Pedang Keadilan I Bab 24 : Misteri diperkampungan Tay-Peng

 
Bab 24. Misteri diperkampungan Tay-Peng

"Asal aku dapat melaksanakan pasti akan kulaksanakan"

"setelah kepergian kami, apabila adik saudara Lim balik ke kuil awan hijau, tolong koancu bisa menahannya agar menanti beberapa hari di kuil ini."

"Aku rasa tidak perlu," tukas Li Tiong- hui sambil tersenyum "Burung soat-bi-ji ku sangat cerdik dan memiliki kemampuan terbang ribuan li dalam sehari. Ke mana pun kita pergi asal kulepaskan burung soat-bi-ji tersebut maka paling cepat sehari, paling lama dua tiga hari kita sudah dapat peroleh berita dari kuil awan hijau." Han si-kong jadi sangat gembira, pujinya: "Waaah,., kalau begitu lebih bagus lagi, sungguh tak nyana nona memiliki burung secerdik itu."

Li Tiong- hui segera bangkit berdiri, selanya: "Kita berangkat besok pagi-pagi, kita berkumpul di luar halaman kuil." selesai berkata ia tinggalkan ruangan lebih dulu.

sambil tertawa Ci Mia-cu ikut bangkit berdiri, katanya: "Tampaknya mustahil bagiku untuk menemani kalian, kesatu karena aku mesti menunggu orang di sini, kedua setelah masuk menjadi pendeta aku pun jarang sekali berkelana dalam dunia persilatan, maafkan aku."

"Kalau begitu kita berpisah saat ini saja, Besok kita tak perlu pamitan lagi," kata Han si-kong sambil memberi hormat, lalu. dengan langkah lebar meninggalkan ruangan.

Malam berlalu amat cepat Ketika fajar baru saja menyingsing Lim Han-kim telah berada di luar kuil, ia tahu setelah keberangkatannya bersama rombongan Li Bun-yang, dia akan sulit memperoleh kesempatan untuk melatih kedelapan jurus ilmu pedang naga saktinya, maka ia hendak memanfaatkan kesempatan ini untuk melatihnya sekali lagi di luar kuil. siapa tahu ketika sampai di luar pintu kuil, ia sudah kedahuluan orang lain. Di antara remang-remangnya fajar, tampak orang itu berdiri di atas sebuah batu karang tanpa bergerak, bajunya yang berwarna merah darah berkibar kencang terhembus angin pagi, Lim Han-kim hanya merasakan dandanan baju merah orang itu amat menusuk pandangan mata.

Tanpa memperhatikan lagi bagaimana raut wajah-nya, ia segera putar badan siap balik ke dalam kuil, Belum sempat dia melangkah masuk. dari belakang tubuhnya terdengar seseorang menegur dengan suara merdu: "saudara Lim, harap tunggu sebentar." Terpaksa Lim Han-kim membalikkan tubuhnya. ia merasa segulung hembusan angin yang berbau harum menyambar lewat, tahu-tahu orang berbaju merah itu sudah melayang turun di hadapannya.

Dengan perasaan terkejut Lim Han-kim segera berpikir: "Waah... cepat amat gerakan tubuh perempuan ini."

Berpikir begitu, cepat- cepat dia menyahut "Ada urusan apa nona Li?"

Ternyata gadis berbaju merah itu tak lain adalah Li Tiong-hui dari bukit Hong-san. Li Tiong- hui segera tertegun mendapat pertanyaan itu, pikirnya: "Kenapa ia bertanya begitu? Betul-betul tak tahu sopan santun." sebagai gadis yang angkuh sebetulnya ia hendak meradang, tapi melihat Lim Han-kim berdiri dengan kepala menunduk dan sikapnya polos serta bersungguh- sungguh sehingga kepala pun tak berani didongakkan, hawa amarahnya kontan tersapu lenyap kembali Katanya kemudian sambil tersenyum: "Baru saja aku mengantar adik misanku yang binal itu pulang, saudara Lim, pagi amat kau sudah bangun."

"Nona terlalu memuji."

Kembali Li Tiong-hui berpikir: " orang ini berwajah ganteng dan gagah, kenapa tingkah laku maupun cara berbicaranya macam seorang kutu buku."

Jawaban sang pemuda yang begitu singkat dan ringkas untuk sesaat membuat Li Tiong- hui jengah tak tahu bagaimana harus menanggapi, setelah lama termenung ia baru berkata lagi: "Kakakku sering membicarakan tentang kehebatan ilmu silat saudara Lim. ia merasa kagum sekali."

"Terima kasih, kakakmu hanya terlalu memuji saja." Li Tiong-hui tertawa merdu.

"sebetulnya kakakku itu lembut di luar keras di dalam hatinya, Mustahil ia mau memuji orang hanya di bibir saja, Apabila bukan karena ilmu silat saudara Lim yang betul-betul menaklukkan hatinya, ia tak mungkin akan memujimu setinggi langit" "Kemampuanku sangat terbatas, belum sebanding dengan ilmu silat keluarga Hong-san-"

Selama tanya jawab itu berlangsung, Lim Han-kim selalu berdiri dengan kepala tertunduk, tidak sekali pun dia angkat kepalanya, Tiba-tiba saja timbul perasaan ingin tahu dalam hati Li Tiong-hui, pikirnya: "Heran, kenapa ia begitu kolot dan serius? Memang dasarnya pemalu atau sengaja berbuat demikian untuk berlagak di hadapanku? Hmm, hari ini aku harus men-jajalnya."

Maka sambil tertawa merdu katanya: "Setiap kali mendengar kakakku memuji-muji kehebatan saudara Lim, di dalam hati kecilku selalu timbul perasaan tak puas."

Gadis ini tumbuh dewasa dalam lingkungan keluarga persilatan nomor wahid dalam dunia persilatan Meski pengetahuan dan pergaulannya tidak seluas kakaknya, namun kemampuannya sekarang tak tertandingkan oleh orang awam, sehingga secara otomatis lahiriah sifat terbuka baginya. Ketika mendengar perkataan gadis itu, Lim Han-kim segera menjawab:

"Lebih baik nona jangan percaya, justru kakakmulah yang kelewat memandang tinggi kemampuanku. "

Li Tiong-hui semakin keheranan lagi setelah melihat pemuda itu sama sekali tidak dibuat gusar, katanya lagi: "Aku tahu kakakku tak pernah bohong, oleh karena itulah aku tak bisa tidak harus mempercayainya."

Lim Han-kim menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut segera diurungkan Li Tiong-hui berkata lebih lanjut: "Namun di hati kecilku pun timbul perasaan tak puas. oleh karena itu aku ingin mencoba kehebatan ilmu silat saudara Lim. Kesatu untuk membuktikan perkataan kakakku, apakah ia memang sengaja memuji atau tidak dan kedua, biar aku pun mendapat pengalaman baru."

"Tentang masalah ini, maaf aku tak dapat melayani." "Kenapa?" sekali lagi Li Tiong-hui dibuat tertegun

sementara dalam hatinya ia berpikir "Masa kemampuannya benar-benar telah mencapai taraf kesempurnaan yang tidak terpengaruh oleh gejolak emosi?"

Diam-diam ia coba melirik wajah pemuda itu. Tampak paras anak muda itu beruban jadi memerah, sorot matanya memancarkan sinar tajam, jelas ia sedang berusaha mengendalikan gejolak emosi dalam hatinya.

Melihat itu si nona jadi geli, segera katanya lagi: "Mari kita batasi pertarungan sampai sepuluh gebrakan saja, Apabila saudara Lim sampai keok di tanganku, jangan khawatir, aku berjanji tak akan memberitahukan kejadian ini kepada orang lain." Berubah hebat paras Lim Han-kim, pelan-pelan ia mendongakkan kepalanya, berkilat sepasang matanya, tapi begitu sinar mata itu bentrok dengan sorot mata Li Tiong-hui, ia segera menunduk kembali sambil tetap merendah: "Aku sadar kepandaianku bukan tandingan nona, buat apa nona mendesakku terus menerus."

Rasa heran dan ingin tahu yang menyelimuti perasaan Li Tiong-hui makin menjadi-jadi, batinnya: "Hari ini aku harus memaksa dia untuk melayani pertarunganku." Maka katanya lebih jauh: "Aku tahu saudara Lim sengaja menyembunyikan kepandaianmu dan segan melayani tantanganku ini, tapi maafkan aku. Tekadku untuk mencoba sudah bulat, terpaksa aku harus bermain kasar lebih dulu."

Begitu perkataan tersebut ditutup, telapak tangannya segera diayunkan ke muka melancarkan sebuah pukulan, serangan ini sungguh gencar, desingan angin tajam segera membelah udara menyambar ke muka.

Lim Han-kim segera menggerakkan sepasang bahunya, tahu-tahu badannya sudah bergeser tiga depa dari posisi semula dan terhindar dari serangan itu.

"Gerakan tubuh yang sangat bagus" puji Li Tiong-hui, secepat petir tangan kirinya menyodok ke muka, dengan jari-jari tangannya yang lentik ia totok jalan darah "Hun- bun-hiat" di bahu kiri Lim Han-kim, sementara telapak tangan kanannya menyapu sejajar dada menghantam jalan darah Thian-ti-thiat di ketiak kanannya.

Lim Han-kim menarik napas panjang, hawa murninya disalurkan ke seluruh badan, tahu-tahu ia sudah melayang mundur lagi sejauh empat depa. sesudah melepaskan dua jurus serangan, Li Tiong -hui mulai sadar bahwa Lim Han-kim betul-betul memiliki ilmu silat yang sangat tangguh, maka ia mendesak maju lebih ke depan, dalam waktu singkat lima buah pukulan telah dilepaskan.

Kelima jurus serangan itu dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, selain hebat juga ganas. walaupun Lim Han-kim berhasil juga menghindarkan diri dari kelima serangan tersebut, namun ia sempat dibuat terkejut hingga peluh dingin membasahi seluruh badannya.

Tiba-tiba Li Tiong-hui menarik kembali serangannya, dengan merdu tegurnya: "saudara Lim, apabila kau tetap tidak membalas, berarti kau tak pandang sebelah mata pun kepadaku."

Lim Han-kim segera menjura, katanya dingin: "Ilmu silat yang nona miliki sangat hebat, aku percaya bukan tandinganmu"

sesungguhnya Li Tiong-hui bermaksud memancing amarahnya sehingga pemuda itu melancarkan serangan balasan, dengan demikian selain bisa menjajal kemampuan ilmu silatnya, dari permainan jurus serangannya nanti dia pun bisa menyelidiki asal usul aliran ilmu silatnya.

Mimpipun dia tidak mengira serangan balasan, tak heran kalau gadis itu jadi termangu-mangu dibuatnya. sampai lama kemudian ia baru membungkukkan badan memberi hormat dan berkata sambil tertawa: "saudara Lim betul-betul hebat, aku mohon maaf atas kekasaranku tadi."

"Terima kasih, terima kasih."

Mendadak terdengar gelak tertawa keras berkumandang datang, Han si-kong dan Li Bun-yang tahu-tahu sudah muncul di tepi arena.

Melihat mimik wajah dua orang itu Li Bun-yang segera mengerti apa yang telah terjadi, sambil tertawa bisiknya kemudian kepada Lim Han-kim: "saudara Lim harap maklum, adikku ini sudah terbiasa dimanja ibuku sehingga begitulah jadinya watak-nya. Apabila ia sudah menyalahi dirimu harap dengan memandang wajahku, tak usah saudara melayaninya lagi."

Lim Han-kim hanya tertawa hambar, ia tidak memberi komentar pada saat itu Han si-kong telah celingukan keempat penjuru ketika melihat Li Tiong-hui sudah puluhan tombak meninggalkan tempat itu, maka dia pun mengerahkan tenaga dalamnya sambil berseru: "Mumpung fajar baru menyingsing, mari kita tempuh perjalanan lebih dulu." Selesai berkata ia segera menyusul di belakangnya.

setelah meninggalkan bukit Ciong-san, keempat orang itu menelusuri sungai menuju ke Utara. sepanjang perjalanan Lim Han-kim selalu berusaha menghindari Li Tiong-hui. Tentu saja tindakan anak muda itu sangat menyinggung perasaan Li Tiong-hui. sekalipun gadis itu berjiwa terbuka, ditambah pula ia mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang luas, namun bagaimana pun ia masih seorang gadis perawan.

sikap Lim Han-kim yang sengaja menghindarinya itu menimbulkan perasaan gusar dan mendongkol di hati kecilnya, namun untuk beberapa saat perasaan itu tak dapat dilampiaskan keluar, terpaksa perasaan ini ditekannya di dalam hati yang membuat rasa dongkol dan gusar gadis tersebut terhadap Lim Han-kim makin lama semakin bertambah mendalam.

Han si-kong belum pernah memahami perasaan kaum wanita dan lagi diapun tak pernah memperhatikan hal tersebut, tentu saja ia tak tahu akan keadaan muda mudi itu sebaliknya Li Bun-yang meski dapat menangkap wajah dan sikap yang kurang beres atas adik perempuan itu, namun sebagai kakak beradik dia pun merasa kurang leluasa untuk membicarakan soal muda mudi, karenanya terpaksa dia pun berlagak tidak melihat. Hari ini, sampailah mereka berempat di kota Lu-ciu yang sudah masuk propinsiAn-hui, waktu itu senja sudah berada di ambang pintu. Tiba-tiba Han si-kong teringat kembali pada seorang sahabat lamanya yang berdiam diperkampungan Tay-peng dekat kota tersebut, Kepada Li Bun-yang, orang tua itu pun berkata:

"Aku punya seorang sahabat karib yang punya nama serta kedudukan yang cukup tinggi di seputar daratan Tionggoan, sedang sepanjang perjalanan sampai di sini klta pun gagal peroleh sedikit berita pun, bagaimana kalau kita menyambangi jago silat ini sekalian mencari tahu berita tentang adik saudara Lim. Siapa tahu dari situ kita bakal peroleh hasil yang di luar dugaan?"

"Apakah locianpwee maksudkan ketua perkampungan Tay-peng yang disebut orang sebagai si peluru berantai chee Tay-tong, chee Lo-enghiong?" tanya Li Bun-yang sambil tersenyum.

"Betul, dialah yang kumaksudkan." sahut Han Si-kong girang, "Bagaimana?Jadi saudara Li juga kenal?"

"Kami pernah bertemu satu kali."

"orang bilang keluarga persilatan bukit Hong-san punya pergaulan yang sangat luas, nyata berita tersebut bukan nama kosong belaka, Tampaknya sedikit sekali jago persilatan yang tidak dikenal oleh keluarga persilatan bukit Hong-san-" "Aaah, itu semua hanya hasil peninggalan kakekku almarhum kalau dibicarakan sungguh memalukan-"

"Seingatku benteng atau perkampungan Tay-peng terietak di sebelah Barat laut kota Lu-ciu, jaraknya kira- kira belasan li. Kalau kita percepat langkah kita mungkin sebelum makan malam kita sudah sampai di perkampungan tersebut,"

"Apakah locianpwee sudah lama tidak bersua dengan chee poocu?"

"Yaa, kalau dihitung dengan jari, mungkin sudah empat lima belas tahunan-"

"Mungkin Tay-peng-po yang bakal kau jumpai sekarang jauh berbeda dengan apa yang locianpwee saksikan dulu."

"Kenapa? Apakah perkampungan Tay-peng sudah berganti pemilik?"

"Meskipun belum berganti pemilik namun situasi dan keadaannya telah terjadi perubahan besar. Tahun berselang ketika aku lewat di perkampungan Tay-peng sebenarnya aku ada niat menjenguk Cheepoocu, tapi setelah melihat benteng mereka dijaga sangat ketat terpaksa aku berubah pikiran dan berputar menghindari tempat itu, tapi jika locianpwee adalah sobat lama Cheepoocu, tentu saja keadaannya agak berbeda." Han si-kong tertawa terbahak-bahak, "Ha ha ha ha ha... dulu aku bersama Chee Tay-tong pernah bersama- sama mengembara dalam dunia bersilatan, Hubungan kami sangat akrab melebihi saudara sendiri kemudian ia bosan mengembara dan memilih menetap di benteng Tay-peng ini, entah bagaimana ceritanya terakhir dia malah menjadi pemimpin tempat itu. Mungkin di bawah pimpinannya benteng Tay-peng telah berubah suasana baru dan mengalami kemajuan yang pesat. Belasan tahun berselang aku pernah berkunjung sekali ke situ. Dia sambut aku bagaikan tamu agung, aaaai... waktu berlalu sangat cepat, tanpa terasa sudah belasan tahun kami tak pernah bersua muka."

Melihat orang tua itu berbicara dengan penuh semangat, seakan-akan sedang membayangkan kembali masa lalunya, Li Bun-yang tidak banyak bicara lagi.

Mereka segera mempercepat langkahnya, tak sampai sepenanakan nasi kemudian sampailah mereka di Benteng Tay-peng.

Tay-peng-poo adalah sebuah bangunan benteng yang terbuat dari batu cadas. Bangunannya tinggi, kokoh dan sangat megah, Pintu benteng tertutup rapat, sedang air sungai yang mengelilingi benteng tersebut kelihatan amat dalam. jembatan penyeberangan dalam keadaan terangkat, penjagaan di situ memang kelihatan sangat ketat, seolah-olah sedang menghadapi serangan musuh. Menyaksikan keadaan itu Han si-kong segera berkerut kening, pikirnya: "sekarang dunia sangat aman, lagi pula tengah malam belum tiba, kenapa mereka menjaga benteng begitu ketat dan keras.,.?"

sementara dia masih termenung, tiba-tiba dari atas benteng berkumandang datang suara teguran: "siapa di situ?"

Dengan mengerahkan tenaga dalamnya Han si-kong menya hut: "Tolong sampaikan kepada Cheepoocu, katakan seorang sahabat lamanya Han si-kong datang menyambanginya"

Dari atas benteng segera bergema lagi suara sahutan: " Harap tuan tunggu sebentar, selesai memberi laporan kepada pocu, pasti kami membuat keputusan"

Kalau mendengar suara jawaban yang begitu nyaring, sudah jelas orang itu memiliki ilmu silat yang sangat tangguh, selama hampir setengah jam lamanya keempat orang itu menunggu di luar benteng, namun tak kedengaran sesuatu apa pun. Han si-kong jadi tak sabar, sambil mengawasi sekejap pintu benteng itu katanya: " Harap kalian menunggu sebentar di sini, biar aku tengok dulu keadaan benteng ini"

Ia merasa terlalu lama menunggu, selain itu kejadian mana amat memalukan dirinya, karena itu dia siap menerjang masuk ke dalam benteng itu untuk melakukan pemeriksaan.

sambil tersenyum Li Bun-yang segera membujuk: " Locianpwee, lebih baik tunggulah sekejap lagi. Walaupun Chee Tay-tong adalah sobat lama locianpwee, toh sudah banyak tahun tak pernah bersua, Siapa tahu telah tejadi suatu perubahan di sini."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba dari atas benteng muncul dua buah lentera merah, jembatan gantung pun pelan-pelan diturunkan ke bawah.

Pintu benteng terbuka lebar, lalu muncul seorang pemuda berpakaian ringkas yang lincah gerak geriknya, Ketika melihat orang yang menyambut kedatangannya seseorang yang tidak dikenal, Han Si-kong merasa api amarahnya bergelora, ia segera mendengus dingin dan membungkam dalam seribu basa.

Pemuda berpakaian ringkas itu memperhatikan sekejap keempat orang itu, lalu sambil menengok ke arah Han Si-kong tanyanya: "Siapakah di antara kalian adalah Han locianpwee?"

"Aku orangnya, siapa kau?"

sambil menjura pemuda berpakaian ringkas itu memperkenalkan diri: "Aku ong Hong-hoo"

"Yang ingin kujumpai adalah Chee Tay-tong" "oooh, dia adalah guruku." "Gurumu masih hidup?"

"Kesehatan suhu sangat baik, beliau memerintahkan aku khusus untuk menyambut kedatangan Han locianpwee"

Han Si-kong semakin mendongkol, bentaknya penuh amarah: "Hmmm, besar amat lagak gurumu"

ong Hong-hoo berkerut kening, katanya: "Apabila locianpwee menjumpai persoalan yang tidak menyenangkan hati, lebih baik utarakan sesudah bertemu dengan suhu nanti, di depanku lebih baik tangan mencela suhu."

"Bagus, aku justru mau mengumpat di depanmu, mau apa kau" teriak Han Si-kong semakin gusar.

Melihat situasi bakal berubah jadi kaku Lim Han-kim siap maju ke depan untuk membujuk Han si-kong, tapi Li Bun-yang segera menjawil bajunya mencegah ia berbuat demikian, sementara itu ong Hong-hoo telah balikkan badan masuk ke dalam benteng, maka mereka berempatpun ikut menyeberangi jembatan masuk ke dalam benteng itu

Waktu itu malam hari telah menjelang tiba. Dengan menggunakan cahaya bintang yang redup keempat orang itu mencoba memperhatikan keadaan dalam benteng itu. Ternyata seluruh benteng berada dalam keadaan gelap gulita, tak tampak setitik cahaya pun yang menerangi ruangan.

Tempat itu mirip sebuah benteng kosong, seram, sepi dan mengerikan Dalam lorong maupun jalanan tak nampak manusia berlalu lalang, semua pintu dan jendela bangunan tertutup rapat, padahal waktu itu makan malam pun baru menjelang, tapi semua penghuni benteng Tay-peng seakan-akan sudah terlelap tidur.

ong Hong-hoo mengajak beberapa orang itu menuju ke depan sebuah halaman dengan pagar yang tinggi kokoh, Tampak dua belah pintu gerbang yang berwarna hitam pekat berada dalam keadaan tertutup rapat, Han si-kong mencoba memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu, ternyata keadaannya sudah berbeda sama sekali dengan keadaan dulu, seakan-akan semua bangunan lama di benteng itu sudah dirobohkan semua dan kini dibangun baru lagi.

sementara itu ong Hong-hoo sudah menaiki tujuh tingkat anak tangga dan mulai menggedor gelang besar di depan pintu, Gelang itu dibunyikan tujuh kali, pintu gerbang yang tertutup pun segera terbuka lebar. Dua orang pemuda berpakaian ringkas warna hitam dengan membawa lampu lentera muncul menyambut kedatangan mereka. ong Hong-hoo segera memberi tanda, Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dua orang itu mengangkat lentera nya tinggi-tinggi dan putar badan membawa jalan, setelah melewati sebuah bangunan yang amat besar dan luas, kembali mereka terhadang oleh sebuah pintu besar seorang bocah berbaju hijau berdiri serius di muka pintu.

Tampaknya ong Hong-hoo menaruh sikap yang sangat menghormat terhadap bocah berbaju hijau itu, sambil manggut tanyanya pelan: "Apakah suhu ada waktu luang?"

"suhu menunggu para tamunya di halaman belakang, Biar aku yang ajak tamu, kau tak usah masuk."

"Terima kasih banyak sute"

Han si-kong yang berangasan tak bisa menahan diri lagi, dengan amarah yang ber-kobar-kobar serunya sambil mendengus dingin: "Hmmm, banyak amat lagak bocah di tempat ini."

Tiba-tiba bocah berbaju hijau itu berpaling dan mengawasi Han si-kong sekejap. kemudian tegurnya ketus: "Kalau bicara lebih baik hati- hati sedikit "

"Hmmm, aku justru mau mengumpat" teriak Han si- kong semakin naik darah, "Hmmm, hmmm setelah berjumpa CheeTay-tong nanti, aku pasti memberi pelajaran kepadamu."

sementara itu si bocah berbaju hijau tersebut sudah menerima sebuah lampu lentera dari tangan orang berbaju hitam, pelan-pelan ia menyapu sekejap wajah Li Bun-yang, Lim Han-kim serta Li Tiong-hui, kemudian jengeknya: "Hmmm, asal kau berani, tak ada salahnya

untuk dicoba."

Habis bicara, dia mengungkat tinggi lenteranya dan berjalan ke dalam dengan langkah lebar.

Menyaksikan tingkah pola bocah itu, Li Bun-yang dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara segera berbisik kepada Han Si-kong: "Locianpwee, sementara waktu lebih baik jangan mengumbar hawa amarah, Kalau berbicara dari suasana misterius yang menyelimuti benteng Tay-peng saat ini, agaknya pihak lawan bukan hanya bermaksud memandang hina orang lain saja.

Lebih baik locianpwee menjaga ketenangan dan mempertahankan otak yang dingin sambil memperhatikan situasi, jangan sampai masuk perangkap lawan-"

Han Si-kong sudah cukup lama berkelana dalam dunia persilatan, pengetahuan serta pengalamannya cukup luas, hanya sifatnya saja yang agak berangasan- Apabila menghadapi masalah yang kurang berkenan di hatinya, ia tak tahan untuk mengumbar hawa amarahnya serta sukar mengendalikan diri.

Tapi setelah diperingatkan Li Bun-yang saat ini, ia mulai sadar dan segera bersikap lebih tenang, Ditariknya napas panjang-panjang untuk menenangkan api amarah yang berkobar dalam dadanya.

Dalam kesempatan itu si bocah berbaju hijau itu telah mengajak beberapa orang tersebut melewati dua buah halaman luas. Tampak halaman itu penuh ditumbuhi bebungahan yang menyiarkan bau harum semerbak.

Mendadak si bocah baju hijau penunjuk jalan itu berhenti berjalan seraya ujarnya: "Nah, sudah sampai, harap kalian menunggu sejenak"

Han Si-kong mendengus dingin, ia seperti hendak mengumbar hawa amarahnya tapi kemudian niat tersebut dapat ditahan.

si bocah berbaju hijau itu maju beberapa langkah ke depan, mendorong sebuah pintu berbentuk bulat dan langsung masuk ke dalam, Tiba-tiba saja Han si-kong ikut maju ke muka siap membuntuti di belakang bocah berbaju hijau itu menerjang masuk ke dalam, tapi Li Bun- yang segera melintangkan lengan kirinya menghalangi jalan perginya. Melihat itu Han si-kong menghela napas panjang dan membatalkan langkah-nya. sementara itu Lim Han-kim telah mengguna kan kesempatan tersebut untuk memperhatikan keadaan-di sekitar sana. Ter-nyata mereka telah berada di sebuah kebun bunga kecil yang berbentuk sangat indah. Luasnya cuma lima kaki tapi penuh ditumbuhi pepohonan dan aneka bunga.

Ada kolam ikan, ada pula gunung-gunungan, semuanya berbentuk manis dan indah, Hanya satu hal yang kurang berkesan yakni keheningan yang mendatangkan perasaan menyeramkan.

Tampak cahaya lentera membias ke luar dari balik pintu bulat, bocah berbaju hijau itu telah muncul kembali sambil berkata dingin, "suhu mengundang kalian masuk"

Li Tiong-hui mencoba memperhatikan wajah bocah berbaju hijau itu, ternyata dia memiliki paras muka yang pucat pias seperti mayat, nada bicaranya dingin dan ketus, tanpa terasa pikirnya: "Heran betul, bocah ini paling banter baru berusia tiga empat belas tahunan, kalau ia bukan dibesarkan dalam lingkungan yang dingin menyeramkan atau pernah mendapat pendidikan yang sadis dan kejam, tak mungkin dengan usianya semuda itu, sikapnya bisa begitu kaku, dingin dan menggidikkan hati."

sementara si nona masih termenung, Han Si-kong dengan langkah lebar telah melangkah masuk ke dalam pintu bulat itu. Bocah berbaju hijau itu segera berebut melangkah lebih dulu di depan, mereka menelusuri sebuah lorong sepanjang empat lima kaki sebelum akhirnya tiba di sebuah ruang tamu yang sangat luas.

Empat buah lilin putih yang tinggi besar menerangi seluruh ruang tamu itu. sebuah meja berkaki delapan terletak di tengah ruangan, sementara di sisinya duduk seorang lelaki setengah umur yang berwajah kurus dan berjenggot putih. orang itu bukan lain adalah sipeluru berantai chee Tay-tong, pemilik benteng Tay-peng.

Begitu melangkah masuk ke dalam ruang tamu, Han si-kong dengan sorot matanya yang tajam menyapu sekejap seluruh ruangan itu, Ketika dilihatnya di sana hanya hadir chee Tay-tong seorang tanpa pengikut, ia berusaha menahan hawa amarahnya, sambil menjura ia menyapa:

"saudara chee, sudah belasan tahun kita tak bersua, baik-baikkah anda?" chee Tay-tong duduk tak bergerak, hanya sinar matanya pelan-pelan dialihkan ke wajah Han si-kong, sahutnya singkat: "Baik-baikkah kau saudara Han?"

"saudara Chee" seru Han si-kong sambil tertawa dingin, "Aku lihat lagakmu makin lama makin bertambah besar."

"Terima kasih, terima kasih." Chee Tay-tong alihkan pandangan matanya ke wajah Li Bun-yang, kemudian terusnya: "Apakah saudara ini adalah saudara Li dari keluarga persilatan bukit Hong-san?"

"Benar." Li Bun-yang tersenyum "Tak disangka chee pocu masih ingat dengan diriku, hal ini betul-betul merupakan satu kebanggaan bagiku."

chee Tay-tong ulapkan tangan kanan-nya, dengan nada dingin dan ketus kembali ujarnya: "Maafkan aku bila kehadiran kalian semua dari tempat jauh tak bisa disambut semestinya."

sebetulnya beberapa patah kata itu merupakan ucapan sopan santun, tapi lantaran diutarakan chee Tay- tong dengan nada yang dingin dan menyeramkan, maka timbullah kesan yang mengerikan dan menggidikkan hati bagi siapa pun yang mendengarnya. Han si-kong kembali tertawa dingin.

"saudara Chee, masih ingatkah kau bagaimana kita mengembara bersama dalam dunia persilatan di masa lalu? Waktu itu kita sama-sama "

"saudara Han," tukas Chee Tay-tong. " Kalau hendak mengucapkan sesuatu, lebih baik duduklah dulu sebelum dilanjutkan."

Teringat dengan bujukan Li Bun-yang tadi, terpaksa Han si-kong menekan rasa gusar dan mendongkolnya, ia menurut dan mengambil tempat duduk. Tidak memberi kesempatan kepada Han si-kong untuk melanjutkan perkataannya, chee Tay-tong segera berkata lebih dulu: "Enghiong perempuan ini rasanya sangat kukenal."

"ooh, dia adalah adikku," Li Bun-yang segera memperkenalkan.

"selamatjumpa, selamat jumpa, sudah lama aku mendengar nama besar nona Li sebagai keturunan keluarga persilatan bukit Hong-san, Beruntung sekali kami dapat bertemu muka hari ini."

Lalu sinar matanya dialihkan ke wajah Lim Han-kim, lanjutnya: "siapa pula jago muda ini? Boleh aku tahu namamu?"

"Aku Lim Han-kim"

"Lim Han-kim. Lim Han-kim...? Asing benar nama ini." "Yaa, aku memang jarang berkelana dalam dunia

persilatan itulah sebabnya Chee pocu tidak kenal aku."

Dengan pandangan yang tajam seperti mata pisau Chee Tay-tong menyapu sekejap wajah beberapa orang itu, kemudian tegurnya: "Boleh aku tahu ada urusan apa kalian berkunjung ke mari?"

setelah mengalami beberapa kejadian, Han si-kong sudah mulai dapat mengendalikan gejolak perasaannya, diam-diam pikirnya: "Baik watak. mimik muka serta gerak gerik orang ini rasanya berbeda amat dengan keadaan dulu, Pada hakekatnya tak ubahnya seperti berganti orang lain. Di balik semuanya ini tentu ada sebab-sebabnya, ehmmm... aku tak boleh gegabah."

Berpikir begitu, dengan suara yang lebih lembut sahutnya: "oooh... sudah lama kita tak bersua, maka kuajak beberapa orang ini khusus datang menyambangi saudara Chee"

Paras muka Chee Tay-tong tetap dingin dan kaku.

Tiba-tiba ia bertepuk tangan dua kali, Dari sudut ruangan terdengar pintu kayu didorong orang, Dua orang dayang kecil berbaju hijau muncul ditengah ruangan.

Dayang yang berjalan paling depan membawa sebuah baki kayu berwarna merah, Di atas baki terdapat empat buah cawan perselen Dengan langkah yang lemah gemulai dia menghampiri Han si-kong sekalian dan berkata hormat:"silahkan minum teh."

Li Bun-yang mengambil secawan lebih dulu dari baki itu dan membuka penutupnya, tampak dalam cawan itu berisi cairan berwarna hijau yang masih mengepulkan hawa panas, bau harum terasa menyegarkan pikiran, tapi pemuda ini hanya memandangnya sekejap lalu diletakkan ke atas meja. Han Si-kong juga mengendus cawan itu beberapa kali sambil memuji tiada hentinya: "Ehmmmm, air teh wangi, air teh wangi. "

Meski pujiannya berulang kali namun setetes pun ia tak minum, cawan itu segera diletakkan kembali ke atas meja. Pada saat itu dayang kedua juga membawa sebuah baki yang berisi beberapa macam makanan kecil.

Dengan sigap dayang itu meletakkan makanan- makanan kecil itu ke atas meja, kemudian setelah memberi hormat bersama dayang yang membawa cawan teh itu segera mengundurkan diri dari ruangan-

Chee Tay-tong segera mengambil sepotong makanan kecil itu sambil ujarnya: "Setelah menempuh perjalanan jauh tentunya kalian merasa lapar bukan? silahkan mencicipi dulu panganan tersebut sebelum hidangan sayur di siapkan " Selesai berkata ia segera masukkan

panganan itu ke mulut dan menghabiskan dengan lahap.

Han Si-kong hanya duduk tak bergerak, ia tidak mengambil panganan tersebut, dan tidak mengucapkan sepatah kata pun-

Chee Tay-tong sendiri pun tidak sungkan-sungkan, dia mengambil terus penganan di meja dan dimakan dengan lahap. Suasana dalam ruang tamu yang luas dan mengerikan itu pun tiba-tiba berubah jadi hening, sepi, Tak kedengaran sedikit suara pun- Entah berapa waktu sudah lewat, Hampir separuh bagian isi piring penganan yang dihidangkan di meja telah dihabiskan chee Tay-tong, tiba-tiba saja ia bertepuk tangan dua kali.

Dari sudut ruangan kembali muncul dua orang dayang berbaju hijau yang segera membereskan piring-piring di meja dan mundur dari situ. Menyusul kemudian bau arak dan hidangan yang lezat dihidangkan di meja, tak lama kemudian seluruh meja telah dipenuhi dengan aneka macam masakan dan arak wangi.

Lagi- lagi Che Tay-tong mengangkat cawan araknya sambil berkata berulang kali: "silahkan, silahkan dicicipi" Kembali ia teguk habis isi cawan araknya, Meskipun Lim Han-kim sekalian merasa agak lapar, tapi mereka curiga arak dan hidangan yang tersedia telah diracuni, maka terpaksa mereka harus menahan lapar dan duduk tak bergerak.

Chee Tay-tong pun tidak sungkan-sungkan, seakan- akan di sekeliling sana tak ada orang lain, dia menggasak semua hidangan yang tersedia dengan lahap. sekejap kemudian sepoci arak wangi sudah dihabiskan.

Mencium bau harum arak yang menus uk hidung, hampir saja Han si- Kong taK kuasa menahan diri Beberapa kali tangannya sudah bergerak hendak menyambar cawan arak di hadapannya, untung Li Bun- yang telah memperhitungkan sampai disana. Terpaksa berulang kali ia harus memperingatkan dengan ilmu menyampaikan suaranya hingga Han si- kong pun akhirnya dapat mengendalikan diri

Tak lama kemudian Chee Tay-tong telah selesai makan, ditatapnya keempat orang itu sekejap. lalu katanya: " Untuk menyambut kedatangan kalian dari jauh, aku telah melaksanakan kewajibanku sebagai seorang tuan rumah, Nah, kini waktu semakin larut malam, aku rasa aku tak perlu menahan kalian lebih lama lagi."

Mimpipun Han si-kong tidak menyangka kalau secara tiba-tiba ia akan mengusir mereka dari situ, setelah termenung beberapa saat katanya: "sesungguhnya maksud kedatanganku kali ini kesatu untuk menjenguk sahabat lama, kedua ada urusan hendak dirundingkan-"

"Persahabatan sudah menjadi kenangan masa silam, lagipula tiada perjamuan yang tak buyar di dunia ini, lebih baik terima saja bujukanku, Lebih baik saudara Han cepat-cepat tinggalkan tempat ini."

Han si-kong melirik Li Bun-yang sekejap. Tiba-tiba ia mendorong meja di hadapannya sambil bangkit berdiri, hardiknya penuh amarah: "Bagus sekali Chee Tay-tong, dahulu kau tak lebih cuma seorang poocu kecil dari benteng Tay-peng, tidak sepantasnya kau berlagak macam begini di hadapanku HHmmm Bagaimana pun kita pernah jadi sahabat karib yang senasib sependeritaan-"

Tampaknya Chee Tay-tong hendak mengumbar napsunya pula, tapi akhirnya ia dapat mengendalikan diri, tegurnya kemudian ketus: "Lantas saudara Han mau apa?"

sebenarnya Han si-kong hendak menggunakan kesempatan itu untuk memancing Hawa amarah Chee Tay-tong, ia tak menyangka kalau orang itu dapat menahan emosinya sehingga untuk berapa saat dia tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. sementara dia masih termenung, Li Bun-yang telah bangkit berdiri seraya berkata:

"Untuk perjamuan dan pelayanan pocu yang begitu ramah terhadap kehadiran kami, aku merasa berterima kasih sekali Terima lah hormatku sebagai pertanda rasa terima kasih itu." sambil berkata dia segera menjura dalam- dalam.

Perlu diketahui, sejak masuk ke dalam ruang tamu itu Chee Tay-tong selalu duduk tak bergerak. Hal ini segera memancing kecurigaan di hati kecil Li Bun-yang, itulah sebabnya dia sengaja bangkit berdiri untuk memberi hormat. siapa tahu chee Tay-tong tetap duduk tak bergerak, dia hanya mengulapkan tangan konannya sambil berkata: "Kau tak perlu banyak adat."

Han si-kong segera berkerut kening, diam-diam pikirnya: "Jangan-jangan selama berapa tahun terakhir ini dia telah mengalami siksaan atau goncangan jiwa sehingga wataknya mengalami perubahan drastis. Kalau tidak. masa dia bersikap begitu dingin, kaku seolah-olah tak berperasaan"

sementara dia masih berpikir, chee Tay-tong telah berteriak dengan suara keras: "Antar para tamu"

Dua orang bocah berbaju hijau menyahut dan segera muncul di tengah ruangan, sambil menyapu pandang pada Li Bun-yang sekalian, serunya serentak: "silahkan tuan sekalian"

Ruang tamu itu sangat lebar dan luas, tapi dua orang bocah berbaju hijau itu seolah-olah selalu berdiri di sudut yang gelap. karena buktinya begitu ada perintah mereka segera munculkan diri, malah gerakan tubuh mereka sangat enteng sampai tak kedengaran sedikit suara pun-

satu ingatan segera melintas dalam benak Li Bun- yang, diam-diam pikirnya: "Heran, kenapa Chee Tay-tong berulang kali mendesak kami untuk pergi meninggalkan tempat ini? Tampaknya ia punya kesulitan yang sukar diutarakan seandainya dia sudah lupa hubungan persahabatan semestinya dia bisa menolak untuk bertemu muka, kenapa ia mesti menjamu kami dengan begitu meriah? Di sudut ruangan tempat kegelapan sana dapat dipakai untuk bersembunyi dua orang bocah berbaju hijau itu, kenapa tak mungkin dipakai juga oleh orang lain untuk secara diam-diam mengawasi gerak- gerik orang she Chee ini?"

Berpikir sampai di situ secara diam-diam dia mulai pasang mata untuk memperhatikan keadaan Sekeliling ruangan itu. Secara bersamaan pula dia menggunakan ilmu menyampaikan suara untuk memberi peringatan kepada Lim Han-kim dan Han Si-kong sekalian agar lebih berhati-hati sebab di balik kegelapan di sudut ruangan itu kemungkinan besar ada jago yang bersembunyi serta melakukan pengawasan.

Tampaknya dua orang bocah berbaju hijau itu sudah menyadari akan tindak tanduk Li Bun-yang sekalian, Tiba-tiba si bocah yang berada di sebelah kiri mendesak maju ke hadapan Li Bun-yang sekalian sambil membentak keras: "Poocu kami sudah menurunkan

perintah untuk mengusir tamu, kenapa kalian belum juga mau bergerak, sebetulnya apa maksudmu?"

Li Bun-yang bukan bocah kemarin sore, begitu melihat bocah berbaju hijau itu mendesak maju ke depan, ia segera membuat persiapan yang seksama, pikimya: "Kalau dilihat dari situasi hari ini, tampaknya kalau aku tidak ribut sampai terjadi pertarungan susah bagi kami untuk menyelidiki keadaan yang sesungguhnya."

Sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan, ia menyahut dengan tertawa dingin: "Hmm, hmmm... seorang pelayan cilik juga berani kurang ajar terhadap kami?"

"Terima kasih, aku tak berani," sahut pelayan itu ketus, Tiba-tiba saja ujung baju kanannya dikebaskan ke depan, Di bawah cahaya lilin tampak selapis cahaya berwarna perak meluncur tiba dengan kecepatan luar biasa.

Li Bun-yang cukup berpengalaman. dalam sekilas pandang ia sudah mengenali cahaya perak itu sebagai senjata rahasia beracun bangsa jarum bunga bwee dan sejenisnya, diam-diam ia terkesiap. pikirnya:

"sungguh kejam bocah berbaju hijau ini, dalam jarak sedekat inipun ia mampu menggunakan jarum beracun selembut itu untuk mencelakai orang, Hmmm Untung aku sudah waspada sejak tadi, coba kalau teledor sedikit saja niscaya aku sudah terluka oleh bokongan senjata rahasia beracunnya ini. "

Berpikir sampai di situ dia segera pentangkan senjata kipasnya lebar-lebar dan mengerahkan tenaga dalamnya sambil didorong ke depan, namun di luar ia tetap tak berubah, berdiri santai. Di antara kebasan senjata kipasnya inilah puluhan jarum beracun jang meluncur datangan berjatuhan ke atas tanah.

Tampaknya bocah berbaju hijau itu mulai sadar bahwa ia telah bertemu dengan musuh tangguh, kali ini dia tak berani mendesak maju lagi. Waktu itu Han si-kong berdiri membelakangi arena sehingga dia tak melihat perbuatan si bocah berbaju hijau yang membokong dengan senjata rahasia teracun itu, namun hawa amarahnya kontan berkobar setelah mendengar ucapan lawan yang kurang ajar, dengan penuh amarah bentaknya keras-keras:

"Saudara chee, kalau kau sudah lupa dengan persahabatan kita serta mengusir kami dari sini, aku dapat menerimanya, tapi kacung kecilmu iri, masih ingusan sudah begini kurang ajar. Hmmmm Aku harus mewakllimu untuk memberi pelajaran yang setimpal kepadanya."

Tangan kiri segera diayunkan ke muka melancarkan sebuah cengkeraman maut. cepat-cepat bocah berbaju hijau itu miringkan badannya ke samping, dengan cekatan sekali dia menghindarkan diri dari sergapan tersebut.

Gagal dengan cengkeramannya Han Si-kong termangu, rupanya dia tak menyangka kalau musuhnya dengan seusia semuda itu ternyata memiliki ilmu silat yang begini sempurna. Kegagalan tersebut kontan saja membuat orang tua ini malu, dia merasa kehilangan muka sehingga pipinya terasa jadi panas, tubuhnya segera mendesak maju lebih ke depan, Sekali lagi dia melancarkan cengkeraman ke tubuh bocah berbaju hijau itu sambil membentak keras:

"Bagus sekali, tak disangka seorang kacung di samping saudara chee pun memiliki ilmu silat sehebat ini. Aku patut meminta pelajaran dari kacungmu ini"

Kembali bocah berbaju hijau itu menggerakkan sepasang bahunya, dalam waktu singkat ia sudah mundur sejauh empat lima depa. Lagi-lagi jurus cengkeraman maut dari Han Si-kong berhasil dihindari dengan gampang dan manis.

Pada saat itu Li Bun-yang yang mengawasi sekeliling tempat itu segera menjumpai bahwa di sekeliling ruangan tersebut memang benar-benar terdapat bayangan manusia yang menyembunyikan diri di balik kegelapan, bahkan jumlahnya cukup banyak.

sebelum mengetahui jumlah kekuatan musuh yang sebenarnya Li Bun-yang tak ingin turun tangan secara gegabah, cepat dia menghadang di depan Han si-kong sambil ujarnya: "Han locianpwee, kalau toh cheepocu sudah perintahkan orangnya untuk mengantar kita keluar, lebih baik kita mohon diri saja." Dengan wajah tertegun Han si-kong menghentikan tindakannya, Diawasinya wajah Li Bun-yang sekejap kemudian pelan-pelan mundur kembali ke posisinya semula, Ketika ia mencoba berpaling, tampak si peluru berantai chee Tay-tong masih tetap duduk di tempat semula tanpa bergerak sedikit pun.

sambil menjura Li Bun-yang segera berkata: "Terima kasih banyak atas pelayanan poocu yang telah menyediakan perjamuan untuk kami. Dengan ini kami ingin mohon diri lebih dulu."

"Maaf tidak kuantar" kata chee Tay-tong dingin. "Tidak berani merepotkan-"

Menggunakan kesempatan waktu membalikkan badan, ia menarik ujung baju Han si-kong lalu dengan langkah lebar keluar dari ruangan itu

"Hey orang she- chee" seru Han si-kong sambil tertawa dingin, " Hubungan persahabatan kita selama puluhan tahun kuhapuskan hari ini juga. Bila kita bersua lagi di kemudian hari, aku pasti ingin mengetahui siapa yang lebih unggul di antara kita berdua."

"Jika saudara Han ingin menjajal, setiap saat akan kulayani tantanganmu itu."

Han si-kong mendengus dingin, ia putar badan dan melangkah keluar dari ruangan. Baru saja keempat orang itu hendak meninggalkan ruang tamu, mendadak cahaya lilin yang menerangi ruangan tersebut padam sama sekali, disusul kemudian terdengar suara benturan keras bergema memecahkan keheningan, ternyata pintu gerbang dalam ruang tamu itu sudah tertutup rapat.

sambil menghentikan langkahnya Li Tiong-hui segera berbisik: "Waaah... tampaknya susah bagi kita untuk pergi dari sini."

Rasa gusar yang menggelora dalam benak Han si- kong belum mereda waktu itu, mendengar ucapan mana segera sambungnya: "Hmmm Aku tak percaya dengan kemampuan benteng Tay-peng bisa menahan kita di sini"

"Betul cianpwee, kalau bicara soal ilmu silat, sekalipun mereka memiliki jago yang amat banyak. namun dengan andalkan kemampuan kita beberapa orang rasanya bukan pekerjaan susah untuk menerjang ke luar dari sini, tapi jika mereka main bokong atau pasang perangkap licik, kita mesti lebih tingkatkan kewaspadaan..."

Li Bun-yang cukup mengenali watak adik perempuannya ini. Dia tahu gadis itu amat teliti dan dugaannya selalu tepat, tanpa bukti yang jelas tak nanti dia akan bicara sembarangan, maka serunya kemudian: "Adik Hui, aku selalu mengagumi pendapatmu.." " Kau tak perlu mengenakan topi di atas kepalaku, seandainya apa yang kuduga benar, maka dalam persoalan ini kau harus memikul sebagian besar tanggung jawabnya."

"Aaaah, masa begitu serius?" seru Li Bun-yang sambil tertawa. " Coba jelaskan"

"Walaupun kita berada dalam posisi amat berbahaya ketika berada di ruang tamu tadi, namun bukan berarti tiada kesempatan untuk hidup, tapi kau justru mengajak Han locianpwee meninggalkan ruang tersebut dan mengantarkan diri masuk perangkap."