-->

Pedang Keadilan I Bab 10 : Antara Mati dan Hidup

 
Bab 10. Antara Mati dan Hidup

Lik-ling menghela napas panjang, kembali ujarnya. "Usiamu sekarang ibarat sang surya yang baru terbit di ufuk timur, masa depanmu masih panjang dan cemerlang..."

setelah termenung berpikir sebentar, kembali lanjutnya: "Berbicara dari kepandaian silat yang kau miliki, sudah pantas bila kau dimasukkan ke dalam deretan jago-jago pilihan dalam dunia persilatan, jadi aku duga gurumu tentu seorang manusia berbakat yang luar biasa."

"Meski gurumu hebat, bukan berarti ia dapat mendidikmu sedemikian lihaynya hanya dalam belasan tahun yang singkat, Bila dugaanku tak salah, kaupasti merupakan keturunan keluarga persilatan kenamaan yang mulai dididik ilmu silat sejak kecil, Nah, dengan kemampuan semacam ini tentunya terlalu sayang bukan jiwa mesti mati dalam usia muda." Lim Han-kim tertawa dingin.

"Nona,jika ingin mengucapkan sesuatu, lebih baik utarakan terus terang, Aku paling tak suka diajak putar- putar haluan-" Lik-ling kembali tersenyum

"Seandainya aku ingin membunuhmu sekarang, hal ini bisa kulakukan dengan mudah sekali, tapi aku pun dapat segera membebaskan borgolan tangan dan rantai di tubuhmu serta membiarkan kau pergi dari sini.,."

Dengan langkah yang genit dia berjalan menghampiri anak muda itu, sambil melangkah demikian, ia kembali melanjutkan-

"Memang, kalau bicara menurut adat serta jiwa mudamu, Kau lebih suka mati secara gagah, Tapi... pernahkah kau berpikir, bagaimanakah perasaan ibumu yang mungkin menantikan kepulanganmu? Apa lagi wajahmu tampan, ilmu silatmu hebat, terlalu sayang jika harus mati secara mengerikan..."

Tiba-tiba ia berpaling, dengan biji matanya yang jeli ditatapnya wajah perempuan itu lekat-lekat, kemudian lanjutnya lagi: "Selama ini aku terkenal kejam dan tidak berbelas kasihan, belum pernah aku tunjukkan sikap welas kasih seperti terhadapmu sekarang, Kau tahu, sudah berapa banyak jago persilatan yang tewas atau terluka di tanganku? siapa saja yang sudah terjatuh ke tanganku, mereka selalu hanya disodorkan dua pilihan. Pertama, mati secara mengerikan dan kedua, bergabung dengan partai Hian- hong- kau kami, Nah, sekarang aku pun ingin tawarkan kedua jalan tersebut kepadamu, silahkan kau memilih sendiri.."

Dia menghela napas panjang, lanjutnya kemudian- "Tapi aneh benar... aku merasa seperti punya jodoh yang istimewa denganmu.."

Dari dalam sakunya dia keluarkan sebuah lencana emas, sambil tertawa ia ber-tanya: "Kau kenal dengan pemilik lencana emas ini?"

Memandang lencana emas tersebut, Lim Han-kim segera mengenali benda itu sebagai lencana pemberian Kim Nio-nio.

"Tentu saja kenal" jawabnya agak termangu. "Apa hubunganmu dengannya?"

Dari nada pertanyaan itu bisa disimpulkan ia pun kenal dengan pemilik lencana emas ini. Lama sekali Lim Han- kim termenung, ia tak mampu menjawab pertanyaan tersebut sebagai orang yang jujur dan polos, dia merasa kurang leluasa untuk menjelaskan bahwa Kim Nio-nio telah menganggapnya sebagai adik angkatnya...

sambil menyimpan kembali lencana emas itu Lik-ling berkata lagi sambil ter-tawa: "Padahal tak usah kau jelaskan pun aku sudah tahu."

"Kau tahu? Tahu apa?"

"Kau tak usah berlagakpilon, Masa kau tak memahami apa yang kumaksudkan itu...?"

Dengan penuh kegusaran Lim Han-kim melototkan matanya bulat-bulat, tegurnya: "Kau anggap aku Lim Han-kim manusia macam apa? Hmmmm Aku tak ingin kau ngaco belo." Lik-ling tertawa cekikikkan-

"Padahal kejadian semacam ini tidak lucu dan aneh, Aku pun tak berniat menanyakan lebih jauh, Nah, sekarang ada satu persoalan yang jauh lebih penting, aku harap kau segera mengambil keputusan-"

"soal apa?"

"sudah kau putuskan mati hidupmu?" "Belum"

" Kalau begitu sudah kau putuskan memilih mati?"

"Juga tidak" Lim Han-kim menggeleng, "Lalu apa yang kau inginkan?"

"Aku mesti pikirkan dulu persoalan ini baik-baik," "Berapa waktu kau butuhkan?"

"Mungkin tiga sampai lima hari, mungkin juga sesaat lagi aku sudah dapat mengambil keputusan."

"Baiklah" kata Lik-ling kemudian sambil tersenyum, "Pikirkanlah seorang diri di sini, aku beri waktu sepenanakan nasi lamanya, Nanti aku akan datang lagi untuk menanyakan keputusanmu."

Habis berkata, ia benar-benar membalikkan badan dan berjalan menuju ke ruang dalam, Di ruangan yang begitu luas, kini tinggal Lim Han-kim seorang. suasana di- sekeliling tempat itu a mat sepi, hening, tak kedengaran sedikit suara pun-

Lim Han-kim menghela napas panjang, ia putar otak berpikir keras. Keadaan yang begitu mendesak membuat anak muda ini mau tak mau harus mempertimbangkan kembali situasi yang sedang dihadapinya dengan lebih serius.

Dari nada pembicaraan Lik-ling tadi, ia sudah dapat merasakan bahwa dia betul-betul sudah dihadapkan pada masalah mati dan hidup, selain itu dia pun menyadari bahwa Lik-ling sendiri pun tak dapat memutuskan tentang mati hidupnya, Yang pasti sastrawan berbaju hijau itulah yang sesungguhnya memegang peranan penting.

Tentang manusia kuning ini... ia memberikan semacam dugaan misterius yang sukar dilukiskan, Kemungkinan besar ia benar-benar adalah ketua Hian- hong- kau yang merencanakan semuanya ini, tapi bisa juga hanya boneka yang sengaja diatur sastrawan berbaju hijau itu untuk mengelabui pandangan orang lain-

Dandanan serta gerak-geriknya telah menutupi seluruh kekuasaannya, tak mungkin ada orang bisa memahami apakah dia betul- betul ketua Hian- hong- kau yang asli atau bukan.

Kemudian pemuda itu pun teringat asal usulnya sendiri yang penuh misteri, teringat juga pada pil mestika yang hilang, ibunya yang sudah tua...

Sambil menghela napas panjang Lim Han-kim angkat kepalanya dan menggeleng-gelengkan kuat-kuat, ia mesti menenangkan pikirannya dan membuang jauh-jauh semua pikiran yang kusut agar bisa mencari akal dan jalan terbaik untuk mengatasi persoalan di depan mata.

Sementara dia masih termenung, tiba-tiba terdengar seseorang memanggilnya dengan suara lembut: "Lim slang kong.."." Lim Han-kim terkejut dan cepat-cepat berpaling, ia temukan seorang gadis berbaju serba hijau telah berdiri di sampingnya.

Waktu itu dia sedang putar otak mencari jalan keluar, ternyata sama sekali tak disadari sejak kapan gadis berbaju hijau itu sudah hadir di sampingnya, Lamat- lamat diapun dapat mengenali gadis ini sebagai gadis yang meminta sapu tangan dari tangannya.

Ketika melihat anak muda itu menunjukkan wajah tak tenang, gadis berbaiu hijau itu segera berkata lagi lirih: "Aku berterima kasih sekali atas pertolongan slang kong tempo hari. Berkat pemberian sapu tangan itu, kami berhasil menghindarkan diri dari penderitaan tiga siksaan-"

Lim Han-kim merasa malu bercampur menyesal, diam- diam pikirnya: "Yaa... sapu tangan itu sudah kuhadiahkan kepada nona ini, tapi aku justru datang ingin memintanya kembali sehingga gara-gara itu aku tertangkap..."

Melihat Lim Han-kim tidak memberi tanggapan, tampaknya gadis berbaju hijau itu merasa amat gelisah, katanya kembali:

"siangkong, aku tak bisa berdiam terlalu lama di sini.

Bila kau membutuhkan bantuanku, cepat katakan." Pelan-pelan Lim Han-kim mengalihkan sorot matanya ke wajah gadis berbaju hijau itu, lalu bisiknya: "Nona, apakah kau dapat usahakan membuka borgol di tanganku ini?" setelah memperhatikan borgol di tangan Lim Han-kim dengan seksama, gadis berbaju hijau itu gelengkan kepalanya berulang kali,

"Tampaknya nona Lik-ling sudah tahu kalau ilmu silat siangkong sangat lihay, sehingga dia tak memakai besi biasa untuk memborgolmu. setahuku borgol semacam ini Cuma ada dua, satu digunakan oleh monyet tua, tak disangka yang lain ternyata dipergunakan untuk memborgol siang-kong."

Lim Han- kin tertegun, dia membungkam diri da lam seribu bahasa, Terdengar gadis berbaju hijau itu berkata lagi:

"Kedua perangkat borgol khusus itu memang sengaja disiapkan untuk menghadapi jago-jago berilmu silat tinggi, oleh sebab itu. "

Tiba-tiba ia menghentikan perkataannya dan menyembunyikan diri ke belakang tubuh Lim Han-kim. Tampak seorang lelaki berperawakan tinggi besar dengan langkah berat berjalan masuk ke dalam ruangan, tubuhnya sempoyongan seakan-akan sepasang kakinya sudah tiada bertenaga lagi untuk menahan perawakan tubuhnya yang tinggi besar. Dalam sekali pandang saja Lim Han-kim sudah tahu kalau lelaki tersebut telah menderita luka akibat pukulan seorang jago tangguh, bahkan luka yang dideritanya amat parah danjiwanya tak mungkin bisa bertahan selama seperminum teh lagi. Terdengar lelaki itu berteriak-teriak dengan suara yang berat:

"Noo... nona.... Lik-ling... nona... nona Lik-ling " Tapi

sebelum sempat mengucapkan sesuatu, tahu-tahu badannya roboh terjungkal ke atas tanah dan tak bergerak lagi.

Cepat-cepat perempuan baju hijau yang bersembunyi di belakang Lim Han-kim itu melompat keluar dan mencoba membangunkan lelaki tersebut sejak lelaki itu roboh ke tanah sampai nona berbaju hijau itu munculkan diri untuk membangunkan lelaki tersebut, semuanya berlangsung dalam waktu singkat.

Baru saja ia membimbing lelaki tersebut, Lik-ling siperempuan cantik itu sudah muncul di depan pintu ruangan sambil menegur: "Apakah dia masih hidup?"

Nona berbaju hijau itu berlagak wajar, ia mengangkat kepalanya seraya menyahut "Jiwanya sudah putus."

"sudah mati?" seru Lik-ling tertegun, cepat-cepat dia maju menghampiri lelaki itu. Lim Han-kim yang menyaksikan semua itu diam-diam menggelengkan kepalanya sambil berpikir. "sesungguhnya mereka termasuk satu kelompok dan sepantasnya bila susah sama dijinjing senang sama dinikmati, tapi sayang para pemimpin organisasi ini justru memupuk kekuasaan mereka pada peraturan serta siksaan yang kejam sehingga memaksa anak buahnya harus menggunakan akal dan tipu muslihat untuk menyelamatkan jiwa sendiri, akibatnya suatu kerja sama yang erat mustahil bisa digalang "

Tampak Lik,ling membungkukkan badannya memeriksa sebentar seluruh tubuh lelaki itu dengan seksama, ujarnya kemudian: "Tampaknya orang ini dilukai oleh tenaga pukulan seorang jago tangguh sehingga isi perutnya hancur."

Tiba-tiba terdengar suara suitan nyaring yang tinggi melengking berkumandang datang. Air muka Lik-ling segera berubah hebat, sambil melompat bangun perintahnya: "Cepat singkirkan jenazah itu, musuh tangguh telah menyerang masuk ke lorong bawah tanah."

Nona berbaju hijau itu mengiakan dan menggotong jenazah lelaki tadi buru-buru tinggaikan ruangan tersebut selama ini Lim Han-kim hanya mengawasi semua kejadian itu sambil berpeluk tangan, meskipun wajahnya tetap mempertahankan sikap tenangnya, namun dalam hati kecilnya justru merasa amat gelisah. Pelan-pelan Lik-ling membalikkan tubuhnya sambil menegur dingin: "sudah kaupikirkan baik-baik? ingin tetap hidup? Atau lebih baik memilih mati?"

"Aku belum mengambil keputusan"

Lik-ling tertawa dingin, dengan suatu kecepatan tinggi ia lancarkan sebuah totokan menyodok jalan darah di tubuh Lim Han-kim. Dengan memutar pergelangan tangan-nya, ia cengkeram tubuh anak muda itu dan menaruhnya di sudut ruangan, setelah itu baru dia lari keluar dari ruangan sekalian menutup pintunya rapat- rapat.

Dalam waktu singkat suasana dalam ruangan pun menjadi gelap gulita hingga melihat kelima jari tangan sendiripun rasanya susah, Dalam keadaan seperti ini, pikiran Lim Han-kim kembali bergelora, dia mulai berpikir kembali bagaimana caranya meloloskan diri dari situ.

Pintu ruangan amat tebal lagi kokoh, tak kedengaran sedikit suara pun yang bergema sampai di situ, Hal ini membuat anak muda tersebut tidak dapat menduga siapa gerangan jago silat yang telah menyerang masuk sampai ruang bawah tanah pesanggrahan Tho-hoa-kit. Tapi bila membayangkan kembali kematian lelaki kekar tadi, jelas bisa disimpuikan bahwa orang itu bukan sembarangan jago, otomatis pertempuran yang segera berlangsung pastilah suatu pertarungan yang luar biasa sengitnya. Posisinya pada saat ini boleh dibilang sangat rawan, bukan saja ia tak mampu menyelamatkan diri sendiri, persoalan-persoalan yang sebelumnya tak pernah dibayangkan pun kini satu persatu muncul dalam benaknya, pikiran dan perasaannya jadi makin kusut dan kalut.

Mendadak terdengar suara benturan keras bergema memecahkan keheningan.

Tampaknya ada orang yang mengayunkan senjata dan tepat menghajar di atas pintu ruangan tersebut, namun lantaran pintu batu itu kuat dan tebal maka setelah dihajar dua kali belum juga berhasil menggetarkannya, serangan berikutpun kemudian diurungkan.

Lim Han-kim tak dapat menduga dari aliran manakah musuh tangguh itu, ditambah lagi ia baru terjun ke dalam dunia persilatan dan tidak banyak jago yang dikenalnya, maka ia pun merasa kurang leluasa untuk berteriak.

sementara ia masih termenung, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan sedang memanggilnya dengan suara lirih: "Lim siangkong... Lim siangkong "

Lim Han-kim coba memperhatikan suara panggilan itu dengan lebih seksama, lamat-lamat ia dapat mengenali suara itu sebagai suara dari nona berbaju hijau yang pernah diberi sapu tangan, maka sahutnya: "Aku berada di sini"

sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dan melayang turun di sisi tubuhnya, setelah berada cukup lama dalam ruangan gelap itu, sepasang mata Lim Han- kim sudah mulai dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di situ dan lamat-lamat bisa melihat keadaan dalam ruangan ia segera mengamati bayangan manusia itu dengan seksama. Betul juga, ternyata orang itu memang si nona berbaju hijau.

Waktu itu dia membawa sebilah pedang yang memancarkan hawa dingin yang menggidikkan hati, ujung pedang ditudingkan ke atas dada anak muda itu, Tampa k si nona berjongkok untuk meneliti sebentar borgol dan rantai di tubuh Lim Han-kim. . setelah diamati berapa saat, ia tarik kembali pedangnya seraya menggeleng, "Aku benar-benar menyesal karena tak sanggup menolong Lim siangkong... aku minta maaf. "

Lim Han-kim tahu ucapan gadis itu memang benar, iapun tertawa hambar, "Aku memang tidak berharap nona datang menolong ku."

"Aaaai. Meskipun aku tak mampu menolong

siangkong, namun aku berhasil mendengar tentang suatu persoalan, Asal siang-kong dapat menahan hinaan dan penderitaan ini sementara waktu, baik kaucu kami maupun nona Lik-ling tak nanti berani mencelakai jiwa siangkong."

"Kenapa begitu?" tanya Lim Han-kim keheranan "Aku sempat menyadap pembicaraan antara kaucu

dengan Lik-ling tentang jiwa siangkong, mereka bilang membiarkan siangkong tetap hidup jauh lebih bermanfaat daripada dibunuh, Aku mengerti siangkong adalah seorang pendekar sejati yang pantang dihina, aku kuatir pikiranmu tidak terbuka hingga mengambil keputusan pendek. itulah sebabnya aku sengaja datang memberi kabar. jangan takut kehabisan kayu bakar, Asal mau menunggu, kesempatan tetap tersedia untuk melarikan diri Moga-moga saja kita punya jodoh, suatu hari nanti aku pasti akan datang membantu. "

"Terima kasih banyak atas pemberitahuanmu, tentu akan kuingat baik-baik nasehatmu itu."

"Ingat siangkong, jangan berpikiran pendek dan menghabisi jiwa sendiri." selesai berpesan, cepat-cepat dia berlalu dari sana.

Dalam keheningan dan kesepian yang luar biasa Lim Han-kim menunggu hampir satu jam lamanya, namun Lik-ling tidak muncul lagi di tempat itu, sedang nona berbaju hijaupun tidak tampak datang lagi. sementara pemuda itu masih menunggu dengan perasaan gelisah, tiba-tiba matanya jadi silau, Tampak selapis cahaya lentera menyorot masuk ke dalam, pintu ruangan yang tertutup rapatpun pelan-pelan membuka kembali, seorang bocah lelaki yang membawa lentera muncul dengan langkah lebar, di belakangnya mengikuti sastrawan berbaju hijau itu, sesaat kemudian Lik-ling nampak muncul juga dari balik pintu Kepada Lim Han- kim sastrawan berbaju hijau itu segera menjura dan menyapa sambil ter-tawa:

"Aku tidak tahu kalau saudara Lim datang dari lembah Hong-yap-kok, bila selama ini bersikap kurang sopan harap kau sudi memaafkan."

Diam-diam Lim Han-kim berpikir: "Lebih baik kulayani pembicaraan ini, siapa tahu aku dapat memperoleh kesempatan untuk membujuknya melepaskan borgolan."

Maka sambil manggut-manggut sahutnya: "Terima kasih atas pujianmu."

Tampaknya sastrawan berbaju hijau itu sudah dapat menebak isi hati Lim Han-kim, katanya lagi sambil tersenyum: "Tampak-nya Lim siauhiap sudah tak sabar lagi...? Maaf, tampaknya kami harus menyiksamu beberapa saat lagi."

Ia memang licik dan lebih berpengalaman Dari ucapan yang begitu singkat, secara tidak langsung ia telah memberitahu kepada Lim Han-kim bahwa jangan ha rap bisa membujuknya untuk melepaskan borgolan tersebut dan mencari kesempatan untuk melarikan diri

Lim Han-kim mengalihkan sinar matanya ke wajah Lik- ling yang sedang berjalan mendekat, Dia kembali berpikir: "Tampaknya nona berbaju hijau itu tidak membohongiku. Baik kedudukan, status maupun peringkat orang ini dalam perkumpulan Hian-hong-kau sama sekali tidak berada di bawah kekuasaan ketua, Kenapa secara tiba-tiba ia bersikap begitu sungkan kepadaku? Hmmm, sudah pasti ada sebab-sebabnya, aku tak boleh gegabah, Tapi... kalau dipikirkan kembali, aku cuma seorang pemuda yang baru terjun ke dunia persilatan dan tak punya nama besar, lalu apa gunaku.,.?"

Pada saat itu si sastrawan berbaju hijau itu sedang berpaling ke wajah Lik-ling sambil bertanya: "Apakah musuh tangguh itu berhasil ditangkap?"

Lik-ling berpikir sebentar, kemudian sahutnya: "orang itu berilmu silat sangat tinggi dan lagi bukan cuma seorang, tampaknya mereka hapal sekali dengan situasi kita di sini, Barusan aku sempat bertarung beberapa gebrakan dengannya, tapi kemudian ia berhasil meloloskan diri."

Paras muka sastrawan berbaju hijau itu tampak berubah hebat, namun ia tidak bertanya lagi, hanya matanya berkedip memberi isyarat pada si bocah pembawa lentera.

si bocah lelaki itu segera memahami maksudnya, dari sakunya dia mengeluarkan secarik kain hitam dan segera diikatkan ke mata Lim Han-kim.

Terdengar sastrawan berbaju hijau itu berkata lagi dengan suaranya yang dingin bagaikan es: "Jika Lim tayhiap tak ingin menderita siksaan, lebih baik jangan meronta atau melakukan perbuatan apapun yang dapat merugikan diri sendiri."

Lim Han-kim segera merasakan tubuhnya diangkat seseorang dan tak lama kemudian terasa angin dingin menerpa badan-nya, bau harum bunga pun tersiar di sekitar nya. Agaknya ia sudah dibawa ke luar dari ruang bawah tanah dan dimasukkan ke dalam sebuah kereta. selang beberapa saat kemudian terdengar suara kereta bergerak menempuh perjalanan.

Lim Han-kim tak dapat melihat sesuatu karena matanya dikerudungi kain hitam, namun dengan andalkan pendengarannya ia dapat merasakan kereta kuda itu bergerak makin lama semakin cepat, tanpa terasa pikirnya dengan perasaan cemas:

"Entah mereka hendak mengajakku pergi ke mana?

Tapi tempat itu jelas lebih berbahaya ketimbang pesanggrahan Tho-hoa-kit Waaah, jika aku sampai dikirim ke tempat semacam itu, tidak gampang lagi jika ingin meloloskan diri, lebih baik aku berusaha kabur di tengah jalan-.."

Berpikir sampai di situ, ingatan untuk melarikan diri pun muncul makin kuat dalam hatinya, Diam-diam ia menghimpun tenaga dalam dan mencoba menggerakkan tangan kanannya guna menarik lepas kain yang mengerudungi sepasang matanya.

siapa sangka, baru saja ia menggerakkan tangannya mendadak sikutnya terasa amat sakit, seakan-akan ada sesuatu benda yang menembusi kulit tubuhnya, kontan lengan itu jadi lemas dan tak mampu diangkat kembali peristiwa ini sama sekali di luar dugaan, anak muda itu kontan saja dibuat terkejut setengah mati.

Terdengar seseorang dengan suara yang dingin dan menyeramkan menegur: "Jika kau ingin merasakan siksaan tusukan jarum emasku, silahkan saja untuk meronta lagi. "

Lim Han-kim semakin terkesiap. pikir-nya: "Ternyata ia menusuk jalan darahku dengan jarum emas, tak heran kalau lengan kananku jadi lumpuh dan tak mampu digerakkan lagi." "Blaaaam "

Mendadak terdengar suara benturan keras bergema di udara disusul kemudian terdengar seseorang berteriak kesakitan, seluruh kereta kuda itu bergoncang keras dan angin kencang pun berhembus lewat.

Tampaknya ada seseorang yang kena digempur hingga mencelat ke luar dari kereta kuda itu. Menyusul kemudian terdengar seseorang tertawa terbahak-bahak sambil mengejek:

"Ha ha ha... bocah keparat Meskipun kau telah menusuk kedua lenganku dengan jarum emas, tentunya kau tidak menduga bukan aku masih bisa menggunakan sepasang kakiku untuk menendangmu? Ha ha Lim Han- kim segera mengenali suara itu sebagai suara dari Han si- kong yang pernah dijumpai dalam penjara bawah

tanah, tak tahan ia menegur: "Han locianpwee, kaukah di situ?"

Kembali Han si- kong tertawa terbahak-bahak,

"Ha ha ha... dunia memang amat sempit, tak disangka kita berjumpa lagi di sini."

Gelak tawanya begitu santai dan ringan, seakan-akan mati hidup bukan masalah besar baginya, Belum sempat Lim Han-kim mengucapkan sesuatu, Han si- kong telah berkata lagi: "Bocah keparat, penjaga kereta itu berhasil kutendang hingga tersungkur jatuh dari atas kereta Ha

ha ha moga-moga tendanganku tadi tepat menghajar

jalan darah kematian di tubuhnya, sekalipun tidak sampai mampus, paling tidak bakal cacad seumur hidup, " Terasa kereta kuda itu kembali bergoncang sangat keras, rupanya orang yang kena ditendang hingga mencelat jatuh dari kereta tadi kini telah melompat naik kembali

"Hei, bocah busuk. panjang amat umur-mu" bentak Han si kong. suara tertawa dingin berkumandang datang" Hmmmm... monyet tua, kita lihat saja bagaimana akhir dari permainan ini. jangan kuatir, sepanjang perjalanan kali ini pasti akan kuberi penderitaan yang lebih setimpal untukmu."

Han si-kong tertawa tergelak: "Ha ha ha... biarpun kau tusuk sepasang lututku dengan jarum emas, aku masih punya mulut untuk memaki orang, Bila kaupotong lidahku, aku tetap akan memakimu di dalam hati, kecuali kau bunuh aku, Hmmm selama aku masih hidup di dunia ini, hutang piutang antara kita tetap akan diperhitungkan sampai tuntas."

Tiba-tiba saja Lim Han-kim meras akan sepasang lututnya kaku, ternyata dua batang jarum emas tertancap pula di lututnya itu.

Agaknya orang itu kuatir Lim Han-kim meniru cara rekannya dengan melancarkan tendangan ke tubuhnya, maka sebelum didahului lawan, ia turun tangan lebih dulu dengan menusuk sepasang lutut lawannya. Sementara itu Han Si- kong masih mencaci maki tiada hentinya, tapi sipengawal tampaknya sudah tahu kalau monyet tua itu susah dilayani, maka ia biarkan monyet tua itu memaki sepuasnya tanpa memberi tanggapan.

Lama kelamaan Han si- kong jadi bosan sendiri karena makiannya tidak ditanggapi, akhirnya dia pun berhenti sendiri, Dalam keheningan hanya terdengar suara roda kereta yang berputar. Kereta itu tiada hentinya bergoncang keras, mungkin karena dilarikan sangat cepat sedang jalanan tidak rata, akibatnya goncangan yang ditimbulkannya terasa sangat keras.

Lim Han-kim dan Han si-kong tak bisa berbuat banyak karena jalan darah penting di tubuh mereka sudah ditusuk jarum emas. Dalam keadaan seperti itu mereka hanya bisa pasrah.

Tampaknya Han si-kong tidak tahan berdiam diri dalam kesepian, selang berapa saat kemudian kembali ia berteriak: "Hei, bocah busuk. Kalian hendak membawa kami ke mana?"

seseorang tertawa dingin sambil menyahut "He he he... lebih baik jangan banyak bacot, sampai waktunya kau bakal tahu sendiri."

Lim Han-kim serta Han si-kong masih mengenakan kain kerudung hitam di wajahnya sehingga mereka tak dapat melihat bagaimana bentuk wajah orang itu, namun suara pembicaraan dapat diikuti dengan jelas.

Dengan marah Han si-kong berseru: "Jika kau tak ingin aku berteriak dan ribut terus, lebih baik jawab semua pertanyaanku secara baik-baik.Jika kau ingin berlagak bisu tuli. Hmmm jangan salahkan kalau aku

akan memaki delapan keturunanmu berikut nenek moyangmu."

Tampaknya ancaman itu sangat manjur, seseorang segera menjawab dengan ketus: "Kami hanya akan mengantar kalian ke tepi sungai, Di situ ada orang lain yang akan menggantikan kami, soal kalian mau dibawa kemana, setelah sampai diperahu nanti tanyakan saja kepada mereka."

"Ha ha ha aku percaya kalian tak bakal berani

membohongi aku,Baik Jika sampai kami tidak dinaikkan perahu, hati-hati kalau kereta mu itu akan kuhajar sampai remuk."

sebagai seorang jago persilatan yang punya nama besar dan selalu dihormati orang, Han si-kong merasa mendongkol sekali karena mesti menuruti perintah orang, karena itu semua rasa dongkolnya ia coba salurkan keluar lewat umpatan-umpatannya, padahal beberapa buah jalan darah penting ditubuhnya telah tertotok, jangan lagi meremuk kereta tersebut, bergerak sedikitpun sudah tak mampu. Entah berapa saat sudah lewat.

Kereta kuda yang sedang berlari kencang itu tiba-tiba berhenti, sipengawal ikut melompat turun dari kereta.

Dari kejauhan sana kemudian terdengar suatu pembicaraan suara tersebut sangat lirih dan lembut sehingga walaupun mereka berdua memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasapun susah untuk menangkap dengan jelas.

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang riuh. Agaknya ada sejumlah orang berjalan menghampiri kereta itu. Lim Han-kim merasa ada sebuah tangan yang mencengkeram tubuhnya dan mengangkat badannya secara paksa, sebenarnya dia ingin melawan, namun jalan darah penting nya tertotok. sehingga pemuda itu tak mampu mengumbar keinginannya.

Dalam keadaan begini dia cuma bisa mendengus dengan perasaan sangat mendongkol, sementara itu terdengar pula Han si- kong mengumpat dengan penuh amarah: "Kau anggap aku tak punya kaki dan tak bisa jalan sendiri? siapa suruh kalian meng-gendongku?"

Keberangasan monyet tua itu membuat Lim Han-kim diam-diam berpikir lagi di hati: "sudah dipenjarakan selama dua tahunpun sifatnya masih berangasan, apalagi sebelum dipenjarakan dulu, orang ini pasti kasar berangasan dan suka naik darah, mungkinsaja sedikit- sedikit sudah berkelahi dengan orang lain. "

Kedengaran suara makian Han si- kong ma kin lama semakin mengecil dan ma kin tak jelas lagi.

Lim Han-kim makin keheranan, sekali lagi dia berpikir "Aneh sekali, sudah jelas dia masih mengumpat tiada hentinya, kenapa suaranya tiba-tiba lenyap?"

Sementara masih berpikir, tiba-tiba tubuhnya terasa diangkat orang dan dimasukkan ke dalam sebuah peti kayu, tiga penjuru berupa papan tebal sehingga membuat badannya sama sekali tak dapat bergerak.

Kejadian ini sangat mengejutkan hati-nya, ia segera membatin: "Bukankah aku dimasukkan ke dalam peti mati? Mungkin-kah mereka akan menguburku hidup, hidup?"

sepasang matanya memang tak bisa melihat benda, tapi berdasarkan perasaan dia yakin tubuhnya telah dimasukkan ke dalam sebuah peti mati, Disusul kemudian ia mendengarpeti kayu itu dipaku orang dari luar dan napasnya mengendus bau yang aneh, agaknya penutup peti mati telah dirapatkan orang, Tak lama kemudian peti itu digotong orang dan bergerak entah menuju ke mana. "Habis sudah... habis sudah riwayatku." pikir Lim Han- kim. "Tak disangka aku, Lim Han-kim, harus mati dikubur orang dalam perjalanan awalku di dunia persilatan padahal ibuku masih menanti kedatanganku kembali.

Adik Liong juga masih menungguku di kuil awan hijau."

Makin dipikir makin sedih hatinya dan perasaannya makin kalut, tapi dia tak ingin banyak bicara, Meskipun mati hidup sudah diujung tanduk. Ia tetap segan untuk bersuara. Entah berapa waktu sudah lewat, tiba-tiba ia merasa penutup peti mati itu dibuka orang lalu terdengar seseorang berseru: "Terima kasih"

sepotong kueh Mantau dilemparkan masuk. sebenarnya Lim Han-kim bermaksud puasa, tapi

setelah teringat bahwa dalam situasi dan keadaan seperti ini dia butuh menjaga kondisi badannya sebelum berusaha mencabut jarum emas dari jalan darah pentingnya dan melakukan pertarungan terakhir, dengan cepat kueh mantau tersebut dilahapnya sampai habis. 

suara ombak mulai terdengar membelah angkasa, ternyata mereka benar-benar berada di atas perahu dan rupanya perahu itu sedang berlayar, Belum habis ingatan melintas lewat, peti mati itu sudah ditutup kembali rapat- rapat. Lim Han-kim menghela napas panjang, ia tak banyak pikir lagi dan segera menelan habis kueh yang dijejalkan ke mulutnya itu.

Perjalanan ini betul-betul sUatu perjalanan yang sangat tenang tapi menyeramkan. Dari situasi saat ini, Lim Han-kim tahu bahwa dia tidak memiliki kemampuan untuk melawan bencana yang bakal datang. ia terpaksa harus bersikap pasrah sementara waktu.

Lambat laun Lim Han-kim mulai dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan semacam ini. Pemikiran yang panjang membuat pikiran dan tubuhnya jadi amat lelah, tanpa terasa dia pun terlelap tidur

Dia tak tahu saat itu siang atau malam, dia juga tak tahu berapa waktu sudah lewat, ia hanya merasa seakan-akan semua penghidupan di dunia ini telah pergi meninggalkan nya.

Mendadak tubuh perahu mengalami goncangan yang sangat keras, tubuh Lim Han-kim ikut bergoncang cula mengikuti gerak gelombang air sungai, Menyusul getaran demi getaran yang datang bergelombang, tiba-tiba saja anak muda itu merasakan lengan kanannya dapat bergerak bebas lagi.

Ternyata goncangan tubuh perahu akibat amukan gelombang air itu menyebabkan jarum emas yang menancap dijalan darah Ci-ti-hiat disiku kanannya tersangkut pada rantai hingga tercabut lepas.

Menghadapi kejadian semacam ini, Lim Han-kim bagaikan menemukan setitik jalan kehidupan di tengah pengaruh kematian-secepat kilat Lim Han-kim bekerja mencabuti semua jarum emas yang menancap dijalan darah pentingnya. Tapi sayang ia tak berhasil melepaskan borgol dan rantai dl-tubuhnya, selain itu dia pun mengerti bahwa mencoba mematahkan borgol sama artinya dengan membuang tenaga per-cuma.

Diam-diam dia ambil keputusan, meskipun tangan masih diborgol namun dia tak mau menurut perintah orang. Bila ada kesempatan dia ingin turun tangan beradu nasib.

suara bentrokan senjata tajam bergema makin nyaring, satu ingatan segera melintas dalam benak Lim Han-kim, cepat-cepat dia mendorong penutup peti mati itu.

Ketika penutup peti mati terbuka, angin sungai yang kencang segera menerpa lewat, suara bentrokan senjata pun kedengaran makin jelas, Ternyata di atas perahu benar-benar sedang berlangsung suatu pertempuran sengit. Pelan-pelan Lim Han-kim menurunkan penutup peti mati itu, ia sedang pertimbangkan haruskah keluar dari peti mati itu ataU tidak? Mendadak terdengar suara benturan yang sangat keras, tampaknya ada seseorang melompat naik ke atas peti mati itu. Disusul kemudian suara benturan nyaring kedua bergema, Ada sesuatu yang meng-gempur peti matinya keras- keras.

Rasa ingin tahu menyelimuti benak Lim Han-kim, sekali lagi dia membuka penutup peti mati itu sambil mengintip keluar, Tampak seorang lelaki berbaju hitam dengan memainkan sebilah golok besar sedang bertarung melawan seseorang. Lawannya berada di samping peti mati hingga tidak terlihat wajah nya, namun ia memakai senjata kaitan.

Bayangan kaitan cahaya golok saling menyambar membentuk lapisan yang tebal, pertempuran itu berlangsung amat sengit, permainan golok lelaki berbaju hitam itu kelihatan bukan tandingan permainan senjata kaitan lawannya, ia nampak keteter hebat dan cuma mampu menangkis melindungi diri, badannya terdesak mundur berulang kali.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras bergema memecahkan keheningan, kembali seorang lelaki berbaju serba hitam menerjang masuk ke dalam arena pertempuran. Gerak tubuh orang itu sangat Cepat bagaikan sambaran kilat. Belum lagi badannya berdiri tegap. golok di tangannya sudah diayunkan ke depan melepaskan sebuah babatan. "Traaang " Di tengah benturan nyaring, senjata kaitan tersebut berhasil digetarkan hingga mencelat ke samping, waktu itu, sebenarnya lelaki berbaju hitam yang pertama tadi sudah hampir menderita kekalahan Melihat datang nya bala bantuan, semangatnya segera berkobar kembali sepasang golok menyerang berbarengan waktu mereka balas mendesak musuhnya.

Tampak permainan senjata kaitan itu menyusut mundur ke belakang, jelas ia sudah terdesak oleh kerja sama sepasang golok itu hingga posisinya terdesak dan mesti mundur beberapa langkah.

Untuk beberapa saat Lim Han-kim tak dapat membedakan mana pihak Hian- hong- kau dan pihak mana sipenyerang, bahkan dia pun tak sempat melihat secara jelas manusia macam apakah penyerang bersenjata kaitan itu.

Di tengah benturan senjata yang amat nyaring, mendadak terdengar jeritan ngeri yang menyayat hati bergema membelah angkasa, Pelan-pelan Lim Han-kim menutup kembali penutup peti mati itu, sambil menghela napas pikirnya:

"Entah siapa yang terluka parah..?" Tapi ingatan lain dengan cepat muncul di dalam benaknya, Lamat- lamat dia bisa merasakan bahwa sipenyerang bersenjata kaitan itulah yang sudah tergeletak tewas di atas lantai geladak. sesudah berlangsungnya pertarungan sengit tadi, suasana pulih kembali dalam keheningan yang luar biasa,jalan perahu juga pulih dalam kestabilan semula.

Namun pikiran dan perasaan Lim Han-kim justru bergolak hebat seperti amukan ombak samudra, Dia merasa tidak seharusnya menyerah begitu saja menunggu kematian dan membiarkan musuh menentukan nasibnya.

Kini jarum emas yang menusuk jalan darah nya telah bebas, kain kerudung penutup muka juga sudah dilepas, sekalipun tangannya masih diborgol dan badannya masih dirantai, namun bukan berarti ia tak mampu memberikan perlawanan yang setimpal

Tapi ingatan lain kembali melintas, dia tahu perahu tersebut saat ini sedang berlayar di tengah sungai, padahal ia tak mampu mendayung perahu untuk pergi ke daratan.

Menghadapi gulungan ombak dan derasnya arus sungai, dia merasakan suatu perasaan ngeri di hati kecilnya. Dia tak mengerti kenapa setiap kali melihat arus sungai, perasaan ngeri dan bergidik selalu muncul menghantui perasaannya, Lim Han-kim berusaha mencari sumber sebab itu, kenapa ia bisa menaruh rasa begitu ngeri terhadap .. air. Sementara pikirannya masih melayang kian kemari, tiba-tiba perahu itu berhenti berlayar, sesaat kemudian ia merasa peti mati itu seakan-akan digotong orang.

Buru-buru anak muda itu berhenti melamun dan menghimpun tenaga dalamnya, Bersiap sedia bila sewaktu- waktu ada orang yang membuka penutup peti pula. Dia akan pergunakan kecepatan yang paling tinggi untuk melepaskan sebuah serangan dahsyat.

siapa tahu apa yang kemudian berlangsung sama sekali di luar dugaannya, Biarpun sudah ditunggu cukup lama, tak seorang manusia pun yang membuka penutup peti mati itu. Tapi ia bisa merasakan bahwa peti mati tersebut sudah meninggalkan perahu dan menempuh perjalanan dengan digotong orang.

Lebih kurang belasan li kemudian tiba-tiba peti mati itu diturunkan ke tanah, setelah beristirahat sebentar, perjalanan kembali dilanjutkan perjalanan kali ini lebih singkat, belum berapa lama peti mati itu kembali diletakkan ke tanah.

Dengan sabar Lim Han-kim menanti, dia beranggapan cepat atau lambat pada akhirnya pasti ada orang yang akan membuka penutup peti mati itu. Tapi sayang sekali lagi ia dibuat kecewa, setelah peti mati diturunkan kali ini, dipenggotong peti tersebut ternyata pergi meninggalkan benda tersebut Bahkan tak ada orang yang membuka penutup peti mati itu untuk diperiksa isinya.

Akhirnya habis sudah kesabaran Lim Han-kim. Cepat dia ayunkan tangan kanannya membuka penutup peti mati itu dan bangun terduduk. sejauh mata memandang hanya kegelapan yang menguasai jagad, rupanya malam sudah tiba.

saat ini mereka berada di sebuah rumah kosong yang terbuat dari batu bata. Luasnya tidak seberapa, tiga buah peti mati berjajar di tengah ruangan pelan-pelan Lim Han-kim mendorong penutup peti mati itu sambil melompat keluar, Ke-tika melongok keluar, ia saksikan bintang bertaburan di langit, Ternyata malam itu tak berbulan sama sekali, tertutup awan gelap.

jendela di ruangan dalam keadaan ter-buka, agaknya sama sekali tanpa penjagaan Lim Han-kim segera maju beberapa langkah dan menarik pintu ruangan Ternyata pintu itu tidak terkunci, sekali tarik segera terbuka lebar.

Baru saja anak muda itu hendak melangkah keluar, mendadak ia teringat kembali akan Han si- kong, pikirnya: "Walaupun sifat orang ini rada aneh dan kasar. Bagaima-napun jiwanya besar dan gagah perkasa, aku tak boleh membiarkan dia tersiksa terus di tempat ini. "

Berpikir sampai di situ, ia pun berjalan balik dan membuka peti mati yang ada di tengah, Ternyata isi peti mati itu adalah seorang gadis berkerudung kain hitam Be-berapa batang jarum emas menancap dijalan darah penting nya, ia berbaring terlentang di situ tanpa bergerak. Mungkin untuk mencegah gadis itu berisik, maka mulutnya disumbat dengan kain putih.

Biarpun Lim Han-kim memiliki ketajaman mata yang melebihi orang lain, akan tetapi dalam kegelapan malam yang amat pekat ditambah lagi wajah gadis itu ditutup dengan kain hitam, sulit baginya untuk mengenali siapa gerangan perempuan itu,

sesudah berpikir sebentar ia tutup kembali peti mati itu dan ganti membuka peti mati yang ada disebelah kiri, isipeti mati ini benar-benar adalah Han si- kong. Ben-tuk wajah dan perawakan tubuhnya dapat dikenali dalam sekali pandang saja.

Melihat mulut orang inipun disumbat dengan sapu tangan putih, tanpa terasa Lim Han-kim tertawa geli, pikirnya: "Maka nya aku tidak mendengar suara umpatannya lagi, ternyata mulutnya sudah disumbat orang."

sebetulnya dia bermaksud mengambil sumbatan itu, tapi satu ingatan segera ber-lintas lewat, pikirnya:

" orang ini amat suka mengumpat, kalau kain penyumbat mulutnya kuambil dulu, ia pasti akan mulai mencaci maki lagi untuk melampiaskan rasa dongkolnya, Waaah. kalau sampai berisik, perbuatanku tentu akan ketahuan musuh. Ehmmm

Lebih baik kulepaskan kain penutup mata nya lebih dulu sebelum bertindak lebih jauh. "

Borgol di tangannya sama sekali tidak mengganggu gerak-gerik jari tangannya, Dengan cepat kain hitam penutup mata monyet tua itu sudah dilepaskan.

Dengan sepasang mata nya yang besar Han si- kong mengawasi wajah Lim Han-kim tiada hentinya, tapi berhubung mulutnya tak mampu bersuara dan tubuhnya tak mampu bergerak, hanya sepasang biji mata nya yang tetap bebas berkeliaran.

"Locianpwee, jangan mengumpat dulu," bisik Lim Han- kim sambil mengambil kain penyumbat mulutnya.