Pedang Kayu Cendana Jilid 10

Jilid 10

MENDADAK Tok-giam-po merogoh keluar Sebatang bumbung bambu panjang satu kaki dari lengan bajunya, seperti seruling saja langsung dia meniupnya sekali, maka menyemburkan serangkum bubuk putih dari bumbung bambu itu tersebar luas tertiup angin melanda kearah Pakkiong Yau-Liong.

Terdengar Tio Swat-in menjerit dari samping dengan suara yang parau: "Awas, itulah hawa beracun "

Tapi kabut putih itu telah mengurung seluruh tubuh Pakkiong Yau-Liong. Karuan Tio Swat-in berdiri menjublek disamping, kecuali gugup, hakikatnya dia tidak mampu berbuat apa-apa.

Tok-giam-po tertawa gelak-geIak kepuasan dan senang. Tapi gelak tawanya mendadak putus seperti tenggorokannya mendadak keselak, bola matanya melotot bundar, mimik mukanya tampak ngeri membayangkan ketakutan sekujur badan bergetar keras.

Ternyata Pakkiong Yau-Liong tak kurang suatu apa-pun meski sekujur badannya sudah terserang oleh hawa beracun yang di tiupnya dari bumbung bambunya, seperti tidak merasa apa-apa dia tetap melangkah maju perlahan-lahan menembus kabut putih, dan kini sudah berada didepan matanya.

Ternyata hawa racun yang di tiup Tok-giam-po dalam jangka dua jam keadaan seperti biasa, kecuali tidak beleh ketiup angin, keadaannya tetap seperti orang biasa, tapi bila orang sudah kena kadar racun itu, bila racun sudah tersedot dan merembes kedalam badan, sipenderita pasti kehilangan tenaga dan seluruh badan lemas lunglai.

Tapi Pakkiong Yau Liong ternyata seperti tidak merasa apa-apa, seringai dingin malah menghias mulut, sorot matanya nun lebih tajam.

Mimpipun Tok-giam-po tak pernah membayangkan bahwa hawa racun miliknya yang lihay hari ini tak mempan terhadap Pakkiong Yau Liong yang baru saja telah menelan sebutir Ya-kong-ci, obat mujarab yang selalu diimpikan setiap insan persilatan, tubuhnya sudah kebal terhadap beratus jenis racun. Betapa hati Tok-giam-po takkan kaget, takut dan ngeri?

Mendadak Pakkiong Yau-Liong mendengus sekali, kedua tangan terangkat lalu didorong pelan-pelan, segulung angin dahsyat, keras tapi lunak melesat kearah Tok-giam-po yang berdiri menjublek karena kaget dan ketakutan.

Dengan gelagapan mendadak Tok-giam-po menyadari bahwa jiwanya terancam elmaut, segulung tenaga dahsyat tahu-tahu sudah menekan dadanya sampai susah bernapas. Sontak Tok-giam-po tahu apa yang bakal terjadi bila dirinya bertindak lama-lama, demi mempertahankan hidup secara reftek dia bergerak kilat menyingkir kesamping.

Tapi dikala dia berkelit itulah "Blang" kontan dia rasakan ulu hatinya seperti dipalu godam, tanpa kuasa mengendalikan tubuh, badannya terpukul terbang jungkir balik, “Hua-ah" di tengah udara mulutnya terbuka menyemburkan darah segar dan "Bluk" badannya menumbuk sebatang pohon sebesar pelukan, kembali Tok-giam-po meraung sekali, tubuhnya roboh terkulai. Pelan-pelan tapi pasti tubuh besar itu terNyata bergerak tumbang dan akhirnya roboh dengan suara yang gemuruh, ternyata pohon besar patah dahannya oleh tumbukan badan Tok-giam-po yang kurus peyot itu.

Tampak darah masih mengalir dari mulut Tok-giam-po, kedua matanya terbalik memutih, beberapa kali kakinya berkelejetan lalu kepalanya terkulai lemas, jiwapun melayang.

Tok-giam po yang dipandang malaikat atau setan di daerah Biau- kiang dan amat ditakuti penduduk setempat serta disegani kaum Bulim kini sudah tamat riwayatnya.

Mengawasi mayat Tok-giam-po canpa merasa Pakkiong Yau- Liong menyeringai dingin, dengan langkah lebar cepat dia menghampiri Tio Swat-in-Mendadak terdengar sorak sorai yang riuh dari sekeliling hutan, karuan Pakkiong Yau-Liong kaget dan siaga.

Disaat dia melongo itulah dari dalam hutan melompat seorang Biau yang tangan kanannya mengangkat tinggi sebatang tombak mengkilap. Dibelakangnya merubung maju lima puluhan orang- orang Biau yang bermuka seram dan bengis, semua bersenjata tombak panjang yang gemerdep. tangan kiri mereka memegang tameng yang terbuat dari anyaman menjalin.

Dalam waktu singkat Pakkiong Yau Liong dan Tio Swat-in sudah terkepung rapat ditengah orang-orang Biau itu, dibawah cahaya bulansabit, tombak panjang mereka yang mengkilap tampak menggiriskan dan menyilaukan mata.

Tio Swat-in terkena racun, kini keadaannya sudah lemas lunglai, mendadak dikepung orang-orang Biau lagi. karuan mukanya pucat pasi. Pakkiong Yau Liong memeluk Tio Swat-in serta menyapu pandang kepada orang-orang Biau yang mengepung diSekelilingnya, bentaknya murka: "Kalian mau apa? "

Lenyap bentakan Pakkiong Yau Liong, laki-laki Suku Biau yang jadi pemimpin mereka mendadak memekik keraS lalu menancapkan tombaknya kearaS  tanah, Serempak Sinar gemerdep berkelebat, serempak lima puluhan orang-orang Biau itu juga menancapkan tombak mereka ke tanah.

Pemimpin orang Biau itu kembali memberi aba-aba, mendadak seluruh orang Biau itu menekuk lutut menyembah mengikuti pimpinannya, mulut mereka mengoceh entah apa yang dikatakan.

Walau tidak tahu arti celoteh mereka, tapi melihat kelakuan mereka Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in tahu bahwa mereka tidak bermaksud jahat, legalah hati mereka. Tapi mereka berdiri bingung dan tidak habis mengerti, sebetulnya apakah yang telah dan akan terjadi?

Mendadak pemimpin orang Biau itu berdiri pula, tangan dan kaki bergerak menuding menggaris serta kaki menendang sambil mulut mengoceh sekian lamanya, di hadapan Pakkiong Yau-Liong, sehabis bicara lalu menarik lengan Pakkiong Yau-Liong.

Walau tidak paham apa yang dikatakan orang, tapi dari gerak- gerik tangan dan mimik mukanya, Pakkiong Yau Liong tahu maksud mereka hendak mengajak dirinya ikut mereka. Pakkiong Yau-Liong tetap tidak bersuara, jawabannya hanya menggeleng kepala.

Ternyata pemimpin orang Biau tidak kuasa menarik Pakkiong Yau-Liong, melihat dia geleng-geleng kepala, tahu dia tidak mau ikut maka dia berlutut dan menyembah pula diikuti anak buahnya, mulut mereka mengoceh pula.

Sambil menyembah, Seolah-olah memohon kepada Pakkiong Yau Liong supaya sudi ikut dengan mereka.

Sekilas Pakkiong Yau-Liong melirik Tio Swat-in, batinnya: "Sekarang dia keracunan hebat, perlu tempat untuk istirahat, gelagatnya orang-orang Biau ini tidak bermaksud jahat, biarlah aku ikut pergi bersama mereka saja, maka dia membimbing pemimpin orang Biau sambil mengangguk.

Pemimpin orang Biau seketika berjingkrak girang sambil memekik-mekik, lalu dia membalik bicara beberapa patah kepada anak buahnya. Maka tempik-sorak orang-orang Biau itu makin keras sambil menari-nari, girangnya bukan main-Empat orang segera menggotong mayat Tok-giam-po, yang lain merubung Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in serta menggiringnya kedalam hutan dengan langkah cepat.

Bila fajar menyingsing rombongan mereka pun telah menempuh perjalanan jauh melampaui puncak gunung dan tiba didepan gua- gua yang dihuni oleh suku Biau itu. Beberapa orang yang menggotong mayat Tok giam-po ternyata sudah sampai lebih dulu.

Di depan sebuah gua besar tampak seorang Biau muda bertubuh kekar dan berotot kekar memimpin ratusan orang Biau menyambut kedatangan mereka. orang Biau muda gagah ini adala Tong-cu atau kepala gua suku Biau mereka.

Untunglah seorang tabib kelilingan bangsai Han yang sering mondar-mandir di wilayah orang-orang Biau bantu menterjemahkan percakapan kedua pihak sehingga komunikasi mereka cukup lancar, mereka saling berjabatan tangan dengan ramah dalam suasana riang dihimbau gelak tawa, Pakkiong Yau-Liong baru paham apa yang terjadi setelah diberi penjelasan oleh tabib kelilingan.

Ternyata sebuah empang yang merupakan sumber air jernih di wilayah Biau-kiang ini telah diduduki oleh Tok-giam-po serta dipandangnya sebagai daerah terlarang untuk siapa pun, siapapun dilarang mengambil air dari empang yang terletak tidak jauh dari kediamannya, bagi siapa yang melanggar pantangannya, maka dia akan menyebul hawa beracun kepada pelanggar itu sehingga mati keracunan tanpa terobati.

Hal ini pernah pula menimpa Toh-bing sik-mo pada puluhan tahun yang lalu, demi mencari Pedang Kayu cendana seperti yang dijelaskan oleh Tok-giam-po, maka Toh-bing-sik-mo meluruk ke Tionggoan, supaya selamat badannya dia balut seperti mumi dan menimbulkan malapetaka bagi kaum persilatan di Tionggoan, lokasi kejahatannya yaitu di ceng-hun kok.

Kini demi menolong dirinya, Tio Swat-in mencari air dan terkena pula hawa beracun Tok giam-po. Memang tidak sedikitjiwa yang sudah melayang oleh kekejian Tok-giam-po hanya orang meminum seteguk atau mengambil sekantong air jernih diempangnya itu. Dan yang jadi korban melulu penduduk setempat, sampai-pun pemimpin tua mereka juga mati dalam keadaan yang mengenaskan.

Adalah logis kalau orang-orang Biau amat dendam dan membencinya, tetapi karena Kungfu Tok-giampo amat tinggi, orang orang Biau yang tidak pandai silat itu sudah tentu menjadi korbannya secara konyol. Toh bing sik-mo yang memiliki Kungfu setinggi itu pun bukan tindingannya, maklumlah kalau kematian Tok-giam-po amat menyerangkan hati mereka.

Tok-giam-po merupakan setan malaikat atau momok yang menakutkan, bahwa Pakkiong Yau-Liong mampu membunuhnya, sudah tentu Pakkiong Yau-Liong dipandang lebih hebat bagaikan malaikat dewata yang diutus Thian untuk menolong para umatnya.

Maka mereka berkeras mengundang Pak kiong Yau-Liong mampir ke-gua mereka, sebagai tanda penghargaan dan terima kasih mereka kepada Pakkiong Yau-Liong bersama Tio Swat-in, mereka disambut meriah oleh kepala suku dan seluruh orang Biau yang menghuni gua di samping gunung.

Sejak hari itu Pakkiong Yau-Liong serta Tio Swat-in menempati sebuah bilik didalam gua batu, kepala suku dan orang-orang Biau cukup ramah dan sopan, mereka dilayani segala kebutuhan, tanpa terasa dua hari Sudah berlalu.

Pakkiong Yau-Liong amat getol menuntut balas kepada Toh-bing- sik-mo, merebut Pedang Kayu cendana untuk memunahkan kadar racun dalam badan Tio Swat-in-Maka malam kedua, dia titipkan Tio Swat-in kepada kepala Suku lalu meninggalkan tempat itu dengan diam-diam.

Bulan bergantung dicakrawala, malam kelam penuh kabut. Di daerah Biau yang terkenal angker, liar dan banyak binatang buas dan berbisa ini, tampak bayangan seorang dengan kecepatan yang sukar dipercaya tengah berlari kencang. Dia bukan lain-adalah Pakkiong Yau Liong yang sudah menelan Ya kong-ci dan tengah mengerahkan tenaga berlari dan berlompatan, tenaganya seperti tak habis-habis sejak Lwekangnya bertambah berlipat ganda sejak menghisap sari Ya-kong-ci.

Kini dia tengah menjelajah alas pegunungan diBiau kiang yang belukar, dalam waktu sesingkat mungkin besar hasratnya menemukan jejak permukiman Toh-bing-sik-mo, di-samping menuntut balas kematian ayahnya, Pedang Kayu cendanapun harus direbutnya untuk menolong jiwa Tio Swat-in-Tiba-tiba Pakkiong Yau-Liong mengendorkan larinya, wajahnya menampilkan mimik heran dan kaget. Dilihatnya jauh di depan dalam jarak seratusan langkah, sesosok bayangan tengah berlari kencang pula kearah timur, karuan Pakkiopg Yau-Liong heran, siapa pulakah yang berlari- la ri dimalam hari dalam hutan belantara ini, maka timbul hasratnya untuk mengejar kesana.

Maka lalu dia kembangkan Ginkangnya, tubuhnya meluncur secepat meteor mengejar rembulan, kearah bayangan yang meluncur di depan-Sudah tentu yang diharapkannya orang di depan itu adalah Toh-bing-sik-mo, supaya dirinya tidak berjerih payah mencarinya ubek-ubekan, seCepatnya pula menunaikan tugas.

Tapi setelah jarak semakin dekar, diam-diam hatinya agak kecewa, karena dalam jarak puluhan langkah matanya sudah melihat jelas bayangan didepan itu bukan Toh-bing-sik-mo yang membalut tubuhnya dengan perban. Tapi dia menghibur diri dengan pikiran begini: "Sudah belasan tahun Toh-bing-sik-mo merebut Pedang Kayu cendana, kadar racun ditubuhnya tentu sudah dihisap habis dan tuntas oleh khasiat Pedang Kayu cendana dan sekarang tidak perlu lagi membungkus badannya dengan perban supaya terlindung dari tiupan angin. Tapi setelah jarak lebih dekat lagi, dia benar-benar amat keCewa.

Kini jarak tinggal lima puluh langkah, namun sejak minum Ya- kong-ci pandangan mata Pakkiong Yau-Liong ternyata teramat awas dan tajam, dibawah sinar rembulan yang remang-remang dalam jarak sejauh itu ternyata dia mampu melihat jelas bahwa bayangan didepan itu bukan Toh-bing-sik-mo, malah juga bukan seorang laki- laki.

Kalau bukan laki-laki tentu adalah perempuan, rasa aneh dan ingin tahu tiba-tiba merongrong perasaannya, dia ingin tahu siapa perempuan yang berani keliaran seorang diri di malam selarut ini dihutan belantara ini.

Maka dia kembangkan kedua lengannya seperti burung terbang saja beruntun beberapa kali lompatan, dengan enteng dia sudah mengudak semakin dekat, sekali menjejak kaki tubuhnya melambung tinggi melampaui bayangan itu terus hinggap didepannya.

Bayangan itu menjerit kaget karena munculnya Pakkiong Yau- Liong secara mendadak, lekas dia mengerem tubuhnya. Tapi lekas sekali dia sudah menubruk kearah Pakkiong Yau Liong seraya berteriak kegirangan: "Yau-Liong Koko. Akhirnya aku menemukan kau."

Rasa kejut dan heran menjalari mimik muka Pakkiong Yau-Liong, serunya: "Lho, kau Siau-ceng."

Bayangan yang berlari kencang dan diudak Pakkiong Yau Liong ini ternyata bukan lain adalah Siangkoan ceng, anak perawan Tabib Pendekar Siangkoan Bu.

Siangkoan ceng berjingkrak aleman sambil menarik lengan Pakkiong Yau-Liong, katanya: "Yau-Liong Koko, berapa susahnya aku mencari kalian-"

Pakkiong Yau Liong tersenyum menghadapi kebinalan gadis aleman ini, katanya lembut, "Sungguh tak kuduga bakal bertemu kau disini. Eh, apa kau datang seorang diri? "

Cemberut bibir Siangkoan ceng, katanya: "Aku minta ikut, ayah dan ibu melarang, kalianpun, tak mau mengajak aku, terpaksa malam kedua seorang diri diam-diam aku minggat dari rumah, memangnya apa yang bisa kalian lakukan, seorang diri akupun bisa menyusul kemari." Pakkiong Yau-Liong menghela napas sambil geleng kepala, katanya. "Siau-ceng, kenapa kau membawa adatmu sendiri, anak sudah besar tidak boleh nakal, bukankah ayah ibumu akan gugup dan kebingungan setengah mati? "

Siangkoan ceng melerok sambil memonyongkan mulut, katanya menatap Pakkiong Yau-Liong. "Perduli amat, aku ingin ikut kalian- Siapa suruh mereka melarang."

Sejak Pakkiong Yau-Liong ditolong Siang koan Bu dan dirawat sampai sembuh dirumahnya, Siangkoan ceng amat telaten membantu ayahnya mengobati pasien yang satu ini, lama kelamaan timbul rasa Cinta di dalam benaknya kepada pasien ayahnya yang ganteng ini, maklum usianya masih keCil, hidup terpencil di- pengasingan, jauh dari kehidupan masyarakat, maka dia sendiri tidak tahu kenapa perasaan hatinya selalu risau dan ingin selalu berdekatan dengan Yau-Liong Koko, sehari tidak melihat perjaka yang dikasihinya, hatinya terasa risau dan sedih.

Betapapun Siangkoan ceng masih muda dan tidak tahu artinya cinta, diapun tidak perduli apa sebabnya, setiap timbul hasrat ingin bertemu dengan Pakkiong Yau-Hong, maka tanpa tedeng aling-aling dia lantas mencarinya dan mengajaknya ngobrol panjang lebar, tiada ikatan apapun yang membatasi gerak-gerik dan sikapnya.

Namun Pakkiong Yau-Liong juga amat sayang dan ramah kepadanya, sesayang seorang kakak kepada adiknya.

Melihat Pakkiong Yau-Liong geleng kepala sambil menghela napas, mendelik mata Siangkoan ceng, katanya : "Kenapa kau menghela napas? Semula kukira kau amat baik dan sayang kepadaku, mana tahu kau juga melarang aku ikut, padahal aku juga pernah meyakinkan Kungfu, kau takut aku bakaL.." tiba-tiba bola matanya berputar lalu bersuara heran, tanyanya:

"Liong Koko, kenapa hanya kau seorang diri, mana enci Swat-in?"

Pakkiong Yau-Liong menghela napas, lalu dia tuturkan kejadian Tio Swat-in terkena hawa beracun Tok-giam-po. Siangkoan ceng terbelalak kaget, serunya: "Apa betul, mari lekas kita Cari Toh bing sik-mo merebut kembali Pedang Kayn cendana untuk menghisap racun di tubuh cici Swat-in " tangan Pakkiong Yau-Liong ditariknya terus hendak menyeretnya pergi.

Tetapi Pakkiong Yau-Liong malah memegang lengannya serta menariknya, katanya per lahan: "Nanti dulu Siau-ceng, kau dengar dulu."

Berkedip bola mata Siangkoan ceng mengawasi Pakkiong Yau Liong, dia berdiri diam memasang kuping, tapi tiada suatu suara apa pun yang di dengarnya, dengan binpung dan heran dia lantas mengomel kepada Pakkiong Yau-Liong: "Liong ko, dengar apa? Tak ada yang kudengar."

Pakkiong Yau-Liong segera menarik Siangkoan ceng, "Mari ikut aku." katanya. Sedikit bergerak seCepat kilat tubuhnya sudah melesat terbang.

Siangkoan ceng melelet lidah, dam-diam dia bersorak dan memuji: "cepat amat." lekas dia pun gerakkan kakinya mengudak dengan kencang sekuat tenaga. Betapapun dia sudah kerahkan seluruh tenaga dan mengembangkan Ginkang, dalam sekejap dia sudah ketinggalan lima puluhan langkah.

Sekarang dia telah mendengar suara yang diperhatikan Pakkiong Yau-Liong, yaitu gelak tawa yang mendengung diangkasa, tidak mirip tawa manusia, lebih tepat kalau dikatakan pekik tangis setan atau lolong serigala yang kelaparan, karena gelak tawa latah itu amat menusuk kuping, apa lagi ditengah malam dalam hutan belantara lagi, mendengar gelak tawa latah ini Siangkoan ceng jadi mengkirik.

Tapi Pakkiong Yau-Liong makin jauh, sudah seratusan langkah meninggalkan dirinya di belakang, meski takut, tetapi demi menyusul Pakkiong Yau-Liong, Siangkoan ceng masih memperCepat langkahnya kearah selatan-Lwekang Pakkiong Yau Liong memang melompat maju berlipat ganda, sehingga pendengarannya jauh lebih tajam dari orang lain, sayup, sayup dia mendengar gelak tawa yang amat dikenalnya. Begitu mendengar gelak tawa yang menggiriskan ini, lantas terbayang oleh Pakkiong Yau-Liong akan bayangan pendek kurus kering dari seorang kakek botak yang menyeringai sadis didepan matanya, lalu terbayang pula seraut wajah Cantik seorang perempuan yang mati seCara mengenaskan sambil mengulum senyum kebebasan.

Itulah bayangan dan gelak tawa Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji yang menyiksa dirinya serta perempuan tak dikenal yang berusaha menolong dirinya hingga akhirnya dia sendiri berkorban jiwa .

Maka bara dendam seketika membakar sanubarinya, tanpa hiraukan Siangkoan ceng apakah dia mampu menyusul dirinya, seCepat kilat dia meluncur kearah datangnya suara. dalam sekejap ratusan tombak telah dicapainya, mendadak bola mata Pakkiong Yau-Liong memancarkan cahaya amarah yang memuncak.

Tampak didepan dalam jarak lima tombak, seorang kakek kurus pendek yang hanya memiliki sebelah telinga, siapa lagi kalau bukan Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji. Mukanya yang sadis sedang menyeringai dengan pandangan buas tengah menatap seorang laki-laki yang berlepotan darah sekujur badannya, langkahnya limbung menyurut mundur, tapi kakek botak pendek ini masih mendesaknya dengan ancaman elmaut.

Mendadak Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji menengadah sambil mengeluarkan loroh tawanya yang menusuk kuping, katanya.kemudian: "orang she Go^ tempo hati aku ampuni jiwamu, ternyata berani kau meluruk datang kesini mencari permusuhan dengan aku. Betul binimu sudah kugagahi dan mampus pula ditanganku, memangnya kau mau menuntut balas? Hayo-lah maju."

Laki-laki She Go yang berlepotan darah dengan badan penuh luka-luka, sekuatnya dia mempertahankan dirinya, wajahnya yang pucat tampak gusar, bentaknya.

"orang she Ni, jangan takabur, meski jadi setan aku tetap akan mengudak sukmamu manusia rendah melebihi binatang." sehabis bicara mulutnya terpentang memuntahkan darah segar, wajahnya semakin pucat, bola matanya pun mendelong kaku, napasnya mendesau satu-satu, gelagatnya takkan kuat lagi mempertahankan diri.

"Kalau demikian. " demikian jengek Ni Ping-ji menyeringai sadis.

"Biarlah orang she Ni mengantarkan keberangkatanmu biarlah kau jadi setan membuat perhitungan dengan aku." Ni Ping-ji sudah bergaya siap menubruk orang she Go dengan serangan mematikan.

Pada saat itulah gelak tawa keras memekak telinga tiba-tiba berkumandang dalam alas pegunungan, nadanya dingin tajam serta mengancam, loroh tawa penuh dendam yang tak terlampias, telinga Ni Ping-jipekak rasanya, dengan kaget dia menoleh, lima tombak disana dilihatnya Pakkiong Tau-Ilong berdiri sambil bertolak pinggang, lenyap gelak tawanya, tampak meluncur datang pula seorang gadis berusia tujuh belasan, berdiri di samping Pak kiong Yau-Liong.

"orang she Ni." desis Pakkiong Yau-Liong. "Jangan kau kira segampang udelmu kau bisa mengganas pula di depanku."

Ni Ping-ji bergilir terkial-kial, katanya: "Bocah sekarat, baru sekirang kau datang. Sudah lama aku menunggumu, akhirnya kau mengantar kematianmu juga ."

Habis bicara bola matanya mengerling lalu menatap Siangkoan ceng, mulutnya menggumam: "Ah, kebetulan sekali, tumben hari ini aku sedang ketagihan, dua persoalan bisa kubereskan sekaligus, setelah bercapai lelah pulang aku bisa menghibur diri dengan genduk jelita ini."

Siangkoan ceng tahu Ni Ping-ji sedang menyinggung dirinya, karuan dia naik pitam, kontan dia berludah sebaL

Ni Ping-ji seperti tidak mendengar dan tidak memperhatikan reaksinya, mengawasi Pakkiong Yau-Liong tangannya menuding laki-laki she Go katanya: "Nah, biar kuperkenalkan laki-laki itu adalah suami dari perempuan yang dulu berusaha menolongmu itu. berani dia meluruk kemari hendak menuntut balas kematian bininya, tapi kali ini aku tidak akan bertindak sekejam dulu kepadamu, karena kau membawa hadiah genduk seCantik ini untukku."

Lalu sambil mengelus jenggot kambingnya, matanya mengawasi Siangkoan ceng seperti menikmati barang yang pilihannya, lalu katanya pula dengan sikap kurang ajar: "Waduh hebatnya Kelihatannya masih perawan tulen, sudah setua ini Ni Ping-ji, ternyata masih juga mendapat rejeki besar."

Sebelum Pakkiong Yau-Liong memuncak amarahnya, Siangkoan ceng sudah tidak tahan lagi, hardiknya gusar: "Anjing kurap tidak tahu malu, coba saja kalau tidak kupotong lidahmu." sembari memaki pedangpun dilolos teras menerjang kearah Ni Ping-ji.

Amarah Pakkiong Yau Liong juga sudah berkobar, tak nyana Siangkoan ceng mendahului bertindak. baru saja dia hendak mencegah dan menarik mundur Siangkoan ceng, mendadak ujung matanya menangkap bayangan laki-laki she Go yang berdiri limbung itu tersungkur jatuh.

Bagaimana juga dia tak tega membiarkan orang sekarat, lekas dia memburu maju memapahnya, maklum isteri orang pernah menyerempet bahaya berusaha menolong jiwanya, akibatnya jiwa sendiri melayang perCuma.

Pakkiong Yau-Liong juga maklum taraf kepandaian Siangkoan ceng sudah mendapat warisan kepandaian ayahnya, sementara waktu masih Cukup kuat menghadapi Ni Ping-ji, maka dia merasa perlu memberikan pertolongan lebih dulu kepada laki-laki she Go..

Tiba-tiba laki-laki she Go mengejang lalu meronta sekuatnya, darah segar menyembur pula dari mulutnya. Mukanya pucat berkerut-kerut, napasnya mendesau dan tinggal satu-satu, Pakkiong Yau Liong tahu jiwanya takkan tertolong lagi, maka dia memapah serta menggoncang tubuhnya perlahan seraya memanggil "Go-heng Go heng "

Terbeliak biji mata orang she Go pandangannya buram mengawasi Pakkiong Yau-Liong, bibirnya gemetar, suaranya lirih terputus-putus. "Aku.... aku sudah tidak kuat lagi.....semoga kau..... kau pandang..... isteriku, tolong balaskan sakit    hati kami." darah

kembali menyembur dari mulutnya, setelah berkelejetan pula beberapa kali, napasnya putus.

Bukan kepalang sedih dan pilu Pakkiong Yau Liong, pelan-pelan dia angkat telapak tangannya mengusap muka orang yang sudah meninggal sehingga bola matanya yang terbelalak terpejam, katanya rawan: "Tenteramlah kalian dialam baka. Aku bersumpah akan menuntut balas bagi kalian."

Lalu dia turunkanjenazah yang dipapahnya dan dibaringkan lurus diatas tanah, sambil menggerung gusar dia melejit ketengah arena, di mana Siangkoan ceng tengah mencecar Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji dengan pedangnya.

Melihat Pakkiong Yau-Liong menubruk datang, lekas Ni Ping-ji berkelebat mundur setombak.jengeknya dingin: "Ha, satu orang mana mampu melawanku, kalian boleh maju bersama. Hm, umpama tambah dua lagi juga akan sia-sia, mengantar kematian saja."

Hampir meledak rasanya dada Pakkiong Yau-Liong saking gusar, mendengar ejekan Ni Ping-ji, saking marah dia malah tertawa besar, bentaknya bengis: "orang she Ni, kematian didepan mata masih berani kau besar mulut" lalu dia menoleh pada Siangkoan ceng. "Kau minggir saja, saksikan bagaimana aku membereskan dia"

Siangkoan ceng dengan sebilah pedang mestikanya sudah melabrak Ni Ping-ji puluhan jurus, bukan saja tidak mampu melukai lawan, ujung baju orang pun tidak kuasa disen tuhnya, beberapa kali malah dia terdesak dan hampir saja dicakar dan dijamah, dia tahu kepandaian sendiri terpaut jauh dibanding lawan, maka dia manggut lantas mundur kesamping.

Pakkiong Yau-Liong tidak banyak bicara lagi, sambil membentak secepat kilat dia menubruk kearah Ni Ping-ji, pergelangan tangan berputar dia lancarkan jurus Yam-jiu-jiu-yau-loh (angin musim semi merontokkan daon, lima jarinya bagai cakar dilandasi tenaga kuat yang tak terlukiskan dahsyatnya mencakar ke muka Ni Ping-ji. Betapa cepat dan besar tenaga yang digunakan, betul-betul membuat Ni Ping ji kaget setengah mati, bekal Lwekang Pakkiong Yau-Liong sekarang memang jauh lebih tangguh di banding beberapa bulan yang lalu waktu lawannya ini menjadi bulan- bulanannya.

Meski-kaget Ni Ping-ji masih mampu mengimbangi kecepatan lawan, namun gerakannya seperti dipaksakan baru berhaSil menghindar dari cakaran Pakkiong Yau-Liong, Sebat sekali tangan kanannya bekerja dengan jurus Ban-toh-jun-hoa (selaksa bunga musim semi), dia kerahkan sembilan puluh prosen tenaganya balas menepuk ke dada Pakkiong Yau Liong.

Pakkiong Yau Liong mendengus rendah, telapak tangannya terbalik naik seperti orang bercermin, dia gunakan jurus Thian-kiat- siat-joh-he (naik kuda pelesir dijalan raya), gerakannya membawa deru angin dahsyat menangkis telapak tangan Ni Ping ji yang menyerang datang.

Menghadapi pukulan Pakkiong Yau-Liong yang dilandasi kekuatan raksasa, mana berani Ni Ping-ji menangkis, lekas-dia tarik serangannya serta menggeser langkah, cukup tangkas juga dia menyingkir.

Walau kaget dan heran menghadapi kemajuan ilmu Pakkiong Yau-Liong, namun dia yakin bahwa Lwekangnya masih setingkat lebih tinggi dari lawan mudanya, pengalaman tempurnya lebih membesarkan keyakinannya pula bahwa dirinya masih mampu merobohkan musuh yang satu ini.

Diwaktu berkelit itulah tangan kanannya menggunakan jurus Pek-hoa-Siok-ih (seratus kembang mandi air hujan) tangan kiri menggunakan tipu Ban-ce-jun-yan (kabut musim semi memenuhi sumur) dua jurus dikombinasikan untuk menyerang secara beruntun. Tampak bayangan telapak tangannya bertaburan membawa deru angin tajam laksana gugur gunung melanda kearah Pakkiong Yau-Liong. Pakkiong Yau-Liong menggereget, melihat sepasang tangan lawan menyerang datsng, mendadak dia miringkan badan, sebelah telapak tangannya menepuk. bukan saja gerakan tubuhnya tangkas langkah kakinyapun sebat luar biasa, tempo yang diperhitungkan juga tepat, demikian pula tenaga yang disalurkanpun amat besar, sungguh sukar dilukiskan betapa lihay serangan balasannya.

Saking kaget berobah air muka Ni Ping-ji, sebisanya dia menarik diri ke belakang, di waktu angin pukulan Pakkiong Yau-Liong menerpa mukanya, mendadak dia menjatuhkan diri ke belakang lalu menggelinding setombakjauh nya, begitu melentik berdiri pula diam- diam hatinya mencelos dan berucap syukur daIam hati.

Untung dia bisa melihat gelagat dan bertindak cepat, namun gerakannya juga cukup runyam meski berhasil lolos dari serangan maut Pakkiong Yau-Liong, tak urung rambut kepalanya yang tak seberapa tersapu rontok oleh angin tajam pukulan lawan, kepala yang sudah botak menjadi gundul kelimis.

Dibawah tatapan mata Pakkiong Yau-Liong yang membiru tajam, keringat dingin terasa melengket pakaiannya, Ni Ping-ji tahu untuk lari jelas tidak mungkin, terpaksa dia harus adu jiwa dengan Pakkiong Yau-Liong dengan segala kemampuannya.

Pelan-pelan dia mengeluarkan senjata tunggalnya dari dalam lengan bajunya, yaitu Kau-hun-ling-ki (bendera pencabut sukma), tangan terangkat dan bergetar, panji kecil segitiga itu tampak berkibar, di tengah gerungan gusar, mendadak dia menjejak kaki, tubuhnya melenting tiga tombak tingginya ditengah udara betsalto sekali, dengan kaki diatas kepala dibawah dia menukik turun menubruk kearah Pakkiong Yau-Liong.

Kau-hun-ling ki warna hitam ditangannya membawa larikan hitam dengan suara melengking tajam menggulung kepala Pakkiong Yau-liong.

Tidak kepalang tanggung Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji sudah mengembangkan ilmu Kau-hun-coat-sek kebanggaannya yang jarang dikeluarkannya, dengan jurus Yam bi-bikjiu (asap membius pohon) dia bertekad adu jiwa dengan Pakkiong Yau-Liong.

Tidak berkelit atau menyingkir Pakkiong Yau-Liong malah melompat keatas memapak di udara, begitu tangan terangkat dia gunakan Jun-liu-siu-boh-ju (guntur musim semi menyamber saka), kembali lima jarinya berkembang bagai cakar mengeluarkan jalur- jalur angin tajam, secara berani dia mencengkeram kegagang Kou- hun-ling ki Ni Ping-ji.

Melihat Pakkiong Yau-Liong berani melawan bahaya, memapak serangannya yang ganas ini dengan serangan balasan secepat kilat, tak kepalang kagetnya hati Ni Ping-ji, rona mukanya berobah seketika.

Dalam kelangsungan secepat kilat ini, untuk menarik diri sudah tidak sempat lagi bagi Ni Ping-ji, mendadak terasa pergelangan tangannya kesakitan, ternyata Kou-hun-Ing-ki telah terampas oleh Pakkiong Yau-Liong.

Walau kaget dan heran serta tidak habis mengerti mengapa selang beberapa bulan ini kepandaian silat Pakkiong Yau Liong bisa tambah maju selihay ini, tapi dalam waktu sesingkat ini mana sempat otaknya bekerja, hanya "LARI" itu saja yang sempat terekam didalam benaknya, Begitu kaki menyentuh tanah, sehat sekali tubuhnya sudah berkelebat menerobos jauh kesana terus angkat langkah seribu.

"Berhenti orang she Ni " hardik Pakkiong Yau Liong dengan nada dingin-Gema bentakannya seperti menjulang keangkasa, namun dinginnya seperti datang dari jurang bersalju.

Ni Ping-ji sampai bergidik ngeri, entah kenapa dalam waktu sesingkat ini otaknya seperti beku, Sesaat dia berdiri terbelalak oleh bentakan Pakkiong Yau-Liong yang berwibawa.

Pakkiong Yau-Liong maju beberapa langkah, desisnya sambil menatap Ni Ping-ji: "orang she Ni, kau hanya pikir melarikan diri, memangnya gaman mestikamu ini tidak kau hiraukan lagi. Sambutlah" Dibarengi bentakannya tangan kanan mengipat, bayangan hitam lantas menyambar, dengan mengeluarkan suara mendebet panji hitam cilik itu melesat memecah udara meluncur kearah lambung Ni Ping-ji.

Setelah merasa disambar angin kencang baru Ni Ping-ji tersentak sadar, namun untuk berkelit sudah terlambat.

"Bles" gagang panji panjang satu kaki itu ternyata amblas seluruhnya menembus lambungnya. “Huuaaaa." pendek mulut Ni Ping-ji memekik rendah, kedua tangannya memegang panji yang menusuk perut, badannya bergetar keras, darah mulai membasahi kedua tangannya. Bola matanya melotot sebesar jengkol, kulit mukanya merah membara seperti rempelo, keringat berketes-ketes.

“Huaaiiit." sekuat tenaga mendadak dia mencabut sendiri gagang panji yang menusuk perutnya, da rah menyembur, gagang panji berlepotan darah diangkat didepan mukanya, usus kedodoran, betapa serem dan mengerikan, Pakkiong Yau-Liong sampai melengos tidak tega menyaksikannya .

Bola mata Ni Ping-ji yang melotot itu memancarkan sinar buas, mendadak dia menjejak kaki, menerjang maju seraya memekik panjang, suaranya serak dan parau, meskipun sudah sekarat dia masih tetap menerjang ke arah Pakkiong Yau-Liong.

Tapi hanya lima langkah dia menerjang kedepan, "Bluk" badannya tersungkur mencium tanah, Kedua tangannya menekan perut, kedua kakinya mancal-mancal, agaknya rasa sakit amat menyiksanya.

Pakkiong Yau-Liong menyeringai dingin, segera dia menghampiri Siangkoan ceng yang berdiri melenggong.

Dengan tatapan minta belas kasihan masih kuat Ni Ping-ji bersuara: "Manusia dilahirkan sebagai mahluk yang kenal belas kasihan, apa kau tega melihat keadaanku yang sudah sekarat ini, mati tidak hidup, pun sukar, aku harus meronta-ronta dalam siksa derita seperti ini? Kumohon kepadamu, mohon tamatkan saja jiwaku selekasnya" suaranya makin lemah dan betul-betul amat mengenaskan.

Pakkiong Yau-Liong sudah menghentikan langkah, tapi bayangan masa lalu dikala dirinya disiksa diluar perikemanusiaan dulu menimbulkan rasa dendam yang tidak terperikan.

Dengan menyeringai dia tatap Ni Ping-ji, desisnya: "orang she Ni, tentu kau tidak pernah memikirkan nasibmu bakal seburuk hari ini bukan? Hm, bayangkanlah betapa kejam kau menyiksa aku dulu, maka sekarang boleh kau nikmati sendiri betapi besar dosa-dosa perbuatanmu masa lalu, inilah yang di namakan hukum karma." tanpa perdulikan jerit rintih Ni Ping-ji yang meregang jiwa dia melangkah pergi.

Selama hidup Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji memang sudah keliwat takaran berbuat kejahatan, betapa banyak jiwa orang terenggut di tangannya, akhirnya dia mati juga oleh senjatanya sendiri yang peranti buat mengganas dulu, cukup lama dia harus berguling- guling menahan sakit, merintih-rintih sesambatan menyesali dosa- dosanya sampai kehabisan tenaga dan darah baru jiwanya melayang, mati tanpa kubur.

Sinar surya yang hangat menyemarakkan cuaca pagi nan cerah dan segar, burung berkicau dan menari dipucuk pohon, selepas mata memandang alam permai menghijau, alam semesta diliputi kehidupan damai tentram.

Dibawah beberapa pucuk pohon raksasa tua, Pakkiong Yau-Liong duduk berendeng dengan Siangkoan ceng, mereka sedang makan rangsum yang dibawa Siangkoan ceng. Gadis jelita ini makan dengan lahap. sebaliknya Pakkiong Yau-Liong sukar menelan apapun yang dikunyahnya.

Bayangan Toh-bing-sik-mo menggejolak perasaannya, keinginan membalas dendam merasuk sanubarinya, lebih penting lagi merebut Pedang Kayu cendana antuk menolong Tio Swat-in-Namun daerah liar penuh hutan belantara seluas ini, sukar berkomunikasi dengan penduduk setempat lagi, bagaimana mungkin dia bisa cepat menemukan Toh-bing-sikmo yang bersenjatakan panah merah dan berambut merah pula?

"Liong-koko." tiba-tiba Siangkoan ceng menatap lebar pada Pakkiong Yau-Liong. "Kenapa kau tidak makan? "

Mengawasi Siangkoan ceng yang memperhatikan dirinya, Pakkiong Yau-Liong tertawa tawa, katanya perlahan-"Aku tidak ingin makan, perutku tidak lapar."

Siangkoan ceng menarik muka, katanya "Sudah saatnya kenapa tidak makan, aku tak perCaya kau tidak lapar, baiklah biar kusuapi kau." tiba-tiba direbutnya makanan di tangan Pakkiong Yau-Liong, menggeser pantat terus duduk dipaha Pakkiong Yau-Liong.

Karuan Pakkiong Yau-Liong keripuhan, serunya sambil goyang tangan: "siau ceng, jangan nakal. Aku toh bukan anak kecil, slapa suruh kau menyuapi aku, duduklah sendiri, biar aku makan sendiri."

Tapi Siangkoan ceng membandel, katanya: "Kenapa? Kau malu? Waktu kau sakit dan merawat luka di rumahku, bukankah sering aku menyuapi kau, sekarang sudah tidak sakit, lalu tidak membutuhkan tenagaku lagi bukan? Baiklah kau makan sendiri."

Pakkiong Yau-Liong buka mulut mau bicara, tiba-tiba Siangkoan ceng menjejalkan makanan yang dipegangnya kedalam mulut Pak kiong Yau-Liong. Lekas Pakkiong Yau-Liong merogoh keluar makanan kering dalam mulutnya serta geleng-geleng, katanya tertawa:

"Siau-ceng, baiklah kau duduklah sendiri, aku akan makan- Sudahlah."

Siang koan ceng tetap merengek aleman katanya: "Tidak. biar aku duduk disini, lebih enak dan nyaman."

Pakkiong Yau-Liong tertawa getir, katanya mengawasi Siang koan ceng: "Siau-ceng, anak perawan sebesar dirimu tidak baik duduk diatas paha seorang laki-laki, bila dilihat orang tentu malu dan mungkin akan menjelekkan nama baikmu." Siang koan ceng malah bertolak pinggang katanya jenaka: "Biarlah mereka bicara iseng, menjelekkan namaku juga persetan, yang terang kau tak berbuat tidak senonoh, kita tak melakukan perbuatan yang memalukan-Apalagi di tengah hutan belantara, kecuali kau dan aku, mana mungkin ada..."

Mendadak Pakkiong Yau Liong mendorong Siang koan ceng seraya berseru gugup, "Siau-ceng ada orang datang."

Terpaksa Siang koan ceng duduk diatas batu, matanya terbeliak Celingukan, mana ada bayangan orang, maka dia mengepal tinju serta mengancam: "Bagus ya, kau pandai ngapusi orang, ayo bilang apa hukumanmu."

Tanpa bicara Pakkiong Yau-liong menuding kebelakang Siangkoan ceng dengan tertawa. Lekas Siangkoan ceng menoleh kebelakang, Pakkiong Yau liong berbangkit dari duduknya, tampak dua bayangan orang meluncur datang dan hinggap didepan mereka, karuan Siangkoan ceng berjingkrak kegirangan, teriaknya: "Ayah, ibu, kalian juga datang."

Kedua pendatang ini bukan lain adalah tabib pendekar Siangkoan Bu dan ibu Siangkoan ceng, yaitu Tok-liong-sian-li.

Siangkoan Bu menuding Siangkoan ceng sambil mengomel. "Kau bocah binal ini memang nakal, seorang diri berani minggat menempuh perjalanan jauh dengan hanya sedikit sangu, aku sudah menduga kau pasti menyusul kemari, untung sepanjang jalan kau tidak ditipu orang. Sekarang melihat kau sudah bertemu dengan Yau-liong Kokomu dan Cicimu Swat-in." mendadak tidak melihat Tio Swat-in, Siangkoan Bu bertanya heran, lalu tanya-nya: "ceng-ji, dimana Cici swat-in? "

Maka Siangkoan ceng lalu menuturkan apa yang dia tahu dari keterangan Pakkiong Yau-liong menjelaskan kepada ayahnya.

Mendengar Tio Swat-in keracunan, Tok liong-sian-li mengerut kening, katanya. "Ada kejadian begitu, apa benar hawa racun itu begitu lihay, kecuali Ya-kong-ci dan Pedang Kayu cendana tidak mungkin terobati? " Siangkoan Bu sitabib sakti manggut, katanya : "Kukira benar, kalau tidak buat apa jauh-jauh Toh-bing-sik-mo meluruk datang ke Tionggoan dan mengganas untuk merebut Pedang Kayu cendana itu? " lalu dia berpaling kepada Pakkiong Yau liong kemudian bertanya "Mungkin Hian-tit sudah berhasil mencari tahu kabar tentang Toh-bing-sik-mo? "

Pakkiong Yau-liong memandang Siangkoan Bu sekilas, lalu menunduk sambil menghela napas, lalu menggelengkan kepala.

"Ooo." ujar Siangkoan Bu sambil tertawa. "Kukira ini bukan kebetulan, tapi banyak kejadian di dunia ini memang sering kebetulan-"

Mendadak Pakkiong Yau liong angkat kepalanya, tanyanya: "Lopek, maksudmu kau sudah tahu tempat tinggal Toh-bing-sik-mo? "

Siangkoan Bu mengangguk. katanya: "Dulu waktu muda mengembara sambil menjual obat, beberapa kali aku pernah kelayapan di-Biau-kiang ini, maka aku bisa sedikit bahasa Biau, Sepanjang jalan ini aku mencari tahu jejak ceng-ji serta kabar Toh- bing sik-mo yang menggunakan gendewa dan panah merah, siapa tahu jejak ceng ji tidak kutemukan, dari mulut seseorang malah kudengar tentang Tok-bing-sik-mo."

Sejenak Siangkoan Bu ganti napas kemudian melanjutkan bicaranya: "Konon seorang lakl-laki yang membawa gendewa dan panah merah sering mondar-mandir didaerah ini, maka sengaja kami menuju kesini. Kupikir bila diam2 kami tidak berhasil menemukan ceng-ji, paling juga pasti dapat bertemu dengan kalian, kami sudah putar kayun sehari semalam, syukurlah akhirnya kutemukan kau dan ceng-ji, tadi aku kira kau sudah tahu bahwa Toh bing-sik-mo berada disekitar sini"

Siangkoan ceng berjingkrak girang mendengar keterangan ayahnya, katanya. "Kalau tahu Toh bing sik-mo berada disekitar sini, kenapa tidak lekas kita cari tempat tinggalnya? " Siangkoan Bu tertawa, katanya. "Untuk mencapai tujuan kita perlu punya tekad dan kesabaran, teguh tak kenal lelah dan pantang mundur, kira-kira tiga li dari sini kami sudah menemukan sebuah gua yang terang dan bersih, disana sudah kami siapkan rangsum dan air minum, kupikir marilah kita pulang ke gua itu istirahat sekedarnya baru kita jelajahi daerah sekitarnya, andaikata Toh-bing-sik mo betul berada di daerah ini, aku yakin kita pasti dapat menemukan dia. Hian-tit, bagaimanakah pendapatmu? "

Pakkiong Yau-liong menjura pada Siangkoan Bu, katanya: "Pendapat Lopek memang betul, marilah kita berangkat."

Maka berempat mereka putar balik kearah datangnya semula menuju kegua yang di maksud Siangkoan Bu, sambil jalan mereka bicara panjang lebar, dan berkelakar, jarak tiga li lekas sekali telah dicapai.

Mendadak Pakkiong Yau-liong memberi tanda ulapan tangan sambil mendesis lirih. "Didepan adi orang, kalau tidak salah ada dua orang, atau paling banyak tiga orang."

Siangkoan ceng sudah tahu dan menyaksikan sendiri betapa tinggi dan tangguh kepandaian Pakkiong Yau-liong sekarang, maka di-samping kagum dia pun tunduk lahir batin, tapi Siangkoan Bu dan Tok-liong-sianli agak sangsi dan curiga, terutama Siangkoan Bu, sebagai kawakan di Kangouw, walau Kungfunya setingkat dibawah guru Pakkiong Yau-liong, tapi Pakkiong Yau-liong...

Tapi hanya sekejap rasa sangsinya lenyap. diam-diam dia amat kagum dan memuji kepada pemuda ini, karena sekarang diapun sudah mendengar langkah orang, malah lekas sekali terlihat olehnya dalam jarak delapan puluhan tombak didepan tampak dua bayangan orang berlari mendatangi Pakkiong Yau-liong berkata pula: "Kedua orang ini memanggul dua buntalan besar pasti orang Biau yang bertempat tinggal tak jauh dari sini, Lopek paham bahasa Biau tolong kau mencari tahu kepada mereka, mungkin bisa menghasilkan sesuatu yang kita harapkan." Siangkoan Bu mengangguk. katanya: "Hian-tit memang lihay sekarang, bukan saja kuping dan matamu luar biasa, Kungfumu sekatang juga sudah berlipat ganda, daya pikirmu amat cermat pula, sungguh patut dipuji."

Lekas sekali kedua orang Biau yang memanggul buntalan gede itu sudah makin dekat, kedua orang ini berjalan beriringan satu didepan yang lain di belakang, laki-laki yang dibelakang ternyata memiliki tenaga raksasa, seorang diri ternyata mampu menggendong tiga buntalan besar seperti yang digendong laki-laki didepannya, bukan saja napasnya tak terengah, langkahnya ternyata masih tegap dan tidak lelah sedikitpun, bagi seorang ahli, selintas pandang akan tahu bahwa laki-laki Biau ini pasti pernah meyakinkan ilmu silat.

Diwaktu Siangkoan Bu meluncurkan tubuhnya ke depan dan turun didepan mereka, sebat sekali Pakkiong Yau-liong juga melambungkan tubuhnya keatas meluncur ke arah laki-laki Biau yang melarikan diri.

Belum lagi tubuhnya menyentuh tanah, tangan Pakkiong Yau- liong sudah menjulur dan menangkap orang Biau yang berusaha melarikan diri, begitu kaki menginjak tanah, sebat sekali dia sudah membalik badan, tangannya menjinjing orang Biau yang bertubuh kekar seperti elang mencakar anak ayam saja lagaknya, enteng seperti membawa kapas. Tangkas sekali begitu badannya bergerak dia sudah meluncur turun didepan mereka bertiga.

Pakkiong Yau-liong membanting orang Biau tawanannya ketanah terus menjura kepada Siangkoan Bu: "Lopek. Siau tit sudah bekuk orang Biau ini, gelagatnya dia punya hubungan dengan Toh bing sik-mo, bukan mustahil malah muridnya, tolong Lopek tanyakan kepadanya."

Siangkoan Bu tertawa gelak-gelak. katanya: "Hian-tit memang hebat, mungkin kepandaian gurumu Biau-hu Suseng juga begitu pula. Siangkoan Bu hari ini benar-benar terbuka matanya." Tersipu-sipu Pakkiong Yau liong merendahkan diri, Siangkoan Bu tertawa lebar, katanya: "Pendapat Hian-tit memang kurasa tidak salah, orang ini pasti punya hubungan kental dengan Toh-bing-sik- mo, orang Biau yang satu tadi bilang, dia memang diminta bantuannya untuk membawakan rangsum dan keperluan sehari-hari ketempat cui-hun-jik-cin yang menggunakan gendewa dan panah merah, bila kami punya urusan boleh ikut dia kesana, tapi sebelum dia sempat memberikan penjelasan lebih lanjut, bocah ini ternyata telah menabok kepalanya hinggi remuk dan binasa seketika."

Kini orang Biau yang tadi melarikan diri tidak mampu lari lagi, hakikatnya dia sendiri bingung bagaimana tahu-tahu dirinya bisa tertawan dan tidak mampu bergerak lagi, dia insyaf mau lari jelas tidak mungkin lagi.

Siangkoan Bu sudah mengajaknya bicara, panjang lebar dengan bahasa Biau, tetapi dia duduk diam ditanah sambil melotot gusar kepada Siangkoan Bu, melihat sikapnya jelas bahwa usaha Siangkoan Bu sia-sia, orang tidak mau memberikan penjelasan sepatah kata pun.

Maka Siangkoan Bu berkata dengan tertawa: "Bocah ini keras tulangnya, dia menantang mau sembeleh atau menusuknya mampus silahkan, jangan harap dia mau memberi keterangan-" demikian Siangkoan Bu menjelaskan, lalu dia berjongkok dan ajak bicara pula dengan ramah dan kalem.

Tetapi orang Biau ini membisu seribu basa, bagaimana juga Siangkoan Bu membujuknya sampai ludahnya kering, dia tetap tidak mau bicara lagi.

Akhirnya hilanglah kesabaran Siangkoan ceng, dampratnya gusar: "orang buruk, agaknya dia minta disiksa biar tahu kelihayan kami baru mau bicara." sambil bicara Siangkoan ceng sudah maju menghampiri.

Agaknya orang Biau itu tahu apa yang akan dilakukan oleh Siangkoan ceng, seketika dia mendelik buas, dia tahu hari ini dirinya bakal mengalami nasib jelek, bahwa dirinya akan disiksa, lebih baik mengadu jiwa saja.

Sambil menggerung murka mendadak dia berjingkrak berdiri tangan kanannya lantas bergerak dengan jurus Ih-sing-hoan-gwat (bintang pindah rembulan berputar), Cukup kuat juga serangannya hingga gerak tangannya menimbulkan deru angin, langsung menampar ke muka Siangkoan ceng.

Siangkoan ceng tidak pernah menduga lawan berani menyerangnya malah, jarak kedua orang cukup dekat lagi, saking kagetnya lekas Siangkoan ceng menurunkan tubuh terus melompat mundur, untung masih sempat dia meluputkan diri dari tamparan orang, saking kaget keringat dingin membasahi wajahnya.

Saking gusar Siangkoan ceng tidak ayal lagi, di tengah hardikan nyaring kedua telapak tangan naik turun terus disorong lurus ke depan dengan jurus Jui-su-tam-ham (lengan baju menahan hawa dingin), bayangan telapak tangannya membawa deru angin kencang balas menyerang, gerakannya Cepat dan tepat pula.

Orang Biau itu juga nekad dan mengadu jiwa, tanpa hiraukan serangan telak Siangkoan ceng, sekaligus dia robah gerakannya dengan jay-hong-jip-ce (pelangi masuk sumur), tubuhnya miring menurunkan pergelangan tangan menepuk kebatok kepala Siangkoan ceng.

Tanpa menghiraukan keselamatan jiwa sendiri, melawan dengan jurus serangan mematikan untuk gugur bersama, sudah tentu Slang koan ceng tersirap darahnya, dalam keadaan mendesak ini jalan satu satunya memang gugur bersama^

Dalam keadaan gawat dan kritis itulah, mau tidak mau Siangkoan Bu dan Tok-liong-siao-li menjerit panik mengkhawatirkan keselamatan putrinya, tapi mereka tahu dengan bekal kepandaian mereka sekarang, meski berusaha menolong juga sudah terlambat.

-ooo0dw0ooo-