-->

Pedang Keadilan I Bab 27 : Menjadi Ketua Hian- Hong- Kau

 
Bab 27. Menjadi Ketua Hian- Hong- Kau 

"Dia adalah kakakku" Li Tiong-hui menambahkan. "Maaf... maaf..."

Lim Han-kim membungkukkan diri pula memberi hormat, sambil ujarnya tawar: "Aku yang muda lim Han- kim."

Tiba-tiba gadis cantik itu menempelkan bibirnya dekat telinga nyonya setengah umur itu sambil berbisik, "lbu, ilmu silat orang ini sangat lihay, sama sekali tidak berada dibawahku."

Nyonya setengah umur itu tersenyum, sambil berpaling kearah putrinya ia berkata: "Anak Hong, masuklah ke kamar dan ambil keluar kotak besi yang kusimpan di bawah bantal itu"

Gadis cantik berbaju hijau itu menurut dan segera melangkah masuk ke ruang belakang, tak lama kemudian ia sudah muncul sambil membawa sebuah kotak besi setebal satu inci.

Dengan tangan kanannya yang kurus kering nyonya setengah umur itu menerima kotak besi tersebut setelah memandang Li Bun-yang sekalian sekejap. ujarnya: "Aku tahu kalian semua adalah sahabat karib nona Li, sedang Nona Li adalah tuan penolongku. " Berbicara sampai di

sini, kembali ia terbatuk-batuk keras. "lbu, sekarang sudah jauh malam, lebih baik perbincanganmu dengan nona Li ditunda besok saja setelah kesegaranmu pulih kembali. " bujuk gadis cantik

itu sambil menguruti punggung ibunya.

"Anak Hong, bila tidak kuselesaikan pada malam ini juga, aku khawatir tak punya kesempatan lagi untuk berbincang-bincang dengan nona Li." Li Tiong-hui menghela nafas panjang.

"Sejak berpisah di tebing Kiu-liong-kang, dua tahun lalu, sungguh tak disangka penyakit Locianpwee bisa bertambah semakin parah."

"sebetulnya saat ajalku sudah lama tiba, tapi berhubung masih ada dua keinginanku yang belum terkabul maka aku bertahan terus hingga sekarang ini. "

Li Tiong-hui mendongakkan kepalanya memandang gadis cantik itu sekejap. kemudian katanya: "Putri Locianpwee amat cantik dan pintar, aku percaya dia mampu meneruskan kedudukan Locianpwee Mengenai persoalan yang lain, asal kami semua sanggup melaksanakan kami pasti akan berupaya sekuat tenaga untuk memenuhi harapan Locianpwee itu."

Li Tiong-hui memang memiliki kecerdasan yang melebihi siapa pun, setelah berjumpa dengan nyonya setengah umur tadi, ia segera tahu bahwa nyonya penyakitan yang tanpa sengaja pernah ditolong di bukit Kiu-liong-kang dua tahun berselang itu ternyata tak lain adalah ketua Hian- hong- kau.

Nyonya setengah umur itu menghembuskan nafas panjang, ia berusaha membangkitkan kembali semangatnya, setelah itu baru ujarnya: "Nona sangat cerdik, dapatkah kau menebak apakah yang menjadi dua keinginanku itu?"

"Waaah, kalau soal ini aku susah menduga " setelah

memutar biji matanya beberapa kali, sambungnya sambil tertawa merdu: "Tapi apabila Locianpwee memaksa aku harus mempamerkan kebodohanku, baiklah, akan kucoba menebak dua hal yang menjadi keinginan Locianpwee itu, kesatu Locianpwee merisaukan masa depan perkumpulan Hian-hong-kau, kau takut partai ini menyeleweng dari jalur sebenarnya menjadi partai sesat yang merugikan dunia persilatan sehingga perjuangan locianpwe selama puluhan tahun jadi sia-sia belaka, bahkan diumpat semua masyarakat persilatan. "

Mendengar kata-kata itu, dalam hati kecilnya Han si- kong merasa sangat kagum, pikirnya: "Memang sangat tepat kalau bocah perempuan ini dipanggil Tiong-hui. seperti juga namanya, ia betul bocah cerdik. Agaknya dia hendak menggunakan kata-kata tersebut untuk membujuk nyonya itu agar dia terharu dan benar-benar merubah niat serta tujuan partainya " sementara dia masih berpikir, nyonya setengah umur itu telah menyahut setelah menghela napas panjang: "Dugaan nona Li memang tepat sekali, ketika aku berhasil merebut kedudukan ketua Hian-hong-kau dari tangan Ui-sik tojin tempo dulu, hatiku penuh diliputi rasa benci dan dendam. Aku ingin mempergunakan partai Hian-hong kau yang serba misterius ini untuk menciptakan badai pembunuhan paling berdarah dalam dunia persilatan, oleh sebab itu aku telah membuang banyak pikiran dan tenaga dengan memindahkan markas besar Hian-hong-kau ini dari wilayah In-kui menuju ke daratan Tionggoan.

susah payahku selama sepuluh tahun akhirnya berhasil menanamkan dasar kekuatan yang cukup kuat. Kini di Utara maupun selatan sungai besar telah kubangun delapan belas buah kantor cabang yang membawahi beratus-ratus kantor ranting yang tersebar luas di seluruh dunia persilatan.

Pada waktu itu api benci dan dendam yang membara di dadaku membuatku bertekad ingin menaklukkan jago silat sebanyak-banyaknya dalam dunia persilatan, setelah itu baru badai pembunuhan yang paling berdarah mulai dilangsungkan"

setelah mengatur napasnya yang ter-engah-engah, terusnya lagi sambil tertawa: " Waktu itu aku punya suatu jalan pikiran yang menggelikan aku punya rencana pada hari yang telah ditentukan akan kuperintahkan semua kekuatan yang ada dalam partai untuk melakukan pembantaian paling berdarah dalam dunia persilatan dalam satu malam saja, Apabila kekuatan yang terhimpun dalam delapan belas kantor cabang dan beratus kantor ranting dikerahkan bersama untuk turun tangan, aku percaya dunia persilatan tentu akan banjir darah segar "

Li Bun- yang merasa bergidik sekali setelah mendengar perkataan itu, ia mendehem beberapa kali. Tampak nyonya setengah umur itu tertawa hambar, katanya lebih jauh: "Tapi nona Li tak usah kuatir, apa yang kuceritakan telah menjadi masa lalu, sekalipun Thian memberi umur tiga-puluh tahun lagi kepadaku, tak nanti peristiwa yang amat mengerikan ini bakal terjadi dalam dunia persilatan, Aaai apa lagi keadaanku

sekarang ibarat lampu yang sudah kehabisan minyak, biarlah semua dendam kesumatku di masa lampau ikut terkubur bersama kematianku"

Ketika melihat keadaan penyakit yang diderita nyonya itu sudah demikian parah dan mustahil dapat ditolong lagi, Li Tiong-hui hanya bisa menunduk sedih tanpa berkata apa-apa. Nyonya setengah umur itu mendehem beberapa kali, setelah itu sambungnya lebih jauh: "Selama beberapa hari terakhir ini aku sudah merasakan terjadinya perubahan dalam isi perutku, ini berarti detik kematian akan segera menjelang tiba, lebih baik kumanfaatkan sedikit peluang yang masih tersisa ini untuk membica rakan hal-hal yang penting saja, seandainya aku masih dapat bertahan hidup dua jam lagi, aku akan menceritakan pula sebuah rahasia dunia persilatan kepada kalian semua, rahasia ini mempunyai hubungan yang sangat erat sekali dengan situasi dunia persilatan dewasa ini serta nasib dunia di masa datang..."

Tiba-tiba tampak kakek bertampang jelek itu melangkah masuk dengan tindakan lebar, sambil menjura serunya: "Cu-bojangan banyak berbicara lagi, yang penting menjaga kesehatan tubuh"

Nyonya setengah umur itu tidak menanggapi dia malah menggapai sambil ucapnya: "dekat lagi, aku hendak menyampaikan pesan kepadamu"

Tampaknya kakek bertampang jelek itu merasa terkejut dengan panggilan yang sama sekali tak pernah diduganya itu, dengan langkah yang berat selangkah demi selangkah ia berjalan menghampiri

" Cu-bo, ada pesan apakah kau?" tanyanya dengan mata berkilat

Nyonya setengah umur itu tertawa sedih, katanya: "llmu silat yang kau miliki tiada tandingannya di kolong langit, tapi gara-gara aku, kau telah memendam hampir seluruh usia hidup di tempat ini." "semua itu justru merupakan kehendakku sendiri, apa sangkut pautnya dengan cu-bo?" tukas kakek jelek itu Cepat.

Kembali nyonya setengah umur itu mengalihkan pandangan matanya ke wajah Li Tiong-hui, setelah tertawa sedih lanjutnya: "Aku hanyalah seseorang yang sudah hampir mati, apabila aku salah biCara atau bertindak kurang sopan, harap kalian jangan mentertawakan" 

"Locianpwee gagah dan berjiwa besar, kami hanya merasa kagum terhadap diri-mu," sahut Li Tiong-hui cepat.

Nyonya setengah umur itu segera menepuk kursi di sisinya dan berkata kepada kakek jelek itu: "Duduklah kau di sini, selama hidup aku sudah banyak berhutang kepadamu. "

"soal ini. budak tidak berani," Air mata tampakjatuh

meleleh dari mata tunggal kakek itu.

Dua tetes air mata jatuh bercucuran pula membasahi wajah nyonya setengah umur itu, sambil pejamkan matanya ia berbicara lebih jauh: "sudah delapan belas tahun aku menderita sakit dan kau melindungi keselamatan jiwaku selama ini, ketika kau pergi meninggalkan kami tak sampai tujuh hari, hampir saja aku kehilangan nyawa di tebing Kiu-liong-kang Coba

kalau bukan ditolong oleh nona Li, tak nanti aku bisa hidup hingga hari ini. "

"Semua ini adalah kesalahan budak. Budaklah yang gagal melindungi keselamatan cu-bo sehingga menyebabkan cu-bo menderita kaget."

Nyonya setengah umur itu menggelengkan kepalanya pelan, ditepuknya bahu kakek berwajah jelek itu kemudian berkata lebih jauh: "Kau telah melindungi keselamatanku selama delapan belas tahun, budi kebalkanmu ini sangat tebal dan tak terbalaskan olehku, Aaai. apa lagi bila teringat olehku betapa kau seorang

diri mesti menghadapi kerubutan delapan belas orang jago tangguh dari sembilan partai besar, Kau tampak begitu gagah dan perkasa, biar sudah terluka tetap mempertahankan diri mati-matian sehingga akhirnya malah berhasil memukul mundur kedelapan belas orang jago yang mengepung dirimu itu. Keberanian seperti ini belum tentu akan kita jumpai lagi dalam dunia persilatan dewasa ini.."

ia melirik gadis cantik itu sekejap. lalu terusnya: "Sekalipun ayah Hong-ji bisa hidup kembali dari kuburnya pun belum tentu dapat menandingi keberanian dan keperkasaanmu itu. "

Walaupun kata-kata pujian ini muncul dari mulut seorang nyonya yang sedang sakit parah dan menyangkut kejadian masa lampau, namun suasana ketika itu terasa begitu menyedihkan sekali.

Terdengar kakek bertampang jelek itu menjawab: "llmu silat majlkan tua sangat hebat tiada tandingannya di kolong langit, budak tak sanggup menandingi seujung jaripun."

sementara itu si nona cantik berbaju hijau itu sudah dibuat kebingungan oleh pemandangan yang tertera di depan matanya saat ini. Dengan sepasang matanya yang jeli sebentar dia awasi ibunya, sesaat kemudian mengawasi pula wajah si kakek jelek itu, dia tak tahu apa yang mesti diucapkannya dalam keadaan begini

sekulum senyuman jengah tampak melintas di wajah si nyonya setengah umur itu. senyuman itu adalah senyuman gabungan antara rasa sedih dan gembira, Ditatapnya Li Tiong-hui sekalian dengan pandangan penuh air mata, kemudian ujarnya: "Aku tak kuatir kalian akan mentertawakan diriku, tapi sebelum ajalku tiba aku ingin melampiaskan ke luar semua kemurungan dan kemasgulan yang telah terpendam dalam hatiku selama ini. sudah delapan belas tahun lamanya kusimpan semua kemurungan itu di dalam hati, bahkan dalam kedelapan belas tahun in.., kemurunganku kian hari kian bertambah banyak. Aku sudah cukup lama menderita akibat semuanya ini..." Ia berhenti sebentar. Dari balik matanya yang sayu tiba-tiba terbentik setitik cahaya terang, warna semu merah pun lamat- lamat membias di atas wajahnya yang layu, seakan akan ia dapatkan kembali keangkuhannya di saat saat terakhir ini inilah mimik muka yang sangat aneh dan bercampur aduk pelbagai perasaan, perasaan yang sudah terpendam hampir delapan belas tahun lamanya di dalam hati dan sedetik sebelum ajalnya tiba, semua perasaan itu meledak ke luar....

Kakek berwajah jelek itu kelihatan gemetar keras, ia seakan- akan tak sanggup menahan gejolak perasaan hatinya menghadapi tepukan tangan sang majikan di atas bahunya itu.

Waktu itu tampaknya nyonya setengah umur itu sudah tak sanggup mengendalikan gejolak perasaan dalam dadanya, ia menatap kakek berwajah jelek itu sekejap lalu ujarnya pedih: "Aku harus mengutarakan semua perasaan hati yang telah menghimpit dadaku selama ini, kalau tidak kuutarakan, mungkin selamanya tak ada kesempatan lagi. "

"Cu-bo, kau jangan termakan emosi, coba tenangkan hatimu. " bujuk kakek berwajah jelek itu cepat Lalu

sambil berpaling ke arah gadis cantik berbaju hijau itu, sambungnya lebih jauh: "Bila cu-bo sampai melukai perasaan hati nona Hong yang masih suci bersih, tentu hal ini akan meninggalkan kenangan suram bagi dirinya "

Warna merah yang menghiasai wajah nyonya setengah umur itu kelihatan bertambah merah, sinar mata yang memancar ke luar juga tampak lebih jeli, dengan tekad yang bulat katanya: "Tidak. aku harus berbicara. sekalipun anak Hong tak bakal mengakui diriku sebagai ibunya lagi, meski umat persilatan mengumpat aku sebagai wanita jalang yang tak tahu malu, aku tetap akan bicara. Yang penting perasaan hati kita adalah suci bersih dan aku tak pernah menghianati suamiku yang telah almarhum. delapan belas tahun-.. aaaai, delapan belas tahun bukan suatu jangka waktu yang pendek. sebetulnya kau adalah seorang pendekar besar yang dihormati dan disanjung setiap umat persilatan, tapi siksaan dan penderitaan selama delapan belas tahun telah membuat wajahmu berubah jadi jelek, seandainya bukan orang-orang Beng-kau yang bikin ulah, mungkin aku masih dapat hidup beberapa tahun lagi. "

ucapannya makin lama makin emosi, tapi kesungguhannya berbicara menandakan bahwa apa yang dikatakan merupakan suatu kejadian yang nyata.

Li Bun-yang, Li Tiong-hui maupun Han Si-kong semuanya sudah mulai merasa bahwa apa yang dikisahkan perempuan setengah umur itu sesungguhnya merupakan suatu rahasia persilatan yang tak mungkin terungkap bila tak diucapkan sendiri oleh orang yang bersangkutan karena itu semua orang pusatkan perhatiannya untuk mendengarkan penuturan tersebut dengan serius dan seksama.

Bahkan Lim Han-kim yang selalu bersikap tawar dan dingin pun ikut merasakan jantungnya berdebar keras, dengan mata terbalalak besar diawasinya nyonya setengah umur itu tanpa berkedip. Kakek berwajah jelek itu menghela napas panjang, katanya pelan:

"Kejadian ini luar biasa akibatnya, harap cu-bo berpikir tiga kali sebelum diputuskan"

Ucapannya agak gemetar,jelas dia harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengutarakan beberapa patah kata itu.

"Aku sudah memikirkan persoalan ini banyak tahun, masa kau hendak membiarkan aku membawa semua kemurungan ini ke dalam liang kubur?" ucap si nyonya setengah umur dengan suara yang memilukan hati.

Tampaknya kakek berwajah jelek itu telah mengambil keputusannya, tiba-tiba katanya: "Baik, kalau begitu utarakanlah"

Nyonya setengah umur itu tertawa sinis, sekulum senyuman yang segar tiba-tiba saja muncul dari balik wajahnya yang layu, sepasang pipinya tampak bersemu merah. samar-samar keayuan wajahnya di masa muda dulu membayang kembali di antara mukanya yang kuyu.

Han si-kong termangu-mangu memandang kesemuanya itu, pikirnya: "Aaaai... sudah delapan belas tahun dia digerogoti penyakit, wajahnya sudah layu dan tak segar, tapi senyumannya masih menampilkan sisa- sisa kecantikan wajahnya. Bisa dibayangkan sebelum jatuh sakit dulu, dia pasti adalah seorang perempuan yang amat cantik. "

selama hidup dia hanya tahu berkelana dalam dunia persilatan dan belum pernah terpikir masalah hubungan laki perempuan tapi kini, perasaan hatinya seakan-akan terpancing dan bergelora kembali setelah melihat senyuman nyonya setengah umur itu.

Terdengar nyonya itu berkata lagi: "Nona Li, Li siang kong adalah anggota keluarga persilatan dari bukit Hong san, kalian punya pergaulan yang luas dalam dunia persilatan, tapi kenalkah kamu berdua jago dari manakah orang ini?"

"Aaaai. orang salah memberi julukan kepadaku, lebih

baik jangan disebut," sela si kakek jelek itu sambil menghela napas sedih.

Mendengar nyonya setengah umur itu berbicara dengan begitu serius, Li Tiong-hui segera sadar bahwa kakek jelek yang dimaksud sudah pasti bukan manusia sembarangan tanpa terasa dia amati kakek itu beberapa kejap.

Tampak kakek jelek itu berdiri dengan mata terpejam dan air mata bercucuran, untuk sesaat dia tak bisa menduga siapa gerangan orang ini. Dengan suara yang pedih kembali nyonya setengah umur itu berkata:

"selama belasan tahun terakhir ini, semangat dan pikirannya banyak mengalami penderitaan dan siksaan, dua kali dia pun menderita luka parah sehingga wajah aslinya dulu hampir punah sama sekali, tentu saja kalian tak bakal kenal dirinya dan tampang wajahnya itu."

"Locianpwee, kalau kudengar dari penuturanmu itu, aku percaya dia pastilah seorang jago silat yang kenamaan dalam dunia persilatan "

"Benar, nama maupun kedudukannya dalam dunia persilatan tidak di bawah jago kenamaan manapun dalam persilatan dewasa ini, sebab dia tak lain adalah siang Lam-ciau. "

"Siang Lam-ciau" Begitu nama ini di-ucapkan, seperti guntur yang membelah bumi di siang hari belong semua yang nadir sama-sama terperanjat dan terbelalak.

"Datuk sepuluh penjuru siang Lam-ciau?" ulang Han

si-kong sambil melompat bangun saking kagetnya, Pelan- pelan kakek berwajah jelek itu menundukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, wajahnya kelihatan amat sedih.

"Benar, dia adalah siang Lam-ciau, datuk sepuluh penjuru yang termashur di utara maupun selatan sungai besar,.,." nyonya setengah umur itu menegaskan.

Tiba-tiba air matanya bercucuran amat deras, sambil menangis terisak terusnya: "Selama masih bergumul dalam dunia persilatan dia begitu disanjung dan dihormati umat persilatan, hidupnya santai tanpa ikatan, tapi gara-gara aku... ia harus menderita dan mengalami pelbagai siksaan sehingga akhirnya berubah jadi begini. "

Berkilat sorot mata Datuk sepuluh penjuru siang Lam- ciau, ia tertawa tergelak, katanya: "Cu-bo tidak usah terlalu menyesali diri sendiri, semua perbuatan ini aku lakukan atas dasar kerelaanku sendiri, apa sangkut pautnya dengan diri Cu-bo?"

"Kau jangan memanggil aku dengan sebutan itu lagi, aku sudah hampir mati " bujuk si nyonya setengah

umur sambil menyeka air mata yang membasahi wajahnya.

"Lantas budak harus memanggil dengan sebutan apa?" "Kita sudah menjaga hubungan yang suci hampir delapan belas tahun lamanya, menjelang ajalku tiba masa kau enggan mengubah panggilanmu kepadaku?"

"Aaaai... delapan belas tahun," gumam siang Lam-ciau sambil menghela napas dalam "Bagi kita delapan belas tahun rasanya jauh lebih panjang ketimbang seratus delapan puluh tahun... kita harus menderita siksaan batin selama delapan belas tahun.

Hubungan antara majikan dan pembantu telah memisahkan kita pada dunia yang ber-beda. selama ini, baik dalam berbicara maupun tindak-tanduk belum pernah kita melanggarnya barang setapakpun, kenapa kita tak bisa bersabar lagi beberapa waktu. "

"Tapi aku... hatiku. " suara batuk yang bertubi-tubi

memotong pembicaraan si nyonya yang belum selesai.

Waktu itu si nona cantik berbaju hijau itu sudah ikut menangis tersedu-sedu, airmata membasahi seluruh wajahnya, sambil memanggil "mama mama" dia menguruti punggung nyonya setengah umur itu tiada hentinya.

Li Bun- yang menghela napas panjang, tiba-tiba ia bangkit berdiri dan menjura dalam-dalam terhadap siang Lam-ciau sambil ujarnya: "sungguh suatu kehormatan bagiku dapat berkenalan dengan Locianpwee hari ini. " "Tidak usah," tukas siang Lam-ciau sambil mengulapkan tangannya. "Datuk sepuluh penjuru siang Lam-ciau sudah lama mati, yang masih hidup sekarang hanyalah seorang pembantu tua dari ketua Hiang- hong- kau."

suara isak tangis yang menjadi-jadi bergema memenuhi seluruh ruangan, rupanya tangisan nyonya setengah umur itu makin menjadi-jadi. Li Tiong-hui segera berjalan menghampiri nyonya itu, hiburnya: "Lo- cianpwee, jagalah kesehatamnu, jangan terlalu bersedih hati."

sementara itu Han si-kong maupun Lim Han-kim telah bersama-sama memberi hormat kepada siang Lam-ciau sambil berkata: "Nama besar Locianpwee sudah lama kami dengar, sungguh beruntung bisa bertemu Locianpwee pada malam ini. "

Dengan mata tunggalnya siang Lam-ciau awasi dua orang itu sekejap. kembali katanya sambil menggeleng: "siang Lam-ciau sudah mati sejak delapan belas tahun berselang, kalian berdua tak usah bersikap begitu hormat kepadaku."

sebetulnya banyak persoalan yang ingin diajukan Han Si-kong, namun melihat wajah sedih yang menghiasi wajah kakek tersebut untuk sesaat dia jadi tak tahu apa yang mesti dikatakan, terpaksa semua pertanyaan yang sudah siap diajukan itu ditelan bulat-bulat. Beberapa saat lamanya dia hanya berdiri termangu-mangu tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

sementara itu Li Tiong-hui telah mengerutkan dahinya setelah dilihatnya nyonya setengah umur itu menangis tiada henti-nya. Dipegangnya urat nadi pada pergelangan tangan kanannya lalu bisiknya: "Lo-cianpwee, bukankah kau masih ada urusan yang hendak disampaikan kepadaku?"

sambil bicara kelima jarinya segera mencengkeram kuat-kuat. segulung aliran hawa panas segera mengalir ke luar dan tubuh nyonya setengah umur itu segera bergetar keras, Getaran yang muncul secara tiba-tiba ini seketika menyadarkan kembali pikiran serta kesadarannya yang mulai kalut, cepat-cepat nyonya itu menyeka air matanya, lalu berkata sedih:

"Nona Li, maafkan aku karena telah bersikap kurang hormat. Aaai.,, aku sadar bahwa hidupku di dunia ini sudah tak lama lagi, Aku benar-benar sudah tak dapat mengendalikan siksaan hatiku yang sudah terpendam selama banyak tahun ini. Aku berharap saudara sekalian tidak mentertawakan sikapku ini. "

"cinta kasih Locianpwee berdua hampir boleh dibilang sebersih rembulan dan bintang yang bercahaya di langit, untuk merasa kagumpun tak sempat, mana mungkin kami akan mentertawakan kalian berdua " Tiba-tiba muncul perasaan sedih di hati kecilnya, tanpa sadar dia melirik Lim Han-kim sekejap lalu pelan- pelan menundukkan kepalanya, siksaan dan penderitaan selama delapan belas tahun oleh belenggu cinta telah membuat nyonya setengah umur ini mempunyai perasaan yang peka sekali dalam hal cinta.

Di saat Li Tiong-hui melemparkan kerlingan terhadap Lin Han-kim itulah dia segera dapat merasakan bahwa Li Tiong-hui yang cerdas telah terperosok pula ke dalam jaring-jaring cinta. Tak tertahan lagi dia menghela napas sedih, pikirnya: "Aaai... dari dulu hingga kini, masalah yang paling menyedihkan bagi umat manusia hanyalah masalah cinta... siapa yang terjerumus dalam cinta, dia akan lupa segala-galanya "

Tiba-tiba terdengar gadis cantik berbaju hijau itu berseru dengan manja: "lbu, aku tak mau berperan sebagai ketua partai Hian-hong-kau lagi... aku bosan. "

Nyonya setengah umur itu tertawa hambar, dibukanya kotak besi itu lalu mengambil ke luar sebuah botol porselin, Dari botol porselin itu dia tuang sebutir pil yang segera ditelan dengan cepat.

Mendadak terdengar siang Lam-ciau menjerit kaget: "Cu-bo, jangan"

Dengan kecepatan luar biasa ia menerjang ke muka, tapi sayang keadaan sudah terlambat Peristiwa ini benar- benar terjadi di luar dugaan siapa pun- Kendati siang Lam-ciau memiliki ilmu silat yang maha sempurna, ternyata ia tak sempat lagi memberikan pertolongannya, namun kecepatan gerak serta serangannya betul-betul membuat Li Bun-yang maupun Han si-kong sekalian merasa amat terperanjat.

Rupanya di saat Li Tiong-hui berjalan menghampiri nyonya setengah umur dan berusaha menghiburnya tadi, secara diam-diam siang Lam-ciau sudah mengundurkan diri sejauh tujuh-delapan depa dari posisi semula. Dalam kagetnya tadi, sekali lompat dia telah putar balik tubuhnya, melewati Li Tiong-hui dan menjepit telapak tangan nyonya setengah umur itu dengan jari tangan- nya. sayang tindakan tersebut terlambat satu langkah, pil tersebut sudah keburu ditelan perempuan itu.

Terdengar Siang Lam-ciau menghela nafas sedih, dia kendorkan jepitan tangannya lalu berbisik sedih: "Kenapa kau mesti berbuat demikian?"

Ketika berbicara, air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya, Li Tiong-hui sangat cerdik, melihat adegan ini segera pikirnya di dalam hati: "Waaah, jangan-jangan pil yang ditelannya itu adalah pil beracun yang mematikan. "

Dia mencoba mengamati wajah nyonya setengah umur itu, namun hatinya segera dibuat makin tercengang sebab paras muka perempuan itu kelihatan merah dadu dan tampak segar sekali.

"Kalau pil yang ditelan pil racun yang mematikan, kenapa begini reaksinya,..?" Kembali dia berpikir.

sementara pelbagai ingatan masih berkecamuk dalam benaknya, nyonya setengah umur yang duduk pejamkan mata itu telah membuka matanya kembali seraya berkata: "Perkataan nona Li memang tepat sekali, sebetulnya pil itu memang terhitung obat beracun, hanya beda sekali dengan obat beracun pada umumnya, obat ini dapat menyegarkan kembali orang yang hampir mati untuk sementara waktu, ketika sisa kekuatan hidupnya sudah mulai habis terpakai dia baru akan menemui ajalnya."

"Aaaai... itu berarti barang siapa menelan pil tersebut, maka jiwanya tak mungkin akan tertolong lagi kendatipun ada obat mustika yang bisa mengisi kembali minyak yang hampir kering " kata Li Tiong-hui sambil

menghela napas.

"Tapi paling tidak aku masih bisa hidup beberapa jam lagi, bahkan hidup dalam keadaan segar bugar dan penuh dengan kekuatan hidup yang menyala-nyala"

"lbu" tiba-tiba gadis cantik itu menjerit "Kau hendak tinggalkan putrimu hidup seorang diri?" sambil menubruk ke dalam pangkuan ibunya, ia menangis tersedu-sedu, saat itu semangat nyonya setengah umur itu tampak segar sekali, dirangkulnya gadis itu dengan penuh kasih sayang, lalu bisiknya: "Anak Hong,jangan menangis, masih banyak persoalan yang harus kuutarakan ke luar, jika kau ribut terus, maka sisa hidup ibu yang tinggal beberapa jam ini akan jadi mubazir dan tak ada gunanya, Kalau sampai terjadi begini, bukan saja aku tak bisa mati dengan mata meram, bahkan akan meninggalkan bencana besar bagi umat persilatan, kalau sampai begitu, arwahku di dalam baka tak akan bisa beristirahat dengan tenang."

Gadis cantik berbaju hijau itu seketika menghentikan isak tangisnya, meski begitu dia masih bersandar penuh manja dalam pelukan ibunya, Nyonya setengah umur itu kembali mengambil kotak besi yang ada di hadapannya, kemudian ujarnya dengan serius: "Nona Li, harap kau terima dulu kotak besi ini."

"Locianpwee, dapatkah kau beritahu kepadaku lebih dulu apa isi kotak besi ini?" tanya Li Tiong-hui dengan wajah tertegun-

"Dalam kotak besi ini berisi daftar nama dan alamat pelbagai kantor cabang dan ranting dari perkumpulan Hian-hong-kau, disamping itu terdapat pula sejilid ilmu silat dan kitab ilmu pedang." "Tapi... aku tak berani pemberian barang berharga seperti itu. " tukas Li Tiong-hui terkejut.

"Nona Li, dengarkan dulu perkataanku. Kotak besi ini menyangkut masalah mati hidupnya dunia persilatan, Apabila nona bersikeras menampik untuk memikul tanggung jawab ini serta meneruskan kedudukanku sebagai ketua Hian-hong-kau, maka kekuatan sesat yang berhasil kubina selama ini akan segera mendatangkan korbannya dalam dunia persilatan. Badai pembunuhan yang paling keji akan segera berlangsung melanda dunia, Seperti apa yang telah kukatakan tadi, setelah menderita sakit cukup lama, aku mulai menyadari akan kesilafanku dengan membentuk brigade pembunuh itu.

Aku sadar perbuatanku ini akan berdosa besar dan mendatangkan banyak penderitaan dan siksaan bagi korbannya. sayang aku sudah tua dan lemah, mustahil aku dapat memunahkan kekuatan sesat tersebut dengan kekuatanku sendiri, itulah sebabnya akujadi teringat akan nona. sayang waktu itu aku menderita sakit parah sehingga tak mungkin mencari nona di bukit Hong san-

..."

Dia berpaling dan memandang siang Lam-ciau sekejap, kemudian tambahnya: "Sudah dua kali aku mengutus orang untuk menyusup ke dalam keluarga persilatan di bukit Hong-san, tapi sayang tak pernah berhasil menjumpai nona " "Aku mohon maaf kepada saudara Li dan nona Li atas kelancanganku itu," Tiba-tiba siang Lam-ciau memberi hormat,

Buru-buru Li Bun- yang balas memberi hormat, "Locianpwee, kau jangan terlalu merendah. "

"Ketika aku mendapat tugas mencari kalian di bukit Hong-san tempo hari, bukan saja tak berhasil menjumpai nona Li, aku malah sempat bertarung dua gebrakan melawan ibumu."

Mendengar itu Li Tiong-hui segera berpikir "Setelah menutup diri hampir sepuluh tahun lamanya, hawa murni sian-thian khi-kangnya telah mencapai kesempurnaan.

Ayunan tangannya mampu menghancur lumatkan batu nisan, aku rasa kakek ini tentu sudah menderita kerugian besar "

Berpikir sampai di situ dia segera bertanya: "sejak ayah meninggal dunia, ibuku jarang mencampuri urusan dunia persilatan Dia memandang hambar urusan keduniawian, sekalipun kami bersaudara pun jarang sekali bertemu dengan dia orang tua "

Ia memang sangat cerdik, meskipun di hati kecilnya dia bermaksud untuk mencari tahu hasil pertarungan Siang Lam-ciau melawan ibunya, namun dia enggan mengajukan pertanyaan itu secara langsung, sebaliknya dia sengaja berbicara yang lain sambil memancing agar Siang Lam-ciau sendiri yang memberitahukan hasil pertarungan tersebut.

Betul juga, Siang Lam-ciau tak sanggup menahan diri, dengan alis mata berkerut katanya: "Ilmu silat ibumu benar-benar sangat tangguh, dia termasuk musuh paling tangguh yang pernah kujumpai selama hidupku, Dalam pertarungan itu kami hanya berimbang, dan lagi setelah kuterima dua pukulan ibumu itu aku segera meninggalkan bukit Hong-san untuk pulang memberi laporan-"

Li Tiong-hui tersenyum dan tidak bicara apa-apa lagi, tentu saja dia tak bisa mewakili ibunya untuk merendah serta memuji kehebatan ilmu silat lawan, tapi dia pun tak bisa menegur Siang Liam-ciau karena bicara takabur.

Terdengar nyonya setengah umur itu berkata lebih jauh: "Gara-gara peristiwa ini aku sempat merasa tak tenang, betul di dalam dunia persilatan banyak terdapat jago yang menguasai bidang sastra maupun silat, tapi manusia cerdik macam nona Li betul-betul tiada keduanya di kolong langit, Aku mengira dalam hidupku kali ini sudah tak berjodoh lagi untuk bertemu muka dengan nona Li. Sungguh tak disangka Thian maha adil, di saat ajalku menjelang tiba aku masih sempat bertemu lagi dengan nona Li."

"Locianpwee, aku merasa berterima kasih sekali atas penghargaan yang kau berikan kepadaku, tapi... aku merasa berat hati untuk menerima kedudukan sebagai ketua Hian-hong-kau, apabila putri Lo-cianpwee sebetulnya lebih pantas menduduki jabatan tersebut, kenapa kau melepaskan ahli waris yang telah tersedia dengan memilih orang lain-..."

si nona cantik berbaju hijau yang sedang menangis tersedu itu mendadak menyela setelah mendengar ucapan tersebut: "Aku tak sudi menjadi ketua Hian-hong- kau, belum lagi tiga bulan menggantikan kedudukan ibu, nyaris aku mampus karena kesal."

sambil menghela napas nyonya setengah umur itu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya: "Aaai... kau cukup mengenal tabiat putriku ini. Anak Hong masih polos dan kelewat kekanak-kanakan, ia tak punya pandangan yang terlalu luas. Meski empek siang dan aku sudah mewariskan pelbagai ilmu silat kepadanya, itu pun hanya diterima secara terpaksa.

Dibanding-kan dengan kecerdasan nona Li, dia masih kalah jauh sekali, Ketahuilah masalah ini menyangkut keselamatan umat persilatan, mana mungkin kuserahkan tanggung jawab sebesar ini kepadanya "

Belum sempat Li Tiong-hui menampik untuk kedua kalinya, nyonya setengah umur itu sudah berkata lebih jauh: "sudah berulang kali aku pikirkan masalah ini, tapi setelah kupikir bolak balik aku tetap berpendapat bahwa di dunia persilatan saat ini tiada orang kedua yang lebih cocok daripada nona Li untuk jabatan berat ini. Kendati- pun akulah yang mengembangkan Hian-hong-kau sehingga tenar di Utara maupun selatan sungai besar, namun anggota partai kami belum pernah seorang pun yang pernah melihat raut wajah asliku, Dalam kotak besi ini terdapat penjelasan selengkapnya tentang perkumpulan Hiang-hong-kau."

"Asal nona Li bersedia mempelajarinya, tidak sulit bagimu untuk memimpin partai ini. Aku ingin sekali memanfaatkan kecerdasan serta kemampuan nona Li untuk memusnahkan kekuatan sesat yang telah kubangun ini. Apabila kau mampu mengajak mereka kembali ke jalan yang benar, tentu saja hal ini lebih baik lagi sebab akan bermanfaat bagi masyarakat tapi bila mereka sudah terlanjur sesat serta tak bisa diperbaiki lagi, aku berharap nona Li bisa turun tangan secepatnya untuk memusnahkan mereka semua, daripada meninggalkan bibit bencana bagi umat persilatan,.,."

Berbicara sampai di situ, kembali dia alihkan sorot matanya ke wajah Li Tiong-hui, tambahnya: "Masalah ini luar biasa sifatnya, aku harap nona Li sudi memikirkan keselamatan orang banyak dengan menerima jabatan ini, dengan begitu kau pun bisa menebuskan sedikit dosaku."

Beberapa patah kata ini diucapkan dengan nada yang tulus dan bersungguh-sungguh, lagipula diiringi cucuran air mata. Bukan itu saja bahkan sambil membawa kotak besi itu sang nyonya turun dari kursinya dan berjalan menghampiri.

Li Tiong-hui goyangkan tangannya berulang kali, serunya agak gelisah: "Locianpwee, mana aku berani menerima pemberian ini. "

"Aku masih ada banyak persoalan yang hendak dibicarakan dengan kalian, aku harap nona Li menerima kotak besi ini lebih dulu. "

"Aku betul-betul tak berani menerima-nya, harap Locianpwee menyimpannya kembali."

"Masa kau tak mau mengurusi keselamatan umat persilatan di dunia ini, masa kau tega menyaksikan badai pembunuhan yang paling keji berlangsung dalam dunia persilatan, masa kau tega membiarkan aku mati dengan membawa penyesalan yang paling dalam "

Li Tiong-hui goyangkan tangannya berulang kali sambil mundur, ia tetap tidak menerima pemberian kotak besi itu.

Mendadak terdengar siang Lam-ciau mendengus dingin sambil menjengek: "Aku dengar orang berkata, tiga generasi keluarga persilatan bukit Hong-san rata- rata gagah dan tegar, Hmmm Tapi nampaknya nama besar kalian tak lebih cuma begitu, hmmm... hmmm " Nyonya setengah umur itu menghela napas panjang, tidak sampai siang Lam-ciau menyelesaikan kata- katanya, kembali ia sudah menukas: "Nona Li, kau harus tahu, permasalahan ini bukan masalah pribadi keluarga kami, tapi menyangkut mati hidupnya umat persilatan di seluruh dunia. Berkat bimbingan dan perjuanganku selama belasan tahun, meski kekuatan partai Hian-hong- kau belum berani dibilang menjagoi seluruh kolong langit, namun kekuatan mereka tak boleh kau pandang enteng. selain Hian-hong-kau masih ada kekuatan sesat lainnya yang dengan kecepatan paling tinggi sedang berkembang dan menggelembung dalam dunia persilatan, kekuatan serta daya pengaruh mereka luar biasa, bahkan mungkin masih jauh di atas kekuatan

Hian-hong-kau. jikalau nona Li enggan menerima jabatan ketua ini, maka kemampuan Hian-hong-kau pasti akan jadi harimau yang lepas dari kerangkeng, mereka akan membuat korban di mana-mana.

Apalagi kalau sampai dimanfaatkan pihak Ngo-tok kiong (istana panca racun) yang sedang mengembangkan sayap kekuasaan-nya, aku yakin dalam sepuluh tahun mendatang dunia persilatan tak pernah akan mendapatkan ketenangan barang sehari pun. "

setelah disindir siang Lam-ciau dengan kata-kata yang pedas tadi, terutama setelah mendengar perkataan nyonya setengah umur yang bersungguh-sungguh itu walaupun Li Tiong-hui belum menyanggupi namun tubuhnya sudah tidak bergerak mundur lagi, dengan matanya yang jeli dia awasi perempuan itu lekat-lekat.

Kembali nyonya setengah umur itu mengangkat kotak besinya sambil berkata: " Keinginanku ini sudah kuputuskan sejak setahun berselang, Demi menyelamatkan umat persilatan dari bencana musibah besar, nona Li harus menerima jabatan ini serta tampilkan diri untuk memimpin dunia persilatan,"

Li Tiong-hui merasa hatinya berdebar keras, setelah menghela napas panjang ka-tanya: "Padahal pamor maupun kedudukan siang Locianpwee jauh melampui kemampuanku terutama dalam hal ilmu silat Aku masih bukan apa-apanya bila dibandingkan dia, kenapa Locianpwee tidak serahkan saja jabatan ketua itu kepadanya?"

"Usiaku sudah lanjut, keadaanku ibarat sisa lilin yang hampir padam. Dalam usia sesenja ini bagaimana mungkin tanggung jawab sebesar itu bisa diserahkan kepada-ku?" kata siang Lam-ciau.

Nyonya berusia pertengahan itu segera menambahkan " Hingga kini meskipun anggota Hian-hong-kau di seluruh dunia persilatan belum pernah bertemu dengan ketua mereka, namun bukan berarti mereka tak bisa membedakan apakah ketua mereka itu seorang lelaki atau perempuan. " Setelah menghembuskan napas-panjang, tidak menunggu sampai Li Tiong-hui mengucapkan sesuatu kembali katanya: "Apabila nona bersedia menerima permintaanku ini serta menerima jabatan ketua Hian- hong-kau, aku bersedia mewakili saudara siang mengambil keputusan untuk berbakti kepadamu selama tiga tahun."

Han si-kong adalah seorang jago berjiwa pendekar, setelah mengikuti pembicaraan sekian lama dia pun berhasil menangkap sedikit gambaran tentang latar belakang masalah itu. Kini dia tak mampu menahan diri lagi, dengan suara lantang serunya: "Aku si monyet tua mewakili seluruh umat persilatan di dunia memohon kepada nona Li untuk menerima permintaan itu..."

"Betul adik Hui" sambung Li Bun-yang sambil menghela napas. "Locianpwee ini berharap dengan segala sungguh hati, bagaimana kalau kau periksa dulu apa isi kotak besi tersebut sebelum mengambil keputusan?"

"Aku bukannya enggan menerima jabatan tersebut, tapi aku kuatir kemampuanku tak sepadan dengan jabatan itu sehingga menyia-nyiakan harapan Locian- pwee, kalau sampai begitu, bukankah semua urusan besar jadi berantakan-..."

"Apabila nona Li bersedia memangku jabatan ketua Hian-hong-kau, aku si monyet tua yang pertama-tama siap menerima perintahmu, Walau harus naik ke bukit golok atau terjun ke kuali minyak. aku pasti tak akan menampik" seru Han si-kong penuh semangat.

"Yaa, betul" sambung Li Bun-yang. "Bila adik Hui bersedia memikirkan keselamatan umat persilatan di dunia, aku pun bersedia menuruti semua perkataanmu."

"Aku juga akan memegang janjiku," sambung siang Lam-ciau pula. "Jika nona Li memangku jabatan ketua, aku bersedia mentaati pesan cu-bo dengan berbakti kepadamu selama tiga tahun."

Pelan-pelan Li Tiong-hui mengalihkan sorot matanya ke wajah Lim Han-kirn, ta-nyanya: "Apakah saudara Lim ada pendapat?"

Lim Han- kim termenung berpikir berapa saat, kemudian sahutnya: "Aku bersedia menggunakan kebebasanku dengan berbakti kepadamu."

"Nah nona Li, sekarang terimalah dulu tanda kebesaran partai kami, kemudian aku masih ada persoalan lain yang hendak disampaikan," desak nyonya setengah umur itu.

sambil menggigit bibir Li Tiong-hui termenung berapa saat lamanya, sekilas kebulatan tekad melintas di wajahnya, katanya kemudian- "Baik, kuterima jabatan ini. " Tampaknya untuk mengucapkan beberapa patah kata itu dia harus mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya.

Nyonya setengah umur itu jadi sangat gembira, serunya: "Nona bersedia menerima jabatan sebagai ketua Hian-hong-kau, hal ini menunjukkan bahwa umat persilatan mempunyai rejeki besar, dengan demikian satu keinginanku pun sudah terkabul."

Dengan sikap yang sangat hormat dia angsurkan kotak besi itu ke hadapan gadis tersebut Ketika menerima kotak tersebut tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang membasahi wajah Li Tiong-hui, dia mengerti dengan diterimanya kedudukan ketua Hian-hong-kau ini berarti nasib kehidupan selanjutnya ikut berubah pula.

sejak kini dia harus mencurahkan semua pikiran dan tenaganya demi kesejahteraan partai, berarti pula masalah pribadi harus disingkirkan jauh-jauh.

Dalam kesempatan itu Han Si-kong telah menengadah sambil tertawa terbahak-ba-hak, serunya: "Ha ha ha ha... pepatah kuno mengatakan, kedalaman tanah tak mungkin bisa menyembunyikan kecermerlangan intan permata, sejak berkenalan berapa waktu berselang aku sudah mempunyai gambaran tentang kemampuan nona Li, ternyata dugaanku tak keliru, Aku benar-be-nar gembira melihat seorang gadis secerdik nona Li bisa memimpin perkumpulan Hian-hong-kau. " Tapi ketika melihat air mata Li Tiong-hui jatuh bercucuran, orang tua itu jadi tertegun dan tidak melanjutkan kata-katanya lagi. sebenarnya dia ikut berbangga hati setelah menyaksikan Li Tiong-hui yang masih muda belia ternyata menjabat kedudukan yang begitu terhormat, sampai-sampai Datuk sepuluh penjuru siang Lam-ciau yang bernama besar pun rela mengikuti perintahnya, tapi cucuran air mata gadis tersebut segera membuat perasaannya bingung dan melongo.

Li Bun-yang cukup memahami watak adiknya, ia tahu gadis itu paling suka kebebasan,

tapi setelah menjadi ketua Hian-hong-kau berarti dia bakal sibuk setengah mati dan mustahil punya kesempatan untuk hidup bersantai-santai lagi.