Pedang Keadilan I Bab 29 : Gadis Aneh Di Loteng para orang- Gagah

 
Bab 29. Gadis Aneh Di Loteng para orang- Gagah

Tiba-tiba Han si-kong menghela napas panjang sambil berkata: " Kembali aku saksikan sebuah peristiwa tragis dunia persilatan, aaai. sampai kapan dunia persilatan

bisa terbebas dari semua masalah budi dan dendam..?"

Dengan sorot mata yang berkilat Li Tiong-hul menyapu Han si-kong sekalian sekejap. kemudian ujarnya: "sekarang aku telah menjabat sebagian ketua Hian-hong-kau gara-gara dukungan dari kalian semua, Pesan akhir nyonya Kang sebelum ajalnya juga telah kalian dengar, Kekuatan sesat yang dimiliki perkumpulan Hian-hong-kau saat ini sudah cukup mampu untuk menandingi kekuatan sembilan partai besar. Meskipun kenyataannya belum tentu demikian, aku percaya selisihnya pun tak jauh, padahal situasi dalam dunia persilatan saat ini sangat kacau.

Apabila kita bisa manfaatkan kekuatan yang maha dahsyat ini untuk mewujudkan kesejahteraan orang banyak. maka keberhasilannya tentu jauh melebihi kekuatan gabungan kita beberapa orang."

"Menurut penilaian aku si monyet tua, dari beberapa orang tokoh sakti dunia persilatan dewasa ini, si Datuk sepuluh penjuru siang Lam-ciau terhitung menempati urutan pertama, sekarang dia membantu di pihakmu, ditambah pula dengan kecerdasan nona yang tiada taranya, aku percaya tak sulit bagi kalian untuk mencokolkan diri menjadi satu kekuatan baru di luar sembilan partai besar."

Mencorong sinar tajam dari mata Li Tiong-hui setelah mendengar perkataan itu,

kembali dia memandang Lim Han-kim sekejap. lalu katanya: "orang sakti selalu muncul di permukaan bumi, dunia persilatan tak pernah ada orang nomor satu.

Aaai,., Aku hanya seorang gadis biasa, bagaimana mungkin bisa bergelut untuk selamanya dalam percaturan dunia persilatan? Apabila harapan nyonya Kang sudah terpenuhi, aku pun ingin mengundurkan diri dari keramaian dunia dan tak pernah muncul kembali dalam keruwetan dunia persilatan-"

"Dunia persilatan tak pernah ada orang nomor satu. "

gumam Han si-kong lirih.

"Benar," sela Li Bun-yang, "sejak dulu sampai sekarang, jago lihai yang bermunculan dalam dunia persilatan mencapai ribuan orang, siapa yang sanggup mempertahankan gelar orang nomor satu dari dunia persilatan ?"

Lim Han-kim yang selama ini hanya duduk membungkam, tiba-tiba melompat bangun pada saat itu sambil serunya: "Nona Li, kuucapkan selamat kepadamu atas keberhasilan nona menjadi ketua Hian-hong-kau. "

"Hmmm Tak usah memuji," tukas Li Tiong-hui sambil mendengus dingin Lim Han-kim segera menangkap nada permusuhan di balik ucapan gadis itu, untuk sesaat dia tertegun, tapi kemudian katanya lagi: "Seharusnya aku tinggal di sini untuk membantu kalian selama beberapa hari, tapi berhubungan aku menguatirkan keselamatan adikku sehingga terpaksa harus berangkat sekarang juga guna melacak jejaknya. Maaf, terpaksa aku harus mohon diri lebih dulu." Selesai berkata sebera memberi hormat dan meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.

Paras Li Tiong-hui berubah hebat secara tiba-tiba, dia seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi niat tersebut kemudian diurungkan Buru-buru Han si-kong berseru: "Lote, harap tunggu sebentar, kau tidak punya pengalaman sama sekali dalam dunia persilatan bagaimana mungkin bisa berjalan seorang diri, biar aku temani kau."

"Tidak usah," tampik Lim Han-kim. " Lebih baik Locianpwee tetap tinggal di sini membantu nona Li, apalagi dia baru menjabat ketua, pasti banyak urusan yang harus diselesaikan olehnya, dalam kerepotan ini tenaga bantuan locianpwee amat diperlukan. "

"Urusan Hiang-hong-kau tak perlu Lim siangkong kuatirkan, aku bisa selesaikan sendiri" potong Li Tiong- hui ketus, Pada saat ini, bukan cuma Li Bun-yang saja yang melihat gejala kurang beres, bahkan Han si-kong sendiri pun dapat merasakan bahwa Li Tiong-hui mempunyai pandangan yang kurang simpatik terhadap Lim Han-kim dan berusaha membuat malu anak muda itu.

Dia mencoba berpikir untuk mencari tahu sebab musababnya tapi tak pernah berhasil, kemudian ia juga teringat kesanggupannya untuk berbakti kepada Hian- hong-kau, meski belum secara resmi masuk jadi anggota, tapi sebagai seorang lelaki sejati apa yang telah diucapkan tak boleh disesali maka terpaksa dia membungkam diri dan mundur ke samping.

Terdengar Li Tiong-hui berkata lebih lanjut: "Sejak hari ini untuk sementara waktu Hian-hong-kau akan melakukan hari berkabung bagi kematian ketua lama, jadi semua gerakan akan ditunda sampai satu bulan mendatang, Apabila locianpwee ingin pergi, pergilah mengikuti dia"

Mendengar ucapan itu, Han si-kong segera, menjura seraya menyahut: "Berhasil atau tidak menemukan saudara cilik itu, tiga bulan kemudian Han si-kong pasti akan datang ke mari menunggu perintah."

"Tidak usah, Tiga bulan kemudian aku juga tak tahu di mana kau berada, pun tidak diketahui masih hidup atau mati, bila membutuhkan bantuanmu aku tentu akan mengirim orang untuk mengundang."

"Apabila ada perintah, aku si monyet tua pasti tak akan menampik," seketika dia sengaja memberi hormat dan melangkah ke luar dari ruangan itu.

"Locianpwee terlalu serius," balas Li Tiong-hui sambil tertawa, Ketika sorot matanya dialihkan ke wajah Lim Han-kim, tiba-tiba saja senyum di wajahnya lenyap tak berbekas, sikapnya terhadap orang lain selalu ramah tamah, senyum dikulum dan ucapannya merendah, hanya terhadap Lim Han-kim seorang sikapnya begitu dingin, ketus dan bermusuhan, seakan-akan antara mereka berdua terdapat ikatan permusuhan yang amat mendalam.

Li Bun-yang segera berkerut kening, cepat-cepat dia meninggalkan ruangan dan mengantar kepergian kedua orang rekannya itu, Mereka bertiga berjalan dengan langkah pelan dan bungkam seribu bahasa, sikap permusuhan Li Tiong-hui terhadap Lim Han-kim tampaknya telah menciptakan jurang pemisah yang sangat dalam antara Li Bun-yang dengan Lim Han-kim.

Waktu itu kentongan kelima sudah menjelang tiba, angin malam terasa berhembus kencang, rembulan dan bintang tak tampak di langit sehingga suasana terasa gelap gulita.

Tiba-tiba Lim Han-kim menghentikan langkahnya, sambil membalikkan badan ujarnya: "saudara Li silahkan balik, aku mohon diri sampai di sini saja."

Li Bun-yang sebera melangkah ke muka, sambil menggenggam tangan kanan Lim Han-kim erat-erat katanya: "saudara Lim, meskipun kepintaran adikku jauh melebihi diriku yang menjadi kakaknya, namun bagaimanapun juga ia tetap seorang wanita yang berbeda jauh sikap maupun sifatnya daripada kita sebagai kaum pria, tak heran kalau jiwanya agak kerdil dan cupat pikiran. Apabila ia sudah menyinggung perasaan saudara Lim, tolong pandanglah di wajahku, tak usah melayani dirinya " . Lim Han-kim tersenyum,

"Saudara Li terlalu banyak pikiran, mungkin memang sikapku yang kurang berkenan di hatinya sehingga adikmu marah kepadaku."

Li Bun-yang menghela napas panjang, katanya setelah termenung beberapa saat: "sebenarnya aku ingin mengikuti dirimu pergi melacak jejak adikmu, tapi sekarang adikku baru menjabat ketua Hian-hong-kau, segala sesuatunya tentu masih asing baginya, Untuk membantu kelancaran tugas barunya ini mau tak mau aku harus tetap tinggal di sini untuk membantunya, pokoknya kalau urusan di sini sudah beres, aku pasti akan menyusul kalian dan bergabung lagi untuk melacak jejak adikmu itu."

"Saudara Li tak perlu sungkan-sungkan, aku rasa dengan adanya Han locianpwee yang menemani perjalananku ini, segala sesuatunya tentu bisa kami atasi. "

Han si-kong yang ada di samping mereka kontan tertawa terbahak-bahak. sambungnya pula: "Ha ha ha ha,., saudara Li, lebih baik kamu balik saja. Betul ilmu silatku kurang begitu bagus, tapi pengalamanku cukup luas, segala taktik busuk dunia persilatan tak nanti bisa mengelabuhi sepasang mataku, selamat tinggal dan sampai jumpa lagi. " Ia memberi hormat lalu menarik tangan Lim Han-kim meninggalkan tempat itu, dalam sekejap mata bayangan tubuh mereka sudah lenyap di balik kegelapan Setelah meninggalkan Li Bun-yang, dua orang ini menempuh perjalanan hampir belasan li jauhnya sebelum memperlambat langkah-nya. Tiba-tiba Han Si-kong berkata setelah menghembuskan napas panjang:

"Saudara cilik, aku lihat nona Li seperti menaruh kesan yang kurang simpatik kepadamu, tahukan kau apa sebabnya ia bersikap begitu?" Han Si-kong tertawa hambar.

"Aku sendiri pun tidak merasa telah berbuat sesuatu yang tak berkenan di hatinya, jadi kenapa bisa begitu? Aku sendiri pun tidak jelas."

"Yaa, perasaan kaum wanita lebih dalam dari samudra, Selama hidup aku memang tak pernah bisa meraba perasaan kaum wanita."

Bicara sampai di situ dia gelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang, Lim Han- kim turut menghela napas, katanya: "Kalau tidak mengalami suatu kejadian, bagaimana mungkin otak kita bertambah cerdas? Siapa yang menyangka di suatu gubuk yang terpencil letaknya di tengah hutan, ternyata hidup seorang pendekar besar macam Siang Lam-ciau yang menyimpan rahasia begitu besar. Siapa pula yang mengira ketua Hian-hong-kau yang menyeramkan ternyata adalah sekuntum bunga kenamaan dari dunia persilatan di masa lalu?"

Mendadak Han Si-kong seperti teringat akan suatu urusan yang sangat penting, sambil mendepakkan kakinya berulang kali dengan perasaan gelisah, serunya: "Waaah.-, celaka, aku si monyet tua benar-benar sudah tua dan pikun."

"Ada apa?"

"Dalam dunia persilatan sering muncul surat ramalan yang berisi ramalan tentang situasi dunia persilatan.

Konon surat itu berasal dari buah pena siang Lam-ciau. persoalan ini sudah bertahun-tahun terpendam dalam benakku, ketika berjumpa dengan orangnya tadi kenapa aku lupa untuk menanyakan kepadanya "

"Di kemudian hari kita masih punya kesempatan untuk berjumpa dengannya, Aku percaya suatu ketika rahasia besar ini pasti akan terbongkar juga "

Begitulah, sambil berbincang-bincang mereka berdua menempuh perjalanan tanpa berhenti, hari ini sampailah mereka di wilayah kota si-ciu. sudah cukup lama Han si- kong berkelana dalam dunia persilatan, dia tahu sistem pelacakan yang tanpa didasari titik terang ini mustahil bisa terlaksana, apalagi tanpa berusaha mengadakan kontak dengan para pemimpin dunia persilatan di pelbagai daerah, Bila hanya mengandalkan kekuatan mereka berdua saja, keadaan tersebut ibarat mencari jarum di dasar samudra luas.

Sleh sebab itu perjalanan mereka berdua terhitung sangat lambat Dengan luasnya pergaulan dari Han si- kong, dan lagi kenalannya cukup banyak. perjalanan Lim Han-kim kali ini betul-betul sangat lancar.

Sepanjang perjalanan mereka berusaha mengumpulkan informasi tentang Yu siau-liong, namun usaha tersebut tak pernah berhasil. Tengah hari ini masuklah mereka ke kota si-ciu. sepanjang perjalanan hingga tiba ke kota tersebut, Han si-kong sudah merasakan gelagat kurang baik, ia temukan banyak sekali umat persilatan yang berbondong-bondong datang berkumpul di kota si-ciu ini, malah di antara mereka banyak yang mengenakan pakaian serta dandanan yang asing, tampaknya mereka berasal dari luar perbatasan sana.

Melihat semua itu, tak tahan lagi ia berbisik kepada Lim Han-kim: "saudara cilik, apakah kau tidak melihat sesuatu yang mencurigakan?"

"Kau maksudkan banyak jago persilatan yang berkumpul di kota si-ciu ini?"

"Kota si- ciu strategis letaknya dan merupakan pertemuan dari pelbagai wilayah, perusahaan ekspedisi sin-bu-piau kiok yang tersohor itu bermarkas di sini pula, selama puluhan tahun belakangan ini seringkali terjadi peristiwa besar di sini, Banyak pula umat persilatan yang berjanji mengadakan pertemuan di kota ini, jadi semestinya kejadian semacam ini lumrah, tapi herannya dalam peristiwa kali ini, kenapa jago-jago persilatan yang berkumpul kali ini tampaknya lebih banyak berasal dari luar perbatasan.

Kalau dilihat dandanan mereka, jelas bukan orang daratan dan rasanya mereka mesti berdiam paling tidak selama dua malam di sini,"

Apa yang dipikirkan Lim Han-kim saat ini hanyalah keselamatan Yu siau-liong, maka ia cuma berkerut kening tanpa mengucapkan sesuatu, sambil tertawa tergelak Han si-kong berkata lagi: "Ha ha ha ha... saudara cilik, justru sekaranglah kesempatan terbaik buat kita untuk melacak jejak adikmu. "

"Locianpwee, maaf aku tidak begitu mengerti maksud ucapanmu itu," kata Lim Han-kim kebingungan.

Kembali Han si-kong tertawa.

"Dalam dunia persilatan dewasa ini, baik golongan hitam maupun golongan putih, orang yang terhitung paling luas pergaulannya dan paling banyak kenalannya adalah Cong-piau tau dari perusahaan ekspedisi sin-bu- piau kiok. yakni si gelang emas panji baja Chin Hui-hau. Aku pernah bertemu beberapa kali dengannya, meski bukan terhitung sobat kentalnya paling tidak kami masih punya sedikit hubungan. "

"Oooh, maksud locianpwee kita minta tolong chin congpiautau untuk melacak jejak adikku?"

"Betul, lebih baik kita mencari rumah makan untuk mengisi perut lebih dulu, sore nanti bisa aku berkunjung ke kantor sin-bu-piaukiok. Asal Chin congpiautau menyanggupi maka aku percaya semuanya akan beres. Apabila orang ini ramah dan supel, ucapannya selalu dipegang teguh, ditambah lagi anak buahnya mencapai ratusan orang bahkan pegawai-pegawai utamanya termasuk jago-jago kenamaan sedang kantor cabangnya juga tersebar sampai di seantero daratan, bukankah tempat macam ini justru merupakan kesempatan terbaik bagi kita untuk melacak."

"Pendapat locianpwee hebat, aku kagum sekali" "Aaaaah, masa kau masih sungkan-sungkan

terhadapku? Kecuali umurku memang lebih tua, dan aku pun lebih banyak tahun berkelana dalam dunia persilatan, bicara soal ilmu silat, aku masih ketinggalan jauh sekali dari kepandaianmu"

Karena semua yang dikatakan memang merupakan kenyataan, Lim Han-kim hanya tersenyum saja tanpa komentar Han si-kong termasuk orang yang suka keramaian, ia hapal sekali dengan keadaan kota si-ciu ini.

Tanpa bersusah payah diajaknya Lim Han-kim mampir ke rumah makan paling besar di kota tersebut, yaitu rumah makan Kun-eng-lo atau loteng tempat berkumpulnya para pahlawan-

Waktu itu suasana di rumah makan Kun-eng-lo ramai sekali, hampir semua bangku telah diisi tamu, suara hiruk pikuk amat menusuk pendengaran, Han si-kong mencoba memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, ketika dijumpainya hampir sebagian besar tamu di situ adalah umat persilatan kepada pelayan segera bisiknya: "Hey, ada tidak tempat yang lebih sepi?"

Pelayan itu segera mengerutkan kening, Belum sempat pelayan itu menolak. dari sakunya Han si-kong sudah mengeluarkan sekeping hancuran perak dan disodorkan ke tangannya.

Kening si pelayan yang hampir berkerut langsung saja mengendor kembali, cepat-cepat sahutnya: "ooh... ada, pasti ada, mari ikuti hamba."

Ia segera membawa dua orang itu menembusi dua buah halaman luas dan menuju ke sebuah ruang tamu yang sepi. sambil tersenyum Han Si-kong memesan empat macam sayur dan sepoci arak wangi Menunggu sampai si pelayan meninggalkan mereka berdua, bisiknya kepada Lim Han-kim: " Kusir kereta, tukang perahu, pelayan dan kuli merupakan golongan manusia yang paling menjengkelkan tapi justru merekalah yang memiliki kegunaan yang paling besar. Asal kau punya duit dan memberikannya pada mereka, maka segalanya bakal. "

Belum selesai perkataan itu diucapkan, pelayan itu sudah muncul lagi dengan langkah terburu-buru sambil berkata: "Tolong bicara kalian berdua pelahan sedikit, lebih baik lagi jangan sampai mabuk, sebab kamar sebelah dipakai tamu perempuan," tanpa menunggu jawaban dari Han si-kong lagi ia turunkan tirai dan segera berlalu.

Dengan cepat Han Si-kong berkelebat menyembunyikan diri di belakang pintu kemudian melongok ke luar, Tampak dua orang dayang kecil berbaju hijau memapah seorang gadis berbaju putih yang rupanya sedang penyakitan berjalan masuk ke rumah sebelah.

Gadis baju putih itu mengenakan kain kerudung hitam di wajahnya, langkah kakinya sangat lemah dan kalau bukan dipapah mungkin sudah roboh ke tanah, sebaliknya dua orang pelayan itu berlangkah tetap dan menggembel pedang pendek dipunggungnya.

Sebetulnya orang tua ini banyak pengetahuan dan pengalaman tapi sekarang tak urung timbul juga kecurigaan dalam hati-nya, tanpa terasa ia berpikir: "Kalau dilihat dandanan dua orang pelayan kecil itu, jelas mereka ahli silat, sebaliknya gadis berbaju putih itu seperti sedang mengidap penyakit parah, langkahnya susah dan lemah. Aku benar-benar tak habis mengerti dibuatnya "

Tak selang berapa saat kemudian pelayan tadi telah muncul kembali menghidangkan sayur dan arak pesanan, Dengan suara setengah berbisik Han si-kong segera ber- tanyai "Hey, pelayan, siapa sih yang ada di kamar sebelah?"

Pelayan itu ragu-ragu sejenak. tapi jawabnya juga: "Kaum wanita."

Baru saja dia balik badan hendak pergi, Han si-kong telah bertanya lebih lanjut: "Macam apa mereka? Berapa jumlahnya? sudah berapa lama tinggal di sini?"

Sambil menunjukkan ketiga jari tangannya pelayan itu menyahut lirih: "Tiga orang nona muda, sudah empat hari tinggal di sini."

"Apa mereka sering keluar rumah?"

"Ooh tidak. selama empat hari tinggal di sini baru hari ini pertama kali keluar kamar"

"Oooh. kau pernah menjumpai nona itu?" "Belum pernah, nona itu lemah sekali badannya, sepanjang hari dia hanya berbaring di ranjang, yang kujumpai hanya dua orang nona yang berdandan sebagai dayang itu."

Han si-kong segera ulapkan tangannya, "Sekarang kau boleh pergi dulu, kalau ada urusan aku bisa memanggilmu lagi."

Pelayan itu sebera memberi hormat dan mengundurkan diri dari ruangan tersebut.

Setelah menutup rapat daun jendela, Han si-kong baru berkata sambil tertawa: "Saudara cilik, ingat baik-baik, orang yang paling susah dihadapi dalam dunia persilatan adalah gadis muda. orang-orang semacam ini kalau bukan memiliki ilmu silat yang maha dahsyat, kebanyakan tentu mengandalkan senjata rahasia yang amat beracun, Kebanyakan mereka berhati keji dan racun, terutama menghadapi kaum pria. Biasanya mereka akan manfaatkan kelemahan kita yang segan turun tangan lebih dulu untuk mencari keuntungan pokoknya ingat saja nasehatku ini, kalau dikemudian hari bertemu dengan kaum wanita, lebih baik tingkatkan kewaspadaanmu,"

"Betul juga ucapan ini. Ketika tertawan di pesanggrahan Tho-hoa-kit tempo hari, semuanya itu juga gara-gara aku kurang waspada terhadap kaum wanita " Sementara pembicaraan masih berlangsung, mendadak terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang, disusul kemudian tirai pintu disingkap orang dan muncullah seorang lelaki berpakaian ringkas dengan langkah tergesa-gesa.

"Kau hendak mencari siapa?" tegur Han si-kong dengan kening berkerut, Dengan sorot mata yang tajam lelaki itu memperhatikan Han si-kong dan Lim Han-kim sekejap. kemudian sambil menurunkan kembali tirai pintu katanya pelan: "Maaf, aku telah salah melihat" Tanpa membuang waktu lagi dia balik badan dan berlalu dari situ.

"Berhenti" hardik Han si- kong penuh marah. Tangan kanannya segera menekan permukaan meja, lalu secepat sambaran petir tubuhnya menyusup ke luar, tangan kanannya dengan jurus "Macan Emas Pentang cakar" mencengkeram bahu kiri lelaki itu

Dengan sigap lelaki itu membungkukkan badannya, bahu kirinya yang terancam tiba-tiba mengegos ke depan, dengan manis sekali ia berhasil menghindarkan diri dari sergapan Han si-kong itu sementara itu tangan kanannya sebera mendayung ke belakang mengancam pergelangan tangan kanan orang tua itu, gerak serangannya cepat bagaikan sambaran kilat.

Buru-buru Han si- kong menekuk pergelangan tangan kanannya ke bawah untuk menghindarkan diri dari serangan orang itu, sementara dalam hati kecilnya merasa terkejut sekali, pikirnya: "Sungguh tak nyana ilmu silat yang dimiliki orang ini tangguh sekali Untung aku tidak dipecundangi " Dalam saat itu lelaki tersebut

telah berpaling dan menegur sambil tertawa dingin: "Saudara, apa maksudmu membokong aku dari belakang?"

"Dalam mata yang jeli tak akan kemasukan pasir, sudah puluhan tahun aku berkelana dalam dunia persilatan, kau anggap perjalananku selama ini hanya perjalanan sia-sia?"

"Hmmm, aku tidak paham," seru lelaki itu sambil tertawa dingin.

"Tidak paham? Apanya yang tidak paham?" Han si- kong tertegun.

"Ini yang tidak paham" Memanfaatkan kesempatan di saat Han si- kong masih tertegun, mendadak ia lancarkan berapa serangan gencar,

Tampaknya Han Si-kong tidak mengira dalam kesempatan seperti ini lawannya bisa melancarkan serangan kilat, seketika itu juga ia terdesak pada posisi di bawah angin.

Sambil tertawa tergelak lelaki itu segera menjengek: "Ha ha ha ha sekarang sudah jelas bukan mata siapa yang jeli dan mata siapa yang kemasukan pasir?" Sementara berbicara serangannya dipergencar, dalam sekejap mata ia sudah melancarkan berapa jurus serangan lagi. Kehebatan ilmu silat yang dimiliki orang ini tampaknya betul-betul di luar dugaan Han si-kong. 

Tiba-tiba Lim Han-kim munculkan diri dari balik tirai, serunya lirih:

"Menyingkirlah Han locianpwee, biar aku saja yang menghadapi orang ini" Tangan kanannya segera diayunkan menerobos masuk lewat celah-celah antara bayangan pukulan kedua orang itu Dengan lima jari yang setengah melengkung dia berusaha mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kanan lelaki itu

Sergapan yang dilancarkan secara tiba-tiba ini mengandung perubahan yang sangat banyak dan tak terduga, mimpi pun lelaki tersebut tidak menyangka kalau serangan lawan bisa menyergap tiba dengan kecepatan begitu hebat. Tahu-tahu dia merasakan pergelangan tangannya jadi kaku, semua kekuatan serangan yang dimilikinya lenyap secara tiba-tiba.

Han si-kong segera melepaskan satu serangan kilat menekan jalan darah Mia-bun-hiat di tubuh lelaki itu, ancamnya: "Seorang lelaki sejati tak akan sudi menelan kerugian di depan mata. Meskipun aku tak berminat membunuh orang, tapi kalau dipaksa oleh keadaan, bunuh satu-dua orang bukan terhitung urusan hebat bagiku, jadi lebih baik kau tahu diri.."

Sebetulnya lelaki itu sudah siap berteriak minta tolong, tapi niat tersebut segera diurungkan begitu selesai mendengar ancaman tersebut, mulutnya segera membungkam dalam seribu bahasa, Han si-kong segera menyeret tubuh lelaki itu masuk ke dalam ruangan, secara beruntun ia totok juga jalan darah pada sepasang lengan dan sepasang kakinya, kemudian setelah mendudukkan di atas bangku, ujarnya: "Aku hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu, asal kau bersedia menjawab dengan sejujurnya akupun segera membebaskan dirimu dari sini."

"Itu tergantung pertanyaan apa yang hendak diajukan," sahut lelaki itu dingin, "Kalau tidak sepantasnya kujawab, biar kepala mesti kutung dada mesti tembus pun tak nanti kupenuhi permintaanmu itu."

"Bagus" puji Han si-kong di dalam hati. "Bocah ini cukup gagah dan berjiwa ksatria " sambil tersenyum ia

pun berseru: "Aku yakin pertanyaanku tak bakal menyusahkan posisimu" Kemudian setelah berhenti sejenak. katanya lagi: "Kau sengaja memasuki ruangan kami, apakah memang berniat menyelidiki asal usul kami?"

"Aku mendapat perintah untuk mengawasi rumah makan Kun-eng-lo ini, jadi bukan hanya kalian berdua, setiap orang yang memasuki rumah makan Kun-eng-lo ini menjadi kewajibanku untuk menyelidiki dan mengetahui asal usulnya, paling tidak aku harus memeriksa raut wajah mereka, usianya, serta tempat pemondokan mereka."

"Kalau begitu saudara pun sedang melaksanakan perintah orang?"

"Hanya mengandalkan ilmu silat kucing kaki tiga macam diriku ini masa pantas menduduki jabatan sebagai pentolan para jago? "

Han Si-kong sebera tertawa tergelak: "Ha ha ha ha... boleh aku tahu siapa sih dalang di belakang layar yang memberi perintah kepadamu itu?"

"Maaf, aku tak bisa menjawab pertanyaanmu itu"

Lim Han-kim mengakui dirinya masih kurang pengalaman dan belum tahu seluk beluk cara menginterogasi orang lain, maka selama ini dia hanya berpangku tangan saja tanpa berbicara.

Tampak Han si-kong bangkit berdiri dan ayunkan tangannya menepuk bebas totokan jalan darah di tubuh lelaki itu, katanya sambil tertawa: "Pertanyaanku sudah selesai, silahkan saudara pergi dari sini"

Lelaki itu segera melompat bangun, tapi sebelum melangkah pergi, tiba-tiba Han si-kong mengangkat cawan araknya seraya berseru: "Barusan aku telah menyusahkan saudara, untuk itu terimalah secawan arak penghormatanku ini, anggap sebagai permintaan maafku padamu"

Lelaki itu agak sangsi sejenak tapi akhirnya dia sambar cawan arak di meja dan meneguknya hingga habis, kemudian tanpa bicara dia putar badan melangkah ke luar.

"Silahkan pergi saudara, maaf aku tidak mengantar" seru Han si-kong lagi seraya memberi hormat Waktu itu lelaki tersebut sudah menyentuh tirai pintu dan siap melangkah ke luar, tiba-tiba dia urungkan niat tersebut serta pelan-pelan membalikkan badannya kembali.

Setelah memandang sekejap wajah dua orang itu, katanya pelan "Aku ingin menasehati kalian berdua, kalau tak ada urusan penting lebih baik tinggalkan tempat ini secepatnya"

Tidak menunggu sampai Han Si-kong mengajukan pertanyaan ladi dia putar badan dan berlalu dari situ dengan langkah terburu-buru. Memandang bayangan punggung lelaki itu lenyap di balik tirai pintu, Han si-kong termenung berapa saat lama- nya, kemudian ia baru berkata: "Lelaki itu tak malu disebut sebagai seorang lelaki sejati berjiwa ksatria, coba kita gunakan kekerasan untuk memaksanya bicara, mungkin beberapa patah kata pun tak nanti kita peroleh..." "Pengalaman locianpwee amat matang, sekali lagi aku mendapat pelajaran dan pengalaman baru"

Tiba-tiba Han Si-kong bangkit berdiri, bisiknya: "Saudara cilik, duduklah sekejap di sini, aku hendak menengok sebentar perusahaan sin-bu piaukiok. Jelek- jelek si gelang emas panji baja chin Hui-hau masih punya pamor dan kedudukan di wilayah Si-ciu ini, mata- matanya sangat banyak dan tersebar sampai radius seratus li dari wilayah kekuasaannya .

Selama ini belum pernah ada kejadian sekecil apa pun yang lolos dari pengamatannya, biar aku cari berita dari situ sekalian melacak pula jejak adikmu. Paling cepat setengah jam, paling lama satu jam aku pasti sudah kembali ke sini."

Orang tua ini memang tak sabaran, begitu bilang mau pergi, ia segera bangkit berdiri dan berlalu dari situ. Lim Han-kim sangat menguatirkan keselamatan Yu Siau- liong, hatinya kalut dan tak pernah bisa tenang, Dalam situasi seperti ini ia merasa tak ada napsu untuk bersantap. Untuk mengusir waktu dia duduk bersila sambil mengatur pernapasan.

Tak selang berapa saat kemudian hawa murninya telah berputar satu putaran dalam tubuhnya, semua pikiran dan masalah mulai tanggal satu persatu, semangat pun terasa menjadi segar kembali. Di tengah keheningan inilah mendadak ia menangkap suara rintihan yang amat lemah berkumandang datang, di balik rintihan yang lemah itu terkandung pula perasaan kaget dan takut yang kental.

Satu ingatan segera melintas dalam benak Lim Han- kim, ia segera teringat kembali pada gadis berbaju putih yang dipapah dua orang dayang kecil berbaju hijau tadi. Tanpa buang waktu ia segera melompat bangun dan keluar dari ruangan, Tempat di mana ia berada sekarang adalah sebuah halaman terpisah yang amat hening, kalau dari luar sana bergema suara gaduh yang hiruk pikuk. maka suasana di halaman ini justru amat sepi, sedemikian heningnya hingga tak kedengaran suara sedikitpun.

Lim Han-kim mencoba mengawasi situasi di sekeliling tempat itu. ia melihat beberapa pot bunga di depan pintu ruang lain tergoyang karena hembusan angin, rupanya pintu ruangan itu dalam keadaan terbuka. Hal ini segera menimbulkan kecurigaan dalam hatinya.

Sambil bersidekap tangan, pelan-pelan ia berjalan mendekati ruangan tersebut, pikir-nya: " Kalau dalam ruangan itu tak ada penghuninya, tentu saja wajar bila pintu dalam keadaan terbuka, Apabila penghuninya kaum wanita, kalau aku berjalan ke-situ dengan santai tak bakal menimbulkan kecurigaanku".

Berpikir sampai di situ, ia berjalan mendekati pintu ruangan, tapi apa yang terlihat kemudian segera membuat pemuda ini tertegun Ternyata dua orang dayang berbaju hijau itu sudah tergeletak di belakang pintu dalam keadaan jalan darah tertotok, sebuah tirai kain menutupi pemandangan ke dalam ruangan sehingga tidak tampak bagaimana keadaan di dalam ruangan tersebut.

Ia mencoba pasang telinga untuk mendengarkan namun tak kedengaran sedikit suara pun, suasana dalam ruangan itu sangat hening hingga menimbulkan perasaan bergidik bagi pemuda itu. jika dilihat dari situasi seperti ini, tampaknya kedatangannya sudah terlambat satu langkah.

Pelan-pelan dia melangkah masuk ke dalam ruangan, ditemukannya dua orang dayang kecil itu masih bernapas, maka dia pun menyingkap kain tirai dan menuju ke ruang dalam. Untuk menjaga segala kemungkinan yang tak diinginkan, diam-diam ia menghimpun hawa murninya ke dalam tangan kanan siap melepaskan sebuah pukulan yang mematikan

Situasi dalam ruangan amat rapi, Dari balik pembaringan terendus bau harum semerbak yarg sangat memabukkan Dari balik selimut samar-samar Lim Han- kim menjumpai sesosok tubuh yang kecil mungil masih tergeletak di situ, namun karena tertutup selimut merah dari atas sampai ke bawah maka sulit untuk dipastikan apakah di bawah selimut itu betul- betul manusia atau bukan.

Semua perabot utuh, situasipun seolah-olah aman coba kalau saja dua orang dayang itu tidak tergeletak di balik pintu dalam keadaan tertotok jalan darahnya, siapa pun tak akan menyangka kalau disitu telah terjadi suatu peristiwa.

"Ada orang kah disitu?" Lim Han-kim segera menegur setelah mendeham berat-berat.

Tubuh yang melingkar di balik selimut merah itu kelihatan bergerak sedikit, namun tak kedengaran suara jawaban Lim Han-kim kembali berpikir: "jelas kamar ini kamar perempuan sebagai seorang lelaki sejati rasanya tidak pantas kalau aku memasukinya secara sembrono, jelas perbuatan macam ini kurang sopan.,."

Berpikir begitu, ia turunkan kembali kain tirainya dan siap mengundurkan diri, Tapi ingatan lain kembali melintas di dalam benaknya: "Kedua orang dayangnya sudah ditotok jalan darahnya, ini membuktikan kalau dalam ruangan sudah terjadi suatu peristiwa, Demi keselamatan jiwa gadis itu, rasanya dosa besar kalau aku masih memikirkan soal sopan santun "

Sementara ingatan tersebut baru melintas lewat, tiba- tiba dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara langkah manusia. Lim Han-kim tidak sempat berpikir panjang lagi, secara otomatis ia berkelebat menyembunyikan diri di belakang pintu, tirai kain cepat- cepat diturunkan dan ia tempelkan badannya pada dinding sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan

Kedengaran pintu depan dibuka orang disusul kain tiraipun tersingkap. seorang kakek ceking berbaju abu- abu menyelinap masuk ke ruang dalam, dengan langkah lebar ia langsung mendekati pembaringan dan menyingkap selimut merah yang menutupi gadis itu. Di bawah selimut tergeletak si nona berbaju putih itu, rambutnya yang panjang terurai kusut, ia duduk bersila menghadap ke arah dinding sehingga wajahnya tidak tampak jelas.

Agaknya kakek ceking berbaju abu-abu itu sedang memikirkan suatu masalah yang menggembirakan sekulum senyuman tersungging di ujung bibirnya, ternyata ia tidak menyadari kehadiran Lim Han-kim yang bersembunyi di belakang pintu itu.

Posisi di mana ia berdiri sekarang membentuk sebuah sudut segi tiga dengan posisi Lim Han-kim, jadi seandainya ia berpaiing ke belakang niscaya jejak Lim Han-kim bakal ketahuan sayang rasa gembira membuatnya kurang waspada, seluruh perhatiannya saat itu sedang tercurahkan ke tubuh nona berbaju putih itu sehingga tak ada pikiran baginya untuk menoleh ke belakang.

Lim Han-kim mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya ke dalam telapak tangannya, Asal kakek ceking berbaju abu-abu itu berniat kurang ajar kepada gadis berbaju putih itu, maka dia akan lepaskan sebuah gempuran dengan sepenuh tenaga.

Dari dalam sakunya kakek ceking berbaju abu-abu itu mengeluarkan sebuah topeng kulit, setelah dikenakan pada wajahnya ia tepuk bebas totokan jalan darah pada punggUng gadis berbaju putih itu.

Sebetulnya Lim Han-kim sudah siap sedia melancarkan serangan, tapi karena dilihatnya totokan kakek ceking itu berupa ilmu melepaskan totokan maka niat tersebut segera diurungkan, pikirnya: "Aku tak boleh bertindak gegabah sehingga salah membunuh orang, toh aku hadir di sini sekarang, Asal ia tidak berbuat tak senonoh terhadap nona itu, rasanya lebih baik kutunggu perkembangan selanjutnya "

Tampak kakek ceking itu bekerja keras menguruti jalan darah dipunggung nona tersebut, sampai lama kemudian baru kedengaran gadis berbaju putih itu menghembuskan napas panjang sambil menggerakkan kaki tangannya. Kakek ceking itupun mendehem ringan, katanya: "Kau tak perlu takut bocah perempuan, asal kau bersedia menuruti perkataanku aku tak bakalan menyakitimu."

Gadis-berbaju putih itu segera bangkit dan duduk dipembaringan, teriaknya agak kaget: "siapa kau?"

"Sstt...jungan keras-keras" seru kakek ceking itu sambil menggoyangkan tangannya berulang kali, "Dua orang dayangmu sudah ku totok jalan darahnya, jadi tak usah berharap mereka datang menolongmu."

Walaupun gadis berbaju putih itu sudah duduk. tapi karena terhadang oleh tubuh kakek ceking berbaju abu- abu itu, maka sulit bagi Lim Han-kim untuk melihat raut wajah gadis berbaju putih itu dengan jelas, sebaliknya gadis berbaju putih itupun susah melihat kehadiran Lim Han-kim.

"Mau apa kau?" Kedengaran gadis berbaju putih itu menegur lagi,

"Aku hanya ingin minta petunjuk satu masalah, asal nona bersedia menerangkan secara gamblang, aku pun tak akan menyakiti nona. sebaliknya jika nona menampik permintaanku, hmmmm jangan salahkan kalau aku bersikap kejam kepadamu."

Lim Han-kim sangat keheranan setelah mendengar perkataan itu,pikirnya dalam hati: "Totokan jalan darah nona itu sudah dibebaskan tapi ia tak memiliki kemampuan untuk melawan, Hal tersebut membuktikan kalau gadis ini tak pandai bersilat, paling tidak ia sudah menyadari kalau bukan tandingan lawan, maka tak berani bertindak secara gegabah,., Kakek itu bilang ingin minta petunjuk satu masalah, entah masalah apa yang dimaksudkan?"

Sementara itu si kakek ceking telah menarik selimut dan diselimutkan ke tubuh gadis berbaju putih itu sambil berkata: "Kesehatan badan nona kurang baik, jangan sampai kedinginan-"

"Apa yang ingin kau tanyakan kepadaku?" Kakek ceking itu tertawa.

"Ilmu jari siu-lo-sam-si dan ilmu pedang naga langit" Satu ingatan segera melintas dalam benak Lim Han-

kim, pikirnya: "Aneh betul, menurut penuturan ciu- tayhiap. hanya dia dan si pedang sakti dari Lam-kiang yang mengerti ilmu pedang naga langit, itu pun masing- masing mengerti separuh, kenapa kakek ceking ini bisa menanyakan masalah tersebut kepada gadis berbaju putih ini.,.?"

Sementara dia masih termenung, kakek ceking berbaju abu-abu itu telah berkata lebih jauh: "Nona jangan mencoba menipu atau membohongi aku sebelum menyelidiki kemampuanmu secara jelas, tak nanti aku berani turun tangan secara gegabah, jika kau berniat membohongi aku sama artinya mencari penyakit buat diri sendiri, akhirnya kita berdua sama-sama tak peroleh manfaat apa pun."

Gadis berbaju putih itu termenung dan berpikir sejenak, kemudian jawabnya: "Tidak setiap orang mampu mempelajari ilmu jari siu-lo-sam-si serta ilmu pedang naga langit, Apabila kau tidak memiliki bakat serta dasar yang kuat, meski berhasil memaksa aku untuk menerangkan secara teori pun tak banyak manfaatnya bagimu. "

"Nona tak usah mengkhawatirkan persoalan ini," tukas kakek ceking berbaju abu-abu itu cepat, "Cukup sudah kalau nona mau menjelaskan teorinya kepadaku."

"Aaaai. aku nasehati kamu lebih baik jangan pelajari

kedua macam ilmu tersebut," kata nona berbaju putih itu sambil menghela napas.

"Kenapa?" Kakek itu mulai gusar

"Sebab walaupun aku sudah mewariskan teori ilmu jari siu-lo-sam-si dan ilmu pedang naga langit kepadamu, toh aku tetap tak bisa menyelamatkan selembar nyawa-ku, di kala kau sudah hapal dengan teori ilmu- ilmu tersebut berarti itulah saatnya kau akan membunuh aku. " Kakek ceking itu tertawa serak. "Nona betul-betul amat cerdik, ternyata apa yang menjadi rencana ku berhasil kau tebak secara jitu"

Setelah menghela napas panjang, 1anjut-nya: "Padahal kecantikan nona bagaikan bidadari dari kahyangan, siapa saja yang berjumpa denganmu tentu akan menaruh rasa simpatik, bahkan manusia berhati sekeras baja pun tak akan tega turun tangan terhadapmu tapi aku... aku dipaksa oleh keadaan sehingga mau tak mau "

"Kau tak lebih hanya takut aku wariskan lagi ilmu jari siu-lo-sam-si dan ilmu pedang naga langit itu kepada orang lain setelah mewariskannya kepadamu. "

"Benar, jika setiap orang mengetahui rahasia ilmu tersebut, maka kedua macam kepandaian itu sudah bukan terhitung ilmu langka dari dunia persilatan lagi. "

"Sayang sekali usahamu itu bakal sia-sia belaka "

"Hmmmmm jika kau berani menipu aku barang sepatah kata saja, akan kubuat dirimu tersiksa siang malam " teriak kakek ceking itu semakin gusar.

"Meskipun kau mengenakan topeng kulit sehingga sulit bagiku untuk menyaksikan wajah aslimu, namun kalau ditinjau dari perawakan serta susunan tulangmu, aku yakin kau tidak berbakat untuk mempelajari ilmu siu-lo- sam-si dan ilmu pedang thian-liong-pat-kiam."