Pedang Kayu Cendana Jilid 09

Jilid 09

PEKIK suara katak puru makin keras dan gencar, tubuhnya tiba- tiba mengendap turun secara tepat menghindar dari tusukan tombak Pakkiong Yau-Liong yang ganas, sementara ekornya yang setengah kaki itu tiba-tiba mengipat.

"Trang" entah bagaimana tahu-tahu pedang Tio Swat-in kena ditangkisnya terpental kepinggir.

Disamping kaget Tio Swat-in batu insyaf pula bahwa katak puru ini ternyata lihay, ekornya tidak mempan senjata tajam pula, tenaga kipasan ekornya ternyata mampu menangkis pedangnya hingga hampir dia tidak kuat memegang senjatanya pula.

Bahwa tusukan tombaknya luput, diam-diam Pakkiong Yau-Liong juga kaget, sungguh tak diduganya bahwa binatang yang kelihatan bergerak lamban ini ternyata bisa bergerak setangkas ini, kalau ekornya tidak mempan senjata, maka kulit badannya yang benjol- benjol kehijauan itu mungkin juga kebal.

Hanya segebrak saja Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in lantas insyaf bahwa binatang dengan bentuk aneh dan ganjil ini teramat sukar dihadapi. Sekali kurang hati- hati, bukan mustahil awak sendiri bisa celaka dan melayang jiwanya.

Karena menubruk tempat kosong, katak puru mengeluarkan suara semakin keras dan membisingkan, begitu menyentuh tanah, ke enam kakinya ternyata bergerak lincah dan mencelat membalik tubuh, langsung menubruk pula kearah Tio Swat-in-

Kembali Tio Swat-in menyingkir seraya menggerakkan pergelangan tangan, dimana sinar dingin berkelebat, pedangnya telah membelah pula kearah katak puru yang menubruk datang.

Dikala pedangnya berputar itu, benaknya berpikir: "Kelihatannya binatang ini tak mempan senjata, lalu kesasaran mana pedangku harus kutujukan ?"

Karena sedikit bimbang ini gerak-gerik sedikit merandek. Hanya terpaut sedetik saja, katakpum itupun sudah menubruk tiba dengan bau amis yang memualkan merangsang hidung, ekornya tegak kaku terus menyapu ke arah Tio Swat-in-

Gerak perobahan katak puru kali ini ternyata lebih cepat dan tangkas, serangannyapun terlalu mendadak dan sukar diduga pula, betapapun Tio Swat-in tidak menyangka bahwa binatang aneh ini masih mampu merobah gerakan balas menyerang pula. Dalam detik-detik kritis ini, jelas Tio Swat-in takkan mampu menyelamatkan diri dari sabetan ekor katak puru.

Sudah tentu hal ini sangat mengejutkan Pakkiong YauLiong, mendadak dia gerakkan tombaknya terus menusuk sekuatnya kearah katak puru.

Dia pikir dengan tenaga tusukan tombak nya paling tidak dapat mendorong mundur binatang aneh yang masih terapung diudara, sehingga Tio Swat- in punya kesempatan meluputkan diri dari sabetan ekor lawan-

Lwekang sudah dikerahkan sehingga tombak lemasnya itu tegak lurus menusuk kedepan, sekilas dilihatnya bola mata tunggal yang mencorong merah itu, tergerak hatinya, kalau sekujur badannya kebal senjata, maka bola mata sebesar tinju itu pasti tempat paling lemah yang mematikan-

Kontan dia menekan tangan sehingga ujung tombaknya berputar mengincar bola mata katak puru, serangan secepat kilat. Gerak serangan yang berobah secepat kilat serta mendadak ini sungguh lihay dan mengejutkan-

Agaknya katak puru juga insyaf bahwa lawan telah tahu letak kelemahannya, tiba-tiba dia mengkeretkan kepala, tak sempat menyerang orang dengan gugup dia membalikkan badan terus mencelat mundur.

Tapi daya tusukan tombak Pakkiong Yau-li-oog keras dan cepat, "Trak" tombaknya masih sempat menusuk batok kepalanya, walau tidak melukai, tetapi tenaga tusukan yang besar berhasil melempar katak puru itu jatuh setombakjauhnya. "Blang" badannya jatuh terbalik dengan perut meghadap kelangit.

Tapi sigap sekali katak puru telah mencelat berdiri pula diatas kakinya, sorot matanya kelihatan gusar menatap Pakkiong YauLiong, mulutnya menjerit pula dengan suaranya yang membisingkan, seolah-olah menantang dan ingin adu jiwa dengan Pakkiong Yau-li-ong.

Tapi katak puru juga tahu bahwa kedua orang lawannya ini tidak mudah dirobohkan, titik kelemahan sendiri juga telah diketahui lawan, meski mulut terus berceloteh dan lidah merahnya masih mulur masuk. kini dia mulai menyemburkan hawa putih, kedua kaki depannya terangkat seperti mencakar-cakar, namun tidak berani bertindak gegabah pula.

Setelah disergap dua kali oleh katak puru, Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in insyaf bahwa binatang berbisa ini sukar dihadapi, sedikit meleng bisa celaka akibatnya, terutama Tio Swat-in, di samping jijik hatinya pun merasa takut, maka dia tidak berani lena.

Diam tak bergerak mereka bersiaga serta mencari akal cara bagaimana mengalahkan binatang berbisa ini. Tanpa bersuara akhirnya dua orang dan satu binatang berhadapan saling pandang dan menunggu kesempatan untuk membinasakan lawannya.

Satu hal yang tidak menguntungkan Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in, setiap kali angin menghembus datang, selalu membawa bau amis yang memualkan, sehingga menimbulkan rasa tegang yang memuncak.

Sang surya telah mulai terbenam, tabir malam sudah mulai menyelimuti mayapada. Bulan sabit sudah mulai bertengger dipucuk pohon, sehingga kegelapan alam semesta ini menjadi remang remang. Tapi bola mata katak puru ternyata masih mencorong terang.

Benjol-benjol tubuhnya yang berwarna hijau seperti mengandung pospor memancarkan sinar gemerdep hijau, kini mulutnya mulai memekik-mekik pula, suaranya tetap keras bernada tinggi.

Karena bersiaga dengan sepenuh semangat dan perhatiannya, keringat tampak menghias jidat Tio Swat- in, karena terlalu sering mencium bau yang memualkan, lama kelamaan dia merasa kepalanya pusing.

Tapi sedikitpun dia tidak berani lena, tetap bersiaga dan waspada. Demikian pula keadaan Pakkiong Yau-Liong, lambat laun kepalanya juga mulai pusing.

Diam-diam Pakkiong Yau-Liong menghela napas, batinnya: "Sayang kondisiku sekarang jauh lebih lemah, Lwekang juga tidak setangguh dulu, lalu buat apa kami membuang waktu dan banyak menghabiskan tenaga, bila kurang hati-hati bukan mustahil jiwa sendiri yang melayang percuma ? Bila bisa pergi kenapa tidak menghindar saja?" Maka diam-diam Pakkiong Yau-Liong menarik ujung baju Tio Swat- in serta memberi kedipan mata. Sayang Tio Swat in yang tumplek seluruh perhatian mengawasi binatang aneh itu, tidak menyadari atau mengerti apa maksud isyarat Pakkiong Yau-Liong. Apa boleh buat terpaksa Pakkiong Yau- Liong menarik lengannya serta diajak menyurut mundur selangkah demi selangkah.

Akan tetapi katak puru sedikitpun tidak memberi kelonggaran, kalau mereka mundur dia justru maju mendesak, sorot matanya kelihatan berobah lebih aneh dan tajam, suaranya juga lebih keras dan menusuk telinga.

Kini Tio Swat-in sudah sadar apa maksud Pakkiong Yau-Liong, begitu Pakkiong Yau-Liong menghardik lekas dia lantas menjejak kaki sekuatnya, bersama Pakkiong Yau-Liong kedua orang ini mencelat mundur beberapa tombak jauhnya.

Tapi pada waktu yang sama, katak puru juga menggerakkan kepalanya, "Wut" dengan membawa angin amis yang memualkan, seCepat kilat katak puru melesat kearah mereka berdua.

Kali ini katak puru sudah siap dan menghimpun kekuatan sejak tadi, maka daya luncur sungguh Cepat sekali, jauh lebih pesat dari terkaman yang terdahulu. Begitu mendorong pundak Tio Swat-in, tanpa berjanji mereka menCelat berpencar ke kanan kiri.

Ternyata daya luncur katak puru tiba-tiba seperti berhenti ditengah udara, ditengah udara tubuhnya mendadak bisa berputar seperti menari, dengan kepala sebagai titik berat badannya, maka terciptalah sebuah lingkaran bulat warna hijau seluas delapan kaki, deru sambaran anginnya kencang sekali, kekuatannyapun lebih mengejutkan, ekornya yang setengah kaki itu tiba-tiba menyabet pula, laksana gugur gunung saja melanda kearah mereka.

Kembali Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in terperanjat, untung mereka cukup tangkas, tanpa ayal keduanya lantas lompat menghindar pula. Hanya sekejap katak puru ternyata mampu mendesak dan membuat kerepotan dua jago kosen Bulim untuk menghindar dengan gerakan gugup dan pontang-panting, bahwasanya bukan saja terdesak, kesempatan balas menyerangpun tidak mampu lagi.

Akan tetapi serangan berantai katak puru ternyata tidak terhenti sampai disitu saja, luar biasa memang mahluk aneh ini, ditengah udara kembali dia berputar dua lingkaran dengan daya luncur yang tetap kencang, begitu melihat kedua lawan menyingkir pula, bebas dari jangkaUan serangan kabut hitam yang disemburkan dari mulutnya.

Akhirnya habis juga daya luncuran katak puru, tubuhnya berdentam diatas tanah berbatu namun sigap sekali dia sudah membuat ancang-ancang pula sambil berceloteh dengan suara yang membisingkan, sekonyong-konyong ekor pendeknya itu menggelegar menghantam tanah, kontan badannya melenting keatas terus melejit mumbul pula menubruk kearah Tio Swat-in- Baru saja kaki Tio Swat-in menyentuh bumi, suara bising dibelakang mendadak memekak telinga pula, hatinya lantas berfirasat jelek akan keadaan awak sendiri, maka didengarnya suara "Plak" yang nyaring menimbulkan kepulan debu, mahluk aneh itu telah menubruk serong pula kearahnya secepat kilat.

“Hiiiiaaaaat" Tio Swat-in membentak gusar sambil menggetar pergelangan tangan, pedang mestikanya terbalik, dengan tepat dia incar bola mata katak puru, terus menusuknya dengan penuh kebencian.

Serangan pedang Tio Swat-in cepat lagi ganas, namun tubrukan katak puru juga tidak kurang hebatnya, mau tidak mau Tio Swat-in berpikir: "coba kali ini dapatkah kau lolos dari pedangku? "

Tetapi diluar tahunya bahwa kata puru panjang empat kaki ini, meski belum mampu menyemburkan asap melukai lawan, tapi usianya juga sudah mencapai empat ratusan tahun, badannya kebal, gerak-geriknya Cukup tangkas lagi, mana semudah itu dia lukai. Kelihatannya tusukan pedang itu pasti mengenai sasaran, diam- diam Tio Swat-in sudah kegirangan, maka dia salurkan seluruh tenaganya keujung pedang.

Akan tetapi dilain detik detik berbahaya itu, katak puru ternyata dapat menggelengkan kepalanya yang segi empat itu, seCara kebetulan dapat meluputkan matanya dari tusukan pedang Tio Swat-in, semenrara tubuhnya tetap meluncur kedepan tanpa berubah menerjang ke dada Tio Swat-in-Jangan kata dada kena digigit, umpama badan keserempet saja bila sampai keluar darah dalam jangka tiga jam jiwa pasti melayang dan sehari kemudian sekujur badan akan hangus menjadi abu.

Ujung pedang Tio Swat In hanya serambut saja menyelonong lewat dari samping bola mata katak puru, sementara katak puru itu tetap meluncur kearahnya. Karuan saking kaget dan ngeri berobah pucat muka Tio Swat-in, keringat tampak bertetes diatas jidatnya.

Dalam menusukkan pedangnya tadi Tio Swat-in yakin serangannya pasti berhasil maka dia kerahkan seluruh tenaganya, sehingga tubuhnya ikut tersuruk kedepan dan tak mungkin bisa menarik diri pula, celakanya lagi badannya seperti sengaja diserahkan ke mulut katak puru, kontan dia merinding dan ngeri, diam-diam hatinya mengeluh: "celaka.."

Akan tetapi perjuangan hidup tetap bersemi dalam benaknya, hal ini seCara reftek menyentak otaknya sehingga tubuhnya kuasa dimiringkan kepinggir, walau dia tahu betapapun cepat gerakkannya, jelas dirinya tak akan sempat meluputkan diri lagi.

Pada detik-detik gawat itulah mendadak sebuah gerungan gusar menggelegar, tampak dengan mata melotot, rona wajahnya memperlihatkan betapa teguh dan besar keyakinannya, mendadak dia ulur kelima jari tangan kirinya, secepat kilat menangkap ekor katak puru.

Waktu katak puru menggabu ekornya di atas tanah terus melesat kearah Tio Swat-in, ternyata Pakkiong Yau-Liong juga sudah menyelinap maju, Cuma katak puru menyerang Tio Swat-in, badannya kebal lagi, meski gugup Pakkiong Yau-Liong jadi bingung untuk turun tangan-Kini melihat bahaya mengancam jiwa Tio Swat- in, bila dia tidak lekas bertindak, katak puru akan melukai kekasihnya, maka tanpa pikir segera dia tangkap ekor katak puru, kedua kaki pasang kuda-kuda terus membetot sekuat-kuatnya.

Betapa besar betotan Pakkiong Yau-Liong tenaga yang dikerahkan mampu menarik benda ribuan kati, sehingga katak puru yang menerjang kearah Tio Swat-lot terapung di udara dan kena ditariknya mundur beberapa kaki, sementara sigap sekali Tio Swat- in sudah berhasil kebelakang satu tombak lebih.

Bahwa serangannya tsk berhasil tahu-tahu ekornya, dipegang oleh Pakkiong Yau Liong, di kala tubuhnya terbetot mundur dan masih terapung di atas udara itu, mulutnya menjerit-jerit pula sambil berontak menekuk dan meluruskan tubuhnya, agaknya tindakan Pakkiong Yau-Liong telah membakar sifat liarnya.

Terasa goncangan besar menggetar seluruh lengan Pakkiong Yau-Liong hampir tidak kuasa dia memegang kencang ekor binatang beracun itu.

Mendadak katak puru meliuk badan serta melintir balik ke atas, mulutnya mencaplok ketangan Pakkiong Yau-Liong yang memegang ekornya.

Karuan Pakkiong Yau-Liong kaget, betapapun dia tidak kira bahwa mahluk aneh ini bisa meronta sedemikian rupa, dalam keadaan serba susah ini, betapapun sebetulnya Pakkiong Yau-Liong tidak akan membebaskan pegangan, maka dia menghentak tombak lemasnya menusuk kebola mata katak puru yang menyalip.

Semua ini terjadi dan berlangsung dikala Tio Swat-in kebelakang dan berhasil menguasai dirinya pula. Mulutnya terlongo, bola matanya yang jeli bening terbelalak namun memancarkan sinar buram dan kuatir. Pedang masih dipegang, namun sekujur badan terasa dingin dan kuyup oleh kering sesaat dia berdiri mematung.

Sungguh tak terpikir olehnya bahwa situasi bisa berobah segawat ini, bukan saja katak puru tidak mempan senjata, ternyata mampu meronta dan balas menggigit, dalam keadaan tidak menguntungkan ini, jelas Pakkiong Yau-Liong bakal d rugikan.

Namun kecuali melenggong dan gugup setengah mati, dalam waktu sesingkat ini, apa pula yang bisa dia lakukan? Jangan kata tak mungkin membantu, otaknya juga seperti beku tak mampu mencari akal untuk mengatasi situasi yang gawat ini, padahal dia berdiri dalam jarak setombak. mampu berbuat apa dirinya...?

Dalam detik-detik yang akan menentukan aku mati atau kau yang mampus itulah. Kalau tidak berada dalam keadaan kepepet betapapun katak puru tidak boleh disentuh atau di tabrak.

Tampak kepalanya seperti memagut naik, mumpung Pakkiong Yau-Liong masih pegang ekornya, dan dijinjing keatas, mendadak tubuhnya membalik.

Sejak disiksa dan diperlakukan sebagai binatang oleh Tok-ni-kau- hun Ni Ping-ji dalam penjara batu itu, kondisi badan Pakkiong Yau- Liong terlalu lemah dan kosong, walau Siangkoan Bu telah menyembuhkan luka-luka Pakkiong Yau-Liong dengan obat-obat mujarab tapi keadaannya sekarang belum sesehat badannya setahun yang lalu.

Getaran katak puru yang meronta karena tergantung di udara terasa menambah berat beban tangannya yang telah kerahkan setaker tenaganya, padahal hampir terlepas pegangannya.

Kini dia harus menusukkan tombak lemasnya pula, berhasil atau tidak serangannya, betapapun telah mengkorting tenaga tangan kirinya.

Maka begitu katak putu meronta dan menyendal, Pakkiong Yau- Liong merasa lengannya tergetar keras, telapak tangannya seketika sakit luar biasa, tahu-tahu katak puru sudah terlepas dari pegangannya dan melesat terbang kesana, ekornya yang kaku panjang setengah kaki tampak berlepotan darah. Dari samping Tio Swat in melihat jelas semua kejadian ini, sebat sekali dia melompat kesamping Pakkiong Yau-Liong, suaranya panik dan gemetar selirih semut:

"Kau...." langsung dia pegang tangan kiri serta memeriksa luka- luka telapak tangannya.

Hanya sekejap Pakkiong Yau-Liong sudah merasa seluruh lengan kirinya kaku, termasuk telapak tangannya kesakitan luar biasa, panas seperti dibakar, rasa gatalpun tak tertahankan lagi. cepat Pakkiong Yau-Liong menarik tangan kirinya menghindar dari pegangan tangan Tio Swat-in yang sudah diulur.

Pakkiong Yau-Liong tahu gelagat teramat buruk bagi dirinya, karena perasaan sakit dan panas ini luar biasa, jelas bukan rasa sakit biasa bila kulit leCet saja. "Racun..." dalam hati dia menjerit, dia insyaf bahwa dirinya telah keracunan-Untunglah dasar Lwekang Pakkiong Yau-Liong cukup tangguh dan berakar, lekas dia menghimpun hawa murni mengerahkan tenaga menutup jalan darah badannya supaya racun tidak menjalar lebih tinggi, katanya sambil mengawasi Tio Swat-in:

"Tidak apa-apa, hanya lecet sedikit. Aku sudah mendapat akal bagaimana menghadapi binatang keparat ini..."

Sudah tentu Tio Swat-in tak percaya perkataan Pakkiong Yau- Liong, namun sebelum Pakkiong Yau-Liong habis bicara, katak puru telah membalik badan terus menggelinding sekali, bagai sebongkah batu saja mendadak menindih turun dari tengah udara

"Minggir Swat-in" seru Pakkiong Yau-Liong, tidak mundur dia malah mendesak maju, tangan kanan terbalik, tombak singanya di ulur lurus sekeras toya, langsung mengepruk keatas katak puru yang menerjang tiba.

"Plak" seperti tongkat memukul batu saja tombak Pakkiong Yau- Liong ternyata mental dan melengkung, tapi katak puru juga terpukul jatuh setombak jauhnya. "Blang" punggung menyentuh tanah, perut menghadap kelangit, beberapa kali dia harus meronta dengan kaki mencakar batu dia berhasil membalikkan badannya.

Begitu berdiri pula pada posisinya semula, katak puru mulai menyemburkan uap putih dari mulutnya, lidahnya kelihatan lebih mengerikan, ekor dan kepalanya bergoyang-goyang, mulutnya mengeluarkan suara ramai yang membising telinga, bola matanya yang menyala-nyala kelihatan lebih galak menatap Pakkiong Yau Liong, sesaat dia tidak bergerak. agaknya sudah jeri menghadapi lawan yang lihay ini.

Pakkiong Yau-Liong tahu bahwa dirinya sudah keracunan, maka dia tidak ingin Tio Swat-in yang masih segar bugar ini ikut celaka bersama dirinya, maka dia bertekad dengan sisa tenaganya sendiri untuk adu jiwa dengan katak puru beracun ini.

Sambil membaling-baling kan tombak lemasnya, Pakkiong Yau- hong tatap katak puru yang juga mendelik gusar itu serta beranjak maju setindak demi setindak. Sambil menjerit katak puru menegakkan keenam kakinya, siap menerkam Pakkiong Yau-Liong menyerang.

Dari pihak yang diserang Pakkiong Yau-Liong nekad balas menyerang, sayang napasnya sudah sengal-sengal, keringat telah membasahi jidatnya.

Bentuk katak puru sekarang juga lebih mengerikan dan mendirikan bulu roma, sinar hijau dan benjol-benjol kulit badannya kelihatan lebih nyata, demikian pula jeritan suaranya menandakan rasa ketegangan yang memuncak.

Pakkiong Yau-Liong terus maju makin dekat, katak puru tetap menggeleng kepala menggoyang ekor. Lebih dekat, napas Pakkiong Yau Liong juga lebih memburu, sementara jerit suara katak puru lebih tajam, bengis dan galak memekak telinga.

Sekonyong-konyong kaki katak puru yarg enam itu bergerak selincah belut memutar datar, secepat roda menggelinding tiba tiba menerjang kedua kaki Pakkiong Yau-Liong. Yang diserang sudah siaga, baru saja tombaknya hendak ditimpukkan, mendadak sebuah pikiran berkelebat dalam benaknya.

Sambil menggerung gusar mendadak Pakkiong Yau-Liong menjejak bumi, tubuhnya melejit beberapa kaki tingginya, katak puru sudah melesat tiba dibawah kakinya, mendadak dia kerahkan tenaga ribuan kati pula secara kekerasan menurunkan tubuhnya pula.

Maksud Pakkiong Yau-flong dengan berat badan dirinya hendak menginjak punggung katak puru lalu dengan tenaga Jian-kin-tui memantek si katak ditanah supaya tidak mampu bergerak syukur bisa menindihnya mati sehingga lawan tidak mampu mengganas pula, untuk menghadapi atau membunuhnya tentu tak periu banyak membuang tenaga lagi.

Akal Pakkiong Yau-Liong memang bagus, namun begitu serangan, karena beberapa kali kena dipukul lawan, sudah tentu kali ini dia tidak semudah yang dahulu kena dia kali lawannya pula. Mendadak badannya mengegol terus menegakkan badan, kepala yang persegi itupun ikut tegak berdiri sambil membuka mulut lebar- lebar memagut ke kaki Pakkiong Yau-Liong yang menginjak turun.

Gerakan kedua pihak cepat dan keras, mendadak pula, dalam detik detik sesingkat ini, keadaan Pakkiong Yau-Liong betul-betul amat bahaya.

"Blaam." sebuah bentakan nyaring pendek. dibarengi selarik sinar terang menyamber kearah titik kelemahan katak puru, yaitu bola mata mungil yang merah menyala itu.

Ternyata meski jantung berdebar debar dan tegang mendadak melihat keadaan Pakkiong Yau-Liong yang berbahaya ini, betapa tak kan gugup hatinya? Bahna gugupnya tanpa pikir kontan dia timpukkan pedang mestika mengincar matanya.

Sesaat sebelum pedang mustika Tio Swat-in mengenai sasaran, semprotan darah mendadak beterbangan diudara, sehingga bau amis yang memenuhi udara terasa lebih tebaL Kiranya pada detik- detik yang menentukan itu, sebelum kedua kakinya dicaplok katak puru yang terpentang lebar, saking kaget, timbul akalnya.

Sekenanya kedua kakinya saling pancal sehingga gerakan tubuhnya seperti tertahan dan bergantung diudara, tubuhnya sejajar dengan tanah, sementara tombaknya ditusukkan lurus kebawah tepat masuk ketenggorokkan katak puru.

Dalam waktu sesingkat kilat berkelebat itu, kejadian terlalu mendadak pula, betapapun lincah dan gesit katak puru juga tak mungkin meluputkan diri lagi.

Begitu darah muncrat dari mulutnya yang lebar, pedang mestika Tio Swat-in secara telakpun telah amblas menembus mata tunggalnya.

Luka ditambah luka, saking kesakitan katak puru mengamuk dan meronta sejadi-jadi, batu yang berserakan disapu dan digulung beterbangan, sungguh dahsyat kekuatan katak puru disaat meregang jiwa.

Ditengah suara gaduh dimana katak puru sedang berguling- guling, sesosok tubuh tampak terpental jumpalitan dan "Blang" terbanting keras ditanah.

Ternyata Pakkiong Yau-Liong masih terapung diudara, begitu katak puru, meronta bergulingan, jelas dia tidak mungkin menyingkir atau mengundurkan diri, di saat tubuhnya melayang turun tubuhnya ditumbuk oleh badan katak puru yang sedang meronta hingga terlempar setombak jauhnya.

Lambat laun rontaan katak puru makin lemah dan melayanglah jiwanya setelah kehabisan darah dan tenaga.

Dengan gugup dan gelisah Tio Swat-in berdiri disamping Pakkiong Yau-Liong yang duduk ditanah. Karena ditumbuk katak puru, hawa murni yang telah dikerahkan dalam tubuh Pakkiong Yau- Liong menjadi buyar, kadar racun yang tertahan dilengan seketika merembes kedalam badan. Kini dia merasakan sekujur badan lunglai, kerongkongan kering dan gatal, seolah-olah dia berada diatas tungku yang menyala baranya, panas badannya sukar tertahan lagi.

Bulan sabit lebih tinggi, bayangan pohon laksana setan gentayangan. Setelah terjadi kegaduhan, kini keadaan kembali tenang dan sunyi. Dibawah sinar bulan sabit yang remang-remang, bangkai katak puru tampak menggeletak mengerikan, benjolan hijau ditubuhnya sudah tidak memancarkan sinar mengkilap lagi, demikian bola matanya belong sudah belong tertusuk pedang.

Darah berceceran mengenangi tubuhnya, binatang beracun ini takkan bisa mengganas pula. Tapi bau amis badan dan darahnya sungguh memualkan.

Tio Swat-in seperti kehabisan akal, dengan gelisah dia hanya bisa mengawasi Pak-klong Yau-Liong yang tersiksa, namun perasaannya seperti ditusuki ribuan jarum, jauh lebih baik menderita dari Pakkiong Yau Liong yang dicintainya ini, tiba-tiba dia teringat akan obat mujarap yang diberikan oleh Siangkoan Bu menjalang pemberangkatan mereka tempo hari.

Lekas dia turunkan buntalannya serta membalik-balik isinya, akhirnya ditemukan sebotol Hiat-tok-san, lekas dia ambil kantong air dan siap mencekok puyer pemunah racun itu ke mulut Pakkiong Yau-Liong. Tapi kantong air ternyata telah kosong, karuan rasa gugup dan gelisahnya bukan main-"Air, air. Berikan aku air." ditengah deritanya Pakkiong Yau-Liong, menjerit dengan suara sengau, tubuhnya mengejang dan kelejetan.

Hampir pecah kepala Tio Swat-in saking gugup, rasa sesal mengeduk hati, kenapa tadi tidak selekasnya dia mencari sumber dan mengisi kantong airnya yang sudah kosong, lalu bagaimana sekarang dia harus mencekok puyer ini kemulut Pakkiong Yau- Liong?

Pikiran Pakkiong Yau-Liong masih sadar meski rasa panas menjalar keseluruh tubuh, teraba darah ditubuhnya seperti mendidih, kulit dagingnya sudah hangus, bela matanya merah dan melotot besar.

Napasnya mendesau, lidah menjulur panjang keluar mulut, kulit mukanya berkerut merut, tubuhnya terus berkelejetan-saking tak tahan dia masih berusaha menjerir minta air. Pikirannya semakin kabur, mendadak dia mendengak sambil terkial-kial, gelak tawa aneh yang sudah biasa dia kumandangkan waktu di ceng-hun-kok dulu Mendengar nada tawa yang mengerikan ini Tio Swat-in sampai menggigit ngeri dan merinding. Tapi lekas dia tenangkan diri dan pusatkan pikiran, pikirnya: "Apakah aku harus tetap menjaganya disini? Atau lekas pergi cari air? MinUm obat membutuhkan air, keadaan Pakkiong Yau Liong yang mengering juga memerlukan air, maka lebih penting sekarang aku harus mencari air dan selekasnya kembali."

Akhirnya dia berkeputusan mengambil air, karena tanpa air, umpama dia tetap menunggu disamping Pakkiong Yau-Liong juga takkan dapat mengatasi keadaan yang fatal ini. Maka dia mendekatkan mulutnya dipinggir telinga Pakkiong Yau-Liong, katanya perlahan: "Kau tunggu dan tahan sekuatnya, aku akan cari air, sabarlah aku akan segera kembali."

Agaknya Pakkiong Yau-Liong amat tersiksa dan menderita keliwat batas, namun hatinya masih jernih, sekuatnya dia angkat kepala mengawasi Tio Swat-in dengan bola matanya yang melotot merah, lalu manggut sekali.

Dengan berlinang air mata sekilas Tio Swat-in tatap Pakkiong Yau-Liong terus menyambar kantong air berlari pergi secepat terbang.

Pakkiong Yau-flong seperti digembleng dalam siksa derita, namun sekuatnya dia kertak gigi menahan sakit dan panas, walau Tio Swat-in pergi membawa secercah harapan, apa lagi Pakkiong Yau-Liong masih muda, betapapun dia tidak rela meninggalkan dunia fana ini, karena masih banyak tugas yang belum sempat dia bereskan. Akhirnya siksa panas dan gatal itu tak tertahankan lagi, Pakkiong Yau-Liong meronta berguling-guling sambil menjerit-jetit, kedua tangannya mencengkram tanah, mencengkram dan mencengkram sampat amblas kedalam bumi. Tawa anehnya masih berkumandang, tapi tidak sekeras tadi, tubuhnya makin terus berguling hingga mencapai sela-sela batu darimana tadi katak puru keluar.

Tubuh Pakkiong Yau-Liong tiba-tiba melonjak keatas, kepalanya terangkat, tampak wajahnya yang kurus itu kelihatan merah darah, lebih jelek lagi. Sela-sela batu gunung itu cukup lebar dan gelap. tapi disebelah dalam yang gelap sana tampak suatu benda putih sebesar tinju memancarkan cahayanya.

Mahluk apa pula yang menghuni sela-sela batu ini? Tubuhnya bergetar keras, kini dia tidak mampu menguasai diri sendiri, dia tahu bahwa jiwanya sudah diambang maut, sebentar lagi juga akan mati, kuatir Tio Swat in lekas kembali dan melihat keadaannya yang mengenaskan, atau kuatir Tio Swat-in celaka oleh mahluk jahat lainnya, maka dia berpikir. Jiwaku sudah dekat ajal, keracunan sehebat ini takkan mungkin sembuh, lebih baik dengan sisa tenagaku yang sudah tiada harapan hidup ini, sebelum Tio Swat-in kembali, aku telah membunuhnya pula."

Maka sekuatnya dia tahan sakit sambil menyeret tombak lemasnya dia merangkak kedalam sela-sela batu.

Tiba-tiba hidung Pakkiong Yau-Liong yang diserang bau amis seperti mencium serangkum bau wangi semerbak. bau wangi yang dingin seketika membawa rasa segar badannya yang panas terbakar, siksa derita tiba-tiba menjadi berkurang.

Maka dia lebih giat merambat, merambat makin dekat sinar putih yang tak bergerak di sela-sela batu sana. Pada hal dia sudah berada dipojok sela-sela batu gunung, sinar putih dalam kegelapan itu sudah dilihatnya jelas.

Sekuatnya Pakkiong Yau-Liong angkat kepala dan membuka lebat matanya, sinar putih itu tidak mirip mata binatang, lalu benda apakah yang bisa memancarkan sinar putih dalam tempat segelap ini? . Sayang pandangan mata sudah kabur hingga tak kuasa dia melihat jelas benda apakah itu. Meski derita masih merayapi sekujur badan, tapi dia terus merambat dan merambat.

Mendadak segulung hawa panas yang tak tertahankan lagi menerjang keluar dari pusarnya terus meledak dan menerjang keseluruh anggota badannya.

Dibawah gempuran hawa panas didalam tubuh, Pakkiong Yau- Liong yang sudah sekarat bertambah parah lagi, kepalanya serasa pecah, setelah kelejetan beberapa kali, tiba-tiba Pakkiong Yau-Liong terkulai semaput. Karena keracunan katak puru yang membakar badan, keadaan Pakkiong Yau Liong sekarang berada diambang kematian pula^

Sedetik Pakkiong Yeu-Liong semaput oleh penderitaan yang luar biasa, serangkum hawa wangi tiba tiba menghembus lewat, kontan Pakkiong Yau-Liong merasa sekujur badannya semilir dingin seperti habis mandi dalam empang es. sekuat tenaga dia kerahkan tenaga menegakkan badan serta menarik napas sedalam-dalamnya.

Sekarang dia sudah yakin bahwa benda yang mengeluarkan bau harum ini, merupakan obat mujarap untuk menyembuhkan keracunan badannya. Apa lagi setelah dia memenuhi paru-parunya dengan hawa wangi itu, pandangannyapun bertambah terang, maka dilihatnya di atas sela-sela dinding batu sana berpancar sinar putih, itu bukan mata sesuatu makhluk, tapi adalah. ah susah dia melihat jelas dalam jarak sedekat ini.

Bau harum itu kembali merangsang hidung di kala hembusan angin dingin lalu, ternyata semangat tambah bergairah, maka lebih besar keyakinannya bahwa bau harum itu keluar dari benda yang memancarkan sinar putih itu.

Betapa girang hati Pakkiong Yau-Liong. seperti si kafir yang kepanasan ditengah padang pasir mendadak melihat oase, sekuatnya dia kerahkan tenaga merangkak maju.

Bau harum makin tebal, kini Pakkiong Yau-Liong sudah dekat di bawah sinar putih itu, untunglah makin bau harum makin tebal dan tenaga serta pikirannya-pun lebih jernih dan kuat. Rasa sakit kepanasan dan gatal yang menyiksa sekujur badannyajauh berkurang, sehingga dia dapat merangkak lebih kuat dan cepat.

Kini dia sudah jelas benda yang memancarkan sinar putih di atas dinding itu adalah sesuatu benda kecil yang bentuknya seperti orok kecil berwarna putih mulus laksana salju.

Sebuah pikiran tiba-tiba menggelitik hatinya : "Ya kong-ci bukankah Ya-kong-ci yang pernah disinggung Suhu dulu? Sungguh beruntung dirinya mendapat anugerah sebesar ini untuk memetik obat dewa yang mandraguna ini.

Benda bersinar berwarna putih mulus berbentuk seperti orok ini dan mengeluarkan bau harum memang benar adalah Ya-kong-ci (rumput sinar malam). Umumnya dimana terdapat suatu benda sakti, pasti ditunggu oleh binatang buas atau beracun-Demikian pula Ya-kong-ci adalah merupakan obat mujarab yang susah didapat di dunia. Ya-kong-ci terdapat dua jenis, jenis pertama berbentuk seperti anak kecil, jenis lain berwarna merah bentuknya seperti kelinci.

Yang berbentuk orok dapat memancarkan sinar putih, bentuk seluruhnya berwarna putih, sebaiknya yang berbentuk kelinci seluruhnya merah juga memancarkan cahaya merah.

Sejak bersemi sampai berkembang Ya-kong-ci harus tumbuh selama tiga ratus tahun dan dari berkembang sampai berbuah memerlukan waktu seratus tahun pula, malah setelah berbuah memerlukan waktu enam puluh tahun pula baru bUahnya dapat memancarkan cahaya, disaat bercahaya itu adalah saatnya bUah itu sudah matang, namun Ya-kong ci yang sudah matang ini hanya kuat bertahan dua bulan satelah dua bulan buahnya akan rontok. pohonnya yang kecilpun akan kuyu dan kering berarti tidak berguna pula.

Ya-kong-ci yang berbentuk orok dan Ya-kong-ci yang berbentuk kelinci kecuali sama-sama dapat menawarkan ratusan jenis racun, ternyata khasiat lainnya satu sama lain berbeda. Bagi orang yang berjodoh menemukan Ya-kong ci mirip kelinci serta memakannya, maka usianya akan bertambah tiga lipat, badannya kebal terhadap segala jenis racun, selama hidup takkan terserang penyakit apapun.

Sebaliknya Ya-kong ci berbentuk orok kecuali memiliki khasiat seperti yang ada pada Ya-kong-ci mirip kelinci, ternyata masih dapat meringankan menambah kuat pula, bila seorang pesilat yang memakannya, Lwekangnya akan bertambah lipat ganda dan mencapai tingkat yang paling top.

Sekarang Pakkiong Yau-Liong ketiban rejeki disaat dia meregang jiwa, dikala jiwanya sudah diambang maut telah ditolong oleh rumput sinar malam, maka sekuatnya dia merangkak dan merambat berdiri, dengan susah payah syukur dia berhasil meraih Ya-kong-ci.

Beg itu Ya kong-ci terpegang sekujur badan merasa segar, apa lagi hidungpun dirangsang bau harum itu sehingga air liurnya ber- tetesan, begitu mulut terpentang kontan dia caplok buah mulus seperti orok itu.

Sari buah yang manis mengalir seketika kedalam kerongkongan terus tertelan kedalam perut, seketika terasa betapa nikmat dan segar badannya. Pakkong Yau-Liong menyedot sekuatnya berulang- ulang , hingga sari buah Ya-kong-ci terhisap habis seluruhnya, cahaya putih yang memancar dari Ya-kong-ci sudah lenyap. demikian dahan dan daon Ya-kong-cipun seketika mati dan kering.

Hawa harum menjalar sekujur badan sehingga pori-porinya mengeluarkan keringat hitam dan bacin, sekali setelah hawa harum ini mengitari seluruh tubuhnya, mendadak rasa mual merangsang, kontan dia membuka mulut menyemburkan segumpal darah kental hitam, inilah air beracun yang baunya menusuk hidung.

Racun katak puru beleh dikata sudah terdesak keluar seluruhnya dari dalam badannya, bukan saja sembuh perasaan Pakkiong Yau- Liong malah lebih segar dan sehat.

Tiba-tiba diajadi teringat kepada Tio Swat in yang pergi mencari air, pikirnya: "Sudah hampir satu jam dia pergi, kenapa belum kunjung pulang? " Lekas dia jemput tombak singa emasnya terus berlari keluar menuju kepinggir hutan sana.

Mendadak dikejauhan didengarnya pekik kaget dan ngeri yang nyaring, Pakkiong Yau li ong kenal itu suara Tio Swat-in, saking kaget lekas dia enjot kaki, tubuhnya melenting dengan kecepatan panah meluncur. Hanya beberapa kali lompatan berjangkit Pakkiong Yau-Liong menjadi kegirangan, ternyata gerak-geriknya sekarang tambah enteng dan cepat, hampir dia tidak percaya akan keajaiban yang terjadi pada diri sendiri.

Maka dia menambah tenaga berlari sekencang angin lesus kearah datangnya saara. Hanya beberapa kali menggerak kan kaki lima puluh tombak telah dicapainya.

Sekonyong-konyong loroh tawa aneh yang bernuda sumbang seperti ringkik burung bantu kumandang dari sana.jaraknya sudah tidak jauh lagi didalam hutan, Pakkiong Yau-Liong merinding mendengar gelak tawa aneh yang menggiriskan-Karena kuatir akan keselamatan Tio Swat-in, meski kaget dan merinding tapi gerak langkah Pakkiong Yau Liong tidak kendor malah makin pesat, beruntun dua kali lompat jangkit pula mendadak Pakkiong Ysu-Liong mengerem luncuran tabuhnya.

Tampak didepan sebuah hutan, Tio Swat in berdiri melongo, tak jauh didepannya berdiri seorang nenek peyot bertubuh kecil bungkuk dengan wajah yang menakutkan tengah tertawa latah sambil mendongak.

Mendadak nenek peyot buruk rupa itu menghentikan tawanya, bola matanya yang sipit mencorong hijau menatap Tio Swat-in lekat-lekat, katanya dengan suara melangsing dingin: "Genduk ayu, kau sudah terkena hawa racunku, ketahuilah barang siapa berani mengambil air dari sumber abadiku, siapapan tidak terkecuali harus membayar dengan jiwanya."

Lalu bertolak pinggang serta berkata pula: "Tapi aku Tok-gian-po punya satu kebiasaan yaitu siapa pun yang sudah terkena hawa racunku, akan kuberitahukan kepadanya cara untuk mengobatinya: pertama, harus makan Ya-kong-ci, obat mujarab yang paling diimpi kau setiap insan Bulim, tapi dalam masa hidupmu yang tinggal setengah tahun ini, kukira kau takkan mungkin bisa memperoleh Ya- tong-ci, kedua yaitu dengan kayu cendana yang sudah berusia ribuan tahun, setelah dipanggang setiap hari harus digosok- gosokkan ke sekujur badan, beruntun selama tiga puluh enam hari, kadar racun dalam tubuhmu baru bisa disembuhkan. Untuk menemukan kayu cendana ribuan tahun sudah tentu juga teramat sukar, tapi baiklah sekarang aku memberi petunjuk padamu, yaitu sebatang pedang kayu cendana yang ada satu-satunya di dunia ini sekarang kebetulan berada didaerah Biau kiang ini."

Saking puas dan bangga tiba-tiba kepalanya yang kecil beruban geleng-geleng sambil mencak-mencak seperti anak kecil. Mendadak bola matanya mengerling sigap. dia membalik serta mendelik ke arah Pakkiong Yau-Liong yang berdiri dua tombak disamping. bentaknya:

"Anak bagus, berani kau mencuri dengar pembicaraanku di samping. Mau apa kau kemari?"

Waktu mendengar uraian Tok-giam po (nenek beracun dari neraka) ini, diam-diam Pakkiong Yau Liong sudah maklum, kenapa Toh-bing sik-mo menimbulkan huru-hara membunuh puluhan jiwa kaum Bulim diTionggoan, semua korbannya bersenjata pedang lagi, sudah jelas bahwa dia sedang berusaha mencari dia merebut- pedang kayu cendana milik ayahnya, untuk memunahkan racun ditubuhnya.

Kini Tio Swat-in juga terkena racun jahat Tok giam-po yang sukar disembuhkan juga , karuan hatinya gusar dan sedih pula, ke-dua jenis obat mujarab yang diterangkan tadi telah dilihatnya, tapi sekarang pedang kayu cendana belum berhasil direbut kembali, sementara Ya-kong ci telah ditelannya bulat-bulat. Namun Pakkiong Yau Liong mampu mengendalikan emosinya, katanya kalem: "Aku adalah temannya."

Walau suara Tok-giam-po bernada tinggi sember, "kau adalah temannya, syukurlah, uraianku tadi tentu kau sudah mendengarnya pula, dengan Ginkangmu yang tinggi, kedatanganmu tidak kuketahui, untuk merebut pedang kayu cendana memusnahkan racun ditubuhnya tentu tidak jadi persoalan. Tapi perlu kujelaskan kepadamu, jangan kau biarkan tubuhnya tertiup angin lama-lama, kalau melalaikan pesanku, paling lama jiwanya hanya bertahan tiga hari. semoga kalian tahu diri."

"Tidak boleh tertiup angin? Tak heran Toh-bing-sik-mo. membalut sekujur badannya macam mumi," demikian batin Pakkiong Yau-Liong. Dilihatnya Tok-giam-po membalik tubuh sambil terkial-kial hendak pergi.

"Berhenti" mendadak Pakkiong Yau Liong menghardik.

Tok giam-po menarik tubuhnya yang sudah berputar, mulutnya yang sudah ompong tampak menyeringai seram, sorot matanya yang kehijauan tampak menyapu Pakkiong Yau-Liong jengeknya^ "Berhenti? Hm, apa kehendakmu? "

Tiba-tiba Pakkiong Yau-Liong mendongak sambil tertawa latah, itulah gelak tawa kebiasaannya yang sering dia kumandangkan di- ceng-hun-kok dulu, nadanya dingin menggejolak sehingga yang mendengit merinding di buatnya.

BelUm lagi gema tawanya lenyap Pakkiong Yau-Liong sudah berkata sambil menyeringai: "Kau sudah melukai orang dengan racun lalu mau pergi seenak udelmu. Ketahuilah, urusan tidak segampang yang kau kira, jiwamu harus kau serahkan untuk menebus jiwanya bila tidak tertolong."

Lenyap suaranya sekali berkelebat tubuhnya sudah menubruk kearah Tok-giam-po, belum kakinya menginjak bumi, tombak lemas singa emas sudah melingkar dengan jurus Liok yak-wi-ji-bu. tampak kemilau tombak emasnya menaburkan cahaya kuning membawa deruan keras menggulung kearah Tok-giam-po.

“Hihihi." Tok-giam-po mendengus dingin sambil berkelit mundur setOmbak jauhnya, hatinya kaget dan membatin: "Bocah semuda ini ternyata memiliki Lwekang dan Ginkang setangguh ini. Kurang ajar, berani bertingkah terhadapku." Bahwa serangannya gagal menambah angkara murka Pakkiong Yau-Liong, sambil menggerung sebelum kakinya menyentuh bumi secepat kilat dia mengudak pula kesana, tombak lemasnya menyapu miring dengan jurus beng-ham-yam-ih (cahaya dingin melampaui sayap belibis), kembali deru angin, kencang menyabet kepinggang Tok-giam-po.

Betapa cepat gerak gerik serta ganas serangannya, jelas kondisi Pakkiong Yau-Liong, sekarang sudah jauh berbeda dibandingkan waktu dia masih malang melintang dilembah mega hijau.

Diancam sabetan tombak lawan, Tok-giam-po memang agak terdesak dan kerepotan, lekas dia menggeser miring, berbareng dengan jurus Jik-ih-hing-ang sementara tangan kanan bergerak dengan jurus Tam-sing-poat-te dua jurus dilontarkan sekaligus di tengah jalan bergabung menjadi serangan gabungan yang aneh dan dahsyat, kekuatan serangannya ternyata tidak kalah besar dan ganas.

Didaerah suku Biau ini bukan saja Tok giam-po dipandang sebagai malaikat atau setan yang menakutkan, penduduk setempatpun amat takut dan tunduk. sampaipun Toh-bing sik-mo yang memiliki kungfu setinggi itu pun agak jeri tak berani memusuhinya, bukan saja jiwanya sempit, wataknya eksentrik, Kungfunya memang lihay dan tangguh, sudah mencapai tingkat sempurna, apalagi dia menguasai dan pandai menggunakan hawa racun yang orang lain tidak tahu cara bagaimana dia menyerang musuhnya.

Bila tiga jam yang lalu Pakkiong Yau-Liong harus menghadapi dia, meski dia punya nyawa rangkap dua belas juga sudah melayang seketika, jelas bukan tandingan Tok-giam-po.

Bahwa sabetan tombaknya luput, tahu-tahu kedua telapak tangan Tok giam-po sudah balas menggencet dari kanan kiri, gerak- geriknya aneh, serangannya lihay lagi, lebih hebat lagi tenaganya amat dahsyat, mau tidak mau Pakkiong Yau-Liong tersentak kaget, telapak tangan nenek peyot justru menepuk tiba disaat Pakkiong Yau-Liong terkejut itu. Setelah menelan Ya-kong-ci meski Pakkiong Yau-Liong sempat mengeluarkan hawa murni memanfaatkan khasiat obat mujarab itu, sehingga daya kerja obat itu menimbulkan manfaat yang lebih besar tapi Lwekang dan Ginkangnya ternyata sudah melompat maju beberapa lipat, jadi untuk menghindar dari gencetan sepasang tangan Tok-giam-po bukan soal sulit bagi dirinya.

Namun dalam detik yang menentukan itu, serta merta dia merasakan dirinya tak mungkin dapat meluputkan diri dari tepukan lawan, padahal waktu begitu mendesak. tiada pilihan lain, akhirnya dia nekad.

"Biar aku adu jiwa dengan kau." secara reflek tangannya membalik sambil menekan pergelangan, tenaga disalurkan kedua telapak tangan terus menyongsong ke telapak tangan Tok-giam-po yang menepuk tiba.

"Pyaaar" ledakan keras memekak telaga, disaat kedua telapak tangan kedua pihak saling bentur itu, getaran tangannya menimbulkan samberan angin lesus yang membumbung keangkasa, dahan-dahan pohon tersambar patah dan daonpun sama rontok. Dua-duanya sama tergentak mundur lima langkah.

Bulat mata sipit Tok giam-po mengawasi pemuda yang berusia likuran tahun dihadapannya, sudah puluhan tahun selama dia malang melintang didunia Kangouw belum pernah ada tokoh tangguh manapun yang berani dan mampu melawan pukulan tangannya, tapi Pakkiong Yau-Liong yang masih muda ini ternyata mampu menandingi kedua tepukan telapak tangannya, dirinya tergentak mundur lima langkah lagi, karuan darahnya tersirap.

Setelah benturan keras tadi Pakkiong Yau-Liong rasakan lengannya pegal, telapak tangannya panas seperti keracunan katak puru tapi diam-diam dia mengeluh dalam hati. Tapi hanya sekejap seretan dirinya sempoyongan mundur dan hawa hangat timbul dari pusar mengalir ke seluruh badan, rasa pegal lengannya seketika lenyap. rasa panaspun tak terasa lagi. Tergesa-gesa Pakkiong Yau-lioag menghimpun seluruh hawa murni untuk melawan tepukan sepasang telapak tangan Tok giam- po, diwaktu tenaga murni bekerja dan tergetar keras oleh beradunya pukulan tadi sehingga khasiat Ya-kong-ci menyebar keseluruh sendi sendi tulang dan urat syarafnya, diluar sadarnya, Lwekang Pakkiong Yau-Liong telah bertambah pula setingkat dalam waktu sekejap itu. Begitu berdiri tegak, bukan saja rasa pegal dan panas dilengannya sudah lenyap. terasa badan segar semangat menyala, maka perasaan Pakkiong Yau Liong lebih mantup, pikirnya:

"Gelagatnya meski Kungfu Tok giam-po amat tinggi, dia masih belum mampu mengalahkan aku." hidungnya mendengus ejek, matanya melotot gusar menatap Tok-giam-po, pelan-pelan dia mengikat tombak lemasnya dipinggang, ujung mulutnya mengulum senyum sinis yang menghina.

Melihat Pakkiong Yau-Liong malah menyimpan senjatanya, sepertinya akan menghadapi dirinya dengan tangan kosong, Tok- giam-po menjadi aseran karena dirinya merasa dihina dan diremehkan, mendadak dia meraung bagai singa mengamuk menubruk kearah Pakk tong Yau-Liong, tubuh masih terapung kedua tangan sudah didorong lurus kedepan menimbulkan angin badai yang melanda kedada Pakkiong Yau-Liong, perbawa serangannya memang mengejutkan.

Pakkiong Yau-Liong sudah siap berkelit, tapi benaknya memperoleh suatu keinginan, "Kenapa aku tidak coba melawannya sekali pukulan pula secara kekerasan? " demikian pikirnya. Maka dia tidak berkelit atau menyingkir, matanya dipicingkan sikapnya tak acuh seperti tidak melihat pukulan Tok-giam-po yang menyerang tiba.

Sudah tentu amarah Tok-giam-po lebih memuncak. tenaga ditambah daya pukulan di pusatkan, batinnya. "Biar kau tahu kelihayanku," tadi dia hanya menggunakan tujuh puluh prosen kekuaannya, kini dia kerahkan setaker tenaganya, hawa udara seperti bergolak dalam sekejap ini sehingga menimbulkan deru angin bagai amukan badai yang mengakibatkan gugur gunung menerpa kearah Pakkiong Yau-Liong.

Sedetik sebelum serangan lawan mengenai badannya, mendadak Pakkiong Yau-Liong mendelikkan mata, sebar sekait dia menekuk lutut sehingga tubuhnya mendak kebawah, berbareng kedua tangannya terbalik naik dengan jurus Kong-cui-cui-Liong-kak (angin kencang meremuk tanduk naga), begitu telapak tangannya menyongsong kedatangan pukulan Tok giam-po.

Terjadi ledakan dahsyat pula, angin kencang bercerai berai kesegala penjuru, tubuh Tok-giam-po yang kurus kering dan pendek itu seperti kapas yang didera angin badai saja melayang ditengah udara, tampak kaki memancal meluruskan tubuh terus melayang turun

setombak jauhnya, wajahnya tampak berUbah hebat, keringat membasahi kening, jelas Sekali dalam adu pukulan untuk kedua kali ini nenek peyot bertubuh kurus kering ini kena dirugikan oleh Pakkiong Yau-Liong, malah kemungkinan Sudah terluka dalam.

Hanya dua langkah Pakkiong Yau-Liong mundur sudah kuasa menguasai diri, mulutnya mengulum senyum kemenangan, sorot matanya setajam sembilu menghujam ulu hati lawan, selangkah dua langkah dia mendekat ke depan Tok-giam po.

Tok-giam-po kendalikan napasnya yang mendesau, berdiri menjublek. sorot matanya menampilkan rasa ngeri, jeri dan tegang. Ternyata kekuatan pukulan Pakkiong Yau-Liong telah menggoncangkan seluruh pertahanan kekuatan Lwekangnya sehingga darahnya seperti mengalir balik, selama hidupnya kapan dia pernah terpukul mundur setombak lebih, betapa hatinya takkan jeri dan peCah nyalinya? .

Akan tetapi betapapun dia adalah seorang kosen yang memiliki Lwekang tangguh, Cepat dia sudah kerahkan tenaga murninya sehingga darah yang bergolak berhasil dituntunnya. Kembali kejalan normal, namun kepala sedikit pusing, seluruh sendi tulangnya seperti hampir Copot, terutama isi perutnya nyeri dan sakit, dia tahu bahwa dianya sudah terluka dalam yang Cukup parah, tapi keCuali sorot matanya yang menampilkan rasa kaget dan jeri, mimik mukanya tetap wajar dan tenang.

Namun Pakkiong Yau Liong sudah mendesak maju pula. Desau napasnya menjadi tambah berat dan cepat mengikuti setiap langkah Pakkiong Yau-Liong yang semakin dekat, diam-diam hatinya menerawang sudah timbul tekadnya begitu Pakkiong Yau Liong dekat dia akan menggunakan hawa racun, sehingga Pakkiong Yau Liong keracunan oleh bisa jahat yang sukar didapat obatinya.

Pakkiong Yau Liong makin dekat, detak jantung Tok-giam-po juga makin-kencang, keringat dingin membasahi mukanya juga semakin membanjir keluar berketes-ketes.

-oo0dw0oo-