Pedang Kayu Cendana Jilid 11 (Tamat)

Jilid 11 (Tamat)

TIBA-TIBA sebuah hardikan menggelegar disertai berkelebatnya sesosok bayangan menerjang ketengah dua orang yang lagi serang menyerang adu jiwa itu.

Ditengah rasa kaget Siangkoan ceng yang sudah terbeliak itu, tiba-tiba terasa segulung tenaga lunak mendorong pundaknya hingga dia sempoyongan pergi lima langkah, sementara orang Biau itu menjerit sekali, langkahnya berat sempoyongan tujuh langkah dan "Duk." jatuh tersungkur di tanah.

Pakkiong Yau liong berdiri tolak pinggang, sambil mendengus dia awasi orang Biau itu dengan pandangan setajam sembilu, orang Biau ini lekas menunduk tidak berani adu pandang.

Saking gusar tiba-tiba Pakkiong Yau-Hong memburu maju kedepan orang Biau itu serta mencengkram baju depan dadanya.

Orang Biau itu mendelik gusar, gerahamnya gemerutuk gemas, tiba-tiba dia meraung seperti singa kelaparan, tubuhnya mendadak meronta, kaki tangan bekerja tanpa hiraukan keselamatan menubruk kearah Pakkiong Yau-liong, serangan mendadak ini memang mengajak lawannya mati bersama.

Hebat kepandaian Pakkiong Yau-liong, tubuhnya mendadak jungkir balik keatas turun di belakang orang, secepat kilat jari tangannya telah menutuk Siau-yau-hiat dipinggangnya.

Orang Biau itu tertutuk jatuh terus pentang mulutnya tertawa keras dan keras seperti orang gila.

Pakkiong Yau-liong berdiri tolak pinggang, dia biarkan sejenak orang Biau itu bergulingan sambil tertawa tidak putus-putus sampai kehabisan tenaga dan napas, setelah yakin siksaan cukup berat, tiba-tiba dia angkat kakinya menendang punggung orang, katanya:

"Buktikan saja, apakah kau tetap kuat membandel, bagaimana cukup belum kau tertawa, nah, setelah cukup boleh kaujawab pertanyaanku." lalu dia membalik menghampiri Siang koanBu. Siangkoan Bu dan isterinya berserta putrinya betul-betul kagum dantunduk akan kelihayan Pakkiong Yau-liong, bukan saja dia mampu memunahkan jurus serangan lawannya yang mengadu jiwa, diapun telah menyelamatkan Siangkoan ceng, kini menutuk hiat-to tertawa orang pula, menutuk hiat-to sebetulnya tidak perlu dibuat heran, tapi bagaimana dan kapan Pakkiong Yau-liong menutuk Hiat to orang Biau? Hakikatnya mereka bertiga tiada yang melihat.

Dan kini mereka duduk disamping sambil menonton orang Biau itu yang terus tertawa, gelak tawa yang tak kuasa dihentikan sendiri, semula suaranya memang lantang, namun lama-kelamaan sember, lalu serak dan lemas kehabisan tenaga, napasnya sengal- sengal seperti mobil yang kehabisan bensin, lambat laun gelak tawa itu bcrobah menjadi isak tangis yang memilukan, darah sudah meleleh diujung mulutnya, matanya sudah terbalik, badannya mulai kelejetan.

Tok-liong sian-li dan Siangkoan ceng tidak tega, Siangkoan Bu juga menghela napas, baru saja dia menggerakkan mulut, mau bicara, tiba-tiba terdengar sebuah tawa dingin bernada rendah, disusul bayangan orang berkelebat dari pucuk pohon meluncur di hadapan mereka.

Karena memperhatikan tawanannya serta ketarik oleh loroh tawa yang mirip orang menangis dari orang Biau itu, sehingga Pakkiong Yau-liong yang sudah menghisap Ya-kong-ci pun tidak menyangka akan kedatangan orang yang tidak mengeluarkan suara. Karuan mereka berjingkrak kaget, empatpasang mata menatap kearah orang yang baru muncul ini.

Disamping orang Biau yang terrutuk Hiat-tonya, berdiri seorang laki-laki yang mengikat kepalanya dengan sutra putih, tapi tubuhnya tidak terbalut pakaiannya lucu setengah Biau setengah Han, didepan dadanya tergantung sebuah tengkorak manusia. Tidak membawa gendewa atau anak panah.

Hanya bola matanya yang kelihatan dari kain sutra yang membungkus kepalanya itu, mendelik gusar kepada mereka berempat, jengeknya : "Sungguh tak nyana kaum pendekar dari Tionggoan yang mengagul diri berjiwa kesatria ternyata juga melakukan tindakan serendah ini hanya untuk mengorek keterangan mulutnya."

Lalu dia menendang sekali ke tubuh orang Biau itu, gelak tawanya yang serak lemah seketika berhenti, ternyata tendangannya itu telah membebaskan tutukan Hiat-conya, padahal dia tidak menunduk mata pun tidak melirik, tapi gerak kakinya ternyata tepat membebaskan tutukan orang.

Disamping kaget serta girang Pakkiong Yau-liong berempat juga heran dan bingung, sesaat mereka mengawasi orang yang berdandan aneh dengan sutra putih membungkus kepala ini. Gerakan kakinya yang tepat menendang Hiat-to hingga bebas tutukannya, maka mereka yakin bahwa orang ini pasti Jik-cian-cui hun yang ditakuti orang-orang Biau dan sering muncul didaerah ini.

Walau orang ini membungkus kepalanya dengan kain sutra putih, apakah Jik-cian-cui-hun ini adalah Toh-bing-sik-mo yang belasan tahun yang lalu pernah mengganas di ceng-hun-kok dan merebut Pedang Kayu cendana itu? Mereka tidak berani memastikan, jikalau tidak benar, kenapa kepalanya dibalut kain? Sebaliknya kalau betul dia orangnya.

Tiba-tiba Pakkiong Yau-Uong teringat sebelum ayahnya meninggal, bukankah pernah diberitahu bahwa rambut kepala Toh- bing sik-mo berwarna merah? Waktu Tio Swat-in terkena racun, Tok-giam-po pernah memperingati kau supaya, badannya tidak tertiup angin, dan mungkin karena balut kepalanya dahulu tersamber pedang ayahnya hingga kepalanya dalam sekejap itu terkena angin sehingga hawa beracun dikepalanya sampai sekarang masih belum berhasil dipunahkan, untuk menjaga supaya kadar racun tidak menamatkan jiwanya, maka dia merasa perlu tetap membungkus kepalanya dengan kain sutra serapat mungkin-Karena rekaannya ini maka Pakkiong Yau liong yakin bahwa laki-laki berdandan setengah Biau setengah Han, dengan menggantung hiasan tengkorak didepan dadanya adalah Toh bing sik-mo yang sedang dicarinya itu. Pakkiong Yau-liong maju selangkah lalu bergelak tawa: "Inilah yang dinamakan merusak sepatu besi dicari tidak ketemu, tahu-tahu diperoleh tanpa membuang tenaga. Saudara, aku Pakkiong Yau-liong bukan sehari dua minggu mencarimu."

Laki-laki yang berjuluk Jik-cian-cui-bun diBiau-kiang ini memang benar adalah Toh-bing-sik-mo yang pernah mengganas di Tiong goan belasan tahun yang lalu, dengan dingin dia mengejek: "Tidak kukira kalian bisa meluruk keBiau-kiang, sebagaituan rumah adalah jamak kalau aku menyambut kalian sepantasnya."

Lalu dia membentak orang Biau dibawah kakinya.: "Barang tidak berguna, tidak lekas enyah dari sini " dan setelah mengawasi orang Biau itu pergi lintang-pukang, mendadak dia mendongak serta tertawa besar dengan nada yang tidak asing lagi bagi Pakkiong Yau- liong, gelak tawa yang menggiriskan pendengarannya.

Di tengah gelak tawa orang inilah tiba-tiba Pakkiong Yau liong seperti terbayang akan ayahnya Bok-kiam-tlong-siau Pakkiong Bing yang pulang kerumah dalam keadaan luka parah dan keadaannya yang mengenaskan sebelum ajal, lalu terbayang pula kepada Tio swat-in yang terkena hawa beracun Tok-giam-po dan menunggu penyembuhan dari Pedang Kayu cendana, tanpa terasa air mata berkaca-kaca dikelopak matanya, namun bara dendam semakin berkobar dirongga dadanya, tiba-tiba dia membentak berat.

"Sudah tiba saatnya dendam kesumat diantara kita harus diselesaikan-Pedang Kayu cendana yang kau rebut dari tangan ayahku juga harus kau kembalikan."

"Ah, itu mudah." jengek Toh-bing sik-mo. "Asal kau mampu saja.

Tapi kurasa urusan tidak semudah yang kau kira."

Pakkiong Yau-liong tidak banyak bicara lagi, sambil meraung gusar dia langsung menubruk kearah Toh-bing-sik-mo, pergelangan tangan berputar dengan jurus Liong-hi-gin-hin-kok (ikan naga menyelinap ke lembah dalam), dengan membawa deru kekuatan dahsyat menerjang kearah Toh-bing-sik-mo. Begitu Pakkiong Yau-liong melontarkan serangannya, bola mata Toh-bing-sik-mo seketika terbelalak heran dan kaget, betapa Cepat gerakan dan sengit serangannya sungguh sukar diperCaya, maka dia membatin: "Tak heran muridku sekonyol itu." Namun dia tidak ayal, sebat sekali dia melejit ke atas, tubuhnya melesat mundur setombak.

Pakkiong Yau-liong sudah bersabar belasan tahun, kesempatan baik pernah terabaikan sekali di ceng-hun-kok dulu, sekarang mana dia mau memberi kelonggaran lagi pada musuh besar laknat ini, sedikit menutul bumi tubuhnya sudah melambung keatas laksana burung walet, itulah Ginkang Yan-theng-hua-siang in (asap bergolak ditengah mega) yang tiada taranya, ditengah udara tubuh yang terapung itu berguling mengembangkan gerakan sin-liong-Wi- khong-coan (naga sakti berguling dan membalik diudara) yang hebat pula, menukik turun dengan terjangan dahsyat kepada Toh- bing-sik-mo.

Dua gerakan dikombinasikan sekaligus dalam satu serangan, kecepatannya seumpama kilat meny amber dari langit.

Baru saja Toh-bing-sik-mo menyentuh bumi, tenaga raksasa yang dahsyat sudah menindih kepalanya dari atas, karuan kagetnya sampai mengucurkan keringat dingin, tak sempat perhatikan serangan, menyelamatkanjiwa lebih penting, kontan dia menjatuhkan diri terus menggelinding pergi dengan gerakan keledai malas bergulingan, sekuatnya dia berusaha menyelamatkan diri.

Karena gerakan menggelundung yang cukup keras, hingga goncangan itu melepas ikat kepalanya sehingga rambut panjangnya yang merah seperti rumput kering itu terurai sembrawut, Pakkiong Yau-liong juga hanya berhasil mencomot kain sutra ikat kepalanya.

Pakkiong Yau-liong bertolak pinggang sambil mengakak malah, nada tawanya bergema di udara menyedot sukma menggetar nyali.

Wajah Toh-bing-sik-mo tampak pucat menghijau, wajahnya kelihatan kaget dan ngeri, ditengah gelak tawa Pakkiong Yau-liong mendadak dia melejit terbang secepat angin lesus berusaha melarikan diri kesemak hutan-

"Lari kemana? " hardik Pakkiong Yau-liong dengan gusar. Secepat kilat diapun me-ngudak kearah Toh-bing sik-mo yang pecah nyalinya dan berusaha melarikan diri.

Begitu kaki menyentuh tanah, Pakkiong Yau-liong sudah membayangi dirinya dibelakang, dimana kedua telapak tangannya didorong perlahan lurus kedepan, dengan jurus Je cu-kian-kian-toh (mutiara pelan-pelan disemburkan), taburan telapak tangan yang mengandung dampatan angin kencang laksana gugur gunung menggulung kepunggung Toh-bing-sik-mo.

Dimana terpancar bayangan kematian yang mengerikan disorot mata Toh-bing-sik-mo, tapi kedua telapak tangan Pakkiong Yau liong sudah menyentuh-bajunya, betapapun berkelit juga dia tak akan bisa lolos dari gempuran telapak tangan lawan, sedetik lagij iwanya pasti mampus dengan badan tergetar remuk oleh tenaga pukulannya. Tahu jiwanya hari ini tidak akan lolos dari ancaman elmaut, diam-diam Toh-bing-sik-mo sudah mengeluh dalam hati.

Sekilas sebelum kedua telapak tangan Pa kkiong Yau-liong mendarat dipunggung orang bola matanya berputar, suara pikiran berkelebat didalam benaknya, secara mentah-mentah mendadak dia angkat kedua tangannya, namun tetap didorong kedepan dengan tenaga sedikit dikendorkan-"Biang" Toh-bing-sik-mo yang berlari kencang itu terlempar lebih kencang pula, mencelat dua tombak jauhnya dan "Bluk" jatuh terbanting ditanah.

Dua kali Pakkiong Yau liong menubruk sambil melontarkan pukulannya, jangan kata melawan, menangkispun Toh-bing-sik-mo tidak mampu lagi, nyalinya sudah pecah, kini dalam usahanya melarikan diri, pundaknya terpukul pula hingga jatuh terbanting keras.

Betapapun jiwa lebih berharga dari segaia benda di dunia ini, kalau tidak belasan tahun lalu tak perlu dia jauh jauh meluruk keTiong goaa merebut Pedang Kayu cendana tanpa memperdulikan akibatnya.

Sambil menahan sakit Toh-bing-sik-mo merangkak bangun, tanpa ayal lagi lekas dia angkat langkah seribu kabur dari situ.

Padahal hasrat Pakkiong Yau-liong menuntut balas kematian ayahnya begitu besar, selama belasan tahun ini teramat dia mengemban cita-cita dan ingin selekasnya tercapai, kenapa pada detik-detik yang menentukan itu, sengaja dia menyerongkan pukulannya sehingga Toh-bing-sik-mo hanya kesakitan pundaknya dan membiarkannya melarikan diri?

Tiga bayangan orang melesat datang dan berdiri disamping Pakkiong Yau-liong, Siang koan ceng berseru gugup: "Koko Yau- liong kenapa tidak kau. "

Pakkiong Yau-liong menghela napas berat, ujarnya: "Dia tidak membawa gendewa dan panah merah, sudah tentu tidak membawa pula Pedang Kayu cendana, andaikata dia mampus ditanganku, kita akan kesulitan juga mencarinya bukan? Sakit hati jelas tetap aku tuntut kepada nya, sepuluh tahun lebih aku sudah menunggu, apa pula bedanya mengulur waktu lagi untuk beberapa kejap? Ayolah kita kejar."

Maka mereka berempat mengudak kearah Toh-bing-sik-mo yang sudah lari ratusan langkah disebelah depan.

Diam-diam Siangkoan Bu mengangguk, batinnya: "Gelombang sungai yang di belakang memang mendorong yang didepan, patah tumbuh hilang berganti, Pakkiong Yau liong yang mengemban tugas keluarga untuk membalas sakit hati orang tuanya, memang patut dipuji pambeknya, sedetik sebelum dia berhasil membunuh musuh, ternyata otaknya masih juga dapat memikirkan persoalan secermat itu, soal Kungfu sudah gamblang, aku Siangkoan Bu jelas bukan apa-apa dibanding dia."

Sang surya sudah doyong kebarat, burung-burung sudah kembali pulang kesarangnya, kehidupan dunia terasa damai dan tentram. Tetapi di hutan belantara diBiau-kiang yang jarang dijelajah manusia biasa, tampak empat bayangan orang, dalam jarak tertentu tengah mengayun langkah secepat terbang mengudak kencang bayangan seorang lain disebelah depan yang lari kesetanan.

Sang surya makin kelam, sebelum kembali keperaduannya, masih juga dia memancar cahaya terakhir yang kemuning cerah.

Diantara celah-celah dinding selebar delapan kaki, dua orang Biau yang berperawakan tinggi kekar pundak lebar tengah berjaga sambil celingukan. Tiba-tiba bayangan seseorang tampak berlarian kencang mendatangi, dalam sekejap bayangan itu sudah berkelebat menyelinap masuk kecelah-celah dinding gunung itu.

Kedua orang Biau yang berjaga dipintu lembah berteriak kaget. "Suhu, kau... kau terluka? "

Napas Toh-bing-sik-mo naik turun, sahutnya sesaat kemudian: "Tidak apa-apa. Lawan terlalu tangguh, kalian berjagalah baik-baik, mungkin-.." lalu dia berlari kencang kedalam.

Dalam jarak ratusan tombak tampak meluncur bayangan empat orang kearah sini, tampak mereka merandek sejenak. celingukan ke sana kemari diluar hutan sana, tapi lekas sekali sudah berlari kearah bukit karang disebelah depan, di mana kedua laki-laki Biau berjaga dimulut lembah.

Dari jauh kedua orang Biau sudah melihat keempat orang itu, maka dengan rasa tegang mereka mendekam di tanah sambil mengawasi gerak-gerik mereka. Salah seorang memungut sebutir batu terus dilempar jauh ke belakang, "Trak" batu itu jatuh menggelinding di tanah.

Diwaktu batu jatuh di tanah dan mengeluarkan sedikit suara itulah, keempat bayangan orang itu telah meluncur kedinding karang.

Terdengar Pakkiong Yau-liong berkata: "Pasti di sini." lalu dia mendahului menyelinap batu ke celah dinding selebar delapan kaki itu. Kini kedua orang Biau yang berjaga dimulut dinding itu tak bisa tinggal diam, segera salah seorang membentak: "Berhenti " serempak keduanya melompat keluar menghadang didepan Pakkiong Yau-liong.

Pakkiong Yau-liong menyeringai, desisnya^ "Memangnya kalian ingin mampus. Kalau tahu diri lekas enyah dari sini" sembari bicara dia melangkah lebar masuk ke dalam lembah.

Sudah tentu kedua orang Biau menggerung gusar, serempak mereka melolos golok melengkung, dimana sinar berkelebat membawa suara bising, langsung membelah kepinggang Pakkiong Yau-liong. .

Pakkiong Yau-liong mendengus sekali, ke dua telapak tangannya menari dengan jurus Wi-lan-siang-khi-hap (dua cuaca bergacung cerah), membawa tenaga keras tapi lunak yang luar biasa, masing- masing menepuk kearah ke dua orang Biau itu.

"Plak.. . Plok" dua kali ruara nyaring di sertai jeritan terus suara gedebukan bersama senjata tajam yang berkeromang jatuh dibatu. Kedua orang Biau itu seperti diseruduk kerbau badannya mencelat jauh menumbuk dinding, tanpa dapat mengeluarkan suara lagi tubuhnya meloso jatuh tak berkutik lagi, jiwanya melayang seketika.

Sempat Pakkiong Yau Hong menoleh, melihat tiga orang dibelakang sudah ikut masuk segera dia melejit tinggi menyelinap kecelah dinding karang. Ternyata dibalik dinding adalah sebuah tanah lapang yang ditaburi rumput pendek. sebuah gubuk bertingkat dua tampak berdiri membelakangi dinding gunung dua tombak jauhnya.

Dari gubuk bertingkat dua itu tiba-tiba tampak berlompatan turun bayangan enam orang, mereka berdiri berpencar dikanan kiri, tak lama muncullah seorang yang berdandan setengah Biau setengah Han, rambut panjang merah, memegang gendewa danpanah merah, dengan langkah tegar dia berdiri didepan pintu, siapa lagi kalau bukan Toh-bing sik-mo. Mulutnya menyeringai sadis, Tampangnya yang bengis dengan rambut riap-riapan memang amat menakutkan, terutama sorotan matanya yang biru menatap Pakkiong Yau-liong.

Lambat-lambat dia mengangkat tangan kanan, melolos gendewa dipunggung, pelan-pelan pula memasang anak panah diatas busurnya serta ditariknya sedikit demi sedikit.

Busur akhirnya terpentang penuh, disertai dengusan pendek, maka terdengarlah tali busur menjepret, anak panah merah melesat kencang tanpa mengeluarkan suara mengincar ulu hati Pakkiong Yau-liong.

Pakkiong Yau-liong memicing mata, berdiri diam tak bergerak. seolah-olah tidak melihat datangnya anak panah bidikan Toh-bing- sik-mo yang melesat kencang itu.

Panah terus meluncur pesat kelihatannya sudah hampir menyentuh bajunya baru mendadak Pakkiong Yau-liong membelalakkan mata nya, secepat kilat tangannya menyamber, di mana tangannya naik turun, anak panah bidikan Toh-bing-sik-mo ternyata telah berhasil di jepit diantara jari tengah dan jari telunjuknya.

Akan tetapi dalam sedetik itu pula, bidikan panah yang kedua telah menyerang tiba pula. Kembali Pakkiong Yau-liong menggerakkan tangan kanannya pula Seperti semula, panah kedua kembali berhasil dijepit oleh jari nya.

Mendadak bayangan merah berkelebatan simpang-siur, ternyata bidikan ketiga Toh-bing sik-mo menggunakan gaya Boan-thian-hoa (kembang memenuhi langit), belasan batang anak panah dibidikkan sekaligus, maka bayangan merah yang melesat berseliweran itu sederas hujan tebat berpencar dari berbagai penjuru meluruk kesatu sasaran, berarti Pakkiong Yau liong diberondong hujan panah.

Ditengah jeritan kaget dan khawatir tiga orang, terdengar Pakkiong Yau-liong menggeram gusar, kedua tangan terkembang dengan jurus Jit-gwat-wi-lian-pi (surya rembulan berputar), anak panah ditangannya tiba-tiba bergetar laksana dinding merah mengeluarkan lapisan tenaga kuat yang luar biasa mendesak ke luar. Itulah jurus siang-hoan-coat Pakkiong Yau-liong yang paling ampuh.

Hanya satu jurus saja tapi sebatang panah merah ditangannya ternyata bergerak secepar kilat dilandasi kekuatan dahsyat lagi, satu persatu panah musuh yang melesat tiba kena di disampuknya jatuh setombak jauhnya.

Bola mata Pakkiong Yau-liong sudah kelihatan beringas dan buas, dengan lekat dia menatap Toh-bing-sik-mo yang masih memegang gendewa dan berdiri torlongong ditempatnya. Sungguh dia tidak habis mengerti kenapa hujan panahnya juga tidak berhasil membinasakan lawan mudanya ini.

Mendadak gelak tawa yang mengandung tekanan suara yang berftekwensi tinggi bergema dialas pegunungan sehingga bumi serasa bergetar, dari lembah yang lebih dalam sana berkumandang pulalah alunan gema suaranya yang berkepanjangan-Mata Toh bing-sik-mo masih memancarkan kobar anamarah yang penasaran, namun ujung mulutnya tampak bergetar. Di tengah alunan gema gelak tawanya yang sayup, sayup sampai dikejauhan sana, Pakkiong Yau-liong meaundukkan kepala, diam-diam dia berdoa: "Semoga arwah ayah dialam baka membantu anak menuntut balas kepada musuh besar sekarang juga ."

Mendadak Pakkiong Yau-liong angkat kepalanya, matanya berlinang air mata, raut mukanya dilembari hawa membunuh yang tebal, dengan haru dan sengit dia membentak: "Toh-bing-sik-mo, sekarang tibalah saatnya kematianmu. Nah, kukembalikan panahmu."

Tampak kedua tangan Pakkiong Yau-li ong bergerak berbareng, sinar merah berkelebat, dua batang anak panah ditangannya dia timpukkan kearah Toh-bing-sik-mo mengincar jantungnya.

Toh-bing-sik-mo berjingkat dari lamunannya, namun timpukan panah Pakkiong Yau-liong tak kalah cepat dari bidikan panahnya tadi, dalam sekejap itu, untuk berkelit juga sudah tidak sempat lagi. Mimik Toh-bing-sik-mo tampak ngeri dan dibayangi ketakutan, kedua matanya terbeliak besar, secara reftek dia masih berusaha menangkis dengan gendewa nya, sekuat tenaga dia mengepruk panah yang menyamber kejantungnya itu.

"Pletak" saking bernafsu dia menangkis tak nyana gendewanya terpanah patah dan tak kuasa pula dia memegangnya sehinggi mencelat terbang, panah merah timpukan Pakkiong Yau-liong memang agak merandek. tapi sebatang lagi tetap meluncur tepat mengincar ulu hati Toh-bing sik-mo.

"Uuuuaaaaaah" lolong panjang yang mengerikan menggetar langit dan bumi, siapa pun pasti merinding mendengarnya.

Dua batang panah menancap didada Toh-bing sik-mo. Ternyata Toh-bing-sik-mo memang teramat kuat, meski badannya sudah doyong kebelakang, kedua tangan masing-masing hendak membetot keluar panah yang menancap didada dengan tatapan dendam penuh kebencian kepada Pakkiong Yau-liong, lambat-laun dia tidak kuat lagi berdiri diatas kedua kakinya, sekali menggeliat langkahnya teras sempoyongan kepinggir menabrak lankan (pagar loteng) badannya lantas terjungkal jatuh dari tingkat kedua, "Blang" terbanting keras, kakinya masih kelejetan beberapa kali lalu tidak bergerak untuk selamanya. Namun kedua matanya tetap terbeliak besar, agaknya dia mati penasaran.

Lama Pakkiong Yau-liong menjublek sambil mengawasi Jik-cian- cui-hun dengan mendelong, Toh-bing-sik-mo musuh besar pembunuh ayahnya, iblis laknat yang mengganas di Tionggoan kini sudah tamat riwayatnya, tanpa terasa berkaca-kaca bola matanya.

Sesaat kemudian dia berlutut dan mendongak serta berdoa keatas: "Arwah ayah disorga terimalah sembah sujudku, hari ini anak tidak berbakti telah menunaikan pesanmu sebelum ajal, menuntut balas kepada musuh besar, semoga ayah tentram disisi Thian Yang Maha Kuasa." Dalam sekejap ini suasana hening hikmat dan mengharukan- Siangkoan Bu bertiga yang sejak tadi menonton disamping tak tertahan juga berlinang air mata.

Entah berapa lama kemudian, baru Pak kiong Yau-liong berdiri mengusap air mata, mendadak tubuhnya melompat tinggi laksana kilat meluncur keatas gubuk tingkat kedua.

Keenam suku Biau yang berjaga didepan-pintu serempak mundur selangkah, mereka mengawasi dengan siaga dan was-was, namun keringat sudah membasahi jidat mereka, sorot mata yang kaget dan takut, memancarkan pula rasa mohon pengampunan.

Pakkiong Yau-liong hanya menyapu pandang kepada mereka sekejap. tanpa membuat reaksi langsung dia melangkah masuk kedalam rumah.

Bola matanya yang tajam menjelajah keadaan sekeliling rumah yang remang-remang, akhirnya ditemukan diatas dinding tergantung sebilah pedang berbentuk aneh, Pakkiong Yau-liong yakin itulah Pedang Mestika Kayu cendana milik ayahnya dulu.

Dengan rasa senang dan lega lekas dia maju mendekat serta mengulurkan tangannya yang gemetar menanggaikan Pedang Kayu cendana dari atas dinding.

Dengan perasaan haru sesaat dia perhatikan pedang mestika ditangannya, mendadak dia pegang gagang pedang serta melolosnya, sinar tajam berkelebat, Pedang Kayu cendana telah dicabutnya.

Serangkum bau cendana wangi segera memenuhi kamar gubuk ini, perasaan Pakkiong Yau-liong menjadi haru, tapi hidungnya menjadi sesak karena ingusnya meleleh, tanpa terasa air mata pun bercucuran namun perasaannya disamping haru juga riang gembira.

Waktu dia membalik badan beranjak ke depan pintu, sekali berkelebat tubuhnya melesat turun ke tanah pula.

Siangkoan Bu bertiga lekas menyambutnya dengan senyum lebar, kata Siangkoan Bu kepada Pakkiong Yau-liong dengan tersenyum. "Selamat Hian-tit, syukurlah kau berhasil menuntut balas dan merebut kembali Pedang Kayu cendana."

Saking haru naik turun biji leher Pakkiong Yau-liong, betapa riang dan besar terima kasihnya pada ketiga orang dihadapannya ini, sesaat dia tak mampu mengeluarkan suara, tenggorokannya serasa tersumbat.

Siangkoan Bu menepuk enteng pundak Pakkiong Yau-liong, katanya: "Marilah Hian-tit, Swat-in Sutit sedang menunggu kabar gembiramu, dengan Pedang Kayu cendana ini, kau harus lekas menawarkan racun ditubuhnya."

Tanpa mengeluarkan suara Pakkiong Yau-liong manggut- manggut, bergegas mereka meninggalkan tempat itu keluar dari lembah sempit danpendek itu berlari kearah utara.

Bintang-bintang bertaburan dilangit biru hari ternyata sudah menjelang kentongan ke tiga.

Angin lalu berhembus semilir, dari bawah beberapa pucuk pohon yang besar hanya ketimpah seCerCah rembulan sabit, terdengar beberapa kali rintihan, rintihan kesakitan yang amat menyiksa.

Seorang gadis dengan muka pucat menghijau tanpak rebah tak bertenaga dibawah pohon besar itu, keadaannya tampak payah dan tersiksa sekali.

Gadis ini bukan lain adalah Tio Swat-in yang terkena hawa beracun Tok-giam-po dan ditinggal dan dititipkan kepada ketua gua orang Biau, padahal tubuhnya tidak boleh terkena angin dan harus banyak istirahat didalam gua.

Waktu Pakkiong Yau-liong meninggaikan dirinya seCara diam- diam, Tio Swat-in jadi kesepian, dirinya seperti terpencil ditempat asing ini.

Walau dalam sehari penuh orang Biau meladeni dia dengan telaten, sayang untuk berkomunikasi satu sama lain serba susah, maka terasa tingkah kasar orang-orang Biau ini apa pula faedahnya bagi diri sendiri? Dibawah sinar pelita dia pandang bayangannya sendiri hingga malam semakin larut tetap tidak bisa pulas, sudah tiga hari dia berada dalam gua orang-orang Biau ini, dalam tiga hari ini, kecuali dua jam kemudian setelah terkena hawa beracun Toksgiam-po dia amat kesakitan dan lunglai, sekarang dia rasakan dirinya segar bugar seperti orang biasa.

Namun setelah ditinggal pergi Pakkiong Yau-liong, hatinya jadi gundah, tak bisa tentram. Dia sendiri tidak habis mengerti kenapa dan apa sebabnya timbul pikiran ruwet yang menggejolak sanubarinya, dia merasa takpantas seorang diri dia menyembunyikan diri di dalam kamar, membiarkan Pakklong Yau- liong seorang diri menempuh bahaya menuntut balas sakit hati orang tuanya dan merebut Pedang Kayu cendana untuk menawarkan raCun didalam tubuhnya.

Tio Swat-in tahu meski Pakkiong Yau-liong telah menghisap sari Ya-kong-ci tanpa sengaja, Lwekangnya sudah maju berlipat ganda, tapi bila dia sampai mengalami sesuatu petaka....

Dengan haru diam-diam dia berteriak dalam hati: "Aku harus mencarinya dan berdampingan mengganyang musuh, ya aku harus selalu mendampinginya, entah mati atau hidup aku harus ikut dan berada disampingnya."

Maka dia menulis sepucuk surat yang dia tindih dibawah pelita, ditengah malam yang sunyi diam-diam dia meninggalkan gua permukiman orang Biau.

Malam dingin, angin semilir Tio Swat-in menarik napas panjang. Semula tidak dirasakan apa-apa, tapi setelah dia menempuh perjalanan Cukup jauh, setelah sekian lama dirinya terkena angin, keadaan dirinya semakin berobah, perasaannya amat tersiksa.

Tio Swat-in berpikir: "Mungkinkah hembusan angin lalu betul- betul membuyarkan kadar racun dalam tubuhku? "

Tapi dia tetap bertahan dan tidak hiraukan perobahan badannya, sekuat tenaganya dia masih terus mengayun langkah. Tapi rasa kesakitan semakin tak tertahankan lagi, kulitnya seperti diiris-iris, mukanya terasa kasar dan tebal, isi perutnyapun seperti dipelintir dan dibetot, akhirnya dia tidak tahan lagi tersungkur jatuh di bawah pohon besar itu.

Dialas belantara yang liar dan jarang dijelajah manusia dalam wilayah Biau-kiang ini Tio Swat-in rebah telentang menahan siksa memandangi bulan sabit diangkasa raya, sungguh memekikpun langit tak akan memberi reaksi, menjeritpun bumi tidak akan membantunya .

Tanpa terasa dia merogoh keluar sebuah boneka kain dari dalam sakunya, boneka kain yang berlepotan noda hitam, noda darah yang kering dan hitam setelah belasan tahun lalu, air mata berlinang, kejadian masa lalu kembali terbayang di depan mata nya.

Tak kuasa akhirnya dia merintih dan berguling-guling meregang jiwa. Hanya munculnya keajaiban sajalah yang dia harapkan, padahal siksaan dalam tubuhnya ternyata semakin menghebat, dia pun merasakan kondisinya semakin parah dan lemah. Tio Swat-in tahu jiwanya sudah dekat ajal, elmaut sebentar lagi akan menjemput dirinya.

Tiba-tiba empat bayangan orang tampak meluncur bagai terbang, dua puluhan tombak dari pohon besar dimana Tio Swat-in rebah sekarat, satu diantara bayangan itu adalah seorang pemuda yang memegang sebilah pedang pusaka seperti mendengar suara rintihan yang menyayat hati, tampak dia merandek dan lalu menghentikan langkahnya. Tiga bayangan orang yang lain segera ikut berhenti.

Serangkum angin menerpa halus kemukanya, pemuda yang pasang kuping itu mendadak berobah hebat air mukanya, secepat kilat dia melejit kearah dari mana datangnya rintihan dan hinggap dibawah beberapa pucuk pohon besar itu.

Tio Swat-in sudah dalam keadaan setengah sadar, pandangannya sudah buram, keadaannya benar-benar telah kritis dan napasnya tinggal satu-satu, pelan dia membuka matanya raut wajah pucat yang menahan derita mengunjuk secercah senyum pahit, keajaiban yang diharapkan akhirnya timbul dan menjadi kenyataan, lapat-lapat dilihatnya seseorang berdiri di-depannya, siapa lagi kalau bukan Pak kiong Yau-liong jang amat dirindukan?

Dengan gemetar bibirnya yang sudah memutih kering bergetar megap-megap. suaranya lirih seperti bunyi nyamuk: "Koko Yau-liong akhirnya kau kembali di sampingku."

Betapa sedih dan luluh hati Pakkiong Yau-liong, tapi dalam sekejap ini diapun maklum apa yang telah terjadi, apakah dia bisa menyalahkan Tio Swat-in? Tidak mungkin, matanya berkaca-kaca. mendadak dia berjongkok serta meremas jari-jari tangan Tio Swat- in yang mulai kaku dan dingin, katanya haru dengan setengah meratap:

"Betul, adik Swat-in, aku sudah berada disampingmu. Marilah aku sudah berhasil menuntut balas sakit hati kita dan merebut kembali Pedang Kayu cendana "

Dengan lemah Tio Swat-in mengangguk katanya perlahan: "Terima kasih, kaupun telah membalaskan sakit hati ayahku. Sayang Pedang Kayu cendana sekarang sudah tidak berguna lagi untukku." berhenti sejenak pelan dia menoleh kearah Siangkoan Bu suami isteri yang berdiri termangu.

"Kalian juga datang sungguh aku amat senang bisa bertemu pula dengan kalian-Adik ceng kemarilah kau, ada pesan yang ingin kusampaikan kepadamu."

Lekas Siangkoan ceng maju berjongkok dipinggir Tio Swat-in, dengan tangannya yang gemetar Tio Swat-in memegang dan menarik tangan Siangkoan ceng, lalu ditaruhnya diatas punggung tangan Pakkiong Yau-liong yang di pegangnya pula, dengan berlinang air mata dia tersenyum lalu berkata perlahan:

"Sekarang aku ingin mohon kalian mau berjanji satu hal kepadaku, apakah kalian mau menerima permintaanku." Tanpa berjanji Pakkiong Yau-liong dan Siangkoan ceng mengangguk perlahan-Dengan tersenyum Tio Swat in memandang mereka satu persatu lalu berkata: "Aku tahu selama ini adik ceng amat baik dan kasih sayang kepada koko Yau-liong, demikian pula koko Yau-liong juga sayang dan melindunginya seperti adik sendiri, maka aku harap setelah kalian pulang keTionggoan, harus segera menikah, aku yakin paman dan bibi tentu setuju akan usulku ini."

Disaat Pakkiong Yau-liong dan Siangkoan ceng sama-sama melenggong malu, Siangkoan Bu dan Tok-liong-sian li manggut- manggut sambil berlinang air mata, saking terharu mereka tak kuasa berucap sepatah kata pun-Tio Swat-in mengulurkan tangannya mengambil boneka kain disamping tubuhnya, katanya pula perlahan: "Inilah oleh-oleh ayah ku di waktu aku kecil dulu, sudah belasan tahun tidak pernah berpisah dari badanku, biarlah kuberikan kepada kalian sebagai kado pernikahan kalian dari aku."

Tidak terlukiskan betapa sedih dan pilu hati Pakkiong Yau liong dan Siangkoan ceng dengan berlinangan air mata mereka pandang Tio Swat-in dengan nanar, namun tiada yang mengulur tangan menerima boneka kain itu.

Terpejam mata Tio Swat-in, mulutnya menggereger, muka mengerut seperti menahan sakit yang luar biasa, matanyapun memicing, dengan suara lirih hampir tidak terdengar lagi dia berkata.

"Bukankah kalian sudah berjanji kepadaku? Kenapa tidak mau menerima kado ku? "

Pakkiong Yau-liong saling pandang dengan Siangkoan ceng, lalu keduanya sama-sama mengulurkan tangannya menerima boneka kain dari tangan Tio Swat-in yang gemetar.

Pada saat itu pula tangan yang gemetar itu sudah lunglai, matanya yang memicing juga pelan-pelan terpejam. Tio Swat-in yang senasib sepenanggungan bersama Pakkiong Yau liong, dalam sekejap ini wajahnya menampilkan senyuman cerah, puas bangga dan senang ditengah kerumunan empat orang yang pecah tangisnya mangkatlah jiwanya.

Tio Swat-in sudah mati. Dan yang masih hidup seperti Pakkiong Yau-liong yang bergelar Kim-ni-loan-jio (tombak singa emas) amat sedih, hatinya beku.

-ooo0dw0ooo-

Tanpa terasa musim rontokpun telah datang, daon-daon mulai berguguran, angin meniup kencang membawa debu ditanah yang gersang.

Udara lembab, mega mendung, angin musim rontok menghembus kencang.

Dijalan raya yang menuju kepropinsi Ho pak. dua puluhan li dari ging-thay pelan-pelan mendatangi sebuah kereta ditarik seekor kuda memasuki ceng-hun-kok.

Kereta kuda akhirnya berhenti dilembah mega hijau, dari dalam kereta beranjak turun seorang pemuda kurus tinggi berwajah tampan dan gagah. Wajahnya kelihatan lesu dan diliputi kesedihan, seorang diri dia berjalan mondar-mandir.

Apakah pemuda itu sedang menikmati panorama didalam lembah? Tidak. dia sedang mencari dan berusaha menemukan sesuatu miliknya yang hilang. Ya boleh dikata dia telah kehilangan sesuatu yang pernah menjadikan kenangan abadi dalam benaknya didalam ceng-hun-kok ini.

Dia sedang menemukan kenangan masa lalu yang pernah dialaminya disini, meski bukan pengalaman manis, tapi pengalaman sekejap itu memang patut dia kenang dan dia rindukan.

Mendadak dia berhenti, kepalanya tertunduk seperti menepekur, rona mukanya sering berobah, kadang-kadang tersenyum penuh arti dan ada kalanya dia menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepala. Hembusan angin rontok ternyata membawa taburan hujan rintik, tetapi pemuda itu seperti tidak merasakan bahwa dirinya sudah basah oleh air hujan, dia tetap berdiri tegak menenggelamkan diri dalam renungannya.

Dari dalam kereta turun pula seorang gadis jelita berperawakan ramping berisi, pelan-pelan dia menghampiri dan berdiri disamping sang perjaka serta menarik bajunya pelan.

Pemuda itu seperti tersentak sadar, lekas dia melihat cuaCa lalu menoleh kepada si gadis dengan tertawa sambil mengusap air hujan dimukanya dia menarik si gadis kembali kedalam kereta.

Keretapun bergerak. kudapun telah mengayun langkah nya.

"Tik tak tik tak. " tapal kuda berdentam dan menimbulkan gema suara yang nyaring didalam lembah, semakin lama makin jauh kereta itu meninggalkan ceng-hun-kok, namun si pemuda yang ganteng itu sering melongokkan kepalanya keluar memandang ke- arah ceng-hun-kok dengan perasaan berat.

TAMAT