit raksasa ini satu putaran"

Mendengar itu, Lim Han kim kembali berpikir: "Gerak gerik gadis ini aneh, serba misterius dan susah diraba, lebih baik ikuti saja semua permintaannya."

Padahal dalam situasi dan kondisi seperti ini, sudah tak mungkin ia ambil keputusan sendiri, sehingga terpaksa anak muda itu mesti menuruti kemauan si nona dengan berjalan mengelilingi kuburan raksasa itu.

si nona berbaju putih yang lemah tak tahan angin itu, setelah ditusuk jalan darahnya dengan jarum emas, tiba- tiba saja semangatnya kelihatan segar kembali, bukan saja tak lelah, bahkan gadis itu sanggup berjalan mengelilingi kuburan raksasa itu dengan menembusi rumput ilalang setinggi lutut.

Ia berjalan sangat lamban, semua pemandangan dan keadaan yang dilaluinya diperhatikan secara cermat dan teliti, Karena itu untuk mengitari kuburan raksasa tersebut satu putaran, ia membutuhkan waktu hampir satu jam lamanya, Ketika balik kembali ke ruang batu, waktu sudah menunjukkan tengah malam buta.

Pelan-pelan gadis berbaju putih itu duduk di atas lantai, kemudian katanya: "sekarang aku butuh istirahat sebentar, kita baru melakukan persiapan setelah matahari terbit nanti" seraya bicara, dengan cepat dia cabut keluar jarum emas yang menancap di jalan darah Ci kiong hiatnya itu

Begitu jarum emas tercabut, sinar matanya yang berkilat itu seketika padam dan lenyap tak berbekas, malahan tanda-tanda kelelahan jelas membekas di atas wajah-nya, tubuhnya segera dibaringkan ke lantai.

siok bwee pun mengambil selimut untuk ditutupkan ke atas tubuh gadis berbaju putih itu, katanya: " Lebih baik kalian berdua mencari tempat lain untuk beristirahat Antara lelaki dan perempuan ada perbedaan jadi harap jangan berbaur dalam satu ruangan."

"Betul juga perkataan nona," sahut Lim Han kim.

Selesai bicara dia segera balik tubuh dan berjalan keluar dari ruangan-

"Kalau begitu biar kami menjaga di luar kamar batu ini, sekalian menjaga keselamatan kalian bertiga," sambung Han si kong, "Memang paling bagus begitu" seru Hiang lan sambil tertawa, "Dengan hadirnya kalian berdua untuk jaga malam, kami pun bisa tidur dengan perasaan lega."

"Tidur saja kalian dengan perasaan lega" Dengan langkah lebar Han si kong beranjak pula meninggalkan tempat itu.

Kedua orang itu mencari sebuah tanah berumput dekat ruangan untuk duduk. tanpa bicara apa-apa, mereka berdua sama-sama pejamkan mata dan mengatur pernapasan.

Dengan benak yang dipenuhi banyak masalah pelik, mana mungkin Han si kong dapat menenangkan diri? Ketika ia mencoba angkat kepalanya, terlihat Lim Han kim sedang duduk dengan tenang, dadanya naik turun sangat teratur, jelas ia sedang mengatur pernapasan.

sekali pun dalam hati kecilnya dia segan mengusik ketenangan Lim Han kim namun lama kelamaan habis juga kesabarannya, tak tahan tegurnya lirih: "saudara Lim, kau sangat lelah?"

"Ada apa saudara Han?" tanya Lim Han kim sambil membuka matanya kembali

"Kelihatannya nona Pek memang tidak pura-pura tak pandai bersilat?" "Kecerdikannya melebihi siapa pun, bahkan sangat menguasai ilmu pertabiban oleh sebab itulah dari peredaran waktu ia dapat memperhitungkan denyut nadi serta peredaran darahnya secara tepat, justru karenanya ia bisa menggunakan tusukan jalan darah untuk merangsang kekuatan tubuhnya, Tentang ketidak mampuannya bersilat, aku pikir dia memang tidak berbohong."

"Aaaai... utusan dari pemilik bunga bwee yang kita jumpai benar-benar memiliki ilmu silat yang hebat, bisa dibayangkan bagaimana dengan pemilik bunga bwee putih sendiri,, tapi sekarang aku justru tak habis mengerti, bagaimana mungkin seseorang yang sama sekali tak mengerti ilmu silat bisa menghadapi seorang tokoh silat nomor wahid dari kolong langit hanya mengandalkan kecerdasan otaknya saja."