-->

Pedang Keadilan I Bab 07 : Menyatroni Loteng Hui-jui-lo

 
Bab 07. Menyatroni Loteng Hui-jui-lo

Thio Tay-kong menyarungkan kembali goloknya. sambil balikkan badan meninggalkan tempat itu, katanya lagi: "Bila berjumpa dengan sepasang Ular Dari Lautan Timur nanti, pasti akan kusampaikan keadaan yang sebenarnya kepada mereka."

Beberapa orang itu datang dengan garang, kini mereka harus pergi dengan loyo dan membawa kekalahan besar, keadaannya sungguh mengenaskan.

"Berhenti. " Tiba-tiba Yu siau-liong membentak

keras, sambil mengayunkan pedangnya, ia mengejar.

"Biarkan mereka pergi" cegah Ci Mia-cu sambil mengebaskan senjata kebutannya.

Dengan gemas Yu siau-liong melototi Ci Mia-cu sekejap, kemudian baru menyarungkan kembali pedangnya, jelas ia merasa tak puas terhadap imam tersebut karena membiarkan musuhnya pergi dengan begitu saja.

Ci Mia-cu tersenyum, sorot matanya dialihkan sekejap ke wajah Yu siau-liong dan gadis berbaju hijau itu , lalu katanya: "Kalian berdua masih begitu muda, ternyata memiliki ilmu pedang yang luar biasa sempurnanya, Aku percaya di kemudian hari kalian pasti akan menjadi sepasang pendekar pedang kenamaan."

Yu siau-liong sedikit pun tidak gembira atas pujian ci Mia-cu, katanya sambil menggelengkan kepalanya: "Melepaskan mereka pergi dari sini, sama artinya membiarkan mereka jadi penunjuk jalan buat sepasang Ular Dari Lautan Timur Hmmmm Bagus Bagus

sekali. "

Lim Han- kim mengerti, adik seperguruannya ini walaupun masih kecil namun mempunyai sifat tinggi hati, kecuali dia dan gurunya, perkataan siapa pun tak pernah digubrisnya, Takut bocah itu salah bicara sehingga bentrok sendiri dengan ci Mi-cu, buru-buru bentaknya: "Adik Liong, jangan bicara sembarangan-"

Yu siau-liong sendiri meskipun sangat nakal dan keras kepala, ia menaruh sikap yang amat hormat dan penurut terhadap Lim Han- kim. Mendengar bentakan itu dia pun tak berani membantah lagi, mulutnya ditutup rapat- rapat. Li Bun-yang tertawa kepada CiMia- cu katanya: "Bukan maksudku membantu saudara Yu ini, tapi aku sependapat dengannya. Terlalu enak membiarkan mereka pergi dengan begitu saja."

Ci Mia-cu tertawa hambar. "saat ini ciu tayhiap sudah waktunya untuk siuman, Aku harus secepatnya masuk ke ruangan untuk mendampinginya. Bayangkan, mana mungkin aku bisa bertarung melawan mereka " setelah

berhenti sejenak, terusnya lagi dengan suara lirih:

"saat ini, sukar bagi kita untuk menduga apakah ada obat mujarab yang bisa dipakai untuk menolong ciu tayhiap. Andaikata sampai terjadi pertempuran kita bisa kerepotan "

"Padahal asal totiang tidak menghalangi niat kami sudah lebih dari cukup, toh kami tak menyuruh totiang turun tangan sendiri"

"Sudahlah. bagaimana kalau saudara sekalian

beristirahat sejenak dalam ruangan? Aku harus pergi menengok keadaan luka yang diderita Ciu tayhiap "

Li Bun-yang tertawa dan manggut-manggut Dengan mengajak gadis berbaju hijau itu ia sebera berlalu dari sana.

"Locianpwee, perlukah aku turut serta?" tanya Lim Han- kim lirih.

"Setelah sadar dari tidurnya kali ini, aku tidak punya keyakinan untuk tetap mempertahankan kehidupan ciu tayhiap. Lebih baik Lim kongcu ikut bersamaku. "

Yu siau-liong biar kecil orangnya tapi sangat berpengalaman, sekalipun ia tidak mendengar ci Mia-cu menyinggung tentang dirinya, tapi agaknya ia tahu kalau dirinya tak boleh ikut serta. Tiba-tiba saja dia pergi menyusul Li Bun-yang serta gadis berbaju hijau itu menuju ke bilik sebelah Barat. sekali lagi Ci Mia-cu dan Lim Han- kim memasuki gedung utama, menelusuri lorong bawah tanah dan masuk ke ruang rahasia.

saat itu, lelaki yang penuh pembabat itu sudah membalikkan badannya, dengan sepasang maTayang melotot besar ia awasi kedua orang itu dengan termangu- mangu.

Bukan cuma sekujur badannya, bahkan kepalanya pun penuh dengan kain pembalut. Kecuali hidung, mulut dan sepasang matanya, hampir seluruh bagian tubuhnya yang lain dipenuhi oleh kain putih.

saat ini, biarpun dia mementangkan matanya besar- besar tapi sinar matanya telah memudar, Beberapa helai rambut berwarna putih nampak mencuat dari balik kain putih, ci Mia-cu menghela napas sedih, Pelan-pelan dihampirinya orang itu, lalu bisiknya: "Tenaga saudara Ciu belum pulih kembali, lebih baik jangan banyak berbicara"

Menggunakan kesempatan ini Lim Han- kim maju menghampirinya, sambil menjura dalam-dalam katanya: "Aku yang muda Lim Han- kim menjumpai Ciu locianpwee." Kakek itu mengerdipkan matanya beberapa kali, lalu dengan suaranya yang lemah dan sangat lirih bisiknya: "Aku sudah tak sanggup menahan diri lagi. Lebih baik to- tiang tak usah membuang waktu dan tenaga dengan percuma "

Ci Mia-cu tersenyum. "ciu tayhiap. kau tak usah risau atau cemas. Beristirahatlah dengan tenang, Aku telah menyiapkan beberapa macam obat mujarab untuk mengobati luka saudara Ciu. percayalah dalam tiga sampai lima hari lagi obat itu sudah sampai di sini. "

"Aku mengerti tubuh bagian luar maupun dalamku telah menderita luka parah yang mematikan Kau tak usah membuang tenaga dan pikiran lagi dengan percuma.^.."

"Saudara Ciu, kau mesti percaya dengan ilmu pengobatanku. "

Pelan-pelan Ciu Huang pejamkan matanya kembali, lalu tanyanya: "Siapakah bocah itu?"

Ci Mia-cu tidak langsung menjawab, ia berpikir sebentar kemudian baru sahutnya: "Seorang angkatan muda dari dunia persilatan ia juga putra seorang sahabatku Nah, saudara Ciu, kau jangan banyak bicara lagi." Ciu Huang benar-benar tidak berbicara lagi, napasnya yang pelan tapi agak tersendat kedengaran jelas dalam pendengaran kedua orang itu. Pelan-pelan Ci Mi cu menarik tangan Lim Han- kim lalu mengundurkan diri dari ruang rahasia, dengan cepat mereka menuju ke bilik sebelah Barat.

Dengan langkah lebar Li Bun-yang menyongsong kedatangan mereka, kepada Lim Han- kim segera tanyanya: "Saudara Lim, kau telah berjumpa dengan ciu tayhiap?"

"Ya a a, aku telah bertemu dengannya." "Bagaimana keadaan lukanya?^

Sebelum Lim Han- kim sempat menjawab, mendadak Ci Mia-cu telah mengalihkan pembicaraan ke soal lain: "Saudara Li, adikmu butuh berapa hari lagi untuk sampai di sini?"

Dengan pengalaman Li Bun-yang yang begitu luas, ia segera menyadari bahwa keadaan luka Ciu Huang telah mengalami perubahan dratis, maka jawab nya setelah berpikir sebentar: "Bila adikku masih ada di rumah, dengan kecepatan larinya paling cepat dalam tiga hari, paling lambat lima hari sudah pasti tiba di Kuil Awan Hijau."

"Aaaaaii kalau begitu mungkin sudah terlambat." "Mengapa?" tanya Li Bun-yang cemas, "Apakah keadaan lukanya sudah terjadi perubahan?"

"semenjak memperoleh pengobatan dariku dan merawat lukanya dalam ruang rahasia, kesadarannya belum pernah sejernih hari ini. Aku kuatir keadaan lukanya akan berubah. "

Mendadak terdengar suara seseorang yang parau dan serak berkumandang datangi "Hey kau si hidung kerbau kecil, pentang matamu lebar-lebar. coba lihat apakah dalam kuilmu yang bobrok di tengah hutan belukar begini terdapat barang berharga yang patut kucuri. h

emmm jangan menuduh aku yang bukan-bukan-.."

Begitu mendengar suara itu, Yu siau-liong segera melejit ke udara, Bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia melompat keluar dari ruangan. Melihat Yu siau-liong sudah melompat keluar, gadis berbaju hijau itu kuatir dia akan ketinggalan. Dengan kecepatan yang tak kalah hebatnya segera menerobos keluar juga dari ruangan.

"siapa sih orang itu? serak amat suaranya " bisik Ci Mia-cu dengan kening berkerut. Dengan langkah lebar ia berjalan pula meninggalkan ruangan-

"Ya a a, suara ini sangat kukenal" kata Li Bun-yang pula, "Biar aku turut menengok" Di tengah pembicaraan, tubuhnya telah melesat pula keluar, Tidak nampak bagaimana pemuda itu menggerakkan tubuhnya, tahu- tahu ia sudah menyelinap keluar dengan gerakan cepat bagaikan sambaran kilat Dalam waktu singkat ia sudah melampaui di depan ketua Kuil Awan Hijau ini.

"Locianpwee, tunggu sebentar" mendadak Lim Han- kim berseru:

Baru saja Ci Mia-cu hendak melangkah ke luar, ia segera menghentikan langkahnya sambil beraling,

"Ada apa."

"Adik seperguruanku itu nakalnya bukan kepalang, Harap totiang menjaganya baik-baik, jika ia menanyakan tentang aku, katakan saja aku berada di ruangan rahasia sedang melayani ciu locianpwee."

" Lantas kau hendak ke mana?" tanya ci Mia-cu agak tertegun-

Lim Han- kim tertawa getir, "Aku hendak mengejar obat mustikaku yang tercuri itu."

Kemudian tanpa menunggu jawaban dari Ci Mia-cu, ia melejit ke udara dan sudah melesatpergi dari sana,

"Eeei, jangan gegabah.,." teriak Ci Mia-cu dengan gelisah, cepat-cepat ia menyusul ke luar jendela. Kedua orang itu hanya selisih waktu sekejap saja, namun ketika Ci Mia-cu sampai di luar jendela, ia hanya menyaksikan setitik bayangan putih berkelebat menjauh, dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan- Untuk beberapa saat lamanya imam tua ini hanya bisa berdiri di atas atap sambil termangu- mangu, gumamnya tanpa sadar: "Hobat benar ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pemuda ini, Aaai. inilah yang dinamakan ombak

belakang sungai Tiangkang selalu mendorong ombak di depan-nya, sudah waktunya generasi tua diganti oleh generasi muda "

Dalampada itu, suara teriakan parau tadi kembali kedengaran bergema di udara:

"Apakah ketua Kuil Awan Hijau ada?"

Ci Mia-cu segera tersentak sadar, cepat-cepat dia melompat turun, menutup kembali jendela belakang dan siap melangkah keluar.

Terdengar suara langkah kaki manusia berjalan mendekat, lalu terdengar suara Li Bun-yang yang sedang berteriak: "Eeei, ada urusan apa kau si pencuri tua datang ke Kuil Awah Hijau ini. ?"

ci Mia-cu segera melongok ke luar ia saksikan seorang kakek pendek berperawakan ceking yang berusia lima puluh tahunan, memelihara jenggot kambing di janggutnya dan berwajah letih penuh debu sedang berjalan mendekat diiringi Li Bun-yang di sisinya. Yu siau-liong dan gadis berbaju hijau itu mengikuti di belakang mereka berdua. Begitu masuk ke dalam ruangan, tanpa menunggu Li Bun-yang memperkenalkan Kuil Awan Hijau, kakek ceking pendek itu sudah menjura

sambil bertanya: "Apakah totiang adalah ketua Kuil Awah Hijau?"

"Aku adalah Ci Mia-cu, boleh kutahu siapa anda?"

Kakek ceking pendek itu tersenyum. "Namaku kurang sedap didengar orang memanggilku si pencuri Tua Nyoo Cing-hong"

"Ehmmm, sudah lama kukagumi. nama besar anda."

Nyoo Cing-hong dengan sinar matanya yang tajam memperhatikan sekejap sekeliling ruangan, kemudian ujarnya lagi:

" Kalau tak ada urusan penting, tak mungkin aku berkunjung ke mari Boleh kutanya koancu, apakah Ciu Huang beristirahat di Kuil Awan Hijau ini?"

"Ada urusan apa Nyoo tayhiap bertanya tentang hal ini?" tanya Ci Mia-cu dengan kening berkerut.

"Menurut kabar yang kudengar, katanya Ciu tayhiap telah dibokong musuhnya sehingga menderita luka parah. Boleh kutahu berita ini benar-benar telah terjadi atau hanya isapan jempol saja?" pertanyaan yang diajukan secara langsung dan blak- blakan ini sama sekali di luar dugaan siapa pun- Untuk berapa saat lamanya Ci Mia-cu dibuat gelagapan, ia tak tahu apa yang mesti diperbuatnya,

oleh sebab itu dia hanya termenung saja tanpa menjawab. Melihat hal mana, Li Bun-yang segera menyela:

"Ada apa? Eeei si pencuri tua? Apakah kau pun sudah menjadi kuku garudanya Sepasang Ular Dari Lautan Timur?"

Ucapan mana langsung membuat Nyoo cing-hong tertegun, teriaknya agak penasaran "Biarpun julukan aku si pencuri tua kurang sedap didengar, tapi aku percaya diriku masih punya harga diri. Li kongcu, tidakkah kau merasa bahwa pertanyaanmu itu kelewat menghina aku si pencuri tua?"

"Lantas dari mana kau mendapat tahu berita tentang ciu tayhiap?"

Tiba-tiba Nyoo cing-hong angkat kepalanya dan tertawa terbahak-bahak: "Hahaha... tempo hari aku si pencuri tua pernah hutang nyawa dengannya, karena itu aku khusus datang ke mari untuk menjenguknya, sekalian menghantar sebotol obat mujarab..." Setelah berhenti sejenak, terusnya lagi dengan suara sedih: "Andaikata ciu tayhiap sudah meninggal, berilah kesempatan kepada aku si pencuri tua untuk menyambangi pusaranya, anggaplah sebagai rasa terima kasih atas budi pertolongan nya tempo hari. "

"Luka yang diderita ciu tayhiap sangat parah, aku rasa obat mujarab pada umumnya tak mungkin bisa menyembuhkan luka tersebut"

"Kalau obat itu cuma obat biasa, biar muka aku si pencuri tua lebih tebal pun tak nanti aku akan ke Kuil Awan Hijau ini untuk mencari malu."

" Lantas obat mujarab apakah itu? BoIeh-kah aku menengok dan memeriksanya lebih dulu?"

Dari dalam sakunya Nyoo Cing-hong mengeluarkan sebuah botol porselen, sambil disodorkan katanya:

"Kalau aku si pencuri tua tidak salah lihat, seharusnya obat itu adalah pil jinsom seribu tahun buatan si dewa jinsom Phang Thian-hua." Yu siau-liong segera mengalihkan pandangannya ke arah botol porselen itu, tapi ia segera menjerit kaget: "Haaah.,. itu betul pil jinsom seribu tahun milik keluarga kami."

Tiba-tiba ia teringat akan Lim Han-kim. Dengan matanya yang besar ia coba perhatikan sekeliling tempat itu, tapi kemudian dengan wajah penuh kegusaran, teriaknya: "Koancu, di mana toako ku?"

"Dia ada sedikit urusan, sebentar lagi akan balik kemari."

sambil berkata demikian ci Mia-cu menerima botol itu, membuka penutupnya dan kontan seluruh ruangan tercium bau harum semerbak yang amat menyegarkan hati.

"Ehmmm... betul. Betul sekali" serunya sambil manggut-manggut. "obat mustika ini benar-benar obat paling mujarab dalam dunia persilatan dewasa ini. obat ini tak lain adalah pil jinsom seribu tahun, hasiljerih payah si dewa jinsom Phang Thian-hua."

sambil menjura Nyoo cing-hong segera berpesan: "Apabila luka yang diderita ciu tayhiap telah sembuh, tolong sampaikan salamku si pencuri tua untuknya, Nah, aku mohon diri lebih dulu."

selesai berkata, dia membalikkan badan dan berlalu dengan langkah lebar, Buru-buru Ci Mia-cu berteriak: "Nyoo tayhiap. harap tunggu sebentar Ada urusan yang ingin kutanyakan kepadamu."

"Ada urusan apa, koancu?" tanya Nyoo Cing-hong sambil menghentikan langkahnya. walaupun ia mempunyai julukan yang kurang enak didengar, si pencuri tua, akan tetapi tindak-tanduk maupun cara pembicaraannya sangat terbuka, gagah dan memakai aturan,

setelah menghela napas panjang, ci Mia-cu berkata: "Aaaai... Ciu tayhiap memang berada di kuil awan hijau kami Berkat bantuan obat jinsom berusia seribu tahun ini, selembar nyawa Ciu tayhiap boleh dibilang telah berhasil kita selamatkan dari ambang alam baka, Untuk bantuan ini, biar aku wakili saudara Ciu mengucapkan banyak terima kasih kepadamu."

sambil berkata, dia rangkap tangannya di depan dada dan memberi hormat dalam-dalam. Nyoo cing-hong tertawa tergelak.

"Ha ha ha ha... aku si pencuri tua sudah berhutang budi pertolongan dari ciu tayhiap Jadi sudah sepantasnya bila kubalas budi kebaikan tersebut Aku rasa, aku tak boleh mengganggu ketenangan koancu lagi Maaf, aku ingin mohon diri lebih dulu." Begitu selesai bicara, dia putar badan dan buru-buru meninggalkan ruangan tersebut.

Mengawasi bayangan punggung Nyoo Cing-hong yang menjauh, tanpa terasa Ci Mia-cu menghela napas panjang, pujinya: "Meskipun orang ini terkenal lantaran ilmu mencurinya, namun sifatnya yang gagah perkasa sungguh mengagumkan"

Pada saat itulah Li Bun-yang baru merasa lenyapnya Lim Han-kim. Dengan kening berkerut ia segera bertanya: "Ke mana perginya saudara Lim?"

Ci Mia-cu tidak terbiasa bicara bohong. Didesak oleh Li Bun-yang, imam tua ini kontan saja gelagapan sehingga untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun- Berapa saat kemudian baru ia hentakkan kakinya ke tanah dengan gemas sambil berkata: "Aaaai.,. seandainya dia mau menunggu sesaat saja, kepergiannya kali ini tak bakal sia-sia "

"Jadi... dia ke mana ia pergi?" teriak Li Bun-yang

kaget

"Setelah mengetahui luka yang diderita Ciu tayhiap amat parah dan cuma pil jinsom berusia seribu tahun yang dapat menyembuhkan ia jadi amat menyesal.

Sekarang mungkin dia sedang berusaha untuk menemukan kembali obatnya yang tercuri itu."

"Dunia begini luas, ke mana dia pergi untuk mencarinya?"

"Aaaai. Yang di luar dugaan obat tersebut justru

telah terjatuh kembali ke tangan kita.,." "Aduuh, celaka" Tiba-tiba Li Bun-yang menjerit kaget.

Si nona berbaju hijau yang selama ini hanya membungkam segera menyela dengan keheranan: "Toako, apanya yang celaka?"

"Biarpun Lim Han-kim kelihatan lemah lembut, sesungguhnya dia mempunyai hati yang keras. Biar wajahnya dingin dan kaku, hatinya lembut dan welas kasih, Betul ilmu silat yang dimilikinya sangat tangguh tapi belum cukup berpengalaman untuk menghadapi kelicikan dunia persilatan, apalagi..."

"Tampaknya Ci Mia-cu pun telah memahami maksud ucapan Li Bun-yang yang belum selesai itu, tanpa terasa ia berseru pula: "Apakah Li kongcu takut dia pergi mencari si dewa jinsom Phang Thian-hua seorang diri?"

"Benar pil mustika yang telah hilang ibarat batu yang tercebur ke dalam samudra luas. Bagaimana mungkin ia bisa menemukannya tanpa memperoleh tanda atau petunjuk apa pun? jadi kurasa ia pasti teringat dengan si pembuat obat, mustika tersebut Aku yakin dia pasti sedang berusaha menemukan Phang Thian-hua."

"Waaah... kalau benar-benar demikian, jiwanya terancam bahaya besar.,." keluh Ci Mia-cu dengan kening makin berkerut dan wajah semakin gelisah. Li Bun-yang menghela napas panjang. "Aaaai... Phang Thian-hua termasuk seorang jago silat yang berwatak aneh, ia suka menyendiri dan belum pernah punya hubungan dengan dunia persilatan, mungkin ibuku pun tidak kenal dengannya."

"Menurut apa yang kuketahui tokoh silat yang mempunyai hubungan paling akrab dengan si dewa jinsom Phang Thian-hua hanya satu orang, yakni si kakek sepuluh penjuru siang Lam-ciau..."

" Kakek sepuluh penjuru siang Lam-ciau, siang locianpwee? Aku kenal dengan orang tua ini. Hanya saja dia suka mengembara, jejaknya seperti burung bangau yang terbang di angkasa. Dalam waktu demikian singkat ke mana aku harus pergi mencari-nya?"

Tiba-tiba terdengar si nona berbaju hijau menjerit kaget: "Haaaah, ke mana perginya si setan cilik itu?"

Li Bun-yang maupun ci Mia-cu sama-sama tertegun dan segera berpaling, Betul juga, Yu siau-liong telah lenyap dari situ.

"Aaai... sungguh menjengkelkan" seru Li Bun-yang sambil menghentakkan kakinya dengan gemas. " Kenapa aku lupa memperhatikannya?"

" Lebih baik kita segera mengejarnya" usul si nona cepat. "llmu meringankan tubuh yang dimiliki orang ini cukup tangguh. Aku rasa pada saat ini dia sudah berada berapa li dari sini, mau dikejar pun rasanya sukar untuk di- susul."

"Aaaai... inilah yang dinamakan sudah salah bertambah salah," keluh Ci Mia-cu. "se-lama hidup belum pernah aku melakukan perbuatan sebodoh dan sepikun hari ini."

setelah meninggalkan kuil awan hijau, Lim Han-kim segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk meneruskan perjalanan, dengan kecepatan seperti anak panah yang terlepas dari busurnya dia meluncur menuju ke tepi sungai Tiangkang.

Untuk mempercepat perjalanannya, pemuda ini berusaha menghindari jalan raya dan orang banyak. setelah menentukan arah, ia menelusuri tanah perbukitan dan meluncur dengan kecepatan tinggi.

Perjalanan yang ditempuh tanpa berhenti ini sangat melelahkan badan, Ketika sampai di tepi sungai, sekujur badannya sudah basah kuyup oleh keringat ia lalu berjongkok di tepi sungai, membasahi seluruh wajahnya dengan air yang dingin sehingga membuat kesegaran badannya pulih kembali.

Ketika mendongakkan kepalanya kembali, terlihat olehnya sebuah sampan nelayan sedang meluncur pada jarak sepuluh kaki dari tepi sungai, Dengan ketajaman matanya yang melebihi manusia biasa, ia segera dapat menangkap dengan jelas orang yang berada di perahu nelayan itu adalah seorang kakek bertopi caping dengan mengenakan jas hujan. Maka dengan mengerahkan tenaga dalamnya ia berteriak keras:

"Paman tua, bersediakah kau membawa perahumu ke mari dan membawaku menuju ke pantai seberang? Aku bersedia membayar mahal."

Teriakan itu kedengarannya tidak terlampau keras, tapi kakek yang berada puluhan kaki jauhnya di tengah sungai itu dapat mendengarnya dengan jelas sekali.

Tampak Kakek itu menarik kembali jala-nya lalu berpaling, setelah mengamati beberapa saat barulah ia melihat Lim Han-kim, maka sampannya segera didayung mendekat.

Ketika sampan itu masih berada dua kaki dari tepi pantai, Lim Han-kim tak sabar lagi menanti, ia segera genjot badannya melompat ke depan. ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya benar-benar amat sempurna.

Ketika badannya melayang turun di atas sampan tersebut, keadaannya ibarat daun kering yang terjatuh di geladak sam-pan kecil itu sama sekali tidak terguncang barang sedikitpun Dengan perasaan terkejut bercampur tak percaya, kakek itu mengamati Lim Han-kim beberapa saat lamanya, kemudian baru gu-mamnya: "Waaah... anak muda, kau pandai terbang?"

Lim Han-kim tertawa hambar, "Aaah, aku cuma pernah belajar silat beberapa hari, Paman tua. Tolong antar aku ke pantai seberang, ada urusan penting yang harus segera ku selesaikan"

Kakek itu manggut-manggut, dayungnya segera dikayuh kuat-kuat. sampan kecil itupun meluncur ke pantai seberang, dengan sorot matanya yang tajam Lim Han-kim mengawasi arus sungai yang mengalir deras.

Tapi beberapa saat kemudian tiba-tiba paras mukanya berubah hebat, ia segera bungkukkan badan menerobos masuk ke ruang perahu, Matanya di pejamkan rapat- rapat, badannya bersandar di dinding perahu, wajahnya kelihatan pucat pias seperti mayat.

Entah sudah lewat berapa waktu, tiba-tiba ia dengar kakek itu berseru keras: "Siangkong, perahu telah menepi di pantai seberang."

Ketika Lim Han-kim membuka mata dilihatnya matahari telah tenggelam di langit barat. ia segera melompat keluar dari sam-pan dan naik ke daratan, Diambilnya sekeping uang emas, sambil memberikannya pada nelayan itu ia berkata:" Paman tua, anggaplah sedikit uang ini sebagai tanda terima kasihku, Harap diterima"

Dengan langkah lebar ia tinggalkan tempat tersebut, Ketika kakek itu menerima uang tersebut dan melihatnya, ia segera berteriak keras. "Siangkong, emas ini terlalu banyak... Aku.Tidak berani menerimanya..."

Lim Han-kim tidak menggubris, perasaannya sangat gelisah, Dia ingin secepatnya meneruskan perjalanan menuju ke pesanggrahan Tho-hoa-kit. Tak berapa lama kemudian pemuda itu sudah sampai di Tho-hoa-kit. pemandangan masih tetap seperti sedia kala, Di tengah hembusan angin sepoi yang membawa bau harum bunga yang semerbak, tampak tamu memenuhi. seluruh ruangan, Lim Han-kim ragu-ragu sejenak.

Tetapi kemudian melanjutkan langkahnya menuju pesanggrahan tersebut pemuda itu boleh dibilang telah memiliki pengetahuan yang cukup luas tentang keadaan di pesanggrahan Tho-hoa-kit. setelah melewati sanggar arak di bagian muka, ia menulu ke balik pepohonan bunga Tho.

sesudah menelusuri jalan setapak yang terbuat dari batu putih, tibalah ia di sebuah persimpangan jalan. Lim Han-kim segera berhenti sebentar untuk mengawasi keadaan sekeliling tempat itu. Akhirnya ia memilih jalan yang ada di tengah untuk meneruskan langkahnya, Pemandangan di sekitar situ sungguh indah menawan Merahnya bunga dan hijaunya dedaunan membuat suasana dalam hutan bunga Tho itu ibarat lukisan alam yang menarik.

Meskipun demikian, penjagaan di tempat itu ternyata sangat ketat. Baru saja Lim Han-kim berjalan sejauh empat- lima kaki, mendadak dari belakang dua batang pohon Tho yang tinggi besar muncul dua orang pemuda berbaju hijau.

Kedua orang pemuda itu berusia antara dua puluh tahunan wajah mereka cukup tampan, cuma saja sinar matanya liar dan lamat-lamat memancarkan kebengisan wajahnya pucat pasi dan agak mengerikan

Lim Han-kim memperhatikan dua orang pemuda itu sekejap. lalu tanpa banyak bicara meneruskan langkahnya, Mendadak kedua orang pemuda berbaju hijau itu melompat ke luar dari balik pohon dan menghadang jalan sambil menegur: "Tuan, hendak ke mana kau?"

"Loteng Hui-jui-lo"

" Loteng- Hui-jui-lo?" seru dua orang pemuda itu dengan wajah tercengang, mereka tertegun untuk sejenak. Lim Han-kim tidak memberi tanggapan apa pun, hanya sinar matanya yang tajam mengawasi kedua orang itu lekat-lekat.

Sementara itu dua orang pemuda tersebut juga sedang mengamati Lim Han-kim tanpa berkedip. kemudian orang yang berada di sebelah kiri bertanya lagi dengan suara keras: "Apakah tuan hendak menyambangi Nona Lik-ling?" Lim Han-kim manggut-manggut.

Dua orang pemuda itu saling bertukar pandangan sekejap. lalu sahutnya: "Pertemuan dengan Nona Lik-ling sudah ditentukan pada tiga hari kemudian, Harap tuan tinggalkan nama dan bagaimana kalau datang lagi tiga hari kemudian?"

"Hmmmm Apa pun yang terjadi, aku harus menjumpainya hari ini juga."

selesai menjawab Lim Han-kim meneruskan langkahnya menuju ke depan. Dengan sorot mata yang cepat dua orang pemuda itu memandang ke sekeliling, setelah melihat tidak ada orang lain, serentak mereka menerjang maju ke depan, Telapak tangan kiri diayunkan langsung menghajar dada Lim Han-kim dengan serangan dahsyat. "Berhenti" hardiknya ketus.

Dengan sikap yang teramat santai, Lim Han-kim balas mengayunkan tangan kanannya mencengkeram tubuh pemuda yang di sebelah kiri Diam-diam hawa murninya disalurkan lalu mendorongnya ke depan untuk menghantam orang yang di sebelah kanan.

Belum sempat menyadari apa yang terjadi, orang itu sudah merasakan separuh badannya kesemutan lalu segenap kekuatannya hilang lenyap. sadarlah mereka bahwa mereka telah menjumpai musuh tangguh, tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri yang menyelimuti hatinya.

Melihat musuh menggunakan tubuh rekannya untuk menyambut serangan yang sedang dilancarkan, pemuda yang gi sebelah kanan tak kurang rasa kagetnya, Buru- buru dia tarik kembali ancaman tersebut dan cepat-cepat melompat mundur dengan sempoyongan.

Dalam kesempatan itu Lim Han-kim telah mempersiapkan diri baik-baik, Tentu saja ia tak biarkan musuhnya kabur dengan begitu saja, dengan sekali lompatan dia sudah mengejar ke hadapan pemuda tersebut. Dengan sekali sambar ia telah cengkeram tubuh orang itu.

"Hmmm" dengusnya pelan, " kalau berani bergerak lagi, akan kugetarkan jantungmu sehingga mampus seketika.."

Pemuda itu tak berani berkutik lagi, dia sadar musuhnya bukan cuma gertak sambal. Lim Han-kim kembali mengayunkan tangannya menepuk punggung pemuda tersebut lalu katanya lagi: "Jalan darah penting kalian sudah kulukai dengan ilmu Memotong Nadi. Dalam tujuh hari berikut, lebih baik jangan pergunakan tenaga dalam atau bertarung melawan orang lain, kalau tidak kalian bisa tumpah darah dan tewas dalam keadaan mengerikan."

Biarpun jalan darah kedua orang pemuda itu sudah dikuasai lawan sehingga tidak mempunyai kekuatan untuk melawan, namun sorot matanya tetap memancarkan sinar kelicikan.

"Hmmm" Kembali Lim Han-kim mendengus dingin, " kalau kalian tidak percaya, coba salurkan tenaga dalammu untuk di-coba..."

Habis berkata ia segera tepuk bebas totokan jalan darah kedua orang pemuda itu

Kedua orang pemuda itu menuruti saran tersebut dan diam-diam mencoba menyalurkan tenaga dalamnya, Betul juga, mereka segera merasakan kedua jalan darah penting di punggungnya tersumbat Hawa murni di tubuh mereka segera terputus di tengah jalan.

sekarang mereka baru betul-betul terkesiap. sikapnya pun kontan berubah seratus delapan puluh derajat, sambil memberi hormat katanya: "Kami benar-benar punya mata tak berbiji, tidak mengenali tuan begitu hebat dan luar biasa, Harap tuan sudi memaafkan kelancangan kami."

"Hmmm... sementara waktu terpaksa aku mesti menyiksa kalian dulu, Sebelum meninggalkan tempat ini pasti akan kubebaskan jalan darah kalian yang tertotok itu."

Setelah berjalan berapa langkah, mendadak ia berhenti sambil katanya lagi: "ingat Mati hidup kalian sudah berada dalam genggamanku sekarang, Bila dalam setengah bulan totokan jalan darah tersebut belum dibebaskan, maka nadi tay-im-keng kalian bakal membeku hingga terluka, Akibatnya, jiwa kalian pun bakal terancam. Maka hati-hatilah bertindak."

Meskipun kedua orang pemuda itu tidak menjawab apa-apa, namun mereka segera mengangguk berulang kali.

Lim Han-kim tidak menggubris kedua orang lawannya lagi, dengan langkah lebar ia meneruskan perjalanannya menuju ke loteng Hui-jui-lo.

Selapis tumbuhan bambu hijau mengelilingi sebuah bangunan loteng yang indah, dua belah pintu pagar yang terbuat dari bambu berada dalam keadaan setengah ter- buka, Lim Han-kim segera mendorong pintu pagar dan masuk ke dalam dengan langkah lebar. Seorang dayang kecil berwajah cantik menyongsong kedatangannya dengan cepat, sambil membungkukkan badan memberi hormat, tegurnya: "Tuan, kau tidak merasa salah jalan?"

"Bukankah tempat ini adalah loteng Hui-jui-lo?" Lim Han-kim balik bertanya sambil tertawa hambar.

"Benar, tuan lngin mencari siapa?" "Nona Lik-ling"

sambil menjawab, pemuda itu meneruskan langkahnya menuju ke dalam bangunan loteng.

Dengan gelisah dayang itu berteriak: "Eeeei.,, tuan, tunggu dulu saat ini nona kami tak punya waktu, Tinggalkan dulu namamu, datanglah dilain hari" "Tidak bisa. Hari ini juga aku harus menemuinya."

o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o JILID 05 HAL. 21 HILANG

o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o serta menghalangi jalannya,

Dayang yang berada di sebelah tengah segera menjulurkan tangannya setelah mengamati wajah Lim Han-kim sekejap. "Bawa kemari" serunya. "Apanya?" jawab Lim Han-kim dingin.

Tampaknya dayang yang berada di tengah itu merupakan pemimpin rombongan dayang tersebut Alisnya segera berkerut sesudah mendapat jawaban tadi. "Tentu saja undangan dari nona kami" serunya tak senang.

"Aku tak punya"

"Kalau tak ada undangan, mau apa kau kemari?" "Aku datang mencari seseorang" kata Lim Han-kim

sambil mengamati anak tangga menuju ke tingkat tiga. "Mencari siapa?"

"Nona Lik-ling"

Kemudian sambil ulurkan tangan kanan-nya, ia menambahkan: " Lebih baik kalian menyingkir Aku tak ingin bertarung dengan kalian."

"Kurang ajar, besar amat lagakmu" teriak kawanan dayang itu penuh amarah. serentak mereka melancarkan serangan mencengkeram tubuh Lin Han-kim.

Alis mata pemuda Lim kontan saja berkerut, sorot matanya memancarkan sinar tajam, Dengan cepat ia ayunkan tangannya memaksa mundur serangan kawanan dayang tersebut, lalu tangan kirinya dengan ilmu cengkeraman Ki-na-jiu menyambar pergelangan tangan kanan dayang yang ada di tengah itu.

Dalam sekali sentakan, dayang tersebut kontan tertarik hingga badannya berputar arah dan balik menumbuk kawanan dayang lainnya.

serangan tersebut benar-benar luar biasa, tak terlukiskan rasa kaget kawanan dayang itu, serentak mereka melompat mundur.

Menggunakan kesempatan ini Lim Han-kim segera melejit ke udara menghindari kerumunan kawanan dayang tersebut dan langsung lari ke arah anak tangga tingkat tiga.

Tampaknya kawanan dayang itu sadar bahwa kepandaian mereka belum cukup untuk menghalangi jalan orang, serentak mereka hentikan langkahnya dan tidak mengejar lagi.

Pemandangan di loteng tingkat tiga jauh berbeda dengan keadaan di tempat lain, Di separuh ruangan sebelah depan keadaannya sama dengan keadaan ruang lain, tapi separuh ruang di bagian belakang merupakan sebuah gardu yang amat luas dengan dedaunan sebagai atap dan karpet merah menghiasi seluruh lantai.

Perjamuan yang diselenggarakan di gardu terbuka itu belum bubar, dua orang lelaki bertubuh kekar sedang duduk berhadapan sambil minum arak. seorang perempuan cantik berbaju hijau duduk di antara dua orang lelaki kekar tadi.

sambil tertawa, sepasang matanya yang besar tiada hentinya mengawasi wajah dua orang lelaki itu bergantian Gerak-geriknya genit dan merayu membuat dua orang lelaki yang dihadapinya jadi tak tenang perasaan hatinya.

Biarpun Lim Han-kim cukup lama berdiri di situ, ternyata tak seorang pun yang menyadari kehadirannya.

Akhirnya si wanita cantik berbaju hijau itu yang lebih dulu menyadari kehadiran Lim Han-kim. Tiba-tiba saja ia turunkan tangan yang menutupi mulutnya dan duduk dengan wajah serius.

sementara itu dua orang lelaki tersebut masih duduk minum arak sambil tertawa terbahak-bahak. tapi setelah mengetahui kehadiran Lim Han-kim, paras mukanya segera berubah sangat hebat, serentak mereka letakkan kembali cawannya ke atas meja. Lelaki yang duduk menghadap timur segera tertawa dingin sambil menegur:

"Bocah keparat, besar amat nyalimu" sambil menekan permukaan meja, dia melompat maju ke depan sambil melepaskan sebuah babatan ke dada lawan. Cukup mendengar dari deruan angin serangan yang meluncur datang, Lim Han-Kim sadar bahwa musuhnya bukan lawan yang lemah. Dengan cekatan dia memutar badannya ke samping, lalu dengan ilmu Langkah Tujuh Bintang, badannya menyusup dari sisi lelaki tadi langsung menuju ke gardu perjamuan.

"Jadi kau yang bernama Lik-ling?" tegurnya sambil menatap wajah perempuan cantik itu tajam-tajam. sementara itu perempuan cantik berbaju hijau tersebut telah dapat menguasai dirinya kembali, dia tertawa. "Aku memang Lik-ling, siapa nama siangkong?"

"Kau tak perlu tahu siapa namaku. "

"Braaak. "

Mendadak lelaki yang duduk di sebelah barat menggebrak meja keras-keras, potongnya: "Besar amat bacotmu Biar aku Bwee Locu memberi pelajaran dulu kepada cecunguk macam kau,.,"

Memandang bekas jari tangan yang membekas di permukaan meja, Lim Han-kim kembali berpikir: "Tenaga dalam orang ini betul-betul amat sempurna, aku tak boleh memandang enteng kemampuannya."

sementara itu lelaki yang melancarkan serangan pertama kali tadi kembali menerjang datang, Dengan jurus " Harimau Lapar Menerkam Kambing" kelima jari tangannya dipentangkan lebar-lebar untuk mencengkeram batok kepala musuhnya.

Kembali Lim Han-kim gerakkan badannya menghindar sejauh beberapa depa, kali inipun dia tidak melancarkan serangan balasan, sementara itu, lelaki yang duduk di sebelah barat telah meninggalkan tempat duduknya dan menerjang ke depan. sambil mengayunkan telapak tangannya dia melepaskan sebuah babatan ke punggung Lim Han-kim.

Dengan cekatan kembali Lim Han-kim menggeserkan langkahnya satu tindak kesamping, Lagi-lagi serangan tersebut berhasil dihindarinya.

Dalam waktu singkat dua orang lelaki itu telah lepaskan serangan berulang kali. Satu dari muka, yang lain dari belakang, Dengan serangan-serangan cepat mereka mendesak musuhnya habis-habisan. Tampak bayangan tangan menyambar silih berganti, anginpukulan yang menderu- deru memekak telinga.

Di tengah kepungan angin serangan yang begitu gencar dan luar biasa, Lim han-kim tetap tidak melancarkan serangan balasan, Dengan mengandalkan ilmu gerakan tubuhnya yang sakti luar biasa, tubuhnya menyelinap ke sana kemari. Bagaimanapun gencar dan hebatnya serangan kedua orang itu, ternyata tak satu pun yang berhasil mengenai sasaran.

sementara itu perempuan cantik berbaju hijau tersebut tampaknya sangat menikmati jalannya pertarungan Dengan senyuman dikulum, dia ikuti jalannya pertarungan dengan penuh perhatian semakin lama kedua orang lelaki itu melepaskan serangannya makin ganas dan gencar, namun gerak tubuh Lim Han- kim makin lama pun semakin sakti dan luar biasa.

Tubuhnya bergerak bagai awan di angkasa, bagaimanapun ganas dan gencarnya serangan yang dilepaskan kedua orang itu, tak satu pun serangan yang berhasil menjawil ujung bajunya.

senyuman yang menghiasi ujung bibir perempuan cantik berbaju hijau pun makin lama semakin redup. paras mukanya makin lama berubah semakin serius. Pelan-pelan dia bangkit berdiri, mendekati arena pertarungan dan bentaknya keras-keras: "Hey, kalian bertiga jangan berkelahi lagi"

selama ini hanya dua orang lelaki itu yang melancarkan serangan tiada hentinya.

sejak awal sampai akhir Lim Han-kim belum pernah melepaskan satu serangan balasan pun, Karenanya begitu si perempuan cantik berbaju hijau itu membentak, dua orang lelaki tadi serentak menarik kembali serangannya dan melompat mundur dari arena.

sebaliknya Lim Han-kim sendiri pun diam-diam mengagumi kehebatan kedua orang lawannya, sekalipun ia tidak melancarkan serangan balasan, namun dapat terasa olehnya betapa tangguh dan hebatnya ilmu silat kedua orang lelaki tersebut, terutama tenaga pukulannya yang kuat, ia sadar dua orang tersebut merupakan musuh tangguh.

Melihat pertarungan telah berhenti, dengan pandangan mata yang genit perempuan cantik berbaju hijau itu memandang Lim Han-kim sekejap. lalu ujarnya sambil tersenyum: "Kalau dua ekor harimau berkelahi, akhirnya seekor di antaranya pasti terluka. Bila kalian bertiga meneruskan pertandingan semacam ini, siapa pun yang akhirnya terluka tentu akan merupakan pemandangan yang kurang sedap dalam suasana begini."

sebenarnya dua orang lelaki itu sudah dibuat terkesiap tak terkirakan setelah puluhan jurus serangan berantai mereka gagal menyentuh ujung baju lawannya. Dengan adanya bujukan perempuan cantik tersebut, mereka gunakan kesempatan tersebut untuk mengundurkan diri